ROBERT SEMAKIN AKTIF MENJELAJAH AREA ENCLOSURE

Ada yang berbeda dengan enclosure orangutan Robert bulan Agustus kemarin. Keranjang besi bergelantungan di atas pohon. Itu adalah platform pakan yang baru untuk Robert, dengan harapan, Robert akan lebih lama lagi beraktivitas di atas pohon dibandingkan di tanah. Keranjang pakan ini berada di ketinggian 10 meter dan sengaja diletakkan di tengah enclosure nya. Tentu saja, ini juga usaha agar Robert berkurang mengganggu pagar listrik bahkan hot grass yang sengaja dipasang untuk membatasi ruangnya. Ya, Robert adalah orangutan dalam perawatan Sumatran Rescue Alliance (SRA) yang mendiami kandang tanpa jeruji besi atau bisa juga disebut enclosure. Kandang yang ada hanya untuk keperluan saat enclosure butuh perawatan, seperti rerumputan atau percabangan yang menghalangi pagar listrik harus dibersihkan.

Robert, orangutan jantan dewasa ini memang sering sekali tertarik dengan pagar listrik yang membatasinya. Ada saja akalnya seperti mematangkan ranting lalu mencoba menyentuh kabel dengan kayu tersebut yang tentu saja ada aliran listriknya. Robert pun terlihat kaget dan segera melepas ranting tersebut. Masih belum puas rasa penasarannya, dia pun mengambil batang pohon yang lebih besar, dan tentu saja itu sangat mengkhawatirkan.

Nah, keranjang pakan ini diharapkan bisa mengalihkan rasa penasarannya yang gak tuntas-tuntas pada pagar enclosure. Setelah animal keeper SRA berjuang mengarahkan Robert ke keranjang pakan, dan Robert mulai melihat keranjang penuh dengan buah yang disukainya, barulah Robert memanjat pohon tersebut. Sebentar saja, dia sudah nangkring di percabangan dan tidak turun-turun. Dedaunan yang menyembunyikan potongan buah, satu per satu dikeluarkannya. Satu per satu buah yang diperolehnya dinikmati di atas pohon. Robert pun mulai meraih percabangan pohon yang ada di dekatnya, dan mulai berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain. Ya Robert mulai menjelajah enclosure, kandang tanpa jeruji besi, kandang terbuka tanpa atap itu. Malam itu, dia beratap bintang. (FIK)

DARI COP SCHOOL 16, KEDUANYA MELANGKAH UNTUK KONSERVASI DI PASAMAN

Perjalanan menjadi bagian dari gerakan konservasi tidak selalu berhenti ketika sebuah kegiatan berakhir. Bagi Dea dan Hera, apa yang mereka dapatkan melalui COP School Batch 16 justru menjadi awal untuk melangkah lebih jauh. Di Bulan Orangufriends 2026, keduanya bersama tim APE Protector mengabdikan diri untuk melakukan edukasi di Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat.
Pada 24-29 Agustus, ada lima sekolah yang langsung dikunjungi kedua relawan COP ini. Ada 211 siswa yang mengikuti kegiatan edukasi konservasi. Kelima sekolahan itu adalah SD Negeri 01 Bonjol, SMPN 01 Bonjol, MTsN 04 Pasaman, SMK Negeri 01 Bonjol, dan SDN 19 Lurah Berangin. COP School yang menjadi ruang untuk belajar, mengenal persoalan konservasi, dan membangun keberanian untuk terlibat menjadikan Orangufriends (relawan satwa COP) menjadi pelaku yang membagikan pengetahuan tentang konservasi ke dunia yang lebih luas lagi.
Dea dan Hera mengajak ratusan siswa mengenal Harimau Sumatra (Panthera tigris Sumatra) di sekolah-sekolah maupun di RIHAS (Ruang Informasi Harimau Sumatera). Materi mencakup karakteristik, habitat, peran ekologis, serta ancaman seperti jerat, perburuan, dan perdagangan satwa liar ilegal. Pengemasannya pun tak lepas dari persiapan mereka, karena keberhasilan edukasi ini tak sekedar menyampaikan tetapi menarik dan membekas pada generasi alpha yang sangat unik ini. Tanya jawab, diskusi, pojok baca, galeri foto, booth buku, hingga permainan interaktif menjadi cara terbaik masuk pada peserta yang usianya tak jauh dari Dea maupun Hera. Simulasi “membebaskan diri dari jerat”, diharapkan dapat membantu peserta memahami bagaimana jerat dapat menjadi ancaman serius bagi satwa liar.
Jika Dea dan Hera langsung menyeburkan diri di tanah Minang, ada kabar apalagi dari alumni COP School Batch 16 yang lain ya? (NAB)

MEWARNAI UNTUK MASA DEPAN BERSAMA ANAK-ANAK RAHIB

Peringatan Hari Orangutan Sedunia di SDN 030432 Rahib, Pakpak Bharat, Sumatra Utara menjadi berbeda karena ke tiga puluh tujuh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 mengikuti kegiatan lomba mewarnai bertema orangutan. Melalui kertas gambar dan krayon di tangan, anak-anak mulai menuangkan imajinasi mereka. Beragam warna memenuhi gambar orangutan dan hutan. Ada yang memilih warna-warna cerah, ada pula yang denga teliti memadukan berbagai warna agar hasil karyanya terlihat semakin menarik. Suasana kelas pun dipenuhi semangat, konservasi, tawa, dan obrolan kecil antar teman. Namun kegiatan ini bukan sekadar tentang menentukan siapa yang menghasilkan yang paling indah.

Anak-anak diajak mengenal orangutan lebih dekat sejak usia dini. Mereka belajar bahwa orangutan bukan hanya satwa yang hidup di dalam hutan, tetapi juga bagian penting dari ekosistem. Keberadaan orangutan memiliki hubungan yang erat dengan keberlangsungan hutan, tempat berbagai makhluk hidup bergantung. Kegiatan semakin menyenangkan karena lomba mewarnai juga diselingi dengan berbagai permainan edukatif. Anak-anak bergerak, bermain, tertawa, sekaligus mengingat kembali pesan-pesan tentang orangutan dan pentingnya menjaga lingkungan. Pendekatan yang sederhana dan dekat dengan dunia anak-anak membuat pesan konservasi lebih dekat dengan sasarannya.

Antusiasme terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Anak-anak tidak hanya menjadi peserta lomba, tetapi juga bagian dari proses bersama tentang alam di sekitar mereka. Dari sebuah gambar yang diwarnai, muncul rasa ingin tahu. Dari permainan sederhana, tersampaikan pesan tentang pentingnya menjaga hutan. Dan dari pengalaman kecil seperti ini, diharapkan tumbuh kepedulian yang akan terus berkembang.

Hari ini, mungkin orangutan masih mereka kenal melalui gambar dan cerita sederhana. Namun, suatu hari nanti, pengetahuan tersebut dapat menjadi dasar untuk memahami mengapa satwa liar dan habitatnya harus dijaga. Konservasi tidak selalu harus dimulai dengan langkah besar. (PUT)

MENGENAL HARIMAU SUMATRA DAN BAHAYA JERAT BERSAMA ORANGUFRIENDS

Masih dalam rangkaian Bulan Orangufriends yang menjadi ruang bagi relawan COP untuk ikut terlibat secara nyata dalam aksi-aksi konservasi, salah satunya School Visit di SMPN 01 Bonjol, Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat. Kali ini bersama Dea dan Hera yang menjalani program volunteer selama tiga bulan setelah mengikuti COP School Batch 16.

Sebanyak 15 siswa kelas IX mengikuti kegiatan dengan antusias. Para siswa diajak mengenal lebih dekat Harimau Sumatra, mulai dari karakteristik, kehidupan di alam, kondisi populasinya, hingga berbagai ancaman yang dihadapi satwa endemik Sumatra tersebut. Melalui diskusi sederhana, para siswa diajak memahami bahwa menjaga harimau berarti turut menjaga hutan dan seluruh kehidupan yang ada di dalamnya. Mereka juga diajak mengenali peran manusia dalam mengurangi berbagai ancaman terhadap satwa liar.

Setelah materi selesai, suasana belajar berlanjut ke sesi tanya jawab dan diskusi interaktif di pojok baca yang dilengkapi galeri foto satwa. Kehadiran foto-foto satwa membuat siswa dapat melihat lebih dekat kehidupan satwa liar dan ancaman yang mereka hadapi di habitatnya.

Agar pesan konservasi semakin mudah dipahami, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan fun games di luar ruangan. Para siswa mengikuti simulasi bertema, “Membebaskan Diri darui Jerat”. Melalui permainan tersebut, mereka diajak merasakan secara sederhana bagaimana sulitnya satwa ketika terperangkap jerat, sekaligus memahami mengapa jerat menjadi salah satu ancaman serius bagi satwa liar.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa aksi konservasi dapat dimulai dari hal sederhana, dengan belajar, berbagi, dan berani terlibat. Bagi Dea dan Hera, pengalaman sebagai Orangufriends sekaligus alumni COP School Batch 16 menjadi kesempatan untuk meneruskan pengetahuan yang pernah mereka dapatkan kepada generasi muda. Selama tiga bulan ini keduanya dengan berani mengambil bagian dalam menyebarkan pesan bahwa menjaga satwa berarti menjaga masa depan hutan. (APE Protector)

MENELUSURI KESIAPAN HABITAT HARIMAU SUMATRA

Upaya mempersiapkan habitat bagi pelepasliaran Harimau Sumatra terus dilakukan termasuk melakukan survei keberadaan satwa liar lain yang menjadi bagian penting dari ekosistem. Beberapa temuan seperti cakaran beruang madu, cakaran kucing-kucingan, jejak kijang, jejak tapir, feses kucing-kucingan, kaisan babi hutan, serta bekas sarang babi hutan menunjukkan bahwa kawasan tersebut masih memiliki daya dukung habitat yang baik.

Kabar baik lainnya datang dari kondisi keamanan habitat. Selama survei, tim tidak menemukan jerat aktif maupun jerat yang sudah tidak aktif. Tim menemukan bekas pondok pemburu di dua lokasi berbeda, namun pondok sudah cukup lama tidak digunakan. Tim juga berhasil mencapai lokasi yang direncanakan sebagai helipad. Setelah dilakukan pembersihan atau clearing, lokasi tersebut dinilai cukup baik karena memiliki kontur tanah yang relatif rata sehingga mendukung kebutuhan akses dalam kegiatan pelepasliaran.

Untuk memantau aktivitas satwa secara menyeluruh, tim memasang tiga unit kamera jebak (camera trap) selama tiga hari. Kamera berhasil merekam keberadaan beruang madu dan tapir Asia yang melintas di kawasan tersebut. Selain keberadaan berbagai satwa, kondisi vegetasi hutan juga masih tergolong baik. Tutupan dan kondisi hutan yang mendukung menjadi modal penting bagi keberlangsungan berbagai jenis satwa liar. Lalu, apakah hutan ini benar-benar siap menjadi rumahnya si raja hutan ini? (RON)

BERSEPEDA SAMBIL BERKAMPANYE, MENGAJAK MASYARAKAT MENGENAL HARIMAU SUMATRA

Semangat memperingati Global Tiger Day 2026 masih terasa di RIHAS. Kali ini, pesan tentang pentingnya menjaga harimau Sumatra dibawa lebih dekat kepada masyarakat melalui kegiatan bersepeda sekaligus kampanye di kawasan permukiman sekitar Rimbo Panti. Ada 29 peserta turut ambil bagian dengan mengendarai sepeda, mereka menyusuri jalan dan mengelilingi sebagian kawasan sambil membawa poster serta berbagi materi kampanye. Mereka juga membagikan stiker kepada masyarakat dan menyampaikan pesan untuk menjaga keberadaan harimau Sumatra.

Bagi sebagian orang, harimau mungkin hanya dikenal sebagai satwa liar yang hidup jauh di dalam hutan. Padahal, keberadaannya memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Karena itu, mengenal harimau dan memahami berbagai ancaman yang dihadapinya menjadi langkah awal untuk menumbuhkan kepedulian terhadap satwa liar. Tim APE Protector juga mengajak masyarakat luas bahwa menjaga harimau tidak hanya menjadi tanggung jawab mereka yang bekerja di kawasan konservasi. Masyarakat juga memiliki peran penting, salah satunya dengan memahami keberadaan satwa liar serta ikut menjaga habitatnya.

Setelah berkeliling dan menyapa masyarakat, kegiatan dilanjutkan di RIHAS dengan berbagai permainan dan pembagian hadiah. Suasana semakin meriah ketika para peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang telah direncanakan. Keseruan tidak berhenti ketika matahari mulai terbenam. Pada malam hari, RIHAS justru semakin hangat dengan diskusi santai. Para peserta berbagi cerita dan pengalaman sambil menikmati jagung bakar serta olahan lainnya.

Dari perjalanan di atas sepeda hingga obrolan santai di malam hari, satu pesan terus dibawa, Harimau Sumatra adalah bagian penting dari alam yang harus kita jaga bersama. Global Tiger Day bukan sekedar momentum untuk memperingati harimau. Lebih dari itu, peringatan ini menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap satwa liar perlu terus dibicarakan, dibagikan, dan diwujudkan melalui aksi nyata. (HIL)

RATUSAN RELAWAN MEMPERINGATI HARI HARIMAU SEDUNIA 2026

Setiap tanggal 29 Juli dirayakan sebagai Hari Harimau Sedunia atau Global Tiger Day (GTD). Centre for Orangutan Protection (COP) bersama dengan relawannya yang tergabung dalam Orangufriends merayakan GTD 2026 dengan aksi serentak di lima belas kota di Indonesia pada Minggu, 2 Agustus 2026. Aksi serentak ini bertujuan untuk memberikan edukasi dan penyadartahuan kepada masyarakat umum bahwa harimau sebagai satwa langka endemik Indonesia. Dahulu Indonesia masih memiliki harimau jawa dan harimau bali. Namun, saat ini yang tersisa hanya ada jenis harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae).

“Melalui kampanye di beberapa kota, kami ingin menyebarkan informasi dan menggalang dukungan publik secara luas mengenai harimau sumatera, satwa endemik kebanggaan Indonesia yang kini terancam punah. Spesies ini juga memiliki nilai penting dalam
budaya dan kearifan lokal di Pulau Sumatera” ucap Hilman Fauzi, Kapten Tim APE Protector COP. Kampanye serentak ini dilakukan pada Hari Minggu, 2 Agustus 2026 oleh Orangufriends
di Kota Medan, Padang, Pasaman, Yogyakarta, Bandung, Kuningan, Samarinda, Malang, Lumajang, Manokwari, Cirebon, Padangsidempuan, Sidikalang, Manado dan Wahau.

Sejak 2022, tim COP bernama APE Protector bekerja di Kabupaten Pasaman bersama BKSDA Sumatera Barat dan masyarakat lokal. Tim ini melakukan kegiatan bersama seperti sapu jerat, patroli kawasan, mitigasi konflik, hingga penyelamatan harimau dan satwa liar lainnya. “Saat ini setidaknya ada tiga harimau sumatera yang harus segera dilepasliarkan. Mereka dievakuasi pada akhir tahun 2025 dan bulan Mei 2026. Para harimau ini harus dievakuasi karena terluka akibat jerat. Kita dukung penuh rencana Kementerian Kehutanan untuk melepasliarkan kembali harimau tersebut” tambah Hilman.

Aksi serempak ini sudah dilakukan tiga tahun terakhir, bersama relawan COP yang tergabung dalam Orangufriends yang ada di beberapa kota di Indonesia. Isu yang selalu dibawakan adalah tentang jerat yang setiap tahunnya menjadi masalah di harimau sumatera. Pemasangan jerat masih sering ditemui di hutan Indonesia. Kasus harimau terkena jerat kerap terjadi di berbagai daerah di Sumatera, dari Aceh hingga Lampung. Sebagian harimau mati akibat infeksi, pendarahan, ataupun kelaparan setelah terkena jerat. Saat ini populasi harimau sumatera tidak lebih dari 600 individu dan termasuk satwa berstatus Kritis (Critically
Endangered) menurut IUCN Red List. Tekanan habitat dan pemasangan jerat menjadi ancaman serius bagi harimau sumatera. Kampanye publik ini diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat untuk ikut melestarikan harimau sumatera dan mendorong penegakan
hukum bagi pelaku pemasangan jerat.

Narahubung:
Hilman Fauzi, Kapten Tim APE Protector COP
Kontak: +62 817 7547 0113 Catatan:

– APE Protector adalah tim yang dikelola oleh COP di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Misi
utama APE Protector adalah mendampingi kelompok masyarakat untuk melakukan patroli mandiri,
mitigasi konflik dan edukasi atau penyadartahuan.
– COP menjalankan dan mengelola relawannya yang bernama Orangufriends untuk bisa mendukung
kampanye dan kegiatan aksi langsungnya. Kelompok Orangufriends aktif ada di beberapa kota di
Indonesia.

BERUJUNG KETEGANGAN DEMI MENYELAMATKAN HUTAN

Suaka Margasatwa Malampah di Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat, merupakan salah satu kawasan konservasi yang menjadi rumah bagi beragam satwa liar dan keanekaragaman hayati Indonesia. Namun, di balik lebatnya hutan yang masih berdiri, ancaman pembalakan liar (ilegal logging) terus membayangi kelestarian kawasan ini.

Sebagai upaya menghentikan aktivitas tersebut, tim APE Protector bersama Balai KSDA Sumatera Barat yang terdiri dari Balai Padang, Seksi Konservasi Wilayah I Bukittinggi, Resort Konservasi Wilayah II Maninjau, dan Resort Konservasi Wilayah I Pasaman Raya melaksakan patroli penindakan di kawasan Suaka Margasatwa Malampah. Patroli dimulai dari wilayah Nagari Jambak, Kecamatan Lubuk Sikaping, dan direncanakan keluar melalui Jorong Tanjung Bungo, Nagari Malampah, setelah menyusuri kawasan hutan selama dua hari.

Pada hari pertama, tim menemukan sejumlah titik bekas aktivitas pembalakan liar. Pohon-pohon meranti merah dan meranti kuning yang telah ditebang menjadi bukti bahwa kawasan konservasi ini masih menjadi sasaran para pelaku. Meskipun tidak berhasil menemukan pelaku di lokasi, tim menemukan lima pondok yang diduga digunakan sebagai tempat singgah dengan empat di antaranya masih aktif dan berada di sekitar aliran sungai. Di lokasi tersebut, tim juga memberikan imbauan kepada para penambang agar menghentikan seluruh aktivitas mereka demi menjaga kelestarian kawasan hutan.

Patroli berlanjut pada keesokan harinya. Saat menelusuri kawasan yang lebih dalam, tim menemukan jejak aktivitas baru berupa tapak kerbau yang diduga digunakan untuk mengangkut kayu hasil tebangan. Dugaan tersebut terbukti ketika tim berhasil mengamankan dua pelaku beserta tiga ekor kerbau yang digunakan sebagai alat angkut kayu. Namun, satu pelaku lainnya berhasil melarikan diri.

Tim kemudian menuju lokasi lain yang berjarak sekitar dua kilometer. Di sana, kembali ditemukan pohon-pohon yang baru ditebang menggunakan chainsaw, tumpukan kayu siap angkut, serta enam ekor kerbau di sekitar pondok pelaku. Karena tidak menemukan pelaku di lokasi kedua, tim memusnahkan pondok yang digunakan sebagai basis aktivitas ilegal tersebut sebelum membawa pelaku menuju proses hukum.

Perjalanan keluar kawasan konservasi justru menjadi ujian berikutnya. Saat tiba di wilayah pemukiman, tim dihadang oleh sekelompok warga yang meminta agar pelaku dilepaskan. Ketegangan semakin meningkat saat rombongan yang akan melakukan penjemputan dikejar oleh sejumlah warga dengan menggunakan sepeda motor. Lemparan batu menghantam salah satu kendaraan operasional BKSDA hingga memecahkan kaca belakang, sementara satu anggota tim mengalami luka di bagian kepala akibat terkena lemparan.

Patroli ini menjadi pengingat bahwa menjaga kawasan konservasi bukan hanya tentang melindungi pepohonan, tetapi juga mempertaruhkan keselamatan para petugas yang berada di garis depan. DI balik setiap hutan yang masih lestari, ada dedikasi keberanian dan kerja sama banyak pihak yang terus berjuang agar kekayaan alam Indonesia tetap terjaga untuk generasi mendatang. (RON)

TINGKAH LUCU ASIH YANG SELALU MEMBUAT KEEPER KEWALAHAN DI SEKOLAH HUTAN

“Tunggu, Asih!”
“Asih… pelan-pelan.”

Kalimat itu mungkin menjadi salah satu kalimat yang paling sering terdengar setiap kali kegiatan sekolah hutan dimulai di Suaka Margasatwa Siranggas. Bukan karena Asih nakal, tetapi karena orangutan muda ini seolah memiliki energi yang tidak pernah habis. Baru beberapa menit dilepas, Asih sudah membuat keeper berlari kecil mengikuti setiap langkahnya.

Kadang ia memanjat pohon setinggi mungkin, lalu berhenti sebentar sambil melihat ke bawah seolah memastikan keeper masih mengikutinya. Saat keeper berhasil mendekat, Asih justru tersenyum usai-setidaknya begitulah yang dirasakan para keeper, lalu kembali berpindah ke pohon berikutnya.

“Dia nungguin kita, habi itu kabur lagi”, ujar salah satu keeper sambil tertawa.

Tingkah Asih sering kali membuat seluruh tim tersenyum. Ketika suasana hutan sedang tenang, tiba-tiba ia turun dari pohon, menghampiri keeper, lalu mengajak bermain. Ia menarik tangan keeper, memegang pakaian, bahkan sesekali menggigit pelan sebagai bentuk interaksi. Namun, baru saja keeper melayaninya beberapa saat, Asih kembali berlari menuju pepohonan. Seolah mengajak bermain petak umpet.

Di hari lain, Asih justru memilih menjelajah lebih jauh. Dengan lincah ia berpindah dari satu cabang ke cabang lain, sementara keeper harus mencari jalur terbaik agar tetap bisa mengawasinya dari bawah. Tidak jarang mereka kehilangan pandangan beberapa saat sebelum akhirnya terdengar suara daun bergoyang yang menandakan Asih masih bergerak di atas kanopi.

Yang membuat keeper semakin kewalahan adalah rasa penasaran Asih yang begitu besar. Hampir semua hal menarik perhatiannya. Sebatang ranting, daun muda yang baru tumbuh, jamur yang muncul setelah hujan, hingga genangan air berlumpur bisa menjadi objek yang membuatnya berhenti cukup lama. Pernah suatu hari, Asih sibuk bermain lumpur hingga akhirnya meminum air yang menggenang di sana. Di lain kesempatan, ia menemukan jamur di lantai hutan dan mencobanya.

Meski dikenal aktif, Asih juga memiliki kebiasaan unik. Ketika merasa bosan karena di atas pohon, ia akan turun begitu saja dan berjalan di tanah sambil sesekali menoleh ke arah keeper, seperti mengajak mereka ikut berpetualang. Akibatnya, keeper harus selalu siap mengikuti perubahan rencana yang dibuat Asih dalam hitungan detik.

“Baru saja tadi semangat memanjat, sekarang malah mengajak main”, celetuk keeper lainnya sambil tersenyum.

Namun di balik semua tingkah usianya, Asih perlahan mulai menikmati kehidupan di hutan. Ia semakin sering mencoba memakan daun muda, buah-buahan hutan, biji-bijian, hingga berbagai jenis pakan alami yang ditemukannya sendiri. Sesekali ia juga bertahan lebih lama di atas pohon, bergelantungan di antara cabang-cabang sebelum kembali turun dan melanjutkan petualangannya.

Tidak ada satu pun hari di sekolah hutan yang benar-benar sama ketika bersama Asih. Kadang keeper pulang dengan pakaian penuh lumpur karena harus mengikutinya ke mana-mana. Kadang mereka tertawa karena berhasil “dibohongi” Asih yang berpura-pura diam, lalu tiba-tiba melesat ke pohon lain. Di hari berikutnya, mereka kembali dibuat kagum melihat keberanian Asih mencoba hal-hal baru yang ditemuinya di hutan.

Bagi para keeper, mendampingi Asih memang membutuhkan tenaga ekstra. Namun, di balik langkah-langkah yang harus dipercepat, tawa yang sering pecah di tengah hutan, dan kejutan-kejutan kecil yang selalu ia ciptakan, tersimpan cerita tentang orangutan muda yang sedang menikmati setiap petualangannya dengan rasa ingin tahu yang begitu besar. Mungkin, itulah yang membuat setiap hari bersama Asih selalu menjadi hari yang menyenangkan. (NAB)

KEPO-IN ROBERT SELAMA BULAN JULI 2026

Bulan Juli menjadi bulan yang penuh cerita bagi Robert di area enclosure. Robert saat ini menghabiskan hari-harinya di ruang luas, di kelilingi pepohonan yang memberinya kesempatan untuk memanjat, beristirahat, dan menikmati suasana yang lebih alami.

Setiap pagi, Robert memiliki cara tersendiri untuk memulai harinya. Terkadang ia sudah berada di dekat pagar seolah menanti waktu pemberian pakan, namun di hari lain ia memilih tetap berada di tengah pepohonan, menikmati suasana pagi dari atas cabang-cabang pohon. Ketika keeper memanggilnya, Robert akan menghampiri untuk menikmati pakan, kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya di dalam enclosure.

Sebagian besar waktunya dihabiskan di atas pohon. Robert terlihat berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya, memilih tempat yang nyaman untuk beristirahat, atau sekedar duduk sambil mengamati lingkungan di sekitarnya. Sesekali ia memperhatikan aktivitas orangutan lain maupun keeper yang sedang melakukan pemantauan, tetapi tak lama kemudian ia kembali larut dengan aktivitasnya sendiri di antara rimbunnya pepohonan.

Area enclosure juga menyediakan berbagai jenis tumbuhan yang dapat dimanfaatkan Robert. Selain menikmati pakan yang diberikan keeper, ia mulai mencoba berbagai sumber pakan alami yang tersedia di dalamnya, termasuk beberapa jenis buah hutan. Momen-momen seperti ini menjadi pemandangan yang menyenangkan bagi tim yang setiap hari mendampinginya.

Saat cuaca cerah dan matahari terasa cukup terik, keeper sesekali memberikan buah kelapa sebagai tambahan. RObert selalu menyambutnya dengan antusias. Ia merobek sabut kelapa menggunakan giginya, menikmati daging buahnya, lalu meminum air kelapa hingga habis. Pada kesempatan lain, batang tebu juga diberikan sebagai variasi sekaligus sumber cairan yang dinikmati Robert.

Selain itu, bulan ini, tim juga menambahkan sebuah alat enrichment berupa tabung yang dapat diisi air dengan berbagai cara, baik menggunakan tangan maupun memanfaatkan benda-benda yang ada disekitarnya.

Menjelang sore, Robert kerap terlihat berada di bagian tengah ataupun pinggir enclosure sebum akhirnya memilih tempat beristirahat untuk malam hari. Di bawah rindangnya pepohonan atau di area yang menurutnya nyaman, Robert mengakhiri aktivitas hariannya hingga keesokan pagi kembali memulai rutinitasnya.

Setiap hari di enclosure menghadirkan cerita yang berbeda. Ada hari ketika Robert lebih banyak menikmati ketenangan dari atas pohon, ada pula hari ketika ia lebih aktif menjelajahi setiap sudut kawasan. Semua itu menjadi bagian dari kesehariannya, memperlihatkan bagaimana Robert memanfaatkan ruang jelajahnya dengan caranya sendiri sambil terus menikmati kehidupan di lingkungan yang lebih alami. (NAB)