Minggu sore, 6 September 2026, Ruang Informasi BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) ramai oleh aktivitas anak-anak. Sebanyak 40 anak dari RT 4 Kampung Tasuk, Berau, dengan rentang usia 5–13 tahun, datang untuk mengikuti edukasi singkat dan bermain bersama.
Ruang Informasi BORA sendiri baru saja diresmikan pada 18 Agustus 2026 lalu. Kehadirannya menjadi salah satu upaya untuk menyediakan ruang edukasi dan informasi bagi masyarakat sekitar, khususnya anak-anak, tentang orangutan dan upaya pelestariannya. Tidak lama setelah diresmikan, ruang ini kemudian dimanfaatkan sebagai tempat belajar dan bermain bagi anak-anak Kampung Tasuk yang juga terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Anak-anak di Kampung Tasuk sudah belajar dari rumah (BDR) sejak dua minggu lalu. Kondisi tersebut menjadi salah satu momentum untuk memaksimalkan fungsi Ruang Informasi BORA sebagai ruang edukasi dan aktivitas bagi anak-anak. Kegiatan diisi dengan pemberian materi edukasi tentang orangutan, pengenalan Ruang Informasi BORA, serta bermain bersama.
Kegiatan ini disambut baik oleh anak-anak dan orang tua. Antusiasme yang terlihat bahkan melebihi perkiraan awal, yang sebelumnya diperkirakan hanya sekitar 15 anak bersama orang tua. Selain itu, terdapat pula ajakan dari sekolah-sekolah sekitar untuk dapat kembali berkolaborasi dalam kegiatan edukasi orangutan, mulai dari PAUD, TK, hingga SD.
Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi pemantik bagi lebih banyak kegiatan lain di Ruang Informasi BORA. Terlebih, sebagai ruang yang baru diresmikan, masih banyak peluang untuk mengembangkan fungsi dan fasilitasnya sebagai ruang belajar dan bermain bagi anak-anak. Insight dari kegiatan ini juga dapat menjadi bahan untuk meningkatkan fasilitas Ruang Informasi BORA, seperti model, board game, maket, atau alat edukasi lainnya yang dapat ditampilkan untuk meningkatkan pengalaman pembelajaran. (RAR)
Perjalanan menjadi bagian dari gerakan konservasi tidak selalu berhenti ketika sebuah kegiatan berakhir. Bagi Dea dan Hera, apa yang mereka dapatkan melalui COP School Batch 16 justru menjadi awal untuk melangkah lebih jauh. Di Bulan Orangufriends 2026, keduanya bersama tim APE Protector mengabdikan diri untuk melakukan edukasi di Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat.
Pada 24-29 Agustus, ada lima sekolah yang langsung dikunjungi kedua relawan COP ini. Ada 211 siswa yang mengikuti kegiatan edukasi konservasi. Kelima sekolahan itu adalah SD Negeri 01 Bonjol, SMPN 01 Bonjol, MTsN 04 Pasaman, SMK Negeri 01 Bonjol, dan SDN 19 Lurah Berangin. COP School yang menjadi ruang untuk belajar, mengenal persoalan konservasi, dan membangun keberanian untuk terlibat menjadikan Orangufriends (relawan satwa COP) menjadi pelaku yang membagikan pengetahuan tentang konservasi ke dunia yang lebih luas lagi.
Dea dan Hera mengajak ratusan siswa mengenal Harimau Sumatra (Panthera tigris Sumatra) di sekolah-sekolah maupun di RIHAS (Ruang Informasi Harimau Sumatera). Materi mencakup karakteristik, habitat, peran ekologis, serta ancaman seperti jerat, perburuan, dan perdagangan satwa liar ilegal. Pengemasannya pun tak lepas dari persiapan mereka, karena keberhasilan edukasi ini tak sekedar menyampaikan tetapi menarik dan membekas pada generasi alpha yang sangat unik ini. Tanya jawab, diskusi, pojok baca, galeri foto, booth buku, hingga permainan interaktif menjadi cara terbaik masuk pada peserta yang usianya tak jauh dari Dea maupun Hera. Simulasi “membebaskan diri dari jerat”, diharapkan dapat membantu peserta memahami bagaimana jerat dapat menjadi ancaman serius bagi satwa liar.
Jika Dea dan Hera langsung menyeburkan diri di tanah Minang, ada kabar apalagi dari alumni COP School Batch 16 yang lain ya? (NAB)
Satu bulan penuh cerita, pertemuan, dan semangat untuk orangutan akhirnya sampai di penghujungnya. Namun, sebelum benar-benar ditutup, ada sat perjumpaan yang tidak boleh dilewatkan. Dating APES batch 18 hadir di Jogja sebagai penutup rangkaian Bulan Orangufriends 2026, sekaligus menjadi ruang untuk kembali duduk bersama, berbagi cerita, dan membicarakan masa depan satwa liar serta hutan Indonesia.
Kali ini, Dating Apes terasa begitu istimewa. Bukan sekadar karena menjadi edisi penutup, tetapi karena menghadirkan tiga sosok dengan cerita dan perspektif yang menarik: Nadia dan Gavrila dari Uma Project, serta Muhammad Zuhdi. Ketiganya membawa pengalaman, sudut pandang, dan cerita masing-masing yang kemudian bertemu dalam satu ruang diskusi yang hangat.
Lebih dari 30 orang hadir dan ikut meramaikan pertemuan ini. Ada Orangufriends Jogja, teman-teman dari berbagai lembaga konservasi, mahasiswa, pegiat alam, hingga mereka yang datang dengan rasa penasaran dan kepedulian terhadap isu satwa liar. Beragam latar belakang justru membuat obrolan semakin kaya.
Dari satu cerita, muncul cerita lainnya. Dari satu pertanyaan, lahir perspektif baru. Percakapan tidak berhenti pada orangutan saja, tetapi berkembang menjadi pembahasan tentang satwa liar, habitat, kerja-kerja konservasi, hingga bagaimana setiap orang dapat mengambil peran dalam menjaga alam.
Mungkin inilah yang membuat Dating Apes selalu menarik. Tidak ada jarak antara pembicara dan peserta. Tidak ada sekat antara mereka yang sudah lama berkecimpung di dunia konservasi dan mereka yang baru mulai mengenalnya. Semua datang untuk satu hal: bertemu, mendengar, bertukar pikiran, dan pulang membawa cerita baru.
Bulan Orangufriends 2026 mungkin telah selesai, tetapi semangatnya tidak berhenti di sini. Karena menjaga hutan dan satwa liar bukan pekerjaan satu bulan, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan banyak orang untuk terus berjalan.
Terima kasih untuk seluruh teman yang sudah hadir, berbagi cerita, bertanya, tertawa, dan menjadi bagian dari perjalanan Orangufriends selama sebulan ini.
Sampai bertemu di Dating Apes berikutnya!
Kebakaran hutan di Kalimantan semakin menggila. Panas, sesak, hingga membuat penglihatan sangat buram. Inilah dampak yang dirasakan langsung sebagai manusia yang tinggal di kota. Pertanyaannya, kita yang di kota saja tersiksa, bagaimana makhluk hidup lain yang ada di hutan sana?
Bagi Ndaru, perjalanan memahami konservasi bermula dari rasa penasaran. Sedari kecil hingga dewasa ia hidup di Kota Solok, Sumatera Barat, dan tak pernah terpikirkan betapa pentingnya hutan dan satwa. Hingga suatu ketika ia menemukan informasi tentang pelatihan konservasi ABELII CAMP yang diadakan COP di Medan. Dari sana, ia mulai memahami luasnya arti konservasi dan pentingnya menjaga hutan beserta seluruh isinya.
Kesadaran itu kemudian membawanya menjadi volunteer di COP selama kurang lebih empat bulan. Perjalanan tersebut berlanjut ketika ia mengikuti COP School Batch 16 di Yogyakarta pada Juli 2026. Baginya, pelatihan bukan sekadar sekolah, tetapi titik yang semakin menguatkan tekad untuk turun langsung ke lapangan.
Hal yang sama dirasakan Ulul. Setelah menunggu enam tahun untuk mendapatkan kesempatan mengikuti COP School, ia menganggap Batch 16 sebagai titik balik perjalanan konservasinya. Dari materi ruang, School Visit di beberapa sekolah dasar, hingga kesempatan mengikuti ADR Training Batch 4 di Labuan Bajo, setiap pengalaman menjadi bagian dari proses belajar yang tidak pernah selesai.
Selepas rangkaian pelatihan tersebut, panggilan untuk kembali menjadi volunteer datang. Kali ini, Kalimantan Timur menjadi tujuan. Ndaru dan Ulul diutus bersama tim COP menuju Pusat Rehabilitasi Orangutan Bora Labanan, Berau, untuk membantu menghadapi kebakaran hutan. Mereka melakukan patroli kawasan, mencari titik api dan asap, hingga beberapa kali terlibat langsung dalam pemadaman api di dalam maupun luar kawasan.
“Berhari-hari saya di Kalimantan, tiada sehari pun saya menghirup udara segar. Yang ada hanyalah kepulan asap dan kobaran api yang sangat panas,” ujar Ndaru.
Di tengah kondisi tersebut, ia kembali teringat pelatihan konservasi pertamanya tentang pentingnya hutan, satwa, dan seluruh kehidupan di dalamnya. “Apalah artinya manusia apabila tidak berdampak bagi lingkungannya.”
Bagi Ulul, pengalaman itu kembali menegaskan bahwa menjadi Orangufriends berarti membawa perubahan nyata bagi konservasi satwa di mana pun berada. “Ini bukanlah garis akhir, namun menjadi gerbang pembuka awal.”
Karena bagi mereka, COP School bukan sekadar sekolah. Ia adalah sekolah yang tak pernah usai tempat belajar, bergerak, dan terus menemukan cara untuk berkontribusi (Ulul_Ndaru_COP School 16).
Peringatan Hari Orangutan Sedunia di SDN 030432 Rahib, Pakpak Bharat, Sumatra Utara menjadi berbeda karena ke tiga puluh tujuh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 mengikuti kegiatan lomba mewarnai bertema orangutan. Melalui kertas gambar dan krayon di tangan, anak-anak mulai menuangkan imajinasi mereka. Beragam warna memenuhi gambar orangutan dan hutan. Ada yang memilih warna-warna cerah, ada pula yang denga teliti memadukan berbagai warna agar hasil karyanya terlihat semakin menarik. Suasana kelas pun dipenuhi semangat, konservasi, tawa, dan obrolan kecil antar teman. Namun kegiatan ini bukan sekadar tentang menentukan siapa yang menghasilkan yang paling indah.
Anak-anak diajak mengenal orangutan lebih dekat sejak usia dini. Mereka belajar bahwa orangutan bukan hanya satwa yang hidup di dalam hutan, tetapi juga bagian penting dari ekosistem. Keberadaan orangutan memiliki hubungan yang erat dengan keberlangsungan hutan, tempat berbagai makhluk hidup bergantung. Kegiatan semakin menyenangkan karena lomba mewarnai juga diselingi dengan berbagai permainan edukatif. Anak-anak bergerak, bermain, tertawa, sekaligus mengingat kembali pesan-pesan tentang orangutan dan pentingnya menjaga lingkungan. Pendekatan yang sederhana dan dekat dengan dunia anak-anak membuat pesan konservasi lebih dekat dengan sasarannya.
Antusiasme terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Anak-anak tidak hanya menjadi peserta lomba, tetapi juga bagian dari proses bersama tentang alam di sekitar mereka. Dari sebuah gambar yang diwarnai, muncul rasa ingin tahu. Dari permainan sederhana, tersampaikan pesan tentang pentingnya menjaga hutan. Dan dari pengalaman kecil seperti ini, diharapkan tumbuh kepedulian yang akan terus berkembang.
Hari ini, mungkin orangutan masih mereka kenal melalui gambar dan cerita sederhana. Namun, suatu hari nanti, pengetahuan tersebut dapat menjadi dasar untuk memahami mengapa satwa liar dan habitatnya harus dijaga. Konservasi tidak selalu harus dimulai dengan langkah besar. (PUT)
Masih dalam rangkaian Bulan Orangufriends yang menjadi ruang bagi relawan COP untuk ikut terlibat secara nyata dalam aksi-aksi konservasi, salah satunya School Visit di SMPN 01 Bonjol, Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat. Kali ini bersama Dea dan Hera yang menjalani program volunteer selama tiga bulan setelah mengikuti COP School Batch 16.
Sebanyak 15 siswa kelas IX mengikuti kegiatan dengan antusias. Para siswa diajak mengenal lebih dekat Harimau Sumatra, mulai dari karakteristik, kehidupan di alam, kondisi populasinya, hingga berbagai ancaman yang dihadapi satwa endemik Sumatra tersebut. Melalui diskusi sederhana, para siswa diajak memahami bahwa menjaga harimau berarti turut menjaga hutan dan seluruh kehidupan yang ada di dalamnya. Mereka juga diajak mengenali peran manusia dalam mengurangi berbagai ancaman terhadap satwa liar.
Setelah materi selesai, suasana belajar berlanjut ke sesi tanya jawab dan diskusi interaktif di pojok baca yang dilengkapi galeri foto satwa. Kehadiran foto-foto satwa membuat siswa dapat melihat lebih dekat kehidupan satwa liar dan ancaman yang mereka hadapi di habitatnya.
Agar pesan konservasi semakin mudah dipahami, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan fun games di luar ruangan. Para siswa mengikuti simulasi bertema, “Membebaskan Diri darui Jerat”. Melalui permainan tersebut, mereka diajak merasakan secara sederhana bagaimana sulitnya satwa ketika terperangkap jerat, sekaligus memahami mengapa jerat menjadi salah satu ancaman serius bagi satwa liar.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa aksi konservasi dapat dimulai dari hal sederhana, dengan belajar, berbagi, dan berani terlibat. Bagi Dea dan Hera, pengalaman sebagai Orangufriends sekaligus alumni COP School Batch 16 menjadi kesempatan untuk meneruskan pengetahuan yang pernah mereka dapatkan kepada generasi muda. Selama tiga bulan ini keduanya dengan berani mengambil bagian dalam menyebarkan pesan bahwa menjaga satwa berarti menjaga masa depan hutan. (APE Protector)
Ada satu suara yang bergema dari banyak tempat. Dari Sidikalang, Medan, Padangsidimpuan, Padang, Jambi, Bandung, Yogyakarta, Samarinda, hingga Berau, orang-orang berkumpul dan bergerak bersama untuk menyampaikan satu pesan, “Act for Orangutans. Their Forest, Our Future”. World Orangutan Day 2026 bukan sekedar tentang memperingati keberadaan orangutan. Hari ini adalah kesempatan bersama untuk kembali melihat lebih dekat siapa mereka dan mengapa keberadaan orang utan begitu penting bagi hutan.
Orangutan bukan hanya satwa yang kita kenal karena wajahnya yang menggemaskan dan tingkahnya yang menarik. Mereka juga memiliki peran penting sebagai penyebar benih, membantu menjaga regenerasi hutan melalui biji-biji tumbuhan yang mereka makan dan sebarkan. Kehidupan orangutan tidak pernah bisa dipisahkan dari hutan. Di sanalah mereka mencari makanan, membangun sarang, merawat anak, dan berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya. Setiap pohon yang berdiri adalah bagian dari rumah. Setiap kawasan hutan yang tetap terjaga adalah kesempatan bagi mereka untuk terus hidup. Ketika hutan kehilangan ruangnya, orangutan ikut kehilangan rumah. Ketika hutan terfragmentasi dan terus tertekan, kehidupan mereka menjadi semakin rentan.
Di setiap tempat, pesan tentang orangutan disampaikan dengan cara berbeda. Ada yang mengajak anak-anak mengenal orangutan sejak dini. Ada yang berbagi cerita tentang hutan dan satwa liar. Ada pula yang mengajak masyarakat memahami bahwa menjaga orangutan bukan hanya pekerjaan para penjaga hutan, peneliti, atau organisasi konservasi. Kita semua punya peran. Sebab mencintai orangutan bukan hanya tentang menyukai foto mereka atau merasa gemas ketika melihat tingkahnya. Mencintai orangutan berarti mencintai hutan yang menjadi rumahnya. Berarti peduli pada pohon-pohon yang tumbuh di dalamnya, air yang mengalir dari kawasan hutan, serta kehidupan berbagai satwa dan manusia yang bergantung padanya.
Hari ini kita merayakan hari orangutan. Tetapi perjuangan untuk mereka tidak berhenti ketika World Orangutan Day berakhir. Suara yang kita bangun hari ini harus terus hidup menjadi kepedulian, dan kepedulian harus tumbuh menjadi tindakan. Dari sembilan kota, satu pesan terus menyala, bersama COP melindungi orangutan dan yang lainnya. (NAB)
Dua puluh tahun lalu, gempa bumi besar mengguncang Yogyakarta dan meninggalkan jejak mendalam bagi masyarakat. Salah satu wilayah yang merasakan dampaknya adalah Kabupaten Bantul, termasuk lingkungan pendidikan di sekitarnya. Kini, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa kesiapansiagaan menghadapi bencana perlu terus ditanamkan kepada generasi muda.
Sebanyak 81 siswa SD Negeri 2 Dodogan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta diajak mengenali berbagai perlengkapan sederhana yang dapat membantu ketika terjadi keadaan darurat, seperti senter dan peluit. Mereka juga belajar bahwa kesiapsiagaan tidak selalu membutuhkan peralatan yang rumit. Hal paling penting adalah mengetahui risiko, memahami langkah yang harus dilakukan, serta mampu menyelamatkan diri terlebih dahulu.
Sebab, seseorang yang mampu menyelamatkan dirinya akan memiliki kesempatan lebih besar untuk membantu orang lain, termasuk satwa yang sering kali luput dari perhatian ketika bencana terjadi. Pembelajaran kemudian berlanjut pada satwa yang sering dianggap menakutkan, yaitu ular.
Bagi sebagian siswa, perjumpaan dengan ular mungkin bukan sesuatu yang asing. APE Warrior mengajak mereka melihat ular dari sudut pandang yang berbeda. Rasa takut merupakan hal yang wajar, tetapi bukan alasan untuk menyakiti atau membunuh satwa tersebut.
Ketika bertemu ular, siswa diajarkan untuk tetap tenang, menjaga jarak, tidak mencoba atau menangkap atau mengusir sendiri, serta segera meminta bantuan orang dewasa atau pihak yang memiliki kemampuan menangani satwa.
Di balik rasa takut tersebut, ular memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Keberadaannya membantu mengendalikan populasi satwa lain dan menjadi bagian dari rantai kehidupan di alam. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar tentang kesiapsiagaan bencana, tetapi juga tentang empati dan tanggung jawab terhadap kehidupan di sekitar mereka. Karena kesiap-siagaan bukan hanya tentang menyelamatkan diri saat bencana datang, tetapi juga tentang memastikan bahwa manusia dan satwa dapat menghadapi situasi darurat dengan lebih aman. (VID)
Semangat memperingati Global Tiger Day 2026 masih terasa di RIHAS. Kali ini, pesan tentang pentingnya menjaga harimau Sumatra dibawa lebih dekat kepada masyarakat melalui kegiatan bersepeda sekaligus kampanye di kawasan permukiman sekitar Rimbo Panti. Ada 29 peserta turut ambil bagian dengan mengendarai sepeda, mereka menyusuri jalan dan mengelilingi sebagian kawasan sambil membawa poster serta berbagi materi kampanye. Mereka juga membagikan stiker kepada masyarakat dan menyampaikan pesan untuk menjaga keberadaan harimau Sumatra.
Bagi sebagian orang, harimau mungkin hanya dikenal sebagai satwa liar yang hidup jauh di dalam hutan. Padahal, keberadaannya memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Karena itu, mengenal harimau dan memahami berbagai ancaman yang dihadapinya menjadi langkah awal untuk menumbuhkan kepedulian terhadap satwa liar. Tim APE Protector juga mengajak masyarakat luas bahwa menjaga harimau tidak hanya menjadi tanggung jawab mereka yang bekerja di kawasan konservasi. Masyarakat juga memiliki peran penting, salah satunya dengan memahami keberadaan satwa liar serta ikut menjaga habitatnya.
Setelah berkeliling dan menyapa masyarakat, kegiatan dilanjutkan di RIHAS dengan berbagai permainan dan pembagian hadiah. Suasana semakin meriah ketika para peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang telah direncanakan. Keseruan tidak berhenti ketika matahari mulai terbenam. Pada malam hari, RIHAS justru semakin hangat dengan diskusi santai. Para peserta berbagi cerita dan pengalaman sambil menikmati jagung bakar serta olahan lainnya.
Dari perjalanan di atas sepeda hingga obrolan santai di malam hari, satu pesan terus dibawa, Harimau Sumatra adalah bagian penting dari alam yang harus kita jaga bersama. Global Tiger Day bukan sekedar momentum untuk memperingati harimau. Lebih dari itu, peringatan ini menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap satwa liar perlu terus dibicarakan, dibagikan, dan diwujudkan melalui aksi nyata. (HIL)
Setiap tanggal 29 Juli dirayakan sebagai Hari Harimau Sedunia atau Global Tiger Day (GTD). Centre for Orangutan Protection (COP) bersama dengan relawannya yang tergabung dalam Orangufriends merayakan GTD 2026 dengan aksi serentak di lima belas kota di Indonesia pada Minggu, 2 Agustus 2026. Aksi serentak ini bertujuan untuk memberikan edukasi dan penyadartahuan kepada masyarakat umum bahwa harimau sebagai satwa langka endemik Indonesia. Dahulu Indonesia masih memiliki harimau jawa dan harimau bali. Namun, saat ini yang tersisa hanya ada jenis harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae).
“Melalui kampanye di beberapa kota, kami ingin menyebarkan informasi dan menggalang dukungan publik secara luas mengenai harimau sumatera, satwa endemik kebanggaan Indonesia yang kini terancam punah. Spesies ini juga memiliki nilai penting dalam
budaya dan kearifan lokal di Pulau Sumatera” ucap Hilman Fauzi, Kapten Tim APE Protector COP. Kampanye serentak ini dilakukan pada Hari Minggu, 2 Agustus 2026 oleh Orangufriends
di Kota Medan, Padang, Pasaman, Yogyakarta, Bandung, Kuningan, Samarinda, Malang, Lumajang, Manokwari, Cirebon, Padangsidempuan, Sidikalang, Manado dan Wahau.
Sejak 2022, tim COP bernama APE Protector bekerja di Kabupaten Pasaman bersama BKSDA Sumatera Barat dan masyarakat lokal. Tim ini melakukan kegiatan bersama seperti sapu jerat, patroli kawasan, mitigasi konflik, hingga penyelamatan harimau dan satwa liar lainnya. “Saat ini setidaknya ada tiga harimau sumatera yang harus segera dilepasliarkan. Mereka dievakuasi pada akhir tahun 2025 dan bulan Mei 2026. Para harimau ini harus dievakuasi karena terluka akibat jerat. Kita dukung penuh rencana Kementerian Kehutanan untuk melepasliarkan kembali harimau tersebut” tambah Hilman.
Aksi serempak ini sudah dilakukan tiga tahun terakhir, bersama relawan COP yang tergabung dalam Orangufriends yang ada di beberapa kota di Indonesia. Isu yang selalu dibawakan adalah tentang jerat yang setiap tahunnya menjadi masalah di harimau sumatera. Pemasangan jerat masih sering ditemui di hutan Indonesia. Kasus harimau terkena jerat kerap terjadi di berbagai daerah di Sumatera, dari Aceh hingga Lampung. Sebagian harimau mati akibat infeksi, pendarahan, ataupun kelaparan setelah terkena jerat. Saat ini populasi harimau sumatera tidak lebih dari 600 individu dan termasuk satwa berstatus Kritis (Critically
Endangered) menurut IUCN Red List. Tekanan habitat dan pemasangan jerat menjadi ancaman serius bagi harimau sumatera. Kampanye publik ini diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat untuk ikut melestarikan harimau sumatera dan mendorong penegakan
hukum bagi pelaku pemasangan jerat.
Narahubung:
Hilman Fauzi, Kapten Tim APE Protector COP
Kontak: +62 817 7547 0113Catatan:
– APE Protector adalah tim yang dikelola oleh COP di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Misi
utama APE Protector adalah mendampingi kelompok masyarakat untuk melakukan patroli mandiri,
mitigasi konflik dan edukasi atau penyadartahuan.
– COP menjalankan dan mengelola relawannya yang bernama Orangufriends untuk bisa mendukung
kampanye dan kegiatan aksi langsungnya. Kelompok Orangufriends aktif ada di beberapa kota di
Indonesia.
