JAAG, BUAH ENDEMIK HUTAN KALIMANTAN

Gemericik air Sungai Menyuq yang jernih mengiringi perjalanan tim APE Guardian menuju hulu. Sembari melakukan patroli dan monitoring kawasan, sesekali kami menoleh ke tepian sungai, barangkali ada buah atau tumbuhan yang bisa dibawa pulang untuk menambah logistik di pos monitoring. Tak terasa, satu jam perjalanan membawa kami semakin jauh ke hulu, hingga akhirnya menemukan bekas pondok peladang. Di sna, kami memutuskan berhenti sejenak untuk beristirahat.

Sesaat setelah melangkahkan kaki darti perahu yang telah bersandar, kaki Yusuf, staf lapangan APE Guardian, menginjak sesuatu yang lembek, disertai aroma harum yang khas. Ketika menoleh ke bawah, benar saja, buah-buah hutan berwarna jingga tampak berjatuhan. Melihat hal tersebut, kami segera mencari pohon asalnya. Tak jauh dari karangan, tepian sungai berbatu yang tersusun dari batu kali kecil, berdiri pohon besar dengan buah yang bergerombol, persis seperti yang kami temukan di tanah.

“Buah apa ini, Amai? Bisa dimakan kah?”, tanya Yusuf kepada Amai Lukas, warga lokal Busang.

“Buah jaag”, jawab Amai Lukas. Begitulah masyarakat Busang menyebutnya, atau di daerah lain dikenal juga sebagai buah bumbunau.

Tumbuhan ini memiliki nama ilmiah Aglaia laxiflora, termasuk dalam keluarga Meliaceae. Daging buahnya bertekstur menyerupai langsat. Pohon ini umumnya ditemukan di hutan primer, sepanjang punggung bukit, serta di tepi sungai. Ciri utamanya adalah pohon yang tinggi dan besar, dapat mencapai lebih dari 20 meter, dengan diameter batang melebihi 70 cm. Buahnya berdiameter sekitar 2 sampai 3 cm, berbentuk agak memanjang, dengan kulit berwarna kuning, daging putih, dan rasa masam sepat.

Buah Aglaia laxiflora merupakan salah satu potensi pakan bagi orangutan. Beberapa referensi menyebutkan bahwa tumbuhan ini endemik hutan Kalimantan, sehingga keberadaannya menjadi penting untuk dilestarikan. (YUS)

COP SCHOOL BATCH 16 TELAH DIBUKA

COP School Batch 16 resmi dibuka! Program ini kembali hadir sebagai wadah pembelajaran yang tidak hanya informatif, tetapi juga transformatif bagi siapa saja yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan, satwa liar, dan masa depan bumi. Diselenggarakan di Yogyakarta pada 13–18 Juli 2026, kegiatan ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar langsung yang mendalam, menggabungkan teori, praktik lapangan, serta diskusi kritis bersama para praktisi konservasi.
Selama enam hari penuh, peserta akan diajak untuk menyelami berbagai isu penting dalam dunia konservasi, mulai dari perlindungan habitat, perdagangan satwa liar ilegal, hingga peran masyarakat dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Tidak hanya belajar di dalam ruang, peserta juga akan merasakan bagaimana peran konservasionis di masyarakat, terutama ketika terjun langsung ke lapangan dan berinteraksi dengan komunitas setempat. Melalui pengalaman ini, peserta dapat memahami secara nyata dinamika sosial, tantangan, serta upaya kolaboratif yang dilakukan dalam menjaga kelestarian alam. Bahkan, jika beruntung, peserta akan mendapatkan kesempatan untuk terlibat sebagai volunteer dalam wilayah kerja COP.
Program ini terbuka untuk umum dengan batas usia minimal 18 tahun. COP School Batch 16 mencari individu yang tidak hanya ingin belajar, tetapi juga memiliki komitmen terhadap nilai-nilai konservasi dan keberagaman. Peserta diharapkan datang dengan semangat kolaborasi, keterbukaan terhadap perspektif baru, serta keinginan untuk menjadi bagian dari solusi atas berbagai permasalahan lingkungan yang semakin kompleks.
Lebih dari sekadar program pelatihan, COP School adalah ruang bertumbuh. Di sini, peserta akan bertemu dengan orang-orang dari latar belakang yang beragam, membangun jejaring, bertukar ide, dan menciptakan kolaborasi yang berpotensi berdampak jangka panjang. Setiap diskusi, pengalaman, dan refleksi selama program ini diharapkan mampu memperkaya cara pandang serta memperkuat peran individu dalam upaya konservasi.
Selain itu, peserta juga akan mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung dari para ahli dan praktisi yang telah berpengalaman di bidangnya. Dengan pendekatan yang interaktif dan aplikatif, materi yang disampaikan tidak hanya mudah dipahami, tetapi juga relevan dengan kondisi nyata di lapangan. Ini menjadi kesempatan langka untuk menggali ilmu sekaligus mendapatkan inspirasi dari mereka yang telah lebih dulu terjun dalam dunia konservasi.
Pendaftaran COP School Batch 16 akan ditutup pada 10 Mei 2026. Waktu yang terbatas ini menjadi pengingat bahwa kesempatan berharga tidak datang dua kali. Bagi kamu yang selama ini ingin berkontribusi lebih dalam isu lingkungan, inilah saat yang tepat untuk mengambil langkah nyata.
Jangan lewatkan kesempatan ini untuk menjadi bagian dari perubahan. Jadilah generasi yang tidak hanya peduli, tetapi juga beraksi. Daftarkan dirimu sekarang dan bergabunglah bersama komunitas yang memiliki visi yang sama untuk menjaga alam dan kehidupan liar.
Mari melangkah bersama, belajar bersama, dan tumbuh bersama dalam perjalanan konservasi ini. Jadilah bagian dari COP School Batch 16, dan wujudkan peranmu sebagai Orangufriends yang membawa dampak positif bagi bumi dan generasi mendatang

SELANG DAMKAR UNTUK ORANGUTAN

Kadang, hal-hal yang telah selesai menjalankan tugas utamanya justru menemukan makna baru di tempat yang tak terduga. Begitu pula pada selang pemadam kebakaran (damkar yang sudah tak terpakai, kini menemukan peran baru sebagai bahan enrichment berupa hammock untuk satwa liar, khususnya orangutan.

Momen penuh makna hadir bagi Centre for Orangutan Protection atas donasi selang bekas dari Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Sleman. Bagi Damkar, selang merupakan perlengkapan penting dalam berbagai operasi penyelamatan, menjadi bagian dari upaya melindungi manusia dan lingkungan dari bahaya kebakaran. Namun, meskipun masa pakainya telah usai, selang-selang ini tidak kehilangan nilainya. Melalui kepedulian dan inisiatif yang luar biasa, , Damkar Sleman memilih menyalurkan kembali perlengkapan tersebut untuk dimanfaatkan dalam tujuan yang berbeda, namun tetap membawa semangat perlindungan yang sama, kali ini bagi satwa.

Di tangan kami, selang-selang ini akan diolah menjadi bagian dari enrichment, khususnya dalam bentuk hammock bagi orangutan dan primata lainnya di pusat rehabilitasi yang kami kelola. Materialnya yang kuat dan fleksibel sangat ideal untuk menimpang aktivitas bergelantungan, beristirahat, dan bermain sebagai perilaku alami yang penting bagi kesejahteraan satwa. Kehadiran hammock ini tidak hanya memberikan kenyamanan, tetapi juga membantu menjaga kesehatan fisik dan mental satwa selama masa perawatan.

Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang tulus kepada seluruh kawan-kawang Damkar Sleman, Yogyakarta atas kontribusi berharga ini. Donasi ini menjadi bukti bahwa upaya perlindungan dapat terus berlanjut dalam berbagai bentuk, serta menunjukkan bahwa kolaborasi lintas peran mampu menghadirkan dampak nyata bagi kehidupan satwa liar. (VID)