Orangufriends

MENYUSURI JEJAK INDUK ORANGUTAN DI HUTAN KINABATANGAN

Matahari sudah keluar dari peristirahatannya dan capanya telah masuk hingga menyentuh lantai hutan. Pagi itu cuaca cerah berawan. Tim kami menapaki hutan Kinabatangan untuk mencari orangutan liar. Hutannya sangat lembap. Sepatu boots kami beberapa kali melangkah di genangan air dan anak sungai. Hutan Kinabatangan terletak di wilayah Desa Sukau, Sabah, Malaysia. Tipe hutannya “freshwater swamp forest” karena berada di tepi Sungai Kinabatangan yang sangat lebar. Jika datang musim hujan atau cuaca ekstrem, air sungai akan meluap dan membuat hutan ini terendam air, menjadikannya rawa-rawa.

Sekitar pukul 9 pagi kami akhirnya menemukan orangutan. Ia duduk tidak bergerak di atas pohon dan sepertinya waspada dengan kehadiran manusia. Saya hanya bisa melihat sebagian punggungnya saja. Setelah beberapa menit, ia akhirnya berayun untuk makan. Saat itulah saya melihat tubuhnya secara utuh. Betina dewasa, rambutnya coklat gelap dan agak kusut, wajahnya tirus, berukuran sebesar Jenong (salah satu orangutan yang pernah kami rawat di BORA). Ada tangan kecil yang terlihat di bagian pinggang orangutan itu. Ternyata ia memiliki bayi. Tim Orangutan Research (OURs) dari LSM HUTAN memberi tahu kami bahwa induk orangutan ini bernama Mallotus dan bayinya bernama Muticus. Nama ini diambil dari spesies pohon Mallotus muticus. Mallotus dulu lahir di pohon tersebut dari induk yang bernama Jenny. Sedangkan Muticus lahir di tahun 2021 dan saat ini berusia 5 tahun. LSM HUTAN telah meneliti orangutan liar di Kinabatangan sejak tahun 1998. Saat ini sudah 3 generasi orangutan yang mereka monitoring. Orangutan Jenny diikuti dari tahun 1998 sampai dengan kematiannya di tahun 2020. Jenny memiliki 4 anak, salah satunya Mallotus yang lahir di tahun 2005. Muticus merupakan anak kedua dari Mallotus dan cucu dari Jenny. 

Kami mengikuti dan mencatat perilaku Mallotus dan bayinya selama satu hari. Pasca musim hujan, di dalam hutan sedang memasuki musim buah sehingga perilaku Mallotus didominasi oleh makan. Pergerakan selama satu hari tidak banyak. Jelajah orangutan betina memang relatif lebih pendek dan sempit dibanding orangutan jantan. Ini pertama kalinya saya melakukan monitoring orangutan liar yang memiliki bayi. Saya melihat bagaimana Mallotus membiarkan Muticus bereksplorasi sendiri, tapi tetap menjemput Muticus ketika ia bermain terlalu jauh. Ukuran tubuh orangutan di Kinabatangan lebih kecil dibandingkan orangutan liar yang kami jumpai di Kalimantan Timur. Sarang-sarang orangutan yang kami temui di sini juga berukuran relatif kecil. Hal ini kemungkinan karena kelimpahan pakan di hutan rawa Kinabatangan tidak sebanyak pakan di hutan dataran rendah di Kalimantan Timur. Ada satu momen berkesan ketika hujan deras turun di sore hari. Mallotus memetik dedaunan dan dijadikan payung di atas kepalanya. Perilaku ini menunjukkan orangutan memiliki kemampuan berpikir (kognitif) dan problem solving yang baik.

Kunjungan belajar (study trip) di Kinabatangan ini mengajarkan saya akan konsistensi dan kolaborasi. Sebuah stasiun riset dapat bertahan dalam waktu panjang karena bekerja sama dengan warga lokal yang sangat loyal. Mayoritas staf LSM HUTAN merupakan penduduk asli Desa Sukau. Beberapa staf senior sudah bekerja di HUTAN selama 15-20 tahun. Hutan Kinabatangan tidak hanya menjadi stasiun riset, tapi juga membawa keuntungan bagi warganya lewat ekowisata yang sudah terkenal hingga mancanegara. Dari kunjungan ini saya jadi tertantang untuk merancang manajemen pengelolaan hutan dan program riset orangutan di lokasi kerja COP antara lain di Busang, PT Hope, dan Siranggas. (IND)

BAGAIMANA SATWA KETIKA BANJIR MENYAPA

Bencana datang. Manusia kelimpungan. Namun, bagaimana dengan hewan, bagaimana dengan satwa? Apa yang akan kita lakukan ketika banjir menerjang tanpa aba-aba, ketika langit mendung tak terkira, ketika semua air tumpah di hadapan kita? Pada Pameran Foto “Menolong Satwa Banjir Sumatera” yang ditaja Centre for Orangutan Protection inilah jejak-jejak itu dihadirkan bukan sekadar menjadi visual, bukan sekadar menjadi gambar, bukan sekadar dijepret kamera lalu mata kita menikmatinya. Bukan. Foto-foto di sini akan “menceritakan” lewat perasaan dan perjuangan yang dikonkretkan dengan tindakan “pencarian”.
Pada foto jejak kaki salah satu satwa, kita melihat bahwa “ada yang lewat” di situ, ada yang pernah tinggal, dan ada yang pernah menetap. Dalam foto ini, jejak kaki berfungsi sebagai “tanda” bahwa suatu daerah pernah dilewati sekaligus ditinggali oleh manusia dan satwa. Tak hanya itu, jejak kaki juga menjadi metafora kehilangan, ketakutan, atau perjalanan tanpa ujung bahwa ada yang pergi dari suatu daerah dan entah akan kembali atau tidak. Maka dari itu, suatu daerah menjadi sangat penting bagi satwa karena mereka tinggal berdampingan dengan kita, manusia.
Itu dibuktikan dengan foto satwa sendirian dengan gestur seperti sedang mencari sesuatu. Foto ini juga menarik karena teknik pengambilan sengaja untuk menimbulkan efek tertentu, dengan kain penutup di sebelah kiri dan satwa di sebelah kanan. Apa yang dicari satwa itu kira-kira? Apakah makanan? Ketika bencana datang, manusia kelimpungan mencari pangan, pun satwa begitu. Dari foto salah satu relawan memberi makan satwa, kita melihat itu, bahwa akses dan kesempatan untuk mendapatkan pangan yang layak juga “dimiliki” oleh para satwa. Di tengah kekacauan yang terjadi pohon tumbang, sampah di mana-mana, bangunan runtuh, seng saling menimpa satu sama lain tindakan dalam pameran foto ini, gestur yang ditimbulkan pameran foto ini, menyiratkan satu hal yang penting yaitu empati. Bahwa kita juga merasakan sesuatu yang sama, kita terkena dampak yang sama. Karena itulah kita saling memberikan bantuan.
Bantuan untuk saling menemukan, seperti yang ada pada foto kucing putih nangkring di jendela sebuah rumah panjang, dengan parabola. Foto ini menampilkan rumah sebagai “arsip” sekaligus ingatan kolektif. Bahwa rumah bukan sekadar tempat tinggal dan kucing bukan cuma peliharaan, namun lebih dari itu: rumah sebagai peninggalan, lahirnya kebudayaan dalam keluarga, dan sekolah pertama bagi anak-anak. Kucing putih yang nangkring dengan santai juga menjadi sesuatu yang menarik karena “putih” badannya di antara kehancuran yang terjadi di sekitarnya yang diwakili warna “cokelat” atau warna tanah.
Tanah tempat kita bernaung, berkomunikasi, dan berdoa. Berdoa agar semua benda-benda yang berserakan sekaligus bertumpuk lekas dibereskan. Di tengah kekacauan itu, foto satwa yang sedang berada di tumpukan benda-benda dan masuk ke dalam “bayangan” yang tercipta. Foto ini menyiratkan sesuatu yang kadang tak kita lihat, bahwa yang satwa ingin mengatakan, “kami di sini bersama kalian”. Agaknya teknik pengambilan foto ingin mengatakan hal tersebut. Terlebih, satwa menjadi “focal point” foto ini. Begitu juga yang diceritakan dari foto satwa yang telah mati (menjadi bangkai?) dengan sepatu boot dan sisa satwa tersebut, kita bisa melihat bahwa bencana menimbulkan korban yang bukan hanya manusia, namun juga satwa. Dalam foto ini kita melihat tanah dan daun-daun. Selain ingin memberitahu sesuatu, foto ini juga menampilkan gestur apa adanya: bahwa yang terjadi pada tanah (bencana) akan kembali ke tanah (terkubur).
Begitu juga foto satwa yang sedang tertidur pulas. Foto ini menimbulkan efek keterasingan, kekalahan, sekaligus kerinduan terhadap rumah, terhadap tuannya, terhadap apa-apa yang biasa dijalani satwa: bermain ke sana kemari bersama manusia, bercengkerama bersama kita.
Satwa apa pun itu: anjing, kambing, kucing, ayam… mereka semua adalah saudara kita. Mereka mendapatkan akses sekaligus kesempatan yang sama untuk “terus hidup” dan berdampingan dengan manusia, dengan kita: makhluk yang penuh dengan logika, pemikiran, dan empati. (Titan Sadewo_Orangufriend Medan)

REKAM JEJAK COP SELAMATKAN SATWA PASCA BANJIR TAPANULI SELATAN

Sore, 24 Juni 2026 di Medan, bersama Orangufriends meresmikan Abelii Space sekaligus membuka pameran foto “Menolong Satwa Banjir Sumatra” dan meluncurkan buku Rescue Animals in Need South Tapanuli. Pameran ini merangkum kisah kepedulian dari sudut pandang yang berbeda pasca bencana banjir besar yang melanda Sumatra pada akhir tahun 2025. Berlokasi di Desa Garoua, Tapanuli Selatan, wilayah yang sempat luluh lantak dan terisolasi, COP (Centre for Orangutan Protection) hadir membawa misi yang hingga kini masih jarang dilakukan di Indonesia, yaitu menyelamatkan satwa di tengah bencana.

Melalui rangkaian foto yang di[pamerkan, pengunjung diajak mengikuti jejak langkah tim COP saat mencari satwa yang terdampak banjir, membebaskan hewan yang terjebak di balik reruntuhan, mengobati satwa yang terluka, memberikan pakan, hingga menguburkan satwa yang tidak dapat diselamatkan. Banyak pengunjung mengaku tersentuh setelah mendengar secara langsung pengalaman dan tantangan yang dihadapi selama proses penyelamatan berlangsung.

Lebih dari sekadar menyelamatkan satwa, misi ini juga menjadi jembatan penting dalam memulihkan harapan para penyintas bencana. Bagi para peternak yang rumah dan kebunnya hanyut diterjang banjir, hewan ternak yang tersisa merupakan aset sekaligus harapan terakhir untuk kembali bangkit. Karena itu, tim berupaya membuka akses agar pasokan pakan termah dapat masuk dan membantu menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat.

Di sisi lain, bagi warga yang harus mengungsi dapat bertemu kembali dengan hewan peliharaan mereka menjadi penghiburan yang tak ternilai. Kehadiran kembali teman setia di tengah situasi sulit mampu menghadirkan senyum, memberikan rasa tenang, sekaligus mengurangi kecemasan setelah bencana.

Selain membantu pemulihan ekonomi dan psikologis masyarakat, tim juga berperan dalam mencegah potensi penyebaran penyakit dengan segera menguburkan bangkai satwa agar tidak mencemari lingkungan. Melalui pameran foto dan buku ini, COP ingin menyampaikan pesan bahwa ketika bencana terjadi, satwa juga menjadi korban. Menyelamatkan satwa berarti turut menjaga kesehatan lingkungan, membantu pemulihan masyarakat, dan menjadi bagian penting dari upaya tanggap bencana secara menyeluruh.

Pameran foto berlangsung mulai 24 Juni hingga 12 Juli 2026 di Abelii Space, kota Medan dan dibuka setiap hari pukul 09.00-17.00 WIB. Pameran terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya. Pengunjung diharapkan menjaga ketertiban selama berada di ruang pameran serta tidak makan dan minum di dalam area pameran. (AGU)

MENGENAL HAK DAN PERLINDUNGAN HUKUM BAGI AKTIVIS LINGKUNGAN DI DATING APES BATCH 17

Upaya menjaga lingkungan dan melindungi satwa liar sering kali membutuhkan keberanian, konsistensi, dan kerja sama dari banyak pihak. Namun, di balik berbagai aksi dan kampanye yang dilakukan, ada satu hal yang tidak kalah penting untuk dipahami oleh para penguat lingkungan, yaitu pengetahuan mengenai hak dan perlindungan hukum bagi aktivis lingkungan.

Topik inilah yang diangkat dalam kegiatan Dating APES Batch 17 yang diselenggarakan pada Kamis sore, 11 Juni 2026. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber yang memiliki pengalaman dan kompetensi di bidang hukum serta perlindungan lingkungan, yaitu Marsya M. Handayani dari Indonesia Center for Environmental Law (ICEL) dan Dwi Nugroho Adhiasto dari SCENTS Indonesia.

Dalam diskusi yang berlangsung hangat dan interaktif tersebut, kedua pemateri mengajak peserta untuk memahami berbagai aspek penting terkait hak-hak warga negara dalam memperjuangkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Para peserta juga diperkenalkan pada berbagai bentuk perlindungan hukum yang tersedia bagi individual maupun kelompok yang terlibat dalam upaya perlindungan lingkungan.

Pembahasan ini menjadi sangat relevan mengingat para aktivis lingkungan, relawan, dan organisasi masyarakat sipil kerap berada di garis depan dalam menyuarakan isu-isu lingkungan, mulai dari perlindungan keanekaragaman hayati, konservasi satwa liar, hingga pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Dalam praktiknya, berbagai tantangan dan risiko dapat dihadapi oleh para pegiat lingkungan, sehingga pemahaman mengenai hak dan mekanisme perlindungan hukum menjadi bekal yang penting.

Dating APES kali ini diikuti oleh lebih dari 30 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang dan organisasi, di antaranya Orangufriends Yogyakarta, BKSDA Yogyakarta, Bisa Indonesia, Kanopi, Kophi Yogyakarta, dan Vidya Nusantara. Selain peserta yang hadir secara langsung, kegiatan ini juga diikuti oleh peserta yang bergabung secara daring dari berbagai daerah.

Keberagaman peserta dan perspektif yang hadir dalam diskusi tersebut memperlihatkan bahwa isu perlindungan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Tidak hanya memahami permasalahan lingkungan, para pegiat juga perlu membekali diri dengan pengetahuan mengenai hak-hak yang dimiliki serta langkah-langkah yang dapat ditempuh ketika menghadapi berbagai tantangan dalam perjuangan menjaga lingkungan.

Melalui Dating APES diharapkan semakin banyak individual dan komunitas yang tidak hanya peduli terhadap kelestarian alam dan satwa liar, tetapi juga memahami pentingnya perlindungan hukum sebagai bagian dari upaya mewujudkan gerakan lingkungan yang aman, inklusif, dan berkelanjutan. (DIT)

BERCERITA LEWAT KARYA, MENEMUKAN MAKNA DI BALIK SETIAP TULISAN ORANGUFRIENDS MEDAN

Menulis bukan sekadar merangkai kata. Menulis adalah proses membangun gagasan, mengelolai pengalaman, dan menyampaikan cerita yang bermakna. Semangat inilah yang diangkat dalam kegiatan Kelas Orangufriends bertajuk “Bercerita Lewat Karya” yang diselenggarakan pada Minggu, 7 Juni 2026 di COP Medan.

Pada kesempatan ini, peserta mendapatkan pembelajaran langsung dari Titan Sadewa, seorang penulis sekaligus guru Bahasa Indonesia yang berbagi pengalaman serta pandangannya tentang dunia kepenulisan. Menurut Titan, menulis adalah sebuah criftmanship atau keterampilan yang perlu diasah melalui pengalaman terhadap bahan dan proses pembentukannya. Layaknya seorang perajin yang menciptakan karya, seorang penulis juga harus memahami cara membangun sebuah cerita dari ide-ide yang sederhana.

Untuk memantik kreativitas peserta, Titan mengajak mereka berpikir melalui pendekatan 4W+1H (What, Who, When, dan How). Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, peserta diajak menggali ide dan menemukan sudut pandang yang dapat dikembangkan menjadi tulisan.

Kegiatan kemudian berlanjut ke sesi yang lebih interaktif. Peserta diajak keluar ruangan untuk menikmati suasana sekitar dan menuliskan 30 kata yang muncul dalam pikiran mereka. Kata-kata tersebut kemudian dirangkai menjadi sebuah paragraf singkat yang terdiri dari 4-5 kalimat. Melalui latihan sederhana ini, peserta belajar bahwa inspirasi dapat ditemukan dimana saja, bahkan dari hal-hal yang tampak biasa.

Salah satu momen yang paling menarik terjadi saat sesi diskusi. Ketika ditanya, “Mengapa seseorang menulis?”, Titan menjawab bahwa setiap orang memiliki alasan yang berbeda, salah satunya sebagai bentuk pemuasan jiwa dan sarana menyalurkan berbagai pikiran yang menumpuk.

Ia juga mengibaratkan menulis seperti lari marathon, membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan pengelolaan energi yang baik. Menulis juga menuntut keberanian untuk menemukan cara baru dalam bercerita, sehingga kebiasaan membaca menjadi bekal penting bagi setiap penulis.

Melalui kegiatan ini, para peserta memperoleh perspektif baru bahwa menulis bukan sekadar aktivitas mencatat, melainkan sebuah keterampilan yang terus ditempa melalui latihan, pengalaman, dan keberanian untuk berkarya. (AGU)

DI ANTARA LUKA DAN KEPEDULIAN

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan kesempatan untuk ikut terlibat dalam kegiatan penanganan satwa desa di Miau Baru bersama Centre for Orangutan Protection (COP) sebagai relawan. Kegiatan ini berfokus pada pengobatan dan penanganan hewan peliharaan milik masyarakat, seperti kucing, anjing, dan beberapa satwa lainnya. Bagi saya, pengalaman ini menjadi sesuatu yang sangat berharga karena membuka pandangan bahwa kepedulian terhadap satwa bisa dimulai dari hal-hal yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Dari kejauhan saya melihat masyarakat datang dengan harapan hewan peliharaan mereka bisa sehat dan tetap hidup sebagaimana mestinya. Melihat hal tersebut, saya semakin menyadari bahwa hubungan antara manusia dan satwa bukan hanya tentang kebutuhan, tetapi juga tentang rasa peduli dan tanggung jawab.

Sebagai relawan, saya belajar bahwa penanganan satwa tidak hanya soal tindakan medis, tetapi juga tentang kesabaran, komunikasi, dan kepedulian terhadap kondisi masyarakat sekitar. Ada banyak hal yang terlihat sederhana, tetapi sebenarnya memiliki arti besar, muai dari membantu proses penanganan, menenangkan hewan, hingga melihat antusiasme masyarakat yang ingin belajar merawat satwa dengan lebih baik.

Melalui kegiatan ini, saya belajar kepedulian terhadap satwa tidak selalu dimulai dari hal besar. Kadang, perhatian kecil terhadap hewan-hewan di sekitar kita juga menjadi bagian penting dalam membangun hubungan yang lebih baik antara manusia dan alam.

Terima kasih kepada seluruh tim COP dan masyarakat Desa Miau Baru atas pengalaman dan pembelajaran yang sangat berarti ini. Semoga kepedulian kecil yang tumbuh hari ini bisa menjadi langkah besar untuk masa depan yang lebih baik bagi manusia dan satwa. (Adi_Orangufriends Wahau)

LOM PLAI: PANEN, DOA, DAN INGATAN YANG TETAP HIDUP

Di Kutai Timur, ketika musim panen tiba, Desa Nehas Liah Bing, atau “Selabing” seperti masyarakat sekitar menyebutnya, berubah menjadi panggung budaya yang dipenuhi musik tradisional, tarian, dan perayaan yang berlangsung hingga malam. Pada April lalu, saya berkesempatan mengikuti Lom Plai, pesta syukur panen padi masyarakat Dayak Wehea yang masih dijalankan turun-temurun sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan alam.
Malam 21 April, sekitar pukul delapan, saya berjalan kaki dari mess APE Crusader menuju lapangan utama desa. Dari kejauhan, suara musik tradisional sudah terdengar dari kejauhan. Semakin dekat ke lapangan, suasana berubah semakin ramai. Deretan pedagang memenuhi sisi jalan, mulai dari penjual makanan, mainan anak-anak, kerajinan tangan, hingga produk UMKM lokal bercampur menjadi pasar malam. 

Ketika saya tiba, acara Dem Jiaq (malam tari bersama) baru dimulai. Anak-anak Dayak dengan pakaian adat berwarna-warni memasuki lapangan satu per satu. Di kepala mereka terpasang hiasan bulu burung khas Dayak yang bergerak lembut mengikuti langkah kaki. Mereka menari membentuk satu baris panjang mengelilingi lapangan, sementara di tengah arena sekelompok orang dewasa memainkan alat musik tradisional dengan irama yang repetitif namun menenangkan.
Semakin malam, jumlah penari terus bertambah. Anak kecil, remaja, hingga orang dewasa bergerak bersama dalam pola yang sama, seolah seluruh desa larut dalam satu irama kolektif.
Di sisi lapangan berdiri sebuah patung Hudoq raksasa yang langsung mencuri perhatian. Tubuhnya tertutup helaian rumput hijau panjang, sementara kepalanya berupa ukiran kayu besar dengan ekspresi magis yang sulit dijelaskan. Dihiasi pantulan cahaya lampu malam, sosok itu tampak seperti penjaga tua yang diam-diam mengawasi seluruh perayaan.
Tarian terus berlangsung hingga menjelang tengah malam.
Keesokan paginya, 22 April, langit di atas Wahau begitu cerah. Sekitar pukul sembilan pagi, saya bersama Eng, Dimi, dan Ferdi dari APE Crusader, serta drh. Tytha yang saat itu sedang bertugas bersama tim rescue COP, kembali menuju lapangan desa.
Hari itu merupakan pembukaan rangkaian utama Lom Plai. Upacara dimulai dengan ritual penyembelihan ayam oleh para tetua adat sebagai persembahan bagi leluhur dan roh penjaga kampung. Di bawah terik matahari pagi, para tamu undangan dari pemerintahan Kutai Timur menyaksikan prosesi yang berlangsung khidmat.
Selepas pembukaan, kami berjalan menuju tepian Sungai Wehea. Di sana suasana berubah jauh lebih meriah. Sungai menjadi pusat berbagai pertunjukan tradisional, antara lain tarian di atas rakit, seksiang (perang-perangan di atas perahu menggunakan tombak dari rumput gajah), hingga lomba dayung putra maupun putri yang memancing sorak-sorai warga di sepanjang bantaran sungai.
Pada waktu yang sama, jalan-jalan kampung dimeriahkan budaya Pengsaq dan Peknai. Warga saling menyiram air, lalu mengoleskan arang ke wajah satu sama lain sambil tertawa. Anak-anak berlarian, sementara orang dewasa yang semula rapi perlahan berubah penuh noda hitam di wajah mereka. Ritual ini menjadi puncak kegembiraan Lom Plai, simbol sukacita setelah musim panen.
Selama Lom Plai berlangsung, keramahtamahan menjadi bagian dari perayaan. Rumah-rumah warga terbuka bagi siapa saja yang datang untuk ikut makan dan berbagi cerita. Hari itu kami mendapat undangan makan di rumah keluarga Pak Bambang, relasi COP yang sudah seperti orang tua sendiri bagi kami di Wahau.
Di atas meja tersaji berbagai hidangan khas hari raya, lengkap dengan makanan khas pesta panen. Kami mencicipi lemang, beras ketan yang dimasak di dalam bambu bersama santan lalu dibakar perlahan di atas api, serta beang bit, makanan tradisional Wehea menyerupai dodol yang dibuat dari tepung beras ketan hasil panen dan gula merah.
Sebelum kembali ke mess untuk beristirahat siang, kami sempat berkeliling melihat tenda gerai kerajinan dan produk khas Dayak di sekitar lapangan. Di tengah berbagai anyaman rotan, kain, dan manik-manik, kami masih menemukan satu gerai yang menjual kepala asli burung rangkong dan julang sebagai pajangan. Pemandangan itu terasa kontras dengan semangat pelestarian alam yang juga hidup di banyak bagian festival. Melihat bagian tubuh satwa liar masih diperjualbelikan secara terbuka menjadi pengingat bahwa hubungan antara tradisi, budaya, dan konservasi masih menyisakan ruang dialog yang panjang.
Sore harinya, sekitar pukul empat, kami kembali ke lapangan untuk menyaksikan ritual yang paling ditunggu, yaitu Hedoq.
Pinggir lapangan sudah penuh oleh masyarakat. Acara diawali dengan tarian mandau oleh para pria, kemudian diikuti tarian para perempuan yang menceritakan penghormatan kepada Dewi Padi, Long Diang Yung. Gerakan mereka lembut namun ritmis, mengikuti gong dan gendang yang semakin lama semakin intens.
Kemudian para penari Hedoq mulai memasuki lapangan.
Kostum mereka terlihat begitu mencolok dan nyaris tidak menyerupai manusia. Tubuh para penari ditutupi daun-daunan, seperti rumput panjang maupun daun pisang, dan anyaman alami yang membuat mereka tampak seperti makhluk hutan. Topeng kayu besar dengan bentuk wajah menyerupai roh atau makhluk mitologi menutupi kepala mereka sepenuhnya.
Ketika para penari Hedoq mulai bergerak, suasana di lapangan berubah drastis. Aura di sana terasa lebih magis, seolah pertunjukan ini bukan sekadar tarian, melainkan ritual pemanggilan sesuatu yang jauh lebih tua dari ingatan manusia.
Menurut kepercayaan masyarakat Wehea, Hedoq adalah tarian ritual yang selalu hadir dalam pesta panen. Mereka percaya Hedoq berasal dari bawah air, dari tanah, dan dari langit. Sosok-sosok ini dianggap sebagai makhluk gaib yang dapat membantu manusia selama dihormati dan diberi sesaji. Melalui ritual ini, masyarakat memohon perlindungan, kesuburan tanaman padi, dan kesejahteraan kampung.
Langit mulai mendung, lalu gerimis kecil turun perlahan. Namun tidak seorang pun meninggalkan lapangan.
Jumlah penari Hedoq terus bertambah. Dari anak-anak hingga orang dewasa, satu demi satu memasuki arena hingga seluruh lapangan terasa penuh oleh sosok-sosok bertopeng dari “dunia lain”. Rumput dan daun pada kostum mereka bergoyang mengikuti langkah kaki dan dentuman gong yang semakin cepat.
Menjelang matahari terbenam, tarian akhirnya selesai. Cahaya jingga sore perlahan hilang di balik awan, sementara masyarakat mulai mendekati para penari untuk berfoto bersama.
Hari mulai gelap ketika kami berjalan pulang kembali ke mess APE Crusader. Dalam kamera, ratusan foto telah tersimpan. Tetapi lebih dari itu, Lom Plai meninggalkan sesuatu yang sulit dipotret, perasaan bahwa di tengah dunia modern yang terus bergerak cepat, masih ada tempat-tempat yang menjaga hubungan manusia dengan alam, leluhur, dan tradisi dengan begitu hidup.

JEJAK YANG TIDAK DITEMUKAN, KEKHAWATIRAN YANG TETAP TINGGAL

Sebuah laporan masyarakat tentang kemunculan Harimau Sumatra di area perkebunan warga. Tidak ada foto. Tidak ada bukti visual. Hanya cerita tentang rasa takut, tentang kemungkinan, tentang sesuatu yang mungkin lewat, atau mungkin tidak pernah benar-benar ada.

Tim APE Protector bersama BKSDA Sumatera Barat datang bukan untuk memastikan ketakutan itu benar, tetapi untuk memverifikasi sebuah kata yang sering terdengar teknis, tapi di langan berarti berjalan, mengamati, dan membaca tanda-tanda yang sering kali samar.

Perkebunan itu tyda sunni. Ada jejak aktivitas manusia, tanaman, jalur setapak, dan ruang-ruang yang perlahan berubah dari hutan menjadi sesuatu yang lain. Di tempat seperti ini, batas antara ruang manusia dan ruang satwa liar tidak pernah benar-benar jelas. Dan di sanalah tim mulai mencari. Jejak kaki. Cakaran. Sisa kotoran. Tanda-tanda kecil yang jika ada, bisa mengubah cerita dari sekedar dugaan menjadi kenyataan.

Namun tidak ada yang ditemukan. Tidak ada tanda keberadaan Harimau Sumatra di lokasi pertama. Tidak ada bukti bahwa satwa itu benar-benar melintas atau mungkin ia sudah lama pergi sebelum manusia menyadarinya. Dalam banyak kasus konflik satwa liar, ketidakhadiran justru menjadi bagian dari cerita. Harimau Sumatra dikenal sebagai satwa yang soliter dan sangat adaptif terhadap lingkungannya. Ia bisa muncul tanpa terlihat dan menghilang tanpa jejak yang mudah dibaca manusia.

Dan justru di situlah persoalan menjadi lebih kompleks. Karena yang dihadapi bukan hanya keberadaan satwa, tetapi juga persepsi manusia terhadap kemungkinan keberadaan itu. Tim kemudian bergerak ke lokasi lain perkebunan milik Wali Nagari Air Manggih. Berbeda dengan lokasi sebelumnya, area ini bukan sekadar titik laporan, tetapi ruang yang sudah memiliki “riwayat”. Tempat dimana harimau disebut lebih sering muncul. Bukan sekali, bukan kebetulan.

Ada pola atau setidaknya, dugaan adanya pola. Di Sumatra Barat sendiri, laporan konflik antara manusia dan Harimau Sumatra bukan hal baru. Dalam beberapa bulan terakhir, kasus-kasus seperti kemunculan di perkebunan, pemangsaan ternak, hingga jejak lintasan di dekat permukiman terus dilaporkan. Namun, pola itu tidak selalu berarti ancaman yang ama di setiap lokasi.

Kadang, ia hanya lintasan. Kadang, ia bagian dari pergerakan alami mencari makan, mencari wilayah atau sekadar melewati ruang yang dulunya adalah habitatnya. Perubahan lanskap, terutama akibat alih fungsi hutan menjadi perkebunan telah mempersempit ruang hidup satwa liar dan memaksa mereka beradaptasi dengan ruang yang semakin terbatas. Dan di titik itulah manusia dan harimau mulai “bertemu”.

Bukan karena keduanya ingin, tetapi karena ruang di antara mereka semakin tipis. Di lokasi kedua ini, tim tidak hanya mencari mereka mulai memasang kamera jebak. Sebuah alat yang dalam konteks seperti ini menjadi perpanjangan dari pengamatan manusia. Ia tidak mengandalkan dugaan atau cerita. Ia menunggu. Diam. Mereka apa yang benar-benar lewat, bukan apa yang dikhawatirkan akan lewat. Keputusan memasang kamera jebak bukan sekadar langkah teknis. Ia adalah cara untuk memindahkan narasi dari asumsi ke data. Karena dalam konflik satwa liar, kesalahan membaca situasi bisa berujung panjang baik bagi manusia maupun bagi satwa itu sendiri.

Harimau Sumatra yang kini berstatus kritis dengan populasi yang diperkirakan hanya ratusan individu di alam liar, hidup dalam tekanan yang tidak sederhana. Di satu sisi, ia harus bertahan hidup. Di sisi lain, ruang hidupnya terus menyempit. Dan di tengah itu, setiap laporan kemunculan bisa menjadi titik awal dari dua kemungkinan yaitu perlindungan atau konflik yang lebih besar.

Hari itu, tidak ada harimau yang terlihat. Tidak ada bukti yang mengonfirmasi kehadirannya di lokasi pertama. Hanya tanah yang tetap sama, pohon yang tetap berdiri, dan perkebunan yang berjalan seperti biasa. Namun, pekerjaan tidak berhenti di sana. Karena dalam konservasi, ketidakhadiran bukan berarti selesai.

Justru sebaliknya ia menjadi alasan untuk terus memantau, terus memahami, dan terus menjaga jarak yang semakin tipis antara manusia dan satwa liar. Kamera jebak yang dipasang akan bekerja dalam diam. Dan mungkin, beberapa hari atau minggu kemudian, ia akan menangkap sesuatu sepasang mata di malam hari, bayangan yang bergerak cepat atau bahkan tidak ada sama sekali.

Keduanya sama pentingnya, karena dalam ruang yang terus berubah ini, memahami apa yang tidak terjadi sering kali sama pentingnya dengan memahami apa yang benar-benar terjadi. Di antara itu semua, satu hal tetap jelas yaitu konflik tidak selalu dimulai dari pertemuan. Kadang dimulai dari ruang yang perlahan hilang. (APE Protector)

AIR YANG TIDAK LAGI BISA DITEBAK DAN CARA KITA MEMAHAMINYA KEMBALI

April, katanya musim kemarau. Kalimat itu biasanya datang tanpa banyak dipertanyakan. Seperti sesuatu yang sudah disepakati bersama bahwa pada bulan ini, hujan seharusnya mulai menjauh, langit menjadi lebih terang dan tanah perlahan mengering. Namun hari itu berbeda. Hujan turun saat matahari masih terasa dekat. Tidak deras, tidak juga sebentar. Ia hadir di waktu yang seharusnya milik panas. Seolah-olah musim tidak lagi mengikuti urutannya sendiri.

Jumat, 24 April lalu, di Camp APE Warrior telah digelar diskusi bulanan Dating APES. Narasumber ke-14, Resa Fondania dari Earth Hour Jogja membawa satu topik yang terdengar akrab, tetapi seringkali dipahami secara dangkal. Air yang kita minum, air yang mengalir di sungai, air yang turun dari langit. Air yang kita kira selalu ada.

Diskusi sore dihadiri mahasiswa dan perwakilan instansi dengan pertanyaan yang kurang lebih sama. Mengapa kondisi air hari ini terasa semakin tidak menentu? Alih-alih memberi jawaban yang cepat, Resa justru mengajak peserta untuk melihat ulang cara kita memahami air itu sendiri. Bahwa air bukan sekadar sumber daya. Ia adalah sistem. Ia bergerak, tersimpan, muncul, dan menghilang dalam siklus yang tidak berdiri sendiri. Apa yang terjadi di permukaan hujan yang datang tidak pada waktunya, genangan yang tiba-tiba muncul atau sumber air yang perlahan mengering sering kali merupakan gejala dari sesuatu yang lebih dalam.

Sebagai seseorang yang menaruh perhatian pada hidrogeologi, Resa melihat air bukan hanya dari apa yang tampak, tetapi juga dari apa yang tersembunyi di bawah tanah. Lapisan tanah, batuan, pori-pori yang menyimpan air, hingga bagaimana air itu bergerak tanpa kita sadari. Dan di titik itulah diskusi mulai bergeser.

Dari “mengapa hujan turun tidak pada waktunya” menjadi “apa yang telah berubah dari cara kita memperlakukan tanah dan air”. Perubahan tutupan lahan, eksploitasi sumber air tanpa jeda, hingga cara kita membangun ruang hidup yang semakin menutup tanah dari kemampuan alaminya menyerap air semuanya perlahan mengganggu keseimbangan yang selama ini bekerja tanpa kita sadari.

Air tidak hilang, ia hanya tidak lagi berada di tempat yang kita harapkan. Kadang terlalu banyak dalam waktu yang singkat. Kadang terlalu sedikit dalam waktu yang panjang. Di antara dua kondisi itu, manusia sering kali berdiri tanpa kesiapan. Diskusi sore itu tidak berhenti pada data atau teori. Ia bergerak ke pengalaman. Resa tidak hanya berbicara sebagai narasumber, tetapi sebagai seseorang yang terlibat langsung dalam isu lingkungan. Ada satu benang merah yang terasa jelas bahwa memahami air tidak bisa dilakukan dari jarak jauh. Ia harus dilihat, dirasakan, dan diamati secara langsung.

Bagaimana masyarakat berinteraksi dengan sumber air. Bagaimana perubahan kecil di lingkungan bisa berdampak pada ketersediaan air dalam jangka panjang dan bagaimana sering kali kita baru menyadari pentingnya air ketika ia mulai sulit ditemukan. Di camp APE Warrior pembelajaran itu terasa lebih kontekstual.

Di ruang seperti ini, air bukan hanya topik diskusi. Ia bagian dari kehidupan sehari-hari. Dari aktivitas di lapangan, dari interaksi dengan alam, hingga dari perubahan cuaca yang langsung dirasakan. Hujan yang turun di luar jadwal itu, tiba-tiba menjadi lebih dari sekadar anomali cuaca. Ia menjadi pengingat, bahwa ada sesuatu yang sedang berubah dan perubahan itu tidak selalu terlihat secara langsung.

Menjelang sore, ketika hujan dan terik masih datang bersamaan, diskusi ditutup dengan satu kalimat yang sederhana, “Memayu Hayuning Tirta” bermakna merawat keindahan air. Bukan dalam arti estetika, tetapi dalam makna yang lebih dalam menjaga keseimbangannya, memahami pergerakannya dan menghargai perannya dalam kehidupan. Mungkin masalahnya bukan pada air yang berubah, tetapi pada kita yang belum cukup memahami bagaimana ia bekerja. Di tengah musim yang tidak lagi bisa ditebak, belajar kembali memahami air mungkin bukan lagi pilihan. Tapi kebutuhan. (DIT)

EDUKASI MITIGASI BENCANA DI SMA INSAN MULIA BOARDING SCHOOL

Pada Jumat, 17 April 2026, Tim Disaster melaksanakan kegiatan edukasi mitigasi bencana di SMA Insan Mulia Boarding School, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini berlangsung mulai pukul 13.30 hingga 15.00 WIB dan diikuti oleh 90 peserta didik dari kelas X dan XI. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana, khususnya di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

Sekolah ini memiliki posisi yang cukup strategis sekaligus rentan, karena berjarak sekitar 20-25 kilometer dari Kawasan Rawan Bencana (KRB) I berdasarkan peta potensi bahaya Gunung Merapi. Kedekatan geografis ini menjadikan edukasi kebencanaan bukan hanya penting, tetapi juga sangat relevan bagi seluruh warga sekolah. Dalam konteks ini, pemahaman yang baik mengenai langkah-langkah mitigasi dapat menjadi bekal penting untuk mengurangi risiko dan dampak yang mungkin terjadi di masa mendatang.

Dalam sesi edukasi, Tim Disaster tidak hanya memperkenalkan profil dan kegiatan tim, tetapi juga menyampaikan materi mengenai mitigasi bencana yang berfokus pada perlindungan satwa. Topik ini menjadi penting karena dalam banyak kejadian bencana, satwa sering kali menjadi pihak yang paling terdampak namun kurang mendapatkan perhatian. Melalui pendekatan ini, peserta diajak untuk memahami bahwa upaya penyelamatan saat bencana tidak hanya sebatas pada manusia, tetapi juga mencakup makhluk hidup lain yang berbagi ruang hidup yang sama.

Materi yang disampaikan mencakup pengenalan dasar tentang animal disaster relief, langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk melindungi satwa saat terjadi bencana, serta pentingnya kesiapsiagaanku sejak dini. Para siswa terlihat antusias mengikuti sesi demi sesi, terutama saat diskusi interaktif yang membuana ruang bagi mereka untuk bertanya dan berbagi pandangan. Hal ini menunjukkan bahwa generasi muda memiliki kepedulian yang tinggi terhadap isu kemanusiaan dan lingkungan, termasuk perlindungan satwa.

Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menanamkan nilai empati dan tanggung jawab kepada peserta didik. Dengan memahami bahwa satwa juga merupakan bagian dari ekosistem yang perlu dilindungi, diharapkan para siswa dapat menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing. Mereka tidak hanya diharapkan mampu melindungi diri sendiri saat terjadi bencana, tetapi juga memiliki kesadaran untuk membantu makhluk hidup lain yang terdampak.

Melalui kegiatan ni, Tim Disaster berharap dapat terus memperluas jangkauan edukasi kebencanaan, terutama di wilayah-wilayah yang berada di sekitar kawasan rawan bencana. Kolaborasi dengan institusi pendidikan menjadi langkah strategis dalam sebangun budaya sadar bencana sejak dini. Dengan pengetahuan dan kesiapan yang memadai, risiko dapat diminimalkan dan dampak bencana dapat ditekan.

Edukasi seperti ini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan adalah tanggung jawab bersama. Di tengah ancaman bencana alam yang tidak dapat diprediksi, langkah kecil dalam meningkatkan pemahaman dan kesadaran dapat membawa dampak besar bagi keselamatan manusia dan satwa di masa depan. (VID)