TINGKAH LUCU ASIH YANG SELALU MEMBUAT KEEPER KEWALAHAN DI SEKOLAH HUTAN

“Tunggu, Asih!”
“Asih… pelan-pelan.”

Kalimat itu mungkin menjadi salah satu kalimat yang paling sering terdengar setiap kali kegiatan sekolah hutan dimulai di Suaka Margasatwa Siranggas. Bukan karena Asih nakal, tetapi karena orangutan muda ini seolah memiliki energi yang tidak pernah habis. Baru beberapa menit dilepas, Asih sudah membuat keeper berlari kecil mengikuti setiap langkahnya.

Kadang ia memanjat pohon setinggi mungkin, lalu berhenti sebentar sambil melihat ke bawah seolah memastikan keeper masih mengikutinya. Saat keeper berhasil mendekat, Asih justru tersenyum usai-setidaknya begitulah yang dirasakan para keeper, lalu kembali berpindah ke pohon berikutnya.

“Dia nungguin kita, habi itu kabur lagi”, ujar salah satu keeper sambil tertawa.

Tingkah Asih sering kali membuat seluruh tim tersenyum. Ketika suasana hutan sedang tenang, tiba-tiba ia turun dari pohon, menghampiri keeper, lalu mengajak bermain. Ia menarik tangan keeper, memegang pakaian, bahkan sesekali menggigit pelan sebagai bentuk interaksi. Namun, baru saja keeper melayaninya beberapa saat, Asih kembali berlari menuju pepohonan. Seolah mengajak bermain petak umpet.

Di hari lain, Asih justru memilih menjelajah lebih jauh. Dengan lincah ia berpindah dari satu cabang ke cabang lain, sementara keeper harus mencari jalur terbaik agar tetap bisa mengawasinya dari bawah. Tidak jarang mereka kehilangan pandangan beberapa saat sebelum akhirnya terdengar suara daun bergoyang yang menandakan Asih masih bergerak di atas kanopi.

Yang membuat keeper semakin kewalahan adalah rasa penasaran Asih yang begitu besar. Hampir semua hal menarik perhatiannya. Sebatang ranting, daun muda yang baru tumbuh, jamur yang muncul setelah hujan, hingga genangan air berlumpur bisa menjadi objek yang membuatnya berhenti cukup lama. Pernah suatu hari, Asih sibuk bermain lumpur hingga akhirnya meminum air yang menggenang di sana. Di lain kesempatan, ia menemukan jamur di lantai hutan dan mencobanya.

Meski dikenal aktif, Asih juga memiliki kebiasaan unik. Ketika merasa bosan karena di atas pohon, ia akan turun begitu saja dan berjalan di tanah sambil sesekali menoleh ke arah keeper, seperti mengajak mereka ikut berpetualang. Akibatnya, keeper harus selalu siap mengikuti perubahan rencana yang dibuat Asih dalam hitungan detik.

“Baru saja tadi semangat memanjat, sekarang malah mengajak main”, celetuk keeper lainnya sambil tersenyum.

Namun di balik semua tingkah usianya, Asih perlahan mulai menikmati kehidupan di hutan. Ia semakin sering mencoba memakan daun muda, buah-buahan hutan, biji-bijian, hingga berbagai jenis pakan alami yang ditemukannya sendiri. Sesekali ia juga bertahan lebih lama di atas pohon, bergelantungan di antara cabang-cabang sebelum kembali turun dan melanjutkan petualangannya.

Tidak ada satu pun hari di sekolah hutan yang benar-benar sama ketika bersama Asih. Kadang keeper pulang dengan pakaian penuh lumpur karena harus mengikutinya ke mana-mana. Kadang mereka tertawa karena berhasil “dibohongi” Asih yang berpura-pura diam, lalu tiba-tiba melesat ke pohon lain. Di hari berikutnya, mereka kembali dibuat kagum melihat keberanian Asih mencoba hal-hal baru yang ditemuinya di hutan.

Bagi para keeper, mendampingi Asih memang membutuhkan tenaga ekstra. Namun, di balik langkah-langkah yang harus dipercepat, tawa yang sering pecah di tengah hutan, dan kejutan-kejutan kecil yang selalu ia ciptakan, tersimpan cerita tentang orangutan muda yang sedang menikmati setiap petualangannya dengan rasa ingin tahu yang begitu besar. Mungkin, itulah yang membuat setiap hari bersama Asih selalu menjadi hari yang menyenangkan. (NAB)

MENANAMKAN CINTA HUTAN SEJAK DINI: COP DAN BBKSDA SUMUT AJAK PELAJAR PAKPAK BHARAT MENGENAL ORANGUTAN

Menjaga hutan tidak hanya dilakukan melalui patroli atau penyelamatan satwa liar. Upaya konservasi juga dimulai dari ruang-ruang kelas, ketika anak-anak mulai mengenal alam dan memahami mengapa hutan harus tetap lestari. Semangat itulah yang dibawa Centre for Orangutan Protection (COP) bersama Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah I dalam kegiatan school visit yang dilaksanakan di SMP Negeri 1 Pergetteng Sengkut dan SD Negeri 030414 Kecupak, Kecamatan Pergetteng Genteng Sengkut, Kabupaten Pakpak Bharat. Kegiatan ini diikuti oleh 51 siswa perwakilan kelas I, II, dan III SMP serta 36 siswa kelas V dan VI SD.

Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh pihak sekolah yang dilanjutkan dengan sambutan dari BBKSDA Sumut. Selanjutnya, para siswa diajak mengenal lebih dekat pentingnya kawasan hutan konservasi sebagai rumah bagi berbagai satwa liar yang dilindungi. Melalui penyampaian materi yang interaktif, siswa diperkenalkan pada keanekaragaman hayati Sumatra serta peran setiap individu dalam menjaga kelestariannya.

Sesi berikutnya dipandu oleh tim COP, siswa diajak mengenal jenis-jenis orangutan di Indonesia, habitat alaminya, perilaku unik yang dimilik, hingga berbagai ancaman yang menyebabkan populasinya terus mengalami tekanan, seperti hilangnya habitat, konflik dengan manusia, dan perburuan ilegal. Suasana belajar semakin hidup ketika sesi tanya jawab dimulai. Banyak siswa dengan antusias mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan maupun membagikan pengetahuan yang mereka miliki. Rasa ingin tahu mereka juga semakin besar saat disuguhkan video mengenai Sekolah Hutan Orangutan, sebuah program rehabilitasi yang membantu orangutan belajar kembali berbagai keterampilan alami sebelum suatu hari dilepasliarkan ke habitatnya.

Unfug mengetahui sejauh mana materi dipahami, para siswa kemudian mengikuti kuis sederhana yang berisi pertanyaan seputar konservasi hutan dan orangutan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana evaluasi, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan. Sebagai bentuk dukungan terhadap pendidikan lingkungan di sekolah, COP dan BBKSDA Sumut turut menyerahkan poster berbagai satwa liar dilindungi di Sumatra Utara yang diharapkan dapat menjadi media pembelajaran bagi guru dan siswa.

Melalui kegiatan School Visit ini, COP percaya bahwa konservasi tidak hanya berbicara tentang menyelamatkan satwa hari ini, tetapi juga membangun generasi yang peduli terhadap alam di masa depan. Setiap pengetahuan yang dibagikan, setiap pertanyaan yang dijawab, dan setiap rasa ingin tahu yang tumbuh di dalam diri para siswa merupakan langkah kecil menuju masa depan dimana hutan tetap lestari dan orangutan dapat terus hidup bebas di habitat alaminya. Karena pada akhirnya, melindungi orangutan tidak hanya menjadi tanggung jawab para pegiat konservasi, tetapi juga seluruh generasi penerus yang akan mewarisi hutan Indonesia. (PUT)

KEPO-IN ROBERT SELAMA BULAN JULI 2026

Bulan Juli menjadi bulan yang penuh cerita bagi Robert di area enclosure. Robert saat ini menghabiskan hari-harinya di ruang luas, di kelilingi pepohonan yang memberinya kesempatan untuk memanjat, beristirahat, dan menikmati suasana yang lebih alami.

Setiap pagi, Robert memiliki cara tersendiri untuk memulai harinya. Terkadang ia sudah berada di dekat pagar seolah menanti waktu pemberian pakan, namun di hari lain ia memilih tetap berada di tengah pepohonan, menikmati suasana pagi dari atas cabang-cabang pohon. Ketika keeper memanggilnya, Robert akan menghampiri untuk menikmati pakan, kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya di dalam enclosure.

Sebagian besar waktunya dihabiskan di atas pohon. Robert terlihat berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya, memilih tempat yang nyaman untuk beristirahat, atau sekedar duduk sambil mengamati lingkungan di sekitarnya. Sesekali ia memperhatikan aktivitas orangutan lain maupun keeper yang sedang melakukan pemantauan, tetapi tak lama kemudian ia kembali larut dengan aktivitasnya sendiri di antara rimbunnya pepohonan.

Area enclosure juga menyediakan berbagai jenis tumbuhan yang dapat dimanfaatkan Robert. Selain menikmati pakan yang diberikan keeper, ia mulai mencoba berbagai sumber pakan alami yang tersedia di dalamnya, termasuk beberapa jenis buah hutan. Momen-momen seperti ini menjadi pemandangan yang menyenangkan bagi tim yang setiap hari mendampinginya.

Saat cuaca cerah dan matahari terasa cukup terik, keeper sesekali memberikan buah kelapa sebagai tambahan. RObert selalu menyambutnya dengan antusias. Ia merobek sabut kelapa menggunakan giginya, menikmati daging buahnya, lalu meminum air kelapa hingga habis. Pada kesempatan lain, batang tebu juga diberikan sebagai variasi sekaligus sumber cairan yang dinikmati Robert.

Selain itu, bulan ini, tim juga menambahkan sebuah alat enrichment berupa tabung yang dapat diisi air dengan berbagai cara, baik menggunakan tangan maupun memanfaatkan benda-benda yang ada disekitarnya.

Menjelang sore, Robert kerap terlihat berada di bagian tengah ataupun pinggir enclosure sebum akhirnya memilih tempat beristirahat untuk malam hari. Di bawah rindangnya pepohonan atau di area yang menurutnya nyaman, Robert mengakhiri aktivitas hariannya hingga keesokan pagi kembali memulai rutinitasnya.

Setiap hari di enclosure menghadirkan cerita yang berbeda. Ada hari ketika Robert lebih banyak menikmati ketenangan dari atas pohon, ada pula hari ketika ia lebih aktif menjelajahi setiap sudut kawasan. Semua itu menjadi bagian dari kesehariannya, memperlihatkan bagaimana Robert memanfaatkan ruang jelajahnya dengan caranya sendiri sambil terus menikmati kehidupan di lingkungan yang lebih alami. (NAB)

DUA PEKAN MENGIKUTI JEJAK EBONI, BAGUS, DAN RUBY

Ada perasaan yang sulit saya gambarkan ketika menyaksikan pintu kandang angkut dibuka setelah perjalanan panjang menuju hutan Busang. Hampir 12 jam perjalanan dari Berau akhirnya terbayarkan ketika Bagus, Ruby, dan Eboni satu per satu keluar dari kandang, lalu tanpa ragu memanjat pohon pertama yang mereka temui. Momen itu selalu menjadi pengingat mengapa proses rehabilitasi begitu berarti. Setelah melalui perjalanan yang panjang, kini mereka kembali berada di tempat yang seharusnya di tengah hutan Kalimantan.

Namun, pelepasliaran bukanlah akhir dari cerita. Justru saat itulah tugas kami dimulai. Selama dua minggu berikutnya, saya bergabung bersama tim Post Release Monitoring (PRM) untuk mengikuti kehidupan baru Bagus, Ruby, dan Eboni. Setiap hari kami berangkat sebelum matahari terbit dan baru kembali ketika cahaya mulai menghilang di balik kanopi hutan. Jalur yang kami tempuh tidak selalu mudah. Menyusuri sungai menggunakan ketinting, berjalan di jalur setapak yang licin, hingga menembus rapatnya vegetasi sudah menjadi bagian dari rutinitas.

Setiap orangutan memiliki kebiasaannya masing-masing. Eboni tampak begitu lincah berpindah dari satu pohon ke pohon lain. Ia menghabiskan banyak waktu di kanopi hutan, mencari buah-buahan matang dan sesekali membongkar sarang serangga untuk mencari tambahan pakan. Bagus terlihat lebih tenang. Ia kerap memilih duduk sambil menikmati daun-daun muda di sekitarnya sembari sesekali memperhatikan kondisi hutan. Sementara Ruby memiliki karakter yang lebih santai. Ia sering terlihat berbaring nyaman di atas percabangan pohon, menikmati waktu istirahat sambil mengunyah pakan yang ada di sekitarnya.

Bagus memiliki cerita yang sedikit berbeda bagi saya. Sebelum mengikutinya di hutan Busang, saya sudah mengenalnya sejak ia masih berada di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Sebagai dokter hewan, saya cukup sering bertemu dengannya, baik saat pemeriksaan kesehatan maupun ketika mengamati perilakunya selama menjalani rehabilitasi. Bagus adalah orangutan yang tenang, bukan tipe yang selalu aktif menunjukkan rasa ingin tahunya, melainkan lebih sering mengamati keadaan di sekitarnya terlebih dahulu. Kebiasaan itu membuat saya cukup mengenal ekspresi dan tingkah lakunya. Karena itulah, ketika melihatnya duduk di atas pohon-pohon tinggi Busang, memilih daun muda sebagai makanannya, lalu berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya tanpa bergantung pada manusia, ada perasaan haru yang sulit dijelaskan. Rasanya seperti bertemu kembali dengan teman lama yang kini telah menemukan rumahnya.

Hari-hari pertama pemantauan berjalan lancar. Kami dapat mengamati aktivitas mereka dari kejauhan tanpa banyak mengganggu. Hingga akhirnya, memasuki hari kelima, ketiganya seolah menghilang. Selama beberapa hari berikutnya kami menyusuri berbagai jalur yang kemungkinan dilewati mereka. Kami mencari sarang baru, bekas pakan, patahan ranting, hingga suara pergerakan di antara pepohonan. Waktu terus berjalan, tetapi belum ada tanda-tanda keberadaan mereka.

Tentu ada rasa penasaran yang terus menemani. Ke mana mereka bergerak? Apakah mereka baik-baik saja? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu muncul setiap kali kamu kembali ke campt tanpa hasil. Memasuki minggu kedua, semangat kami tidak berkurang. Seperti biasa, pagi itu kami kembali melakukan patroli. Menjelang siang kami memutuskan untuk kembali ke ketinting dan beristirahat sejenak setelah beberapa jam menyusuri hutan. Namun, tepat ketika kami hampir tiba di tepian sungai, mata saya menangkap sesuatu bergerak di antara dedaunan.

“Ada orangutan!”, spontan saya berseru.

Soni, salah satu ranger APE Guardian, segera mendekat untuk memastikan. Tidak lama kemudian ia menjawab dengan nada penuh semangat, “Ada dua”.

Saat saya mendekat, saya langsung mengenali wajah-wajah yang kami cari selama berhari-hari.

“Walah… ini Eboni dan Bagus”, ucap saya spontan sambil tertawa kecil. Rasanya lucu sekaligus melegakan. Kami sudah menyusuri hutan cukup jauh untuk mencari mereka, sementara ternyata keduanya berada tidak jauh dari tepian sungai. Mereka tampak sehat, tenang, dan sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran kami. Tidak lama kemudian, Eboni dan Bagus kembali memanjat lebih tinggi, lalu sibuk menikmati buah-buahan hutan yang sedang matang.

Momen sederhana itu menjadi salah satu kenangan yang paling saya ingat selama mengikuti PRM. Bukan hanya karena akhirnya kami kembali menemukan mereka, tetapi juga karena saya dapat melihat Bagus yang kini bebas menentukan arah jelajahnya, memilih makanannya sendiri, dan menghabiskan hari-harinya di tengah hutan.

Sebagai dokter hewan, melihat satwa yang pernah menjalani rehabilitasi kini mampu beradaptasi di habitat alaminya merupakan kepuasan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Tugas kami memang memastikan kondisi kesehatan mereka tetap terpantau, tetapi yang jauh lebih membahagiakan adalah melihat mereka menjalani kehidupan yang semakin mandiri di tengah hutan. (SIN)

BUKAN SEKEDAR KOTORAN, INILAH JEJAK KEHIDUPAN BERUANG MADU

Bagi sebagian orang, tumpukan feses di lantai hutan mungkin hanyalah kotoran yang menjijikkan. Namun, bagi seorang yang bekerja di dunia konservasi, itu adalah sebuah cerita. Sebuah petunjuk yang menunjukkan bahwa kehidupan masih berlangsung di balik rapatnya pepohonan. Foto ini berada di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Kawasan hutan lindung ini merupakan salah satu benteng bagi berbagai satwa liar Kalimantan Timur. Selain menjadi habitat orangutan, hutan ini juga menjadi rumah bagi beruang madu, macan dahan, rusa, burung enggang, hingga ribuan jenis tumbuhan yang saling menopang kehidupan.

Yang terlihat pada foto ini adalah feses beruang madu (Helarctos malayanus) yang dipenuhi biji-biji durian liar. Pemandangan seperti ini sebenarnya cukup sering ditemukan saat musim durian tiba di dalam hutan. Beruang madu memakan daging buah yang manis, sementara bijinya ikut tertelan dan kemudian keluar kembali bersama feses.

Sekilas mungkin terlihat biasa. Namun, di balik tumpukan fese itu tersimpan peran penting yang sering kali tidak disadari. Beruang madu bukan hanya penikmat buah hutan. Satwa ini juga merupakan salah satu penyebar biji alami yang membantu hutan tetap hidup. Setelah memakan buah di satu tempat, beruang akan berjalan menyusuri hutan hingga beberapa kilometer. Ketika biji-biji itu dikeluarkan bersama feses, mereka jatuh di lokasi yang baru, lengkap dengan pupuk alami yang membantu proses perkecambahan. Dengan cara yang sangat sederhana, beruang madu ikut menanam pohon-pohon baru di dalam hutan.

Tanpa disadari beruang menjadi “penjaga hutan” yang bekerja setiap hari. Bagi kami, temuan seperti ini memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar mengetahui apa yang dimakan satwa. Feses menjadi bukti bahwa beruang madu masih aktif menggunakan kawasan tersebut sebagai wilayah jelajahnya. Dari bentuk, kondisi, hingga isi feses, kita dapat mengetahui jenis pakan yang sedang berlimpah, memperkirakan waktu keberadaan satwa, bahkan memahami kondisi ekosistem di sekitarnya.

Semua informasi itu diperoleh tanpa harus bertemu langsung dengan sang beruang.

Temuan sederhana seperti ini juga menunjukkan bahwa Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat masih menyediakan sumber pakan alami bagi satwa liar. Ketika pohon-pohon durian hutan mulai berbuah, bukan hanya beruang madu yang datang menikmatinya. Orangutan, musang, tupai, rusa hingga berbagai jenis burung juga memanfaatkan musim buah sebagai sumber energi.

Inilah yang membuat hutan bekerja sebagai sebuah ekosistem. Tidak ada makhluk yang hidup sendiri. Setiap pohon, buah, jamur, serangga, hingga mamalia besar memiliki perannya masing-masing dalam menjaga keseimbangan alam. Sayangnya, keseimbangan itu sangat mudah terganggu ketika hutan kehilangan tutupan pohonnya. Pembukaan lahan, kebakaran, maupun aktivitas ilegal tidak hanya menghilangkan pepohonan, tetapi juga memutus rantai kehidupan yang telah terbentuk selama ratusan bahkan ribuan tahun. Ketika sumber makanan berkurang, satwa akan terdorong keluar dari hutan dan lebih sering berhadapan dengan manusia.

Karena itulah menjaga hutan bukan hanya tentang melindungi satwa yang kita lihat, tetapi juga menjaga seluruh prose alami yang mungkin tidak pernah kita sadari. Di balik setiap biji durian yang keluar bersama feses beruang madu, tersimpan harapan lahirnya pohon-pohon baru. Di balik setiap langkah beruang yang menyusuri hutan, tersebar benih kehidupan yang kelak akan menjadi sumber makanan, tempat berlindung, dan rumah bagi generasi satwa berikutnya.

Di hutan, tidak ada yang benar-benar menjadi limbah. Setiap jejak memiliki makna, setiap makhluk memiliki peran, dan setiap kehidupan saling menjaga satu sama lain. (NAB)

MENJADI KONSERVASIONIS SEJATI BERSAMA PROF. SATYAWAN PUDYATMOKO DI COP SCHOOL

Suasana ruang belajar COP School Batch 16 terasa berbeda ketika Prof. DR. Satyawan Pudyatmoka, S.Hut., M.Agr.Sc., Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), hadir untuk berbagi pengalaman bersama puluhan peserta. Kehadiran beliau menjadi salah satu omen yang paling dinantikan, karena para peserta tidak hanya mendapatkan materi tentang konservasi alam, tetapi juga kesempatan berdiskusi langsung dengan sosok yang telah puluhan tahun berkecimpung di dunia konservasi Indonesia.

Mengawali materinya, Prof Satyawan mengajak peserta melihat bagaimana dunia konservasi terus mengalami perubahan. Menurutnya, generasi muda saat ini memiliki tantangan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Kemajuan teknologi telah membuka akses yang jauh lebih luas terhadap informasi, data, dan berbagai perangkat pendukung yang memudahkan seseorang mempelajari keanekaragaman hayati.

“Generasi sekarang memiliki banyak kemudahan yang dulu belum kami miliki. Tinggal bagaimana memanfaatkan teknologi itu untuk mendukung upaya konservasi”, ungkap beliau di hadapan peserta.

Namun, teknologi hanyalah alat. Yang terpenting adalah bagaimana seseorang menggunakannya untuk memberikan manfaat bagi alam. Prof. Satyawan menekankan bahwa setiap tindakan yang mampu menjaga maupun meningkatkan keanekaragaman hayati merupakan bagian dari perjuangan seorang konservasionis. Menanam pohon, melindungi habitat, melakukan penelitian, hingga mengedukasi masyarakat merupakan langkah-langkah yang memiliki tujuan yang sama, yaitu menjaga keberlangsungan kehidupan di bumi.

Lebih jauh, beliau mengajak peserta memahami makna menjadi seorang true conservationist. Menurutnya, menjadi konservasionis bukan hanya soal pekerjaan atau profesi, melainkan tentang cara memandang alam. Seorang konservasionis harus memiliki rasa hormat terhadap alam, menjaga keseimbangan ekosistem agar tidak rusak, serta menghargai pengetahuan lokal yang telah diwariskan oleh masyarakat selama bertahun-tahun dalam hidup berdampingan dengan alam.

“Kalau bekerja di bidang konservasi, kita bekerja untuk makhluk hidup. Karena itu, kita harus memiliki hubungan emosional dengan alam”, jelasnya.

Prof. Setyawan juga mengingatkan pentingnya integritas dalam dunia konservasi. Setiap informasi, hasil pengamatan, maupun data yang disampaikan harus dapat dipertanggungjawabkan. Data yang akurat menjadi dasar dalam pengambilan keputusan, penyusunan kebijakan, hingga menentukan langkah-langkah perlindungan satwa dan habitatnya.

Materi yang disampaikan tidak berhenti pada sesi presentasi. Suasana kelas menjadi semakin hidup ketika peserta diajak berdiskusi dan menyampaikan berbagai pertanyaan mengenai tantangan konservasi di lapangan. Dengan penuh antusias, Prof. Satyawan men jawab satu per satu pertanyaan sambil membagikan pengalaman yang beliau peroleh selama berkecimpung di dunia konservasi.

Di akhir sesi, beliau menyampaikan pesan yang menginspirasi seluruh peserta. Menurutnya, seorang konservasionis harus memiliki keberanian untuk menyuarakan dan melakukan hal yang benar demi kelestarian alam, meskipun tidak selalu menjadi pilihan yang mudah.

Melalui sesi bersama Prof. Satyawan Pudyatmoko, peserta COP School Batch 16 tidak hanya memperolej wawasan baru, tetapi juga pengingat bahwa menjadi konservasionis adalah perjalanan panjang yang membutuhkan ilmu pengetahuan, integritas, rasa hormat terhadap alam, serta keberanian untuk menjaga apa yang seharusnya tetap lestari bagi generasi yang akan datang. (NAB)

DI BALIK LENSA, DALAM GELAPNYA HUTAN

Sebagai seorang ranger, hutan bukan sekedar tempat bertugas. Hutan adalah ruang yang selalu menyimpan cerita. Tidak ada dua perjalanan yang benar-benar sama. Jalur yang dilewati mungkin tetap, tetapi suasana, suara, aroma, hingga satwa yang dijumpai selalu menghadirkan pengalaman baru. Itulah yang membuat saya selalu ingin kembali menyusuri hutan, siang maupun malam.

Malam itu, kamera menggantung di leher, sementara senter hanya sesekali dinyalakan agar tidak mengganggu kehidupan liar di sekitar. Cahaya bulan yang menembus celah pepohonan sesekali membantu menerangi jalan, tetapi sebagian besar perjalanan dilakukan dalam gelap. Langkah harus pelan dan hati-hati. Di hutan, kita bukan penguasa, melainkan tamu yang harus menghormati setiap kehidupan yang ada di dalamnya.

Suara jangkrik bersahutan-sahutan memecah kesunyian. Dari kejauhan terdengar panggilan burung malam, sementara dedaunan bergesekan tertiup angin. Sesekali ranting patah di kejauhan membuat saya berhentak sejenak, mendengarkan, mencoba berada di dalamnya, semakin kita belajar mengenali setiap suara dan memahami bahwa setiap bunyi memiliki makna.

Tujuan perjalanan malam itu bukan sekadar patroli. Saya membawa kamera untuk mengabadikan kehidupan yang mulai aktif ketika matahari tenggelam. Banyak satwa memilih malam sebagai waktu terbaik untuk bergerak, mencari makan, atau berpindah tempat. Karena itu, memotret di malam hari selalu menghadirkan tantangan yang berbeda. Cahaya yang terbatas menuntut kesabaran lebih, sementara setiap gerakan harus dilakukan perlahan agar tidak mengusik satwa yang sedang beraktivitas.

Sering kali saya harus berdiri diam dalam waktu yang lama. Kamera sudah siap, fokus telah diatur, tetapi satwa belum juga muncul. Tidak jarang momen yang ditunggu berakhir tanpa satu pun foto. Namun, justru di situlah perjalanan terbesar dari hutan. Alam tidak pernah bisa dipaksa mengikuti keinginan manusia. Kita hanya bisa menunggu dengan sabar dan ,menghargai setiap kesempatan yang diberikan.

Ketika akhirnya seekor satwa muncul di balik semak atau bertengger di atas dahan, rasa lelah seakan menghilang begitu saja. Menekan tombol rana pada saat yang tepat menghadirkan kepuasan yang sulit dijelaskan. Bukan karena berhasil mendapatkan foto yang indah, melainkan karena berhasil menyaksikan langsung kehidupan liar yang berlangsung alami, tanpa gangguan.

Setiap foto memiliki cerita yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain. Di balik satu bingkai gambar terdapat berjalan panjang, sepatu yang basah karena menyusuri sungai, pakaian yang dipenuhi lumpur, gigitan serangga, dan berjam-jam berjalan di bawah kanopi hutan. Semua itu menjadi bagian dari proses yang tidak pernah terlihat dalam hasil akhirnya.

Semakin sering berada di hutan, saya semakin menyadari bahwa alam selalu bekerja dengan caranya sendiri. Pohon yang tumbang akan menjadi rumah bagi berbagai organisme lain. Jejak kaki di tanah yang lembab menceritakan siapa yang baru saja melintas. Sarang yang terlihat di atas kanopi menjadi tanda bahwa kehidupan terus berlangsung, meski sering kali luput dari perhatian manusia.

Bagi saya, kamera bukan sekedar alat untuk mengambil gambar. Kamera adalah cara untuk bercerita. Melalui setiap foto, saya ingin memperlihatkan bahwa hutan bukan hanya kumpulan pepohonan, tetapi rumah bagi ribuan kehidupan yang saling bergantung satu sama lain. Ada kisah tentang perjuangan, keseimbangan, dan keheningan yang hanya bisa dirasakan ketika benar-benar berada di dalamnya.

Di tengah pelatnya malam, saya selalu merasa menjadi bagian sangat kecil dari alam yang begitu luas. Hutan mengajarkan kerendahan hati. Ia tidak pernah meminta untuk dikagumi, tetapi selalu memberi pelajaran bagi siapa saja yang bersedia datang dengan rasa hormat.

Mungkin, itulah alasan mengapa saya selalu kembali. Bukan semata untuk mencari satwa atau membawa pulang foto terbaik, melainkan untuk mengingat bahwa masih ada tempat-tempat yang tetap hidup dalam kesunyian. Dan selama hutan masih berdiri, selalu akan ada cerita yang menunggu untuk ditemukan bukan hanya di balik lensa kamera, tetapi juga di setiap langkah yang kita tinggalkan di dalamnya. (DED)

ENAM MAHASISWA UNIVERSITAS MULAWARMAN TERIMA BEASISWA EBOCS UNTUK MENDUKUNG KONSERVASI ORANGUTAN

Program beasiswa EBOCS atau East Borneo Orangutan Caring Scholarship 2026 baru saja terlaksana di Theater Room Science Learning Center, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Mulawarman, Samarinda. Ceremony ini dihadiri Dekan FMIPA, Dekan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Tropis UNMUL, Presiden Orang Utan Republik Foundation oleh Gary Shapiro, Centre for Orangutan Protection (COP), dan enam mahasiswa penerima Beasiswa EBOCS 2026 beserta keluarga mereka, serta penerima EBOCS tahun sebelumnya.

Penampilan Tari Ruai dari Kalimantan Barat yang menggambarkan nilai-nilai kebersamaan, rasa syukur, keharmonisan, serta penghormatan terhadap alam menjadi pembuka acara tahunan ini. Rangkaian acara dilanjut dengan sambutan dari para tamu undangan, penandatanganan perjanjian beasiswa, serta penyampaian harapan dan komitmen dari perwakilan penerima beasiswa. Keenam penerima Beasiswa EBOCS 2026 ini adalah Andhika Julianus Sinuhaji, Andini Nurul Fathiyah, dan Rahmah Yuliana Cahyaningtyas dari Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Tropis sementara Febriansyah dan Zakiyatur Rohmah dari Program Studi Lingkungan, Jurusan Biologi, FMIPA dan Junov Hendri Adyatama dari Program Studi Biologi, FMIPA.

Penyerahan cendera mata sebagai bentuk apresiasi sekaligus penguatan kerja sama antar para pihak menjadi penutup acara. Melalui program EBOCS, diharapkan para penerima beasiswa dapat menyelesaikan pendidikan mereka dengan baik serta menjadi generasi muda yang berperan aktif dalam upaya konservasi orangutan, pelestarian hutan, dan perlindungan keanekaragaman hayati di Indonesia. (OKT)

LAGI, JERAT MEMBUAT BERUANG MADU MENJADI KORBAN

Perkebunan memang bukan menjadi tempat paling aman bagi satwa liar, terutama ancaman justru sering datang dari benda sederhana yang dipasang manusia di dalam kebun yaitu jerat kawat. Alat yang awalnya banyak digunakan untuk menangkap satwa buruan atau hama, terus memakan korban tanpa pandang bulu. Harimau, rusa, hingga beruang madu sama-sama berisiko terjebak dan mengalami luka serius bahkan kematian.

Peristiwa ini kembali terjadi. Lokasi kejadian berada di Sungai Pandahan, Nagari Sundata Selatan, KecamatanLubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat. Pada Jumat, 10 Juli 2026, APE Protector bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat menindaklanjuti laporan masyarakat mengenai beruang madu yang diduga terjerat.

Setibanya di lokasi, tim tidak lagi menemukan beruang tersebut. Yang tersisa hanyalah bekas tiang tempat jerat dipasang. Menurut keterangan warga sekitar, beruang tersebut masih berada di lokasi pukul 09.00 WIB. Namun beberapa jam kemudian satwa berhasil melepaskan diri. Sayangnya, jerat kawat masih melilit salah satu kakinya.

Banyak orang mengira, satwa yang berhasil lolos berarti telah selamat. Kenyataannya tidak demikian. Jerat yang masih menempel dapat terus melukai tubuh satwa setiap kali bergerak. Luka akan semakin dalam, aliran darah terganggu, infeksi muncul, hingga berpotensi menyebabkan kematian apabila tidak segera mendapatkan pertolongan.

Menyadari risiko tersebut, tim langsung melakukan penyisiran dis kitar lokasi untuk mencari keberadaan beruang. Upaya penghalauan menggunakan petasan juga dilakukan guna mengarahkan satwa menjauh dari pemukiman sekaligus mengurangi potensi konflik dengan masyarakat. Warga sekitar diimbau untuk tetap berhati-hati saat beraktivitas di kebun dan segera melaporkan apabila kembali melihat keberadaan beruang.

Kasus ini menjadi kasus yang sering terjadi hingga tahun 2026, perlu diperhatikan mengingat bahwa jerat bukan hanya mengancam satwa target, tetapi seluruh satwa liar yang melintas di habitatnya. Beruang madu merupakan satwa yang gemar menjelajah hutan untuk mencari buah, serangga, madu, dan berbagai sumber pakan lainnya. Jalur jelajah tersebut sering kali tanpa sengaja melewati pemasangan jerat.

Selain menyebabkan penderitaan bagi satwa, keberadaan jerat juga menghambat upaya konservasi. Beruang madu memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan, mulai dari membantu penyebaran biji hingga mengendalikan populasi serangga. Hilangnya satu individu akibat jerat berarti hilangnya salah satu penjaga keseimbangan alam.

Kasus di Pasaman hanyalah satu dari sekian banyak kejadian serupa yang masih terjadi dei berbagai wilayah Indonesia. Oleh karena itu, dukungan masyarakat menjadi bagian penting dalam perlindungan satwa liar. Melaporkan keberadaan jerat, tidak memasang perangkap di habitat satwa, serta segera menghubungi petugas ketika menemukan satwa yang terluka merupakan langkah sederhana yang dapat menyelamatkan nyawa.

Selama jerat masih dipasang di hutan, ancaman terhadap satwa liar akan terus ada. Beruang madu hanyalah salah satu korban. Besok, bisa jadi satwa lain yang mengalaminya. Melindungi hutan berarti juga memastikan tidak ada lagi perangkap yang menunggu mangsa berikutnya. (RON)

MENYUSURI JEJAK INDUK ORANGUTAN DI HUTAN KINABATANGAN

Matahari sudah keluar dari peristirahatannya dan capanya telah masuk hingga menyentuh lantai hutan. Pagi itu cuaca cerah berawan. Tim kami menapaki hutan Kinabatangan untuk mencari orangutan liar. Hutannya sangat lembap. Sepatu boots kami beberapa kali melangkah di genangan air dan anak sungai. Hutan Kinabatangan terletak di wilayah Desa Sukau, Sabah, Malaysia. Tipe hutannya “freshwater swamp forest” karena berada di tepi Sungai Kinabatangan yang sangat lebar. Jika datang musim hujan atau cuaca ekstrem, air sungai akan meluap dan membuat hutan ini terendam air, menjadikannya rawa-rawa.

Sekitar pukul 9 pagi kami akhirnya menemukan orangutan. Ia duduk tidak bergerak di atas pohon dan sepertinya waspada dengan kehadiran manusia. Saya hanya bisa melihat sebagian punggungnya saja. Setelah beberapa menit, ia akhirnya berayun untuk makan. Saat itulah saya melihat tubuhnya secara utuh. Betina dewasa, rambutnya coklat gelap dan agak kusut, wajahnya tirus, berukuran sebesar Jenong (salah satu orangutan yang pernah kami rawat di BORA). Ada tangan kecil yang terlihat di bagian pinggang orangutan itu. Ternyata ia memiliki bayi. Tim Orangutan Research (OURs) dari LSM HUTAN memberi tahu kami bahwa induk orangutan ini bernama Mallotus dan bayinya bernama Muticus. Nama ini diambil dari spesies pohon Mallotus muticus. Mallotus dulu lahir di pohon tersebut dari induk yang bernama Jenny. Sedangkan Muticus lahir di tahun 2021 dan saat ini berusia 5 tahun. LSM HUTAN telah meneliti orangutan liar di Kinabatangan sejak tahun 1998. Saat ini sudah 3 generasi orangutan yang mereka monitoring. Orangutan Jenny diikuti dari tahun 1998 sampai dengan kematiannya di tahun 2020. Jenny memiliki 4 anak, salah satunya Mallotus yang lahir di tahun 2005. Muticus merupakan anak kedua dari Mallotus dan cucu dari Jenny. 

Kami mengikuti dan mencatat perilaku Mallotus dan bayinya selama satu hari. Pasca musim hujan, di dalam hutan sedang memasuki musim buah sehingga perilaku Mallotus didominasi oleh makan. Pergerakan selama satu hari tidak banyak. Jelajah orangutan betina memang relatif lebih pendek dan sempit dibanding orangutan jantan. Ini pertama kalinya saya melakukan monitoring orangutan liar yang memiliki bayi. Saya melihat bagaimana Mallotus membiarkan Muticus bereksplorasi sendiri, tapi tetap menjemput Muticus ketika ia bermain terlalu jauh. Ukuran tubuh orangutan di Kinabatangan lebih kecil dibandingkan orangutan liar yang kami jumpai di Kalimantan Timur. Sarang-sarang orangutan yang kami temui di sini juga berukuran relatif kecil. Hal ini kemungkinan karena kelimpahan pakan di hutan rawa Kinabatangan tidak sebanyak pakan di hutan dataran rendah di Kalimantan Timur. Ada satu momen berkesan ketika hujan deras turun di sore hari. Mallotus memetik dedaunan dan dijadikan payung di atas kepalanya. Perilaku ini menunjukkan orangutan memiliki kemampuan berpikir (kognitif) dan problem solving yang baik.

Kunjungan belajar (study trip) di Kinabatangan ini mengajarkan saya akan konsistensi dan kolaborasi. Sebuah stasiun riset dapat bertahan dalam waktu panjang karena bekerja sama dengan warga lokal yang sangat loyal. Mayoritas staf LSM HUTAN merupakan penduduk asli Desa Sukau. Beberapa staf senior sudah bekerja di HUTAN selama 15-20 tahun. Hutan Kinabatangan tidak hanya menjadi stasiun riset, tapi juga membawa keuntungan bagi warganya lewat ekowisata yang sudah terkenal hingga mancanegara. Dari kunjungan ini saya jadi tertantang untuk merancang manajemen pengelolaan hutan dan program riset orangutan di lokasi kerja COP antara lain di Busang, PT Hope, dan Siranggas. (IND)