BAYI ORANGUTAN BETINA TIBA DI BORA

Sangatta – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama BKSDA Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Tenggarong dan Centre for Orangutan Protection menerima penyerahan satu bayi orangutan (Pongo pygmaeus) dari masyarakat di Kelurahan Singa Gereh, Kecamatan Sangatta Selatan, Kutai Timur, Kalimantan Timur (11/6).

Bayi orangutan betina ini ditemukan menangis sendirian di dalam semak-semak kebun warga. Pada saat itu juga, warga tersebut langsung melaporkan penemuannya ini ke petugas BKSDA SKW II Tenggarong. Petugas pun langsung merespons cepat dan menjemput bayi orangutan tersebut. Setelah dilakukan penyerahan, tim gabungan petugas BKSDA bersama dengan medis dari COP membawa bayi orangutan ini menuju Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut.

Setelah melakukan perjalanan darat kurang lebih 12 jam, akhirnya byi orangutan tiba di BORA. “Orangutan terindentifikasi betina, estimasi usia 1-1,5 tahun. Kondisi saat tiba mengalami tremor dan sedikit agresif juga mengalami kelainan pada jari telunjuk kanan”, ungkap dokter hewan BORA yang menerima bayi orangutan tersebut. Tim medis pun segera menenangkannya dengan susu dan selimut hangat. Dia pun merasa nyaman dalam pelukan kasih sayang dokter hewan senior COP yang kebetulan sedang bertugas.

Seperti bayi orangutan lainnya yang juga kehilangan induk pada usia yang masih sangat muda, bayi ini akan menjalani proses rehabilitasi yang panjang di BORA. Di sinilah ia akan mempelajari kemampuan dasar hidup di alam bebas sebagai orangutan. Hal-hal yang perlu dipelajari seperti memanjat, mencari makan, dan membuat sarang akan menjadi tahapan-tahapan yang harus ia lewati. “Kami akan berusaha memberikan perawatan yang terbaik untuknya, karena kemampuan dasar ini mutlak harus dikuasai sebelum ia bisa dikembalikan ke habitatnya”. (SAT)

PENEMUAN AKTIVITAS PEMBUKAAN LAHAN DI HABITAT HARIMAU SUMATRA

Pada Jumat, 5 Juni, tim gabungan dari BKSDA RKW 1 Pasaman dan Centre for Orangutan Protection (COP) menindaklanjuti laporan masyarakat mengenai dugaan aktivitas perambahan hutan yang berpotensi mengancam habitat Harimau Sumatra di Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat.

Tim segera bergerak menuju lokasi yang berada di sekitar Nagari Tanjung Baringin, Kecamatan Lubuk Sikaping. Pada titik pelaporan pertama, tim tidak menemukan keberadaan alat berat. Tim melanjutkan penelusuran lebih jauh ke dalam kawasan Hutan Lindung Pasaman Raya dan menemukan jejak berupa jalan yang diduga digunakan kendaraan berat untuk memasuki area hutan. Temuan ini memperkuat indikasi adanya aktivitas pembukaan lahan di kawasan tersebut.

Tidak jauh dari situ, tim menemukan sebuah excavator yang sedang beroperasi untuk membuka lahan. Temuan ini kemudian ditindaklanjuti dengan pengumpulan data dan informasi di lapangan. Tim menjumpai pengelola dan operator alat berat untuk dilakukan pencatatan identitas sebagai bagian dari proses penanganan lebih lanjut oleh pihak berwenang.

Aktivitas pembukaan lahan di kawasan hutan yang berfungsi sebagai habitat satwa liar dapat menimbulkan berbagai dampak ekologis, termasuk berkurangnya ruang jelajah satwa dan meningkatnya potensi konflik antara manusia dan satwa liar. Oleh karena itu, pemantauan dan penanganan terhadap aktivitas yang berpotensi mengancam kelestarian habitat menjadi langkah penting dalam upaya perlindungan Harimau Sumatera dan ekosistem yang menopangnya. COP bersama BKSDA akan terus berkoordinasi dan melakukan pemantauan untuk memastikan kawasan hutan tetap terjaga serta mendukung upaya konservasi satwa liar di Sumatra Barat. (APE Protector)

SIDANG KASUS PERDAGANGAN TAPIR ASIA DITUNDA, PEMERIKSAAN TERDAKWA DIJADWALKAN PEKAN DEPAN

4 Juni 2026 proses hukum terhadap kasus perdagangan satwa liar dilindungi jenis Tapir Asia (Tapirus indicus) terus berlanjut. Namun, sidang yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis harus ditunda setelah salah satu saksi yang seharusnya hadir tidak dapat memenuhi panggilan persidangan. Akibat ketidakhadiran saksi tersebut, agenda pemeriksaan saksi belum dapat dilaksanakan. Majelis hakim kemudian memutuskan untuk menunda persidangan dan menjadwalkan kembali sidang lanjutan pada 11 Juni.

Pada sidang berikutnya, agenda yang akan dilaksanakan adalah pemeriksaan para terdakwa. Dalam tahap ini para terdakwa akan memberikan keterangan di hadapan majelis hakim guna memperjelas fakta-fakta yang berkaitan dengan perkara yang sedang diperiksa.

Kasus ini merupakan tindak lanjut dari pengungkapan perdagangan satwa liar yang terjadi di Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat. Sebelumnya, tim gabungan yang terdiri dari BKSDA Sumbar, Polres Pasaman, KPHL Pasaman Raya, dan APE Protector COP (Centre for Orangutan Protection) berhasil mengungkap upaya perdagangan seekor Tapir Asia muda yang akan diperjualbelikan secara ilegal. Satwa dilindungi tersebut ditemukan berada di atas sebuah kendaraan pick-up dalam kondisi hidup saat operasi penindakan dilakukan. Dua orang pelaku kemudian diamankan untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa perdagangan satwa liar masih menjadi ancaman nyata bagi kelestarian keanekaragaman hayati Indonesia. Tapir Asia merupakan salah satu mamalia besar yang keberadaannya semakin tertekan akibat hilangnya habitat dan perburuan ilegal.

Penundaan sidang dilakukan untuk memastikan seluruh proses peradilan berjalan sesuai ketentuan yang berlaku. Kehadiran saksi dan pemeriksaan para terdakwa menjadi bagian penting dalam mengungkap rangkaian peristiwa serta menentukan pertanggungjawaban hukum dalam kasus ini. APE Protector akan terus memantau perkembangan persidangan dan menyampaikan informasi terbaru sebagai bentuk dukungan terhadap penegakan hukum di bidang konservasi satwa liar. (APE Protector)

BERCERITA LEWAT KARYA, MENEMUKAN MAKNA DI BALIK SETIAP TULISAN ORANGUFRIENDS MEDAN

Menulis bukan sekadar merangkai kata. Menulis adalah proses membangun gagasan, mengelolai pengalaman, dan menyampaikan cerita yang bermakna. Semangat inilah yang diangkat dalam kegiatan Kelas Orangufriends bertajuk “Bercerita Lewat Karya” yang diselenggarakan pada Minggu, 7 Juni 2026 di COP Medan.

Pada kesempatan ini, peserta mendapatkan pembelajaran langsung dari Titan Sadewa, seorang penulis sekaligus guru Bahasa Indonesia yang berbagi pengalaman serta pandangannya tentang dunia kepenulisan. Menurut Titan, menulis adalah sebuah criftmanship atau keterampilan yang perlu diasah melalui pengalaman terhadap bahan dan proses pembentukannya. Layaknya seorang perajin yang menciptakan karya, seorang penulis juga harus memahami cara membangun sebuah cerita dari ide-ide yang sederhana.

Untuk memantik kreativitas peserta, Titan mengajak mereka berpikir melalui pendekatan 4W+1H (What, Who, When, dan How). Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, peserta diajak menggali ide dan menemukan sudut pandang yang dapat dikembangkan menjadi tulisan.

Kegiatan kemudian berlanjut ke sesi yang lebih interaktif. Peserta diajak keluar ruangan untuk menikmati suasana sekitar dan menuliskan 30 kata yang muncul dalam pikiran mereka. Kata-kata tersebut kemudian dirangkai menjadi sebuah paragraf singkat yang terdiri dari 4-5 kalimat. Melalui latihan sederhana ini, peserta belajar bahwa inspirasi dapat ditemukan dimana saja, bahkan dari hal-hal yang tampak biasa.

Salah satu momen yang paling menarik terjadi saat sesi diskusi. Ketika ditanya, “Mengapa seseorang menulis?”, Titan menjawab bahwa setiap orang memiliki alasan yang berbeda, salah satunya sebagai bentuk pemuasan jiwa dan sarana menyalurkan berbagai pikiran yang menumpuk.

Ia juga mengibaratkan menulis seperti lari marathon, membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan pengelolaan energi yang baik. Menulis juga menuntut keberanian untuk menemukan cara baru dalam bercerita, sehingga kebiasaan membaca menjadi bekal penting bagi setiap penulis.

Melalui kegiatan ini, para peserta memperoleh perspektif baru bahwa menulis bukan sekadar aktivitas mencatat, melainkan sebuah keterampilan yang terus ditempa melalui latihan, pengalaman, dan keberanian untuk berkarya. (AGU)

SEMERBAK BUNGA PUSPA DI SIRANGGAS

Pada akhir Mei lalu, lingkungan hutan suaka margasatwa Siranggas lebih hangat dari pada sebelumnya. Intensitas cahaya matahari dan suhu udara mulai meningkat, frekuensi hujan dan kelembapan udara pun menurun. Aktivitas pagi dapat dimulai dengan cuaca yang cerah dan malam hari ditutup dengan gerimis ringan yang sejuk. Transisi musim ini diiringi dengan pohon puspa (Schima wallichii) yang mulai berbunga.

Bunga puspa memiliki 5 mahkota warna putih, banyak benang sari warna kuning, dan aroma harum manis yang memikat. Bunganya terlihat mencolok di antara dedaunan kanopi maupun serasah lantai hutan. Di area camp Siranggas ada 3 pohon puspa yang lokasinya berjauhan. Satu di sekitar gudang pakan, satu lagi di samping enclosure orangutan, dan satu lagi di area sekolah hutan. Ketiganya berupa tegakan pohon dengan diameter batang mulai dari 20 cm dan tinggi lebih dari 12 cm. Uniknya, terdapat variasi pada periode dimulainya pembungaan hingga morfologi dan jumlah bunga.

Pohon puspa samping kandang berbunga lebih awal, diikuti dengan dua individu lain yang mulai berbunga di awal Juni. Nampaknya, faktor lingkungan menjadi stimulus dari pembungaan ini. Mikroklimat setiap pohon puspa bervariasi, mulai dari paparan sinar matahari yang di dapat, posisi tajuk di lapisan kanopi, hingga kompetisi nutrisi di tanah dengan pohon lain. Kondisi ini memengaruhi fisiologis dan morfogenesis yang berkaitan dengan pembungaan seperti pembelahan sel dan produksi fitohormon.

Pohon samping enclosure orangutan memiliki bunga dengan ukuran besar dan jumlah banyak. Tingginya paparan cahaya matahari menstimulasi hormon florigen dan menginduksi pembungaan. Sisa daun dan feses orangutan yang ditumpuk di bawahnya juga menyuplai bahan organik tanah sebagai sumber nutrisi pohon. Oleh karena itu, pembungaan individu ini lebih unggul daripada kedua lainnya yang berbunga dengan kualitas dan kuantitas yang lebih rendah.

Ada banyak bunga puspa yang berjatuhan di atas tanah oleh tiupan angin, senggolan satwa, atau luruh alami karena telah terfertilisasi dan mulai memasuki perkembangan buah. Bunga-bunga yang masih bersih dan utuh dikumpulkan untuk diberikan ke orangutan bernama Asih. Hal ini menjadi bentuk pengenalan pakan alami alternatif ketika jumlah pakan utama (buah) tidak melimpah di hutan. Untungnya, Asih merespons baik pemberian bunga ini. Ia mengobservasi dan membau bunga puspa sebelum memakannya dengan lahap. Respons membau ini selalu diekspresikan ketika Asih mendapatkan enrichment buah hutan atau bunga yang masih asing baginya.

Pemberian bunga ini disebar ke berbagai sisi enclosure untuk mendukung keaktifan Asih dalam mengenali dan mencari pakan. Harapannya, Asih dapat mengenali bunga puspa yang tersebar di tajuk-tajuk pohon tinggi ketika menjalani sekolah hutan. Ketika ia sudah mengenali beragam jenis pakan alami di hutan, kesempatan untuk kembali hidup liar dan bebas di habitatnya semakin dekat. (FAR)

KESEMPATAN KEDUA UNTUK SANG BELANG MUDA

Pada 21 Mei yang lalu di Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat, ditemukan dalam kondisi terjerat, satu anak Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) betina berusia kurang dari satu tahun. Lilitan kawat menyebabkan luka terbuka pada bagian leher, pangkal tungkai kaki depan, dan punggungnya. Beruntung, masyarakat segera menginformasikan ke pihak yang berwenang sehingga tim dapat bergerak cepat melakukan penyelamatan sebelum kondisinya memburuk.

Patroli Anak Nagari (PAGARI) Koto Rajo, PAGARI Beringin, PAGARI Salareia, BKSDA Sumbar, Polsek Rao bersama APE Protector COP bahu membahu mengevakuasi dan menangani harimau muda ini tidak lebih dari 24 jam sejak terjerat. Saat ini, perawatan intensif pada luka-luka terbukanya, pemberian pakan bergizi terutama daging merah menjadi prioritas, selain pemberian vitamin guna membantu percepatan pemulihannya.

Setelah 14 hari perawatan, kondisinya menunjukkan perkembangan positif. Nafsu makannya mulai kembali, aktivitasnya semakin normal, dan luka-luka yang sebelumnya terbuka kini perlahan mengering. Setiap hari, tim terus memantau kesehatannya untuk memastikan proses pemulihan berjalan dengan baik.

Ini bukan hanya tentang penyelamatan seekor harimau, namun menjadi pengingat akan ancaman serius yang masih menghantui satwa liar di berbagai wilayah Sumatra terutama jerat satwa. Dalam beberapa tahun terakhir, berita mengenai satwa liar yang terjerat terus bermunculan. Jerat yang umumnya dipasang untuk menangkap babi hutan atau satwa yang dianggap mengganggu perkebunan sering kali tidak memilih mangsa. Harimau Sumatra, beruang madu, rusa, tapir, hingga satwa endemik dilindungi lainnya juga ikut menjadi korban secara tidak sengaja. Ketika satwa memasuki area yang dipasangi jerat, kawat akan mengencang dan menyebabkan luka serius, infeksi, cacat permanen, bahkan kematian.

Banyak kasus berakhir tragis karena satwa ditemukan terlambat atau tidak ditemukan sama sekali. Tidak sedikit individu satwa dilindungi yang mati secara perlahan akibat luka yang semakin parah, kelaparan, atau kehilangan kemampuan untuk berburu dan bertahan hidup di alam. Bagi spesies yang populasinya sudah semakin sedikit, hilangnya satu individu saja merupakan kerugian besar bagi upaya konservasi.

Saat ini, sang belang muda telah pulih sepenuhnya. Sebelum kembali ke alam liar, ia akan menjalani medical check-up (MCU) secara menyeluruh untuk memastikan seluruh fungsi tubuh, kondisi luka, dan kesehatannya berada dalam kondisi optimal. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ia telah sehat dan siap bertahan hidup secara mandiri, harimau tersebut akan dilepasliarkan kembali. (APE Protector)

PATROLI BERSAMA KPHP KELINJAU DI BUSANG

Pada 22 Mei 2026, kegiatan patroli kawasan kembali dilaksanakan di wilayah Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Busang. Kegiatan ini dilakukan bersama Pak Ibnu selaku Polisi Kehutanan dari Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Kelinjau dan tim patroli APE Guardian COP sebagai bagian dari upaya perlindungan serta pengamanan kawasan hutan yang menjadi habitat penting bagi berbagai satwa liar, khususnya orangutan.

Patroli bersama ini tidak hanya berfokus pada pengawasan kawasan, tetapi juga sekaligus melakukan pengecekan kondisi penanaman bibit pohon pakan orangutan yang sebelumnya telah ditanam di beberapa titik sepanjang jalur patroli. Jalur yang dipilih dimulai dari muara Sungai Hagar dan bergerak ke arah utara. Sementara jalur pulang mengikuti aliran Sungai Hagar yang memiliki banyak pohon pakan alami orangutan di sepanjang pinggiran sungai. Kondisi tersebut menjadikan area ini memiliki potensi tinggi untuk menemukan tanda-tanda keberadaan orangutan maupun sarangnya. Selain itu, beberapa titik penanaman bibit juga berada tidak jauh dari tepian sungai. Perjalanan patroli kali ini memperlihatkan bagaimana kondisi hutan terus berubah secara alami. Banyaknya pohon tumbang akibat badai menyebabkan jalur patroli yang biasa dilalui oleh tim menjadi tertutup. Tim harus beberapa kali membuka jalur baru untuk dapat melanjutkan perjalanan.

DI sepanjang jalur menuju utara, tim menemukan berbagai tanda keberadaan satwa liar. Bekas cakaran beruang madu terlihat pada batang pohon, menandakan satwa tersebut masih aktif menggunakan kawasan ini. Selain itu, tim juga menjumpai keberadaan burung Sempidan Biru Kalimantan serta beberapa sarang orangutan kelas 3 yang tersebar di area patroli. Saat perjalanan pulang menyusuri Sungai Hagar, tim kembali menemukan sarang orangutan kelas 3 di tepian sungai. Di samping temuan satwa tersebut, tim patroli juga menemukan sejumlah ancaman terhadap habitat. Tim mendapati jerat satwa berbahan nilon serta beberapa bekas tebangan pohon lama yang kondisinya sudah tertutup lumut dan mulai lapuk.

Selain patroli kawasan, tim juga melakukan pengecekan terhadap bibit pohon pakan orangutan jenis bayur (Pterospermum borneense) yang telah ditanam selama periode Januari hingga April 2026. Hasil mengecekkan menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Sekitar 70 persen bibit yang ditanam masih bertahan hidup dan menunjukkan pertumbuhan yang ditandai dengan munculnya kuncup serta daun-daun muda. Sementara itu, sekitar 30 persen bibit lainnya tidak berhasil bertahan hidup. Sebagaian besar kerusakan disebabkan oleh pohon tumbang alami yang menimpa area penanaman. Beberapa bibit lain mengalami pengeringan setelah daun-daunnya gugur. (Guardian Team)

DI ANTARA LUKA DAN KEPEDULIAN

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan kesempatan untuk ikut terlibat dalam kegiatan penanganan satwa desa di Miau Baru bersama Centre for Orangutan Protection (COP) sebagai relawan. Kegiatan ini berfokus pada pengobatan dan penanganan hewan peliharaan milik masyarakat, seperti kucing, anjing, dan beberapa satwa lainnya. Bagi saya, pengalaman ini menjadi sesuatu yang sangat berharga karena membuka pandangan bahwa kepedulian terhadap satwa bisa dimulai dari hal-hal yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Dari kejauhan saya melihat masyarakat datang dengan harapan hewan peliharaan mereka bisa sehat dan tetap hidup sebagaimana mestinya. Melihat hal tersebut, saya semakin menyadari bahwa hubungan antara manusia dan satwa bukan hanya tentang kebutuhan, tetapi juga tentang rasa peduli dan tanggung jawab.

Sebagai relawan, saya belajar bahwa penanganan satwa tidak hanya soal tindakan medis, tetapi juga tentang kesabaran, komunikasi, dan kepedulian terhadap kondisi masyarakat sekitar. Ada banyak hal yang terlihat sederhana, tetapi sebenarnya memiliki arti besar, muai dari membantu proses penanganan, menenangkan hewan, hingga melihat antusiasme masyarakat yang ingin belajar merawat satwa dengan lebih baik.

Melalui kegiatan ini, saya belajar kepedulian terhadap satwa tidak selalu dimulai dari hal besar. Kadang, perhatian kecil terhadap hewan-hewan di sekitar kita juga menjadi bagian penting dalam membangun hubungan yang lebih baik antara manusia dan alam.

Terima kasih kepada seluruh tim COP dan masyarakat Desa Miau Baru atas pengalaman dan pembelajaran yang sangat berarti ini. Semoga kepedulian kecil yang tumbuh hari ini bisa menjadi langkah besar untuk masa depan yang lebih baik bagi manusia dan satwa. (Adi_Orangufriends Wahau)