Sudah tıga bulan sejak orangutan Jane menjadi penghuni paling baru di baby house BORA. Saat pertama kali dititipkan di akhir bulan Juni tahun ini, usianya hanya sekitar 1,5 tahun. Walau baru tida bulan menjadi babysiter nya, saya sudah menetapkan Jane sebagai salah satu orangutan terpintar di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Saya takjub begitu melihat orangutan sekecil itu menjelajah dengan lincah di tajuk-tajuk pohon tinggi dan mencari pakan-pakan alami seperti kambium dan buah hutan, kadang ia memotek ranting untuk dijadikannya sarang sederhana, begitu bersemangat memecahkan pengayaan buatan dan alami yang diberikan meski kondisi jarinya yang tidak sempurna.
Namun, sepandai dan semandiri apa pun Jane, ada kalanya ia bersikap menja layaknya bayi orangutan pada umumnya. Seperti hari ini, Jane tampak gembira bermain di lantai playroom baby house, menutup seluruh badannya dengan karung goni lalu berjalan mengitari playroom, sesekali ia akan berguling dan menyeret karung goninya mendekati saya. Saat saya mengulurkan tangan, Jane akan sok tidak peduli dan kembali berguling menjauh.
Kadang saat sekoilah hutan, Jane akan sulit untuk diajak pulang. Ia masih senang eksplorasi dari pohon ke pohon. Jadi, saya akan membiarkan Jane melanjutkan sekolahnya sambil mengajak Charlie, penghuni baby house lainnya, untuk pulang terlebih dahulu. Namun, Jane sangat tidak suka sendirian. Saat melihat saya dan Charlie pulang, Jane akan merengek dan turun menghampiri saya dengan sendirinya, lalu meminta digendong seperti anak kecil.
Ada satu kebiasaan Jane yang akhir-akhir ini saya pikirkan. Ia selalu merengek dan menangis saat melihat saya pergi ke dalam hutan. Padahal saya hanya mencari daun sebagai pengayaan untuk alas tidurnya. Saya tidak tahu mengapa ia menangis begitu nyaring, tetapi ada satu hipotesis yang terlintas di otak saya.
Mungkinkah ia takut terpisah dengan saya seperti saat ia terpisah dengan ibunya?
Saya tidak tahu jawaban pastinya. Mungkin, menangis hanya cara Jane meminta saya untuk tetap berada di dekatnya. Namun, setiap kali mendengarnya, saya kembali diingatkan bahwa di balik kepiawaiannya menjelajah tajuk pohon, mencari pakan, dan memecahkan pengayaan, Jane tetaplah bayi orangutan yang masih membutuhkan rasa aman dan kasih sayang. Ia mungkin sedang belajar untuk mandiri, tetapi bukan berarti ia harus berhenti menjadi bayi. (FIQ)
Ada yang berbeda dengan enclosure orangutan Robert bulan Agustus kemarin. Keranjang besi bergelantungan di atas pohon. Itu adalah platform pakan yang baru untuk Robert, dengan harapan, Robert akan lebih lama lagi beraktivitas di atas pohon dibandingkan di tanah. Keranjang pakan ini berada di ketinggian 10 meter dan sengaja diletakkan di tengah enclosure nya. Tentu saja, ini juga usaha agar Robert berkurang mengganggu pagar listrik bahkan hot grass yang sengaja dipasang untuk membatasi ruangnya. Ya, Robert adalah orangutan dalam perawatan Sumatran Rescue Alliance (SRA) yang mendiami kandang tanpa jeruji besi atau bisa juga disebut enclosure. Kandang yang ada hanya untuk keperluan saat enclosure butuh perawatan, seperti rerumputan atau percabangan yang menghalangi pagar listrik harus dibersihkan.
Robert, orangutan jantan dewasa ini memang sering sekali tertarik dengan pagar listrik yang membatasinya. Ada saja akalnya seperti mematangkan ranting lalu mencoba menyentuh kabel dengan kayu tersebut yang tentu saja ada aliran listriknya. Robert pun terlihat kaget dan segera melepas ranting tersebut. Masih belum puas rasa penasarannya, dia pun mengambil batang pohon yang lebih besar, dan tentu saja itu sangat mengkhawatirkan.
Nah, keranjang pakan ini diharapkan bisa mengalihkan rasa penasarannya yang gak tuntas-tuntas pada pagar enclosure. Setelah animal keeper SRA berjuang mengarahkan Robert ke keranjang pakan, dan Robert mulai melihat keranjang penuh dengan buah yang disukainya, barulah Robert memanjat pohon tersebut. Sebentar saja, dia sudah nangkring di percabangan dan tidak turun-turun. Dedaunan yang menyembunyikan potongan buah, satu per satu dikeluarkannya. Satu per satu buah yang diperolehnya dinikmati di atas pohon. Robert pun mulai meraih percabangan pohon yang ada di dekatnya, dan mulai berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain. Ya Robert mulai menjelajah enclosure, kandang tanpa jeruji besi, kandang terbuka tanpa atap itu. Malam itu, dia beratap bintang. (FIK)
Minggu sore, 6 September 2026, Ruang Informasi BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) ramai oleh aktivitas anak-anak. Sebanyak 40 anak dari RT 4 Kampung Tasuk, Berau, dengan rentang usia 5–13 tahun, datang untuk mengikuti edukasi singkat dan bermain bersama.
Ruang Informasi BORA sendiri baru saja diresmikan pada 18 Agustus 2026 lalu. Kehadirannya menjadi salah satu upaya untuk menyediakan ruang edukasi dan informasi bagi masyarakat sekitar, khususnya anak-anak, tentang orangutan dan upaya pelestariannya. Tidak lama setelah diresmikan, ruang ini kemudian dimanfaatkan sebagai tempat belajar dan bermain bagi anak-anak Kampung Tasuk yang juga terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Anak-anak di Kampung Tasuk sudah belajar dari rumah (BDR) sejak dua minggu lalu. Kondisi tersebut menjadi salah satu momentum untuk memaksimalkan fungsi Ruang Informasi BORA sebagai ruang edukasi dan aktivitas bagi anak-anak. Kegiatan diisi dengan pemberian materi edukasi tentang orangutan, pengenalan Ruang Informasi BORA, serta bermain bersama.
Kegiatan ini disambut baik oleh anak-anak dan orang tua. Antusiasme yang terlihat bahkan melebihi perkiraan awal, yang sebelumnya diperkirakan hanya sekitar 15 anak bersama orang tua. Selain itu, terdapat pula ajakan dari sekolah-sekolah sekitar untuk dapat kembali berkolaborasi dalam kegiatan edukasi orangutan, mulai dari PAUD, TK, hingga SD.
Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi pemantik bagi lebih banyak kegiatan lain di Ruang Informasi BORA. Terlebih, sebagai ruang yang baru diresmikan, masih banyak peluang untuk mengembangkan fungsi dan fasilitasnya sebagai ruang belajar dan bermain bagi anak-anak. Insight dari kegiatan ini juga dapat menjadi bahan untuk meningkatkan fasilitas Ruang Informasi BORA, seperti model, board game, maket, atau alat edukasi lainnya yang dapat ditampilkan untuk meningkatkan pengalaman pembelajaran. (RAR)
Ketika Charlie pertama kali datang, usianya baru sekitar 9 bulan. Saat itu, Charlie masih sangat kecil dan membutuhkan perhatian ekstra. Ia belum terbiasa dengan lingkungan barunya. Waktu tidur pun masih harus dijaga karena Charlie sering terbangun secara tiba-tiba, terlihat kaget, lalu menangis sambil mencari pelukan di sekitarnya.
Sebagai babysitter, salah satu tugasku adalah memastikan Charlie mendapatkan susu sesuai kebutuhannya. Setiap kali waktunya minum, aku menyiapkan susunya dan menemani Charlie sampai ia merasa tenang. Hari-hari pertama bersama Charlie cukup menguras kesabaran. Charlie lebih banyak tidur. Kalau bangun, ia bisa kembali mengantuk tidak lama kemudian. Charlie juga adalah orangutan yang cengeng. Kadang aku sampai berpikir, “Ini anak memang hobinya tidur dan nangis tiap hari ya?”.
Namun, waktu berjalan. Lima bulan berlalu. Charlie yang dulu masih sangat kecil ternyata mengalami banyak perubahan. Sekarang ia sudah jauh lebih berani. Bahkan, ia sudah berani memanjat pohon tinggi dari yang pernah aku bayangkan. Melihat Charlie berada di atas pohon membuatku kadang tidak percaya. “Charlie, sekarang kamu sudah berubah sejauh ini?”, batinku. Charlie hanya terus memanjat dengan tenang, seolah ketinggian bukan sesuatu yang perlu ditakuti.
Yang paling menarik, Charlie sekarang bukan tipe orangutan yang suka banyak merengek. Ia cenderung kalem dan pasrah. Kalau sedang bermain, ia bisa sibuk sendiri tanpa harus terus mencari perhatian. Tetapi ada satu hal yang sepertinya tidak banyak berubah. Charlie masih tidur siang dan kalo kelelahan forest school, Charlie kelihatan sangat mengantuk. Kalau sudah waktunya tidur, ia bisa benar-benar menikmati waktunya. Bangun tidur pun terkadang belum langsung bersemangat untuk beraktivitas.
Begitu juga dengan urusan makan. Charlie bisa makan lama sekali. Bukan karena ia tidak suka makan, tetapi giginya memang belum tumbuh lengkap. Jadi, proses makannya masih membutuhkan waktu dan kesabaran.
Di hari-harinya, Charlie juga punya seorang teman bernama Jane. Kalau melihat mereka berdua, rasanya seperti melihat dua karakter yang benar-benar berbeda. Jane adalah anak yang aktif banget. Ia suka bergerak ke sana kemari, penuh rasa ingin tahu, dan kalau soal makanan… Jane bisa dibilang rakus. Begitu melihat ada makanan, semangatnya langsung muncul.
Sementara Charlie? Charlie lebih santai. Ia kalem, tidak banyak merengek, dan lebih suka bermain sendiri. Kalau Jane sibuk menjelajah dan mencari makanan, Charlie bisa saja tetap duduk dengan tenang menikmati kegiatannya sendiri. Mereka benar-benar bertolak belakang.
Jane yang heboh dan penuh semangat.
Charlie yang kalem dan santai.
Namun, justru perbedaan itulah yang membuat keduanya menarik untuk diamati. Dari bayi kecil berusia sembilan bulan yang dulu sering terbangun kaget dan menangis, kini Charlie sudah tumbuh menjadi orangutan kecil yang jauh lebih berani. Ia memang masih suka tidur. Makannya juga masih lama. Dan sifatnya terkadang masih clingy. Tetapi sekarang ada satu hal yang jelas terlihat, Charlie sudah bukan bayi kecil yang dulu datang kepada kami. Ia sudah menjadi Charlie yang berani mengeksplorasi dunia dengan caranya sendiri. (LUK)
Perjalanan menjadi bagian dari gerakan konservasi tidak selalu berhenti ketika sebuah kegiatan berakhir. Bagi Dea dan Hera, apa yang mereka dapatkan melalui COP School Batch 16 justru menjadi awal untuk melangkah lebih jauh. Di Bulan Orangufriends 2026, keduanya bersama tim APE Protector mengabdikan diri untuk melakukan edukasi di Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat.
Pada 24-29 Agustus, ada lima sekolah yang langsung dikunjungi kedua relawan COP ini. Ada 211 siswa yang mengikuti kegiatan edukasi konservasi. Kelima sekolahan itu adalah SD Negeri 01 Bonjol, SMPN 01 Bonjol, MTsN 04 Pasaman, SMK Negeri 01 Bonjol, dan SDN 19 Lurah Berangin. COP School yang menjadi ruang untuk belajar, mengenal persoalan konservasi, dan membangun keberanian untuk terlibat menjadikan Orangufriends (relawan satwa COP) menjadi pelaku yang membagikan pengetahuan tentang konservasi ke dunia yang lebih luas lagi.
Dea dan Hera mengajak ratusan siswa mengenal Harimau Sumatra (Panthera tigris Sumatra) di sekolah-sekolah maupun di RIHAS (Ruang Informasi Harimau Sumatera). Materi mencakup karakteristik, habitat, peran ekologis, serta ancaman seperti jerat, perburuan, dan perdagangan satwa liar ilegal. Pengemasannya pun tak lepas dari persiapan mereka, karena keberhasilan edukasi ini tak sekedar menyampaikan tetapi menarik dan membekas pada generasi alpha yang sangat unik ini. Tanya jawab, diskusi, pojok baca, galeri foto, booth buku, hingga permainan interaktif menjadi cara terbaik masuk pada peserta yang usianya tak jauh dari Dea maupun Hera. Simulasi “membebaskan diri dari jerat”, diharapkan dapat membantu peserta memahami bagaimana jerat dapat menjadi ancaman serius bagi satwa liar.
Jika Dea dan Hera langsung menyeburkan diri di tanah Minang, ada kabar apalagi dari alumni COP School Batch 16 yang lain ya? (NAB)
Satu bulan penuh cerita, pertemuan, dan semangat untuk orangutan akhirnya sampai di penghujungnya. Namun, sebelum benar-benar ditutup, ada sat perjumpaan yang tidak boleh dilewatkan. Dating APES batch 18 hadir di Jogja sebagai penutup rangkaian Bulan Orangufriends 2026, sekaligus menjadi ruang untuk kembali duduk bersama, berbagi cerita, dan membicarakan masa depan satwa liar serta hutan Indonesia.
Kali ini, Dating Apes terasa begitu istimewa. Bukan sekadar karena menjadi edisi penutup, tetapi karena menghadirkan tiga sosok dengan cerita dan perspektif yang menarik: Nadia dan Gavrila dari Uma Project, serta Muhammad Zuhdi. Ketiganya membawa pengalaman, sudut pandang, dan cerita masing-masing yang kemudian bertemu dalam satu ruang diskusi yang hangat.
Lebih dari 30 orang hadir dan ikut meramaikan pertemuan ini. Ada Orangufriends Jogja, teman-teman dari berbagai lembaga konservasi, mahasiswa, pegiat alam, hingga mereka yang datang dengan rasa penasaran dan kepedulian terhadap isu satwa liar. Beragam latar belakang justru membuat obrolan semakin kaya.
Dari satu cerita, muncul cerita lainnya. Dari satu pertanyaan, lahir perspektif baru. Percakapan tidak berhenti pada orangutan saja, tetapi berkembang menjadi pembahasan tentang satwa liar, habitat, kerja-kerja konservasi, hingga bagaimana setiap orang dapat mengambil peran dalam menjaga alam.
Mungkin inilah yang membuat Dating Apes selalu menarik. Tidak ada jarak antara pembicara dan peserta. Tidak ada sekat antara mereka yang sudah lama berkecimpung di dunia konservasi dan mereka yang baru mulai mengenalnya. Semua datang untuk satu hal: bertemu, mendengar, bertukar pikiran, dan pulang membawa cerita baru.
Bulan Orangufriends 2026 mungkin telah selesai, tetapi semangatnya tidak berhenti di sini. Karena menjaga hutan dan satwa liar bukan pekerjaan satu bulan, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan banyak orang untuk terus berjalan.
Terima kasih untuk seluruh teman yang sudah hadir, berbagi cerita, bertanya, tertawa, dan menjadi bagian dari perjalanan Orangufriends selama sebulan ini.
Sampai bertemu di Dating Apes berikutnya!
I used to scan every bush at BORA, looking for this exact type of weed. I plucked every bit of this weed I could find from every bush, every patch of grass, every roadside. If I saw something that looked like it, I would stop and check. Just because Beti would eat it.
At that time, if Beti ate something, it felt like a victory. She would only eat water apples and oranges, or a piece of apple, or a piece of pear. Then she would just sit there, covering her body with sack for the entire day. Even sometimes she wouldn’t eat at all, she wouldn’t drink, clearly in pain. And sometimes, it felt like she resented us.
That was when I started questioning things. I thought about a thousand things we could have avoided, anticipated, or done differently during Beti’s translocation. I even had the terrible thought of if Beti had never come to BORA, she wouldn’t have been stressed. Maybe she wouldn’t refuse to eat for days.
I became very skeptical. Thinking about how humans are such an arrogant species. We decide what is best for another species. We decided Beti should no longer live as a pet. We decided she should be moved. We decided what she should eat. What kind of environment she should live in.
But did we really know what was best for Beti?
Because from Beti’s perspective, we had taken everything familiar away. Imagine if you had spent 24 years living in a village in Java, with that specific man. You were fed the same side dishes his family ate. You lived in a concrete-floored cage. Sometimes you were taken out to be played with, to be someone’s pet. You were fed only from noon. Neighboring children poked you, you became a spectacle for them when they getting fed by their mother. For 24 years. Until you became almost completely apathetic to stimulation.
Then suddenly, you were moved into a tiny transport crate. Suddenly, you were taken somewhere by car. Suddenly, you entered an extremely cold room, a plane, though Beti wouldn’t know it was a plane. Then came an almost 24-hour travel by land, noisy and dusty.
Suddenly, you were placed in a very large enclosure, but everything was made of bars. You trembled. Then the food changed. Fruit. Vegetables. Strange green things. They were green before too, but they had been cooked and seasoned.
Suddenly, people were poking you here and there. Your hair was shaved because you needed an ultrasound. You were suddenly being shot with blow darts because you needed antibiotics. The weather was unbearably hot. And then, after 24 years of seeing only human, you suddenly found creatures who looked like you. Wouldn’t you be stressed?
It took me months to see things differently.
Bringing Beti here did not immediately make her life better. For a while, it made everything harder. But BORA gave Beti something she never had before, options of second chances. Here, we can monitor her health, treat her when she is in pain, and make sure she gets the care she needs. She gets appropriate food, people who pay attention to what she eats, what she refuses, what makes her uncomfortable, and what makes her feel safe.
Slowly, she started to eat more. There are now so many things Beti can eat that sometimes it is hard to remember the days when I was desperately searching every bush for that one weed. She still has her chronic urinary tract infection (UTI), and she still needs to recover. She still loves her sack, and there are still days when she would rather hide under it than do anything else. But there is progress, even if it is slow enough that you sometimes have to stop and look for it.
Her journey is also so different from the babies and juveniles we rehabilitate here. When they arrive, they still have so much time ahead of them. They can go to Forest School, where they can learn to climb, swing, build nests, search for food, navigate the trees, and interact with other orangutans. Their rehabilitation happens step by step, and every new skill becomes part of the foundation they will eventually need to survive in the forest. They can spend years building the strength, confidence, and knowledge they need before they are released.
Beti cannot have that same journey. She is already an adult, and she is simply too large for the keepers to safely handle. She cannot go to Forest School and spend her days swinging through the trees, strengthening her hands and feet for the canopy. She cannot follow the same curriculum of learning that the younger orangutans do. The things they get to learn through experience, Beti has to learn in much smaller ways, from inside her cage.
So we bring a little bit of the forest to her instead. We give her jungle fruits and introduce her to foods that she might encounter in the jungle. It is not the same as learning to forage in the jungle itself. It will never replace what she missed during those 24 years.
That is what makes Beti’s progress so difficult to compare with the others. For a juvenile orangutan, climbing higher might be one step in a long journey toward the forest. For Beti, simply choosing to climb at all is already something significant. For a baby, learning to eat a new fruit might be part of a normal day at Forest School. For Beti, finding out that she likes a jungle fruit is a small window into a world she was never given the chance to know.
Looking back, I still think about all the things we could have done differently. I still wonder whether her transition could have been slower, whether we could have prepared her better, whether we could have anticipated some of the things that happened. I don’t think those questions will ever completely go away. But I do know I would still bring Beti to BORA all over again.
Beti’s progress may be slow, but I will celebrate every bit of it. And I have been celebrating them. I celebrated when she ate her very first sawi. I celebrated when she finally perched and made herself comfortable on her iron nest. I celebrated when she finally engaged with the enrichment we gave her, when she started to enjoy the jungle fruits we introduced to her, and every other small bit of progress in between. And I will keep on celebrating.
Happy world orangutan day and happy one year at BORA, sweet Beti!
(THA)
Kebakaran hutan di Kalimantan semakin menggila. Panas, sesak, hingga membuat penglihatan sangat buram. Inilah dampak yang dirasakan langsung sebagai manusia yang tinggal di kota. Pertanyaannya, kita yang di kota saja tersiksa, bagaimana makhluk hidup lain yang ada di hutan sana?
Bagi Ndaru, perjalanan memahami konservasi bermula dari rasa penasaran. Sedari kecil hingga dewasa ia hidup di Kota Solok, Sumatera Barat, dan tak pernah terpikirkan betapa pentingnya hutan dan satwa. Hingga suatu ketika ia menemukan informasi tentang pelatihan konservasi ABELII CAMP yang diadakan COP di Medan. Dari sana, ia mulai memahami luasnya arti konservasi dan pentingnya menjaga hutan beserta seluruh isinya.
Kesadaran itu kemudian membawanya menjadi volunteer di COP selama kurang lebih empat bulan. Perjalanan tersebut berlanjut ketika ia mengikuti COP School Batch 16 di Yogyakarta pada Juli 2026. Baginya, pelatihan bukan sekadar sekolah, tetapi titik yang semakin menguatkan tekad untuk turun langsung ke lapangan.
Hal yang sama dirasakan Ulul. Setelah menunggu enam tahun untuk mendapatkan kesempatan mengikuti COP School, ia menganggap Batch 16 sebagai titik balik perjalanan konservasinya. Dari materi ruang, School Visit di beberapa sekolah dasar, hingga kesempatan mengikuti ADR Training Batch 4 di Labuan Bajo, setiap pengalaman menjadi bagian dari proses belajar yang tidak pernah selesai.
Selepas rangkaian pelatihan tersebut, panggilan untuk kembali menjadi volunteer datang. Kali ini, Kalimantan Timur menjadi tujuan. Ndaru dan Ulul diutus bersama tim COP menuju Pusat Rehabilitasi Orangutan Bora Labanan, Berau, untuk membantu menghadapi kebakaran hutan. Mereka melakukan patroli kawasan, mencari titik api dan asap, hingga beberapa kali terlibat langsung dalam pemadaman api di dalam maupun luar kawasan.
“Berhari-hari saya di Kalimantan, tiada sehari pun saya menghirup udara segar. Yang ada hanyalah kepulan asap dan kobaran api yang sangat panas,” ujar Ndaru.
Di tengah kondisi tersebut, ia kembali teringat pelatihan konservasi pertamanya tentang pentingnya hutan, satwa, dan seluruh kehidupan di dalamnya. “Apalah artinya manusia apabila tidak berdampak bagi lingkungannya.”
Bagi Ulul, pengalaman itu kembali menegaskan bahwa menjadi Orangufriends berarti membawa perubahan nyata bagi konservasi satwa di mana pun berada. “Ini bukanlah garis akhir, namun menjadi gerbang pembuka awal.”
Karena bagi mereka, COP School bukan sekadar sekolah. Ia adalah sekolah yang tak pernah usai tempat belajar, bergerak, dan terus menemukan cara untuk berkontribusi (Ulul_Ndaru_COP School 16).
Peringatan Hari Orangutan Sedunia di SDN 030432 Rahib, Pakpak Bharat, Sumatra Utara menjadi berbeda karena ke tiga puluh tujuh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 mengikuti kegiatan lomba mewarnai bertema orangutan. Melalui kertas gambar dan krayon di tangan, anak-anak mulai menuangkan imajinasi mereka. Beragam warna memenuhi gambar orangutan dan hutan. Ada yang memilih warna-warna cerah, ada pula yang denga teliti memadukan berbagai warna agar hasil karyanya terlihat semakin menarik. Suasana kelas pun dipenuhi semangat, konservasi, tawa, dan obrolan kecil antar teman. Namun kegiatan ini bukan sekadar tentang menentukan siapa yang menghasilkan yang paling indah.
Anak-anak diajak mengenal orangutan lebih dekat sejak usia dini. Mereka belajar bahwa orangutan bukan hanya satwa yang hidup di dalam hutan, tetapi juga bagian penting dari ekosistem. Keberadaan orangutan memiliki hubungan yang erat dengan keberlangsungan hutan, tempat berbagai makhluk hidup bergantung. Kegiatan semakin menyenangkan karena lomba mewarnai juga diselingi dengan berbagai permainan edukatif. Anak-anak bergerak, bermain, tertawa, sekaligus mengingat kembali pesan-pesan tentang orangutan dan pentingnya menjaga lingkungan. Pendekatan yang sederhana dan dekat dengan dunia anak-anak membuat pesan konservasi lebih dekat dengan sasarannya.
Antusiasme terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Anak-anak tidak hanya menjadi peserta lomba, tetapi juga bagian dari proses bersama tentang alam di sekitar mereka. Dari sebuah gambar yang diwarnai, muncul rasa ingin tahu. Dari permainan sederhana, tersampaikan pesan tentang pentingnya menjaga hutan. Dan dari pengalaman kecil seperti ini, diharapkan tumbuh kepedulian yang akan terus berkembang.
Hari ini, mungkin orangutan masih mereka kenal melalui gambar dan cerita sederhana. Namun, suatu hari nanti, pengetahuan tersebut dapat menjadi dasar untuk memahami mengapa satwa liar dan habitatnya harus dijaga. Konservasi tidak selalu harus dimulai dengan langkah besar. (PUT)
Ada satu suara yang bergema dari banyak tempat. Dari Sidikalang, Medan, Padangsidimpuan, Padang, Jambi, Bandung, Yogyakarta, Samarinda, hingga Berau, orang-orang berkumpul dan bergerak bersama untuk menyampaikan satu pesan, “Act for Orangutans. Their Forest, Our Future”. World Orangutan Day 2026 bukan sekedar tentang memperingati keberadaan orangutan. Hari ini adalah kesempatan bersama untuk kembali melihat lebih dekat siapa mereka dan mengapa keberadaan orang utan begitu penting bagi hutan.
Orangutan bukan hanya satwa yang kita kenal karena wajahnya yang menggemaskan dan tingkahnya yang menarik. Mereka juga memiliki peran penting sebagai penyebar benih, membantu menjaga regenerasi hutan melalui biji-biji tumbuhan yang mereka makan dan sebarkan. Kehidupan orangutan tidak pernah bisa dipisahkan dari hutan. Di sanalah mereka mencari makanan, membangun sarang, merawat anak, dan berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya. Setiap pohon yang berdiri adalah bagian dari rumah. Setiap kawasan hutan yang tetap terjaga adalah kesempatan bagi mereka untuk terus hidup. Ketika hutan kehilangan ruangnya, orangutan ikut kehilangan rumah. Ketika hutan terfragmentasi dan terus tertekan, kehidupan mereka menjadi semakin rentan.
Di setiap tempat, pesan tentang orangutan disampaikan dengan cara berbeda. Ada yang mengajak anak-anak mengenal orangutan sejak dini. Ada yang berbagi cerita tentang hutan dan satwa liar. Ada pula yang mengajak masyarakat memahami bahwa menjaga orangutan bukan hanya pekerjaan para penjaga hutan, peneliti, atau organisasi konservasi. Kita semua punya peran. Sebab mencintai orangutan bukan hanya tentang menyukai foto mereka atau merasa gemas ketika melihat tingkahnya. Mencintai orangutan berarti mencintai hutan yang menjadi rumahnya. Berarti peduli pada pohon-pohon yang tumbuh di dalamnya, air yang mengalir dari kawasan hutan, serta kehidupan berbagai satwa dan manusia yang bergantung padanya.
Hari ini kita merayakan hari orangutan. Tetapi perjuangan untuk mereka tidak berhenti ketika World Orangutan Day berakhir. Suara yang kita bangun hari ini harus terus hidup menjadi kepedulian, dan kepedulian harus tumbuh menjadi tindakan. Dari sembilan kota, satu pesan terus menyala, bersama COP melindungi orangutan dan yang lainnya. (NAB)
