COP MENGUATKAN KESIAPSIAGAAN PENYELAMATAN SATWA DI SITUASI BENCANA

Dalam situasi darurat dan kebencanaan, satwa sering menjadi pihak paling rentan dan terabaikan. Penyelamatan mereka tidak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri. Dibutuhkan koordinasi yang kuat, komunikasi yang jelas, serta kepercayaan antar tim agar setiap tindakan di lapangan berjalan aman dan efektif.
Berangkat dari kesadaran tersebut, Tim Disaster COP menggelar latihan gabungan bersama BPBD Sleman dan Basarnas DIY pada Rabu (28/1) di Embung Kaliaji, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman. Latihan ini mempraktikkan kesiapsiagaan penyelamatan di air, mulai dari persiapan fisik, penggunaan perahu rescue, hingga simulasi evakuasi, sebagai bekal menghadapi situasi banjir, termasuk saat harus menyelamatkan satwa yang terjebak atau terdampak.
Kegiatan ini juga menekankan pentingnya pengambilan keputusan di lapangan. Tidak semua kondisi mengharuskan penolong untuk langsung bertindak. Menjangkau dari jarak aman, menggunakan alat bantu, mendekat dengan perahu, atau bahkan menahan diri saat resiko terlalu tinggi adalah bagian dari strategi penyelamatan. Mengetahui kapan harus bergerak dan kapan tidak bertindak menjadi kunci untuk menjaga keselamatan penolong sekaligus satwa yang diselamatkan. 
Melalui kegiatan ini, COP berharap koordinasi dan kepercayaan dengan instansi kebencanaan dapat semakin erat, sehingga penanganan darurat di lapangan berjalan lebih cepat, aman, dan terukur. Ke depan, latihan gabungan seperti ini diharapkan dapat menjadi agenda rutin yang tidak hanya melibatkan instansi terkait, tetapi juga membuka ruang pembelajaran bagi relawan kebencanaan satwa dan Orangufriends, agar semakin banyak pihak yang siap bergerak melindungi satwa saat bencana terjadi. (VID)

AMAN SUDAH AMAN

Sudah seminggu Aman menjalani perawatan medis. Kali ini, bukan masalah tulang dan persendian seperti biasanya. Tubuhnya lemas, perutnya menggembung dan bersuara “dungg.. dungg”, menandakan adanya gangguan pada sistem pencernaannya.

Tim medis BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) dibantu para animal keeper, bergantian merawat Aman. Dari pagi hingga pagi berikutnya, Aman tidak lepas dari pengawasan tim medis dan animal keeper. Perlahan, kondisinya mulai membaik. Hingga pada hari ke-8, Aman kembali ke lokasi sekolah hutan, meskipun waktu dan interaksi sosialnya dengan orangutan lain masih dibatasi. Pembatan ini dilakukan untuk menghindari benturan yang tidak diinginkan, seperti saat bergulat dengan orangutan lain.

Pada awal kembali mengikuti sekolah hutan, Aman masih terlihat lemas. Lokomosi dilakukannya dengan perlahan. Sesekali, ia terdiam dan mengejan untuk defekasi serta urinasi. Meski demikian, semangat untuk pulih tetap terlihat. Pada hari berikutnya, Aman mulai memanjat pohon dan menemukan buah untuk dimakan.

Pagi selanjutnya, Aman kembali mengikuti sekolah hutan pada jam dan lokasi yang telah ditentukan. Tidak lebih dari lima menit, Aman sudah memanjat. Meskipun pergerakannya tidak selincah orangutan lain, Aman mampu memilih ranting yang paling mudah dijangkau tubuhnya. Hal ini terlihat dari caranya berhenti sejenak dan mengamati sebelum berpindah.

“Senang bawa Aman sekarang, dia di atas pohon terus. Kalau ada temannya, mana mau dia memanjat begini, pasti sibuk bergulat. Kalau bergulat sih tidak jadi masalah. Tapi kalau pelan-pelan berjalan ke kandang atau mengganggu animal keeper perempuan, itu yang bikin capek”, ujar Steven, animal keeper yang membawa Aman sekolah hutan pagi ini.

Pembatasan interaksi sosial dengan orangutan lain justru membuat aktivitas Aman di atas pohon meningkat. Ia juga aktif mencari dan mengonsumsi pakan. Seolah melupakan kondisi lemahnya beberapa hari sebelumnya, Aman menunjukkan kebugaran yang berbeda hari ini. Teramati beberapa kali ia berpindah pohon dan akhirnya berhenti di pohon Artocarpus sp. Untuk memakan buah ranum. Hingga namanya berkali-kali dipanggil, menamakan waktu sekolah hutan telah usai.

“Dua sampai tiga hari lagi obatnya habis. Kalau tidak terlihat keluhan lain, Aman bisa diikutkan sekolah hutan normal seperti biasanya”, ujar Wardiman, dokter hewan BORA, setelah mengetahui alasan keterlambatan Aman pulang.

Baru kali ini, keterlibatan pulang ke kandang membuat kami gembira. (ARA)

DATING APES PERDANA 2026: KONSERVASI YANG TUMBUH BERSAMA MASYARAKAT

Hujan turun pelan membasahi Camp APE Warrior, Yogyakarta. Tanah lembab, udara dingin, dan sore yang biasanya menjadi alasan untuk pulang lebih cepat justru menjadi pembuka Dating Apes pertama di tahun 2026. Di tengah cuaca yang tak bersahabat itu, Nurina Indriyani (Kak Nuri), Direktur Kanopi Indonesia, hadir membawa satu topik yang kerap dianggap sepele, namun sangat menentukan masa depan keanekaragaman hayati, yaitu peran masyarakat lokal dalam konservasi.
Dengan gaya bertutur yang tenang dan berangkat dari pengalaman lapangan, Kak Nuri mengajak peserta melihat konservasi dari jarak yang lebih dekat. Bukan dari balik laporan proyek atau peta kawasan lindung, melainkan dari kampung, ladang, dan relasi sehari-hari antara manusia dan alam. Di Yogyakarta dan wilayah sekitarnya, pelestarian tidak pernah berdiri sendiri; ia tumbuh dari pengetahuan lokal, praktik tradisional, serta keputusan-keputusan kecil masyarakat yang selama ini jarang masuk ruang diskusi formal.
Meski hujan belum reda, mahasiswa, relawan, dan perwakilan berbagai lembaga tetap berdatangan. Di antara gelas teh manis hangat serta cemilan rebusan kacang dan jagung sederhana, diskusi mengalir tanpa jarak. Tak ada panggung tinggi atau sekat akademik, yang ada adalah percakapan tentang bagaimana konservasi seharusnya berpihak, mendengar, dan tumbuh bersama masyarakat. Dating APES kali ini menjadi pengingat bahwa menjaga keanekaragaman hayati selalu bermula dari hal paling dekat: manusia yang hidup berdampingan dengannya. (DIT)

SUS BARBATUS, PENGHUNI HUTAN YANG SEMPAT MENGHILANG

Di jantung Kalimantan Timur, Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat menjadi salah satu bentang terakhir hutan tropis yang masih terjaga. Kawasan ini tidak hanya dikenal sebagai lokasi pelepasliaran orangutan COP yang berada di bawah tim APE Guardian, tetapi juga sebagai rumah bagi beragam satwa liar yang saling terhubung dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan.

Salah satu satwa kunci ini adalah babi hutan berjanggut (Sus barbatus) yang berperan sebagai penggembur tanah dan penyebar biji alami. Keberadaannya mudah dikenali melalui jejak kaki, bekas galian tanah, maupun perjumpaan langsung di sekitar hutan dan aliran sungai.

Namun pada masa pandemi COVID-19 tahun 2020, keberadaan Sus barbatus mendadak menghilang. Warga sekitar hutan mulai menemukan bangkai babi hutan di pinggir sungai, yang diduga kuat akibat wabah penyakit. Kematian massal tersebut membuat satwa ini nyaris tak terlihat lagi di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, menimbulkan kekhawatiran akan terganggunya keseimbangan ekosistem hutan.

Selama beberapa tahun berikutnya, berbagai upaya pemantauan dilakukan melalui pengamatan lapangan dan kamera jebak, namun belum berhasil merekam keberadaan Sus barbatus. Hilangnya satwa ini terasa signifikan, mengingat perannya yang penting dalam mendukung regenerasi hutan dan secara tidak langsung berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup orangutan yang dilepasliarkan di kawasan ini.

Harapan baru muncul pada awal tahun 2026 ketika kamera jebak yang dipasang di delapan titik strategis kawasan pelepasliaran orangutan berhasil merekam seekor babi hutan berjanggut melintas pada siang hari. Dokumentasi ini menjadi bukti bahwa Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat perlahan pulih, sekaligus memperkuat harapan bahwa kawasan ini tetap menjadi rumah yang aman bagi orangutan dan satwa liar lainnya melalui upaya pemantauan dan perlindungan yang berkelanjutan. (LUT)

MENEMBUS MALAM, MENJEMPUT AIR: MISI SENYAP DI BELANTARA SIRANGGAS

Panggilan tugas itu datang tanpa aba-aba pada Senin siang 19 Januari 2026. Area camp-site SM Siranggas membutuhkan penanganan darurat akibat pohon tumbang merusak pipa saluran air dan atap bangunan, memaksa kami bergerak cepat melawan waktu untuk melakukan penanganan. Sore itu juga, saya bersama APE Sentinel bergegas ke SRA untuk menjemput gergaji mesin dan Abang Manik selaku tokoh kunci di kawasan SM Siranggas. Persiapan dilakukan ringkas namun taktis, karena kami sadar pekerjaan berat menanti. Tanpa membuang waktu, tim membelah malam meninggalkan Medan, menempuh perjalanan panjang dan melelahkan hingga akhirnya Siranggas menyambut kami dengan kabut tipis menjelang subuh.

Selasa dan Rabu menjadi hari di mana kemampuan improvisasi kami diuji. Setelah sempat turun gunung demi melengkapi peralatan yang kurang, kami membagi tim menjadi dua unit kerja. Sementara satu tim membersihkan area kandang dan bangunan, saya dan Abang Manik mengambil risiko menembus hutan menuju hulu air terjun. Di ketinggian tersebut, kami merakit instalasi pipa secara presisi demi menangkap aliran deras. Kerja keras itu terbayar lunas ketika sore harinya, gemericik air akhirnya terdengar mengalir deras mengisi penampungan air seolah menghidupkan kembali denyut nadi tempat itu.

Kamis 22 Januari 2026, menjadi babak akhir dari operasi singkat ini. Sisa tenaga kami kerahkan untuk pembersihan atap, perbaikan paralon, hingga sterilisasi jalur setapak menuju kandang. Siang harinya, saat kami meninggalkan Siranggas bukan hanya dalam kondisi lebih rapi, tetapi juga berfungsi penuh kembali. Perjalanan ini mengajarkan kami bahwa tugas lapangan tak melulu soal kekuatan fisik menebas semak atau memotong kayu, melainkan tentang kecepatan mengambil keputusan dan soliditas tim untuk bertahan serta menyelesaikan masalah di tengah keterbatasan fasilitas hutan. (Ndaru_Orangufriends)

BERKELANA SEMAKIN JAUH BERSAMA ASTUTI

Menjalani rutinitas yang berulang tentu saja dapat berujung pada kebosanan. Suasana terasa monoton dan tidak ada tantangan baru yang menarik. Kejemuan inilah yang dirasakan Astuti ketika sekolah hutan. Semua pepohonan di area utama serasa telah dijelajah. Rumbaian rambutan yang ranum pun telah puas ia lahap. Astuti juga lelah menghadapi Jainul yang selalu menggigit tubuhnya untuk mengajaknya bermain di lantai hutan. Tak ayal lagi, Astuti bergegas menjauhi Jainul ketika gigitannya mulai beranjak ke tubuh orangutan lain. Astuti tahu apa yang ia inginkan, yakni penjelajahan yang lebih menantang.

Berjalan dengan senyap di lantai hutan yang lembab, Astuti memasuki hutan lebih dalam. Terkadang ia juga berayun di akar gantung dan dahan rendah. Sepanjang jalur yang dilalui, belum ada jalan setapak yang terbentuk dan terdapat beberapa pohon rebah yang melapuk. Vegetasi di area ini cukup rapat dengan stratifikasi yang kompleks hingga sinar matahari pun sulit mencapai lantai hutan.

Perjalanan Astuti terhenti di suatu pohon yang menarik perhatiannya. Buah ini berbentuk seperti tetesan air dengan panjang 2-3 cm, berwarna kuning, beraroma manis, dan daging buahnya sangat berserat. Ia makan dan mengeksplorasi pohon ini selama 10 menit hingga akhirnya berpindah ke pohon tarap melalui jalinan liana.

Pohon tarap (Artocarpus elsticus) ini menjulang hingga 25 meter dengan diameter batang lebih dari 1 meter dan memiliki akar banir setinggi dada manusia dewasa. Dengan ukuran sebesar ini dapat dipastikan bahwa pohon ini sudah sangat berumur. Ada berbagai jenis liana dan paku-pakuan yang menjalar di batangnya. DI bawah naungannya, tumbuh banyak lumut daun yang berperan dalam siklus nutrisi dan pengaturan suhu tanah.

Postur pohon yang tinggi besar ini menarik Astuti untuk mengeksplorasinya secara vertikal. Karena ukuran batang yang terlalu besar dan sulit dipanjat, ia menggunakan jalinan liana untuk mencapai pucuk pohon. Ternyata lapisan kanopi pohon ini juga telah dihuni banyak tumbuhan. Tiap kali Astuti berayun, banyak serpihan kering yang berhamburan layaknya gerimis.

Menjelajahi area baru sendirian tentunya berasa mendebarkan bagi orangutan rehabilitan. Astuti kerap turun sejenak untuk memastikan keberadaan observer yang tetap berada di sekitarnya. Setelah kami saling berkontak mata, Astuti akan kembali sibuk di kanopi pohon yang rimbun. Hal ini menjadi perkembangan yang baik bagi orangutan di pusat rehabilitasi. Insting liarnya untuk menjelajah semakin terasah, keberaniannya dalam eksplorasi kian meningkat, dan pengetahuannya akan navigasi area yang familiar pun bertambah. (FAR)

TAK PERLU TAKUT, ULAR JUGA MENJAGA ALAM

Ular sering kali dipandang sebagai satwa yang menakutkan, padahal mereka memiliki peran besar bagi alam dan kehidupan manusia. Di sawah dan perkebunan, ular membantu petani dengan memangsa tikus dan hewan pengerat lain yang dapat merusak tanaman. Tanpa disadari, kehadiran ular ikut menjaga keseimabgnan ekosistem dan membantu mengurangi hama secara alami, tanpa bahan kimia.

Saat musim hujan dan banjir, ular kadang terlihat di sekitar pemukiman karena habitatnya tergenang air. Hal ini bukan karena ingin menyerang manusia, melainkan karena mereka mencari tempat yang lebih aman dan kering. Dengan mengenal jenis ular dan memahami perilakunya, kita bisa tetap waspada tanpa harus bersikap kasar atau menyakiti satwa yang sebenarnya hanya sedang berusaha bertahan hidup.

COP juga beberapa kali turut membantu penanganan ular di kawasan permukiman. Salah satunya adalah ular yang terlihat pada foto ini, ular sanca kembang (Phyton reticulatus) berjenis kelamin betina yang diperkirakan masih berusia di bawah satu tahun. Ular tersebut ditemukan di salah satu rumah warga dalam kondisi baik dan sehat, dengan panjang kurang lebih 1,5 meter. Setelah dievakuasi dengan aman, ular ini dikembalikan ke habitat alaminya agar dapat kembali menjalankan perannya sebagai pengendali keseimbangan ekosistem. Saat dilepaskan, ular tersebut sempat beradaptasi sejenak dengan lingkungan sekitarnya sebelum akhirnya melanjutkan perjalanannya menuju tempat yang lebih aman.

Kisah tentang ular mengingatkan kita untuk lebih peka terhadap lingkungan di sekitar. Alam terus berubah, dan satwa liar kerap menjadi pihak yang paling terdampak. Dengan menumbuhkan rasa empati, belajar memahami peran setiap makhluk hidup, serta menjaga keseimbangan alam, kita turut menciptakan ruang hidup yang lebih aman dan harmonis bagi manusia maupun satwa liar. (DIM)

73 KASUS DAN 100 TERSANGKA DALAM 14 TAHUN MELAWAN KEJAHATAN SATWA LIAR

Centre for Orangutan Protection (COP) telah aktif membantu aparat penegak hukum dalam memerangi kejahatan satwa liar di Indonesia selama 14 tahun terakhir. Hingga kini, sedikitnya 73 kasus kejahatan satwa liar berhasil diungkap dengan 100 orang pelaku diproses hingga memperoleh putusan hukum.

Sejumlah kasus besar perdagangan satwa liar berhasil digagalkan melalui operasi panjang bersama Kementerian Kehutanan dan Kepolisian Republik Indonesia (POLRI). Kasus-kasus tersebut mencakup perdagangan orangutan, bagian tubuh Harimau Sumatra, badak, hingga satwa liar lainnya seperti trenggiling, burung, dan satwa dilindungi lainnya.

“Dalam kurun waktu 14 tahun, COP secara aktif membantu aparat penegak hukum dalam pendalaman hingga pengungkapan kasus kejahatan satwa liar. Sinergi ini harus terus diperkuat untuk menekan angka kejahatan satwa liar yang masih terus terjadi. Setidaknya, COP telah membantu pengungkapan 73 kasus melalui berbagai operasi, dengan 100 pelaku mendapatkan putusan hukum. Kolaborasi penegakan hukum ini akan terus kami dorong sebagai bagian dari aksi nyata melawan kejahatan besar ini”, ujar Hery Susanto, Koordinator Animal Rescue COP.

Melalui operasi-operasi tersebut, sedikitnya 300 individual satwa liar dilindungi dari 61 jenis berhasil diselamatkan, serta puluhan bagian tubuh satwa dilindungi berhasil disita oleh negara. Upaya penegakan hukum menjadi bagian penting dalam perlindungan keanekaragaman hayati Indonesia, mengingat kejahatan satwa liar merupakan ancaman serius terhadap kelestarian satwa di alam.

Untuk memenuhi permintaan pasar ilegal, pemburu kerap mengambil satwa dari alam dengan cara yang sangat kejam, seperti menjerat Harimau Sumatra atau menembak mati induk primata seperti orangutan dan lutung jawa demi mengambil anaknya. Harga jual yang tinggi serta tingginya permintaan dari para penghobi satwa liar membuat kejahatan ini terus berulang.

“Kejahatan satwa liar terus tumbuh seiring tingginya permintaan pasar. Pemburu mengambil satwa dari alam karena adanya nilai jual yang besar. Dalam kasus orangutan, induknya dibunuh untuk diambil anaknya yang memiliki nilai jual tinggi. Hal serupa terjadi pada harimau yang dibunuh untuk diambil kulit dan bagian tubuh lainnya, serta badak yang diburu demi culanya. Kemudahan komunikasi melalui media sosial juga membuat kejahatan ini berkembang dengan pola yang lebih modern dan canggih”, tambah Hery Susanto.

Kejahatan satwa liar juga bersifat lintas batas negara, dengan satwa liar Indonesia diperdagangkan ke luar negeri. Salah satu kasus terbaru adalah penyeludupan orangutan asal Indonesia ke Thailand. Pada Desember 2025, Pemerintah Indonesia bersama berbagai pihak termasuk COP, berhasil memulangkan tiga individual orangutan Sumatra dan 1 orangutan Tapanuli yang diselamatkan dari perdagangan ilegal di Thailand.

“Kejahatan ini tidak hanya terjadi di dalam negeri. COP telah membantu pemerintah Indonesia dalam proses repatriasi orangutan dari perdagangan ilegal di Thailand sebanyak tiga kali, yaitu pada tahun 2019, 2023, dan 2025. Total terdapat sembilan individual orangutan yang berhasil dipulangkan, seluruhnya merupakan hasil penyeludupan untuk perdagangan ilegal”, jelas Hery Susanto.

Melawan kejahatan satwa liar membutuhkan komitmen kuat dari seluruh pihak. Selain penegakan hukum, menghentikan keinginan untuk membeli satwa liar juga menjadi langkah penting untuk menekan permintaan dan mencegah kejahatan ini terus terjadi.

Kontak Media:
Hery Susanto
Koordinator Animal Rescue – Centre for Orangutan Protection (COP)
No HP 0812-8483-4363

AKSI PENGHIJAUAN: MISI MENANAM RATUSAN POHON DI SRA

Kamis, 1 Januari 2026, menjadi awal yang berbeda bagi kami di Sumatran Rescue Alliance (SRA). Saat banyak orang menikmati libur awal tahun, saya bersama tim APE Champion dan APE Sentinel justru memulai hari dengan melangsir bibit pohon dari seberang sungai. Tantangan fisik ini menjadi pembuka semangat sebelum kami dibagi menjadi dua tim. Fokus pertama kami adalah area rehabilitasi satwa, dimana 20 bibit pohon ditanam sebagai penyangga ekosistem masa depan, disusul dengan penanaman bibit nangka di halaman depan klinik yang rampung tepat sebelum jam makan siang.

Sesi kedua berlanjut di area bagian atas, mencakup belakang kantor dan sekitar mess staf. Kali ini, energi kami bertambah dengan bantuan ada yang memastikan setiap lubang tanam terisi dengan presisi. Kerja sama yang solid membuat proses berjalan cepat dan terukur, menutup hari pertama di tahun baru itu dengan kepuasan tersendiri. Sore harinya, kami kembali ke kantor Medan membawa rasa bangga sederhana, bahwa hari libur kami telah dikonversi menjadi kontribusi nyata bagi pemulihan lingkungan SRA.

Semangat penghijauan itu kembali kami bawa dua pekan kemudian, pada Jumat, 16 Januari. Misi kali ini lebih besar, menanam seratus bibit pohon. Perioritas kali ini, menanampada area sekitar kandang yang sebelumnya rusak dan diratakan alat berat akibat longsor. DI sana, kami menanam sekitar 30 pohon berukuran besar, sebuah upaya mendesak untuk mencegah erosi lebih lanjut di area tersebut.

Estafet penanaman berlanjut selepas ibadah zuhur dengan menanam pada area klinik, sekolah hutan, hingga kembali ke lingkungan kantor. Kali ini, kami fokus pada diversifikasi tanaman dengan memasukkan bibit buah seperti rambutan dan alpukat, yang kelas diharapkan menjadi sumber pakan alami bagi penghuni SRA. Tepat pukul lima sore, seluruh target berhasil ditanam berkat kerja bersama-sama. Perjalanan pulang ke Medan usai magrib terasa lebih ringan, karena kami tahu, kami telah meninggalkan jejak hijau yang akan tumbuh menjaga masa depan hutan dan satwa di SRA. (Ndaru_Orangufriends)

ARSITEK SATU INI SEDIKIT BERBEDA

Kita mengetahui bahwa hampir setiap hari orangutan di alam liar menjadi arsitek dengan proyek membuat sarang di atas pohon sebagai tempatnya beristirahat. Lalu, bagaimana dan dimana orangutan yang berada di pusat rehabilitasi Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) tidur di dalam kandangnya?

Keharusan orangutan yang sedang menjalani rehabilitasi untuk masuk ke dalam kandang dengan lingkungan buatan yang berbeda dari kondisi alam liar menjadi perhatian Centre for Orangutan Protection (COP) dalam upaya menjaga kesejahteraan mereka. Berbagai bentuk pengayaan (enrichment) dan penambahan ornamen terus dilakukan untuk memastikan kebutuhan perilaku alami orangutan tetap terpenuhi.

Setiap kandang dilengkapi dengan jalinan tali, alat katup air otomatis untuk minum, tempat pakan yang dibuat lebih tinggi agar orangutan terbiasa makan di atas, hammock dari selang pemadam kebakaran, serta sarang buatan dari kerangka besi sebagai tempat beristirahat. Seluruh fasilitas ini diberikan agar orangutan memiliki lebih banyak tempat beristirahat. Seluruh fasilitas ini diberikan agar orangutan memiliki lebih banyak pilihan aktivitas dan terhindar dari stres ketika tidak mengikuti kegiatan sekolah hutan. Selain itu, dedaunan dan karung juga diberikan setiap hari sebagai alas maupun selimut alami.

Setelah proses cuci kandang pada pagi dan sore hari, animal keeper akan memberikan dedaunan ke setiap kandang orangutan. Hal ini bertujuan membiasakan orangutan beristirahat di atas tumpukan daun sekaligus menstimulasi perilaku membuat sarang. Seolah memahami fungsinya, sebagian besar orangutan di BORA memilih tidur di sarang besi yang telah dilapisi dedaunan. Mereka menumpuk daun-daun tersebut hingga menyerupai sarang alami seperti yang biasa dibuat saat sekolah hutan. Tak jarang, tubuh mereka juga ditutupi karung untuk melindungi diri dari suhu dingin dan gigitan nyamuk.

Namun, Bagus memiliki caranya sendiri. Setelah mendapatkan dedaunan pada sore hari, bagian pojok bawah kandangnya mendadak berantakan. Satu per satu dedaunan yang diberikan ditelisiknya, barangkali masih terselip daun dan kulit batang yang bisa disantap sebelum tidur. Tak lama kemudian, dedaunan tersebut terkumpul di satu sisi, tertumpuk rapi dan kokoh karena beberapa ranting dikaitkan ke jeruji kandang, sementara bagian tengahnya dialasi karung. Sarang yang baru saja disusun terlihat pas dengan ukurannya. Bagus merebahkan diri di tengahnya sambil mengunyah daun dan kulit batang yang menurutnya, mungkin lebih menarik daripada pakan harian pemberian animal keeper. Terlihat sangat nyaman, Bagus bertahan di sarangnya yang berada di pojok bawah kandang hingga menjelang gelap, sebelum akhirnya naik ke keranjang sarang buatan beralaskan karung yang posisinya di atas untuk tidur malam.

Keesokan harinya, saat proses cuci kandang dilakukan, animal keeper yang bertugas cukup kesulitan melepaskan ranting-ranting yang terjalin kuat diantari jeruji kandang untuk diganti dengan dedaunan yang baru. Bagus bukan tidak bisa membuat sarang, ia hanya memiliki gaya membangun sarang yang berbeda. Mungkin sama dengan kita, ya? Ada yang lebih senang tidur di kasur, ada pula yang memilih berayun di hammock. (ARA)