Bekerja sebagai dokter hewan di Centre for Orangutan Protection adalah sebuah petualangan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Bayangkan saja, setiap hari saya harus akrab dengan kehidupan di dalam hutan yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Di sini, jangan harap bisa dengan mudah mengisi daya ponsel karena listrik tidak dan semuanya serba terbatas. Kalau ada situasi darurat, tantangannya sungguh luar biasa karena akses yang sulit di dalam hutan. Namun, dibalik keterbatasan itu, huta Siranggas selalu punya cara untuk memberikan kejutan yang membuat lelah saya menguap seketika. Dan kejutan terbesar akhir-akhir ini datang dari orangutan yang sangat ekspresif bernama Asih.
Bagi para keeper di sekolah hutan, Asih mungkin dikenal sebagai si pemilik energi tanpa batas yang hobi membuat orang ngos-ngosan mendaki dan menuruni jalur hutan yang menanjak. Namun bagi saya, Asih adalah orangutan cerdik dan menggemaskan.
Belakangan ini, hubungan bonding antara saya dan Asih terasa semakin kuat. Menariknya, Asih tampaknya tahu betul siapa yang harus ia cari jika tubuhnya sedang merasa tidak nyaman. Masih lekat di ingatan saya bagaimana beberapa waktu lalu, dalam tiga hari yang berbeda, Asih tiba-tiba datang menghampiri saya. Bukan untuk mengajak bermain seperti biasa ia lakukan dengan para keeper, melainkan untuk sebuah agenda yang jauh lebih formal, “laporan kesehatan”.
Ya, kamu tidak salah baca. Si cerdik Asih ini datang menghampiri saya, lalu dengan sengaja menunjukkan bagian tubuhnya yang terluka. Melalui tatapan matanya yang penuh arti dan mimik muka yang sangat ekspresif, ia seolah-olah berbicara, “Dok, lihat deh, aku punya luka baru nih di sini. Tolong obati dong!”.
Momen ketika ia menunjuk lukanya sendiri dengan jari-jarinya adalah salah satu pemandangan paling menakjubkan yang pernah saya saksikan. Bagaimana bisa orangutan memiliki kesadaran sedalam itu untuk meminta pertolongan? Mungkin karena di waktu-waktu sebelumnya, setiap kali Asih terluka, saya selalu mengobati dan merawatnya dengan penuh kesabaran sampai benar-benar sembuh. Memori itulah yang membekas di kepalanya, kalau terluka, datanglah ke dokter.
Nah di sinilah letak keseruannya. Saat saya berusaha fokus membersihkan lukanya, Asih malah punya kesibukan lain. Tangan-tangannya mulai beraksi menarik-narik hijab saya dengan gemas. Jadilah saya sibuk membagi fokus, satu sisi mengobati lukanya sampai selesai, di sisi lain sibuk Menahan hijab agar tidak melorot akibat tarikan tangan Asih. Kejadian seru seperti ini jelas tidak akan pernah saya temukan di klinik mana pun!
Meski prosesnya penuh drama tarik-menarik hijab dan kejar-kejaran kecil, Asih tidak pernah berniat buruk. Dia hanya mengekspresikan rasa penasaran dan sifat cerdiknya yang alami. Di foto yang saya bagikan kali ini, terlihat jelas bagaimana Asih dengan wajahnya yang menggemaskan sedang sibuk memeriksa sendiri area lukanya setelah ‘melapor’ kepada saya. Bahkan, saya sampai punya dua foto di lokasi luka yang berbeda karena kebiasaannya yang suka pamer luka ini.
Tingkah lucu Asih ini benar-benar bikin hari-hari saya di Suaka Margasatwa Siranggas jadi lebih berwarna. Tinggal di tengah hutan yang fasilitasnya minim memang menantang, tapi momen dihampiri Asih yang mau pamer luka begini bikin semua rasa lelah terbayar lunas. Kepercayaan dari dia itu berharga banget buat saya. Biar deh hijab acak-acakan atau harus ngos-ngosan di jalur nanjak, yang penting Asih bisa sehat dan kembali aktif di atas pohon.
Sampai jumpa di cerita petualangan saya dan Asih berikutnya di tengah rimbunnya hutan Siranggas! (NAN).
Kemunculan empat beruang madu di area perkebunan masyarakat di Jorong Limpato, Nagari Kajai, Sumbar dilaporkan warga Pasaman Barat. Tim segera melakukan penyisiran di sekitar perkebunan masyarakat yang menjadi lokasi terakhir kemunculan dua indukan dan dua anakan beruang Sumatera. Namun tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan maupun aktivitas satwa.
Pemantauan dilanjutkan pada malam harinya, APE Protector COP bersama BKSDA Sumbar melakukan upaya penghalauan di lokasi yang sebelumnya menjadi tempat beraktivitas beruang madu. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya mengurangi potensi pertemuan kembali antara satwa dan masyarakat. Tim pun akhirnya melanjutkan penyisiran keesokan harinya.
Kemunculan satwa liar di sekitar perkebunan atau pemukiman bukan hanya persoalan keberadaan satwa yang dianggap mengancam. Kondisi tersebut juga menunjukkan adanya pertemuan antara ruang aktivitas manusia dan ruang hidup satwa liar. Situasi ini perlu mendapat perhatian, terlebih ketika perubahan kondisi lingkungan dapat memengaruhi pola pergerakan dan sumber pakan satwa. Dalam kondisi tertentu, satwa dapat bergerak lebih dekat ke area yang digunakan manusia untuk mencari makanan atau tempat berlindung.
Centre for Orangutan Protection memandang konflik satwa liar dari Dua Sisi, yaitu ada masyarakat yang perlu mendapatkan rasa aman, tetapi ada pula satwa liar yang harus dilindungi agar tidak menjadi korban ketika berada terlalu dekat dengan manusia. Karena itu, respons terhadap laporan konflik tidak cukup hanya dengan mengusir satwa. Diperlukan verifikasi, pemantauan, pengumpulan informasi dari masyarakat, hingga tindakan yang terukur untuk memahami situasi di lapangan. Ketika manusia dan satwa liar bertemu di ruang yang sama, tujuan akhirnya bukan memenangkan salah satu pihak, yang dicari adalah cara agar masyarakat tetap aman dan satwa tetap memiliki kesempatan untuk kembali ke habitatnya. (APE_Protector)
Senin, 14 September 2026 suasana Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit terasa berbeda. Sekitar 100 siswa dari SDN 101833 Sibolangit, SMPN 2 Sibolangit, dan MTs YPI Al Hilal Bandar Baru berkumpul untuk mengikuti rangkaian edukasi konservasi dalam rangka memperingati Hari Kukang Sedunia. Kegiatan ini merupakan kolaborasi bersama Resort CA/TWA Sibolangit BBKSDA Sumatera Utara, Yayasan Patron Satwa Indonesia (YPSI), dan Centre for Orangutan Protection (COP).
Dalam sesi edukasi, COP mengajak para siswa mengenal lebih dekat tentang orangutan, mulai dari kehidupan dan habitatnya hingga berbagai ancaman yang membuat keberadaan satwa ini menghadapi tantangan. Pesan penting juga disampaikan bahwa satwa liar bukanlah hewan peliharaan. Keinginan untuk memelihara satwa liar justru dapat menjadi awal dari masalah yang lebih besar bagi satwa dan alam.
Tidak hanya mendengarkan, para siswa juga diajak terlibat secara aktif melalui diskusi interaktif dan permainan edukatif. COP berusaha membuat konservasi lebih udah untuk dipahami dan dekat dengan kehidupan sehari-hari anak-anak dengan cara yang lebih ringan dan menyenangkan.
Kegiatan ini juga diikuti dengan aksi bersih lingkungan, mengajak peserta elihat bahwa menjaga satwa liar tidak dapat dipisahkan dari menjaga habitatnya. Lingkungan yang sehat merupakan bagian penting dari keberlangsungan kehidupan berbagai spesies. Dari kukang hingga orangutan, pesan yang dibawa hari ini sederhana yaitu satwa liar hidup di alam, bukan di rumah manusia. COP akan terus mendorong tumbuhnya kepedulian sejak usia dini karena melindungi satwa liar bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies, tetapi juga menjaga hutan dan kehidupan yang bergantung di dalamnya. (APE_Sentinel)
Ada yang berbeda dengan enclosure orangutan Robert bulan Agustus kemarin. Keranjang besi bergelantungan di atas pohon. Itu adalah platform pakan yang baru untuk Robert, dengan harapan, Robert akan lebih lama lagi beraktivitas di atas pohon dibandingkan di tanah. Keranjang pakan ini berada di ketinggian 10 meter dan sengaja diletakkan di tengah enclosure nya. Tentu saja, ini juga usaha agar Robert berkurang mengganggu pagar listrik bahkan hot grass yang sengaja dipasang untuk membatasi ruangnya. Ya, Robert adalah orangutan dalam perawatan Sumatran Rescue Alliance (SRA) yang mendiami kandang tanpa jeruji besi atau bisa juga disebut enclosure. Kandang yang ada hanya untuk keperluan saat enclosure butuh perawatan, seperti rerumputan atau percabangan yang menghalangi pagar listrik harus dibersihkan.
Robert, orangutan jantan dewasa ini memang sering sekali tertarik dengan pagar listrik yang membatasinya. Ada saja akalnya seperti mematangkan ranting lalu mencoba menyentuh kabel dengan kayu tersebut yang tentu saja ada aliran listriknya. Robert pun terlihat kaget dan segera melepas ranting tersebut. Masih belum puas rasa penasarannya, dia pun mengambil batang pohon yang lebih besar, dan tentu saja itu sangat mengkhawatirkan.
Nah, keranjang pakan ini diharapkan bisa mengalihkan rasa penasarannya yang gak tuntas-tuntas pada pagar enclosure. Setelah animal keeper SRA berjuang mengarahkan Robert ke keranjang pakan, dan Robert mulai melihat keranjang penuh dengan buah yang disukainya, barulah Robert memanjat pohon tersebut. Sebentar saja, dia sudah nangkring di percabangan dan tidak turun-turun. Dedaunan yang menyembunyikan potongan buah, satu per satu dikeluarkannya. Satu per satu buah yang diperolehnya dinikmati di atas pohon. Robert pun mulai meraih percabangan pohon yang ada di dekatnya, dan mulai berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain. Ya Robert mulai menjelajah enclosure, kandang tanpa jeruji besi, kandang terbuka tanpa atap itu. Malam itu, dia beratap bintang. (FIK)
Perjalanan menjadi bagian dari gerakan konservasi tidak selalu berhenti ketika sebuah kegiatan berakhir. Bagi Dea dan Hera, apa yang mereka dapatkan melalui COP School Batch 16 justru menjadi awal untuk melangkah lebih jauh. Di Bulan Orangufriends 2026, keduanya bersama tim APE Protector mengabdikan diri untuk melakukan edukasi di Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat.
Pada 24-29 Agustus, ada lima sekolah yang langsung dikunjungi kedua relawan COP ini. Ada 211 siswa yang mengikuti kegiatan edukasi konservasi. Kelima sekolahan itu adalah SD Negeri 01 Bonjol, SMPN 01 Bonjol, MTsN 04 Pasaman, SMK Negeri 01 Bonjol, dan SDN 19 Lurah Berangin. COP School yang menjadi ruang untuk belajar, mengenal persoalan konservasi, dan membangun keberanian untuk terlibat menjadikan Orangufriends (relawan satwa COP) menjadi pelaku yang membagikan pengetahuan tentang konservasi ke dunia yang lebih luas lagi.
Dea dan Hera mengajak ratusan siswa mengenal Harimau Sumatra (Panthera tigris Sumatra) di sekolah-sekolah maupun di RIHAS (Ruang Informasi Harimau Sumatera). Materi mencakup karakteristik, habitat, peran ekologis, serta ancaman seperti jerat, perburuan, dan perdagangan satwa liar ilegal. Pengemasannya pun tak lepas dari persiapan mereka, karena keberhasilan edukasi ini tak sekedar menyampaikan tetapi menarik dan membekas pada generasi alpha yang sangat unik ini. Tanya jawab, diskusi, pojok baca, galeri foto, booth buku, hingga permainan interaktif menjadi cara terbaik masuk pada peserta yang usianya tak jauh dari Dea maupun Hera. Simulasi “membebaskan diri dari jerat”, diharapkan dapat membantu peserta memahami bagaimana jerat dapat menjadi ancaman serius bagi satwa liar.
Jika Dea dan Hera langsung menyeburkan diri di tanah Minang, ada kabar apalagi dari alumni COP School Batch 16 yang lain ya? (NAB)
Peringatan Hari Orangutan Sedunia di SDN 030432 Rahib, Pakpak Bharat, Sumatra Utara menjadi berbeda karena ke tiga puluh tujuh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 mengikuti kegiatan lomba mewarnai bertema orangutan. Melalui kertas gambar dan krayon di tangan, anak-anak mulai menuangkan imajinasi mereka. Beragam warna memenuhi gambar orangutan dan hutan. Ada yang memilih warna-warna cerah, ada pula yang denga teliti memadukan berbagai warna agar hasil karyanya terlihat semakin menarik. Suasana kelas pun dipenuhi semangat, konservasi, tawa, dan obrolan kecil antar teman. Namun kegiatan ini bukan sekadar tentang menentukan siapa yang menghasilkan yang paling indah.
Anak-anak diajak mengenal orangutan lebih dekat sejak usia dini. Mereka belajar bahwa orangutan bukan hanya satwa yang hidup di dalam hutan, tetapi juga bagian penting dari ekosistem. Keberadaan orangutan memiliki hubungan yang erat dengan keberlangsungan hutan, tempat berbagai makhluk hidup bergantung. Kegiatan semakin menyenangkan karena lomba mewarnai juga diselingi dengan berbagai permainan edukatif. Anak-anak bergerak, bermain, tertawa, sekaligus mengingat kembali pesan-pesan tentang orangutan dan pentingnya menjaga lingkungan. Pendekatan yang sederhana dan dekat dengan dunia anak-anak membuat pesan konservasi lebih dekat dengan sasarannya.
Antusiasme terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Anak-anak tidak hanya menjadi peserta lomba, tetapi juga bagian dari proses bersama tentang alam di sekitar mereka. Dari sebuah gambar yang diwarnai, muncul rasa ingin tahu. Dari permainan sederhana, tersampaikan pesan tentang pentingnya menjaga hutan. Dan dari pengalaman kecil seperti ini, diharapkan tumbuh kepedulian yang akan terus berkembang.
Hari ini, mungkin orangutan masih mereka kenal melalui gambar dan cerita sederhana. Namun, suatu hari nanti, pengetahuan tersebut dapat menjadi dasar untuk memahami mengapa satwa liar dan habitatnya harus dijaga. Konservasi tidak selalu harus dimulai dengan langkah besar. (PUT)
Masih dalam rangkaian Bulan Orangufriends yang menjadi ruang bagi relawan COP untuk ikut terlibat secara nyata dalam aksi-aksi konservasi, salah satunya School Visit di SMPN 01 Bonjol, Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat. Kali ini bersama Dea dan Hera yang menjalani program volunteer selama tiga bulan setelah mengikuti COP School Batch 16.
Sebanyak 15 siswa kelas IX mengikuti kegiatan dengan antusias. Para siswa diajak mengenal lebih dekat Harimau Sumatra, mulai dari karakteristik, kehidupan di alam, kondisi populasinya, hingga berbagai ancaman yang dihadapi satwa endemik Sumatra tersebut. Melalui diskusi sederhana, para siswa diajak memahami bahwa menjaga harimau berarti turut menjaga hutan dan seluruh kehidupan yang ada di dalamnya. Mereka juga diajak mengenali peran manusia dalam mengurangi berbagai ancaman terhadap satwa liar.
Setelah materi selesai, suasana belajar berlanjut ke sesi tanya jawab dan diskusi interaktif di pojok baca yang dilengkapi galeri foto satwa. Kehadiran foto-foto satwa membuat siswa dapat melihat lebih dekat kehidupan satwa liar dan ancaman yang mereka hadapi di habitatnya.
Agar pesan konservasi semakin mudah dipahami, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan fun games di luar ruangan. Para siswa mengikuti simulasi bertema, “Membebaskan Diri darui Jerat”. Melalui permainan tersebut, mereka diajak merasakan secara sederhana bagaimana sulitnya satwa ketika terperangkap jerat, sekaligus memahami mengapa jerat menjadi salah satu ancaman serius bagi satwa liar.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa aksi konservasi dapat dimulai dari hal sederhana, dengan belajar, berbagi, dan berani terlibat. Bagi Dea dan Hera, pengalaman sebagai Orangufriends sekaligus alumni COP School Batch 16 menjadi kesempatan untuk meneruskan pengetahuan yang pernah mereka dapatkan kepada generasi muda. Selama tiga bulan ini keduanya dengan berani mengambil bagian dalam menyebarkan pesan bahwa menjaga satwa berarti menjaga masa depan hutan. (APE Protector)
Upaya mempersiapkan habitat bagi pelepasliaran Harimau Sumatra terus dilakukan termasuk melakukan survei keberadaan satwa liar lain yang menjadi bagian penting dari ekosistem. Beberapa temuan seperti cakaran beruang madu, cakaran kucing-kucingan, jejak kijang, jejak tapir, feses kucing-kucingan, kaisan babi hutan, serta bekas sarang babi hutan menunjukkan bahwa kawasan tersebut masih memiliki daya dukung habitat yang baik.
Kabar baik lainnya datang dari kondisi keamanan habitat. Selama survei, tim tidak menemukan jerat aktif maupun jerat yang sudah tidak aktif. Tim menemukan bekas pondok pemburu di dua lokasi berbeda, namun pondok sudah cukup lama tidak digunakan. Tim juga berhasil mencapai lokasi yang direncanakan sebagai helipad. Setelah dilakukan pembersihan atau clearing, lokasi tersebut dinilai cukup baik karena memiliki kontur tanah yang relatif rata sehingga mendukung kebutuhan akses dalam kegiatan pelepasliaran.
Untuk memantau aktivitas satwa secara menyeluruh, tim memasang tiga unit kamera jebak (camera trap) selama tiga hari. Kamera berhasil merekam keberadaan beruang madu dan tapir Asia yang melintas di kawasan tersebut. Selain keberadaan berbagai satwa, kondisi vegetasi hutan juga masih tergolong baik. Tutupan dan kondisi hutan yang mendukung menjadi modal penting bagi keberlangsungan berbagai jenis satwa liar. Lalu, apakah hutan ini benar-benar siap menjadi rumahnya si raja hutan ini? (RON)
Semangat memperingati Global Tiger Day 2026 masih terasa di RIHAS. Kali ini, pesan tentang pentingnya menjaga harimau Sumatra dibawa lebih dekat kepada masyarakat melalui kegiatan bersepeda sekaligus kampanye di kawasan permukiman sekitar Rimbo Panti. Ada 29 peserta turut ambil bagian dengan mengendarai sepeda, mereka menyusuri jalan dan mengelilingi sebagian kawasan sambil membawa poster serta berbagi materi kampanye. Mereka juga membagikan stiker kepada masyarakat dan menyampaikan pesan untuk menjaga keberadaan harimau Sumatra.
Bagi sebagian orang, harimau mungkin hanya dikenal sebagai satwa liar yang hidup jauh di dalam hutan. Padahal, keberadaannya memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Karena itu, mengenal harimau dan memahami berbagai ancaman yang dihadapinya menjadi langkah awal untuk menumbuhkan kepedulian terhadap satwa liar. Tim APE Protector juga mengajak masyarakat luas bahwa menjaga harimau tidak hanya menjadi tanggung jawab mereka yang bekerja di kawasan konservasi. Masyarakat juga memiliki peran penting, salah satunya dengan memahami keberadaan satwa liar serta ikut menjaga habitatnya.
Setelah berkeliling dan menyapa masyarakat, kegiatan dilanjutkan di RIHAS dengan berbagai permainan dan pembagian hadiah. Suasana semakin meriah ketika para peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang telah direncanakan. Keseruan tidak berhenti ketika matahari mulai terbenam. Pada malam hari, RIHAS justru semakin hangat dengan diskusi santai. Para peserta berbagi cerita dan pengalaman sambil menikmati jagung bakar serta olahan lainnya.
Dari perjalanan di atas sepeda hingga obrolan santai di malam hari, satu pesan terus dibawa, Harimau Sumatra adalah bagian penting dari alam yang harus kita jaga bersama. Global Tiger Day bukan sekedar momentum untuk memperingati harimau. Lebih dari itu, peringatan ini menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap satwa liar perlu terus dibicarakan, dibagikan, dan diwujudkan melalui aksi nyata. (HIL)
Setiap tanggal 29 Juli dirayakan sebagai Hari Harimau Sedunia atau Global Tiger Day (GTD). Centre for Orangutan Protection (COP) bersama dengan relawannya yang tergabung dalam Orangufriends merayakan GTD 2026 dengan aksi serentak di lima belas kota di Indonesia pada Minggu, 2 Agustus 2026. Aksi serentak ini bertujuan untuk memberikan edukasi dan penyadartahuan kepada masyarakat umum bahwa harimau sebagai satwa langka endemik Indonesia. Dahulu Indonesia masih memiliki harimau jawa dan harimau bali. Namun, saat ini yang tersisa hanya ada jenis harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae).
“Melalui kampanye di beberapa kota, kami ingin menyebarkan informasi dan menggalang dukungan publik secara luas mengenai harimau sumatera, satwa endemik kebanggaan Indonesia yang kini terancam punah. Spesies ini juga memiliki nilai penting dalam
budaya dan kearifan lokal di Pulau Sumatera” ucap Hilman Fauzi, Kapten Tim APE Protector COP. Kampanye serentak ini dilakukan pada Hari Minggu, 2 Agustus 2026 oleh Orangufriends
di Kota Medan, Padang, Pasaman, Yogyakarta, Bandung, Kuningan, Samarinda, Malang, Lumajang, Manokwari, Cirebon, Padangsidempuan, Sidikalang, Manado dan Wahau.
Sejak 2022, tim COP bernama APE Protector bekerja di Kabupaten Pasaman bersama BKSDA Sumatera Barat dan masyarakat lokal. Tim ini melakukan kegiatan bersama seperti sapu jerat, patroli kawasan, mitigasi konflik, hingga penyelamatan harimau dan satwa liar lainnya. “Saat ini setidaknya ada tiga harimau sumatera yang harus segera dilepasliarkan. Mereka dievakuasi pada akhir tahun 2025 dan bulan Mei 2026. Para harimau ini harus dievakuasi karena terluka akibat jerat. Kita dukung penuh rencana Kementerian Kehutanan untuk melepasliarkan kembali harimau tersebut” tambah Hilman.
Aksi serempak ini sudah dilakukan tiga tahun terakhir, bersama relawan COP yang tergabung dalam Orangufriends yang ada di beberapa kota di Indonesia. Isu yang selalu dibawakan adalah tentang jerat yang setiap tahunnya menjadi masalah di harimau sumatera. Pemasangan jerat masih sering ditemui di hutan Indonesia. Kasus harimau terkena jerat kerap terjadi di berbagai daerah di Sumatera, dari Aceh hingga Lampung. Sebagian harimau mati akibat infeksi, pendarahan, ataupun kelaparan setelah terkena jerat. Saat ini populasi harimau sumatera tidak lebih dari 600 individu dan termasuk satwa berstatus Kritis (Critically Endangered) menurut IUCN Red List. Tekanan habitat dan pemasangan jerat menjadi ancaman serius bagi harimau sumatera. Kampanye publik ini diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat untuk ikut melestarikan harimau sumatera dan mendorong penegakan
hukum bagi pelaku pemasangan jerat.
Narahubung:
Hilman Fauzi, Kapten Tim APE Protector COP
Kontak: +62 817 7547 0113Catatan:
– APE Protector adalah tim yang dikelola oleh COP di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Misi
utama APE Protector adalah mendampingi kelompok masyarakat untuk melakukan patroli mandiri,
mitigasi konflik dan edukasi atau penyadartahuan.
– COP menjalankan dan mengelola relawannya yang bernama Orangufriends untuk bisa mendukung
kampanye dan kegiatan aksi langsungnya. Kelompok Orangufriends aktif ada di beberapa kota di
Indonesia.
