Orangufriends

AMBOI! SEBUAH PENGALAMAN TAK TERLUPAKAN DI COP SCHOOL

Bagi saya, mengikuti COP School adalah pengalaman yang tak terlupakan. Program ini, gagasan dari Centre for Orangutan Protection (COP), membuka jalan dan membawa saya lebih dekat mengenal dunia konservasi satwa liar dengan cara yang menyenangkan dan penuh kejutan. Metode belajarnya dirancang interaktif dan imersif, kelas yang seimbang antara teori dan praktik, camping (jika cuaca memungkinkan), main air, nonton bareng, masak bersama, penelusuran alam, permainan beregu, kunjungan ke sekolah, hingga kejutan-kejutan kecil yang bikin suasana makin hidup. Semua itu membangun ruang belajar yang egaliter, tanpa sekat antara yang sudah berpengalaman dan yang masih awam.

Salah satu momen paling berharga buat saya adalah saat ikut praktik langsung dalam proses animal rescue. Saya belajar bagaimana menyelamatkan satwa liar, baik dari perdagangan ilegal, situasi darurat, maupun konflik satwa-manusia. Kami dikenalkan pada prosedur penyelamatan, perawatan awal, hingga proses rehabilitasi sebelum satwa bisa kembali ke habitat alaminya. Ini sungguh membuka mata, bahwa manusia punya peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Selain itu kami juga diajak beljar tentang mitigasi bencana pada satwa, edukasi masyarakat, memerangi perdagangan satwa liar ilegal, hingga menghadapi kondisi tak terduga di lapangan. Semua ini bukan hanya memperkaya ilmu, tapi juga menumbuhkan rasa empati dan kepedulian yang mendalam terhadap alam dan makhluk hidup di dalamnya.

Yang luar biasa dari COP School adalah keterlibatan yang tidak berhenti ketika program selesai. Alumni didorong untuk tetap aktif, baik secara individu, membentuk komunitas, atau bekerja sama dengan berbagai organisasi konservasi di Indonesia. Tujuannya jelas, mempertahankan, melindungi, dan memperjuangkan nasib satwa liar yang terancam punah. COP School bukan sekedar program singkat. Ini adalah gerakan panjang yang bisa terus dibawa dalam kehidupan sehari-hari. Saya merasa sangat beruntung bisa menjadi bagian dari keluarga besar COP School.

Buat kamu yang suka alam, suka petualangan, peduli lingkungan, atau ingin punya pengalaman seru sekaligus bermakna, COP School Batch 15 wajib banget kamu ikuti! Siap-siap ketemu teman-teman keren, belajar hal baru, dan terjun langsung jadi bagian dari perjuangan menyelamatkan satwa liar Indonesia. (Zain Nabil, Alumni COP School Batch 9).

SEMANGAT KONSERVASI DI KP3 EXPO UGM: EDUKASI, CERITA, DAN PERSPEKTIF BARU

Tanggal 23 April 2025, tim APE Warrior kembali membawa semangat konservasi ke jantung kampus, KP3 Expo Kehutanan UGM. Centre for Orangutan Protection hadir serta turut membuka stand edukasi, menyapa mahasiswa, dan tentu saja, mengajak mereka ngobrol soal orangutan, hutan, dan aksi-aksi nyata di lapangan. Tak hanya itu, Demetria Alika juga tampil sebagai pembicara dalam talkshow bersama Aksi Konservasi Yogyakarta dan tokoh inspiratif dari Desa Wisata Jatimulyo. Talk Show ini jadi momen hangat, penuh cerita, dan inspirasi dari berbagai lini perjuangan pelestarian alam, mulai dari penyelamatan satwa, edukasi akar rumput, hingga pelibatan masyarakat lokal.

Lalu, ada satu momen unik yang bikin kami snyum-senyum sendiri. Saat Dimi panggilan akrabnya Demetria menjelaskan bahwa aktivitas COP dan Orangufriends nggak cuma soal rescue, rehab, and release orangutan, tapi juga lewat cara seru seperti konser amal (Sounds For Orangutan/SFO) dan pameran seni amal (Art For Orangutan/AFO), salah satu peserta langsung angkat tangan. “Maaf, Kak. Tapi konser dan pameran seni, emang ada hubungannya sama konservasi orangutan?”, tanya seorang mahasiswa yang turut hadir sebagai peserta.

Ruangan sempat hening, semua menanti jawaban. “Kalau mau jujur… ya memang nggak ada korelasinya secara langsung”, kata Dimi sambil tersenyum. “Tapi justru di situlah letak kekuatannya. Ketika kita gabungkan dua hal yang tampaknya nggak nyambung, konservasi dan musik atau seni, kita bisa menjangkau lebih banyak orang. Kita bisa ajak mereka yang mungkin nggak pernah kepikiran soal orangutan, untuk peduli dan terlibat, bahkan dari dunia mereka sendiri.”.

Seketika, peserta itu tersenyum lebar dan mengangguk. “Oh… iya ya. Baru kepikiran. Jadi konservasi itu bukan cuman buat orang hutan aja”, celetuknya sambil terkekeh. “Tapi buat semua orang, apapun latar belakangnya.”. Percakapan itu jadi momen reflektif yang menghangatkan hati. Sebuah pengingat bahwa perjuangan konservasi bisa datang dari mana saja, asal ada niat dan kepedulian. Selain membuka obrolan, tim juga menjual merchandise sebagai bentuk kontribusi publik, dan tentu saja mengajak mahasiswa untuk mendaftar ke COP School Batch 15 yang akan digelar Juni nanti. Harapannya, makin banyak jiwa muda yang turun tangan jadi bagian dari gerakan ini. Hari itu kami pulang dengan semangat baru. Bertemu orang-orang yang penasaran, terbuka pikirannya, dan siap melangkah lebih jauh. Karena konservasi bukan tentang siapa kamu hari ini, tapi tentang keberanianmu peduli. (DIT)

AKSI #RAWATAJADULU DI HARI BUMI 2025

Tanggal 22 April diperingati sebagai Hari Bumi Sedunia. Tahun ini, semangat untuk lebih peduli terhadap bumi diwujudkan lewat aksi kampanye bertema #RawatAjaDulu yang digelar oleh APE Warrior bersama Orangufriends Jogja serta kawan-kawan dari Aksi Konservasi Yogyakarta, Javan Wildlife Institute (JAWI), Relung Indonesia, Paguyuban Pengamat Burung Jogja (PPBJ), swaraOwa, dan Teman Berjalan.

Berlokasi di kawasan wisata yang ramai pengunjung, kampanye ini tidak hanya melibatkan para penggiat konservasi, tapi juga masyarakat luas yang kebetulan melintas. Salah satu yang ikut terlibat adalah Jojo, mahasiswa Antropologi UGM dan relawan Orangufriends, yang membagikan kisahnya selama mengikuti kegiatan. “Hari Bumi itu sebelumnya nggak pernah terpikir akan aku rayakan”, kata Jojo sambil tersenyum. “Tapi hari ini beda. Teman saya yang biasanya nggak tertarik soal konservasi tiba-tiba ikut hadir. Saya jadi penasaran… sebenarnya apa yang bikin kegiatan ini menarik?”.

Kampanye #RawatAjaDulu menyoroti hal-hal sederhana yang bisa dilakukan siapa saja, seperti menjaga kebersihan, mengurangi penggunaan plastik, menggunakan listrik seperlunya, semua menjadi pesan yang kami suarakan hari itu. Kami juga membagikan stiker edisi khusus Hari Bumi sebagai bentuk ajakan kecil namun bermakna.

Jojo mengakunya awalnya ragu. Kegiatan edukasi dilakukan di tengah kawasan wisata yang penuh dengan keramaian dan keragaman. Tapi ternyata… mereka penasaran banget! Banyak yang datang tanya-tanya, ikut ngobrol, bahkan cerita pengalaman pribadi soal lingkungan”, ujar Jojo. Hari itu, interaksi demi interaksi mengalir. Masyarakat bukan hanya jadi penonton, tapi ikut menjadi bagian dari percakapan soal pentingnya menjaga bumi. “Senang banget rasanya”, tambah Jojo. “Melihat banyak orang, bahkan di area wisata, masih peduli dan mau mendengarkan. Ini jadi harapan bahwa suara konservasi bisa sampai ke siapa pun”.

Aksi ini hanyalah awal dari rangkaian kampanye Hari Bumi. Selanjutnya, akan ada pemutaran film dan talkshow bertema lingkungan yang akan digelar di Fakultas Biologi UGM pada 9 Mei mendatang. Tentunya, kampanye ini juga menjadi pengingat bahwa Hari Bumi tidak cukup dirayakan setahun sekali. Harapannya, semakin banyak orang yang sadar dan bersuara untuk menjaga bumi dari kerusakan. Karena dengan begitu, kita bisa hidup berdampingan dengan bumi yang lebih sehat dan lestari, lebih lama. (DIM)

COP SCHOOL: BELAJAR KONSERVASI, PRAKTEK LAPANGAN, DAN NGOBROL BARENG PARA PENGGIAT KONSERVASI DI INDONESIA

Pernah dengar tentang COP School? Ini adalah program keren dari Centre for Orangutan Protection (COP), tempat kamu bisa belajar langsung soal dunia konservasi, penyelamatan satwa liar, dan jadi bagian dari gerakan penjaga hutan Indonesia. Tahun ini, COP School Batch 15 akan kembali digelar, dan percayalah, serunya luar biasa!

Sebagai alumni COP School Batch 14 sekaligus bagian dari Orangufriends Surabaya, akuingin berbagi sepotong pengalaman seru saat mengikuti kegiatan tahun lalu. Di sesi awal, kami dikenalkan pada dasar-dasar konservasi, mulai dari pengertian, urgensi, hingga dampak eksploitasi alam dan satwa. Tapi tenang, ini bukan kuliah yang bikin ngantuk. Materinya dikemas interaktif, penuh diskusi, dan sangat relevan dengan kondisi di lapangan.

Yang bikin semangat? Sharing dari para aktivis COP yang sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia penyelamatan satwa. Mereka bukan cuman berbagi cerita, tapi juga menantang kami berpikir, “Apa langkah kita selanjutnya?”.

Setelah teori, waktunya praktik! Kami diajak memahami langsung proses penyelamatan satwa yang dilakukan COP, mulai dari identifikasi kasus, teknik rescue, hingga proses rehabilitasi. Kami juga belajar tentang etika penanganan satwa liar, karena nggak semua bisa sembarangan disentuh. Tak kalah menarik, ada sesi ngobrol bareng para penggiat konservasi dari berbagai penjuru Indonesia, aktivis hutan Kalimantan dan Sumatera, relawan pusat rehabilitasi satwa, hingga jurnalis lingkungan. Cerita-cerita mereka bukan cuman inspiratif, tapi juga membumi, penuh perjuangan dan harapan.

Pulang dari COP School, aku merasa membawa “seember penuh” ilmu, pengalaman, dan semangat perubahan. Banyak alumni yang kemudian aktif di komunitas lingkungan, membuat kampanye penyelamatan satwa, bahkan mendirikan gerakan konservasi di daerahnya masing-masing. Karena di COP School, kamu bukan sekedar peserta. Kamu adalah bagian dari keluarga besar penjaga alam Indonesia. Jadi, tunggu apa lagi? Daftar COP School Batch 15 sekarang juga! (Jihan, Almuni COP School Batch 14).

JADI RELAWAN RIHAS DI SUMBAR YUK!

Ruang Informasi Harimau Sumatra (RIHAS) merupakan ruang edukasi yang dibentuk melalui kerja sama antara BKSDA Sumatra Barat dan Centre for Orangutan Protection (COP). Saya berkesempatan mengikuti kegiatan di RIHAS sebagai edukator untuk siswa Sekolah Dasar (SD), “Menarik, edukatif, dan seru. Bermain sambil belajar bersama para siswa, gak pernah terbayangkan sebelumnya ini sebuah wadah saling belajar”. Jadwal kegiatan yang ada disusun dengan baik dan menyenangkan bagi siswa.

Kegiatan pengamatan dan pengenalan satwa yang dilakukan mudah dimengerti oleh anak-anak sehingga mereka menikmati. Salah satu kegiatan yang dilakukan yaitu pengenalan satwa, herbarium, spesimen kayu, dan karya visual tentang satwa. Anak-anak diajak untuk mengenal berbagai satwa khususnya Harimau melalui gambar dan tulisan. Anak-anak juga disuguhkan langsung bagaimana bentuk dari herbarium dan spesimen kayu. Pengamatan tanda kehadiran satwa melalui jejak yang dicetak, apa itu camera trap, suara, dan juga visual menggunakan plot dengan menggunakan kaca pembesar membuat kegiatan semakin dekat dan nyata bagi anak-anak.

Mengenal konservasi sejak dini dapat meningkatkan rasa kepedulian mereka terhadap ekosistem. Dengan adanya kesempatan ikut serta dalam mengajar ini, saya sangat senang dan mempelajari hal yang baru. Pengemasan materi serius dalam bentuk permainan menjadi hal yang menarik dan memicu rasa penasaran dan semangat belajar mereka. Kelak di tangan merekalah masa depan konservasi berada. Ini hanya bagian kecil dari langkah besar konservasi yang bisa saya ikuti. Semoga RIHAS dapat lebih berkembang, saya, Hafifah Antini K, mahasiswa kehutanan Universitas Riau (UNRI) bangga dan bersyukur menjadi relawan di RIHAS. “Yuk, jadi relawan selanjutnya di RIHAS, belajar bersama dan berkembang bersama”. (Orangufriends Riau)

BERSATU UNTUK SATWA DI ANIMAL WELFARE INDONESIA CONFERENCE 2024

Pada 6 dan 7 Desember 2024, Centre for Orangutan Protection (COP) menghadiri Animal Welfare Indonesia (AWI) Conference di Jakarta. Selama dua hari, acara ini dipenuhi dengan diskusi menarik seputar hak dan kesejahteraan hewan di Indonesia. Di hari pertama, tim mengikuti kelas animal law and policy yang membahas isu seperti lemahnya payung hukum untuk kasus kekejaman terhadap hewan dan perdagangan daging ilegal. Di hari kedua, topik semakin luas, mulai dari kesejahteraan hewan domestik hingga tatangan dalam kepemilikan satwa liar secara ilegal, isu yang cukup rumit terutama bagi teman-teman NGO konservasi.

Salah satu sesi yang berkesan adalah kelas primata yang menjelaskan mengenaik ‘5 Domains of Animal Welfare’, sebuah kerangka kerja yang dapat diaplikasikan untuk meningkatkan perawatan satwa di pusat rehabilitasi. Diskusi ini terasa sangat relevan dengan pekerjaan para animal keeper dan tim medis yang berada di pusat rehabilitasi dan klinik orangutan COP. Sesi ini menjadi sangat penting terutama ketika membahas mengenai kebutuhan nutrisi, lingkungan, kesehatan, perilaku, dan mental hewan yang juga harus terpenuhi.

Sepanjang acara, banyak pemaparan yang berkaitan dengan isu kesejahteraan hewan di Indonesia yang masih membutuhkan banyak perhatian. Namun, dengan audiens yang hadir dalam AWI Conference ini dan bertemu dengan mereka yang memiliki visi serupa serta mendengarkan pengalaman mereka, sungguh sangat membuka wawasan baru. Edukasi menjadi pendekatan yang terus ditekankan oleh para pembicara, sama seperti misi raising awareness yang selama ini juga dilakukan oleh COP.

Sesi yang dibawakan oleh drh. RD. Wiwiek Bagja menjadi salah satu yang paling membekas. Dalam diskusi itu beliau melontarkan pertanyaan tajam, “Why should we give them compensation when they should be sanctioned?” merujuk pada pelaku kekejaman terhadap hewan yang sering lolos dengan sanksi minimal, atau bahkan tanpa hukuman. Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa perjuangan kita belum selesai. Mari terus bergerak bersama, memperjuangkan hak dan kesejahteraan satwa demi masa depan yang lebih baik bagi mereka. (DIM)

JEJAK HUTAN DI TENGAH KOTA MEDAN PADA ABELII FEST BATCH 3

“Ma, ada orangutan di mall!”, seru seorang anak kecil sambil menarik tangan ibunya di depan sebuah ruang pameran di lantai 2 Manhattan Times Square, Medan. Mall yang biasanya penuh hiruk-pikuk belanja kini terasa berbeda. Pada 14-17 November 2024, Abelli Fest Batch 3 membawa suasana hutan dan habitat orangutan ke tengah kota. Jejeran foto hasil dokumentasi Sumatran Rescue Alliance (SRA), diorama sarang orangutan, hingga peralatan enrichment tersusun rapi, menghadirkan pengalaman seolah berada di tengah hutan. Bahkan, tanda-tanda keberadaan orangutan Tapanuli yang ditemukan tim APE Patriot ikut dipamerkan, membuat pengunjung merasa seperti seorang penjelajah.

Hari pertama dimulai dengan penuh semangat. Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alama Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardhani S.Hut., M.AP., M.Env., memotong pita pembukaan dengan senyum antusias. Setelah itu, para tamu dan pengunjung diajak berkeliling pameran, didampingi relawan orangutan (Orangufriends) yang menjelaskan setiap detail dengan penuh dedikasi. Di sore hari, talkshow tentang Konservasi Orangutan Sumatra mengisi ruang pameran. Para panelis membagikan cerita dari lapangan, menyentuh hati pengunjung.

Pada hari kedua, suasana semakin meriah dengan kompetisi ‘Abelii Quiz’ yang diikuti tiga sekolah. SMA Negeri 13 Medan keluar sebagai juara, disambut sorak-sorai pendukungnya. Sementara itu, PMI dan Yayasan HOPE membuka stand donor darah, mengundang pengunjung untuk berkontribusi lebih jauh. Antusiasme pengunjung terus meningkat, membawa energi yang terasa sampai ke sudut-sudut ruang pameran. Hari itu, lebih dari 100 orang datang, meninggalkan ruang dengan penuh kesan.

Hari ketiga dikhususkan untuk anak-anak. Siswa TK berpartisipasi dalam lomba mewarnai, menghasilkan gambar-gambar orangutan penuh warna. Setelah itu, mereka mendengarkan dongeng tentang orangutan yang disampaikan Orangufriends, mata mereka berbinar penuh imajinasi. Pada malam harinya, pengunjung memadati ruang pameran hingga relawan harus bekerja ekstra untuk melayani semua pertanyaan. Pameran malam itu hidup dengan tawa dan rasa ingin tahu yang tulus.

Hari terakhir menjadi puncak inspirasi dengan tema literasi. Workshop kepenulisan yang dipandu Abdul Halim dan Titan Sadewo mendorong peserta untuk mencurahkan pikiran mereka dalam tulisan. DI sore hari, suasana tenang menyelimuti pameran saat komunitas Medan Book Party mengadakan ‘silent reading’ yang menciptakan suasana penuh refleksi di tengah riuhnya mall. Sebagai penutup, seorang kika asal Aceh, Hafiz Ikram, membawakan lelucon segar yang mengundang tawa riuh. (BUK)

PAKAI TWIBBON ORANGUFRIENDS RAYAKAN INTERNATIONAL VOLUNTEER DAY

Setiap tahun pada 5 Desember, Hari Relawan Sedunia dirayakan untuk mengapresiasi jutaan individu yang telah berkontribusi dalam berbagai aksi sukarela. Di Indonesia, Orangufriends menjadi salah satu contoh inspiratif. Ada lebih 430 anggota Orangufriends di seluruh Indonesia hingga mancanegara yang aktif dalam melindungi orangutan dan habitatnya. Dengan semangat sukarela, mereka menjalankan misi konservasi melalui edukasi, kampanye, dan aksi langsung bersama COP.

Dari School Visit hingga konser amal seperti Sound for Orangutan, Orangufriends menjadi ujung tombak kampanye COP untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya konservasi. Mereka juga terlibat dalam acara edukasi seperti Abelii Fest di Sumatra Utara, Moriospere di Kalimantan Timur, dan kegiatan perlindungan serta penyelamatan satwa. Melalui aksi nyata ini, Orangufriends tidak hanya melindungi alam tetapi juga menginspirasi masyarakat untuk ikut menjaga bumi. Pada Hari Relawan Sedunia ini, yuk kita simak perjalanan salah satu Orangufriends yang baru saja bergabung.

Mejadi Orangufriends bukan sekedar tentang memberi, tetapi juga tumbuh dan belajar. Setiap sukarelawan memiliki cerita unik, seperti Aulia, mahasiswi Sastra Arab yang secara tidak sengaja bergabung setahun lalu. Berawal dari iseng mendaftar sebagai sukarelawan di Abelii Fest Batch 2, ia kini menjadi salah satu relawan yang paling aktif di COP dan kerap membantu tim APE Sentinel di Medan. “Aku cuma cari kegiatan relawan waktu itu. Gak nyangka banget ternyata ini jadi keputusan yang mengubah hidupku”, ujarnya.

Setelah bergabung, Aulia mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari School Visit hingga kampanye besar seperti “Banan Not Bullet”. Puncaknya adalah ketika ia bergabung dalam COP School Batch 14 di Yogyakarta, dimana Aulia belajar banyak tentang konservasi dan bertemu teman-teman dari seluruh Indonesia. “Pengalaman di COP School bikin aku sadar betapa pentingnya orangutan bagi ekosistem kita”, katanya.

Kini Aulia aktif menyebarkan kesadaran melalui School dan Campus Visit, bahkan terlibat dalam Abelii Fest Batch 3. Melihat bagaimana anak-anak dan mahasiswa mulai memahami pentingnya melindungi orangutanmemberinya semangat baru. “Kalau dipikir-pikir, ini langkah random terbaik yang pernah aku ambil”, katanya dengan senyum bangga. Di Hari Relawan Sedunia ini, Aulia berharap lebih banyak orang tergerak untuk menjadi bagian dari perubahan. “Bersama, kita bisa selamatkan bumi”, tambahnya penuh keyakinan.

Yuk, mari kita merayakan Hari Relawan Sedunia 2024 bersama Orangufriends dengan menggunakan dan mengunggah twibbon khusus ini! https://www.twibbonize.com/internationalvolunteerday2024#google_vignette
(DIM)

OPEN CALL FOR BROADCASTERS

Beberapa bulan ini, Centre for Orangutan Protection (COP) semakin aktif berkolaborasi dengan stasiun radio lokal sebagai platform untuk berbagi cerita dan pengalaman mengenai konservasi orangutan. Tim COP sering terdengar di gelombang radio dari RRI Yogyakarta hingga KISS FM Medan untuk menyebarkan virus pelestarian orangutan. Dalam setiap siaran, staf COP dan Orangufriends (relawan orangutan) berbagi cerita menarik, baik itu tentang biologi orangutan, aksi-aksi konservasi yang sedang berjalan, atau program lain yang juga fokus pada pelestarian satwa liar seperti tim APE Protector yang bekerja untuk perlindungan Harimau Sumatra di Sumatera. Siaran ini menjadi media yang sangat efektif untuk mendekatkan pesan konservasi kepada masyarakat luas.

Siaran radio juga menjadi sarana informasi kegiatan Orangufriends seperti acara musik Sound for Orangutan di Yogyakarta, Abelii Fest di Medan, Moriosphere di Samarinda, dan kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak orang lainnya. Partisipasi seluruh lapisan masyarakat dalam mendukung kerja konservasi bukanlah hal yang ekslusif tetapi menjadi kewajiban kita semua.

Melihat antusiasme yang tinggi dari pendengar, COP berharap agar kegiatan penyiaran ini bisa berlangsung secara rutin setiap bulannya. “Kami mengajak Orangufriends yang memiliki minat dalam dunia penyiaran dan ingin ikut menyuarakan kegiatan konservasi orangutan untuk bergabung. Ini adalah kesempatan untuk berbagi pengetahuan, meningkatkan kesadaran, dan menginspirasi lebih banyak orang untuk terlibat dalam upaya pelestarian orangutan. Orangufriends yang tertarik bisa langsung menghubungi staf COP di daerah masing-masing untuk bergabung dan menyuarakan perubahan positif melalui gelombang radio”, jelas Demetria Alika Putri, staf komunikasi COP di Yogya. (DIM)

HUJAN METEOR MENGHANTUI MASYARAKAT LEWOTOBI LAKI-LAKI

Bagi masyarakat urban di perkotaan, fenomena seperti hujan meteor mungkin hanya terjadi dalam film. namun lain halnya dengan warga Desa Klatanlo, Kecamatan Wulanggintang, Flores Timur. Hal ini tergambar dari pernyataan warga terkait lubang-lubang besar yang ditemukan di desa mereka. Salah satu lubang besar dengan diameter 15 meter berada di dekat jalan penghubung desa dan terbentuk akibat erupsi Gunung Lewotobi yang terjadi pada 4 November 2024. Uniknya, peristiwa tersebut tidak meninggalkan batu atau serpihan apa pun.

Sebuah rumah yang kami lewati membuat kami terhenti untuk memandanginya. “Itu adalah rumah yang dihantam meteor saat erupsi kemaren, dengan korban enam orang meninggal dunia”, ujar Aziz, Koordinator Lapangan Dinas Peternakan Flores Timur. Rumah tersebut kini hanya menyisakan sebuah kandang yang berisi empat ekor babi peliharaan yang kelaparan. Babi-babi itu menghabiskan pakan berupa dedak jagung yang kami berikan dengan dicampur air.

Setelah mendapat persetujuan dari salah satu keluarga korban, evakuasi empat ekor babi pun dilakukanbersama Dinas Peternakan. Namun, saat tiba di lokasi, kandang hanya berisi dua ekor babi, sementara pagar kandang terlihat telah roboh. Meskipun gemuruh Gunung Lewotobi terdengar sangat keras, proses evakuasi tetap berjalan cepat. Kedua babi yang tersisa dibawa ke shelter yang telah dibangun di dekat Posko Puskewan Konga, Kecamatan Titehena, Flores Timur. Di sana, perawatan dilakukan dengan baik oleh Dinas Peternakan hingga akhirnya kedua babi tersebut diambil oleh keluarga korban. (DIT)