FELIX, AKTIF MENEMUKAN BANYAK HAL LEWAT BERMAIN

Aktivitas Felix sepanjang September banyak diwarnai permainan sosial. Ia sering terlihat berguling-guling, saling menggigit dalam konteks bermain, dan berinteraksi dengan individu lain di lantai hutan. Ia secara rutin bermain bersama Pansy, Mabel, Cinta Ochre, Jack, dan individu lainnya, sering kali tetap terlibat dalam aktivitas sosial tersebut, Felix juga mencari makan dengan berbagai pakan alami seperti buah mentah, kulit kayu, daun, ranting, kambium, dan kelapa.
Meski permainan di permukaan tanah menjadi aktivitas yang sering terlihat, Felix juga menunjukkan kemampuan eksplorasi di pepohonan. Ketika sekolah hutan memasuki area yang lebih dalam, ia mulai memanjat dan berpindah dari satu pohon besar ke pohon lainnya untuk mencari makanan. Ia juga mengikuti individu lain dalam melakukan eksplorasi, termasuk mengikuti Pansy dan Ochre ketika mereka bergerak di pepohonan. Hal ini membuat aktivitas Felix sepanjang bulan tidak hanya didominasi interaksi sosial, tetapi juga eksplorasi lingkungan hutan.
Interaksi sosial Felix juga terlihat dalam hubungannya dengan babysitter. Setelah bermain cukup lama, ia beberapa kali mendatangi babysitter dan duduk di dekatnya sebelum kembali bermain ketika diajak oleh individu lain. Ketika sekolah hutan tidak dilakukan karena asap, ia tetap aktif mengikuti enrichment bersama Pansy dan Jack. Secara keseluruhan, September memperlihatkan Felix sebagai individu yang sangat aktif secara sosial, dengan permainan menjadi bagian penting dari aktivitas eksplorasi dan interaksinya. (RAF)

HARAPI, MENJELAJAH SAMBIL BERMAIN DAN BERSOSIALISASI

Harapi menunjukkan aktivitas bermain sosial dan eksplorasi yang aktif sepanjang September, terutama di lantai hutan. Ia sering bermain bersama Arto, Ochre, Jainul, Aman, Astuti, Mabel, dan Cinta. Ia juga aktif mencari makanan alami seperti jengkol, umbut, kulit kayu, daun mudan dan tua, serta buah mentah. Walaupun aktivitas di permukaan tanah cukup dominan, Harapi tetap memanfaatkan pepohonan ketika sekolah hutan memasuki area yang lebih dalam.
Salah satu aktivitas eksplorasi Harapi yang paling sering terlihat adalah menggali tanah dan memandikan tubuhnya menggunakan tanah kering. Ia juga terlihat mengeksplorasi pohon dan cabang serta sesekali menghabiskan waktu sendiri di atas cabang setelah bermain dengan individual lain. Aktivitas ini berlangsung berdampingan dengan perilaku mencari makan dan permainan sosialnya, sehingga aktivitas Harapi selama September cukup beragam meskipun permukaan tanah tetap menjadi area yang paling sering digunakannya.
Harapi juga sering menunjukkan ketertarikan terhadap keeper, terutama ketika mendengar suara resleting tas dan kemudian mendekat untuk meminta pakan. Di sisi lain, ia tetap memiliki aktivitas eksplorasi mandiri, termasuk bermain air bersama Mabel dan Cinta. Secara keseluruhan, pengamatan September memperlihatkan Harapi sebagai individual yang aktif secara sosial, banyak mengeksplorasi permukaan tanah, serta menggunakan berbagai bentuk permainan dan aktivitas alami selama sekolah hutan. (RAF)

ARTO DAN RASA INGIN TAHUNYA YANG TAK PERNAH BERHENTI

Arto menghabiskan sebagian besar September dengan menggabungkan permainan aktif dan eksplorasi mandiri. Ia sering bermain di permukaan tanah bersama Hrapi dan individual lain, berguling dan berinteraksi dengan mereka, sekaligus mengeksplorasi lingkungan sekitarnya secara mandiri. Ia terlihat memanjat pohon kecil, berayun di liana, menjatuhkan diri dari cabang, serta berpindah antara permukaan tanah dan vegetasi. Dalam aktivitas mencari makan, ia tercatat memakan kambium dan umbut.
Eksplorasi Arto tidak hanya dilakukan dengan berpindah tempat, tetapi juga melalui manipulasi lingkungan, Ia berulang kali menggali tanah dan terlihat memandikan tubuhnya dengan tanah kering bersama Harapi. Ia juga pernah menumpuk daun di permukaan tanah seperti membuat struktur sarang sebelumnya kembali mengeksplorasi dan memakan umbut. Aktivitas tersebut menunjukkan bagaimana Arto banyak menggunakan material alami di sekitarnya selama sekolah hutan.
Arto juga tetap sangat interaktif dengan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Ia sering mendekati keeper dan beberapa kali terlihat menggigit atau menyerang boots sebagai bagian dari interaksinya. Aktivitas bermain tetap terlihat hingga akhir bulan, termasuk bermain bersama Mabel, Aman, dan Jainul serta mengayunkan pohon kecil. Secara keseluruhan, September memperlihatkan Arto sebagai individual yang aktif mengeksplorasi melalui gerakan, permainan, manipulasi material alami di sekitarnya, dan interaksi sosial. (RAF)

KALA ASIH SI ORANGUTAN CERDIK DATANG UNTUK “LAPOR DOK!”

Bekerja sebagai dokter hewan di Centre for Orangutan Protection adalah sebuah petualangan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Bayangkan saja, setiap hari saya harus akrab dengan kehidupan di dalam hutan yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Di sini, jangan harap bisa dengan mudah mengisi daya ponsel karena listrik tidak dan semuanya serba terbatas. Kalau ada situasi darurat, tantangannya sungguh luar biasa karena akses yang sulit di dalam hutan. Namun, dibalik keterbatasan itu, huta Siranggas selalu punya cara untuk memberikan kejutan yang membuat lelah saya menguap seketika. Dan kejutan terbesar akhir-akhir ini datang dari orangutan yang sangat ekspresif bernama Asih.
Bagi para keeper di sekolah hutan, Asih mungkin dikenal sebagai si pemilik energi tanpa batas yang hobi membuat orang ngos-ngosan mendaki dan menuruni jalur hutan yang menanjak. Namun bagi saya, Asih adalah orangutan cerdik dan menggemaskan.
Belakangan ini, hubungan bonding antara saya dan Asih terasa semakin kuat. Menariknya, Asih tampaknya tahu betul siapa yang harus ia cari jika tubuhnya sedang merasa tidak nyaman. Masih lekat di ingatan saya bagaimana beberapa waktu lalu, dalam tiga hari yang berbeda, Asih tiba-tiba datang menghampiri saya. Bukan untuk mengajak bermain seperti biasa ia lakukan dengan para keeper, melainkan untuk sebuah agenda yang jauh lebih formal, “laporan kesehatan”.
Ya, kamu tidak salah baca. Si cerdik Asih ini datang menghampiri saya, lalu dengan sengaja menunjukkan bagian tubuhnya yang terluka. Melalui tatapan matanya yang penuh arti dan mimik muka yang sangat ekspresif, ia seolah-olah berbicara, “Dok, lihat deh, aku punya luka baru nih di sini. Tolong obati dong!”.
Momen ketika ia menunjuk lukanya sendiri dengan jari-jarinya adalah salah satu pemandangan paling menakjubkan yang pernah saya saksikan. Bagaimana bisa orangutan memiliki kesadaran sedalam itu untuk meminta pertolongan? Mungkin karena di waktu-waktu sebelumnya, setiap kali Asih terluka, saya selalu mengobati dan merawatnya dengan penuh kesabaran sampai benar-benar sembuh. Memori itulah yang membekas di kepalanya, kalau terluka, datanglah ke dokter.
Nah di sinilah letak keseruannya. Saat saya berusaha fokus membersihkan lukanya, Asih malah punya kesibukan lain. Tangan-tangannya mulai beraksi menarik-narik hijab saya dengan gemas. Jadilah saya sibuk membagi fokus, satu sisi mengobati lukanya sampai selesai, di sisi lain sibuk Menahan hijab agar tidak melorot akibat tarikan tangan Asih. Kejadian seru seperti ini jelas tidak akan pernah saya temukan di klinik mana pun!
Meski prosesnya penuh drama tarik-menarik hijab dan kejar-kejaran kecil, Asih tidak pernah berniat buruk. Dia hanya mengekspresikan rasa penasaran dan sifat cerdiknya yang alami. Di foto yang saya bagikan kali ini, terlihat jelas bagaimana Asih dengan wajahnya yang menggemaskan sedang sibuk memeriksa sendiri area lukanya setelah ‘melapor’ kepada saya. Bahkan, saya sampai punya dua foto di lokasi luka yang berbeda karena kebiasaannya yang suka pamer luka ini.
Tingkah lucu Asih ini benar-benar bikin hari-hari saya di Suaka Margasatwa Siranggas jadi lebih berwarna. Tinggal di tengah hutan yang fasilitasnya minim memang menantang, tapi momen dihampiri Asih yang mau pamer luka begini bikin semua rasa lelah terbayar lunas. Kepercayaan dari dia itu berharga banget buat saya. Biar deh hijab acak-acakan atau harus ngos-ngosan di jalur nanjak, yang penting Asih bisa sehat dan kembali aktif di atas pohon.
Sampai jumpa di cerita petualangan saya dan Asih berikutnya di tengah rimbunnya hutan Siranggas! (NAN).

SARANG PERTAMA FELIX

Hari itu seperti hari-hari biasanya di sekolah hutan BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Semua orangutan beraktivitas dengan caranya masing-masing, ada yang foraging di kanopi pohon dan ada yang memilih bermain di lantai hutan. Sementara Felix, dia memilih berada di atas pohon eksplorasi dan mencari makan bersama Pansy.
“Ksrks… krksks… kskskr…”. Tiba-tiba terdengar suara dedaunan dari atas pohon. Seketika kami para keeper menengok ke atas pohon. Tidak disangka ternyata di atas phon, terlihat Felix yang sedang menyusun dedaunan yang dia telah petik di atara dua cabang pohon. Kami semua terkejut dan otomatis berucap, “Felix buat sarang!?”. Kami terkejut dan sedikit ada rasa tidak percaya dengan apa yang kami lihat. Felix yang biasanya mengekor pada babysitter atau memeluk kaki babysitter selama sekolah hutan, hari ini membuat sarang pertamanya.
Membuat sarang merupakan salah satu skill yang harus dikuasai oleh orangutan agar bisa bertahan hidup di alam liar. Dan insting Felix untuk mulai menyusun dedaunan menjadi sarang merupakan satu indikator perkembangan kemampuannya. Sebelumnya pun, Felix juga sudah terlihat mereparasi sarang-sarang lama dengan menumpukkan daun-daun baru di atas daun-daun yang sudah kering. Terkadang Felix juga terlihat melanjutkan sarang yang dibuat oleh orangutan lain dengan mematahkan ranting lalu menumpuk ranting tersebut ke pondasi sarang yang sudah ada.
Sarang yang dibuat Felix itu memang belum sempurna, bahkan pondasi sarang itupun masih sangat rapuh. Namun melihat bagaimana Felix bisa mencapai titik itu, tentu memberi rasa bangga dan haru. Kami menyadari bahwa Felix yang kami kenal adalah bayi orangutan yang manja, kini telah bertumbuh dengan cara dan ritmenya sendiri. (JAN)

GERAK CEPAT BKSDA SUMBAR BERSAMA APE PROTECTOR TANGANI KONFLIK BERUANG MADU

Kemunculan empat beruang madu di area perkebunan masyarakat di Jorong Limpato, Nagari Kajai, Sumbar dilaporkan warga Pasaman Barat. Tim segera melakukan penyisiran di sekitar perkebunan masyarakat yang menjadi lokasi terakhir kemunculan dua indukan dan dua anakan beruang Sumatera. Namun tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan maupun aktivitas satwa.
Pemantauan dilanjutkan pada malam harinya, APE Protector COP bersama BKSDA Sumbar melakukan upaya penghalauan di lokasi yang sebelumnya menjadi tempat beraktivitas beruang madu. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya mengurangi potensi pertemuan kembali antara satwa dan masyarakat. Tim pun akhirnya melanjutkan penyisiran keesokan harinya.
Kemunculan satwa liar di sekitar perkebunan atau pemukiman bukan hanya persoalan keberadaan satwa yang dianggap mengancam. Kondisi tersebut juga menunjukkan adanya pertemuan antara ruang aktivitas manusia dan ruang hidup satwa liar. Situasi ini perlu mendapat perhatian, terlebih ketika perubahan kondisi lingkungan dapat memengaruhi pola pergerakan dan sumber pakan satwa. Dalam kondisi tertentu, satwa dapat bergerak lebih dekat ke area yang digunakan manusia untuk mencari makanan atau tempat berlindung.
Centre for Orangutan Protection memandang konflik satwa liar dari Dua Sisi, yaitu ada masyarakat yang perlu mendapatkan rasa aman, tetapi ada pula satwa liar yang harus dilindungi agar tidak menjadi korban ketika berada terlalu dekat dengan manusia. Karena itu, respons terhadap laporan konflik tidak cukup hanya dengan mengusir satwa. Diperlukan verifikasi, pemantauan, pengumpulan informasi dari masyarakat, hingga tindakan yang terukur untuk memahami situasi di lapangan. Ketika manusia dan satwa liar bertemu di ruang yang sama, tujuan akhirnya bukan memenangkan salah satu pihak, yang dicari adalah cara agar masyarakat tetap aman dan satwa tetap memiliki kesempatan untuk kembali ke habitatnya. (APE_Protector)

JANE, SI BAYI ORANGUTAN YANG CERDAS

Sudah tıga bulan sejak orangutan Jane menjadi penghuni paling baru di baby house BORA. Saat pertama kali dititipkan di akhir bulan Juni tahun ini, usianya hanya sekitar 1,5 tahun. Walau baru tida bulan menjadi babysiter nya, saya sudah menetapkan Jane sebagai salah satu orangutan terpintar di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Saya takjub begitu melihat orangutan sekecil itu menjelajah dengan lincah di tajuk-tajuk pohon tinggi dan mencari pakan-pakan alami seperti kambium dan buah hutan, kadang ia memotek ranting untuk dijadikannya sarang sederhana, begitu bersemangat memecahkan pengayaan buatan dan alami yang diberikan meski kondisi jarinya yang tidak sempurna.
Namun, sepandai dan semandiri apa pun Jane, ada kalanya ia bersikap menja layaknya bayi orangutan pada umumnya. Seperti hari ini, Jane tampak gembira bermain di lantai playroom baby house, menutup seluruh badannya dengan karung goni lalu berjalan mengitari playroom, sesekali ia akan berguling dan menyeret karung goninya mendekati saya. Saat saya mengulurkan tangan, Jane akan sok tidak peduli dan kembali berguling menjauh.
Kadang saat sekoilah hutan, Jane akan sulit untuk diajak pulang. Ia masih senang eksplorasi dari pohon ke pohon. Jadi, saya akan membiarkan Jane melanjutkan sekolahnya sambil mengajak Charlie, penghuni baby house lainnya, untuk pulang terlebih dahulu. Namun, Jane sangat tidak suka sendirian. Saat melihat saya dan Charlie pulang, Jane akan merengek dan turun menghampiri saya dengan sendirinya, lalu meminta digendong seperti anak kecil.
Ada satu kebiasaan Jane yang akhir-akhir ini saya pikirkan. Ia selalu merengek dan menangis saat melihat saya pergi ke dalam hutan. Padahal saya hanya mencari daun sebagai pengayaan untuk alas tidurnya. Saya tidak tahu mengapa ia menangis begitu nyaring, tetapi ada satu hipotesis yang terlintas di otak saya.
Mungkinkah ia takut terpisah dengan saya seperti saat ia terpisah dengan ibunya?
Saya tidak tahu jawaban pastinya. Mungkin, menangis hanya cara Jane meminta saya untuk tetap berada di dekatnya. Namun, setiap kali mendengarnya, saya kembali diingatkan bahwa di balik kepiawaiannya menjelajah tajuk pohon, mencari pakan, dan memecahkan pengayaan, Jane tetaplah bayi orangutan yang masih membutuhkan rasa aman dan kasih sayang. Ia mungkin sedang belajar untuk mandiri, tetapi bukan berarti ia harus berhenti menjadi bayi. (FIQ)

GENERASI MUDA MENGENAL DAN MELINDUNGI KUKANG

Senin, 14 September 2026 suasana Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit terasa berbeda. Sekitar 100 siswa dari SDN 101833 Sibolangit, SMPN 2 Sibolangit, dan MTs YPI Al Hilal Bandar Baru berkumpul untuk mengikuti rangkaian edukasi konservasi dalam rangka memperingati Hari Kukang Sedunia. Kegiatan ini merupakan kolaborasi bersama Resort CA/TWA Sibolangit BBKSDA Sumatera Utara, Yayasan Patron Satwa Indonesia (YPSI), dan Centre for Orangutan Protection (COP).
Dalam sesi edukasi, COP mengajak para siswa mengenal lebih dekat tentang orangutan, mulai dari kehidupan dan habitatnya hingga berbagai ancaman yang membuat keberadaan satwa ini menghadapi tantangan. Pesan penting juga disampaikan bahwa satwa liar bukanlah hewan peliharaan. Keinginan untuk memelihara satwa liar justru dapat menjadi awal dari masalah yang lebih besar bagi satwa dan alam.
Tidak hanya mendengarkan, para siswa juga diajak terlibat secara aktif melalui diskusi interaktif dan permainan edukatif. COP berusaha membuat konservasi lebih udah untuk dipahami dan dekat dengan kehidupan sehari-hari anak-anak dengan cara yang lebih ringan dan menyenangkan.
Kegiatan ini juga diikuti dengan aksi bersih lingkungan, mengajak peserta elihat bahwa menjaga satwa liar tidak dapat dipisahkan dari menjaga habitatnya. Lingkungan yang sehat merupakan bagian penting dari keberlangsungan kehidupan berbagai spesies. Dari kukang hingga orangutan, pesan yang dibawa hari ini sederhana yaitu satwa liar hidup di alam, bukan di rumah manusia. COP akan terus mendorong tumbuhnya kepedulian sejak usia dini karena melindungi satwa liar bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies, tetapi juga menjaga hutan dan kehidupan yang bergantung di dalamnya. (APE_Sentinel)

ROBERT SEMAKIN AKTIF MENJELAJAH AREA ENCLOSURE

Ada yang berbeda dengan enclosure orangutan Robert bulan Agustus kemarin. Keranjang besi bergelantungan di atas pohon. Itu adalah platform pakan yang baru untuk Robert, dengan harapan, Robert akan lebih lama lagi beraktivitas di atas pohon dibandingkan di tanah. Keranjang pakan ini berada di ketinggian 10 meter dan sengaja diletakkan di tengah enclosure nya. Tentu saja, ini juga usaha agar Robert berkurang mengganggu pagar listrik bahkan hot grass yang sengaja dipasang untuk membatasi ruangnya. Ya, Robert adalah orangutan dalam perawatan Sumatran Rescue Alliance (SRA) yang mendiami kandang tanpa jeruji besi atau bisa juga disebut enclosure. Kandang yang ada hanya untuk keperluan saat enclosure butuh perawatan, seperti rerumputan atau percabangan yang menghalangi pagar listrik harus dibersihkan.

Robert, orangutan jantan dewasa ini memang sering sekali tertarik dengan pagar listrik yang membatasinya. Ada saja akalnya seperti mematangkan ranting lalu mencoba menyentuh kabel dengan kayu tersebut yang tentu saja ada aliran listriknya. Robert pun terlihat kaget dan segera melepas ranting tersebut. Masih belum puas rasa penasarannya, dia pun mengambil batang pohon yang lebih besar, dan tentu saja itu sangat mengkhawatirkan.

Nah, keranjang pakan ini diharapkan bisa mengalihkan rasa penasarannya yang gak tuntas-tuntas pada pagar enclosure. Setelah animal keeper SRA berjuang mengarahkan Robert ke keranjang pakan, dan Robert mulai melihat keranjang penuh dengan buah yang disukainya, barulah Robert memanjat pohon tersebut. Sebentar saja, dia sudah nangkring di percabangan dan tidak turun-turun. Dedaunan yang menyembunyikan potongan buah, satu per satu dikeluarkannya. Satu per satu buah yang diperolehnya dinikmati di atas pohon. Robert pun mulai meraih percabangan pohon yang ada di dekatnya, dan mulai berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain. Ya Robert mulai menjelajah enclosure, kandang tanpa jeruji besi, kandang terbuka tanpa atap itu. Malam itu, dia beratap bintang. (FIK)

KETIKA KARHUTLA MEMBATASI RUANG BELAJAR, RUANG INFORMASI BORA MEMBUKA RUANG BARU

Minggu sore, 6 September 2026, Ruang Informasi BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) ramai oleh aktivitas anak-anak. Sebanyak 40 anak dari RT 4 Kampung Tasuk, Berau, dengan rentang usia 5–13 tahun, datang untuk mengikuti edukasi singkat dan bermain bersama.
Ruang Informasi BORA sendiri baru saja diresmikan pada 18 Agustus 2026 lalu. Kehadirannya menjadi salah satu upaya untuk menyediakan ruang edukasi dan informasi bagi masyarakat sekitar, khususnya anak-anak, tentang orangutan dan upaya pelestariannya. Tidak lama setelah diresmikan, ruang ini kemudian dimanfaatkan sebagai tempat belajar dan bermain bagi anak-anak Kampung Tasuk yang juga terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Anak-anak di Kampung Tasuk sudah belajar dari rumah (BDR) sejak dua minggu lalu. Kondisi tersebut menjadi salah satu momentum untuk memaksimalkan fungsi Ruang Informasi BORA sebagai ruang edukasi dan aktivitas bagi anak-anak. Kegiatan diisi dengan pemberian materi edukasi tentang orangutan, pengenalan Ruang Informasi BORA, serta bermain bersama.
Kegiatan ini disambut baik oleh anak-anak dan orang tua. Antusiasme yang terlihat bahkan melebihi perkiraan awal, yang sebelumnya diperkirakan hanya sekitar 15 anak bersama orang tua. Selain itu, terdapat pula ajakan dari sekolah-sekolah sekitar untuk dapat kembali berkolaborasi dalam kegiatan edukasi orangutan, mulai dari PAUD, TK, hingga SD.
Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi pemantik bagi lebih banyak kegiatan lain di Ruang Informasi BORA. Terlebih, sebagai ruang yang baru diresmikan, masih banyak peluang untuk mengembangkan fungsi dan fasilitasnya sebagai ruang belajar dan bermain bagi anak-anak. Insight dari kegiatan ini juga dapat menjadi bahan untuk meningkatkan fasilitas Ruang Informasi BORA, seperti model, board game, maket, atau alat edukasi lainnya yang dapat ditampilkan untuk meningkatkan pengalaman pembelajaran. (RAR)