EMPAT BULAN DI SRA, KEEMPATNYA MENJADI LIAR KEMBALI?

Empat bulan bulan waktu yang panjang, ika yang dibicarakan adalar kehidupan di hutan. Tapi bağı individu sepeti Jay, Noon, Bow, dan Raiking, empat bulan bisa berarti pergeseran besar dari ketergantungan menuju sesuatu yang lebih mendekati kemandirian.

Di Sumatran Rescue Alliance (SRA), fase ini sering disebut sebagai awal dari “sekolah hutan”. Sebuah istilah yang terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya merujuk pada proses yang tidak pernah benar-benar linear. Tidak ada kurikulum tetap. Tidak ada target harian yang harus dicapai. Yang ada hanyalah ruang, kesempatan, dan interaksi dengan lingkungan bersama dan dengan diri mereka sendiri. Bow misalnya, mulai menunjukkan perubahan yang cukup mencolok.

Jika sebelumnya ia lebih banyak mengamati, kini ia terlihat lebih berani mengambil keputusan. Dalam salah satu sesi enrichment, sarang semut diberikan sebagai tantangan. Hanya satu. Sengaja. Bukan tanpa alasan, situasi ini menciptakan kompetisi atau mungkin lebih tepatnya keberanian untuk mengambil risiko.

Bow tidak lagi ragu. Ia mendekat, mengupas bagian luar sarang dan mengabaikan semut-semut yang berusaha mempertahankan tempatnya. Ada momen dimana tubuhnya dipenuhi semut, gigitan kecil yang tidak nyaman, mungkin juga menyakitkan. Tapi ia tidak mundur. Ada sesuatu yang mendorongnya untuk tetap bertahan entah rasa lapar, rasa ingin tahu, atau dorongan yang lebih dalam untuk menaklukkan tantangan.

Dan ketika akhirnya sarang itu terbuka, isinya dimakan tanpa banyak jeda. Telur-telur semut yang sebelumnya tersembunyi, kini menjadi hasil dari proses yang tidak instan. Bukan hanya makanan yang didapat, tetapi juga pengalaman tentang bagaimana menghadapi gangguan, menahan diri, dan tetap fokus pada tujuan.

Sementara itu, Jay bergerak dalam ritme yang berbeda. Ia tidak terlalu tertarik pada kompetisi. Hari-harinya lebih banyak diisi dengan eksplorasi yang tenang berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain, ,mencari buah yang mungkin belum matang sepenuhnya, tetapi cukup untuk dicoba. Ada satu momen ketika ia memilih cabang kecil untuk berayun. Cabang itu tidak cukup kuat. Patah.

Jay jatuh dari ketinggian sekitar tiga meter. Tidak ada kepanikan yang berlebihan setelahnya. Ia bangkit, kembali ke cabang yang patah dan justru memanfaatkan situasi itu dengan memakan buah-buah muda yang kini lebih mudah dijangkau. Seolah-olah kegagalan kecil itu bukan sesuatu yang harus dihindari tetapi bagian dari proses yang dimanfaatkan.

Noon berada di antara dua dinamika itu. Ia tidak se-agresif Bow, tetapi juga tidak sepenuhnya pasif seperti Jay. Noon lebih sering terlihat mengamati sebelum bertindak. Ia mengikuti pergerakan yang lain, tetapi tidak selalu terlibat langsung. Ada jeda dalam setiap keputusannya yaitu sebuah pola yang mungkin mencerminkan kehati-hatian, atau cara lain dalam memahami lingkungan.

Namun dari waktu, ke waktu Noon mulai menunjukkan inisiatifnya sendiri. Ia mencoba jalur baru di kanji, memilih pohon yang berbeda, dan sesekali terlibat dalam aktivitas yang sebelumnya ia hindari. Perubahan itu tidak drastis, tetapi cukup konsisten untuk menunjukkan bahwa proses belajar sedang berlangsung.

Raiking, di sisi lain memulai dengan cara yang paling terlihat, kebingungan. Pada hari-hari awal di sekolah hutan, ia tampak lebih banyak mengikuti daripada memimpin. Setiap gerakan terasa ragu. Setiap suara di sekelilingnya memicu respons waspada. Dunia di luar kandang bukan hanya luas, tetapi juga penuh kemungkinan yang belum ia pahami.

Namun ketergantungan itu tidak bertahan lama. Dalam waktu yang relatif singkat, Raiking mulai mengambil jarak. Ia tidak lagi terus-menerus mengikuti individu lain. Ia mulai memilih arah sendiri, mencoba memanjat lebih tinggi dan menghabiskan waktu lebih lama di satu titik seolah sedang memetakan kemungkinan.
Ada momen ketika ia berhenti di ketinggian tertentu, diam, mengamati. Bukan sekedar melihat, tetapi seperti mempertimbangkan. Jalur mana yang aman. Cabang mana yang cukup kuat, atau mungkin kemana ia bisa pergi jika harus bergerak cepat.

Empat bulan ini belum menjadikan meraka “liar” sepenuhnya. Itu bukan tujuan yang bisa dicapai dalam hitungan waktu yang pasti. Tetapi ada sesuatu yang mulai terbentuk kepercayaan diri, kemampuan beradaptasi, dan yang paling penting kemauan untuk mencoba.

Sekolah hutan tidak mengajarkan mereka dengan cara yang kita pahami sebagai “mengajar”. Tidak ada instruksi verbal. Tidak ada koreksi langsung. Yang ada hanyalah pengalaman jatuh dari cabang, digigit semut, gagal mengambil makanan, lalu mencoba lagi. Dan mungkin, di situlah inti dari proses ini. Bahwa menjadi liar kembali bukan tentang kembali ke titik awal, tetapi tentang membangun ulang kemampuan yang sempat hilang sedikit demi sedikit melalui pengalaman yang nyata. Jay, Noon, Bow, dan Raiking masih berada di tengah proses itu. Dan sejauh ini, mereka tidak berhenti. (Animal Keeper SRA)

LOM PLAI: PANEN, DOA, DAN INGATAN YANG TETAP HIDUP

Di Kutai Timur, ketika musim panen tiba, Desa Nehas Liah Bing, atau “Selabing” seperti masyarakat sekitar menyebutnya, berubah menjadi panggung budaya yang dipenuhi musik tradisional, tarian, dan perayaan yang berlangsung hingga malam. Pada April lalu, saya berkesempatan mengikuti Lom Plai, pesta syukur panen padi masyarakat Dayak Wehea yang masih dijalankan turun-temurun sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan alam.
Malam 21 April, sekitar pukul delapan, saya berjalan kaki dari mess APE Crusader menuju lapangan utama desa. Dari kejauhan, suara musik tradisional sudah terdengar dari kejauhan. Semakin dekat ke lapangan, suasana berubah semakin ramai. Deretan pedagang memenuhi sisi jalan, mulai dari penjual makanan, mainan anak-anak, kerajinan tangan, hingga produk UMKM lokal bercampur menjadi pasar malam. 

Ketika saya tiba, acara Dem Jiaq (malam tari bersama) baru dimulai. Anak-anak Dayak dengan pakaian adat berwarna-warni memasuki lapangan satu per satu. Di kepala mereka terpasang hiasan bulu burung khas Dayak yang bergerak lembut mengikuti langkah kaki. Mereka menari membentuk satu baris panjang mengelilingi lapangan, sementara di tengah arena sekelompok orang dewasa memainkan alat musik tradisional dengan irama yang repetitif namun menenangkan.
Semakin malam, jumlah penari terus bertambah. Anak kecil, remaja, hingga orang dewasa bergerak bersama dalam pola yang sama, seolah seluruh desa larut dalam satu irama kolektif.
Di sisi lapangan berdiri sebuah patung Hudoq raksasa yang langsung mencuri perhatian. Tubuhnya tertutup helaian rumput hijau panjang, sementara kepalanya berupa ukiran kayu besar dengan ekspresi magis yang sulit dijelaskan. Dihiasi pantulan cahaya lampu malam, sosok itu tampak seperti penjaga tua yang diam-diam mengawasi seluruh perayaan.
Tarian terus berlangsung hingga menjelang tengah malam.
Keesokan paginya, 22 April, langit di atas Wahau begitu cerah. Sekitar pukul sembilan pagi, saya bersama Eng, Dimi, dan Ferdi dari APE Crusader, serta drh. Tytha yang saat itu sedang bertugas bersama tim rescue COP, kembali menuju lapangan desa.
Hari itu merupakan pembukaan rangkaian utama Lom Plai. Upacara dimulai dengan ritual penyembelihan ayam oleh para tetua adat sebagai persembahan bagi leluhur dan roh penjaga kampung. Di bawah terik matahari pagi, para tamu undangan dari pemerintahan Kutai Timur menyaksikan prosesi yang berlangsung khidmat.
Selepas pembukaan, kami berjalan menuju tepian Sungai Wehea. Di sana suasana berubah jauh lebih meriah. Sungai menjadi pusat berbagai pertunjukan tradisional, antara lain tarian di atas rakit, seksiang (perang-perangan di atas perahu menggunakan tombak dari rumput gajah), hingga lomba dayung putra maupun putri yang memancing sorak-sorai warga di sepanjang bantaran sungai.
Pada waktu yang sama, jalan-jalan kampung dimeriahkan budaya Pengsaq dan Peknai. Warga saling menyiram air, lalu mengoleskan arang ke wajah satu sama lain sambil tertawa. Anak-anak berlarian, sementara orang dewasa yang semula rapi perlahan berubah penuh noda hitam di wajah mereka. Ritual ini menjadi puncak kegembiraan Lom Plai, simbol sukacita setelah musim panen.
Selama Lom Plai berlangsung, keramahtamahan menjadi bagian dari perayaan. Rumah-rumah warga terbuka bagi siapa saja yang datang untuk ikut makan dan berbagi cerita. Hari itu kami mendapat undangan makan di rumah keluarga Pak Bambang, relasi COP yang sudah seperti orang tua sendiri bagi kami di Wahau.
Di atas meja tersaji berbagai hidangan khas hari raya, lengkap dengan makanan khas pesta panen. Kami mencicipi lemang, beras ketan yang dimasak di dalam bambu bersama santan lalu dibakar perlahan di atas api, serta beang bit, makanan tradisional Wehea menyerupai dodol yang dibuat dari tepung beras ketan hasil panen dan gula merah.
Sebelum kembali ke mess untuk beristirahat siang, kami sempat berkeliling melihat tenda gerai kerajinan dan produk khas Dayak di sekitar lapangan. Di tengah berbagai anyaman rotan, kain, dan manik-manik, kami masih menemukan satu gerai yang menjual kepala asli burung rangkong dan julang sebagai pajangan. Pemandangan itu terasa kontras dengan semangat pelestarian alam yang juga hidup di banyak bagian festival. Melihat bagian tubuh satwa liar masih diperjualbelikan secara terbuka menjadi pengingat bahwa hubungan antara tradisi, budaya, dan konservasi masih menyisakan ruang dialog yang panjang.
Sore harinya, sekitar pukul empat, kami kembali ke lapangan untuk menyaksikan ritual yang paling ditunggu, yaitu Hedoq.
Pinggir lapangan sudah penuh oleh masyarakat. Acara diawali dengan tarian mandau oleh para pria, kemudian diikuti tarian para perempuan yang menceritakan penghormatan kepada Dewi Padi, Long Diang Yung. Gerakan mereka lembut namun ritmis, mengikuti gong dan gendang yang semakin lama semakin intens.
Kemudian para penari Hedoq mulai memasuki lapangan.
Kostum mereka terlihat begitu mencolok dan nyaris tidak menyerupai manusia. Tubuh para penari ditutupi daun-daunan, seperti rumput panjang maupun daun pisang, dan anyaman alami yang membuat mereka tampak seperti makhluk hutan. Topeng kayu besar dengan bentuk wajah menyerupai roh atau makhluk mitologi menutupi kepala mereka sepenuhnya.
Ketika para penari Hedoq mulai bergerak, suasana di lapangan berubah drastis. Aura di sana terasa lebih magis, seolah pertunjukan ini bukan sekadar tarian, melainkan ritual pemanggilan sesuatu yang jauh lebih tua dari ingatan manusia.
Menurut kepercayaan masyarakat Wehea, Hedoq adalah tarian ritual yang selalu hadir dalam pesta panen. Mereka percaya Hedoq berasal dari bawah air, dari tanah, dan dari langit. Sosok-sosok ini dianggap sebagai makhluk gaib yang dapat membantu manusia selama dihormati dan diberi sesaji. Melalui ritual ini, masyarakat memohon perlindungan, kesuburan tanaman padi, dan kesejahteraan kampung.
Langit mulai mendung, lalu gerimis kecil turun perlahan. Namun tidak seorang pun meninggalkan lapangan.
Jumlah penari Hedoq terus bertambah. Dari anak-anak hingga orang dewasa, satu demi satu memasuki arena hingga seluruh lapangan terasa penuh oleh sosok-sosok bertopeng dari “dunia lain”. Rumput dan daun pada kostum mereka bergoyang mengikuti langkah kaki dan dentuman gong yang semakin cepat.
Menjelang matahari terbenam, tarian akhirnya selesai. Cahaya jingga sore perlahan hilang di balik awan, sementara masyarakat mulai mendekati para penari untuk berfoto bersama.
Hari mulai gelap ketika kami berjalan pulang kembali ke mess APE Crusader. Dalam kamera, ratusan foto telah tersimpan. Tetapi lebih dari itu, Lom Plai meninggalkan sesuatu yang sulit dipotret, perasaan bahwa di tengah dunia modern yang terus bergerak cepat, masih ada tempat-tempat yang menjaga hubungan manusia dengan alam, leluhur, dan tradisi dengan begitu hidup.

BUAH YANG DIGANTUNG, KESABARAN YANG DILATIH PERLAHAN

Pagi itu, cuaca cerah. Terlalu cerah, mungkin. Matahari jatuh langsung ke atap kandang, memantulkan panas yang membuat udara terasa lebih berat dari biasanya. Tidak banyak tempat bersembunyi dari terik, kecuali sudut-sudut kecil yang dibentuk bayangan jeruji dan struktur kandang.

Namun, panas tampaknya bukan persoalan utama hari itu. Di atas kandang, beberapa buah digantung. Tidak terlalu tinggi untuk dilihat, tetapi cukup tinggi untuk dijangkau. Jarak yang tampak sederhana bagi manusia, berubah menjadi tantangan kecil bagi enam orangutan muda (Bow, Noon, Jay, Raiking, Agam, dan Maximus) yang pagi itu mendapat enrichment buah gantung.

Begitu perawat satwa selesai memasang, reaksi mereka hampir serempak, aktif, waspada, dan segera mengarahkan perhatian pada satu hal yang sama. Masing-masing individu mulai mencoba caranya sendiri. Ada yang langsung menjulurkan tangan setinggi mungkin, tubuhnya memanjang, jari-jari terbuka lebar seperti berharap beberapa sentimeter tambahan bisa muncul begitu saja. Ada yang memanjat sisi kandang lebih dahulu untuk mencari sudut yang lebih menguntungkan. Ada pula yang mengamati sejenak, seolah sedang menghitung kemungkinan.

Yang menarik dari enrichment semacam ini bukan buahnya. Bukan pula siapa yang paling cepat mendapatkannya. Melainkan bagaimana setiap individu merespons tantangan yang sama dengan strategi yang berbeda.

Bow menjadi salah satu yang paling mencuri perhatian pagi itu. Dari awal, ia tampak hampir sepenuhnya tenggelam dalam satu tujuan, mendapatkan buah yang tergantung di atasnya. Tidak ada distraksi berarti. Tidak ada keinginan mengganggu individu lain atau mencari jalan pintas dari hasil kerja orangutan lain. Hanya ada dirinya dan buah yang terus ia coba gapai.

Berulang kali Bow menjulurkan gangan, meregangkan tubuhnya semaksimal mungkin. Ujung jarinya hanya mampu menyentuh permukaan buah. Sedikit demi sedikit, tekanan dari sentuhan berulang membuat buah mulai rusak. Cairannya menetes perlahan. Dan di titik itu, Bow hanya mendapatkan sedikit rasa air buah yang menempel di jarinya. Sebuah hasil yang bagi sebagian individu lain mungkin cukup membuat frustasi.

Tapi Bow tidak menyerah. Ekspresinya terlihat serius. Fokusnya hampir tidak berubah. Sementara individu lain mulai berhasil mendapatkan bagian buah, Bow tetap bertahan pada targetnya sendiri. Sebelumnya, satu individu lain telah lebih dahulu berhasil mengambil sebagian buah. Kesempatan untuk merebut sebenarnya ada. Jaraknya dekat, risikonya kecil. Tapi Bow tidak memilih itu. Ia tetap melanjutkan usahanya sendiri.

Ada sesuatu yang menarik dalam pilihan tersebut. Bahwa bahkan dalam situasi yang membuka kemungkinan kompetisi, Bow tampak lebih memilih proses dibanding hasil instan. Sekitar 20 menit kemudian, usahanya membuahkan hasil.

Setengah buah berhasil ia dapatkan. Bukan kemenangan besar, tetapi cukup untuk menunjukkan satu hal, ketekunan kadang bekerja lebih lambat, tetapi tidak selalu kalah. Di sisi lain kandang, dinamika berbeda terjadi antara Jay dan Ranking.

Jika Bow mengandalkan kesabaran, Jay justru memperlihatkan sesuatu yang lain, oportunisme. Ia menyelesaikan enrichment dalam waktu kurang dari lima menit. Tapi bukan karena ia lebih kuat menjangkau buah yang tergantung rapi. Jay memperhatikan sesuatu yang lain. Saat keeper masih sibuk mengikat buah berikutnya sambil memegang keranjang, ada jeda kecil tidak disadari. Sebuah kelengahan singkat. Dan Jay memanfaatkannya. Dengan tenang, hampir tanpa tergesa, ia mengambil buah yang belum selesai diikat. Tidak ada drama. Tidak ada usaha berlebihan. Hanya keputusan cepat yang tepat waktu. Strategi yang efektif, meskipun sedikit “curang” jika dilihat dari sudut pandang permainan.

Begitu Jay berhasil mendapatkan buah, Ranking langsung merespons. Ia berusaha merebut sambil mengeluarkan terikan keras, campuran antara frustasi dan protes. Namun Jay tidak menyerah begitu saja. Ia melindungi buah itu dengan erat, membawa kabur hasil temuannya dan baru membagikannya ketika buah nyaris habis, menyisakan bagian mendekati biji.

Interaksi kecil itu menunjukkan dynamiska sosial yang terus berkembang tentang kepemilikan, negosiasi, dan batas toleransi antar individu. Sementara itu, Noon menghadirkan pola yang berbeda lagi. Respons awalnya baik, tetapi antusiasmenya tidak bertahan lama pada satu target. Noon tampak cepat bosan. Setelah beberapa waktu mencoba, ia lebih tertarik berpindah ke area individu lain.

Ketika Noon mendekati buah milik individu lain, yang justru seperti permainan tukat posisi. Saat Noon datang, individu tersebut berpindah ke tempat Noon sebelumnya. Perpindahan ini berlangsung berulang, hampir seperti tarian yang tidak direncanakan. Akhirnya, salah satu individu berhasil membuka kulit mangga yang tergantung menggunakan jari-jari mereka. Buah itu mulai mengeluarkan air.

Momen berikutnya terasa sederhana tapi menarik. Keduanya bergantian membuka mulut di bawah buah, menampung tetesan air mangga yang jatuh perlahan. Bukan cara tercepat untuk makan. Bukan pula yang paling efisien. Tapi cukup untuk menunjukkan kreativitas dalam memanfaatkan situasi. Selama 30 menit pengamatan, tidak ada satu pun enrichment yang benar-benar selesai seluruhnya. Dan justru di sanalah letak nilainya. Enrichment tidak selalu dirancang untuk segera diselesaikan. Kadang, tujuan utamanya adalah memperpanjang proses memberi ruang bagi usaha, frustasi kecil, strategi, hingga adaptasi. Hari itu yang digantung bukan hanya buah. Tetapi juga kesempatan bagi mereka untuk mencoba, gagal, mengulang, dan menemukan cara masing-masing.

Di bawah cuaca yang panas dan kandang yang dipenuhi aktivitas, enam orangutan muda itu mengingatkan satu hal sederhana bahwa belajar tidak selalu datang dari keberhasilan cepat. Kadang, ia hadir dalam bentuk tangan yang terus menjangkau yang nyaris tidak bisa diraih. (FAN)