NOVI AND HIS MOST FAVORITE FRUIT

Novi, the male orangutan ex-rehab, often makes the monitoring team into chaos. After not being tracked for nearly two weeks after the release, Novi showed up his existence by hanging on a tree. Then the next two days the team lost his track again. Furthermore, two days later the team was surprised by Novi’s appearance around where the team saw him at the last time.

Novi continues to be seen swinging here and there in the Kenari tree (species of Sapindaceae or soapberry family). “Novi loves the Kenari very much,” said Yusak, one of our rangers who was filling out the orangutan food form. It can be proven by the form. From the early minutes Yusak noted, Novi ate a lot of Kenari fruits.

Apparently, Novi likes the sweet-sour taste of the fruit. The monitoring team also try Kenari fruit to fulfill their curiosity. Once there was a Kenari dropped by Novi from a 20-meters tree, someone rushed to pick it up. The first bite made Widi’s face shrink. “I thought it was sweet, but it is very sour,” said Widi, the APE Guardian team volunteer. No wonder why, Novi dropped the unripe fruit. This fruit looks like almonds with white flesh in it. If it is unripe, the skin color is green. But when it is ripe, the skin color turns black and the flavor is a little sweet.

Novi did not want to get away from Kenari trees. For several times Novi was observed making nests near that tree. “Maybe after waking up Novi will immediately eat Kenari,” thought the ranger. Apparently, the prediction went true. From 05.00 WITA the team monitored Novi, the orangutan came out from the nest. As soon as he woke up, he immediately rushed to swing towards the Kenari tree.

Rangers were optimistic that Novi could be an agent in regenerating forests, after finding that Novi’s feces are mixed with dozens of Kenari seeds, scattered far away from the main tree. (IND)

BUAH KENARI KESUKAAN NOVI
Individu orangutan jantan bernama Novi ini memang kerap membuat tim monitoring kalang kabut. Setelah tidak terpantau jejaknya hampir selama dua pekan paska rilis, Novi kembali menunjukkan eksistensinya dengan bergelantungan di pohon. lalu dua hari berikutnya tim kembali kehilangan jejaknya. Selanjutnya, selang dua hari tim dibuat terkejut dengan kemunculan Novi di sekitar lokasi terakhir tim kehilangan jejak Novi.

Novi terus terlihat berayun kesana kemari di pohon kenari. “Ternyata si Novi ini suka buah kenari,” ucap Yusak salah seorang ranger yang tengah mengisi form pakan orangutan. Bagaimana tidak, dari menit awal Yusak mencatat, Novi banyak sekali makan buah kenari.

Rupanya, Novi suka rasa manis masam buah itu. Sampai-sampai membuat tim monitoring ingin mencicipi rasa buah kenari. Begitu ada buah kenari yang dijatuhkan Novi dari ketinggian pohon sekitar 20 meter, ada yang bergegas mengambilnya. Gigitan pertama membuat wajah Widi mengkerut. “Kukira manis, ternyata rasanya masam,” ungkap Widi relawan Tim APE Guardian. Pantas saja masam, ternyata Novi menjatuhkan buah kenari yang belum matang. Buah yang bentuknya mirip kacang almond ini, memiliki daging berwarna putih di dalamnya. Jika belum matang warna kulitnya hijau, begitu buahnya matang warna kulitnya berubah menjadi hitam dan ada tambahan rasa sedikit manis.

Saking doyan dan suka dengan buah ini, Novi tak ingin jauh-jauh dari pohon kenari. Beberapa kali Novi terpantau membuat sarang di dekat pohon kenari. “Mungkin setelah bangun tidur Novi bisa langsung makan buah kenari,” pikir para ranger. Ternyata perkiraan itu tidak meleset. Dari pukul 05.00 WITA tim memantau Novi yang kala itu masih mendekam di sarang, begitu terbangun Novi langsung bergegas berayun menuju pohon kenari.

Para ranger optimis bahwa Novi bisa menjadi agen dalam meregenerasi hutan, setelah menemukan kotoran Novi bercampur dengan puluhan biji kenari tercecer jauh dari pohon induknya. (REZ)

HAPPY TO BECOME A RANGER IN APE GUARDIAN

APE Guardian is a name of the team with a heavy responsibility: to secure our orangutan release area. Physical and mental strength is obviously the main requirement to be able to join this team. There are some training to support the APE Guardian task, one of them is shooting practice. Who is shot? With what? What for?

APE Guardian needs to ensure the post-rehab orangutans can survive in the forest until they are truly wild. This process certainly has lots of obstacles. The orangutans have a possibility to experience unwanted things such as illness, malnutrition or injury. If it happened, the rescue must be done.

Vet Flora began with the introduction of all the rescue equipment. First, how to prepare anesthesia/dart bullets when the rescue process is going. All team members had the opportunity to practice how to prepare bullets that already contained drugs until they were ready to be shot.

Then, the shooting practice was given with targets that resembled the size of orangutans. Everyone has the chance to have 3 shots. The 2 best shooters who have the highest score will enter the final and will get the chance to shoot 5 times. A small tournament has taken place because it concerns shooters’ pride. Understandably, they were all animal hunters. But now, they are the guardian of the forest and all the animals living in.

The final between Yacang and Steven is inevitable. Both of these rangers really compete to get APE Guardian’s main shooter position. And finally, Steven managed to get more score. This activity really made the ranger fresh after a month full of patrolling the forest. (IND)

SERUNYA JADI RANGER DI APE GUARDIAN
APE Guardian, nama tim yang bertugas mengamankan kawasan pelepasliaran orangutan ini punya tanggung jawab yang berat. Fisik dan mental yang kuat tentu saja jadi syarat utama untuk bisa bergabung di tim ini. Selanjutnya ada pelatihan bersama untuk mendukung tugas APE Guardian ini, salah satunya latihan menembak. Menembak siapa? Dengan apa? Untuk apa?

Tim APE Guardian adalah tim yang bertugas memastikan orangutan pelepasliaran dapat bertahan hidup sampai benar-benar liar. Proses ini tentu bukan tanpa halangan, selama itu mungkin saja orangutan tersebut mengalami hal-hal yang tidak diinginkan seperti sakit, malnutrisi atau terluka. Kalau sudah begitu, usaha penyelamatan mau tidak mau harus dilakukan.

drh. Felisitas Flora mengawalinya dengan pengenalan perlengkapan penyelamatan. Pertama, bagaimana menyiapkan peluru bius/dart ketika proses rescue berjalan. Seluruh anggota tim mendapat kesempatan mempraktekkan bagaimana menyiapkan peluru yang sudah berisi obat bius sampai dengan siap untuk ditembakkan. Kemudian praktek menembak diberikan dengan sasaran yang menyerupai ukuran orangutan dengan nilai-nilai berdasarkan tempat sasaran. Setiap orang memiliki kesempatan 3 kali tembakan. 2 penembak terbaik yang memiliki nilai tertinggi akan masuk final dan akan mendapatkan kesempatan menembak sebanyak 5 kali. Sesaat telah terjadi turnamen kecil, karena ini menyangkut harga diri penembak. Maklum saja, mereka semua dulunya adalah pemburu hewan. Tapi kini, jadi penjaga hutan dan isinya.

Final antara Yacang dan Steven tak bisa dihindari lagi. Kedua ranger ini benar-benar bersaing ketat untuk mendapatkan posisi penembak utama APE Guardian. Dan akhirnya Steven berhasil memperoleh nilai lebih banyak. Kegiatan kali ini benar-benar membuat para ranger segar setelah sebulan penuh patroli kawasan hutan. (REZ)

NOVI OBSERVED BY APE GUARDIAN

After two weeks of Novi and Leci released, finally we found Novi tracks. Leftover and canopy openings lead the APE Guardian team, whose duty is monitoring the released orangutan, way to meet Novi. The team then recorded Novi’s behaviour every 5 minutes, no more per 10 minutes.

Filling out the form with 10 minutes interval was still lacking in showing the behaviour progress of the released orangutans. Starting on Nov 20, the team agreed to reduce the time interval in recording the orangutans behaviour from 10 minutes interval to 5 minutes interval. The team needs to be more focused on observing the orangutan’s behaviour and write it down.

“Leech attacks often disrupt our concentration, but the note-taking business still has to be done. What is Novi eating, on what kind of tree and what diameter of the tree he’s on and at what height he’s on, should be recorded properly. Our monitoring team’s duty is to ensure Novi can survive in nature after all these years being in the COP Borneo orangutan rehabilitation centre.”. said Reza Setiawan, coordinator of APE Guardian team.

Then, what about Leci? Since day one, after 3 hours of monitoring, Leci has had disappear from our view. “The lively Leci was like blending with the winds, soundless and trackless.”, said Widi, a volunteer of APE Guardian team with amazement. (SAR)

NOVI KEMBALI TERPANTAU APE GUARDIAN
Setelah dua minggu pelepasliaran orangutan Novi dan Leci, akhirnya kami menemukan kembali jejak Novi. Sisa-sisa makanan dan bukaan kanopi mengantarkan tim APE Guardian COP yang bertugas memantau orangutan pelepasliaran berjumpa kembali dengan Novi. Tim pun kembali mencatat perilaku Novi per lima menit tidak lagi per sepuluh menit.

Pengisian form yang awalnya memiliki interval waktu 10 menit ternyata masih kurang untuk menunjukkan progres perilaku para orangutan pelepasliaran. Mulai 20 November, tim sepakat untuk memperkecil interval waktu pengisian form monitoring dari 10 menit menjadi 5 menit. Tim dituntut untuk semakin fokus memperhatikan prilaku orangutan dan mencatatnya.

“Serangan pacet sering mengganggu konsentrasi kami, tapi urusan catat mencatat tetap harus jalan. Novi sedang makan apa, berada di pohon apa dengan diameter berapa, di ketinggian berapa harus tercatat dengan baik. Kami tim monitoring bertugas memastikan, Novi bisa bertahan hidup di alam setelah bertahun-tahun berada di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo.”, ujar Reza Kurniawan, kordinator APE Guardian.

Lalu bagaimana dengan Leci? Sejak hari pertama, setelah tiga jam dalam pantauan, Leci sudah menghilang dari pandangan kami. “Si lincah Leci seperti menyatu dengan hembusan dedauan, tanpa suara dan jejak.”, ujar Widi, relawan tim APE Guardian dengan takjub. (REZ)

EVEN STONES ARE ENTERTAINMENTS FOR THE RANGER

Playground does not only belong to children. These well-built but soft-hearted forest guards also love to play. Every forest guard, that usually called as ranger, must obey the agreed rules that one of which is to not bring any smartphones. The rules made in order to focus their attention only on the forest activities. Smartphone can distract the team attention from surroundings through games or music player. “It’s impossible to connect to social media, even telephone network is not available there. “ said Ipeh, a volunteer of APE Guardian team. Then, what will they do on break time?

Creek is rangers’s favorite place to hang, refill water, lunch, coffee break, or even play. Really? Stones around the river are their entertainment. How come? One of them pick 3 stones up then threw it up and catch it in one after another. They were also stacked stones or rock balancing or also known as gravity glue. When break time is up, they will race to throw stones to the pile of rocks at a certain distance. After that, laughter started their afternoon patrol. it’s simple, isnt it?

The rangers are the forest guards who stand on the front line. Because of them, the forest is secured and maintained. Why the forest have to be protected? Today, it’s not only houses or offices that require security but also forests. Guarding a forest is even more difficult, no fences as a border, no signals to communicate if something happens. Rangers keep all the natural wealth in the forest safe. And rangers also need entertainment, like playing stones. Have you ever played stones? If yes, give your comments! (SAR)

BATU PUN MENJADI HIBURAN BAGI RANGER
Dunia bermain tak hanya milik anak-anak. Tak terkecuali para penjaga hutan berbadan tegap namun berhati lembut ini. Setiap penjaga hutan atau ranger harus mematuhi peraturan yang telah disepakati, salah satunya adalah tidak boleh membawa smartphone. Tujuannya adalah agar kita fokus untuk kegiatan di hutan, sebab jika ada smartphone dapat dipastikan akan ada yang bermain game atau mendengarkan musik sehingga mengabaikan keadaan sekitar. “Kalau untuk ber-media sosial itu sih tidak mungkin, signal telepon saja tidak ada.”, ujar Ipeh, relawan tim APE Guardian. Lalu apa yang dilakukan para penjaga hutan saat istirahat?

Anak sungai adalah tempat favorit para ranger untuk beristirahat, mengisi ulang kebutuhan air, tempat makan atau coffee break bahkan bermain. Serius? Batu-batu yang tersebar di sungai adalah hiburan tersendiri buat para ranger. Bagaimana mungkin? Salah satu ranger memungut 3 batu lalu melemparkannya ke atas lalu akan ditangkap dengan bergantian. Ada pula yang mengambil lalu menyusunnya, bahasa kerennya rock balance ada juga yang menyebutnya garvity glue. Setelah waktu istirahat berakhir… mereka akan berebutan mengenai batu yang telah disusun dengan batu dalam jarak tertentu. Selanjutnya gelak tawa pun mengawali patroli siang mereka. Sederhana ya…!

Para ranger adalah para penjaga hutan yang berada di garis depan. Berkat merekalah keamanan hutan terjaga. Kenapa sih hutan harus dijaga? Zaman sekarang, tak hanya perumahan atau perkantoran saja yang memerlukan penjagaan, tapi hutan pun. Bahkan menjaga hutan jauh lebih sulit, tak ada pagar yang mengelilingi, tak ada jaringan telepon yang bisa menembus komunikasi jika terjadi sesuatu, ya pada para ranger lah, kekayaan hutan bisa terjaga. Dan para ranger juga butuh hiburan, yang dengan bermain batu tadi. Kamu pernah bermain batukah? Kalau ya… berikan komentarmu! (IPEH_Orangufriends)

A HUT FULL OF WASTE WAS FOUND IN THE MIDDLE OF PROTECTED FOREST

This morning, two volunteers in the APE Guardian or the orangutan release monitoring team were preparing to enter the forest again. “This time we go earlier”, said Widi, one of the volunteer. This is the tenth-day orangutan Novi and Leci are released into their habitat. “Actually, if we meet the orangutans, we still haven’t determined how to react, whether we run away or dare to observe them”, added Widi.

Widi is a volunteer who participates in the release of orangutans in Berau, East Kalimantan. Just being physically strong isn’t enough to be a volunteer. They also must have strong mentally, especially in the forest where there is no electricity, telephone signal, and no internet.

After walking for 2 hours going up and down deep into the forest, the team found plastic trash. “One… two… and more and many more! Then we found a hut in a protected forest! This is crazy! Humans left all of their trashes here!” said Widi in anger. Plastics of instant noodles, cigarettes, snacks, flour are scattered everywhere. Even some clothes are left behind. Bottles of herbal drink are also laying in a big amount. (IND)

PONDOK PENUH SAMPAH DI TENGAH HUTAN LINDUNG
Pagi ini seperti pagi kemarin. Kedua relawan tim APE Guardian atau tim monitoring pelepasliaran orangutan sudah bersiap masuk hutan kembali. “Kali ini lebih pagi.”, ujar Widi. Ini adalah hari kesepuluh orangutan Novi dan Leci dilepasliarkan ke habitatnya. Sudah sepuluh hari juga kami belum berjumpa dengan mereka lagi. “Sesungguhnya, kalau berjumpa juga kami masih belum menentukan sikap, apakah berlari menjauh atau memberanikan diri mengamati mereka.”, tambah Widi lagi.

Widi adalah relawan yang mengajukan diri untuk ikut pelepasliaran orangutan di Berau, Kalimantan Timur. Fisik saja tidak cukup katanya untuk menjadi seorang relawan. Apalagi di hutan yang tidak ada signal telepon konon internet. Sudah pasti mental kudu kuat. Tapi itu pula yang membuat hari ini penuh kemarahan, berhari-hari tinggal di hutan harus bertemu jejak manusia yang bernama sampah .

Setelah berjalan selama 2 jam dengan medan yang naik turun, tim menemukan sampah plastik. “Satu… dua… dan semakin banyak! Dan sebuah pondok di hutan lindung! Gila… manusia meninggalkan jejak dengan sampahnya!”, geram Widi. Plastik mi instan, rokok, cemilan, tepung tercecer dimana-mana, bahkan bekas pakaian sengaja dibiarkan tertinggal dengan jumlah yang tidak sedikit. Sisa-sisa botol minuman jamu pun tergeletak begitu saja. (WIDI_Orangufriends)

RANGER NEED TO KNOW GPS TO NOT GET LOST

Here is the loyal friend of the rangers when patrolling. A navigation system device, GPS, is the only tool that can help to find a way back to camp. Being in a forest with an area of 13,565,58 hectares, it is impossible for the forest guards to memmorize the way to go back home. Of course, GPS skill is very important asset. “Tools without ability are the same as suicide.”, said Reza Setiawan, captain of the APE Guardian team of Centre for Orangutan Protection (COP).

Rangers in the APE Guardian team have an additional duty to monitor the orangutans that have just released. Every new location finding of orangutan nest to the discovery of leftover orangutan food have to be marked in GPS. Do not forget to mark the farthest monitoring point every day. “Mark” is a jargon that the ranger always use when marking position. In turn, all the rangers got their chance to operate GPS.

The more exciting thing is when leaving for monitoring at dawn, the rangers remind each other to always start the track on GPS to count the distance accumulation throughout the day. “There’s always funny things that remind them to the marked points they made. I found an exhilarating family in the middle of jungle.:, said Widi, a volunteer who participated in the monitoring team for Novi and Leci who had just been released on Nov 3, 2018. (SAR)

RANGER HARUS BISA MEMBACA GPS AGAR TIDAK TERSESAT
Ini dia teman setia para ranger saat patroli. Perangkat sistem navigasi GPS yang menjadi satu-satunya alat yang dapat menemukan jalan pulang kembali ke camp. Berada di hutan dengan luas 13.565,58 hektar mustahil rasanya bagi para penjaga hutan menghafal jalan pergi dan pulang. Tentu saja keterampilan membaca GPS menjadi aset yang sangat penting. “Alat tanpa kemampuan, itu sama saja bunuh diri.”, ujar Reza Kurniawan, kapten APE Guardian Pusat Perlindungan Orangutan atau COP.

Ranger yang bergabung di tim APE Guardian punya tugas tambahan untuk melakukan monitoring orangutan yang baru saja dilepasliarkan. Setiap temuan lokasi baru, sarang orangutan hingga lokasi penemuan bekas makanan orangutan selalui ditandai dalam GPS. Tak lupa menandai titik monitoring terjauh dalam setiap harinya. “Tandai”, adalah jargon yang selalu dipakai ranger ketika akan menandai lokasi. Secara bergiliran, semua ranger mendapat jatah mengoperasikan GPS.

Hal yang tak kalah serunya adalah saat berangkat monitoring fajar, para ranger saling mengingatkan untuk selalu memulai track di GPS agar nampak akumulasi jarak tempuh setiap harinya ketika monitoring. Dan saat akhir perjalanan monitoring, para ranger berebut melihat perjalanan meraka selama seharian tadi. “Ada saja cerita lucu yang mengingatkan mereka dengan titik-titik yang mereka buat. Saya menemukan keluarga yang seru di tengah hutan.”, ujar Widi, relawan yang ikut tim monitoring orangutan Novi dan Leci yang baru saja dilepasliarkan kembali pada 3 November 2018 yang lalu. (WIDI_Orangufriends)

BACK HOME, LECI AND NOVI HAPPILY HUG EACH OTHER

Finally, after the long road of medical check up and administration process of the release of four orangutans that will be held this year in Lesan River Protected Forest (HLSL), Berau, East Kalimantan, orangutan Leci and Novi were released on Nov 3rd, 2018. The release was the second COP’s ex-rehabilitated orangutan release after the release of orangutan Oki in 2017.

“There will be two possibilities, either they will go straightly into the jungle or turn back and attack the guests. Then, please do not get closer to the cage.”, said Reza Kurniawan, the Captain of APE Guardian team, a moment before release while directing guests to stand behind the COP line which was at a distance of 20 m to the cage. I was worried that Leci and Novi would turn back and attack the guests. But, when the first cage opened by Ir. Saerozi Ahmad, the head of B2P2EHD, with Hardi Baktiantoro, the principal of COP, Leci came out briskly into the jungle, climbed a tree,and hang on the tree. And not long after, the second cage containing Novi was opened by Ir. Sunandar Trigunajasa, the Head of BKSDA of East Kalimantan with Hardi Baktiantoro, Novi came out and walked into the forest.

After a moment, a sound came from above the tree. It was Leci and Novi meeting up! They looked like hugging each other and holding hands as they were hanging on the trees. As if they were delighted to return to their habitat. Welcome back home, Leci and Novi! Hope you both always be healthy and happy! (SAR)

KEMBALI KE RUMAH, LECI DAN NOVI BERPELUKAN BAHAGIA
Akhirnya, setelah perjalanan panjang pemeriksaan medis dan urusan administrasi untuk pelepasliaran 4 individu orangutan yang akan dilepasliarkan tahun ini di Hutan Lindung Sungai Lesan (HLSL), Berau, Kalimantan Timur, orangutan Leci dan Novi dapat dilepasliarkan pada tanggal 3 November 2018 yang lalu. Pelepasliaran ini adalah pelepasliaran kedua dari orangutan eks-rehabilitasi COP setelah pelepasliaran orangutan Oki Tahun 2017 yang lalu.

“Terdapat dua kemungkinan saat orangutan dilepasliarkan, entah dia akan langsung masuk ke dalam hutan atau berbalik menyerang ke arah kita. Jadi mohon jangan mendekat ke arah kandang.”, ujar Reza Kurniawan, kapten tim APE Guardian, sesaat sebelum pelepasliaran sambil mengarahkan para tamu untuk berdiri di belakang garis COP yang berjarak 20 m dari kandang pelepasliaran. Sempat cemas kalau-kalau Leci dan Novi akan berbalik dan menyerang para tamu. Namun saat kandang pertama dibuka oleh Ir. Saerozi Ahmad, kepala B2P2EHD, bersama Hardi Baktiantoro, ketua COP, Leci keluar dengan lincahnya masuk ke dalam hutan dan langsung memanjat dan bergelantungan di atas pohon. Lalu tidak lama setelahnya, kandang kedua yang berisi Novi dibuka oleh Ir. Sunandar Trigunajasa, Kepala Balai KSDA Kaltim bersama Hardi Baktiantoro. Novi pun keluar dan berjalan masuk ke hutan dengan cepat. “Untung saja tim dokumentasi sudah bersiap, kalau tidak, momen itu akan terlewat.”, ujar Sari Fitriani, alumni COP School Batch 8 yang ikut terlibat dalam persiapan pelepasliaran Novi dan Leci.

Lalu tidak lama kemudian, terdengar suara dari atas pohon. Ternyata Leci dan Novi bertemu! Mereka seperti berpelukan dan berpegangan tangan sambil bergelantungan di atas pohon. Seakan-akan sangat senang dapat kembali ke habitat aslinya. Selamat kembali ke rumah Leci dan Novi. Semoga sehat dan selalu! (SAR)

IN 5 HOURS, LECI AND NOVI DISAPPEAR

The first week of November was a week of great relief. The release of Novi and Leci began with a series of ceremonies at the Lesan Dayak village hall. The team was very grateful, the director of Biodiversity Conservation (Konservasi Keanekaragaman Hayati – KKH). drh. Indra Exploitasia, M.Si speed up the ceremony, so that the monitoring team had the opportunity to follow the two orangutans longer. “ Mrs. Indra really understands our condition. Because after the cage opened, wherever orangutan goes, we have to follow them to make sure that they can survive in their new home.”, said Reza Kurniawan, the captain of APE Guardian COP.

At 11.00 WITA, via river and land, the release team came to release point. In less than 5 secs, Leci already on the tree and started to drive the team away. Not long after that, Novi’s cage was opened. In about 5 hours, the team recorded Novi and Leci’s activities. They were seen together and sounded like they wanted to be left alone.

At 16.00 WITA o’clock, the monitoring team lost track of Novi and Leci. “Both of these orangutans are like wild orangutans. It’s very difficult to follow them. Their fast move make it difficult for the team to catch up.”, said Bit, a local ranger who had known the forest for a long time.

After the release, the monitoring team continued to patrol every morning and evening with different routes, hoping to meet one of the two released orangutan. For almost two weeks, the team still haven’t had meet them. (SAR)

DALAM WAKTU 5 JAM, LECI DAN NOVI PUN HILANG
Minggu pertama November adalah minggu yang sangat melegakan. Pelepasliaran orangutan Novi dan Leci diawali serangkaian seremoni di Balai Kampung Lesan Dayak. Tim bersyukur sekali, direktur KKH (Konservasi Keanekaragaman Hayati) drh. Indra Exploitasia, M.Si mempercepat upacara ini, sehingga tim monitoring berkesempatan untuk mengikuti kedua orangutan lebih lama lagi. “Ibu Indra benar-benar memahami kondisi kami. Karena setelah pintu kandang dibuka, kemana pun orangutan pergi, kami harus mengikutinya untuk memastikan, orangutan mampu bertahan di rumah barunya.”, ujar Reza Kurniawan, kapten APE Guardian COP.

Pukul 11.00 WITA, melalui jalur sungai dan darat, tim pelepasliaran tiba di titik pelepasliaran. Tidak sampai 5 detik, Leci sudah berada di atas pohon dan mulai mengusir tim. Tak lama kemudian pintu kandang Novi pun dibuka. Selama kurang lebih lima jam, tim masih mencatat aktivitas Novi maupun Leci. Mereka terlihat berdua dan mengeluarkan suara mengusir.

Tepat pukul 16.00 WITA, tim monitoring kehilangan jejak Novi dan Leci. “Kedua orangutan ini sudah seperti orangutan liar. Sulit sekali mengikuti mereka. Gerakan yang cepat membuat tim kesulitan mengejar.”, ujar Bit, ranger lokal yang sudah mengenal hutan ini sejak lama.

Paska pelepasliaran, tim monitoring masih terus patroli setiap pagi dan sore hari dengan jalur yang berbeda, tentu saja berharap bertemu dengan salah satu dari kedua orangutan yang dilepasliarkan. Hampir dua minggu, tim masih tak berjumpa juga. (NIK)

5 YEARS TIGHT IN CHAIN, 4 YEARS IN REHAB, FINALLY NOVI RETURNED

In November 2014, COP met orangutan Novi for the first time. Novi was put on the side of the house with a rope around his neck for 5 years so he could not go anywhere. Novi was not alone. He had some dogs as friends since childhood. Poor Novi. He is a victim of forest destruction by a palm oil company that destroys his home and his source of food.

Novi underwent all rehabilitation processes to re-recognize the forest. 4 years in rehab was full of stories and memories, especially on how Novi met other orangutans at the COP Borneo rehabilitation center. Now, he turned out to be the first one who has to say goodbye to the other orphans at COP Borneo. Novi released to the forest who had been waiting for him for a long time where he should be.

Welcome to your new adventure in the forest that we promised you 4 years ago, Novi. The cage is not your home anymore.

Thank you the great team for realizing Novi’s dream to release back to the forest. Our tears are not sadness but happiness to see him run out of the cage towards the trees, celebrating his freedom. (IND)

5 TAHUN DIRANTAI, 4 TAHUN DIREHAB AKHIRNYA NOVI KEMBALI KERUMAHNYA

Pada tahun 2014 bulan November, COP bertemu Orangutan Novi pertama kali. Iya diletakan di samping rumah dengan tali di lehernya selama 5 tahun agar ia tidak dapat pergi kemana pun saat pemilik rumah sedang berpergian. Novi tidak sendiri, beberapa anjing setia bermain dengannya dan mereka sudah berteman sejak kecil. Novi yang malang adalah korban dari perusakan hutan oleh sebuah perusahan sawit yang merusak rumah dan tempatnya mencari makan.

Tepat 4 tahun setelah cerita itu, Novi menjalani semua proses rehabilitasi untuk membiasakan ia kembali mengenali hutan. 4 tahun yang penuh dengan cerita dan catatan kenangan, bagaimana novi bertemu dengan orangutan lainnya di pusat rehabilitasi COP Borneo. Ia ternyata harus mengucapkan selamat tinggal lebih dahulu dari teman-teman yatim piatu lainnya yang berada di COP Borneo, Novi kembali ke hutan yang telah menunggunya sejak lama dimana seharusnya ia berada.

Selamat menempuh petualangan baru di hutan yang pernah kita janjikan kepada mu 4 tahun lalu, sebab kandang bukanlah rumahmu lagi.

Terimakasih semua tim yang hebat untuk mewujudkan mimpi Novi kembali ke hutan, air mata kita bukanlah kesedihan melainkan kebahagian melihat mereka lari keluar kandang menuju pepohonan kebebasan. (NUS)

A THANK-YOU NOTE FROM NOVI

Perhaps the owner of orangutan Novi had never imagined, a long road that must finally be passed because Novi had been cared for by humans. Novi has been chained in his neck and be friends with dogs. After going through the stage of a long and expensive medical check-up, he must struggle from one class to another in the forest school. Finally, COP Borneo can release Novi back into his habitat.

This will be Novi’s last stare we can see before he completely disappeared in the jungle of Borneo. He disappeared very fast, shortly after the cage door was opened.

This photo was taken shortly after Novi climbing back into his habitat. We feel the happiness when Novi stops and sees us for a second, maybe saying “Thank you”. All we know is that thanks to you, all COP supporters, for giving your eternal support and trust to us.

Thanks also to Novi adopters who have provided the financial need for Novi. Novi’s freedom can be achieved because of the hard work of all people who care for orangutans.(IND)

SESAAT, TERIMAKASIH DARI NOVI
Mungkin pemelihara orangutan Novi tidak pernah membayangkan, jalan panjang yang akhirnya harus ditempuh Novi karena dia pernah dipelihara manusia. Novi yang pernah berkalung rantai dalam kesehariannya dan berteman anjing dalam kesendiriannya. Setelah melalui tahapan pemeriksaan kesehatan yang panjang dan mahal dengan perjuangannya naik dari satu kelas ke kelas lainnya di pusat rehabilitasi COP Borneo akhirnya bisa dilepasliarkan kembali ke habitatnya.

Mungkin ini akan menjadi tatapan Novi yang terakhir kalinya bisa kita lihat, sebelum dia benar-benar menghilang di rimbunya hutan Kalimantan. Kecepatan Novi meninggalkan kandang angkut, sesaat setelah pintu kandang diangkat memang sudah diprediksi. Karena sudah beberapa kali, untuk keperluan pemeriksaan kesehatan, Novi harus menjalani proses karantina.

Foto ini diambil sesaat setelah Novi dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Kebahagiaan yang kami rasakan, saat dia berhenti dan memandang kami untuk ‘mungkin’ mengucapkan terimakasih. Yang kami tahu, terimakasih itu pun untuk Kamu, para pendukung COP yang telah begitu teguh memberikan kepercayaanmu untuk kami.

Terimakasih juga untuk para adopter Novi terdahulu https://www.withcompassion.com.au yang telah memberikan dukungan finansial untuk perawatan Novi. Kebebasan Novi adalah kerja keras semua pihak yang peduli pada orangutan.