KHDTK Labanan

BAGUS SARAPAN DI PLAYGROUND

Pagi ini, Bagus menghabiskan makanannya di playground. Sengaja keranjang makanan ditaruh di atas agar ia berusaha meraih hingga memanjat ke atas playground. Lagi-lagi ia berdiam diri sembari makan di ban yang mungkin menurutnya bak hammock di dalam kandangnya. Tempat ternyaman Bagus ketika di dalam kandang.

Bagus sangat menyukai hammock yang terpasang di kandang karantinanya. Hammock itu adalah tempat yang ditujunya pertama kali ketika dia masuk kandang karantina di Pusat Rehabilitasi Orangutan yang berada di KHDTK Labanan, Berau, Kalimantan Timur.

Walaupun dia sangat menyukai hammocknya, ketika waktu makan tiba, Bagus lebih suka berada di bawah sambil makan. “Mungkin karena kami tidak memberi makannya di atas.”, pikir Simson, perawat satwa yang memberinya makan selama seminggu ini.

“Bagus… ayo main! Kita tidak bisa terlalu lama di playground.”. (WID)

SELAMATKAN POHON DURIAN DARI AMAN

Jadi, di depan klinik pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang berada di KHDTK Labanan, Berau, Kalimantan Timur terdapat arena bermain buatan. Playground tersebut dibangun Angel tim dari perempuan-perempuan Australia yang selalu donasi untuk orangutan pada tahun 2016. Di playground ini, orangutan-orangutan kecil yang belum bisa bergabung di sekolah hutan, berlatih.

Kali ini, playground digunakan orangutan Aman. Orangutan yang baru saja diselamatkan dari rumah warga di Kutai, Kalimantan Timur pada Juni 2020 yang lalu. Playground yang terbuat dari balok-balok kayu dan tali-tali dengan kombinasi tong plastik maupun ban mobil bekas ini ternyata tak cukup memuaskan latihan Aman. Aman meraih pohon durian yang berada tepat di samping playground. Idenya dulu menanam pohon durian di situ, agar playground tak terlalu panas.

Ups… apa daya, Aman selalu tertarik dengan pohon durian itu. Pohon durian yang masih kecil itu berulang kali dipanjatnya. Dan berulang kali pula dia terjatuh. “Pohon durian itu belum cukup menahan berat badan Aman.”, ujar drh. Ray sambil tersenyum. Kami berharap wabah corona segera berakhir agar sekolah hutan bisa berjalan seperti biasa dan pastinya untuk melihat aksi Aman di hari pertamanya menjadi siswa sekolah hutan. Dan pohon durian pun dapat terselamatkan. (RAY)

BULAN KETIGA BIBIT POHON DARI JATAN

Apa kabar bibit-bibit pohon yang telah tiba di tempat persemaian COP Borneo? Hingga saat ini bibit-bibit pohon kapur, durian dan meranti tumbuh dengan baik. Tinggi setiap bibit memang tidak ada yang sama. Bibit pohon durian yang terlihat semakin menjulang, tingginya mencapai 87 cm. Sedangkan bibit meranti dan pohon kapur sekitar 20-30 cm.

“Jika turun hujan, kami tidak perlu menyirami bibit-bibit. Sebagai gantinya kami pun harus semakin sering membersihkan rumput yang tumbuh lebih cepat.”, ujar Linau, kordinator perawat satwa ini. Di saat sekolah hutan ditiadakan karena pandemi corona virus, para perawat satwa menyibukkan diri dengan merawat bibit-bibit pohon yang berada di dekat parkir pusat rehabilitasi orangutan di KHDTK Labanan, Berau, Kalimantan Timur.

Tentu saja, tugas utama membersihkan kandang, memberi makan orangutan dan enrichment harus diselesaikan terlebih dahulu. Pandemi membuat rehabilitasi orangutan berjalan dengan lambat. “Kami saja rindu untuk ke sekolah hutan, memperhatikan tingkah orangutan yang tidak pernah ada habisnya. Apalagi orangutan itu? Mereka pasti sangat rindu memanjat pohon yang mereka sukai, atau mencari cemilan atau makanan hutan yang bisa mereka jumpai di sekolah hutan.”, kata Simson lagi. (NAU)

ENRICHMENT ORANGUTAN: LEMANG BUAH KEMBALI HADIR

Sudah lama tidak memberikan orangutan varian enrichment yang satu ini. Tantangannya adalah para perawat satwa harus mencari bambu hingga ke pelosok anak sungai. Belum lagi rasa gatal akibat terkena lapisan luar bambu.

Kami juga harus berbagi bambu dengan masyarakat sekitar. Ambil secukupnya untuk enrichment hari ini saja. Biasanya masyarakat memanfaatkannya untuk membuat lemang ketika hendak membuat perhelatan atau pesta tertentu di kampung.

Sedikit mencontoh cara masyarakat sekitar membuat lemang. Kami juga membuatkan lemang untuk orangutan. Salah satu ujung bambu dilubangi dengan diameter kecil, lalu ditambahkan irisan buah kecil-kecil, dedaunan dan tak ketinggalan dilumuri madu. Pasti orangutan akan menyukainya.

Bagi orangutan dewasa membuka bambu yang tebal dengan bermodalkan gigi cukup muda. Seperti Nogel, Ambon, Antak, Hercules dan Septi bisa membukanya dengan cepat. Yang lain, terutama bayi-bayi harus berusaha lebih keras agar bisa menilik isi dalam lemang. (WID)

MUSIM BAKAR LAHAN DI LABANAN TIBA

Siaga! Musim akan segera berganti. Dari tahun ke tahun, pusat rehabilitasi orangutan yang berada di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Labanan, Kalimantan Timur akan menghadapi musim ini. Tak ada asap kalau tak ada api. Ditambah dengan musim kemarau membuat lahan dan hutan semakin mudah terbakar, saatnya mengisi tandon-tandon air dan mengecek titik-titik keran air. Tak lupa selang-selang yang ada juga diperiksa.

Untuk meminimalisir merambatnya api ke pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, para perawat satwa usai membersihkan kandang dan memberi makan orangutan langsung bergotong-royong membuat sekat bakar sekitar 1 meter. Kami sangat kesulitan membuat sekat bakar ini karena banyak sekali akar di ujung pohon yang tidak dapat dijangkau dengan parang ataupun gergaji mesin. Yang bisa kami lakukan hanyalah membersihkan di bagian tanah dan memotong-motong pohon-pohon jatuh yang melintang agar nantinya api tidak merambat mendekat ke camp.

Saat kecil menjadi kawan dan ketika besar menjadi lawan. Mencegah adalah jalan terbaik. Doakan kami agar kebakaran hutan dan lahan tak seperti tahun lalu. Dimana kandang-kandang angkut sampai berada pada posisi siap angkut. Dimana orangutan-orangutan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo siap dipindahkan ke tempat yang lebih aman. Bau asap tahun lalu masih belum juga hilang dari ingatan kami dan bantuan dari Orangufriends berupa tandon air, selang maupun mesin air masih dalam kondisi terawat dan siap pakai. Semoga alam bermurah hati pada kami.

OWI MAKAN BUAH HUTAN DAN MABUK

Hari ini cuaca terik. Semua perawat satwa berpencar di hutan untuk mencari ranting dan daun muda untuk diberikan ke orangutan sebagai enrichment. Enrichment daun itu tergolong enrichment yang sering diberikan ke orangutan. Pertama, mudah dicari dan mampu membuat orangutan sibuk di kandang dan bisa mendorong kemampuan membuat sarang. Enrichment sendiri memiliki pengertian memperkaya, ya memperkaya aktivitas orangutan di dalam kandang.

Ada yang spontan membuat sarang, ada juga yang hanya dimain-mainkan daunnya. Namun di kandang Owi dkk, Owi malah terlihat seperti makan sesuatu. Dari ekspresinya mengunyah, sepertinya ia memakan sesuatu yang enak.

Setelah diamati lebih dekat, ternyata Owi sedang memakan buah hutan. Ia mendapatkannya dari ranting pohon yang di dekat kandangnya. “Bagus Owi… kamu bisa melirik adanya buah hutan walau di dalam kandang.”, gumam Steven, perawat satwa yang bertugas di kandang orangutan jantan. Buahnya mirip dengan kopi, pun dalamnya, mirip.

Nampaknya setelah Owi mengunyah buah hutan itu, geliatnya menjadi aneh. Raut mukanya seperti mengantuk berat, matanya sayu, badannya oleng bak geliat orang mabuk dan dari bibirnya mengeluarkan air liur terus menerus. Sampai Owi tidak bisa menutup mulutnya.

Lalu kami menyadari, apa karena Owi makan buah hutan tadi ya? Ketika diperiksa kembali waktu feeding (pemberian makan) sore, dia sudah pulih. (STV)

COP BORNEO DI KHDTK LABANAN UNTUK LIMA TAHUN KEDEPAN

Centre for Orangutan Protection (COP) pada hari ini, bertempat di Kantor Sekretariat Badan Litbang dan Inovasi di Bogor melakukan tanda tangan untuk Perjanjian Kerjasama dengan Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Inovasi KLHK tentang penyediaan areal KHDTK Labanan di Berau untuk lokasi Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan. Perjanjian kedua belah pihak ini dihadiri dan ditandatangani oleh DR. Ir. Sylvana Ratina, M.Si selaku Sekretaris Badan Penelitian Pengembangan dan Inovasi sekaligus pelaksana tugas Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa.

Dalam kesempatannya ibu Sylvana mengharapkan kerjasama ini dilaksanakan dengan baik dan sesuai dengan isi kerjasama. “Ini adalah wujud nyata dari Badan Litbang dan Inovasi mendukung upaya konservasi orangutan dan kerjasama ini merupakan lanjutan dari perjanjian kerjasama lima tahun sebelumnya, semoga lima tahun kedepannya upaya rehabilitasi yang dilakukan oleh mitra kami COP bisa lebih baik lagi.”.

Ketua COP, Daniek Hendarto sangat senang dengan ditandatangani kerjasama lanjutan lima tahun kedepan (2020-2025) setelah kerjasama lima tahun sebelumnya telah terlaksana dan berjalan.

Tanda tangan Perjanjian Kerjasama ini juga disaksikan oleh Kepala Bagian Program dan Kerjasama DR. Kristianto, Kasubag Kerjasama Yudi Fatwa Hudaya dan perwakilan B2P2EHD bapak Eded Suryadi. (DAN)

 

TERMITES FOR ORANGUTAN AT COP BORNEO

Termites are one of the most popular foods for orangutans. Fortunately, termite nests are easy to find around the Orangutan Rehabilitation Center of COP Borneo. Not far from orangutan cage, rotten trees and fallen tree trunks become special treasures for orangutan.

When the forest is not in fruit season, termite eggs, ant eggs or cambium are usually used by orangutans as a booster for their stomach. Before the COVID-19 pandemic, when the orangutans were in forest school, they immediately knew and stopped around those rotten trees. But for now, animal keepers are the one who helped orangutan to looking for them.

Annie looks really enjoying the termite eggs which hiding in the nest. He sniffing then prying the hole with his finger that unfortunately too big and finally shaking the nest with his mouth open, hoping the eggs will fall into his mouth. If nothing left anymore, Annie started chopping the nest and kept looking with his forefinger.

No different with Nigel. This year’s release orangutan candidate that has been on the pre-release island for four months was forced return to the quarantine to prevent the spread of the corona virus. Nigel looks happy with his termite nests. He must be missed the pre-release island.

SARANG RAYAP UNTUK ORANGUTAN DI COP BORNEO
Rayap menjadi salah satu makanan yang sangat disukai orangutan. Untungnya, sarang rayap mudah sekali ditemukan di sekitar pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Apalagi di dekat kandang orangutan, pohon-pohon yang lapuk dan batang-batang pohon yang tumbang menjadi harta karun tersendiri untuk orangutan. 

Jika di hutan tidak sedang musim buah, maka telur rayap, telur semut atau kambium biasanya akan dimanfaatkan orangutan sebagai pengganjal perut mereka. Sebelum pandemi COVID-19, ketika orangutan berada di sekolah hutan, mereka langsung tahu dan berhenti di sekitaran pohon-pohon lapuk tersebut. Namun sekarang, para perawat satwa yang mencarikannya. 

Annie terlihat sangat menikmati telur-telur rayap yang bersembunyi di dalam sarang. Mengendus-ngendus lalu mencongkel lubang dengan jari telunjuknya yang terlihat kebesaran dan akhirnya langsung menguncang sarang dengan mulut terbuka berharap telur langsung jatuh ke mulutnya. Jika tak ada yang jatuh lagi, Annie mulai membelah sarang dan terus menerus mencari dengan telunjuknya.

Tak berbeda dengan Nigel. Orangutan kandidat rilis tahun ini yang telah berada di pulau pra-rilis selama empat bulan terpaksa kembali ke kandang karantina sebagai upaya pencegahan menyebarnya virus corona. Nigel terlihat asik dengan sarang rayapnya. Tentu dia kangen dengan pulau pra rilisnya. 

“Semoga pandemi cepat berlalu, agar rehabilitasi dapat berjalan dengan maksimal. Berlatih di sekolah hutan, bertahan hidup di pulau pra-rilis dan dilepasliarkan kembali ke habitatnya.”. (WID)

MASA PANDEMI, ORANGUTAN SERING DAPAT ENRICHMENT

Kita tahu bahwa enrichment bermanfaat sebagai hiburan, pereda stres sekaligus penambahan gizi bagi satwa, khususnya yang berada di dalam kandang. Di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo yang berada di KHDTK Labanan, kabupaten Berau, Kalimantan Timur, perawat satwa memberikan enrichment sebanyak tiga kali seminggu kepada semua orangutan.

Granat buah, umbut rotan, batang pisang, kelapa, sarang rayap dan bola berisi potongan secara bergantian dibuat dan diberikan untuk orangutan di COP Borneo. Mereka sangat antusias menerima enrichment. Apalagi selama 2 bulan terakhir sekolah hutan dihentikan karena COVID-19. Penghentian ini untuk meminimalisir kontak antara manusia dengan orangutan sebagai usaha pencegahan penularan virus corona.

Walaupun terjadwal, untuk enrichment tiga kali dalam seminggu, pencarian bahan enrichment maupun ide-ide pembuatan enrichment membuat para perawat satwa lebih sibuk dari biasanya. “Orangutan harus dibuat sibuk. Enrichment biasanya hanya bertahan paling lama satu jam. Sementara membuat satu enrichment bisa lebih dari satu jam. Lalu, ini enrichment untuk orangutan atau perawat satwa? Hahahaha…”, kelakar Jhony, kordinator perawat satwa di COP Borneo.

Ini adalah usaha para perawat satwa, untuk terus menerus memberikan variasi enrichment agar orangutan menjadi sedikit sibuk di dalam kandang. Kalau kamu ada ide enrichment selanjutnya, email kami ya? info@orangutanprotection.com (JHONY)

PEMBERSIHAN KANDANG PASKA TERTIMPA POHON

Pagi itu semua dikejutkan dengan pohon besar yang melintang di atas kandang Owi dan kawan-kawan. Untungnya Owi dkk tidak terluka sedikit pun. Hanya saja mereka kabur keluar dari kandang dan untungnya lagi mereka tidak pergi jauh dari kandang.

Kami bahu membahu menyingkirkan batang pohon dari atap kandang. Cukup berat. Cukup memakan energi untuk bisa menyingkirkan batang pohon tersebut. Dan adrenalin kami meningkat karena harus memotong kayu dari ketinggian. “Seram! Gak kebayang kalau menimpa camp tempat kami tidur. Untung… dan untung saja… orangutan-orangutan ini selamat.”, gumam Linau penuh syukur.

Entah darimana semangat kami untuk membersihkan sisa batang-batang pohon yang tersisa hingga bersih. Mungkin doa para orangutan dan para pendukung orangutan dimana pun berada. Akhirnya pekerjaan yang cukup menguras tenaga ini pun rampung juga. Meski di awal kami merasa kesulitan. Kami belum lihai mengoperasikan mesin pemotong kayu. Tidak heran, pembersihan area kandang memakan waktu tiga hari. Kami sangat berhati-hati dengan personel yang terbatas.

Hingga saat ini, kami baru berhasil membersihkan dari batang pohon yang tumbang, perbaikan kandang belum. Keempat orangutan jantan pindah ke kandang karantina, sementara orangutan Septi bergabung dengan orangutan betina lainnya. Untuk yang mau membantu COP Borneo bisa melalui https://kitabisa.com/campaign/orangindo4orangutan (NAU)

Page 1 of 212