MCU SI INYIAK, KETIKA PENYELAMATAN HANYA MENJADI AWAL PERJALANAN

Bagi sebagian orang, penyelamatan Harimau Sumatra mungkin berakhir ketika jerat berhasil dilepas dari tubuhnya. Namun bagi tim medis dan para penguat konservasi, justru di situlah perjalanan yang sesungguhnya dimulai.

Ketika anak harimau yang ditemukan terjerat di Pasaman berhasil dievakuasi, satu pertanyaan besar masih harus dijawab, seberapa besar dampak jerat terhadap kondisi fisik dan mentalnya. Luka yang terlihat pada kaki hanyalah bagian yang tampak dari luar. Di baliknya bisa saja terdapat infeksi, kerusakan jaringan, dehidrasi, gangguan metabolisme, hingga stres berat akibat rasa sakit dan pengalaman traumatis selama terjerat. Karena itulah tim dokter hewan melakukan serangkaian pemeriksaan kesehatan menyeluruh atau Medical Check-Up (MCU) untuk mengetahui kondisi sebenarnya.

Mulai dari pemeriksaan fisik, pengambilan sampel darah, pengukuran berat badan, pemeriksaan suhu tubuh, denyut jantung, hingga evaluasi kondisi luka dilakukan secara hati-hati. Semua data tersebut menjadi dasar dalam menentukan langkah perawatan berikutnya. Yang sering tidak terlihat oleh publik adalah bahwa MCU bukanlah garis akhir. MCU hanyalah pintu masuk menuju proses pemulihan yang jauh lebih panjang dan lebih rumit.

Setelah pemeriksaan selesai, harimau tidak bisa langsung dilepasliarkan begitu saja. Tim medis harus terus melakukan pemantauan untuk memastikan luka benar-benar membaik, tidak terjadi infeksi lanjutan, serta memastikan kondisi tubuhnya kembali stabil. Proses ini dapat berlangsung selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, tergantung tingkat keparahan cedera yang dialami.

Di sinilah tantangan lain muncul.

Harimau adalah satwa liar yang secara alami menghindari manusia. Di alam, mereka hidup bebas dengan wilayah jelajah yang luas, memilih tempat beristirahat sendiri, berburu sendiri, dan seminimal mungkin berinteraksi dengan manusia. Ketika harus menjalani perawatan di kandang rehabilitasi, kondisi tersebut berubah secara drastis.

Meskipun kandang perawatan dirancang untuk memberikan keamanan dan mendukung prose penyembuhan, keberadaan di ruang terbatas tetap dapat menjadi sumber stres bagi satwa liar. Terlebih lagi ketika harus menjalani pemeriksaan rutin, pengobatan, atau melihat aktivitas manusia di sekitarnya setiap hari.

Bagi harimau, stres bukan sekadar kondisi psikologis. Stres yang berlebihan dapat memengaruhi nafsu makan, menurunkan daya tahan tubuh, memperlambat penyembuhan luka, bahkan meningkatkan risiko munculnya gangguan kesehatan lainnya. Dalam beberapa kasus, satwa yang mengalami stres berkepanjangan dapat menunjukkan perubahan perilaku yang berpotensi mengurangi kemampuan mereka untuk kembali hidup mandiri di alam liar.

Keberhasilan penyelamatan tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan evakuasi atau kualitas tindakan medis. Faktor pemeliharaan dan perawatan sehari-hari memiliki peran yang sama pentingnya. Tim perawat satwa harus memastikan kebutuhan nutrisi terpenuhi, lingkungan kandang tetap nyaman, gangguan dari manusia diminimalkan dan interaksi langsung dilakukan hanya ketika benar-benar diperlukan.

Dalam dunia rehabilitasi satwa liar, tujuan utma perawatan bukanlah membuat satwa terbiasa dengan manusia. Justru sebaliknya, tim berupaya agar satwa tetap mempertahankan sifat liarnya. Semakin sedikit ketergantungan dan interaksi dengan manusia, semakin besar peluang satwa tersebut untuk kembali menjalani kehidupannya secara alami ketika dilepasliarkan.

Setiap hari selama masa pemulihan menjadi proses evaluasi yang penting. Apakah luka menunjukkan perkembangan yang baik? Apakah pola makan normal? Apakah pola makan normal? Apakah perilaku satwa masih mencerminkan insting alaminya? Semua pertanyaan tersebut harus dijawab sebelum keputusan lebih lanjut dapat diambil.

Di balik kabar penyelamatan yang sering muncul di media, terdapat pekerjaan panjang yang jarang terlihat. Ada dokter hewan yang memantau hasil pemeriksaan, ada perawat satwa yang memastikan kebutuhan harian terpenuhi, dan ada tim konservasi yang terus mengamati perkembangan kondisi individual tersebut dari waktu ke waktu.

Bagi anak harimau dari Pasaman ini, prose penyembuhan masih terus berjalan. Setiap hari tanpa infeksi, setiap luka yang mulai mengering, dan setiap perilaku liar yang tetap terjaga adalah langkah kecil menuju tujuan yang lebih besar, kembali menjadi penguasa hutan, bukan penghuni kandang perawatan. Dan seperti banyak kisah konservai lainnya, kesembuhan bukanlah hasil dari satu tindakan besar, melainkan kumpulan dari perhatian, kesabaran, dan kerja keras yang dilakukan setiap hari oleh banyak orang yang percaya bahwa satu nyawa harimau sangat berarti bagi masa depan spesiesnya. (APE Protector)

BELAJAR KESIAPSIAGAAN BENCANA SEJAK DINI, MENYELAMATKAN MANUSIA DAN SATWA

Ada kebahagiaan tersendiri setiap kali bertemu dengan para siswa yang baru memasuki jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Selain semangat dan rasa ingin tahu yang masih sangat besar, pertemuan dengan mereka juga menghadirkan harapan bahwa apa yang dipelajari hari ini akan terus diingat dan berkembang di masa depan.

Semangat itulah yang dibawa oleh APE Warrior bersama delapan relawan saat mengunjungi SMAN 2 Sleman. Dalam kegiatan yang diikuti oleh sekitar 130 peserta didik kelas 10 tersebut, tim mengajak para siswa untuk mengenal pentingnya kesiapsiagaan bencana dan berbagai risiko yang dapat muncul setelah bencana terjadi.

Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kerawanan bencana yang cukup tinggi, mulai dari gempa bumi, letusan gung api, banjir, hingga tanah longsor. Kondisi ini membuat pendidikan mengenai kesiapsiagaan bencana menjadi sesuatu yang penting untuk diberikan sejak dini. Dengan memahami risiko dan langkah-langkah yang harus dilakukan ketika bencana terjadi, setiap individual memiliki peluang lebih besar untuk melindungi diri dan membantu orang lain di sekitarnya.

Namun, pembahasan mengenai bencana tidak hanya pada keselamatan manusia. Dalam sesi ini, par siswa juga diajak memahami bahwa satwa turut menjadi pihak yang terdampak ketika bencana terjadi. Hilangnya habitat, kekurangan sumber pakan, hingga meningkatnya potensi antara manusia dan satwa merupakan beberapa risiko lanjutan yang sering muncul pasca bencana.

Pesan inilah yang ingin disampaikan kepada para peserta didik, semakin siap manusia menghadapi bencana, semakin besar pula peluang untuk menyelamatkan satwa dan lingkungan di sekitarnya. Kesiapsiagaan bukanlah tentang menumbuhkan rasa takut, melainkan membangun kesadaran, kepedulian, dan kemampuan untuk mengambil tindakan yang tepat ketika situasi darurat terjadi.

Melalui pertemuan singkat di pagi hari itu, APE Warrior berharap benih-benih kepedulian terhadap bencana dan keselamatan satwa dapat terus tumbuh di hati para siswa. Karena pendidikan mengenai kesiapsiagaan bukanlah pelajaran yang cukup dipahami sekali aja, melainkan proses belajar yang perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Semoga pertemuan ini bukan menjadi yang pertama dan terakhir. Sebaliknya, semoga menjadi awal dari lebih banyak kesempatan untuk belajar bersama, membangun generasi yang tangguh menghadapi bencana, serta memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian satwa dan lingkungan. (VID)

MENGENAL HAK DAN PERLINDUNGAN HUKUM BAGI AKTIVIS LINGKUNGAN DI DATING APES BATCH 17

Upaya menjaga lingkungan dan melindungi satwa liar sering kali membutuhkan keberanian, konsistensi, dan kerja sama dari banyak pihak. Namun, di balik berbagai aksi dan kampanye yang dilakukan, ada satu hal yang tidak kalah penting untuk dipahami oleh para penguat lingkungan, yaitu pengetahuan mengenai hak dan perlindungan hukum bagi aktivis lingkungan.

Topik inilah yang diangkat dalam kegiatan Dating APES Batch 17 yang diselenggarakan pada Kamis sore, 11 Juni 2026. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber yang memiliki pengalaman dan kompetensi di bidang hukum serta perlindungan lingkungan, yaitu Marsya M. Handayani dari Indonesia Center for Environmental Law (ICEL) dan Dwi Nugroho Adhiasto dari SCENTS Indonesia.

Dalam diskusi yang berlangsung hangat dan interaktif tersebut, kedua pemateri mengajak peserta untuk memahami berbagai aspek penting terkait hak-hak warga negara dalam memperjuangkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Para peserta juga diperkenalkan pada berbagai bentuk perlindungan hukum yang tersedia bagi individual maupun kelompok yang terlibat dalam upaya perlindungan lingkungan.

Pembahasan ini menjadi sangat relevan mengingat para aktivis lingkungan, relawan, dan organisasi masyarakat sipil kerap berada di garis depan dalam menyuarakan isu-isu lingkungan, mulai dari perlindungan keanekaragaman hayati, konservasi satwa liar, hingga pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Dalam praktiknya, berbagai tantangan dan risiko dapat dihadapi oleh para pegiat lingkungan, sehingga pemahaman mengenai hak dan mekanisme perlindungan hukum menjadi bekal yang penting.

Dating APES kali ini diikuti oleh lebih dari 30 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang dan organisasi, di antaranya Orangufriends Yogyakarta, BKSDA Yogyakarta, Bisa Indonesia, Kanopi, Kophi Yogyakarta, dan Vidya Nusantara. Selain peserta yang hadir secara langsung, kegiatan ini juga diikuti oleh peserta yang bergabung secara daring dari berbagai daerah.

Keberagaman peserta dan perspektif yang hadir dalam diskusi tersebut memperlihatkan bahwa isu perlindungan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Tidak hanya memahami permasalahan lingkungan, para pegiat juga perlu membekali diri dengan pengetahuan mengenai hak-hak yang dimiliki serta langkah-langkah yang dapat ditempuh ketika menghadapi berbagai tantangan dalam perjuangan menjaga lingkungan.

Melalui Dating APES diharapkan semakin banyak individual dan komunitas yang tidak hanya peduli terhadap kelestarian alam dan satwa liar, tetapi juga memahami pentingnya perlindungan hukum sebagai bagian dari upaya mewujudkan gerakan lingkungan yang aman, inklusif, dan berkelanjutan. (DIT)

BERAT BADAN NAIK, HARAPAN TUMBUH BERSAMA ENAM ORANGUTAN MUDA DI SRA

Ada banyak cara untuk melihat sebuah harapan tumbuh. Kadang melalui langkah pertama, kadang melalui keberanian untuk memulai kembali. Di Sumatran Rescue Alliance (SRA), harapan itu terlihat dari sesuatu yang sederhana namun sangat berarti yaitu berat badan keenam orangutan muda yang terus bertambah dari bulan ke bulan. Ini adalah indikator penting bahwa proses adaptasi, perawatan, dan rehabilitasi yang mereka jalani berjalan ke arah yang positif.

Enam individual tersebut adalah Agam, Bow, Maximus, Noon, Jay, dan Raiking. Berdasarkan data penimbangan, Agam mengalami kenaikan berat badan sebanyak 1 kg. Kenaikan tersebut tersimpan cerita yang jauh lebih besar daripada sekadar pertambahan berat badan. Kemampuan orangutan mengonsumsi pakan dengan baik, beradaptasi dengan lingkungan baru, serta memiliki kondisi fisik yang mendukung proses tumbuh kembang menjadi keberhasilan yang tidak terjadi dalam semalam. Setiap individual memiliki kebutuhan dan tantangan yang berbeda. Tim harus memantau pola makan, aktivitas, perilaku, hingga kondisi kesehatan mereka setiap hari untuk memastikan setiap orangutan mendapatkan perawatan yang sesuai.

Meski terlihat sederhana, penimbangan rutin merupakan bagian penting dari perjalanan panjang menuju pemulihan. Setiap gram yang bertambah menjadi tanda bahwa mereka semakin kuat, semakin sehat dan bertumbuh. Sementara untuk empat orangutan repatriasi Thailand akhir tahun 2025 lalu juga menjadi semakin besar, kuat, dan sehat.

Angka-angka sederhana di timbangan, kita pun melihat sebuah harapan yang terus bertumbuh harapan agar suatu hari nanti mereka dapat hidup sebagai orangutan yang sehat, mandiri, dan kembali menjadi bagian dari hutan Sumatra yang menjadi rumah mereka. (Medis SRA)

BAYI ORANGUTAN BETINA TIBA DI BORA

Sangatta – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama BKSDA Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Tenggarong dan Centre for Orangutan Protection menerima penyerahan satu bayi orangutan (Pongo pygmaeus) dari masyarakat di Kelurahan Singa Gereh, Kecamatan Sangatta Selatan, Kutai Timur, Kalimantan Timur (11/6).

Bayi orangutan betina ini ditemukan menangis sendirian di dalam semak-semak kebun warga. Pada saat itu juga, warga tersebut langsung melaporkan penemuannya ini ke petugas BKSDA SKW II Tenggarong. Petugas pun langsung merespons cepat dan menjemput bayi orangutan tersebut. Setelah dilakukan penyerahan, tim gabungan petugas BKSDA bersama dengan medis dari COP membawa bayi orangutan ini menuju Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut.

Setelah melakukan perjalanan darat kurang lebih 12 jam, akhirnya byi orangutan tiba di BORA. “Orangutan terindentifikasi betina, estimasi usia 1-1,5 tahun. Kondisi saat tiba mengalami tremor dan sedikit agresif juga mengalami kelainan pada jari telunjuk kanan”, ungkap dokter hewan BORA yang menerima bayi orangutan tersebut. Tim medis pun segera menenangkannya dengan susu dan selimut hangat. Dia pun merasa nyaman dalam pelukan kasih sayang dokter hewan senior COP yang kebetulan sedang bertugas.

Seperti bayi orangutan lainnya yang juga kehilangan induk pada usia yang masih sangat muda, bayi ini akan menjalani proses rehabilitasi yang panjang di BORA. Di sinilah ia akan mempelajari kemampuan dasar hidup di alam bebas sebagai orangutan. Hal-hal yang perlu dipelajari seperti memanjat, mencari makan, dan membuat sarang akan menjadi tahapan-tahapan yang harus ia lewati. “Kami akan berusaha memberikan perawatan yang terbaik untuknya, karena kemampuan dasar ini mutlak harus dikuasai sebelum ia bisa dikembalikan ke habitatnya”. (SAT)

PENEMUAN AKTIVITAS PEMBUKAAN LAHAN DI HABITAT HARIMAU SUMATRA

Pada Jumat, 5 Juni, tim gabungan dari BKSDA RKW 1 Pasaman dan Centre for Orangutan Protection (COP) menindaklanjuti laporan masyarakat mengenai dugaan aktivitas perambahan hutan yang berpotensi mengancam habitat Harimau Sumatra di Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat.

Tim segera bergerak menuju lokasi yang berada di sekitar Nagari Tanjung Baringin, Kecamatan Lubuk Sikaping. Pada titik pelaporan pertama, tim tidak menemukan keberadaan alat berat. Tim melanjutkan penelusuran lebih jauh ke dalam kawasan Hutan Lindung Pasaman Raya dan menemukan jejak berupa jalan yang diduga digunakan kendaraan berat untuk memasuki area hutan. Temuan ini memperkuat indikasi adanya aktivitas pembukaan lahan di kawasan tersebut.

Tidak jauh dari situ, tim menemukan sebuah excavator yang sedang beroperasi untuk membuka lahan. Temuan ini kemudian ditindaklanjuti dengan pengumpulan data dan informasi di lapangan. Tim menjumpai pengelola dan operator alat berat untuk dilakukan pencatatan identitas sebagai bagian dari proses penanganan lebih lanjut oleh pihak berwenang.

Aktivitas pembukaan lahan di kawasan hutan yang berfungsi sebagai habitat satwa liar dapat menimbulkan berbagai dampak ekologis, termasuk berkurangnya ruang jelajah satwa dan meningkatnya potensi konflik antara manusia dan satwa liar. Oleh karena itu, pemantauan dan penanganan terhadap aktivitas yang berpotensi mengancam kelestarian habitat menjadi langkah penting dalam upaya perlindungan Harimau Sumatera dan ekosistem yang menopangnya. COP bersama BKSDA akan terus berkoordinasi dan melakukan pemantauan untuk memastikan kawasan hutan tetap terjaga serta mendukung upaya konservasi satwa liar di Sumatra Barat. (APE Protector)

SIDANG KASUS PERDAGANGAN TAPIR ASIA DITUNDA, PEMERIKSAAN TERDAKWA DIJADWALKAN PEKAN DEPAN

4 Juni 2026 proses hukum terhadap kasus perdagangan satwa liar dilindungi jenis Tapir Asia (Tapirus indicus) terus berlanjut. Namun, sidang yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis harus ditunda setelah salah satu saksi yang seharusnya hadir tidak dapat memenuhi panggilan persidangan. Akibat ketidakhadiran saksi tersebut, agenda pemeriksaan saksi belum dapat dilaksanakan. Majelis hakim kemudian memutuskan untuk menunda persidangan dan menjadwalkan kembali sidang lanjutan pada 11 Juni.

Pada sidang berikutnya, agenda yang akan dilaksanakan adalah pemeriksaan para terdakwa. Dalam tahap ini para terdakwa akan memberikan keterangan di hadapan majelis hakim guna memperjelas fakta-fakta yang berkaitan dengan perkara yang sedang diperiksa.

Kasus ini merupakan tindak lanjut dari pengungkapan perdagangan satwa liar yang terjadi di Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat. Sebelumnya, tim gabungan yang terdiri dari BKSDA Sumbar, Polres Pasaman, KPHL Pasaman Raya, dan APE Protector COP (Centre for Orangutan Protection) berhasil mengungkap upaya perdagangan seekor Tapir Asia muda yang akan diperjualbelikan secara ilegal. Satwa dilindungi tersebut ditemukan berada di atas sebuah kendaraan pick-up dalam kondisi hidup saat operasi penindakan dilakukan. Dua orang pelaku kemudian diamankan untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa perdagangan satwa liar masih menjadi ancaman nyata bagi kelestarian keanekaragaman hayati Indonesia. Tapir Asia merupakan salah satu mamalia besar yang keberadaannya semakin tertekan akibat hilangnya habitat dan perburuan ilegal.

Penundaan sidang dilakukan untuk memastikan seluruh proses peradilan berjalan sesuai ketentuan yang berlaku. Kehadiran saksi dan pemeriksaan para terdakwa menjadi bagian penting dalam mengungkap rangkaian peristiwa serta menentukan pertanggungjawaban hukum dalam kasus ini. APE Protector akan terus memantau perkembangan persidangan dan menyampaikan informasi terbaru sebagai bentuk dukungan terhadap penegakan hukum di bidang konservasi satwa liar. (APE Protector)

BERCERITA LEWAT KARYA, MENEMUKAN MAKNA DI BALIK SETIAP TULISAN ORANGUFRIENDS MEDAN

Menulis bukan sekadar merangkai kata. Menulis adalah proses membangun gagasan, mengelolai pengalaman, dan menyampaikan cerita yang bermakna. Semangat inilah yang diangkat dalam kegiatan Kelas Orangufriends bertajuk “Bercerita Lewat Karya” yang diselenggarakan pada Minggu, 7 Juni 2026 di COP Medan.

Pada kesempatan ini, peserta mendapatkan pembelajaran langsung dari Titan Sadewa, seorang penulis sekaligus guru Bahasa Indonesia yang berbagi pengalaman serta pandangannya tentang dunia kepenulisan. Menurut Titan, menulis adalah sebuah criftmanship atau keterampilan yang perlu diasah melalui pengalaman terhadap bahan dan proses pembentukannya. Layaknya seorang perajin yang menciptakan karya, seorang penulis juga harus memahami cara membangun sebuah cerita dari ide-ide yang sederhana.

Untuk memantik kreativitas peserta, Titan mengajak mereka berpikir melalui pendekatan 4W+1H (What, Who, When, dan How). Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, peserta diajak menggali ide dan menemukan sudut pandang yang dapat dikembangkan menjadi tulisan.

Kegiatan kemudian berlanjut ke sesi yang lebih interaktif. Peserta diajak keluar ruangan untuk menikmati suasana sekitar dan menuliskan 30 kata yang muncul dalam pikiran mereka. Kata-kata tersebut kemudian dirangkai menjadi sebuah paragraf singkat yang terdiri dari 4-5 kalimat. Melalui latihan sederhana ini, peserta belajar bahwa inspirasi dapat ditemukan dimana saja, bahkan dari hal-hal yang tampak biasa.

Salah satu momen yang paling menarik terjadi saat sesi diskusi. Ketika ditanya, “Mengapa seseorang menulis?”, Titan menjawab bahwa setiap orang memiliki alasan yang berbeda, salah satunya sebagai bentuk pemuasan jiwa dan sarana menyalurkan berbagai pikiran yang menumpuk.

Ia juga mengibaratkan menulis seperti lari marathon, membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan pengelolaan energi yang baik. Menulis juga menuntut keberanian untuk menemukan cara baru dalam bercerita, sehingga kebiasaan membaca menjadi bekal penting bagi setiap penulis.

Melalui kegiatan ini, para peserta memperoleh perspektif baru bahwa menulis bukan sekadar aktivitas mencatat, melainkan sebuah keterampilan yang terus ditempa melalui latihan, pengalaman, dan keberanian untuk berkarya. (AGU)

SEMERBAK BUNGA PUSPA DI SIRANGGAS

Pada akhir Mei lalu, lingkungan hutan suaka margasatwa Siranggas lebih hangat dari pada sebelumnya. Intensitas cahaya matahari dan suhu udara mulai meningkat, frekuensi hujan dan kelembapan udara pun menurun. Aktivitas pagi dapat dimulai dengan cuaca yang cerah dan malam hari ditutup dengan gerimis ringan yang sejuk. Transisi musim ini diiringi dengan pohon puspa (Schima wallichii) yang mulai berbunga.

Bunga puspa memiliki 5 mahkota warna putih, banyak benang sari warna kuning, dan aroma harum manis yang memikat. Bunganya terlihat mencolok di antara dedaunan kanopi maupun serasah lantai hutan. Di area camp Siranggas ada 3 pohon puspa yang lokasinya berjauhan. Satu di sekitar gudang pakan, satu lagi di samping enclosure orangutan, dan satu lagi di area sekolah hutan. Ketiganya berupa tegakan pohon dengan diameter batang mulai dari 20 cm dan tinggi lebih dari 12 cm. Uniknya, terdapat variasi pada periode dimulainya pembungaan hingga morfologi dan jumlah bunga.

Pohon puspa samping kandang berbunga lebih awal, diikuti dengan dua individu lain yang mulai berbunga di awal Juni. Nampaknya, faktor lingkungan menjadi stimulus dari pembungaan ini. Mikroklimat setiap pohon puspa bervariasi, mulai dari paparan sinar matahari yang di dapat, posisi tajuk di lapisan kanopi, hingga kompetisi nutrisi di tanah dengan pohon lain. Kondisi ini memengaruhi fisiologis dan morfogenesis yang berkaitan dengan pembungaan seperti pembelahan sel dan produksi fitohormon.

Pohon samping enclosure orangutan memiliki bunga dengan ukuran besar dan jumlah banyak. Tingginya paparan cahaya matahari menstimulasi hormon florigen dan menginduksi pembungaan. Sisa daun dan feses orangutan yang ditumpuk di bawahnya juga menyuplai bahan organik tanah sebagai sumber nutrisi pohon. Oleh karena itu, pembungaan individu ini lebih unggul daripada kedua lainnya yang berbunga dengan kualitas dan kuantitas yang lebih rendah.

Ada banyak bunga puspa yang berjatuhan di atas tanah oleh tiupan angin, senggolan satwa, atau luruh alami karena telah terfertilisasi dan mulai memasuki perkembangan buah. Bunga-bunga yang masih bersih dan utuh dikumpulkan untuk diberikan ke orangutan bernama Asih. Hal ini menjadi bentuk pengenalan pakan alami alternatif ketika jumlah pakan utama (buah) tidak melimpah di hutan. Untungnya, Asih merespons baik pemberian bunga ini. Ia mengobservasi dan membau bunga puspa sebelum memakannya dengan lahap. Respons membau ini selalu diekspresikan ketika Asih mendapatkan enrichment buah hutan atau bunga yang masih asing baginya.

Pemberian bunga ini disebar ke berbagai sisi enclosure untuk mendukung keaktifan Asih dalam mengenali dan mencari pakan. Harapannya, Asih dapat mengenali bunga puspa yang tersebar di tajuk-tajuk pohon tinggi ketika menjalani sekolah hutan. Ketika ia sudah mengenali beragam jenis pakan alami di hutan, kesempatan untuk kembali hidup liar dan bebas di habitatnya semakin dekat. (FAR)

KESEMPATAN KEDUA UNTUK SANG BELANG MUDA

Pada 21 Mei yang lalu di Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat, ditemukan dalam kondisi terjerat, satu anak Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) betina berusia kurang dari satu tahun. Lilitan kawat menyebabkan luka terbuka pada bagian leher, pangkal tungkai kaki depan, dan punggungnya. Beruntung, masyarakat segera menginformasikan ke pihak yang berwenang sehingga tim dapat bergerak cepat melakukan penyelamatan sebelum kondisinya memburuk.

Patroli Anak Nagari (PAGARI) Koto Rajo, PAGARI Beringin, PAGARI Salareia, BKSDA Sumbar, Polsek Rao bersama APE Protector COP bahu membahu mengevakuasi dan menangani harimau muda ini tidak lebih dari 24 jam sejak terjerat. Saat ini, perawatan intensif pada luka-luka terbukanya, pemberian pakan bergizi terutama daging merah menjadi prioritas, selain pemberian vitamin guna membantu percepatan pemulihannya.

Setelah 14 hari perawatan, kondisinya menunjukkan perkembangan positif. Nafsu makannya mulai kembali, aktivitasnya semakin normal, dan luka-luka yang sebelumnya terbuka kini perlahan mengering. Setiap hari, tim terus memantau kesehatannya untuk memastikan proses pemulihan berjalan dengan baik.

Ini bukan hanya tentang penyelamatan seekor harimau, namun menjadi pengingat akan ancaman serius yang masih menghantui satwa liar di berbagai wilayah Sumatra terutama jerat satwa. Dalam beberapa tahun terakhir, berita mengenai satwa liar yang terjerat terus bermunculan. Jerat yang umumnya dipasang untuk menangkap babi hutan atau satwa yang dianggap mengganggu perkebunan sering kali tidak memilih mangsa. Harimau Sumatra, beruang madu, rusa, tapir, hingga satwa endemik dilindungi lainnya juga ikut menjadi korban secara tidak sengaja. Ketika satwa memasuki area yang dipasangi jerat, kawat akan mengencang dan menyebabkan luka serius, infeksi, cacat permanen, bahkan kematian.

Banyak kasus berakhir tragis karena satwa ditemukan terlambat atau tidak ditemukan sama sekali. Tidak sedikit individu satwa dilindungi yang mati secara perlahan akibat luka yang semakin parah, kelaparan, atau kehilangan kemampuan untuk berburu dan bertahan hidup di alam. Bagi spesies yang populasinya sudah semakin sedikit, hilangnya satu individu saja merupakan kerugian besar bagi upaya konservasi.

Saat ini, sang belang muda telah pulih sepenuhnya. Sebelum kembali ke alam liar, ia akan menjalani medical check-up (MCU) secara menyeluruh untuk memastikan seluruh fungsi tubuh, kondisi luka, dan kesehatannya berada dalam kondisi optimal. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ia telah sehat dan siap bertahan hidup secara mandiri, harimau tersebut akan dilepasliarkan kembali. (APE Protector)