Sudah tıga bulan sejak orangutan Jane menjadi penghuni paling baru di baby house BORA. Saat pertama kali dititipkan di akhir bulan Juni tahun ini, usianya hanya sekitar 1,5 tahun. Walau baru tida bulan menjadi babysiter nya, saya sudah menetapkan Jane sebagai salah satu orangutan terpintar di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Saya takjub begitu melihat orangutan sekecil itu menjelajah dengan lincah di tajuk-tajuk pohon tinggi dan mencari pakan-pakan alami seperti kambium dan buah hutan, kadang ia memotek ranting untuk dijadikannya sarang sederhana, begitu bersemangat memecahkan pengayaan buatan dan alami yang diberikan meski kondisi jarinya yang tidak sempurna.
Namun, sepandai dan semandiri apa pun Jane, ada kalanya ia bersikap menja layaknya bayi orangutan pada umumnya. Seperti hari ini, Jane tampak gembira bermain di lantai playroom baby house, menutup seluruh badannya dengan karung goni lalu berjalan mengitari playroom, sesekali ia akan berguling dan menyeret karung goninya mendekati saya. Saat saya mengulurkan tangan, Jane akan sok tidak peduli dan kembali berguling menjauh.
Kadang saat sekoilah hutan, Jane akan sulit untuk diajak pulang. Ia masih senang eksplorasi dari pohon ke pohon. Jadi, saya akan membiarkan Jane melanjutkan sekolahnya sambil mengajak Charlie, penghuni baby house lainnya, untuk pulang terlebih dahulu. Namun, Jane sangat tidak suka sendirian. Saat melihat saya dan Charlie pulang, Jane akan merengek dan turun menghampiri saya dengan sendirinya, lalu meminta digendong seperti anak kecil.
Ada satu kebiasaan Jane yang akhir-akhir ini saya pikirkan. Ia selalu merengek dan menangis saat melihat saya pergi ke dalam hutan. Padahal saya hanya mencari daun sebagai pengayaan untuk alas tidurnya. Saya tidak tahu mengapa ia menangis begitu nyaring, tetapi ada satu hipotesis yang terlintas di otak saya.
Mungkinkah ia takut terpisah dengan saya seperti saat ia terpisah dengan ibunya?
Saya tidak tahu jawaban pastinya. Mungkin, menangis hanya cara Jane meminta saya untuk tetap berada di dekatnya. Namun, setiap kali mendengarnya, saya kembali diingatkan bahwa di balik kepiawaiannya menjelajah tajuk pohon, mencari pakan, dan memecahkan pengayaan, Jane tetaplah bayi orangutan yang masih membutuhkan rasa aman dan kasih sayang. Ia mungkin sedang belajar untuk mandiri, tetapi bukan berarti ia harus berhenti menjadi bayi. (FIQ)
Ketika Charlie pertama kali datang, usianya baru sekitar 9 bulan. Saat itu, Charlie masih sangat kecil dan membutuhkan perhatian ekstra. Ia belum terbiasa dengan lingkungan barunya. Waktu tidur pun masih harus dijaga karena Charlie sering terbangun secara tiba-tiba, terlihat kaget, lalu menangis sambil mencari pelukan di sekitarnya.
Sebagai babysitter, salah satu tugasku adalah memastikan Charlie mendapatkan susu sesuai kebutuhannya. Setiap kali waktunya minum, aku menyiapkan susunya dan menemani Charlie sampai ia merasa tenang. Hari-hari pertama bersama Charlie cukup menguras kesabaran. Charlie lebih banyak tidur. Kalau bangun, ia bisa kembali mengantuk tidak lama kemudian. Charlie juga adalah orangutan yang cengeng. Kadang aku sampai berpikir, “Ini anak memang hobinya tidur dan nangis tiap hari ya?”.
Namun, waktu berjalan. Lima bulan berlalu. Charlie yang dulu masih sangat kecil ternyata mengalami banyak perubahan. Sekarang ia sudah jauh lebih berani. Bahkan, ia sudah berani memanjat pohon tinggi dari yang pernah aku bayangkan. Melihat Charlie berada di atas pohon membuatku kadang tidak percaya. “Charlie, sekarang kamu sudah berubah sejauh ini?”, batinku. Charlie hanya terus memanjat dengan tenang, seolah ketinggian bukan sesuatu yang perlu ditakuti.
Yang paling menarik, Charlie sekarang bukan tipe orangutan yang suka banyak merengek. Ia cenderung kalem dan pasrah. Kalau sedang bermain, ia bisa sibuk sendiri tanpa harus terus mencari perhatian. Tetapi ada satu hal yang sepertinya tidak banyak berubah. Charlie masih tidur siang dan kalo kelelahan forest school, Charlie kelihatan sangat mengantuk. Kalau sudah waktunya tidur, ia bisa benar-benar menikmati waktunya. Bangun tidur pun terkadang belum langsung bersemangat untuk beraktivitas.
Begitu juga dengan urusan makan. Charlie bisa makan lama sekali. Bukan karena ia tidak suka makan, tetapi giginya memang belum tumbuh lengkap. Jadi, proses makannya masih membutuhkan waktu dan kesabaran.
Di hari-harinya, Charlie juga punya seorang teman bernama Jane. Kalau melihat mereka berdua, rasanya seperti melihat dua karakter yang benar-benar berbeda. Jane adalah anak yang aktif banget. Ia suka bergerak ke sana kemari, penuh rasa ingin tahu, dan kalau soal makanan… Jane bisa dibilang rakus. Begitu melihat ada makanan, semangatnya langsung muncul.
Sementara Charlie? Charlie lebih santai. Ia kalem, tidak banyak merengek, dan lebih suka bermain sendiri. Kalau Jane sibuk menjelajah dan mencari makanan, Charlie bisa saja tetap duduk dengan tenang menikmati kegiatannya sendiri. Mereka benar-benar bertolak belakang.
Jane yang heboh dan penuh semangat.
Charlie yang kalem dan santai.
Namun, justru perbedaan itulah yang membuat keduanya menarik untuk diamati. Dari bayi kecil berusia sembilan bulan yang dulu sering terbangun kaget dan menangis, kini Charlie sudah tumbuh menjadi orangutan kecil yang jauh lebih berani. Ia memang masih suka tidur. Makannya juga masih lama. Dan sifatnya terkadang masih clingy. Tetapi sekarang ada satu hal yang jelas terlihat, Charlie sudah bukan bayi kecil yang dulu datang kepada kami. Ia sudah menjadi Charlie yang berani mengeksplorasi dunia dengan caranya sendiri. (LUK)
I used to scan every bush at BORA, looking for this exact type of weed. I plucked every bit of this weed I could find from every bush, every patch of grass, every roadside. If I saw something that looked like it, I would stop and check. Just because Beti would eat it.
At that time, if Beti ate something, it felt like a victory. She would only eat water apples and oranges, or a piece of apple, or a piece of pear. Then she would just sit there, covering her body with sack for the entire day. Even sometimes she wouldn’t eat at all, she wouldn’t drink, clearly in pain. And sometimes, it felt like she resented us.
That was when I started questioning things. I thought about a thousand things we could have avoided, anticipated, or done differently during Beti’s translocation. I even had the terrible thought of if Beti had never come to BORA, she wouldn’t have been stressed. Maybe she wouldn’t refuse to eat for days.
I became very skeptical. Thinking about how humans are such an arrogant species. We decide what is best for another species. We decided Beti should no longer live as a pet. We decided she should be moved. We decided what she should eat. What kind of environment she should live in.
But did we really know what was best for Beti?
Because from Beti’s perspective, we had taken everything familiar away. Imagine if you had spent 24 years living in a village in Java, with that specific man. You were fed the same side dishes his family ate. You lived in a concrete-floored cage. Sometimes you were taken out to be played with, to be someone’s pet. You were fed only from noon. Neighboring children poked you, you became a spectacle for them when they getting fed by their mother. For 24 years. Until you became almost completely apathetic to stimulation.
Then suddenly, you were moved into a tiny transport crate. Suddenly, you were taken somewhere by car. Suddenly, you entered an extremely cold room, a plane, though Beti wouldn’t know it was a plane. Then came an almost 24-hour travel by land, noisy and dusty.
Suddenly, you were placed in a very large enclosure, but everything was made of bars. You trembled. Then the food changed. Fruit. Vegetables. Strange green things. They were green before too, but they had been cooked and seasoned.
Suddenly, people were poking you here and there. Your hair was shaved because you needed an ultrasound. You were suddenly being shot with blow darts because you needed antibiotics. The weather was unbearably hot. And then, after 24 years of seeing only human, you suddenly found creatures who looked like you. Wouldn’t you be stressed?
It took me months to see things differently.
Bringing Beti here did not immediately make her life better. For a while, it made everything harder. But BORA gave Beti something she never had before, options of second chances. Here, we can monitor her health, treat her when she is in pain, and make sure she gets the care she needs. She gets appropriate food, people who pay attention to what she eats, what she refuses, what makes her uncomfortable, and what makes her feel safe.
Slowly, she started to eat more. There are now so many things Beti can eat that sometimes it is hard to remember the days when I was desperately searching every bush for that one weed. She still has her chronic urinary tract infection (UTI), and she still needs to recover. She still loves her sack, and there are still days when she would rather hide under it than do anything else. But there is progress, even if it is slow enough that you sometimes have to stop and look for it.
Her journey is also so different from the babies and juveniles we rehabilitate here. When they arrive, they still have so much time ahead of them. They can go to Forest School, where they can learn to climb, swing, build nests, search for food, navigate the trees, and interact with other orangutans. Their rehabilitation happens step by step, and every new skill becomes part of the foundation they will eventually need to survive in the forest. They can spend years building the strength, confidence, and knowledge they need before they are released.
Beti cannot have that same journey. She is already an adult, and she is simply too large for the keepers to safely handle. She cannot go to Forest School and spend her days swinging through the trees, strengthening her hands and feet for the canopy. She cannot follow the same curriculum of learning that the younger orangutans do. The things they get to learn through experience, Beti has to learn in much smaller ways, from inside her cage.
So we bring a little bit of the forest to her instead. We give her jungle fruits and introduce her to foods that she might encounter in the jungle. It is not the same as learning to forage in the jungle itself. It will never replace what she missed during those 24 years.
That is what makes Beti’s progress so difficult to compare with the others. For a juvenile orangutan, climbing higher might be one step in a long journey toward the forest. For Beti, simply choosing to climb at all is already something significant. For a baby, learning to eat a new fruit might be part of a normal day at Forest School. For Beti, finding out that she likes a jungle fruit is a small window into a world she was never given the chance to know.
Looking back, I still think about all the things we could have done differently. I still wonder whether her transition could have been slower, whether we could have prepared her better, whether we could have anticipated some of the things that happened. I don’t think those questions will ever completely go away. But I do know I would still bring Beti to BORA all over again.
Beti’s progress may be slow, but I will celebrate every bit of it. And I have been celebrating them. I celebrated when she ate her very first sawi. I celebrated when she finally perched and made herself comfortable on her iron nest. I celebrated when she finally engaged with the enrichment we gave her, when she started to enjoy the jungle fruits we introduced to her, and every other small bit of progress in between. And I will keep on celebrating.
Happy world orangutan day and happy one year at BORA, sweet Beti!
(THA)
Dari arah lain di dalam hutan, Mabel sedang duduk santai di atas pohon sambil menikmati buah buni. Ia terlihat begitu asyik menjelajah dan mencari makanan sendiri. Sementara itu, aku berjalan lebih dulu menuju pohon tarap bersama Mba Fiqoh (animal keeper) yang membawa Cinta. Awalnya Mabel masih sibuk dengan buah buninya. Namun, ketika ia melihat aku berjalan semakin jauh meninggalkannya, tangannya berhenti bergerak. Mabel memperhatikan aku dari atas pohon. Dan aku terus berjalan.
Tiba-tiba terdengar suara kecil dari arah belakang. Mabel mulai merengek. Ia melihat aku lagi, lalu melihat sekelilingnya. Sepertinya ia tidak suka melihatku berjalan terlalu jauh darinya. Akhirnya, Mabel turun dari pohon. Ia meninggalkan buah buni yang tadi sedang dimakannya dan mulai berjalan cepat mengejarku. Begitu Mabel mendekat, Mba Fiqoh langsung memperhatikannya. Mba Fiqoh tertawa kecil lalu bertanya, “Kenapa Mabel? Tumben nangis?”.
Aku ikut tertawa melihat tingkah Mabel. “Ternyata dia bisa manja!”, jawabku.
Mba Fiqoh langsung tertawa. “Iya, biasanya paling nggak mau bermanja-manja.”
Aku melihat Mabel yang kini sudah memeluk kakiku. “Tadi ditinggal sedikit aja langsung turun dari pohon dan nyusul.”
Mba Fiqoh tertawa lagi.
“Berarti sebenarnya Mabel nggak mau jauh-jauh dari kamu.” kata mba fiqoh
Kami berdua pun tertawa bersama. Mabel seolah tidak peduli dengan percakapan kami. Ia hanya memastikan aku tetap berada di dekatnya. Lucu juga melihat Mabel hari itu. Biasanya ia adalah orangutan yang paling aktif menjelajah, berpindah dari satu pohon ke pohon lain, dan sibuk mencari makanan favoritnya seperti jengkol dan buah tarap. Tapi hari itu, Mabel menunjukkan sisi yang jarang terlihat. Ternyata, di balik sifatnya yang mandiri, Mabel juga bisa manja terutama ketika melihat orang yang ia percaya berjalan meninggalkannya. (LUK)
Suasana akhir pekan di Atrium City Centrum Mall, Samarinda pada Sabtu, 25 Juli terasa sedikit berbeda. Di antara lalu lalang pengunjung yang datang untuk berbelanja dan berkumpul bersama keluarga, terpampang deretan foto orangutan, bentang hutan tropis, hingga berbagai informasi tentang satwa liar Indonesia. Bukan sekadar pameran, hari itu menjadi ruang bertemunya masyarakat dengan dunia konservasi.
Dalam rangka menyambut Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama Centre for Orangutan Protection (COP) menggelar kegiatan Road to HKAN 2026 mengusung tema “Konservasi Alam, Merawat Indonesia”. Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Kepala Balai BKSDA Kalimantan Timur yang mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk turut mengambil peran dalam menjaga kelestarian alam Indonesia. Dalam sambutannya, Kepala BKSDA Kaltim menegaskan bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya bergantung pada pemerintah atau lembaga konservasi, tetapi juga membutuhkan dukungan masyarakat. Kesadaran untuk menjaga alam dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan setiap hari dan tumbuh melalui edukasi yang terus disampaikan ke publik.
Selama kegiatan berlangsung, pengunjung diajak mengenal lebih dekat berbagai upaya pelestarian satwa liar dan habitatnya melalui pameran fotografi konservasi yang diselenggarakan oleh COP. Setiap foto menyimpan cerita tentang kehidupan orangutan di alam liar, proses penyelamatan satwa, hingga pentingnya menjaga hutan sebagai rumah bagi ribuan spesies. Pengunjung dari berbagai usia berdiskusi dengan para pegiat konservasi, mengenal berbagai program perlindungan satwa liar, sekaligus mengetahui bagaimana mereka dapat ikut berkontribusi dalam menjaga alam.
Tidak hanya menghadirkan edukasi, Road to HKAN 2026 juga menjadi panggung untuk merayakan kekayaan budaya Kalimantan. Penampilan musik sape dan tari tradisional Dayak berhasil memukau para pengunjung, disusul pertunjukan energik dari UKM Band Universitas Mulawarman yang semakin menghidupkan suasana. Acara kemudian ditutup dengan penampilan spesial dari Rio Satrio yang mengajak seluruh pengunjung menikmati malam penuh semangat.
Kesuksesan kegiatan ini tidak lepas dari dukungan para relawan orangutan yang tergabung dalam Orangufriends Samarinda yang turut membantu jalannya acara sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan. Kolaborasi antara pemerintah, organisasi konservasi, komunitas, relawan, dan masyarakat menjadi bukti bahwa menjaga alam adalah tanggung jawab bersama. Semakin banyak masyarakat yang menyadari bahwa konservasi bukan hanya tentang melindungi satwa liar, tetapi juga tentang menjaga masa depan lingkungan tempat kita semua hidup. Sebab, setiap langkah kecil yang kita lakukan hari ini dapat menjadi bagian perubahan besar bagi kelestarian alam Indonesia. (ENG)
Ada perasaan yang sulit saya gambarkan ketika menyaksikan pintu kandang angkut dibuka setelah perjalanan panjang menuju hutan Busang. Hampir 12 jam perjalanan dari Berau akhirnya terbayarkan ketika Bagus, Ruby, dan Eboni satu per satu keluar dari kandang, lalu tanpa ragu memanjat pohon pertama yang mereka temui. Momen itu selalu menjadi pengingat mengapa proses rehabilitasi begitu berarti. Setelah melalui perjalanan yang panjang, kini mereka kembali berada di tempat yang seharusnya di tengah hutan Kalimantan.
Namun, pelepasliaran bukanlah akhir dari cerita. Justru saat itulah tugas kami dimulai. Selama dua minggu berikutnya, saya bergabung bersama tim Post Release Monitoring (PRM) untuk mengikuti kehidupan baru Bagus, Ruby, dan Eboni. Setiap hari kami berangkat sebelum matahari terbit dan baru kembali ketika cahaya mulai menghilang di balik kanopi hutan. Jalur yang kami tempuh tidak selalu mudah. Menyusuri sungai menggunakan ketinting, berjalan di jalur setapak yang licin, hingga menembus rapatnya vegetasi sudah menjadi bagian dari rutinitas.
Setiap orangutan memiliki kebiasaannya masing-masing. Eboni tampak begitu lincah berpindah dari satu pohon ke pohon lain. Ia menghabiskan banyak waktu di kanopi hutan, mencari buah-buahan matang dan sesekali membongkar sarang serangga untuk mencari tambahan pakan. Bagus terlihat lebih tenang. Ia kerap memilih duduk sambil menikmati daun-daun muda di sekitarnya sembari sesekali memperhatikan kondisi hutan. Sementara Ruby memiliki karakter yang lebih santai. Ia sering terlihat berbaring nyaman di atas percabangan pohon, menikmati waktu istirahat sambil mengunyah pakan yang ada di sekitarnya.
Bagus memiliki cerita yang sedikit berbeda bagi saya. Sebelum mengikutinya di hutan Busang, saya sudah mengenalnya sejak ia masih berada di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Sebagai dokter hewan, saya cukup sering bertemu dengannya, baik saat pemeriksaan kesehatan maupun ketika mengamati perilakunya selama menjalani rehabilitasi. Bagus adalah orangutan yang tenang, bukan tipe yang selalu aktif menunjukkan rasa ingin tahunya, melainkan lebih sering mengamati keadaan di sekitarnya terlebih dahulu. Kebiasaan itu membuat saya cukup mengenal ekspresi dan tingkah lakunya. Karena itulah, ketika melihatnya duduk di atas pohon-pohon tinggi Busang, memilih daun muda sebagai makanannya, lalu berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya tanpa bergantung pada manusia, ada perasaan haru yang sulit dijelaskan. Rasanya seperti bertemu kembali dengan teman lama yang kini telah menemukan rumahnya.
Hari-hari pertama pemantauan berjalan lancar. Kami dapat mengamati aktivitas mereka dari kejauhan tanpa banyak mengganggu. Hingga akhirnya, memasuki hari kelima, ketiganya seolah menghilang. Selama beberapa hari berikutnya kami menyusuri berbagai jalur yang kemungkinan dilewati mereka. Kami mencari sarang baru, bekas pakan, patahan ranting, hingga suara pergerakan di antara pepohonan. Waktu terus berjalan, tetapi belum ada tanda-tanda keberadaan mereka.
Tentu ada rasa penasaran yang terus menemani. Ke mana mereka bergerak? Apakah mereka baik-baik saja? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu muncul setiap kali kamu kembali ke campt tanpa hasil. Memasuki minggu kedua, semangat kami tidak berkurang. Seperti biasa, pagi itu kami kembali melakukan patroli. Menjelang siang kami memutuskan untuk kembali ke ketinting dan beristirahat sejenak setelah beberapa jam menyusuri hutan. Namun, tepat ketika kami hampir tiba di tepian sungai, mata saya menangkap sesuatu bergerak di antara dedaunan.
“Ada orangutan!”, spontan saya berseru.
Soni, salah satu ranger APE Guardian, segera mendekat untuk memastikan. Tidak lama kemudian ia menjawab dengan nada penuh semangat, “Ada dua”.
Saat saya mendekat, saya langsung mengenali wajah-wajah yang kami cari selama berhari-hari.
“Walah… ini Eboni dan Bagus”, ucap saya spontan sambil tertawa kecil. Rasanya lucu sekaligus melegakan. Kami sudah menyusuri hutan cukup jauh untuk mencari mereka, sementara ternyata keduanya berada tidak jauh dari tepian sungai. Mereka tampak sehat, tenang, dan sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran kami. Tidak lama kemudian, Eboni dan Bagus kembali memanjat lebih tinggi, lalu sibuk menikmati buah-buahan hutan yang sedang matang.
Momen sederhana itu menjadi salah satu kenangan yang paling saya ingat selama mengikuti PRM. Bukan hanya karena akhirnya kami kembali menemukan mereka, tetapi juga karena saya dapat melihat Bagus yang kini bebas menentukan arah jelajahnya, memilih makanannya sendiri, dan menghabiskan hari-harinya di tengah hutan.
Sebagai dokter hewan, melihat satwa yang pernah menjalani rehabilitasi kini mampu beradaptasi di habitat alaminya merupakan kepuasan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Tugas kami memang memastikan kondisi kesehatan mereka tetap terpantau, tetapi yang jauh lebih membahagiakan adalah melihat mereka menjalani kehidupan yang semakin mandiri di tengah hutan. (SIN)
Bagi sebagian orang, tumpukan feses di lantai hutan mungkin hanyalah kotoran yang menjijikkan. Namun, bagi seorang yang bekerja di dunia konservasi, itu adalah sebuah cerita. Sebuah petunjuk yang menunjukkan bahwa kehidupan masih berlangsung di balik rapatnya pepohonan. Foto ini berada di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Kawasan hutan lindung ini merupakan salah satu benteng bagi berbagai satwa liar Kalimantan Timur. Selain menjadi habitat orangutan, hutan ini juga menjadi rumah bagi beruang madu, macan dahan, rusa, burung enggang, hingga ribuan jenis tumbuhan yang saling menopang kehidupan.
Yang terlihat pada foto ini adalah feses beruang madu (Helarctos malayanus) yang dipenuhi biji-biji durian liar. Pemandangan seperti ini sebenarnya cukup sering ditemukan saat musim durian tiba di dalam hutan. Beruang madu memakan daging buah yang manis, sementara bijinya ikut tertelan dan kemudian keluar kembali bersama feses.
Sekilas mungkin terlihat biasa. Namun, di balik tumpukan fese itu tersimpan peran penting yang sering kali tidak disadari. Beruang madu bukan hanya penikmat buah hutan. Satwa ini juga merupakan salah satu penyebar biji alami yang membantu hutan tetap hidup. Setelah memakan buah di satu tempat, beruang akan berjalan menyusuri hutan hingga beberapa kilometer. Ketika biji-biji itu dikeluarkan bersama feses, mereka jatuh di lokasi yang baru, lengkap dengan pupuk alami yang membantu proses perkecambahan. Dengan cara yang sangat sederhana, beruang madu ikut menanam pohon-pohon baru di dalam hutan.
Tanpa disadari beruang menjadi “penjaga hutan” yang bekerja setiap hari. Bagi kami, temuan seperti ini memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar mengetahui apa yang dimakan satwa. Feses menjadi bukti bahwa beruang madu masih aktif menggunakan kawasan tersebut sebagai wilayah jelajahnya. Dari bentuk, kondisi, hingga isi feses, kita dapat mengetahui jenis pakan yang sedang berlimpah, memperkirakan waktu keberadaan satwa, bahkan memahami kondisi ekosistem di sekitarnya.
Semua informasi itu diperoleh tanpa harus bertemu langsung dengan sang beruang.
Temuan sederhana seperti ini juga menunjukkan bahwa Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat masih menyediakan sumber pakan alami bagi satwa liar. Ketika pohon-pohon durian hutan mulai berbuah, bukan hanya beruang madu yang datang menikmatinya. Orangutan, musang, tupai, rusa hingga berbagai jenis burung juga memanfaatkan musim buah sebagai sumber energi.
Inilah yang membuat hutan bekerja sebagai sebuah ekosistem. Tidak ada makhluk yang hidup sendiri. Setiap pohon, buah, jamur, serangga, hingga mamalia besar memiliki perannya masing-masing dalam menjaga keseimbangan alam. Sayangnya, keseimbangan itu sangat mudah terganggu ketika hutan kehilangan tutupan pohonnya. Pembukaan lahan, kebakaran, maupun aktivitas ilegal tidak hanya menghilangkan pepohonan, tetapi juga memutus rantai kehidupan yang telah terbentuk selama ratusan bahkan ribuan tahun. Ketika sumber makanan berkurang, satwa akan terdorong keluar dari hutan dan lebih sering berhadapan dengan manusia.
Karena itulah menjaga hutan bukan hanya tentang melindungi satwa yang kita lihat, tetapi juga menjaga seluruh prose alami yang mungkin tidak pernah kita sadari. Di balik setiap biji durian yang keluar bersama feses beruang madu, tersimpan harapan lahirnya pohon-pohon baru. Di balik setiap langkah beruang yang menyusuri hutan, tersebar benih kehidupan yang kelak akan menjadi sumber makanan, tempat berlindung, dan rumah bagi generasi satwa berikutnya.
Di hutan, tidak ada yang benar-benar menjadi limbah. Setiap jejak memiliki makna, setiap makhluk memiliki peran, dan setiap kehidupan saling menjaga satu sama lain. (NAB)
Sebagai seorang ranger, hutan bukan sekedar tempat bertugas. Hutan adalah ruang yang selalu menyimpan cerita. Tidak ada dua perjalanan yang benar-benar sama. Jalur yang dilewati mungkin tetap, tetapi suasana, suara, aroma, hingga satwa yang dijumpai selalu menghadirkan pengalaman baru. Itulah yang membuat saya selalu ingin kembali menyusuri hutan, siang maupun malam.
Malam itu, kamera menggantung di leher, sementara senter hanya sesekali dinyalakan agar tidak mengganggu kehidupan liar di sekitar. Cahaya bulan yang menembus celah pepohonan sesekali membantu menerangi jalan, tetapi sebagian besar perjalanan dilakukan dalam gelap. Langkah harus pelan dan hati-hati. Di hutan, kita bukan penguasa, melainkan tamu yang harus menghormati setiap kehidupan yang ada di dalamnya.
Suara jangkrik bersahutan-sahutan memecah kesunyian. Dari kejauhan terdengar panggilan burung malam, sementara dedaunan bergesekan tertiup angin. Sesekali ranting patah di kejauhan membuat saya berhentak sejenak, mendengarkan, mencoba berada di dalamnya, semakin kita belajar mengenali setiap suara dan memahami bahwa setiap bunyi memiliki makna.
Tujuan perjalanan malam itu bukan sekadar patroli. Saya membawa kamera untuk mengabadikan kehidupan yang mulai aktif ketika matahari tenggelam. Banyak satwa memilih malam sebagai waktu terbaik untuk bergerak, mencari makan, atau berpindah tempat. Karena itu, memotret di malam hari selalu menghadirkan tantangan yang berbeda. Cahaya yang terbatas menuntut kesabaran lebih, sementara setiap gerakan harus dilakukan perlahan agar tidak mengusik satwa yang sedang beraktivitas.
Sering kali saya harus berdiri diam dalam waktu yang lama. Kamera sudah siap, fokus telah diatur, tetapi satwa belum juga muncul. Tidak jarang momen yang ditunggu berakhir tanpa satu pun foto. Namun, justru di situlah perjalanan terbesar dari hutan. Alam tidak pernah bisa dipaksa mengikuti keinginan manusia. Kita hanya bisa menunggu dengan sabar dan ,menghargai setiap kesempatan yang diberikan.
Ketika akhirnya seekor satwa muncul di balik semak atau bertengger di atas dahan, rasa lelah seakan menghilang begitu saja. Menekan tombol rana pada saat yang tepat menghadirkan kepuasan yang sulit dijelaskan. Bukan karena berhasil mendapatkan foto yang indah, melainkan karena berhasil menyaksikan langsung kehidupan liar yang berlangsung alami, tanpa gangguan.
Setiap foto memiliki cerita yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain. Di balik satu bingkai gambar terdapat berjalan panjang, sepatu yang basah karena menyusuri sungai, pakaian yang dipenuhi lumpur, gigitan serangga, dan berjam-jam berjalan di bawah kanopi hutan. Semua itu menjadi bagian dari proses yang tidak pernah terlihat dalam hasil akhirnya.
Semakin sering berada di hutan, saya semakin menyadari bahwa alam selalu bekerja dengan caranya sendiri. Pohon yang tumbang akan menjadi rumah bagi berbagai organisme lain. Jejak kaki di tanah yang lembab menceritakan siapa yang baru saja melintas. Sarang yang terlihat di atas kanopi menjadi tanda bahwa kehidupan terus berlangsung, meski sering kali luput dari perhatian manusia.
Bagi saya, kamera bukan sekedar alat untuk mengambil gambar. Kamera adalah cara untuk bercerita. Melalui setiap foto, saya ingin memperlihatkan bahwa hutan bukan hanya kumpulan pepohonan, tetapi rumah bagi ribuan kehidupan yang saling bergantung satu sama lain. Ada kisah tentang perjuangan, keseimbangan, dan keheningan yang hanya bisa dirasakan ketika benar-benar berada di dalamnya.
Di tengah pelatnya malam, saya selalu merasa menjadi bagian sangat kecil dari alam yang begitu luas. Hutan mengajarkan kerendahan hati. Ia tidak pernah meminta untuk dikagumi, tetapi selalu memberi pelajaran bagi siapa saja yang bersedia datang dengan rasa hormat.
Mungkin, itulah alasan mengapa saya selalu kembali. Bukan semata untuk mencari satwa atau membawa pulang foto terbaik, melainkan untuk mengingat bahwa masih ada tempat-tempat yang tetap hidup dalam kesunyian. Dan selama hutan masih berdiri, selalu akan ada cerita yang menunggu untuk ditemukan bukan hanya di balik lensa kamera, tetapi juga di setiap langkah yang kita tinggalkan di dalamnya. (DED)
Program beasiswa EBOCS atau East Borneo Orangutan Caring Scholarship 2026 baru saja terlaksana di Theater Room Science Learning Center, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Mulawarman, Samarinda. Ceremony ini dihadiri Dekan FMIPA, Dekan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Tropis UNMUL, Presiden Orang Utan Republik Foundation oleh Gary Shapiro, Centre for Orangutan Protection (COP), dan enam mahasiswa penerima Beasiswa EBOCS 2026 beserta keluarga mereka, serta penerima EBOCS tahun sebelumnya.
Penampilan Tari Ruai dari Kalimantan Barat yang menggambarkan nilai-nilai kebersamaan, rasa syukur, keharmonisan, serta penghormatan terhadap alam menjadi pembuka acara tahunan ini. Rangkaian acara dilanjut dengan sambutan dari para tamu undangan, penandatanganan perjanjian beasiswa, serta penyampaian harapan dan komitmen dari perwakilan penerima beasiswa. Keenam penerima Beasiswa EBOCS 2026 ini adalah Andhika Julianus Sinuhaji, Andini Nurul Fathiyah, dan Rahmah Yuliana Cahyaningtyas dari Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Tropis sementara Febriansyah dan Zakiyatur Rohmah dari Program Studi Lingkungan, Jurusan Biologi, FMIPA dan Junov Hendri Adyatama dari Program Studi Biologi, FMIPA.
Penyerahan cendera mata sebagai bentuk apresiasi sekaligus penguatan kerja sama antar para pihak menjadi penutup acara. Melalui program EBOCS, diharapkan para penerima beasiswa dapat menyelesaikan pendidikan mereka dengan baik serta menjadi generasi muda yang berperan aktif dalam upaya konservasi orangutan, pelestarian hutan, dan perlindungan keanekaragaman hayati di Indonesia. (OKT)
Menjadi seorang animal keeper di pusat rehabilitasi orangutan bukanlah pekerjaan yang selalu dipenuhi momen manis bersama satwa yang menggemaskan. Di balik tingkah lucu dan ekspresi yang sering membuat orang tersenyum, ada proses panjang yang harus dilalui individual orangutan untuk kembali menjadi dirinya sendiri, yaitu satwa liar yang mandiri dan mampu bertahan hidup di hutan.
Sekolah hutan adalah salah satu proses itu, saya saksikan setiap hari. Di tempat inilah para orangutan belajar berbagai keterampilan yang akan mereka butuhkan di alam. Mereka belajar memanjat, mencari pakan, mengenali lingkungannya, hingga berinteraksi dengan sesama orangutan.
Interaksi tersebut tidak selalu berjalan tenang. Seringkali mereka bermain dengan cara yang bagi manusia terlihat kasar. Menjambak, menggigit, mencengkam, dan salting kejar adalah pemandangan yang lumrah terjadi. Namun di balik perilaku itu, terdapat proses belajar yang sangat penting. Mereka sedang mengasah kemampuan sosial, mengenali batasan, dan membangun karakter yang kelak membantu mereka bertahan hidup di alam liar.
Di antara banyak orangutan yang saya dampingi, ada satu individual yang cukup berkesan yaitu Jainul. Jainul adalah orangutan jantan remaja dengan energi yang seolah tidak pernah habis. Ia memiliki rasa percaya diri yang tinggi dans ering menunjukkan perilaku dominan terhadap lingkungan sekitarnya. Tidak jarang saya menjadi sasaran keisengannya. Serangan kecil, gigitan, tarikan tangan, hingga upaya mencengkeram merupakan hal yang cukup sering saya alami saat mendampinginya.
Tentu saja, sebagai manusia, ada kalanya saya merasa resah. Tidak nyaman ketika harus selalu waspada terhadap tingkah Jainul yang sulit ditebak. Ada hari-hari ketika saya pulang dengan lengan penuh bekas cakaran atau kaki penuh bekas gigitan dan tubuh yang lelah karena harus menghindari ulahnya.
Namun seiring waktu, saya mulai melihat perilaku Jainul dari sudut pandang yang berbeda.
Apa yang ditunjukkannya bukanlah kebencian ataupun kenakalan semata. Sebagai orangutan jantan yang sedang berankaj dewasa, Jainul sedang menunjukkan sifat-sifat alami yang memang seharusnya dimiliki orangutan liar. Ia belajar menjadi individu yang kuat, berani, dan mampu mempertahankan dirinya. Sikap agresif yang kadang membuat saya kewalahan justru menjadi tanda bahwa insting liarnya masih ada. Dan bukankah itu tujuan utama rehabilitasi?
Kami tidak sedang membesarkan hewan peliharaan yang jinak terhadap manusia. Kami sedang mempersiapkan satwa liar agar suatu hari nanti mereka tidak lagi bergantung pada manusia. Karena itulah, setiap kali Jainul mencoba menguji kesabaran saya, ada perasaan yang bertolak belakang dalam diri saya. Di satu sisi, saya merasa was-was dan lelah menghadapi agresivitasnya. Namun di sisi lain, saya merasa senang. Senang karena melihat orangutan yang masih memiliki karakter alaminya. Senang karena ia menunjukkan perkembangan yang dibutuhkan untuk hidup bebas di hutan.
Jainul mengingatkan saya bahwa keberhasilan rehabilitasi tidak selalu terlihat dalam bentuk orangutan yang patuh atau mudah diatur. Namun keberhasilan justru terlihat dari individu yang berani, mandiri, dan cukup “merepotkan” bagi keeper-nya.
Mungkin suatu hari nanti Jainul akan hidup di hutan yang sesungguhnya, jauh dari pagar kandang dan pengawasan manusia. Ketika hari itu tiba, bekas gigitan, cakaran, dan semua keresahan yang pernah saya rasakan akan menjadi bagian kecil dari sebuah cerita yang lebih besar yaitu cerita tentang individu yang berhasil kembali menjadi orangutan sepenuhnya. Dan bagi saya, seorang animal keeper, tidak ada hadiah yang lebih berharga daripada itu. (BOW)
