Orangufriends

DONASI UNTUK ORANGUTAN SRA DI KITABISA YUK

Saat ini ada 6 Orangutan Sumatra dan 1 Orangutan Tapanuli yang sedang berada di Sumatran Rescue Alliance, suatu pusat rehabilitasi orangutan di desa Bukit Mas, kecamatan Besitang, kabupaten Langkat, Sumatra Utara. Badai Senyar menghantam pulau Sumatra bagian Utara yang melumpuhkan tiga provinsi yaitu Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Lokasi SRA yang berada di antara Aceh dan Sumut ini terkena banjir dan longsor yang merusak infrastruktur di SRA.

Ada enclosure orangutan Robert termasuk kandang tidur dan pagar listrik mengalami kerusakan. Selain pohon-pohon tumbang yang menimpa, lumpur juga membenamkan kandangnya. Untung saja tim SRA dengan sigap memindahkan Robert di waktu yang tepat. Robert terlihat kaget dan meringkuk di hammock setelah pemindahan dadakan tersebut.

Kodisi kabupaten Langkat yang terkena banjir membuat jalur darat terputus, bahkan selama tiga hari, akses jalan utama Medan ke Besitang terputus. Suatu kondisi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Listrik yang padam semakin memperburuk keadaan. Logistik tim maupun pakan satwa hanya bisa untuk esok hari.

Centre for Orangutan Protection meminta bantuan untuk SRA lewat galang dana di KITABISA.COM perbaikan besar untuk Robert dan beberapa fasilitas SRA yang masih dalam pendataan akan segera disampaikan. Terima kasih orang baik.

SUMATRA DITERJANG BENCANA EKOLOGIS

Di penghujung bulan November 2025, pulau Sumatra dihantam Siklon Senyar dalam bentuk banjir bandang dan longsor yang dipicu hujan ekstrem selama tiga hari berturut-turut. Bencana ini menyebabkan korban jiwa, dari data terakhir laporan korban tewas mencapai 174 jiwa di pulau Sumatra dengan ratusan lainnya mengungsi dan banyak daerah masih terisolasi akibat kerusakan infrastruktur. Provinsi yang paling parah terdampak antara lain Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat.

Angka-angka itu harus dibaca bersama satu kenyataan penting, bencana bukan sekadar produk cuaca. Hujan deras yang menjadi pemicu langsung berinteraksi dengan lanskap yang telah diubah oleh manusia, deforestasi masif, alih fungsi lahan menjadi kebun sawit atau pertambangan menjadikan risiko banjir dan longsor melonjak jauh di atas keadaan alami. Ini merupakan bencana besar yang melanda hampir sebagian pulau Sumatra, tanah yang dulunya menyimpan air dan menahan tanah kini kehilangan kemampuan itu setelah pohon-pohon ditebang dan kanal dibuka untuk drainase.

Di banyak lembah dan pinggiran sungai, permukiman tumbuh di kawasan rawan longsor dan banjir karena tekanan ekonomi. Ketika hujan ekstrem turun, air mengalir lebih cepat ke lembah, membawa lumpur dan material lepas, mengubah aliran sungai menjadi jurang berbusa yang menghancurkan apa saja yang dilewatinya. Seketika jika digabung semua dengan erosi dan perubahan pola hidrologi, siklus kerusakan menjadi sulit dihentikan.

Penyebab struktural lain yang sering luput dari segala yang terjadi adalah kebijakan perizinan dan tata ruang yang lemah. Perizinan konsesi yang longgar, korporasi yang mengejar perluasan tanpa mitigasi lingkungan memadai, serta penegakan hukum yang tidak konsisten memberi ruang bagi alih guna lahan yang cepat namun tidak berkelanjutan.

Dampak sosialnya luas, ribuan rumah terendam atau hancur, sekolah ditutup, akses air bersih dan listrik terganggu, telekomunikasi terputus, dan hal yang tak tersentuh yaitu ekonomi masyarakat lokal, mungkin banyak masyarakatnya yang bergantung pada ternak atau pertanian dan perdagangan kecil, kini terpukul keras karena semua hilang diterjang banjir dan longsor. Korban kehilangan bukan hanya nyawa, mata pencaharian, dokumen kepemilikan, hingga jaringan sosial runtuh dalam hitungan jam. Tanggap darurat berjalan cepat di banyak lokasi namun sejumlah daerah tetap sulit dijangkau karena rusaknya jalan dan jembatan.

Sumatra sedang mengalami krisis ekologis yang hasilnya berujung pada krisis kemanusiaan. Menyebutnya sekadar “bencana alam” adalah mengaburkan fakta bahwa banyak dari kehancuran ini bisa dicegah jika kebijakan, praktik lahan, dan kepatuhan lingkungan ditata ulang sesuai prioritas keselamatan warga dan kelestarian alam. (NAB)

AIR MATA TERNAK DAN CERITA PARA RELAWAN

Gunung Semeru batuk keras pada 19 November 2025, mengirimkan kolom abu hitam yang membuat langit seperti sedang menahan amarah. Saat banyak orang memilih mengunci pintu sambil berdoa, saya justru menerima pesan singkat dari seseorang yang suaranya seperti selalu muncul ketika bencana memanggil, Mbah Monyok. Hanya satu instruksi, “Turun ke Penanggal”. Tidak ada konteks, tidak ada waktu untuk ragu. Saya tidak tahu bahwa perintah malam itu akan membawa saya memasuki hari-hari dimana hidup dan mati hanya dibedakan oleh lapisan debu tipis.

Besok paginya, di bawah semburat abu yang masih turun, kami memulai tugas utama, mencari bangkai. Sapi, kambing, ayam, anjing, kucing semuanya tersebar di kamar A, Gumukmas, Sumbersari. Tugas kami bukan sekadar menemukan, tetapi memastikan mereka tidak menjadi sumber penyakit di tengah pengungsian. Di antara kandang yang runtuh dan bau hangus yang menusuk, saya belajar memandang tubuh-tubuh itu bukan sebagai bangkai, tapi sebagai korban yang sama sekali tidak pernah diberi peluang menyelamatkan diri. Yang paling membuat dada sesak adalah permintaan seorang anak kecil, Putri yang ingin kambing kesayangannya dikuburkan, bukan dibakar. Bagi dia, itu bukan aturan medis, itu penghormatan terakhir.

Ketika tim COP dari Jogja tiba, ritme kerja berubah drastis. Mereka datang membawa ketenangan, APD lengkap, dan langkah-langkah yang selalu terukur. Bersama mereka kami melakukan prosedur sterilisasi, mengumpulkan bangkai, membuat lubang kubur, atau membakarnya hingga tuntas agar tidak ada bakteri, virus, atau parasit yang lolos di balik abu Semeru. Di tengah kobaran api yang memakan habis tubuh-tubuh itu, saya melihat betapa pentingnya ilmu di balik tindakan yang secara emosional begitu berat. Mereka mengajarkan saya bahwa merawat satwa juga berarti memahami risiko penyakit yang bisa menghantam manusia dan ternak yang masih hidup.

Beberapa hari kemudian, tim dari Kalimantan datang, membawa filosofi COP yang lebih luas. Dari mereka saya mendengar soal ekologi, rantai penyakit, dan bagaimana satu bangkai yang tidak ditangani bisa berdampak pada kesehatan satu desa. Saat kami menyusuri ladang yang sepi, mencari sisa-sisa tubuh yang tersembunyi di balik tumpukan abu, saya menyadari bahwa pekerjaan ini bukan sekedar “membersihkan”. Ini bagian dari menjaga keseimbangan bahkan wujud pekerjaannya adalah memikul, mengubur, dan membakar mereka yang tak lagi bernapas.

Pada akhirnya, Semeru tidak hanya memuntahkan lava dan abu, tapi ia membuka mata saya terhadap sisi bencana yang jarang disorot kamera. Bahwa mencari bangkai satwa dan membakarnya bukanlah pekerjaan yang dingin, itu bentuk paling sunyi dari kemanusiaan. Semeru menjadi guru yang keras, mengajarkan bahwa memuliakan kehidupan kadang berarti menghadapi kematian secara langsung. Kalau nanti ada rezeki, saya ingin ikut COP School. Bukan lagi sebagai “Agen Dosa”, tapi sebagai seseorang yang paham bahwa menjaga satwa bukan hanya menyelamatkan yang hidup, tetapi juga bertanggung jawab pada yang sudah tiada. (Imdad Ervianto_Orangufriends Lumajang)

SOUND FOR ORANGUTAN 2025 EDISI BORNEO

Sound For Orangutan 2025 kembali mengguncang Samarinda dengan tema “Born to be Wild” bertempat di Temindung Creative Hub. Acara ini menjadi ruang pertemuan bagi musisi, komunitas seni, aktivis lingkungan, dan masyarakat yang peduli pada masa depan orangutan.

Tahun ini, semangat kolaborasi terasa kuat. Para penggiat lingkungan dan komunitas kreatif menyatukan energi mereka untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap konservasi orangutan serta habitatnya. SFO menjadi momentum langka di Samarinda yang menggabungkan musik, seni, dan pesan lingkungan dalam satu panggung. Deretan band lokal seperti Swankscum, Outlier, GNR, Roots Side Up, Louise, dan Grossfuss tampil penuh energi. Komunitas graffiti ‘warga sekitar hood’ dan aktivis setempat yang juga memperkaya pengalaman acara dengan karya dan pesan mereka.

Lebih dari 80 orang hadir dan memberikan respons positif. Banyak penonton dan performer berharap SFO bisa digelar kembali tahun depan dengan skala lebih besar, mengingat konser amal bertema orangutan seperti ini merupakan yang pertama di Samarinda.

Sound For Orangutan 2025 mengukuhkan bahwa musik bukan hanya hiburan, tetapi juga suara yang mampu menyatukan komunitas untuk menjaga kelestarian orangutan dan hutan yang menjadi rumah mereka. (WIB)

MAHASISWA UNMUL PENELITIAN DI EKOSISTEM BUSANG

Saya, Canni Hutasoit dari Universitas Mulawarman Samarinda yang sedang penelitian di kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur sejak Oktober 2025. Kawasan ini memiliki karakteristik alam yang khas dengan hamparan hutan yang masih terjaga, kontur berbatu dan bentang alam yang menantang namun seru. Bersama tim APE Guardian COP yang berada di Ekosistem Busang ini, saya mengumpulkan titik-titik sarang orangutan. Nantinya akan menghasilkan peta sebaran sarang orangutan berbasis sistem informasi geografis di sini.

Penelusuran jalur di dalam kawasan hutan mulai dari area berbukit sampai ke aliran sungai juga dilakukan. Akhirnya diketahui bahwa sebagian besar sarang orangutan ditemukan di sekitar aliran sungai. Temuan ini memberikan gambaran bahwa area tepian sungai memiliki peran penting sebagai habitat bagi orangutan, baik untuk kebutuhan pakan maupun tempat beristirahat.

Saya sangat bersyukur telah diberi kesempatan untuk terjun langsung ke lapangan dan memperoleh pengalaman praktis yang tidak ternilai. Terima kasih juga atas kesabaran abang-abang di lapangan yang telah memberikan banyak arahan. Semoga kegiatan seperti ini dapat dilanjutkan di masa mendatang dan semoga hasil yang diperoleh dapat menjadi dasar untuk penelitian selanjutnya serta dapat mendukung upaya pelestarian orangutan dan habitatnya di Kutai Timur. (Canni_Orangufriends Samarinda)

AYAH ORANGUTAN MENGAJAR DI KELAS ANANDA

Selasa pagi bercampur mendung, suara lengkingan anak-anak Sekolah Dasar Mutiara Persada, Yogyakarta membicarakan logo orangutan yang ada di kemeja ayahnya Malika, salah satu siswa. Acara tahunan sekolahan yaitu Parent Teaching atau orang tua murid mengajar untuk mengenalkan berbagai macam profesi kepada anak-anak. Ramadhani, Manajer COP Sumatra yang merupakan orang tua Malika Khatulistiwa dengan bangga menceritakan pekerjaan yang telah digelutinya selama lima belas tahun terakhir.

Memulai cerita orangutan dan kehidupannya menarik perhatian anak-anak yang memiliki energi luar biasa aktif. Lebih dalam lagi pekerjaan di dunia konservasi khususnya pusat rehabilitasi orangutan meliputi peran dokter hewan, biologis, dan tentu saja profesi yang mereka sukai yaitu animal keeper karena dari video dan foto yang ditampilkan animal keeper yang sangat dekat dengan orangutan. Abel berteriak memilih menjadi animal keeper ketika saya tanya kalau besar ingin bekerja di penyelamatan orangutan, ingin menjadi siapa.

Di akhir sesi “orangutan” masuk kelas untuk bisa berfoto bersama, tapi ternyata malah menjadi sesi yang cukup lama karena hampir semua siswa ingin bermain dengan orangutan. Bahkan beberapa siswa laki-laki memblokade pintu keluar agar orangutan tidak bisa pulang.

“Mungkin sudah 13 tahun, saya tidak pernah lagi bercerita di depan kelas. Saya selalu mendorong relawan-relawan COP atau yang sering disebut Orangufriends untuk menjadi pemateri di setiap edukasi. Tapi hari ini, saya diminta di depan dan menceritakan kerjaan saya di depan Malika dan teman-temannya. Ternyata perjalanan yang cukup panjang dan menarik.”, ujar Ramadhani sambil tersenyum. (DAN)

HARIMAU, ORANGUTAN, DAN SENYUM ANAK SDN 09 SIMPANG UTARA, PASAMAN

Suara tawa anak-anak terdengar riuh di ruang kelas SDN 09 Simpang Utara, Kab. Pasaman, Sumatera Barat. Pada hari Jumat pagi tanggal 24 Oktober 2025, dua volunteer APE Protector, Putra dan Suci, datang membawa cerita dari hutan tentang Harimau Sumatera yang gagah dan Orangutan yang bijak. Sekolah ini dipilih bukan tanpa alasan, letaknya berdekatan dengan Suaka Margasatwa (SM) Malampah Alahan Panjang, kawasan penting yang menjadi rumah bagi satwa-satwa liar yang harus kita lindungi.

Sebanyak 29 siswa kelas 6 menyimak dengan penuh rasa ingin tahu. Melalui gambar, cerita, dan tanya jawab seru, mereka belajar mengenal karakteristik, kebiasaan makan, hingga ancaman yang dihadapi Harimau Sumatra dan Orangutan. Setiap senyum dan tatapan kagum anak-anak menjadi pengingat bahwa pendidikan lingkungan bisa dimulai dari hal sederhana, dari ruang kelas di ujung nagari yang bersinggungan langsung dengan hutan.

Kegiatan ini bukan sekadar sesi belajar, melainkan langkah kecil untuk menumbuhkan cinta besar pada alam. APE Protector berharap, dari tangan-tangan kecil di Simpang Alahan Mati ini, akan tumbuh generasi yang peduli dan berani menjaga keberlanjutan kehidupan di hutan-hutan Sumatera Barat. (DIV)

EDUKASI “SAVE ORANGUTAN’” BERSAMA KOMUNITAS JEJAK JENAKA DAN COP

Suasana area Futsal PJA, Tanjung Redeb, Berau, Kalimantan Timur pada tanggal 26 Oktober 2025 dipenuhi tawa dan semangat anak-anak. Sebanyak 95 peserta berusia 3–11 tahun berkumpul untuk mengikuti kegiatan edukasi bertema “Save Orangutan”, hasil kolaborasi antara Komunitas Jejak Jenaka dan Centre for Orangutan Protection (COP).

Peserta dibagi menjadi tiga kelompok sesuai rentang usia, dan setiap kelompok bergiliran mengunjungi tiga pos edukasi yang disiapkan. Di Pos ‘Dongeng’, kami menceritakan tentang ukuran tubuh, makanan, ancaman, dan alasan mengapa orangutan perlu dilindungi. Lalu di Pos ‘Kreasi’, kami memandu peserta membuat rope ladder dari potongan kayu dan tali, yang nantinya akan dibawa ke BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) sebagai furnitur kandang. Sementara di Pos ‘Games’, tim bersama volunteer Jejak Jenaka mengajak
anak-anak bermain “pemburu dan penebang” serta puzzle mencocokkan hewan dilindungi dan tidak dilindungi berdasarkan pulau habitatnya. Maskot berupa kostum orangutan khas COP berkeliling sepanjang sesi, menambah keceriaan dan antusiasme peserta.

Meskipun sebagian besar peserta sangat antusias, beberapa anak tampak lebih tertarik berlarian di lapangan futsal yang luas dan bersih. Suara riuh dalam satu ruangan menjadi tantangan tersendiri bagi tim untuk menjaga fokus peserta. Setelah kurang lebih 3,5 jam penuh kegiatan seru, acara ditutup dengan pembagian doorprize. Tim kembali ke site dengan pengalaman baru dan semangat segar.

Kegiatan kolaborasi ini diharapkan menjadi bekal awal bagi peserta untuk mengenal dan berupaya melindungi orangutan serta habitatnya, sekaligus menjadi langkah awal kolaborasi positif antara COP dan berbagai komunitas peduli lingkungan lainnya. (ARA)

KISAH DARI GARIS DEPAN PENYELAMATAN SATWA

Di tengah teriknya dataran tinggi Yogyakarta, tawa dan obrolan terdengar bersahutan di Camp APE Warrior. Tapi sore itu, udara terasa sedikit berbeda. Camp yang biasanya riuh dengan suara sawah dan canda relawan, kini menyambut tamu-tamu istimewa dari perwakilan KSSL UGM, BKSDA Yogyakarta, Aksi Konservasi Yogyakarta, Sekber PPA DIY, hingga mahasiswa dan warga yang penasaran dengan “Kelas Bulanan” COP, yaitu Dating Apes.

Pada hari Sabtu sore, 18 Oktober 2025, Dating Apes ke-11 ini bukan seperti biasanya. Di antara para tamu, hadir sosok yang membuat suasana mendadak terasa lebih “global”, Jennifer Gardner, Senior Program Disaster dari International Fund for Animal Welfare (IFAW). Ia datang jauh-jauh dari Amerika hanya untuk berbagi satu hal yang jarang dibicarakan, yaitu bagaimana rasanya menjadi penyelamat satwa di tengah bencana.

Tanpa banyak basa-basi, Jennifer memutar sebuah video dokumenter. Di layar kecil di tengah hamparan sawah itu, terpampang potongan realitas dari berbagai penjuru dunia, badai di Karibia, kebakaran di Australia, gempa, banjir, dan kehancuran. Semua orang di camp mendadak hening. Yang terlihat di sana bukan hanya manusia yang kehilangan, tapi juga hewan-hewan yang menjadi korban, tanpa suara, tanpa daya, hanya menunggu tangan yang mau menolong.

Setiap cerita yang Jennifer bagikan membuka mata, bahwa di balik setiap bencana, selalu ada makhluk hidup lain yang berjuang untuk tetap hidup. Bahwa empati bukan sekadar rasa iba, tapi tindakan nyata untuk tidak berpaling.

Sesi tanya jawab pun berjalan panjang, bukan karena waktunya, tapi karena rasa ingin tahu yang seolah tak habis-habis. Bahkan setelah acara selesai, para peserta masih bertahan. Ada yang ingin tahu lebih dalam tentang cara kerja relawan satwa di luar negeri, ada yang sekadar ingin mengucap terima kasih.

Di antara obrolan ringan dan senyum yang tak kunjung pudar, satu hal terasa jelas sore itu, yaitu cinta pada satwa tidak butuh paspor. Hanya butuh hati yang siap turun ke lapangan, bahkan ketika dunia sedang runtuh. (DIT)

DATING APES BATCH 9, DARI PEMUDA DESA UNTUK BUMI JOGJA

Camp APE Warrior kembali dipenuhi obrolan hangat dan diskusi lingkungan pada Jumat, 26 September 2025. Kelas bulanan COP yaitu Dating APES kembali digelar dan kali ini sudah memasuki edisi ke-9. Tamu istimewa, Rifka Agnes dari KPHI (Koalisi Pemuda Hijau Indonesia) Jogja, hadir untuk berbagi cerita tentang konservasi serta bagaimana anak muda bisa mengambil peran nyata dalam menjaga lingkungan sekitar.

Sore itu terasa akrab sejak awal. Teman-teman dari berbagai komunitas, mulai dari Orangufriends, Vetpagama, Teman Berjalan, 4K, Relung Indonesia, KSSL UGM, alumni COP School dan Orangufriends Yogyakarta berkumpul. Tidak ada jarak antara pemateri dan peserta. Seperti biasa, diskusi mengalir begitu saja, seolah semua duduk di satu lingkaran besar yang terbuka untuk siapa pun. Rifka membawa sudut pandang yang segar, ia menjelaskan tentang jenis-jenis pohon yang mereka fokuskan untuk penanaman dalam program restorasi, khususnya pohon-pohon penyerap air seperti pohon kepuh. “Namanya saja mungkin baru pertama kali didengar sebagian beserta peserta”. Penjelasan ini membuka wawasan bahwa memilih jenis pohon untuk rehabilitasi hutan bukan sekadar menanam, tapi harus memahami fungsi ekologis nya.

Berbagai pertanyaan menarik pun muncul. “Kalau di desa kami, anak muda ingin memulai aksi konservasi dari nol, tantangan paling besar biasanya apa ya, Kak?”, tanya seorang peserta. Rifka tersenyum, “Tantangan terbesar biasanya justru membangun kepercayaan. Tapi kalau kita konsisten, masyarakat akan melihat kesungguhan kita”. Pertanyaan lain menyusul, “Setelah pohon ditanam, bagaimana cara memastikan program ini benar-benar terpantau, apalagi kalau lahannya dikelola pihak lain?”. Rifka menjawab penuh semangat, “Kuncinya kolaborasi. Kita perlu menjalin komunikasi dengan pengelola setempat, membuat sistem monitoring bersama, bahkan sekecil laporan rutin sekalipun bisa menjadi kontrol yang efektif”.

Diskusi berjalan dengan penuh energi hingga waktu acara berakhir. Namun sangking semangatnya, banyak peserta tetap bertahan di lokasi meski acara sudah resmi ditutup. Obrolan kecil berlanjut di Joglo Camp APE Warrior, membuktikan bahwa ruang-ruang seperti ini bukan hanya ditunggu, tapi juga selalu dirindukan. (DIM)