BUKAN SEKEDAR KOTORAN, INILAH JEJAK KEHIDUPAN BERUANG MADU

Bagi sebagian orang, tumpukan feses di lantai hutan mungkin hanyalah kotoran yang menjijikkan. Namun, bagi seorang yang bekerja di dunia konservasi, itu adalah sebuah cerita. Sebuah petunjuk yang menunjukkan bahwa kehidupan masih berlangsung di balik rapatnya pepohonan. Foto ini berada di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Kawasan hutan lindung ini merupakan salah satu benteng bagi berbagai satwa liar Kalimantan Timur. Selain menjadi habitat orangutan, hutan ini juga menjadi rumah bagi beruang madu, macan dahan, rusa, burung enggang, hingga ribuan jenis tumbuhan yang saling menopang kehidupan.

Yang terlihat pada foto ini adalah feses beruang madu (Helarctos malayanus) yang dipenuhi biji-biji durian liar. Pemandangan seperti ini sebenarnya cukup sering ditemukan saat musim durian tiba di dalam hutan. Beruang madu memakan daging buah yang manis, sementara bijinya ikut tertelan dan kemudian keluar kembali bersama feses.

Sekilas mungkin terlihat biasa. Namun, di balik tumpukan fese itu tersimpan peran penting yang sering kali tidak disadari. Beruang madu bukan hanya penikmat buah hutan. Satwa ini juga merupakan salah satu penyebar biji alami yang membantu hutan tetap hidup. Setelah memakan buah di satu tempat, beruang akan berjalan menyusuri hutan hingga beberapa kilometer. Ketika biji-biji itu dikeluarkan bersama feses, mereka jatuh di lokasi yang baru, lengkap dengan pupuk alami yang membantu proses perkecambahan. Dengan cara yang sangat sederhana, beruang madu ikut menanam pohon-pohon baru di dalam hutan.

Tanpa disadari beruang menjadi “penjaga hutan” yang bekerja setiap hari. Bagi kami, temuan seperti ini memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar mengetahui apa yang dimakan satwa. Feses menjadi bukti bahwa beruang madu masih aktif menggunakan kawasan tersebut sebagai wilayah jelajahnya. Dari bentuk, kondisi, hingga isi feses, kita dapat mengetahui jenis pakan yang sedang berlimpah, memperkirakan waktu keberadaan satwa, bahkan memahami kondisi ekosistem di sekitarnya.

Semua informasi itu diperoleh tanpa harus bertemu langsung dengan sang beruang.

Temuan sederhana seperti ini juga menunjukkan bahwa Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat masih menyediakan sumber pakan alami bagi satwa liar. Ketika pohon-pohon durian hutan mulai berbuah, bukan hanya beruang madu yang datang menikmatinya. Orangutan, musang, tupai, rusa hingga berbagai jenis burung juga memanfaatkan musim buah sebagai sumber energi.

Inilah yang membuat hutan bekerja sebagai sebuah ekosistem. Tidak ada makhluk yang hidup sendiri. Setiap pohon, buah, jamur, serangga, hingga mamalia besar memiliki perannya masing-masing dalam menjaga keseimbangan alam. Sayangnya, keseimbangan itu sangat mudah terganggu ketika hutan kehilangan tutupan pohonnya. Pembukaan lahan, kebakaran, maupun aktivitas ilegal tidak hanya menghilangkan pepohonan, tetapi juga memutus rantai kehidupan yang telah terbentuk selama ratusan bahkan ribuan tahun. Ketika sumber makanan berkurang, satwa akan terdorong keluar dari hutan dan lebih sering berhadapan dengan manusia.

Karena itulah menjaga hutan bukan hanya tentang melindungi satwa yang kita lihat, tetapi juga menjaga seluruh prose alami yang mungkin tidak pernah kita sadari. Di balik setiap biji durian yang keluar bersama feses beruang madu, tersimpan harapan lahirnya pohon-pohon baru. Di balik setiap langkah beruang yang menyusuri hutan, tersebar benih kehidupan yang kelak akan menjadi sumber makanan, tempat berlindung, dan rumah bagi generasi satwa berikutnya.

Di hutan, tidak ada yang benar-benar menjadi limbah. Setiap jejak memiliki makna, setiap makhluk memiliki peran, dan setiap kehidupan saling menjaga satu sama lain. (NAB)

DI BALIK LENSA, DALAM GELAPNYA HUTAN

Sebagai seorang ranger, hutan bukan sekedar tempat bertugas. Hutan adalah ruang yang selalu menyimpan cerita. Tidak ada dua perjalanan yang benar-benar sama. Jalur yang dilewati mungkin tetap, tetapi suasana, suara, aroma, hingga satwa yang dijumpai selalu menghadirkan pengalaman baru. Itulah yang membuat saya selalu ingin kembali menyusuri hutan, siang maupun malam.

Malam itu, kamera menggantung di leher, sementara senter hanya sesekali dinyalakan agar tidak mengganggu kehidupan liar di sekitar. Cahaya bulan yang menembus celah pepohonan sesekali membantu menerangi jalan, tetapi sebagian besar perjalanan dilakukan dalam gelap. Langkah harus pelan dan hati-hati. Di hutan, kita bukan penguasa, melainkan tamu yang harus menghormati setiap kehidupan yang ada di dalamnya.

Suara jangkrik bersahutan-sahutan memecah kesunyian. Dari kejauhan terdengar panggilan burung malam, sementara dedaunan bergesekan tertiup angin. Sesekali ranting patah di kejauhan membuat saya berhentak sejenak, mendengarkan, mencoba berada di dalamnya, semakin kita belajar mengenali setiap suara dan memahami bahwa setiap bunyi memiliki makna.

Tujuan perjalanan malam itu bukan sekadar patroli. Saya membawa kamera untuk mengabadikan kehidupan yang mulai aktif ketika matahari tenggelam. Banyak satwa memilih malam sebagai waktu terbaik untuk bergerak, mencari makan, atau berpindah tempat. Karena itu, memotret di malam hari selalu menghadirkan tantangan yang berbeda. Cahaya yang terbatas menuntut kesabaran lebih, sementara setiap gerakan harus dilakukan perlahan agar tidak mengusik satwa yang sedang beraktivitas.

Sering kali saya harus berdiri diam dalam waktu yang lama. Kamera sudah siap, fokus telah diatur, tetapi satwa belum juga muncul. Tidak jarang momen yang ditunggu berakhir tanpa satu pun foto. Namun, justru di situlah perjalanan terbesar dari hutan. Alam tidak pernah bisa dipaksa mengikuti keinginan manusia. Kita hanya bisa menunggu dengan sabar dan ,menghargai setiap kesempatan yang diberikan.

Ketika akhirnya seekor satwa muncul di balik semak atau bertengger di atas dahan, rasa lelah seakan menghilang begitu saja. Menekan tombol rana pada saat yang tepat menghadirkan kepuasan yang sulit dijelaskan. Bukan karena berhasil mendapatkan foto yang indah, melainkan karena berhasil menyaksikan langsung kehidupan liar yang berlangsung alami, tanpa gangguan.

Setiap foto memiliki cerita yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain. Di balik satu bingkai gambar terdapat berjalan panjang, sepatu yang basah karena menyusuri sungai, pakaian yang dipenuhi lumpur, gigitan serangga, dan berjam-jam berjalan di bawah kanopi hutan. Semua itu menjadi bagian dari proses yang tidak pernah terlihat dalam hasil akhirnya.

Semakin sering berada di hutan, saya semakin menyadari bahwa alam selalu bekerja dengan caranya sendiri. Pohon yang tumbang akan menjadi rumah bagi berbagai organisme lain. Jejak kaki di tanah yang lembab menceritakan siapa yang baru saja melintas. Sarang yang terlihat di atas kanopi menjadi tanda bahwa kehidupan terus berlangsung, meski sering kali luput dari perhatian manusia.

Bagi saya, kamera bukan sekedar alat untuk mengambil gambar. Kamera adalah cara untuk bercerita. Melalui setiap foto, saya ingin memperlihatkan bahwa hutan bukan hanya kumpulan pepohonan, tetapi rumah bagi ribuan kehidupan yang saling bergantung satu sama lain. Ada kisah tentang perjuangan, keseimbangan, dan keheningan yang hanya bisa dirasakan ketika benar-benar berada di dalamnya.

Di tengah pelatnya malam, saya selalu merasa menjadi bagian sangat kecil dari alam yang begitu luas. Hutan mengajarkan kerendahan hati. Ia tidak pernah meminta untuk dikagumi, tetapi selalu memberi pelajaran bagi siapa saja yang bersedia datang dengan rasa hormat.

Mungkin, itulah alasan mengapa saya selalu kembali. Bukan semata untuk mencari satwa atau membawa pulang foto terbaik, melainkan untuk mengingat bahwa masih ada tempat-tempat yang tetap hidup dalam kesunyian. Dan selama hutan masih berdiri, selalu akan ada cerita yang menunggu untuk ditemukan bukan hanya di balik lensa kamera, tetapi juga di setiap langkah yang kita tinggalkan di dalamnya. (DED)

KETIKA JAINUL MENGAJARKAN ARTI MENJADI ORANGUTAN

Menjadi seorang animal keeper di pusat rehabilitasi orangutan bukanlah pekerjaan yang selalu dipenuhi momen manis bersama satwa yang menggemaskan. Di balik tingkah lucu dan ekspresi yang sering membuat orang tersenyum, ada proses panjang yang harus dilalui individual orangutan untuk kembali menjadi dirinya sendiri, yaitu satwa liar yang mandiri dan mampu bertahan hidup di hutan.

Sekolah hutan adalah salah satu proses itu, saya saksikan setiap hari. Di tempat inilah para orangutan belajar berbagai keterampilan yang akan mereka butuhkan di alam. Mereka belajar memanjat, mencari pakan, mengenali lingkungannya, hingga berinteraksi dengan sesama orangutan.

Interaksi tersebut tidak selalu berjalan tenang. Seringkali mereka bermain dengan cara yang bagi manusia terlihat kasar. Menjambak, menggigit, mencengkam, dan salting kejar adalah pemandangan yang lumrah terjadi. Namun di balik perilaku itu, terdapat proses belajar yang sangat penting. Mereka sedang mengasah kemampuan sosial, mengenali batasan, dan membangun karakter yang kelak membantu mereka bertahan hidup di alam liar.

Di antara banyak orangutan yang saya dampingi, ada satu individual yang cukup berkesan yaitu Jainul. Jainul adalah orangutan jantan remaja dengan energi yang seolah tidak pernah habis. Ia memiliki rasa percaya diri yang tinggi dans ering menunjukkan perilaku dominan terhadap lingkungan sekitarnya. Tidak jarang saya menjadi sasaran keisengannya. Serangan kecil, gigitan, tarikan tangan, hingga upaya mencengkeram merupakan hal yang cukup sering saya alami saat mendampinginya.

Tentu saja, sebagai manusia, ada kalanya saya merasa resah. Tidak nyaman ketika harus selalu waspada terhadap tingkah Jainul yang sulit ditebak. Ada hari-hari ketika saya pulang dengan lengan penuh bekas cakaran atau kaki penuh bekas gigitan dan tubuh yang lelah karena harus menghindari ulahnya.

Namun seiring waktu, saya mulai melihat perilaku Jainul dari sudut pandang yang berbeda.

Apa yang ditunjukkannya bukanlah kebencian ataupun kenakalan semata. Sebagai orangutan jantan yang sedang berankaj dewasa, Jainul sedang menunjukkan sifat-sifat alami yang memang seharusnya dimiliki orangutan liar. Ia belajar menjadi individu yang kuat, berani, dan mampu mempertahankan dirinya. Sikap agresif yang kadang membuat saya kewalahan justru menjadi tanda bahwa insting liarnya masih ada. Dan bukankah itu tujuan utama rehabilitasi?

Kami tidak sedang membesarkan hewan peliharaan yang jinak terhadap manusia. Kami sedang mempersiapkan satwa liar agar suatu hari nanti mereka tidak lagi bergantung pada manusia. Karena itulah, setiap kali Jainul mencoba menguji kesabaran saya, ada perasaan yang bertolak belakang dalam diri saya. Di satu sisi, saya merasa was-was dan lelah menghadapi agresivitasnya. Namun di sisi lain, saya merasa senang. Senang karena melihat orangutan yang masih memiliki karakter alaminya. Senang karena ia menunjukkan perkembangan yang dibutuhkan untuk hidup bebas di hutan.

Jainul mengingatkan saya bahwa keberhasilan rehabilitasi tidak selalu terlihat dalam bentuk orangutan yang patuh atau mudah diatur. Namun keberhasilan justru terlihat dari individu yang berani, mandiri, dan cukup “merepotkan” bagi keeper-nya.

Mungkin suatu hari nanti Jainul akan hidup di hutan yang sesungguhnya, jauh dari pagar kandang dan pengawasan manusia. Ketika hari itu tiba, bekas gigitan, cakaran, dan semua keresahan yang pernah saya rasakan akan menjadi bagian kecil dari sebuah cerita yang lebih besar yaitu cerita tentang individu yang berhasil kembali menjadi orangutan sepenuhnya. Dan bagi saya, seorang animal keeper, tidak ada hadiah yang lebih berharga daripada itu. (BOW)

PESAN NOVI UNTUK ORANGUTAN FELIX

Selama tiga bulan ini, aku melihat banyak sekali perubahan dari Felix. Waktu awal aku masuk menjadi tim babysitter, Felix terlihat takut untuk mendekat kepadaku. Aku tahu aku adalah orang baru yang ia lihat, karena itu ia terlihat takut untuk mendekat kepadaku. Seiring berjalannya waktu, Felix mulai percaya kepadaku. Selain itu, ketika takut, biasanya Felix akan pipis. Meskipun hanya melihat keeper laki-laki saja, ia juga akan takut hingga pipis. Ketika di sekolah hutan pun, Felix masih sulit untuk sekadar lepas dari gendongan babysitter. Bahkan ketika sudah berhasil lepas, Felix akan menangis tantrum, ia akan berjalan mengikuti babysitter. Jika sudah bisa meraih babysitter, ia akan memeluk kaki babysitter, setelah itu barulah ia akan diam.

Selama sekolah hutan berjalan, Felix hanya bisa duduk dan memeluk kaki babysitter saja. Terkadang kita akan membiarkan Felix menangis ketika ia tidak ingin dilepaskan dari gendongan. Bukan karena tidak sayang, tujuan rehabilitasi adalah memperbaiki mereka menjadi orangutan liar, bukan orangutan jinak yang nurut kepada manusia.

Dari situ, Felix mau tidak mau membiasakan dirinya menjauh dari babysitter. Awal-awal Felix ketika baru mau memanjat pohon, ia sering sekali mengamati babysitter dari atas. Ketika turun pun, Felix akan menangis karena ia tidak tahu caranya turun dari pohon. Felix bisa turun karena diarahkan oleh babysitter.

Ketika tiga bulan terakhir ini, Felix yang cengeng, yang suka menempel macam perangko susah lepas, Felix yang penakut itu, di pandanganku hilang. Aku melihatnya yang sekarang, Felix keren, si hebat yang mulai menjelajah jauh mengikuti sahabatnya yaitu Pansy. Dari Pansy juga, Felix banyak belajar dan tidak takut lagi ketika babysitter jauh dari pandangannya. Tak hanya sampai di situ, Felix pun berani menjelajah sendiri tanpa sosok Pansy.

Felix yang aktivitas dominannya mengikuti kemana perginya Pansy juga memperhatikan Pansy yang sudah pandai membuat sarang. Dan dalam tiga bulan terakhir ini pun, Felix sudah bisa membuat sarang walaupun belum sempurna seperti orangutan lainnya, tapi itu suatu kemajuan yang sangat kita nantikan dari Felix. Ia juga terlihat beberapa kali memperbaiki atau membenahi sarang lama bekas orangutan lain. Felix juga sering terlihat membuat sarang bersama Pansy.

Sampai saat ini, Felix masih terlihat takut kepada keeper laki-laki, walau keeper tertentu saja dan tidak pipis ketika takut. Keberanian menjelajah sendirinya juga diikuti keberaniannya melawan seperti mencoba memukul keeper atau membuka mulutnya seperti gestur ingin menggigit. Perkembangan Felix yang sangat bagus karena sewajarnya lah, orangutan menghindari manusia.

Harapanku kepada Felix, tetap jadi Felix yang sekarang. Aku yakin Felix bisa jauh lebih baik lagi. Aku tahu kamu (Felix) banyak melewati traumamu, dan yaps… terima kasih Felix sudah bertahan dan mau belajar meniru orangutan lainnya. Kalau bukan dari kemauan kamu untuk berubah, siapa lagi yang dapat mengubah dirimu sendiri. Semangat terus Felix.

Dari aku, Novi, untukmu Felix. (NOV)

PERJALANAN PULANG ORANGUTAN KE RUMAH BARU

“Beep… beep… beep…”

Suara pemindai microchip memecah keheningan. Sebuah microchip yang baru saja ditanamkan di bawah kulit punggung kiri orangutan berhasil terdeteksi. Bunyi sederhana itu menjadi penanda bahwa seluruh rangkaian pemeriksaan kesehatan telah selesai. Orangutan kini siap melanjutkan perjalanan yang paling penting yaitu pulang.

Beberapa hari sebelumnya, semua belum semudah ini. Tim harus menyusuri hutan yang terfragmentasi, memantau pergerakan, mengejar dengan penuh kehati-hatian, dan menghalau orangutan dari area yang tidak lagi aman bagi kehidupan mereka. Kesabaran, tenaga, dan kerja sama menjadi kunci hingga akhirnya satu per satu orangutan berhasil diamankan. Bukan untuk dipisahkan dari alam, tetapi justru agar mereka bisa kembali memiliki kesempatan hidup di habitat yang lebih baik.

Namun proses penyelamatan hanyalah awal dari sebuah perjalanan panjang. Kandang transport mulai bergerak meninggalkan lokasi rescue. Roda kendaraan berputar melewati jalan-jalan berdebu di Bengalon, menembus teriknya matahari di Wahau, menghadapi medan menantang menuju Busang. Perjalanan darat kemudian berganti menjadi perjalanan menyusuri sungai. Perahu perlahan membelah arus yang mengalir tenang, membawa harapan menuju tujuan akhir yaitu Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat.

Rasa lelah selama perjalanan seakan menghilang ketika hutan mulai menyambut kedatangan kami. Pepohonan menjulang tinggi membentuk kanopi hijau yang rapat. Angin menggerakkan dahan dan dedaunan, menghadirkan suara alam yang menenangkan. Gemericik sungai berpadu dengan kicauan satwa liar, seolah menyampaikan bahwa rumah itu masih ada, masih menunggu penghuninya kembali.

Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat kini menjadi rumah baru bagi Gusti, individu orangutan yang berhasil diselamatkan melalui kerja sama APE Crusader, BKSDA SKW II Tenggarong, serta dukungan masyarakat setempat yang memilih untuk menjaga kehidupan liar dibanding membiarkannya terus terancam.

Momen yang paling dinanti akhirnya tiba.

“Greek… Greek…”

Suara pintu kandang perlahan terangkat. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sorak-sorai. Yang terdengar hanyalah suara hutan. Gusti melangkah perlahan keluar kandang. Sesaat ia berhenti, mengamati sekeliling, menghirup aroma hutan yang telah lama menjadi bagian dari hidupnya. Tanpa ragu, kedua tangannya meraih batang pohon pertama, lalu tubuhnya bergerak lincah memanjat semakin tinggi. Dalam beberapa detik, Gusti telah menyatu dengan rimbanya kanopi, menghilang di antara dedaunan yang bergoyang tertiup angin. Momen itu menjadi pengingat bahwa kebebasan adalah tempat terbaik bagi satwa liar. Setiap penyelamatan bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal kehidupan baru kesempatan kedua bagi Gusti untuk kembali menjalani hidup sebagaimana orangutan seharusnya, bebas di rumahnya sendiri.

Semoga setiap langkah, setiap ayunan tangan di antara pepohonan, dan setiap hari yang orangutan jalanin di Hutan Lindung menjadi awal dari kehidupan yang lebih aman, lebih liar, dan lebih bebas sebagaimana seharusnya orangutan hidup. (TAL)

KESABARAN MENCARI GUSTI MENGANTARKAN ORANGUTAN KEMBALI KE RUMAHNYA

Seorang pekerja perkebunan ditemukan mengalami luka serius pada kaki dan tangan setelah berhadapan dengan orangutan yang tiba-tiba muncul dari kawasan konservasi perusahaan. Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa ketika ruang hidup manusia dan satwa liar semakin berdekatan, potensi konflik pun tak dapat dihindari. BKSDA SKW II Tenggarong bersama manajemen perkebunan dan tim APE Crusader COP pun menyusuri kawasan hutan yang terfragmen itu dengan langkah terbaik yang mengutamakan keselamatan masyarakat sekaligus memastikan orangutan memperolah penanganan yang tepat sesuai prinsip konservasi.

Tim gabungan ini berjalan menembus semak yang rapat, melintasi jalur berlumpur, hingga memasuki bagian hutan yang jarang tersentuh aktivitas manusia. Setiap sudut hutan diperiksa dengan seksama. Sarang-sarang orangutan ditemukan di atas pepohonan, begitu pula sisa pakan yang menandakan keberadaan mereka. Namun sosok yang dicari seakan menghilang begitu saja. Hutan yang luas membuat pencarian menjadi tidak mudah. Hari demi hari berlalu, jalur licin, udara lembab, dan medan yang berat perlahan menguras tenaga. Langkah kaki semakin berat, pakaian basah oleh keringat, sementara harapan sempat menurun karena belum ada tanda pasti keberatan orangutan tersebut. Meski begitu, tak satu pun anggota tim menyerah.

Di antara rapatnya pepohonan, sosok orangutan itu akhirnya terlihat. Suasana yang semula dipenuhi kelelahan berubah menjadi penuh kewaspadaan. Tidak ada teriakan atau tindakan tergesa-gesa. Seluruh tim bekerja dengan tenang, saling berkoordinasi, dan memastikan setiap langkah dilakukan secara aman. Gusti, begitu orangutan itu disebut akhirnya diselamatkan. Pemeriksaan kesehatan fisik menyatakan cukup baik untuk translokasi ke kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang yang memiliki tutupan hutan alami dan menjadi habitat orangutan rehabilitasi maupun liar.

Perjalanan Gusti menjadi bukti bahwa penyelamatan satwa liar bukanlah pekerjaan yang selesai dalam hitungan jam. Di balik satu individu orangutan yang kembali ke hutan, ada kerja keras banyak orang, perjalanan panjang, koordinasi lintas lembaga serta semangat yang tidak pernah [padam meski berkali-kali dihadapkan pada kegagalan.

Kini, Gusti telah memulai lembaran baru di rumahnya yang baru. Semoga setiap ayunan tangannya di antara pepohonan menjadi pengingat bahwa setiap satwa liar berhak memiliki kesempatan kedua untuk hidup bebas. Karena pada akhirnya, keberhasilan konservasi bukan hanya tentang menyelamat orangutan, tetapi juga menjaga keseimbangan antara manusia dan alam agar keduanya dapat terus hidup berdampingan. (APE Crusader)

WARISAN YANG IKUT PULANG KE HUTAN

Tidak semua bekal yang dibawa orangutan saat kembali ke alam dapat dilihat dengan mata. Orang mungkin hanya melihat pintu kandang yang dibuka, langkah pertama menuju tajuk hutan, lalu tubuh yang perlahan menghilang di balik rimbunnya pepohonan. Yang tidak terlihat adalah seluruh perjalanan yang telah membentuk mereka hingga hari itu tiba.

Setelah bertahun-tahun menjalani rehabilitasi, orangutan Ruby, Bagus, dan Eboni akhirnya kembali ke habitat alaminya di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kalimantan Timur. Kepulangan mereka menjadi tujuan dari proses panjang yang melibatkan penyelamatan, pemulihan kesehatan, pembelajaran perilaku alami, hingga serangkaian penilaian untuk memastikan mereka benar-benar siap hidup mandiri. Kini, hutan kembali menjadi tempat mereka menjalani kehidupan sebagaimana orangutan liar seharusnya.

Banyak orang mengenal rehabilitasi sebagai tempat orangutan belajar bertahan hidup. Mereka belajar memilih pakan alami, mengenali pohon yang aman untuk berpindah, membangun sarang setiap senja, serta membaca dinamika hutan. Semua itu memang menjadi bekal utama sebelum pelepasliaran. Namun, ada pelajaran lain yang sering luput dari perhatian.

Di alam liar, anak orangutan menghabiskan hampir seluruh masa kecilnya bersama induknya. Selama bertahun-tahun mereka belajar bukan melalui perintah, melainkan dengan mengamati. Cara memilih buah yang matang, menentukan jalur di kanopi, membangun sarang, hingga menghadapi ancaman, semuanya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ketika anak orangutan kehilangan induknya akibat konflik dengan manusia atau perdagangan satwa liar, bukan hanya sosok pelindung yang hilang. Bersamanya ikut hilang kesempatan mempelajari banyak hal yang tidak dapat diajarkan secara instan. Karena itu, keberhasilan rehabilitasi bukan hanya soal mengembalikan kemampuan bertahan hidup, lebih dari itu, rehabilitasi berusaha mengembalikan perilaku alami yang sempat terputus agar orangutan mampu menjalankan seluruh siklus kehidupannya ketika kembali ke hutan.

Selama menjalani rehabilitasi, perubahan itu perlahan terlihat pada ketiga orangutan yang dilepasliarkan bulan Juni ini. Ruby tumbuh menjadi individu yang gemar menjelajah dan sering menjadi orangutan pertama yang mencoba rute-rute baru di sekolah hutan. Tanpa banyak interaksi, kehadirannya justru diikuti individu lain yang lebih muda. Keberanian Ruby menjadi semacam dorongan bagi mereka untuk memanjat lebih tinggi, bergerak lebih jauh, dan mengenal hutan dengan lebih percaya diri.

Bagus memperlihatkan sisi yang berbeda. Di balik sifatnya yang tenang, ia beberapa kali menjadi tempat berlindung bagi bayi orangutan yang masih belum percaya diri menjelajah. Ia menerima kehadiran mereka, membiarkan mereka tetap berada di dekatnya, seolah memahami bahwa rasa aman merupakan bagian penting dalam proses belajar.

Sementara itu, Eboni yang dikenal mandiri dan berani ternyata juga menunjukkan kepedulian kepada individu yang lebih muda. Di sela-sela eksplorasinya, ia kerap mengajak bayi orangutan mengikuti pergerakannya, mengenalkan area baru, sekaligus memberi contoh bagaimana menghadapi lingkungan yang terus berubah.

Tidak ada sesi pelatihan khusus untuk mengajarkan perilaku tersebut. Semuanya tumbuh dari pengalaman. Dari interaksi dengan orangutan lain, dari dinamika yang terbentuk setiap hari di sekolah hutan, serta dari kesempatan menjalani kehidupan sosial yang menyerupai kondisi di alam. Perlahan, muncul kemampuan yang suatu hari akan sangat menentukan keberhasilan mereka sebagai induk.

Kini Ruby, Bagus, dan Eboni telah menjalani kehidupan baru di hutan. Tidak ada lagi animal keeper yang mengawasi setiap langkah mereka. Keputusan-keputusan penting kini sepenuhnya berada di tangan mereka sendiri. Mungkin butuh waktu bertahun-tahun hingga tim monitoring menemukan salah satu dari mereka kembali, kali ini bukan sebagai individu yang direhabilitasi, melainkan sebagai induk yang sedang menggendong bayinya.

Jika hari itu tiba, keberhasilan pelepasliaran tidak hanya diukur dari kemampuan mereka bertahan hidup. Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika pengetahuan yang pernah mereka pelajari selama rehabilitasi berubah menjadi warisan bagi generasi berikutnya. Dari induk kepada anak, lalu terus berlanjut di tengah rimbanya hutan Kalimantan.

Itulah harapan terbesar dari setiap pelepasliaran: bukan sekadar mengembalikan orangutan ke habitatnya, tetapi mengembalikan masa depan populasi liar yang akan terus tumbuh melalui generasi-generasi baru (RAR)

PATROLI BERSAMA KPHP KELINJAU DI BUSANG

Pada 22 Mei 2026, kegiatan patroli kawasan kembali dilaksanakan di wilayah Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Busang. Kegiatan ini dilakukan bersama Pak Ibnu selaku Polisi Kehutanan dari Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Kelinjau dan tim patroli APE Guardian COP sebagai bagian dari upaya perlindungan serta pengamanan kawasan hutan yang menjadi habitat penting bagi berbagai satwa liar, khususnya orangutan.

Patroli bersama ini tidak hanya berfokus pada pengawasan kawasan, tetapi juga sekaligus melakukan pengecekan kondisi penanaman bibit pohon pakan orangutan yang sebelumnya telah ditanam di beberapa titik sepanjang jalur patroli. Jalur yang dipilih dimulai dari muara Sungai Hagar dan bergerak ke arah utara. Sementara jalur pulang mengikuti aliran Sungai Hagar yang memiliki banyak pohon pakan alami orangutan di sepanjang pinggiran sungai. Kondisi tersebut menjadikan area ini memiliki potensi tinggi untuk menemukan tanda-tanda keberadaan orangutan maupun sarangnya. Selain itu, beberapa titik penanaman bibit juga berada tidak jauh dari tepian sungai. Perjalanan patroli kali ini memperlihatkan bagaimana kondisi hutan terus berubah secara alami. Banyaknya pohon tumbang akibat badai menyebabkan jalur patroli yang biasa dilalui oleh tim menjadi tertutup. Tim harus beberapa kali membuka jalur baru untuk dapat melanjutkan perjalanan.

DI sepanjang jalur menuju utara, tim menemukan berbagai tanda keberadaan satwa liar. Bekas cakaran beruang madu terlihat pada batang pohon, menandakan satwa tersebut masih aktif menggunakan kawasan ini. Selain itu, tim juga menjumpai keberadaan burung Sempidan Biru Kalimantan serta beberapa sarang orangutan kelas 3 yang tersebar di area patroli. Saat perjalanan pulang menyusuri Sungai Hagar, tim kembali menemukan sarang orangutan kelas 3 di tepian sungai. Di samping temuan satwa tersebut, tim patroli juga menemukan sejumlah ancaman terhadap habitat. Tim mendapati jerat satwa berbahan nilon serta beberapa bekas tebangan pohon lama yang kondisinya sudah tertutup lumut dan mulai lapuk.

Selain patroli kawasan, tim juga melakukan pengecekan terhadap bibit pohon pakan orangutan jenis bayur (Pterospermum borneense) yang telah ditanam selama periode Januari hingga April 2026. Hasil mengecekkan menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Sekitar 70 persen bibit yang ditanam masih bertahan hidup dan menunjukkan pertumbuhan yang ditandai dengan munculnya kuncup serta daun-daun muda. Sementara itu, sekitar 30 persen bibit lainnya tidak berhasil bertahan hidup. Sebagaian besar kerusakan disebabkan oleh pohon tumbang alami yang menimpa area penanaman. Beberapa bibit lain mengalami pengeringan setelah daun-daunnya gugur. (Guardian Team)

DI ANTARA LUKA DAN KEPEDULIAN

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan kesempatan untuk ikut terlibat dalam kegiatan penanganan satwa desa di Miau Baru bersama Centre for Orangutan Protection (COP) sebagai relawan. Kegiatan ini berfokus pada pengobatan dan penanganan hewan peliharaan milik masyarakat, seperti kucing, anjing, dan beberapa satwa lainnya. Bagi saya, pengalaman ini menjadi sesuatu yang sangat berharga karena membuka pandangan bahwa kepedulian terhadap satwa bisa dimulai dari hal-hal yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Dari kejauhan saya melihat masyarakat datang dengan harapan hewan peliharaan mereka bisa sehat dan tetap hidup sebagaimana mestinya. Melihat hal tersebut, saya semakin menyadari bahwa hubungan antara manusia dan satwa bukan hanya tentang kebutuhan, tetapi juga tentang rasa peduli dan tanggung jawab.

Sebagai relawan, saya belajar bahwa penanganan satwa tidak hanya soal tindakan medis, tetapi juga tentang kesabaran, komunikasi, dan kepedulian terhadap kondisi masyarakat sekitar. Ada banyak hal yang terlihat sederhana, tetapi sebenarnya memiliki arti besar, muai dari membantu proses penanganan, menenangkan hewan, hingga melihat antusiasme masyarakat yang ingin belajar merawat satwa dengan lebih baik.

Melalui kegiatan ini, saya belajar kepedulian terhadap satwa tidak selalu dimulai dari hal besar. Kadang, perhatian kecil terhadap hewan-hewan di sekitar kita juga menjadi bagian penting dalam membangun hubungan yang lebih baik antara manusia dan alam.

Terima kasih kepada seluruh tim COP dan masyarakat Desa Miau Baru atas pengalaman dan pembelajaran yang sangat berarti ini. Semoga kepedulian kecil yang tumbuh hari ini bisa menjadi langkah besar untuk masa depan yang lebih baik bagi manusia dan satwa. (Adi_Orangufriends Wahau)

MENEMUKAN KEMBALI CARA MELIHAT

Di sela-sela pekerjaan yang menuntut perhatian penuh pada layar laptop, ada kebiasaan yang perlahan terasa mulai memudar, yaitu mengamati hal-hal kecil di sekitar. Hari-hari saya sedang banyak dihabiskan di depan layar, menyunting foto dan video, menulis, serta menyelesaikan berbagai pekerjaan lain. Bahkan ketika memegang kamera saat mendokumentasikan sekolah hutan, fokus saya hampir selalu tertuju pada orangutan, satwa besar yang menjadi inti pekerjaan saya selama bertahun-tahun.

Namun siang itu, seekor burung mengganggu rutinitas itu.

Dari dalam kantor yang dikelilingi dinding kaca tembus pandang, saya melihatnya terbang bolak-balik melintasi halaman. Awalnya hanya sekilas. Lalu beberapa menit kemudian, ia kembali melintas lalu hinggap di tanah. Ada sesuatu dalam gerakannya yang terus menarik perhatian. Seolah-olah ia sedang sibuk dengan urusan yang tidak saya pahami.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya meninggalkan laptop, mengambil kamera, lalu berjalan keluar. Udara siang terasa berbeda ketika tidak dinikmati dari balik jendela. Saya duduk di atas kerikil halaman kantor, membiarkan mata beradaptasi dengan dunia yang selama ini ada di depan saya, tetapi jarang benar-benar saya perhatikan.

Tidak butuh waktu lama sebelum saya menyadari bahwa halaman kantor ternyata jauh lebih hidup daripada yang biasa saya lihat.

Seekor kadal muncul dari sela daun gugur. Sekitar satu meter di dekatnya, seekor bunglon berwarna hijau terang merayap perlahan di atas kerikil dan serasah. Burung-burung yang sebelumnya hanya menjadi titik-titik kecil dalam pandangan kini terlihat lebih jelas. Merbah mata merah datang dan pergi. Kipasan belang melompat-lompat di permukaan tanah sambil melebarkan ekornya. Burung cipoh kacat pun ikut bergabung, masing-masing dengan perilaku dan caranya sendiri mencari makan.

Mereka semua tampak memiliki tujuan yang sama. Di permukaan halaman, masih berserakan laron-laron yang tersisa dari semalam. Malam sebelumnya, lampu kantor sempat dikerubungi laron dalam jumlah besar. Ketika pagi datang, sebagian laron masih tampak bergerak di antara sayap-sayap yang menempel di tanah basah. Apa yang bagi manusia hanyalah sisa-sisa gangguan malam hari, bagi satwa liar justru menjadi pesta.

Setiap beberapa menit, ketika suasana terasa aman dari manusia, seekor burung turun bergantian menyambar mangsanya. Kadal-kadal memanfaatkan kesempatan yang sama. Seluruh halaman berubah menjadi panggung kecil dari sebuah peristiwa ekologis yang berlangsung tanpa penonton.

Dan yang paling menarik, semua itu sebenarnya terjadi tepat di halaman kantor. Bukan satwa-satwa itu yang baru datang. Sayalah yang akhir-akhir ini terlalu abai untuk melihatnya.

Duduk di sana membuat saya menyadari betapa mudahnya perhatian saya terserap oleh rutinitas dan berbagai prioritas yang harus segera diselesaikan. Dalam fotografi satwa liar pun demikian. Banyak dari kita sering memimpikan mamalia besar, predator langka, atau spesies ikonik yang menjadi kebanggaan sebuah kawasan. Sementara itu, kehidupan yang lebih kecil berlangsung diam-diam dan sering kita lewatkan.

Ada dunia yang penuh interaksi dan perjuangan hidup di sepetak tanah yang mungkin hanya kita lewati setiap hari tanpa menoleh. Burung, kadal, bunglon, dan laron menjadi bagian dari cerita yang sama, sebuah siklus kehidupan yang terus berlangsung bahkan ketika tidak ada manusia yang memperhatikannya. 

Alam tidak selalu menghadirkan keajaiban dalam bentuk yang spektakuler. Sering kali, ia hadir dalam detail-detail kecil yang hanya bisa ditemukan ketika kita melambat. Mungkin itu sebabnya fotografi selalu terasa lebih dari sekadar aktivitas mengambil gambar. Kamera hanyalah alasan untuk berhenti sejenak. Alasan untuk memperhatikan. Alasan untuk duduk lebih lama dan melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi di sekitar kita.

Siang itu saya memang pulang dengan foto beberapa jenis burung, kadal, dan bunglon. Tetapi yang paling berkesan bukanlah gambar-gambar yang tersimpan di kartu memori. Yang saya bawa pulang adalah pengingat bahwa alam tidak pernah berhenti bercerita. Kita saja yang sering terlalu sibuk untuk mendengarkannya.

Kadang, yang dibutuhkan hanyalah meluangkan waktu sejenak untuk meninggalkan layar, melangkah keluar, lalu duduk di atas tanah. Di saat itulah kita menyadari bahwa kehidupan liar tidak selalu berada jauh di pedalaman hutan. Ia bisa saja berlangsung tepat di halaman kantor, menunggu untuk diperhatikan. (RAF)