Orangufriends

SELAMAT DATANG COP ACADEMY BATCH 2

Setelah pelatihan pertama pada tahun 2022, Centre for Orangutan Protection (COP) kembali menggelar pelatihan COP Academy Batch 2, dimana pada tahun ini diharapkan kembali menelurkan generasi yang akan meneruskan tradisi melindungi orangutan dan habitatnya.

Lebih dari 200 pendaftar, tim COP memilih 11 peserta untuk mengikuti COP Academy 2023. Pelatihan ini diadakan pada 11-12 Februari 2023 di Yogyakarta. Program ini memadukan materi kelas dan materi praktik dari para ahli konservasi alam dan satwa. Materi teknis yang diberikan oleh staf senior COP yang bermaksud untuk memperkuat kerja di semua situs COP. Selain itu di pelatihan ini juga diberikan pemahaman tentang membangun kerjasama, dimana hal ini sangat penting bagi siapa pun yang bekerja dengan COP.

Tim COP melatih para peserta dengan teori, praktik dan permainan. Metode ini sangat efektif untuk menilai karakter dan pola pikir mereka secara langsung. Setelah sesi kelas berakhir, setiap siswa akan melewati tahap wawancara terakhir. Satu per satu peserta diberikan waktu untuk mengeksplorasi minat dan keterampilan mereka.

Pengumuman peserta yang lolos sudah diumumkan oleh COP. Dalam waktu dekat ini mereka akan langsung terjun memperkuat tim lapangan COP di garis depan. Tambahan lulusan ini,  COP berharap aktivis baru akan tumbuh dan lulusan COP Academy Batch 2 akan meneruskan perjuangan dalam mendukung konservasi di Indonesia. (SAT)

HEWAN TERDAMPAK ERUPSI SEMERU RENTAN PENYAKIT PENCERNAAN DAN KULIT

Kami menutup hari ketiga di lokasi Erupsi Gunung Semeru dengan pemberian vitamin, obat cacing serta mengobati 6 kambing masyarakat yang kondisinya membutuhkan perhatian lebih. Ada yang kondisinya terluka dan mengalami infeksi pada bagian kepala dan penglihatannya. Perjalan tim Animal Rescue kali ini dibantu oleh drh. Tommy dari Yogyakarta. “Kami lakukan secara sukarela dalam mengupayakan percepatan penanganan kondisi hewan akibat bencana erupsi yang berdampak pada masyarakat di Desa Sumberwuluh dan Sumbermujur. Ada drh. Ida dari Dinas Peternakan Lumajang juga”, jelas Zein, siswa COP Academy Batch 1.

Beberapa warga mengeluhkan sulitnya mencari pakan hijau untuk ternak mereka karena aktivitas erupsi. Erupsi juga mempengaruhi cuaca di lereng Semeru, ketidakstabilan cuaca menyebabkan hewan ternak rentan terkena penyakit, khususnya penyakit pencernaan dan kulit.

“Kebersihan lingkungan shelter harus lebih diperhatikan”.

Penyuluhan kesehatan ini akan berlanjut sampai kondisi masyarakat terdampak bencana stabil dan kondusif. “Kami berharap kita semua bisa bahu-membahu, memberikan sedikit batuan yang dapat membantu masyarakat umumnya dan kesejahteraan hewan yang ikut terdampak khususnya. Kami berencana terus menyisir lokasi sekitar daerah terdapkan erupsi dan memastikan hewan yang membutuhkan pertolongan agar segera dapat dibantu”, tambahnya. (Zein_COPAcademy1)

ESOK PETERNAK BISA MENCARI PAKAN HIJAU DI LOKASI YANG TERSEDIA

Gunung Semeru kembali erupsi pada 4 Desember 2022 lalu. Erupsi kali ini terjadi lebih besar dari erupsi sebelumnya. Periode erupsi susulan sama rutinnya seperti tahun sebelumnya. Kini masyarakat jauh lebih waspada dengan aktivitas vulkanis tapi banyak masyarakat juga yang mengabaikan himbauan erupsi khususnya di daerah red zone atau di zona merah. 

Tim Animal Rescue sudah tiga hari berada di daerah terdampak berat yakni di Desa Kajarkuning. Bersama perangkat desa dan Dinas Peternakan setempat, tim mensosialisasikan bantuan pakan ternak. Rencananya, masyarakat yang mempunyai hewan ternak yang sudah diungsikan ke shelter sementara yang berlokasi di Desa Sumbermujur akan diberikan tempat untuk mencari pakan hijauan untuk ternaknya. Lokasi sumber pakan sebelumnya sudah hilang tertutup aktivitas vulkanik akibat banjir lahar panas yang meluap. 

Lokasi bantuan sumber pakan sementara yang diberikan seluas 2 hektar dan berjarak 3 kilometer dari shelter. Esok hari masyarakat sudah dapat mulai mencari pakan dan tidak ada batasan mengambil jumlahnya namun sekiranya cukup untuk memenuhi kebutuhan harian.

Tim Animal Rescue COP tidak menurunkan sikap awasnya di lokasi bencana. Pada periode pengamatan 8 Desember 2022 pukul 00.00-06.00 WIB, Pos Pengamatan Gunung Api Semeru merekam 24 kali letusan/erupsi dan durasi gempa 58-193 detik. “Awan panas, aliran lahar dan lontaran batu (pijar) mengancam keberadaan tim. Semoga semesta melindungi kita semua”, kata Satria Wardhana, kordinator COP di lapangan. (SAT)

TIM ANIMAL RESCUE COP BANTU TERNAK DI ERUPSI SEMERU

Semeru kembali erupsi tepat setahun kemudian. Tim Animal Rescue yang baru saja pulang dari assesmen di Gempa Cianjur, Jawa Barat kembali bersiap menuju timur. Sebelumnya gempa di Gresik sempat membuat tim waspada dan terus mengikuti pemberitaan, berjaga jika hewan-hewan juga terdampak Gempa Gresik. Lega sesaat namun tim tetap turun untuk Semeru. Komunikasi dengan kontak lokal pun kembali terjalin, kali ini tanpa tim pendahulu, COP memutuskan bekerja untuk hewan Semeru. 

Selasa, 6 Desember, Tim Animal Rescue COP telah tiba di Desa Sumbermujur, Kec. Candipuro, Jawa Timur. Tim beranggotakan 6 orang dan langsung disambut oleh Kepala Desa dan Dinas Peternakan Lumajang. Pada hari itu tim langsung berkordinasi terkait penanganan satwa yang terdampak Erupsi Gunung Semeru. Kordinasi ini adalah lanjutan dari komunikasi lewat telepon dan whatsapp sebelumnya.

Ada 109 ekor kambing, 2 ekor domba yang selamat dan sudah dievakuasi. Untuk sementara tercatat 20 ternak yang mati, sebagian telah dikubur dan sebagian lagi masih tergeletak di kandang mandiri milik masyarakat. Kebutuhan yang paling mendesak untuk ternak adalah ketersediaan air dan pakan hijauan yang bersih juga. Pakan hijau yang diinginkan peternak juga harus disesuaikan karena bisa saja pakan hijau yang datang akan menjadi sia-sia karena tidak sesuai dengan kebiasaan jenis pakan yang diberikan. “Ini adalah bagian tersulit dari penyediaan bantuan pakan ternak di sini. Untungnya, tim masih memiliki hubungan yang baik dengan penyedia pakan hijau tahun lalu, ketika Erupsi Semeru 2021. Semoga semua dapat berjalan sesuai rencana”, ujar Satria Wardhana, kapten tim APE Warrior COP yang selalu siap turun membantu hewan yang membutuhkan pertolongan saat bencana alam.

Centre for Orangutan Protection memiliki tim yang selalu siap menolong hewan yang membutuhkan ketika bencana alam seperti erupsi gunung berapi, gempa, banjir bahkan tsunami. Tim yang didominasi para relawan orangutan ini melakukan evakuasi, pemberian makanan baik di satu lokasi atau di jalanan hingga membuatkan penampungan sementara tergantung kebutuhan saat itu. Penanganan hewan menjadi prioritas tim ini karena makhluk hidup yang satu ini sering terlupakan dan terabaikan di tengah kekacauan bencana. “Berbagi tugas dan saling meringankan adalah tujuan utama tim ini. Kami berharap masyarakat memahami fokus kerja kami yang bukannya menomor duakan manusia tetapi lebih ke berbagi peran penanganan bencana”, jelas Satria lagi. (SAT)

HARI KEEMPAT TIM ANIMAL RESCUE COP DI GEMPA CIANJUR

Ini adalah hari keempat tim berada di lokasi bencana Cianjur, Jawa Barat. Penanganan pada satwa yang terdampak masih dilakukan khususnya pemberian pakan dan penyisiran satwa yang berada di wilayah terdampak gempa Cianjur berkekuatan 5,6 Mw pada 21 November 2022 pukul 13.21 WIB yang lalu. 

Siang ini, tim berhasil mengevakuasi ular sanca batik (Malayopython reticulatus). Ular ini didapat dari salah seorang warga yang terdampak bencana. Ia menangkap ular tersebut saat melintas di depan jalan rumahnya. Proses penangkapan dilakukan dua hari sebelum gempa terjadi. Sempat akan dilepaskan ke hutan tetapi takut salah penanganan dan tidak tahu lokasi yang pas untuk dikembalikan ke alam.

Setelah tim memeriksa kondisi ular dan melakukan pencarian lokasi yang ideal untuk ular dengan panjang dua meter ini, tim Animal Rescue COP pun melepaskan python ini. Selanjutnya tim memutuskan turun ke zona hijau karena mendung yang akhirnya hujan deras yang cukup lama. 

Sampai tanggal 25 November, zona merah mulai dipindah BNPB. Lokasi pencarian korban bencana terfokus di daerah Cijendul dimana pencarian korban manusia yang tertimbun longsor. Untuk wilayah desa-desa di kecamatan Cugenang kondisinya sudah multi kondusif dan banyak relawan dari luar  maupun dalam kota yang memenuhi tiap sudut lokasi pengungsian masyarakat. (SAT)

GEMPA CIANJUR: KORBAN YANG TERLUPAKAN (2)

Rabu pagi, kami sudah meninggalkan camp menuju lokasi yang belum sempat kami datangi kemaren. Pergerakan kami jauh lebih lincah dengan sepeda motor sewaan. Dua keluarga yang kami jumpai memelihara lima kucing dan dua di antara nya baru beberapa hari dilahirkan. Pakan basah untuk bayi kucing pun kami berikan.

Salah satu pemilik kucing yang selalu kedatangan dua kucing liar menangis karena dua kucing peliharaannya tidak mau makan dan menjadi penakut jika ada orang asing. “Kucing ini biasanya ramah ke semua orang, tetapi sekarang malah langsung kabur. Apalagi ketika mendengar suara sirine ambulan”, cerita pemilik empat kucing yang sering didatangi kucing liar.

Hari ketiga paska gempa Cianjur, kami menemukan satu kucing mati di pinggir jalan dan langsung kami kubur. Sepanjang hari masih diiringi gempa susulan namun tak begitu besar. Keesokan harinya, kami mendapat tambahan anggota tim. Senang sekali, energi yang terkuras kemarin seolah-olah penuh kembali. Pergerakan kami bagi ke berbagai arah. Seperti hari sebelumnya, kami melakukan street feeding. Semakin banyak kucing yang kami jumpai.

Kami juga menemukan dua kucing yang masih dalam kandang tetapi di rumah tersebut tidak ada pemiliknya. Kegiatan di Cianjur ini menyadarkan saya bahwa selain manusia, satwa juga bisa menjadi korban bencana alam. Makhluk hidup satu ini sering terlupakan. Tim Penyelamat Satwa membantu pemilik satwa baik itu hewan kesayangan hingga hewan ternak di saat mereka bertahan hidup ketika bencana alam datang. COP memanggil Orangufriends untuk bergabung. (Sofyan_COPSchool12)

GEMPA CIANJUR: KORBAN YANG TERLUPAKAN (1)

Siang itu, tiba-tiba di tempat kerja muncul getaran yang cukup kencang. Orang-orang pada keluar ruangan, kami yang berada di luar ruangan saling tatap dan memastikan bahwa itu gempa bumi sambil terus menerus memanjatkan doa keselamatan. Tidak lama, semua pada berbincang dan saling memberikan informasi soal gempa yang dirasakan cukup besar. Gempa dengan kekuatan 5,6 Magnitudo itu ternyata berpusat dari tempat dekat kami, kabupaten Cianjur atau lebih tepatnya di kecamatan Cugenang.

Sorenya, pulang kerja, saya mendapatkan informasi di grup COP School Batch 12 bahwa ada tim dari Animal Rescue COP yang akan datang langsung ke lokasi kejadian untuk melakukan asesment dan menawarkan siapa saja yang bersedia menjadi relawan untuk membantu kegiatan tersebut. Tanpa pikir lama saya langsung menawarkan diri menjadi relawan, alasan utama karena kediaman saya tidak jauh dari lokasi. Malam itu juga, saya langsung pulang ke rumah dan mempersiapkan keperluan yang harus dibawa. 

Keesokan paginya, kami langsung menuju Cugenang dan bertemu dua kucing milik satu pemuda di sana. Kondisi kucingnya, tidak mau makan dan hanya mau minum air. “Kayaknya trauma karena kejadian kemaren”, ucap pemilik kucing. Sembari mencari informasi kami meninggalkan pakan kucing yang bisa juga dibagikan untuk kucing lainnya yang membutuhkan.

Bencana alam memang tak pernah membuat kita siap menghadapinya. Petugas dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Satwa pun masih belum siap memberikan informasi terkait ternak yang ada di wilayahnya. Akses jalan ke lokasi bencana banyak yang tertutup dan sulit dilalui mobil. Tim pun menyusun rencana lagi untuk esok harinya dengan mengendarai sepeda motor. (Sofyan_COPSchool12)

OCW 2022: SCHOOL VISIT DI SMA BOPKRI 2 YOGYAKARTA

Orangufriends ambil bagian dalam “Orangutan Caring Week 2022” mulai dari tim APE Sentinel yang melangsungkan kegiatan lomba mewarnai untuk anak SD di Medan hingga tim APE Guardian yang mensosialisasikan keberadaan orangutan di Busang, Kalimantan Timur. Sementara tim APE Warrior bersama Orangufriends Yogyakarta melakukan kegiatan school visit di SMA BOPKRI 2 Yogyakarta.

“Tantangan banget ini menghadapi murid SMA kelas 3 yang akan segera menyelesaikan kegiatan belajar sekolah dan melanjutkan pendidikan di tingkat selanjutnya. COP berharap setelah lulus, mereka dapat bekal pengetahuan tentang konservasi perlindungan orangutan dan habitatnya dan tergerak untuk menjadi generasi penerus dunia konserasi”, ujar Satria Wardhana, kapten APE Warrior. 

Kunjungan ke sekolah kali ini juga dikordinir COP School Batch 12. COP School adalah sekolah atau pelatihan tentang kerja koservasi yang diselenggarakan setiap tahun. Regenerasi adalah fokus utamanya. Randy yag baru saja selesai melakukan presentasi menyampaikan, “Semoga dengan kegiatan ini dapat terus berjalan sesuai dengan harapan kita. Penyadartahuan tentang perlindungan orangutan dan habitatnya harus dilakukan secara menyeluruh ke masyarakat luas”.

Minggu di bulan November memang selalu sibuk untuk orangufriends (relawan orangutan). Besok sekolah mana lagi ya? (SAT)

PEKAN PEDULI ORANGUTAN DI ISTANA MAIMUN MEDAN

Orangutan Caring Week atau Pekan Peduli Orangutan merupakan waktu yang didedikasikan untuk mengajak semua orang agar peduli terhadap orangutan dan terutama untuk membantu mendukung semua orang, kelompok dan organisasi untuk keberlangsungan hidup orangutan. Tim APE Sentinel bersama Orangufriends Medan mengadakan lomba mewarnai yang diikuti murid SD mulai kelas 1 sampai 6.

Ada 29 peserta dari kategori kecil (kelas 1-3) dan 21 peserta untuk kategori besar (kelas 4-6). Setiap kategori menghasilkan tiga orang pemenang. Para peserta sangat antusias dalam mengikuti lomba 1 jam ini. Usai mengikuti lomba, sambil menunggu proses penjurian dan seleksi pemenang, para peserta mengikuti kegiatan mendongeng yang disampaikan kak Mahdiyyah. Kebetulan pada setiap tanggal 28 November diperingati sebagai Hari Dongeng Nasional yang merupakan tanggal kelahiran Pak Raden yang dianggap sebagai tokoh yang telah berjasa menghidupkan dunia dongeng anak di Indonesia. Hingga saat ini Orangufriends sering menggunakan metode mendongeng untuk menyampaikan materi konservasi orangutan pada anak-anak. Tak terasa 30 menit pun berlalu.

Sementara untuk para pengunjung Istana Maimun dan pengantar peserta lomba dapat menikmati pameran foto yang diselenggarakan di halaman terbuka. Semoga dengan diadakannya kegiatan ini semakin banyak orang yang tahu dan peduli terhadap orangutan karena semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk dapat menjadi pahlawan bagi orangutan. Seperti tema Orangutan Caring Week 2022 ini yaitu “Orangutan Superheroes don’t wear a capes”. (DIT)

SELAMATKAN SECEPATNYA, SEBELUM TERLAMBAT

COP mendapat laporan dari masyarakat Tegalwaru, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta bahwa ada satwa liar yang masuk ke dalam pekarangan rumah yang hampir memakan ternak milik warga setempat. Tak menunggu lama setelah menerima laporan, tim respon cepat APE Warrior dibantu dua COP School Batch 12 bergegas menuju lokasi untuk mengamankan satwa liar jenis Reticulated python atau Malayopython reticulatus (Yellow variant) sepanjang 2,5 meter berjumlah satu ekor dan kemudian dibawa untuk diobservasi.

Setelah observasi dilakukan selama 1×24 jam, ular tersebut menunjukkan kondisi yang baik. Kondisisinya sehat, gesit, liar serta tidak menunjukkan tanda-tanda luka pada sekujur tubuhnya. Pada hari berikutnya, Senin, 7 November 2022, tim membuka komunikasi dengan salah satu pengurus Kawasan Studi dan Konservasi Burung Hantu (Tyto alba) di Dusun Cancangan, Yogyakarta untuk mencari lokasi soft rilis satwa tersebut. 

“Karena jika ular jenis ini tidak segera diamankan selain berpotensi menyebabkan konflik berkepanjangan di masyarakat, juga berpotensi terbunuh karena anggapan sebagai hama. Bisa juga tereksploitasi kulitnya, dijadikan obat tradisional bahkan dijual menjadi peliharaan sehingga mempercepat kepunahan yang akan berdampak pada ketidakseimbangan ekosistem dan penurunan nilai ekologi yang akan menyebabkan bencana alami berkepanjangan bagi manusia. Jika ada satwa liar yang masuk ke dalam pemukiman, apupun jenisnya, jangan panik, jangan dibunuh dan jangan dilukai. Hubungilah tim Animal Rescue di kota Anda atau institusi seperti BKSDA maupun Damkar”, kata Satria Wardhana, kapten APE Warrior.

Urban Wildlife Conflict atau konflik satwa liar perkotaan sangatlah sering dijumpai bagi mereka yang tinggal dekat dengan rawa, hutan, bukit, persawahan, danau, sungai, pantai, gambut maupun pegungungan yang berpotensi mempunyai nilai ataupun komoditas yang menghasilkan ekonomi. Urban Wildlife Conflict adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan hewan yang telah menyesuaikan gaya hidup mereka untuk tinggal di kota dan daerah pinggiran kota. Terlepas dari upaya awal manusia untuk membersihkan kota dari satwa liar, mereka akhirnya kembali dan berbaur dengan kehidupan perkotaan dengan sangat mulus. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh keputusan orang-orang di kemudian hari untuk menanam pohon, membangun taman dan meningkatkan kebersihan umum di kota untuk manfaat kesehatan dan ekonomi yang tidak mengejutkan bagi manusia itu sendiri. (SAT)