APA YANG MEMBUAT AMAN MEMANJAT?

Tanah adalah tempat favorit bagi Aman. Bukan tidak bisa memanjat, mungkin aja Aman lebih suka bermain dan mencari makan di bawah. Mungkin juga karena kelainan di tulang paha Aman sehingga dia tidak bisa banyak bergerak naik ke pohon. Jawab keeper saat aku bertanya mengenai kondisi orangutan bernama Aman.
Seiring berjalannya waktu, aku mengamati perilaku Aman selama sekolah hutan. Apa yang membuat Aman manjat? Suara-suara yang nyaring seperti dahan patah. Bukan cuma Aman, orangutan lain juga langsung memanjat kalau kaget mendengar suara nyaring. Terus selain itu apa?
Suatu saat, aku mulai menyadari saat sekolah hutan hampir selesai, Aman selalu manjat ke pohon atau liana. “Loh Aman bisa memanjat juga”, tanya ku pada keeper. “Iya, dia biasanya manjat kalau sekolah hutan hampir selesai”, jawab salah satu keeper. Aku tidak bertanya sebabnya. Sampai suatu hari, ada keeper yang bertanggung jawab membawa Aman ke sekolah hutan. Namanya Lio. Saat sekolah hutan selesai, kami bersiap-siap untuk pulang ke kandang. Semua keeper sibuk memanggil nama orangutannya untuk pulang, kecuali Lio. Lio hanya menatap Aman dari bawah dan Aman pun menatap Lio dengan suara jeritannya. “Naik, naik, naik”, kurang lebih begitulah Aman bersuara.
“Tolong turunan Aman dulu”, kata Lio.
Aku mendekat dan mencoba untuk menolong turunan Aman. “Aman, Aman, pulang yuk. Nih ada pisang”. Aman tidak peduli dan bahkan manjat lebih tinggi. Mungkin Aman takut sama Lio atau keeper laki-laki. “Lio coba sembunyi jangan di sini”, Lio langsung menjauh dan bersembunyi.
Aku coba pancing lagi pakai pisang. “Aman sini turun, sudah gak ada Lio”. Aman masih waspada dari atas tapi perlahan mulai turun ke tanah. Setelah aku tangkap tangan Aman, Lio langsung mendekat untuk membawa Aman pulang, tentunya dengan jeritan kecil Aman. “Naik, naik, naik”, sambil jalan pulang. (TIN)

FELIX, AKTIF MENEMUKAN BANYAK HAL LEWAT BERMAIN

Aktivitas Felix sepanjang September banyak diwarnai permainan sosial. Ia sering terlihat berguling-guling, saling menggigit dalam konteks bermain, dan berinteraksi dengan individu lain di lantai hutan. Ia secara rutin bermain bersama Pansy, Mabel, Cinta Ochre, Jack, dan individu lainnya, sering kali tetap terlibat dalam aktivitas sosial tersebut, Felix juga mencari makan dengan berbagai pakan alami seperti buah mentah, kulit kayu, daun, ranting, kambium, dan kelapa.
Meski permainan di permukaan tanah menjadi aktivitas yang sering terlihat, Felix juga menunjukkan kemampuan eksplorasi di pepohonan. Ketika sekolah hutan memasuki area yang lebih dalam, ia mulai memanjat dan berpindah dari satu pohon besar ke pohon lainnya untuk mencari makanan. Ia juga mengikuti individu lain dalam melakukan eksplorasi, termasuk mengikuti Pansy dan Ochre ketika mereka bergerak di pepohonan. Hal ini membuat aktivitas Felix sepanjang bulan tidak hanya didominasi interaksi sosial, tetapi juga eksplorasi lingkungan hutan.
Interaksi sosial Felix juga terlihat dalam hubungannya dengan babysitter. Setelah bermain cukup lama, ia beberapa kali mendatangi babysitter dan duduk di dekatnya sebelum kembali bermain ketika diajak oleh individu lain. Ketika sekolah hutan tidak dilakukan karena asap, ia tetap aktif mengikuti enrichment bersama Pansy dan Jack. Secara keseluruhan, September memperlihatkan Felix sebagai individu yang sangat aktif secara sosial, dengan permainan menjadi bagian penting dari aktivitas eksplorasi dan interaksinya. (RAF)

HARAPI, MENJELAJAH SAMBIL BERMAIN DAN BERSOSIALISASI

Harapi menunjukkan aktivitas bermain sosial dan eksplorasi yang aktif sepanjang September, terutama di lantai hutan. Ia sering bermain bersama Arto, Ochre, Jainul, Aman, Astuti, Mabel, dan Cinta. Ia juga aktif mencari makanan alami seperti jengkol, umbut, kulit kayu, daun mudan dan tua, serta buah mentah. Walaupun aktivitas di permukaan tanah cukup dominan, Harapi tetap memanfaatkan pepohonan ketika sekolah hutan memasuki area yang lebih dalam.
Salah satu aktivitas eksplorasi Harapi yang paling sering terlihat adalah menggali tanah dan memandikan tubuhnya menggunakan tanah kering. Ia juga terlihat mengeksplorasi pohon dan cabang serta sesekali menghabiskan waktu sendiri di atas cabang setelah bermain dengan individual lain. Aktivitas ini berlangsung berdampingan dengan perilaku mencari makan dan permainan sosialnya, sehingga aktivitas Harapi selama September cukup beragam meskipun permukaan tanah tetap menjadi area yang paling sering digunakannya.
Harapi juga sering menunjukkan ketertarikan terhadap keeper, terutama ketika mendengar suara resleting tas dan kemudian mendekat untuk meminta pakan. Di sisi lain, ia tetap memiliki aktivitas eksplorasi mandiri, termasuk bermain air bersama Mabel dan Cinta. Secara keseluruhan, pengamatan September memperlihatkan Harapi sebagai individual yang aktif secara sosial, banyak mengeksplorasi permukaan tanah, serta menggunakan berbagai bentuk permainan dan aktivitas alami selama sekolah hutan. (RAF)

ARTO DAN RASA INGIN TAHUNYA YANG TAK PERNAH BERHENTI

Arto menghabiskan sebagian besar September dengan menggabungkan permainan aktif dan eksplorasi mandiri. Ia sering bermain di permukaan tanah bersama Hrapi dan individual lain, berguling dan berinteraksi dengan mereka, sekaligus mengeksplorasi lingkungan sekitarnya secara mandiri. Ia terlihat memanjat pohon kecil, berayun di liana, menjatuhkan diri dari cabang, serta berpindah antara permukaan tanah dan vegetasi. Dalam aktivitas mencari makan, ia tercatat memakan kambium dan umbut.
Eksplorasi Arto tidak hanya dilakukan dengan berpindah tempat, tetapi juga melalui manipulasi lingkungan, Ia berulang kali menggali tanah dan terlihat memandikan tubuhnya dengan tanah kering bersama Harapi. Ia juga pernah menumpuk daun di permukaan tanah seperti membuat struktur sarang sebelumnya kembali mengeksplorasi dan memakan umbut. Aktivitas tersebut menunjukkan bagaimana Arto banyak menggunakan material alami di sekitarnya selama sekolah hutan.
Arto juga tetap sangat interaktif dengan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Ia sering mendekati keeper dan beberapa kali terlihat menggigit atau menyerang boots sebagai bagian dari interaksinya. Aktivitas bermain tetap terlihat hingga akhir bulan, termasuk bermain bersama Mabel, Aman, dan Jainul serta mengayunkan pohon kecil. Secara keseluruhan, September memperlihatkan Arto sebagai individual yang aktif mengeksplorasi melalui gerakan, permainan, manipulasi material alami di sekitarnya, dan interaksi sosial. (RAF)

SARANG PERTAMA FELIX

Hari itu seperti hari-hari biasanya di sekolah hutan BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Semua orangutan beraktivitas dengan caranya masing-masing, ada yang foraging di kanopi pohon dan ada yang memilih bermain di lantai hutan. Sementara Felix, dia memilih berada di atas pohon eksplorasi dan mencari makan bersama Pansy.
“Ksrks… krksks… kskskr…”. Tiba-tiba terdengar suara dedaunan dari atas pohon. Seketika kami para keeper menengok ke atas pohon. Tidak disangka ternyata di atas phon, terlihat Felix yang sedang menyusun dedaunan yang dia telah petik di atara dua cabang pohon. Kami semua terkejut dan otomatis berucap, “Felix buat sarang!?”. Kami terkejut dan sedikit ada rasa tidak percaya dengan apa yang kami lihat. Felix yang biasanya mengekor pada babysitter atau memeluk kaki babysitter selama sekolah hutan, hari ini membuat sarang pertamanya.
Membuat sarang merupakan salah satu skill yang harus dikuasai oleh orangutan agar bisa bertahan hidup di alam liar. Dan insting Felix untuk mulai menyusun dedaunan menjadi sarang merupakan satu indikator perkembangan kemampuannya. Sebelumnya pun, Felix juga sudah terlihat mereparasi sarang-sarang lama dengan menumpukkan daun-daun baru di atas daun-daun yang sudah kering. Terkadang Felix juga terlihat melanjutkan sarang yang dibuat oleh orangutan lain dengan mematahkan ranting lalu menumpuk ranting tersebut ke pondasi sarang yang sudah ada.
Sarang yang dibuat Felix itu memang belum sempurna, bahkan pondasi sarang itupun masih sangat rapuh. Namun melihat bagaimana Felix bisa mencapai titik itu, tentu memberi rasa bangga dan haru. Kami menyadari bahwa Felix yang kami kenal adalah bayi orangutan yang manja, kini telah bertumbuh dengan cara dan ritmenya sendiri. (JAN)

JANE, SI BAYI ORANGUTAN YANG CERDAS

Sudah tıga bulan sejak orangutan Jane menjadi penghuni paling baru di baby house BORA. Saat pertama kali dititipkan di akhir bulan Juni tahun ini, usianya hanya sekitar 1,5 tahun. Walau baru tida bulan menjadi babysiter nya, saya sudah menetapkan Jane sebagai salah satu orangutan terpintar di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Saya takjub begitu melihat orangutan sekecil itu menjelajah dengan lincah di tajuk-tajuk pohon tinggi dan mencari pakan-pakan alami seperti kambium dan buah hutan, kadang ia memotek ranting untuk dijadikannya sarang sederhana, begitu bersemangat memecahkan pengayaan buatan dan alami yang diberikan meski kondisi jarinya yang tidak sempurna.
Namun, sepandai dan semandiri apa pun Jane, ada kalanya ia bersikap menja layaknya bayi orangutan pada umumnya. Seperti hari ini, Jane tampak gembira bermain di lantai playroom baby house, menutup seluruh badannya dengan karung goni lalu berjalan mengitari playroom, sesekali ia akan berguling dan menyeret karung goninya mendekati saya. Saat saya mengulurkan tangan, Jane akan sok tidak peduli dan kembali berguling menjauh.
Kadang saat sekoilah hutan, Jane akan sulit untuk diajak pulang. Ia masih senang eksplorasi dari pohon ke pohon. Jadi, saya akan membiarkan Jane melanjutkan sekolahnya sambil mengajak Charlie, penghuni baby house lainnya, untuk pulang terlebih dahulu. Namun, Jane sangat tidak suka sendirian. Saat melihat saya dan Charlie pulang, Jane akan merengek dan turun menghampiri saya dengan sendirinya, lalu meminta digendong seperti anak kecil.
Ada satu kebiasaan Jane yang akhir-akhir ini saya pikirkan. Ia selalu merengek dan menangis saat melihat saya pergi ke dalam hutan. Padahal saya hanya mencari daun sebagai pengayaan untuk alas tidurnya. Saya tidak tahu mengapa ia menangis begitu nyaring, tetapi ada satu hipotesis yang terlintas di otak saya.
Mungkinkah ia takut terpisah dengan saya seperti saat ia terpisah dengan ibunya?
Saya tidak tahu jawaban pastinya. Mungkin, menangis hanya cara Jane meminta saya untuk tetap berada di dekatnya. Namun, setiap kali mendengarnya, saya kembali diingatkan bahwa di balik kepiawaiannya menjelajah tajuk pohon, mencari pakan, dan memecahkan pengayaan, Jane tetaplah bayi orangutan yang masih membutuhkan rasa aman dan kasih sayang. Ia mungkin sedang belajar untuk mandiri, tetapi bukan berarti ia harus berhenti menjadi bayi. (FIQ)

KETIKA KARHUTLA MEMBATASI RUANG BELAJAR, RUANG INFORMASI BORA MEMBUKA RUANG BARU

Minggu sore, 6 September 2026, Ruang Informasi BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) ramai oleh aktivitas anak-anak. Sebanyak 40 anak dari RT 4 Kampung Tasuk, Berau, dengan rentang usia 5–13 tahun, datang untuk mengikuti edukasi singkat dan bermain bersama.
Ruang Informasi BORA sendiri baru saja diresmikan pada 18 Agustus 2026 lalu. Kehadirannya menjadi salah satu upaya untuk menyediakan ruang edukasi dan informasi bagi masyarakat sekitar, khususnya anak-anak, tentang orangutan dan upaya pelestariannya. Tidak lama setelah diresmikan, ruang ini kemudian dimanfaatkan sebagai tempat belajar dan bermain bagi anak-anak Kampung Tasuk yang juga terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Anak-anak di Kampung Tasuk sudah belajar dari rumah (BDR) sejak dua minggu lalu. Kondisi tersebut menjadi salah satu momentum untuk memaksimalkan fungsi Ruang Informasi BORA sebagai ruang edukasi dan aktivitas bagi anak-anak. Kegiatan diisi dengan pemberian materi edukasi tentang orangutan, pengenalan Ruang Informasi BORA, serta bermain bersama.
Kegiatan ini disambut baik oleh anak-anak dan orang tua. Antusiasme yang terlihat bahkan melebihi perkiraan awal, yang sebelumnya diperkirakan hanya sekitar 15 anak bersama orang tua. Selain itu, terdapat pula ajakan dari sekolah-sekolah sekitar untuk dapat kembali berkolaborasi dalam kegiatan edukasi orangutan, mulai dari PAUD, TK, hingga SD.
Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi pemantik bagi lebih banyak kegiatan lain di Ruang Informasi BORA. Terlebih, sebagai ruang yang baru diresmikan, masih banyak peluang untuk mengembangkan fungsi dan fasilitasnya sebagai ruang belajar dan bermain bagi anak-anak. Insight dari kegiatan ini juga dapat menjadi bahan untuk meningkatkan fasilitas Ruang Informasi BORA, seperti model, board game, maket, atau alat edukasi lainnya yang dapat ditampilkan untuk meningkatkan pengalaman pembelajaran. (RAR)

CHARLIE, SI KECIL YANG BANYAK BERUBAH

Ketika Charlie pertama kali datang, usianya baru sekitar 9 bulan. Saat itu, Charlie masih sangat kecil dan membutuhkan perhatian ekstra. Ia belum terbiasa dengan lingkungan barunya. Waktu tidur pun masih harus dijaga karena Charlie sering terbangun secara tiba-tiba, terlihat kaget, lalu menangis sambil mencari pelukan di sekitarnya.
Sebagai babysitter, salah satu tugasku adalah memastikan Charlie mendapatkan susu sesuai kebutuhannya. Setiap kali waktunya minum, aku menyiapkan susunya dan menemani Charlie sampai ia merasa tenang. Hari-hari pertama bersama Charlie cukup menguras kesabaran. Charlie lebih banyak tidur. Kalau bangun, ia bisa kembali mengantuk tidak lama kemudian. Charlie juga adalah orangutan yang cengeng. Kadang aku sampai berpikir, “Ini anak memang hobinya tidur dan nangis tiap hari ya?”.
Namun, waktu berjalan. Lima bulan berlalu. Charlie yang dulu masih sangat kecil ternyata mengalami banyak perubahan. Sekarang ia sudah jauh lebih berani. Bahkan, ia sudah berani memanjat pohon tinggi dari yang pernah aku bayangkan. Melihat Charlie berada di atas pohon membuatku kadang tidak percaya. “Charlie, sekarang kamu sudah berubah sejauh ini?”, batinku. Charlie hanya terus memanjat dengan tenang, seolah ketinggian bukan sesuatu yang perlu ditakuti.
Yang paling menarik, Charlie sekarang bukan tipe orangutan yang suka banyak merengek. Ia cenderung kalem dan pasrah. Kalau sedang bermain, ia bisa sibuk sendiri tanpa harus terus mencari perhatian. Tetapi ada satu hal yang sepertinya tidak banyak berubah. Charlie masih tidur siang dan kalo kelelahan forest school, Charlie kelihatan sangat mengantuk. Kalau sudah waktunya tidur, ia bisa benar-benar menikmati waktunya. Bangun tidur pun terkadang belum langsung bersemangat untuk beraktivitas.
Begitu juga dengan urusan makan. Charlie bisa makan lama sekali. Bukan karena ia tidak suka makan, tetapi giginya memang belum tumbuh lengkap. Jadi, proses makannya masih membutuhkan waktu dan kesabaran.
Di hari-harinya, Charlie juga punya seorang teman bernama Jane. Kalau melihat mereka berdua, rasanya seperti melihat dua karakter yang benar-benar berbeda. Jane adalah anak yang aktif banget. Ia suka bergerak ke sana kemari, penuh rasa ingin tahu, dan kalau soal makanan… Jane bisa dibilang rakus. Begitu melihat ada makanan, semangatnya langsung muncul.
Sementara Charlie? Charlie lebih santai. Ia kalem, tidak banyak merengek, dan lebih suka bermain sendiri. Kalau Jane sibuk menjelajah dan mencari makanan, Charlie bisa saja tetap duduk dengan tenang menikmati kegiatannya sendiri. Mereka benar-benar bertolak belakang.
Jane yang heboh dan penuh semangat.
Charlie yang kalem dan santai.
Namun, justru perbedaan itulah yang membuat keduanya menarik untuk diamati. Dari bayi kecil berusia sembilan bulan yang dulu sering terbangun kaget dan menangis, kini Charlie sudah tumbuh menjadi orangutan kecil yang jauh lebih berani. Ia memang masih suka tidur. Makannya juga masih lama. Dan sifatnya terkadang masih clingy. Tetapi sekarang ada satu hal yang jelas terlihat, Charlie sudah bukan bayi kecil yang dulu datang kepada kami. Ia sudah menjadi Charlie yang berani mengeksplorasi dunia dengan caranya sendiri. (LUK)

SISI LAIN ORANGUTAN BERNAMA MABEL

Dari arah lain di dalam hutan, Mabel sedang duduk santai di atas pohon sambil menikmati buah buni. Ia terlihat begitu asyik menjelajah dan mencari makanan sendiri. Sementara itu, aku berjalan lebih dulu menuju pohon tarap bersama Mba Fiqoh (animal keeper) yang membawa Cinta. Awalnya Mabel masih sibuk dengan buah buninya. Namun, ketika ia melihat aku berjalan semakin jauh meninggalkannya, tangannya berhenti bergerak. Mabel memperhatikan aku dari atas pohon. Dan aku terus berjalan.
Tiba-tiba terdengar suara kecil dari arah belakang. Mabel mulai merengek. Ia melihat aku lagi, lalu melihat sekelilingnya. Sepertinya ia tidak suka melihatku berjalan terlalu jauh darinya. Akhirnya, Mabel turun dari pohon. Ia meninggalkan buah buni yang tadi sedang dimakannya dan mulai berjalan cepat mengejarku. Begitu Mabel mendekat, Mba Fiqoh langsung memperhatikannya. Mba Fiqoh tertawa kecil lalu bertanya, “Kenapa Mabel? Tumben nangis?”.
Aku ikut tertawa melihat tingkah Mabel. “Ternyata dia bisa manja!”, jawabku.
Mba Fiqoh langsung tertawa. “Iya, biasanya paling nggak mau bermanja-manja.”
Aku melihat Mabel yang kini sudah memeluk kakiku. “Tadi ditinggal sedikit aja langsung turun dari pohon dan nyusul.”
Mba Fiqoh tertawa lagi.
“Berarti sebenarnya Mabel nggak mau jauh-jauh dari kamu.” kata mba fiqoh
Kami berdua pun tertawa bersama. Mabel seolah tidak peduli dengan percakapan kami. Ia hanya memastikan aku tetap berada di dekatnya. Lucu juga melihat Mabel hari itu. Biasanya ia adalah orangutan yang paling aktif menjelajah, berpindah dari satu pohon ke pohon lain, dan sibuk mencari makanan favoritnya seperti jengkol dan buah tarap. Tapi hari itu, Mabel menunjukkan sisi yang jarang terlihat. Ternyata, di balik sifatnya yang mandiri, Mabel juga bisa manja terutama ketika melihat orang yang ia percaya berjalan meninggalkannya. (LUK)

KETIKA JAINUL MENGAJARKAN ARTI MENJADI ORANGUTAN

Menjadi seorang animal keeper di pusat rehabilitasi orangutan bukanlah pekerjaan yang selalu dipenuhi momen manis bersama satwa yang menggemaskan. Di balik tingkah lucu dan ekspresi yang sering membuat orang tersenyum, ada proses panjang yang harus dilalui individual orangutan untuk kembali menjadi dirinya sendiri, yaitu satwa liar yang mandiri dan mampu bertahan hidup di hutan.

Sekolah hutan adalah salah satu proses itu, saya saksikan setiap hari. Di tempat inilah para orangutan belajar berbagai keterampilan yang akan mereka butuhkan di alam. Mereka belajar memanjat, mencari pakan, mengenali lingkungannya, hingga berinteraksi dengan sesama orangutan.

Interaksi tersebut tidak selalu berjalan tenang. Seringkali mereka bermain dengan cara yang bagi manusia terlihat kasar. Menjambak, menggigit, mencengkam, dan salting kejar adalah pemandangan yang lumrah terjadi. Namun di balik perilaku itu, terdapat proses belajar yang sangat penting. Mereka sedang mengasah kemampuan sosial, mengenali batasan, dan membangun karakter yang kelak membantu mereka bertahan hidup di alam liar.

Di antara banyak orangutan yang saya dampingi, ada satu individual yang cukup berkesan yaitu Jainul. Jainul adalah orangutan jantan remaja dengan energi yang seolah tidak pernah habis. Ia memiliki rasa percaya diri yang tinggi dans ering menunjukkan perilaku dominan terhadap lingkungan sekitarnya. Tidak jarang saya menjadi sasaran keisengannya. Serangan kecil, gigitan, tarikan tangan, hingga upaya mencengkeram merupakan hal yang cukup sering saya alami saat mendampinginya.

Tentu saja, sebagai manusia, ada kalanya saya merasa resah. Tidak nyaman ketika harus selalu waspada terhadap tingkah Jainul yang sulit ditebak. Ada hari-hari ketika saya pulang dengan lengan penuh bekas cakaran atau kaki penuh bekas gigitan dan tubuh yang lelah karena harus menghindari ulahnya.

Namun seiring waktu, saya mulai melihat perilaku Jainul dari sudut pandang yang berbeda.

Apa yang ditunjukkannya bukanlah kebencian ataupun kenakalan semata. Sebagai orangutan jantan yang sedang berankaj dewasa, Jainul sedang menunjukkan sifat-sifat alami yang memang seharusnya dimiliki orangutan liar. Ia belajar menjadi individu yang kuat, berani, dan mampu mempertahankan dirinya. Sikap agresif yang kadang membuat saya kewalahan justru menjadi tanda bahwa insting liarnya masih ada. Dan bukankah itu tujuan utama rehabilitasi?

Kami tidak sedang membesarkan hewan peliharaan yang jinak terhadap manusia. Kami sedang mempersiapkan satwa liar agar suatu hari nanti mereka tidak lagi bergantung pada manusia. Karena itulah, setiap kali Jainul mencoba menguji kesabaran saya, ada perasaan yang bertolak belakang dalam diri saya. Di satu sisi, saya merasa was-was dan lelah menghadapi agresivitasnya. Namun di sisi lain, saya merasa senang. Senang karena melihat orangutan yang masih memiliki karakter alaminya. Senang karena ia menunjukkan perkembangan yang dibutuhkan untuk hidup bebas di hutan.

Jainul mengingatkan saya bahwa keberhasilan rehabilitasi tidak selalu terlihat dalam bentuk orangutan yang patuh atau mudah diatur. Namun keberhasilan justru terlihat dari individu yang berani, mandiri, dan cukup “merepotkan” bagi keeper-nya.

Mungkin suatu hari nanti Jainul akan hidup di hutan yang sesungguhnya, jauh dari pagar kandang dan pengawasan manusia. Ketika hari itu tiba, bekas gigitan, cakaran, dan semua keresahan yang pernah saya rasakan akan menjadi bagian kecil dari sebuah cerita yang lebih besar yaitu cerita tentang individu yang berhasil kembali menjadi orangutan sepenuhnya. Dan bagi saya, seorang animal keeper, tidak ada hadiah yang lebih berharga daripada itu. (BOW)