ORANGUTAN DISABILITAS AKTIF BUAT SARANG

Aman pandai membuat sarang di kandang dengan daun-daun maupun ranting yang tim medis pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo berikan. Tak hanya di kandang karantinanya saja, Aman pun aktif menyusun daun-daun yang kami berikan pada saat dia di taman bermain. Aman menyusun daun-daun tadi di ban bekas yang berada di tengah playground, dimana dia biasanya beristirahat saat gagal meraih tali yang bergelantungan.

Aman adalah orangutan yang baru masuk pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo di Berau, Kalimantan Timur pada bulan Juni 2020 yang lalu. Jari-jarinya tak sempurna di kedua tangannya. Aman tidak memiliki ujung jari di tangan kanan pada jari tengah dan jari manisnya selain itu jari telunjuk, jari tengah jari manis dan kelingking tangan kirinya juga tidak ada. Dari bekas luka yang sudah tertutup dengan baik ini, Aman kehilangan ujung-ujung jarinya karena terpotong benda tajam. Aman menjadi orangutan disabilitas yang paling banyak kehilangan ruas jarinya yang pernah ditangani Centre for Orangutan Protection.

“Kami, tim medis bersyukur sekali, Aman termasuk orangutan yang aktif membuat sarang. Keterbatasan fisiknya tidak menghentikan keinginannya membuat sarang saat daun-daun dan ranting diberikan perawat satwa kepadanya. Bahkan dia bisa membuat sarangnya dulu baru mengambil makanannya.” ujar drh. Ray kagum. Semoga Aman dapat mempertahankan kemampuannya membuat sarang dan menularkan kemampuannya pada orangutan kecil lainnya yang berada di COP Borneo. (RAY)

KESEMPATAN KEDUA UNTUK ORANGUTAN MERABU

Penyelamatan orangutan kali ini cukup sulit. Tujuh bulan mengamati, mengikuti dan kehilangan keberadaan orangutan kecil ini. Berbagai cara pun tak luput dilakukan, mulai dari persuasif hingga ke arah jalur hukum. Sekali lagi, orangutan bukanlah satwa peliharaan, memilikinya berarti melanggar hukum. Lalu apakah kemudian pemelihara ilegal orangutan tersebut bisa serta merta menyerahkan orangutannya?

Pukul 07.00 WITA, tim APE Defender sudah melaju ke Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo yang berada di KHDTK Labanan, Berau, Kalimantan Timur. Kandang angkut sudah siap angkat ke mobil. BKSDA SKW I Berau dan Polres Berau sudah siap berangkat. Tepat pukul 08.30 tim gabungan ini pun bergerak. Tengah hari tim tiba di lokasi.

Kurang lebih dua jam, drh. Gilang Maulana menjelaskan zoonosis. Sekali lagi, edukasi menunjukkan hasil. “Tiga jam perjalanan dari pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo ke orangutan ini menjadi tidak sia-sia. Tidak seperti Maret 2020 yang lalu. Tim terpaksa gigit jari.”, ujar Ibnu Ashari lega.

Orangutan yang berasal dari Merabu, Kalimantan Timur ini berjenis kelamin jantan. “Tim medis COP Borneo akan mengamati tingkah laku dan pola hidup orangutan ini selama seminggu ke depan. Selanjutnya tim akan memeriksa kesehatannya secara menyeluruh, termasuk pemeriksaan darah apakah mengidap penyakit menular atau tidak.”, jelas drh. Gilang.

Kita tunggu kabar selanjutnya ya.

SAAT SENAPAN ANGIN MENJADI SENJATA MAKAN TUAN

Penggunaan senapan angin memang sudah tidak asing lagi di sekitar masyarakat, baik di bidang olahraga maupun berburu. Senjata ini terus mengalami perkembangan yang membuatnya semakin canggih. Seperti alur laras, panjang laras, dan juga tabung dengan kapasitas lebih besar yang membuat senapan semakin baik. Senjata ini juga banyak dijual di pasaran, walaupun tidak semua orang dapat memiliki nya. Jika penjual menerapkan peraturan yang ada, dalam PERKAPOLRI Nomor 8 Tahun 2012 Bab III Pasal 12, hanya orang yang memiliki kartu tanda anggota klub menembak yang bernaung di bawah Perbakin, berusia paling rendah 15 tahun dan paling tinggi 65 tahun, sehat jasmani dan rohani dengan bukti Surat Keterangan dari Dokter dan Psikolog, serta memiliki keterampilan menembak yang dibuktikan dengan surat keterangan yang dikeluarkan oleh Pengprov Perbakin, yang dapat memiliki senapan angin.

Jika dibandingkan dengan pisau, ketapel, atau panah, senapan angin memang menjadi alat yang paling efektif untuk berburu. Laras nya yang panjang membuat tembakan semakin akurat dan jauh. Tetapi dibalik semua itu, tak jarang pengguna senapan angin menjadi korban dari senjatanya sendiri. Dalam kurun waktu lima tahun, telah terjadi kasus ‘senjata makan tuan’ secara berturut-turut setiap tahunnya. Pada tahun 2015, KO (25) menjadi korban peluru senapan angin yang menembus dada kirinya akibat terpeleset saat hendak membidik peluru ke ayam buruannya 1). Tahun 2016, AD (50) tewas akibat tertembak senapan angin miliknya sendiri setelah berpencar dengan rekannya saat berburu 2). Tahun 2017, DP (16) tertembak peluru yang tiba-tiba keluar saat hendak membenarkan senapan miliknya menggunakan lidi karena peluru tidak keluar alias macet 3). Tahun 2018, Manis (35) tewas usai kepalanya tertembus peluru senapan angin yang dilesatkan teman dekatnya sendiri dari atas pohon saat hendak membidik ayam 4). Dan tahun 2019, KS (30) tewas setelah senapan angin rakitan yang dipegangnya, tidak sengaja meletus dan mengenai tangan serta menghujam dadanya 5).

Senapan angin bukanlah senjata mainan yang dapat digunakan secara asal-asalan, apalagi digunakan tanpa pengetahuan, pengawasan, dan keterampilan yang baik. Senjata ini merupakan senjata yang mematikan dan dapat merugikan diri sendiri, maupun orang lain, dan juga satwa. Jika memang ingin menggunakannya untuk berolahraga atau sekedar bersenang-senang, lakukanlah di lapangan tembak, seperti milik Perbakin, yang memang khusus menyediakan fasilitas untuk menembak dan telah sesuai standar serta kelengkapan. Mulai dari pakaian sampai peralatan berstandar nasional yang wajib digunakan saat menembak agar tidak merugikan diri sendiri maupun makhluk hidup di sekitar kita. (MANDA_Orangufriends)

SENAPAN ANGIN BUKAN ALAT BERBURU SATWA

Pada tanggal 30 Juli 2020, Badan Intelijen dan Keamanan (Baiktelkam) POLRI mengirimkan surat pada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan perihal penertiban penggunaan senapan angin dan pemasangan pagar listrik ilegal. Surat ini disusun untuk menindaklanjuti surat sebelumnya dari Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengenai perihal yang sama.

Dalam surat ini, Baintelkam menekankan dan menegaskan kembali beberapa peraturan terkait penggunaan senapan angin, seperti senapan angin hanya dapat digunakan untuk latihan dan pertandingan olehraga menembak dan bukan untuk berburu/melukai/membunuh binatang. Hal ini merujuk kembali pada Peraturan Kepala Kepilisian RI No. 8 Tahun 2012 mengenai Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api untuk Olahraga, bahwa pistol angin dan senapan angin hanya digunakan untuk kepentingan olahraga menembak sasaran dan target.

Baintelkam juga menuliskan dalam surat ini bahwa bila ada pemilik senapan angin yang terbukti melakukan perburuan hewan yang dilindungi akan dikenakan sanksi hukum berdasarkan UU No. 5 Tahun 1990. Selain itu Baintelkam juga meminta bantuan Dirjen KSDAE KLHK untuk melakukan kordinasi dengan kepolisian untuk mengamankan dan mendata oknum-oknum yang masih melakukan perburuan terhadap satwa dilindungi.

Menanggapi terbitnya surat ini, Hery Susanto sebagai Action Team COP menyatakan bahwa, “Centre for Orangutan Protection sangat mendukung langkah yang diambil Kepolisian Republik Indonesia untuk segera mnertibkan kepemilikan dan penggunaan senapan angin agar tidak ada lagi satwa-satwa yang menjadi korban. Dan harus ada sanksi yang tegas untuk yang masih melanggar agar ada efek jera.”.

Adanya surat Baintelkam ini memberikan harapan baru bagi para aktivis konservasi lingkungan satwa liar. Bahwa pemerintah masih memahami pentingnya ada peraturan baru atau penegasan terkait hukum penggunaan senapan angin. Hal ini juga sebagai tindak lanjut dari banyaknya kasus-kasus penyalahgunaan senapan angin terhadap satwa liar dan bahkan satwa-satwa yang dilindungi di Indonesia.

Meski begitu, pemerintah masih memiliki banyak pekerjaan rumah untuk melakukan penyelidikan dan pendataan terhadap para pemburu yang masih menggunakan senapan angin, serta penjual atau pembuat senapan angin ilegal. Tingkat hukuman juga harus disesuaikan agar lebih relevan dan dapat membuat efek jera sehingga kasus-kasus ini tidak terulang kembali. Tak lupa juga sosialisasi, pengawasan atau kontrol harus konsisten dilakukan pada masyarakat atau bahkan di komunitas-komunitas berburu sebagai salah satu tindak pencegahan.

Semoga hal-hal ini bisa segera direalisasikan sehingga tidak ada lagi satwa-satwa liar yang mengalami kepunahan hanya akibat perilaku tidak bertanggung jawab manusia. Dan marilah kita sebagai bagian dari masyarakat juga menjadi kontrol sosial dan mendukung pekerjaan pemerintah dalam menegakkan hukum (LIA)

UPACARA TUJUHBELASAN DI HUTAN? TAHUN DEPAN KAMU HARUS IKUT!

Masih ingat malam sebelum pelaksanaan upacara bendera ada dari kalian yang nyelutuk, “Ayo tidur sudah, aku takut besok upacara kesiangan bah.”. Bagaimana mungkin kesiangan? Kebiasaan bangun pagi untuk menyalakan air di embung setiap pagi saat matahari masih malu-malu muncul di ufuk timur. Belum lagi keributan memotong buah di gudang pakan dan tentu saja hebohnya dapur yang tak pernah absen walau tanggal merah.

Rupanya momentum upacara bendera 17 Agustus di hutan sejenak bisa membuat kita semua di camp COP Borneo gugup dan grogi. Meskipun ketika di sekolah sudah pada katam sama yang namanya upacara hari Senin. Walaupun tak ada ibu atau bapak guru dan tentu saja tanpa pengawas di tengah hutan labanan, Berau, Kalimantan Timur ini, upacara tetap seperti upacara detik-detik peringatan hari proklamasi di tempat lain. Khidmat… di tengah suara serangga pagi hari, kicauan burung yang sahut menyahut dan semangat saat lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan bersama. “Di sinilah upacara kemerdekaan terbaik yang pernah ada. Haru dan bangga.”.

Usai itu… perlombaan dan pertandingan seru berlangsung. Sederhana, walau hanya lomba makan kerupuk atau pertandingan bulu tangkis, tetap saja gelak tawa lepas, selepas perbedaan siapa dan apa yang kamu kerjakan di Pusat Rehabilitasi Orangutan satu-satunya yang didirikan putra-putri Indonesia. Ya… tahun depan pastikan kamu menjadi bagian dari upacara kemerdekaan ini ya. O iya… hadiahnya masih menyusul, COVID-19 bikin kita tidak leluasa berbelanja sewaktu-waktu. Nunggu tim logistik bawakan hadiah ya… Dirgahayu Republik Indonesia ke-75, Maju Indonesia ku. (WID)


 

A MOMENT OF SILENCE CELEBRATING ORANGUTAN DAY

Just about a week ago, in early August 2020, a baby orangutan named Hope was found in a cardboard box covered by palm fronds in a village, Langkat district, North Sumatra. Hoe, who is about 1 year old, was found alive and is being cared at a quarantine center in Batu Mbelin, Deli Serdang, North Sumatra.

Another orangutan named Hope had a different fate in early 2019. Hope was found in a weak state with 74 air rifle bullet in her body. Hope who is around 30 years old, suffered from injuries and had to lose her only child, a 1 month year old baby orangutan, because of malnutrition.

Things that shouldn’t happen to this Indonesian endemic animals that are now critically endangered (IUCN) in fact are stil l being found. Especially around orangutan habitat. Their habitat are getting smaller and smaller and that resulted in conflict with people. Also there are still people who are trying to make fortune by poaching and selling baby orangutan.

It’s important and necessary to control the land use and protectiong also maintaining orangutan habitat. Without forests, orangutans and other wildlife would not be able to survive. In fact, orangutans play a very important role in nature to maintain the healt of ecosystem, by distributing seeds from one place to anothet. The results of their roles are also bring a great benefit to the lives of other animals and for local people.

Losing orangutan is also means losing forest and life. So, now is the time for us on this International Orangutan Day to be quiet and silence for a moment to understand and remember our duty as humans. To care, protect and maintain what is in the nature and environment as best as we can. Let us move and take action to save our forest, orangutan and lives. Together we can make a difference. (LIA)

HENING SEJENAK MERAYAKAN HARI ORANGUTAN

Sekitar satu minggu yang lalu, pada awal Agustus 2020, satu bayi orangutan yang dinamakan Hope ditemukan di dalam sebuah kardus yang ditutupi pelepah sawit di sebuah desa, kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Hope yang masih berumur sekitar 1 tahun ini ditinggalkan oleh pelaku begitu saja karena kedatangan petugas. Beruntung Hope ditemukan masih dalam keadaan hidup dan saat ini sedang dirawat di sebuah pusat karantina di Batu Mbelin, Deli Serdang, Sumut.

Nasib berbeda dirasakan oleh orangutan Hope lainnya pada awal tahun 2019. Hope ditemukan dalam keadaan lemah dengan 74 peluru senapan angin yang bersarang di tubuhnya. Hope yang berusia sekitar 30 tahunan ini pun menderita banyak luka dan harus kehilangan anaknya yang masih berumur sekitar 1 bulan akibat malnutrisi.

Hal-hal yang seharusnya tidak menimpa satwa endemik Indonesia yang kini berstatus kritis (critically endangered-IUCN) nyatanya masih ditemukan. Terutama di sekitar area habitat dimana orangutan hidup mencari makan. Habitatnya yang semakin menyempit hingga menimbulkan konflik dan juga karena adanya orang yang berusaha mencari keuntungan dengan memburu dan memperjualbelikan bayi orangutan.

Kontrol terhadap pemakaian lahan dan menjaga habitat orangutan juga sangat diperlukan. Tanpa adanya hutan, orangutan dan satwa liar lainnya tak mungkin bertahan. Padahal orangutan berperan sangat penting di alam untuk menjaga kesehatan ekosistem hutan dengan menjadi penyebar biji-bijian. Hasil dari peran orangutan ini juga bermanfaat besar bagi kehidupan satwa-satwa lainnya dan bahkan bagi masyarakat lokal di sekitarnya.

Kehilangan orangutan, berarti juga kehilangan hutan dan kehidupan. Maka, inilah saatnya bagi kita di hari Orangutan Sedunia untuk hening sejenak, memahami dan mengingat kembali kewajiban kita sebagai manusia. Terutama untuk merawat dan memelihara apa yang ada di alam sekitar kita dengan sebaik mungkin. Marilah kita bergerak untuk menyelamatkan hutan, orangutan dan kehidupan. Bersama kita bisa membawa perubahan.

Selamat Hari Orangutan Internasional. Selamat berjuang! (LIA)

COP BERSAMA OIC UNTUK PRIMATA SUMATERA

Kedua orang pendiri organisasi orangutan di Indonesia ini telah lama bekerja bersama. Dua puluh tahun lebih saling mengenal dan berkarya untuk penyelamatan orangutan Indonesia. Jika Centre for Orangutan Protection lebih dikenal sebagai organisasi kampanye perlindungan orangutan dan habitatnya tak jauh berbeda dengan Orangutan Information Center yang telah menyelamatkan orangutan Sumatera di Sumbagut. Di bulan kemerdekaan Republik Indonesia ini, keduanya menandatangani perjanjian kerjasama Pembangunan dan Pengelolaan Pusat Penyelamatan Orangutan dan Primata Dilindungi Lainnya dalam Upaya Mendukung Rehabilitasi dan Pelepasliaran Primata di Sumatera. Sebuah komitmen besar untuk satwa liar.

“Kami berharap dapat bekerja maksimal untuk satwa liar Sumatera yang unik dan endemik agar kelak tak sekedar dongeng pengantar tidur. Laporan kepemilikan ilegal satwa liar yang dilindungi terutama primata yang selama ini masuk, semoga mendapatkan kesempatan keduanya untuk dapat kembali ke habitatnya. Penyelamatan, Rehabilitasi dan Pelepasliaran bukanlah hal yang mudah, tenaga dan biaya yang terkuras untuk itu sangat besar. Kami berharap kita semua, masyarakat Sumatera dapat menjadi pelindung juga untuk satwa liar tersebut.”, kata Daniek Hendarto, Direktur COP usai menandatangani perjanjian kerjasama di kantor Yayasan Orangutan Sumatera Lestari yang berada di Jl. Bunga Sedap Malam XVIIIc No. 10 Medan.

Sementara Hardi Baktiantoro (pendiri COP) dan Panut Hadisiswoyo (pendiri YOSL) terlihat sama-sama lega setelah melihat regenerasi organisasinya saling membubuhkan tanda tangan untuk Sumatra Rescue Alliance Primate Center. Mohon doa Orangufriends dan para pendukung agar pembangunan sarana dan prasarana dapat berjalan dengan baik dan lancar. 

INGIN LARI DARI RAPID TEST

Perawat satwa kembali panas dingin. Mau melarikan diri… tapi tak bisa. Kali ini bukan pemeriksaan berkala rutin yang biasanya mereka lakukan untuk pemeriksaan kesehatan. “Kalau itu sudah biasa. Kita tinggal duduk dan diambil darah. Tarik nafas, hembuskan perlahan, tekan dengan kapas bagian yang telah selesai… dan pulang.”, ujar Linau, perawat satwa di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo. Hasilnya, gak perlu kawatir, herpes, hepatitis, HIV AIDS maupun TBC biasanya negatif karena kami mengetahui bagaimana harus menjaga diri dari penyakit menular tersebut. Apa bedanya pemeriksaan sekarang?

“Kami hanya bisa berdiam di rumah atau tetap di camp COP Borneo. Bahkan di awal pandemi, COP Borneo lockdown. Tak seorang pun bisa masuk dan tak seorang pun bisa keluar dari camp. Pemeriksaan kali ini untuk mengetahui apakah kami reaktif atau tidak pada antibodi anti SARS-CoV-2. Rapid test lah.”, kata Simson. “Kalau reaktif, berarti kami langsung diisolasi… mengerikan!”. Jev pun mengambil urutan paling akhir untuk diperiksa. Tapi ternyata hanya membuatnya semakin grogi. “Pasrah sajalah.”, katanya. 

“Syukurlah kami semua di Pusat Rehabilitasi Orangutan non reaktif, termasuk Inoy yang berada di Berau dengan tugas logistik mulai dari kebutuhan pakan orangutan hingga pribadi.”, kata Widi Nursanti, manajer COP Borneo. Tim APE Warrior yang berada di Yogyakarta dan tim APE Crusader yang berada di Kalimantan maupun Jakarta juga menunjukkan hasil non reaktif. “Gunakan masker, rajin cuci tangan dan jaga jarak. Semoga pandemi cepat berlalu.”. 

COP BORNEO DI KHDTK LABANAN UNTUK LIMA TAHUN KEDEPAN

Centre for Orangutan Protection (COP) pada hari ini, bertempat di Kantor Sekretariat Badan Litbang dan Inovasi di Bogor melakukan tanda tangan untuk Perjanjian Kerjasama dengan Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Inovasi KLHK tentang penyediaan areal KHDTK Labanan di Berau untuk lokasi Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan. Perjanjian kedua belah pihak ini dihadiri dan ditandatangani oleh DR. Ir. Sylvana Ratina, M.Si selaku Sekretaris Badan Penelitian Pengembangan dan Inovasi sekaligus pelaksana tugas Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa.

Dalam kesempatannya ibu Sylvana mengharapkan kerjasama ini dilaksanakan dengan baik dan sesuai dengan isi kerjasama. “Ini adalah wujud nyata dari Badan Litbang dan Inovasi mendukung upaya konservasi orangutan dan kerjasama ini merupakan lanjutan dari perjanjian kerjasama lima tahun sebelumnya, semoga lima tahun kedepannya upaya rehabilitasi yang dilakukan oleh mitra kami COP bisa lebih baik lagi.”.

Ketua COP, Daniek Hendarto sangat senang dengan ditandatangani kerjasama lanjutan lima tahun kedepan (2020-2025) setelah kerjasama lima tahun sebelumnya telah terlaksana dan berjalan.

Tanda tangan Perjanjian Kerjasama ini juga disaksikan oleh Kepala Bagian Program dan Kerjasama DR. Kristianto, Kasubag Kerjasama Yudi Fatwa Hudaya dan perwakilan B2P2EHD bapak Eded Suryadi. (DAN)

 

LIMA BELAS HARI INI, SEPTI TIDAK KEMBUNG

Ada satu gadis manis yang selalu membuat penggemarnya khawatir. Dia yang selalu terlihat kalem dengan gaya tatanan rambutnya yang khas, poni yang disisir ke belakang. Yup… dia adalah Septi. Septi yang telah dua kali menjadi kakak maupun ibu asuh dari bayi-bayi orangutan di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo.

Septi selalu mempunyai masalah perut kembung. Perutnya sering terlihat membesar dan keras. Sewaktu ada bayi Alouise, Septi tidak terlalu sering kembung. Mungkin karena bayi Alouise selalu memeluknya sehingga Septi merasa lebih hangat dan ada yang menekan-nekan perutnya secara alami. 

Untuk mengurangi kembungnya, tim medis juga sudah menghindari makanan yang mungkin bisa memicu perut kembung. Bahkan langsung menghapus jenis buah yang langsung membuat Septi keesokan harinya kembung. Tapi ternyata Septi masih juga kembung. 

Bahkan, salah seorang pengemarnya telah mengirimkan pengobatan khusus dan tentu saja doa dan harapan untuk kesembuhannya. Semua yang mengenal orangutan Septi berharap kesembuhannya. Dan selama lima belas hari ini, Septi tidak kembung. Sungguh menggembirakan, melihatnya bergerak aktif, walau memang Septi bergerak dengan lamban, baik itu menuju makanannya, menyusun daun maupun ranting atau naik ke atas hammocknya. 

“Ayo Septi… kamu bisa. Banyak penggemarmu yang mengharapkan kabar baik darimu. Kemungkinan untuk dilepasliarkan?”. Setiap orangutan adalah pribadi yang unik. Perkembangan satu orangutan dengan yang lainnya berbeda. Mimpi melihatnya di atas pohon adalah mimpi terbaik. Jalan itu masih panjang, tapi tak pernah ada yang mustahil. Terimakasih untuk kamu yang sangat peduli pada Septi.

Page 1 of 2712345...1020...Last »