PERAWAT SATWA TERBAIK DI BORA SEPTEMBER 2020

Akhir bulan September 2020 ada kejutan untuk para perawat satwa di Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA). Sebuah pusat rehabilitasi orangutan yang berada di KHDTK (Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus) Labanan, Berau, Kalimantan Timur ini memberikan penghargaan untuk perawat satwa terbaiknya.

Pria ini dapat menjalin komunikasi yang baik dengan rekan kerjanya. Tak hanya sesama perawat satwa, tetapi dengan para tim medis. Tanpa ragu dia akan bertanya dan belajar tentang sesuatu yang menurutnya cukup membingungkan. Tapi inisatifnya yang cukup tinggi dengan didukung disiplin, pria berusia 23 tahun ini berhasil menjadi perawat terbaik di BORA.

“Hari ini bukan jadwalnya memotong buah, tapi waktu luangnya digunakannya untuk membantu rekan-rekannya mempersiapkan makanan orangutan. Dia juga yang selalu mengingatkan kami, waktunya membuat enrichment orangutan. Selama pandemi COVID-19 desinfeksi tak hanya untuk kandang orangutan, dia juga yang selalu mengingatkan dan segera berkeliling. Dia adalah Simson, perawat satwa yang telah berada di BORA selama 2,5 tahun.”, ujar Widi Nursanti, manajer BORA.

Selamat ya Simson, seorang putra daerah dari desa Merasak yang terus belajar tanpa ragu. Keterbukaan Simson saat menerima kritikan dan nasihat membuatnya menjadi Simson yang berbeda dari dua tahun yang lalu. Orangutan membutuhkan Simson-Simson yang lain. Simson yang terus berkembang.

BAGUS SARAPAN DI PLAYGROUND

Pagi ini, Bagus menghabiskan makanannya di playground. Sengaja keranjang makanan ditaruh di atas agar ia berusaha meraih hingga memanjat ke atas playground. Lagi-lagi ia berdiam diri sembari makan di ban yang mungkin menurutnya bak hammock di dalam kandangnya. Tempat ternyaman Bagus ketika di dalam kandang.

Bagus sangat menyukai hammock yang terpasang di kandang karantinanya. Hammock itu adalah tempat yang ditujunya pertama kali ketika dia masuk kandang karantina di Pusat Rehabilitasi Orangutan yang berada di KHDTK Labanan, Berau, Kalimantan Timur.

Walaupun dia sangat menyukai hammocknya, ketika waktu makan tiba, Bagus lebih suka berada di bawah sambil makan. “Mungkin karena kami tidak memberi makannya di atas.”, pikir Simson, perawat satwa yang memberinya makan selama seminggu ini.

“Bagus… ayo main! Kita tidak bisa terlalu lama di playground.”. (WID)

BAGUS MEMULAI KARANTINA DI BORA

Bagus, namanya. Dua pekan sudah menghuni kandang karantina klinik baru. Ia selalu tampak kesepian. Setiap kali perawat satwa membersihkan kandang, ia mencoba untuk meraih tangan perawat satwa. Juga ketika perawat satwa meninggalkan kandang Bagus, ia akan menangis untuk mendapatkan perhatian perawat satwa yang meninggalkan kandangnya. Berharap kembali.

Bagus adalah orangutan baru diselamatkan dari pemeliharaan ilegal pada minggu pertama September 2020. Orangutan ini seharusnya sudah masuk Borneo Orangutan Rehabilitation Rescue Alliance (BORA) sejak Februari 2020. Namun saat tim APE Defender tiba di lokasi, pemeliharanya membawa lari Bagus.

“Bagus terlihat sangat tergantung dengan manusia. Dia berharap kita selalu ada di dekatnya. Semoga hasil medis dari laboratorium di Berau bisa segera keluar, dan usai menjalani karantina bisa segera bergabung dengan orangutan lainnya agar tidak terlalu merasa sendiri.”, ujar Widi Nursanti, manajer Pusat Rehabilitasi Orangutan dengan prihatin.

Orangutan merupakan kera besar yang hidup semi soliter, maksudnya tidak selamanya dia berkelompok dengan dengan orangutan lainnya. Orangutan bahkan lebih sering ditemui sendiri di habitatnya. Namun, orangutan betina akan selalu bersama anaknya hingga usia anak mencapai 6-8 tahun. “Orangutan Bagus saat ini berusia 3-4 tahun, ini diketahui dari pemeriksaan jumlah giginya. Anak orangutan yang seharusnya masih bersama induknya seperti perangko yang menempel pada amplop.”, jelas dr. Gilang.

Jika kamu melihat anak orangutan berada di tangan manusia secara ilegal, tolong segera hubungi kami di email info@orangutanprotection.com atau bisa kirim pesan lewat media sosial kami. Rehabilitasi bukanlah hal yang mudah dan sebentar. Proses ini memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. “Jangan pelihara satwa liar! Biarkan satwa liar di habitatnya dan menjalankan fungsinya di sana.”, tegas Widi lagi.

BAGUS LANGSUNG NAIK KE HAMMOCK

Bagus… Bagus… Bagus. Begitulah akhirnya kami menamai orangutan yang baru datang di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo. Bagus, seiring dengan doa yang kami panjatkan agar dia mendapatkan kehidupannya dengan bagus. “Lihat saja, Bagus tanpa rasa takut langsung menuju ke hammock yang cukup tinggi.”, ujar Linau, perawat satwa COP Borneo. Betul… Bagus sama sekali tidak ragu menuju tempat tinggi.

APE Defender menyelamatkan orangutan Bagus dengan penuh kesabaran. Tujuh bulan yang lalu, Bagus gagal diselamatkan karena dibawa lari pemeliharanya. Si pemelihara ilegal ini, khawatir, Bagus tidak mendapatkan perawatan yang cukup baik. Rasa sayangnya pada orangutan menjadi belenggu tersendiri buat Bagus. Syukurlah, tim APE Defender tidak putus asa. Tim ini terus melakukan pendekatan hingga akhirnya berhasil menyakinkan bahwa, zoonosis bisa saja terjadi sewaktu-waktu. Pandemi COVID-19 adalah salah satu bagaimana zoonosis terjadi.

Kandang karantina Bagus adalah kandang yang istimewa. Kandang ini adalah sumbangan dadakan dari Orangufriends yang tersebar di seluruh dunia. Orangufriends adalah kelompok relawan orangutan yang mendukung Centre for Orangutan Protection. Donasi melalui paypal dan kitabisa.com dengan cepat mewujudkan kandang karantina untuk Bagus. Semoga, tes kesehatan Bagus bisa segera dapat diketahui. Agar Bagus bisa segera bergabung dengan orangutan kecil lainnya. Pandemi COVID-19, akan kah segera berakhir? Tentu saja ini harapan kita semua… untuk Bagus bisa segera masuk kelas sekolah hutan.

Terimakasih Orangufriends… kini Bagus punya kesempatan kedua untuk kembali ke alam. (GIL)

BULAN KETIGA BIBIT POHON DARI JATAN

Apa kabar bibit-bibit pohon yang telah tiba di tempat persemaian COP Borneo? Hingga saat ini bibit-bibit pohon kapur, durian dan meranti tumbuh dengan baik. Tinggi setiap bibit memang tidak ada yang sama. Bibit pohon durian yang terlihat semakin menjulang, tingginya mencapai 87 cm. Sedangkan bibit meranti dan pohon kapur sekitar 20-30 cm.

“Jika turun hujan, kami tidak perlu menyirami bibit-bibit. Sebagai gantinya kami pun harus semakin sering membersihkan rumput yang tumbuh lebih cepat.”, ujar Linau, kordinator perawat satwa ini. Di saat sekolah hutan ditiadakan karena pandemi corona virus, para perawat satwa menyibukkan diri dengan merawat bibit-bibit pohon yang berada di dekat parkir pusat rehabilitasi orangutan di KHDTK Labanan, Berau, Kalimantan Timur.

Tentu saja, tugas utama membersihkan kandang, memberi makan orangutan dan enrichment harus diselesaikan terlebih dahulu. Pandemi membuat rehabilitasi orangutan berjalan dengan lambat. “Kami saja rindu untuk ke sekolah hutan, memperhatikan tingkah orangutan yang tidak pernah ada habisnya. Apalagi orangutan itu? Mereka pasti sangat rindu memanjat pohon yang mereka sukai, atau mencari cemilan atau makanan hutan yang bisa mereka jumpai di sekolah hutan.”, kata Simson lagi. (NAU)

ORANGUTAN DISABILITAS AKTIF BUAT SARANG

Aman pandai membuat sarang di kandang dengan daun-daun maupun ranting yang tim medis pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo berikan. Tak hanya di kandang karantinanya saja, Aman pun aktif menyusun daun-daun yang kami berikan pada saat dia di taman bermain. Aman menyusun daun-daun tadi di ban bekas yang berada di tengah playground, dimana dia biasanya beristirahat saat gagal meraih tali yang bergelantungan.

Aman adalah orangutan yang baru masuk pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo di Berau, Kalimantan Timur pada bulan Juni 2020 yang lalu. Jari-jarinya tak sempurna di kedua tangannya. Aman tidak memiliki ujung jari di tangan kanan pada jari tengah dan jari manisnya selain itu jari telunjuk, jari tengah jari manis dan kelingking tangan kirinya juga tidak ada. Dari bekas luka yang sudah tertutup dengan baik ini, Aman kehilangan ujung-ujung jarinya karena terpotong benda tajam. Aman menjadi orangutan disabilitas yang paling banyak kehilangan ruas jarinya yang pernah ditangani Centre for Orangutan Protection.

“Kami, tim medis bersyukur sekali, Aman termasuk orangutan yang aktif membuat sarang. Keterbatasan fisiknya tidak menghentikan keinginannya membuat sarang saat daun-daun dan ranting diberikan perawat satwa kepadanya. Bahkan dia bisa membuat sarangnya dulu baru mengambil makanannya.” ujar drh. Ray kagum. Semoga Aman dapat mempertahankan kemampuannya membuat sarang dan menularkan kemampuannya pada orangutan kecil lainnya yang berada di COP Borneo. (RAY)

KESEMPATAN KEDUA UNTUK ORANGUTAN MERABU

Penyelamatan orangutan kali ini cukup sulit. Tujuh bulan mengamati, mengikuti dan kehilangan keberadaan orangutan kecil ini. Berbagai cara pun tak luput dilakukan, mulai dari persuasif hingga ke arah jalur hukum. Sekali lagi, orangutan bukanlah satwa peliharaan, memilikinya berarti melanggar hukum. Lalu apakah kemudian pemelihara ilegal orangutan tersebut bisa serta merta menyerahkan orangutannya?

Pukul 07.00 WITA, tim APE Defender sudah melaju ke Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo yang berada di KHDTK Labanan, Berau, Kalimantan Timur. Kandang angkut sudah siap angkat ke mobil. BKSDA SKW I Berau dan Polres Berau sudah siap berangkat. Tepat pukul 08.30 tim gabungan ini pun bergerak. Tengah hari tim tiba di lokasi.

Kurang lebih dua jam, drh. Gilang Maulana menjelaskan zoonosis. Sekali lagi, edukasi menunjukkan hasil. “Tiga jam perjalanan dari pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo ke orangutan ini menjadi tidak sia-sia. Tidak seperti Maret 2020 yang lalu. Tim terpaksa gigit jari.”, ujar Ibnu Ashari lega.

Orangutan yang berasal dari Merabu, Kalimantan Timur ini berjenis kelamin jantan. “Tim medis COP Borneo akan mengamati tingkah laku dan pola hidup orangutan ini selama seminggu ke depan. Selanjutnya tim akan memeriksa kesehatannya secara menyeluruh, termasuk pemeriksaan darah apakah mengidap penyakit menular atau tidak.”, jelas drh. Gilang.

Kita tunggu kabar selanjutnya ya.

POPI SUDAH EMPAT TAHUN DI COP BORNEO

Apa kabar orangutan betina yang sangat terkenal dengan kelucuannya, keimutannya dan terlihat manja yang menjadi penghuni Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur? Kalau tidak salah, dia sudah empat tahun menjalani rehabilitasi.

Popi… bayi orangutan dengan pusar yang masih memerah, empat tahun yang lalu. Popi yang tidak berdaya karena kecil dan sangat lemah. Popi yang seharusnya bersama induknya bukan dengan pakaian bayi dan selalu di kelilingi manusia. Setelah empat tahun dengan grafik perkembangan yang naik turun, berusaha menunjukkan, Popi adalah orangutan yang patut diperhitungkan.

Kini Popi bisa menghindari orangutan lainnya yang berusaha mengambil jatah makanannya. Bagaimana caranya? Saat waktu makan tiba, Popi sudah menunggu di bagian depan. Sesaat menerima makanannya, dia segera menjauh dari ketiga orangutan lainnya. Mary, Jojo bahkan Bonti yang memiliki badan lebih besar, kini tak bisa dengan mudah mengambil makanannya. Popi tidak akan pernah menyerahkan jatah makanannya lagi.

“Bagus Popi! Pertahankan!” (WID)

BONTI DAN TEMAN SEKANDANGNYA BOROS HAMMOCK

Kalau ditanya kandang siapa yang paling sering hammocknya rusak, pasti kandang orangutan Bonti dan kawan-kawannya. Hampir setiap bulan perawat satwa memperbaiki hammock mereka. Bagaimana tidak, hammock yang kebanyakan digunakan orangutan sebagai tempat beristirahat dan bersantai, justru dipakai Jojo, Popi, Mary terlebih Bonti untuk bergelantungwan bersama. “Beban hammock yang seharusnya untuk 1-2 orangutan kecil, digunakan beramai-ramai. Duh kelakuan bocah-bocah.”, gumam Widi Nursanti, manager Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo.

Tolong… tak ada lagi bahan untuk buat hammock. “Biasanya kami mendapatkan selang bekas dari Dinas Pemadam Kebakaran Berau. BNPB juga bantu orangutan loh. Jadi selang-selang yang sudah tidak bisa dipakai Damkar Berau, kami gunakan untuk membuat hammock.”, jelas Widi.

Kenapa harus ada hammock? Orangutan liar biasanya menghabiskan aktivitasnya di atas pohon. Dua kali dalam sehari akan membuat sarang untuk beristirahat. Kami di pusat rehabilitasi juga berusaha untuk menyediakan hammock atau tempat tidur gantung yang bisa digunakan orangutan untuk membiasakan diri berada di atas. Bekas selang pemadam kebakaran yang masih cukup kuat namun sudah tidak bisa digunakan Damkar, kami buat menjadi hammock. Yuk, siapa nih yang mau bantu orangutan lagi? Saat ini kami membutuhkan bahan untuk membuat hammock.(WID)

ORANGUTAN AMAN DIUAP DENGAN NEBULIZER

Dua minggu terakhir ini, Aman terlihat sulit bernafas. Cairan yang menghambat di hidungnya menimbulkan bunyi saat malam hari. Iya, seperti orang ngorok. Terpaksa obat diberikan. Dan Aman sangat tidak menyukai obat. Ketika ada langkah kaki mendekati kandangnya, dia akan segera menuju sudut kandang menjauh dari pintu kandang.

Seperti anak kecil yang sulit sekali untuk minum obat. Bujuk rayu pun menjadi rayuan maut. Tapi Aman tetap saja mengunci mulutnya dengan rapat. Bulus obat sudah diracik sedemikan rupa, untuk menghilangkan bau obat, madu dan roti kering sudah digerus dengan halus, dicampur dan dipadatkan berbentuk bulat. Sekarang tinggal siapa yang paling tangguh dan paling cepat. Paling cepat memasukkan obat ke mulutnya saat ada celah di mulutnya. Atau Aman yang dengan lincah menghindar dari tim medis.

Hingga akhirnya, tim medis memutuskan untuk menguapkan hidungnya. Aman pun pasrah saat nebulizer dikenakan. Lambat laun dia mulai merasakan enaknya. Aman pun nurut. “Terapi dilakukan untuk menyembuhkan gejala hidung tersumbat yang dialami Aman. Semoga, Aman dapat bernafas dengan lega lagi setelah ini.”, ujar tim medis pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Doa-kan Aman ya…

Page 1 of 1212345...10...Last »