DARI COP SCHOOL 16, KEDUANYA MELANGKAH UNTUK KONSERVASI DI PASAMAN

Perjalanan menjadi bagian dari gerakan konservasi tidak selalu berhenti ketika sebuah kegiatan berakhir. Bagi Dea dan Hera, apa yang mereka dapatkan melalui COP School Batch 16 justru menjadi awal untuk melangkah lebih jauh. Di Bulan Orangufriends 2026, keduanya bersama tim APE Protector mengabdikan diri untuk melakukan edukasi di Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat.
Pada 24-29 Agustus, ada lima sekolah yang langsung dikunjungi kedua relawan COP ini. Ada 211 siswa yang mengikuti kegiatan edukasi konservasi. Kelima sekolahan itu adalah SD Negeri 01 Bonjol, SMPN 01 Bonjol, MTsN 04 Pasaman, SMK Negeri 01 Bonjol, dan SDN 19 Lurah Berangin. COP School yang menjadi ruang untuk belajar, mengenal persoalan konservasi, dan membangun keberanian untuk terlibat menjadikan Orangufriends (relawan satwa COP) menjadi pelaku yang membagikan pengetahuan tentang konservasi ke dunia yang lebih luas lagi.
Dea dan Hera mengajak ratusan siswa mengenal Harimau Sumatra (Panthera tigris Sumatra) di sekolah-sekolah maupun di RIHAS (Ruang Informasi Harimau Sumatera). Materi mencakup karakteristik, habitat, peran ekologis, serta ancaman seperti jerat, perburuan, dan perdagangan satwa liar ilegal. Pengemasannya pun tak lepas dari persiapan mereka, karena keberhasilan edukasi ini tak sekedar menyampaikan tetapi menarik dan membekas pada generasi alpha yang sangat unik ini. Tanya jawab, diskusi, pojok baca, galeri foto, booth buku, hingga permainan interaktif menjadi cara terbaik masuk pada peserta yang usianya tak jauh dari Dea maupun Hera. Simulasi “membebaskan diri dari jerat”, diharapkan dapat membantu peserta memahami bagaimana jerat dapat menjadi ancaman serius bagi satwa liar.
Jika Dea dan Hera langsung menyeburkan diri di tanah Minang, ada kabar apalagi dari alumni COP School Batch 16 yang lain ya? (NAB)

OBROLAN HANGAT DI PENGHUJUNG BULAN ORANGUFRIENDS

Satu bulan penuh cerita, pertemuan, dan semangat untuk orangutan akhirnya sampai di penghujungnya. Namun, sebelum benar-benar ditutup, ada sat perjumpaan yang tidak boleh dilewatkan. Dating APES batch 18 hadir di Jogja sebagai penutup rangkaian Bulan Orangufriends 2026, sekaligus menjadi ruang untuk kembali duduk bersama, berbagi cerita, dan membicarakan masa depan satwa liar serta hutan Indonesia.
Kali ini, Dating Apes terasa begitu istimewa. Bukan sekadar karena menjadi edisi penutup, tetapi karena menghadirkan tiga sosok dengan cerita dan perspektif yang menarik: Nadia dan Gavrila dari Uma Project, serta Muhammad Zuhdi. Ketiganya membawa pengalaman, sudut pandang, dan cerita masing-masing yang kemudian bertemu dalam satu ruang diskusi yang hangat.
Lebih dari 30 orang hadir dan ikut meramaikan pertemuan ini. Ada Orangufriends Jogja, teman-teman dari berbagai lembaga konservasi, mahasiswa, pegiat alam, hingga mereka yang datang dengan rasa penasaran dan kepedulian terhadap isu satwa liar. Beragam latar belakang justru membuat obrolan semakin kaya.
Dari satu cerita, muncul cerita lainnya. Dari satu pertanyaan, lahir perspektif baru. Percakapan tidak berhenti pada orangutan saja, tetapi berkembang menjadi pembahasan tentang satwa liar, habitat, kerja-kerja konservasi, hingga bagaimana setiap orang dapat mengambil peran dalam menjaga alam.
Mungkin inilah yang membuat Dating Apes selalu menarik. Tidak ada jarak antara pembicara dan peserta. Tidak ada sekat antara mereka yang sudah lama berkecimpung di dunia konservasi dan mereka yang baru mulai mengenalnya. Semua datang untuk satu hal: bertemu, mendengar, bertukar pikiran, dan pulang membawa cerita baru.
Bulan Orangufriends 2026 mungkin telah selesai, tetapi semangatnya tidak berhenti di sini. Karena menjaga hutan dan satwa liar bukan pekerjaan satu bulan, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan banyak orang untuk terus berjalan.
Terima kasih untuk seluruh teman yang sudah hadir, berbagi cerita, bertanya, tertawa, dan menjadi bagian dari perjalanan Orangufriends selama sebulan ini.
Sampai bertemu di Dating Apes berikutnya!

BETI’S JOURNEY: ONE YEAR AT BORA

I used to scan every bush at BORA, looking for this exact type of weed. I plucked every bit of this weed I could find from every bush, every patch of grass, every roadside. If I saw something that looked like it, I would stop and check. Just because Beti would eat it.

At that time, if Beti ate something, it felt like a victory. She would only eat water apples and oranges, or a piece of apple, or a piece of pear. Then she would just sit there, covering her body with sack for the entire day. Even sometimes she wouldn’t eat at all, she wouldn’t drink, clearly in pain. And sometimes, it felt like she resented us.

That was when I started questioning things. I thought about a thousand things we could have avoided, anticipated, or done differently during Beti’s translocation. I even had the terrible thought of if Beti had never come to BORA, she wouldn’t have been stressed. Maybe she wouldn’t refuse to eat for days.

I became very skeptical. Thinking about how humans are such an arrogant species. We decide what is best for another species. We decided Beti should no longer live as a pet. We decided she should be moved. We decided what she should eat. What kind of environment she should live in.

But did we really know what was best for Beti?

Because from Beti’s perspective, we had taken everything familiar away. Imagine if you had spent 24 years living in a village in Java, with that specific man. You were fed the same side dishes his family ate. You lived in a concrete-floored cage. Sometimes you were taken out to be played with, to be someone’s pet. You were fed only from noon. Neighboring children poked you, you became a spectacle for them when they getting fed by their mother. For 24 years. Until you became almost completely apathetic to stimulation.

Then suddenly, you were moved into a tiny transport crate. Suddenly, you were taken somewhere by car. Suddenly, you entered an extremely cold room, a plane, though Beti wouldn’t know it was a plane. Then came an almost 24-hour travel by land, noisy and dusty.

Suddenly, you were placed in a very large enclosure, but everything was made of bars. You trembled. Then the food changed. Fruit. Vegetables. Strange green things. They were green before too, but they had been cooked and seasoned.

Suddenly, people were poking you here and there. Your hair was shaved because you needed an ultrasound. You were suddenly being shot with blow darts because you needed antibiotics. The weather was unbearably hot. And then, after 24 years of seeing only human, you suddenly found creatures who looked like you. Wouldn’t you be stressed?

It took me months to see things differently.

Bringing Beti here did not immediately make her life better. For a while, it made everything harder. But BORA gave Beti something she never had before, options of second chances. Here, we can monitor her health, treat her when she is in pain, and make sure she gets the care she needs. She gets appropriate food, people who pay attention to what she eats, what she refuses, what makes her uncomfortable, and what makes her feel safe.

Slowly, she started to eat more. There are now so many things Beti can eat that sometimes it is hard to remember the days when I was desperately searching every bush for that one weed. She still has her chronic urinary tract infection (UTI), and she still needs to recover. She still loves her sack, and there are still days when she would rather hide under it than do anything else. But there is progress, even if it is slow enough that you sometimes have to stop and look for it.

Her journey is also so different from the babies and juveniles we rehabilitate here. When they arrive, they still have so much time ahead of them. They can go to Forest School, where they can learn to climb, swing, build nests, search for food, navigate the trees, and interact with other orangutans. Their rehabilitation happens step by step, and every new skill becomes part of the foundation they will eventually need to survive in the forest. They can spend years building the strength, confidence, and knowledge they need before they are released.

Beti cannot have that same journey. She is already an adult, and she is simply too large for the keepers to safely handle. She cannot go to Forest School and spend her days swinging through the trees, strengthening her hands and feet for the canopy. She cannot follow the same curriculum of learning that the younger orangutans do. The things they get to learn through experience, Beti has to learn in much smaller ways, from inside her cage.

So we bring a little bit of the forest to her instead. We give her jungle fruits and introduce her to foods that she might encounter in the jungle. It is not the same as learning to forage in the jungle itself. It will never replace what she missed during those 24 years.

That is what makes Beti’s progress so difficult to compare with the others. For a juvenile orangutan, climbing higher might be one step in a long journey toward the forest. For Beti, simply choosing to climb at all is already something significant. For a baby, learning to eat a new fruit might be part of a normal day at Forest School. For Beti, finding out that she likes a jungle fruit is a small window into a world she was never given the chance to know.

Looking back, I still think about all the things we could have done differently. I still wonder whether her transition could have been slower, whether we could have prepared her better, whether we could have anticipated some of the things that happened. I don’t think those questions will ever completely go away. But I do know I would still bring Beti to BORA all over again.

Beti’s progress may be slow, but I will celebrate every bit of it. And I have been celebrating them. I celebrated when she ate her very first sawi. I celebrated when she finally perched and made herself comfortable on her iron nest. I celebrated when she finally engaged with the enrichment we gave her, when she started to enjoy the jungle fruits we introduced to her, and every other small bit of progress in between. And I will keep on celebrating.

Happy world orangutan day and happy one year at BORA, sweet Beti!
(THA)

SEKOLAH COP YANG TAK PERNAH USAI

Kebakaran hutan di Kalimantan semakin menggila. Panas, sesak, hingga membuat penglihatan sangat buram. Inilah dampak yang dirasakan langsung sebagai manusia yang tinggal di kota. Pertanyaannya, kita yang di kota saja tersiksa, bagaimana makhluk hidup lain yang ada di hutan sana?
Bagi Ndaru, perjalanan memahami konservasi bermula dari rasa penasaran. Sedari kecil hingga dewasa ia hidup di Kota Solok, Sumatera Barat, dan tak pernah terpikirkan betapa pentingnya hutan dan satwa. Hingga suatu ketika ia menemukan informasi tentang pelatihan konservasi ABELII CAMP yang diadakan COP di Medan. Dari sana, ia mulai memahami luasnya arti konservasi dan pentingnya menjaga hutan beserta seluruh isinya.
Kesadaran itu kemudian membawanya menjadi volunteer di COP selama kurang lebih empat bulan. Perjalanan tersebut berlanjut ketika ia mengikuti COP School Batch 16 di Yogyakarta pada Juli 2026. Baginya, pelatihan bukan sekadar sekolah, tetapi titik yang semakin menguatkan tekad untuk turun langsung ke lapangan.
Hal yang sama dirasakan Ulul. Setelah menunggu enam tahun untuk mendapatkan kesempatan mengikuti COP School, ia menganggap Batch 16 sebagai titik balik perjalanan konservasinya. Dari materi ruang, School Visit di beberapa sekolah dasar, hingga kesempatan mengikuti ADR Training Batch 4 di Labuan Bajo, setiap pengalaman menjadi bagian dari proses belajar yang tidak pernah selesai.
Selepas rangkaian pelatihan tersebut, panggilan untuk kembali menjadi volunteer datang. Kali ini, Kalimantan Timur menjadi tujuan. Ndaru dan Ulul diutus bersama tim COP menuju Pusat Rehabilitasi Orangutan Bora Labanan, Berau, untuk membantu menghadapi kebakaran hutan. Mereka melakukan patroli kawasan, mencari titik api dan asap, hingga beberapa kali terlibat langsung dalam pemadaman api di dalam maupun luar kawasan.
“Berhari-hari saya di Kalimantan, tiada sehari pun saya menghirup udara segar. Yang ada hanyalah kepulan asap dan kobaran api yang sangat panas,” ujar Ndaru.
Di tengah kondisi tersebut, ia kembali teringat pelatihan konservasi pertamanya tentang pentingnya hutan, satwa, dan seluruh kehidupan di dalamnya. “Apalah artinya manusia apabila tidak berdampak bagi lingkungannya.”
Bagi Ulul, pengalaman itu kembali menegaskan bahwa menjadi Orangufriends berarti membawa perubahan nyata bagi konservasi satwa di mana pun berada. “Ini bukanlah garis akhir, namun menjadi gerbang pembuka awal.”
Karena bagi mereka, COP School bukan sekadar sekolah. Ia adalah sekolah yang tak pernah usai tempat belajar, bergerak, dan terus menemukan cara untuk berkontribusi (Ulul_Ndaru_COP School 16).

MEWARNAI UNTUK MASA DEPAN BERSAMA ANAK-ANAK RAHIB

Peringatan Hari Orangutan Sedunia di SDN 030432 Rahib, Pakpak Bharat, Sumatra Utara menjadi berbeda karena ke tiga puluh tujuh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 mengikuti kegiatan lomba mewarnai bertema orangutan. Melalui kertas gambar dan krayon di tangan, anak-anak mulai menuangkan imajinasi mereka. Beragam warna memenuhi gambar orangutan dan hutan. Ada yang memilih warna-warna cerah, ada pula yang denga teliti memadukan berbagai warna agar hasil karyanya terlihat semakin menarik. Suasana kelas pun dipenuhi semangat, konservasi, tawa, dan obrolan kecil antar teman. Namun kegiatan ini bukan sekadar tentang menentukan siapa yang menghasilkan yang paling indah.

Anak-anak diajak mengenal orangutan lebih dekat sejak usia dini. Mereka belajar bahwa orangutan bukan hanya satwa yang hidup di dalam hutan, tetapi juga bagian penting dari ekosistem. Keberadaan orangutan memiliki hubungan yang erat dengan keberlangsungan hutan, tempat berbagai makhluk hidup bergantung. Kegiatan semakin menyenangkan karena lomba mewarnai juga diselingi dengan berbagai permainan edukatif. Anak-anak bergerak, bermain, tertawa, sekaligus mengingat kembali pesan-pesan tentang orangutan dan pentingnya menjaga lingkungan. Pendekatan yang sederhana dan dekat dengan dunia anak-anak membuat pesan konservasi lebih dekat dengan sasarannya.

Antusiasme terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Anak-anak tidak hanya menjadi peserta lomba, tetapi juga bagian dari proses bersama tentang alam di sekitar mereka. Dari sebuah gambar yang diwarnai, muncul rasa ingin tahu. Dari permainan sederhana, tersampaikan pesan tentang pentingnya menjaga hutan. Dan dari pengalaman kecil seperti ini, diharapkan tumbuh kepedulian yang akan terus berkembang.

Hari ini, mungkin orangutan masih mereka kenal melalui gambar dan cerita sederhana. Namun, suatu hari nanti, pengetahuan tersebut dapat menjadi dasar untuk memahami mengapa satwa liar dan habitatnya harus dijaga. Konservasi tidak selalu harus dimulai dengan langkah besar. (PUT)

MENGENAL HARIMAU SUMATRA DAN BAHAYA JERAT BERSAMA ORANGUFRIENDS

Masih dalam rangkaian Bulan Orangufriends yang menjadi ruang bagi relawan COP untuk ikut terlibat secara nyata dalam aksi-aksi konservasi, salah satunya School Visit di SMPN 01 Bonjol, Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat. Kali ini bersama Dea dan Hera yang menjalani program volunteer selama tiga bulan setelah mengikuti COP School Batch 16.

Sebanyak 15 siswa kelas IX mengikuti kegiatan dengan antusias. Para siswa diajak mengenal lebih dekat Harimau Sumatra, mulai dari karakteristik, kehidupan di alam, kondisi populasinya, hingga berbagai ancaman yang dihadapi satwa endemik Sumatra tersebut. Melalui diskusi sederhana, para siswa diajak memahami bahwa menjaga harimau berarti turut menjaga hutan dan seluruh kehidupan yang ada di dalamnya. Mereka juga diajak mengenali peran manusia dalam mengurangi berbagai ancaman terhadap satwa liar.

Setelah materi selesai, suasana belajar berlanjut ke sesi tanya jawab dan diskusi interaktif di pojok baca yang dilengkapi galeri foto satwa. Kehadiran foto-foto satwa membuat siswa dapat melihat lebih dekat kehidupan satwa liar dan ancaman yang mereka hadapi di habitatnya.

Agar pesan konservasi semakin mudah dipahami, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan fun games di luar ruangan. Para siswa mengikuti simulasi bertema, “Membebaskan Diri darui Jerat”. Melalui permainan tersebut, mereka diajak merasakan secara sederhana bagaimana sulitnya satwa ketika terperangkap jerat, sekaligus memahami mengapa jerat menjadi salah satu ancaman serius bagi satwa liar.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa aksi konservasi dapat dimulai dari hal sederhana, dengan belajar, berbagi, dan berani terlibat. Bagi Dea dan Hera, pengalaman sebagai Orangufriends sekaligus alumni COP School Batch 16 menjadi kesempatan untuk meneruskan pengetahuan yang pernah mereka dapatkan kepada generasi muda. Selama tiga bulan ini keduanya dengan berani mengambil bagian dalam menyebarkan pesan bahwa menjaga satwa berarti menjaga masa depan hutan. (APE Protector)

ORANGUTAN DAYA 2026 DI 9 KOTA, DENGAN 1 SUARA UNTUK HUTAN YANG SAMA

Ada satu suara yang bergema dari banyak tempat. Dari Sidikalang, Medan, Padangsidimpuan, Padang, Jambi, Bandung, Yogyakarta, Samarinda, hingga Berau, orang-orang berkumpul dan bergerak bersama untuk menyampaikan satu pesan, “Act for Orangutans. Their Forest, Our Future”. World Orangutan Day 2026 bukan sekedar tentang memperingati keberadaan orangutan. Hari ini adalah kesempatan bersama untuk kembali melihat lebih dekat siapa mereka dan mengapa keberadaan orang utan begitu penting bagi hutan.
Orangutan bukan hanya satwa yang kita kenal karena wajahnya yang menggemaskan dan tingkahnya yang menarik. Mereka juga memiliki peran penting sebagai penyebar benih, membantu menjaga regenerasi hutan melalui biji-biji tumbuhan yang mereka makan dan sebarkan. Kehidupan orangutan tidak pernah bisa dipisahkan dari hutan. Di sanalah mereka mencari makanan, membangun sarang, merawat anak, dan berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya. Setiap pohon yang berdiri adalah bagian dari rumah. Setiap kawasan hutan yang tetap terjaga adalah kesempatan bagi mereka untuk terus hidup. Ketika hutan kehilangan ruangnya, orangutan ikut kehilangan rumah. Ketika hutan terfragmentasi dan terus tertekan, kehidupan mereka menjadi semakin rentan.
Di setiap tempat, pesan tentang orangutan disampaikan dengan cara berbeda. Ada yang mengajak anak-anak mengenal orangutan sejak dini. Ada yang berbagi cerita tentang hutan dan satwa liar. Ada pula yang mengajak masyarakat memahami bahwa menjaga orangutan bukan hanya pekerjaan para penjaga hutan, peneliti, atau organisasi konservasi. Kita semua punya peran. Sebab mencintai orangutan bukan hanya tentang menyukai foto mereka atau merasa gemas ketika melihat tingkahnya. Mencintai orangutan berarti mencintai hutan yang menjadi rumahnya. Berarti peduli pada pohon-pohon yang tumbuh di dalamnya, air yang mengalir dari kawasan hutan, serta kehidupan berbagai satwa dan manusia yang bergantung padanya.
Hari ini kita merayakan hari orangutan. Tetapi perjuangan untuk mereka tidak berhenti ketika World Orangutan Day berakhir. Suara yang kita bangun hari ini harus terus hidup menjadi kepedulian, dan kepedulian harus tumbuh menjadi tindakan. Dari sembilan kota, satu pesan terus menyala, bersama COP melindungi orangutan dan yang lainnya. (NAB)

SISI LAIN ORANGUTAN BERNAMA MABEL

Dari arah lain di dalam hutan, Mabel sedang duduk santai di atas pohon sambil menikmati buah buni. Ia terlihat begitu asyik menjelajah dan mencari makanan sendiri. Sementara itu, aku berjalan lebih dulu menuju pohon tarap bersama Mba Fiqoh (animal keeper) yang membawa Cinta. Awalnya Mabel masih sibuk dengan buah buninya. Namun, ketika ia melihat aku berjalan semakin jauh meninggalkannya, tangannya berhenti bergerak. Mabel memperhatikan aku dari atas pohon. Dan aku terus berjalan.
Tiba-tiba terdengar suara kecil dari arah belakang. Mabel mulai merengek. Ia melihat aku lagi, lalu melihat sekelilingnya. Sepertinya ia tidak suka melihatku berjalan terlalu jauh darinya. Akhirnya, Mabel turun dari pohon. Ia meninggalkan buah buni yang tadi sedang dimakannya dan mulai berjalan cepat mengejarku. Begitu Mabel mendekat, Mba Fiqoh langsung memperhatikannya. Mba Fiqoh tertawa kecil lalu bertanya, “Kenapa Mabel? Tumben nangis?”.
Aku ikut tertawa melihat tingkah Mabel. “Ternyata dia bisa manja!”, jawabku.
Mba Fiqoh langsung tertawa. “Iya, biasanya paling nggak mau bermanja-manja.”
Aku melihat Mabel yang kini sudah memeluk kakiku. “Tadi ditinggal sedikit aja langsung turun dari pohon dan nyusul.”
Mba Fiqoh tertawa lagi.
“Berarti sebenarnya Mabel nggak mau jauh-jauh dari kamu.” kata mba fiqoh
Kami berdua pun tertawa bersama. Mabel seolah tidak peduli dengan percakapan kami. Ia hanya memastikan aku tetap berada di dekatnya. Lucu juga melihat Mabel hari itu. Biasanya ia adalah orangutan yang paling aktif menjelajah, berpindah dari satu pohon ke pohon lain, dan sibuk mencari makanan favoritnya seperti jengkol dan buah tarap. Tapi hari itu, Mabel menunjukkan sisi yang jarang terlihat. Ternyata, di balik sifatnya yang mandiri, Mabel juga bisa manja terutama ketika melihat orang yang ia percaya berjalan meninggalkannya. (LUK)

MENELUSURI KESIAPAN HABITAT HARIMAU SUMATRA

Upaya mempersiapkan habitat bagi pelepasliaran Harimau Sumatra terus dilakukan termasuk melakukan survei keberadaan satwa liar lain yang menjadi bagian penting dari ekosistem. Beberapa temuan seperti cakaran beruang madu, cakaran kucing-kucingan, jejak kijang, jejak tapir, feses kucing-kucingan, kaisan babi hutan, serta bekas sarang babi hutan menunjukkan bahwa kawasan tersebut masih memiliki daya dukung habitat yang baik.

Kabar baik lainnya datang dari kondisi keamanan habitat. Selama survei, tim tidak menemukan jerat aktif maupun jerat yang sudah tidak aktif. Tim menemukan bekas pondok pemburu di dua lokasi berbeda, namun pondok sudah cukup lama tidak digunakan. Tim juga berhasil mencapai lokasi yang direncanakan sebagai helipad. Setelah dilakukan pembersihan atau clearing, lokasi tersebut dinilai cukup baik karena memiliki kontur tanah yang relatif rata sehingga mendukung kebutuhan akses dalam kegiatan pelepasliaran.

Untuk memantau aktivitas satwa secara menyeluruh, tim memasang tiga unit kamera jebak (camera trap) selama tiga hari. Kamera berhasil merekam keberadaan beruang madu dan tapir Asia yang melintas di kawasan tersebut. Selain keberadaan berbagai satwa, kondisi vegetasi hutan juga masih tergolong baik. Tutupan dan kondisi hutan yang mendukung menjadi modal penting bagi keberlangsungan berbagai jenis satwa liar. Lalu, apakah hutan ini benar-benar siap menjadi rumahnya si raja hutan ini? (RON)

BELAJAR SIAGA BENCANA UNTUK SATWA DI SD NEGERI 2 DODOGAN

Dua puluh tahun lalu, gempa bumi besar mengguncang Yogyakarta dan meninggalkan jejak mendalam bagi masyarakat. Salah satu wilayah yang merasakan dampaknya adalah Kabupaten Bantul, termasuk lingkungan pendidikan di sekitarnya. Kini, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa kesiapansiagaan menghadapi bencana perlu terus ditanamkan kepada generasi muda.

Sebanyak 81 siswa SD Negeri 2 Dodogan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta diajak mengenali berbagai perlengkapan sederhana yang dapat membantu ketika terjadi keadaan darurat, seperti senter dan peluit. Mereka juga belajar bahwa kesiapsiagaan tidak selalu membutuhkan peralatan yang rumit. Hal paling penting adalah mengetahui risiko, memahami langkah yang harus dilakukan, serta mampu menyelamatkan diri terlebih dahulu.

Sebab, seseorang yang mampu menyelamatkan dirinya akan memiliki kesempatan lebih besar untuk membantu orang lain, termasuk satwa yang sering kali luput dari perhatian ketika bencana terjadi. Pembelajaran kemudian berlanjut pada satwa yang sering dianggap menakutkan, yaitu ular.

Bagi sebagian siswa, perjumpaan dengan ular mungkin bukan sesuatu yang asing. APE Warrior mengajak mereka melihat ular dari sudut pandang yang berbeda. Rasa takut merupakan hal yang wajar, tetapi bukan alasan untuk menyakiti atau membunuh satwa tersebut.

Ketika bertemu ular, siswa diajarkan untuk tetap tenang, menjaga jarak, tidak mencoba atau menangkap atau mengusir sendiri, serta segera meminta bantuan orang dewasa atau pihak yang memiliki kemampuan menangani satwa.

Di balik rasa takut tersebut, ular memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Keberadaannya membantu mengendalikan populasi satwa lain dan menjadi bagian dari rantai kehidupan di alam. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar tentang kesiapsiagaan bencana, tetapi juga tentang empati dan tanggung jawab terhadap kehidupan di sekitar mereka. Karena kesiap-siagaan bukan hanya tentang menyelamatkan diri saat bencana datang, tetapi juga tentang memastikan bahwa manusia dan satwa dapat menghadapi situasi darurat dengan lebih aman. (VID)