Orangufriends

SISWA SD ISLAM AL-AZHAR 55 YOGYAKARTA BELAJAR MITIGASI BENCANA BERSAMA

Sebanyak 87 peserta didik kelas 1 SD Islam Al-Azhar 55 Yogyakarta bersama 10 guru pendamping mengikuti kegiatan edukasi kebencanaan di Kantor BPBD Pakem, Kabupaten Sleman. Kegiatan ini dibagi menjadi dua kloter untuk memastikan proses pembelajaran berjalan efektif dan interaktif.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara BPBD Sleman, dan Centre for Orangutan Protection (COP) bersama dengan empat mahasiswa relawan dari Pendidikan Geografi FISIP UNY. Kolaborasi lintas institusi ini bertujuan memberikan pemahaman sejak dini tentang pentingnya kesiap-siagaan bencana, termasuk perlindungan satwa dalam situasi darurat.

Materi diawali dengan pengenalan BPBD dan berbagai tugasnya dalam penanganan bencana. Anak-anak diajak memahami bahwa bencana dapat terjadi kapan saja dan memiliki berbagai jenis, seperti gempa bumi, erupsi gunung api, hingga banjir. Penyampaian dilakukan dengan bahasa yang sederhana dan interaktif agar mudah dipahami oleh peserta didik usia sekolah dasar.

Salah satu sesi yang paling menarik perhatian adalah simulasi gempa. Anak-anak mempraktikkan langsung langkah-langkah sederhana yang harus dilakukan saat terjadi gempa, mulai dari berlindung hingga evakuasi dengan tertib. Selain itu, peserta juga diajak mengenal transportasi operasional BPBD serta berbagai peralatan dan perlengkapan yang digunakan dalam respons kebencanaan.

Tim COP turut menghadirkan Galeri Animal Disaster Relief yang memperkenalkan pentingnya perlindungan dan penyelamatan satwa dalam situasi bencana. Melalui sesi ini, anak-anak belajar bahwa mitigasi bencana tidak hanya menyelamatkan manusia, tetapi juga makhluk hidup lainnya. Kegiatan ditutup dengan kuis singkat untuk menguji pemahaman peserta sekaligus menambah semangat belajar.

Sebagai tindak lanjut, tim juga berkomunikasi dengan guru pendamping untuk membuka peluang edukasi lanjutan di sekolah. Harapannya, pemahaman tentang kesiapsiagaan bencana dan perlindungan satwa dapat terus diperkuat sejak usia dini.

Edukasi hari ini menjadi langkah kecil namun penting dalam membangun generasi yang lebih pedelu, tanggap, dan siap menghadapi risiko bencana di masa depan (VID).

“TEPUK SIAGA” PECAH DI SDN WATUPECAH

Jumat pagi itu, halaman Sekolah Dasar Negeri (SDN) Watupecah terasa hidup dengan energi positif dan rasa ingin tahu peserta didik. Melalui kolaborasi Tim Disaster Centre for Orangutan Protection (COP) dan BPBD Sleman, school visit perdana ini memantik kesadaran bahwa kesiapsiagaan bencana bukan hanya soal menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga ingat pada satwa peliharaan dan termah hidup berdampingan dengan manusia. Anak-anak diajak memahami bahwa dalam situasi darurat satwa bukan untuk ditinggalkan begitu saja, mainkan bagian dari tanggung jawab kita untuk keselamatan bersama.

Kesadaran itu semakin terasa saat “Tepuk Siaga” menggema, “Awas-awas, nanti bencana, siap-siap, kita selamat!” Yang ditutup dengan lompatan gembira penuh keyakinan. Dukungan BPBD Sleman yang nyata terhadap keselamatan manusia dan satwa membuat kegiatan ini lebih dari sekadar presensi pemerintah ikut ambil bagian dalam mitigasi bencana yang lebih luas.

Dari ruang sederhana, pojok baca hingga diskusi tentang apa saja yang menjadi tanda tanya besar satwa di pikirannya, anak-anak semakin terwadahi dan semakin percaya diri. Dari halaman sekolah yang sederhana, tersampaikan pesan penting, edukasi kebencanaan yang menyeluruh, yang juga peduli pada satwa adalah bekal penting bagi generasi muda agar mereka siap menghadapi bencana dengan kepedulian, pengetahuan, dan kesiapan. (VID)

29 BAGIAN TUBUH SATWA DILINDUNGI DISITA, PELAKU PERDAGANGAN ILEGAL DIVONIS 8 BULAN PENJARA

Malang, Jawa Timur – Seorang pedagang satwa liar dilindungi diringkus di wilayah Pakisjajar, Kabupaten Malang, Jawa Timur pada Agustus 2025 lalu oleh Polda Jawa Timur bersama Balai Gakkum Kehutanan Wilayah Jablnusra. Atas kasus perdagangan ilegal ini, pelaku telah divonis bersalah dan dijatuhi hukuman 8 bulan penjara. Dalam perkara ini, aparat penegak hukum mengamankan total 29 bagian tubuh satwa liar dilindungi yang diperdagangkan secara ilegal.

Barang bukti yang disita meliputi 1 (satu) lembar kulit, 2 (dua buah tengkorak, 4 (empat) buah kuku, dan 1 (satu) buah gigi beruang madu (Helarctos malayanus); 1 (satu) lembar kulit buaya muara (Crocodylus porosus); 1 (satu) buah tengkorak macan dahan (Neofelis diari); 7 (tujuh) buah tengkorak dan 10 (sepuluh) taring babirusa (Babyrousa sp.), serta 2 (dua) buah gigi harimau sumatra (Panthera tigris Sumatra). Seluruh barang bukti telah melalui uji laboratorium forensik dan dinyatakan asli berasal dari satwa liar dilindungi, yang berarti setiap bagian tubuh tersebut berasal dari individual satwa yang dibunuh dari habitat alaminya.

Vonis 8 bulan penjara tersebut dinilai belum mencerminkan penegakan dan tujuan dari Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Dalam pasal 40A di regulasi terbaru tersebut, ancaman pidana terhadap pelaku perburuan, perdagangan, penyimpanan, dan kepemilikan satwa dilindungi telah diperberat secara signifikan, dengan ancaman pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun, serta denda paling sedikit Rp 200.000.000 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 5.000.000.000 (lima miliar rupiah). Sanksi yang diperberat ini bertujuan untuk memperkuat efek jera dan perlindungan terhadap keanekaragaman hayati Indonesia.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, pelaku mendapatkan keringanan hukuman dengan pertimbangan salah satunya kondisi istrinya sedang hamil tua. Namun demikian, pertimbangan tersebut dinilai tidak sebanding dengan dampak ekologis yang ditimbulkan. Perdagangan bagian tubuh satwa liar merupakan kejahatan serius yang tidak hanya menghilangkan individu satwa dilindungi dari alam, tetapi juga merusak keseimbangan ekosistem, terutama akibat berkurangnya predator kunci seperti harimau sumatra dan macan dahan. Minimnya predator menyebabkan ketidakseimbangan rantai makanan, meningkatnya populasi satwa mangsa secara tidak terkendali, serta terganggunya proses alami ekosistem hutan. Selain itu, rendahnya tingkat reproduksi dan lambatnya siklus perkembangbiakan satwa predator menjadikan dampak kejahatan ini bersifat jangka panjang dan sulit dipulihkan. Harimau sumatra, macan dahan, beruang madu, dan babirusa merupakan satwa langka yang masuk ke dalam daftar merah menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN Red List). Perburuan dan perdagangan ilegal dapat mempercepat kepunahan spesies-spesies ini.

Menanggapi putusan tersebut, Hery Susanto, Koordinator Penegakkan Hukum LSM Centre for Orangutan Protection (COP), menegaskan bahwa putusan pengadilan dalam perkara kejahatan satwa liar harus selaras dengan kerugian ekologis yang ditimbulkan. “Perdagangan bagian tubuh satwa liar dilindungi merupakan tindak pidana serius yang berdampak langsung pada keberlangsungan ekosistem alam. Setiap individu satwa yang hilang dari alam, khususnya predator kunci, akan memperlemah fungsi ekologis hutan dan mempercepat penurunan keanekaragaman hayati. Oleh karena itu, penerapan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 harus dilakukan secara konsisten dan tegas, termasuk dengan menjatuhkan sanksi pidana yang maksimal guna memberikan efek jera yang nyata”, tegasnya.

COP menegaskan akan terus berada di garis depan dalam memerangi perburuan dan perdagangan gelap satwa dilindungi. Bersama aparat penegak hukum, komitmen untuk mengawal proses penegakan hukum secara konsisten dan mendorong penerapan sanksi maksimal akan terus diperkuat, sebagai bagian dari upaya nyata melindungi satwa liar Indonesia dari ancaman kepunahan serta menjaga keberlanjutan ekosistem alam. (DIT)

COP MENGUATKAN KESIAPSIAGAAN PENYELAMATAN SATWA DI SITUASI BENCANA

Dalam situasi darurat dan kebencanaan, satwa sering menjadi pihak paling rentan dan terabaikan. Penyelamatan mereka tidak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri. Dibutuhkan koordinasi yang kuat, komunikasi yang jelas, serta kepercayaan antar tim agar setiap tindakan di lapangan berjalan aman dan efektif.
Berangkat dari kesadaran tersebut, Tim Disaster COP menggelar latihan gabungan bersama BPBD Sleman dan Basarnas DIY pada Rabu (28/1) di Embung Kaliaji, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman. Latihan ini mempraktikkan kesiapsiagaan penyelamatan di air, mulai dari persiapan fisik, penggunaan perahu rescue, hingga simulasi evakuasi, sebagai bekal menghadapi situasi banjir, termasuk saat harus menyelamatkan satwa yang terjebak atau terdampak.
Kegiatan ini juga menekankan pentingnya pengambilan keputusan di lapangan. Tidak semua kondisi mengharuskan penolong untuk langsung bertindak. Menjangkau dari jarak aman, menggunakan alat bantu, mendekat dengan perahu, atau bahkan menahan diri saat resiko terlalu tinggi adalah bagian dari strategi penyelamatan. Mengetahui kapan harus bergerak dan kapan tidak bertindak menjadi kunci untuk menjaga keselamatan penolong sekaligus satwa yang diselamatkan. 
Melalui kegiatan ini, COP berharap koordinasi dan kepercayaan dengan instansi kebencanaan dapat semakin erat, sehingga penanganan darurat di lapangan berjalan lebih cepat, aman, dan terukur. Ke depan, latihan gabungan seperti ini diharapkan dapat menjadi agenda rutin yang tidak hanya melibatkan instansi terkait, tetapi juga membuka ruang pembelajaran bagi relawan kebencanaan satwa dan Orangufriends, agar semakin banyak pihak yang siap bergerak melindungi satwa saat bencana terjadi. (VID)

DATING APES PERDANA 2026: KONSERVASI YANG TUMBUH BERSAMA MASYARAKAT

Hujan turun pelan membasahi Camp APE Warrior, Yogyakarta. Tanah lembab, udara dingin, dan sore yang biasanya menjadi alasan untuk pulang lebih cepat justru menjadi pembuka Dating Apes pertama di tahun 2026. Di tengah cuaca yang tak bersahabat itu, Nurina Indriyani (Kak Nuri), Direktur Kanopi Indonesia, hadir membawa satu topik yang kerap dianggap sepele, namun sangat menentukan masa depan keanekaragaman hayati, yaitu peran masyarakat lokal dalam konservasi.
Dengan gaya bertutur yang tenang dan berangkat dari pengalaman lapangan, Kak Nuri mengajak peserta melihat konservasi dari jarak yang lebih dekat. Bukan dari balik laporan proyek atau peta kawasan lindung, melainkan dari kampung, ladang, dan relasi sehari-hari antara manusia dan alam. Di Yogyakarta dan wilayah sekitarnya, pelestarian tidak pernah berdiri sendiri; ia tumbuh dari pengetahuan lokal, praktik tradisional, serta keputusan-keputusan kecil masyarakat yang selama ini jarang masuk ruang diskusi formal.
Meski hujan belum reda, mahasiswa, relawan, dan perwakilan berbagai lembaga tetap berdatangan. Di antara gelas teh manis hangat serta cemilan rebusan kacang dan jagung sederhana, diskusi mengalir tanpa jarak. Tak ada panggung tinggi atau sekat akademik, yang ada adalah percakapan tentang bagaimana konservasi seharusnya berpihak, mendengar, dan tumbuh bersama masyarakat. Dating APES kali ini menjadi pengingat bahwa menjaga keanekaragaman hayati selalu bermula dari hal paling dekat: manusia yang hidup berdampingan dengannya. (DIT)

MENEMBUS MALAM, MENJEMPUT AIR: MISI SENYAP DI BELANTARA SIRANGGAS

Panggilan tugas itu datang tanpa aba-aba pada Senin siang 19 Januari 2026. Area camp-site SM Siranggas membutuhkan penanganan darurat akibat pohon tumbang merusak pipa saluran air dan atap bangunan, memaksa kami bergerak cepat melawan waktu untuk melakukan penanganan. Sore itu juga, saya bersama APE Sentinel bergegas ke SRA untuk menjemput gergaji mesin dan Abang Manik selaku tokoh kunci di kawasan SM Siranggas. Persiapan dilakukan ringkas namun taktis, karena kami sadar pekerjaan berat menanti. Tanpa membuang waktu, tim membelah malam meninggalkan Medan, menempuh perjalanan panjang dan melelahkan hingga akhirnya Siranggas menyambut kami dengan kabut tipis menjelang subuh.

Selasa dan Rabu menjadi hari di mana kemampuan improvisasi kami diuji. Setelah sempat turun gunung demi melengkapi peralatan yang kurang, kami membagi tim menjadi dua unit kerja. Sementara satu tim membersihkan area kandang dan bangunan, saya dan Abang Manik mengambil risiko menembus hutan menuju hulu air terjun. Di ketinggian tersebut, kami merakit instalasi pipa secara presisi demi menangkap aliran deras. Kerja keras itu terbayar lunas ketika sore harinya, gemericik air akhirnya terdengar mengalir deras mengisi penampungan air seolah menghidupkan kembali denyut nadi tempat itu.

Kamis 22 Januari 2026, menjadi babak akhir dari operasi singkat ini. Sisa tenaga kami kerahkan untuk pembersihan atap, perbaikan paralon, hingga sterilisasi jalur setapak menuju kandang. Siang harinya, saat kami meninggalkan Siranggas bukan hanya dalam kondisi lebih rapi, tetapi juga berfungsi penuh kembali. Perjalanan ini mengajarkan kami bahwa tugas lapangan tak melulu soal kekuatan fisik menebas semak atau memotong kayu, melainkan tentang kecepatan mengambil keputusan dan soliditas tim untuk bertahan serta menyelesaikan masalah di tengah keterbatasan fasilitas hutan. (Ndaru_Orangufriends)

TAK PERLU TAKUT, ULAR JUGA MENJAGA ALAM

Ular sering kali dipandang sebagai satwa yang menakutkan, padahal mereka memiliki peran besar bagi alam dan kehidupan manusia. Di sawah dan perkebunan, ular membantu petani dengan memangsa tikus dan hewan pengerat lain yang dapat merusak tanaman. Tanpa disadari, kehadiran ular ikut menjaga keseimabgnan ekosistem dan membantu mengurangi hama secara alami, tanpa bahan kimia.

Saat musim hujan dan banjir, ular kadang terlihat di sekitar pemukiman karena habitatnya tergenang air. Hal ini bukan karena ingin menyerang manusia, melainkan karena mereka mencari tempat yang lebih aman dan kering. Dengan mengenal jenis ular dan memahami perilakunya, kita bisa tetap waspada tanpa harus bersikap kasar atau menyakiti satwa yang sebenarnya hanya sedang berusaha bertahan hidup.

COP juga beberapa kali turut membantu penanganan ular di kawasan permukiman. Salah satunya adalah ular yang terlihat pada foto ini, ular sanca kembang (Phyton reticulatus) berjenis kelamin betina yang diperkirakan masih berusia di bawah satu tahun. Ular tersebut ditemukan di salah satu rumah warga dalam kondisi baik dan sehat, dengan panjang kurang lebih 1,5 meter. Setelah dievakuasi dengan aman, ular ini dikembalikan ke habitat alaminya agar dapat kembali menjalankan perannya sebagai pengendali keseimbangan ekosistem. Saat dilepaskan, ular tersebut sempat beradaptasi sejenak dengan lingkungan sekitarnya sebelum akhirnya melanjutkan perjalanannya menuju tempat yang lebih aman.

Kisah tentang ular mengingatkan kita untuk lebih peka terhadap lingkungan di sekitar. Alam terus berubah, dan satwa liar kerap menjadi pihak yang paling terdampak. Dengan menumbuhkan rasa empati, belajar memahami peran setiap makhluk hidup, serta menjaga keseimbangan alam, kita turut menciptakan ruang hidup yang lebih aman dan harmonis bagi manusia maupun satwa liar. (DIM)

AKSI PENGHIJAUAN: MISI MENANAM RATUSAN POHON DI SRA

Kamis, 1 Januari 2026, menjadi awal yang berbeda bagi kami di Sumatran Rescue Alliance (SRA). Saat banyak orang menikmati libur awal tahun, saya bersama tim APE Champion dan APE Sentinel justru memulai hari dengan melangsir bibit pohon dari seberang sungai. Tantangan fisik ini menjadi pembuka semangat sebelum kami dibagi menjadi dua tim. Fokus pertama kami adalah area rehabilitasi satwa, dimana 20 bibit pohon ditanam sebagai penyangga ekosistem masa depan, disusul dengan penanaman bibit nangka di halaman depan klinik yang rampung tepat sebelum jam makan siang.

Sesi kedua berlanjut di area bagian atas, mencakup belakang kantor dan sekitar mess staf. Kali ini, energi kami bertambah dengan bantuan ada yang memastikan setiap lubang tanam terisi dengan presisi. Kerja sama yang solid membuat proses berjalan cepat dan terukur, menutup hari pertama di tahun baru itu dengan kepuasan tersendiri. Sore harinya, kami kembali ke kantor Medan membawa rasa bangga sederhana, bahwa hari libur kami telah dikonversi menjadi kontribusi nyata bagi pemulihan lingkungan SRA.

Semangat penghijauan itu kembali kami bawa dua pekan kemudian, pada Jumat, 16 Januari. Misi kali ini lebih besar, menanam seratus bibit pohon. Perioritas kali ini, menanampada area sekitar kandang yang sebelumnya rusak dan diratakan alat berat akibat longsor. DI sana, kami menanam sekitar 30 pohon berukuran besar, sebuah upaya mendesak untuk mencegah erosi lebih lanjut di area tersebut.

Estafet penanaman berlanjut selepas ibadah zuhur dengan menanam pada area klinik, sekolah hutan, hingga kembali ke lingkungan kantor. Kali ini, kami fokus pada diversifikasi tanaman dengan memasukkan bibit buah seperti rambutan dan alpukat, yang kelas diharapkan menjadi sumber pakan alami bagi penghuni SRA. Tepat pukul lima sore, seluruh target berhasil ditanam berkat kerja bersama-sama. Perjalanan pulang ke Medan usai magrib terasa lebih ringan, karena kami tahu, kami telah meninggalkan jejak hijau yang akan tumbuh menjaga masa depan hutan dan satwa di SRA. (Ndaru_Orangufriends)

DARI BAU CAT HINGGA TAWA ANAK-ANAK, WAJAH BARU PUSAT INFORMASI ANECC

Perjalanan menuju Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC) di Simalungun pada Jumat, 5 Desember 2025, bukanlah sekadar kunjungan biasa bagi saya bersama tim APE Sentinel. Kami datang dengan misi spesifik yaitu menyulap sebuah bangunan tua menjadi pusat informasi gajah yang layak. Malam pertama langsung menyambut kami dengan tantangan nyata seperti aroma cat yang menyengat beradu dengan udara dingin dinding lembap, menemani kerja lembur kami hingga larut. Waktu yang terbatas memaksa kami bekerja dalam ritme cepat, mengubah target awal tiga hari menjadi empat hari penuh peluh demi memastikan setiap sudut bangunan mendapatkan sentuhan perbaikan yang pantas.

Hari-hari berikutnya diisi dengan kerja fisik yang menuntut ketelatenan. Ketika ditemukan plafon yang lapuk, keputusan diambil cepat tanpa banyak diskusi yaitu bongkar dan ganti. Pembagianan tugas ada yang memanjat mengganti atap, ada yang mengecat teralis, hingga membersihkan dinding luar secara manual. Meski lelah, melihat bangunan yang semula kusam perlahan memancarkan wajah baru memberikan kepuasan tersendiri. Lantai yang baru divernis tepat saat azan magrib berkumandang di hari keempat menjadi penanda selesainya tahap pertama, namun kami tahu napas bangunan ini belum sepenuhnya utuh.

Napas kehidupan itu ditiupkan pada kunjungan lanjutan tanggal 13 dan 27 Desember 2025. Kali ini, dengan bantuan personil tambahan, fokus kami beralih dari konstruksi ke estetika dan fungsi. Ruang yang telah direnovasi mulai diisi dengan poster edukasi dipasang, gorden digantung, dan dokumentasi profil gajah-gajah ANECC mulai menghiasi dinding. Sentuhan akhir ini menjadikan ruangan gagah bercerita yang hidup, siap menyambut siapa saja yang ingin belajar tentang konservasi gajah sumatra.

Puncak dari segala lelah itu akhirnya terbayar lunas pada tanggal 17 Januari 2026. Saat peresmian Pusat Informasi ANECC, bangunan tersebut langsung menyambut tamu pertamanya yaitu rombongan anak-anak TK dari Sekolah Alam Asahan. Melihat antusiasme dan rasa ingin tahu yang terpancar dari wajah mereka saat mengisi ruangan, kami sadar bahwa misi ini telah berhasil. Renovasi ini bukan sekadar tentang memperbaiki tembok atau mengecat jendela, melainkan tentang menyediakan ruang agar pesan pelestarian gajah dapat terus bergema ke generasi selanjutnya. (Ndaru_Orangufriends)

KESERUAN EDUKASI KONSERVASI ORANGUTAN DI SANGGAR PELITA

Minggu siang, 11 Januari 2026, Kota Medan menghadirkan atmosfer yang berbeda bagi kami. Saat banyak orang menikmati akhir pekan, kami justru riuh mempersiapkan keberangkatan menuju Sanggar Pelita. Sinergi terjalin kuat antara APE Sentinel dan relawan Orangufriends. Kami disatukan oleh satu misi sederhana namun vital, yaitu membawa edukasi konservasi ke ruang belajar anak-anak. Persiapan dilakukan sejak pagi, memastikan setiap personel memahami perannya sebelum roda kendaraan berputar tepat pukul 11.00 WIB.

Tantangan terbesar hari itu adalah waktu. Kami hanya memiliki jendela efektif selama satu jam, dari pukul 12.00 hingga 13.00 WIB. Menyadari keterbatasan tersebut, pembagian tugas dirancang dengan presisi namun tetap fleksibel. Ndaru dan Qaila bertindak sebagai pemandu acara sementara Nadira menyiapkan materi utama yang padat. Di sisi hiburan, duo Sintia dan Sarah bertugas memecah kebekuan lewat ice breaking, didukung kehadiran maskot orangutan di tengah teriknya cuaca Medan. Laras dan Tirta bersiap-siap di balik lensa, mengabadikan setiap momen berharga.

Begitu acara dimulai, kekhawatiran soal waktu seolah sirna, tergantikan oleh ledakan energi positif. Ruang Sanggar Pelita seketika hidup oleh tawa dan antusiasme anak-anak. Materi edukasi tak berjalan satu arah, melainkan menjelma menjadi interaksi hangat, terutama saat maskot orangutan muncul dan mencuri perhatian. Anak-anak bertanya, bereaksi, dan tertawa lepas. Interaksi jujur inilah yang menjadi nyawa kegiatan, membuktikan bahwa edukasi lingkungan dapat disampaikan dengan cara yang menyenangkan.

Satu jam singkat itu ditutup dengan sesi foto bersama, membingkai senyum anak-anak dan tim dalam satu kenangan. Meski berdurasi pendek, momen di Sanggar Pelita meninggalkan jejak yang dalam. Kegiatan ini menegaskan bahwa edukasi COP bukan sekadar menjalankan program, melainkan pertemuan tulus antara semangat tim dan rasa ingin tahu anak-anak. Kami pulang dengan keyakinan bahwa benih kepedulian yang ditanam hari ini akan tumbuh menjadi sesuatu yang berarti di masa depan. (Ndaru_Orangufriends)