Bekerja sebagai dokter hewan di Centre for Orangutan Protection adalah sebuah petualangan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Bayangkan saja, setiap hari saya harus akrab dengan kehidupan di dalam hutan yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Di sini, jangan harap bisa dengan mudah mengisi daya ponsel karena listrik tidak dan semuanya serba terbatas. Kalau ada situasi darurat, tantangannya sungguh luar biasa karena akses yang sulit di dalam hutan. Namun, dibalik keterbatasan itu, huta Siranggas selalu punya cara untuk memberikan kejutan yang membuat lelah saya menguap seketika. Dan kejutan terbesar akhir-akhir ini datang dari orangutan yang sangat ekspresif bernama Asih.
Nagi para keeper dis ekolah hutan, Asih mungkin dikenal sebagai si pemilik energi tanpa batas yang hobi membuat orang ngos-ngosan mendaki dan menuruni jalur hutan yang menanjak. Namun bagi saya, Asih adalah orangutan cerdik dan menggemaskan.
Belakangan ini, hubungan bonding antara saya dan Asih terasa semakin kuat. Menariknya, Asih tampaknya tahu betul siapa yang harus ia cari jika tubuhnya sedang merasa tidak nyaman. Masih lekat di ingatan saya bagaimana beberapa waktu lalu, dalam tiga hari yang berbeda, Asih tiba-tiba datang menghampiri saya. Bukan untuk mengajak bermain seperti biasa ia lakukan dengan para keeper, melainkan untuk sebuah agenda yang jauh lebih formal, “laporan kesehatan”.
Ya, kamu tidak salah baca. Si cerdik Asih ini datang menghampiri saya, lalu dengan sengaja menunjukkan bagian tubuhnya yang terluka. Melalui tatapan matanya yang penuh arti dan mimik muka yang sangat ekspresif, ia seolah-olah berbicara, “Dok, lihat deh, aku punya luka baru nih di sini. Tolong obati dong!”.
Momen ketika ia menunjuk lukanya sendiri dengan jari-jarinya adalah salah satu pemandangan paling menakjubkan yang pernah saya saksikan. Bagaimana bisa orangutan memiliki kesadaran sedalam itu untuk meminta pertolongan? Mungkin karena di waktu-waktu sebelumnya, setiap kali Asih terluka, saya selalu mengobati dan merawatnya dengan penuh kesabaran sampai benar-benar sembuh. Memori itulah yang membekas di kepalanya, kalau terluka, datanglah ke dokter.
Nah di sinilah letak keseruannya. Saat saya berusaha fokus membersihkan lukanya, Asih malah punya kesibukan lain. Tangan-tangannya mulai beraksi menarik-narik hijab saya dengan gemas. Jadilah saya sibuk membagi fokus, satu sisi mengobati lukanya sampai selesai, di sisi lain sibuk Menhan hijab agar tidak melorot akibat tarikan tangan Asih. Kejadian seru seperti ini jelas tidak akan pernah saya temukan di klinik mana pun!
Meski prosesnya penuh drama tarik-menarik hijab dan kejar-kejaran kecil, Asih tidak pernah berniat buruk. Dia hanya mengekspresikan rasa penasaran dan sifat cerdiknya yang alami. Di foto yang saya bagikan kali ini, terlihat jelas bagaimana Asih dengan wajahnya yang menggemaskan sedang sibuk memeriksa sendiri area lukanya setelah ‘melapor’ kepada saya. Bahkan, saya sampai punya dua foto di lokasi luka yang berbeda karena kebiasaannya yang suka pamer luka ini.
Tingkah lucu Asih ini benar-benar bikin hari-hari saya di Suaka Margasatwa SIranggas jadi lebih berwarna. Tinggal di tengah hutan yang fasilitasnya minim memang menantang, tapi momen dihampiri Asih yang mau pamer luka begini bikin semua rasa lelah terbayar lunas. Kepercayaan dari dia itu berbahaya banget buat saya. Biar deh hijab acak-acakan atau harus ngos0ngosan di jalur nanjak, yang penting Asih bisa sehat dan kembali aktif di atas pohon.
Sampai jumpa di cerita petualangan saya dan Asih berikutnya di tengah rimbunnya hutan Siranggas! (NAN).
Hari itu superit hari-hari biasanya di sekolah hutan BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Semua orangutan beraktivitas dengan caranya masing-masing, ada yang foraging di kanopi pohon dan ada yang memilih bermain di lantai hutan. Sementara Felix, dia memilih berada di atas pohon eksplorasi dan mencari makan bersama Pansy.
“Ksrks… krksks… kskskr…”. Tiba-tiba terdengar suara dedaunan dari atas pohon. Seketika kami para keeper menengok ke atas pohon. Tidak disangka ternyata di atas phon, terlihat Felix yang sedang menyusun dedaunan yang dia telah petik di atara dua cabang pohon. Kami semua terkejut dan otomatis berucap, “Felix buat sarang!?”. Kami terkejut dan sedikit ada rasa tidak percaya dengan apa yang kami lihat. Felix yang biasanya mengekor pada babysitter atau memeluk kaki babysitter selama sekolah hutan, hari ini membuat sarang pertamanya.
Membuat sarang merupakan salah satu skill yang harus dikuasai oleh orangutan agar bisa bertahan hidup di alam liar. Dan insting Felix untuk mulai menyusun dedaunan menjadi sarang merupakan satu indikator perkembangan kemampuannya. Sebelumnya pun, Felix juga sudah terlihat mereparasi sarang-sarang lama dengan menumpukkan daun-daun baru di atas daun-daun yang sudah kering. Terkadang Felix juga terlihat melanjutkan sarang yang dibuat oleh orangutan lain dengan mematahkan ranting lalu menumpuk ranting tersebut ke pondasi sarang yang sudah ada.
Sarang yang dibuat Felix itu memang belum sempurna, bahkan pondasi sarang itupun masih sangat rapuh. Namun melihat bagaimana Felix bisa mencapai titik itu, tentu memberi rasa bangga dan haru. Kami menyadari bahwa Felix yang kami kenal adalah bayi orangutan yang manja, kini telah bertumbuh dengan cara dan ritmenya sendiri. (JAN)
Sudah tıga bulan sejak orangutan Jane menjadi penghuni paling baru di baby house BORA. Saat pertama kali dititipkan di akhir bulan Juni tahun ini, usianya hanya sekitar 1,5 tahun. Walau baru tida bulan menjadi babysiter nya, saya sudah menetapkan Jane sebagai salah satu orangutan terpintar di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Saya takjub begitu melihat orangutan sekecil itu menjelajah dengan lincah di tajuk-tajuk pohon tinggi dan mencari pakan-pakan alami seperti kambium dan buah hutan, kadang ia memotek ranting untuk dijadikannya sarang sederhana, begitu bersemangat memecahkan pengayaan buatan dan alami yang diberikan meski kondisi jarinya yang tidak sempurna.
Namun, sepandai dan semandiri apa pun Jane, ada kalanya ia bersikap menja layaknya bayi orangutan pada umumnya. Seperti hari ini, Jane tampak gembira bermain di lantai playroom baby house, menutup seluruh badannya dengan karung goni lalu berjalan mengitari playroom, sesekali ia akan berguling dan menyeret karung goninya mendekati saya. Saat saya mengulurkan tangan, Jane akan sok tidak peduli dan kembali berguling menjauh.
Kadang saat sekoilah hutan, Jane akan sulit untuk diajak pulang. Ia masih senang eksplorasi dari pohon ke pohon. Jadi, saya akan membiarkan Jane melanjutkan sekolahnya sambil mengajak Charlie, penghuni baby house lainnya, untuk pulang terlebih dahulu. Namun, Jane sangat tidak suka sendirian. Saat melihat saya dan Charlie pulang, Jane akan merengek dan turun menghampiri saya dengan sendirinya, lalu meminta digendong seperti anak kecil.
Ada satu kebiasaan Jane yang akhir-akhir ini saya pikirkan. Ia selalu merengek dan menangis saat melihat saya pergi ke dalam hutan. Padahal saya hanya mencari daun sebagai pengayaan untuk alas tidurnya. Saya tidak tahu mengapa ia menangis begitu nyaring, tetapi ada satu hipotesis yang terlintas di otak saya.
Mungkinkah ia takut terpisah dengan saya seperti saat ia terpisah dengan ibunya?
Saya tidak tahu jawaban pastinya. Mungkin, menangis hanya cara Jane meminta saya untuk tetap berada di dekatnya. Namun, setiap kali mendengarnya, saya kembali diingatkan bahwa di balik kepiawaiannya menjelajah tajuk pohon, mencari pakan, dan memecahkan pengayaan, Jane tetaplah bayi orangutan yang masih membutuhkan rasa aman dan kasih sayang. Ia mungkin sedang belajar untuk mandiri, tetapi bukan berarti ia harus berhenti menjadi bayi. (FIQ)
