TAPIR MUDA DI ATAS PICK UP DALAM PESANAN

Bukan panda. Bukan pula hewan eksotis yang bisa dipelihara sesuka hati. Ia adalah Tapir Asia, satwa yang hidup diam-diam di hutan, berjalan pelan, dan lebih sering menghindar dari pada melawan. Tapi justru karena itu, ia menjadi korban.

Tubuhnya hitam putih, kontras, mudah dikenali. Banyak orang menyebutnya “Panda Asia”. Padahal ia tidak punya hubungan kekerabatan dengan panda yang ternyata sekeluarga dengan beruang. Ia lebih dekat dengan kuda dan badak. Moncongnya yang lentur seperti belali pendek digunakan untuk meraih daun, buah, dan tunas muda. Dalam ekosistem hutan, tapir bukan sekadar penghuni. Ia adalah penyebar biji yang membantu hutan tumbuh kembali, diam-diam, tanpa pernah meminta perhatian. Ironisnya keunikan ini menjadi hal yang dicari orang.

27 Februari 2026, Tim gabungan dari BKSDA Sumatera Barat, KPHL Pasaman Raya, bersama dengan Centre for Orangutan Protection menggagalkan transaksi ilegal satu individu tapir di Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat. Tapir muda jantan ditemukan dalam kondisi hidup, namun terluka, terikat, dan terjebak dalam rantai perdagangan yang tidak pernah ia pilih.

Tim memulai operasi dan bergerak menuju Jorong Sungai Baluik, Nagari Muara Tais, Kecamatan Mapat Tunggul pada dini hari. Sebuah mobil pick up dihentikan dan ditemukan tersangka bersama seekor tapir yang terikat lemah dengan luka-luka. Dari keterangan pelaku, tapir itu akan dikirim ke Medan dengan tujuan “mini zoo”. Upah yang dijanjikan enam juta rupiah ditambah bonus jika sampai tujuan.

Pada kaki depan kiri dan kaki belakang kanan tapir terlihat bekas jeratan menganga. Tali yang melilit terlalu lama telah merobek kulitnya. Di bagian kepala, luka lain terlihat jelas. Ia tidak melawan, ia hanya bertahan. Kini, tapir dalam perawatan dokter hewan di BKSDA SKW 1 Bukittinggi. Pasalnya ini tidak hanya satu kali terjadi, dua peristiwa berbeda, satu pola yang sama yaitu satwa liar terus menjadi korban.

Beberapa minggu sebelumnya, dunia konservasi diguncang oleh kematian seekor gajah tanpa kepala di Riau. Umurnya 40 tahun. Dibunuh, dipotong, dan ditinggalkan. Tidak jauh dari sana, di Sumatra Barat, seekor tapir muda dijual untuk hiburan. Pengembangan kasus tersebut, dua pelaku lain berhasil diamankan yaitu sebagai seorang perantara dan pemburu yang menangkap tapir tersebut dari alam. Rantai perdagangan itu panjang. Dari hutan ke pemburu, dari pemburu ke perantara. Dari perantara ke pembeli. Semua bergerak karena satu hal yaitu permintaan.

Hukum sebenarnya sudah ada. Undang-undang tentang konservasi sumber daya alam hayati mengatur sanksi pidana hingga 15 tahun penjara dan denda ratusan juta rupiah. Tapi pada awal 2026, perubahan regulasi justru menghapus batas minimal hukuman. Artinya, pelaku bisa saja mendapat hukuman lebih ringan.

Di titik ini, pertanyaannya bukan lagi apakah hukum cukup kuat.

Tetapi, seberapa serius kita ingin melindungi yang satwa liar?

Tapir tidak akan protes. Ia tidak akan berbicara di pengadilan, tidak akan menuntut keadilan. Ia hanya akan kembali ke hutan jika ia selamat dan melanjutkan perannya sebagai penyebar kehidupan. Atau mati, tanpa benar-benar diketahui.

Perdagangan satwa liar bukan hanya soal pelanggaran hukum. Ia adalah cermin dari cara manusia memandang alam sebagai sesuatu yang bisa dimiliki, diperjualbelikan, dan dikurung untuk hiburan. Dan selama cara pandang itu tidak berubah, akan selalu ada tapir lain yang menyusul (APE PROTECTOR)

KETIKA HARIMAU SUMATRA MASUK KAWASAN BRIN, APE PROTECTOR HADIR DI AGAM

Semuanya berawal pada malam 15 Oktober 2025, ketika kamera CCTV LAPAN BRIN Agam menangkap sosok loreng yang melintas sunyi di antara bayangan. Seekor Harimau Sumatra ternyata masuk dan terjebak di dalam area berpagar beton setinggi dua meter! Tim gabungan dari BKSDA Sumatera Barat, PAGARI, dan COP segera bergerak cepat. Dari atap gedung dan dengan bantuan drone termal, kami memantau setiap sudut, memastikan si raja rimba masih berada di dalam kawasan.

Keesokan harinya, laporan baru pun muncul, sebuah jejak harimau ditemukan di Mudiak Palupuah dan viral di media sosial. Namun setelah diverifikasi, ternyata jejak tersebut merupakan jejak palsu yang dibuat menggunakan telapak tangan manusia. Sambil menenangkan warga, tim terus berjaga di BRIN, memasang tangga dan kamera jebak, serta mencoba menggiring harimau keluar menggunakan suara petasan dan meriam spritus.

Hingga akhirnya, setelah dua hari pemantauan intensif, tanda-tanda keberadaan harimau mulai hilang. Di tembok pagar, tim menemukan bekas cakaran dan beberapa helai rambut oranye-putih, petunjuk bahwa induk dan anak harimau itu telah berhasil keluar dari area terisolasi.

Operasi pun akhirnya dinyatakan selesai. Warga kini bisa beraktivitas kembali, sementara tim pulang dengan satu pelajaran penting, yaitu di antara pagar beton dan suara petasan malam itu, ada momen langka ketika manusia dan alam sama-sama belajar tentang batas, ruang hidup, dan cara saling menjaga. (DIV)

APE PROTECTOR KUNJUNGI SMPN 1 PANTI

Berbeda dengan hari sebelumnya, hari ini tim APE Protector berkunjung ke SMP Negeri 1 Panti, Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat. Sekolah ini menjadi target edukasi menutup bulan September ini karena lokasinya yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan yang merupakan habitat dari Harimau Sumatra. Ada 31 murid dari berbagai kelas yang berbeda yang menghadiri kegiatan ini.

Pengenalan Harimau Sumatra meliputi karakteristik, pola makan sampai status konservasi tidak luput dari pemaparan tim yang telah memasuki usia kerja di Sumbar untuk 4 tahun terakhir ini. Ketua PAGARI (Patroli Anak Nagari) Panti Selatan yang merupakan guru di sekolah tersebut pun berbagi pengalaman menjadi bagian penting konservasi kucing besar di ranah minang ini.

“Kawasan Rimbo Panti dan hutan Sumatra pada umumnya menyimpan kekayaan sesungguhnya. Menyadari keanekeragaman hayati ini sebagai warisan yang tak mungkin diperbaharui menuntut kita untuk tiada kenal lelah menghembuskan nafas konservasi. Hilangnya satu spesies tentu saja mengganggu sebuah ekosistem. Mari hidup saling menghormati dengan bertanggung jawab!”. (DIV)

PAGARI ADALAH PENJAGA HUTAN DAN HARIMAU SUMATRA

Global Tiger Day 2025 membawa semangat yang mengingatkan kita bahwa Harimau Sumatera sedang berada di ujung tanduk. Melalui pameran foto, diskusi publik, bedah buku, scrrening film, hingga aktivitas interaktif, acara ini bukan sekedar perayaan, tetapi sebuah panggilan darurat agar kita bersatu menyelamatkan satwa ikonik Nusantara ini.

Pameran foto PAGARI (Patroli Anak Nagari) menjadi saksi bisu betapa beratnya perjuangan menjaga hutan. Setiap gambar bukan hanya indah, tapi juga menyimpan cerita akan langkah kaki yang menyusuri hutan berhari-hari, kamera jebak yang menangkap sekilas bayangan harimau, hingga interaksi hangat dengan masyarakat lokal untuk mencegah konflik manusia dan satwa. Foto-foto ini menggugah kesadaran bahwa perjuangan konservasi adalah perjuangan mempertahankan masa depan.

Dikusi publik bersama anggota PAGARI dan BKSDA Sumatera Barat membuka mata banyak orang, pengalaman mereka menghadapi medan berat, bernegosiasi dengan warga demi titik temu, hingga merasakan getirnya keterbatasan sumber daya. “Kami hanya bagian kecil dari perjuangan besar ini. Harimau tidak akan selamat tanpa keterlibatan semua pihak”, ungkap Bu Erlinda dari BKSDA Sumbar. Kata-kata ini menjadi pengingat bahwa harimau tidak bisa berjuang sendiri, mari bersama menyuarakan suara mereka.

Pemutaran film dokumenter juga mengajak kita masuk ke dalam hutan, menembus pepohonan lebat, melewati jalan setapak yang berbahaya, hingga melihat jejak harimau yang masih tersisa. Beberapa pengunjung tak bisa menyembunyikan rasa haru dan bangga karena harimau masih ada, sekaligus sedih karena ancamannya semakin nyata. Anak-anak pun ikut berpartisipasi lewat games dan art therapy menunjukkan bahwa kepedulian bisa tumbuh sejak dini. “Inilah ruang harapan, dimana Harimau Sumatra adalah simbol kekuatan alam sekaligus penentu keseimbangan ekosistem hutan tropis. Jika masyarakat adat, pemerintah, akademisi, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), dan setiap individu bersatu, harimau masih punya kesempatan untuk terus berlari bebas, bukan tinggal cerita”. (Putra_COP School 15)

TIGER YOUTH CAMP, SINTAS MENGGANDENG COP BAHAS KONFLIK HARIMAU MANUSIA

Organisasi nirlaba yang bergerak di bidang konservasi sumber daya alam, Sintas kembali menggelar kegiatan edukatif dan inspiratif bagi generasi muda melalui program Tiger Youth Camp. Acara yang berlangsung selama tiga hari, mulai dari tanggal 29 hingga 31 Juli 2025, bertempat di lokasi strategis Hutan Penelitian dan Pendidikan Biologi Universitas Andalas (UNAND). Tema tahun ini “Harimau Sumatera, Masa Depan Kita: Edukasi, Aksi, dan Konservasi” bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman generasi muda tentang pentingnya pelestarian harimau sumatra dan habitatnya serta isu-isu konservasi lainnya.

Sintas mengundang COP untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman di lapangan terkait “Konflik Harimau Manusia”. Topik ini didasari oleh meningkatnya kasus interaksi negatif antara harimau sumatra dan masyarakat di sekitar kawasan hutan dalam beberapa tahun terakhir. Dalam sesi yang berlangsung interaktif tersebut, COP memaparkan berbagai faktor pemicu konflik, mulai dari hilangnya habitat alami harimau akibat deforestasi dan alih fungsi lahan, hingga praktik perburuan liar yang mengurangi ketersediaan mangsa alami harimau. Dampak konflik dapat dilihat pada kedua belah pihak, kerugian materiil dan psikologis bagi masyarakat, maupun ancaman keselamatan bagi populasi harimau sumatra yang terancam punah jadi dilema.

Strategi dan upaya mitigasi konflik yang telah berhasil diterapkan di berbagai wilayah lain, dapat menekan pentingnya pendekatan kolaboratif dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, masyarakat adat, perusahaan perkebunan, dan organisasi konservasi. Edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang perilaku harimau dan cara menghindarinya juga menjadi poin penting agar dapat meminimalisasi konflik.

Gerakan Sintas dan COP dalam Tiger Youth Camp ini menjadi contoh sinergi yang positif antara organisasi konservasi yang memiliki fokus berbeda namun memiliki tujuan yang sama, yaitu menjaga kelestarian alam Indonesia. Semoga kegiatan seperti ini semakin menjangkau lebih banyak lagi generasi muda sehingga kesadaran pentingnya konservasi semakin meningkat dan masa depan harimau sumatra serta keanekaragaman hayati Indonesia dapat lebih baik lagi.

PERINGATAN HARI RANGER SEDUNIA: MENJAGA ASA HARIMAU SUMATRA BERSAMA PAGARI

Sebuah momen untuk menghargai dedikasi dan pengorbanan para penjaga hutan yang telah melindungi keanekaragaman hayati planet ini, setiap tahun di akhir bulan Juli kita memperingati Hari Ranger Sedunia (World Ranger Day). Tim APE Protector COP punya ranger atau penjaga hutan khusus di tanah Minang, Sumatera Barat. Patroli melindungi dan mengamankan kawasan bersama Patroli Anak Nagari (PAGARI) menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian hutan dan yang terpenting memastikan masa depan Harimau Sumatra yang terancam punah.
Individu-individu berani ini secara rutin menjelajahi belantara kabupaten Pasaman. Mereka melangkah dan menemukan jejak-jejak keberadaan satwa liar tak terkecuali si raja hutan. Para penjaga hutan ini juga memasang kamera jebak untuk mengetahui keanekaragaman satwa penghuni kawasan. Rasa takut pun menghampiri saat jejak beruang madu begitu baru, tak jarang nyawa menjadi taruhan. Menghadapi pemburu dan penebang liar semakin membuat keringat yang mengucur semakin deras.
Jauh di dalam hutan, jerat satwa terpasang. Tak memilih korban, siapa pun bisa masuk dalam #jeratjahat ini. Ini merusak rantai makanan, ekosistem secara keseluruhan. Setiap penemuan jerat adalah momen yang menyakitkan, namun juga memicu semangat untuk terus bertindak. Para ranger ini pun dengan sigap menyisir dan membongkar jerat, sebuah tugas yang berbahaya dan memakan waktu. Upaya ini bukan hanya tentang menegakkan hukum, tetapi juga tentang edukasi dan sosialisasi pada masyarakat mengenai dampak negatif dari aktivitas perburuan liar.
Menjadi ranger adalah sebuah pilihan, bagaimana melindungi fisik hutan dan satwa. Mereka adalah warga lokal yang bertanggung jawab pada alam. Menyentuh kesadaran di tengah terpaan kehidupan dan kebutuhan. Menjadi ranger tidak hanya tentang konservasi yang katanya menghambat pembangunan, tapi juga menjadi pondasi keberlanjutan. “Alam adalah warisan”. Menyaksikan satwa tertentu masih ada menjadi kesenangan tak terkira, kelak hidup berdampingan dengan menghormati peran adalah yang terbaik. (NAB)

CATATAN AKHIR TAHUN 2024 COP

Di penghujung tahun ini, Daniek Hendarto, direktur Centre for Orangutan Protection merefleksikan setahun berjalan dengan segala tantangannya dalam mendukung dan melakukan program konservasi alam di Indonesia. Bekerja sama dengan multi pihak menjadikan COP melebarkan sayap bekerja di pulau Kalimantan, Sumatra, dan Jawa. Tentunya luasan lokasi merupakan bentuk sumbangsih yang bisa dilakukan COP bersama pemerintah dan stakeholder lainnya untuk mendukung program konservasi alam di Indonesia.

Ada 3 tim di Sumatra dengan 1 pusat rehabilitasi, 3 tim di Kalimantan dengan 1 pusat rehabilitasi, 3 pulau pra pelepasliaran dan 1 kawasan rilis orangutannya, serta 1 tim di Jawa menjadikan COP sebagai organisasi lokal asli Indonesia yang bekerja untuk 3 spesies orangutan yang ada di dunia, yaitu Orangutan Kalimantan, Orangutan Sumatra, dan Orangutan Tapanuli. COP pun menyadari tongkat estafet konservasi tak hanya ada di tangan yang sedang bekerja saat ini, tetapi generasi penerus alpha, betha bahkan gamma dan seterusnya nanti. Edukasi dari satu sekolah ke sekolah lain, dari satu komunitas ke komunitas lainnya mulai dari penyelamatan satwa, penegakkan hukum hingga dunia maya (cyber space) pun tak luput dari kinerja COP hingga 2024 berakhir. Menghidupkan kembali event Sound For Orangutan yaitu konser musik tahunan yang sempat terhenti karena pandemi COVID 19 juga berhasil menyalakan semangat relawan orangutan yang disebut Orangufriends. Dalam tahun ini mereka juga berhasil menjalankan pameran foto di kota Samarinda, Kalimantan Timur dan kota Medan, Sumatra Utara. Sebuah usaha meluaskan jangkauan pemahaman kerja konservasi orangutan yang dilakukan COP.

Bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur dan Balai Besar Penelitian Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa (B2P2EHD) menjalankan pusat rehabilitasi orangutan di KHDTK (Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus) Labanan di Berau, Kaltim. Sepanjang tahun 2024, ada 21 individu orangutan yang merupakan korban interaksi negatif dan serahan masyarakat. Orangutan yang diselamatkan ini mendapatkan perawatan sebelum dilepasliarkan kembali di alam dengan melalui pemeriksaan kesehatan yang ketat dari tim medis di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) di kampung Tasuk dan pengamatan perilaku oleh biologist dan antropologist COP. Ada 10 indivdu orangutan dilepasliarkan pasca rehabilitasi maupun orangutan yang mendapatkan perawatan dengan kasus tertentu seperti luka dan malnutrisi. Pelepasliaran ini telah melalui serangkaian prosedur yang telah ditetapkan oleh pemerintah dan lokasi pelepasliaran yang telah mendapat persetujuan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup dengan telah dilakukan serangkaian survey lapangan dan kajian ilmiah.

Bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara mengelola pusat rehabilitasi orangutan di Sumatra Utara. Ada 5 individu orangutan dengan latar belakang penyelamatan dari perdagngan satwa liar ataupun serahan masyarakat yang sedang menjalani rehabilitasi di Sumatran Rescue Alliance yang dijalankan bersama Orangutan Information Center (OIC). Orangutan-orangutan menjalani karantina dan sekolah hutan sembari menunggu program lanjutan sekolah hutan di kawasan soft rilis orangutan yang sedang dibangun di Suaka Margasatwa Siranggas yang berada di Pakpak Bharat. Kandang orangutan telah berdiri dan awal tahun 2025 pembangunan fasilitas pendukungnya dalam pembangunan.

Penegakan hukum kejahatan satwa liar berhasil menyelesaikan 10 kasus di pulau Sumatra dengan 100% masuk ranah pengadilan. 17 orang terdakwa dengan barang bukti didominasi bagian-bagian satwa liar dilindungi yang sudah mati. Sayang putusan tertinggi masih di 1 tahun 6 bulan penjara.

Tahun 2024 adalah tahun ketiga Centre for Orangutan Protection bekerja untuk konservasi Harimau Sumatera. Penguatan masyarakat lokal menjadi tim mitigasi konflik harimau yang dibentuk bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar dengan nama PAGARI atau Patroli Anak Nagari kini berjumlah 3. Ada 25 orang yang secara berkala melakukan patroli, mitigasi konflik satwa hingga edukasi warga di sekitar habitat. Tak sebatas itu, COP juga berperan aktif dalam pelepasliaran kembali 1 individu Harimau Sumatra berjenis kelamin betina bernama Puti Malabin yang merupakan korban interaksi negatif yang berhasil diselamatkan. Kerja bersama dengan berbagai pihak menjadi seni di dunia konservasi.

“COP menutup tahun 2024 dengan membuka lembaran baru tahun 2025, semoga satwa liar mendapatkan kesempatan keduanya untuk hidup nyaman di rumah sesungguhnya”. (NIK)

JADI RELAWAN RIHAS DI SUMBAR YUK!

Ruang Informasi Harimau Sumatra (RIHAS) merupakan ruang edukasi yang dibentuk melalui kerja sama antara BKSDA Sumatra Barat dan Centre for Orangutan Protection (COP). Saya berkesempatan mengikuti kegiatan di RIHAS sebagai edukator untuk siswa Sekolah Dasar (SD), “Menarik, edukatif, dan seru. Bermain sambil belajar bersama para siswa, gak pernah terbayangkan sebelumnya ini sebuah wadah saling belajar”. Jadwal kegiatan yang ada disusun dengan baik dan menyenangkan bagi siswa.

Kegiatan pengamatan dan pengenalan satwa yang dilakukan mudah dimengerti oleh anak-anak sehingga mereka menikmati. Salah satu kegiatan yang dilakukan yaitu pengenalan satwa, herbarium, spesimen kayu, dan karya visual tentang satwa. Anak-anak diajak untuk mengenal berbagai satwa khususnya Harimau melalui gambar dan tulisan. Anak-anak juga disuguhkan langsung bagaimana bentuk dari herbarium dan spesimen kayu. Pengamatan tanda kehadiran satwa melalui jejak yang dicetak, apa itu camera trap, suara, dan juga visual menggunakan plot dengan menggunakan kaca pembesar membuat kegiatan semakin dekat dan nyata bagi anak-anak.

Mengenal konservasi sejak dini dapat meningkatkan rasa kepedulian mereka terhadap ekosistem. Dengan adanya kesempatan ikut serta dalam mengajar ini, saya sangat senang dan mempelajari hal yang baru. Pengemasan materi serius dalam bentuk permainan menjadi hal yang menarik dan memicu rasa penasaran dan semangat belajar mereka. Kelak di tangan merekalah masa depan konservasi berada. Ini hanya bagian kecil dari langkah besar konservasi yang bisa saya ikuti. Semoga RIHAS dapat lebih berkembang, saya, Hafifah Antini K, mahasiswa kehutanan Universitas Riau (UNRI) bangga dan bersyukur menjadi relawan di RIHAS. “Yuk, jadi relawan selanjutnya di RIHAS, belajar bersama dan berkembang bersama”. (Orangufriends Riau)

ACARA ORANGUFRIENDS SUMBAR DI HARI HARIMAU SEDUNIA 2023

Setiap tahun, keberadaan Harimau selalu diperingati sebagai usaha untuk meningkatkan kepedulian khalayak pada spesies harimau. Indonesia sejatinya memiliki Harimau Bali, Harimau Jawa, dan Harimau Sumatera. Namun saat ini hanya harimau sumatra yang tersisa. Orangufriends (relawan Centre for Orangutan Protection) Sumatra Barat menyelenggarakan rangkaian acara dengan puncak acara pada tanggal 29 Juli yaitu Peresmian Pusat Informasi Harimau yang ada di Rimbo Panti, Pasaman, Sumatera Barat. 

Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumbar menjadikan momen peringatan World Tiger Day 2023 ini sebagai kampanye modern dengan mengadakan lomba desain stiker di bentor atau becak motor. Bentor ini adalah transportasi umum di provinsi Sumatra Barat yang mobilitasnya sangat tinggi. Tentu saja desain pemenang nantinya akan diaplikasikan dalam bentuk stiker dan dibagikan kepada bentor yang berada di Kabupaten Pasaman. 

“Kami berharap ini akan menjadi waktu yang menyenangkan dan santai untuk saling memahami antara masyarakat luas dan pengiat konservasi harimau sumatra. Lomba desain stiker di bentor, lomba cipta puisi dengan tema menjaga harimau terakhir Indonesia dan lomba menggambar dan mewarnai akan turut meramaikan peringatan Hari Harimau Sedunia 2023”, jelas Hilman Fauzi, kapten APE Protector COP, tim Centre for Orangutan Protection yang telah dua tahun ini membantu BKSDA Sumbar untuk perlindungan Harimau Sumatera. 

APE Protector sendiri kini sudah bekerja di dua lokasi yang berbeda dan memiliki tim PAGARI (Patroli Nagari) di Nagari Sontang-Cubadak dan Nagari Panti Selatan. “Kami berharap patroli yang dilakukan secara berkala dengan ranger lokal bisa meminimalisir konflik manusia dengan harimau sumatera. Kami berharap lomba yang ada dapat diikuti masyarakat luas, jangan lupa perhatikan tenggat waktunya ya”, kata Hilman lagi.

APE PROTECTOR JAGA HUTAN LINDUNG SINUANGON

Setahun lebih tim APE Protector menetap dan berkegiatan di Nagari Sontang Cubadak, Pasaman, Sumatra Barat. Pada 6 Mei yang lalu, tim PAGARI atau Patroli Anak Nagari mengecek kamera jebak yang telah dipasang sebulan lalu di Hutan Lindung Sinuangon (Pasaman Raya) tersebut. Selain monitoring kawasan, tim juga berkesempatan observasi satwa liar dan sayangnya gangguan habitat masih juga ada.

“Beruntungnya kalau lagi patroli, kita bisa berjumpa langsung dengan satwa liar yang juga kaget dengan kehadiran kita. Kali ini tim berjumpa dengan satu ekor Simpai (Presbytis melalophos) yang merupakan monyet endemik Pulau Sumatra. Selain itu, tim juga berhasil mendokumentasikan burung raja udang walau dengan kamera yang sangat terbatas. Sepanjang perjalanan, suara-suara alam serta kepakan burung enggang menemani perjalanan yang medannya cukup ekstrim. Secara tidak langsung, tim juga mengidentifikasi kehadiran babi hutan dan rusa lewat jejak yang ditinggalkan”.

Suara gergaji mesin dikejauhan menandakan aktivitas manusia yang membawa kayu turun dari lokasi hutan. Dentuman pohon roboh yang menyentuh tanah menandakan gangguan habitat masih terpantau aktif di area kawasan Hutan Lindung. Beda punggunggan dan tim harus kembali fokus menjemput kamera jebak.

Dari empat kamera yang terpasang sejak 6 April yang lalu, tertangkap kamera babi hutan. Kehadiran babi hutan tiga bulan berturut-turut membuat tim lega. Semoga ini tanda berakhirnya virus ASF (African Swine Fever). Jika perjumpaan langsung dengan jejaknya saja, kini, tim menyaksikannya langsung, termasuk rusa dari kamera jebak. Kehadiran Macan dahan, Musang congkok, Tikus hutan, Tupai tanah, Bajing tanah bergaris tiga, Sigung Sumatra, landak Sumatra, Musang bulan, Burung puyuh, Kucing Emas, dan Sinpai menambah deretan keanekaragaman satwa liar di hutan ini. Tak lupa si Beruk yang selalu eksis di hapir setiap kamera jebak. Satwa liar di hutan aja. (REV)