EMPAT BULAN DI SRA, KEEMPATNYA MENJADI LIAR KEMBALI?

Empat bulan bulan waktu yang panjang, jika yang dibicarakan adalah kehidupan di hutan. Tapi bağı individu sepeti Jay, Noon, Bow, dan Raiking, empat bulan bisa berarti pergeseran besar dari ketergantungan menuju sesuatu yang lebih mendekati kemandirian.

Di Sumatran Rescue Alliance (SRA), fase ini sering disebut sebagai awal dari “sekolah hutan”. Sebuah istilah yang terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya merujuk pada proses yang tidak pernah benar-benar linear. Tidak ada kurikulum tetap. Tidak ada target harian yang harus dicapai. Yang ada hanyalah ruang, kesempatan, dan interaksi dengan lingkungan bersama dan dengan diri mereka sendiri. Bow misalnya, mulai menunjukkan perubahan yang cukup mencolok.

Jika sebelumnya ia lebih banyak mengamati, kini ia terlihat lebih berani mengambil keputusan. Dalam salah satu sesi enrichment, sarang semut diberikan sebagai tantangan. Hanya satu. Sengaja. Bukan tanpa alasan, situasi ini menciptakan kompetisi atau mungkin lebih tepatnya keberanian untuk mengambil risiko.

Bow tidak lagi ragu. Ia mendekat, mengupas bagian luar sarang dan mengabaikan semut-semut yang berusaha mempertahankan tempatnya. Ada momen dimana tubuhnya dipenuhi semut, gigitan kecil yang tidak nyaman, mungkin juga menyakitkan. Tapi ia tidak mundur. Ada sesuatu yang mendorongnya untuk tetap bertahan entah rasa lapar, rasa ingin tahu, atau dorongan yang lebih dalam untuk menaklukkan tantangan.

Dan ketika akhirnya sarang itu terbuka, isinya dimakan tanpa banyak jeda. Telur-telur semut yang sebelumnya tersembunyi, kini menjadi hasil dari proses yang tidak instan. Bukan hanya makanan yang didapat, tetapi juga pengalaman tentang bagaimana menghadapi gangguan, menahan diri, dan tetap fokus pada tujuan.

Sementara itu, Jay bergerak dalam ritme yang berbeda. Ia tidak terlalu tertarik pada kompetisi. Hari-harinya lebih banyak diisi dengan eksplorasi yang tenang berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain, ,mencari buah yang mungkin belum matang sepenuhnya, tetapi cukup untuk dicoba. Ada satu momen ketika ia memilih cabang kecil untuk berayun. Cabang itu tidak cukup kuat. Patah.

Jay jatuh dari ketinggian sekitar tiga meter. Tidak ada kepanikan yang berlebihan setelahnya. Ia bangkit, kembali ke cabang yang patah dan justru memanfaatkan situasi itu dengan memakan buah-buah muda yang kini lebih mudah dijangkau. Seolah-olah kegagalan kecil itu bukan sesuatu yang harus dihindari tetapi bagian dari proses yang dimanfaatkan.

Noon berada di antara dua dinamika itu. Ia tidak se-agresif Bow, tetapi juga tidak sepenuhnya pasif seperti Jay. Noon lebih sering terlihat mengamati sebelum bertindak. Ia mengikuti pergerakan yang lain, tetapi tidak selalu terlibat langsung. Ada jeda dalam setiap keputusannya yaitu sebuah pola yang mungkin mencerminkan kehati-hatian, atau cara lain dalam memahami lingkungan.

Namun dari waktu, ke waktu Noon mulai menunjukkan inisiatifnya sendiri. Ia mencoba jalur baru di kanji, memilih pohon yang berbeda, dan sesekali terlibat dalam aktivitas yang sebelumnya ia hindari. Perubahan itu tidak drastis, tetapi cukup konsisten untuk menunjukkan bahwa proses belajar sedang berlangsung.

Raiking, di sisi lain memulai dengan cara yang paling terlihat, kebingungan. Pada hari-hari awal di sekolah hutan, ia tampak lebih banyak mengikuti daripada memimpin. Setiap gerakan terasa ragu. Setiap suara di sekelilingnya memicu respons waspada. Dunia di luar kandang bukan hanya luas, tetapi juga penuh kemungkinan yang belum ia pahami.

Namun ketergantungan itu tidak bertahan lama. Dalam waktu yang relatif singkat, Raiking mulai mengambil jarak. Ia tidak lagi terus-menerus mengikuti individu lain. Ia mulai memilih arah sendiri, mencoba memanjat lebih tinggi dan menghabiskan waktu lebih lama di satu titik seolah sedang memetakan kemungkinan.
Ada momen ketika ia berhenti di ketinggian tertentu, diam, mengamati. Bukan sekedar melihat, tetapi seperti mempertimbangkan. Jalur mana yang aman. Cabang mana yang cukup kuat, atau mungkin kemana ia bisa pergi jika harus bergerak cepat.

Empat bulan ini belum menjadikan meraka “liar” sepenuhnya. Itu bukan tujuan yang bisa dicapai dalam hitungan waktu yang pasti. Tetapi ada sesuatu yang mulai terbentuk kepercayaan diri, kemampuan beradaptasi, dan yang paling penting kemauan untuk mencoba.

Sekolah hutan tidak mengajarkan mereka dengan cara yang kita pahami sebagai “mengajar”. Tidak ada instruksi verbal. Tidak ada koreksi langsung. Yang ada hanyalah pengalaman jatuh dari cabang, digigit semut, gagal mengambil makanan, lalu mencoba lagi. Dan mungkin, di situlah inti dari proses ini. Bahwa menjadi liar kembali bukan tentang kembali ke titik awal, tetapi tentang membangun ulang kemampuan yang sempat hilang sedikit demi sedikit melalui pengalaman yang nyata. Jay, Noon, Bow, dan Raiking masih berada di tengah proses itu. Dan sejauh ini, mereka tidak berhenti. (Animal Keeper SRA)

BUAH YANG DIGANTUNG, KESABARAN YANG DILATIH PERLAHAN

Pagi itu, cuaca cerah. Terlalu cerah, mungkin. Matahari jatuh langsung ke atap kandang, memantulkan panas yang membuat udara terasa lebih berat dari biasanya. Tidak banyak tempat bersembunyi dari terik, kecuali sudut-sudut kecil yang dibentuk bayangan jeruji dan struktur kandang.

Namun, panas tampaknya bukan persoalan utama hari itu. Di atas kandang, beberapa buah digantung. Tidak terlalu tinggi untuk dilihat, tetapi cukup tinggi untuk dijangkau. Jarak yang tampak sederhana bagi manusia, berubah menjadi tantangan kecil bagi enam orangutan muda (Bow, Noon, Jay, Raiking, Agam, dan Maximus) yang pagi itu mendapat enrichment buah gantung.

Begitu perawat satwa selesai memasang, reaksi mereka hampir serempak, aktif, waspada, dan segera mengarahkan perhatian pada satu hal yang sama. Masing-masing individu mulai mencoba caranya sendiri. Ada yang langsung menjulurkan tangan setinggi mungkin, tubuhnya memanjang, jari-jari terbuka lebar seperti berharap beberapa sentimeter tambahan bisa muncul begitu saja. Ada yang memanjat sisi kandang lebih dahulu untuk mencari sudut yang lebih menguntungkan. Ada pula yang mengamati sejenak, seolah sedang menghitung kemungkinan.

Yang menarik dari enrichment semacam ini bukan buahnya. Bukan pula siapa yang paling cepat mendapatkannya. Melainkan bagaimana setiap individu merespons tantangan yang sama dengan strategi yang berbeda.

Bow menjadi salah satu yang paling mencuri perhatian pagi itu. Dari awal, ia tampak hampir sepenuhnya tenggelam dalam satu tujuan, mendapatkan buah yang tergantung di atasnya. Tidak ada distraksi berarti. Tidak ada keinginan mengganggu individu lain atau mencari jalan pintas dari hasil kerja orangutan lain. Hanya ada dirinya dan buah yang terus ia coba gapai.

Berulang kali Bow menjulurkan gangan, meregangkan tubuhnya semaksimal mungkin. Ujung jarinya hanya mampu menyentuh permukaan buah. Sedikit demi sedikit, tekanan dari sentuhan berulang membuat buah mulai rusak. Cairannya menetes perlahan. Dan di titik itu, Bow hanya mendapatkan sedikit rasa air buah yang menempel di jarinya. Sebuah hasil yang bagi sebagian individu lain mungkin cukup membuat frustasi.

Tapi Bow tidak menyerah. Ekspresinya terlihat serius. Fokusnya hampir tidak berubah. Sementara individu lain mulai berhasil mendapatkan bagian buah, Bow tetap bertahan pada targetnya sendiri. Sebelumnya, satu individu lain telah lebih dahulu berhasil mengambil sebagian buah. Kesempatan untuk merebut sebenarnya ada. Jaraknya dekat, risikonya kecil. Tapi Bow tidak memilih itu. Ia tetap melanjutkan usahanya sendiri.

Ada sesuatu yang menarik dalam pilihan tersebut. Bahwa bahkan dalam situasi yang membuka kemungkinan kompetisi, Bow tampak lebih memilih proses dibanding hasil instan. Sekitar 20 menit kemudian, usahanya membuahkan hasil.

Setengah buah berhasil ia dapatkan. Bukan kemenangan besar, tetapi cukup untuk menunjukkan satu hal, ketekunan kadang bekerja lebih lambat, tetapi tidak selalu kalah. Di sisi lain kandang, dinamika berbeda terjadi antara Jay dan Ranking.

Jika Bow mengandalkan kesabaran, Jay justru memperlihatkan sesuatu yang lain, oportunisme. Ia menyelesaikan enrichment dalam waktu kurang dari lima menit. Tapi bukan karena ia lebih kuat menjangkau buah yang tergantung rapi. Jay memperhatikan sesuatu yang lain. Saat keeper masih sibuk mengikat buah berikutnya sambil memegang keranjang, ada jeda kecil tidak disadari. Sebuah kelengahan singkat. Dan Jay memanfaatkannya. Dengan tenang, hampir tanpa tergesa, ia mengambil buah yang belum selesai diikat. Tidak ada drama. Tidak ada usaha berlebihan. Hanya keputusan cepat yang tepat waktu. Strategi yang efektif, meskipun sedikit “curang” jika dilihat dari sudut pandang permainan.

Begitu Jay berhasil mendapatkan buah, Ranking langsung merespons. Ia berusaha merebut sambil mengeluarkan terikan keras, campuran antara frustasi dan protes. Namun Jay tidak menyerah begitu saja. Ia melindungi buah itu dengan erat, membawa kabur hasil temuannya dan baru membagikannya ketika buah nyaris habis, menyisakan bagian mendekati biji.

Interaksi kecil itu menunjukkan dynamiska sosial yang terus berkembang tentang kepemilikan, negosiasi, dan batas toleransi antar individu. Sementara itu, Noon menghadirkan pola yang berbeda lagi. Respons awalnya baik, tetapi antusiasmenya tidak bertahan lama pada satu target. Noon tampak cepat bosan. Setelah beberapa waktu mencoba, ia lebih tertarik berpindah ke area individu lain.

Ketika Noon mendekati buah milik individu lain, yang justru seperti permainan tukat posisi. Saat Noon datang, individu tersebut berpindah ke tempat Noon sebelumnya. Perpindahan ini berlangsung berulang, hampir seperti tarian yang tidak direncanakan. Akhirnya, salah satu individu berhasil membuka kulit mangga yang tergantung menggunakan jari-jari mereka. Buah itu mulai mengeluarkan air.

Momen berikutnya terasa sederhana tapi menarik. Keduanya bergantian membuka mulut di bawah buah, menampung tetesan air mangga yang jatuh perlahan. Bukan cara tercepat untuk makan. Bukan pula yang paling efisien. Tapi cukup untuk menunjukkan kreativitas dalam memanfaatkan situasi. Selama 30 menit pengamatan, tidak ada satu pun enrichment yang benar-benar selesai seluruhnya. Dan justru di sanalah letak nilainya. Enrichment tidak selalu dirancang untuk segera diselesaikan. Kadang, tujuan utamanya adalah memperpanjang proses memberi ruang bagi usaha, frustasi kecil, strategi, hingga adaptasi. Hari itu yang digantung bukan hanya buah. Tetapi juga kesempatan bagi mereka untuk mencoba, gagal, mengulang, dan menemukan cara masing-masing.

Di bawah cuaca yang panas dan kandang yang dipenuhi aktivitas, enam orangutan muda itu mengingatkan satu hal sederhana bahwa belajar tidak selalu datang dari keberhasilan cepat. Kadang, ia hadir dalam bentuk tangan yang terus menjangkau yang nyaris tidak bisa diraih. (FAN)

TAMI, EMBER AIR, DAN UPAYA MEMANCING YANG TIDAK PERNAH SEDERHANA

Ada satu ember berisi air. Di dalamnya, potongan buah dan sayur mengapung tidak sepenuhnya tenggelam, sehingga cukup sulit dijangkau. Hari itu, Tami dihadapkan pada sesuatu yang tampak sederhana, mengambil makanan.

Pada percobaan pertama, Tami memilih cara paling cepat. Ia mencoba menumpahkan ember. Logis. Jika airnya hilang, buah akan lebih mudah diambil. Sebuah solusi langsung, tanpa perlu banyak usaha tambahan. Tapi usaha itu tidak berhasil. Ember itu terlalu ringan untuk menjadi tantangan yang berarti, hingga akhirnya keeper menambahkan air. Beratnya berubah. Situasinya juga.

Di titik ini, pendekatan Tami ikut berubah. Ia berhenti mencoba menaklukkan ember dan mulai “bernegosiasi” dengan situasi. Tami berjalan mondar-mandir, memperhatikan sekelilingnya, lalu mulai memilih kayu. Tidak semua kayu dipilih. Ada proses seleksi yang tampak jelas seperti panjangnya, bentuknya, mungkin juga teksturnya. Seolah-olah Tami sedang mencari sesuatu yang “cukup tepat”, bukan sekedar “ada”. Satu kayu diambil. Lalu dimodifikasi. Ujungnya dibuat sedikit lebih runcing.

Di sinilah aktivitas ini berhenti menjadi sekadar mencari makan. Ini berubah menjadi proses tentang bagaimana sebuah masalah dihadapi, dicoba, gagal, lalu dicoba lagi. Percobaan pertama gagal. Kedua juga. Beberapa kali kayu yang digunakan tidak cukup efektif. Buah tetap sulit dijangkau. Tapi Tami tidak berhenti. Wajahnya terlihat serius, fokusnya tidak pecah. Ia terus mengulang dengan cara yang sedikit berbeda, setiap kali.

Sekitar 10 menit kemudian, satu potongan jeruk berhasil didapat. Keberhasilan kecil itu tampaknya cukup untuk mengubah ritme. Tami melanjutkan. Bukan lagi sekadar mencoba, tetapi seperti memahami pola dari apa yang sedang ia lakukan. Dalam 20 menit pengamatan, tiga potong buah berhasil ia dapatkan.

Yang menarik, aktivitas itu tidak berhenti ketika waktu pengamatan selesai. Tami masih melanjutkan. Ada sesuatu yang sering luput ketika kita melihat enrichment sebagai “aktivitas tambahan” bagi satwa. Kita cenderung melihat hasil berapa banyak yang didapat, seberapa cepat diselesaikan. Padahal, yang terjadi di dalam proses itu jauh lebih penting.

Apa yang dilakukan Tami hari itu bukan hanya tentang mendapatkan buah. Ia menunjukkan bagaimana ia berpikir, mencoba, menyesuaikan diri, dan bertahan dalam kegagalan kecil yang berulang untuk menghadapi proses dan detail yang sering terabaikan. Ia memberi ruang bagi proses. Dan dalam proses itu, kita melihat sesuatu yang lebih utuh. Bahwa Tami bukan sekadar mengerjakan tugas enrichment, tetapi sedang menggunakan kemampuannya memilih memodifikasi alat, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi.

Hari itu, ember berisi air bukan hanya wadah. Ia menjadi medium untuk memperlihatkan satu hal yang sering kita anggap remeh. Bahwa kecerdasan, ketekunan, dan adaptasi tidak selalu muncul dalam bentuk yang spektakuler. Kadang, ia hadir dalam bentuk sederhana dari individu orangutan yang terus mencoba, meski berkali-kali gagal, hanya untuk mendapatkan satu potong buah. (FAN)

MOTIVASI SEKOLAH HUTAN AGAM

Siang itu di area sekolah hutan, pola perilaku Agam kembali terlihat konsisten. Ia menunggu. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena belum sepenuhnya percaya diri untuk memulai tanpa rangsangan, sebelumnya Agam selalu bersama dengan Maximus ketika sekolah hutan.

Ketika buah tidak diletakkan di atas pohon, Agam memilih enggan memanjat, duduk di tanah berumput adalah pilihan saat ini dan mematahkan ranting kecil atau memperhatikan pergerakan tim di sekitarnya. Namun saat buah digantung di cabang setinggi lima hingga tujuh meter respons nya berubah. Ia langsung fokus. Tangan meraih batang pohon, kakinya mengunci, dan ia memanjat perlahan. Tidak tergesa, tetapi juga tidak ragu.

Perilaku ini biasa disebut sebagai perilaku bentuk ketergantungan motivasional. Dalam aktivitas ini juga ajang untuk membangun kepercayaanmu satwa kepada staf atau petugas medis, bahwa beberapa individual rehabilitasi memang membutuhkan stimulus eksternal, terutama ketika masih muda. Targetnya bukan membuatnya tergantung pada buah, tetapi membangun asosiasi bahwa ini aman dan staf atau petugas medis seperti ibu pengganti.

Observasi kemarin juga menunjukkan Agam sebenarnya memiliki koordinasi tubuh yang sudah baik. Cengkeramannya kuat. Ia mampu berpindah cabang tanpa kehilangan keseimbangan. Artinya, hambatan yang muncul bukan fisik, melainkan keberanian dan inisiatif.

Tim rehabilitasi kini menyusun strategi bertahap, seperti jumlah pancingan buah akan dikurangi perlahan. Buah tidak lagi selalu ditempatkan di posisi mudah terlihat. Harapannya, Agam mulai mengeksplorasi pohon tanpa harus menunggu imbalan langsung.

Sekolah hutan bukan sekedar aktivitas memanjat. Ia adalah proses membentuk ulang naluri. Dan bagi Agam, kemarin adalah satu langkah kecil menuju kemandirian langkah yang masih perlu di dorong, tetapi sudah menunjukkan arah yang jelas. (NAB)

19 TAHUN COP DI DUNIA KONSERVASI ORANGUTAN

Semangat kolaborasi lintas sektor terasa kuat dalam peringatan Hari Ulang Tahun ke-19 Centre for Orangutan Protection (COP) yang digelar di Camp APE Warrior COP di Jogjakarta. “Protecting the Orangutan and Beyond” menjadikan spesies Orangutan sebagai pintu masuk perlindungan satwa liar dan dan penguatan respons terhadap kejahatan serta bencana ekologis yang berdampak pada satwa, adalah sebuah momentum refleksi perjalanan panjang sekaligus penguatan komitmen bersama menghadapi tantangan konservasi ke depan.

Acara ini dihadiri oleh bapak Tutut Heri Wibowo sebagai Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi, bapak Ardi Andono sebagai Kepala Balai TN Ujung Kulon, perwakilan dari Balai KSDA Yogyakarta, Gakkum Wilayah Yogyakarta, Badan Nasional Daerah (BPBD) Sleman, Dinas Pertanian dan Pangan Sleman, Puskewan Sleman, Perangkat Desa setempat, Orangufriends Jogja, berbagai komunitas dan lembaga konservasi di Yogyakarta, Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta, dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Direktur COP, Daniek Hindarto dalam sambutannya menegaskan, bahwa usia 19 tahun adalah waktu untuk memperkuat konsistensi gerakan, bukan sekedar merayakan capaian. “Srmbilan belas tahun adalah perjalanan panjang yang ditempuh dengan komitmen dan kolaborasi. Kami percaya, perlindungan satwa liar tidak bisa dilakukan sendiri. Butuh keberanian untuk bersinergi, membuka ruang dialog, dan bergerak bersama”, ujar Daniek.

Ia juga menambahkan bahwa tantangan ke depan semakin kompleks, mulai dari perdagangan ilegal satwa, perburuan, hingga dampak krisis iklim dan bencana terhadap habitat. “COP akan terus berdiri di garis depan untuk mendukung upaya penyelamatan satwa dan memperkuat jejaring dengan pemerintah, aparat penegak hukum, akademisi, dan masyarakat. Konservasi adalah kerja jangka panjang dan hari ini kita menegaskan kembali komitmen itu”, tambahnya.

Dalam momentum istimewa ini, COP menganugerahkan Setia Bhakti Award 2026 kepada 14 staf yang dinilai menunjukkan loyalitas, integritas, dan dedikasi tinggi dalam mendukung misi organisasi. Penghargaan ini menjadi simbol bahwa kerja-kerja konservasi adalah hasil dari dedikasi tim yang solid dan penuh komitmen. Selain itu, COP juga memberikan Orangufriends Award 2026 kepada lima tokoh yang secara konsisten mendukung gerakan konservasi, yaitu Kylie Bullo – Conservation Project Manager di The Orangutan Project, Peter Pratje – Program Manager di Frankfurt Zoological Society, Sudomo Mergonoto – CEO PT Kapal Api Global, Ardi Ardono – Kepala Balai TN Ujung Kulon, serta Danang Anggoro – Dosen dan Peneliti di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Kelima tokoh ini merupakan bagian penting dari jejaring Orangufriends dan memiliki peran signifikan dalam dunia konservasi. Penghargaan ini menjadi bentuk penghormatan atas kontribusi nyata mereka dalam memperkuat advokasi, edukasi, serta dukungan moral bagi upaya perlindungan satwa liar.

Melalui peringatan ini COP menegaskan kembali komitmennya untuk terus menjadi bagian dari gerakan kolektif perlindungan satwa liar di Indonesia. Kolaborasi adalah kunci, karena menjaga alam dan satwa liar bukan hanya kewajiban satu lembaga, melainkan tanggung jawab bersama. (DIT)

SAAT KABEL DAN TIANG MENJADI HARAPAN BARU BAGI SATWA LIAR

Di tengah hamparan hutan Kalimantan yang terbelah oleh Jalan Nasional Poros Kelay, lahirlah sebuah misi besar yaitu untuk mengembalikan konektivitas habitat agar satwa liar terutama orangutan, dapat bergerak dengan aman. Selama hampir empat tahun, BKSDA Kalimantan Timur bersama COP (Centre for Orangutan Protection) bekerja merancang sebuah jembatan koridor satwa, sebuah upaya penting untuk menjawab tantangan konservasi di wilayah yang menjadi jalur pergerakan satwa.

Proses menuju pembangunan jembatan dimulai dengan pengambilan data koordinat dan dokumentasi udara pada awal tahun 2022. Tahap demi tahap dijalani, kajian teknis, koordinasi lintas instansi hingga administrasi yang memakan waktu panjang. Rekomendasi pembangunan akhirnya diterbitkan pada pertengahan tahun 2025, membuka jalan bagi pelaksanaan konstruksi yang kemudian dapat diwujudkan pada 29 November 2025.

Pengerjaan jembatan dipantau oleh perwakilan BKSDA Kaltim dan staf lapangan COP dengan dukungan aparat setempat untuk memastikan proses pemasangan berlangsung aman. Meski waktu pemasangan di lapangan relatif singkat, medan terjal, jurang yang curam, serta bukaan lahan warga menjadi tantangan teknis yang harus diselaraskan sejak persiapan awal hingga hari pengerjaan.

Catatan kegiatan di tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa jembatan ini sangat dibutuhkan. Jalan poros Kelay kerap menjadi lokasi kemunculan orangutan dan satwa liar lainnya, karena dua blok hutan besar, yaitu Hutan Lindung Sungai Lesan dan Hutan Lindung Wehea, yang terpisah oleh jalur kendaraan yang padat. Jembatan ini diharapkan menjadi solusi aman agar satwa dapat menyeberang tanpa risiko konflik dengan manusia.

Kini, jembatan koridor satwa telah berdiri kokoh menghubungkan kembali bentang hutan yang sebelumnya terpisah. Langkah selanjutnya adalah pemasangan kamera trap untuk memantau penggunaan jembatan serta pemasangan rambu himbauan sesuai arahan BKSDA Kaltim. Terima kasih semua pihak yang terlibat dalam perjalanan panjang ini, hingga jembatan penghubung kehidupan ini akhirnya menjadi kenyataan. (FER)

AMBULAN SATWA LIAR COP SIAP MENJANGKAU TITIK KONFLIK ORANGUTAN

Hanya butuh setengah tahun, akhirnya Ambulan Satwa Liar COP ini menyeberangi laut Jawa lewat Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya pada 19 November 2025. Selama 36 jam di lautan, mobil ambulance ini pun tiba di Pelabuhan Balikpapan dan segera melanjutkan perjalanan darat menuju Samarinda. Kehadirannya di Kalimantan Timur menandai babak baru dalam penguatan respons penanganan satwa liar di wilayah tersebut.

Setelah resmi mengaspal di Tanah Borneo, ambulan ini langsung digunakan untuk menangani situasi darurat di area konflik orangutan. Dengan mobilitas dan fasilitas yang lebih memadai, tim APE Defender dan APE Crusader dapat bergerak cepat mengevakuasi orangutan yang berada dalam kondisi berisiko, memastikan mereka sehat dan dapat dipindahkan ke habitat yang lebih aman.

Kehadiran ambulan ini menjadi langkah baru yang penuh harapan. Dukungan banyak pihak membuat perjalanan penyelamatan satwa liar terasa semakin laju. Centre for Orangutan Protection (COP) menyambut masa depan ini dengan optimisme, siap menjalankan lebih banyak misi penyelamatan dan membawa kabar baik dari kantong-kantong habitat orangutan. Terima kasih The Orangutan Project yang telah mewujudkan mimpi tahunan COP memiliki ambulan penyelamat satwa liar Indonesia”. (DIM)

INTERVAL RUN BERSAMA ORANGUTAN BONTI

Di pagi hari yang cerah, sedikit basah karena embun, tim monitoring bertindak seperti paparazzi alias melakukan Post Release Monitoring (PRM) pada si cantik orangutan bernama Popi. Saat tiba di titik terakhir PRM pada hari sebelumnya, Popi nampak masih “bermuka bantal” alias baru bangun tidur sambil bersandar di batang pohon buah baran (Dracontomelon dao) yang merupakan buah santapan kesukaannya.

Tidak berapa lama setelah tim monitoring tiba, Popi mulai beraktivitas berpindah-pindah pohon dengan bebas. Popi bergerak dengan sangat lincah mulai dari berayun hingga memanjat. Beberapa kali Popi nampak menyantap buah-buahan hingga dedaunan untuk makan paginya. Sesekali Popi juga menggumpal-gumpalkan tanah untuk dimakan. Iya, benaran dimakan, dimana hal tersebut bukan tanpa alasan ya. Tanah memiliki kandungan mineral yang baik untuk menetralisir metabolit sekunder pada dedaunan yang dimakan oleh Popi.

Perpindahan Popi dari satu pohon ke pohon yang lain hingga menyeberangi sungai dengan berayun-ayun pada kanopi hutan yang membentang. Hal ini membuat tim monitoring harus mengikuti ke mana pun Popi pergi sekali pun itu lembah yang dalam atau tebing yang terjal. Beberapa saat setelah Popi menyeberangi sungai, Popi bertemu kembali dengan sobat lamanya di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance), yaitu Bonti. Secara mengejutkan keduanya malah terlibat kejar-kejaran hingga membuat tim kewalahan mengikutinya.

Sangking jauhnya, Popi bahkan sudah tidak terlihat lagi dari pandangan mata karena kabur dari kejaran Bonti. Hanya Bonti yang berada di sekitar tim monitoring, dimana hal berikutnya semakin penuh gebrakan. Bonti menghadap ke arah kami sembari tersenyum lebar dan mengejar kami. Yap, benar-benar dikejar hingga kami lari tunggang-langgang. Bonti tiba-tiba berhenti sesaat dan kami pikir Bonti mulai kelelahan. Ternyata salah, Bonti kembali mengejar kami yang sesungguhnya yang kelelahan. Meskipun asyik mengejar kami, Bonti selalu berhenti di waktu-waktu tertentu, lalu lanjut mengejar kami kembali. Kami seolah-olah mendapat pelatihan interval run dari Bonti. “Terima kasih ya Bonti, sudah melatih kami untuk menjadi pelari trail run hebat dan kuat dari Surga Hayati Gunung Batu Mesangat.”. (Andika_Orangufriends).

KETIKA HARIMAU SUMATRA MASUK KAWASAN BRIN, APE PROTECTOR HADIR DI AGAM

Semuanya berawal pada malam 15 Oktober 2025, ketika kamera CCTV LAPAN BRIN Agam menangkap sosok loreng yang melintas sunyi di antara bayangan. Seekor Harimau Sumatra ternyata masuk dan terjebak di dalam area berpagar beton setinggi dua meter! Tim gabungan dari BKSDA Sumatera Barat, PAGARI, dan COP segera bergerak cepat. Dari atap gedung dan dengan bantuan drone termal, kami memantau setiap sudut, memastikan si raja rimba masih berada di dalam kawasan.

Keesokan harinya, laporan baru pun muncul, sebuah jejak harimau ditemukan di Mudiak Palupuah dan viral di media sosial. Namun setelah diverifikasi, ternyata jejak tersebut merupakan jejak palsu yang dibuat menggunakan telapak tangan manusia. Sambil menenangkan warga, tim terus berjaga di BRIN, memasang tangga dan kamera jebak, serta mencoba menggiring harimau keluar menggunakan suara petasan dan meriam spritus.

Hingga akhirnya, setelah dua hari pemantauan intensif, tanda-tanda keberadaan harimau mulai hilang. Di tembok pagar, tim menemukan bekas cakaran dan beberapa helai rambut oranye-putih, petunjuk bahwa induk dan anak harimau itu telah berhasil keluar dari area terisolasi.

Operasi pun akhirnya dinyatakan selesai. Warga kini bisa beraktivitas kembali, sementara tim pulang dengan satu pelajaran penting, yaitu di antara pagar beton dan suara petasan malam itu, ada momen langka ketika manusia dan alam sama-sama belajar tentang batas, ruang hidup, dan cara saling menjaga. (DIV)

JAINUL ATAU JAHILNUL

Setiap individual orangutan memiliki karakter dan sifat yang berbeda. Jainul orangutan yang sangat nyebelin luar biasa, ia selalu bertingkah yang membuat kita geleng-geleng kepala. Di sekolah hutan ia selalu jahil dengan keeper terutama keeper perempuan, karena tidak takut sama sekali dan tidak ada kapoknya untuk jahil. Kejahilan yang ia sering lakukan adalah menarik boots, menggigit kaki, mengejar-ngejar keeper, mengambil buku pengamatan dirinya maupun punya orangutan lain.

Di suatu hari sekolah hutan, Jainul memulai aksi jahilnya yang membuat kaki keeper cedera.
Janet: “Nov, awas ada Jainul di belakang.”
Keeper Novi langsung berdiri dan berlari menghindari Jainul, tak lama berlari, Novi pun terjatuh karena kakinya tergelincir di permukaan tanah yang tidak rata. “Bruk!”, Novi pun jatuh dan menangis.
Novi: “Aduh, kaki ku sakit banget huhuhuhu”.

Jainul duduk diam dan mengamati Novi, tapi setelah beberapa menit ia memulai aksi jahilnya kembali menggigit sepatu boots nya Novi, dan Janet berusaha menghalangi niat Jainul.
Janet: “Jainul, sudah itu! Kaki Novi lagi sakit.”

Tidak sampai di situ saja, kejahilan Jainul kepada keeper. Ia juga suka sekali kembali ke kandangnya, bukan karena untuk beristirahat melainkan untuk mengambil sisa pakan orangutan lain, yaitu Pingpong dan Husein. Ketika Jainul kembali ke kandang, ia mempunyai trik yang sangat ampuh agar bisa balik ke kandang. Tapi tenang semua keeper sudah hafal dengan triknya. Trik pertama, Jainul akan berpura-pura bermain dengan orangutan lainnya di tanah. Ia akan bermain beberapa menit agar mengalihkan fokus keeper yang membawanya ke sekolah hutan. Setelah keeper sedikit tidak memperhatikannya, ia kabur berlari dengan begitu cepat. Sesampainya di kandang, ia akan memakan sisa pakan Pingpong dan Husein.

Suatu ketika, Jainul kembali ke kandang. Ia tidak mau turun dan abai oleh panggilan Novi. Setelah Novi capek memanggilnya, Novi meminta tolong pada keeper yang lain atau biologis yang bernama Indah.
Novi: “Teh Indah, tolong bantu ambilkan Jainul. Dia gak mau sama aku.”
Indah: “Dimana Jainulnya, Nov?”
Novi: “Ini teh, di atas kandang mau ngobok-ngobok air tandon minum orangutan.”
Indah: “Ohhh, iya Nov. Aku ke situ.”
Setelah Indah datang, keduanya pun bekerja sama untuk menurunkan Jainul yang sudah tidak kondusif itu.
Indah: “Jainul, Inul… heee Inul sini turun.”
Sambil menyodorkan sepotong wortel kepada Jainul, tapi Jainul hanya abai dengan panggilan itu. Setelah beberapa menit, Jainul tergiur juga untuk mengambil wortelnya saja. Ia tak ingin kembali ke sekolah hutan, Ia menyerang Indah dengan menarik jilbab Indah dan menjambak rambutnya.
Indah: “Ya Allah, tolong guys. Aku diserang.”
Keeper Novi ingin membantu, hanya saja Ia ragu karena takut digigit dan diserang lagi oleh Jainul. Setelah 3 menitan, ia lepaskan Indah. Ia kembali lagi ke atas kandang. Sungguh sangat menyebalkan.

Suatu hari di sekolah hutan, Jainul sedang eksplorasi di cabang atau ranting pohon dengan ketinggian 6 meter. Dan… “krekkk… brukkk”.
Keterangan Foto, Nophy dengan Cinta, bukan Jainul.(NOP)