PETANI HUTAN DARI LANGIT, PEMBAWA PESAN LELUHUR

Di ujung hutan yang masih bernapas pelan, di antara kabut pagi yang menggantung seperti doa yang belum selesai, seekor burung Enggang melintas di langit, sayapnya lebar, paruhnya kokoh dengan ciri khas terbangnya dengan bunyi kepakan sayapnya yang berhembus hingga terdengar kencang. Orang0orang Dayak menyebutnya lebih dari sekedar burung. Ia adalah titisan cerita, penghubung antara dunia manusia dan roh leluhur. Dalam ukiran kayu, dalam tarian, dalam nyanyian yang diwariskan dari mulut ke mulut. Enggang selalu hadir anggun, sakral, dan penuh makna. Konon, setiap kepakan sayapnya membawa pesan dari langit Ia tidak pernah terbang sembarangan. Ia memilih arah seperti manusia memilih jalan hidup dengan kehati-hatian dan hormat pada alam.

Di bawah lintasannya, hutan berdiri sebagai rumah bersama. Pohon-pohon tua menjulang seperti tiang penyangga dunia. Di sana, di antara cabang-cabang tinggi, individu orangutan bergelayut perlahan. Tangannya memeluk ranting, matanya menyimpan kesunyian yang panjang. Orangutan itu tahu, seperti halnya Enggang tahu bahwa hutan bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah ibu, ia adalah ingatan, ia adalah tubuh yang memberi tanpa meminta kembali.

Tetua Dayak pernah berbisik pada angin, “Jika Enggang hilang karena keserakahan, maka manusia telah memotong sayap kebijaksanaannya sendiri. Dan jika orangutan kehilangan hutan, maka manusia telah merobek akar kehidupannya”. Namun kini, dalam setiap cerita, terselip kegelisahan, akankah mereka hanya menjadi legenda?

Di kejauhan, seekor Enggang terbang rendah, seakan lelah memikul dunia. Di bawahnya, orangutan berpindah dengan hati-hati, mencari pohon yang tersisa. Dan hutan menahan napasnya, menunggu manusia mengingat kembali bahwa bulu bukan sekadar indah, tengkorak bukan sekadar pajangan, dan kehidupan bukan sesuatu yang bisa digantikan setelah hilang. (LUT)

AKU RANGER YANG IKUT RESCUE ORANGUTAN

Bulan lalu menjadi pengalaman pertama saya mengikuti kegiatan penyelamatan (rescue) orangutan. Ini juga merupakan perjalanan pertama kalinya saya ke Desa Sabintulung, Kecamatan Muara Kaman, Kutai Kartanegara. Sebuah kecamatan yang sangat terkenal dengan kasus pembantaian dan penyiksaan orangutannya di akhir tahun 2011 tepatnya di Desa Puan Cepak. Para pelaku kekejaman pada satwa liar yang berjumlah 4 orang tersebut dijatuhi hukuman 8 bulan penjara dan denda 30 juta rupiah.

Panggil saya Igo, yang merupakan bagian dari tim APE Guardian. Biasanya, saya terlibat dalam kegiatan monitoring pasca pelepasliaran serta patroli di kawasan pelepasliaran. Kali ini saya berkesempatan untuk ikut langsung dalam kegiatan penyelamatan. “Sungguh, gelisah sekali. Saya membayangkan bagaimana menghadapi berbagai kemungkinan, baik maupun buruk yang bisa terjadi selama proses penyelamatan.”.

Syukurnya, selama kegiatan rescue berjalan dengan lancar. Kerja bersama warga Sabintulung, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim dan tim APE Crusader COP menjadikan aksi penyelamatan ini dapat terlaksana dengan baik. Hilangnya habitat orangutan membuka mata saya, hutan yang selama ini tim APE Guardian jaga, mungkin menjadi satu-satunya rumah yang tersisa yang bisa membuat orangutan nyaman. Rumah yang penuh dengan pakan orangutan, tempat tinggal yang memungkinkan orangutan satu bertemu dengan orangutan lain bahkan perjumpaan dengan satwa liar lain dengan suara khas hutan hujan Kalimantan.

Jaring pun terbentang, orangutan jantan yang kehilangan habitat telah berhasil ditembak bius, sesaat lagi dia akan jatuh. Kami harus memastikan dia tidak terluka dan siap untuk ditranslokasi. Iya, kami memindahkannya dari tempatnya sekarang ke Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat di Busang, dimana biasanya saya patroli. Jangan ditanya apa yang orangutan liar lakukan saat pintu kandang angkut dibuka. Dapat dipastikan dia melesat keluar dengan cepat, harum hutan tak akan bisa menahannya. (IGO)

SETAHUN BERLALU, ORANGUTAN PALUY TERTANGKAP KAMERA JEBAK

Masih ingat dengan Paluy? Orangutan jantan dewasa yang diselamatkan oleh Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur pada 22 Juli 2024. Ia ditemukan dalam kondisi lemah dengan tubuh sangat kurus di area perkebunan warga. Di sana Paluy terjebak konflik dengan manusia. Tubuhnya yang kurus sebuah tanda yang jelas bahwa ia telah lama kekurangan nutrisi.

Setelah dievakuasi, Paluy kemudian masuk ke klinik orangutan di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) yang dikelolah Centre for Orangutan Protection (COP) di Berau untuk menjalani perawatan intensif untuk memulihkan kondisi fisiknya dari malnutrisi, serta membangun kembali energi dan semangat hidupnya. Pemulihan tidak datang secara instan, tetapi melalui proses yang perlahan dan konsisten. Hingga akhirnya, pada 11 Januari 2025, Paluy dilepasliarkan di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, kabupaten Kutai Timur, kembali ke tempat di mana ia bisa hidup liar, bebas, dan dalam habitat yang terjaga.

Setahun telah berlalu, pada 24 Februari 2026, orangutan Paluy kembali terpantau melalui rekaman kamera jebak tim monitoring APE Guardian COP. Kamera jebak tersebut sengaja dipasang untuk memantau keberadaan orangutan dan satwa lainnya di hutan tersebut. Paluy tampak berjalan di atas tanah dan berdiri di depan kamera jebak sambil memperhatikan sekitar.

“Melalui pengamatan visual, kondisi Paluy mengalami perkembangan yang signifikan dilihat dari bodyscore yang bertambah baik dan rambut bertambah lebat”, kata drh. Theresia, dokter hewan COP. Hal ini menandakan keberadaan hutan lindung masih terjaga dan memiliki daya dukung yang cukup untuk menopang kebutuhan satwa yang ada. Sekali lagi, Paluy menuai harpa baru di rumah keduanya, tempat yang aman bagi orangutan untuk melanjutkan kehidupan. (YUS)

JAAG, BUAH ENDEMIK HUTAN KALIMANTAN

Gemericik air Sungai Menyuq yang jernih mengiringi perjalanan tim APE Guardian menuju hulu. Sembari melakukan patroli dan monitoring kawasan, sesekali kami menoleh ke tepian sungai, barangkali ada buah atau tumbuhan yang bisa dibawa pulang untuk menambah logistik di pos monitoring. Tak terasa, satu jam perjalanan membawa kami semakin jauh ke hulu, hingga akhirnya menemukan bekas pondok peladang. Di sna, kami memutuskan berhenti sejenak untuk beristirahat.

Sesaat setelah melangkahkan kaki darti perahu yang telah bersandar, kaki Yusuf, staf lapangan APE Guardian, menginjak sesuatu yang lembek, disertai aroma harum yang khas. Ketika menoleh ke bawah, benar saja, buah-buah hutan berwarna jingga tampak berjatuhan. Melihat hal tersebut, kami segera mencari pohon asalnya. Tak jauh dari karangan, tepian sungai berbatu yang tersusun dari batu kali kecil, berdiri pohon besar dengan buah yang bergerombol, persis seperti yang kami temukan di tanah.

“Buah apa ini, Amai? Bisa dimakan kah?”, tanya Yusuf kepada Amai Lukas, warga lokal Busang.

“Buah jaag”, jawab Amai Lukas. Begitulah masyarakat Busang menyebutnya, atau di daerah lain dikenal juga sebagai buah bumbunau.

Tumbuhan ini memiliki nama ilmiah Aglaia laxiflora, termasuk dalam keluarga Meliaceae. Daging buahnya bertekstur menyerupai langsat. Pohon ini umumnya ditemukan di hutan primer, sepanjang punggung bukit, serta di tepi sungai. Ciri utamanya adalah pohon yang tinggi dan besar, dapat mencapai lebih dari 20 meter, dengan diameter batang melebihi 70 cm. Buahnya berdiameter sekitar 2 sampai 3 cm, berbentuk agak memanjang, dengan kulit berwarna kuning, daging putih, dan rasa masam sepat.

Buah Aglaia laxiflora merupakan salah satu potensi pakan bagi orangutan. Beberapa referensi menyebutkan bahwa tumbuhan ini endemik hutan Kalimantan, sehingga keberadaannya menjadi penting untuk dilestarikan. (YUS)

KAMERA JEBAK: ALAT BANTU MONITORING ORANGUTAN DI KAWASAN PELEPASLIARAN HUTAN LINDUNG GUNUNG BATU MESANGAT

Kamera jebak atau camera trap merupakan perangkat kamera otomatis yang dilengkapi sensor gerak atau panas (inframerah) untuk mengambil foto atau video satwa liar tanpa kehadiran manusia. Penggunaan kamera jebak dalam dunia konservasi lazim dilakukan untuk pemantauan populasi, perilaku, dan keanekaragaman hayati di habitat alaminya.

Akhir Desember 2025 menjadi musim puncak berbuah lahung atau durian merah (Durio dulcis) di kawasan pelepasliaran Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat. Lahung memiliki karakteristik kulit buah berwarna merah dengan duri panjang dan tajam, serta daging buah yang manis. Buah yang telah matang akan jatuh dari pohon dan aromanya yang menyengat sering kali menarik beragam satwa frugivora untuk berdatangan.

Tanpa menyia-nyiakan momentum musim berbuah tersebut, tim APE Guardian menelusuri rimbunnya hutan lindung untuk memasang kamera jebak, dengan harapan dapat mengetahui satwa apa saja yang singgah di bawah pohon lahung.

Satu bulan setelah kamera terpasang, tibalah waktunya untuk mengambil dan memeriksa hasil rekaman. Dari empat kamera yang dipasang, salah satunya berhasil merekam momen yang sangat spesial. Dua individu orangutan, satu jantan dan satu betina, terekam sedang mengambil buah lahung yang terjatuh untuk dimakan. Keduanya kemudian teridentifikasi sebagai Berani (jantan) dan Charlotte (betina), orangutan yang pernah direhabilitasi di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance).

Charlotte yang baru dilepasliarkan kurang dari dua bulan sebelumnya, menunjukkan tren positif karena telah menjelajah sejauh 3 km dari lokasi terakhir ia terdeteksi hingga ke titip berpasangnya kamera. Perjumpaan Berani dan Charlotte mengindikasikan perkembangan yang baik pasca-pelepasliaran, sekaligus membuka peluang interaksi sosial yang berpotensi mendukung reproduksi di alam. Selain orangutan, beberapa satwa lain turut terekam, seperti landak, kijang, beruang madu, dan pelanduk. Penggunaan kamera jebak sangat membantu tim lapangan dalam monitoring orangutan dan satwa lainnya. (YUS)

SUS BARBATUS, PENGHUNI HUTAN YANG SEMPAT MENGHILANG

Di jantung Kalimantan Timur, Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat menjadi salah satu bentang terakhir hutan tropis yang masih terjaga. Kawasan ini tidak hanya dikenal sebagai lokasi pelepasliaran orangutan COP yang berada di bawah tim APE Guardian, tetapi juga sebagai rumah bagi beragam satwa liar yang saling terhubung dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan.

Salah satu satwa kunci ini adalah babi hutan berjanggut (Sus barbatus) yang berperan sebagai penggembur tanah dan penyebar biji alami. Keberadaannya mudah dikenali melalui jejak kaki, bekas galian tanah, maupun perjumpaan langsung di sekitar hutan dan aliran sungai.

Namun pada masa pandemi COVID-19 tahun 2020, keberadaan Sus barbatus mendadak menghilang. Warga sekitar hutan mulai menemukan bangkai babi hutan di pinggir sungai, yang diduga kuat akibat wabah penyakit. Kematian massal tersebut membuat satwa ini nyaris tak terlihat lagi di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, menimbulkan kekhawatiran akan terganggunya keseimbangan ekosistem hutan.

Selama beberapa tahun berikutnya, berbagai upaya pemantauan dilakukan melalui pengamatan lapangan dan kamera jebak, namun belum berhasil merekam keberadaan Sus barbatus. Hilangnya satwa ini terasa signifikan, mengingat perannya yang penting dalam mendukung regenerasi hutan dan secara tidak langsung berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup orangutan yang dilepasliarkan di kawasan ini.

Harapan baru muncul pada awal tahun 2026 ketika kamera jebak yang dipasang di delapan titik strategis kawasan pelepasliaran orangutan berhasil merekam seekor babi hutan berjanggut melintas pada siang hari. Dokumentasi ini menjadi bukti bahwa Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat perlahan pulih, sekaligus memperkuat harapan bahwa kawasan ini tetap menjadi rumah yang aman bagi orangutan dan satwa liar lainnya melalui upaya pemantauan dan perlindungan yang berkelanjutan. (LUT)

CATATAN AKHIR TAHUN 2025 APE GUARDIAN COP: ORANGUTAN, HUTAN, DAN HARAPAN MASA DEPAN

Di hulu sungai Busang, hutan masih berdiri sebagai rumah bagi orangutan dan beragam satwa liar lainnya. Di balik rimbun pepohonan dan kesunyian yang hanya dipecah oleh suara burung, tahun 2025 menjadi tahun penuh cerita tentang penyelamatan, penjagaan, dan harapan.

Sepanjang tahun ini, Hutan Lindung (HL) Gunung Batu Mesangat sebagai habitat orangutan Busang, kembali menerima tujuh individu orangutan hasil rehabilitasi. Setelah melalui perjalanan panjang. Mereka akhirnya kembali ke habitat alaminya. Salah satu di antaranya lebih dulu menjalani masa habituasi di Pulau Pra-Pelepasliaran Hagar, sebuah tahap penting untuk belajar kembali hidup liar sebelum benar-benar menjelajahi rumahnya.

Busang juga menjadi tempat aman bagi 20 orangutan hasil translokasi. Mereka dievakuasi dari lokasi konflik dan kawasan yang tidak lagi aman. Setiap proses translokasi bukan hanya soal memindahkan satwa, tetapi juga tentang memberi kesempatan kedua bagi orangutan untuk hidup dengan aman dan nyaman, serta bagi manusia untuk belajar hidup berdampingan dengan alam.

Namun, melepasliarkan orangutan saja tidak cukup. Hutan harus mampu menyediakan pakan dan perlindungan. Karena itu, tim lapangan menanam kembali pohon-pohon buah hutan sebagai sumber pakan alami. Patroli pengamanan kawasan dilakukan secara rutin menyusuri sungai dan jalur darat, sekaligus menjalankan mitigasi konflik untuk mengantisipasi interaksi negatif antara masyarakat dis editor kawasan dan orangutan.

Di sela-sela aktivitas tersebut, HL Gunung Batu Mesangat Busang menunjukkan tanda-tanda kehidupannya. Kamera jebak yang dipasang di dalam dan sekitar kawasan merekam momen langka, satu induk orangutan (Pongo pygmaeus) bersama anaknya turun ke lantai hutan. Sebuah pemandangan sederhana namun bermakna, seakan mengabari kami bahwa hutan di sini masih cukup aman untuk dijelajahi orangutan.

Malam hari diisi dengan kegiatan herping, yaitu mencari dan mengamati reptil serta amfibi di alam liar yang dilakukan dengan menyusuri lantai hutan yang kebab. Dari kegiatan ini, tim menemukan katak tanduk hidung panjang (Megophtys nasuta), salah satu satwa kecil yang menjadi indikator sehatnya ekosistem hutan. Sementara itu, langit dan tajuk pohon menjadi panggung bagi burung-burung hutan. Melalui kegiatan birdwatching, kami berhasil mendokumentasikan beberapa jenis burung dilindungi, seperti kangkareng hitam (Anthracoceros malayanus), kangkareng perut putih (Antracoceros albirostris) dan enggang klihingan (Anorrhinus galeritus).

Cerita Busang tidak hanya hidup di dalam hutan, tetapi juga dibawa ke ruang-ruang kelas sekolah. Sepanjang 2025, tim melakukan school visit ke beberapa sekolah di Busang, berbagi cerita tentang orangutan, satwa liar, dan pentingnya menjaga hutan. Dari sinilah harapan tumbuh untuk mencetak generasi yang peduli dan berani menjaga alamnya.

Cerita yang sama juga disampaikan di bangku perguruan tinggi melalui campus visit ke Universitas Mulawarman. Di sana, mahasiswa diajak terlibat dalam upaya konservasi satwa liar dan habitatnya, khususnya orangutan.

Meski demikian, tantangan masi nyata. Di luar kawasan pelepasliaran, ditemukan aktivitas tambang emas ilegal dan praktik pembalakan liar. Ancaman ini menjadi pengingat bahwa hutan Busang masih rapuh dan membutuhkan perlindungan bersama.

Dari pelepasliaran orangutan hingga suara anak-anak di ruang kelas, dari kamera jebak hingga diskusi di kampus, tahun 2025 menunjukkan bahwa konservasi bukan hanya tentang hutan dan satwa, tetapi juga tentang manusia dan masa depan yang diperjuangkannya. (PEY)

MENANAM HARAPAN DI HUTAN: CERITA PENANAMAN POHON BAYUR UNTUK ORANGUTAN

Hutan selalu punya cara menyambut siapa pun yang datang dengan niat baik. Begitu pula saat kami tiba di Kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat untuk menjalankan misi sederhana namun bermakna, yaitu menanam pohon bayur sebagai sumber pakan alami orangutan. Udara sejuk, suara burung berkicau, dan gemerisik dedaunan menyertai langkah pertama kami, seolah menjadi pembuka sebuah perjalanan kecil yang penuh harapan.

Perjalanan menuju lokasi tanam memang tidak selalu mulus. Ada kalanya sungai surut sehingga perahu harus ditarik, di lain waktu kami harus menembus hutan yang rapat. Capek? Iya. Namun justru di situlah letak serunya. Setibanya di lokasi, kami langsung berbagi peran, mulai dari menggali tanah, menata bibit bayur, hingga memastikan jarak tanam yang tepat. Setiap kali satu bibit berdiri tegak, ada rasa puas yang sulit dijelaskan, seperti menitipkan harapan baru bagi hutan.

Bayur bukan pohon sembarangan. Buahnya menjadi salah satu sumber pakan penting bagi satwa liar, termasuk orangutan. Batangnya kuat, dan keberadaannya membantu menjaga keseimbangan ekosistem serta kesehatan hutan secara keseluruhan.

Kegiatan ini bukan sekadar menanam pohon, tetapi juga menanam harapan. Harapan bahwa beberapa tahun ke depan, bayur-bayur ini akan tumbuh tinggi dan kokoh, menjadi tempat orangutan bergelantungan sekaligus menyediakan sumber makanan yang melimpah. Harapan agar hutan tetap hidup dan lestari, sehingga generasi mendatang masih dapat menyaksikan orangutan bebas berkeliaran di rumah alaminya.

Karena pada akhirnya, menanam pohon adalah cara paling sederhana, namun paling berarti untuk memberi kembali kepada alam. DI Gunung Batu Mesangat, setiap bayur yang ditanam membawa pesan yang jelas, hutan ini penting, orangutan ini berharga, dan masa depan mereka ditentukan oleh langkah kecil yang kita ambil hari ini. (Hasanah_Orangufriends)

SEMPIDAN BIRU, SANG PENJAGA KEANEKARAGAMAN HAYATI

Di bawah terik mentari yang sedang garang-garangnya, tim patroli APE Guardian berangkat dari pos monitoring menuju titik pelepasliaran Memo di sisi Sungai Hagar untuk melakukan patroli sekaligus pengambilan kamera jebak yang telah dipasang sebulan sebelumnya. Tak sampai 30 menit melaju, mesin perahu kami matikan. Salah satu ranger kemudian membatu mendayung sebentar hingga perahu berhasil menembus anak sungai yang cenderung sempit dan banyak terhalang dahan pohon tumbang di sepanjang tepian sungai.

Lokasi kamera jebak pertama yang kami datangi memiliki medan yang lebih ekstrem dibandingkan lokasi lainnya. Kami melewati area perbukitan dan sempat menyeberangi anak sungai dengan kedalaman kurang lebih sepinggang orang dewasa. Kamera jebak tersebut terpasang di sekitar pohon durian merah yang dalam bahasa Dayak Kenyah Lepoq Bem disebut buas dian bala. Harapannya, aroma durian merah dapat menarik berbagai satwa untuk mendekat dan terekam oleh kamera jebak.

Proses patroli berjalan lancar. Sesampainya kembali di pos, kami segera mengecek dengan harapan menemukan beragam jenis satwa. Beberapa satwa yang terekam di antaranya kancil, tikus bulan, berang-berang, serta satu individual orangutan betina yang sedang menggendong anaknya. Namun rekaman yang paling menarik perhatian saya adalah sepasang burung Sempidan Biru Kalimantan, jantan dan betina.

Burung Sempidan Biru jantan memiliki ukuran tubuh sekitar 65-70 cm, sedangkan betina sekitar 56-57 cm. Keduanya memiliki kulit muka berwarna biru. Jantan ditandai dengan jambul hitam dan bulu ekor berwarna putih kekuningan, sementara betina memiliki warna tubuh cokelat kusam tanpa jambul mencolok. Warna ini berfungsi sebagai kamuflase alami, terutama saat betina mengerami telur dan bersembunyi dari predator.

Burung yang masuk dalam kategori rentan ini menghadapi berbagai ancaman terhadap kelangsungan hidupnya, mulai dari deforestasi, perburuan liar, hingga perdagangan satwa ilegal akibat keindahan bulunya. Selain memakan biji-bijian, sempidan biru juga mengonsumsi buah-buahan hutan, serangga, cacing, dan hewan kecil lainnya. Aktivitas mencari makan tersebut membuat burung ini sering mengorek tanah, membantu proses penggemburan tanah, sekaligus berperan sebagai penyebar benih.

Peran ekologis inilah yang menjadikan burung sempidan biru Kalimantan sebagai salah satu penjaga pentingnya regenerasi hutan. Dengan bantuannya, hutan dapat terus memperbarui vegetasinya dan menjaga keanekaragaman hayati tetap lestari. (Hana_COP School Batch 15)

JEJAK SUNYI, MENELISIK SATWA LIAR DI MALAM HARI

Malam itu, kabut menggantung rendah di antara pepohonan ketika tim APE Guardian melangkah masuk ke kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat. Berbekal headlamp, kamera, dan sepatu yang setia menemani perjalanan, kami kembali menyusuri hutan yang sudah akrab namun selalu menyimpan kejutan. Malam bukan sekedar waktu beristirahat bagi hutan, melainkan saat kehidupan lain perlahan menampakkan diri.

Kegiatan kali ini berfokus pada pengamatan reptil, amfibi, dan burung. Pada malam hari, banyak sekali burung sedang beristirahat sehingga lebih mudah diamati dan didokumentasikan. Kami berjalan perlahan menyusuri jalur setapak dan aliran anak sungai yang jernih, menoleh ke kanan dan kiri, berharap menemukan satwa yang bersembunyi di balik rimbun dedaunan. Suara serangga berpadu dengan gemerisik air, menciptakan suasana sunyi yang hidup. Setiap gerakan kecil kami amati dengan seksama, seolah menjadi petunjuk keberadaan makhluk malam yang kami cari.

Tak lama berselang, seekor Paok delima terbang melintasi saat tersorot cahaya headlamp. Kami segera mematikan lampu dan menunggu dengan sabar. Benar saja, burung itu kembali hinggap di sebuah ranting, memberi kami kesempatan untuk mendokumentasikannya. Beberapa langkah kemudian, suara ranger memanggil dari depan, “kini unsuwi”, dalam bahasa Dayak Kenyah yang berarti “ke sini ada burung”. Kami segera menghampiri dan di hadapan kami tampak seekor Seriwang asia bertengger tenang di atas liana. Burung ini jarang terlihat di siang hari, lebih sering melintas cepat dan menghilang di balik semak.

Perjalanan berlanjut menyusuri aliran sungai kecil yang menjadi rumah bagi katak dan ular. Dengan langkah pelan, kami menyusuri air dingin yang membasahi pinggang. Di tepian sungai yang sunyi, dua ekor katak bersahut-sahutan, suaranya lembut seperti nyanyian alam yang mengiring turunnya hujan malam. Suasana hutan terasa semakin rapat, seolah menyimpan rahasia yang belum sepenuhnya terungkap.

Tiba-tiba, langkah kami terhenti. Di balik anyaman akar pohon tua, tampak seekor ular kobra bersembunyi dalam diam. Anggun dan waspada, sisiknya yang gelap berkilau lembut terkena cahaya senter. Dalam momen itu, waktu seakan melambat. Kami terdiam sejenak, menyadari bahwa di hadapan kami berdiri salah satu penjaga sunyi hutan malam, hadir tanpa suara namun penuh wibawa. (LUT)