MELEPASLIARKAN BUKAN SEKEDAR MENGEMBALIKAN
Pada 26 Februari 2026, Tim gabungan dari BKSDA Sumatra Barat, KPHP Pasaman Raya, dan Centre for Orangutan Protection menggagalkan upaya perdagangan ilegal satu individual Tapir Asia. Ia ditemukan di atas kendaraan dalam perjalanan panjang menuju Sumatera Utara menuju sebuah tujuan yang tidak pernah ia pilih.
Tubuhnya bercerita lebih dulu sebelum siapa pun bertanya. Luka di pergelangan kaki menunjukkan bekas jerat. Tali yang terlalu lama mengikat meninggalkan jejak yang dalam. Di bagian kepala dan tubuh, luka lain terlihat jelas. Ia tidak dalam kondisi baik. Ia tidak siap untuk apa pun kecuali bertahan. Dan bertahan saja tidak cukup.
Selama kurang lebih 14 hari, tapir itu dirawat. Bukan sekedar diberi makan dan obat, tetapi dipulihkan perlahan. Di kantor BKSDA Sumatera Barat Seksi Konservasi Wilayah I Bukittinggi, tim medis bekerja tanpa banyak sorotan. Dokter hewan dan perawat satwa memastikan luka-luka itu mengering, infeksi tidak menyebar dan tubuhnya kembali cukup kuat untuk berdiri.
Merawat dalam konteks ini, bukan tindakan heroik. Ia adalah kerja rutin. Berulang. Kadang membosankan. Tapi justru di situlah letak pentingnya. Karena tanpa perawatan, penyelamatan berhenti di tengah jalan. Namun ada satu hal yang membuat proses ini tidak sederhana, karena statusnya sebagai barang bukti.
Tapir itu bukan hanya korban. Ia juga bagian dari perkara hukum. Artinya, setia[ langkah terhadap dirinya harus melalui koordinasi dengan kepolisian, kejaksaan, dengan sistem yang tidak selalu bergerak cepat. Bersama Kepolisian Resor Pasaman dan Kejaksaan Negeri Pasaman, keputusan akhirnya diambil. Tapir itu tidak harus menunggu persidangan. Ia bisa dilepasliarkan lebih cepat. Sebuah keputusan yang terdengar sederhana, tetapi menentukan. Karena waktu, bagi satwa liar bukan sekedar angka.
Pelepasliaran sering kali dipahami sebagai akhir. Padahal, ia adalah kelanjutan. Apa yang terjadi setelahnya tidak selalu bisa dipantau, tidak selalu bisa dikendalikan. Tapi setidaknya, ia diberi kesempatan. Di luar sana, perdagangan satwa liar masih berlangsung. Jaringan yang sama masih bergerak. Permintaan yang sama masih ada. Tapir ini mungkin selamat, tapi banyak yang lain tidak.
Di titik ini, pelepasliaran menjadi lebih dari sekadar tindakan konservasi. Ia menjadi pengingat bahwa setiap penyelamatan selalu datang terlambat bagi sebagian yang lain. Dan hanya merawat dalam segala keterbatasan adalah cara paling nyata untuk melawan. Bukan dengan cara yang besar. Bukan dengan cara yang cepat. Tetapi dengan memastikan bahwa satu nyara tidak hilang sia-sia. (APE Protector)



