FELIX, AKTIF MENEMUKAN BANYAK HAL LEWAT BERMAIN

Aktivitas Felix sepanjang September banyak diwarnai permainan sosial. Ia sering terlihat berguling-guling, saling menggigit dalam konteks bermain, dan berinteraksi dengan individu lain di lantai hutan. Ia secara rutin bermain bersama Pansy, Mabel, Cinta Ochre, Jack, dan individu lainnya, sering kali tetap terlibat dalam aktivitas sosial tersebut, Felix juga mencari makan dengan berbagai pakan alami seperti buah mentah, kulit kayu, daun, ranting, kambium, dan kelapa.
Meski permainan di permukaan tanah menjadi aktivitas yang sering terlihat, Felix juga menunjukkan kemampuan eksplorasi di pepohonan. Ketika sekolah hutan memasuki area yang lebih dalam, ia mulai memanjat dan berpindah dari satu pohon besar ke pohon lainnya untuk mencari makanan. Ia juga mengikuti individu lain dalam melakukan eksplorasi, termasuk mengikuti Pansy dan Ochre ketika mereka bergerak di pepohonan. Hal ini membuat aktivitas Felix sepanjang bulan tidak hanya didominasi interaksi sosial, tetapi juga eksplorasi lingkungan hutan.
Interaksi sosial Felix juga terlihat dalam hubungannya dengan babysitter. Setelah bermain cukup lama, ia beberapa kali mendatangi babysitter dan duduk di dekatnya sebelum kembali bermain ketika diajak oleh individu lain. Ketika sekolah hutan tidak dilakukan karena asap, ia tetap aktif mengikuti enrichment bersama Pansy dan Jack. Secara keseluruhan, September memperlihatkan Felix sebagai individu yang sangat aktif secara sosial, dengan permainan menjadi bagian penting dari aktivitas eksplorasi dan interaksinya. (RAF)

HARAPI, MENJELAJAH SAMBIL BERMAIN DAN BERSOSIALISASI

Harapi menunjukkan aktivitas bermain sosial dan eksplorasi yang aktif sepanjang September, terutama di lantai hutan. Ia sering bermain bersama Arto, Ochre, Jainul, Aman, Astuti, Mabel, dan Cinta. Ia juga aktif mencari makanan alami seperti jengkol, umbut, kulit kayu, daun mudan dan tua, serta buah mentah. Walaupun aktivitas di permukaan tanah cukup dominan, Harapi tetap memanfaatkan pepohonan ketika sekolah hutan memasuki area yang lebih dalam.
Salah satu aktivitas eksplorasi Harapi yang paling sering terlihat adalah menggali tanah dan memandikan tubuhnya menggunakan tanah kering. Ia juga terlihat mengeksplorasi pohon dan cabang serta sesekali menghabiskan waktu sendiri di atas cabang setelah bermain dengan individual lain. Aktivitas ini berlangsung berdampingan dengan perilaku mencari makan dan permainan sosialnya, sehingga aktivitas Harapi selama September cukup beragam meskipun permukaan tanah tetap menjadi area yang paling sering digunakannya.
Harapi juga sering menunjukkan ketertarikan terhadap keeper, terutama ketika mendengar suara resleting tas dan kemudian mendekat untuk meminta pakan. Di sisi lain, ia tetap memiliki aktivitas eksplorasi mandiri, termasuk bermain air bersama Mabel dan Cinta. Secara keseluruhan, pengamatan September memperlihatkan Harapi sebagai individual yang aktif secara sosial, banyak mengeksplorasi permukaan tanah, serta menggunakan berbagai bentuk permainan dan aktivitas alami selama sekolah hutan. (RAF)

ARTO DAN RASA INGIN TAHUNYA YANG TAK PERNAH BERHENTI

Arto menghabiskan sebagian besar September dengan menggabungkan permainan aktif dan eksplorasi mandiri. Ia sering bermain di permukaan tanah bersama Hrapi dan individual lain, berguling dan berinteraksi dengan mereka, sekaligus mengeksplorasi lingkungan sekitarnya secara mandiri. Ia terlihat memanjat pohon kecil, berayun di liana, menjatuhkan diri dari cabang, serta berpindah antara permukaan tanah dan vegetasi. Dalam aktivitas mencari makan, ia tercatat memakan kambium dan umbut.
Eksplorasi Arto tidak hanya dilakukan dengan berpindah tempat, tetapi juga melalui manipulasi lingkungan, Ia berulang kali menggali tanah dan terlihat memandikan tubuhnya dengan tanah kering bersama Harapi. Ia juga pernah menumpuk daun di permukaan tanah seperti membuat struktur sarang sebelumnya kembali mengeksplorasi dan memakan umbut. Aktivitas tersebut menunjukkan bagaimana Arto banyak menggunakan material alami di sekitarnya selama sekolah hutan.
Arto juga tetap sangat interaktif dengan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Ia sering mendekati keeper dan beberapa kali terlihat menggigit atau menyerang boots sebagai bagian dari interaksinya. Aktivitas bermain tetap terlihat hingga akhir bulan, termasuk bermain bersama Mabel, Aman, dan Jainul serta mengayunkan pohon kecil. Secara keseluruhan, September memperlihatkan Arto sebagai individual yang aktif mengeksplorasi melalui gerakan, permainan, manipulasi material alami di sekitarnya, dan interaksi sosial. (RAF)

SARANG PERTAMA FELIX

Hari itu seperti hari-hari biasanya di sekolah hutan BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Semua orangutan beraktivitas dengan caranya masing-masing, ada yang foraging di kanopi pohon dan ada yang memilih bermain di lantai hutan. Sementara Felix, dia memilih berada di atas pohon eksplorasi dan mencari makan bersama Pansy.
“Ksrks… krksks… kskskr…”. Tiba-tiba terdengar suara dedaunan dari atas pohon. Seketika kami para keeper menengok ke atas pohon. Tidak disangka ternyata di atas phon, terlihat Felix yang sedang menyusun dedaunan yang dia telah petik di atara dua cabang pohon. Kami semua terkejut dan otomatis berucap, “Felix buat sarang!?”. Kami terkejut dan sedikit ada rasa tidak percaya dengan apa yang kami lihat. Felix yang biasanya mengekor pada babysitter atau memeluk kaki babysitter selama sekolah hutan, hari ini membuat sarang pertamanya.
Membuat sarang merupakan salah satu skill yang harus dikuasai oleh orangutan agar bisa bertahan hidup di alam liar. Dan insting Felix untuk mulai menyusun dedaunan menjadi sarang merupakan satu indikator perkembangan kemampuannya. Sebelumnya pun, Felix juga sudah terlihat mereparasi sarang-sarang lama dengan menumpukkan daun-daun baru di atas daun-daun yang sudah kering. Terkadang Felix juga terlihat melanjutkan sarang yang dibuat oleh orangutan lain dengan mematahkan ranting lalu menumpuk ranting tersebut ke pondasi sarang yang sudah ada.
Sarang yang dibuat Felix itu memang belum sempurna, bahkan pondasi sarang itupun masih sangat rapuh. Namun melihat bagaimana Felix bisa mencapai titik itu, tentu memberi rasa bangga dan haru. Kami menyadari bahwa Felix yang kami kenal adalah bayi orangutan yang manja, kini telah bertumbuh dengan cara dan ritmenya sendiri. (JAN)

JANE, SI BAYI ORANGUTAN YANG CERDAS

Sudah tıga bulan sejak orangutan Jane menjadi penghuni paling baru di baby house BORA. Saat pertama kali dititipkan di akhir bulan Juni tahun ini, usianya hanya sekitar 1,5 tahun. Walau baru tida bulan menjadi babysiter nya, saya sudah menetapkan Jane sebagai salah satu orangutan terpintar di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Saya takjub begitu melihat orangutan sekecil itu menjelajah dengan lincah di tajuk-tajuk pohon tinggi dan mencari pakan-pakan alami seperti kambium dan buah hutan, kadang ia memotek ranting untuk dijadikannya sarang sederhana, begitu bersemangat memecahkan pengayaan buatan dan alami yang diberikan meski kondisi jarinya yang tidak sempurna.
Namun, sepandai dan semandiri apa pun Jane, ada kalanya ia bersikap menja layaknya bayi orangutan pada umumnya. Seperti hari ini, Jane tampak gembira bermain di lantai playroom baby house, menutup seluruh badannya dengan karung goni lalu berjalan mengitari playroom, sesekali ia akan berguling dan menyeret karung goninya mendekati saya. Saat saya mengulurkan tangan, Jane akan sok tidak peduli dan kembali berguling menjauh.
Kadang saat sekoilah hutan, Jane akan sulit untuk diajak pulang. Ia masih senang eksplorasi dari pohon ke pohon. Jadi, saya akan membiarkan Jane melanjutkan sekolahnya sambil mengajak Charlie, penghuni baby house lainnya, untuk pulang terlebih dahulu. Namun, Jane sangat tidak suka sendirian. Saat melihat saya dan Charlie pulang, Jane akan merengek dan turun menghampiri saya dengan sendirinya, lalu meminta digendong seperti anak kecil.
Ada satu kebiasaan Jane yang akhir-akhir ini saya pikirkan. Ia selalu merengek dan menangis saat melihat saya pergi ke dalam hutan. Padahal saya hanya mencari daun sebagai pengayaan untuk alas tidurnya. Saya tidak tahu mengapa ia menangis begitu nyaring, tetapi ada satu hipotesis yang terlintas di otak saya.
Mungkinkah ia takut terpisah dengan saya seperti saat ia terpisah dengan ibunya?
Saya tidak tahu jawaban pastinya. Mungkin, menangis hanya cara Jane meminta saya untuk tetap berada di dekatnya. Namun, setiap kali mendengarnya, saya kembali diingatkan bahwa di balik kepiawaiannya menjelajah tajuk pohon, mencari pakan, dan memecahkan pengayaan, Jane tetaplah bayi orangutan yang masih membutuhkan rasa aman dan kasih sayang. Ia mungkin sedang belajar untuk mandiri, tetapi bukan berarti ia harus berhenti menjadi bayi. (FIQ)

KETIKA KARHUTLA MEMBATASI RUANG BELAJAR, RUANG INFORMASI BORA MEMBUKA RUANG BARU

Minggu sore, 6 September 2026, Ruang Informasi BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) ramai oleh aktivitas anak-anak. Sebanyak 40 anak dari RT 4 Kampung Tasuk, Berau, dengan rentang usia 5–13 tahun, datang untuk mengikuti edukasi singkat dan bermain bersama.
Ruang Informasi BORA sendiri baru saja diresmikan pada 18 Agustus 2026 lalu. Kehadirannya menjadi salah satu upaya untuk menyediakan ruang edukasi dan informasi bagi masyarakat sekitar, khususnya anak-anak, tentang orangutan dan upaya pelestariannya. Tidak lama setelah diresmikan, ruang ini kemudian dimanfaatkan sebagai tempat belajar dan bermain bagi anak-anak Kampung Tasuk yang juga terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Anak-anak di Kampung Tasuk sudah belajar dari rumah (BDR) sejak dua minggu lalu. Kondisi tersebut menjadi salah satu momentum untuk memaksimalkan fungsi Ruang Informasi BORA sebagai ruang edukasi dan aktivitas bagi anak-anak. Kegiatan diisi dengan pemberian materi edukasi tentang orangutan, pengenalan Ruang Informasi BORA, serta bermain bersama.
Kegiatan ini disambut baik oleh anak-anak dan orang tua. Antusiasme yang terlihat bahkan melebihi perkiraan awal, yang sebelumnya diperkirakan hanya sekitar 15 anak bersama orang tua. Selain itu, terdapat pula ajakan dari sekolah-sekolah sekitar untuk dapat kembali berkolaborasi dalam kegiatan edukasi orangutan, mulai dari PAUD, TK, hingga SD.
Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi pemantik bagi lebih banyak kegiatan lain di Ruang Informasi BORA. Terlebih, sebagai ruang yang baru diresmikan, masih banyak peluang untuk mengembangkan fungsi dan fasilitasnya sebagai ruang belajar dan bermain bagi anak-anak. Insight dari kegiatan ini juga dapat menjadi bahan untuk meningkatkan fasilitas Ruang Informasi BORA, seperti model, board game, maket, atau alat edukasi lainnya yang dapat ditampilkan untuk meningkatkan pengalaman pembelajaran. (RAR)

CHARLIE, SI KECIL YANG BANYAK BERUBAH

Ketika Charlie pertama kali datang, usianya baru sekitar 9 bulan. Saat itu, Charlie masih sangat kecil dan membutuhkan perhatian ekstra. Ia belum terbiasa dengan lingkungan barunya. Waktu tidur pun masih harus dijaga karena Charlie sering terbangun secara tiba-tiba, terlihat kaget, lalu menangis sambil mencari pelukan di sekitarnya.
Sebagai babysitter, salah satu tugasku adalah memastikan Charlie mendapatkan susu sesuai kebutuhannya. Setiap kali waktunya minum, aku menyiapkan susunya dan menemani Charlie sampai ia merasa tenang. Hari-hari pertama bersama Charlie cukup menguras kesabaran. Charlie lebih banyak tidur. Kalau bangun, ia bisa kembali mengantuk tidak lama kemudian. Charlie juga adalah orangutan yang cengeng. Kadang aku sampai berpikir, “Ini anak memang hobinya tidur dan nangis tiap hari ya?”.
Namun, waktu berjalan. Lima bulan berlalu. Charlie yang dulu masih sangat kecil ternyata mengalami banyak perubahan. Sekarang ia sudah jauh lebih berani. Bahkan, ia sudah berani memanjat pohon tinggi dari yang pernah aku bayangkan. Melihat Charlie berada di atas pohon membuatku kadang tidak percaya. “Charlie, sekarang kamu sudah berubah sejauh ini?”, batinku. Charlie hanya terus memanjat dengan tenang, seolah ketinggian bukan sesuatu yang perlu ditakuti.
Yang paling menarik, Charlie sekarang bukan tipe orangutan yang suka banyak merengek. Ia cenderung kalem dan pasrah. Kalau sedang bermain, ia bisa sibuk sendiri tanpa harus terus mencari perhatian. Tetapi ada satu hal yang sepertinya tidak banyak berubah. Charlie masih tidur siang dan kalo kelelahan forest school, Charlie kelihatan sangat mengantuk. Kalau sudah waktunya tidur, ia bisa benar-benar menikmati waktunya. Bangun tidur pun terkadang belum langsung bersemangat untuk beraktivitas.
Begitu juga dengan urusan makan. Charlie bisa makan lama sekali. Bukan karena ia tidak suka makan, tetapi giginya memang belum tumbuh lengkap. Jadi, proses makannya masih membutuhkan waktu dan kesabaran.
Di hari-harinya, Charlie juga punya seorang teman bernama Jane. Kalau melihat mereka berdua, rasanya seperti melihat dua karakter yang benar-benar berbeda. Jane adalah anak yang aktif banget. Ia suka bergerak ke sana kemari, penuh rasa ingin tahu, dan kalau soal makanan… Jane bisa dibilang rakus. Begitu melihat ada makanan, semangatnya langsung muncul.
Sementara Charlie? Charlie lebih santai. Ia kalem, tidak banyak merengek, dan lebih suka bermain sendiri. Kalau Jane sibuk menjelajah dan mencari makanan, Charlie bisa saja tetap duduk dengan tenang menikmati kegiatannya sendiri. Mereka benar-benar bertolak belakang.
Jane yang heboh dan penuh semangat.
Charlie yang kalem dan santai.
Namun, justru perbedaan itulah yang membuat keduanya menarik untuk diamati. Dari bayi kecil berusia sembilan bulan yang dulu sering terbangun kaget dan menangis, kini Charlie sudah tumbuh menjadi orangutan kecil yang jauh lebih berani. Ia memang masih suka tidur. Makannya juga masih lama. Dan sifatnya terkadang masih clingy. Tetapi sekarang ada satu hal yang jelas terlihat, Charlie sudah bukan bayi kecil yang dulu datang kepada kami. Ia sudah menjadi Charlie yang berani mengeksplorasi dunia dengan caranya sendiri. (LUK)

BETI’S JOURNEY: ONE YEAR AT BORA

I used to scan every bush at BORA, looking for this exact type of weed. I plucked every bit of this weed I could find from every bush, every patch of grass, every roadside. If I saw something that looked like it, I would stop and check. Just because Beti would eat it.

At that time, if Beti ate something, it felt like a victory. She would only eat water apples and oranges, or a piece of apple, or a piece of pear. Then she would just sit there, covering her body with sack for the entire day. Even sometimes she wouldn’t eat at all, she wouldn’t drink, clearly in pain. And sometimes, it felt like she resented us.

That was when I started questioning things. I thought about a thousand things we could have avoided, anticipated, or done differently during Beti’s translocation. I even had the terrible thought of if Beti had never come to BORA, she wouldn’t have been stressed. Maybe she wouldn’t refuse to eat for days.

I became very skeptical. Thinking about how humans are such an arrogant species. We decide what is best for another species. We decided Beti should no longer live as a pet. We decided she should be moved. We decided what she should eat. What kind of environment she should live in.

But did we really know what was best for Beti?

Because from Beti’s perspective, we had taken everything familiar away. Imagine if you had spent 24 years living in a village in Java, with that specific man. You were fed the same side dishes his family ate. You lived in a concrete-floored cage. Sometimes you were taken out to be played with, to be someone’s pet. You were fed only from noon. Neighboring children poked you, you became a spectacle for them when they getting fed by their mother. For 24 years. Until you became almost completely apathetic to stimulation.

Then suddenly, you were moved into a tiny transport crate. Suddenly, you were taken somewhere by car. Suddenly, you entered an extremely cold room, a plane, though Beti wouldn’t know it was a plane. Then came an almost 24-hour travel by land, noisy and dusty.

Suddenly, you were placed in a very large enclosure, but everything was made of bars. You trembled. Then the food changed. Fruit. Vegetables. Strange green things. They were green before too, but they had been cooked and seasoned.

Suddenly, people were poking you here and there. Your hair was shaved because you needed an ultrasound. You were suddenly being shot with blow darts because you needed antibiotics. The weather was unbearably hot. And then, after 24 years of seeing only human, you suddenly found creatures who looked like you. Wouldn’t you be stressed?

It took me months to see things differently.

Bringing Beti here did not immediately make her life better. For a while, it made everything harder. But BORA gave Beti something she never had before, options of second chances. Here, we can monitor her health, treat her when she is in pain, and make sure she gets the care she needs. She gets appropriate food, people who pay attention to what she eats, what she refuses, what makes her uncomfortable, and what makes her feel safe.

Slowly, she started to eat more. There are now so many things Beti can eat that sometimes it is hard to remember the days when I was desperately searching every bush for that one weed. She still has her chronic urinary tract infection (UTI), and she still needs to recover. She still loves her sack, and there are still days when she would rather hide under it than do anything else. But there is progress, even if it is slow enough that you sometimes have to stop and look for it.

Her journey is also so different from the babies and juveniles we rehabilitate here. When they arrive, they still have so much time ahead of them. They can go to Forest School, where they can learn to climb, swing, build nests, search for food, navigate the trees, and interact with other orangutans. Their rehabilitation happens step by step, and every new skill becomes part of the foundation they will eventually need to survive in the forest. They can spend years building the strength, confidence, and knowledge they need before they are released.

Beti cannot have that same journey. She is already an adult, and she is simply too large for the keepers to safely handle. She cannot go to Forest School and spend her days swinging through the trees, strengthening her hands and feet for the canopy. She cannot follow the same curriculum of learning that the younger orangutans do. The things they get to learn through experience, Beti has to learn in much smaller ways, from inside her cage.

So we bring a little bit of the forest to her instead. We give her jungle fruits and introduce her to foods that she might encounter in the jungle. It is not the same as learning to forage in the jungle itself. It will never replace what she missed during those 24 years.

That is what makes Beti’s progress so difficult to compare with the others. For a juvenile orangutan, climbing higher might be one step in a long journey toward the forest. For Beti, simply choosing to climb at all is already something significant. For a baby, learning to eat a new fruit might be part of a normal day at Forest School. For Beti, finding out that she likes a jungle fruit is a small window into a world she was never given the chance to know.

Looking back, I still think about all the things we could have done differently. I still wonder whether her transition could have been slower, whether we could have prepared her better, whether we could have anticipated some of the things that happened. I don’t think those questions will ever completely go away. But I do know I would still bring Beti to BORA all over again.

Beti’s progress may be slow, but I will celebrate every bit of it. And I have been celebrating them. I celebrated when she ate her very first sawi. I celebrated when she finally perched and made herself comfortable on her iron nest. I celebrated when she finally engaged with the enrichment we gave her, when she started to enjoy the jungle fruits we introduced to her, and every other small bit of progress in between. And I will keep on celebrating.

Happy world orangutan day and happy one year at BORA, sweet Beti!
(THA)

SISI LAIN ORANGUTAN BERNAMA MABEL

Dari arah lain di dalam hutan, Mabel sedang duduk santai di atas pohon sambil menikmati buah buni. Ia terlihat begitu asyik menjelajah dan mencari makanan sendiri. Sementara itu, aku berjalan lebih dulu menuju pohon tarap bersama Mba Fiqoh (animal keeper) yang membawa Cinta. Awalnya Mabel masih sibuk dengan buah buninya. Namun, ketika ia melihat aku berjalan semakin jauh meninggalkannya, tangannya berhenti bergerak. Mabel memperhatikan aku dari atas pohon. Dan aku terus berjalan.
Tiba-tiba terdengar suara kecil dari arah belakang. Mabel mulai merengek. Ia melihat aku lagi, lalu melihat sekelilingnya. Sepertinya ia tidak suka melihatku berjalan terlalu jauh darinya. Akhirnya, Mabel turun dari pohon. Ia meninggalkan buah buni yang tadi sedang dimakannya dan mulai berjalan cepat mengejarku. Begitu Mabel mendekat, Mba Fiqoh langsung memperhatikannya. Mba Fiqoh tertawa kecil lalu bertanya, “Kenapa Mabel? Tumben nangis?”.
Aku ikut tertawa melihat tingkah Mabel. “Ternyata dia bisa manja!”, jawabku.
Mba Fiqoh langsung tertawa. “Iya, biasanya paling nggak mau bermanja-manja.”
Aku melihat Mabel yang kini sudah memeluk kakiku. “Tadi ditinggal sedikit aja langsung turun dari pohon dan nyusul.”
Mba Fiqoh tertawa lagi.
“Berarti sebenarnya Mabel nggak mau jauh-jauh dari kamu.” kata mba fiqoh
Kami berdua pun tertawa bersama. Mabel seolah tidak peduli dengan percakapan kami. Ia hanya memastikan aku tetap berada di dekatnya. Lucu juga melihat Mabel hari itu. Biasanya ia adalah orangutan yang paling aktif menjelajah, berpindah dari satu pohon ke pohon lain, dan sibuk mencari makanan favoritnya seperti jengkol dan buah tarap. Tapi hari itu, Mabel menunjukkan sisi yang jarang terlihat. Ternyata, di balik sifatnya yang mandiri, Mabel juga bisa manja terutama ketika melihat orang yang ia percaya berjalan meninggalkannya. (LUK)

KETIKA JAINUL MENGAJARKAN ARTI MENJADI ORANGUTAN

Menjadi seorang animal keeper di pusat rehabilitasi orangutan bukanlah pekerjaan yang selalu dipenuhi momen manis bersama satwa yang menggemaskan. Di balik tingkah lucu dan ekspresi yang sering membuat orang tersenyum, ada proses panjang yang harus dilalui individual orangutan untuk kembali menjadi dirinya sendiri, yaitu satwa liar yang mandiri dan mampu bertahan hidup di hutan.

Sekolah hutan adalah salah satu proses itu, saya saksikan setiap hari. Di tempat inilah para orangutan belajar berbagai keterampilan yang akan mereka butuhkan di alam. Mereka belajar memanjat, mencari pakan, mengenali lingkungannya, hingga berinteraksi dengan sesama orangutan.

Interaksi tersebut tidak selalu berjalan tenang. Seringkali mereka bermain dengan cara yang bagi manusia terlihat kasar. Menjambak, menggigit, mencengkam, dan salting kejar adalah pemandangan yang lumrah terjadi. Namun di balik perilaku itu, terdapat proses belajar yang sangat penting. Mereka sedang mengasah kemampuan sosial, mengenali batasan, dan membangun karakter yang kelak membantu mereka bertahan hidup di alam liar.

Di antara banyak orangutan yang saya dampingi, ada satu individual yang cukup berkesan yaitu Jainul. Jainul adalah orangutan jantan remaja dengan energi yang seolah tidak pernah habis. Ia memiliki rasa percaya diri yang tinggi dans ering menunjukkan perilaku dominan terhadap lingkungan sekitarnya. Tidak jarang saya menjadi sasaran keisengannya. Serangan kecil, gigitan, tarikan tangan, hingga upaya mencengkeram merupakan hal yang cukup sering saya alami saat mendampinginya.

Tentu saja, sebagai manusia, ada kalanya saya merasa resah. Tidak nyaman ketika harus selalu waspada terhadap tingkah Jainul yang sulit ditebak. Ada hari-hari ketika saya pulang dengan lengan penuh bekas cakaran atau kaki penuh bekas gigitan dan tubuh yang lelah karena harus menghindari ulahnya.

Namun seiring waktu, saya mulai melihat perilaku Jainul dari sudut pandang yang berbeda.

Apa yang ditunjukkannya bukanlah kebencian ataupun kenakalan semata. Sebagai orangutan jantan yang sedang berankaj dewasa, Jainul sedang menunjukkan sifat-sifat alami yang memang seharusnya dimiliki orangutan liar. Ia belajar menjadi individu yang kuat, berani, dan mampu mempertahankan dirinya. Sikap agresif yang kadang membuat saya kewalahan justru menjadi tanda bahwa insting liarnya masih ada. Dan bukankah itu tujuan utama rehabilitasi?

Kami tidak sedang membesarkan hewan peliharaan yang jinak terhadap manusia. Kami sedang mempersiapkan satwa liar agar suatu hari nanti mereka tidak lagi bergantung pada manusia. Karena itulah, setiap kali Jainul mencoba menguji kesabaran saya, ada perasaan yang bertolak belakang dalam diri saya. Di satu sisi, saya merasa was-was dan lelah menghadapi agresivitasnya. Namun di sisi lain, saya merasa senang. Senang karena melihat orangutan yang masih memiliki karakter alaminya. Senang karena ia menunjukkan perkembangan yang dibutuhkan untuk hidup bebas di hutan.

Jainul mengingatkan saya bahwa keberhasilan rehabilitasi tidak selalu terlihat dalam bentuk orangutan yang patuh atau mudah diatur. Namun keberhasilan justru terlihat dari individu yang berani, mandiri, dan cukup “merepotkan” bagi keeper-nya.

Mungkin suatu hari nanti Jainul akan hidup di hutan yang sesungguhnya, jauh dari pagar kandang dan pengawasan manusia. Ketika hari itu tiba, bekas gigitan, cakaran, dan semua keresahan yang pernah saya rasakan akan menjadi bagian kecil dari sebuah cerita yang lebih besar yaitu cerita tentang individu yang berhasil kembali menjadi orangutan sepenuhnya. Dan bagi saya, seorang animal keeper, tidak ada hadiah yang lebih berharga daripada itu. (BOW)