SIDANG KASUS PERDAGANGAN TAPIR ASIA DITUNDA, PEMERIKSAAN TERDAKWA DIJADWALKAN PEKAN DEPAN

4 Juni 2026 proses hukum terhadap kasus perdagangan satwa liar dilindungi jenis Tapir Asia (Tapirus indicus) terus berlanjut. Namun, sidang yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis harus ditunda setelah salah satu saksi yang seharusnya hadir tidak dapat memenuhi panggilan persidangan. Akibat ketidakhadiran saksi tersebut, agenda pemeriksaan saksi belum dapat dilaksanakan. Majelis hakim kemudian memutuskan untuk menunda persidangan dan menjadwalkan kembali sidang lanjutan pada 11 Juni.

Pada sidang berikutnya, agenda yang akan dilaksanakan adalah pemeriksaan para terdakwa. Dalam tahap ini para terdakwa akan memberikan keterangan di hadapan majelis hakim guna memperjelas fakta-fakta yang berkaitan dengan perkara yang sedang diperiksa.

Kasus ini merupakan tindak lanjut dari pengungkapan perdagangan satwa liar yang terjadi di Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat. Sebelumnya, tim gabungan yang terdiri dari BKSDA Sumbar, Polres Pasaman, KPHL Pasaman Raya, dan APE Protector COP (Centre for Orangutan Protection) berhasil mengungkap upaya perdagangan seekor Tapir Asia muda yang akan diperjualbelikan secara ilegal. Satwa dilindungi tersebut ditemukan berada di atas sebuah kendaraan pick-up dalam kondisi hidup saat operasi penindakan dilakukan. Dua orang pelaku kemudian diamankan untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa perdagangan satwa liar masih menjadi ancaman nyata bagi kelestarian keanekaragaman hayati Indonesia. Tapir Asia merupakan salah satu mamalia besar yang keberadaannya semakin tertekan akibat hilangnya habitat dan perburuan ilegal.

Penundaan sidang dilakukan untuk memastikan seluruh proses peradilan berjalan sesuai ketentuan yang berlaku. Kehadiran saksi dan pemeriksaan para terdakwa menjadi bagian penting dalam mengungkap rangkaian peristiwa serta menentukan pertanggungjawaban hukum dalam kasus ini. APE Protector akan terus memantau perkembangan persidangan dan menyampaikan informasi terbaru sebagai bentuk dukungan terhadap penegakan hukum di bidang konservasi satwa liar. (APE Protector)

BERCERITA LEWAT KARYA, MENEMUKAN MAKNA DI BALIK SETIAP TULISAN ORANGUFRIENDS MEDAN

Menulis bukan sekadar merangkai kata. Menulis adalah proses membangun gagasan, mengelolai pengalaman, dan menyampaikan cerita yang bermakna. Semangat inilah yang diangkat dalam kegiatan Kelas Orangufriends bertajuk “Bercerita Lewat Karya” yang diselenggarakan pada Minggu, 7 Juni 2026 di COP Medan.

Pada kesempatan ini, peserta mendapatkan pembelajaran langsung dari Titan Sadewa, seorang penulis sekaligus guru Bahasa Indonesia yang berbagi pengalaman serta pandangannya tentang dunia kepenulisan. Menurut Titan, menulis adalah sebuah criftmanship atau keterampilan yang perlu diasah melalui pengalaman terhadap bahan dan proses pembentukannya. Layaknya seorang perajin yang menciptakan karya, seorang penulis juga harus memahami cara membangun sebuah cerita dari ide-ide yang sederhana.

Untuk memantik kreativitas peserta, Titan mengajak mereka berpikir melalui pendekatan 4W+1H (What, Who, When, dan How). Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, peserta diajak menggali ide dan menemukan sudut pandang yang dapat dikembangkan menjadi tulisan.

Kegiatan kemudian berlanjut ke sesi yang lebih interaktif. Peserta diajak keluar ruangan untuk menikmati suasana sekitar dan menuliskan 30 kata yang muncul dalam pikiran mereka. Kata-kata tersebut kemudian dirangkai menjadi sebuah paragraf singkat yang terdiri dari 4-5 kalimat. Melalui latihan sederhana ini, peserta belajar bahwa inspirasi dapat ditemukan dimana saja, bahkan dari hal-hal yang tampak biasa.

Salah satu momen yang paling menarik terjadi saat sesi diskusi. Ketika ditanya, “Mengapa seseorang menulis?”, Titan menjawab bahwa setiap orang memiliki alasan yang berbeda, salah satunya sebagai bentuk pemuasan jiwa dan sarana menyalurkan berbagai pikiran yang menumpuk.

Ia juga mengibaratkan menulis seperti lari marathon, membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan pengelolaan energi yang baik. Menulis juga menuntut keberanian untuk menemukan cara baru dalam bercerita, sehingga kebiasaan membaca menjadi bekal penting bagi setiap penulis.

Melalui kegiatan ini, para peserta memperoleh perspektif baru bahwa menulis bukan sekadar aktivitas mencatat, melainkan sebuah keterampilan yang terus ditempa melalui latihan, pengalaman, dan keberanian untuk berkarya. (AGU)

SEMERBAK BUNGA PUSPA DI SIRANGGAS

Pada akhir Mei lalu, lingkungan hutan suaka margasatwa Siranggas lebih hangat dari pada sebelumnya. Intensitas cahaya matahari dan suhu udara mulai meningkat, frekuensi hujan dan kelembapan udara pun menurun. Aktivitas pagi dapat dimulai dengan cuaca yang cerah dan malam hari ditutup dengan gerimis ringan yang sejuk. Transisi musim ini diiringi dengan pohon puspa (Schima wallichii) yang mulai berbunga.

Bunga puspa memiliki 5 mahkota warna putih, banyak benang sari warna kuning, dan aroma harum manis yang memikat. Bunganya terlihat mencolok di antara dedaunan kanopi maupun serasah lantai hutan. Di area camp Siranggas ada 3 pohon puspa yang lokasinya berjauhan. Satu di sekitar gudang pakan, satu lagi di samping enclosure orangutan, dan satu lagi di area sekolah hutan. Ketiganya berupa tegakan pohon dengan diameter batang mulai dari 20 cm dan tinggi lebih dari 12 cm. Uniknya, terdapat variasi pada periode dimulainya pembungaan hingga morfologi dan jumlah bunga.

Pohon puspa samping kandang berbunga lebih awal, diikuti dengan dua individu lain yang mulai berbunga di awal Juni. Nampaknya, faktor lingkungan menjadi stimulus dari pembungaan ini. Mikroklimat setiap pohon puspa bervariasi, mulai dari paparan sinar matahari yang di dapat, posisi tajuk di lapisan kanopi, hingga kompetisi nutrisi di tanah dengan pohon lain. Kondisi ini memengaruhi fisiologis dan morfogenesis yang berkaitan dengan pembungaan seperti pembelahan sel dan produksi fitohormon.

Pohon samping enclosure orangutan memiliki bunga dengan ukuran besar dan jumlah banyak. Tingginya paparan cahaya matahari menstimulasi hormon florigen dan menginduksi pembungaan. Sisa daun dan feses orangutan yang ditumpuk di bawahnya juga menyuplai bahan organik tanah sebagai sumber nutrisi pohon. Oleh karena itu, pembungaan individu ini lebih unggul daripada kedua lainnya yang berbunga dengan kualitas dan kuantitas yang lebih rendah.

Ada banyak bunga puspa yang berjatuhan di atas tanah oleh tiupan angin, senggolan satwa, atau luruh alami karena telah terfertilisasi dan mulai memasuki perkembangan buah. Bunga-bunga yang masih bersih dan utuh dikumpulkan untuk diberikan ke orangutan bernama Asih. Hal ini menjadi bentuk pengenalan pakan alami alternatif ketika jumlah pakan utama (buah) tidak melimpah di hutan. Untungnya, Asih merespons baik pemberian bunga ini. Ia mengobservasi dan membau bunga puspa sebelum memakannya dengan lahap. Respons membau ini selalu diekspresikan ketika Asih mendapatkan enrichment buah hutan atau bunga yang masih asing baginya.

Pemberian bunga ini disebar ke berbagai sisi enclosure untuk mendukung keaktifan Asih dalam mengenali dan mencari pakan. Harapannya, Asih dapat mengenali bunga puspa yang tersebar di tajuk-tajuk pohon tinggi ketika menjalani sekolah hutan. Ketika ia sudah mengenali beragam jenis pakan alami di hutan, kesempatan untuk kembali hidup liar dan bebas di habitatnya semakin dekat. (FAR)

KESEMPATAN KEDUA UNTUK SANG BELANG MUDA

Pada 21 Mei yang lalu di Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat, ditemukan dalam kondisi terjerat, satu anak Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) betina berusia kurang dari satu tahun. Lilitan kawat menyebabkan luka terbuka pada bagian leher, pangkal tungkai kaki depan, dan punggungnya. Beruntung, masyarakat segera menginformasikan ke pihak yang berwenang sehingga tim dapat bergerak cepat melakukan penyelamatan sebelum kondisinya memburuk.

Patroli Anak Nagari (PAGARI) Koto Rajo, PAGARI Beringin, PAGARI Salareia, BKSDA Sumbar, Polsek Rao bersama APE Protector COP bahu membahu mengevakuasi dan menangani harimau muda ini tidak lebih dari 24 jam sejak terjerat. Saat ini, perawatan intensif pada luka-luka terbukanya, pemberian pakan bergizi terutama daging merah menjadi prioritas, selain pemberian vitamin guna membantu percepatan pemulihannya.

Setelah 14 hari perawatan, kondisinya menunjukkan perkembangan positif. Nafsu makannya mulai kembali, aktivitasnya semakin normal, dan luka-luka yang sebelumnya terbuka kini perlahan mengering. Setiap hari, tim terus memantau kesehatannya untuk memastikan proses pemulihan berjalan dengan baik.

Ini bukan hanya tentang penyelamatan seekor harimau, namun menjadi pengingat akan ancaman serius yang masih menghantui satwa liar di berbagai wilayah Sumatra terutama jerat satwa. Dalam beberapa tahun terakhir, berita mengenai satwa liar yang terjerat terus bermunculan. Jerat yang umumnya dipasang untuk menangkap babi hutan atau satwa yang dianggap mengganggu perkebunan sering kali tidak memilih mangsa. Harimau Sumatra, beruang madu, rusa, tapir, hingga satwa endemik dilindungi lainnya juga ikut menjadi korban secara tidak sengaja. Ketika satwa memasuki area yang dipasangi jerat, kawat akan mengencang dan menyebabkan luka serius, infeksi, cacat permanen, bahkan kematian.

Banyak kasus berakhir tragis karena satwa ditemukan terlambat atau tidak ditemukan sama sekali. Tidak sedikit individu satwa dilindungi yang mati secara perlahan akibat luka yang semakin parah, kelaparan, atau kehilangan kemampuan untuk berburu dan bertahan hidup di alam. Bagi spesies yang populasinya sudah semakin sedikit, hilangnya satu individu saja merupakan kerugian besar bagi upaya konservasi.

Saat ini, sang belang muda telah pulih sepenuhnya. Sebelum kembali ke alam liar, ia akan menjalani medical check-up (MCU) secara menyeluruh untuk memastikan seluruh fungsi tubuh, kondisi luka, dan kesehatannya berada dalam kondisi optimal. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ia telah sehat dan siap bertahan hidup secara mandiri, harimau tersebut akan dilepasliarkan kembali. (APE Protector)

EMPAT BULAN DI SRA, KEEMPATNYA MENJADI LIAR KEMBALI?

Empat bulan bulan waktu yang panjang, jika yang dibicarakan adalah kehidupan di hutan. Tapi bağı individu sepeti Jay, Noon, Bow, dan Raiking, empat bulan bisa berarti pergeseran besar dari ketergantungan menuju sesuatu yang lebih mendekati kemandirian.

Di Sumatran Rescue Alliance (SRA), fase ini sering disebut sebagai awal dari “sekolah hutan”. Sebuah istilah yang terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya merujuk pada proses yang tidak pernah benar-benar linear. Tidak ada kurikulum tetap. Tidak ada target harian yang harus dicapai. Yang ada hanyalah ruang, kesempatan, dan interaksi dengan lingkungan bersama dan dengan diri mereka sendiri. Bow misalnya, mulai menunjukkan perubahan yang cukup mencolok.

Jika sebelumnya ia lebih banyak mengamati, kini ia terlihat lebih berani mengambil keputusan. Dalam salah satu sesi enrichment, sarang semut diberikan sebagai tantangan. Hanya satu. Sengaja. Bukan tanpa alasan, situasi ini menciptakan kompetisi atau mungkin lebih tepatnya keberanian untuk mengambil risiko.

Bow tidak lagi ragu. Ia mendekat, mengupas bagian luar sarang dan mengabaikan semut-semut yang berusaha mempertahankan tempatnya. Ada momen dimana tubuhnya dipenuhi semut, gigitan kecil yang tidak nyaman, mungkin juga menyakitkan. Tapi ia tidak mundur. Ada sesuatu yang mendorongnya untuk tetap bertahan entah rasa lapar, rasa ingin tahu, atau dorongan yang lebih dalam untuk menaklukkan tantangan.

Dan ketika akhirnya sarang itu terbuka, isinya dimakan tanpa banyak jeda. Telur-telur semut yang sebelumnya tersembunyi, kini menjadi hasil dari proses yang tidak instan. Bukan hanya makanan yang didapat, tetapi juga pengalaman tentang bagaimana menghadapi gangguan, menahan diri, dan tetap fokus pada tujuan.

Sementara itu, Jay bergerak dalam ritme yang berbeda. Ia tidak terlalu tertarik pada kompetisi. Hari-harinya lebih banyak diisi dengan eksplorasi yang tenang berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain, ,mencari buah yang mungkin belum matang sepenuhnya, tetapi cukup untuk dicoba. Ada satu momen ketika ia memilih cabang kecil untuk berayun. Cabang itu tidak cukup kuat. Patah.

Jay jatuh dari ketinggian sekitar tiga meter. Tidak ada kepanikan yang berlebihan setelahnya. Ia bangkit, kembali ke cabang yang patah dan justru memanfaatkan situasi itu dengan memakan buah-buah muda yang kini lebih mudah dijangkau. Seolah-olah kegagalan kecil itu bukan sesuatu yang harus dihindari tetapi bagian dari proses yang dimanfaatkan.

Noon berada di antara dua dinamika itu. Ia tidak se-agresif Bow, tetapi juga tidak sepenuhnya pasif seperti Jay. Noon lebih sering terlihat mengamati sebelum bertindak. Ia mengikuti pergerakan yang lain, tetapi tidak selalu terlibat langsung. Ada jeda dalam setiap keputusannya yaitu sebuah pola yang mungkin mencerminkan kehati-hatian, atau cara lain dalam memahami lingkungan.

Namun dari waktu, ke waktu Noon mulai menunjukkan inisiatifnya sendiri. Ia mencoba jalur baru di kanji, memilih pohon yang berbeda, dan sesekali terlibat dalam aktivitas yang sebelumnya ia hindari. Perubahan itu tidak drastis, tetapi cukup konsisten untuk menunjukkan bahwa proses belajar sedang berlangsung.

Raiking, di sisi lain memulai dengan cara yang paling terlihat, kebingungan. Pada hari-hari awal di sekolah hutan, ia tampak lebih banyak mengikuti daripada memimpin. Setiap gerakan terasa ragu. Setiap suara di sekelilingnya memicu respons waspada. Dunia di luar kandang bukan hanya luas, tetapi juga penuh kemungkinan yang belum ia pahami.

Namun ketergantungan itu tidak bertahan lama. Dalam waktu yang relatif singkat, Raiking mulai mengambil jarak. Ia tidak lagi terus-menerus mengikuti individu lain. Ia mulai memilih arah sendiri, mencoba memanjat lebih tinggi dan menghabiskan waktu lebih lama di satu titik seolah sedang memetakan kemungkinan.
Ada momen ketika ia berhenti di ketinggian tertentu, diam, mengamati. Bukan sekedar melihat, tetapi seperti mempertimbangkan. Jalur mana yang aman. Cabang mana yang cukup kuat, atau mungkin kemana ia bisa pergi jika harus bergerak cepat.

Empat bulan ini belum menjadikan meraka “liar” sepenuhnya. Itu bukan tujuan yang bisa dicapai dalam hitungan waktu yang pasti. Tetapi ada sesuatu yang mulai terbentuk kepercayaan diri, kemampuan beradaptasi, dan yang paling penting kemauan untuk mencoba.

Sekolah hutan tidak mengajarkan mereka dengan cara yang kita pahami sebagai “mengajar”. Tidak ada instruksi verbal. Tidak ada koreksi langsung. Yang ada hanyalah pengalaman jatuh dari cabang, digigit semut, gagal mengambil makanan, lalu mencoba lagi. Dan mungkin, di situlah inti dari proses ini. Bahwa menjadi liar kembali bukan tentang kembali ke titik awal, tetapi tentang membangun ulang kemampuan yang sempat hilang sedikit demi sedikit melalui pengalaman yang nyata. Jay, Noon, Bow, dan Raiking masih berada di tengah proses itu. Dan sejauh ini, mereka tidak berhenti. (Animal Keeper SRA)

TAMI, EMBER AIR, DAN UPAYA MEMANCING YANG TIDAK PERNAH SEDERHANA

Ada satu ember berisi air. Di dalamnya, potongan buah dan sayur mengapung tidak sepenuhnya tenggelam, sehingga cukup sulit dijangkau. Hari itu, Tami dihadapkan pada sesuatu yang tampak sederhana, mengambil makanan.

Pada percobaan pertama, Tami memilih cara paling cepat. Ia mencoba menumpahkan ember. Logis. Jika airnya hilang, buah akan lebih mudah diambil. Sebuah solusi langsung, tanpa perlu banyak usaha tambahan. Tapi usaha itu tidak berhasil. Ember itu terlalu ringan untuk menjadi tantangan yang berarti, hingga akhirnya keeper menambahkan air. Beratnya berubah. Situasinya juga.

Di titik ini, pendekatan Tami ikut berubah. Ia berhenti mencoba menaklukkan ember dan mulai “bernegosiasi” dengan situasi. Tami berjalan mondar-mandir, memperhatikan sekelilingnya, lalu mulai memilih kayu. Tidak semua kayu dipilih. Ada proses seleksi yang tampak jelas seperti panjangnya, bentuknya, mungkin juga teksturnya. Seolah-olah Tami sedang mencari sesuatu yang “cukup tepat”, bukan sekedar “ada”. Satu kayu diambil. Lalu dimodifikasi. Ujungnya dibuat sedikit lebih runcing.

Di sinilah aktivitas ini berhenti menjadi sekadar mencari makan. Ini berubah menjadi proses tentang bagaimana sebuah masalah dihadapi, dicoba, gagal, lalu dicoba lagi. Percobaan pertama gagal. Kedua juga. Beberapa kali kayu yang digunakan tidak cukup efektif. Buah tetap sulit dijangkau. Tapi Tami tidak berhenti. Wajahnya terlihat serius, fokusnya tidak pecah. Ia terus mengulang dengan cara yang sedikit berbeda, setiap kali.

Sekitar 10 menit kemudian, satu potongan jeruk berhasil didapat. Keberhasilan kecil itu tampaknya cukup untuk mengubah ritme. Tami melanjutkan. Bukan lagi sekadar mencoba, tetapi seperti memahami pola dari apa yang sedang ia lakukan. Dalam 20 menit pengamatan, tiga potong buah berhasil ia dapatkan.

Yang menarik, aktivitas itu tidak berhenti ketika waktu pengamatan selesai. Tami masih melanjutkan. Ada sesuatu yang sering luput ketika kita melihat enrichment sebagai “aktivitas tambahan” bagi satwa. Kita cenderung melihat hasil berapa banyak yang didapat, seberapa cepat diselesaikan. Padahal, yang terjadi di dalam proses itu jauh lebih penting.

Apa yang dilakukan Tami hari itu bukan hanya tentang mendapatkan buah. Ia menunjukkan bagaimana ia berpikir, mencoba, menyesuaikan diri, dan bertahan dalam kegagalan kecil yang berulang untuk menghadapi proses dan detail yang sering terabaikan. Ia memberi ruang bagi proses. Dan dalam proses itu, kita melihat sesuatu yang lebih utuh. Bahwa Tami bukan sekadar mengerjakan tugas enrichment, tetapi sedang menggunakan kemampuannya memilih memodifikasi alat, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi.

Hari itu, ember berisi air bukan hanya wadah. Ia menjadi medium untuk memperlihatkan satu hal yang sering kita anggap remeh. Bahwa kecerdasan, ketekunan, dan adaptasi tidak selalu muncul dalam bentuk yang spektakuler. Kadang, ia hadir dalam bentuk sederhana dari individu orangutan yang terus mencoba, meski berkali-kali gagal, hanya untuk mendapatkan satu potong buah. (FAN)

MOTIVASI SEKOLAH HUTAN AGAM

Siang itu di area sekolah hutan, pola perilaku Agam kembali terlihat konsisten. Ia menunggu. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena belum sepenuhnya percaya diri untuk memulai tanpa rangsangan, sebelumnya Agam selalu bersama dengan Maximus ketika sekolah hutan.

Ketika buah tidak diletakkan di atas pohon, Agam memilih enggan memanjat, duduk di tanah berumput adalah pilihan saat ini dan mematahkan ranting kecil atau memperhatikan pergerakan tim di sekitarnya. Namun saat buah digantung di cabang setinggi lima hingga tujuh meter respons nya berubah. Ia langsung fokus. Tangan meraih batang pohon, kakinya mengunci, dan ia memanjat perlahan. Tidak tergesa, tetapi juga tidak ragu.

Perilaku ini biasa disebut sebagai perilaku bentuk ketergantungan motivasional. Dalam aktivitas ini juga ajang untuk membangun kepercayaanmu satwa kepada staf atau petugas medis, bahwa beberapa individual rehabilitasi memang membutuhkan stimulus eksternal, terutama ketika masih muda. Targetnya bukan membuatnya tergantung pada buah, tetapi membangun asosiasi bahwa ini aman dan staf atau petugas medis seperti ibu pengganti.

Observasi kemarin juga menunjukkan Agam sebenarnya memiliki koordinasi tubuh yang sudah baik. Cengkeramannya kuat. Ia mampu berpindah cabang tanpa kehilangan keseimbangan. Artinya, hambatan yang muncul bukan fisik, melainkan keberanian dan inisiatif.

Tim rehabilitasi kini menyusun strategi bertahap, seperti jumlah pancingan buah akan dikurangi perlahan. Buah tidak lagi selalu ditempatkan di posisi mudah terlihat. Harapannya, Agam mulai mengeksplorasi pohon tanpa harus menunggu imbalan langsung.

Sekolah hutan bukan sekedar aktivitas memanjat. Ia adalah proses membentuk ulang naluri. Dan bagi Agam, kemarin adalah satu langkah kecil menuju kemandirian langkah yang masih perlu di dorong, tetapi sudah menunjukkan arah yang jelas. (NAB)

MERAWAT HARAPAN SUMBER PAKAN ORANGUTAN DI SRA

Merawat di Sumatran Rescue Alliance (SRA) bukan sekedar pekerjaan teknis. Ia adalah pilihan untuk tetap tinggal, untuk terus mencoba, bahkan ketika hasilnya tak selalu sesuai harapan. Pada 1 dan 16 Januari 2026, tim APE Sentinel COP bersama SRA menanam berbagai bibit pohon. Mulai dari sukun, rambutan, alpukat, cempedak, hingga Nangka ditanam di sekitar area SRA yang memiliki area terbuka yang tidak ada pepohonan, area longsoran terbuka di depan kandang Robert merupakan tanah yang tidak cukup ramah.

Beberapa minggu berselang setelah ditanam.Bukan untuk merayakan, tapi untuk melihat kenyataan. Sebagian besar bibit masih hidup. Daun-daunnya tidak sempurna mengering di ujung, menguning di beberapa bagian. Tapi mereka bertahan. Dalam diam, mereka menegaskan satu hal, hidup adalah proses menyesuaikan diri. Di area kandang karantina yang baru, bibit aren dan cempedak bahkan menunjukkan hasil lebih baik. Semua hidup. Semua tumbuh. Di ruang yang lebih terjaga, kehidupan tampak lebih mungkin.

Namun alam selalu punya cara untuk mengingatkan batas manusia. Di area tebing, banyak bibit hilang. Sebagian rusak, sebagian tercabut. Umbut-umbut muda yang seharusnya tumbuh justru tergeletak di tanah. Jejak yang tertinggal menunjukkan siapa yang datang (babi hutan). Mereka tidak tahu soal rencana restorasi, tidak peduli pada harapan manusia. Mereka hanya menjalankan naluri dan di situlah letak benturannya. Apa yang bagi manusia adalah upaya memulihkan, bagi makhluk lain bisa jadi sebuah camilan atau gangguan. Lanskap ini tidak kosong. Ia sudah lama dihuni, jauh sebelum manusia datang membawa bibit dan rencana.

Pemantauan terus berjalan. Tim mendata ulang, memeriksa satu per satu, termasuk di enklosur dan kandang-kandang lain. Tidak ada yang instan. Semua dicatat, semua dipelajari. Di saat yang sama, perawatan tetap dilakukan. Pemupukan rutin menjadi bagian dari usaha menjaga yang masih tersisa. Sepuluh karung pupuk telah habis digunakan. Tapi merawat tidak pernah berhenti pada apa yang tersedia. Ia adalah tindakan berulang yang kadang terasa sia-sia, tapi tetap dilakukan.

Dari hasil diskusi bersama berikutnya mulai disusun. Penanaman akan memprioritaskan bambu. Bukan karena mudah, tapi karena mungkin bertahan. Di tanah yang mudah longsor, di area yang rawan gangguan, pilihan harus realistis. Merawat berarti menerima bahwa tidak semua akan berhasil. Bahwa sebagianakan hilang, sebagian akan mati, dan sebagian lagi jika beruntung makan akan tumbuh. Tapi justru di dalam ketidakpastian itulah merawi menemukan maknanya. (NAB)

MELEPASLIARKAN BUKAN SEKEDAR MENGEMBALIKAN

Pada 26 Februari 2026, Tim gabungan dari BKSDA Sumatra Barat, KPHP Pasaman Raya, dan Centre for Orangutan Protection menggagalkan upaya perdagangan ilegal satu individual Tapir Asia. Ia ditemukan di atas kendaraan dalam perjalanan panjang menuju Sumatera Utara menuju sebuah tujuan yang tidak pernah ia pilih.

Tubuhnya bercerita lebih dulu sebelum siapa pun bertanya. Luka di pergelangan kaki menunjukkan bekas jerat. Tali yang terlalu lama mengikat meninggalkan jejak yang dalam. Di bagian kepala dan tubuh, luka lain terlihat jelas. Ia tidak dalam kondisi baik. Ia tidak siap untuk apa pun kecuali bertahan. Dan bertahan saja tidak cukup.

Selama kurang lebih 14 hari, tapir itu dirawat. Bukan sekedar diberi makan dan obat, tetapi dipulihkan perlahan. Di kantor BKSDA Sumatera Barat Seksi Konservasi Wilayah I Bukittinggi, tim medis bekerja tanpa banyak sorotan. Dokter hewan dan perawat satwa memastikan luka-luka itu mengering, infeksi tidak menyebar dan tubuhnya kembali cukup kuat untuk berdiri.

Merawat dalam konteks ini, bukan tindakan heroik. Ia adalah kerja rutin. Berulang. Kadang membosankan. Tapi justru di situlah letak pentingnya. Karena tanpa perawatan, penyelamatan berhenti di tengah jalan. Namun ada satu hal yang membuat proses ini tidak sederhana, karena statusnya sebagai barang bukti.

Tapir itu bukan hanya korban. Ia juga bagian dari perkara hukum. Artinya, setia[ langkah terhadap dirinya harus melalui koordinasi dengan kepolisian, kejaksaan, dengan sistem yang tidak selalu bergerak cepat. Bersama Kepolisian Resor Pasaman dan Kejaksaan Negeri Pasaman, keputusan akhirnya diambil. Tapir itu tidak harus menunggu persidangan. Ia bisa dilepasliarkan lebih cepat. Sebuah keputusan yang terdengar sederhana, tetapi menentukan. Karena waktu, bagi satwa liar bukan sekedar angka.

Pelepasliaran sering kali dipahami sebagai akhir. Padahal, ia adalah kelanjutan. Apa yang terjadi setelahnya tidak selalu bisa dipantau, tidak selalu bisa dikendalikan. Tapi setidaknya, ia diberi kesempatan. Di luar sana, perdagangan satwa liar masih berlangsung. Jaringan yang sama masih bergerak. Permintaan yang sama masih ada. Tapir ini mungkin selamat, tapi banyak yang lain tidak.

Di titik ini, pelepasliaran menjadi lebih dari sekadar tindakan konservasi. Ia menjadi pengingat bahwa setiap penyelamatan selalu datang terlambat bagi sebagian yang lain. Dan hanya merawat dalam segala keterbatasan adalah cara paling nyata untuk melawan. Bukan dengan cara yang besar. Bukan dengan cara yang cepat. Tetapi dengan memastikan bahwa satu nyara tidak hilang sia-sia. (APE Protector)

MAXIMUS KINI BERADA DI AMBANG BABAK BARU

Maximus telah tumbuh dari sosok kecil yang dulu lebih sering mengikuti langkah temannya, yang terkesan menjadi bayangan dari orangutan Agam kini telah berdiri tanpa Agam di sisinya. Tidak ada lagi jarak yang ia jaga karena lagu, tidak ada lagi gerak yang tertahan karena menunggu. Yang ada hanyalah hutan yang terbentang luas dan dirinya sendiri dan kepercayaan dirinya untuk sekolah hutan.

Begitu kakinya menyentuh tanah lembab, Maximus mengangkat wajahnya ke arah kanopi. Seolah membaca peta yang tergambar dalam cahaya, ia memilih satu pohon tinggi di sisi utara enclosure. Dulu ia memanjat dengan ritme hati-hati, sering memastikan posisi Agam sebelum berani bergerak lebih jauh. Namun hari ini, ada ketegasan baru di setiap ayunan lengannya. Ia memanjat bukan untuk mengejar, melainkan untuk menemukan.

Di bawahnya, baby sitter orangutan yang baru saja masuk, Filzah Nadira, berjalan perlahan menyusuri lantai hutan. Langkahnya ringan, tatapannya awas. Ia menjaga jarak yang cukup, cukup dekat untuk memastikan keselamatan, cukup jauh untuk memberi ruang bagi Maximus belajar dari pengalamannya sendiri. Kehadirannya bukan untuk menggantikan naluri liar, melainkan menjadi jembatan sunyi menuju kemandirian.

Di ketinggian, Maximus berhenti sejenak. Angin menyentuh rambut di punggungnya. Aroma buah tercium samar. Ia bergerak menyusuri cabang, menemukan buah-buahan yang menggantung di antara daun. Tangannya cekatan memetik, giginya menggigit daging buah dengan mantab. Kulitnya jatuh berderak ke lantai hutan. Tidak ada yang mengarahkan, tidak ada yang menunjukkan. Ia menemukan sendiri.

Filzah mendongak, menyaksikan bagaimana Maximus kini tidak lagi “ragu” dan takut jika jauh dari Agam. Dulu, ia kerap berhenti lama sebelum melangkah, seperti menimbang keberanian di dalam dirinya. Kini, ia bergerak dengan perhitungan yang lebih matang. Ia tanpa ragu menguji kekuatan ranting, menyesuaikan keseimbangan tubuhnya, lalu menggantung dengan luwes sebelum berpindah pohon.

Sesekali Maximus mencoba mengupas kulit pohon tipis dan menggigit bagian dalamnya. Eksplorasi kecil yang dulu ia lakukan karena meniru, kini menjadi bagian dari nalurinya sendiri. Area sekolah perlahan menjadi gurunya memberi pelajaran tanpa suara, tanpa instruksi, hanya melalui pengalaman.

Sesekali Filzah tetap mengawasi dengan tenang. Ia memahami bahwa momen seperti ini adalah capaian penting dalam rehabilitasi. Ketika orangutan tidak lagi terdistraksi oleh rangsangan sesaat, tetapi mampu kembali pada tujuan alaminya mencari makan, menjelajah, bertahan, dan belajar.

Menjelang siang, ketika matahari semakin tinggi, Maximus berhenti di ketinggian sedang. Ia mulai mencoba melipat beberapa ranting, menyusunnya perlahan. Belum sempurna, belum kokoh seperti sarang orangutan dewasa, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa insting membangun tempat istirahat mulai tumbuh.

Filzah tetap berjalan di bawah, menjaga dalam diam. Maximus di antara dahan-dahan tinggi menuliskan satu bab penting dalam hidupnya, bahwa kemandirian bukan berarti sendiri, melainkan mampu memilik jalan dengan yakin, bahkan ketika yang menemani hanyalah bayangan pohon dan seorang baby sitter yang percaya padanya dari kejauhan. (NAB)