JAAG, BUAH ENDEMIK HUTAN KALIMANTAN
Gemericik air Sungai Menyuq yang jernih mengiringi perjalanan tim APE Guardian menuju hulu. Sembari melakukan patroli dan monitoring kawasan, sesekali kami menoleh ke tepian sungai, barangkali ada buah atau tumbuhan yang bisa dibawa pulang untuk menambah logistik di pos monitoring. Tak terasa, satu jam perjalanan membawa kami semakin jauh ke hulu, hingga akhirnya menemukan bekas pondok peladang. Di sna, kami memutuskan berhenti sejenak untuk beristirahat.
Sesaat setelah melangkahkan kaki darti perahu yang telah bersandar, kaki Yusuf, staf lapangan APE Guardian, menginjak sesuatu yang lembek, disertai aroma harum yang khas. Ketika menoleh ke bawah, benar saja, buah-buah hutan berwarna jingga tampak berjatuhan. Melihat hal tersebut, kami segera mencari pohon asalnya. Tak jauh dari karangan, tepian sungai berbatu yang tersusun dari batu kali kecil, berdiri pohon besar dengan buah yang bergerombol, persis seperti yang kami temukan di tanah.
“Buah apa ini, Amai? Bisa dimakan kah?”, tanya Yusuf kepada Amai Lukas, warga lokal Busang.
“Buah jaag”, jawab Amai Lukas. Begitulah masyarakat Busang menyebutnya, atau di daerah lain dikenal juga sebagai buah bumbunau.
Tumbuhan ini memiliki nama ilmiah Aglaia laxiflora, termasuk dalam keluarga Meliaceae. Daging buahnya bertekstur menyerupai langsat. Pohon ini umumnya ditemukan di hutan primer, sepanjang punggung bukit, serta di tepi sungai. Ciri utamanya adalah pohon yang tinggi dan besar, dapat mencapai lebih dari 20 meter, dengan diameter batang melebihi 70 cm. Buahnya berdiameter sekitar 2 sampai 3 cm, berbentuk agak memanjang, dengan kulit berwarna kuning, daging putih, dan rasa masam sepat.
Buah Aglaia laxiflora merupakan salah satu potensi pakan bagi orangutan. Beberapa referensi menyebutkan bahwa tumbuhan ini endemik hutan Kalimantan, sehingga keberadaannya menjadi penting untuk dilestarikan. (YUS)



