MENENGOK CARA AMAN MEMAKAN BATANG PISANG

Orangutan Aman sangat suka bermain. Tiap kali waktu feeding, ia tiada henti bergerak memainkan daun-daunnya lalu menatanya membuat sarang seadanya. “Agar tidak bosan, kucarikan batang pisang yang tumbuh liar di sekitar camp COP Borneo.”, cerita Amir, perawat satwa di Pusat Rehabilitasi Orangutan satu-satunya yang didirikan putra-putri Indonesia.

Siapa sangka dengan jumlah jarinya yang tidak lengkap ia bisa sangat cepat membuka batang pisang untuk dicari umbutnya, bagian tengah batang pisang. Ia cukup lihai mengandalkan mulut dan gigi-giginya. Hanya dengan sedikit bantuan saja, ia akhirnya bisa menemukan umbut di tengah batang piang. “Bagus Aman.”, pujiku.

Dalam benakku, terlindat perasaan iba dengan Aman. Ia juga sering kali terlihat sulit mengambil potongan buah karena jarinya yang tidak bisa mencengkeram makanan. Sehingga sering buah yang diberikan orangutan Aman terjatuh. “Semangat Aman!”, sambil menatapnya lekat-lekat penuh harapan. (AMIR)

KOLA SUKA PILIH-PILIH MAKANAN

Sejak awal kedatangannya di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo hingga sekarang, Kola masih beradaptasi soal makanan. Yang perawat ketahui, selama ini ia paling suka pisang dan baru pepaya. Belakangan ini juga mulai menyukai nanas. Oh… ada lagi, buah naga juga mulai disukainya.

Mulanya tiap pagi nafsu makannya kurang baik, selalu menyisakan makanan. Tapi ada kalanya ia terlihat makan dengan lahapnya di pagi hari meskipun tetap menyisakan buah yang tidak digemarinya.

Beberapa kali sudah diberikan varian makanan seperti jagung, singkong, terong, tomat, jeruk tapi ketika ditunjukkan isi kerangjang buah… pasti ia akan langsung mengambil pisang. Maka tak heran banyak tupai yang suka mendatangi kandang Kola karena banyak buah yang disisakan olehnya. “Kola… Kola… kamu koq pilih-pilih sih. Kita kan bingung!”. (WID)

OWI MAKAN BUAH HUTAN DAN MABUK

Hari ini cuaca terik. Semua perawat satwa berpencar di hutan untuk mencari ranting dan daun muda untuk diberikan ke orangutan sebagai enrichment. Enrichment daun itu tergolong enrichment yang sering diberikan ke orangutan. Pertama, mudah dicari dan mampu membuat orangutan sibuk di kandang dan bisa mendorong kemampuan membuat sarang. Enrichment sendiri memiliki pengertian memperkaya, ya memperkaya aktivitas orangutan di dalam kandang.

Ada yang spontan membuat sarang, ada juga yang hanya dimain-mainkan daunnya. Namun di kandang Owi dkk, Owi malah terlihat seperti makan sesuatu. Dari ekspresinya mengunyah, sepertinya ia memakan sesuatu yang enak.

Setelah diamati lebih dekat, ternyata Owi sedang memakan buah hutan. Ia mendapatkannya dari ranting pohon yang di dekat kandangnya. “Bagus Owi… kamu bisa melirik adanya buah hutan walau di dalam kandang.”, gumam Steven, perawat satwa yang bertugas di kandang orangutan jantan. Buahnya mirip dengan kopi, pun dalamnya, mirip.

Nampaknya setelah Owi mengunyah buah hutan itu, geliatnya menjadi aneh. Raut mukanya seperti mengantuk berat, matanya sayu, badannya oleng bak geliat orang mabuk dan dari bibirnya mengeluarkan air liur terus menerus. Sampai Owi tidak bisa menutup mulutnya.

Lalu kami menyadari, apa karena Owi makan buah hutan tadi ya? Ketika diperiksa kembali waktu feeding (pemberian makan) sore, dia sudah pulih. (STV)

LIMA BELAS HARI INI, SEPTI TIDAK KEMBUNG

Ada satu gadis manis yang selalu membuat penggemarnya khawatir. Dia yang selalu terlihat kalem dengan gaya tatanan rambutnya yang khas, poni yang disisir ke belakang. Yup… dia adalah Septi. Septi yang telah dua kali menjadi kakak maupun ibu asuh dari bayi-bayi orangutan di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo.

Septi selalu mempunyai masalah perut kembung. Perutnya sering terlihat membesar dan keras. Sewaktu ada bayi Alouise, Septi tidak terlalu sering kembung. Mungkin karena bayi Alouise selalu memeluknya sehingga Septi merasa lebih hangat dan ada yang menekan-nekan perutnya secara alami. 

Untuk mengurangi kembungnya, tim medis juga sudah menghindari makanan yang mungkin bisa memicu perut kembung. Bahkan langsung menghapus jenis buah yang langsung membuat Septi keesokan harinya kembung. Tapi ternyata Septi masih juga kembung. 

Bahkan, salah seorang pengemarnya telah mengirimkan pengobatan khusus dan tentu saja doa dan harapan untuk kesembuhannya. Semua yang mengenal orangutan Septi berharap kesembuhannya. Dan selama lima belas hari ini, Septi tidak kembung. Sungguh menggembirakan, melihatnya bergerak aktif, walau memang Septi bergerak dengan lamban, baik itu menuju makanannya, menyusun daun maupun ranting atau naik ke atas hammocknya. 

“Ayo Septi… kamu bisa. Banyak penggemarmu yang mengharapkan kabar baik darimu. Kemungkinan untuk dilepasliarkan?”. Setiap orangutan adalah pribadi yang unik. Perkembangan satu orangutan dengan yang lainnya berbeda. Mimpi melihatnya di atas pohon adalah mimpi terbaik. Jalan itu masih panjang, tapi tak pernah ada yang mustahil. Terimakasih untuk kamu yang sangat peduli pada Septi.

PENGAMBILAN DARAH ORANGUTAN AMAN

Semangat… semangat… pagi-pagi hujan sudah turun di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo. Dingin… tapi hari ini, jadwal untuk pemeriksaan kesehatan orangutan Aman. Aman adalah orangutan yang baru diselamatkan dari rumah warga di Kutai, Kalimantan Timur. Sejak 3 Juni yang lalu, dia menghuni kandang karantina di klinik COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur.

Sebulan lebih, tim medis yang dipimpin drh. Flora Felisitas mengamati perilaku Aman. Bahkan uji coba di playground juga sudah dilalui. Hasilnya… “sungguh malang nasibmu Aman. Tentu tidak mudah hidup yang kamu lalui hingga harus berada dalam perawatan kami di COP Borneo. Kehilangan induk dan jari-jari di tangan kanan maupun kirimu.”, gumam Flora sembari memperhatikan jari-jari Aman. “Bagaimana kami merekam sidik jari-jarimu.”. Syukurlah Aman masih sangat menyukai daun maupun ranting untuk disusunnya menyerupai sarang. Aman juga terlihat sangat menyukai susu. “Ya, Aman lebih menantikan datangnya segelas susu jatahnya dari pada buah-buahan.”, jelas Flora lagi.

Orangutan Aman menjalani pemeriksaan kesehatan secara keseluruhan dan pencatatan tampilan fisik. “Sampel darah Aman juga akan segera dibawa ke laboratorium untuk identifikasi apakah ada penyakit yang diidapnya atau tidak. Kami juga memasang microchip sebagai identitas.”, tambah Flora lagi. 

Seminggu ke depan, hasil laboratorium orangutan Aman akan keluar. Semoga hasilnya baik agar Aman dapat bergabung dengan orangutan lainnya. “Pengabungan orangutan yang seumuran dan sejenis biasanya membawa pengaruh yang positif. Mereka terlihat saling memperhatikan dan belajar. Ini akan sangat berguna selama menjalani rehabilitasi di COP Borneo. Tetapi juga bisa membawa pengaruh yang buruk seperti menjadi tidak terlalu liar dan meminta perlindungan pada perawat satwanya.”. Orangutan adalah satwa liar yang memiliki DNA hampir sama dengan manusia. Namun, orangutan adalah satwa liar yang memiliki peran penting dalam ekosistem hutan hujan Kalimantan. Jangan pelihara orangutan, biarkan dia di hutan. 

SEGELAS SUSU UNTUK AMAN, KENYANG!

Jumlah makanan yang diberikan untuk orangutan di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo adalah sepuluh persen dari berat badannya. Tidak terkecuali untuk Aman, orangutan yang baru sebulan berada di COP Borneo. Aman mendapat jatah makan 1 kg dalam sekali makan. 

Sore kemarin, kami mencoba memberi buah naga… pisang… tomat… jeruk sebagai pilihan menu makanannya. Buah-buahan ditaruh di keranjang makanannya. Namun Aman hanya diam. Dia tidak tertarik sama sekali. Sebaliknya, pandangannya tertuju pada gelas hijau yang berisi susu.

Isi gelas hijau ini yang selalu dinantikan Aman setiap pagi dan sore. Bukan buah-buahan. “Kami selalu mencatat buah apa saja yang diberikan. Sebelum membersihkan kandang di pagi hari, kami juga selalu menemukan ada buah yang tidak tersentuh. Kadang tetap di keranjang buah tanpa tersentuh, kadang buah utuh sudah berada di lantai dan kadang tersimpan di hammock tanpa bekas gigitan. Aman cukup dengan minum susu satu gelas, kenyang dan tertidur. (WET)

SARANG RAYAP UNTUK ORANGUTAN DI COP BORNEO

Rayap menjadi salah satu makanan yang sangat disukai orangutan. Untungnya, sarang rayap mudah sekali ditemukan di sekitar pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Apalagi di dekat kandang orangutan, pohon-pohon yang lapuk dan batang-batang pohon yang tumbang menjadi harta karun tersendiri untuk orangutan. 

Jika di hutan tidak sedang musim buah, maka telur rayap, telur semut atau kambium biasanya akan dimanfaatkan orangutan sebagai pengganjal perut mereka. Sebelum pandemi COVID-19, ketika orangutan berada di sekolah hutan, mereka langsung tahu dan berhenti di sekitaran pohon-pohon lapuk tersebut. Namun sekarang, para perawat satwa yang mencarikannya. 

Annie terlihat sangat menikmati telur-telur rayap yang bersembunyi di dalam sarang. Mengendus-ngendus lalu mencongkel lubang dengan jari telunjuknya yang terlihat kebesaran dan akhirnya langsung menguncang sarang dengan mulut terbuka berharap telur langsung jatuh ke mulutnya. Jika tak ada yang jatuh lagi, Annie mulai membelah sarang dan terus menerus mencari dengan telunjuknya.

Tak berbeda dengan Nigel. Orangutan kandidat rilis tahun ini yang telah berada di pulau pra-rilis selama empat bulan terpaksa kembali ke kandang karantina sebagai upaya pencegahan menyebarnya virus corona. Nigel terlihat asik dengan sarang rayapnya. Tentu dia kangen dengan pulau pra rilisnya. 

“Semoga pandemi cepat berlalu, agar rehabilitasi dapat berjalan dengan maksimal. Berlatih di sekolah hutan, bertahan hidup di pulau pra-rilis dan dilepasliarkan kembali ke habitatnya.”. (WID)

MARY YANG SERING PILEK

Pagi ini saat mendekati kandang ku mendengar suara bersin. Dugaanku benar, suara itu berasal dari blok kandang sosialisasi. Ternyata, Mary sedang flu. Ia cukup rentan terkena pilek di antara bayi orangutan lainnya. Tak jarang kawan satu kandangnya yaitu Bonti, Jojo dan Popi tertular flu oleh Mary.

Biasanya kalau sudah begini, drh. Flora akan datang memberi Mary obat flu. Sayangnya, sehabis minum obat, Mary tidak diperbolehkan minum susu. Sungguh malang tatapannya melihat teman sekandangnya mendapat susu. Sedangkan ia… tidak.

Ketika musim hujan dan suhu di sekitar kandang terasa dingin, Mary dan teman sekandangnya terlihat sering berkumpul sambil berpelukan di atas hammock. “Sedih sekali melihatnya, mereka tak seharusnya berada di kandang dan kami merawatnya. Seharusnya mereka berada dalam pelukan ibunya yang hangat. Tolong selamatkan hutan yang merupakan habitat mereka.”, ujar Simson (perawat satwa) lirih. (SIMSON)

BONTI YANG MENJENGKELKAN!

Hayo… masih ingat atau tidak? Bonti cewek atau cowok? Bonti yang paling dominan di kandangnya. Dia yang selalu berhasil membuat teman se-kandangnya pasrah menyerahkan makanan. Padahal perawat satwa sudah memberikan jatahnya masing-masing. Tetapi Bonti pasti merebut makanan temannya.

Mary dan Popi yang paling pasrah, tanpa perlawanan jika Bonti mendekat dan berhasil membawa makanannya. Benar… Bonti adalah orangutan betina yang tumbuh menjadi orangutan betina yang dominan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Semua perawat satwa nampaknya ada di pihak Mary dan Popi yang sering direbut makanannya. 

Bonti hanya akan takut kepada beberapa perawat satwa saja. Dengan pengawasan ketat oleh perawat satwa yang ditakuti Bonti, aksi merebut makanan pun mereda. Tetapi ketika animal keeper lengah tidak memperhatikan gelagat Bonti, tiba-tiba tangan dan kakinya sudah penuh dengan buah. Sampai dia bingung, bagaimana naik dan berlindung di atas hammock, tak hilang akal, buah dimasukkan ke mulutnya dan dia bergelantungan dengan satu kakinya. Kali ini, Bonti benar-benar keterlaluan! Popi dan Mary menjerit-jerit.

Oki Bonti, tak ada kesempatanmu lagi nanti. Jatah sore mu akan kuberikan pada Popi dan Mary! (AMIR)

MASA PANDEMI, ORANGUTAN SERING DAPAT ENRICHMENT

Kita tahu bahwa enrichment bermanfaat sebagai hiburan, pereda stres sekaligus penambahan gizi bagi satwa, khususnya yang berada di dalam kandang. Di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo yang berada di KHDTK Labanan, kabupaten Berau, Kalimantan Timur, perawat satwa memberikan enrichment sebanyak tiga kali seminggu kepada semua orangutan.

Granat buah, umbut rotan, batang pisang, kelapa, sarang rayap dan bola berisi potongan secara bergantian dibuat dan diberikan untuk orangutan di COP Borneo. Mereka sangat antusias menerima enrichment. Apalagi selama 2 bulan terakhir sekolah hutan dihentikan karena COVID-19. Penghentian ini untuk meminimalisir kontak antara manusia dengan orangutan sebagai usaha pencegahan penularan virus corona.

Walaupun terjadwal, untuk enrichment tiga kali dalam seminggu, pencarian bahan enrichment maupun ide-ide pembuatan enrichment membuat para perawat satwa lebih sibuk dari biasanya. “Orangutan harus dibuat sibuk. Enrichment biasanya hanya bertahan paling lama satu jam. Sementara membuat satu enrichment bisa lebih dari satu jam. Lalu, ini enrichment untuk orangutan atau perawat satwa? Hahahaha…”, kelakar Jhony, kordinator perawat satwa di COP Borneo.

Ini adalah usaha para perawat satwa, untuk terus menerus memberikan variasi enrichment agar orangutan menjadi sedikit sibuk di dalam kandang. Kalau kamu ada ide enrichment selanjutnya, email kami ya? info@orangutanprotection.com (JHONY)

Page 1 of 3012345...102030...Last »