Hari itu superit hari-hari biasanya di sekolah hutan BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Semua orangutan beraktivitas dengan caranya masing-masing, ada yang foraging di kanopi pohon dan ada yang memilih bermain di lantai hutan. Sementara Felix, dia memilih berada di atas pohon eksplorasi dan mencari makan bersama Pansy.
“Ksrks… krksks… kskskr…”. Tiba-tiba terdengar suara dedaunan dari atas pohon. Seketika kami para keeper menengok ke atas pohon. Tidak disangka ternyata di atas phon, terlihat Felix yang sedang menyusun dedaunan yang dia telah petik di atara dua cabang pohon. Kami semua terkejut dan otomatis berucap, “Felix buat sarang!?”. Kami terkejut dan sedikit ada rasa tidak percaya dengan apa yang kami lihat. Felix yang biasanya mengekor pada babysitter atau memeluk kaki babysitter selama sekolah hutan, hari ini membuat sarang pertamanya.
Membuat sarang merupakan salah satu skill yang harus dikuasai oleh orangutan agar bisa bertahan hidup di alam liar. Dan insting Felix untuk mulai menyusun dedaunan menjadi sarang merupakan satu indikator perkembangan kemampuannya. Sebelumnya pun, Felix juga sudah terlihat mereparasi sarang-sarang lama dengan menumpukkan daun-daun baru di atas daun-daun yang sudah kering. Terkadang Felix juga terlihat melanjutkan sarang yang dibuat oleh orangutan lain dengan mematahkan ranting lalu menumpuk ranting tersebut ke pondasi sarang yang sudah ada.
Sarang yang dibuat Felix itu memang belum sempurna, bahkan pondasi sarang itupun masih sangat rapuh. Namun melihat bagaimana Felix bisa mencapai titik itu, tentu memberi rasa bangga dan haru. Kami menyadari bahwa Felix yang kami kenal adalah bayi orangutan yang manja, kini telah bertumbuh dengan cara dan ritmenya sendiri. (JAN)
Sudah tıga bulan sejak orangutan Jane menjadi penghuni paling baru di baby house BORA. Saat pertama kali dititipkan di akhir bulan Juni tahun ini, usianya hanya sekitar 1,5 tahun. Walau baru tida bulan menjadi babysiter nya, saya sudah menetapkan Jane sebagai salah satu orangutan terpintar di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Saya takjub begitu melihat orangutan sekecil itu menjelajah dengan lincah di tajuk-tajuk pohon tinggi dan mencari pakan-pakan alami seperti kambium dan buah hutan, kadang ia memotek ranting untuk dijadikannya sarang sederhana, begitu bersemangat memecahkan pengayaan buatan dan alami yang diberikan meski kondisi jarinya yang tidak sempurna.
Namun, sepandai dan semandiri apa pun Jane, ada kalanya ia bersikap menja layaknya bayi orangutan pada umumnya. Seperti hari ini, Jane tampak gembira bermain di lantai playroom baby house, menutup seluruh badannya dengan karung goni lalu berjalan mengitari playroom, sesekali ia akan berguling dan menyeret karung goninya mendekati saya. Saat saya mengulurkan tangan, Jane akan sok tidak peduli dan kembali berguling menjauh.
Kadang saat sekoilah hutan, Jane akan sulit untuk diajak pulang. Ia masih senang eksplorasi dari pohon ke pohon. Jadi, saya akan membiarkan Jane melanjutkan sekolahnya sambil mengajak Charlie, penghuni baby house lainnya, untuk pulang terlebih dahulu. Namun, Jane sangat tidak suka sendirian. Saat melihat saya dan Charlie pulang, Jane akan merengek dan turun menghampiri saya dengan sendirinya, lalu meminta digendong seperti anak kecil.
Ada satu kebiasaan Jane yang akhir-akhir ini saya pikirkan. Ia selalu merengek dan menangis saat melihat saya pergi ke dalam hutan. Padahal saya hanya mencari daun sebagai pengayaan untuk alas tidurnya. Saya tidak tahu mengapa ia menangis begitu nyaring, tetapi ada satu hipotesis yang terlintas di otak saya.
Mungkinkah ia takut terpisah dengan saya seperti saat ia terpisah dengan ibunya?
Saya tidak tahu jawaban pastinya. Mungkin, menangis hanya cara Jane meminta saya untuk tetap berada di dekatnya. Namun, setiap kali mendengarnya, saya kembali diingatkan bahwa di balik kepiawaiannya menjelajah tajuk pohon, mencari pakan, dan memecahkan pengayaan, Jane tetaplah bayi orangutan yang masih membutuhkan rasa aman dan kasih sayang. Ia mungkin sedang belajar untuk mandiri, tetapi bukan berarti ia harus berhenti menjadi bayi. (FIQ)
Ada yang berbeda dengan enclosure orangutan Robert bulan Agustus kemarin. Keranjang besi bergelantungan di atas pohon. Itu adalah platform pakan yang baru untuk Robert, dengan harapan, Robert akan lebih lama lagi beraktivitas di atas pohon dibandingkan di tanah. Keranjang pakan ini berada di ketinggian 10 meter dan sengaja diletakkan di tengah enclosure nya. Tentu saja, ini juga usaha agar Robert berkurang mengganggu pagar listrik bahkan hot grass yang sengaja dipasang untuk membatasi ruangnya. Ya, Robert adalah orangutan dalam perawatan Sumatran Rescue Alliance (SRA) yang mendiami kandang tanpa jeruji besi atau bisa juga disebut enclosure. Kandang yang ada hanya untuk keperluan saat enclosure butuh perawatan, seperti rerumputan atau percabangan yang menghalangi pagar listrik harus dibersihkan.
Robert, orangutan jantan dewasa ini memang sering sekali tertarik dengan pagar listrik yang membatasinya. Ada saja akalnya seperti mematangkan ranting lalu mencoba menyentuh kabel dengan kayu tersebut yang tentu saja ada aliran listriknya. Robert pun terlihat kaget dan segera melepas ranting tersebut. Masih belum puas rasa penasarannya, dia pun mengambil batang pohon yang lebih besar, dan tentu saja itu sangat mengkhawatirkan.
Nah, keranjang pakan ini diharapkan bisa mengalihkan rasa penasarannya yang gak tuntas-tuntas pada pagar enclosure. Setelah animal keeper SRA berjuang mengarahkan Robert ke keranjang pakan, dan Robert mulai melihat keranjang penuh dengan buah yang disukainya, barulah Robert memanjat pohon tersebut. Sebentar saja, dia sudah nangkring di percabangan dan tidak turun-turun. Dedaunan yang menyembunyikan potongan buah, satu per satu dikeluarkannya. Satu per satu buah yang diperolehnya dinikmati di atas pohon. Robert pun mulai meraih percabangan pohon yang ada di dekatnya, dan mulai berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain. Ya Robert mulai menjelajah enclosure, kandang tanpa jeruji besi, kandang terbuka tanpa atap itu. Malam itu, dia beratap bintang. (FIK)
