ORANGUTAN DI MATA MAHASISWA KEDOKTERAN HEWAN UNPAD

Balik ke satu tahun yang lalu, saya Azzahra Aziz, mahasiswa dari Program Studi Kedokteran Hewan, Universitas Padjadjaran pernah menjalani magang di Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA). Saat itu, saya bersama tiga teman lainnya mengikuti kepitan medis, namun tiap hari kami turut mengikuti kegiatan sekolah hutan bersama keeper dan babysitter. Kegiatan itu selalu saya ingat sampai setahun kemudian, dimana saya sudah ditahap membuat tugas akhir untuk kelulusan saya. Suatu hari, saya ditanya apa yang menjadi perhatian saya untuk dapat dijadikan penelitian sebagai tugas akhir oleh dosen saya. Tanpa berpikir panjang, saya menjawab bahwa perilaku anak orangutan sangat menarik, di antara banyaknya materi terkait kesehatan hewan yang saya dapatkan di bangku kuliah, namun perilaku merupakan sesuatu yang jarang dipelajari. Hal yang melatarbelakangi penelitian ini adalah karena orangutan memiliki korteks prefontal otak yang berkembang, sehingga mereka memiliki daya ingat yang baik. Hal ini yang membuat saya bertanya-tanya, “apakah mereka ingat saat hidup bersama dengan ibunya di hutan? Ingatkah akan hal-hal yang diajarkan ibunya untuk bertahan hidup jika sudah besar? Lalu, apakah mereka merasakan rasa sedih ketika mengingat pengalaman dimana mereka berpisah dengan ibu dan kehidupannya di hutan?”. Awalnya saya cukup ragu untuk mengangkat topik ini, mengingat topik tersebut bersinggungan pula dengan bidang biologi. Tapi atas dukungan orang tua, dosen, dan teman-teman saya, saya menjadi yakin untuk melanjutkannya.

Keesokan harinya, saya pun membawa orangutan yang bernama Mabel. Mabel memang menjadi orangutan pertama yang saya amati, dia senang bermain degan orangutan yang lebih besar seperti Jainul atau Ruby. Karena asik bermain di atas pohon, Mabel jadi sulit untuk dipanggil ketika sudah waktunya pulang. Selanjutnya, saya membawa Ochre yang dulunya, cukup sulit untuk bermain dengan siapa pun dan hanya mau duduk di dekat keeper. Sekarang, dia sudah bisa naik ke pohon yang tinggi dan seringkali didekati oleh orangutan yang lebih kecil untuk main. Kalau Cinta, dia senang untuk ekspor sendirian. Saat sudah sampai di lokasi sekolah hutan, Cinta tidak langsung mau untuk naik pohon dan hanya mau digendong. Selama pengamatan, saya belajar bahwa jika saya diam di satu tempat, perlahan dia berjalan menuju pohon dan memanjat sendiri. Menurut saya, Cinta sangat berkesan karena sering membuat sarang. Rasanya, tiap pohon di tempat sekolah ada satu sarang buatan Cinta. Bahkan, kalau Pansy membuat sarang, Cinta terlihat menambahkan ranting-ranting di sarang itu.

Selanjutnya saya mengamati orangutan di baby house. Ada Arto dan Harapi, dua nama orangutan yang tak terpisahkan. Seingat saya, waktu itu kandang mereka terlihat sangat luas karena tubuh mereka yang kecil. Sekarang, rasanya kandang itu menyusut dan terasa lebih hangat. Kedua orangutan tersebut memiliki sifat yang berbaring terbalik. Arto senang untuk menaiki pohon, mengikuti Pansy yang sama-sama senang eksplor. Seringkali Arto bermain dengan Aman, Jainul, atau Mabel yang lebih besar. Sebaliknya, Harapi menaiki pohon yang tidak terlalu tinggi. Dia senang mengajak main Felix yang masih sulit untuk jauh dari babysitter atau individual lain yang sedang tidak naik pohon. Dia pun senang mengamati orangutan yang lebih besar saat menyelesaikan enrichment. Menurut saya, anak orangutan dan anak manusia memiliki kesamaan yaitu setiap individunya memiliki pace belajar dan penerimaan yang berbeda-beda. Saya sendiri pun berusaha untuk tidak membanding-bandingkan diri saya dengan teman lain yang lebih bisa atau lebih mampu ketika belajar, karena semuanya ber-progres di jalur masing-masing jika didukung oleh orang-orang yang kita percayai. Mungkin saja hal yang sama berlaku pada anak-anak orangutan.

Jika ditanya siapa orangutan yang paling berkesan selama saya di BORA, rasanya agak sulit untuk menjawab pertanyaan tersebut. Semuanya memiliki perilaku yang berbeda-beda, semuanya punya hal untuk disukai. Bagaimana Aman selalu semangat untuk sekolah dengan kondisinya, bagaimana Jainul selalu mengincar boots untuk digigit, bagaimana Astuti dengan senangnya memainkan air di dalam tandon saat saya sudah dalam keadaan panik dan tidak tahu cara membuat dia berhenti. Bahkan dari orangutan besar seperti Bagus yang sangat pintar menggunakan ranting sebagai alat, hingga orangutan kecil seperti Pansy yang terkadang tidak dapat teramati dengan jelas karena sangat tingginya dia menaiki pohon dan tidur di sarang buatan sendiri. Semua itu membuat saya selalu semangat untuk ikut kegiatan sekolah hutan. Saat mereka sedang bermain, penanyaan bagaimana hidup tanpa ibu selalu terlintas. Saya tidak bisa membayangkan bila hal yang sama terjadi pada saya. Satu hal yang pasti adalah, ada rasa senang yang akan terasa jika mereka sudah besar dan dapat dilepasliarkan nanti, memakan buah di hutan yang lebih besar dan bertemu hewan lain. Rasa tulus para babysitter, keeper, biologis, dan tenaga medis di pusat rehabilitasi ini bahkan dapat saya rasakan sebagai pendatang di sini. (Azzahra_orangufriends).

PERSAHABATAN ANTAR BAYI ORANGUTAN DI BORA

Suasana kembali ceria di babyhouse BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) sejak Harapi pulih dari sakit pada tangannya karena jatuh dari pohon. Kini ia sudah aktif lagi, bermain bersama kawan-kawannya, seolah tak pernah merasa lemah sebelumnya. Tingkah Harapi yang jenaka selalu mencuri perhatian para keeper lainnya. Ia pernah mengenakan tempurung kelapa di kepalanya seperti mengenakan hel atau topi, lalu berjalan dengan salah satu tangan memeluknya, dan ini mengundang tawa. Ada juga kebiasaannya menepuk-nepuk tanah dengan kedua tangan, seolah-olah sedang membuat irama musik hutan. Momen-momen lucu inilah yang membuat Harapi semakin dicintai oleh babysitter maupun keeper lainnya.

Suatu hari babysitter Anggita Putri Hariani atau yang sering dipanggil Gita harus membawa Harapi pulang lebih dulu dari sekolah hutan. Bukan karena sakit, melainkan karena Gita harus memberikan susu untuk Pansy dan Felix yang menunggu di baby house. Harapi mengikuti dengan tenang, meski orangutan lainnya masih sibuk sekolah hutan. Namun, kepergian Harapi rupanya meninggalkan kesan besan bagi Arto, sahabat karibnya. Babysitter Rara bercerita bahwa Arto tiba-tiba mengandang tangannya dan berjalan menuju jalur pulang. Seolah ia ingin segera menyusul Harapi yang sudah lebih dulu kembali. Rara mencoba membujuk dan membawa Arto kembali ke sekolah hutan, karena waktu belajar belum selesai. Akan tetapi, Arto tampak seperti mencari-cari sosok Harapi yang tak lagi ada di sana. Akhirnya, Arto menangis. Ia menolak bermain dan hanya ingin segera kembali ke babyhouse. Tangisan itu bukan karena lelah atau lapar, melainkan karena ia merasa kehilangan sahabatnya. Harapi yang biasanya selalu ada di sisinya kini pulang lebih dahulu, dan itu cukup membuat Arto sedih.

Bagi para babysitter, kejadian ini menjadi bukti betapa kuatnya ikatan emosional di antara bayi orangutan. Mereka bukan hanya teman bermain, melainkan juga sahabat sejati yang saling menguatkan. Kehadiran Harapi sangat berarti bagi Arto, begitu pula sebaliknya. Di baby house BORA, kisah sederhana ini mengajarkan bahwa persahabatan tak mengenal batas. Bahkan di dunia orangutan kecil, rasa sayang dan kebersamaan menjadi kunci untuk tumbuh sehat, ceria, dan penuh semangat. (GIT)

ORDO HYMENOPTERA SEBAGAI ANCAMAN ORANGUTAN

Serangga dapat menjadi salah satu potensi ancaman bagi orangutan yang seringkali tidak disadari. Dari banyaknya serangga, Hymenoptera (semut, lebah, dan tawon) menjadi ordo yang memiliki jenis serangga dengan sengat terbanyak. Beberapa spesies dalam ordo ini memiliki ovipositor (organ reproduksi betina) yang termodifikasi, yang juga dapat berfungsi sebagai penyengat. Mengingat pentingnya peran pulau pra-pelepasliran orangutan sebagai tempat orangutan berlatih untuk bertahan hidup, tim APE Defender melakukan identifikasi ancaman.

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan dua metode, yaitu active capture dan pemasangan trap/perangkap. Metode active dilakukan dengan cara menjelajahi seluruh bagian pulau sembari menangkap serangga target dengan jaring. Sedangkan metode pemasangan perangkapnya dibuat seperti lubang dengan cairan alkohol, detergen dan air madu sebagai pemikat . Dan Bait traps yaitu perangkap yang dipasangkan di batang dan ranting pohon dengan pancingan berupa wet food kucing, air madu, dan alkohol. Pemasangan kedua perangkap dilakukan secara purposive sampling diktat dari potensi ditemukannya serangga seperti dekat gundukan tanah, lubang pohon dan pohon lapuk. Data-data yang diamati yaitu jenis serangga dari ordo Hymenoptera.

Hasilnya, 13 jenis serangga dari ordo Hymenoptera teridentifikasi. Hymenoptera yang ditemukan didominasi oleh genus Apidae dan vespidae. Kedua genus ini termasuk jais dengan sengat yang dapat membahayakan jika tersengat dalam jumlah besar.

Keberadaan serangga di dalam pulau dipengaruhi oleh ketersediaan pakan dan kondisi lingkungan yang ada. Ketika pengambilan data, pohon Klenovia hospita dan Leea sp. Sedang berbunga, terdapat lebah genus Apidae yang beterbangan dis ekitarnya. Selain itu, juga ditemukan sarang tawon di tanah. Family vespidae, crabonidae dan halictidae menyukai tanah yang cenderung berpasir untuk membuat sarang.

Keberadaan ordo Hymenoptera memang dapat menjadi potensi ancaman bagi orangutan. Namun peran ordo ini sebagai polinator alami membantu proses penyerbukan tumbuhan yang ada di dalam pohon, sehingga dapat beregenerasi dan menjadi pakan bagi orangutan. (RRA)

EDUKASI KONSERVASI ORANGUTAN HADIR DI SMAN 5 SAMARINDA

Pada 23 September yang lalu, Tim APE Crusader bersama SKW 2 BKSDA Kalimantan Timur serta Orangufriends Samarinda melaksanakan kegiatan School Visit di SMAN 5 Samarinda. Tujuannya adalah untuk mengedukasi para pelajar mengenai pentingnya konservasi orangutan serta mengampanyekan upaya pelestarian satwa yang semakin terancam punah ini. Sebanyak 40 siswa hadir, ada tips untuk generasi muda mengambil peran menjaga kelestarian alam.
Menariknya, Orangufriends Samarinda yang merupakan relawan orangutan mengajak siswa bermain permainan edukatif. Aktivitas ini membuat pembelajaran terasa menyenangkan dan interaktif. Tawa dan semangat siswa memenuhi ruangan, menandakan pesan konservasi tersampaikan dengan cara yang hangat. Yang mengejutkan, beberapa siswa mengungkapkan ketertarikan mereka untuk terjun ke dunia konservasi. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa edukasi sejak dini dapat menumbuhkan kesadaran, rasa memiliki, serta keinginan untuk ikut berperan dalam menjaga lingkungan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran siswa SMAN 5 Samarinda akan semakin tumbuh bahwa menjaga orangutan berarti menjaga hutan dan kehidupan itu sendiri. Perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil, dan hari itu, langkah dimulai bersama APE Crusader. (WIB)

JEJAK ORANGUTAN DAN BERANG-BERANG DI MUARA SUNGAI MENYUK

Pada pertengahan September, tim APE Guardian COP melakukan patroli menuju salah satu ladang masyarakat. Ladang itu dilaporkan mengalami interaksi negatif dengan orangutan. Pemilik ladang menceritakan bahwa dua hari sebelumnya terdengar suara patahan ranting di sekitar lokasi, meskipun orangutan tidak terlihat langsung. Dari penelusuran ditemui ranting yang patah, “Sepertinya benar, ini bekas lintasan orangutan”, ujar Igo, ranger APE Guardian. Dedi menambahkan bahwa di tanah juga terlihat jejak yang kuat mengarah ke ladang. Meskipun orangutan tidak terlihat saat patroli, tapi temuan ini menjadi bukti bahwa satwa tersebut sempat melintas di sekitar area ladang.
Setelah melakukan pemeriksaan, tim melanjutkan kepitan dengan mencari pakis di sekitar hutan untuk dijadikan sayur. Suasana patroli hari itu cukup tenang, memberi kesempatan tim memanfaatkan hasil hutan secara sederhana sambil tetap menjaga kewaspadaan.
Keesokan harinya, tim melanjutkan patroli, kali ini menuju pondok milik Pak Nisa. Minggu sebelumnya, ladangnya sempat kedatangan orangutan, sehingga tim kembali melakukan pengecekan ulang. Perjalan ditempuh dengan menyusuri jalan setapak di hutan. Sesampainya di pondok, tim berbagi lokasi penyisiran. Dari pengamatan hari itu, tidak terlihat tanda baru, tidak ada jejak, tidak ada ranting patah, dan tidak ada tanda aktivitas orangutan. Situasi ladang terpantau aman.
Tim pun melanjutkan ke arah hilir Muara Sungai Menyuk. Di sana Dedi menemukan dua sarang orangutan di pepohonan tinggi. Belum bisa dipastikan individu mana yang membuat sarang itu. Tak jauh dari muara, tim berjumpa dengan segerombolan berang-berang. “Jarang-jarang kita bisa menyaksikan momen seperti ini”, ujar Angka Wijaya. Berang-berang Kalimantan yang biasanya dimasukkan dalam genus Lutra ini pun menambah keanekaragaman hayati Ekosistem Busang. (ENG)

110 SISWA SMK 1 KONGBENG RAMAIKAN BULAN ORANGUFRIENDS

APE Guardian adalah nama Tim COP (Centre for Orangutan Protection) yang melindungi kawasan pelepasliaran orangutan di Kutai Timur, Kalimantan Timur. Tak hanya memastikan orangutan yang telah dilepasliarkan di Ekosistem Busang ini dalam kondisi baik, dengan melaksanakan patroli maupun inventarisasi, tapi juga segara menanggapi laporan konflik manusia dengan satwa liar di kawasannya. Tentu saja mencegah akan lebih baik melalui edukasi ke sekolah-sekolah.
Akhirnya, APE Guardian pun menghampiri SMK 1 Kongbeng. Suasana kelas dipenuhi lebih dari 110 siswa yang bersemangat mengikuti sesi edukasi tentang orangutan. Andika, Orangufriends Samarinda mengenalkan apa itu morfologi, perilaku, serta kemiripan genetik orangutan dengan manusia.
Antusiasme semakin terasa ketika siswa berebut menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan tim. Diskusi juga menyentuh kasus orangutan di India yang tengah diperjuangkan kepulangannya ke tanah air melalui petisi internasional. Ajakan untuk ikut menandatangani petisi itu disambut serius, menumbuhkan kesadaran kolektif bawah perlindungan satwa liar adalah tanggung jawab bersama.
Sebagai penutup, seluruh peserta diajak keluar kelas untuk bermain. Gelak tawa dan sorak-sorai mewarnai lapangan, menjadikan kunjungan ini bukan hanya sesi belajar, melainkan juga perayaan semangat muda dalam menyambut Bulan Orangufriends, bulan para relawan orangutan berperan. (YUS)

CATATAN HARIAN SURGA HAYATI “ASING” DI KUTAI TIMUR

Ketika kita melakukan pencarian di mesin pencari, nama Hutan Lindung (HL) Gunung Batu Mesangat memang masih sangat sedikit yang mendeskripsikannya. Bahkan kalangan akademisi seperti dosen di kampus saya belum begitu mengetahuinya. Jika dibandingkan dengan kawasan konservasi yang populer di Kalimantan Timur seperti Hutan Lindung Sungai Wain, HL Gunung Batu Mesangat masih terdengar asing di telinga banyak orang. Keasingan tersebut memicu rasa ingin tahu saya untuk menelusuri lebih lanjut. Hai, saya Andika Widiyanto Ramadhani, selamat menikmati kisah perjalanan praktik kerja lapangan saya menelusuri surga hayati “asing’ di Kalimantan Timur.

Perjalanan dimulai dari rumah “kedua” saya, apalagi kalau bukan kampus tercinta FMIPA Universitas Mulawarman. Setelah berpamitan dengan dosen serta teman-teman, saya membawa barang bawaan saya yang sudah seperti pindah rumah itu ke mobil travel. Layaknya kegiatan outdoor, mobil yang saya tumpangi melewati beragam halang rintangan terutama kontur jalan. Perjalanan darat Samarinda-Busang melewati jalan perkebunan hingga tambang yang “mood-mood-an” mulai dari berlubang, becek, hingga licin. Beberapa kali terlihat pengendara motor yang terjatuh akibat jalan basah diguyur hujan. Setelah melalui 8 jam rintangan dengan aman dan selamat saya menginjakkan kaki di Desa Long Lees, Kecamatan Busang, Kabupaten Kutai Timur.

Bukan tanpa alasan desa ini dikatakan sebagai jantung dari Kecamatan Busang, karena seluruh pusat pemerintahan memang terletak di Desa Long Lees. Meski didominasi suku lokal seperti Dayak, kehidupan di sini rukun dengan masyarakat pendatang dari beragam suku, ras, dan agama yang menetap hingga pencari rupiah. Setiap pagi, terdengar doa-doa serta renungan pagi dari gereja yang terletak di dekat mess Centre for Orangutan Protection (COP). Belajar secuil bahasa lokal pun tak terhindari, “uman ading”, ya ini adalah yang paling saya ingat yang berarti ‘ayo makan”. Saya pun terkejut dengan perjalanan menyusuri sungai menggunakan perahu ketinting yang menghabiskan waktu lebih dari 2 jam menuju Pos Monitoring APE Guardian, bahkan merasakan cuaca cerah hingga hujan deras menjadi pelengkapnya. Meskipun di tengah rimbanya hutan belantara, pos APE Guardian sudah dilengkapi beragam teknologi pendukung seperti listrik, panel surya, genset, hingga jaringan internet yang akan menyala pada waktu tertentu saja.

Keesokan harinya, penelusuran surga hayati asing pun dimulai, kembali lagi saya menaiki ketinting, mengarungi deras dan dangkalnya sungai di hulu. Namun pesona jernihnya air benar-benar membuat perjalanan terasa menyegarkan. Pemasangan camera trap sebagai mata-mata untuk mengamati penduduk satwa hutan lindung pun menjadi tugas pertama. Selanjutnya, saya mengamati para ranger yang bertugas memberi makanan tambahan untuk orangutan yang berada di dalam pulau Dalwood Wylie dari ketinting. Beruntung sekali bisa melihat langsung orangutan yang merupakan calon penjaga hutan dengan jelas, tidak terlalu jauh dari posisi saya, sebelumnya saya hanya pernah melihatnya di dunia maya.

Merupakan suatu kebagian tersendiri buat saya ketika terlibat dalam pelepasliaran orangutan bernama Popi. Popi yang telah diselamatkan dan menjalani rehabilitasi di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa. Tim Post Release Monitoring (PRM) kocar-kacir mengikuti pergerakannya. Daun demi daun, buah demi buah disantap dengan lahap oleh Popi. Beruntungnya lagi, saya menyaksikan reuni orangutan yang awal tahun lalu dilepasliarkan terlebih dahulu, yaitu Bonti dengan Popi.

Tugas tim APE Guardian COP ternyata tidak hanya itu saja, laporan adanya orangutan memakan hasil kebun milik warga desa Long Lees pun harus segera ditanggapi. Kami pun segera ke kebun Tamen Nisa, melihat kehadiran kami, orangutan tersebut bergegas pergi menjauh. Tim pun melakukan patroli untuk memastikan keberadaannya. Kami pun menemukan sarang yang dibangun orangutan tersebut. Syukurlah, dia semakin masuk ke lebatnya hutan.

Selain patroli, saya pun menikmati beragamnya makhluk indah bersayap melalui kegiatan birdwatching dan pesona hewan amfibi dan melata melalui kegiatan herping. Dari kedua kegiatan tersebut, herping menjadi salah satu kegiatan unik. Di saat yang lain istirahat, pada malam hari kami harus berangkat masuk ke HL Gunung Batu Mesangat. Satu makhluk yang menjadi perhatian saya adalah katak bertanduk. Mata menyalanya yang berwarna merah membuatnya semakin sangar dengan badan yang berukuran sebesar kepalan tangan saya. Semoga ke depannya, surga hayati ini semakin dikenal dengan keindahan dan pesona penduduk di dalamnya. (Andika_volunteer)

PESAN LESTARI SMP 1 KONGBENG

Giliran SMP 1 Kongbeng yang menjadi tujuan School Visit Tim APE Guardian COP (Centre for Orangutan Protection). Sebanyak 50 siswa mengikuti sesi interaktif yang mengupas banyak hal, mulai dari jenis-jenis orangutan di Indonesia, fungsi hutan sebagai habitat penting, hingga ajakan mendukung kampanye perlindungan satwa liar.

Materi disampaikan dengan cara sederhana, sehingga mudah dipahami siswa. Antusiasme mereka terlihat dari rasa penasaran yang muncul sepanjang diskusi. Saat penutup, tim mengajak siswa ke lapangan untuk bermain “orangutan, pemburu, dan penebang pohon”, yang membuat suasana semakin meriah.

Di akhir kegiatan, seorang siswi bernama Aida menyampaikan kesannya, “Dengan adanya kegiatan semacam ini, kami jadi tahu jenis-jenis orangutan di Indonesia dan bahwa mereka dilindungi oleh Undang-Undang. Ke depannya saya berharap orangutan tetap lestari dan dapat dilindungi dengan baik di alam.”. Ucapan Aida menjadi pengingat bahwa semangat menjaga alam bisa lahir dari suara sederhana seorang pelajar. (YUS)

KILAU BIRU DI LANTAI HUTAN

Pagi itu, sekitar pukul tujuh, suasana di pusat rehabilitasi BORA teduh di bawah langit mendung. Saat itu saya sedang di dalam kantor COP. Dari dapur yang terbuka ke arah hutan belakang kantor, Agung, anggota tim APE Crusader tiba-tiba berseru, “Kang, ada burung biru di tanah!”. Saya segera mengambil kamera dan melangkah ke teras dapur di sisi belakang kantor. Kantor ini berbentuk rumah panggung khas Kalimantan, lantai kayunya ditopang tiang ulin yang kokoh, sementara area dapurnya terbuka langsung menghadap hutan kecil. Dari sana, pandangan saya jelas, hanya enam meter di depan, burung Sempidan Biru jantan (Lophura ignita) sedang mengais serasah basah sisa hujan malam.

Kepalanya biru pucat, dihiasi jambul hitam mungil di atasnya, kontras dengan tubuh berbalut bulu gelap berkilau kebiruan. Ekor cokelat keemasan dan semburat merah didada dan punggung belakangnya semakin menegaskan keanggunan burung ini. Sesekali cahaya redup pagi memantul di sayapnya, menciptakan kilau singkat di antara bayangan pohon. Tak jauh darinya, dua betina dengan bulu cokelat samar menyusuri lantai hutan, nyaris menyatu dengan dedaunan kering dan serasah. Mereka bertiga bergerak pelan, seolah menimbang setiap langkah di tanah yang lembab.

Burung Sempidan Biru Kalimantan adalah satwa endemik yang cukup jarang terlihat. Spesies ini termasuk dalam daftar merah IUCN dengan status Rentan (Vulnerable), terancam oleh hilangnya habitat hutan dataran rendah. Melihat mereka di hutan sekitar kantor menjadi pengingat kuat bahwa hutan di area BORA bukan hanya menjadi zona perlindungan bagi orangutan, tetapi juga bagi satwa liar lain yang sama berharganya.

Dari teras dapur sederhana itu, saya menyaksikan momen istimewa, seekor jantan mencolok ditemani dua betina yang tersamarkan serasah, bergerak bersama dalam senyap pagi hari. Sejenak, halaman belakang kantor berubah menjadi panggung kecil keanekaraman hayati Kalimantan. Momen ini menegaskan satu hal, hutan yang terjaga akan selalu menyimpan kejutan, bahkan sudut yang paling tak terduga. Sempidan biru dengan keindahan dan keberadaannya yang rapuh, menjadi saksi bahwa menjaga ruang alami berarti menjaga kehidupan itu sendiri. (RAF)

SCHOOL VISIT DI SMA 1 MUARA WAHAU, OBESITAS PADA ORANGUTAN

Tim APE Guardian bersama Orangufriends (relawan orangutan) mengunjungi SMA 1 Muara Wahau dalam rangkaian Bulan Orangufriends. Sejak awal masuk kelas, siswa-siswi sudah tampak antusias berdialog dengan Tim Centre for Orangutan Protection (COP) itu. Materi dimulai dengan pengenalan konservasi orangutan disambung dengan kisah Andika tentang pentingnya menjaga hutan sebagai rumah terakhir orangutan.

Suasana semakin seru ketika Shaila, salah satu siswi mengajukan pertanyaan unik, “Apakah orangutan bisa mengalami obesitas?’. Dokter hewan COP pun menjawab dengan singkat namun jelas, bahwa obesitas memang bisa dialami orangutan, terutama yang dipelihara manusia dengan pola makan berlebih, tetapi hampir tidak pernah terjadi di alam liar. Jawaban ini membuka wawasan baru bagi para siswa bahwa orangutan pun rentan pada permasalahan kesehatan, sama seperti manusia.

Kunjungan ditutup dengan permainan edukatif “orangutan, pemburu, dan penebang pohon” yang diikuti 50 siswa dengan penuh tawa. Dari sini, SMA 1 Muara Wahau belajar tentang konservasi bukan hanya teori, tetapi juga bagian dari kehidupan nyata yang menyenangkan untuk dipelajari. (YUS)