ARSITEK SATU INI SEDIKIT BERBEDA

Kita mengetahui bahwa hampir setiap hari orangutan di alam liar menjadi arsitek dengan proyek membuat sarang di atas pohon sebagai tempatnya beristirahat. Lalu, bagaimana dan dimana orangutan yang berada di pusat rehabilitasi Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) tidur di dalam kandangnya?

Keharusan orangutan yang sedang menjalani rehabilitasi untuk masuk ke dalam kandang dengan lingkungan buatan yang berbeda dari kondisi alam liar menjadi perhatian Centre for Orangutan Protection (COP) dalam upaya menjaga kesejahteraan mereka. Berbagai bentuk pengayaan (enrichment) dan penambahan ornamen terus dilakukan untuk memastikan kebutuhan perilaku alami orangutan tetap terpenuhi.

Setiap kandang dilengkapi dengan jalinan tali, alat katup air otomatis untuk minum, tempat pakan yang dibuat lebih tinggi agar orangutan terbiasa makan di atas, hammock dari selang pemadam kebakaran, serta sarang buatan dari kerangka besi sebagai tempat beristirahat. Seluruh fasilitas ini diberikan agar orangutan memiliki lebih banyak tempat beristirahat. Seluruh fasilitas ini diberikan agar orangutan memiliki lebih banyak pilihan aktivitas dan terhindar dari stres ketika tidak mengikuti kegiatan sekolah hutan. Selain itu, dedaunan dan karung juga diberikan setiap hari sebagai alas maupun selimut alami.

Setelah proses cuci kandang pada pagi dan sore hari, animal keeper akan memberikan dedaunan ke setiap kandang orangutan. Hal ini bertujuan membiasakan orangutan beristirahat di atas tumpukan daun sekaligus menstimulasi perilaku membuat sarang. Seolah memahami fungsinya, sebagian besar orangutan di BORA memilih tidur di sarang besi yang telah dilapisi dedaunan. Mereka menumpuk daun-daun tersebut hingga menyerupai sarang alami seperti yang biasa dibuat saat sekolah hutan. Tak jarang, tubuh mereka juga ditutupi karung untuk melindungi diri dari suhu dingin dan gigitan nyamuk.

Namun, Bagus memiliki caranya sendiri. Setelah mendapatkan dedaunan pada sore hari, bagian pojok bawah kandangnya mendadak berantakan. Satu per satu dedaunan yang diberikan ditelisiknya, barangkali masih terselip daun dan kulit batang yang bisa disantap sebelum tidur. Tak lama kemudian, dedaunan tersebut terkumpul di satu sisi, tertumpuk rapi dan kokoh karena beberapa ranting dikaitkan ke jeruji kandang, sementara bagian tengahnya dialasi karung. Sarang yang baru saja disusun terlihat pas dengan ukurannya. Bagus merebahkan diri di tengahnya sambil mengunyah daun dan kulit batang yang menurutnya, mungkin lebih menarik daripada pakan harian pemberian animal keeper. Terlihat sangat nyaman, Bagus bertahan di sarangnya yang berada di pojok bawah kandang hingga menjelang gelap, sebelum akhirnya naik ke keranjang sarang buatan beralaskan karung yang posisinya di atas untuk tidur malam.

Keesokan harinya, saat proses cuci kandang dilakukan, animal keeper yang bertugas cukup kesulitan melepaskan ranting-ranting yang terjalin kuat diantari jeruji kandang untuk diganti dengan dedaunan yang baru. Bagus bukan tidak bisa membuat sarang, ia hanya memiliki gaya membangun sarang yang berbeda. Mungkin sama dengan kita, ya? Ada yang lebih senang tidur di kasur, ada pula yang memilih berayun di hammock. (ARA)

JAINUL UUUUU

Di sebuah pusat rehabilitasi orangutan di Kalimantan, hiduplah satu individu orangutan remaja bernama Jainul. Di kalangan animal keeper, Jainul terkenal sebagai si jail dan nakal. Kalau keeper membersihkan tempat tidur Jainul, ia akan menarik masker atau pun topi para keeper. Di sekolah hutan Jainul juga suka mengejar dan menggigit sepatu boot para keeper cewek sebagai bentuk keusilan Jainul. Pokoknya, tidak ada hari tanpa keusilannya.

Namun, ada satu hal yang membuat para keeper heran yaitu, Jainul sangat takut dengan suara “uuuuu”. Yang lucu adalah suara “uuuuu” itu bukan suara misterius atau suara satwa lain. Itu sebenarnya kode sapaan antar keeper ketika mereka sedang berada di dalam hutan supaya bisa mengetahui posisi satu sama lain tanpa harus teriak nama.

“Uuuuuuuuuu!”, teriak salah satu keeper di antara pepohonan.

“Uuuuu!”, balas keeper lain dari kejauhan.

Suara itu menggema di batang pohon dan dedaunan. Bagi para keeper, itu hal biasa dan penting untuk keselamatan serta koordinasi. Tapi bagi Jainul… itu suara mengerikan. Setiap kali mendengar “uuuuu!”, Jainul langsung lari terbirit-birit mendekati keeper cewek dan memeluknya ketakutan, seperti baru mendengar suara yang sangat mengerikan.

Suatu hari, keeper muda bernama Kak Tedy yang bertugas ikut masuk ke area forest school. Ia menyapa keeper lain dengan lantang, “Uuuuuuuu!”.

Keeper lain menjawab, “Uuuuuuuu!”, begitupun juga aku.

Begitu mendengar itu, Jainul yang sedang asik bermain bersama temannya di akar gantung liana langsung terkejut dan menjatuhkan diri lalu lari panik memeluk keeper cewek. Aku pun bingung, “Loh… kempa Jainul begitu”.

Keeper Rara tertawa, “Begitulah dia. Jail sama kita, jail sama orangutan lain, tapi begitu mendengar suara “uuuuuuuu”, langsung lari seperti dikejar predator.”.

Keesokan hari, aku mendekati Jainul pelan-pelan di sekolah hutan, Jainul sambil mengunyah buah, sesekali melirik curiga. “Kita di hutan pakai suara itu bukan buat nakuti kamu”, kataku. “Itu cuman cara kita bilang, “Hei, aku di sini, kamu di sana. Supaya kita semua aman”.

Jainul menatapku, seperti sedang mempertimbangkan apakah penjelasan itu layak dipercaya. Sesaat kemudian, saat Tim APE Defender masuk ke forest school, keeper berteriak, “Uuuuuuuu!”. Tapi kali ini, Jainul tidak lari sekencang kemarin. Ia hanya berhenti, menoleh, lalu memanjat pohon pelan-pelan tanpa drama.

Mba Rara yang melihat itu tersenyum bilang, “Kemajuan, nih!”.

Seiring waktu, Jainul mulai paham bahwa suara “uuuuu”, bukan ancaman. Itu hanya kode manusia aneh, keras, tapi tidak berbahaya. Dan meski Jainul tetap jail (karena sudah sifatnya), setidaknya kini ia tidak lagi terlalu panik setiap mendengar para keeper saling menyapa di hutan ya walaupun masih agak kagetan.

Di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance), Jainul tumbuh sebagai orangutan jail yang suatu hari nanti, ketika sudah cukup mandiri akan kembali pulang ke hutan bebas dan siap menghadapi suara apapun… kecuali mungkin “uuuuuuuu”. (LUK)

PANSY, SI PENJELAJAH BORA

Setahun yang lalu, Pansy hampir saja tumbuh di hutan bersama induknya. Saat itu, Pansy akan di-translokasi dan dilepasliarkan bersama induknya. Tapi takdir berkata lain, induk Pansy tiba-tiba menjauh. Awalnya tim mengira ia hanya mencari posisi aman. Menit demi menit berlalu dan sang induk tidak kembali. Pansy menatap sekitar dengan suara rintihan kecilnya, seolah mencari pelukan yang tak datang lagi. Saat itu, tim yang bertugas memutuskan untuk menyelamatkan dan membawanya ke Pusat Rehabilitasi BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance).

Pansy, satu-satunya bayi orangutan liar di BORA. Dengan tubuh mungilnya, ia aktif menjelajahi area sekolah hutan. Saat Pansy menyusup ke dalam tajuk, kami kesulitan untuk mengamatinya karena terlalu kecil dan pergerakannya yang sangat lihai. Faktanya, Pansy sering sekali membuat sarang di atas pohon, sehingga ia menjadi salah satu orangutan yang pintar membuat sarang yang kokoh. Pansy juga memiliki naluri yang kuat untuk mencari dan memakan pakan alami di hutan.

Waktu itu, saat sekolah hutan, Pansy tidak terlalu sering berinteraksi dengan orangutan lainnya. Ia hanya sendirian dan aktif menjelajah dan eksplorasi di atas pohon. Ia memanjat, mengintip dari tajuk, dan hanya mengamati orangutan lain dari jauh. Seolah-olah ia masih mencari tahu apakah ia aman untuk mendekat. Dan… ia langsung melanjutkan lagi aktivitasnya sendiri. Pansy lebih memilih dunia pohonnya sendiri. Dengan mencari pakan alami berupa buah-buahan, biji-bijian, kulit kayu, dan dedaunan.

Namun, seiring berjalannya waktu, kami mulai menyadari bahwa Pansy mulai berkembang dalam segi sosial. Ia mulai bersosial memuat sarang bersama Cinta. Terkadang bersama Eboni dan Mabel juga. Ada momen-momen yang jarang terjadi saat Pansy di area sekolah hutan. Ia pernah turun ke lantai hutan karena rasa bosan berada di atas pohon. Lalu, ia menggelindingkan badannya ke tanah dengan posisi kedua tangannya yang tidak tepat. Sehingga, ia terlihat gagal melakukan aksi rolling seperti orangutan lain yang biasa melakukannya. Kami hanya bisa tertawa saat melihat tingkah lucunya itu.

O iya, Pansy juga memiliki teman dekat di BORA. Dia adalah Felix. Felix yang merupakan temans ekandangnya itu sangat akrab dan sering bermain bersama. Meskipun Felix memiliki tubuh yang lebih besar dari Pansy, ia seringkali menyerang bahkan menarik rambut Felix hingga tuahnya terbanting saat bergelantungan. Hal itu membuat Felix melakukannya beberapa kali.

Seiring dengan perkembangan Pansy dari waktu ke waktu, kami tidak pernah tahu kapan Pansy akan benar-benar siap kembali ke hutan. Tapi satu hal yang pasti, setiap hari, ia semakin mendekati mimpinya menjadi orangutan liar yang mandiri. (GIT)

2025, TAHUN TUMBUH KEMBANG PESAT ARTO DAN HARAPI

Siapa yang tak kenal dengan Arto dan Harapi? Mereka adalah dua bayi orangutan satu paket yang kerap dijuluki “Double Trouble Couple” karena tingkah usulnya. Memasuki tahun 2026, keduanya sudah resmi menjadi teman terbaik selama 2 tahun! Penasaran apa saja yang tumbuh pada mereka selama tahun 2025? Mari kita bahas.

Jika sebelumnya Arto dan Harapi selalu ditemukan berpelukan erat sebagai perlindungan diri, setahun ini mereka mulai menjelajahi petualangannya sendiri loh. Keduanya sudah punya ketertarikan yang semakin berbeda. Meskipun begitu, kemistri (dari kata chemistry) mereka tetap kuat karena tetap menjadi rekan satu kamar saat masuk kandang. Tahun 2025 adalah tahun pendewasaan bagi Arto dan Harapi.

Satu tahun ini, Arto dan Harapi menjalani kehidupan sebagai “kakak” bagi Felix dan Pansy yang masuk pusat rehabilitasi BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) di awal tahun. Arto lebih akrab dengan Pansy, sedangkan Harapi lebih dekat dengan Felix. Keduanya membantu para bayi orangutan baru ini untuk beradaptasi dengan lebih cepat dan baik. Saat ini, Arto dan Harapi tidak akan keberatan untuk bertukar rekan tidur dan sekolah hutan. Mereka jauh lebih dewasa.

Arto yang memang sudah tumbuh super aktif dan social butterfly, tetap sensitif pada suara keras dan gerakan tiba-tiba. Tapi satu tahun ini, Arto si penakut pada keeper berbadan kekar, mulai menghadapi masalahnya dan mampu membela dirinya sendiri. Tidak lagi terlihat ragu, Arto akan mengejar siapa pun yang mengganggunya dan memberikan gigitan pada boots, lengan, sambil menarik apa saja. Sangarnya Arto sering semakin nampaknya tulang bakal cheekpad di wajah. Arto mencetak sejarah sebagai orangutan dengan peningkatan bobot badan paling signifikan sepanjang tahun. Ia bisa naik hingga 0,8 kg sebulan, tanpa adanya catatan penurunan berat badan hingga Posyandu terlahir Desember lalu.

Pusat rehabilitasi merupakan saksi tumbuh kembangnya bayi orangutan, terutama pada Arto dan Harapi yang belum lama melewati usia 1000 harinya. Fase pertubuhan mereka akan sangat krusial, didukung dengan daya kembang mereka yang super cepat dan tanggap. Saat ini, Arto dan Harapi sudah ulah ditangani keeper lain untuk membantu mereka berkembang dengan perawatan yang lebih advanced. Senang bisa dan masih akan menemani mereka mengalami momen-momen ajaibnya. (RAR)

BENTENG TERAKHIR PERLINDUNGAN ORANGUTAN, KILAS BALIK APE DEFENDER SEPANJANG 2025

Pagi di pusat rehabilitasi Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) dimulai jauh sebelum matahari benar-benar naik. Saat langit masih gelap dan berkabut, para babysitter telah berangkat menuju baby house untuk memberi susu dan membersihkan kandang lebih awal. Di gudang pakan, buah dan sayur disiapkan serta ditimbang satu per satu sesuai kebutuhan setiap individu orangutan. Tepat pukul delapan, anggota tim APE Defender berkumpul untuk briefing singkat membahas kondisi individu, rencana sekolah hutan, enrichment, serta pekerjaan kandang hari itu. Setelahnya, kandang dicuci, peralatan enrichment disiapkan, dan sebagian tim berangkat menuju lokasi sekolah hutan mengantar orangutan muda belajar kembali tentang dunia yang seharusnya mereka kenal sejak lahir.

APE Defender merupakan Tim yang menjalankan program rehabilitasi Orangutan Kalimantan di Centre for Orangutan Protection (COP). Secara fungsional, tim ini berperan sebagai benteng pertahanan terakhir bagi orangutan yang telah diselamatkan dari berbagai situasi ekstrem. Di tangan mereka, arah masa depan setiap individu orangutan dibentuk secara perlahan, hari demi hari, melalui keputusan-keputusan kecil yang tak pernah sepele. Dari rangkaian proses inilah muncul pertanyaan paling mendasar dalam rehabilitasi, apakah individu orangutan tersebut masih memiliki peluang untuk kembali hidup mandiri di alam liar, atau hanya mampu bertahan secara fisik tanpa kemungkinan untuk dilepasliarkan karena keterbatasan fisik maupun mental yang tertinggal dari masa lalunya.

Sepanjang tahun 2025, tercatat 25 individu orangutan menjalani proses rehabilitasi maupun pemulihan kesehatan aktif di pusat rehabilitasi BORA. Dari jumlah tersebut, lima individu merupakan kedatangan baru sepanjang tahun ini, yang masuk ke dalam program rehabilitasi dan pemulihan setelah diselamatkan dari zona interaksi negatif dengan manusia. Tiga di antaranya adalah bayi orangutan yang kehilangan induknya, yakni Felix, Pansy, dan Jack. Kehilangan figur induk di usia sangat dini membuat mereka membutuhkan pendampingan intensif untuk membangun kembali keterampilan dasar yang seharusnya diperoleh secara alami di alam.

Selain itu, terdapat Beti, individu betina dewasa yang telah dipelihara secara ilegal selama lebih dari dua dekade di Jawa Tengah. Proses penyelamatannya melibatkan translokasi lintas pulau, sebuah langkah kompleks yang menandai awal perjalanan panjang Beti untuk kembali mengenal kehidupan di luar ketergantungan manusia. Sementara itu, Surti merupakan individu liar yang diselamatkan di area pertambangan. Berbeda dengan individu lain, Surti tidak memerlukan rehabilitasi perilaku jangka panjang, melainkan pemulihan kondisi fisik sementara di BORA sebelum akhirnya dapat dikembalikan ke habitat alaminya.

Sepanjang 2025, bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, COP berhasil melepasliarkan tujuh individu orangutan yang sebelumnya menjalani rehabilitasi maupun pemulihan kesehatan di BORA. Lima individu di antaranya merupakan orangutan bekas peliharaan ilegal, yaitu Bonti, Jojo, Mary, Popi, dan Charlotte yang telah menjalani rehabilitasi selama beberapa tahun. Dua individu lainnya, Paluy dan Surti, merupakan orangutan liar yang diselamatkan dari zona interaksi negatif dan memerlukan perawatan sebelum dikembalikan ke alam.

Rehabilitasi orangutan bukan proses yang dramatis. Ia berjalan lambat, bertahun-tahun, dalam rutinitas yang nyaris tak pernah terlihat publik. Mengajari kembali cara memanjat dan membangun sarang. Mengasah insting mencari pakan alami. Memulihkan trauma akibat interaksi manusia yang terlalu dekat. Dan yang paling sulit, mengembalikan jarak antara orangutan dan magnesia, jarak yang justru menentukan keberhasilan rehabilitasi itu sendiri.

Di luar pusat rehabilitasi, APE Defender juga tidak bekerja sendirian. Sepanjang 2025, tim ini terlibat langsung bersama APE Crusader dalam berbagai aksi penyelamatan orangutan di lapangan bersama BKSDA Kalimantan Timur. Sekitar 52 individu orangutan berhasil diselamatkan dari zona konflik, pemeliharaan ilegal, dan kondisi darurat lainnya. Pada penghujung tahun 2025, dokter hewan dari tim APE Defender juga terlibat dalam proses pemulangan empat individu orangutan korban perdagangan satwa ilegal dari Thailand ke Sumatra.

Di balik seragam lapangan yang kerap dilumuri lumpur, para anggota APE Defender menjadi saksi perubahan-perubahan kecil yang menentukan. Tatapan yang perlahan tak lagi mencari manusia. Tangan-tangan yang mulai melepaskan pelukannya. Gerak yang kembali lincah tanpa arahan. Keberhasilan rehabilitasi berakar pada detail-detail sunyi seperti ini, yang jarang terlihat dunia, namun menentukan arah masa depan setiap individu.

Sepanjang 2025, rehabilitasi mengajarkan bahwa perubahan sejati jarang berlangsung cepat. Sebagian individu melangkah maju, sebagian lain masih harus menunggu. Memasuki 2026, pusat rehabilitasi tidak menawarkan janji besar, hanya komitmen yang sama seperti sebelumnya, untuk terus hadir hari demi hari, menjaga peluang agar setiap individu orangutan yang diselamatkan dapat menjalani kehidupan yang lebih baik. (RAF)

DEA SEPANJANG 2025 HANYA UNTUK AMBON

2025 menjadi tahun yang didedikasikan sepenuhnya untuk merawat Ambon. Di tahun ini, ketika semua orangutan dan staf sudah berpindah ke BORA di Kampung Tasuk, Ambon bersama para trainer dan perawat satwa masih menetap. Suka dan duka berhasil terlewati dalam satu tahun tersebut. Kondisi yang lebih sunyi dibandingkan sebelumnya menjadi momentum untuk menemukan jalan agar tidak termakan kejenuhan.

Namun rintangan justru menghampiri, jaringan internet khusus bermasalah selama satu bulan penuh. Di saat inilah muncul ide mendokumentasikan proses pembuatan enrichment untuk Ambon. “Lumayan mengobati rasa bosan saat tidak ada jaringan, juga menjadi kebahagiaan tersendiri karena bisa memperlihatkan apa yang bisa kami kerjakan”, ujar Dea, animal keeper yang telah dua tahun di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance), Kalimantan Timur.

Ambon yang intensif menjalankan program training dengan tujuan membantu penurunan berat badan mulai menunjukkan hasil baiknya. Dari pengukuran biometrika, diketahui lingkar perut Ambon menyusut dari 168 cm menjadi 125 cm. Sayangnya kabar bahagia harus beriringan dengan kabar sedih lainnya. Tahun 2025 ditutup dengan adanya luka pada bagian skrotum Ambon, sehingga perlu dilakukan tindakan medis untuk menjahit luka tersebut. Dengan bantuan tim medis, Ambon berhasil melewati operasi dengan lancar.

Jika ditanya apa harapan di tahun 2026 untuk Ambon, semoga segera datang waktunya untuk menempati enclosure, serta harapan agar Ambon mampu beradaptasi saat sudah menempati enclosure. Untuk Ambon dan semua orangutan yang masih berada di BORA, semoga selalu dalam kondisi yang sehat. Tidak hanya orangutan, tapi juga semua staf yang bertugas, selalu dalam keadaan sehat dan bahagia. (DEA)

SATU TAHUN FELIX DI BORA

Tak terasa, sudah satu tahun lamanya Felix kami rawat di Pusat Rehabilitasi BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Dalam kurun waktu tersebut, begitu banyak perubahan dan perkembangan positif yang terlihat pada diri Felix.

Sebelum bercerita tentang Felix yang sekarang, aku ingin mengajak kilas balik sejenak ke masa awal kedatangan di BORA. Felix adalah bayi orangutan hasil konfiskasi. Sebelumnya, ia dipelihara sebagai hewan peliharaan oleh warga setempat. Kami sangat bersyukur Felix akhirnya berhasil di-rescue.

Saat pertama kali tiba, kondisi Felix sangat memprihatinkan. Tubuhnya kecil, lemah, dan dipenuhi luka. Ia hampir tidak memiliki energi untuk bergerak, sehingga hanya bisa duduk di pangkuan babysitter. Felix bahkan sempat mengalami demam yang membuatnya harus mengonsumsi obat hingga larut malam. Masa-masa itu menjadi periode yang berat, bagi Felix maupun bagi kami yang merawatnya.

Namun, perlahan tapi pasti, Felix berhasil melewati masa-masa sulit tersebut. Kini Felix telah tumbuh menjadi orangutan yang aktif, dan gemar bermain serta mengeksplorasi pepohonan tinggi. Selama satu tahun berada di pusat rehabilitasi, Felix bertemu banyak teman sesama orangutan yang membantunya belajar dan bertumbuh untuk benar-benar “menjadi” orangutan.

Salah satu teman terdekat Felix adalah Pansy, kawan satu kandangnya. Felix yang awalnya terlihat takut-takut pada Pansy, kini hampir selalu beraktivitas bersama, baik di dalam kandang maupun di sekolah hutan. Felix bahkan akan menangis ketika keeper hanya mengajak Pansy ke sekolah hutan tanpa dirinya. Ada momen-momen lucu ketika Pansy yang lebih lihai berpindah dari satu pohon ke pohon lain, sementara Felix kesulitan mengikutinya dan hanya bisa dia melongo melihat Pansy semakin menjauh di antara pepohonan tinggi. Kini, keduanya hanya bisa diam melongo melihat Pansy semakin menjauh di antara pepohonan tinggi. Kini, keduanya seperti tidak terpisahkan.

Selain Pansy, Felix juga memiliki orangutan favorit lainnya, yaitu Harapi dan Ochre. Bersama dua sahabat ini, Felix lebih sering bermain berguling-guling di tanah. Hal ini berbeda saat ia bersama Pansy yang cenderung mengajaknya berkeliling area sekolah hutan dari atas pohon. Ada kalanya Felix sudah berhasil memanjat ke atas pohon, namun begitu melihat Harapi atau Ochre di bawah, ia akan langsung memilih turun dan bermain di lantai hutan, sesuatu yang sering kali membuat babysitter sedikit kesal.

Felix memang telah berkembang pesat selama satu tahun terakhir. Meski begitu, masih banyak keterampilan liar yang perlu ia pelajari ke depannya. Perjalanan Felix masih panjang dan kami akan terus mendampingi setiap langkahnya menuju kehidupan yang lebih mandiri sebagai orangutan liar. (JAN)

MENGENAL ORANGUTAN LEBIH DEKAT BERSAMA SDN 001 TASUK

Pada 9 Desember 2025 dalam rangkaian aksi Green Innovation Week (GROW) dari kelompok Rambu_etam.id dan tim APE Defender melaksanakan kegiatan edukasi orangutan di kantor Centre for Orangutan Protection yang berada di kampung Tasuk, Berau. Kegiatan ini ditujukan untuk siswa kelas 4 SDN 001 Tasuk sebagai upaya menanamkan kepedulian terhadap pelestarian orangutan sejak usia dini. Meski sederhana, edukasi seperti ini menjadi langkah penting dalam membangun generasi yang memahami dan mencintai satwa liar.

Acara dibuka dengan pemaparan materi mengenai orangutan dan peran penting konservasi, dipandu oleh drh. Rengga. Anak-anak mengikuti sesi ini dengan penuh antusias. Mereka aktif bertanya, berdiskusi, bahkan mampu membedakan antara kera dan monyet, pengetahuan dasar yang ternyata masih sering keliru di masyarakat umum.

Setelah penyampaian materi, siswa diajak mengikuti rangkaian aktivitas menarik seperti mewarnai, penanaman pohon, dan berbagai permainan outdoor. Kegiatan ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga membantu mereka memahami konsep konservasi melalui pengalaman langsung. Suasana ceria dan penuh energi tampak sepanjang acara.

Sebagai penutup, diadakan pameran kecil hasil mewarnai para siswa. Tiga karya terbaik dipilih sebagai bentuk apresiasi atas kreativitas dan semangat mereka. Menurut wali kelas yang mendampingi, dari 33 murid hanya dua yang berhalangan hadir, dan seluruh peserta pulang dengan wajah gembira serta pengalaman baru yang bermanfaat.

Tentunya kami berharap edukasi seperti ini dapat terus diperluas, menjangkau lebih banyak sekolah dan kelompok masyarakat. Menjaga kelestarian alam bukan hanya tanggung jawab pelaku konservasi, tetapi tugas bersama yang dimulai dari pengetahuan, kepedulian dan tindakan nyata. (TAT)

MENJADI PAHLAWAN UNTUK PAHLAWAN KELESTARIAN ORANGUTAN DI HARI PAHLAWAN

Di Hari Pahlawan tahun ini, cerita bayi orangutan tanpa induk yaitu Harapi, Arto, dan Felix telah dibagikan pada penggiat konservasi se-Asia dalam Wild Animal Rescue Network (WARN) Conference di Hua Hin, Thailand. Saya berkesempatan untuk mengantarkan cerita perjalanan tumbuh kembang mereka selama proses rescue hingga rehabilitasi. Dua tahun menjadi babysitter orangutan di Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) membuat momen ini sangat penting, karena jadi kali pertama saya juga menceritakan seluruh perjalanan saya selama bekerja untuk mereka.

Pemulihan kondisi psikis bayi orangutan tanpa induk akibat konflik satwa liar dengan manusia menjadi topik yang saya bagikan di WARN 2025 ini. Orangutan Babies’ Trauma Recovery Journey from Being Captivated by Humans, bayi-bayi tersebut seringkali menunjukkan perilaku yang menunjukkan rasa takut dan ketergantungan berlebihan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi babysitter yang dalam proses ini membantu orangutan mencapai kondisi yang lebih baik sekaligus mengisi peran induk.

Pagi hari pertama konferensi, setelah acara pembukaan, saya naik podium bersiap membagikan pesan dari bayi orangutan kepada audiens. Suasana venue sangat tenang, saya bisa melihat audiens terkunci pandangannya pada slide 1 materi saya dengan foto saya dengan bayi orangutan di lokasi sekolah hutan. Cerita diawali dari latar belakang bayi orangutan sebelum masuk BORA yang umumnya tidak beruntung. Di mulai dari diperlakukan seperti bayi manusia dan hewan peliharaan, tidak ditempatkan di tempat yang nyaman, hingga menjadi korban rasa kepemilikan berlebihan yang berdampak pada kondisi tubuh baik fisik maupun psikis. Di bagian ini, atmosfer konferensi penuh atensi seiring dengan rasa simpati yang muncul pada setiap foto di lapangan yang saya tampilkan.

Fakta bahwa Harapi, Arto, dan Felix kini sudah berkembang pesat, walau masih punya rasa takut dan trauma akibat apa yang mereka alami. Proses penyembuhan trauma satu bayi orangutan saja membutuhkan waktu yang sangat lama, yang mungkin sama dengan ratusan konflik bayi orangutan dengan manusia di tempat lain. Rasa haru dan bangga pada ketiganya bagaimana mereka bertahan dari awal tiba di BORA hingga hari ini dengan berbagai catatan pencapaiannya. Sebuah perasaan yang sulit dikendalikan saat gemuruh tepuk tangan setelah saya menutupnya dengan mengucapkan “Thank you”. Itu tidak berakhir di presentasi, berlanjut pada saat istirahat atau jam makan yang membuat saya sadar bahwa saya dan teman-teman di COP bukan satu-satunya pihak yang peduli dengan orangutan. Kesempatan terbaik berada di acara ini merupakan hadiah ulang tahun bermakna bagi saya selama bekerja di Centre for Orangutan Protection. Saya berharap, di hari pahlawan tahun ini, saya bisa menjadi pahlawan yang menyampaikan harapan dari Harapi, Arto, dan Felix, pahlawan yang memanjangkan kelestarian orangutan lewat daya hidup kuat mereka. (RAR)

EDUKASI “SAVE ORANGUTAN’” BERSAMA KOMUNITAS JEJAK JENAKA DAN COP

Suasana area Futsal PJA, Tanjung Redeb, Berau, Kalimantan Timur pada tanggal 26 Oktober 2025 dipenuhi tawa dan semangat anak-anak. Sebanyak 95 peserta berusia 3–11 tahun berkumpul untuk mengikuti kegiatan edukasi bertema “Save Orangutan”, hasil kolaborasi antara Komunitas Jejak Jenaka dan Centre for Orangutan Protection (COP).

Peserta dibagi menjadi tiga kelompok sesuai rentang usia, dan setiap kelompok bergiliran mengunjungi tiga pos edukasi yang disiapkan. Di Pos ‘Dongeng’, kami menceritakan tentang ukuran tubuh, makanan, ancaman, dan alasan mengapa orangutan perlu dilindungi. Lalu di Pos ‘Kreasi’, kami memandu peserta membuat rope ladder dari potongan kayu dan tali, yang nantinya akan dibawa ke BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) sebagai furnitur kandang. Sementara di Pos ‘Games’, tim bersama volunteer Jejak Jenaka mengajak
anak-anak bermain “pemburu dan penebang” serta puzzle mencocokkan hewan dilindungi dan tidak dilindungi berdasarkan pulau habitatnya. Maskot berupa kostum orangutan khas COP berkeliling sepanjang sesi, menambah keceriaan dan antusiasme peserta.

Meskipun sebagian besar peserta sangat antusias, beberapa anak tampak lebih tertarik berlarian di lapangan futsal yang luas dan bersih. Suara riuh dalam satu ruangan menjadi tantangan tersendiri bagi tim untuk menjaga fokus peserta. Setelah kurang lebih 3,5 jam penuh kegiatan seru, acara ditutup dengan pembagian doorprize. Tim kembali ke site dengan pengalaman baru dan semangat segar.

Kegiatan kolaborasi ini diharapkan menjadi bekal awal bagi peserta untuk mengenal dan berupaya melindungi orangutan serta habitatnya, sekaligus menjadi langkah awal kolaborasi positif antara COP dan berbagai komunitas peduli lingkungan lainnya. (ARA)