MEMO THE GREAT PITCHER OF COP BORNEO

One time when the animal keepers were on their holiday, we (the volunteers) were asked to help clean the septic tank in each cage area. One of the septic tank is placed right next to the Memo’s cage. With a curious mind, Memo watched the five of us with Flora as the vet took turns in digging and moving the dirt from the septic tank.

However, when we were busy with cleaning, suddenly we heard something.

“Duk…”

A red tomato rolled next to us. It turns out that Memo threw us with some left over fruits.

Indeed, Memo is famous as a great pitcher in COP Borneo. Some of us have tasted her sharp shot of tomatoes or eggplants. And we usually try to remind her not to threw away and waste her foods.

Memo is a clever orangutan, but unfortunately Memo can not be released to the wild because she has a history of Hepatitis B. That’s why she tried to do anything to amused herself and to reduce her boredom and curiosity.

Only this time it seemed that Memo was trying to attract our attention so we did not just pay attention to the almost empty septic tank but also play with her.

Okay Memo, please be patient, we will immediately pay attention to you after we finish clean the septic tank. (LDS)

MEMO SI PELEMPAR JITU DI COP BORNEO

Suatu kali ketika para perawat satwa sedang libur, kami para relawan diminta untuk membantu membersihkan septic tank di setiap area kandang. Salah satu septic tank berada tepat di samping kandang Memo. Dengan penasaran Memo memperhatikan kami berlima bersama drh. Flora yang sedang bergantian menggali dan memindahkan kotoran dari dalam septic tank.

Namun ketika sedang sibuk-sibuknya dan khusyuk membersihkan septic tank, tiba-tiba terdengar sebuah suara.

“Duk…”

Sebuah tomat merah menggelinding terjatuh di dekat kami. Ternyata Memo dengan isengnya melempari kami dengan buah-buah yang beum dimakannya.

Memang, Memo terkenal sebagai pelempar ulung. Beberapa dari kami sudah merasakan tomat atau terong lemparannya yang jitu. Dan kami sering kali berusaha mengingatkannya untuk tidak membuang-buang makanannya.

Memo adalah orangutan yang pintar, namun sayangnya Memo tidak dapat dilepasliarkan karena memiliki riwayat penyakit Hepatitis B. Oleh karena itu, berbagai cara ia lakukan untuk sekedar mengurangi rasa bosan dan penasarannya.

Hanya kali ini, sepertinya Memo memang berusaha menarik perhatian kami agar tidak hanya memperhatikan septic tank yang sudah hampir kosong itu dan bermain dengan dirinya.

Baiklah Memo, sabar ya… setelah selesai kami akan segera memperhatikan dirimu lagi. (LDS)

KOLA TAK BISA MEMBUKA MANGGIS

Pandangan pertamanya jatuh pada manggis. Namun… Kola membuangnya dan mengambil cempedak untuk dinikmati. Ternyata Kola tidak bisa membuka buah manggis. Kerasnya kulit manggis tanpa tahu cara membukanya tak cukup membuat penasaran orangutan repatriasi Thailand ini. Kola menyerah. 

Perawat satwa mendekati Kola sambil membawa manggis, menekan manggis dengan kedua tangannya. Kola berhenti memakan cempedaknya dan meletakkannya di bagian dalam kandang. Kola memperhatikan tangan perawat satwa dengan seksama dan menjulurkan tangannya. 

Jari telunjuknya mengutik bagian putih dari manggis. Kola memakannya dan… semua manggis bagiannya habis. Perawat satwa membukakan lagi manggis berikutnya. Kola menyukai manggis. Sampai Kola mencari sisa-sisa di kulit manggis yang baru saja dimakannya.

“Baiklah Kola, selanjutnya kamu harus bisa membuka manggis sendiri ya! Manggis ini termasuk buah hutan loh. Di hutan lebih banyak buah lainnya yang membutuhkan cara untuk menikmati buahnya. Jangan menyerah Kola!”. (WET)

KOLA: A CEMPEDAK (Artocarpus integer) OR MANGOSTEEN?

Guess the mangosteen…does she laugh sweetly? This time we have a new fruit for Kola, a Thai repatriated orangutan. New fruit for Kola? Because for a month at the COP Borneo Rehabilitation Center in KHDTK Labanan, the only fruits she knew were bananas, pineapples, papayas, tomatoes and oranges. This time, we tried to introduce Cempedak and Mangosteen fruits for Kola.

From his first glance, it was seen that Kola glanced at the mangosteen more than Cempedak. Itself are seasonal local fruits. If it’s not time to bear fruits, so there is no fruit. However, after taking the mangosteen, Kola threw it away and took Cempedak.

“Suprised…Kola suddenly took a splash from the hands of the animal keeper on duty in quarantine cages.”, said Wety Rupiana. Kola brought the choke up, opening it with her big teeth and long fingers. Bananas are his favourite so far be ignored. While lying on his hammock…Kola sucked in Cempedak.(LRS)

 

KOLA: CEMPEDAK ATAU MANGGIS?

Tebak-tebak buah manggis… apakah dia tertawa manis? Kali ini kami punya buah baru untuk Kola, orangutan repatriasi Thailand. Buah baru untuk Kola? karena selama sebulan di Pusat Rehabilitasi COP Borneo yang berada di KHDTK Labanan, buah yang dikenalnya hanyalah pisang, nanas, pepaya, tomat dan jeruk. Kali ini, kami mencoba memperkenalkan buah Cempedak dan Manggis untuk Kola.

Dari pandangan pertamanya, terlihat Kola lebih melirik manggis dibandingkan cempedak. Manggis dan Cempedak sendiri adalah buah lokal musiman. Kalau tidak waktunya berbuah, ya buah itu tidak ada. Namun, setelah mengambil manggis, Kola membuangnya dan mengambil Cempedak.

“Kaget… Kola tiba-tiba saja mengambil cempedak dari tangan perawat satwa yang bertugas di kandang karantina.”, ujar Wety Rupiana. Kola membawa cempedak ke atas, membukanya dengan gigi-giginya yang besar dan jari-jarinya yang panjang. Pisang yang menjadi kesukaannya selama ini tidak dipedulikannya lagi. Sambil tiduran di hammock nya… Kola mengulum cempedak. (WET)

CEMPEDAK (Artocarpus integer) MAKE ANNIE CONFUSION

Cempedak (Artocarpus integer) season is coming again. This fruit is an idol for orangutans at the COP Borneo Rehabilitation Center. The taste is sweet and also the fragrant smell is the main attraction for them.

In the market, Cempedak fruit has a price that is arguably higher than other fruits. Because this price is what makes us often miss this seasonal fruit. But…this time the price was a little shopper and there was a donation from good people through https://kitabisa.com/campaign/orangindo4orangutan . We immediately paid and put it in a sack of groceries to give to the orangutans at the Borneo Orangutan Rehabilitation Center.

Without chopping we took it to the forest school location. Initially we wanted to hide it from forest students, hoping they would find it. But it turns out that Annie’s sense of smell is very good, Annie trails the animal nuts who carries Cempedak in her basket and ignores her breakfast. Finally, we handed the basket of Cempedak to Linau, the animal keeper Annie feared. Successfully, Annie stayed away.

But not to stay away from Cempedak, but rather looking for ways to trim Linau. Annie spun around, climbed up, approacehed Linau then pulled away again, watching the surroundings so continuously. All her friends were quite while eating on a tree, only Annie looked very worried. The smell and taste of Cempedak really disturbed Annie’s mind. After struggling for fifteen minutes, Annie got her Cempedak coveted fruit without allowing her friend to taste 

Thank you for the donation… I am very happy to see Annie’s enjoying Cempedak, a seasonal fruit that is hard to come by. (LRS)

 

CEMPEDAK MEMBUAT ANNIE RISAU

Musim Cempedak datang lagi. Buah yang satu ini menjadi idola bagi para orangutan di Pusat Rehabilitasi COP Borneo. Rasanya yang manis dan juga baunya yang harum menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka.

Di pasar, buah Cempedak memiliki harga yang bisa dibilang tinggi dibandingkan buah lainnya. Karena harganya ini lah yang membuat kami sering melewatkan buah musiman ini. Tapi… kali ini harganya sedikit lebih murah dan ada donasi dari orang baik melalui kitabisa.com Kami langsung membayar dan memasukkannya ke karung belanjaan untuk diberikan kepada orangutan-orangutan di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo. 

Tanpa dipotong-potong kami membawanya ke lokasi sekolah hutan. Awalnya kami ingin menyembunyikannya dari para siswa sekolah hutan, dengan harapan mereka mencarinya. Namun ternyata indra penciuman Annie sangat bagus, Annie membuntuti perawat satwa yang membawa Cempedak di dalam keranjangnya dan mengabaikan makan paginya. Akhirnya, kami menyerahkan keranjang berisi Cempedak itu ke Linau, perawat satwa yang ditakuti Annie. Berhasil, Annie menjauh.

Tapi bukan untuk menjauhi Cempedak. melainkan mencari cara mengelabui Linau. Annie berputar, memanjat, mendekati Linau lalu menjauh lagi, mengamati sekeliling begitu terus menerus. Semua teman-temannya diam sambil makan di atas pohon, hanya Annie yang terlihat sangat risau. Bau dan rasa Cempedak benar-benar menganggu pikiran Annie. Setelah berjuang selama limabelas menit, Annie mendapatkan buah Cempedak incarannya tanpa memperbolehkan temannya untuk mencicipi. 

Terimakasih ya donasinya… bahagia sekali melihat Annie menikmati Cempedak, buah musiman yang sulit didapat. (WET)

BERANI TAK BERANI TURUN

Memahami perilaku orangutan tak cukup hanya mengamatinya satu atau dua kali saja. Berani yang dari catatan sekolah hutan sering bermain di lantai hutan apalagi kalau sudah ketemu Annie yang menjadi temannya bergelut. Keduanya bisa berjam-jam berdua saling gigit, bergulung-gulung di tanah. Bahkan usaha untuk memisahkan keduanya terkesan sia-sia, karena ternyata mereka tidak berkelahi serius, tapi lebih ke bermain.

Dan suatu sore menjadi sore terlama untuk Amir saat hujan terus menerus menguyur hutan hujan Kalimantan yang menjadi kelas sekolah hutan COP Borneo. Berani naik ke atas pohon di depan kandangnya. Naik dan naik terus, tak menghiraukan teriakan untuk turun dan saatnya masuk kandang. 

Hari semakin gelap, Berani masih di atas. Menjemputnya ke atas semakin tak mungkin, licin karena hujan. Berani berdiam di atas… ternyata dia pun takut. Beberapa kali memberanikan diri untuk turun dengan berpegangan pada akar yang menggelantung, dan terpeleset. Berani pun memilih berdiam. Bermalam di atas pohon, di depan kandang.

UMBUT ROTAN, MAKANAN HUTAN KESUKAAN POPI

Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar hutan, rotan memiliki banyak kegunaan. Talinya dapat dibuat menjadi anyaman sementara umbutnya bisa dijadikan makanan yang sangat enak. Umbut rotan memiliki rasa yang sedikit pahit, untuk mengambilnya pun harus hati-hati karena duri rotan sangatlah tajam. Bukan cuma masyarakat sekitar hutan yang menyukai umbut rotan, para orangutan di Pusat Rehabilitasi COP Borneo pun sangat menyukainya.

Siang tadi, kami memberikan umbut rotan. Tim APE Guardian baru saja selesai patroli di kawasan HLSL (Hutan Lindung Sungai Lesan) di Lejak, Kalimantan Timur. Widi, kapten APE Guardian tak pernah lupa membawa umbut rotan untuk orangutan di COP Borneo jika dari Lejak. Semua orangutan mendapatkan bagiannya.

Sepertinya, siang ini Ambon Memo, Michelle maupun Antak sedang malas. Tak satu pun dari mereka yang menyentuh dan membuka umbut rotan. Lain cerita dengan orangutan-orangutan kecil. Ketika umbut rotan dimasukkan ke kandang , dengan segera mereka mengambil dan membukanya. Yang sangat mengejutkan adalah Popi. 

Popi yang selalu terlihat malas dan manja ketika di sekolah hutan, ketika siang tadi diberi umbut rotan di kandang yerlihat tak sabar. Popi langsung menggigit dan membukanya. Bahkan dia tidak ingin diganggu oleh Mary atau orangutan lainnya yang berada satu kandang dengannya. Sepertinya, umbut rotan memang makanan favorit Popi. Di sekolah hutan pun, Popi terlihat mencari dan memakan umbut rotan. (WET)

BONTI SI USIL

Saat para perawat satwa menikmati liburan natal dan tahun baru, tibalah waktu bagi para relawan untuk menggantikan peran mereka beberapa saat. Sebelum para perawat libur, para relawan sempat beberapa kali melaksanakan sekolah hutan dan melihat beberapa perilaku orangutan yang bermacam-macam selama di kelas sekolah hutan. Salah satunya adalah Bonti. Bonti adalah orangutan perempuan yang cukup aktif dan sangat usil dibandingkan orangutan perempuan lainnya. Saat di hutan, Bonti adalah orangutan yang paling sulit untuk turun. Dan saat di kandang, dia sering sekali mengambil makanan teman-temannya yang satu kandang dengannya. 

Suatu hari, di camp COP Borneo hanya ada empat relawan. Hari itu mereka tidak melaksanakan sekolah hutan dan menggantinya dengan membuat enrichment agar orangutan-orangutan tidak bosan menghabiskan waktunya di kandang. Salah satu relawan pernah membuat enrichment di salah satu tempat konservasi. Ia pun mengajarkan ketiga relawan lainnya untuk membuat enrichment. Daun kering, tali dan potongan buah pun disiapkan. 

Setelah enrichment-enrichment itu jadi, kami pun memberikannya kepada orangutan satu per satu. Semua orangutan sibuk mengambil buah di dalam enrichment. Tapi tidak untuk Bonti. Baginya, membuka-buka enrichment saja tidak cukup menyibukkan dirinya. Bonti pun melihat karung yang dibawa relawan untuk membawa enrichment tadi. Tak lama kemudian… HAP!

Karung sudah diambilnya dan digunakan di kepalanya seperti topeng. Lalu ia mendekat ke teman-temannya seperti ingin menakut-nakutinya. Sungguh, perilaku mereka sanggat menggemaskan saat bermain seperti itu. (Amanda_COPSchool10)

AMBON CHOICES CASAVA THIS MORNING

SINGKONG PILIHAN AMBON PAGI INI

Langit pagi ini kelabu dengan mendung yang berat. Musim hujan tak berhenti sejak Desember yang lalu. Seperti biasa, saatnya memberi makan di pagi hari dan dimulai dengan menimbang pakan. Timbangan buah maupun sayur untuk setiap orangutan menjadi berbeda sesuai dengan berat badan orangutan tersebut. 

40 ons untuk Ambon pagi ini. Nenas, pepaya, pisang, terong bulat, tomat, kangkung, kacang panjang dan singkong. Usai ditimbang, para perawat satwa mencucinya. Membawa makanan Ambon yang 4 kg sebenarnya tak begitu berat. Tapi jalanan menuju kandang menjadi becek karena hujan yang turun setiap hari lumayan bikin keringatan. Dan tiga keranjang lainnya untuk orangutan yang berada satu blok dengannya.

Pagi ini, Ambon makan yang mana ya? Apakah sama dengan yang kemarin? Seluruh isi keranjang sudah dituang ke tempat pakan di kandang Ambon. Ambon perlahan turun dari atas menuju tempat pakan. Diam, sambil menatapku dan melihat tepat pakan. Ambon mengambil singkong. What… singkong? Menggigit kulit singkong dan memakan dalamnya, owh suaranya begitu renyah. Ambon terlihat menikmati singkongnya. Kemudian masih dengan memilih singkong sebagai potongan makanan keduanya. 

Kalau kamu, singkong akan diolah jadi apa untuk sarapanmu?

AMIR MENYUKAI ORANGUTAN OWI

Sejak pertama kali Amir, perawat satwa di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo bertugas di sekolah hutan, Amir bertanggung jawab mengawasi Owi. Owi si tukang gigit terutama pada orang yang baru dikenalnya, menjadi begitu manisnya saat digendong Amir. 

“Owi itu paling suka digendong di ketiak kananku.”, kata Amir dengan senangnya. Owi menjadi orangutan yang sangat patuh jika bersama Amir. Owi juga akan patuh saat disuruh naik ke atas pohon dan menghabiskan waktunya di atas pohon. 

Owi juga akan segera turun saat Amir memanggilnya. Lalu kenapa Owi menggigit semua relawan yang bertugas saat akhir tahun kemarin? “Owh kak Amir… andai kamu ada saat penimbangan mingguan orangutan kemarin, tentu kami tidak sibuk menghindari gigitannya.”, ujar Kiki, relawan dari Semarang yang masih kuliah di Fakutas Hukum, UNDIP.

Owi menjadi orangutan favorit untuk Amir. Warna rambutnya yang terang dan halus membuat Amir jatuh cinta pada Owi. Owi itu cantik begitu katanya lagi. Untuk kamu yang ingin mengadopsi Owi langsung email ke info@orangutanprotection.com

 

SEPTI BERKELILING KANDANG MENANTI PAGI

Hujan deras pagi ini membuat siapapun enggan keluar dari selimutnya. Tapi detik jam tak pernah berhenti sesaat pun, para perawat satwa yang telah selesai libur Natal dan Tahun Baru dengan semangat memotong buah, menimbang dan mencuci nya untuk orangutan-orangutan yang telah menunggunya di kandang. 

Masih ditemani para relawan, membersihkan kandang, menyikat lantai kandang yang mulai berlumut dan saatnya memberi makanan. Septi terlihat di atas dan mulai berkeliling kandang. “Bagus Septi, mungkin kamu kangen sama perawat satwa yang libur ya. Semakin sering bergerak samakin bagus untuk perutmu yang kembung”, ujar Lia, relawan dari Tanggerang yang merupakan alumni COP School Batch 7.

Lalu, apa yang akan dimakan Septi pagi ini ya? Septi memilih pepaya dan kali ini, dia memakannya. “Kemarin dia mengunyah pepaya, tapi dilepehnya, itu si Berani yang kandangnya bersebelahan malah mencuri lepehannya.”, Lia yang merupakan lulusan Psikologi sangat memperhatikan orangutan-orangutan di COP Borneo. “Orangutan pun punya pribadi yang unik.”.

 

Page 5 of 30« First...34567...102030...Last »