Orangufriends

HARI KEDUA ERUPSI MERAPI, SAPI WARGA TIDAK NAFSU MAKAN

Sejak dini hari (12/3), Gunung Merapi tercatat memuntahkan guguran awan panas sebanyak sembilan kali guguran. Guguran lava pijar juga tercatat keluar dari Merapi ke arah Barat Daya. Selain itu, Merapi juga mengalami 15 gempa guguran awan panas dan gempa vulkanik. Orangufriends (relawan COP) kembali bersiap-siap dan bergegas menuju lokasi terdampak pukul 09.00 WIB dari Camp APE Warrior.

Hari ini Daeng dan Zein berkordinasi dengan berbagai pihak, meninjau keadaan satwa ternak sekaligus mendata jumlah, dan memperhitungkan kebutuhan pakan untuk disalurkan. Kepala Desa Krinjung juga menyatakan bahwa warga telah siap bekerja sama apabila terjadi kemungkinan terburuk yang menyebabkan warga terpaksa mengungsi.

Pemandangan perkebunan sayur yang biasanya hijau segar kini terlihat kelabu tertutup abu. Sambil berjalan menuju kandang ternak, tim Animal Rescue COP pun menyapa warga yang masih beraktivitas seperti biasa. Sekelompok ibu-ibu melingkar di teras rumah memilah sayuran buncis dan beberapa pemuda mengangkut rumput pakan dan ranting dengan sepeda motor. Saat sampai di kandang, beberapa ternak sapi terlihat memakan sisa ruput di hadapan mereka dengan malas dan tidak nafsu makan. Saat tim menemui kelompok ternak Ngaglik dan Dadapan, mereka mengeluhkan sapi milik mereka tidak nafsu makan karena pakan yang diberikan kotor dengan abu. Masyarakat pun mengkhawatirkan kondisi kesehatan ternak mereka. Untuk sementara mereka menggunakan damen untuk pakan sapi-sapi mereka. 

Menindaklanjuti kekhawatiran warga yang disampaikan, tim Animal Rescue bergegas melakukan pendataan untuk menghitung kebutuhan pakan untuk disalurkan. Dari kedua kelopok ternak, terdapat 200 ekor sapi milik 83 kepala keluarga. Sementara sebagian warga yang tidak tergabung dalam kedua kelompok ternak di Desa Kerinjing tersebut memelihara rata-rata dua ekor sapi. “Sapi-sapi di situ pada nggak nafsu makan. Sementara ini warga membutuhkan pakan hijauan, damen, dan combor”, ujar Desita, staf COP yang turun bersama Orangufriends. Centre for Orangutan Protection masih menunggu arahan dari Dinas Peternakan dan menghubungi beberapa penyedia pakan hijau untuk kesediaan pakan yang dibutuhkan tersebut. (NAD)

MERAPI ERUPSI LAGI, RELAWAN ORANGUFRIENDS BERGEGAS KE LOKASI

Sabtu (11/03) siang, masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta dikejutkan dengan rangkaian erupsi gunung Merapi yang terjadi. Hingga sore hari, awan panas masih membumbung tinggi dan hujan abu mewarnai langit kelabu hingga mencapai wilayah Boyolali, Magelang, dan sekitarnya. Dikatakan oleh Agus Budi, kepala Balai Penyidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) pada pers daring yang digelar sore harinya, erupsi kali ini tergolong efusif yang ditandai dengan aktivitas berupa pertumbuhan kubah lava, guguran, dan awan panas guguran (CNN Indonesia). Awan panas guguran yang terjadi disebabkan oleh runtuhnya kubah lava di sebelah Barat Daya. Sementara aliran lava meluncur dengan jarak 1.500 meter ke Barat Daya. Ia melanjutkan dengan himbauan agar warga menjauhi daerah bahaya sepanjang 7 km dari puncak Gunung Merapi di alur Kali Bebeng dan Krasak.

Menindaklanjuti erupsi tersebut, tim Animal Rescue COP yang terdiri dari Orangufriends (relawan COP) bergegas mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk melakukan peninjauan ke daerah Krinjing, salah satu lokasi terdampak erupsi. “Saat ini kita lagi persiapan. Ini ada goggle, masker, helm, handuk, dan senter,” ujar Daeng, relawan Orangufriends yang juga merupakan alumni COP School batch 12. Ia dan Zain, salah seorang Orangufriends lainnya yang turut bersiap di Camp APE Warrior COP telah berpengalaman dalam menghadapi situasi bencana dan beberapa kali melakukan penyelamatan satwa. Tidak lama berselang, mereka bersama dua orang tim COP pun berangkat menuju lokasi. Sesampainya di sana, mereka langsung berkoordinasi dengan berbagai pihak termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Kapolres Magelang untuk sementara mendapatkan informasi bahwa hingga saat ini belum ada instruksi agar warga mengungsi.

Tim Animal Rescue pun melanjutkan peninjauan lokasi. Daeng dan Zain melaporkan bahwa di lokasi tersebut, dampak yang paling dirasakan yaitu sektor pertanian dan peternakan. Mereka berjalan menyusuri lahan pertanian yang tertutup abu, menyaksikan pemandangan sayuran yang hancur dan busuk. Rumput-rumputan yang biasa diambil untuk pakan ternak pun tertutup abu dan rusak. Pak Subur, salah seorang warga yang ditemui tim mengatakan bahwa warga mulai kebingungan mencari rumput pakan ternak untuk keesokan hari. Beberapa warga pemilik ternak terpaksa turun ke daerah lain seperti Talun untuk mencari pakan. “Untuk ternak, mayoritas masyarakat memelihara sapi. Pada dusun Trono yang terdampak terdapat sekitar 150 kepala keluarga. Rata-rata satu keluarga bisa memelihara dua hingga tiga ekor sapi,” Desita, salah seorang staff COP yang turut serta mengikuti relawan tim Animal Rescue melaporkan keadaan lapangan.

Setelah meninjau lokasi dan menghimpun informasi, tim Animal Rescue pun berdiskusi dan menetapkan langkah yang akan dilakukan menindaklanjuti dampak khususnya terhadap satwa ternak di lokasi. Mereka berencana untuk berkoordinasi dengan Dinas Peternakan setempat dan juga kepala dusun untuk menginisiasi bantuan pakan satwa ternak. Dalam beberapa kasus bencana, relawan Orangufriends memang turut aktif berperan membantu penyelamatan satwa oleh tim Animal Rescue COP. Seperti saat erupsi Gunung Semeru pada bulan Desember lalu, atau saat terjadi gempa Cianjur pada bulan November. Tidak hanya menyelamatkan satwa ternak warga dan membantu memberi pakan, dalam kejadian-kejadian bencana mereka juga biasa melakukan feeding pada satwa-satwa liar yang turut terdampak bencana. Tanpa bantuan relawan Orangufriends, tim Animal Rescue tentu akan menghadapi lebih banyak tantangan pada saat bertugas. Terima kasih relawan Orangufriends! (NAD)

BANJIR TAWA, HARU DAN CERITA MENGINSPIRASI DI JAMBORE ORANGUFRIENDS 2023

Tanggal 4 dan 5 Maret yang lalu, Omah’e Simbhok di Petingsari, Yogyakarta berada di kaki Gunung Merapi yang dingin justru terasa hangat. Ada 60 orang berkumpul terdiri dari staf COP dan relawan orangutan yang tergabung di Orangufriends untuk menghadiri Jambore Orangufriends 2023. Perayaan ulang tahun COP yang ke-16 dan kilas balik perjalanan Centre for Orangutan Protection dilanjutkan penganugerahan penghargaan untuk tokoh inspiratif di dunia konservasi sekaligus sebagai prosesi wisuda COP School angkatan 11 dan 12.

Seperti reuni keluarga besar, gelak tawa dan candaan menghidupkan suasana selama acara. “Sangat hangat. Kita saling mengenal, jadi berteman dan saling silang ya. Silang pikiran, gagasan juga memperluas pertemanan,”ujar Wanggihoed, Orangufriends Bandung yang aktif berpartisipasi di kegiatan-kegiatan COP.

Jambore yang seyogyanya dilaksanakan setiap tahun terpaksa ditiadakan karena pandemi COVID-19. Bahkan COP School Batch 11 terpaksa menjalani karantina di tengah-tengah kegiatan karena ada yang positif COVID-19 waktu itu. Daniek Hendarto, direktur COP menyampaikan kegiatan COP semasa pandemi itu, sewaktu yang mewajibkan kita melaksanakan protokol dan pembiasaan baru. Perjalanan COP dari 2007 diceritakan kembali oleh Hardi Baktiantoro, pendiri COP. Semangat para alumni COP School menyampaikan pengalaman mereka berkegiatan dibagikan Zain nabil dan Daeng Hudayya.

Jambore Orangufriends juga mengundang CEO BOS Foundation, Jamartin Sihite dan CEO OIC, Panut Hadisiswoyo untuk hadir dan ikut berbagi cerita sepak terjang mereka di dunia konservasi orangutan. Keduanya menekankan bahwa membentuk generasi muda yang peduli pada lingkungan adalah kunci penting dalam dunia konservasi. Mereka mengapresiasi kegiatan-kegiatan COP yang mendukung terbentuknya generasi muda yang aktif. “Tanpa generasi muda, gak ada masa depan orangutan,”, ucap Jamartin.

Di luar sesi terjadwal, semua yang hadir jugu turut berbagi cerita pengalaman lucu, mengharukan dan bahkan menegangkan di dunia konservasi. Permainan ice breaking serta melukis bersama di sela kegiatan membanjiri Omah’e Simbhok dengan tawa dan keceriaan. Ingin merasakan juga suasana menyenangkannya? Kami tunggu di Jambore Orangufriends tahun depan ya! Sampai Jumpa… (NAD)

HAPPY WORLD WILDLIFE DAY, AYO LINDUNGI SATWA LIAR

Tahukah kamu? World Wildlife Day atau Hari Satwa Liar Sedunia yang diperingati setiap tanggal 3 Maret adalah pengingat bagi kita agar terus memaknai pentingnya menjaga kehidupan alam liar, terutama satwa dan flora yang dilindungi seperti orangutan. Tahun ini #WildlifeDay menekankan pentingnya kerjasama dan kolaborasi di dunia perlindungan alam liar, hal yang sudah menjadi nilai yang dimaknai COP (Centre for Orangutan Protection) dalam menjalankan misi untuk melindungi orangutan dan yang lainnya. COP telah bekerja bersama dengan berbagai organisasi, pemerintah dan perorangan untuk bersama-sama menyelamatkan satwa liar.

Masih ingat orangutan Astuti yang menjadi korban perdagangan satwa liar antar negara? Upaya penyelamatan dan peminahan Astuti dari Menado, Sulawesi Utara hingga tiba di pusat rehabilitasi BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) di Berau, Kalimantan Timur merupakan kerja bersama lintas instansi pemerintah, swasta dan COP.Tanpa kerjasama ini, Astuti mungkin saja tidak punya kesempatan untuk dilepasliarkan kembali ke habitatnya, hutan Kalimantan.

Sementara itu, tim patroli COP yang berada di Sumatra Barat melibatkan warga Nagari Sontang-Cubadak untuk membentuk tim PAGARI (Patroli Nagari) sebagai usaha mitigasi konflik harimau dan manusia di Sumatra Barat. Keterlibatan masyarakat lokal yang berbatasan langsung dengan hutan lindung Sontang-Cubadak ini menjadi model untuk pembentukan tim PAGARI di nagari yang lain.

Di dalam COP sendiri, semangat kerjasama juga menjadi nilai penting. BORA  tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan tim APE Crusader yang menyelamatkan habitat orangutan dan menyelamatkan orangutan konflik. Pusat rehab akan penuh jika tim APE Guardian tidak mengusahakan kawasan pelepasliaran yang layak untuk orangutan. Sementara tanpa dukungan APE Warrior, akan sulit sekali mencari dukungan publik untuk mempercepat proses perlindungan satwa liar. Mari bersama melindungi satwa liar. (NAD)

BRINGING HOME JOY FROM TK ANNISA BERAU, EAST BORNEO

A teacher from TK Annisa Berau visited us in the COP Borneo office in Tasuk village, just a few miles away from the kindergarten. She came to the office hoping that her children could see Orangutans. However, the Orangutans in the BORA rehabilitation center are under medical evaluation therefore human visit is very restricted. So, in return, on February 26 we visited the school with a giant stuffed Orangutan called Morio.

“Knock knock… An Orangutan is here!” 

The students were overjoyed to welcome Morio! They were so thrilled as they listened to the stories about wildlife Morio told. They answered every question about wildlife with huge enthusiasm. We were so overwhelmed by their energy in the class and we couldn’t stop laughing at their innocence! The joy and the fun energy was contagious and we brought it home. On our way back from the school visit, we greeted everyone we met on the way.

“School visits, teaching students, I am not new to the thing. But to face these younger students, we need a lot more energy!” Mia, a volunteer and an alumni of COP School batch 12 shared her experience. 

As she and the team evaluated the school visit, they learned that even though the children are able to distinguish domestic animals, many of them couldn’t mention the wildlife of East Kalimantan. This has become a concern. Now, after the school visit, the children know that ducks can provide many benefits if taken care of well, and Rangkong should stay in the forest and be the “forest farmers”.

“I wish that we can always keep the joyful energy the children gave us and the children can always keep the awareness of wildlife protection that we gave them in return. Long live good deeds!” Mia said passionately. (MIA_COPSchool)

TERTULAR KECERIAAN SAAT SCHOOL VISIT DI TK ANNISA BERAU

Jumat lalu, ada orangutan mendatangi TK Annisa Berau. Ini adalah kunjungan balasan dari seorang guru TK Annisa di kantor COP Borneo yang berada di kampung Tasuk tak jauh dari tempatnya bekerja. Awalnya, si Ibu Guru berharap anak-anak muridnya bisa melihat orangutan secara langsung, namun keinginan tersebut belum bisa terwujud karena pusat rehabilitasi BORA sangat membatasi interaksi manusia dan orangutan sebab kondisi orangutan yang dalam evaluasi medis. 

Bersama Morio kami pun berbagi cerita pada anak-anak TK. “Sebenarnya ini bukanlah hal yang baru untukku mengajar anak-anak, namun untuk kelompok usia yang lebih kecil ini ternyata kita harus punya enegi yang jauh lebih besar”, ujar Mia, relawan COP yang merupakan alumni COP School Batch 12. Anak-anak antusias mendengar dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai satwa liar. Saking antusiasnya, energi kelas menjadi begitu tinggi dan membuat kami sedikit kewalahan. Kami pun hanyut tertawa melihat tingkah lugu mereka. Energi kecerian anak-anak ini menular ke kami yang datang. Sepulangnya kami dari school visit, kami dengan riang menyapa orang-orang yang berpapasan dengan kami.

Evaluasi kunjungan ke sekolah pun memberikan catatan tersendiri. Anak-anak mengetahui semua hewan domestik namun tidak tahu sata liar yang khas dari Kalimantan Timur. Hal ini menjadi perhatian karena pengetahuan adalah kekuatan. Kini anak-anak TK Annisa tahu bahwa bebek memiliki banyak manfaat jika dipelihara dengan baik dan Rangkong harus tetap tinggal di hutan sebagai petani hutan. “Aku berharap, energi keriangan anak-anak terus menular ke kami dan energi kesadaran pentingnya menjaga satwa liar di alam bisa menular juga ke anak-anak. Panjang umur upaya-upaya baik!”, tambah Mia penuh semangat. (MIA_COPSchool)

SELAMAT DATANG COP ACADEMY BATCH 2

Setelah pelatihan pertama pada tahun 2022, Centre for Orangutan Protection (COP) kembali menggelar pelatihan COP Academy Batch 2, dimana pada tahun ini diharapkan kembali menelurkan generasi yang akan meneruskan tradisi melindungi orangutan dan habitatnya.

Lebih dari 200 pendaftar, tim COP memilih 11 peserta untuk mengikuti COP Academy 2023. Pelatihan ini diadakan pada 11-12 Februari 2023 di Yogyakarta. Program ini memadukan materi kelas dan materi praktik dari para ahli konservasi alam dan satwa. Materi teknis yang diberikan oleh staf senior COP yang bermaksud untuk memperkuat kerja di semua situs COP. Selain itu di pelatihan ini juga diberikan pemahaman tentang membangun kerjasama, dimana hal ini sangat penting bagi siapa pun yang bekerja dengan COP.

Tim COP melatih para peserta dengan teori, praktik dan permainan. Metode ini sangat efektif untuk menilai karakter dan pola pikir mereka secara langsung. Setelah sesi kelas berakhir, setiap siswa akan melewati tahap wawancara terakhir. Satu per satu peserta diberikan waktu untuk mengeksplorasi minat dan keterampilan mereka.

Pengumuman peserta yang lolos sudah diumumkan oleh COP. Dalam waktu dekat ini mereka akan langsung terjun memperkuat tim lapangan COP di garis depan. Tambahan lulusan ini,  COP berharap aktivis baru akan tumbuh dan lulusan COP Academy Batch 2 akan meneruskan perjuangan dalam mendukung konservasi di Indonesia. (SAT)

HEWAN TERDAMPAK ERUPSI SEMERU RENTAN PENYAKIT PENCERNAAN DAN KULIT

Kami menutup hari ketiga di lokasi Erupsi Gunung Semeru dengan pemberian vitamin, obat cacing serta mengobati 6 kambing masyarakat yang kondisinya membutuhkan perhatian lebih. Ada yang kondisinya terluka dan mengalami infeksi pada bagian kepala dan penglihatannya. Perjalan tim Animal Rescue kali ini dibantu oleh drh. Tommy dari Yogyakarta. “Kami lakukan secara sukarela dalam mengupayakan percepatan penanganan kondisi hewan akibat bencana erupsi yang berdampak pada masyarakat di Desa Sumberwuluh dan Sumbermujur. Ada drh. Ida dari Dinas Peternakan Lumajang juga”, jelas Zein, siswa COP Academy Batch 1.

Beberapa warga mengeluhkan sulitnya mencari pakan hijau untuk ternak mereka karena aktivitas erupsi. Erupsi juga mempengaruhi cuaca di lereng Semeru, ketidakstabilan cuaca menyebabkan hewan ternak rentan terkena penyakit, khususnya penyakit pencernaan dan kulit.

“Kebersihan lingkungan shelter harus lebih diperhatikan”.

Penyuluhan kesehatan ini akan berlanjut sampai kondisi masyarakat terdampak bencana stabil dan kondusif. “Kami berharap kita semua bisa bahu-membahu, memberikan sedikit batuan yang dapat membantu masyarakat umumnya dan kesejahteraan hewan yang ikut terdampak khususnya. Kami berencana terus menyisir lokasi sekitar daerah terdapkan erupsi dan memastikan hewan yang membutuhkan pertolongan agar segera dapat dibantu”, tambahnya. (Zein_COPAcademy1)

ESOK PETERNAK BISA MENCARI PAKAN HIJAU DI LOKASI YANG TERSEDIA

Gunung Semeru kembali erupsi pada 4 Desember 2022 lalu. Erupsi kali ini terjadi lebih besar dari erupsi sebelumnya. Periode erupsi susulan sama rutinnya seperti tahun sebelumnya. Kini masyarakat jauh lebih waspada dengan aktivitas vulkanis tapi banyak masyarakat juga yang mengabaikan himbauan erupsi khususnya di daerah red zone atau di zona merah. 

Tim Animal Rescue sudah tiga hari berada di daerah terdampak berat yakni di Desa Kajarkuning. Bersama perangkat desa dan Dinas Peternakan setempat, tim mensosialisasikan bantuan pakan ternak. Rencananya, masyarakat yang mempunyai hewan ternak yang sudah diungsikan ke shelter sementara yang berlokasi di Desa Sumbermujur akan diberikan tempat untuk mencari pakan hijauan untuk ternaknya. Lokasi sumber pakan sebelumnya sudah hilang tertutup aktivitas vulkanik akibat banjir lahar panas yang meluap. 

Lokasi bantuan sumber pakan sementara yang diberikan seluas 2 hektar dan berjarak 3 kilometer dari shelter. Esok hari masyarakat sudah dapat mulai mencari pakan dan tidak ada batasan mengambil jumlahnya namun sekiranya cukup untuk memenuhi kebutuhan harian.

Tim Animal Rescue COP tidak menurunkan sikap awasnya di lokasi bencana. Pada periode pengamatan 8 Desember 2022 pukul 00.00-06.00 WIB, Pos Pengamatan Gunung Api Semeru merekam 24 kali letusan/erupsi dan durasi gempa 58-193 detik. “Awan panas, aliran lahar dan lontaran batu (pijar) mengancam keberadaan tim. Semoga semesta melindungi kita semua”, kata Satria Wardhana, kordinator COP di lapangan. (SAT)

TIM ANIMAL RESCUE COP BANTU TERNAK DI ERUPSI SEMERU

Semeru kembali erupsi tepat setahun kemudian. Tim Animal Rescue yang baru saja pulang dari assesmen di Gempa Cianjur, Jawa Barat kembali bersiap menuju timur. Sebelumnya gempa di Gresik sempat membuat tim waspada dan terus mengikuti pemberitaan, berjaga jika hewan-hewan juga terdampak Gempa Gresik. Lega sesaat namun tim tetap turun untuk Semeru. Komunikasi dengan kontak lokal pun kembali terjalin, kali ini tanpa tim pendahulu, COP memutuskan bekerja untuk hewan Semeru. 

Selasa, 6 Desember, Tim Animal Rescue COP telah tiba di Desa Sumbermujur, Kec. Candipuro, Jawa Timur. Tim beranggotakan 6 orang dan langsung disambut oleh Kepala Desa dan Dinas Peternakan Lumajang. Pada hari itu tim langsung berkordinasi terkait penanganan satwa yang terdampak Erupsi Gunung Semeru. Kordinasi ini adalah lanjutan dari komunikasi lewat telepon dan whatsapp sebelumnya.

Ada 109 ekor kambing, 2 ekor domba yang selamat dan sudah dievakuasi. Untuk sementara tercatat 20 ternak yang mati, sebagian telah dikubur dan sebagian lagi masih tergeletak di kandang mandiri milik masyarakat. Kebutuhan yang paling mendesak untuk ternak adalah ketersediaan air dan pakan hijauan yang bersih juga. Pakan hijau yang diinginkan peternak juga harus disesuaikan karena bisa saja pakan hijau yang datang akan menjadi sia-sia karena tidak sesuai dengan kebiasaan jenis pakan yang diberikan. “Ini adalah bagian tersulit dari penyediaan bantuan pakan ternak di sini. Untungnya, tim masih memiliki hubungan yang baik dengan penyedia pakan hijau tahun lalu, ketika Erupsi Semeru 2021. Semoga semua dapat berjalan sesuai rencana”, ujar Satria Wardhana, kapten tim APE Warrior COP yang selalu siap turun membantu hewan yang membutuhkan pertolongan saat bencana alam.

Centre for Orangutan Protection memiliki tim yang selalu siap menolong hewan yang membutuhkan ketika bencana alam seperti erupsi gunung berapi, gempa, banjir bahkan tsunami. Tim yang didominasi para relawan orangutan ini melakukan evakuasi, pemberian makanan baik di satu lokasi atau di jalanan hingga membuatkan penampungan sementara tergantung kebutuhan saat itu. Penanganan hewan menjadi prioritas tim ini karena makhluk hidup yang satu ini sering terlupakan dan terabaikan di tengah kekacauan bencana. “Berbagi tugas dan saling meringankan adalah tujuan utama tim ini. Kami berharap masyarakat memahami fokus kerja kami yang bukannya menomor duakan manusia tetapi lebih ke berbagi peran penanganan bencana”, jelas Satria lagi. (SAT)

HARI KEEMPAT TIM ANIMAL RESCUE COP DI GEMPA CIANJUR

Ini adalah hari keempat tim berada di lokasi bencana Cianjur, Jawa Barat. Penanganan pada satwa yang terdampak masih dilakukan khususnya pemberian pakan dan penyisiran satwa yang berada di wilayah terdampak gempa Cianjur berkekuatan 5,6 Mw pada 21 November 2022 pukul 13.21 WIB yang lalu. 

Siang ini, tim berhasil mengevakuasi ular sanca batik (Malayopython reticulatus). Ular ini didapat dari salah seorang warga yang terdampak bencana. Ia menangkap ular tersebut saat melintas di depan jalan rumahnya. Proses penangkapan dilakukan dua hari sebelum gempa terjadi. Sempat akan dilepaskan ke hutan tetapi takut salah penanganan dan tidak tahu lokasi yang pas untuk dikembalikan ke alam.

Setelah tim memeriksa kondisi ular dan melakukan pencarian lokasi yang ideal untuk ular dengan panjang dua meter ini, tim Animal Rescue COP pun melepaskan python ini. Selanjutnya tim memutuskan turun ke zona hijau karena mendung yang akhirnya hujan deras yang cukup lama. 

Sampai tanggal 25 November, zona merah mulai dipindah BNPB. Lokasi pencarian korban bencana terfokus di daerah Cijendul dimana pencarian korban manusia yang tertimbun longsor. Untuk wilayah desa-desa di kecamatan Cugenang kondisinya sudah multi kondusif dan banyak relawan dari luar  maupun dalam kota yang memenuhi tiap sudut lokasi pengungsian masyarakat. (SAT)