MENANAMKAN CINTA HUTAN SEJAK DINI: COP DAN BBKSDA SUMUT AJAK PELAJAR PAKPAK BHARAT MENGENAL ORANGUTAN

Menjaga hutan tidak hanya dilakukan melalui patroli atau penyelamatan satwa liar. Upaya konservasi juga dimulai dari ruang-ruang kelas, ketika anak-anak mulai mengenal alam dan memahami mengapa hutan harus tetap lestari. Semangat itulah yang dibawa Centre for Orangutan Protection (COP) bersama Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah I dalam kegiatan school visit yang dilaksanakan di SMP Negeri 1 Pergetteng Sengkut dan SD Negeri 030414 Kecupak, Kecamatan Pergetteng Genteng Sengkut, Kabupaten Pakpak Bharat. Kegiatan ini diikuti oleh 51 siswa perwakilan kelas I, II, dan III SMP serta 36 siswa kelas V dan VI SD.

Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh pihak sekolah yang dilanjutkan dengan sambutan dari BBKSDA Sumut. Selanjutnya, para siswa diajak mengenal lebih dekat pentingnya kawasan hutan konservasi sebagai rumah bagi berbagai satwa liar yang dilindungi. Melalui penyampaian materi yang interaktif, siswa diperkenalkan pada keanekaragaman hayati Sumatra serta peran setiap individu dalam menjaga kelestariannya.

Sesi berikutnya dipandu oleh tim COP, siswa diajak mengenal jenis-jenis orangutan di Indonesia, habitat alaminya, perilaku unik yang dimilik, hingga berbagai ancaman yang menyebabkan populasinya terus mengalami tekanan, seperti hilangnya habitat, konflik dengan manusia, dan perburuan ilegal. Suasana belajar semakin hidup ketika sesi tanya jawab dimulai. Banyak siswa dengan antusias mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan maupun membagikan pengetahuan yang mereka miliki. Rasa ingin tahu mereka juga semakin besar saat disuguhkan video mengenai Sekolah Hutan Orangutan, sebuah program rehabilitasi yang membantu orangutan belajar kembali berbagai keterampilan alami sebelum suatu hari dilepasliarkan ke habitatnya.

Unfug mengetahui sejauh mana materi dipahami, para siswa kemudian mengikuti kuis sederhana yang berisi pertanyaan seputar konservasi hutan dan orangutan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana evaluasi, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan. Sebagai bentuk dukungan terhadap pendidikan lingkungan di sekolah, COP dan BBKSDA Sumut turut menyerahkan poster berbagai satwa liar dilindungi di Sumatra Utara yang diharapkan dapat menjadi media pembelajaran bagi guru dan siswa.

Melalui kegiatan School Visit ini, COP percaya bahwa konservasi tidak hanya berbicara tentang menyelamatkan satwa hari ini, tetapi juga membangun generasi yang peduli terhadap alam di masa depan. Setiap pengetahuan yang dibagikan, setiap pertanyaan yang dijawab, dan setiap rasa ingin tahu yang tumbuh di dalam diri para siswa merupakan langkah kecil menuju masa depan dimana hutan tetap lestari dan orangutan dapat terus hidup bebas di habitat alaminya. Karena pada akhirnya, melindungi orangutan tidak hanya menjadi tanggung jawab para pegiat konservasi, tetapi juga seluruh generasi penerus yang akan mewarisi hutan Indonesia. (PUT)

SEMERBAK BUNGA PUSPA DI SIRANGGAS

Pada akhir Mei lalu, lingkungan hutan suaka margasatwa Siranggas lebih hangat dari pada sebelumnya. Intensitas cahaya matahari dan suhu udara mulai meningkat, frekuensi hujan dan kelembapan udara pun menurun. Aktivitas pagi dapat dimulai dengan cuaca yang cerah dan malam hari ditutup dengan gerimis ringan yang sejuk. Transisi musim ini diiringi dengan pohon puspa (Schima wallichii) yang mulai berbunga.

Bunga puspa memiliki 5 mahkota warna putih, banyak benang sari warna kuning, dan aroma harum manis yang memikat. Bunganya terlihat mencolok di antara dedaunan kanopi maupun serasah lantai hutan. Di area camp Siranggas ada 3 pohon puspa yang lokasinya berjauhan. Satu di sekitar gudang pakan, satu lagi di samping enclosure orangutan, dan satu lagi di area sekolah hutan. Ketiganya berupa tegakan pohon dengan diameter batang mulai dari 20 cm dan tinggi lebih dari 12 cm. Uniknya, terdapat variasi pada periode dimulainya pembungaan hingga morfologi dan jumlah bunga.

Pohon puspa samping kandang berbunga lebih awal, diikuti dengan dua individu lain yang mulai berbunga di awal Juni. Nampaknya, faktor lingkungan menjadi stimulus dari pembungaan ini. Mikroklimat setiap pohon puspa bervariasi, mulai dari paparan sinar matahari yang di dapat, posisi tajuk di lapisan kanopi, hingga kompetisi nutrisi di tanah dengan pohon lain. Kondisi ini memengaruhi fisiologis dan morfogenesis yang berkaitan dengan pembungaan seperti pembelahan sel dan produksi fitohormon.

Pohon samping enclosure orangutan memiliki bunga dengan ukuran besar dan jumlah banyak. Tingginya paparan cahaya matahari menstimulasi hormon florigen dan menginduksi pembungaan. Sisa daun dan feses orangutan yang ditumpuk di bawahnya juga menyuplai bahan organik tanah sebagai sumber nutrisi pohon. Oleh karena itu, pembungaan individu ini lebih unggul daripada kedua lainnya yang berbunga dengan kualitas dan kuantitas yang lebih rendah.

Ada banyak bunga puspa yang berjatuhan di atas tanah oleh tiupan angin, senggolan satwa, atau luruh alami karena telah terfertilisasi dan mulai memasuki perkembangan buah. Bunga-bunga yang masih bersih dan utuh dikumpulkan untuk diberikan ke orangutan bernama Asih. Hal ini menjadi bentuk pengenalan pakan alami alternatif ketika jumlah pakan utama (buah) tidak melimpah di hutan. Untungnya, Asih merespons baik pemberian bunga ini. Ia mengobservasi dan membau bunga puspa sebelum memakannya dengan lahap. Respons membau ini selalu diekspresikan ketika Asih mendapatkan enrichment buah hutan atau bunga yang masih asing baginya.

Pemberian bunga ini disebar ke berbagai sisi enclosure untuk mendukung keaktifan Asih dalam mengenali dan mencari pakan. Harapannya, Asih dapat mengenali bunga puspa yang tersebar di tajuk-tajuk pohon tinggi ketika menjalani sekolah hutan. Ketika ia sudah mengenali beragam jenis pakan alami di hutan, kesempatan untuk kembali hidup liar dan bebas di habitatnya semakin dekat. (FAR)