BUKAN SEKEDAR KOTORAN, INILAH JEJAK KEHIDUPAN BERUANG MADU

Bagi sebagian orang, tumpukan feses di lantai hutan mungkin hanyalah kotoran yang menjijikkan. Namun, bagi seorang yang bekerja di dunia konservasi, itu adalah sebuah cerita. Sebuah petunjuk yang menunjukkan bahwa kehidupan masih berlangsung di balik rapatnya pepohonan. Foto ini berada di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Kawasan hutan lindung ini merupakan salah satu benteng bagi berbagai satwa liar Kalimantan Timur. Selain menjadi habitat orangutan, hutan ini juga menjadi rumah bagi beruang madu, macan dahan, rusa, burung enggang, hingga ribuan jenis tumbuhan yang saling menopang kehidupan.

Yang terlihat pada foto ini adalah feses beruang madu (Helarctos malayanus) yang dipenuhi biji-biji durian liar. Pemandangan seperti ini sebenarnya cukup sering ditemukan saat musim durian tiba di dalam hutan. Beruang madu memakan daging buah yang manis, sementara bijinya ikut tertelan dan kemudian keluar kembali bersama feses.

Sekilas mungkin terlihat biasa. Namun, di balik tumpukan fese itu tersimpan peran penting yang sering kali tidak disadari. Beruang madu bukan hanya penikmat buah hutan. Satwa ini juga merupakan salah satu penyebar biji alami yang membantu hutan tetap hidup. Setelah memakan buah di satu tempat, beruang akan berjalan menyusuri hutan hingga beberapa kilometer. Ketika biji-biji itu dikeluarkan bersama feses, mereka jatuh di lokasi yang baru, lengkap dengan pupuk alami yang membantu proses perkecambahan. Dengan cara yang sangat sederhana, beruang madu ikut menanam pohon-pohon baru di dalam hutan.

Tanpa disadari beruang menjadi “penjaga hutan” yang bekerja setiap hari. Bagi kami, temuan seperti ini memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar mengetahui apa yang dimakan satwa. Feses menjadi bukti bahwa beruang madu masih aktif menggunakan kawasan tersebut sebagai wilayah jelajahnya. Dari bentuk, kondisi, hingga isi feses, kita dapat mengetahui jenis pakan yang sedang berlimpah, memperkirakan waktu keberadaan satwa, bahkan memahami kondisi ekosistem di sekitarnya.

Semua informasi itu diperoleh tanpa harus bertemu langsung dengan sang beruang.

Temuan sederhana seperti ini juga menunjukkan bahwa Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat masih menyediakan sumber pakan alami bagi satwa liar. Ketika pohon-pohon durian hutan mulai berbuah, bukan hanya beruang madu yang datang menikmatinya. Orangutan, musang, tupai, rusa hingga berbagai jenis burung juga memanfaatkan musim buah sebagai sumber energi.

Inilah yang membuat hutan bekerja sebagai sebuah ekosistem. Tidak ada makhluk yang hidup sendiri. Setiap pohon, buah, jamur, serangga, hingga mamalia besar memiliki perannya masing-masing dalam menjaga keseimbangan alam. Sayangnya, keseimbangan itu sangat mudah terganggu ketika hutan kehilangan tutupan pohonnya. Pembukaan lahan, kebakaran, maupun aktivitas ilegal tidak hanya menghilangkan pepohonan, tetapi juga memutus rantai kehidupan yang telah terbentuk selama ratusan bahkan ribuan tahun. Ketika sumber makanan berkurang, satwa akan terdorong keluar dari hutan dan lebih sering berhadapan dengan manusia.

Karena itulah menjaga hutan bukan hanya tentang melindungi satwa yang kita lihat, tetapi juga menjaga seluruh prose alami yang mungkin tidak pernah kita sadari. Di balik setiap biji durian yang keluar bersama feses beruang madu, tersimpan harapan lahirnya pohon-pohon baru. Di balik setiap langkah beruang yang menyusuri hutan, tersebar benih kehidupan yang kelak akan menjadi sumber makanan, tempat berlindung, dan rumah bagi generasi satwa berikutnya.

Di hutan, tidak ada yang benar-benar menjadi limbah. Setiap jejak memiliki makna, setiap makhluk memiliki peran, dan setiap kehidupan saling menjaga satu sama lain. (NAB)

Comments

comments

You may also like