JAINUL UUUUU

Di sebuah pusat rehabilitasi orangutan di Kalimantan, hiduplah satu individu orangutan remaja bernama Jainul. Di kalangan animal keeper, Jainul terkenal sebagai si jail dan nakal. Kalau keeper membersihkan tempat tidur Jainul, ia akan menarik masker atau pun topi para keeper. Di sekolah hutan Jainul juga suka mengejar dan menggigit sepatu boot para keeper cewek sebagai bentuk keusilan Jainul. Pokoknya, tidak ada hari tanpa keusilannya.

Namun, ada satu hal yang membuat para keeper heran yaitu, Jainul sangat takut dengan suara “uuuuu”. Yang lucu adalah suara “uuuuu” itu bukan suara misterius atau suara satwa lain. Itu sebenarnya kode sapaan antar keeper ketika mereka sedang berada di dalam hutan supaya bisa mengetahui posisi satu sama lain tanpa harus teriak nama.

“Uuuuuuuuuu!”, teriak salah satu keeper di antara pepohonan.

“Uuuuu!”, balas keeper lain dari kejauhan.

Suara itu menggema di batang pohon dan dedaunan. Bagi para keeper, itu hal biasa dan penting untuk keselamatan serta koordinasi. Tapi bagi Jainul… itu suara mengerikan. Setiap kali mendengar “uuuuu!”, Jainul langsung lari terbirit-birit mendekati keeper cewek dan memeluknya ketakutan, seperti baru mendengar suara yang sangat mengerikan.

Suatu hari, keeper muda bernama Kak Tedy yang bertugas ikut masuk ke area forest school. Ia menyapa keeper lain dengan lantang, “Uuuuuuuu!”.

Keeper lain menjawab, “Uuuuuuuu!”, begitupun juga aku.

Begitu mendengar itu, Jainul yang sedang asik bermain bersama temannya di akar gantung liana langsung terkejut dan menjatuhkan diri lalu lari panik memeluk keeper cewek. Aku pun bingung, “Loh… kempa Jainul begitu”.

Keeper Rara tertawa, “Begitulah dia. Jail sama kita, jail sama orangutan lain, tapi begitu mendengar suara “uuuuuuuu”, langsung lari seperti dikejar predator.”.

Keesokan hari, aku mendekati Jainul pelan-pelan di sekolah hutan, Jainul sambil mengunyah buah, sesekali melirik curiga. “Kita di hutan pakai suara itu bukan buat nakuti kamu”, kataku. “Itu cuman cara kita bilang, “Hei, aku di sini, kamu di sana. Supaya kita semua aman”.

Jainul menatapku, seperti sedang mempertimbangkan apakah penjelasan itu layak dipercaya. Sesaat kemudian, saat Tim APE Defender masuk ke forest school, keeper berteriak, “Uuuuuuuu!”. Tapi kali ini, Jainul tidak lari sekencang kemarin. Ia hanya berhenti, menoleh, lalu memanjat pohon pelan-pelan tanpa drama.

Mba Rara yang melihat itu tersenyum bilang, “Kemajuan, nih!”.

Seiring waktu, Jainul mulai paham bahwa suara “uuuuu”, bukan ancaman. Itu hanya kode manusia aneh, keras, tapi tidak berbahaya. Dan meski Jainul tetap jail (karena sudah sifatnya), setidaknya kini ia tidak lagi terlalu panik setiap mendengar para keeper saling menyapa di hutan ya walaupun masih agak kagetan.

Di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance), Jainul tumbuh sebagai orangutan jail yang suatu hari nanti, ketika sudah cukup mandiri akan kembali pulang ke hutan bebas dan siap menghadapi suara apapun… kecuali mungkin “uuuuuuuu”. (LUK)

PANSY, SI PENJELAJAH BORA

Setahun yang lalu, Pansy hampir saja tumbuh di hutan bersama induknya. Saat itu, Pansy akan di-translokasi dan dilepasliarkan bersama induknya. Tapi takdir berkata lain, induk Pansy tiba-tiba menjauh. Awalnya tim mengira ia hanya mencari posisi aman. Menit demi menit berlalu dan sang induk tidak kembali. Pansy menatap sekitar dengan suara rintihan kecilnya, seolah mencari pelukan yang tak datang lagi. Saat itu, tim yang bertugas memutuskan untuk menyelamatkan dan membawanya ke Pusat Rehabilitasi BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance).

Pansy, satu-satunya bayi orangutan liar di BORA. Dengan tubuh mungilnya, ia aktif menjelajahi area sekolah hutan. Saat Pansy menyusup ke dalam tajuk, kami kesulitan untuk mengamatinya karena terlalu kecil dan pergerakannya yang sangat lihai. Faktanya, Pansy sering sekali membuat sarang di atas pohon, sehingga ia menjadi salah satu orangutan yang pintar membuat sarang yang kokoh. Pansy juga memiliki naluri yang kuat untuk mencari dan memakan pakan alami di hutan.

Waktu itu, saat sekolah hutan, Pansy tidak terlalu sering berinteraksi dengan orangutan lainnya. Ia hanya sendirian dan aktif menjelajah dan eksplorasi di atas pohon. Ia memanjat, mengintip dari tajuk, dan hanya mengamati orangutan lain dari jauh. Seolah-olah ia masih mencari tahu apakah ia aman untuk mendekat. Dan… ia langsung melanjutkan lagi aktivitasnya sendiri. Pansy lebih memilih dunia pohonnya sendiri. Dengan mencari pakan alami berupa buah-buahan, biji-bijian, kulit kayu, dan dedaunan.

Namun, seiring berjalannya waktu, kami mulai menyadari bahwa Pansy mulai berkembang dalam segi sosial. Ia mulai bersosial memuat sarang bersama Cinta. Terkadang bersama Eboni dan Mabel juga. Ada momen-momen yang jarang terjadi saat Pansy di area sekolah hutan. Ia pernah turun ke lantai hutan karena rasa bosan berada di atas pohon. Lalu, ia menggelindingkan badannya ke tanah dengan posisi kedua tangannya yang tidak tepat. Sehingga, ia terlihat gagal melakukan aksi rolling seperti orangutan lain yang biasa melakukannya. Kami hanya bisa tertawa saat melihat tingkah lucunya itu.

O iya, Pansy juga memiliki teman dekat di BORA. Dia adalah Felix. Felix yang merupakan temans ekandangnya itu sangat akrab dan sering bermain bersama. Meskipun Felix memiliki tubuh yang lebih besar dari Pansy, ia seringkali menyerang bahkan menarik rambut Felix hingga tuahnya terbanting saat bergelantungan. Hal itu membuat Felix melakukannya beberapa kali.

Seiring dengan perkembangan Pansy dari waktu ke waktu, kami tidak pernah tahu kapan Pansy akan benar-benar siap kembali ke hutan. Tapi satu hal yang pasti, setiap hari, ia semakin mendekati mimpinya menjadi orangutan liar yang mandiri. (GIT)

TRANSFORMASI RUANG EDUKASI UNTUK GAJAH SUMATRA

Tak kenal maka tak sayang, kenalin wajah baru ANECC untuk mengenal gajah, si tubuh besar dengan ingatan terbaik. Aek Nauli Elephant Conservation Center (ANECC) di Sumatra Utara dalam renovasi tim APE Sentinel COP atas arahan BBKSDA Sumut. Perbaikan menyeluruh untuk mengembalikan fungsi dan estetika ruang. Atap dan langit-langit (plafon) yang bocor diganti, pengecatan ulang seluruh dinding kayu agar kembali segar, serta penggantian detail-detail kecil pun tak luput dari perhatian tim. Sanitasi untuk menjamin kebersihan dan kenyamanan penggunanya kelak. Transformasi ini berhasil mengubah ruang yang tadinya suram menjadi fasilitas yang terang, bersih, dan sipa menyambut pengunjung.

Pembaruan fisik ini kemudian disempurnakan dengan pengayaan materi edukasi. Di dalam ruangan yang kini nyaman tersebut, COP menambahkan instalasi papan informasi (information boards) mengenai konservasi gajah dan foto profil gajah-gajah yang terdapat di ANECC. Papan-papan ini menjadi jendela informasi visual yang memikat, menjelaskan segala hal tentang Gajah Sumatra mulai dari kehidupan gajah, kerajaannya, dan konservasi gajah di Sumatera Utara. Perpaduan antara ruang yang nyaman dan informasi yang kaya menjadikan proses belajar di ANECC kini jauh lebih menyenangkan dan efektif.

Selepas renovasi di ruang edukasi ANECC, Hardo, salah satu penjaga gajah berharap bahwa para pengunjung mengetahui bahwa gajah merupakan hewan yang memiliki perasaan, penting baginya untuk para pengunjung mengetahui perasaan-perasaan gajah terutama apabila habitatnya berkurang dan dirusak. Apabila sehabis edukasi ini, pengunjung akan memahami bahwa menjaga habitat gajah sama juga menjaga perasaan para gajah.

Sebagai langkah selanjutnya, sinergi antara COP dan ANECC tidak berhenti setelah renovasi selesai. Kedua belah pihak dapat melanjutkan kerja sama dalam aspek pemeliharaan agar fasilitas yang telah diperbaiki tetap terjaga kondisinya. Wajah baru ANEE+CC ini benar-benar memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi pelestarian Gajah Sumatra dan satwa yang dilindungi lainnya. (AGU)

RUMAH LAYAK UNTUK ORANGUTAN

Udara hutan Kalimantan yang lembab menyapa tim ekspedisi saat perahu-perahu kayu bermesin besar membelah aliran sungai. Sungai yang kami lalui bukanlah sungai besar dan tenang, melainkan sungai menantang dengan arus deras dan batu-batu besar yang menghadang. Di beberapa titik, tim harus turun dari perahu atau membantu menariknya untuk melewati jeram yang menuntut kewaspadaan tinggi. Pak Lukas dan para motoris perahu lain, yang telah lama akrab dengan medan ini, tetap harus berkonsentrasi penuh dalam mengendalikan mesin.

Perjalanan ini bukan sekadar petualangan. Tim kami mengemban misi penting, mencari “rumah baru” bagi satwa liar, khususnya orangutan. Ulah manusia dari tahun ke tahun telah membuat keberadaan mereka semakin terancam. Habitat yang dahulu aman kini menyempit, memaksa orangutan keluar dari ruang hidup alaminya. Setiap kunjungan lapangan selalu menyisakan rasa miris, melihat mereka perlahan terusir dari rumahnya sendiri. Sebuah rumah baru yang layak kini menjadi kebutuhan mendesak.

Untuk itulah ekspedisi ini dilakukan. Menembus jantung rimba Kalimantan berarti menyusuri hulu sungai dengan akses jalur air ber-jeram deras dan hamparan batu besar. Lokasi yang dicari harus jauh dari permukiman manusia agar konflik tidak kembali terjadi. Di tengah perjalanan, pohon-pohon tumbang yang melintang di sungai kerap menambah tantangan dan menguji kesabaran tim.

“Rumah baru” bagi orangutan tentu tidak bisa dipilih sembarangan. Setidaknya, kawasan tersebut harus memiliki ketersediaan pohon pakan dan pohon sarang yang memadai, populasi orangutan yang rendah atau belum ada sama sekali agar tidak terjadi perebutan ruang, serta jaminan keamanan dari gangguan manusia.

Ekspedisi ini barulah sebuah awal. Namun kami berharap, awal ini akan menjadi akhir yang indah, saat orangutan akhirnya dapat kembali ke rumah megah yang memang sudah selayaknya menjadi milik mereka. (HUS)

MENANAM HARAPAN BARU DI BEKAS LUKA BENCANA

Awal tahun ini di Sumatran Rescue Alliance (SRA) dimaknai bukan sekadar sebagai pergantian kalender, melainkan sebuah simbol “Lembar Baru” bagi SRA. Ingatan membenam dan masih segar pada peristiwa satu bulan lalu, saat bencana longsor dan banjir menerjang kawasan ini serta meninggalkan jejak kerusakan yang cukup mendalam pada lanskap pusat rehabilitasi. Namun, lumpur dan sisa bencana tidak menyurutkan semangat dan justru momen ini menjadi titik balik untuk segera bangkit dan memulihkan kembali benteng hijau pelindung kawasan melalui aksi penanaman pohon bersama.

Tim SRA melakukan penanaman dengan tujuan penguatan struktur tanah yang diwujudkan melalui penanaman 40 batang bambu sebagai langkah awal pemulihan lahan kritis pasca-bencana. Akar bambu yang serabut dan kuat diharapkan mampu mencengkeram tanah dengan erat. Selain fungsi ekologis sebagai penahan tanah, penanaman ini juga memperkaya bawaan dengan tanaman buah, meliputi 12 bibit cempedak, 11 bibit sukun, 11 bibit nangka, serta 35 bibit pete.

Keberadaan vegetasi yang rapat akan menciptakan mikroklimat yang sejuk dan teduh, kondisi yang sangat dibutuhkan untuk menjaga kesehatan fisik maupun psikis satwa rehabilitasi. Rimbunnya pepohonan kelak berfungsi sebagai buffer atau penyekat alami yang meredam kebisingan dan membatasi interaksi visual dengan dunia luar, memberikan ketenangan yang esensial agar satwa liar dapat memulihkan perilaku alaminya dengan optimal.

Lebih jauh lagi, pemilihan jenis pohon buah merupakan investasi jangka panjang bagi kemandirian pusat rehabilitasi. “Kami menanam pohon ini agar bisa berguna di masa depan dan buahnya bisa dipergunakan oleh satwa dan para pekerja di sekitar sini”, ucap Ndaru yang merupakan Orangufriens Padang di sela-sela menanam. Kelak saat pohon-pohon ini berbuah, SRA akan memiliki simpanan pakan mandiri yang menyediakan nutrisi alami dan segar bagi satwa. Dengan setiap bibit yang ditanam ke dalam tanah yang sedang memulihkan diri ini, menanamkan harapan dan resolusi tahun baru yang kuat untuk satwa-satwa kebengaan Sumatra. (AGU)

MENCARI NAFAS SATWA SM BARUMUN DENGAN PENDEKATAN SOSIAL MASYARAKAT

Perjalanan menyusuri lingkar Suaka Margasatwa (SM) Barumun pada pertengahan November 2025 awalnya membawa satu misi besar yaitu melacak jejak orangutan yang diyakini bersembunyi di balik rimbunnya hutan Padang Lawas. Bersama tim gabungan COP dan BBKSDA Sumut, kami menyisir desa demi desa, mulai dari Pagaran Bira hingga Kecamatan Sosopan, membawa pertanyaan yang sama kepada warga. Namun, jawaban yang kami terima seragam yaitu gelengan kepala. Bagi masyarakat lokal yang hidup berdampingan dengan hutan, orangutan tak ubahnya mitos yang tak pernah mewujud sepertinya hutan mereka riuh oleh lutung, owa, dan beruk, namun sunyi dari kehadiran orangutan.

Ironisnya, di tengah nihilnya jejak orangutan, kehadiran penguasa lain justru terasa begitu nyata. Di Kecamatan Barumun dan Barumun Baru, warga tidak berbicara tentang orangutan, melainkan tentang harimau sumatra yang kerap turun menyapa ladang hingga meninggalkan jejak di pemukiman. Yang mengagumkan, respons warga terhadap potensi konflik ini mematahkan stigma umum. Alih-alih membalas ancaman dengan jerat atau senapan, mereka memeluk kearifan lokal dengan menganggap harimau sebagai “Opung” atau leluhur penjaga. Gangguan satwa dimaknai sebagai teguran moral yang diselesaikan melalui ritual ziarah, doa, dan tabuhan gong pusaka yang merupakan sebuah potret harmoni langka dimana manusia memilih menunduk hormat daripada menantang alam.

Harapan untuk menemukan target utama kami, baru muncul setitik di ujung perjalanan, tepatnya di Desa Hapung pada Jumat 21 November 2025. Kepala desa setempat, Musriyadi yang juga merupakan seorang pencari madu menyatakan pernah melihat kawanan orangutan. Namun harapan itu segera terbentur realitas geografis seperti lokasi perjumpaannya berada jauh di perbatasan Sumatra Barat, bukan di pusat kawasan SM Barumun. Temuan ini sejalan dengan pantauan udara drone kami yang menyingkap wajah asli kawasan, hutan yang kini terjepit dan terkepung oleh ekspansi perkebunan sawit yang masif. Lanskap yang terfragmentasi ini membuat ruang gerak satwa arboreal seperti orangutan nyaris mustahil tersisa.

Misi empat hari ini akhirnya bermuara pada sebuah simpulan yang realistis sekaligus reflektif. Prediksi awal kami tentang populasi orangutan di SM Barumun memang meleset, namun kawasan ini terbukti masih menjadi benteng pertahanan terakhir bagi satwa kunci lain seperti harimau dan beruang madu. Kami pulang bukan hanya membawa data ekologis tentang habitat yang kian tergerus, tetapi juga pelajaran berharga dari warga desa tentang etika hidup berdampingan dengan alam. Barumun mungkin sepi dari orangutan, tetapi ia tetaplah hutan bernyawa, dijaga oleh mitos “Opung” di tengah desakan zaman yang terus menggerus. (Ndaru_Orangufriends)

2025, TAHUN TUMBUH KEMBANG PESAT ARTO DAN HARAPI

Siapa yang tak kenal dengan Arto dan Harapi? Mereka adalah dua bayi orangutan satu paket yang kerap dijuluki “Double Trouble Couple” karena tingkah usulnya. Memasuki tahun 2026, keduanya sudah resmi menjadi teman terbaik selama 2 tahun! Penasaran apa saja yang tumbuh pada mereka selama tahun 2025? Mari kita bahas.

Jika sebelumnya Arto dan Harapi selalu ditemukan berpelukan erat sebagai perlindungan diri, setahun ini mereka mulai menjelajahi petualangannya sendiri loh. Keduanya sudah punya ketertarikan yang semakin berbeda. Meskipun begitu, kemistri (dari kata chemistry) mereka tetap kuat karena tetap menjadi rekan satu kamar saat masuk kandang. Tahun 2025 adalah tahun pendewasaan bagi Arto dan Harapi.

Satu tahun ini, Arto dan Harapi menjalani kehidupan sebagai “kakak” bagi Felix dan Pansy yang masuk pusat rehabilitasi BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) di awal tahun. Arto lebih akrab dengan Pansy, sedangkan Harapi lebih dekat dengan Felix. Keduanya membantu para bayi orangutan baru ini untuk beradaptasi dengan lebih cepat dan baik. Saat ini, Arto dan Harapi tidak akan keberatan untuk bertukar rekan tidur dan sekolah hutan. Mereka jauh lebih dewasa.

Arto yang memang sudah tumbuh super aktif dan social butterfly, tetap sensitif pada suara keras dan gerakan tiba-tiba. Tapi satu tahun ini, Arto si penakut pada keeper berbadan kekar, mulai menghadapi masalahnya dan mampu membela dirinya sendiri. Tidak lagi terlihat ragu, Arto akan mengejar siapa pun yang mengganggunya dan memberikan gigitan pada boots, lengan, sambil menarik apa saja. Sangarnya Arto sering semakin nampaknya tulang bakal cheekpad di wajah. Arto mencetak sejarah sebagai orangutan dengan peningkatan bobot badan paling signifikan sepanjang tahun. Ia bisa naik hingga 0,8 kg sebulan, tanpa adanya catatan penurunan berat badan hingga Posyandu terlahir Desember lalu.

Pusat rehabilitasi merupakan saksi tumbuh kembangnya bayi orangutan, terutama pada Arto dan Harapi yang belum lama melewati usia 1000 harinya. Fase pertubuhan mereka akan sangat krusial, didukung dengan daya kembang mereka yang super cepat dan tanggap. Saat ini, Arto dan Harapi sudah ulah ditangani keeper lain untuk membantu mereka berkembang dengan perawatan yang lebih advanced. Senang bisa dan masih akan menemani mereka mengalami momen-momen ajaibnya. (RAR)

PENGALAMAN PERTAMA BERSAMA ORANGUTAN LIAR

Hai, aku Aprido Desra biasa dipanggil Godox. Aku berasal dari Sumatra Barat yang dikenal luas dengan masakannya yang sering disebut masakan Padang, khas dengan rempah-rempah alami. Namun, Sumatra Barat bukan hanya tentang kuliner. Wilayah ini juga memiliki bentang alam yang luas dan kaya, berdampingan dengan adat Minangkabau yang menjunjung nilai “tak lapuk karena hujan, tak lekang karena panas”. Nilai-nilai ini turut menjaga hutan tetap lestari hingga kini, meski masih banyak oknum yang berusaha merusak alam dengan berbagai cara, seperti illegal logging, perburuan satwa liar, dan penambangan emas ilegal.

Perjalananku di dunia konservasi dimulai saat bergabung dalam organisasi Mahasiswa Pecinta Alam dan Lingkungan Hidup Universitas Negeri Padang (MPALH UNP) dengan latar belakang jurusan Ilmu Keolahragaan di Universitas Padang. Sebelum bergabung dengan Centre for Orangutan Protection (COP) sebagai asisten lapangan di tim APE Crusader, aku juga sempat terlibat di salah satu NGO yang bergerak dalam konservasi harimau Sumatra di Sumbar. Banyak yang bertanya apa perbedaan konservasi harimau dan orangutan. Menurutku, pertanyaan itu tidak terlalu penting karena setiap spesies memiliki tantangan dan tingkatannya masing-masing. Tujuan akhirnya tetap sama yaitu menyelamatkan satwa liar yang terancam punah agar generasi mendatang masih dapat merasakan hidup berdampingan dengan seluruh makhluk hidup.

Pertemuan langsung pertamaku dengan orangutan terjadi saat melakukan operasi penyelamatan gabungan di Kecamatan Bengalon, bersama BKSDA Kaltim dan beberapa NGO lainnya. Di lapangan, mustahil bekerja sendiri, kolaborasi menjadi kunci untuk tujuan yang sama. Penanganan konflik, proses penyelamatan, hingga pemahaman tentang habitat orangutan di Kalimatan menjadi pengalaman yang sangat berharga. Berbagai latar belakang pendidikan dan profesi juga membawa cerita sendiri dalam konservasi orangutan, mulai dari dokter hewan, mantan pemburu, bahkan pekerja perkebunan dan pertambangan.

APE Crusader COP masih dalam misi penyelamatan dan perlindungan habitat orangutan serta yang lainnya agar tidak punah menjadi tanggung jawab bersama. Semoga generasi selanjutnya masih dapat merasakan hidup berdampingan dengan orangutan dan satwa liar lainnya di hutan yang tetap terjaga. Salam lestari! (IDO)

BENTENG TERAKHIR PERLINDUNGAN ORANGUTAN, KILAS BALIK APE DEFENDER SEPANJANG 2025

Pagi di pusat rehabilitasi Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) dimulai jauh sebelum matahari benar-benar naik. Saat langit masih gelap dan berkabut, para babysitter telah berangkat menuju baby house untuk memberi susu dan membersihkan kandang lebih awal. Di gudang pakan, buah dan sayur disiapkan serta ditimbang satu per satu sesuai kebutuhan setiap individu orangutan. Tepat pukul delapan, anggota tim APE Defender berkumpul untuk briefing singkat membahas kondisi individu, rencana sekolah hutan, enrichment, serta pekerjaan kandang hari itu. Setelahnya, kandang dicuci, peralatan enrichment disiapkan, dan sebagian tim berangkat menuju lokasi sekolah hutan mengantar orangutan muda belajar kembali tentang dunia yang seharusnya mereka kenal sejak lahir.

APE Defender merupakan Tim yang menjalankan program rehabilitasi Orangutan Kalimantan di Centre for Orangutan Protection (COP). Secara fungsional, tim ini berperan sebagai benteng pertahanan terakhir bagi orangutan yang telah diselamatkan dari berbagai situasi ekstrem. Di tangan mereka, arah masa depan setiap individu orangutan dibentuk secara perlahan, hari demi hari, melalui keputusan-keputusan kecil yang tak pernah sepele. Dari rangkaian proses inilah muncul pertanyaan paling mendasar dalam rehabilitasi, apakah individu orangutan tersebut masih memiliki peluang untuk kembali hidup mandiri di alam liar, atau hanya mampu bertahan secara fisik tanpa kemungkinan untuk dilepasliarkan karena keterbatasan fisik maupun mental yang tertinggal dari masa lalunya.

Sepanjang tahun 2025, tercatat 25 individu orangutan menjalani proses rehabilitasi maupun pemulihan kesehatan aktif di pusat rehabilitasi BORA. Dari jumlah tersebut, lima individu merupakan kedatangan baru sepanjang tahun ini, yang masuk ke dalam program rehabilitasi dan pemulihan setelah diselamatkan dari zona interaksi negatif dengan manusia. Tiga di antaranya adalah bayi orangutan yang kehilangan induknya, yakni Felix, Pansy, dan Jack. Kehilangan figur induk di usia sangat dini membuat mereka membutuhkan pendampingan intensif untuk membangun kembali keterampilan dasar yang seharusnya diperoleh secara alami di alam.

Selain itu, terdapat Beti, individu betina dewasa yang telah dipelihara secara ilegal selama lebih dari dua dekade di Jawa Tengah. Proses penyelamatannya melibatkan translokasi lintas pulau, sebuah langkah kompleks yang menandai awal perjalanan panjang Beti untuk kembali mengenal kehidupan di luar ketergantungan manusia. Sementara itu, Surti merupakan individu liar yang diselamatkan di area pertambangan. Berbeda dengan individu lain, Surti tidak memerlukan rehabilitasi perilaku jangka panjang, melainkan pemulihan kondisi fisik sementara di BORA sebelum akhirnya dapat dikembalikan ke habitat alaminya.

Sepanjang 2025, bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, COP berhasil melepasliarkan tujuh individu orangutan yang sebelumnya menjalani rehabilitasi maupun pemulihan kesehatan di BORA. Lima individu di antaranya merupakan orangutan bekas peliharaan ilegal, yaitu Bonti, Jojo, Mary, Popi, dan Charlotte yang telah menjalani rehabilitasi selama beberapa tahun. Dua individu lainnya, Paluy dan Surti, merupakan orangutan liar yang diselamatkan dari zona interaksi negatif dan memerlukan perawatan sebelum dikembalikan ke alam.

Rehabilitasi orangutan bukan proses yang dramatis. Ia berjalan lambat, bertahun-tahun, dalam rutinitas yang nyaris tak pernah terlihat publik. Mengajari kembali cara memanjat dan membangun sarang. Mengasah insting mencari pakan alami. Memulihkan trauma akibat interaksi manusia yang terlalu dekat. Dan yang paling sulit, mengembalikan jarak antara orangutan dan magnesia, jarak yang justru menentukan keberhasilan rehabilitasi itu sendiri.

Di luar pusat rehabilitasi, APE Defender juga tidak bekerja sendirian. Sepanjang 2025, tim ini terlibat langsung bersama APE Crusader dalam berbagai aksi penyelamatan orangutan di lapangan bersama BKSDA Kalimantan Timur. Sekitar 52 individu orangutan berhasil diselamatkan dari zona konflik, pemeliharaan ilegal, dan kondisi darurat lainnya. Pada penghujung tahun 2025, dokter hewan dari tim APE Defender juga terlibat dalam proses pemulangan empat individu orangutan korban perdagangan satwa ilegal dari Thailand ke Sumatra.

Di balik seragam lapangan yang kerap dilumuri lumpur, para anggota APE Defender menjadi saksi perubahan-perubahan kecil yang menentukan. Tatapan yang perlahan tak lagi mencari manusia. Tangan-tangan yang mulai melepaskan pelukannya. Gerak yang kembali lincah tanpa arahan. Keberhasilan rehabilitasi berakar pada detail-detail sunyi seperti ini, yang jarang terlihat dunia, namun menentukan arah masa depan setiap individu.

Sepanjang 2025, rehabilitasi mengajarkan bahwa perubahan sejati jarang berlangsung cepat. Sebagian individu melangkah maju, sebagian lain masih harus menunggu. Memasuki 2026, pusat rehabilitasi tidak menawarkan janji besar, hanya komitmen yang sama seperti sebelumnya, untuk terus hadir hari demi hari, menjaga peluang agar setiap individu orangutan yang diselamatkan dapat menjalani kehidupan yang lebih baik. (RAF)

APE CRUSADER COP MENYONGSONG TAHUN 2026

Sepanjang tahun 2025, tim APE Crusader menjalani perjalanan yang panjang dan penuh dinamika, layaknya melintasi lintasan roller coaster dengan tanjakan dan turunan tajam di setiap jalurnya. Berbasis di Kecamatan Muara Wahau, wilayah strategis dengan tingkat konflik orangutan yang tinggi, tim ini berada di titik pertemuan antara ancaman dan harapan. Kedekatannya dengan area rilis orangutan serta calon lokasi rilis baru membuat APE Crusader hampir tak pernah berhenti bergerak.

Fokus utama tahun ini adalah penanganan dan perlindungan habitat orangutan. Tim melakukan patroli di wilayah sebaran habitat orangutan dan satwa liar lainnya, termasuk patroli kebakaran hutan dan lahan di kawasan BORA Labanan. Pendekatan kepada masyarakat juga terus dilakukan agar informasi mengenai keberadaan satwa liar dapat diperoleh secara akurat. Dari upaya ini, tim menerima laporan tentang pemeliharaan ilegal orangutan serta ditemukannya kura-kura baning di sekitar Kabupaten Kutai Timur.

APE Crusader bersama kelompok tani di Desa Sidobangen melakukan penanaman pohon sebagai usaha menjaga kawasan hidup satwa liar. Upaya panjang usaha pembangunan jembatan koridor satwa pada akhir November 2025 menjadi harapan satwa liar untuk selamat dari ramainya jalan poros Kalimantan tersebut.

Di sisi lain, konflik antara orangutan dengan manusia masih menjadi tantangan besar. Sepanjang tahun 2025, tim APE Crusader menangani 27 laporan keberadaan orangutan di sekitar aktivitas masyarakat dan perusahaan. Dari proses asesmen dan penyelamatan tersebut, sebanyak 52 individu orangutan berhasil diamankan dari habitat yang rusak, dengan sebagian besar kemudian ditranslokasi ke habitat yang lebih layak.

Tingginya intensitas konflik mendorong kebutuhan untuk memperkuat kapasitas tim rescue. Rencana pembentukan tim tambahan serta pengadaan ambulans menjadi langkah penting yang dinilai akan sangat membantu kerja APE Crusader di lapangan. Kondisi ini tidak terlepas dari laju kehilangan habitat yang masih tinggi akibat alih fungsi hutan oleh perusahaan dan atau masyarakat lokasi. Tidak mengherankan jika Kalimantan Timur tercatat sebagai salah satu provinsi dengan angka pembukaan lahan tertinggi pada tahun 2024 dan 2025.

Selain kerja lapangan, APE Crusader juga aktif membangun kesadaran publik. Berbagai kegiatan edukasi mulai dari school visit, campus visit, hingga advokasi dan kampanye lingkungan seperti acara Sound for Orangutan (SFO) di kota Samarinda. Kegiatan ini menjadi ruang untuk menyuarakan krisis lingkungan sekaligus menjalin dialog dengan komunitas lokal. Beasiswa untuk mahasiswa Universitas Mulawarman serta kesempatan magang di lokasi kerja Centre for Orangutan Protection di Kalimantan Timur juga menjadi usaha regenerasi dunia konservasi orangutan di Indonesia.

Menutup tahun 2025, APE Crusader menyadari bahwa perjalanan ini tidak mungkin dilalui sendirian. Kesempatan memaparkan hasil kerja lapangan pada Konferensi Wild Animal Rescue Network (WARN) di Thailand menjadi pengingat kerja tim yang ternyata tidak kecil. Proses panjang yang telah dilewati adalah kerja kolektif, penuh tantangan, namun sarat harapan. (FER)