KETIKA JAINUL MENGAJARKAN ARTI MENJADI ORANGUTAN
Menjadi seorang animal keeper di pusat rehabilitasi orangutan bukanlah pekerjaan yang selalu dipenuhi momen manis bersama satwa yang menggemaskan. Di balik tingkah lucu dan ekspresi yang sering membuat orang tersenyum, ada proses panjang yang harus dilalui individual orangutan untuk kembali menjadi dirinya sendiri, yaitu satwa liar yang mandiri dan mampu bertahan hidup di hutan.
Sekolah hutan adalah salah satu proses itu, saya saksikan setiap hari. Di tempat inilah para orangutan belajar berbagai keterampilan yang akan mereka butuhkan di alam. Mereka belajar memanjat, mencari pakan, mengenali lingkungannya, hingga berinteraksi dengan sesama orangutan.
Interaksi tersebut tidak selalu berjalan tenang. Seringkali mereka bermain dengan cara yang bagi manusia terlihat kasar. Menjambak, menggigit, mencengkam, dan salting kejar adalah pemandangan yang lumrah terjadi. Namun di balik perilaku itu, terdapat proses belajar yang sangat penting. Mereka sedang mengasah kemampuan sosial, mengenali batasan, dan membangun karakter yang kelak membantu mereka bertahan hidup di alam liar.
Di antara banyak orangutan yang saya dampingi, ada satu individual yang cukup berkesan yaitu Jainul. Jainul adalah orangutan jantan remaja dengan energi yang seolah tidak pernah habis. Ia memiliki rasa percaya diri yang tinggi dans ering menunjukkan perilaku dominan terhadap lingkungan sekitarnya. Tidak jarang saya menjadi sasaran keisengannya. Serangan kecil, gigitan, tarikan tangan, hingga upaya mencengkeram merupakan hal yang cukup sering saya alami saat mendampinginya.
Tentu saja, sebagai manusia, ada kalanya saya merasa resah. Tidak nyaman ketika harus selalu waspada terhadap tingkah Jainul yang sulit ditebak. Ada hari-hari ketika saya pulang dengan lengan penuh bekas cakaran atau kaki penuh bekas gigitan dan tubuh yang lelah karena harus menghindari ulahnya.
Namun seiring waktu, saya mulai melihat perilaku Jainul dari sudut pandang yang berbeda.
Apa yang ditunjukkannya bukanlah kebencian ataupun kenakalan semata. Sebagai orangutan jantan yang sedang berankaj dewasa, Jainul sedang menunjukkan sifat-sifat alami yang memang seharusnya dimiliki orangutan liar. Ia belajar menjadi individu yang kuat, berani, dan mampu mempertahankan dirinya. Sikap agresif yang kadang membuat saya kewalahan justru menjadi tanda bahwa insting liarnya masih ada. Dan bukankah itu tujuan utama rehabilitasi?
Kami tidak sedang membesarkan hewan peliharaan yang jinak terhadap manusia. Kami sedang mempersiapkan satwa liar agar suatu hari nanti mereka tidak lagi bergantung pada manusia. Karena itulah, setiap kali Jainul mencoba menguji kesabaran saya, ada perasaan yang bertolak belakang dalam diri saya. Di satu sisi, saya merasa was-was dan lelah menghadapi agresivitasnya. Namun di sisi lain, saya merasa senang. Senang karena melihat orangutan yang masih memiliki karakter alaminya. Senang karena ia menunjukkan perkembangan yang dibutuhkan untuk hidup bebas di hutan.
Jainul mengingatkan saya bahwa keberhasilan rehabilitasi tidak selalu terlihat dalam bentuk orangutan yang patuh atau mudah diatur. Namun keberhasilan justru terlihat dari individu yang berani, mandiri, dan cukup “merepotkan” bagi keeper-nya.
Mungkin suatu hari nanti Jainul akan hidup di hutan yang sesungguhnya, jauh dari pagar kandang dan pengawasan manusia. Ketika hari itu tiba, bekas gigitan, cakaran, dan semua keresahan yang pernah saya rasakan akan menjadi bagian kecil dari sebuah cerita yang lebih besar yaitu cerita tentang individu yang berhasil kembali menjadi orangutan sepenuhnya. Dan bagi saya, seorang animal keeper, tidak ada hadiah yang lebih berharga daripada itu. (BOW)



