JANE, SI BAYI ORANGUTAN YANG CERDAS

Sudah tıga bulan sejak orangutan Jane menjadi penghuni paling baru di baby house BORA. Saat pertama kali dititipkan di akhir bulan Juni tahun ini, usianya hanya sekitar 1,5 tahun. Walau baru tida bulan menjadi babysiter nya, saya sudah menetapkan Jane sebagai salah satu orangutan terpintar di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Saya takjub begitu melihat orangutan sekecil itu menjelajah dengan lincah di tajuk-tajuk pohon tinggi dan mencari pakan-pakan alami seperti kambium dan buah hutan, kadang ia memotek ranting untuk dijadikannya sarang sederhana, begitu bersemangat memecahkan pengayaan buatan dan alami yang diberikan meski kondisi jarinya yang tidak sempurna.
Namun, sepandai dan semandiri apa pun Jane, ada kalanya ia bersikap menja layaknya bayi orangutan pada umumnya. Seperti hari ini, Jane tampak gembira bermain di lantai playroom baby house, menutup seluruh badannya dengan karung goni lalu berjalan mengitari playroom, sesekali ia akan berguling dan menyeret karung goninya mendekati saya. Saat saya mengulurkan tangan, Jane akan sok tidak peduli dan kembali berguling menjauh.
Kadang saat sekoilah hutan, Jane akan sulit untuk diajak pulang. Ia masih senang eksplorasi dari pohon ke pohon. Jadi, saya akan membiarkan Jane melanjutkan sekolahnya sambil mengajak Charlie, penghuni baby house lainnya, untuk pulang terlebih dahulu. Namun, Jane sangat tidak suka sendirian. Saat melihat saya dan Charlie pulang, Jane akan merengek dan turun menghampiri saya dengan sendirinya, lalu meminta digendong seperti anak kecil.
Ada satu kebiasaan Jane yang akhir-akhir ini saya pikirkan. Ia selalu merengek dan menangis saat melihat saya pergi ke dalam hutan. Padahal saya hanya mencari daun sebagai pengayaan untuk alas tidurnya. Saya tidak tahu mengapa ia menangis begitu nyaring, tetapi ada satu hipotesis yang terlintas di otak saya.
Mungkinkah ia takut terpisah dengan saya seperti saat ia terpisah dengan ibunya?
Saya tidak tahu jawaban pastinya. Mungkin, menangis hanya cara Jane meminta saya untuk tetap berada di dekatnya. Namun, setiap kali mendengarnya, saya kembali diingatkan bahwa di balik kepiawaiannya menjelajah tajuk pohon, mencari pakan, dan memecahkan pengayaan, Jane tetaplah bayi orangutan yang masih membutuhkan rasa aman dan kasih sayang. Ia mungkin sedang belajar untuk mandiri, tetapi bukan berarti ia harus berhenti menjadi bayi. (FIQ)

KETIKA KARHUTLA MEMBATASI RUANG BELAJAR, RUANG INFORMASI BORA MEMBUKA RUANG BARU

Minggu sore, 6 September 2026, Ruang Informasi BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) ramai oleh aktivitas anak-anak. Sebanyak 40 anak dari RT 4 Kampung Tasuk, Berau, dengan rentang usia 5–13 tahun, datang untuk mengikuti edukasi singkat dan bermain bersama.
Ruang Informasi BORA sendiri baru saja diresmikan pada 18 Agustus 2026 lalu. Kehadirannya menjadi salah satu upaya untuk menyediakan ruang edukasi dan informasi bagi masyarakat sekitar, khususnya anak-anak, tentang orangutan dan upaya pelestariannya. Tidak lama setelah diresmikan, ruang ini kemudian dimanfaatkan sebagai tempat belajar dan bermain bagi anak-anak Kampung Tasuk yang juga terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Anak-anak di Kampung Tasuk sudah belajar dari rumah (BDR) sejak dua minggu lalu. Kondisi tersebut menjadi salah satu momentum untuk memaksimalkan fungsi Ruang Informasi BORA sebagai ruang edukasi dan aktivitas bagi anak-anak. Kegiatan diisi dengan pemberian materi edukasi tentang orangutan, pengenalan Ruang Informasi BORA, serta bermain bersama.
Kegiatan ini disambut baik oleh anak-anak dan orang tua. Antusiasme yang terlihat bahkan melebihi perkiraan awal, yang sebelumnya diperkirakan hanya sekitar 15 anak bersama orang tua. Selain itu, terdapat pula ajakan dari sekolah-sekolah sekitar untuk dapat kembali berkolaborasi dalam kegiatan edukasi orangutan, mulai dari PAUD, TK, hingga SD.
Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi pemantik bagi lebih banyak kegiatan lain di Ruang Informasi BORA. Terlebih, sebagai ruang yang baru diresmikan, masih banyak peluang untuk mengembangkan fungsi dan fasilitasnya sebagai ruang belajar dan bermain bagi anak-anak. Insight dari kegiatan ini juga dapat menjadi bahan untuk meningkatkan fasilitas Ruang Informasi BORA, seperti model, board game, maket, atau alat edukasi lainnya yang dapat ditampilkan untuk meningkatkan pengalaman pembelajaran. (RAR)

CHARLIE, SI KECIL YANG BANYAK BERUBAH

Ketika Charlie pertama kali datang, usianya baru sekitar 9 bulan. Saat itu, Charlie masih sangat kecil dan membutuhkan perhatian ekstra. Ia belum terbiasa dengan lingkungan barunya. Waktu tidur pun masih harus dijaga karena Charlie sering terbangun secara tiba-tiba, terlihat kaget, lalu menangis sambil mencari pelukan di sekitarnya.
Sebagai babysitter, salah satu tugasku adalah memastikan Charlie mendapatkan susu sesuai kebutuhannya. Setiap kali waktunya minum, aku menyiapkan susunya dan menemani Charlie sampai ia merasa tenang. Hari-hari pertama bersama Charlie cukup menguras kesabaran. Charlie lebih banyak tidur. Kalau bangun, ia bisa kembali mengantuk tidak lama kemudian. Charlie juga adalah orangutan yang cengeng. Kadang aku sampai berpikir, “Ini anak memang hobinya tidur dan nangis tiap hari ya?”.
Namun, waktu berjalan. Lima bulan berlalu. Charlie yang dulu masih sangat kecil ternyata mengalami banyak perubahan. Sekarang ia sudah jauh lebih berani. Bahkan, ia sudah berani memanjat pohon tinggi dari yang pernah aku bayangkan. Melihat Charlie berada di atas pohon membuatku kadang tidak percaya. “Charlie, sekarang kamu sudah berubah sejauh ini?”, batinku. Charlie hanya terus memanjat dengan tenang, seolah ketinggian bukan sesuatu yang perlu ditakuti.
Yang paling menarik, Charlie sekarang bukan tipe orangutan yang suka banyak merengek. Ia cenderung kalem dan pasrah. Kalau sedang bermain, ia bisa sibuk sendiri tanpa harus terus mencari perhatian. Tetapi ada satu hal yang sepertinya tidak banyak berubah. Charlie masih tidur siang dan kalo kelelahan forest school, Charlie kelihatan sangat mengantuk. Kalau sudah waktunya tidur, ia bisa benar-benar menikmati waktunya. Bangun tidur pun terkadang belum langsung bersemangat untuk beraktivitas.
Begitu juga dengan urusan makan. Charlie bisa makan lama sekali. Bukan karena ia tidak suka makan, tetapi giginya memang belum tumbuh lengkap. Jadi, proses makannya masih membutuhkan waktu dan kesabaran.
Di hari-harinya, Charlie juga punya seorang teman bernama Jane. Kalau melihat mereka berdua, rasanya seperti melihat dua karakter yang benar-benar berbeda. Jane adalah anak yang aktif banget. Ia suka bergerak ke sana kemari, penuh rasa ingin tahu, dan kalau soal makanan… Jane bisa dibilang rakus. Begitu melihat ada makanan, semangatnya langsung muncul.
Sementara Charlie? Charlie lebih santai. Ia kalem, tidak banyak merengek, dan lebih suka bermain sendiri. Kalau Jane sibuk menjelajah dan mencari makanan, Charlie bisa saja tetap duduk dengan tenang menikmati kegiatannya sendiri. Mereka benar-benar bertolak belakang.
Jane yang heboh dan penuh semangat.
Charlie yang kalem dan santai.
Namun, justru perbedaan itulah yang membuat keduanya menarik untuk diamati. Dari bayi kecil berusia sembilan bulan yang dulu sering terbangun kaget dan menangis, kini Charlie sudah tumbuh menjadi orangutan kecil yang jauh lebih berani. Ia memang masih suka tidur. Makannya juga masih lama. Dan sifatnya terkadang masih clingy. Tetapi sekarang ada satu hal yang jelas terlihat, Charlie sudah bukan bayi kecil yang dulu datang kepada kami. Ia sudah menjadi Charlie yang berani mengeksplorasi dunia dengan caranya sendiri. (LUK)

BETI’S JOURNEY: ONE YEAR AT BORA

I used to scan every bush at BORA, looking for this exact type of weed. I plucked every bit of this weed I could find from every bush, every patch of grass, every roadside. If I saw something that looked like it, I would stop and check. Just because Beti would eat it.

At that time, if Beti ate something, it felt like a victory. She would only eat water apples and oranges, or a piece of apple, or a piece of pear. Then she would just sit there, covering her body with sack for the entire day. Even sometimes she wouldn’t eat at all, she wouldn’t drink, clearly in pain. And sometimes, it felt like she resented us.

That was when I started questioning things. I thought about a thousand things we could have avoided, anticipated, or done differently during Beti’s translocation. I even had the terrible thought of if Beti had never come to BORA, she wouldn’t have been stressed. Maybe she wouldn’t refuse to eat for days.

I became very skeptical. Thinking about how humans are such an arrogant species. We decide what is best for another species. We decided Beti should no longer live as a pet. We decided she should be moved. We decided what she should eat. What kind of environment she should live in.

But did we really know what was best for Beti?

Because from Beti’s perspective, we had taken everything familiar away. Imagine if you had spent 24 years living in a village in Java, with that specific man. You were fed the same side dishes his family ate. You lived in a concrete-floored cage. Sometimes you were taken out to be played with, to be someone’s pet. You were fed only from noon. Neighboring children poked you, you became a spectacle for them when they getting fed by their mother. For 24 years. Until you became almost completely apathetic to stimulation.

Then suddenly, you were moved into a tiny transport crate. Suddenly, you were taken somewhere by car. Suddenly, you entered an extremely cold room, a plane, though Beti wouldn’t know it was a plane. Then came an almost 24-hour travel by land, noisy and dusty.

Suddenly, you were placed in a very large enclosure, but everything was made of bars. You trembled. Then the food changed. Fruit. Vegetables. Strange green things. They were green before too, but they had been cooked and seasoned.

Suddenly, people were poking you here and there. Your hair was shaved because you needed an ultrasound. You were suddenly being shot with blow darts because you needed antibiotics. The weather was unbearably hot. And then, after 24 years of seeing only human, you suddenly found creatures who looked like you. Wouldn’t you be stressed?

It took me months to see things differently.

Bringing Beti here did not immediately make her life better. For a while, it made everything harder. But BORA gave Beti something she never had before, options of second chances. Here, we can monitor her health, treat her when she is in pain, and make sure she gets the care she needs. She gets appropriate food, people who pay attention to what she eats, what she refuses, what makes her uncomfortable, and what makes her feel safe.

Slowly, she started to eat more. There are now so many things Beti can eat that sometimes it is hard to remember the days when I was desperately searching every bush for that one weed. She still has her chronic urinary tract infection (UTI), and she still needs to recover. She still loves her sack, and there are still days when she would rather hide under it than do anything else. But there is progress, even if it is slow enough that you sometimes have to stop and look for it.

Her journey is also so different from the babies and juveniles we rehabilitate here. When they arrive, they still have so much time ahead of them. They can go to Forest School, where they can learn to climb, swing, build nests, search for food, navigate the trees, and interact with other orangutans. Their rehabilitation happens step by step, and every new skill becomes part of the foundation they will eventually need to survive in the forest. They can spend years building the strength, confidence, and knowledge they need before they are released.

Beti cannot have that same journey. She is already an adult, and she is simply too large for the keepers to safely handle. She cannot go to Forest School and spend her days swinging through the trees, strengthening her hands and feet for the canopy. She cannot follow the same curriculum of learning that the younger orangutans do. The things they get to learn through experience, Beti has to learn in much smaller ways, from inside her cage.

So we bring a little bit of the forest to her instead. We give her jungle fruits and introduce her to foods that she might encounter in the jungle. It is not the same as learning to forage in the jungle itself. It will never replace what she missed during those 24 years.

That is what makes Beti’s progress so difficult to compare with the others. For a juvenile orangutan, climbing higher might be one step in a long journey toward the forest. For Beti, simply choosing to climb at all is already something significant. For a baby, learning to eat a new fruit might be part of a normal day at Forest School. For Beti, finding out that she likes a jungle fruit is a small window into a world she was never given the chance to know.

Looking back, I still think about all the things we could have done differently. I still wonder whether her transition could have been slower, whether we could have prepared her better, whether we could have anticipated some of the things that happened. I don’t think those questions will ever completely go away. But I do know I would still bring Beti to BORA all over again.

Beti’s progress may be slow, but I will celebrate every bit of it. And I have been celebrating them. I celebrated when she ate her very first sawi. I celebrated when she finally perched and made herself comfortable on her iron nest. I celebrated when she finally engaged with the enrichment we gave her, when she started to enjoy the jungle fruits we introduced to her, and every other small bit of progress in between. And I will keep on celebrating.

Happy world orangutan day and happy one year at BORA, sweet Beti!
(THA)

SISI LAIN ORANGUTAN BERNAMA MABEL

Dari arah lain di dalam hutan, Mabel sedang duduk santai di atas pohon sambil menikmati buah buni. Ia terlihat begitu asyik menjelajah dan mencari makanan sendiri. Sementara itu, aku berjalan lebih dulu menuju pohon tarap bersama Mba Fiqoh (animal keeper) yang membawa Cinta. Awalnya Mabel masih sibuk dengan buah buninya. Namun, ketika ia melihat aku berjalan semakin jauh meninggalkannya, tangannya berhenti bergerak. Mabel memperhatikan aku dari atas pohon. Dan aku terus berjalan.
Tiba-tiba terdengar suara kecil dari arah belakang. Mabel mulai merengek. Ia melihat aku lagi, lalu melihat sekelilingnya. Sepertinya ia tidak suka melihatku berjalan terlalu jauh darinya. Akhirnya, Mabel turun dari pohon. Ia meninggalkan buah buni yang tadi sedang dimakannya dan mulai berjalan cepat mengejarku. Begitu Mabel mendekat, Mba Fiqoh langsung memperhatikannya. Mba Fiqoh tertawa kecil lalu bertanya, “Kenapa Mabel? Tumben nangis?”.
Aku ikut tertawa melihat tingkah Mabel. “Ternyata dia bisa manja!”, jawabku.
Mba Fiqoh langsung tertawa. “Iya, biasanya paling nggak mau bermanja-manja.”
Aku melihat Mabel yang kini sudah memeluk kakiku. “Tadi ditinggal sedikit aja langsung turun dari pohon dan nyusul.”
Mba Fiqoh tertawa lagi.
“Berarti sebenarnya Mabel nggak mau jauh-jauh dari kamu.” kata mba fiqoh
Kami berdua pun tertawa bersama. Mabel seolah tidak peduli dengan percakapan kami. Ia hanya memastikan aku tetap berada di dekatnya. Lucu juga melihat Mabel hari itu. Biasanya ia adalah orangutan yang paling aktif menjelajah, berpindah dari satu pohon ke pohon lain, dan sibuk mencari makanan favoritnya seperti jengkol dan buah tarap. Tapi hari itu, Mabel menunjukkan sisi yang jarang terlihat. Ternyata, di balik sifatnya yang mandiri, Mabel juga bisa manja terutama ketika melihat orang yang ia percaya berjalan meninggalkannya. (LUK)

KETIKA JAINUL MENGAJARKAN ARTI MENJADI ORANGUTAN

Menjadi seorang animal keeper di pusat rehabilitasi orangutan bukanlah pekerjaan yang selalu dipenuhi momen manis bersama satwa yang menggemaskan. Di balik tingkah lucu dan ekspresi yang sering membuat orang tersenyum, ada proses panjang yang harus dilalui individual orangutan untuk kembali menjadi dirinya sendiri, yaitu satwa liar yang mandiri dan mampu bertahan hidup di hutan.

Sekolah hutan adalah salah satu proses itu, saya saksikan setiap hari. Di tempat inilah para orangutan belajar berbagai keterampilan yang akan mereka butuhkan di alam. Mereka belajar memanjat, mencari pakan, mengenali lingkungannya, hingga berinteraksi dengan sesama orangutan.

Interaksi tersebut tidak selalu berjalan tenang. Seringkali mereka bermain dengan cara yang bagi manusia terlihat kasar. Menjambak, menggigit, mencengkam, dan salting kejar adalah pemandangan yang lumrah terjadi. Namun di balik perilaku itu, terdapat proses belajar yang sangat penting. Mereka sedang mengasah kemampuan sosial, mengenali batasan, dan membangun karakter yang kelak membantu mereka bertahan hidup di alam liar.

Di antara banyak orangutan yang saya dampingi, ada satu individual yang cukup berkesan yaitu Jainul. Jainul adalah orangutan jantan remaja dengan energi yang seolah tidak pernah habis. Ia memiliki rasa percaya diri yang tinggi dans ering menunjukkan perilaku dominan terhadap lingkungan sekitarnya. Tidak jarang saya menjadi sasaran keisengannya. Serangan kecil, gigitan, tarikan tangan, hingga upaya mencengkeram merupakan hal yang cukup sering saya alami saat mendampinginya.

Tentu saja, sebagai manusia, ada kalanya saya merasa resah. Tidak nyaman ketika harus selalu waspada terhadap tingkah Jainul yang sulit ditebak. Ada hari-hari ketika saya pulang dengan lengan penuh bekas cakaran atau kaki penuh bekas gigitan dan tubuh yang lelah karena harus menghindari ulahnya.

Namun seiring waktu, saya mulai melihat perilaku Jainul dari sudut pandang yang berbeda.

Apa yang ditunjukkannya bukanlah kebencian ataupun kenakalan semata. Sebagai orangutan jantan yang sedang berankaj dewasa, Jainul sedang menunjukkan sifat-sifat alami yang memang seharusnya dimiliki orangutan liar. Ia belajar menjadi individu yang kuat, berani, dan mampu mempertahankan dirinya. Sikap agresif yang kadang membuat saya kewalahan justru menjadi tanda bahwa insting liarnya masih ada. Dan bukankah itu tujuan utama rehabilitasi?

Kami tidak sedang membesarkan hewan peliharaan yang jinak terhadap manusia. Kami sedang mempersiapkan satwa liar agar suatu hari nanti mereka tidak lagi bergantung pada manusia. Karena itulah, setiap kali Jainul mencoba menguji kesabaran saya, ada perasaan yang bertolak belakang dalam diri saya. Di satu sisi, saya merasa was-was dan lelah menghadapi agresivitasnya. Namun di sisi lain, saya merasa senang. Senang karena melihat orangutan yang masih memiliki karakter alaminya. Senang karena ia menunjukkan perkembangan yang dibutuhkan untuk hidup bebas di hutan.

Jainul mengingatkan saya bahwa keberhasilan rehabilitasi tidak selalu terlihat dalam bentuk orangutan yang patuh atau mudah diatur. Namun keberhasilan justru terlihat dari individu yang berani, mandiri, dan cukup “merepotkan” bagi keeper-nya.

Mungkin suatu hari nanti Jainul akan hidup di hutan yang sesungguhnya, jauh dari pagar kandang dan pengawasan manusia. Ketika hari itu tiba, bekas gigitan, cakaran, dan semua keresahan yang pernah saya rasakan akan menjadi bagian kecil dari sebuah cerita yang lebih besar yaitu cerita tentang individu yang berhasil kembali menjadi orangutan sepenuhnya. Dan bagi saya, seorang animal keeper, tidak ada hadiah yang lebih berharga daripada itu. (BOW)

PESAN NOVI UNTUK ORANGUTAN FELIX

Selama tiga bulan ini, aku melihat banyak sekali perubahan dari Felix. Waktu awal aku masuk menjadi tim babysitter, Felix terlihat takut untuk mendekat kepadaku. Aku tahu aku adalah orang baru yang ia lihat, karena itu ia terlihat takut untuk mendekat kepadaku. Seiring berjalannya waktu, Felix mulai percaya kepadaku. Selain itu, ketika takut, biasanya Felix akan pipis. Meskipun hanya melihat keeper laki-laki saja, ia juga akan takut hingga pipis. Ketika di sekolah hutan pun, Felix masih sulit untuk sekadar lepas dari gendongan babysitter. Bahkan ketika sudah berhasil lepas, Felix akan menangis tantrum, ia akan berjalan mengikuti babysitter. Jika sudah bisa meraih babysitter, ia akan memeluk kaki babysitter, setelah itu barulah ia akan diam.

Selama sekolah hutan berjalan, Felix hanya bisa duduk dan memeluk kaki babysitter saja. Terkadang kita akan membiarkan Felix menangis ketika ia tidak ingin dilepaskan dari gendongan. Bukan karena tidak sayang, tujuan rehabilitasi adalah memperbaiki mereka menjadi orangutan liar, bukan orangutan jinak yang nurut kepada manusia.

Dari situ, Felix mau tidak mau membiasakan dirinya menjauh dari babysitter. Awal-awal Felix ketika baru mau memanjat pohon, ia sering sekali mengamati babysitter dari atas. Ketika turun pun, Felix akan menangis karena ia tidak tahu caranya turun dari pohon. Felix bisa turun karena diarahkan oleh babysitter.

Ketika tiga bulan terakhir ini, Felix yang cengeng, yang suka menempel macam perangko susah lepas, Felix yang penakut itu, di pandanganku hilang. Aku melihatnya yang sekarang, Felix keren, si hebat yang mulai menjelajah jauh mengikuti sahabatnya yaitu Pansy. Dari Pansy juga, Felix banyak belajar dan tidak takut lagi ketika babysitter jauh dari pandangannya. Tak hanya sampai di situ, Felix pun berani menjelajah sendiri tanpa sosok Pansy.

Felix yang aktivitas dominannya mengikuti kemana perginya Pansy juga memperhatikan Pansy yang sudah pandai membuat sarang. Dan dalam tiga bulan terakhir ini pun, Felix sudah bisa membuat sarang walaupun belum sempurna seperti orangutan lainnya, tapi itu suatu kemajuan yang sangat kita nantikan dari Felix. Ia juga terlihat beberapa kali memperbaiki atau membenahi sarang lama bekas orangutan lain. Felix juga sering terlihat membuat sarang bersama Pansy.

Sampai saat ini, Felix masih terlihat takut kepada keeper laki-laki, walau keeper tertentu saja dan tidak pipis ketika takut. Keberanian menjelajah sendirinya juga diikuti keberaniannya melawan seperti mencoba memukul keeper atau membuka mulutnya seperti gestur ingin menggigit. Perkembangan Felix yang sangat bagus karena sewajarnya lah, orangutan menghindari manusia.

Harapanku kepada Felix, tetap jadi Felix yang sekarang. Aku yakin Felix bisa jauh lebih baik lagi. Aku tahu kamu (Felix) banyak melewati traumamu, dan yaps… terima kasih Felix sudah bertahan dan mau belajar meniru orangutan lainnya. Kalau bukan dari kemauan kamu untuk berubah, siapa lagi yang dapat mengubah dirimu sendiri. Semangat terus Felix.

Dari aku, Novi, untukmu Felix. (NOV)

WARISAN YANG IKUT PULANG KE HUTAN

Tidak semua bekal yang dibawa orangutan saat kembali ke alam dapat dilihat dengan mata. Orang mungkin hanya melihat pintu kandang yang dibuka, langkah pertama menuju tajuk hutan, lalu tubuh yang perlahan menghilang di balik rimbunnya pepohonan. Yang tidak terlihat adalah seluruh perjalanan yang telah membentuk mereka hingga hari itu tiba.

Setelah bertahun-tahun menjalani rehabilitasi, orangutan Ruby, Bagus, dan Eboni akhirnya kembali ke habitat alaminya di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kalimantan Timur. Kepulangan mereka menjadi tujuan dari proses panjang yang melibatkan penyelamatan, pemulihan kesehatan, pembelajaran perilaku alami, hingga serangkaian penilaian untuk memastikan mereka benar-benar siap hidup mandiri. Kini, hutan kembali menjadi tempat mereka menjalani kehidupan sebagaimana orangutan liar seharusnya.

Banyak orang mengenal rehabilitasi sebagai tempat orangutan belajar bertahan hidup. Mereka belajar memilih pakan alami, mengenali pohon yang aman untuk berpindah, membangun sarang setiap senja, serta membaca dinamika hutan. Semua itu memang menjadi bekal utama sebelum pelepasliaran. Namun, ada pelajaran lain yang sering luput dari perhatian.

Di alam liar, anak orangutan menghabiskan hampir seluruh masa kecilnya bersama induknya. Selama bertahun-tahun mereka belajar bukan melalui perintah, melainkan dengan mengamati. Cara memilih buah yang matang, menentukan jalur di kanopi, membangun sarang, hingga menghadapi ancaman, semuanya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ketika anak orangutan kehilangan induknya akibat konflik dengan manusia atau perdagangan satwa liar, bukan hanya sosok pelindung yang hilang. Bersamanya ikut hilang kesempatan mempelajari banyak hal yang tidak dapat diajarkan secara instan. Karena itu, keberhasilan rehabilitasi bukan hanya soal mengembalikan kemampuan bertahan hidup, lebih dari itu, rehabilitasi berusaha mengembalikan perilaku alami yang sempat terputus agar orangutan mampu menjalankan seluruh siklus kehidupannya ketika kembali ke hutan.

Selama menjalani rehabilitasi, perubahan itu perlahan terlihat pada ketiga orangutan yang dilepasliarkan bulan Juni ini. Ruby tumbuh menjadi individu yang gemar menjelajah dan sering menjadi orangutan pertama yang mencoba rute-rute baru di sekolah hutan. Tanpa banyak interaksi, kehadirannya justru diikuti individu lain yang lebih muda. Keberanian Ruby menjadi semacam dorongan bagi mereka untuk memanjat lebih tinggi, bergerak lebih jauh, dan mengenal hutan dengan lebih percaya diri.

Bagus memperlihatkan sisi yang berbeda. Di balik sifatnya yang tenang, ia beberapa kali menjadi tempat berlindung bagi bayi orangutan yang masih belum percaya diri menjelajah. Ia menerima kehadiran mereka, membiarkan mereka tetap berada di dekatnya, seolah memahami bahwa rasa aman merupakan bagian penting dalam proses belajar.

Sementara itu, Eboni yang dikenal mandiri dan berani ternyata juga menunjukkan kepedulian kepada individu yang lebih muda. Di sela-sela eksplorasinya, ia kerap mengajak bayi orangutan mengikuti pergerakannya, mengenalkan area baru, sekaligus memberi contoh bagaimana menghadapi lingkungan yang terus berubah.

Tidak ada sesi pelatihan khusus untuk mengajarkan perilaku tersebut. Semuanya tumbuh dari pengalaman. Dari interaksi dengan orangutan lain, dari dinamika yang terbentuk setiap hari di sekolah hutan, serta dari kesempatan menjalani kehidupan sosial yang menyerupai kondisi di alam. Perlahan, muncul kemampuan yang suatu hari akan sangat menentukan keberhasilan mereka sebagai induk.

Kini Ruby, Bagus, dan Eboni telah menjalani kehidupan baru di hutan. Tidak ada lagi animal keeper yang mengawasi setiap langkah mereka. Keputusan-keputusan penting kini sepenuhnya berada di tangan mereka sendiri. Mungkin butuh waktu bertahun-tahun hingga tim monitoring menemukan salah satu dari mereka kembali, kali ini bukan sebagai individu yang direhabilitasi, melainkan sebagai induk yang sedang menggendong bayinya.

Jika hari itu tiba, keberhasilan pelepasliaran tidak hanya diukur dari kemampuan mereka bertahan hidup. Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika pengetahuan yang pernah mereka pelajari selama rehabilitasi berubah menjadi warisan bagi generasi berikutnya. Dari induk kepada anak, lalu terus berlanjut di tengah rimbanya hutan Kalimantan.

Itulah harapan terbesar dari setiap pelepasliaran: bukan sekadar mengembalikan orangutan ke habitatnya, tetapi mengembalikan masa depan populasi liar yang akan terus tumbuh melalui generasi-generasi baru (RAR)

BAYI ORANGUTAN BETINA TIBA DI BORA

Sangatta – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama BKSDA Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Tenggarong dan Centre for Orangutan Protection menerima penyerahan satu bayi orangutan (Pongo pygmaeus) dari masyarakat di Kelurahan Singa Gereh, Kecamatan Sangatta Selatan, Kutai Timur, Kalimantan Timur (11/6).

Bayi orangutan betina ini ditemukan menangis sendirian di dalam semak-semak kebun warga. Pada saat itu juga, warga tersebut langsung melaporkan penemuannya ini ke petugas BKSDA SKW II Tenggarong. Petugas pun langsung merespons cepat dan menjemput bayi orangutan tersebut. Setelah dilakukan penyerahan, tim gabungan petugas BKSDA bersama dengan medis dari COP membawa bayi orangutan ini menuju Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut.

Setelah melakukan perjalanan darat kurang lebih 12 jam, akhirnya byi orangutan tiba di BORA. “Orangutan terindentifikasi betina, estimasi usia 1-1,5 tahun. Kondisi saat tiba mengalami tremor dan sedikit agresif juga mengalami kelainan pada jari telunjuk kanan”, ungkap dokter hewan BORA yang menerima bayi orangutan tersebut. Tim medis pun segera menenangkannya dengan susu dan selimut hangat. Dia pun merasa nyaman dalam pelukan kasih sayang dokter hewan senior COP yang kebetulan sedang bertugas.

Seperti bayi orangutan lainnya yang juga kehilangan induk pada usia yang masih sangat muda, bayi ini akan menjalani proses rehabilitasi yang panjang di BORA. Di sinilah ia akan mempelajari kemampuan dasar hidup di alam bebas sebagai orangutan. Hal-hal yang perlu dipelajari seperti memanjat, mencari makan, dan membuat sarang akan menjadi tahapan-tahapan yang harus ia lewati. “Kami akan berusaha memberikan perawatan yang terbaik untuknya, karena kemampuan dasar ini mutlak harus dikuasai sebelum ia bisa dikembalikan ke habitatnya”. (SAT)

MENEMUKAN KEMBALI CARA MELIHAT

Di sela-sela pekerjaan yang menuntut perhatian penuh pada layar laptop, ada kebiasaan yang perlahan terasa mulai memudar, yaitu mengamati hal-hal kecil di sekitar. Hari-hari saya sedang banyak dihabiskan di depan layar, menyunting foto dan video, menulis, serta menyelesaikan berbagai pekerjaan lain. Bahkan ketika memegang kamera saat mendokumentasikan sekolah hutan, fokus saya hampir selalu tertuju pada orangutan, satwa besar yang menjadi inti pekerjaan saya selama bertahun-tahun.

Namun siang itu, seekor burung mengganggu rutinitas itu.

Dari dalam kantor yang dikelilingi dinding kaca tembus pandang, saya melihatnya terbang bolak-balik melintasi halaman. Awalnya hanya sekilas. Lalu beberapa menit kemudian, ia kembali melintas lalu hinggap di tanah. Ada sesuatu dalam gerakannya yang terus menarik perhatian. Seolah-olah ia sedang sibuk dengan urusan yang tidak saya pahami.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya meninggalkan laptop, mengambil kamera, lalu berjalan keluar. Udara siang terasa berbeda ketika tidak dinikmati dari balik jendela. Saya duduk di atas kerikil halaman kantor, membiarkan mata beradaptasi dengan dunia yang selama ini ada di depan saya, tetapi jarang benar-benar saya perhatikan.

Tidak butuh waktu lama sebelum saya menyadari bahwa halaman kantor ternyata jauh lebih hidup daripada yang biasa saya lihat.

Seekor kadal muncul dari sela daun gugur. Sekitar satu meter di dekatnya, seekor bunglon berwarna hijau terang merayap perlahan di atas kerikil dan serasah. Burung-burung yang sebelumnya hanya menjadi titik-titik kecil dalam pandangan kini terlihat lebih jelas. Merbah mata merah datang dan pergi. Kipasan belang melompat-lompat di permukaan tanah sambil melebarkan ekornya. Burung cipoh kacat pun ikut bergabung, masing-masing dengan perilaku dan caranya sendiri mencari makan.

Mereka semua tampak memiliki tujuan yang sama. Di permukaan halaman, masih berserakan laron-laron yang tersisa dari semalam. Malam sebelumnya, lampu kantor sempat dikerubungi laron dalam jumlah besar. Ketika pagi datang, sebagian laron masih tampak bergerak di antara sayap-sayap yang menempel di tanah basah. Apa yang bagi manusia hanyalah sisa-sisa gangguan malam hari, bagi satwa liar justru menjadi pesta.

Setiap beberapa menit, ketika suasana terasa aman dari manusia, seekor burung turun bergantian menyambar mangsanya. Kadal-kadal memanfaatkan kesempatan yang sama. Seluruh halaman berubah menjadi panggung kecil dari sebuah peristiwa ekologis yang berlangsung tanpa penonton.

Dan yang paling menarik, semua itu sebenarnya terjadi tepat di halaman kantor. Bukan satwa-satwa itu yang baru datang. Sayalah yang akhir-akhir ini terlalu abai untuk melihatnya.

Duduk di sana membuat saya menyadari betapa mudahnya perhatian saya terserap oleh rutinitas dan berbagai prioritas yang harus segera diselesaikan. Dalam fotografi satwa liar pun demikian. Banyak dari kita sering memimpikan mamalia besar, predator langka, atau spesies ikonik yang menjadi kebanggaan sebuah kawasan. Sementara itu, kehidupan yang lebih kecil berlangsung diam-diam dan sering kita lewatkan.

Ada dunia yang penuh interaksi dan perjuangan hidup di sepetak tanah yang mungkin hanya kita lewati setiap hari tanpa menoleh. Burung, kadal, bunglon, dan laron menjadi bagian dari cerita yang sama, sebuah siklus kehidupan yang terus berlangsung bahkan ketika tidak ada manusia yang memperhatikannya. 

Alam tidak selalu menghadirkan keajaiban dalam bentuk yang spektakuler. Sering kali, ia hadir dalam detail-detail kecil yang hanya bisa ditemukan ketika kita melambat. Mungkin itu sebabnya fotografi selalu terasa lebih dari sekadar aktivitas mengambil gambar. Kamera hanyalah alasan untuk berhenti sejenak. Alasan untuk memperhatikan. Alasan untuk duduk lebih lama dan melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi di sekitar kita.

Siang itu saya memang pulang dengan foto beberapa jenis burung, kadal, dan bunglon. Tetapi yang paling berkesan bukanlah gambar-gambar yang tersimpan di kartu memori. Yang saya bawa pulang adalah pengingat bahwa alam tidak pernah berhenti bercerita. Kita saja yang sering terlalu sibuk untuk mendengarkannya.

Kadang, yang dibutuhkan hanyalah meluangkan waktu sejenak untuk meninggalkan layar, melangkah keluar, lalu duduk di atas tanah. Di saat itulah kita menyadari bahwa kehidupan liar tidak selalu berada jauh di pedalaman hutan. Ia bisa saja berlangsung tepat di halaman kantor, menunggu untuk diperhatikan. (RAF)