LAGI, JERAT MEMBUAT BERUANG MADU MENJADI KORBAN

Perkebunan memang bukan menjadi tempat paling aman bagi satwa liar, terutama ancaman justru sering datang dari benda sederhana yang dipasang manusia di dalam kebun yaitu jerat kawat. Alat yang awalnya banyak digunakan untuk menangkap satwa buruan atau hama, terus memakan korban tanpa pandang bulu. Harimau, rusa, hingga beruang madu sama-sama berisiko terjebak dan mengalami luka serius bahkan kematian.

Peristiwa ini kembali terjadi. Lokasi kejadian berada di Sungai Pandahan, Nagari Sundata Selatan, KecamatanLubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat. Pada Jumat, 10 Juli 2026, APE Protector bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat menindaklanjuti laporan masyarakat mengenai beruang madu yang diduga terjerat.

Setibanya di lokasi, tim tidak lagi menemukan beruang tersebut. Yang tersisa hanyalah bekas tiang tempat jerat dipasang. Menurut keterangan warga sekitar, beruang tersebut masih berada di lokasi pukul 09.00 WIB. Namun beberapa jam kemudian satwa berhasil melepaskan diri. Sayangnya, jerat kawat masih melilit salah satu kakinya.

Banyak orang mengira, satwa yang berhasil lolos berarti telah selamat. Kenyataannya tidak demikian. Jerat yang masih menempel dapat terus melukai tubuh satwa setiap kali bergerak. Luka akan semakin dalam, aliran darah terganggu, infeksi muncul, hingga berpotensi menyebabkan kematian apabila tidak segera mendapatkan pertolongan.

Menyadari risiko tersebut, tim langsung melakukan penyisiran dis kitar lokasi untuk mencari keberadaan beruang. Upaya penghalauan menggunakan petasan juga dilakukan guna mengarahkan satwa menjauh dari pemukiman sekaligus mengurangi potensi konflik dengan masyarakat. Warga sekitar diimbau untuk tetap berhati-hati saat beraktivitas di kebun dan segera melaporkan apabila kembali melihat keberadaan beruang.

Kasus ini menjadi kasus yang sering terjadi hingga tahun 2026, perlu diperhatikan mengingat bahwa jerat bukan hanya mengancam satwa target, tetapi seluruh satwa liar yang melintas di habitatnya. Beruang madu merupakan satwa yang gemar menjelajah hutan untuk mencari buah, serangga, madu, dan berbagai sumber pakan lainnya. Jalur jelajah tersebut sering kali tanpa sengaja melewati pemasangan jerat.

Selain menyebabkan penderitaan bagi satwa, keberadaan jerat juga menghambat upaya konservasi. Beruang madu memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan, mulai dari membantu penyebaran biji hingga mengendalikan populasi serangga. Hilangnya satu individu akibat jerat berarti hilangnya salah satu penjaga keseimbangan alam.

Kasus di Pasaman hanyalah satu dari sekian banyak kejadian serupa yang masih terjadi dei berbagai wilayah Indonesia. Oleh karena itu, dukungan masyarakat menjadi bagian penting dalam perlindungan satwa liar. Melaporkan keberadaan jerat, tidak memasang perangkap di habitat satwa, serta segera menghubungi petugas ketika menemukan satwa yang terluka merupakan langkah sederhana yang dapat menyelamatkan nyawa.

Selama jerat masih dipasang di hutan, ancaman terhadap satwa liar akan terus ada. Beruang madu hanyalah salah satu korban. Besok, bisa jadi satwa lain yang mengalaminya. Melindungi hutan berarti juga memastikan tidak ada lagi perangkap yang menunggu mangsa berikutnya. (RON)

BAGAIMANA SATWA KETIKA BANJIR MENYAPA

Bencana datang. Manusia kelimpungan. Namun, bagaimana dengan hewan, bagaimana dengan satwa? Apa yang akan kita lakukan ketika banjir menerjang tanpa aba-aba, ketika langit mendung tak terkira, ketika semua air tumpah di hadapan kita? Pada Pameran Foto “Menolong Satwa Banjir Sumatera” yang ditaja Centre for Orangutan Protection inilah jejak-jejak itu dihadirkan bukan sekadar menjadi visual, bukan sekadar menjadi gambar, bukan sekadar dijepret kamera lalu mata kita menikmatinya. Bukan. Foto-foto di sini akan “menceritakan” lewat perasaan dan perjuangan yang dikonkretkan dengan tindakan “pencarian”.
Pada foto jejak kaki salah satu satwa, kita melihat bahwa “ada yang lewat” di situ, ada yang pernah tinggal, dan ada yang pernah menetap. Dalam foto ini, jejak kaki berfungsi sebagai “tanda” bahwa suatu daerah pernah dilewati sekaligus ditinggali oleh manusia dan satwa. Tak hanya itu, jejak kaki juga menjadi metafora kehilangan, ketakutan, atau perjalanan tanpa ujung bahwa ada yang pergi dari suatu daerah dan entah akan kembali atau tidak. Maka dari itu, suatu daerah menjadi sangat penting bagi satwa karena mereka tinggal berdampingan dengan kita, manusia.
Itu dibuktikan dengan foto satwa sendirian dengan gestur seperti sedang mencari sesuatu. Foto ini juga menarik karena teknik pengambilan sengaja untuk menimbulkan efek tertentu, dengan kain penutup di sebelah kiri dan satwa di sebelah kanan. Apa yang dicari satwa itu kira-kira? Apakah makanan? Ketika bencana datang, manusia kelimpungan mencari pangan, pun satwa begitu. Dari foto salah satu relawan memberi makan satwa, kita melihat itu, bahwa akses dan kesempatan untuk mendapatkan pangan yang layak juga “dimiliki” oleh para satwa. Di tengah kekacauan yang terjadi pohon tumbang, sampah di mana-mana, bangunan runtuh, seng saling menimpa satu sama lain tindakan dalam pameran foto ini, gestur yang ditimbulkan pameran foto ini, menyiratkan satu hal yang penting yaitu empati. Bahwa kita juga merasakan sesuatu yang sama, kita terkena dampak yang sama. Karena itulah kita saling memberikan bantuan.
Bantuan untuk saling menemukan, seperti yang ada pada foto kucing putih nangkring di jendela sebuah rumah panjang, dengan parabola. Foto ini menampilkan rumah sebagai “arsip” sekaligus ingatan kolektif. Bahwa rumah bukan sekadar tempat tinggal dan kucing bukan cuma peliharaan, namun lebih dari itu: rumah sebagai peninggalan, lahirnya kebudayaan dalam keluarga, dan sekolah pertama bagi anak-anak. Kucing putih yang nangkring dengan santai juga menjadi sesuatu yang menarik karena “putih” badannya di antara kehancuran yang terjadi di sekitarnya yang diwakili warna “cokelat” atau warna tanah.
Tanah tempat kita bernaung, berkomunikasi, dan berdoa. Berdoa agar semua benda-benda yang berserakan sekaligus bertumpuk lekas dibereskan. Di tengah kekacauan itu, foto satwa yang sedang berada di tumpukan benda-benda dan masuk ke dalam “bayangan” yang tercipta. Foto ini menyiratkan sesuatu yang kadang tak kita lihat, bahwa yang satwa ingin mengatakan, “kami di sini bersama kalian”. Agaknya teknik pengambilan foto ingin mengatakan hal tersebut. Terlebih, satwa menjadi “focal point” foto ini. Begitu juga yang diceritakan dari foto satwa yang telah mati (menjadi bangkai?) dengan sepatu boot dan sisa satwa tersebut, kita bisa melihat bahwa bencana menimbulkan korban yang bukan hanya manusia, namun juga satwa. Dalam foto ini kita melihat tanah dan daun-daun. Selain ingin memberitahu sesuatu, foto ini juga menampilkan gestur apa adanya: bahwa yang terjadi pada tanah (bencana) akan kembali ke tanah (terkubur).
Begitu juga foto satwa yang sedang tertidur pulas. Foto ini menimbulkan efek keterasingan, kekalahan, sekaligus kerinduan terhadap rumah, terhadap tuannya, terhadap apa-apa yang biasa dijalani satwa: bermain ke sana kemari bersama manusia, bercengkerama bersama kita.
Satwa apa pun itu: anjing, kambing, kucing, ayam… mereka semua adalah saudara kita. Mereka mendapatkan akses sekaligus kesempatan yang sama untuk “terus hidup” dan berdampingan dengan manusia, dengan kita: makhluk yang penuh dengan logika, pemikiran, dan empati. (Titan Sadewo_Orangufriend Medan)

REKAM JEJAK COP SELAMATKAN SATWA PASCA BANJIR TAPANULI SELATAN

Sore, 24 Juni 2026 di Medan, bersama Orangufriends meresmikan Abelii Space sekaligus membuka pameran foto “Menolong Satwa Banjir Sumatra” dan meluncurkan buku Rescue Animals in Need South Tapanuli. Pameran ini merangkum kisah kepedulian dari sudut pandang yang berbeda pasca bencana banjir besar yang melanda Sumatra pada akhir tahun 2025. Berlokasi di Desa Garoua, Tapanuli Selatan, wilayah yang sempat luluh lantak dan terisolasi, COP (Centre for Orangutan Protection) hadir membawa misi yang hingga kini masih jarang dilakukan di Indonesia, yaitu menyelamatkan satwa di tengah bencana.

Melalui rangkaian foto yang di[pamerkan, pengunjung diajak mengikuti jejak langkah tim COP saat mencari satwa yang terdampak banjir, membebaskan hewan yang terjebak di balik reruntuhan, mengobati satwa yang terluka, memberikan pakan, hingga menguburkan satwa yang tidak dapat diselamatkan. Banyak pengunjung mengaku tersentuh setelah mendengar secara langsung pengalaman dan tantangan yang dihadapi selama proses penyelamatan berlangsung.

Lebih dari sekadar menyelamatkan satwa, misi ini juga menjadi jembatan penting dalam memulihkan harapan para penyintas bencana. Bagi para peternak yang rumah dan kebunnya hanyut diterjang banjir, hewan ternak yang tersisa merupakan aset sekaligus harapan terakhir untuk kembali bangkit. Karena itu, tim berupaya membuka akses agar pasokan pakan termah dapat masuk dan membantu menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat.

Di sisi lain, bagi warga yang harus mengungsi dapat bertemu kembali dengan hewan peliharaan mereka menjadi penghiburan yang tak ternilai. Kehadiran kembali teman setia di tengah situasi sulit mampu menghadirkan senyum, memberikan rasa tenang, sekaligus mengurangi kecemasan setelah bencana.

Selain membantu pemulihan ekonomi dan psikologis masyarakat, tim juga berperan dalam mencegah potensi penyebaran penyakit dengan segera menguburkan bangkai satwa agar tidak mencemari lingkungan. Melalui pameran foto dan buku ini, COP ingin menyampaikan pesan bahwa ketika bencana terjadi, satwa juga menjadi korban. Menyelamatkan satwa berarti turut menjaga kesehatan lingkungan, membantu pemulihan masyarakat, dan menjadi bagian penting dari upaya tanggap bencana secara menyeluruh.

Pameran foto berlangsung mulai 24 Juni hingga 12 Juli 2026 di Abelii Space, kota Medan dan dibuka setiap hari pukul 09.00-17.00 WIB. Pameran terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya. Pengunjung diharapkan menjaga ketertiban selama berada di ruang pameran serta tidak makan dan minum di dalam area pameran. (AGU)

MCU SI INYIAK, KETIKA PENYELAMATAN HANYA MENJADI AWAL PERJALANAN

Bagi sebagian orang, penyelamatan Harimau Sumatra mungkin berakhir ketika jerat berhasil dilepas dari tubuhnya. Namun bagi tim medis dan para penguat konservasi, justru di situlah perjalanan yang sesungguhnya dimulai.

Ketika anak harimau yang ditemukan terjerat di Pasaman berhasil dievakuasi, satu pertanyaan besar masih harus dijawab, seberapa besar dampak jerat terhadap kondisi fisik dan mentalnya. Luka yang terlihat pada kaki hanyalah bagian yang tampak dari luar. Di baliknya bisa saja terdapat infeksi, kerusakan jaringan, dehidrasi, gangguan metabolisme, hingga stres berat akibat rasa sakit dan pengalaman traumatis selama terjerat. Karena itulah tim dokter hewan melakukan serangkaian pemeriksaan kesehatan menyeluruh atau Medical Check-Up (MCU) untuk mengetahui kondisi sebenarnya.

Mulai dari pemeriksaan fisik, pengambilan sampel darah, pengukuran berat badan, pemeriksaan suhu tubuh, denyut jantung, hingga evaluasi kondisi luka dilakukan secara hati-hati. Semua data tersebut menjadi dasar dalam menentukan langkah perawatan berikutnya. Yang sering tidak terlihat oleh publik adalah bahwa MCU bukanlah garis akhir. MCU hanyalah pintu masuk menuju proses pemulihan yang jauh lebih panjang dan lebih rumit.

Setelah pemeriksaan selesai, harimau tidak bisa langsung dilepasliarkan begitu saja. Tim medis harus terus melakukan pemantauan untuk memastikan luka benar-benar membaik, tidak terjadi infeksi lanjutan, serta memastikan kondisi tubuhnya kembali stabil. Proses ini dapat berlangsung selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, tergantung tingkat keparahan cedera yang dialami.

Di sinilah tantangan lain muncul.

Harimau adalah satwa liar yang secara alami menghindari manusia. Di alam, mereka hidup bebas dengan wilayah jelajah yang luas, memilih tempat beristirahat sendiri, berburu sendiri, dan seminimal mungkin berinteraksi dengan manusia. Ketika harus menjalani perawatan di kandang rehabilitasi, kondisi tersebut berubah secara drastis.

Meskipun kandang perawatan dirancang untuk memberikan keamanan dan mendukung prose penyembuhan, keberadaan di ruang terbatas tetap dapat menjadi sumber stres bagi satwa liar. Terlebih lagi ketika harus menjalani pemeriksaan rutin, pengobatan, atau melihat aktivitas manusia di sekitarnya setiap hari.

Bagi harimau, stres bukan sekadar kondisi psikologis. Stres yang berlebihan dapat memengaruhi nafsu makan, menurunkan daya tahan tubuh, memperlambat penyembuhan luka, bahkan meningkatkan risiko munculnya gangguan kesehatan lainnya. Dalam beberapa kasus, satwa yang mengalami stres berkepanjangan dapat menunjukkan perubahan perilaku yang berpotensi mengurangi kemampuan mereka untuk kembali hidup mandiri di alam liar.

Keberhasilan penyelamatan tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan evakuasi atau kualitas tindakan medis. Faktor pemeliharaan dan perawatan sehari-hari memiliki peran yang sama pentingnya. Tim perawat satwa harus memastikan kebutuhan nutrisi terpenuhi, lingkungan kandang tetap nyaman, gangguan dari manusia diminimalkan dan interaksi langsung dilakukan hanya ketika benar-benar diperlukan.

Dalam dunia rehabilitasi satwa liar, tujuan utma perawatan bukanlah membuat satwa terbiasa dengan manusia. Justru sebaliknya, tim berupaya agar satwa tetap mempertahankan sifat liarnya. Semakin sedikit ketergantungan dan interaksi dengan manusia, semakin besar peluang satwa tersebut untuk kembali menjalani kehidupannya secara alami ketika dilepasliarkan.

Setiap hari selama masa pemulihan menjadi proses evaluasi yang penting. Apakah luka menunjukkan perkembangan yang baik? Apakah pola makan normal? Apakah pola makan normal? Apakah perilaku satwa masih mencerminkan insting alaminya? Semua pertanyaan tersebut harus dijawab sebelum keputusan lebih lanjut dapat diambil.

Di balik kabar penyelamatan yang sering muncul di media, terdapat pekerjaan panjang yang jarang terlihat. Ada dokter hewan yang memantau hasil pemeriksaan, ada perawat satwa yang memastikan kebutuhan harian terpenuhi, dan ada tim konservasi yang terus mengamati perkembangan kondisi individual tersebut dari waktu ke waktu.

Bagi anak harimau dari Pasaman ini, prose penyembuhan masih terus berjalan. Setiap hari tanpa infeksi, setiap luka yang mulai mengering, dan setiap perilaku liar yang tetap terjaga adalah langkah kecil menuju tujuan yang lebih besar, kembali menjadi penguasa hutan, bukan penghuni kandang perawatan. Dan seperti banyak kisah konservai lainnya, kesembuhan bukanlah hasil dari satu tindakan besar, melainkan kumpulan dari perhatian, kesabaran, dan kerja keras yang dilakukan setiap hari oleh banyak orang yang percaya bahwa satu nyawa harimau sangat berarti bagi masa depan spesiesnya. (APE Protector)

BERAT BADAN NAIK, HARAPAN TUMBUH BERSAMA ENAM ORANGUTAN MUDA DI SRA

Ada banyak cara untuk melihat sebuah harapan tumbuh. Kadang melalui langkah pertama, kadang melalui keberanian untuk memulai kembali. Di Sumatran Rescue Alliance (SRA), harapan itu terlihat dari sesuatu yang sederhana namun sangat berarti yaitu berat badan keenam orangutan muda yang terus bertambah dari bulan ke bulan. Ini adalah indikator penting bahwa proses adaptasi, perawatan, dan rehabilitasi yang mereka jalani berjalan ke arah yang positif.

Enam individual tersebut adalah Agam, Bow, Maximus, Noon, Jay, dan Raiking. Berdasarkan data penimbangan, Agam mengalami kenaikan berat badan sebanyak 1 kg. Kenaikan tersebut tersimpan cerita yang jauh lebih besar daripada sekadar pertambahan berat badan. Kemampuan orangutan mengonsumsi pakan dengan baik, beradaptasi dengan lingkungan baru, serta memiliki kondisi fisik yang mendukung proses tumbuh kembang menjadi keberhasilan yang tidak terjadi dalam semalam. Setiap individual memiliki kebutuhan dan tantangan yang berbeda. Tim harus memantau pola makan, aktivitas, perilaku, hingga kondisi kesehatan mereka setiap hari untuk memastikan setiap orangutan mendapatkan perawatan yang sesuai.

Meski terlihat sederhana, penimbangan rutin merupakan bagian penting dari perjalanan panjang menuju pemulihan. Setiap gram yang bertambah menjadi tanda bahwa mereka semakin kuat, semakin sehat dan bertumbuh. Sementara untuk empat orangutan repatriasi Thailand akhir tahun 2025 lalu juga menjadi semakin besar, kuat, dan sehat.

Angka-angka sederhana di timbangan, kita pun melihat sebuah harapan yang terus bertumbuh harapan agar suatu hari nanti mereka dapat hidup sebagai orangutan yang sehat, mandiri, dan kembali menjadi bagian dari hutan Sumatra yang menjadi rumah mereka. (Medis SRA)

SIDANG KASUS PERDAGANGAN TAPIR ASIA DITUNDA, PEMERIKSAAN TERDAKWA DIJADWALKAN PEKAN DEPAN

4 Juni 2026 proses hukum terhadap kasus perdagangan satwa liar dilindungi jenis Tapir Asia (Tapirus indicus) terus berlanjut. Namun, sidang yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis harus ditunda setelah salah satu saksi yang seharusnya hadir tidak dapat memenuhi panggilan persidangan. Akibat ketidakhadiran saksi tersebut, agenda pemeriksaan saksi belum dapat dilaksanakan. Majelis hakim kemudian memutuskan untuk menunda persidangan dan menjadwalkan kembali sidang lanjutan pada 11 Juni.

Pada sidang berikutnya, agenda yang akan dilaksanakan adalah pemeriksaan para terdakwa. Dalam tahap ini para terdakwa akan memberikan keterangan di hadapan majelis hakim guna memperjelas fakta-fakta yang berkaitan dengan perkara yang sedang diperiksa.

Kasus ini merupakan tindak lanjut dari pengungkapan perdagangan satwa liar yang terjadi di Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat. Sebelumnya, tim gabungan yang terdiri dari BKSDA Sumbar, Polres Pasaman, KPHL Pasaman Raya, dan APE Protector COP (Centre for Orangutan Protection) berhasil mengungkap upaya perdagangan seekor Tapir Asia muda yang akan diperjualbelikan secara ilegal. Satwa dilindungi tersebut ditemukan berada di atas sebuah kendaraan pick-up dalam kondisi hidup saat operasi penindakan dilakukan. Dua orang pelaku kemudian diamankan untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa perdagangan satwa liar masih menjadi ancaman nyata bagi kelestarian keanekaragaman hayati Indonesia. Tapir Asia merupakan salah satu mamalia besar yang keberadaannya semakin tertekan akibat hilangnya habitat dan perburuan ilegal.

Penundaan sidang dilakukan untuk memastikan seluruh proses peradilan berjalan sesuai ketentuan yang berlaku. Kehadiran saksi dan pemeriksaan para terdakwa menjadi bagian penting dalam mengungkap rangkaian peristiwa serta menentukan pertanggungjawaban hukum dalam kasus ini. APE Protector akan terus memantau perkembangan persidangan dan menyampaikan informasi terbaru sebagai bentuk dukungan terhadap penegakan hukum di bidang konservasi satwa liar. (APE Protector)

BERCERITA LEWAT KARYA, MENEMUKAN MAKNA DI BALIK SETIAP TULISAN ORANGUFRIENDS MEDAN

Menulis bukan sekadar merangkai kata. Menulis adalah proses membangun gagasan, mengelolai pengalaman, dan menyampaikan cerita yang bermakna. Semangat inilah yang diangkat dalam kegiatan Kelas Orangufriends bertajuk “Bercerita Lewat Karya” yang diselenggarakan pada Minggu, 7 Juni 2026 di COP Medan.

Pada kesempatan ini, peserta mendapatkan pembelajaran langsung dari Titan Sadewa, seorang penulis sekaligus guru Bahasa Indonesia yang berbagi pengalaman serta pandangannya tentang dunia kepenulisan. Menurut Titan, menulis adalah sebuah criftmanship atau keterampilan yang perlu diasah melalui pengalaman terhadap bahan dan proses pembentukannya. Layaknya seorang perajin yang menciptakan karya, seorang penulis juga harus memahami cara membangun sebuah cerita dari ide-ide yang sederhana.

Untuk memantik kreativitas peserta, Titan mengajak mereka berpikir melalui pendekatan 4W+1H (What, Who, When, dan How). Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, peserta diajak menggali ide dan menemukan sudut pandang yang dapat dikembangkan menjadi tulisan.

Kegiatan kemudian berlanjut ke sesi yang lebih interaktif. Peserta diajak keluar ruangan untuk menikmati suasana sekitar dan menuliskan 30 kata yang muncul dalam pikiran mereka. Kata-kata tersebut kemudian dirangkai menjadi sebuah paragraf singkat yang terdiri dari 4-5 kalimat. Melalui latihan sederhana ini, peserta belajar bahwa inspirasi dapat ditemukan dimana saja, bahkan dari hal-hal yang tampak biasa.

Salah satu momen yang paling menarik terjadi saat sesi diskusi. Ketika ditanya, “Mengapa seseorang menulis?”, Titan menjawab bahwa setiap orang memiliki alasan yang berbeda, salah satunya sebagai bentuk pemuasan jiwa dan sarana menyalurkan berbagai pikiran yang menumpuk.

Ia juga mengibaratkan menulis seperti lari marathon, membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan pengelolaan energi yang baik. Menulis juga menuntut keberanian untuk menemukan cara baru dalam bercerita, sehingga kebiasaan membaca menjadi bekal penting bagi setiap penulis.

Melalui kegiatan ini, para peserta memperoleh perspektif baru bahwa menulis bukan sekadar aktivitas mencatat, melainkan sebuah keterampilan yang terus ditempa melalui latihan, pengalaman, dan keberanian untuk berkarya. (AGU)

SEMERBAK BUNGA PUSPA DI SIRANGGAS

Pada akhir Mei lalu, lingkungan hutan suaka margasatwa Siranggas lebih hangat dari pada sebelumnya. Intensitas cahaya matahari dan suhu udara mulai meningkat, frekuensi hujan dan kelembapan udara pun menurun. Aktivitas pagi dapat dimulai dengan cuaca yang cerah dan malam hari ditutup dengan gerimis ringan yang sejuk. Transisi musim ini diiringi dengan pohon puspa (Schima wallichii) yang mulai berbunga.

Bunga puspa memiliki 5 mahkota warna putih, banyak benang sari warna kuning, dan aroma harum manis yang memikat. Bunganya terlihat mencolok di antara dedaunan kanopi maupun serasah lantai hutan. Di area camp Siranggas ada 3 pohon puspa yang lokasinya berjauhan. Satu di sekitar gudang pakan, satu lagi di samping enclosure orangutan, dan satu lagi di area sekolah hutan. Ketiganya berupa tegakan pohon dengan diameter batang mulai dari 20 cm dan tinggi lebih dari 12 cm. Uniknya, terdapat variasi pada periode dimulainya pembungaan hingga morfologi dan jumlah bunga.

Pohon puspa samping kandang berbunga lebih awal, diikuti dengan dua individu lain yang mulai berbunga di awal Juni. Nampaknya, faktor lingkungan menjadi stimulus dari pembungaan ini. Mikroklimat setiap pohon puspa bervariasi, mulai dari paparan sinar matahari yang di dapat, posisi tajuk di lapisan kanopi, hingga kompetisi nutrisi di tanah dengan pohon lain. Kondisi ini memengaruhi fisiologis dan morfogenesis yang berkaitan dengan pembungaan seperti pembelahan sel dan produksi fitohormon.

Pohon samping enclosure orangutan memiliki bunga dengan ukuran besar dan jumlah banyak. Tingginya paparan cahaya matahari menstimulasi hormon florigen dan menginduksi pembungaan. Sisa daun dan feses orangutan yang ditumpuk di bawahnya juga menyuplai bahan organik tanah sebagai sumber nutrisi pohon. Oleh karena itu, pembungaan individu ini lebih unggul daripada kedua lainnya yang berbunga dengan kualitas dan kuantitas yang lebih rendah.

Ada banyak bunga puspa yang berjatuhan di atas tanah oleh tiupan angin, senggolan satwa, atau luruh alami karena telah terfertilisasi dan mulai memasuki perkembangan buah. Bunga-bunga yang masih bersih dan utuh dikumpulkan untuk diberikan ke orangutan bernama Asih. Hal ini menjadi bentuk pengenalan pakan alami alternatif ketika jumlah pakan utama (buah) tidak melimpah di hutan. Untungnya, Asih merespons baik pemberian bunga ini. Ia mengobservasi dan membau bunga puspa sebelum memakannya dengan lahap. Respons membau ini selalu diekspresikan ketika Asih mendapatkan enrichment buah hutan atau bunga yang masih asing baginya.

Pemberian bunga ini disebar ke berbagai sisi enclosure untuk mendukung keaktifan Asih dalam mengenali dan mencari pakan. Harapannya, Asih dapat mengenali bunga puspa yang tersebar di tajuk-tajuk pohon tinggi ketika menjalani sekolah hutan. Ketika ia sudah mengenali beragam jenis pakan alami di hutan, kesempatan untuk kembali hidup liar dan bebas di habitatnya semakin dekat. (FAR)

KESEMPATAN KEDUA UNTUK SANG BELANG MUDA

Pada 21 Mei yang lalu di Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat, ditemukan dalam kondisi terjerat, satu anak Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) betina berusia kurang dari satu tahun. Lilitan kawat menyebabkan luka terbuka pada bagian leher, pangkal tungkai kaki depan, dan punggungnya. Beruntung, masyarakat segera menginformasikan ke pihak yang berwenang sehingga tim dapat bergerak cepat melakukan penyelamatan sebelum kondisinya memburuk.

Patroli Anak Nagari (PAGARI) Koto Rajo, PAGARI Beringin, PAGARI Salareia, BKSDA Sumbar, Polsek Rao bersama APE Protector COP bahu membahu mengevakuasi dan menangani harimau muda ini tidak lebih dari 24 jam sejak terjerat. Saat ini, perawatan intensif pada luka-luka terbukanya, pemberian pakan bergizi terutama daging merah menjadi prioritas, selain pemberian vitamin guna membantu percepatan pemulihannya.

Setelah 14 hari perawatan, kondisinya menunjukkan perkembangan positif. Nafsu makannya mulai kembali, aktivitasnya semakin normal, dan luka-luka yang sebelumnya terbuka kini perlahan mengering. Setiap hari, tim terus memantau kesehatannya untuk memastikan proses pemulihan berjalan dengan baik.

Ini bukan hanya tentang penyelamatan seekor harimau, namun menjadi pengingat akan ancaman serius yang masih menghantui satwa liar di berbagai wilayah Sumatra terutama jerat satwa. Dalam beberapa tahun terakhir, berita mengenai satwa liar yang terjerat terus bermunculan. Jerat yang umumnya dipasang untuk menangkap babi hutan atau satwa yang dianggap mengganggu perkebunan sering kali tidak memilih mangsa. Harimau Sumatra, beruang madu, rusa, tapir, hingga satwa endemik dilindungi lainnya juga ikut menjadi korban secara tidak sengaja. Ketika satwa memasuki area yang dipasangi jerat, kawat akan mengencang dan menyebabkan luka serius, infeksi, cacat permanen, bahkan kematian.

Banyak kasus berakhir tragis karena satwa ditemukan terlambat atau tidak ditemukan sama sekali. Tidak sedikit individu satwa dilindungi yang mati secara perlahan akibat luka yang semakin parah, kelaparan, atau kehilangan kemampuan untuk berburu dan bertahan hidup di alam. Bagi spesies yang populasinya sudah semakin sedikit, hilangnya satu individu saja merupakan kerugian besar bagi upaya konservasi.

Saat ini, sang belang muda telah pulih sepenuhnya. Sebelum kembali ke alam liar, ia akan menjalani medical check-up (MCU) secara menyeluruh untuk memastikan seluruh fungsi tubuh, kondisi luka, dan kesehatannya berada dalam kondisi optimal. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ia telah sehat dan siap bertahan hidup secara mandiri, harimau tersebut akan dilepasliarkan kembali. (APE Protector)

EMPAT BULAN DI SRA, KEEMPATNYA MENJADI LIAR KEMBALI?

Empat bulan bulan waktu yang panjang, jika yang dibicarakan adalah kehidupan di hutan. Tapi bağı individu sepeti Jay, Noon, Bow, dan Raiking, empat bulan bisa berarti pergeseran besar dari ketergantungan menuju sesuatu yang lebih mendekati kemandirian.

Di Sumatran Rescue Alliance (SRA), fase ini sering disebut sebagai awal dari “sekolah hutan”. Sebuah istilah yang terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya merujuk pada proses yang tidak pernah benar-benar linear. Tidak ada kurikulum tetap. Tidak ada target harian yang harus dicapai. Yang ada hanyalah ruang, kesempatan, dan interaksi dengan lingkungan bersama dan dengan diri mereka sendiri. Bow misalnya, mulai menunjukkan perubahan yang cukup mencolok.

Jika sebelumnya ia lebih banyak mengamati, kini ia terlihat lebih berani mengambil keputusan. Dalam salah satu sesi enrichment, sarang semut diberikan sebagai tantangan. Hanya satu. Sengaja. Bukan tanpa alasan, situasi ini menciptakan kompetisi atau mungkin lebih tepatnya keberanian untuk mengambil risiko.

Bow tidak lagi ragu. Ia mendekat, mengupas bagian luar sarang dan mengabaikan semut-semut yang berusaha mempertahankan tempatnya. Ada momen dimana tubuhnya dipenuhi semut, gigitan kecil yang tidak nyaman, mungkin juga menyakitkan. Tapi ia tidak mundur. Ada sesuatu yang mendorongnya untuk tetap bertahan entah rasa lapar, rasa ingin tahu, atau dorongan yang lebih dalam untuk menaklukkan tantangan.

Dan ketika akhirnya sarang itu terbuka, isinya dimakan tanpa banyak jeda. Telur-telur semut yang sebelumnya tersembunyi, kini menjadi hasil dari proses yang tidak instan. Bukan hanya makanan yang didapat, tetapi juga pengalaman tentang bagaimana menghadapi gangguan, menahan diri, dan tetap fokus pada tujuan.

Sementara itu, Jay bergerak dalam ritme yang berbeda. Ia tidak terlalu tertarik pada kompetisi. Hari-harinya lebih banyak diisi dengan eksplorasi yang tenang berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain, ,mencari buah yang mungkin belum matang sepenuhnya, tetapi cukup untuk dicoba. Ada satu momen ketika ia memilih cabang kecil untuk berayun. Cabang itu tidak cukup kuat. Patah.

Jay jatuh dari ketinggian sekitar tiga meter. Tidak ada kepanikan yang berlebihan setelahnya. Ia bangkit, kembali ke cabang yang patah dan justru memanfaatkan situasi itu dengan memakan buah-buah muda yang kini lebih mudah dijangkau. Seolah-olah kegagalan kecil itu bukan sesuatu yang harus dihindari tetapi bagian dari proses yang dimanfaatkan.

Noon berada di antara dua dinamika itu. Ia tidak se-agresif Bow, tetapi juga tidak sepenuhnya pasif seperti Jay. Noon lebih sering terlihat mengamati sebelum bertindak. Ia mengikuti pergerakan yang lain, tetapi tidak selalu terlibat langsung. Ada jeda dalam setiap keputusannya yaitu sebuah pola yang mungkin mencerminkan kehati-hatian, atau cara lain dalam memahami lingkungan.

Namun dari waktu, ke waktu Noon mulai menunjukkan inisiatifnya sendiri. Ia mencoba jalur baru di kanji, memilih pohon yang berbeda, dan sesekali terlibat dalam aktivitas yang sebelumnya ia hindari. Perubahan itu tidak drastis, tetapi cukup konsisten untuk menunjukkan bahwa proses belajar sedang berlangsung.

Raiking, di sisi lain memulai dengan cara yang paling terlihat, kebingungan. Pada hari-hari awal di sekolah hutan, ia tampak lebih banyak mengikuti daripada memimpin. Setiap gerakan terasa ragu. Setiap suara di sekelilingnya memicu respons waspada. Dunia di luar kandang bukan hanya luas, tetapi juga penuh kemungkinan yang belum ia pahami.

Namun ketergantungan itu tidak bertahan lama. Dalam waktu yang relatif singkat, Raiking mulai mengambil jarak. Ia tidak lagi terus-menerus mengikuti individu lain. Ia mulai memilih arah sendiri, mencoba memanjat lebih tinggi dan menghabiskan waktu lebih lama di satu titik seolah sedang memetakan kemungkinan.
Ada momen ketika ia berhenti di ketinggian tertentu, diam, mengamati. Bukan sekedar melihat, tetapi seperti mempertimbangkan. Jalur mana yang aman. Cabang mana yang cukup kuat, atau mungkin kemana ia bisa pergi jika harus bergerak cepat.

Empat bulan ini belum menjadikan meraka “liar” sepenuhnya. Itu bukan tujuan yang bisa dicapai dalam hitungan waktu yang pasti. Tetapi ada sesuatu yang mulai terbentuk kepercayaan diri, kemampuan beradaptasi, dan yang paling penting kemauan untuk mencoba.

Sekolah hutan tidak mengajarkan mereka dengan cara yang kita pahami sebagai “mengajar”. Tidak ada instruksi verbal. Tidak ada koreksi langsung. Yang ada hanyalah pengalaman jatuh dari cabang, digigit semut, gagal mengambil makanan, lalu mencoba lagi. Dan mungkin, di situlah inti dari proses ini. Bahwa menjadi liar kembali bukan tentang kembali ke titik awal, tetapi tentang membangun ulang kemampuan yang sempat hilang sedikit demi sedikit melalui pengalaman yang nyata. Jay, Noon, Bow, dan Raiking masih berada di tengah proses itu. Dan sejauh ini, mereka tidak berhenti. (Animal Keeper SRA)