AWALNYA DISANGKA MBG, BERUJUNG CINTA PADA ORANGUTAN

Pada pertengahan bulan Maret 2026, tim APE Crusader melakukan kegiatan School Visit di SDN 01 Kongbeng, Desa Miau Baru, Kaltim. Pagi itu kami berangkat menggunakan ambulan satwa liar menuju sekolah yang berada di kawasan Kongbeng. Bahkan sebelum mobil benar-benar sampai di halaman sekolah, kehadiran kami sudah menarik perhatian. Ambulan dengan logo kepala orangutan besar di sisinya menjadi pemandangan yang tidak biasa bagi warga sekitar. Dari kejauhan, anak-anak sudah berlarian menghampiri mobil dan menuntun kami sampai ke halaman sekolah dengan wajah penuh rasa penasaran.

“MBG wiihhh… MBG??”, seru salah anak dengan antusias, diikuti teman-temannya.

Ternyata mereka mengira mobil kami adalah kendaraan yang membawa Makan Bergizi Gratis (MBG). Rupanya selama ini sekolah mereka belum pernah mendapatkan jatah MBG, sehingga kedatangan mobil kami langsung disambut penuh harapan. Namun ketika tim turun dari mobil, anak-anak mulai menyadari bahwa yang datang bukan pembawa makanan, melainkan tim yang bekerja dengan satwa liar. Antusiasme pun berubah, dari menunggu makanan menjadi menunggu orangutan yang mereka kira ada di dalam ambulan.

Ketika pintu mobil dibuka, ternyata tidak ada orangutan, hanya poster, foto, dan perlengkapan edukasi. Meski begitu, rasa penasaran mereka tidak berkurang. Kegiatan pun dilanjutkan di dalam kelas. Tim memulai dengan “tepuk orangutan” untuk mencairkan suasana, lalu menyampaikan materi tentang orangutan, hutan, dan pentingnya menjaga alam.

Saat ditanya apakah ada yang pernah melihat orangutan, beberapa anak mengangkat tangan. Salah satu dari mereka bahkan berkata, “Aku pernah lihat… dipelihara!”. Jawaban itu menjadi kesempatan bagi tim untuk menjelaskan bahwa orangutan adalah satwa liar yang dilindungi dan seharusnya hidup bebas di hutan.

Menjelang akhir kegiatan, anak-anak sangat gembira saat menerima poster dan stiker orangutan, bahkan sampai berebutan. Antusiasme mereka juga membuat tim sedikit tertahan untuk pulang. Ketika kami kembali ke ambulan, beberapa anak masih mengerumuni mobil dan bahkan memanjat tangga di belakang ambulan untuk melihat lebih dekat.

Sebelum berangkat, tim sempat membunyikan sirine ambulan yang langsung disambut sorakan dan tawa anak-anak. Saat mobil mulai meninggalkan sekolah, mereka melambaikan tangan sambil berlari mengejar hingga ke ujung jalan.

Kami memang tidak membawa MBG seperti yang mereka harapkan di awal. Namun pagi itu meninggalkan sesuatu yang tak kalah penting yaitu tawa, pengetahuan bari, dan harapan bahwa dari sekolah kecil di Desa Miau Baru ini akan tumbuh generasi yang peduli pada orangutan dan hutan tempat mereka hidup. (DIM)

PIPA, KUACI, DAN CARA HUTAN DIAJARKAN KEMBALI

Di dalam kandang, “hutan” tidak benar-benar hilang. Ia dihadirkan ulang dalam bentuk yang lebih kecil, lebih sederhana, lebih sunyi, namun tetap menyimpan satu tujuan: mengajarkan kembali cara bertahan hidup. Hari itu, hutan hadir dalam sebuah pipa kuaci, menuntut usaha, kesabaran, dan cara berpikir yang berbeda pada setiap individual orangutan.

Bow memahami itu dengan caranya sendiri. Ia membawa pipa ke atas hammock berbentuk keranjang sebuah pilihan yang tampak sederhana, tetapi menyimpan strategi: agar kuaci yang jatuh tidak hilang ke lantai. Ia menghisap lubang-lubang pipa dan menggoyangkannya perlahan. Saat ruangnya terasa terlalu dekat dengan manusia, ia memberi batas mengusir dengan gerakan tangan. Enrichment, bagi Bow bukan hanya soal mendapatkan makanan, tetapi juga tentang menjaga ruangnya tetap utuh.

Di sisi lain, Ranking berhadapan dengan kesulitan yang sama, namun dengan pendekatan berbeda. Ia sempat mencoba mengambil dari yang lain, sebelum akhirnya kembali pada pipanya sendiri. Ia mengamati, mencoba menggunakan ranting, lalu mengubah strategi. Pipa itu diangkat ke atas kepala, digoyangkan, dan dibiarkan kuaci jatuh langsung ke mulutnya. Enrichment memaksanya berpindah dari satu cara ke cara lain, sebuah proses belajar yang tidak selalu mulus.

Tami memperlihatkan dinamika yang lain. Dalam jarak tertentu, ia antusias. Namun ketika batas itu berubah, ia memilik menjaga jarak. Enrichment menjadi ruang yang lebih aman baginya untuk terlibat. Ia aktif, dan menyelesaikan tantangannya dengan caranya sendiri tanpa tekanan, tanpa kedekatan yang belum siap ia terima.

Sementara itu, Noon menunjukkan bahwa ketenangan juga bagian dari strategi. Ia fokus pada pipanya sendiri, hingga gangguan datang. Saat itu, responsnya tegas suara dan gestur yang cukup untuk mempertahankan apa yang ia miliki. Setelahnya, ia kembali pada ritmenya: menghisap, menggoyangkan, menarik bagian-bagian kecil dari dalam pipa. Dalam waktu yang relatif singkat, hasil mulai terlihat. Namun proses tidak berhenti di sana, ia terus mencari, terus mencoba.

Berbeda lagi dengan Jay. Enrichment tidak segera menjadi prioritasnya. Ia menyapa, lebih dahulu, mendekat, sebelum kembali pada pipa yang tetap ia jaga. Dengan jari-jarinya, ia mencungkil kuaci dari lubang kecil, menggoyangkannya secukupnya. Tidak terburu-buru, tidak tergesa. Bahkan ketika sebagian hasil sudah di dapat, ia tetap melanjutkan seolah memahami bahwa prosesnya sama pentingnya dengan hasilnya.

Di dalam satu jenis enrichment yang sama, muncul banyak cara. Tidak ada satu metode yang diajarkan. Tidak ada instruksi yang diberikan. Hanya sebuah tantangan kecil yang membuka kemungkinan besar: berpikir, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi. Enrichment bekerja dengan cara itu menunda kemudahan, memperpanjang proses, dan menghadirkan kembali fragmen-fragmen kecil dari kehidupan di hutan. Di dalam pipa berisi kuaci itu, kita tidak hanya memberi makan. Kita sedang mengingatkan kembali bagaimana cara hidup di alam. (NAB)

LEVEL UP: BAGUS GOES TO BAWAN ISLAND

Setelah bertahun-tahun menjalani program rehabilitasi dan menjadi murid sekolah hutan di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Bagus, individu orangutan betina yang pernah menjadi peliharaan ilegal dan sangat dekat dengan manusia, akhirnya naik level dengan pindah ke pulau pra-pelepasliaran di pulau Bawan. Kini Bagus semakin siap untuk kembali ke alam liar.

Di hari-hari pertamanya di pulau, Bagus tampak aktif mengekspor area hulu hingga tengah pulau, asyik memanjat dan bergelantungan di pepohonan rimbun, serta mencari pakan alami. Di sela-sela eksplorasinya, Bagus sesekali terlihat diam, seolah sedang merenung.
“Dia pasti kesepian dan bingung. Mungkin dia berpikir, Ini aku lagi sekolah hutan, tapi koq gak ada teman-teman yang lain” Koq gak ada yang panggil-panggil lagi untuk pulang ke kandang?”, ujar Ara, biologis COP yang ditugaskan untuk mengamati perkembangan Bagus selama minggu pertamanya di pulau.

Terkenal dengan sifatnya yang manja, saat tim monitoring datang untuk memberi pakan harian, Bagus buru-buru mendekat sambil mengeluarkan suara merengek, “I… i… i…”, sebagai tanda indin dipwluk dan digendong. Namun tim segera menjaga jarak agar Bagus belajar untuk lebih mandiri. Di hari-hari berikutnya, Bagus mulai mengerti dan tidak lagi mendekat sambil merengek.

Sempat diterpa hujan deras, Bagus tampak belum mampu memilih tempat untuk berteduh. Begitu pula ketika malam tiba, Bagus memilih tidur sambil memeluk batang pohon tanpa membuat sarang.

“Bagus tidurnya kayak panda.”, kata Ara.

Kemampuan membuat sarang merupakan salah satu indikator penting kesiapan individual orangutan untuk dilepasliarkan. Dilihat dari kebiasaan Bagus selama di BORA, Bagus sebenarnya cukup terampil membuat sarang, hanya saja ia melakukannya di tanah dan di lantai kandang, bukan di atas pohon.

“Gak apa-apa, nanti juga Bagus pelan-pelan belajar buat sarang di atas pohon”, sahut Amir, animal keeper yang telah mengenal Bagus sedari masuk BORA. Dia optimis, jika kini Bagus tidur tanpa sarang, jika saatnya perlu membuat sarang, Bagus tentu akan melakukannya.

Bagus masih memiliki waktu untuk terus mengasah keterampilan dan kemampuannya dalam bertahan hidup. Pelan tapi pasti, kami percaya Bagus akan berproses dan menunjukkan bahwa ia siap kembali ke habitat aslinya. And when the time comes, she will truly be the young, wild, and free orangutan she was meant to be! (SIN)

TAPIR MUDA DI ATAS PICK UP DALAM PESANAN

Bukan panda. Bukan pula hewan eksotis yang bisa dipelihara sesuka hati. Ia adalah Tapir Asia, satwa yang hidup diam-diam di hutan, berjalan pelan, dan lebih sering menghindar dari pada melawan. Tapi justru karena itu, ia menjadi korban.

Tubuhnya hitam putih, kontras, mudah dikenali. Banyak orang menyebutnya “Panda Asia”. Padahal ia tidak punya hubungan kekerabatan dengan panda yang ternyata sekeluarga dengan beruang. Ia lebih dekat dengan kuda dan badak. Moncongnya yang lentur seperti belali pendek digunakan untuk meraih daun, buah, dan tunas muda. Dalam ekosistem hutan, tapir bukan sekadar penghuni. Ia adalah penyebar biji yang membantu hutan tumbuh kembali, diam-diam, tanpa pernah meminta perhatian. Ironisnya keunikan ini menjadi hal yang dicari orang.

27 Februari 2026, Tim gabungan dari BKSDA Sumatera Barat, KPHL Pasaman Raya, bersama dengan Centre for Orangutan Protection menggagalkan transaksi ilegal satu individu tapir di Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat. Tapir muda jantan ditemukan dalam kondisi hidup, namun terluka, terikat, dan terjebak dalam rantai perdagangan yang tidak pernah ia pilih.

Tim memulai operasi dan bergerak menuju Jorong Sungai Baluik, Nagari Muara Tais, Kecamatan Mapat Tunggul pada dini hari. Sebuah mobil pick up dihentikan dan ditemukan tersangka bersama seekor tapir yang terikat lemah dengan luka-luka. Dari keterangan pelaku, tapir itu akan dikirim ke Medan dengan tujuan “mini zoo”. Upah yang dijanjikan enam juta rupiah ditambah bonus jika sampai tujuan.

Pada kaki depan kiri dan kaki belakang kanan tapir terlihat bekas jeratan menganga. Tali yang melilit terlalu lama telah merobek kulitnya. Di bagian kepala, luka lain terlihat jelas. Ia tidak melawan, ia hanya bertahan. Kini, tapir dalam perawatan dokter hewan di BKSDA SKW 1 Bukittinggi. Pasalnya ini tidak hanya satu kali terjadi, dua peristiwa berbeda, satu pola yang sama yaitu satwa liar terus menjadi korban.

Beberapa minggu sebelumnya, dunia konservasi diguncang oleh kematian seekor gajah tanpa kepala di Riau. Umurnya 40 tahun. Dibunuh, dipotong, dan ditinggalkan. Tidak jauh dari sana, di Sumatra Barat, seekor tapir muda dijual untuk hiburan. Pengembangan kasus tersebut, dua pelaku lain berhasil diamankan yaitu sebagai seorang perantara dan pemburu yang menangkap tapir tersebut dari alam. Rantai perdagangan itu panjang. Dari hutan ke pemburu, dari pemburu ke perantara. Dari perantara ke pembeli. Semua bergerak karena satu hal yaitu permintaan.

Hukum sebenarnya sudah ada. Undang-undang tentang konservasi sumber daya alam hayati mengatur sanksi pidana hingga 15 tahun penjara dan denda ratusan juta rupiah. Tapi pada awal 2026, perubahan regulasi justru menghapus batas minimal hukuman. Artinya, pelaku bisa saja mendapat hukuman lebih ringan.

Di titik ini, pertanyaannya bukan lagi apakah hukum cukup kuat.

Tetapi, seberapa serius kita ingin melindungi yang satwa liar?

Tapir tidak akan protes. Ia tidak akan berbicara di pengadilan, tidak akan menuntut keadilan. Ia hanya akan kembali ke hutan jika ia selamat dan melanjutkan perannya sebagai penyebar kehidupan. Atau mati, tanpa benar-benar diketahui.

Perdagangan satwa liar bukan hanya soal pelanggaran hukum. Ia adalah cermin dari cara manusia memandang alam sebagai sesuatu yang bisa dimiliki, diperjualbelikan, dan dikurung untuk hiburan. Dan selama cara pandang itu tidak berubah, akan selalu ada tapir lain yang menyusul (APE PROTECTOR)

HUJAN TAK MENGHENTIKAN LANGKAH UNTUK MEMBONGKAR KAMERA JEBAK DI SM BARUMUN

Langit di atas Suaka Margasatwa Barumun masih menyisakan mendung tebal. Hujan sempat turun, membasahi jalan setapak dan membuat tanah menjadi licin. Keberangkatan tim pun harus tertunda. Namun semangat tidak ikut reda.

Pada bulan lalu, Tim BBKSDA Sumatera Utara Resort Barumun III dan Centre for Orangutan Protection menuju desa Pasar Ipuh, kecamatan Ulu Barumun, kabupaten Padang Lawas, Sumatra Utara untuk membongkar tiga unit kamera jebak di dua titik berbeda dalam kawasan SM Barumun.

“Medannya pasti berat setelah hujan”, ujar salah satu anggota tim sambil mengencangkan tali tas punggung. “Yang penting data aman, kameranya kembali”, jawab yang lainnya. Perjalanan menuju titik pertama bukan tanpa tantangan. Jalur menjadi lebih licin, ranting-ranting basah dan beberapa bagian tanah berubah menjadi lumpur. Namun kamera-kamera yang dipasang sebelumnya telah menjalankan tugas pentingnya yaitu merekam pergerakan satwa liar dan mendokumentasikan aktivitas di dalam kawasan.

Kamera jebak bukan sekadar alat. Ia adalah “mata” yang bekerja tanpa lelah, siang dan malam. Dari perangkat inilah tim dapat memantau keberadaan satwa, membaca pola pergerakan, hingga mendeteksi potensi ancaman terhadap kawasan konservasi.

Setibanya di lokasi pertama, tim segera membagi peran. Ada yang mendokumentasikan, ada yang memastikan titik koordinat, ada yang memeriksa kondisi perangkat sebelum dilepas. Kamera pertama pun berhasil dibongkar dengan aman. “Masih utuh. Semoga datanya lengkap”, ucap salah satu anggota tim sambil memasukkan perangkat ke dalam tas. Lokasi kedua menuntut tenaga ekstra. Jalur menanjak dan basah memperlambat langkah. Namun menjelang siang, dua unit kamera di titik tersebut berhasil diamankan.

Kegiatan ini bukan akhir, melainkan bagian dari rangkaian monitoring. Besok, tim akan kembali menyusuri hutan untuk membongkar enam unit kamera tambahan di tiga lokasi berbeda. Langkah-langkah di bawah rimbun hutan Barumun hari itu, mungkin tampak sederhana melepas perangkat dari batang pohon, mencatat koordinat, menyimpan memori. Namun dibaliknya ada kerja kolaboratif antara mitra lapangan dan pihak pengelola kawasan, ada komitmen untuk memastikan setiap data yang terkumpul dapat mendukung upaya perlindungan satwa dan habitatnya.

Hujan boleh saja turun. Jalur boleh saja licin. Tetapi upaya menjaga kawasan tidak pernah menunggu cuaca menjadi sempurna. Dari SM Barumun, kerja-kerja sunyi seperti ini terus berjalan perlahan, konsisten, dan penuh dedikasi. APE Patriot bersama para mitra di lapangan membuktikan bahwa perlindungan hutan bukan hanya tentang patroli dan penindakan, tetapi juga tentang memastikan setiap informasi terekam, setiap jejak terbaca, dan setiap langkah kecil membawa dampak besar bagi kelestarian alam. (UZI)

MUD, SLOPES, AND A SNAPPED ROPE

Fieldwork isn’t always about clean data and neat reports. Sometimes, it’s mud in your face, engines screaming on steep slopes, and figuring things out when everything falls apart. Recently, me and my partner spent a week assessing areas around coal mining sites and palm oil plantations. One motorcycle. Extreme muddy terrain. Brutal slopes. Not a single day without being completely covered in dirt.

On the very last day, our motorcycle broke down. Broken gear. Remote location. No signal. No tools. Just us and the silence of nowhere. After struggling to get reception, we finally reached the backup team who had just arrived from another town. With no proper equipment to fix the bike, we had improvised. Tied a rope from the car and towed the motorcycle 20 km to the nearest village.

Simple in theory. Terrifying in practice.

The road was full of potholes and steep descents. The car had to keep the perfect speed while the bike fought to stay balanced. Then gravity took over on a downhill stretch, the motorcycle almost slammed into the car. My partner braked, the rope tangled under the wheel, and snapped.

That moment was a reminder that fieldwork is never “just fieldwork”. It test your wit, resilience, and teamwork in real time. We slowed down, coordinated through walkie-talkie, and carefully finished the 20 km journey. Rough? Absolutely. Worth it? Every single time. (DIM)

KETIKA LAPANGAN MENGUJI KAMI

Kerja lapangan tidak selalu soal data rapi dan laporan yang tersusun manis. Beberapa waktu lalu, saya dan satu rekan kerja melakukan assesmen di sekitar area tambang batubara dan perkebunan sawit. Dengan satu motor, jalur berlumpur tanpa akhir dan tanjakan ekstrem yang setiap hari menguji keseimbangan dan kesabaran. Tidak ada satu hari pun, kami tidak dipenuhi debu dan lumpur. Sampai di hari terakhir, rasa lelah sudah terasa dan motor kami akhirnya menyerah. Gigi rusak. Lokasi terpencil. Sinyal nyaris tidak ada. Tanpa alat. Hanya kami dan kenyataan bahwa ini tidak akan mudah.

Setelah susah payah mencari sinyal, kami berhasil menghubungi Tim backup yang baru tiba dari kota lain. Tanpa peralatan yang memadai, kami harus berimprovisasi dengan mengikatkan tali dari mobil untuk menarik motor sejauh 20 kilometer ke desa terdekat. Terdengar sederhana. Kenyataannya tidak. Jalan penuh lubang dan turunan curam. Di salah satu turunan, motor melaju terlalu cepat mendekati mobil. Pengendara motor pun panik, menarik rem, dan tali sempat terlilit sebelum akhirnya putus. Dalam hitungan detik, kami sadar betapa cepat situasi bisa berubah menjadi berbahaya.

Momen ini jadi pengingat bahwa kerja lapangan bukan sekedar kerja lapangan. Ia menguji kecerdikan, ketahanan, dan kerja sama tim secara nyata. Setelah itu kami melaju lebih pelan, berkomunikasi lewat HT, dan akhirnya menyelesaikan 20 km itu dengan aman. Berat dan penuh tantangan? Selalu. Tapi justru di perjalanan seperti itulah kita belajar seberapa kuat sebenarnya tim kita. (DIM)

THREE IN ONE JOB

Tidak terasa, genap sudah satu bulan saya mengeksplorasi keindahan lanskap hutan di Busang. Mewakili tim APE Guardian bertepatan dengan libur perayaan Natal di akhir Desember 2026, yang mana sebagian staf APE Defender di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) mengambil cuti hari raya dan membutuhkan tenaga tambahan, saya diminta untuk bergeser ke BORA selama satu bulan ke depan.

Selama di sana, bukan hanya penalaan dan wawasan yang bertambah, tetapi juga lingkar pertemanan saya semakin meluas. Saya mendapat kesempatan untuk menjajal berbagai bagian pekerjaan dan bekerja bersama teman-teman yang hebat.

Beberapa hari pertama di BORA, saya berkesempatan membawa orangutan ke sekolah hutan. Ditemani Faradiva sebagai pendamping di hari pertama, saya belajar cara membawa orangutan ke sekolah hutan, cara mengamati, serta mencatat perilaku dan karakter setiap individual yang beragam. Beberapa hari pertama memang cukup menantang bagi saya untuk menghafal nama dan ciri-ciri fisik masing-masing orangutan, terlebih ketika ukuran tubuh mereka tampak mirip.

Setelah beberapa hari mengikuti kegiatan sekolah hutan, pada minggu berikutnya saya berkesempatan menjadi bagian dari tim teknisi yang didampingi oleh Bang Jevri. Kami datang lebih awal untuk menguapkan pakan orangutan dengan takaran yang berbeda untuk setiap individual. Selain menyiapkan pakan pagi, siang, dan sore, kami juga mempersiapkan alat serta bahan untuk kebutuhan enrichment masing-masing orangutan pada pagi dan sore hari.

Memasuki minggu terakhir di BORA, saya berkesempatan menjadi babysitter bagi beberapa orangutan yang masih memerlukan perhatian ekstra. Di dampingi oleh babysitter Gita, saya belajar menyiapkan pakan, meracik susu dengan takaran yang berbeda untuk setiap individual, memberikan enrichment, serta membawa mereka ke sekolah hutan. Menjadi babysitter menurut saya cukup menantang, mengingat mereka masih sangat bergantung pada kehadiran manusia. Selain itu, tubuh mungil mereka juga cukup sulit untuk terus terpantau ketika sudah memanjat pohon yang tinggi saat sekolah hutan.

Menjadi relawan di BORA membuat saya semakin mengenal pribadi teman-teman yang menyenangkan serta belajar banyak hal baru yang sebelumnya, belum pernah saya coba (Hana_COPSchool15)

ENRICHMENT SARANG SEMUT: KETIKA NALURI LIAR DIUJI DI BALIK JERUJI KARANTINA

Di balik kandang karantina yang sunyi, proses menjadi “liar” kembali sedang berlangsung. Rehabilitasi orangutan bukan hanya soal pakan bergizi dan pemeriksaan kesehatan rutin. Ada hal yang jauh lebih rumit dan tak kasatmata yaitu mengembalikan naluri. Naluri untuk mencari, memilih, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi. Naluri untuk bertahan hidup.

Karena itu, enrichment atau pengayaan lingkungan menjadi bagian penting dalam keseharian orangutan karantina. Bukan sekedar hiburan, melainkan simulasi kecil tentang bagaimana hutan bekerja. Tentang bagaimana makanan tidak selalu datang dalam bentuk yang mudah. Tentang bagaimana setiap gigitan punya konsekuensi.

Untuk pertama kalinya, empat orangutan karantina (Raiking, Noon, Jay, dan Bow) diperkenalkan pada satu tantangan baru yaitu sarang semut. Di hutan, serangga adalah bagian dari menu alami orangutan. Mereka tahu cara membongkar, menjilat, menggigit, dan bersiasat menghadapi ribuan semut yang mempertahankan rumahnya. Di karantina, pengalaman itu harus dilatih kembali.

Begitu sarang semut diletakkan, Raiking menjadi yang pertama mendekat. Rasa ingin tahunya mengalahkan ragu. Ia mengangkat sarang itu, mengupasnya perlahan. Namun saat semut mulai keluar semakin banyak, langkahnya terhenti. Ia mundur, mengamati, menghitung risiko. Lalu kembali lagi.

Noon memilih strategi yang berbeda. Ia tidak terburu-buru. Dari jarak aman, ia memperhatikan Raiking. Bukan sarang utamanya yang ia incar, melainkan pecahan-pecahan kecil hasil bongkaran Ranking. Noon seperti sedang belajar membaca situasi sebelum mengambil keputusan.

Ketika sedikit madu dioleskan pada sarang, dinamika berubah. Aroma manis itu memancing keberanian. Ranking kembali menjilat dan menggigit sedikit demi sedikit. Noon tetap setia pada caranya, menunggu hingga jumlah semut berkurang, lalu mengambil bagian yang lebih aman. Baru ketika sarang utama hampir tandas, ia berani mengambil sisa terakhir yang ditinggalkan.

Di kandang lain, cerita berbeda berlangsung. Jay menggigit sarang semut dengan cepat, lalu berlari. Semut-semut mengerubungi mulutnya. Ia membersihkan diri, lalu kembali lagi. Gigit. Lari. Bersih-bersih. Ulangi. Sebuah pola belajar yang mentah, jujur, dan penuh determinasi.

Bow hanya menonton pada awalnya. Tatapannya mengikuti setiap gerakan Jay. Seolah ia sedang bertanya, “Seberapa jauh risiko ini sepadan?”. Ketika Jay berkali-kali kembali, Bow akhirnya mencoba. Tapi ia tidak meniru sepenuhnya. Ia menghempaskan sarang itu sedikit demi sedikit sebelum memakannya, suatu cara cerdas untuk mengurangi perlawanan semut.

Dalam waktu sekitar 20 menit, sarang itu habis. Bukan tanpa drama, bukan tanpa gigitan, bukan tanpa keraguan. Dari luar, ini mungkin tampak seperti aktivitas sederhana. Orangutan memakan sarang semut. Selesai. Namun bagi tim rehabilitasi, setiap detik adalah data. Setiap langkah mundur adalah proses berpikir. Setiap keberanian kecil adalah kemajuan.

Siapa yang impulsif, siapa yang penuh perhitungan. Siapa yang belajar lewat pengalaman langsung, siapa yang belajar lewat observasi. Semua itu adalah potongan puzzle yang menentukan kesiapan mereka suatu hari nanti ketika tidak ada lagi perawat, tidak ada lagi pagar, tidak ada lagi madu yang dioleskan untuk menarik minat.

Enrichment bukan sekedar pengisi waktu. Ia dalah latihan. Karena pada akhirnya, hutan tidak menawarkan kemudahan. Ia menawarkan tantangan. Dan hanya mereka yang mampu membaca, beradaptasi, dan bertahan yang akan benar-benar pulang. Selangkah demi selangkah, melalui sarang semut yang dibongkar dengan hati-hati dan gigitan yang sempat membuat mundur, naluri itu dibangun kembali. (FAN)

KAMERA JEBAK: ALAT BANTU MONITORING ORANGUTAN DI KAWASAN PELEPASLIARAN HUTAN LINDUNG GUNUNG BATU MESANGAT

Kamera jebak atau camera trap merupakan perangkat kamera otomatis yang dilengkapi sensor gerak atau panas (inframerah) untuk mengambil foto atau video satwa liar tanpa kehadiran manusia. Penggunaan kamera jebak dalam dunia konservasi lazim dilakukan untuk pemantauan populasi, perilaku, dan keanekaragaman hayati di habitat alaminya.

Akhir Desember 2025 menjadi musim puncak berbuah lahung atau durian merah (Durio dulcis) di kawasan pelepasliaran Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat. Lahung memiliki karakteristik kulit buah berwarna merah dengan duri panjang dan tajam, serta daging buah yang manis. Buah yang telah matang akan jatuh dari pohon dan aromanya yang menyengat sering kali menarik beragam satwa frugivora untuk berdatangan.

Tanpa menyia-nyiakan momentum musim berbuah tersebut, tim APE Guardian menelusuri rimbunnya hutan lindung untuk memasang kamera jebak, dengan harapan dapat mengetahui satwa apa saja yang singgah di bawah pohon lahung.

Satu bulan setelah kamera terpasang, tibalah waktunya untuk mengambil dan memeriksa hasil rekaman. Dari empat kamera yang dipasang, salah satunya berhasil merekam momen yang sangat spesial. Dua individu orangutan, satu jantan dan satu betina, terekam sedang mengambil buah lahung yang terjatuh untuk dimakan. Keduanya kemudian teridentifikasi sebagai Berani (jantan) dan Charlotte (betina), orangutan yang pernah direhabilitasi di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance).

Charlotte yang baru dilepasliarkan kurang dari dua bulan sebelumnya, menunjukkan tren positif karena telah menjelajah sejauh 3 km dari lokasi terakhir ia terdeteksi hingga ke titip berpasangnya kamera. Perjumpaan Berani dan Charlotte mengindikasikan perkembangan yang baik pasca-pelepasliaran, sekaligus membuka peluang interaksi sosial yang berpotensi mendukung reproduksi di alam. Selain orangutan, beberapa satwa lain turut terekam, seperti landak, kijang, beruang madu, dan pelanduk. Penggunaan kamera jebak sangat membantu tim lapangan dalam monitoring orangutan dan satwa lainnya. (YUS)

19 TAHUN COP DI DUNIA KONSERVASI ORANGUTAN

Semangat kolaborasi lintas sektor terasa kuat dalam peringatan Hari Ulang Tahun ke-19 Centre for Orangutan Protection (COP) yang digelar di Camp APE Warrior COP di Jogjakarta. “Protecting the Orangutan and Beyond” menjadikan spesies Orangutan sebagai pintu masuk perlindungan satwa liar dan dan penguatan respons terhadap kejahatan serta bencana ekologis yang berdampak pada satwa, adalah sebuah momentum refleksi perjalanan panjang sekaligus penguatan komitmen bersama menghadapi tantangan konservasi ke depan.

Acara ini dihadiri oleh bapak Tutut Heri Wibowo sebagai Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi, bapak Ardi Andono sebagai Kepala Balai TN Ujung Kulon, perwakilan dari Balai KSDA Yogyakarta, Gakkum Wilayah Yogyakarta, Badan Nasional Daerah (BPBD) Sleman, Dinas Pertanian dan Pangan Sleman, Puskewan Sleman, Perangkat Desa setempat, Orangufriends Jogja, berbagai komunitas dan lembaga konservasi di Yogyakarta, Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta, dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Direktur COP, Daniek Hindarto dalam sambutannya menegaskan, bahwa usia 19 tahun adalah waktu untuk memperkuat konsistensi gerakan, bukan sekedar merayakan capaian. “Srmbilan belas tahun adalah perjalanan panjang yang ditempuh dengan komitmen dan kolaborasi. Kami percaya, perlindungan satwa liar tidak bisa dilakukan sendiri. Butuh keberanian untuk bersinergi, membuka ruang dialog, dan bergerak bersama”, ujar Daniek.

Ia juga menambahkan bahwa tantangan ke depan semakin kompleks, mulai dari perdagangan ilegal satwa, perburuan, hingga dampak krisis iklim dan bencana terhadap habitat. “COP akan terus berdiri di garis depan untuk mendukung upaya penyelamatan satwa dan memperkuat jejaring dengan pemerintah, aparat penegak hukum, akademisi, dan masyarakat. Konservasi adalah kerja jangka panjang dan hari ini kita menegaskan kembali komitmen itu”, tambahnya.

Dalam momentum istimewa ini, COP menganugerahkan Setia Bhakti Award 2026 kepada 14 staf yang dinilai menunjukkan loyalitas, integritas, dan dedikasi tinggi dalam mendukung misi organisasi. Penghargaan ini menjadi simbol bahwa kerja-kerja konservasi adalah hasil dari dedikasi tim yang solid dan penuh komitmen. Selain itu, COP juga memberikan Orangufriends Award 2026 kepada lima tokoh yang secara konsisten mendukung gerakan konservasi, yaitu Kylie Bullo – Conservation Project Manager di The Orangutan Project, Peter Pratje – Program Manager di Frankfurt Zoological Society, Sudomo Mergonoto – CEO PT Kapal Api Global, Ardi Ardono – Kepala Balai TN Ujung Kulon, serta Danang Anggoro – Dosen dan Peneliti di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Kelima tokoh ini merupakan bagian penting dari jejaring Orangufriends dan memiliki peran signifikan dalam dunia konservasi. Penghargaan ini menjadi bentuk penghormatan atas kontribusi nyata mereka dalam memperkuat advokasi, edukasi, serta dukungan moral bagi upaya perlindungan satwa liar.

Melalui peringatan ini COP menegaskan kembali komitmennya untuk terus menjadi bagian dari gerakan kolektif perlindungan satwa liar di Indonesia. Kolaborasi adalah kunci, karena menjaga alam dan satwa liar bukan hanya kewajiban satu lembaga, melainkan tanggung jawab bersama. (DIT)