Orangufriends

BERCERITA LEWAT KARYA, MENEMUKAN MAKNA DI BALIK SETIAP TULISAN ORANGUFRIENDS MEDAN

Menulis bukan sekadar merangkai kata. Menulis adalah proses membangun gagasan, mengelolai pengalaman, dan menyampaikan cerita yang bermakna. Semangat inilah yang diangkat dalam kegiatan Kelas Orangufriends bertajuk “Bercerita Lewat Karya” yang diselenggarakan pada Minggu, 7 Juni 2026 di COP Medan.

Pada kesempatan ini, peserta mendapatkan pembelajaran langsung dari Titan Sadewa, seorang penulis sekaligus guru Bahasa Indonesia yang berbagi pengalaman serta pandangannya tentang dunia kepenulisan. Menurut Titan, menulis adalah sebuah criftmanship atau keterampilan yang perlu diasah melalui pengalaman terhadap bahan dan proses pembentukannya. Layaknya seorang perajin yang menciptakan karya, seorang penulis juga harus memahami cara membangun sebuah cerita dari ide-ide yang sederhana.

Untuk memantik kreativitas peserta, Titan mengajak mereka berpikir melalui pendekatan 4W+1H (What, Who, When, dan How). Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, peserta diajak menggali ide dan menemukan sudut pandang yang dapat dikembangkan menjadi tulisan.

Kegiatan kemudian berlanjut ke sesi yang lebih interaktif. Peserta diajak keluar ruangan untuk menikmati suasana sekitar dan menuliskan 30 kata yang muncul dalam pikiran mereka. Kata-kata tersebut kemudian dirangkai menjadi sebuah paragraf singkat yang terdiri dari 4-5 kalimat. Melalui latihan sederhana ini, peserta belajar bahwa inspirasi dapat ditemukan dimana saja, bahkan dari hal-hal yang tampak biasa.

Salah satu momen yang paling menarik terjadi saat sesi diskusi. Ketika ditanya, “Mengapa seseorang menulis?”, Titan menjawab bahwa setiap orang memiliki alasan yang berbeda, salah satunya sebagai bentuk pemuasan jiwa dan sarana menyalurkan berbagai pikiran yang menumpuk.

Ia juga mengibaratkan menulis seperti lari marathon, membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan pengelolaan energi yang baik. Menulis juga menuntut keberanian untuk menemukan cara baru dalam bercerita, sehingga kebiasaan membaca menjadi bekal penting bagi setiap penulis.

Melalui kegiatan ini, para peserta memperoleh perspektif baru bahwa menulis bukan sekadar aktivitas mencatat, melainkan sebuah keterampilan yang terus ditempa melalui latihan, pengalaman, dan keberanian untuk berkarya. (AGU)

DI ANTARA LUKA DAN KEPEDULIAN

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan kesempatan untuk ikut terlibat dalam kegiatan penanganan satwa desa di Miau Baru bersama Centre for Orangutan Protection (COP) sebagai relawan. Kegiatan ini berfokus pada pengobatan dan penanganan hewan peliharaan milik masyarakat, seperti kucing, anjing, dan beberapa satwa lainnya. Bagi saya, pengalaman ini menjadi sesuatu yang sangat berharga karena membuka pandangan bahwa kepedulian terhadap satwa bisa dimulai dari hal-hal yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Dari kejauhan saya melihat masyarakat datang dengan harapan hewan peliharaan mereka bisa sehat dan tetap hidup sebagaimana mestinya. Melihat hal tersebut, saya semakin menyadari bahwa hubungan antara manusia dan satwa bukan hanya tentang kebutuhan, tetapi juga tentang rasa peduli dan tanggung jawab.

Sebagai relawan, saya belajar bahwa penanganan satwa tidak hanya soal tindakan medis, tetapi juga tentang kesabaran, komunikasi, dan kepedulian terhadap kondisi masyarakat sekitar. Ada banyak hal yang terlihat sederhana, tetapi sebenarnya memiliki arti besar, muai dari membantu proses penanganan, menenangkan hewan, hingga melihat antusiasme masyarakat yang ingin belajar merawat satwa dengan lebih baik.

Melalui kegiatan ini, saya belajar kepedulian terhadap satwa tidak selalu dimulai dari hal besar. Kadang, perhatian kecil terhadap hewan-hewan di sekitar kita juga menjadi bagian penting dalam membangun hubungan yang lebih baik antara manusia dan alam.

Terima kasih kepada seluruh tim COP dan masyarakat Desa Miau Baru atas pengalaman dan pembelajaran yang sangat berarti ini. Semoga kepedulian kecil yang tumbuh hari ini bisa menjadi langkah besar untuk masa depan yang lebih baik bagi manusia dan satwa. (Adi_Orangufriends Wahau)

LOM PLAI: PANEN, DOA, DAN INGATAN YANG TETAP HIDUP

Di Kutai Timur, ketika musim panen tiba, Desa Nehas Liah Bing, atau “Selabing” seperti masyarakat sekitar menyebutnya, berubah menjadi panggung budaya yang dipenuhi musik tradisional, tarian, dan perayaan yang berlangsung hingga malam. Pada April lalu, saya berkesempatan mengikuti Lom Plai, pesta syukur panen padi masyarakat Dayak Wehea yang masih dijalankan turun-temurun sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan alam.
Malam 21 April, sekitar pukul delapan, saya berjalan kaki dari mess APE Crusader menuju lapangan utama desa. Dari kejauhan, suara musik tradisional sudah terdengar dari kejauhan. Semakin dekat ke lapangan, suasana berubah semakin ramai. Deretan pedagang memenuhi sisi jalan, mulai dari penjual makanan, mainan anak-anak, kerajinan tangan, hingga produk UMKM lokal bercampur menjadi pasar malam. 

Ketika saya tiba, acara Dem Jiaq (malam tari bersama) baru dimulai. Anak-anak Dayak dengan pakaian adat berwarna-warni memasuki lapangan satu per satu. Di kepala mereka terpasang hiasan bulu burung khas Dayak yang bergerak lembut mengikuti langkah kaki. Mereka menari membentuk satu baris panjang mengelilingi lapangan, sementara di tengah arena sekelompok orang dewasa memainkan alat musik tradisional dengan irama yang repetitif namun menenangkan.
Semakin malam, jumlah penari terus bertambah. Anak kecil, remaja, hingga orang dewasa bergerak bersama dalam pola yang sama, seolah seluruh desa larut dalam satu irama kolektif.
Di sisi lapangan berdiri sebuah patung Hudoq raksasa yang langsung mencuri perhatian. Tubuhnya tertutup helaian rumput hijau panjang, sementara kepalanya berupa ukiran kayu besar dengan ekspresi magis yang sulit dijelaskan. Dihiasi pantulan cahaya lampu malam, sosok itu tampak seperti penjaga tua yang diam-diam mengawasi seluruh perayaan.
Tarian terus berlangsung hingga menjelang tengah malam.
Keesokan paginya, 22 April, langit di atas Wahau begitu cerah. Sekitar pukul sembilan pagi, saya bersama Eng, Dimi, dan Ferdi dari APE Crusader, serta drh. Tytha yang saat itu sedang bertugas bersama tim rescue COP, kembali menuju lapangan desa.
Hari itu merupakan pembukaan rangkaian utama Lom Plai. Upacara dimulai dengan ritual penyembelihan ayam oleh para tetua adat sebagai persembahan bagi leluhur dan roh penjaga kampung. Di bawah terik matahari pagi, para tamu undangan dari pemerintahan Kutai Timur menyaksikan prosesi yang berlangsung khidmat.
Selepas pembukaan, kami berjalan menuju tepian Sungai Wehea. Di sana suasana berubah jauh lebih meriah. Sungai menjadi pusat berbagai pertunjukan tradisional, antara lain tarian di atas rakit, seksiang (perang-perangan di atas perahu menggunakan tombak dari rumput gajah), hingga lomba dayung putra maupun putri yang memancing sorak-sorai warga di sepanjang bantaran sungai.
Pada waktu yang sama, jalan-jalan kampung dimeriahkan budaya Pengsaq dan Peknai. Warga saling menyiram air, lalu mengoleskan arang ke wajah satu sama lain sambil tertawa. Anak-anak berlarian, sementara orang dewasa yang semula rapi perlahan berubah penuh noda hitam di wajah mereka. Ritual ini menjadi puncak kegembiraan Lom Plai, simbol sukacita setelah musim panen.
Selama Lom Plai berlangsung, keramahtamahan menjadi bagian dari perayaan. Rumah-rumah warga terbuka bagi siapa saja yang datang untuk ikut makan dan berbagi cerita. Hari itu kami mendapat undangan makan di rumah keluarga Pak Bambang, relasi COP yang sudah seperti orang tua sendiri bagi kami di Wahau.
Di atas meja tersaji berbagai hidangan khas hari raya, lengkap dengan makanan khas pesta panen. Kami mencicipi lemang, beras ketan yang dimasak di dalam bambu bersama santan lalu dibakar perlahan di atas api, serta beang bit, makanan tradisional Wehea menyerupai dodol yang dibuat dari tepung beras ketan hasil panen dan gula merah.
Sebelum kembali ke mess untuk beristirahat siang, kami sempat berkeliling melihat tenda gerai kerajinan dan produk khas Dayak di sekitar lapangan. Di tengah berbagai anyaman rotan, kain, dan manik-manik, kami masih menemukan satu gerai yang menjual kepala asli burung rangkong dan julang sebagai pajangan. Pemandangan itu terasa kontras dengan semangat pelestarian alam yang juga hidup di banyak bagian festival. Melihat bagian tubuh satwa liar masih diperjualbelikan secara terbuka menjadi pengingat bahwa hubungan antara tradisi, budaya, dan konservasi masih menyisakan ruang dialog yang panjang.
Sore harinya, sekitar pukul empat, kami kembali ke lapangan untuk menyaksikan ritual yang paling ditunggu, yaitu Hedoq.
Pinggir lapangan sudah penuh oleh masyarakat. Acara diawali dengan tarian mandau oleh para pria, kemudian diikuti tarian para perempuan yang menceritakan penghormatan kepada Dewi Padi, Long Diang Yung. Gerakan mereka lembut namun ritmis, mengikuti gong dan gendang yang semakin lama semakin intens.
Kemudian para penari Hedoq mulai memasuki lapangan.
Kostum mereka terlihat begitu mencolok dan nyaris tidak menyerupai manusia. Tubuh para penari ditutupi daun-daunan, seperti rumput panjang maupun daun pisang, dan anyaman alami yang membuat mereka tampak seperti makhluk hutan. Topeng kayu besar dengan bentuk wajah menyerupai roh atau makhluk mitologi menutupi kepala mereka sepenuhnya.
Ketika para penari Hedoq mulai bergerak, suasana di lapangan berubah drastis. Aura di sana terasa lebih magis, seolah pertunjukan ini bukan sekadar tarian, melainkan ritual pemanggilan sesuatu yang jauh lebih tua dari ingatan manusia.
Menurut kepercayaan masyarakat Wehea, Hedoq adalah tarian ritual yang selalu hadir dalam pesta panen. Mereka percaya Hedoq berasal dari bawah air, dari tanah, dan dari langit. Sosok-sosok ini dianggap sebagai makhluk gaib yang dapat membantu manusia selama dihormati dan diberi sesaji. Melalui ritual ini, masyarakat memohon perlindungan, kesuburan tanaman padi, dan kesejahteraan kampung.
Langit mulai mendung, lalu gerimis kecil turun perlahan. Namun tidak seorang pun meninggalkan lapangan.
Jumlah penari Hedoq terus bertambah. Dari anak-anak hingga orang dewasa, satu demi satu memasuki arena hingga seluruh lapangan terasa penuh oleh sosok-sosok bertopeng dari “dunia lain”. Rumput dan daun pada kostum mereka bergoyang mengikuti langkah kaki dan dentuman gong yang semakin cepat.
Menjelang matahari terbenam, tarian akhirnya selesai. Cahaya jingga sore perlahan hilang di balik awan, sementara masyarakat mulai mendekati para penari untuk berfoto bersama.
Hari mulai gelap ketika kami berjalan pulang kembali ke mess APE Crusader. Dalam kamera, ratusan foto telah tersimpan. Tetapi lebih dari itu, Lom Plai meninggalkan sesuatu yang sulit dipotret, perasaan bahwa di tengah dunia modern yang terus bergerak cepat, masih ada tempat-tempat yang menjaga hubungan manusia dengan alam, leluhur, dan tradisi dengan begitu hidup.

JEJAK YANG TIDAK DITEMUKAN, KEKHAWATIRAN YANG TETAP TINGGAL

Sebuah laporan masyarakat tentang kemunculan Harimau Sumatra di area perkebunan warga. Tidak ada foto. Tidak ada bukti visual. Hanya cerita tentang rasa takut, tentang kemungkinan, tentang sesuatu yang mungkin lewat, atau mungkin tidak pernah benar-benar ada.

Tim APE Protector bersama BKSDA Sumatera Barat datang bukan untuk memastikan ketakutan itu benar, tetapi untuk memverifikasi sebuah kata yang sering terdengar teknis, tapi di langan berarti berjalan, mengamati, dan membaca tanda-tanda yang sering kali samar.

Perkebunan itu tyda sunni. Ada jejak aktivitas manusia, tanaman, jalur setapak, dan ruang-ruang yang perlahan berubah dari hutan menjadi sesuatu yang lain. Di tempat seperti ini, batas antara ruang manusia dan ruang satwa liar tidak pernah benar-benar jelas. Dan di sanalah tim mulai mencari. Jejak kaki. Cakaran. Sisa kotoran. Tanda-tanda kecil yang jika ada, bisa mengubah cerita dari sekedar dugaan menjadi kenyataan.

Namun tidak ada yang ditemukan. Tidak ada tanda keberadaan Harimau Sumatra di lokasi pertama. Tidak ada bukti bahwa satwa itu benar-benar melintas atau mungkin ia sudah lama pergi sebelum manusia menyadarinya. Dalam banyak kasus konflik satwa liar, ketidakhadiran justru menjadi bagian dari cerita. Harimau Sumatra dikenal sebagai satwa yang soliter dan sangat adaptif terhadap lingkungannya. Ia bisa muncul tanpa terlihat dan menghilang tanpa jejak yang mudah dibaca manusia.

Dan justru di situlah persoalan menjadi lebih kompleks. Karena yang dihadapi bukan hanya keberadaan satwa, tetapi juga persepsi manusia terhadap kemungkinan keberadaan itu. Tim kemudian bergerak ke lokasi lain perkebunan milik Wali Nagari Air Manggih. Berbeda dengan lokasi sebelumnya, area ini bukan sekadar titik laporan, tetapi ruang yang sudah memiliki “riwayat”. Tempat dimana harimau disebut lebih sering muncul. Bukan sekali, bukan kebetulan.

Ada pola atau setidaknya, dugaan adanya pola. Di Sumatra Barat sendiri, laporan konflik antara manusia dan Harimau Sumatra bukan hal baru. Dalam beberapa bulan terakhir, kasus-kasus seperti kemunculan di perkebunan, pemangsaan ternak, hingga jejak lintasan di dekat permukiman terus dilaporkan. Namun, pola itu tidak selalu berarti ancaman yang ama di setiap lokasi.

Kadang, ia hanya lintasan. Kadang, ia bagian dari pergerakan alami mencari makan, mencari wilayah atau sekadar melewati ruang yang dulunya adalah habitatnya. Perubahan lanskap, terutama akibat alih fungsi hutan menjadi perkebunan telah mempersempit ruang hidup satwa liar dan memaksa mereka beradaptasi dengan ruang yang semakin terbatas. Dan di titik itulah manusia dan harimau mulai “bertemu”.

Bukan karena keduanya ingin, tetapi karena ruang di antara mereka semakin tipis. Di lokasi kedua ini, tim tidak hanya mencari mereka mulai memasang kamera jebak. Sebuah alat yang dalam konteks seperti ini menjadi perpanjangan dari pengamatan manusia. Ia tidak mengandalkan dugaan atau cerita. Ia menunggu. Diam. Mereka apa yang benar-benar lewat, bukan apa yang dikhawatirkan akan lewat. Keputusan memasang kamera jebak bukan sekadar langkah teknis. Ia adalah cara untuk memindahkan narasi dari asumsi ke data. Karena dalam konflik satwa liar, kesalahan membaca situasi bisa berujung panjang baik bagi manusia maupun bagi satwa itu sendiri.

Harimau Sumatra yang kini berstatus kritis dengan populasi yang diperkirakan hanya ratusan individu di alam liar, hidup dalam tekanan yang tidak sederhana. Di satu sisi, ia harus bertahan hidup. Di sisi lain, ruang hidupnya terus menyempit. Dan di tengah itu, setiap laporan kemunculan bisa menjadi titik awal dari dua kemungkinan yaitu perlindungan atau konflik yang lebih besar.

Hari itu, tidak ada harimau yang terlihat. Tidak ada bukti yang mengonfirmasi kehadirannya di lokasi pertama. Hanya tanah yang tetap sama, pohon yang tetap berdiri, dan perkebunan yang berjalan seperti biasa. Namun, pekerjaan tidak berhenti di sana. Karena dalam konservasi, ketidakhadiran bukan berarti selesai.

Justru sebaliknya ia menjadi alasan untuk terus memantau, terus memahami, dan terus menjaga jarak yang semakin tipis antara manusia dan satwa liar. Kamera jebak yang dipasang akan bekerja dalam diam. Dan mungkin, beberapa hari atau minggu kemudian, ia akan menangkap sesuatu sepasang mata di malam hari, bayangan yang bergerak cepat atau bahkan tidak ada sama sekali.

Keduanya sama pentingnya, karena dalam ruang yang terus berubah ini, memahami apa yang tidak terjadi sering kali sama pentingnya dengan memahami apa yang benar-benar terjadi. Di antara itu semua, satu hal tetap jelas yaitu konflik tidak selalu dimulai dari pertemuan. Kadang dimulai dari ruang yang perlahan hilang. (APE Protector)

AIR YANG TIDAK LAGI BISA DITEBAK DAN CARA KITA MEMAHAMINYA KEMBALI

April, katanya musim kemarau. Kalimat itu biasanya datang tanpa banyak dipertanyakan. Seperti sesuatu yang sudah disepakati bersama bahwa pada bulan ini, hujan seharusnya mulai menjauh, langit menjadi lebih terang dan tanah perlahan mengering. Namun hari itu berbeda. Hujan turun saat matahari masih terasa dekat. Tidak deras, tidak juga sebentar. Ia hadir di waktu yang seharusnya milik panas. Seolah-olah musim tidak lagi mengikuti urutannya sendiri.

Jumat, 24 April lalu, di Camp APE Warrior telah digelar diskusi bulanan Dating APES. Narasumber ke-14, Resa Fondania dari Earth Hour Jogja membawa satu topik yang terdengar akrab, tetapi seringkali dipahami secara dangkal. Air yang kita minum, air yang mengalir di sungai, air yang turun dari langit. Air yang kita kira selalu ada.

Diskusi sore dihadiri mahasiswa dan perwakilan instansi dengan pertanyaan yang kurang lebih sama. Mengapa kondisi air hari ini terasa semakin tidak menentu? Alih-alih memberi jawaban yang cepat, Resa justru mengajak peserta untuk melihat ulang cara kita memahami air itu sendiri. Bahwa air bukan sekadar sumber daya. Ia adalah sistem. Ia bergerak, tersimpan, muncul, dan menghilang dalam siklus yang tidak berdiri sendiri. Apa yang terjadi di permukaan hujan yang datang tidak pada waktunya, genangan yang tiba-tiba muncul atau sumber air yang perlahan mengering sering kali merupakan gejala dari sesuatu yang lebih dalam.

Sebagai seseorang yang menaruh perhatian pada hidrogeologi, Resa melihat air bukan hanya dari apa yang tampak, tetapi juga dari apa yang tersembunyi di bawah tanah. Lapisan tanah, batuan, pori-pori yang menyimpan air, hingga bagaimana air itu bergerak tanpa kita sadari. Dan di titik itulah diskusi mulai bergeser.

Dari “mengapa hujan turun tidak pada waktunya” menjadi “apa yang telah berubah dari cara kita memperlakukan tanah dan air”. Perubahan tutupan lahan, eksploitasi sumber air tanpa jeda, hingga cara kita membangun ruang hidup yang semakin menutup tanah dari kemampuan alaminya menyerap air semuanya perlahan mengganggu keseimbangan yang selama ini bekerja tanpa kita sadari.

Air tidak hilang, ia hanya tidak lagi berada di tempat yang kita harapkan. Kadang terlalu banyak dalam waktu yang singkat. Kadang terlalu sedikit dalam waktu yang panjang. Di antara dua kondisi itu, manusia sering kali berdiri tanpa kesiapan. Diskusi sore itu tidak berhenti pada data atau teori. Ia bergerak ke pengalaman. Resa tidak hanya berbicara sebagai narasumber, tetapi sebagai seseorang yang terlibat langsung dalam isu lingkungan. Ada satu benang merah yang terasa jelas bahwa memahami air tidak bisa dilakukan dari jarak jauh. Ia harus dilihat, dirasakan, dan diamati secara langsung.

Bagaimana masyarakat berinteraksi dengan sumber air. Bagaimana perubahan kecil di lingkungan bisa berdampak pada ketersediaan air dalam jangka panjang dan bagaimana sering kali kita baru menyadari pentingnya air ketika ia mulai sulit ditemukan. Di camp APE Warrior pembelajaran itu terasa lebih kontekstual.

Di ruang seperti ini, air bukan hanya topik diskusi. Ia bagian dari kehidupan sehari-hari. Dari aktivitas di lapangan, dari interaksi dengan alam, hingga dari perubahan cuaca yang langsung dirasakan. Hujan yang turun di luar jadwal itu, tiba-tiba menjadi lebih dari sekadar anomali cuaca. Ia menjadi pengingat, bahwa ada sesuatu yang sedang berubah dan perubahan itu tidak selalu terlihat secara langsung.

Menjelang sore, ketika hujan dan terik masih datang bersamaan, diskusi ditutup dengan satu kalimat yang sederhana, “Memayu Hayuning Tirta” bermakna merawat keindahan air. Bukan dalam arti estetika, tetapi dalam makna yang lebih dalam menjaga keseimbangannya, memahami pergerakannya dan menghargai perannya dalam kehidupan. Mungkin masalahnya bukan pada air yang berubah, tetapi pada kita yang belum cukup memahami bagaimana ia bekerja. Di tengah musim yang tidak lagi bisa ditebak, belajar kembali memahami air mungkin bukan lagi pilihan. Tapi kebutuhan. (DIT)

EDUKASI MITIGASI BENCANA DI SMA INSAN MULIA BOARDING SCHOOL

Pada Jumat, 17 April 2026, Tim Disaster melaksanakan kegiatan edukasi mitigasi bencana di SMA Insan Mulia Boarding School, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini berlangsung mulai pukul 13.30 hingga 15.00 WIB dan diikuti oleh 90 peserta didik dari kelas X dan XI. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana, khususnya di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

Sekolah ini memiliki posisi yang cukup strategis sekaligus rentan, karena berjarak sekitar 20-25 kilometer dari Kawasan Rawan Bencana (KRB) I berdasarkan peta potensi bahaya Gunung Merapi. Kedekatan geografis ini menjadikan edukasi kebencanaan bukan hanya penting, tetapi juga sangat relevan bagi seluruh warga sekolah. Dalam konteks ini, pemahaman yang baik mengenai langkah-langkah mitigasi dapat menjadi bekal penting untuk mengurangi risiko dan dampak yang mungkin terjadi di masa mendatang.

Dalam sesi edukasi, Tim Disaster tidak hanya memperkenalkan profil dan kegiatan tim, tetapi juga menyampaikan materi mengenai mitigasi bencana yang berfokus pada perlindungan satwa. Topik ini menjadi penting karena dalam banyak kejadian bencana, satwa sering kali menjadi pihak yang paling terdampak namun kurang mendapatkan perhatian. Melalui pendekatan ini, peserta diajak untuk memahami bahwa upaya penyelamatan saat bencana tidak hanya sebatas pada manusia, tetapi juga mencakup makhluk hidup lain yang berbagi ruang hidup yang sama.

Materi yang disampaikan mencakup pengenalan dasar tentang animal disaster relief, langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk melindungi satwa saat terjadi bencana, serta pentingnya kesiapsiagaanku sejak dini. Para siswa terlihat antusias mengikuti sesi demi sesi, terutama saat diskusi interaktif yang membuana ruang bagi mereka untuk bertanya dan berbagi pandangan. Hal ini menunjukkan bahwa generasi muda memiliki kepedulian yang tinggi terhadap isu kemanusiaan dan lingkungan, termasuk perlindungan satwa.

Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menanamkan nilai empati dan tanggung jawab kepada peserta didik. Dengan memahami bahwa satwa juga merupakan bagian dari ekosistem yang perlu dilindungi, diharapkan para siswa dapat menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing. Mereka tidak hanya diharapkan mampu melindungi diri sendiri saat terjadi bencana, tetapi juga memiliki kesadaran untuk membantu makhluk hidup lain yang terdampak.

Melalui kegiatan ni, Tim Disaster berharap dapat terus memperluas jangkauan edukasi kebencanaan, terutama di wilayah-wilayah yang berada di sekitar kawasan rawan bencana. Kolaborasi dengan institusi pendidikan menjadi langkah strategis dalam sebangun budaya sadar bencana sejak dini. Dengan pengetahuan dan kesiapan yang memadai, risiko dapat diminimalkan dan dampak bencana dapat ditekan.

Edukasi seperti ini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan adalah tanggung jawab bersama. Di tengah ancaman bencana alam yang tidak dapat diprediksi, langkah kecil dalam meningkatkan pemahaman dan kesadaran dapat membawa dampak besar bagi keselamatan manusia dan satwa di masa depan. (VID)

AWALNYA DISANGKA MBG, BERUJUNG CINTA PADA ORANGUTAN

Pada pertengahan bulan Maret 2026, tim APE Crusader melakukan kegiatan School Visit di SDN 01 Kongbeng, Desa Miau Baru, Kaltim. Pagi itu kami berangkat menggunakan ambulan satwa liar menuju sekolah yang berada di kawasan Kongbeng. Bahkan sebelum mobil benar-benar sampai di halaman sekolah, kehadiran kami sudah menarik perhatian. Ambulan dengan logo kepala orangutan besar di sisinya menjadi pemandangan yang tidak biasa bagi warga sekitar. Dari kejauhan, anak-anak sudah berlarian menghampiri mobil dan menuntun kami sampai ke halaman sekolah dengan wajah penuh rasa penasaran.

“MBG wiihhh… MBG??”, seru salah anak dengan antusias, diikuti teman-temannya.

Ternyata mereka mengira mobil kami adalah kendaraan yang membawa Makan Bergizi Gratis (MBG). Rupanya selama ini sekolah mereka belum pernah mendapatkan jatah MBG, sehingga kedatangan mobil kami langsung disambut penuh harapan. Namun ketika tim turun dari mobil, anak-anak mulai menyadari bahwa yang datang bukan pembawa makanan, melainkan tim yang bekerja dengan satwa liar. Antusiasme pun berubah, dari menunggu makanan menjadi menunggu orangutan yang mereka kira ada di dalam ambulan.

Ketika pintu mobil dibuka, ternyata tidak ada orangutan, hanya poster, foto, dan perlengkapan edukasi. Meski begitu, rasa penasaran mereka tidak berkurang. Kegiatan pun dilanjutkan di dalam kelas. Tim memulai dengan “tepuk orangutan” untuk mencairkan suasana, lalu menyampaikan materi tentang orangutan, hutan, dan pentingnya menjaga alam.

Saat ditanya apakah ada yang pernah melihat orangutan, beberapa anak mengangkat tangan. Salah satu dari mereka bahkan berkata, “Aku pernah lihat… dipelihara!”. Jawaban itu menjadi kesempatan bagi tim untuk menjelaskan bahwa orangutan adalah satwa liar yang dilindungi dan seharusnya hidup bebas di hutan.

Menjelang akhir kegiatan, anak-anak sangat gembira saat menerima poster dan stiker orangutan, bahkan sampai berebutan. Antusiasme mereka juga membuat tim sedikit tertahan untuk pulang. Ketika kami kembali ke ambulan, beberapa anak masih mengerumuni mobil dan bahkan memanjat tangga di belakang ambulan untuk melihat lebih dekat.

Sebelum berangkat, tim sempat membunyikan sirine ambulan yang langsung disambut sorakan dan tawa anak-anak. Saat mobil mulai meninggalkan sekolah, mereka melambaikan tangan sambil berlari mengejar hingga ke ujung jalan.

Kami memang tidak membawa MBG seperti yang mereka harapkan di awal. Namun pagi itu meninggalkan sesuatu yang tak kalah penting yaitu tawa, pengetahuan bari, dan harapan bahwa dari sekolah kecil di Desa Miau Baru ini akan tumbuh generasi yang peduli pada orangutan dan hutan tempat mereka hidup. (DIM)

THREE IN ONE JOB

Tidak terasa, genap sudah satu bulan saya mengeksplorasi keindahan lanskap hutan di Busang. Mewakili tim APE Guardian bertepatan dengan libur perayaan Natal di akhir Desember 2026, yang mana sebagian staf APE Defender di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) mengambil cuti hari raya dan membutuhkan tenaga tambahan, saya diminta untuk bergeser ke BORA selama satu bulan ke depan.

Selama di sana, bukan hanya penalaan dan wawasan yang bertambah, tetapi juga lingkar pertemanan saya semakin meluas. Saya mendapat kesempatan untuk menjajal berbagai bagian pekerjaan dan bekerja bersama teman-teman yang hebat.

Beberapa hari pertama di BORA, saya berkesempatan membawa orangutan ke sekolah hutan. Ditemani Faradiva sebagai pendamping di hari pertama, saya belajar cara membawa orangutan ke sekolah hutan, cara mengamati, serta mencatat perilaku dan karakter setiap individual yang beragam. Beberapa hari pertama memang cukup menantang bagi saya untuk menghafal nama dan ciri-ciri fisik masing-masing orangutan, terlebih ketika ukuran tubuh mereka tampak mirip.

Setelah beberapa hari mengikuti kegiatan sekolah hutan, pada minggu berikutnya saya berkesempatan menjadi bagian dari tim teknisi yang didampingi oleh Bang Jevri. Kami datang lebih awal untuk menguapkan pakan orangutan dengan takaran yang berbeda untuk setiap individual. Selain menyiapkan pakan pagi, siang, dan sore, kami juga mempersiapkan alat serta bahan untuk kebutuhan enrichment masing-masing orangutan pada pagi dan sore hari.

Memasuki minggu terakhir di BORA, saya berkesempatan menjadi babysitter bagi beberapa orangutan yang masih memerlukan perhatian ekstra. Di dampingi oleh babysitter Gita, saya belajar menyiapkan pakan, meracik susu dengan takaran yang berbeda untuk setiap individual, memberikan enrichment, serta membawa mereka ke sekolah hutan. Menjadi babysitter menurut saya cukup menantang, mengingat mereka masih sangat bergantung pada kehadiran manusia. Selain itu, tubuh mungil mereka juga cukup sulit untuk terus terpantau ketika sudah memanjat pohon yang tinggi saat sekolah hutan.

Menjadi relawan di BORA membuat saya semakin mengenal pribadi teman-teman yang menyenangkan serta belajar banyak hal baru yang sebelumnya, belum pernah saya coba (Hana_COPSchool15)

19 TAHUN COP DI DUNIA KONSERVASI ORANGUTAN

Semangat kolaborasi lintas sektor terasa kuat dalam peringatan Hari Ulang Tahun ke-19 Centre for Orangutan Protection (COP) yang digelar di Camp APE Warrior COP di Jogjakarta. “Protecting the Orangutan and Beyond” menjadikan spesies Orangutan sebagai pintu masuk perlindungan satwa liar dan dan penguatan respons terhadap kejahatan serta bencana ekologis yang berdampak pada satwa, adalah sebuah momentum refleksi perjalanan panjang sekaligus penguatan komitmen bersama menghadapi tantangan konservasi ke depan.

Acara ini dihadiri oleh bapak Tutut Heri Wibowo sebagai Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi, bapak Ardi Andono sebagai Kepala Balai TN Ujung Kulon, perwakilan dari Balai KSDA Yogyakarta, Gakkum Wilayah Yogyakarta, Badan Nasional Daerah (BPBD) Sleman, Dinas Pertanian dan Pangan Sleman, Puskewan Sleman, Perangkat Desa setempat, Orangufriends Jogja, berbagai komunitas dan lembaga konservasi di Yogyakarta, Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta, dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Direktur COP, Daniek Hindarto dalam sambutannya menegaskan, bahwa usia 19 tahun adalah waktu untuk memperkuat konsistensi gerakan, bukan sekedar merayakan capaian. “Srmbilan belas tahun adalah perjalanan panjang yang ditempuh dengan komitmen dan kolaborasi. Kami percaya, perlindungan satwa liar tidak bisa dilakukan sendiri. Butuh keberanian untuk bersinergi, membuka ruang dialog, dan bergerak bersama”, ujar Daniek.

Ia juga menambahkan bahwa tantangan ke depan semakin kompleks, mulai dari perdagangan ilegal satwa, perburuan, hingga dampak krisis iklim dan bencana terhadap habitat. “COP akan terus berdiri di garis depan untuk mendukung upaya penyelamatan satwa dan memperkuat jejaring dengan pemerintah, aparat penegak hukum, akademisi, dan masyarakat. Konservasi adalah kerja jangka panjang dan hari ini kita menegaskan kembali komitmen itu”, tambahnya.

Dalam momentum istimewa ini, COP menganugerahkan Setia Bhakti Award 2026 kepada 14 staf yang dinilai menunjukkan loyalitas, integritas, dan dedikasi tinggi dalam mendukung misi organisasi. Penghargaan ini menjadi simbol bahwa kerja-kerja konservasi adalah hasil dari dedikasi tim yang solid dan penuh komitmen. Selain itu, COP juga memberikan Orangufriends Award 2026 kepada lima tokoh yang secara konsisten mendukung gerakan konservasi, yaitu Kylie Bullo – Conservation Project Manager di The Orangutan Project, Peter Pratje – Program Manager di Frankfurt Zoological Society, Sudomo Mergonoto – CEO PT Kapal Api Global, Ardi Ardono – Kepala Balai TN Ujung Kulon, serta Danang Anggoro – Dosen dan Peneliti di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Kelima tokoh ini merupakan bagian penting dari jejaring Orangufriends dan memiliki peran signifikan dalam dunia konservasi. Penghargaan ini menjadi bentuk penghormatan atas kontribusi nyata mereka dalam memperkuat advokasi, edukasi, serta dukungan moral bagi upaya perlindungan satwa liar.

Melalui peringatan ini COP menegaskan kembali komitmennya untuk terus menjadi bagian dari gerakan kolektif perlindungan satwa liar di Indonesia. Kolaborasi adalah kunci, karena menjaga alam dan satwa liar bukan hanya kewajiban satu lembaga, melainkan tanggung jawab bersama. (DIT)

ENRICHMENT DURIAN SIANG HARI: ANTUSIASME DAN STRATEGI ORANGUTAN DI SRA

Siang itu, aroma durian mulai menyebar di area Sumatran Rescue Alliance (SRA). Bukan sekadar buah biasa, durian menjadi bagian dari kegiatan enrichment yang dirancang untuk melatih kemampuan motorik, kecerdasan, serta mempertajam insting alami setiap individu orangutan.

Pemberian enrichment diawali di kandang karantina bersama Raiking dan Noon. Begitu durian diberikan, Raiking langsung menunjukkan dominasinya. Tanpa ragu, ia menggigit dan membelah kulit durian yang berduri dengan cepat. Dalam waktu singkat, isi buah sudah habis dinikmatinya. Antusiasme dan kekuatan rahang terlihat jelas.

Berbeda dengan Raiking, Noon membutuhkan waktu lebih lama. Ia mengamati, mutar, dan mencoba membuka durian dengan lebih hati-hati. Saat menyadari durian Raiking telah habis, Noon mengambil keputusan cepat membawa duriannya naik ke hammock, seolah mengamankan “harta berharganya” dari potensi rebutan.

Raiking yang masih penasaran terus memperhatikan Noon dan mencoba mendekat. Situasi mulai memanas, hingga Anas (perawat satwa), segera turun tangan untuk menjaga jarak keduanya. Raiking sempat menunjukkan ekspresi kesal, namun Anas memberikan potongan durian tambahan. Dengan kecerdasannya, Raiking menyadari potongan tersebut masih menyimpan isi, lalu kembali membelahnya hingga tuntas. Sementara itu, Noon memegang erat duriannya dengan tangan dan kaki, menikmati hasilnya dengan lebih tenang di atas hammock.

Di kandang lain, dinamika tak kalah menarik terjadi pada Bow dan Jay. Bow tampak paling agresif membuka durian, langsung menggigit dan membelahnya. Jay memanfaatkan situasi dengan memakan bagian yang telah terbuka. Namun setelah durian Bow habis, Bow mencoba beralih ke durian milik Jay. Anas kembali sigap mengamankan situasi dan mengembalikan durian tersebut kepada Jay. Kali ini, Jay berhasil membuktikan kemampuannya dengan membuka dan menghabiskan durian sendiri.

Sementara itu, Maxim dan Agam menunjukkan reaksi berbeda. Keduanya tampak kebingungan saat pertama kali menerima durian. Mereka mengamati buah berduri tersebut cukup lama, seolah sedang menganalisis cara membukanya. Setelah Anas membantu membuka bagian atas keduanya mulai memahami tekniknya. Perlahan tapi pasti, mereka berhasil melanjutkan proses membuka dan menikmati durian secara mandiri sebuah pembelajaran baru yang penting bagi perkembangan mereka.

Momen unik juga terlihat pada Tami yang menerima durian saat sesi bonding bersama keeper Arfan. Setelah mendapatkan buahnya, Tami langsung memanjat ke hammock. Alih-alih membelah seperti individu lain, Tami memilih strategi berbeda, ia melubangi bagian tengah durian dan memakan isinya dari dalam. Cara ini terlihat menggemaskan sekaligus menunjukkan karakter dan preferensi individunya. Asih dan Robert pun tak ketinggalan. Dengan cekatan dan penuh pengalaman, keduanya mampu membelah durian dalam waktu singkat dan menghabiskannya tanpa kesulitan berarti.

Kegiatan enrichment durian ini lebih dari sekadar pemberian pakan tambahan. Di alam liar, orangutan harus menghadapi buah berduri, berkulit tebal, dan terkadang sulit dibuka ini. Melalui enrichment ini, mereka dilatih untuk menggigit, menekan, memutar, hingga menemukan celah terbaik untuk mengakses isi buah. Proses ini melibatkan kekuatan rahang, koordinasi dengan tangan dan kaki, serta kemampuan problem solving yang sangat penting bagi kelangsungan hidupnya. Selain melatih fisik, enrichment juga menstimulasi mental dan mengurangi stres akibat keterbatasan ruang. Setiap durian yang diberikan bukan hanya makanan, tetapi simulasi kecil dari tantangan hutan yang sesungguhnya mempersiapkan mereka agar tetap tajam, cerdas, dan adaptif ketika kembali ke habitat alaminya (Nabila_Orangufriends)