BERSAMA CHARLIE MENUJU TAHUN KE-20 COP

Centre for Orangutan Protection (COP) sedang mensyukuri perjalanannya setelah 19 tahun berjuang di dunia konservasi orangutan. Bersama dengan itu, datang harapan kelestarian satwa endemik Borneo satu ini ke Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) dalam raga bayi orangutan tanpa induk. Bayi orangutan berusia kurang dari satu tahun ini datang dengan kondisi suhu tubuh yang naik turun dan nasibnya yang kurang beruntung terpisah dari induk. Syukurnya, ia dapat tiba di klinik BORA untuk meraih kesempatan hidup yang jauh lebih baik dengan dukungan tim medis dan perawat satwa. Charlie, begitu kami memanggil namanya hingga sekarang.

Charlie mudah dikenali dengan fitur wajahnya yang ikonik. Matanya besar dan akan lebih besar saat antusias, gitu pula dengan kedua gigi susu depannya yang kuat membentuk kapak. Tidak mudah bagi Charlie untuk berada di tempat baru meski sebelumnya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Ia tidak bergantung pada manusia, namun bayi orangutan, Charlie mulai gelisah saat perawatnya bergeser sedikit lebih jauh. Genggamannya kuat, tekadnya lebih kuat. Charlie punya banyak pertumbuhan yang pesat hanya dalam satu bulan masa rehabilitasinya yang masih dalam masa karantina.

Salah satu orang yang paling tahu mengenai perkembangan Charlie di BORA adalah perawat satwa Luluk. Luluk adalah staf lokal yang rumahnya berada paling dekat dengan kantor, ia sudah menjadi perawat satwa di BORA selama 8 bulan. Menurut Luluk, merawat bayi orangutan Charlie menjadi pengalaman yang berbeda karena ini pertama kalinya Luluk menemani sejak awal Charlie bayi datang ke BORA. Luluk sangat suka bercerita di sela jadwal tugasnya, tentang setiap kegiatan Charlie pada semua orang yang ia temui.

“Charlie sudah mau bobo sendiri malam ini sambil peluk boneka sapi!”, lapor perawat satwa Luluk di hari ke-2 Charlie di BORA. Charlie mendapatkan perawatan intensif dikarenakan usianya yang masih sangat kecil dan kondisi tubuhnya yang belum stabil karena demam. Perawatan dilakukan selama 24 jam penuh setiap harinya. Asupan pakannya yang hanya bersumber dari susu juga lebih sering diberikan dibanding jadwal pemberian susu bayi orangutan lainnya yang lebih besar. Bersamaan dengan itu, ikatan relasi Charlie dengan perawat satwa Luluk semakin kuat.

Hampir satu bulan di BORA, Charlie sudah mengeksplorasi banyak hal. Ia sudah mulai mencoba pakan seperti pisang, jambu air, pepaya, jambu biji, belimbing, dedaunan, bunga-bungan, dan makanan favoritnya yaitu bunga belimbing. Sepanjang malam, Charlie juga sudah tidur di keranjangnya sendiri, lepas dari perawat satwa yang bertugas. Beberapa hari terakhir, Charlie menunjukkan perkembangan fisik dan perilaku yang signifikan. Charlie sesekali masih demam yang selanjutnya ditemukan tim medis bahwa giginya akan tumbuh. Perilaku Charlie masih sama manjanya, namun saat ini setelah ia punya mainan atau sedang asyik makan, perawat satwa bisa meninggalkan ia sendirian sesaat. Perilaku ini menunjukkan lepas ketergantungan pada manusia yang berkurang dengan harapan tak berlebihan nantinya.

Saat tulisan ini dibuat, Charlie masih menjalani masa karantina. Semua staf BORA masih bergiliran menemani Charlie bertumbuh sepanjang hari, sepanjang malam tanpa henti. Charlie bukan hanya satu bayi orangutan yang diselamatkan, namun ia hadir sebagai harapan baru untuk eksistensialis orangutan yang lebih panjang. “Aku senang Charlie udah banyak berkembang dan ga rewel lagi. Dia juga cepat sekali beradaptasi. Anak ini pintar”, jawab Luluk jika ditanya kondisi Charlie. (RRA)

TUMBUH MANDIRI DALAM EKSPLORASI DAN PERMAINAN

Arto terus menunjukkan karakter mandiri yang semakin kuat dalam kesehariannya di sekolah hutan. Ia kerap menghabiskan waktu bermain sendiri, baik di tanah maupun di akar-akar gantung yang rendah, dengan gaya eksplorasi yang aktif dan penuh rasa ingin tahu. Perilaku seperti berguling di tanah, berayun di tali, hingga menjatuhkan diri dari batang rendah menjadi bagian dari cara Arto melatih koordinasi tubuhnya.

Dalam hal eksplorasi pakan alami, Arto mulai menunjukkan perkembangan yang konsisten. Ia terlihat aktif mencari dan mencoba berbagai sumber makan seperti buah mentah, kambium, daun tua, hingga bunga. Ketertarikannya terhadap lingkungan juga tampak saat ia menjelajah semak-semak atau memperhatikan aktivitas orangutan lain, meskipun interaksi sosialnya masih tergolong terbatas dan cenderung independen.

Meski lebih sering bermain sendiri, Arto tetap menunjukkan sisi sosialnya dengan cara yang khas. Ia beberapa kali menghampiri anima keeper, baik untuk meminta makanan maupun mengajak bermain dengan cara menggigit ringan atau berinteraksi secara fisik. Di waktu lain, Arto juga terlihat mengikuti pergerakan orangutan lain dipohon, meskipun tidak selalu terlibat langsung dalam permainan bersama.

Secara keseluruhan, kondisi Arto stabil dengan pola feses yang normal. Perkembangannya saat ini menunjukkan keseimbangan antara eksplorasi lingkungan, pembelajaran pakan alami, serta pembentukan karakter mandiri dalam fase rehabilitasi bulan ini. (RAF)

SELANGKAH LAGI MENUJU KEBEBASAN UNTUK ORANGUTAN BAGUS

Saya masih ingat saat pertama kali bertemu orangutan bernama Bagus, tepat hari pertama saya bekerja sebagai animal keeper di Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA). Saya biasanya dipanggil Fiqoh. Seperti orang awam pada umumnya, saya belum terbiasa bersinggungan langsung dengan orangutan, sehingga saya masih sangat waspada jika ada orangutan yang mendekat ke arah saya. Saya memang alumni kehutanan, tetapi aktif di Kelompok Pemerhati herpetofauna membuat saya lebih familiar dengan katak dan ular alih-alih mamalia berambut seperti orangutan.

Ketika itu, saya duduk di tanah, melihat ke atas pepohonan untuk mengamati orangutan Felix yang sedang menjelajah area sekolah hutan dari ranting ke ranting. Atensi saya buyar saat merasa rambut-rambut menyentuh kulit wajah saya. Saya menoleh dan mendapati wajah besar orangutan yang sedang menatap saya dengan jarak hampir sejengkal dari wajah saya. Kaget, saya pun memekik kecil sambil menggeser tubuh.

“Mau kenalan itu, Bagus”, ujar Bang Linau, salah satu animal keeper mendekat sambil mencoba menjauhkan Bagus dari saya.

Saat jarak antara saya dan Bagus sudah lebih jauh, barulah saya dapat melihat perawakan Bagus yang sangat besar (baru-baru ini saya mengetahui panjang total tubuhnya 180 cm, tentunya jauh lebih panjang dari tinggi saya saat ini). Wajahnya bulat, terlihat sangar. Rambutnya yang menutupi tubuhnya cukup panjang dan membuatnya terlihat lebih besar.

Mungkin, sekitar dua minggu setelah saya mulai terbiasa dengan orangutan, saya baru berani membawa Bagus untuk sekolah hutan. Lucunya, Bagus dengan badannya yang besar itu, menolak untuk dituntun menuju area sekolah hutan. Saya harus menggendong badannya di punggung setiap pergi dan pulang sekolah, cukup membuat punggung saya pegal dengan peluh membanjiri wajah dan tubuh saya. Ah, seperti inilah rasanya membawa carrier saat praktik lapangan ketika kuliah dulu, batin saya.

Selama sekolah hutan, saya mengamati perilaku Bagus yang menurut saya menarik dan lucu. Saya dan Bagus pernah pulang telat karena Bagus asik duduk di pohon rambutan, memakan buah-buahnya yang merah menggoda. Desember memang musim rambutan. Sementara saya hanya duduk di bawahnya sambil menunggu Bagus bosan dengan buah manis itu yang sudah ia makan bertangkai-taksi. Hampir satu jam kami di sana, barulah Bagus mau mengikuti saya untuk turun dan kembali pulang dengan iming-iming air madu yang saya bawa tentunya.

Bagus pernah membuat khawatir semua orang di BORA karena ia tidak menghabiskan pakannya di kandang selama beberapa hari. Namun selama sekolah hutan, kami mengamati Bagus tampak ceria seperti biasanya. Masih aktif bermain dengan orangutan yang lain, masih semangat untuk menjelajah dan memakan buah tarap dan rambutan yang masih memenuhi area sekolah hutan. Lalu akhirnya kami memutuskan bahwa sepertinya Bagus hanya bosan dengan pakan yang disediakan oleh kami.

Terakhir saya membawa Bagus dengan agak kewalahan. Bagus tidak mau kembali ke kandang, dia terlihat sangat nyaman di sekolah hutan, ia dapat menjelajah dan berpindah dari dahan ke dahan, mencari makan sesuka hati, dan bermain dengan pengayaan alam yang tersedia. Saya membiarkan Bagus bermain di atas tandon air yang rusak, berguling-guling hingga tandon air itu penyok karena dihimpit tubuhnya.

Hampir enam tahun yang lalu Bagus memulai rehabilitasinya di BORA. Saat itu umurnya baru sekitar 3 tahunan, diselamatkan sebagai satwa yang dipelihara secara ilegal oleh masyarakat. Bagus mulai menjalani sekolah hutan sehari-harinya untuk belajar sebelum menjelajah di hutan yang sebenarnya. Wajah garang dan tubuh besarnya saat ini menandakan pertumbuhannya yang cukup signifikan.

Bagus adalah salah satu kandidat rilis yang kini telah dipindahkan ke pulau pra-pelepasliaran untuk belajar bertahan hidup sebelum dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Saya memang baru bertemu dengan Bagus dua bulan. Namun, dua bulan bukan juga waktu yang singkat untuk saya dapat belajar mengenal perilakunya. Meskipun dua bulan saya di BORA juga tidak sebanding dengan enam tahun waktu yang Bagus habiskan di BORA.

Saya bangga dengan perjuanganmu, Bagus. Selamat menuju kebebasanmu sebentar lagi! Saya berharap kamu tetap lestari hingga anak cucumu yang semoga tidak akan menjalani kisah yang sama sepertimu. (FIQ)

PULIH, AKTIF, DAN SEMAKIN PERCAYA DIRI

Harapi menunjukkan perkembangan yang cukup dinamis, baik dari sisi kesehatan maupun perilaku. Setelah sempat mengalami demam di awal bulan, kondisinya kini telah pulih dan terlihat kembali aktif mengikuti kegiatan sekolah hutan. Nafsu makannya tetap baik, dan ia mulai kembali menunjukkan energi serta rasa ingin tahu terhadap lingkungan sekitarnya.

Selama kilatan sekolah hutan, Harapi lebih banyak beraktivitas di tanah. Ia gemar bermain sendiri maupun bersama orangutan lain seperti Arto, Jainul, dan Ochre. Aktivitasnya mencakup eksplorasi berbagai sumber pakan alami di tanah, seperti buah jatuh, bunga, hingga sarang rayap. Sesekali, Harapi juga memanjat pohon untuk mencari kambium, meskipun durasinya masih relatif singkat.

Interaksi sosial Harapi cukup menonjol, meskipun ia masih sangat bergantung pada keberadaan babysitter maupun animal keeper. Ia kerap menghampiri mereka untuk meminta makanan atau perhatian, bahkan beberapa kali mencoba mencuri pakan dari tas animal keeper. Dalam beberapa kesempatan, Harapi juga terlihat bermain dengan individu lain, menunjukkan peningkatan dalam kemampuan bersosialisasi.

Dengan kondisi feses yang konsisten normal, Harapi saat ini berada dalam fase penting meningkatkan kemandirian, terutama dalam mengurangi ketergantungan terhadap manusia. Proses ini terus dilatih secara bertahap sepanjang bulan ini agar ia semakin percaya diri dalam mengeksplorasi hutan dan membangun keterampilan alaminya. (RAF)

BELAJAR PERCAYA DI TENGAH PROSES ADAPTASI

Perjalanan Felix selama periode ini menunjukkan kombinasi antara perkembangan dan tantangan adaptasi. Secara kesehatan, kondisi Felix telah membaik setelah sempat mengalami gejala pilek di awal bulan. Saat ini, ia sudah kembali aktif mengikuti sekolah hutan, meskipun dalam beberapa kesempatan masih menunjukkan keraguan untuk keluar dari kandang.

Dalam aktivitas di sekolah hutan, Felix cukup sering beraktivitas di atas pohon, terutama saat merasa nyaman. Ia terlihat aktif mencari makan, mengonsumsi buah mentah, kambium, dan bagian tumbuhan lainnya. Bersama Pansy, Felix juga kerap melakukan aktivitas bersama, seperti berpindah dari pohon ke pohon dan megeksplorasi area hutan, menunjukkan adanya ikatan sosial yang cukup kuat.

Namun, Felix masih menunjukkan sensitivitas terhadap kehadiran manusia tertentu, khususnya animal keeper laki-laki. Hal ini terkadang membuatnya enggan keluar kandang atau ingin kembali lebih cepat saat sesi sekolah hutan berlangsung. Ia juga cenderung mengikuti pergerakan babysitter sebagai bentuk rasa aman, yang menjadi bagian penting dalam proses adaptasinya.

Meski demikian, Felix tetap menunjukkan potensi yang baik dalam pembelajaran keterampilan alami. Dengan kondisi fisik yang stabil dan pola fese normal, fokus selama periode ini adalah membangun rasa percaya diri dan kemandirian, sehingga ia dapat lebih konsisten dalam mengikuti kegiatan sekolah hutan. (RAF)

LEVEL UP: BAGUS GOES TO BAWAN ISLAND

Setelah bertahun-tahun menjalani program rehabilitasi dan menjadi murid sekolah hutan di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Bagus, individu orangutan betina yang pernah menjadi peliharaan ilegal dan sangat dekat dengan manusia, akhirnya naik level dengan pindah ke pulau pra-pelepasliaran di pulau Bawan. Kini Bagus semakin siap untuk kembali ke alam liar.

Di hari-hari pertamanya di pulau, Bagus tampak aktif mengekspor area hulu hingga tengah pulau, asyik memanjat dan bergelantungan di pepohonan rimbun, serta mencari pakan alami. Di sela-sela eksplorasinya, Bagus sesekali terlihat diam, seolah sedang merenung.
“Dia pasti kesepian dan bingung. Mungkin dia berpikir, Ini aku lagi sekolah hutan, tapi koq gak ada teman-teman yang lain” Koq gak ada yang panggil-panggil lagi untuk pulang ke kandang?”, ujar Ara, biologis COP yang ditugaskan untuk mengamati perkembangan Bagus selama minggu pertamanya di pulau.

Terkenal dengan sifatnya yang manja, saat tim monitoring datang untuk memberi pakan harian, Bagus buru-buru mendekat sambil mengeluarkan suara merengek, “I… i… i…”, sebagai tanda indin dipwluk dan digendong. Namun tim segera menjaga jarak agar Bagus belajar untuk lebih mandiri. Di hari-hari berikutnya, Bagus mulai mengerti dan tidak lagi mendekat sambil merengek.

Sempat diterpa hujan deras, Bagus tampak belum mampu memilih tempat untuk berteduh. Begitu pula ketika malam tiba, Bagus memilih tidur sambil memeluk batang pohon tanpa membuat sarang.

“Bagus tidurnya kayak panda.”, kata Ara.

Kemampuan membuat sarang merupakan salah satu indikator penting kesiapan individual orangutan untuk dilepasliarkan. Dilihat dari kebiasaan Bagus selama di BORA, Bagus sebenarnya cukup terampil membuat sarang, hanya saja ia melakukannya di tanah dan di lantai kandang, bukan di atas pohon.

“Gak apa-apa, nanti juga Bagus pelan-pelan belajar buat sarang di atas pohon”, sahut Amir, animal keeper yang telah mengenal Bagus sedari masuk BORA. Dia optimis, jika kini Bagus tidur tanpa sarang, jika saatnya perlu membuat sarang, Bagus tentu akan melakukannya.

Bagus masih memiliki waktu untuk terus mengasah keterampilan dan kemampuannya dalam bertahan hidup. Pelan tapi pasti, kami percaya Bagus akan berproses dan menunjukkan bahwa ia siap kembali ke habitat aslinya. And when the time comes, she will truly be the young, wild, and free orangutan she was meant to be! (SIN)

KETIKA TANGAN-TANGAN PENYEMBUH MENANAM AKAR-AKAR KEHIDUPAN

Matahari siang di Berau menggantung terik di atas kanopi, memerangkap udara lembap yang terasa berat di kulit. Keringat mengalir lebih cepat daripada angin yang berembus pelan dari tepi hutan. Di tengah panas yang menyengat itu, tim medis pusat rehabilitasi orangutan Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA), yang dikelola oleh Centre for Orangutan Protection (COP) di Berau, Kalimantan Timur, untuk sementara meninggalkan ruang klinik mereka. Terdiri dari dua dokter hewan, Rengga dan Atalla, serta Tata, paramedis satwa, siang itu mereka tak lagi berdiri di balik meja periksa, melainkan ikut berlutut di atas tanah dalam kegiatan rutin bertajuk “Jumat Menanam”.

Biasanya, tangan-tangan itu menggenggam stetoskop, menyuntikkan obat, atau memeriksa denyut nadi orangutan yang tengah dipulihkan. Namun kali ini yang mereka bawa adalah dodos untuk melubangi tanah, ember untuk membawa air, dan bibit pohon yang akarnya masih terbungkus polybag. Seragam medis yang identik dengan aroma antiseptik kini bermain di tanah, menyatu dengan lanskap kawasan yang kelak menjadi ruang belajar bagi bayi-bayi orangutan yang mereka rawat.

Di BORA, pelestarian lingkungan tidak dibatasi oleh jabatan atau latar belakang pendidikan. “Jumat Menanam” mempertemukan seluruh staf, mulai dari dokter hewan, animal keeper, tim development, hingga manajemen, dalam satu tujuan yang sama: meningkatkan kualitas ekosistem di dalam kawasan BORA. Semangat gotong royong yang diusung COP menemukan wujud konkretnya pada kegiatan ini. Setiap individu, apa pun jabatannya, turut mengambil bagian yang sama dalam kegiatan penanaman pohon.

Bagi tim medis, menanam pohon menjadi pengalaman bentuk lain dari penyembuhan. Jika di klinik mereka merawat tubuh yang terluka, di sini mereka menyiapkan masa depan yang lebih utuh. Bibit-bibit pohon yang mereka tanam hari itu akan tumbuh menjadi penopang kehidupan, bagi orangutan di BORA, satwa liar lain, manusia yang tinggal di sekitarnya, hingga berbagai bentuk kehidupan yang lebih luas lagi. Di bawah terik Berau yang tak kenal ampun, akar-akar kecil itu ditanam bukan sekadar ke dalam tanah, melainkan ke dalam harapan: bahwa konservasi adalah kerja bersama, dan setiap tangan memiliki peran dalam menjaga agar bumi ini tetap mampu menopang banyak kehidupan. (RAF)

HARAPI, SI MATA KECIL

Pertama kali mengenal Harapi pada tanggal 4 Juli 2025, saat hari pertama ku bekerja di Pusat Rehabilitasi Orangutan dan menggendongnya, “ternyata orangutan sebau ini”. Saat itu, Harapi masih takut untuk memulai sekolah hutannya, ia tidak ingin bersosialisasi dengan orangutan lainnya, hanya diam sembari memeluk diriku hingga baby sitter Janet membantuku untuk membujuk Harapi agar mau bersosialisasi dengan orangutan lainnya tetapi tidak berhasil. Akhirnya Harapi hanya diam di belakang badanku, bersembunyi sembari mengamati orangutan lainnya hingga jam sekolah hutan berakhir.

Hobi Harapi alah makan dan makan, bahkan ketika kehadirannya di sekolah hutan hanya sekedar absen dan disi dengan aktivitas makan. Suatu hari, Harapi tidak mengikuti sekolah hutan karena ia teramati sedang tidak enak badan bahkan si hobi makan ini teramati hanya memakan sedikit saja jatahnya.

Dokter Tyta: Nop, Harapi kasih makan kesukaannya aja dulu, supaya dia mau makan, gak usah sekolah dulu ya.

Nopi: Oke dok.

Setelah menjawab perintah dokter Tyta, aku menceritakannya dengan mba Rara. Mba Rara memberitahuku apa saja makanan kesukaan Harapi.

Nopi: Dok, ini Harapi udah mau makan lagi dan juga selit-sedikit mau beraktivitas seperti biasa dok.

Dokter Tyta: Syukurlah kalau dia mau makan, makasih ya Nop.

Terdengar suara celutukan dengan nada candaan.

Mba Indah: Aahhh pura-pura aja Harapi itu gak mau makan, biar gak sekolah hutan.

Nopi: Iya, kayaknya dia bohong biar bolos sekolah.

Di hari itu, Harapi tidak sekolah hutan dan menghabiskannya dengan makan-tidur untuk mengistirahatkan badannya hingga jam makan siang datang.

Harapi mempunyai teman yang aku sebut dengan sahabat kandang yaitu Arto. Harapi yang tingkahnya selalu lemot atau lamban menjadikan makanannya selalu diambil oleh Arto. Sementara respon Harapi hanya cuek dan tidak berusaha melawan atau menghindar dari Arto. Arto yang kebiasaannya makan dengan cepat dan terburu-buru selalu mempunyai cara untuk merebut makanan Harapi. Dari kebiasaan Arto, kami para baby sitter selalu mengajarkan Harapi agar pelit dan harus bisa mempertahankan haknya. “Ayo Harapi, pertahankan yang sudah jadi milikmu dan yang baik untukmu, jangan berdiam diri karena hakmu diambil atau dirampas orang lain!”. (NOP)

MERAWAT SETIAP LANGKAH ORANGUTAN AMAN

Aman sudah bersama kami sejak Juni 2020. Ia tiba di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) dalam kondisi yang membuat dada terasa sesak hanya dengan melihatnya. Cara jalannya aneh dan pelas, seolah setiap langkah harus dipikirkan lebih dulu. Beberapa jemari tangannya sudah teramputasi, meninggalkan bentuk yang tidak utuh pada tangannya. Tidak ada yang tahu pasti apa yang ia lalui sebelum tiba di sini. Luka-luka di tubuhnya menjadi satu-satunya petunjuk tentang masa lalunya.

Saat dilakukan pemeriksaan menyeluruh menggunakan rontgen, kami menemukan masalah yang selama ini ia simpan dalam diam. Pinggulnya tidak normal. Kepala tulang pahanya tidak terbentuk sebagaimana mestinya, sehingga pertautan antara panggul dan paha hampir pasti menimbulkan nyeri setiap kali ia bergerak. Dengan jari tangan yang tidak utuh dan kaki yang juga bermasalah, pergerakan Aman menjadi lambat dan tertatih. Ia sering berhenti sejenak, mungkin karena lelah, mungkin karena rasa sakit yang datang tiba-tiba.

Kini Aman beranjak menjadi orangutan jantan berusia sekitar 12 tahun. Rehabilitasi Aman tidak hanya berfokus pada penguasaan keterampilan bertahan hidup di alam, seperti memanjat, mengenali pakan, dan membuat sarang. Lebih dari itu, rehabilitasi juga bertujuan memastikan kondisi yang Aman alami tidak semakin parah, serta terus mengupayakan kesembuhannya. Setiap langkah perawatan dibuat dengan mempertimbangkan kualitas hidup Aman, baik saat ini maupun di masa depan.

Untuk mengurangi nyeri, selain terapi obat, kami menyesuaikan banyak aspek perawatannya. Pakan yang diberikan merupakan pakan pilihan yang mendukung regenerasi jaringan, tinggi kolagen, serta mengandung vitamin dan mineral tertentu. Kami juga berusaha memberikan rimpang herbal yang dapat membantu pemulihan tubuhnya.

Selama sekolah hutan, pergerakan Aman diamati secara khusus. Setiap hari kami mengumpulkan rekaman video saat Aman memanjat, berjalan, berayun, menggulingkan diri, hingga cara ia duduk dan berapa lama ia mampu mempertahankan posisi tersebut. Video-video ini kemudian dikonsultasikan dengan ahli biolokomosi agar setiap perubahan kecil pada pola geraknya dapat dipahami dan ditangani dengan tepat.

Kadang istirahat Aman pun dibuat lebih khusus. Tali-temali ditambahkan lebih banyak untuk memudahkannya bergerak dan memberi ruang agar ia tetap aktif tanpa harus memaksakan tubuhnya. Aman tumbuh dengan keterbatasan yang tidak ia pilih. Setiap langkah kecil yang ia ambil menunjukkan keteguhan yang luar biasa. Di BORA, kami berusaha memastikan langkah-langkah itu terasa lebih ringan, lebih aman, dan penuh harapan. (THA)

AMAN SUDAH AMAN

Sudah seminggu Aman menjalani perawatan medis. Kali ini, bukan masalah tulang dan persendian seperti biasanya. Tubuhnya lemas, perutnya menggembung dan bersuara “dungg.. dungg”, menandakan adanya gangguan pada sistem pencernaannya.

Tim medis BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) dibantu para animal keeper, bergantian merawat Aman. Dari pagi hingga pagi berikutnya, Aman tidak lepas dari pengawasan tim medis dan animal keeper. Perlahan, kondisinya mulai membaik. Hingga pada hari ke-8, Aman kembali ke lokasi sekolah hutan, meskipun waktu dan interaksi sosialnya dengan orangutan lain masih dibatasi. Pembatan ini dilakukan untuk menghindari benturan yang tidak diinginkan, seperti saat bergulat dengan orangutan lain.

Pada awal kembali mengikuti sekolah hutan, Aman masih terlihat lemas. Lokomosi dilakukannya dengan perlahan. Sesekali, ia terdiam dan mengejan untuk defekasi serta urinasi. Meski demikian, semangat untuk pulih tetap terlihat. Pada hari berikutnya, Aman mulai memanjat pohon dan menemukan buah untuk dimakan.

Pagi selanjutnya, Aman kembali mengikuti sekolah hutan pada jam dan lokasi yang telah ditentukan. Tidak lebih dari lima menit, Aman sudah memanjat. Meskipun pergerakannya tidak selincah orangutan lain, Aman mampu memilih ranting yang paling mudah dijangkau tubuhnya. Hal ini terlihat dari caranya berhenti sejenak dan mengamati sebelum berpindah.

“Senang bawa Aman sekarang, dia di atas pohon terus. Kalau ada temannya, mana mau dia memanjat begini, pasti sibuk bergulat. Kalau bergulat sih tidak jadi masalah. Tapi kalau pelan-pelan berjalan ke kandang atau mengganggu animal keeper perempuan, itu yang bikin capek”, ujar Steven, animal keeper yang membawa Aman sekolah hutan pagi ini.

Pembatasan interaksi sosial dengan orangutan lain justru membuat aktivitas Aman di atas pohon meningkat. Ia juga aktif mencari dan mengonsumsi pakan. Seolah melupakan kondisi lemahnya beberapa hari sebelumnya, Aman menunjukkan kebugaran yang berbeda hari ini. Teramati beberapa kali ia berpindah pohon dan akhirnya berhenti di pohon Artocarpus sp. Untuk memakan buah ranum. Hingga namanya berkali-kali dipanggil, menamakan waktu sekolah hutan telah usai.

“Dua sampai tiga hari lagi obatnya habis. Kalau tidak terlihat keluhan lain, Aman bisa diikutkan sekolah hutan normal seperti biasanya”, ujar Wardiman, dokter hewan BORA, setelah mengetahui alasan keterlambatan Aman pulang.

Baru kali ini, keterlibatan pulang ke kandang membuat kami gembira. (ARA)