Hari Harimau Sedunia atau Global Tiger Day 2025 dirayakan serentak di sembilan kota di Indonesia dengan semangat yang sama: menyuarakan pentingnya perlindungan Harimau Sumatera. Dari Medan hingga Yogyakarta, aksi kampanye yang digelar Centre for Orangutan Protection (COP) bersama jaringan Orangufriends dan mitra lokal ini berhasil menyedot perhatian publik lewat aksi kreatif, poster, stiker, hingga orasi jalanan. Tujuannya sederhana tapi mendesak yaitu menyelamatkan harimau dari ancaman jerat, perburuan, dan hilangnya habitat.
Di Medan, suasana Car Free Day Lapangan Merdeka berubah meriah ketika warga dari berbagai usia berhenti sejenak untuk melihat dan ikut berkampanye. Anak-anak hingga orang tua ikut terlibat berdiskusi kecil tentang Harimau Sumatera, bahkan seorang anak penari reog spontan menari di depan kamera. Interaksi ini membuat pesan tentang bahaya jerat satwa lebih mudah diterima masyarakat. Sementara di Padang, aksi membagikan stiker di jalur CFD mendapat sambutan hangat dari pengunjung, bahkan ada pelari yang menghampiri peserta kampanye sambil berkata, “Ini aksi keren, kami mendukung!”.
Tak kalah menarik, di Pasaman, aksi berlangsung bersamaan dengan kegiatan jalan santai masyarakat. Kami mengusung pesan “Bongkar Jerat Jahat! Selamatkan Harimau” dan mengajak warga melakukan simbolisasi gerakan ‘cakar harimau’. Kehadiran Bupati dan Wakil Bupati Pasaman yang menyatakan dukungannya semakin menguatkan semangat publik untuk bersama menjaga habitat harimau. Di Kuningan, aksi longmarch diakhiri dengan “meja harapan”, dimana warga menuliskan doa dan aspirasi mereka untuk kelestarian satwa, sebuah cara kreatif mengikat partisipasi publik.
Sementara itu, di kota-kota lain seperti Batang, Malang, dan Yogyakarta, kampanye berlangsung penuh energi. Di Malang, anak-anak sangat tertarik dengan topeng harimau dan pedagang bahkan menempelkan stiker kampanye di lapaknya. Di Malioboro Yogyakarta, topeng harimau kembali menjadi daya tarik besar, wisatawan asing pun ikut terlibat dan mengapresiasi upaya melindungi satwa ikonik Indonesia ini. Bahkan seorang relawan yang sedang dalam perjalanan dari Solo menuju Yogyakarta tidak ketinggalan untuk mengangkat aksi ini di dalam gerbong KRL. Semua ini menunjukkan bahwa pesan konservasi bisa dikemas dengan cara menyenangkan, dekat dengan masyarakat, tanpa kehilangan urgensinya.
Kampanye serentak tahun ini mengusung tema “Bongkar Jerat Jahat! Selamatkan Harimau Sumatera!”, sebuah seruan yang lahir dari keprihatinan kasus terbaru: seekor harimau sumatera di Jambi yang sempat diselamatkan dari jerat, namun akhirnya mati di TPS. Peristiwa tragis ini menjadi pengingat betapa kejamnya ancaman jerat bagi satwa liar. Melalui aksi di berbagai kota, COP dan Orangufriends di seluruh Indonesia mengajak masyarakat untuk tidak tinggal diam, sebab menyelamatkan harimau berarti menjaga kehidupan hutan dan masa depan generasi kita.
Terima kasih kepada semua pihak yang terlibat, Orangufriends yang berada di Jogja, Medan, Padang, Pasaman, Batang, Depok, Malang, Pekanbaru, Mapala Kehutanan Universitas Kuningan (Mahakupala), Medan Book Party, Sumatra Wild Adventure, World Clean-Up Day, dan rekan-rekan dari Fakultas Kehutanan Universitas Brawijaya. (DIM)
Sore yang tenang di Miau Baru dan para siswa yang baru saja selesai berolahraga dengan keringat masih menempel di wajah membuat suasana sedikit lesu. Meski lelah, siswa-siswi SMAN 10 Kongbeng, Kalimantan Timur berkumpul di aula sekolah. “Gawat, waktunya tidur siang ini”.
Suara anggota tim Crusader COP, Agung pun terdengar keras, “Siapa yang pernah melihat orangutan?”. Tak disangka, ternyata beberapa anak mengangkat tangannya, ternyata yang mengantuk tidak semuanya. Agung pun segera menghampiri siswa yang mengacungkan tangannya.
“Saya melihatnya, di kawasan wisata hutan Selei Sagum”,
“Saya melihatnya kak, di sekitar jalan poros menuju Sangatta”.
Agung pun menimpali, “ Wow, hebat! Kalian beruntung bisa melihat mereka di habitat aslinya, Kalimantan dimana kita lahir dan besar. Tapi, kenapa ada orangutan di jalan raya?”.
Salah satu siswa memberanikan diri menjawab walaupun dengan tatapan lesu namun tetap bersuara lantang, “karena hutannya udah pada habis ditebang orang”.
Kemudian Agung pun melanjutkan, “Wah, kasihan banget ya… Orangutan sudah kehilangan rumahnya sampai-sampai bisa kita lihat di jalan raya. Tapi tahukah kalian, memelihara orangutan itu juga tidak boleh? Mereka adalah satwa liar yang dilindungi. Habitat mereka semakin sempit karena manusia. Makanya, kita harus menjaga hutan dan alam sekitar kita”.
Siswa-siswa mulai terlihat lebih tertarik. Ada yang bertanya, “Kenapa gak boleh dipelihara, Kak? Kan lucu?”
Agung pun menggelengkan pelan, “Orangutan bukan hewan peliharaan. Mereka butuh ruang yang luas untuk bergerak, mencari makan, dan bersosialisasi. Kalau dipelihara, mereka akan stres dan sakit. Selain itu, memelihara satwa liar juga melanggar hukum”.
Rina, salah satu siswa, teringat cerita dari pamannya yang bekerja di kebun sawit. “Paman saya bilang, kadang orangutan masuk ke kebun dan merusak tanaman. Apa yang harus dilakukan, Pak?”
“Itu pertanyaan bagus”, komentar Pak Budi. “Sebenarnya, orangutan masuk ke kebun karena habitat asli mereka terganggu. Solusinya adalah kita harus menjaga hutan agar mereka punya tempat tinggal yang cukup. Kalau mereka masuk ke kebun, sebaiknya kalian bisa laporkan ke nomor yang ada di slide ini atau ke pihak berwenang agar bisa ditindaklanjuti dengan aman”.
Sesi edukasi berlanjut dengan cerita-cerita menarik tentang perilaku orangutan, kecerdasan mereka, dan betapa pentingnya peran mereka dalam ekosistem hutan. Meski awalnya kurang aktif, perlahan siswa mulai terlibat dalam diskusi. Ada yang bertanya tentang cara menjaga hutan, ada pula yang ingin tahu lebih banyak tentang upaya konservasi yang dilakukan oleh COP (Centre for Orangutan Protection).
Saat sesi berakhir, Agung pun menutup dengan pesan kuat, “Ingat teman-teman, orangutan adalah sahabat kita di hutan. Mereka membantu menjaga keseimbangan alam. Jadi, mari kita jaga habitat mereka dengan tidak merusak hutan dan tidak memelihara satwa liar. Salam edukasi, salam konservasi!”. Di balik senja yang perlahan memudar, harapan pun muncul. Siswa-siswi SMAN 01 Kongbeng kini bukan hanya penonton, tetapi merupakan penjaga masa depan hutan dan satwa liar di sekitar mereka. (AGU)
Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) yang diperingati setiap 10 Agustus menjadi
momentum penting untuk menyuarakan semangat pelestarian alam. Dalam rangkaian “Road
to HKAN 2025”, tim COP Sumatra bersama BBKSDA Sumatera Utara menggelar kegiatan
edukatif di Kota Padang Sidempuan pada 3 Agustus 2025. Tim APE Sentinel dan APE
Patriot hadir lengkap dengan kostum orangutan, alat peraga edukasi, dan merchandise
seperti kaos anak-anak, untuk mengajak masyarakat, terutama generasi muda, untuk lebih
peduli terhadap orangutan dan hutan sebagai rumah mereka.
Berlokasi di Alaman Bolak Nadimpu, kegiatan dibuka dengan senam sehat massal yang
langsung memanaskan suasana. Stan COP pun mulai ramai disambangi warga, apalagi
dengan kehadiran maskot orangutan yang berjalan santai di tengah kerumunan dan mencuri
perhatian banyak anak-anak. Dua relawan mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah
Tapanuli Selatan, Nur dan Rini, turut memperkuat tim dengan menyampaikan pesan
konservasi melalui diskusi ringan dan pengenalan program-program COP di Sumatera Utara
dan Kalimantan Timur. Bagi mereka, ini adalah pengalaman baru yang seru dan penuh
makna dengan berinteraksi langsung dengan masyarakat, menyampaikan pentingnya
menjaga hutan, serta mengenalkan keberadaan orangutan Tapanuli yang menjadi spesies
langka kebanggaan daerah mereka sendiri.
Anak-anak menjadi pusat keceriaan hari itu, antusias berfoto dengan maskot orangutan,
hingga dibelikan kaos oleh orang tua nya sebagai kenang-kenangan. Di tengah riuh doorprize
dan tawa pengunjung, obrolan tentang pentingnya menjaga hutan terus mengalir. Kegiatan
ditutup dengan penyerahan hadiah lomba puisi oleh perwakilan Pemerintah Kota Padang
Sidempuan, dan momen kebersamaan diabadikan lewat foto bersama panitia dan Kepala
Bidang III BBKSDA Sumatera utara. Sebuah langkah kecil, namun penuh makna dalam
membangun kesadaran bersama untuk masa depan orangutan.
Nah, kira-kira kejutan apa lagi ya yang akan hadir di rangkaian “Road to HKAN”
selanjutnya? Pantau terus informasinya dan jangan sampai ketinggalan untuk ikut
meramaikan!
Organisasi nirlaba yang bergerak di bidang konservasi sumber daya alam, Sintas kembali menggelar kegiatan edukatif dan inspiratif bagi generasi muda melalui program Tiger Youth Camp. Acara yang berlangsung selama tiga hari, mulai dari tanggal 29 hingga 31 Juli 2025, bertempat di lokasi strategis Hutan Penelitian dan Pendidikan Biologi Universitas Andalas (UNAND). Tema tahun ini “Harimau Sumatera, Masa Depan Kita: Edukasi, Aksi, dan Konservasi” bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman generasi muda tentang pentingnya pelestarian harimau sumatra dan habitatnya serta isu-isu konservasi lainnya.
Sintas mengundang COP untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman di lapangan terkait “Konflik Harimau Manusia”. Topik ini didasari oleh meningkatnya kasus interaksi negatif antara harimau sumatra dan masyarakat di sekitar kawasan hutan dalam beberapa tahun terakhir. Dalam sesi yang berlangsung interaktif tersebut, COP memaparkan berbagai faktor pemicu konflik, mulai dari hilangnya habitat alami harimau akibat deforestasi dan alih fungsi lahan, hingga praktik perburuan liar yang mengurangi ketersediaan mangsa alami harimau. Dampak konflik dapat dilihat pada kedua belah pihak, kerugian materiil dan psikologis bagi masyarakat, maupun ancaman keselamatan bagi populasi harimau sumatra yang terancam punah jadi dilema.
Strategi dan upaya mitigasi konflik yang telah berhasil diterapkan di berbagai wilayah lain, dapat menekan pentingnya pendekatan kolaboratif dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, masyarakat adat, perusahaan perkebunan, dan organisasi konservasi. Edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang perilaku harimau dan cara menghindarinya juga menjadi poin penting agar dapat meminimalisasi konflik.
Gerakan Sintas dan COP dalam Tiger Youth Camp ini menjadi contoh sinergi yang positif antara organisasi konservasi yang memiliki fokus berbeda namun memiliki tujuan yang sama, yaitu menjaga kelestarian alam Indonesia. Semoga kegiatan seperti ini semakin menjangkau lebih banyak lagi generasi muda sehingga kesadaran pentingnya konservasi semakin meningkat dan masa depan harimau sumatra serta keanekaragaman hayati Indonesia dapat lebih baik lagi.
Pernahkah kalian mendengar tentang monyet punk Sulawesi? Dengan jambul khas di kepala, ekspresi wajah yang karismatik, dan gaya hidup sosial yang kuat, monyet hitam Sulawesi (Macaca nigra) atau Yaki, telah menjadi simbol alam liar Sulawesi Utara. Sayangnya, si “punk” hutan ini justru terancam punah di habitat aslinya akibat perburuan dan alih fungsi lahan. Meski begitu, berbagai upaya konservasi terus dilakukan untuk memastikan spesies endemik ini tetap bisa bertahan di tanah kelahirannya.
Dalam kelas bulanan Dating APES ke-6 yang berlangsung pada 11 Juli 2025, Centre for Orangutan Protection (COP mengangkat tema tentang Yaki dan menghadirkan Billy Gustafianto, manajer Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tasikoki sekaligus pengurus di Yayasan Masaran. Billy, alumni COP School Batch 11, membagikan pengalamannya dalam upaya pelestarian Yaki, baik dari sisi penyelamatan di lapangan hingga rehabilitasi di pusat penyelamatan. Forum ini digelar secara hybrid (daring melalui Zoom) dan luring bersama peserta yang hadir langsung.
Diskusi berlangsung interaktif dengan banyak pertanyaan dari peserta. Mayoritas penasaran tentang bagaimana penanganan konflik antara Yaki dan masyarakat, merujuk pada pengalaman konflik yang sering terjadi antara manusia dan monyet ekor panjang di berbagai daerah. Billy menjelaskan bahwa Yaki, sebagai satwa sosial yang hidup dalam kelompok, memiliki pendekatan rehabilitasi yang berbeda dibandingkan orangutan. Di PPS Tasikoki, Yaki direhabilitasi dalam kelompok dan nantinya juga dilepasliarkan secara berkelompok, agar mereka tetap memiliki struktur sosial alami yang penting untuk kelangsungan hidup mereka di alam bebas. Kelas ini menjadi ruang belajar yang memperluas perspektif peserta tentang konservasi primata Indonesia yang kaya dan penuh tantangan. (DIM)
Pada 24 Juli 2025, Gedung Teater FMIPA Universitas Mulawarman dipenuhi semangat muda saat Ceremony Penerimaan Beasiswa EBOCS 2025 digelar. Acara ini dihadiri oleh perwakilan COP, Orang Utan Republik Foundation (OURF), pimpinan UNMUL, para dosen, mahasiswa, hingga orang tua penerima beasiswa. Tahun ini, enam mahasiswa resmi terpilih, dua dari Fakultas Kehutanan dan empat dari FMIPA. Agenda berlanjut keesokan harinya dengan penandatanganan MoA antara COP dan FMIPA serta sesi berbagi inspiratif. Gary Shapiro dari OURF membawakan materi tentang konservasi orangutan, tim COP memaparkan program di Kalimantan Timur, sementara alumni EBOCS berbagi kisah mereka, mulai dari kampanye, edukasi ke sekolah, sampai pengalaman riset di lapangan.
EBOCS (East Borneo Orangutan Caring Scholarship) sendiri adalah bagian dari program beasiswa internasional Orangutan Caring Scholarship (OCS) yang dikhususkan untuk mahasiswa Kalimantan Timur. Didukung OURF dan dikelola COP sejak 2021, program ini awalnya hanya memberi kesempatan kepada dua mahasiswa. Namun berkat keberhasilan dan konsistensi, kuotanya terus bertambah dari tahun ke tahun. Hingga 2025, EBOCS telah mengantarkan 24 mahasiswa untuk tidak hanya menyelesaikan pendidikan, tapi juga ikut berperan dalam konservasi orangutan.
Salah satunya adalah Andika, mahasiswa Biologi semester 6 FMIPA UNMUL. Saat ini ia sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan selama 40 hari di site pelepasliaran orangutan COP, Busang. Andika juga tengah menyiapkan penelitiannya, yaitu mengenai rayap sebagai salah satu pakan alami orangutan. Di lapangan, Andika juga terjun langsung dalam berbagai aktivitas, mulai dari pelepasliaran dan monitoring orangutan, patroli kawasan, mitigasi konflik, hingga survey keanekaragaman satwa. Harapannya, penelitian ini tak hanya memperkaya data COP, tapi juga menjadi sumbangsih nyata bagi upaya menjaga orangutan tetap lestari di hutan Kalimantan. (DIM)
Langit Yogyakarta menguncup perlahan pada 9 Mei 2025, saat rintik hujan turun bak salam bumi kepada manusia yang berkumpul di Laboratorium Biologi UGM. Di sinilah talkshow “Cerita dari Jogja: Alam Bukan Warisan, Tapi Titipan” bergulir sebagai kelanjutan dari aksi Hari Bumi di Malioboro, sebulan sebelumnya. Para pembicara tak datang membawa materi kosong, mereka datang dengan napas hutan. Indira Nurul (COP) yang menyuarakan jeritan orangutan dari balik kabut api, Fara Dini (Javan Wildlife) yang menafsir ulang konservasi sebagai relasi hidup, dan Ignas Dwi Wardhana, sang fotografer satwa yang tak berbicara banyak karena fotonya sudah lebih dari cukup untuk mengguncang.
Di tengah guyuran hujan, suasana mendadak magis saat Pentas Tari Owa dibawakan langsung oleh keturunan asli Suku Mentawai. Tubuhnya menari bukan sekedar dengan gerak, tapi dengan jiwa. Ia menyampaikan kisah primata yang kehilangan hutan, rumah, dan waktu.Gerakan yang menyentak, patah, lalu perlahan mengalir seperti sungai di pedalaman. Senja pun tiba dan layar lebar menyala. Film-film dari Forum Film Dokumenter (FFD) Jogja dan 4K Jogja mulai bicara, tentang tanah yang digadaikan, hutan yang dipecundangi, dan manusia-manusia kecil yang bertahan melawan sunyi. Tak ada yang bergerak gegas, semua larut dalam perenungan yang lembab dan jujur.
Pukul 17.30 WIB, acara usai. Tapi bukan akhir yang terasa melainkan awal dari benih kecil yang tumbuh di kepala-kepala muda. Sebuah bisikan baru bahwa menjaga alam bukanlah proyek besar yang menunggu dana jutaan, tapi keputusan harian yang bisa dimulai hari ini. Di sore yang basah itu, Jogja menyampaikan satu pesan yang tidak mudah dihapurshujan. Bumi memang bukan warisan, ia adalah titipan dan sudah waktunya kita bersiap menjadi penjaganya. (DIT)
Bagi saya, mengikuti COP School adalah pengalaman yang tak terlupakan. Program ini, gagasan dari Centre for Orangutan Protection (COP), membuka jalan dan membawa saya lebih dekat mengenal dunia konservasi satwa liar dengan cara yang menyenangkan dan penuh kejutan. Metode belajarnya dirancang interaktif dan imersif, kelas yang seimbang antara teori dan praktik, camping (jika cuaca memungkinkan), main air, nonton bareng, masak bersama, penelusuran alam, permainan beregu, kunjungan ke sekolah, hingga kejutan-kejutan kecil yang bikin suasana makin hidup. Semua itu membangun ruang belajar yang egaliter, tanpa sekat antara yang sudah berpengalaman dan yang masih awam.
Salah satu momen paling berharga buat saya adalah saat ikut praktik langsung dalam proses animal rescue. Saya belajar bagaimana menyelamatkan satwa liar, baik dari perdagangan ilegal, situasi darurat, maupun konflik satwa-manusia. Kami dikenalkan pada prosedur penyelamatan, perawatan awal, hingga proses rehabilitasi sebelum satwa bisa kembali ke habitat alaminya. Ini sungguh membuka mata, bahwa manusia punya peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Selain itu kami juga diajak beljar tentang mitigasi bencana pada satwa, edukasi masyarakat, memerangi perdagangan satwa liar ilegal, hingga menghadapi kondisi tak terduga di lapangan. Semua ini bukan hanya memperkaya ilmu, tapi juga menumbuhkan rasa empati dan kepedulian yang mendalam terhadap alam dan makhluk hidup di dalamnya.
Yang luar biasa dari COP School adalah keterlibatan yang tidak berhenti ketika program selesai. Alumni didorong untuk tetap aktif, baik secara individu, membentuk komunitas, atau bekerja sama dengan berbagai organisasi konservasi di Indonesia. Tujuannya jelas, mempertahankan, melindungi, dan memperjuangkan nasib satwa liar yang terancam punah. COP School bukan sekedar program singkat. Ini adalah gerakan panjang yang bisa terus dibawa dalam kehidupan sehari-hari. Saya merasa sangat beruntung bisa menjadi bagian dari keluarga besar COP School.
Buat kamu yang suka alam, suka petualangan, peduli lingkungan, atau ingin punya pengalaman seru sekaligus bermakna, COP School Batch 15 wajib banget kamu ikuti! Siap-siap ketemu teman-teman keren, belajar hal baru, dan terjun langsung jadi bagian dari perjuangan menyelamatkan satwa liar Indonesia. (Zain Nabil, Alumni COP School Batch 9).
Tanggal 23 April 2025, tim APE Warrior kembali membawa semangat konservasi ke jantung kampus, KP3 Expo Kehutanan UGM. Centre for Orangutan Protection hadir serta turut membuka stand edukasi, menyapa mahasiswa, dan tentu saja, mengajak mereka ngobrol soal orangutan, hutan, dan aksi-aksi nyata di lapangan. Tak hanya itu, Demetria Alika juga tampil sebagai pembicara dalam talkshow bersama Aksi Konservasi Yogyakarta dan tokoh inspiratif dari Desa Wisata Jatimulyo. Talk Show ini jadi momen hangat, penuh cerita, dan inspirasi dari berbagai lini perjuangan pelestarian alam, mulai dari penyelamatan satwa, edukasi akar rumput, hingga pelibatan masyarakat lokal.
Lalu, ada satu momen unik yang bikin kami snyum-senyum sendiri. Saat Dimi panggilan akrabnya Demetria menjelaskan bahwa aktivitas COP dan Orangufriends nggak cuma soal rescue, rehab, and release orangutan, tapi juga lewat cara seru seperti konser amal (Sounds For Orangutan/SFO) dan pameran seni amal (Art For Orangutan/AFO), salah satu peserta langsung angkat tangan. “Maaf, Kak. Tapi konser dan pameran seni, emang ada hubungannya sama konservasi orangutan?”, tanya seorang mahasiswa yang turut hadir sebagai peserta.
Ruangan sempat hening, semua menanti jawaban. “Kalau mau jujur… ya memang nggak ada korelasinya secara langsung”, kata Dimi sambil tersenyum. “Tapi justru di situlah letak kekuatannya. Ketika kita gabungkan dua hal yang tampaknya nggak nyambung, konservasi dan musik atau seni, kita bisa menjangkau lebih banyak orang. Kita bisa ajak mereka yang mungkin nggak pernah kepikiran soal orangutan, untuk peduli dan terlibat, bahkan dari dunia mereka sendiri.”.
Seketika, peserta itu tersenyum lebar dan mengangguk. “Oh… iya ya. Baru kepikiran. Jadi konservasi itu bukan cuman buat orang hutan aja”, celetuknya sambil terkekeh. “Tapi buat semua orang, apapun latar belakangnya.”. Percakapan itu jadi momen reflektif yang menghangatkan hati. Sebuah pengingat bahwa perjuangan konservasi bisa datang dari mana saja, asal ada niat dan kepedulian. Selain membuka obrolan, tim juga menjual merchandise sebagai bentuk kontribusi publik, dan tentu saja mengajak mahasiswa untuk mendaftar ke COP School Batch 15 yang akan digelar Juni nanti. Harapannya, makin banyak jiwa muda yang turun tangan jadi bagian dari gerakan ini. Hari itu kami pulang dengan semangat baru. Bertemu orang-orang yang penasaran, terbuka pikirannya, dan siap melangkah lebih jauh. Karena konservasi bukan tentang siapa kamu hari ini, tapi tentang keberanianmu peduli. (DIT)
Tanggal 22 April diperingati sebagai Hari Bumi Sedunia. Tahun ini, semangat untuk lebih peduli terhadap bumi diwujudkan lewat aksi kampanye bertema #RawatAjaDulu yang digelar oleh APE Warrior bersama Orangufriends Jogja serta kawan-kawan dari Aksi Konservasi Yogyakarta, Javan Wildlife Institute (JAWI), Relung Indonesia, Paguyuban Pengamat Burung Jogja (PPBJ), swaraOwa, dan Teman Berjalan.
Berlokasi di kawasan wisata yang ramai pengunjung, kampanye ini tidak hanya melibatkan para penggiat konservasi, tapi juga masyarakat luas yang kebetulan melintas. Salah satu yang ikut terlibat adalah Jojo, mahasiswa Antropologi UGM dan relawan Orangufriends, yang membagikan kisahnya selama mengikuti kegiatan. “Hari Bumi itu sebelumnya nggak pernah terpikir akan aku rayakan”, kata Jojo sambil tersenyum. “Tapi hari ini beda. Teman saya yang biasanya nggak tertarik soal konservasi tiba-tiba ikut hadir. Saya jadi penasaran… sebenarnya apa yang bikin kegiatan ini menarik?”.
Kampanye #RawatAjaDulu menyoroti hal-hal sederhana yang bisa dilakukan siapa saja, seperti menjaga kebersihan, mengurangi penggunaan plastik, menggunakan listrik seperlunya, semua menjadi pesan yang kami suarakan hari itu. Kami juga membagikan stiker edisi khusus Hari Bumi sebagai bentuk ajakan kecil namun bermakna.
Jojo mengakunya awalnya ragu. Kegiatan edukasi dilakukan di tengah kawasan wisata yang penuh dengan keramaian dan keragaman. Tapi ternyata… mereka penasaran banget! Banyak yang datang tanya-tanya, ikut ngobrol, bahkan cerita pengalaman pribadi soal lingkungan”, ujar Jojo. Hari itu, interaksi demi interaksi mengalir. Masyarakat bukan hanya jadi penonton, tapi ikut menjadi bagian dari percakapan soal pentingnya menjaga bumi. “Senang banget rasanya”, tambah Jojo. “Melihat banyak orang, bahkan di area wisata, masih peduli dan mau mendengarkan. Ini jadi harapan bahwa suara konservasi bisa sampai ke siapa pun”.
Aksi ini hanyalah awal dari rangkaian kampanye Hari Bumi. Selanjutnya, akan ada pemutaran film dan talkshow bertema lingkungan yang akan digelar di Fakultas Biologi UGM pada 9 Mei mendatang. Tentunya, kampanye ini juga menjadi pengingat bahwa Hari Bumi tidak cukup dirayakan setahun sekali. Harapannya, semakin banyak orang yang sadar dan bersuara untuk menjaga bumi dari kerusakan. Karena dengan begitu, kita bisa hidup berdampingan dengan bumi yang lebih sehat dan lestari, lebih lama. (DIM)
