Tanah adalah tempat favorit bagi Aman. Bukan tidak bisa memanjat, mungkin aja Aman lebih suka bermain dan mencari makan di bawah. Mungkin juga karena kelainan di tulang paha Aman sehingga dia tidak bisa banyak bergerak naik ke pohon. Jawab keeper saat aku bertanya mengenai kondisi orangutan bernama Aman.
Seiring berjalannya waktu, aku mengamati perilaku Aman selama sekolah hutan. Apa yang membuat Aman manjat? Suara-suara yang nyaring seperti dahan patah. Bukan cuma Aman, orangutan lain juga langsung memanjat kalau kaget mendengar suara nyaring. Terus selain itu apa?
Suatu saat, aku mulai menyadari saat sekolah hutan hampir selesai, Aman selalu manjat ke pohon atau liana. “Loh Aman bisa memanjat juga”, tanya ku pada keeper. “Iya, dia biasanya manjat kalau sekolah hutan hampir selesai”, jawab salah satu keeper. Aku tidak bertanya sebabnya. Sampai suatu hari, ada keeper yang bertanggung jawab membawa Aman ke sekolah hutan. Namanya Lio. Saat sekolah hutan selesai, kami bersiap-siap untuk pulang ke kandang. Semua keeper sibuk memanggil nama orangutannya untuk pulang, kecuali Lio. Lio hanya menatap Aman dari bawah dan Aman pun menatap Lio dengan suara jeritannya. “Naik, naik, naik”, kurang lebih begitulah Aman bersuara.
“Tolong turunan Aman dulu”, kata Lio.
Aku mendekat dan mencoba untuk menolong turunan Aman. “Aman, Aman, pulang yuk. Nih ada pisang”. Aman tidak peduli dan bahkan manjat lebih tinggi. Mungkin Aman takut sama Lio atau keeper laki-laki. “Lio coba sembunyi jangan di sini”, Lio langsung menjauh dan bersembunyi.
Aku coba pancing lagi pakai pisang. “Aman sini turun, sudah gak ada Lio”. Aman masih waspada dari atas tapi perlahan mulai turun ke tanah. Setelah aku tangkap tangan Aman, Lio langsung mendekat untuk membawa Aman pulang, tentunya dengan jeritan kecil Aman. “Naik, naik, naik”, sambil jalan pulang. (TIN)
Aktivitas Felix sepanjang September banyak diwarnai permainan sosial. Ia sering terlihat berguling-guling, saling menggigit dalam konteks bermain, dan berinteraksi dengan individu lain di lantai hutan. Ia secara rutin bermain bersama Pansy, Mabel, Cinta Ochre, Jack, dan individu lainnya, sering kali tetap terlibat dalam aktivitas sosial tersebut, Felix juga mencari makan dengan berbagai pakan alami seperti buah mentah, kulit kayu, daun, ranting, kambium, dan kelapa.
Meski permainan di permukaan tanah menjadi aktivitas yang sering terlihat, Felix juga menunjukkan kemampuan eksplorasi di pepohonan. Ketika sekolah hutan memasuki area yang lebih dalam, ia mulai memanjat dan berpindah dari satu pohon besar ke pohon lainnya untuk mencari makanan. Ia juga mengikuti individu lain dalam melakukan eksplorasi, termasuk mengikuti Pansy dan Ochre ketika mereka bergerak di pepohonan. Hal ini membuat aktivitas Felix sepanjang bulan tidak hanya didominasi interaksi sosial, tetapi juga eksplorasi lingkungan hutan.
Interaksi sosial Felix juga terlihat dalam hubungannya dengan babysitter. Setelah bermain cukup lama, ia beberapa kali mendatangi babysitter dan duduk di dekatnya sebelum kembali bermain ketika diajak oleh individu lain. Ketika sekolah hutan tidak dilakukan karena asap, ia tetap aktif mengikuti enrichment bersama Pansy dan Jack. Secara keseluruhan, September memperlihatkan Felix sebagai individu yang sangat aktif secara sosial, dengan permainan menjadi bagian penting dari aktivitas eksplorasi dan interaksinya. (RAF)
Harapi menunjukkan aktivitas bermain sosial dan eksplorasi yang aktif sepanjang September, terutama di lantai hutan. Ia sering bermain bersama Arto, Ochre, Jainul, Aman, Astuti, Mabel, dan Cinta. Ia juga aktif mencari makanan alami seperti jengkol, umbut, kulit kayu, daun mudan dan tua, serta buah mentah. Walaupun aktivitas di permukaan tanah cukup dominan, Harapi tetap memanfaatkan pepohonan ketika sekolah hutan memasuki area yang lebih dalam.
Salah satu aktivitas eksplorasi Harapi yang paling sering terlihat adalah menggali tanah dan memandikan tubuhnya menggunakan tanah kering. Ia juga terlihat mengeksplorasi pohon dan cabang serta sesekali menghabiskan waktu sendiri di atas cabang setelah bermain dengan individual lain. Aktivitas ini berlangsung berdampingan dengan perilaku mencari makan dan permainan sosialnya, sehingga aktivitas Harapi selama September cukup beragam meskipun permukaan tanah tetap menjadi area yang paling sering digunakannya.
Harapi juga sering menunjukkan ketertarikan terhadap keeper, terutama ketika mendengar suara resleting tas dan kemudian mendekat untuk meminta pakan. Di sisi lain, ia tetap memiliki aktivitas eksplorasi mandiri, termasuk bermain air bersama Mabel dan Cinta. Secara keseluruhan, pengamatan September memperlihatkan Harapi sebagai individual yang aktif secara sosial, banyak mengeksplorasi permukaan tanah, serta menggunakan berbagai bentuk permainan dan aktivitas alami selama sekolah hutan. (RAF)
Arto menghabiskan sebagian besar September dengan menggabungkan permainan aktif dan eksplorasi mandiri. Ia sering bermain di permukaan tanah bersama Hrapi dan individual lain, berguling dan berinteraksi dengan mereka, sekaligus mengeksplorasi lingkungan sekitarnya secara mandiri. Ia terlihat memanjat pohon kecil, berayun di liana, menjatuhkan diri dari cabang, serta berpindah antara permukaan tanah dan vegetasi. Dalam aktivitas mencari makan, ia tercatat memakan kambium dan umbut.
Eksplorasi Arto tidak hanya dilakukan dengan berpindah tempat, tetapi juga melalui manipulasi lingkungan, Ia berulang kali menggali tanah dan terlihat memandikan tubuhnya dengan tanah kering bersama Harapi. Ia juga pernah menumpuk daun di permukaan tanah seperti membuat struktur sarang sebelumnya kembali mengeksplorasi dan memakan umbut. Aktivitas tersebut menunjukkan bagaimana Arto banyak menggunakan material alami di sekitarnya selama sekolah hutan.
Arto juga tetap sangat interaktif dengan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Ia sering mendekati keeper dan beberapa kali terlihat menggigit atau menyerang boots sebagai bagian dari interaksinya. Aktivitas bermain tetap terlihat hingga akhir bulan, termasuk bermain bersama Mabel, Aman, dan Jainul serta mengayunkan pohon kecil. Secara keseluruhan, September memperlihatkan Arto sebagai individual yang aktif mengeksplorasi melalui gerakan, permainan, manipulasi material alami di sekitarnya, dan interaksi sosial. (RAF)
Hari itu seperti hari-hari biasanya di sekolah hutan BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Semua orangutan beraktivitas dengan caranya masing-masing, ada yang foraging di kanopi pohon dan ada yang memilih bermain di lantai hutan. Sementara Felix, dia memilih berada di atas pohon eksplorasi dan mencari makan bersama Pansy.
“Ksrks… krksks… kskskr…”. Tiba-tiba terdengar suara dedaunan dari atas pohon. Seketika kami para keeper menengok ke atas pohon. Tidak disangka ternyata di atas phon, terlihat Felix yang sedang menyusun dedaunan yang dia telah petik di atara dua cabang pohon. Kami semua terkejut dan otomatis berucap, “Felix buat sarang!?”. Kami terkejut dan sedikit ada rasa tidak percaya dengan apa yang kami lihat. Felix yang biasanya mengekor pada babysitter atau memeluk kaki babysitter selama sekolah hutan, hari ini membuat sarang pertamanya.
Membuat sarang merupakan salah satu skill yang harus dikuasai oleh orangutan agar bisa bertahan hidup di alam liar. Dan insting Felix untuk mulai menyusun dedaunan menjadi sarang merupakan satu indikator perkembangan kemampuannya. Sebelumnya pun, Felix juga sudah terlihat mereparasi sarang-sarang lama dengan menumpukkan daun-daun baru di atas daun-daun yang sudah kering. Terkadang Felix juga terlihat melanjutkan sarang yang dibuat oleh orangutan lain dengan mematahkan ranting lalu menumpuk ranting tersebut ke pondasi sarang yang sudah ada.
Sarang yang dibuat Felix itu memang belum sempurna, bahkan pondasi sarang itupun masih sangat rapuh. Namun melihat bagaimana Felix bisa mencapai titik itu, tentu memberi rasa bangga dan haru. Kami menyadari bahwa Felix yang kami kenal adalah bayi orangutan yang manja, kini telah bertumbuh dengan cara dan ritmenya sendiri. (JAN)
Sudah tıga bulan sejak orangutan Jane menjadi penghuni paling baru di baby house BORA. Saat pertama kali dititipkan di akhir bulan Juni tahun ini, usianya hanya sekitar 1,5 tahun. Walau baru tida bulan menjadi babysiter nya, saya sudah menetapkan Jane sebagai salah satu orangutan terpintar di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Saya takjub begitu melihat orangutan sekecil itu menjelajah dengan lincah di tajuk-tajuk pohon tinggi dan mencari pakan-pakan alami seperti kambium dan buah hutan, kadang ia memotek ranting untuk dijadikannya sarang sederhana, begitu bersemangat memecahkan pengayaan buatan dan alami yang diberikan meski kondisi jarinya yang tidak sempurna.
Namun, sepandai dan semandiri apa pun Jane, ada kalanya ia bersikap menja layaknya bayi orangutan pada umumnya. Seperti hari ini, Jane tampak gembira bermain di lantai playroom baby house, menutup seluruh badannya dengan karung goni lalu berjalan mengitari playroom, sesekali ia akan berguling dan menyeret karung goninya mendekati saya. Saat saya mengulurkan tangan, Jane akan sok tidak peduli dan kembali berguling menjauh.
Kadang saat sekoilah hutan, Jane akan sulit untuk diajak pulang. Ia masih senang eksplorasi dari pohon ke pohon. Jadi, saya akan membiarkan Jane melanjutkan sekolahnya sambil mengajak Charlie, penghuni baby house lainnya, untuk pulang terlebih dahulu. Namun, Jane sangat tidak suka sendirian. Saat melihat saya dan Charlie pulang, Jane akan merengek dan turun menghampiri saya dengan sendirinya, lalu meminta digendong seperti anak kecil.
Ada satu kebiasaan Jane yang akhir-akhir ini saya pikirkan. Ia selalu merengek dan menangis saat melihat saya pergi ke dalam hutan. Padahal saya hanya mencari daun sebagai pengayaan untuk alas tidurnya. Saya tidak tahu mengapa ia menangis begitu nyaring, tetapi ada satu hipotesis yang terlintas di otak saya.
Mungkinkah ia takut terpisah dengan saya seperti saat ia terpisah dengan ibunya?
Saya tidak tahu jawaban pastinya. Mungkin, menangis hanya cara Jane meminta saya untuk tetap berada di dekatnya. Namun, setiap kali mendengarnya, saya kembali diingatkan bahwa di balik kepiawaiannya menjelajah tajuk pohon, mencari pakan, dan memecahkan pengayaan, Jane tetaplah bayi orangutan yang masih membutuhkan rasa aman dan kasih sayang. Ia mungkin sedang belajar untuk mandiri, tetapi bukan berarti ia harus berhenti menjadi bayi. (FIQ)
Forest fires in Kalimantan are becoming increasingly severe. The heat is intense, the air is suffocating, and visibility is so poor that everything becomes a blur. These are the effects I have experienced firsthand as someone who lives in a city. It makes me wonder: if those of us living in cities are already suffering, what about the other living creatures out there in the forest?
I am someone who has spent my entire life, from childhood to adulthood, living in a city—Solok, to be precise, a small city in West Sumatra. Having spent my days in an urban environment, I had never truly considered how important forests and wildlife were.
However, as time went by, I came across the social media account of COP (Centre for Orangutan Protection), which posted about a conservation training program called ABELII CAMP. Since childhood, I had often heard the word “conservation” at school, but I had never really understood what it meant. This sparked my curiosity, and I decided to join the training program held in Medan, North Sumatra.
I participated in the training for approximately one week. Through ABELII CAMP, I came to realize just how broad the meaning of conservation truly is. I also began to understand the importance of protecting forests and everything within them, including the smallest animals, which can have a significant impact on their surrounding environment. I came to realize one important thing: “What is the meaning of human existence if we do not make a positive impact on our environment?”
Eventually, I decided to get involved and take action on the ground by becoming a volunteer with COP. I volunteered for approximately four months, gaining an incredible amount of knowledge and new experiences that not everyone has the opportunity to acquire. I am deeply grateful for the opportunity I was given.
My journey in conservation did not end there. In July 2026, I once again participated in COP’s conservation training program, COP School, held in Yogyakarta. Even after the training had ended, I decided to volunteer once again, driven by the increasingly severe forest fires spreading across Kalimantan.
COP then deployed me to Labanan, Berau, East Kalimantan. I was sent alongside one of my fellow COP School participants to assist the COP team, who were struggling against the raging fires in Kalimantan. Upon arriving in Berau, I realized just how devastating forest fires in Indonesia could be. The heat was unbearable, the air was suffocating, and the smoke made my eyes sting and my vision blur.
Imagine how much more these fires torment the creatures living in the forest. Their homes, their habitats, and the very source of their food are being destroyed, consumed by flames in an instant.
I spent days in Kalimantan without a single day of breathing fresh air. All I encountered were thick clouds of smoke and intensely burning flames. Once again, I was reminded of my very first conservation training at ABELII CAMP—the importance of forests, the importance of wildlife, and how deeply these values had become embedded within me.
Thanks to the training I received from COP, I have developed an unwavering determination to protect and restore Indonesia’s rich biodiversity. I do not want to simply stand by and watch; I want to be directly involved in the field.
Because I have come to understand that those who cannot speak for themselves need someone to speak up for them. If not us, then who will take the first step (Ndaru_Orangufriends Padang)
DARI RUANG PELATIHAN KE KOBARAN API, SEBUAH PERJALAN MENJAGA HUTAN
Kebakaran hutan di Kalimantan semakin menggila, panas, sesak, hingga membuat penglihatan sangat buram. Inilah dampak yang saya rasakan langsung sebagai manusia yang tinggal di kota, pertanyaannya, kita yang diari kota saja tersiksa, bagaimana makhluk hidup lain yang ada di hutan sana?
Saya adalah anak yang sedari kecil hingga dewasa berada di kota, tepatnya adalah kota Solok, salah satu kota kecil di Sumatra Barat yang sehari-hari hidup di kota, dan tak pernah terpikirkan sekalipun oleh saya, sepenting apa itu hutan dan satwa.
Namun, seiring berjalannya waktu, saya menemukan salah satu sosial media COP (Centre for Orangutan Protection) yang mem-posting tentang pelatihan konservasi ABELII CAMP. Saya sedari kecil sering mendengar kata konservasi di sekolah, tanpa saya ketahui apa itu konservasi sebenarnya, dari situ saya mulai penasaran apa itu konservasi dan memutuskan untuk mengikuti pelatihan tersebut yang diadakan di Medan, Sumatra Utara.
Saya mengikuti pelatihan tersebut, kurang lebih satu minggu. Dan dari pelatihan ABELII CAMP ini, saya tersadar betapa luasnya arti kata konservasi. Saya juga menyadari betapa pentingnya menjaga hutan, dan seluruh isinya yang bahkan hewan kecil pun sangat berpengaruh besar dengan lingkungannya. Saya menyadari suatu hal, “apalah artinya manusia apabila tidak berdampak bagi lingkungannya. Akhirnya, saya memutuskan untuk ikut serta dan turun langsung ke lapangan dengan menjadi relawan di COP. Saya menjadi relawan kurang lebih selama empat bulan dan mendapatkan sangat banyak ilmu serta pengalaman baru yang tidak mungkin didapatkan oleh semua orang. Saya sangat bersyukur atas kesempatan yang diberikan kepada saya.
Perjalanan saya di dunia konservasi tidak berakhir begitu saja karena di bulan Juli 2026, saya kembali mengikuti pelatihan konservasi COP School yang diadakan di kota Yogyakarta. Bahkan setelah pelatihan berakhir pun, saya memutuskan kembali menjadi volunteer karena melihat bagaimana kondisi kebakaran hutan yang mulai menggila di tanah Kalimantan.
Saya pun diutus oleh COP menuju Kalimantan, tepatnya di Labanan, Berau, Kalimantan Timur. Saya diberangkatkan bersama salah satu teman COP School saya untuk membantu tim COP yang sedang berjibaku melawan kobaran api di Kalimantan. Sesampainya saya di Berau, saya menyadari betapa mengerikannya kebakaran hutan di Indonesia ini, panas, sesak bahkan membuat penglihatan terasa perih. Bayangkan betapa tersiksa nya mereka yang hidup di hutan, rumahnya, tempat tinggalnya, dapur sumber makanannya, hilang terbakar dalam sekejap.
Berhari-hari saya di Kalimantan, tiada sehari pun saya menghirup udara segar, yang ada hanyalah kepulan asap dan kobaran api yang sangat panas. Kembali saya teringat tentang pelatihan konservasi pertama saya di ABELII CAMP, tentang pentingnya hutan, pentingnya satwa, dan itu tertanam di dalam diri saya.
Berkat pelatihan yang saya terima dari COP, saya memiliki tekad yang sangat kuat untuk menjaga dan memulihkan kekayaan hayati yang ada di Indonesia, dan saya tidak hanya ingin melihat, tetapi saya juga ingin terjun langsung di lapangan. Karena saya sadar, mereka yang tidak bisa menyuarakan, butuh disuarakan, kalau bukan dari kita, siapa lagi yang akan memulainya. (Ndaru_Orangufriends Padang)
Ketika Charlie pertama kali datang, usianya baru sekitar 9 bulan. Saat itu, Charlie masih sangat kecil dan membutuhkan perhatian ekstra. Ia belum terbiasa dengan lingkungan barunya. Waktu tidur pun masih harus dijaga karena Charlie sering terbangun secara tiba-tiba, terlihat kaget, lalu menangis sambil mencari pelukan di sekitarnya.
Sebagai babysitter, salah satu tugasku adalah memastikan Charlie mendapatkan susu sesuai kebutuhannya. Setiap kali waktunya minum, aku menyiapkan susunya dan menemani Charlie sampai ia merasa tenang. Hari-hari pertama bersama Charlie cukup menguras kesabaran. Charlie lebih banyak tidur. Kalau bangun, ia bisa kembali mengantuk tidak lama kemudian. Charlie juga adalah orangutan yang cengeng. Kadang aku sampai berpikir, “Ini anak memang hobinya tidur dan nangis tiap hari ya?”.
Namun, waktu berjalan. Lima bulan berlalu. Charlie yang dulu masih sangat kecil ternyata mengalami banyak perubahan. Sekarang ia sudah jauh lebih berani. Bahkan, ia sudah berani memanjat pohon tinggi dari yang pernah aku bayangkan. Melihat Charlie berada di atas pohon membuatku kadang tidak percaya. “Charlie, sekarang kamu sudah berubah sejauh ini?”, batinku. Charlie hanya terus memanjat dengan tenang, seolah ketinggian bukan sesuatu yang perlu ditakuti.
Yang paling menarik, Charlie sekarang bukan tipe orangutan yang suka banyak merengek. Ia cenderung kalem dan pasrah. Kalau sedang bermain, ia bisa sibuk sendiri tanpa harus terus mencari perhatian. Tetapi ada satu hal yang sepertinya tidak banyak berubah. Charlie masih tidur siang dan kalo kelelahan forest school, Charlie kelihatan sangat mengantuk. Kalau sudah waktunya tidur, ia bisa benar-benar menikmati waktunya. Bangun tidur pun terkadang belum langsung bersemangat untuk beraktivitas.
Begitu juga dengan urusan makan. Charlie bisa makan lama sekali. Bukan karena ia tidak suka makan, tetapi giginya memang belum tumbuh lengkap. Jadi, proses makannya masih membutuhkan waktu dan kesabaran.
Di hari-harinya, Charlie juga punya seorang teman bernama Jane. Kalau melihat mereka berdua, rasanya seperti melihat dua karakter yang benar-benar berbeda. Jane adalah anak yang aktif banget. Ia suka bergerak ke sana kemari, penuh rasa ingin tahu, dan kalau soal makanan… Jane bisa dibilang rakus. Begitu melihat ada makanan, semangatnya langsung muncul.
Sementara Charlie? Charlie lebih santai. Ia kalem, tidak banyak merengek, dan lebih suka bermain sendiri. Kalau Jane sibuk menjelajah dan mencari makanan, Charlie bisa saja tetap duduk dengan tenang menikmati kegiatannya sendiri. Mereka benar-benar bertolak belakang.
Jane yang heboh dan penuh semangat.
Charlie yang kalem dan santai.
Namun, justru perbedaan itulah yang membuat keduanya menarik untuk diamati. Dari bayi kecil berusia sembilan bulan yang dulu sering terbangun kaget dan menangis, kini Charlie sudah tumbuh menjadi orangutan kecil yang jauh lebih berani. Ia memang masih suka tidur. Makannya juga masih lama. Dan sifatnya terkadang masih clingy. Tetapi sekarang ada satu hal yang jelas terlihat, Charlie sudah bukan bayi kecil yang dulu datang kepada kami. Ia sudah menjadi Charlie yang berani mengeksplorasi dunia dengan caranya sendiri. (LUK)
I used to scan every bush at BORA, looking for this exact type of weed. I plucked every bit of this weed I could find from every bush, every patch of grass, every roadside. If I saw something that looked like it, I would stop and check. Just because Beti would eat it.
At that time, if Beti ate something, it felt like a victory. She would only eat water apples and oranges, or a piece of apple, or a piece of pear. Then she would just sit there, covering her body with sack for the entire day. Even sometimes she wouldn’t eat at all, she wouldn’t drink, clearly in pain. And sometimes, it felt like she resented us.
That was when I started questioning things. I thought about a thousand things we could have avoided, anticipated, or done differently during Beti’s translocation. I even had the terrible thought of if Beti had never come to BORA, she wouldn’t have been stressed. Maybe she wouldn’t refuse to eat for days.
I became very skeptical. Thinking about how humans are such an arrogant species. We decide what is best for another species. We decided Beti should no longer live as a pet. We decided she should be moved. We decided what she should eat. What kind of environment she should live in.
But did we really know what was best for Beti?
Because from Beti’s perspective, we had taken everything familiar away. Imagine if you had spent 24 years living in a village in Java, with that specific man. You were fed the same side dishes his family ate. You lived in a concrete-floored cage. Sometimes you were taken out to be played with, to be someone’s pet. You were fed only from noon. Neighboring children poked you, you became a spectacle for them when they getting fed by their mother. For 24 years. Until you became almost completely apathetic to stimulation.
Then suddenly, you were moved into a tiny transport crate. Suddenly, you were taken somewhere by car. Suddenly, you entered an extremely cold room, a plane, though Beti wouldn’t know it was a plane. Then came an almost 24-hour travel by land, noisy and dusty.
Suddenly, you were placed in a very large enclosure, but everything was made of bars. You trembled. Then the food changed. Fruit. Vegetables. Strange green things. They were green before too, but they had been cooked and seasoned.
Suddenly, people were poking you here and there. Your hair was shaved because you needed an ultrasound. You were suddenly being shot with blow darts because you needed antibiotics. The weather was unbearably hot. And then, after 24 years of seeing only human, you suddenly found creatures who looked like you. Wouldn’t you be stressed?
It took me months to see things differently.
Bringing Beti here did not immediately make her life better. For a while, it made everything harder. But BORA gave Beti something she never had before, options of second chances. Here, we can monitor her health, treat her when she is in pain, and make sure she gets the care she needs. She gets appropriate food, people who pay attention to what she eats, what she refuses, what makes her uncomfortable, and what makes her feel safe.
Slowly, she started to eat more. There are now so many things Beti can eat that sometimes it is hard to remember the days when I was desperately searching every bush for that one weed. She still has her chronic urinary tract infection (UTI), and she still needs to recover. She still loves her sack, and there are still days when she would rather hide under it than do anything else. But there is progress, even if it is slow enough that you sometimes have to stop and look for it.
Her journey is also so different from the babies and juveniles we rehabilitate here. When they arrive, they still have so much time ahead of them. They can go to Forest School, where they can learn to climb, swing, build nests, search for food, navigate the trees, and interact with other orangutans. Their rehabilitation happens step by step, and every new skill becomes part of the foundation they will eventually need to survive in the forest. They can spend years building the strength, confidence, and knowledge they need before they are released.
Beti cannot have that same journey. She is already an adult, and she is simply too large for the keepers to safely handle. She cannot go to Forest School and spend her days swinging through the trees, strengthening her hands and feet for the canopy. She cannot follow the same curriculum of learning that the younger orangutans do. The things they get to learn through experience, Beti has to learn in much smaller ways, from inside her cage.
So we bring a little bit of the forest to her instead. We give her jungle fruits and introduce her to foods that she might encounter in the jungle. It is not the same as learning to forage in the jungle itself. It will never replace what she missed during those 24 years.
That is what makes Beti’s progress so difficult to compare with the others. For a juvenile orangutan, climbing higher might be one step in a long journey toward the forest. For Beti, simply choosing to climb at all is already something significant. For a baby, learning to eat a new fruit might be part of a normal day at Forest School. For Beti, finding out that she likes a jungle fruit is a small window into a world she was never given the chance to know.
Looking back, I still think about all the things we could have done differently. I still wonder whether her transition could have been slower, whether we could have prepared her better, whether we could have anticipated some of the things that happened. I don’t think those questions will ever completely go away. But I do know I would still bring Beti to BORA all over again.
Beti’s progress may be slow, but I will celebrate every bit of it. And I have been celebrating them. I celebrated when she ate her very first sawi. I celebrated when she finally perched and made herself comfortable on her iron nest. I celebrated when she finally engaged with the enrichment we gave her, when she started to enjoy the jungle fruits we introduced to her, and every other small bit of progress in between. And I will keep on celebrating.
Happy world orangutan day and happy one year at BORA, sweet Beti!
(THA)
Dari arah lain di dalam hutan, Mabel sedang duduk santai di atas pohon sambil menikmati buah buni. Ia terlihat begitu asyik menjelajah dan mencari makanan sendiri. Sementara itu, aku berjalan lebih dulu menuju pohon tarap bersama Mba Fiqoh (animal keeper) yang membawa Cinta. Awalnya Mabel masih sibuk dengan buah buninya. Namun, ketika ia melihat aku berjalan semakin jauh meninggalkannya, tangannya berhenti bergerak. Mabel memperhatikan aku dari atas pohon. Dan aku terus berjalan.
Tiba-tiba terdengar suara kecil dari arah belakang. Mabel mulai merengek. Ia melihat aku lagi, lalu melihat sekelilingnya. Sepertinya ia tidak suka melihatku berjalan terlalu jauh darinya. Akhirnya, Mabel turun dari pohon. Ia meninggalkan buah buni yang tadi sedang dimakannya dan mulai berjalan cepat mengejarku. Begitu Mabel mendekat, Mba Fiqoh langsung memperhatikannya. Mba Fiqoh tertawa kecil lalu bertanya, “Kenapa Mabel? Tumben nangis?”.
Aku ikut tertawa melihat tingkah Mabel. “Ternyata dia bisa manja!”, jawabku.
Mba Fiqoh langsung tertawa. “Iya, biasanya paling nggak mau bermanja-manja.”
Aku melihat Mabel yang kini sudah memeluk kakiku. “Tadi ditinggal sedikit aja langsung turun dari pohon dan nyusul.”
Mba Fiqoh tertawa lagi.
“Berarti sebenarnya Mabel nggak mau jauh-jauh dari kamu.” kata mba fiqoh
Kami berdua pun tertawa bersama. Mabel seolah tidak peduli dengan percakapan kami. Ia hanya memastikan aku tetap berada di dekatnya. Lucu juga melihat Mabel hari itu. Biasanya ia adalah orangutan yang paling aktif menjelajah, berpindah dari satu pohon ke pohon lain, dan sibuk mencari makanan favoritnya seperti jengkol dan buah tarap. Tapi hari itu, Mabel menunjukkan sisi yang jarang terlihat. Ternyata, di balik sifatnya yang mandiri, Mabel juga bisa manja terutama ketika melihat orang yang ia percaya berjalan meninggalkannya. (LUK)
