Di sela-sela pekerjaan yang menuntut perhatian penuh pada layar laptop, ada kebiasaan yang perlahan terasa mulai memudar, yaitu mengamati hal-hal kecil di sekitar. Hari-hari saya sedang banyak dihabiskan di depan layar, menyunting foto dan video, menulis, serta menyelesaikan berbagai pekerjaan lain. Bahkan ketika memegang kamera saat mendokumentasikan sekolah hutan, fokus saya hampir selalu tertuju pada orangutan, satwa besar yang menjadi inti pekerjaan saya selama bertahun-tahun.
Namun siang itu, seekor burung mengganggu rutinitas itu.
Dari dalam kantor yang dikelilingi dinding kaca tembus pandang, saya melihatnya terbang bolak-balik melintasi halaman. Awalnya hanya sekilas. Lalu beberapa menit kemudian, ia kembali melintas lalu hinggap di tanah. Ada sesuatu dalam gerakannya yang terus menarik perhatian. Seolah-olah ia sedang sibuk dengan urusan yang tidak saya pahami.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya meninggalkan laptop, mengambil kamera, lalu berjalan keluar. Udara siang terasa berbeda ketika tidak dinikmati dari balik jendela. Saya duduk di atas kerikil halaman kantor, membiarkan mata beradaptasi dengan dunia yang selama ini ada di depan saya, tetapi jarang benar-benar saya perhatikan.
Tidak butuh waktu lama sebelum saya menyadari bahwa halaman kantor ternyata jauh lebih hidup daripada yang biasa saya lihat.
Seekor kadal muncul dari sela daun gugur. Sekitar satu meter di dekatnya, seekor bunglon berwarna hijau terang merayap perlahan di atas kerikil dan serasah. Burung-burung yang sebelumnya hanya menjadi titik-titik kecil dalam pandangan kini terlihat lebih jelas. Merbah mata merah datang dan pergi. Kipasan belang melompat-lompat di permukaan tanah sambil melebarkan ekornya. Burung cipoh kacat pun ikut bergabung, masing-masing dengan perilaku dan caranya sendiri mencari makan.
Mereka semua tampak memiliki tujuan yang sama. Di permukaan halaman, masih berserakan laron-laron yang tersisa dari semalam. Malam sebelumnya, lampu kantor sempat dikerubungi laron dalam jumlah besar. Ketika pagi datang, sebagian laron masih tampak bergerak di antara sayap-sayap yang menempel di tanah basah. Apa yang bagi manusia hanyalah sisa-sisa gangguan malam hari, bagi satwa liar justru menjadi pesta.
Setiap beberapa menit, ketika suasana terasa aman dari manusia, seekor burung turun bergantian menyambar mangsanya. Kadal-kadal memanfaatkan kesempatan yang sama. Seluruh halaman berubah menjadi panggung kecil dari sebuah peristiwa ekologis yang berlangsung tanpa penonton.
Dan yang paling menarik, semua itu sebenarnya terjadi tepat di halaman kantor. Bukan satwa-satwa itu yang baru datang. Sayalah yang akhir-akhir ini terlalu abai untuk melihatnya.
Duduk di sana membuat saya menyadari betapa mudahnya perhatian saya terserap oleh rutinitas dan berbagai prioritas yang harus segera diselesaikan. Dalam fotografi satwa liar pun demikian. Banyak dari kita sering memimpikan mamalia besar, predator langka, atau spesies ikonik yang menjadi kebanggaan sebuah kawasan. Sementara itu, kehidupan yang lebih kecil berlangsung diam-diam dan sering kita lewatkan.
Ada dunia yang penuh interaksi dan perjuangan hidup di sepetak tanah yang mungkin hanya kita lewati setiap hari tanpa menoleh. Burung, kadal, bunglon, dan laron menjadi bagian dari cerita yang sama, sebuah siklus kehidupan yang terus berlangsung bahkan ketika tidak ada manusia yang memperhatikannya.
Alam tidak selalu menghadirkan keajaiban dalam bentuk yang spektakuler. Sering kali, ia hadir dalam detail-detail kecil yang hanya bisa ditemukan ketika kita melambat. Mungkin itu sebabnya fotografi selalu terasa lebih dari sekadar aktivitas mengambil gambar. Kamera hanyalah alasan untuk berhenti sejenak. Alasan untuk memperhatikan. Alasan untuk duduk lebih lama dan melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi di sekitar kita.
Siang itu saya memang pulang dengan foto beberapa jenis burung, kadal, dan bunglon. Tetapi yang paling berkesan bukanlah gambar-gambar yang tersimpan di kartu memori. Yang saya bawa pulang adalah pengingat bahwa alam tidak pernah berhenti bercerita. Kita saja yang sering terlalu sibuk untuk mendengarkannya.
Kadang, yang dibutuhkan hanyalah meluangkan waktu sejenak untuk meninggalkan layar, melangkah keluar, lalu duduk di atas tanah. Di saat itulah kita menyadari bahwa kehidupan liar tidak selalu berada jauh di pedalaman hutan. Ia bisa saja berlangsung tepat di halaman kantor, menunggu untuk diperhatikan. (RAF)
Terlibat dalam perawatan Charlie membawa kembali ingatan pada 2,5 tahun yang lalu, saat Arto pertama kali datang ke pusat rehabilitasi Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA). Karakternya sama, umurnya sebaya, wajah usilnya serupa, hingga reaksinya menghadapi stimulus juga sama. Benar, kali ini kami diuntungkan oleh pengalaman karena bisa memprediksi kemungkinan perilaku dan perkembangan seperti cenayang. Itu artinya banyak perawatan yang lebih baik yang bisa kami pelajari dari pengalaman bersama Arto sebelumnya.
Hampir 3 bulan menjalani rehabilitasi di BORA, Charlie menunjukkan tumbuh kembang yang progresif. Sejak awal datang, Charlie memang sudah penuh rasa penasaran, namun ia tampak khawatir ketika sendirian. Tim memberikan perawatan intensif 24 jam untuk memastikan Charlie meraih potensi maksimalnya pada usia pertumbuhan ideal. Kata Luluk, babysitter Charlie, bobot badannya tidak pernah turun.
Charlie ditangani oleh banyak staf BORA yang setiap hari berkabar soal tingkah laku barunya. Saat ini, ia mulai suka berayun di pohon yang rendah, asyik sendiri, dan abai terhadap perawat satwa yang ada. Ketika berjalan, Charlie perlu pegangan. Satu kali di siang hari ia menggenggam ranting kering yang panjang untuk menghampiri perawatnya, di kesempatan lain ia masuk ke tengah pohon sereh dan mencengkeram daun kasarnya.
Perjalanan harian Charlie mengingatkan kembali pada masa karantina Arto dan proses bonding-nya bersama Harapi. Menyandingkan Arto dan Charlie dalam satu tulisan ini bukan untuk membandingkan siapa yang lebih, tapi untuk menyadari bahwa ada harapan terang juga pada Charlie yang baru memulai proses rehabilitasinya di BORA. Seperti Arto yang sudah menjelajahi hutan yang lebih luas, semoga Charlie juga segera dapat berayun dengan bebas di titik hutan favoritnya di sekolah hutan. (RAR)
Centre for Orangutan Protection (COP) sedang mensyukuri perjalanannya setelah 19 tahun berjuang di dunia konservasi orangutan. Bersama dengan itu, datang harapan kelestarian satwa endemik Borneo satu ini ke Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) dalam raga bayi orangutan tanpa induk. Bayi orangutan berusia kurang dari satu tahun ini datang dengan kondisi suhu tubuh yang naik turun dan nasibnya yang kurang beruntung terpisah dari induk. Syukurnya, ia dapat tiba di klinik BORA untuk meraih kesempatan hidup yang jauh lebih baik dengan dukungan tim medis dan perawat satwa. Charlie, begitu kami memanggil namanya hingga sekarang.
Charlie mudah dikenali dengan fitur wajahnya yang ikonik. Matanya besar dan akan lebih besar saat antusias, gitu pula dengan kedua gigi susu depannya yang kuat membentuk kapak. Tidak mudah bagi Charlie untuk berada di tempat baru meski sebelumnya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Ia tidak bergantung pada manusia, namun bayi orangutan, Charlie mulai gelisah saat perawatnya bergeser sedikit lebih jauh. Genggamannya kuat, tekadnya lebih kuat. Charlie punya banyak pertumbuhan yang pesat hanya dalam satu bulan masa rehabilitasinya yang masih dalam masa karantina.
Salah satu orang yang paling tahu mengenai perkembangan Charlie di BORA adalah perawat satwa Luluk. Luluk adalah staf lokal yang rumahnya berada paling dekat dengan kantor, ia sudah menjadi perawat satwa di BORA selama 8 bulan. Menurut Luluk, merawat bayi orangutan Charlie menjadi pengalaman yang berbeda karena ini pertama kalinya Luluk menemani sejak awal Charlie bayi datang ke BORA. Luluk sangat suka bercerita di sela jadwal tugasnya, tentang setiap kegiatan Charlie pada semua orang yang ia temui.
“Charlie sudah mau bobo sendiri malam ini sambil peluk boneka sapi!”, lapor perawat satwa Luluk di hari ke-2 Charlie di BORA. Charlie mendapatkan perawatan intensif dikarenakan usianya yang masih sangat kecil dan kondisi tubuhnya yang belum stabil karena demam. Perawatan dilakukan selama 24 jam penuh setiap harinya. Asupan pakannya yang hanya bersumber dari susu juga lebih sering diberikan dibanding jadwal pemberian susu bayi orangutan lainnya yang lebih besar. Bersamaan dengan itu, ikatan relasi Charlie dengan perawat satwa Luluk semakin kuat.
Hampir satu bulan di BORA, Charlie sudah mengeksplorasi banyak hal. Ia sudah mulai mencoba pakan seperti pisang, jambu air, pepaya, jambu biji, belimbing, dedaunan, bunga-bungan, dan makanan favoritnya yaitu bunga belimbing. Sepanjang malam, Charlie juga sudah tidur di keranjangnya sendiri, lepas dari perawat satwa yang bertugas. Beberapa hari terakhir, Charlie menunjukkan perkembangan fisik dan perilaku yang signifikan. Charlie sesekali masih demam yang selanjutnya ditemukan tim medis bahwa giginya akan tumbuh. Perilaku Charlie masih sama manjanya, namun saat ini setelah ia punya mainan atau sedang asyik makan, perawat satwa bisa meninggalkan ia sendirian sesaat. Perilaku ini menunjukkan lepas ketergantungan pada manusia yang berkurang dengan harapan tak berlebihan nantinya.
Saat tulisan ini dibuat, Charlie masih menjalani masa karantina. Semua staf BORA masih bergiliran menemani Charlie bertumbuh sepanjang hari, sepanjang malam tanpa henti. Charlie bukan hanya satu bayi orangutan yang diselamatkan, namun ia hadir sebagai harapan baru untuk eksistensialis orangutan yang lebih panjang. “Aku senang Charlie udah banyak berkembang dan ga rewel lagi. Dia juga cepat sekali beradaptasi. Anak ini pintar”, jawab Luluk jika ditanya kondisi Charlie. (RRA)
Arto terus menunjukkan karakter mandiri yang semakin kuat dalam kesehariannya di sekolah hutan. Ia kerap menghabiskan waktu bermain sendiri, baik di tanah maupun di akar-akar gantung yang rendah, dengan gaya eksplorasi yang aktif dan penuh rasa ingin tahu. Perilaku seperti berguling di tanah, berayun di tali, hingga menjatuhkan diri dari batang rendah menjadi bagian dari cara Arto melatih koordinasi tubuhnya.
Dalam hal eksplorasi pakan alami, Arto mulai menunjukkan perkembangan yang konsisten. Ia terlihat aktif mencari dan mencoba berbagai sumber makan seperti buah mentah, kambium, daun tua, hingga bunga. Ketertarikannya terhadap lingkungan juga tampak saat ia menjelajah semak-semak atau memperhatikan aktivitas orangutan lain, meskipun interaksi sosialnya masih tergolong terbatas dan cenderung independen.
Meski lebih sering bermain sendiri, Arto tetap menunjukkan sisi sosialnya dengan cara yang khas. Ia beberapa kali menghampiri anima keeper, baik untuk meminta makanan maupun mengajak bermain dengan cara menggigit ringan atau berinteraksi secara fisik. Di waktu lain, Arto juga terlihat mengikuti pergerakan orangutan lain dipohon, meskipun tidak selalu terlibat langsung dalam permainan bersama.
Secara keseluruhan, kondisi Arto stabil dengan pola feses yang normal. Perkembangannya saat ini menunjukkan keseimbangan antara eksplorasi lingkungan, pembelajaran pakan alami, serta pembentukan karakter mandiri dalam fase rehabilitasi bulan ini. (RAF)
Saya masih ingat saat pertama kali bertemu orangutan bernama Bagus, tepat hari pertama saya bekerja sebagai animal keeper di Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA). Saya biasanya dipanggil Fiqoh. Seperti orang awam pada umumnya, saya belum terbiasa bersinggungan langsung dengan orangutan, sehingga saya masih sangat waspada jika ada orangutan yang mendekat ke arah saya. Saya memang alumni kehutanan, tetapi aktif di Kelompok Pemerhati herpetofauna membuat saya lebih familiar dengan katak dan ular alih-alih mamalia berambut seperti orangutan.
Ketika itu, saya duduk di tanah, melihat ke atas pepohonan untuk mengamati orangutan Felix yang sedang menjelajah area sekolah hutan dari ranting ke ranting. Atensi saya buyar saat merasa rambut-rambut menyentuh kulit wajah saya. Saya menoleh dan mendapati wajah besar orangutan yang sedang menatap saya dengan jarak hampir sejengkal dari wajah saya. Kaget, saya pun memekik kecil sambil menggeser tubuh.
“Mau kenalan itu, Bagus”, ujar Bang Linau, salah satu animal keeper mendekat sambil mencoba menjauhkan Bagus dari saya.
Saat jarak antara saya dan Bagus sudah lebih jauh, barulah saya dapat melihat perawakan Bagus yang sangat besar (baru-baru ini saya mengetahui panjang total tubuhnya 180 cm, tentunya jauh lebih panjang dari tinggi saya saat ini). Wajahnya bulat, terlihat sangar. Rambutnya yang menutupi tubuhnya cukup panjang dan membuatnya terlihat lebih besar.
Mungkin, sekitar dua minggu setelah saya mulai terbiasa dengan orangutan, saya baru berani membawa Bagus untuk sekolah hutan. Lucunya, Bagus dengan badannya yang besar itu, menolak untuk dituntun menuju area sekolah hutan. Saya harus menggendong badannya di punggung setiap pergi dan pulang sekolah, cukup membuat punggung saya pegal dengan peluh membanjiri wajah dan tubuh saya. Ah, seperti inilah rasanya membawa carrier saat praktik lapangan ketika kuliah dulu, batin saya.
Selama sekolah hutan, saya mengamati perilaku Bagus yang menurut saya menarik dan lucu. Saya dan Bagus pernah pulang telat karena Bagus asik duduk di pohon rambutan, memakan buah-buahnya yang merah menggoda. Desember memang musim rambutan. Sementara saya hanya duduk di bawahnya sambil menunggu Bagus bosan dengan buah manis itu yang sudah ia makan bertangkai-taksi. Hampir satu jam kami di sana, barulah Bagus mau mengikuti saya untuk turun dan kembali pulang dengan iming-iming air madu yang saya bawa tentunya.
Bagus pernah membuat khawatir semua orang di BORA karena ia tidak menghabiskan pakannya di kandang selama beberapa hari. Namun selama sekolah hutan, kami mengamati Bagus tampak ceria seperti biasanya. Masih aktif bermain dengan orangutan yang lain, masih semangat untuk menjelajah dan memakan buah tarap dan rambutan yang masih memenuhi area sekolah hutan. Lalu akhirnya kami memutuskan bahwa sepertinya Bagus hanya bosan dengan pakan yang disediakan oleh kami.
Terakhir saya membawa Bagus dengan agak kewalahan. Bagus tidak mau kembali ke kandang, dia terlihat sangat nyaman di sekolah hutan, ia dapat menjelajah dan berpindah dari dahan ke dahan, mencari makan sesuka hati, dan bermain dengan pengayaan alam yang tersedia. Saya membiarkan Bagus bermain di atas tandon air yang rusak, berguling-guling hingga tandon air itu penyok karena dihimpit tubuhnya.
Hampir enam tahun yang lalu Bagus memulai rehabilitasinya di BORA. Saat itu umurnya baru sekitar 3 tahunan, diselamatkan sebagai satwa yang dipelihara secara ilegal oleh masyarakat. Bagus mulai menjalani sekolah hutan sehari-harinya untuk belajar sebelum menjelajah di hutan yang sebenarnya. Wajah garang dan tubuh besarnya saat ini menandakan pertumbuhannya yang cukup signifikan.
Bagus adalah salah satu kandidat rilis yang kini telah dipindahkan ke pulau pra-pelepasliaran untuk belajar bertahan hidup sebelum dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Saya memang baru bertemu dengan Bagus dua bulan. Namun, dua bulan bukan juga waktu yang singkat untuk saya dapat belajar mengenal perilakunya. Meskipun dua bulan saya di BORA juga tidak sebanding dengan enam tahun waktu yang Bagus habiskan di BORA.
Saya bangga dengan perjuanganmu, Bagus. Selamat menuju kebebasanmu sebentar lagi! Saya berharap kamu tetap lestari hingga anak cucumu yang semoga tidak akan menjalani kisah yang sama sepertimu. (FIQ)
Harapi menunjukkan perkembangan yang cukup dinamis, baik dari sisi kesehatan maupun perilaku. Setelah sempat mengalami demam di awal bulan, kondisinya kini telah pulih dan terlihat kembali aktif mengikuti kegiatan sekolah hutan. Nafsu makannya tetap baik, dan ia mulai kembali menunjukkan energi serta rasa ingin tahu terhadap lingkungan sekitarnya.
Selama kilatan sekolah hutan, Harapi lebih banyak beraktivitas di tanah. Ia gemar bermain sendiri maupun bersama orangutan lain seperti Arto, Jainul, dan Ochre. Aktivitasnya mencakup eksplorasi berbagai sumber pakan alami di tanah, seperti buah jatuh, bunga, hingga sarang rayap. Sesekali, Harapi juga memanjat pohon untuk mencari kambium, meskipun durasinya masih relatif singkat.
Interaksi sosial Harapi cukup menonjol, meskipun ia masih sangat bergantung pada keberadaan babysitter maupun animal keeper. Ia kerap menghampiri mereka untuk meminta makanan atau perhatian, bahkan beberapa kali mencoba mencuri pakan dari tas animal keeper. Dalam beberapa kesempatan, Harapi juga terlihat bermain dengan individu lain, menunjukkan peningkatan dalam kemampuan bersosialisasi.
Dengan kondisi feses yang konsisten normal, Harapi saat ini berada dalam fase penting meningkatkan kemandirian, terutama dalam mengurangi ketergantungan terhadap manusia. Proses ini terus dilatih secara bertahap sepanjang bulan ini agar ia semakin percaya diri dalam mengeksplorasi hutan dan membangun keterampilan alaminya. (RAF)
Perjalanan Felix selama periode ini menunjukkan kombinasi antara perkembangan dan tantangan adaptasi. Secara kesehatan, kondisi Felix telah membaik setelah sempat mengalami gejala pilek di awal bulan. Saat ini, ia sudah kembali aktif mengikuti sekolah hutan, meskipun dalam beberapa kesempatan masih menunjukkan keraguan untuk keluar dari kandang.
Dalam aktivitas di sekolah hutan, Felix cukup sering beraktivitas di atas pohon, terutama saat merasa nyaman. Ia terlihat aktif mencari makan, mengonsumsi buah mentah, kambium, dan bagian tumbuhan lainnya. Bersama Pansy, Felix juga kerap melakukan aktivitas bersama, seperti berpindah dari pohon ke pohon dan megeksplorasi area hutan, menunjukkan adanya ikatan sosial yang cukup kuat.
Namun, Felix masih menunjukkan sensitivitas terhadap kehadiran manusia tertentu, khususnya animal keeper laki-laki. Hal ini terkadang membuatnya enggan keluar kandang atau ingin kembali lebih cepat saat sesi sekolah hutan berlangsung. Ia juga cenderung mengikuti pergerakan babysitter sebagai bentuk rasa aman, yang menjadi bagian penting dalam proses adaptasinya.
Meski demikian, Felix tetap menunjukkan potensi yang baik dalam pembelajaran keterampilan alami. Dengan kondisi fisik yang stabil dan pola fese normal, fokus selama periode ini adalah membangun rasa percaya diri dan kemandirian, sehingga ia dapat lebih konsisten dalam mengikuti kegiatan sekolah hutan. (RAF)
Setelah bertahun-tahun menjalani program rehabilitasi dan menjadi murid sekolah hutan di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Bagus, individu orangutan betina yang pernah menjadi peliharaan ilegal dan sangat dekat dengan manusia, akhirnya naik level dengan pindah ke pulau pra-pelepasliaran di pulau Bawan. Kini Bagus semakin siap untuk kembali ke alam liar.
Di hari-hari pertamanya di pulau, Bagus tampak aktif mengekspor area hulu hingga tengah pulau, asyik memanjat dan bergelantungan di pepohonan rimbun, serta mencari pakan alami. Di sela-sela eksplorasinya, Bagus sesekali terlihat diam, seolah sedang merenung.
“Dia pasti kesepian dan bingung. Mungkin dia berpikir, Ini aku lagi sekolah hutan, tapi koq gak ada teman-teman yang lain” Koq gak ada yang panggil-panggil lagi untuk pulang ke kandang?”, ujar Ara, biologis COP yang ditugaskan untuk mengamati perkembangan Bagus selama minggu pertamanya di pulau.
Terkenal dengan sifatnya yang manja, saat tim monitoring datang untuk memberi pakan harian, Bagus buru-buru mendekat sambil mengeluarkan suara merengek, “I… i… i…”, sebagai tanda indin dipwluk dan digendong. Namun tim segera menjaga jarak agar Bagus belajar untuk lebih mandiri. Di hari-hari berikutnya, Bagus mulai mengerti dan tidak lagi mendekat sambil merengek.
Sempat diterpa hujan deras, Bagus tampak belum mampu memilih tempat untuk berteduh. Begitu pula ketika malam tiba, Bagus memilih tidur sambil memeluk batang pohon tanpa membuat sarang.
“Bagus tidurnya kayak panda.”, kata Ara.
Kemampuan membuat sarang merupakan salah satu indikator penting kesiapan individual orangutan untuk dilepasliarkan. Dilihat dari kebiasaan Bagus selama di BORA, Bagus sebenarnya cukup terampil membuat sarang, hanya saja ia melakukannya di tanah dan di lantai kandang, bukan di atas pohon.
“Gak apa-apa, nanti juga Bagus pelan-pelan belajar buat sarang di atas pohon”, sahut Amir, animal keeper yang telah mengenal Bagus sedari masuk BORA. Dia optimis, jika kini Bagus tidur tanpa sarang, jika saatnya perlu membuat sarang, Bagus tentu akan melakukannya.
Bagus masih memiliki waktu untuk terus mengasah keterampilan dan kemampuannya dalam bertahan hidup. Pelan tapi pasti, kami percaya Bagus akan berproses dan menunjukkan bahwa ia siap kembali ke habitat aslinya. And when the time comes, she will truly be the young, wild, and free orangutan she was meant to be! (SIN)
Matahari siang di Berau menggantung terik di atas kanopi, memerangkap udara lembap yang terasa berat di kulit. Keringat mengalir lebih cepat daripada angin yang berembus pelan dari tepi hutan. Di tengah panas yang menyengat itu, tim medis pusat rehabilitasi orangutan Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA), yang dikelola oleh Centre for Orangutan Protection (COP) di Berau, Kalimantan Timur, untuk sementara meninggalkan ruang klinik mereka. Terdiri dari dua dokter hewan, Rengga dan Atalla, serta Tata, paramedis satwa, siang itu mereka tak lagi berdiri di balik meja periksa, melainkan ikut berlutut di atas tanah dalam kegiatan rutin bertajuk “Jumat Menanam”.
Biasanya, tangan-tangan itu menggenggam stetoskop, menyuntikkan obat, atau memeriksa denyut nadi orangutan yang tengah dipulihkan. Namun kali ini yang mereka bawa adalah dodos untuk melubangi tanah, ember untuk membawa air, dan bibit pohon yang akarnya masih terbungkus polybag. Seragam medis yang identik dengan aroma antiseptik kini bermain di tanah, menyatu dengan lanskap kawasan yang kelak menjadi ruang belajar bagi bayi-bayi orangutan yang mereka rawat.
Di BORA, pelestarian lingkungan tidak dibatasi oleh jabatan atau latar belakang pendidikan. “Jumat Menanam” mempertemukan seluruh staf, mulai dari dokter hewan, animal keeper, tim development, hingga manajemen, dalam satu tujuan yang sama: meningkatkan kualitas ekosistem di dalam kawasan BORA. Semangat gotong royong yang diusung COP menemukan wujud konkretnya pada kegiatan ini. Setiap individu, apa pun jabatannya, turut mengambil bagian yang sama dalam kegiatan penanaman pohon.
Bagi tim medis, menanam pohon menjadi pengalaman bentuk lain dari penyembuhan. Jika di klinik mereka merawat tubuh yang terluka, di sini mereka menyiapkan masa depan yang lebih utuh. Bibit-bibit pohon yang mereka tanam hari itu akan tumbuh menjadi penopang kehidupan, bagi orangutan di BORA, satwa liar lain, manusia yang tinggal di sekitarnya, hingga berbagai bentuk kehidupan yang lebih luas lagi. Di bawah terik Berau yang tak kenal ampun, akar-akar kecil itu ditanam bukan sekadar ke dalam tanah, melainkan ke dalam harapan: bahwa konservasi adalah kerja bersama, dan setiap tangan memiliki peran dalam menjaga agar bumi ini tetap mampu menopang banyak kehidupan. (RAF)
Pertama kali mengenal Harapi pada tanggal 4 Juli 2025, saat hari pertama ku bekerja di Pusat Rehabilitasi Orangutan dan menggendongnya, “ternyata orangutan sebau ini”. Saat itu, Harapi masih takut untuk memulai sekolah hutannya, ia tidak ingin bersosialisasi dengan orangutan lainnya, hanya diam sembari memeluk diriku hingga baby sitter Janet membantuku untuk membujuk Harapi agar mau bersosialisasi dengan orangutan lainnya tetapi tidak berhasil. Akhirnya Harapi hanya diam di belakang badanku, bersembunyi sembari mengamati orangutan lainnya hingga jam sekolah hutan berakhir.
Hobi Harapi alah makan dan makan, bahkan ketika kehadirannya di sekolah hutan hanya sekedar absen dan disi dengan aktivitas makan. Suatu hari, Harapi tidak mengikuti sekolah hutan karena ia teramati sedang tidak enak badan bahkan si hobi makan ini teramati hanya memakan sedikit saja jatahnya.
Dokter Tyta: Nop, Harapi kasih makan kesukaannya aja dulu, supaya dia mau makan, gak usah sekolah dulu ya.
Nopi: Oke dok.
Setelah menjawab perintah dokter Tyta, aku menceritakannya dengan mba Rara. Mba Rara memberitahuku apa saja makanan kesukaan Harapi.
Nopi: Dok, ini Harapi udah mau makan lagi dan juga selit-sedikit mau beraktivitas seperti biasa dok.
Dokter Tyta: Syukurlah kalau dia mau makan, makasih ya Nop.
Terdengar suara celutukan dengan nada candaan.
Mba Indah: Aahhh pura-pura aja Harapi itu gak mau makan, biar gak sekolah hutan.
Nopi: Iya, kayaknya dia bohong biar bolos sekolah.
Di hari itu, Harapi tidak sekolah hutan dan menghabiskannya dengan makan-tidur untuk mengistirahatkan badannya hingga jam makan siang datang.
Harapi mempunyai teman yang aku sebut dengan sahabat kandang yaitu Arto. Harapi yang tingkahnya selalu lemot atau lamban menjadikan makanannya selalu diambil oleh Arto. Sementara respon Harapi hanya cuek dan tidak berusaha melawan atau menghindar dari Arto. Arto yang kebiasaannya makan dengan cepat dan terburu-buru selalu mempunyai cara untuk merebut makanan Harapi. Dari kebiasaan Arto, kami para baby sitter selalu mengajarkan Harapi agar pelit dan harus bisa mempertahankan haknya. “Ayo Harapi, pertahankan yang sudah jadi milikmu dan yang baik untukmu, jangan berdiam diri karena hakmu diambil atau dirampas orang lain!”. (NOP)
