DARI COP SCHOOL 16, KEDUANYA MELANGKAH UNTUK KONSERVASI DI PASAMAN

Perjalanan menjadi bagian dari gerakan konservasi tidak selalu berhenti ketika sebuah kegiatan berakhir. Bagi Dea dan Hera, apa yang mereka dapatkan melalui COP School Batch 16 justru menjadi awal untuk melangkah lebih jauh. Di Bulan Orangufriends 2026, keduanya bersama tim APE Protector mengabdikan diri untuk melakukan edukasi di Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat.
Pada 24-29 Agustus, ada lima sekolah yang langsung dikunjungi kedua relawan COP ini. Ada 211 siswa yang mengikuti kegiatan edukasi konservasi. Kelima sekolahan itu adalah SD Negeri 01 Bonjol, SMPN 01 Bonjol, MTsN 04 Pasaman, SMK Negeri 01 Bonjol, dan SDN 19 Lurah Berangin. COP School yang menjadi ruang untuk belajar, mengenal persoalan konservasi, dan membangun keberanian untuk terlibat menjadikan Orangufriends (relawan satwa COP) menjadi pelaku yang membagikan pengetahuan tentang konservasi ke dunia yang lebih luas lagi.
Dea dan Hera mengajak ratusan siswa mengenal Harimau Sumatra (Panthera tigris Sumatra) di sekolah-sekolah maupun di RIHAS (Ruang Informasi Harimau Sumatera). Materi mencakup karakteristik, habitat, peran ekologis, serta ancaman seperti jerat, perburuan, dan perdagangan satwa liar ilegal. Pengemasannya pun tak lepas dari persiapan mereka, karena keberhasilan edukasi ini tak sekedar menyampaikan tetapi menarik dan membekas pada generasi alpha yang sangat unik ini. Tanya jawab, diskusi, pojok baca, galeri foto, booth buku, hingga permainan interaktif menjadi cara terbaik masuk pada peserta yang usianya tak jauh dari Dea maupun Hera. Simulasi “membebaskan diri dari jerat”, diharapkan dapat membantu peserta memahami bagaimana jerat dapat menjadi ancaman serius bagi satwa liar.
Jika Dea dan Hera langsung menyeburkan diri di tanah Minang, ada kabar apalagi dari alumni COP School Batch 16 yang lain ya? (NAB)

SEKOLAH COP YANG TAK PERNAH USAI

Kebakaran hutan di Kalimantan semakin menggila. Panas, sesak, hingga membuat penglihatan sangat buram. Inilah dampak yang dirasakan langsung sebagai manusia yang tinggal di kota. Pertanyaannya, kita yang di kota saja tersiksa, bagaimana makhluk hidup lain yang ada di hutan sana?
Bagi Ndaru, perjalanan memahami konservasi bermula dari rasa penasaran. Sedari kecil hingga dewasa ia hidup di Kota Solok, Sumatera Barat, dan tak pernah terpikirkan betapa pentingnya hutan dan satwa. Hingga suatu ketika ia menemukan informasi tentang pelatihan konservasi ABELII CAMP yang diadakan COP di Medan. Dari sana, ia mulai memahami luasnya arti konservasi dan pentingnya menjaga hutan beserta seluruh isinya.
Kesadaran itu kemudian membawanya menjadi volunteer di COP selama kurang lebih empat bulan. Perjalanan tersebut berlanjut ketika ia mengikuti COP School Batch 16 di Yogyakarta pada Juli 2026. Baginya, pelatihan bukan sekadar sekolah, tetapi titik yang semakin menguatkan tekad untuk turun langsung ke lapangan.
Hal yang sama dirasakan Ulul. Setelah menunggu enam tahun untuk mendapatkan kesempatan mengikuti COP School, ia menganggap Batch 16 sebagai titik balik perjalanan konservasinya. Dari materi ruang, School Visit di beberapa sekolah dasar, hingga kesempatan mengikuti ADR Training Batch 4 di Labuan Bajo, setiap pengalaman menjadi bagian dari proses belajar yang tidak pernah selesai.
Selepas rangkaian pelatihan tersebut, panggilan untuk kembali menjadi volunteer datang. Kali ini, Kalimantan Timur menjadi tujuan. Ndaru dan Ulul diutus bersama tim COP menuju Pusat Rehabilitasi Orangutan Bora Labanan, Berau, untuk membantu menghadapi kebakaran hutan. Mereka melakukan patroli kawasan, mencari titik api dan asap, hingga beberapa kali terlibat langsung dalam pemadaman api di dalam maupun luar kawasan.
“Berhari-hari saya di Kalimantan, tiada sehari pun saya menghirup udara segar. Yang ada hanyalah kepulan asap dan kobaran api yang sangat panas,” ujar Ndaru.
Di tengah kondisi tersebut, ia kembali teringat pelatihan konservasi pertamanya tentang pentingnya hutan, satwa, dan seluruh kehidupan di dalamnya. “Apalah artinya manusia apabila tidak berdampak bagi lingkungannya.”
Bagi Ulul, pengalaman itu kembali menegaskan bahwa menjadi Orangufriends berarti membawa perubahan nyata bagi konservasi satwa di mana pun berada. “Ini bukanlah garis akhir, namun menjadi gerbang pembuka awal.”
Karena bagi mereka, COP School bukan sekadar sekolah. Ia adalah sekolah yang tak pernah usai tempat belajar, bergerak, dan terus menemukan cara untuk berkontribusi (Ulul_Ndaru_COP School 16).

MENGENAL HARIMAU SUMATRA DAN BAHAYA JERAT BERSAMA ORANGUFRIENDS

Masih dalam rangkaian Bulan Orangufriends yang menjadi ruang bagi relawan COP untuk ikut terlibat secara nyata dalam aksi-aksi konservasi, salah satunya School Visit di SMPN 01 Bonjol, Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat. Kali ini bersama Dea dan Hera yang menjalani program volunteer selama tiga bulan setelah mengikuti COP School Batch 16.

Sebanyak 15 siswa kelas IX mengikuti kegiatan dengan antusias. Para siswa diajak mengenal lebih dekat Harimau Sumatra, mulai dari karakteristik, kehidupan di alam, kondisi populasinya, hingga berbagai ancaman yang dihadapi satwa endemik Sumatra tersebut. Melalui diskusi sederhana, para siswa diajak memahami bahwa menjaga harimau berarti turut menjaga hutan dan seluruh kehidupan yang ada di dalamnya. Mereka juga diajak mengenali peran manusia dalam mengurangi berbagai ancaman terhadap satwa liar.

Setelah materi selesai, suasana belajar berlanjut ke sesi tanya jawab dan diskusi interaktif di pojok baca yang dilengkapi galeri foto satwa. Kehadiran foto-foto satwa membuat siswa dapat melihat lebih dekat kehidupan satwa liar dan ancaman yang mereka hadapi di habitatnya.

Agar pesan konservasi semakin mudah dipahami, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan fun games di luar ruangan. Para siswa mengikuti simulasi bertema, “Membebaskan Diri darui Jerat”. Melalui permainan tersebut, mereka diajak merasakan secara sederhana bagaimana sulitnya satwa ketika terperangkap jerat, sekaligus memahami mengapa jerat menjadi salah satu ancaman serius bagi satwa liar.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa aksi konservasi dapat dimulai dari hal sederhana, dengan belajar, berbagi, dan berani terlibat. Bagi Dea dan Hera, pengalaman sebagai Orangufriends sekaligus alumni COP School Batch 16 menjadi kesempatan untuk meneruskan pengetahuan yang pernah mereka dapatkan kepada generasi muda. Selama tiga bulan ini keduanya dengan berani mengambil bagian dalam menyebarkan pesan bahwa menjaga satwa berarti menjaga masa depan hutan. (APE Protector)

BELAJAR SIAGA BENCANA UNTUK SATWA DI SD NEGERI 2 DODOGAN

Dua puluh tahun lalu, gempa bumi besar mengguncang Yogyakarta dan meninggalkan jejak mendalam bagi masyarakat. Salah satu wilayah yang merasakan dampaknya adalah Kabupaten Bantul, termasuk lingkungan pendidikan di sekitarnya. Kini, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa kesiapansiagaan menghadapi bencana perlu terus ditanamkan kepada generasi muda.

Sebanyak 81 siswa SD Negeri 2 Dodogan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta diajak mengenali berbagai perlengkapan sederhana yang dapat membantu ketika terjadi keadaan darurat, seperti senter dan peluit. Mereka juga belajar bahwa kesiapsiagaan tidak selalu membutuhkan peralatan yang rumit. Hal paling penting adalah mengetahui risiko, memahami langkah yang harus dilakukan, serta mampu menyelamatkan diri terlebih dahulu.

Sebab, seseorang yang mampu menyelamatkan dirinya akan memiliki kesempatan lebih besar untuk membantu orang lain, termasuk satwa yang sering kali luput dari perhatian ketika bencana terjadi. Pembelajaran kemudian berlanjut pada satwa yang sering dianggap menakutkan, yaitu ular.

Bagi sebagian siswa, perjumpaan dengan ular mungkin bukan sesuatu yang asing. APE Warrior mengajak mereka melihat ular dari sudut pandang yang berbeda. Rasa takut merupakan hal yang wajar, tetapi bukan alasan untuk menyakiti atau membunuh satwa tersebut.

Ketika bertemu ular, siswa diajarkan untuk tetap tenang, menjaga jarak, tidak mencoba atau menangkap atau mengusir sendiri, serta segera meminta bantuan orang dewasa atau pihak yang memiliki kemampuan menangani satwa.

Di balik rasa takut tersebut, ular memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Keberadaannya membantu mengendalikan populasi satwa lain dan menjadi bagian dari rantai kehidupan di alam. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar tentang kesiapsiagaan bencana, tetapi juga tentang empati dan tanggung jawab terhadap kehidupan di sekitar mereka. Karena kesiap-siagaan bukan hanya tentang menyelamatkan diri saat bencana datang, tetapi juga tentang memastikan bahwa manusia dan satwa dapat menghadapi situasi darurat dengan lebih aman. (VID)

THREE IN ONE JOB

Tidak terasa, genap sudah satu bulan saya mengeksplorasi keindahan lanskap hutan di Busang. Mewakili tim APE Guardian bertepatan dengan libur perayaan Natal di akhir Desember 2026, yang mana sebagian staf APE Defender di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) mengambil cuti hari raya dan membutuhkan tenaga tambahan, saya diminta untuk bergeser ke BORA selama satu bulan ke depan.

Selama di sana, bukan hanya penalaan dan wawasan yang bertambah, tetapi juga lingkar pertemanan saya semakin meluas. Saya mendapat kesempatan untuk menjajal berbagai bagian pekerjaan dan bekerja bersama teman-teman yang hebat.

Beberapa hari pertama di BORA, saya berkesempatan membawa orangutan ke sekolah hutan. Ditemani Faradiva sebagai pendamping di hari pertama, saya belajar cara membawa orangutan ke sekolah hutan, cara mengamati, serta mencatat perilaku dan karakter setiap individual yang beragam. Beberapa hari pertama memang cukup menantang bagi saya untuk menghafal nama dan ciri-ciri fisik masing-masing orangutan, terlebih ketika ukuran tubuh mereka tampak mirip.

Setelah beberapa hari mengikuti kegiatan sekolah hutan, pada minggu berikutnya saya berkesempatan menjadi bagian dari tim teknisi yang didampingi oleh Bang Jevri. Kami datang lebih awal untuk menguapkan pakan orangutan dengan takaran yang berbeda untuk setiap individual. Selain menyiapkan pakan pagi, siang, dan sore, kami juga mempersiapkan alat serta bahan untuk kebutuhan enrichment masing-masing orangutan pada pagi dan sore hari.

Memasuki minggu terakhir di BORA, saya berkesempatan menjadi babysitter bagi beberapa orangutan yang masih memerlukan perhatian ekstra. Di dampingi oleh babysitter Gita, saya belajar menyiapkan pakan, meracik susu dengan takaran yang berbeda untuk setiap individual, memberikan enrichment, serta membawa mereka ke sekolah hutan. Menjadi babysitter menurut saya cukup menantang, mengingat mereka masih sangat bergantung pada kehadiran manusia. Selain itu, tubuh mungil mereka juga cukup sulit untuk terus terpantau ketika sudah memanjat pohon yang tinggi saat sekolah hutan.

Menjadi relawan di BORA membuat saya semakin mengenal pribadi teman-teman yang menyenangkan serta belajar banyak hal baru yang sebelumnya, belum pernah saya coba (Hana_COPSchool15)

SEMPIDAN BIRU, SANG PENJAGA KEANEKARAGAMAN HAYATI

Di bawah terik mentari yang sedang garang-garangnya, tim patroli APE Guardian berangkat dari pos monitoring menuju titik pelepasliaran Memo di sisi Sungai Hagar untuk melakukan patroli sekaligus pengambilan kamera jebak yang telah dipasang sebulan sebelumnya. Tak sampai 30 menit melaju, mesin perahu kami matikan. Salah satu ranger kemudian membatu mendayung sebentar hingga perahu berhasil menembus anak sungai yang cenderung sempit dan banyak terhalang dahan pohon tumbang di sepanjang tepian sungai.

Lokasi kamera jebak pertama yang kami datangi memiliki medan yang lebih ekstrem dibandingkan lokasi lainnya. Kami melewati area perbukitan dan sempat menyeberangi anak sungai dengan kedalaman kurang lebih sepinggang orang dewasa. Kamera jebak tersebut terpasang di sekitar pohon durian merah yang dalam bahasa Dayak Kenyah Lepoq Bem disebut buas dian bala. Harapannya, aroma durian merah dapat menarik berbagai satwa untuk mendekat dan terekam oleh kamera jebak.

Proses patroli berjalan lancar. Sesampainya kembali di pos, kami segera mengecek dengan harapan menemukan beragam jenis satwa. Beberapa satwa yang terekam di antaranya kancil, tikus bulan, berang-berang, serta satu individual orangutan betina yang sedang menggendong anaknya. Namun rekaman yang paling menarik perhatian saya adalah sepasang burung Sempidan Biru Kalimantan, jantan dan betina.

Burung Sempidan Biru jantan memiliki ukuran tubuh sekitar 65-70 cm, sedangkan betina sekitar 56-57 cm. Keduanya memiliki kulit muka berwarna biru. Jantan ditandai dengan jambul hitam dan bulu ekor berwarna putih kekuningan, sementara betina memiliki warna tubuh cokelat kusam tanpa jambul mencolok. Warna ini berfungsi sebagai kamuflase alami, terutama saat betina mengerami telur dan bersembunyi dari predator.

Burung yang masuk dalam kategori rentan ini menghadapi berbagai ancaman terhadap kelangsungan hidupnya, mulai dari deforestasi, perburuan liar, hingga perdagangan satwa ilegal akibat keindahan bulunya. Selain memakan biji-bijian, sempidan biru juga mengonsumsi buah-buahan hutan, serangga, cacing, dan hewan kecil lainnya. Aktivitas mencari makan tersebut membuat burung ini sering mengorek tanah, membantu proses penggemburan tanah, sekaligus berperan sebagai penyebar benih.

Peran ekologis inilah yang menjadikan burung sempidan biru Kalimantan sebagai salah satu penjaga pentingnya regenerasi hutan. Dengan bantuannya, hutan dapat terus memperbarui vegetasinya dan menjaga keanekaragaman hayati tetap lestari. (Hana_COP School Batch 15)

AIR MATA TERNAK DAN CERITA PARA RELAWAN

Gunung Semeru batuk keras pada 19 November 2025, mengirimkan kolom abu hitam yang membuat langit seperti sedang menahan amarah. Saat banyak orang memilih mengunci pintu sambil berdoa, saya justru menerima pesan singkat dari seseorang yang suaranya seperti selalu muncul ketika bencana memanggil, Mbah Monyok. Hanya satu instruksi, “Turun ke Penanggal”. Tidak ada konteks, tidak ada waktu untuk ragu. Saya tidak tahu bahwa perintah malam itu akan membawa saya memasuki hari-hari dimana hidup dan mati hanya dibedakan oleh lapisan debu tipis.

Besok paginya, di bawah semburat abu yang masih turun, kami memulai tugas utama, mencari bangkai. Sapi, kambing, ayam, anjing, kucing semuanya tersebar di kamar A, Gumukmas, Sumbersari. Tugas kami bukan sekadar menemukan, tetapi memastikan mereka tidak menjadi sumber penyakit di tengah pengungsian. Di antara kandang yang runtuh dan bau hangus yang menusuk, saya belajar memandang tubuh-tubuh itu bukan sebagai bangkai, tapi sebagai korban yang sama sekali tidak pernah diberi peluang menyelamatkan diri. Yang paling membuat dada sesak adalah permintaan seorang anak kecil, Putri yang ingin kambing kesayangannya dikuburkan, bukan dibakar. Bagi dia, itu bukan aturan medis, itu penghormatan terakhir.

Ketika tim COP dari Jogja tiba, ritme kerja berubah drastis. Mereka datang membawa ketenangan, APD lengkap, dan langkah-langkah yang selalu terukur. Bersama mereka kami melakukan prosedur sterilisasi, mengumpulkan bangkai, membuat lubang kubur, atau membakarnya hingga tuntas agar tidak ada bakteri, virus, atau parasit yang lolos di balik abu Semeru. Di tengah kobaran api yang memakan habis tubuh-tubuh itu, saya melihat betapa pentingnya ilmu di balik tindakan yang secara emosional begitu berat. Mereka mengajarkan saya bahwa merawat satwa juga berarti memahami risiko penyakit yang bisa menghantam manusia dan ternak yang masih hidup.

Beberapa hari kemudian, tim dari Kalimantan datang, membawa filosofi COP yang lebih luas. Dari mereka saya mendengar soal ekologi, rantai penyakit, dan bagaimana satu bangkai yang tidak ditangani bisa berdampak pada kesehatan satu desa. Saat kami menyusuri ladang yang sepi, mencari sisa-sisa tubuh yang tersembunyi di balik tumpukan abu, saya menyadari bahwa pekerjaan ini bukan sekedar “membersihkan”. Ini bagian dari menjaga keseimbangan bahkan wujud pekerjaannya adalah memikul, mengubur, dan membakar mereka yang tak lagi bernapas.

Pada akhirnya, Semeru tidak hanya memuntahkan lava dan abu, tapi ia membuka mata saya terhadap sisi bencana yang jarang disorot kamera. Bahwa mencari bangkai satwa dan membakarnya bukanlah pekerjaan yang dingin, itu bentuk paling sunyi dari kemanusiaan. Semeru menjadi guru yang keras, mengajarkan bahwa memuliakan kehidupan kadang berarti menghadapi kematian secara langsung. Kalau nanti ada rezeki, saya ingin ikut COP School. Bukan lagi sebagai “Agen Dosa”, tapi sebagai seseorang yang paham bahwa menjaga satwa bukan hanya menyelamatkan yang hidup, tetapi juga bertanggung jawab pada yang sudah tiada. (Imdad Ervianto_Orangufriends Lumajang)

RANGER BUSANG IKUT COP SCHOOL BATCH 15

Saya, Dedi Awan yang untuk pertama kalinya terbang di atas awan dan melihat awan berada di bawah. Keseharian saya sebagai ranger di Tim APE Guardian menyeberangkan saya ke pulau Jawa, pulau terpadat di Indonesia. Ini juga pengalaman pertama saya naik burung besi, takut bercampur penasaran membuat saya tak ingin melewatkan kesempatan menikmati awan. Ternyata tanah Kalimantan begitu banyak lukanya, tambang-tambang itu menjadi terlihat jelas dari atas. Hutan dan perkebunan kelapa sawit itu ternyata tampak jelas perbedaannya.

Sejujurnya tidak mudah untuk bisa ikut kegiatan COP School. Tugas-tugas yang diberikan nyaris mengorbankan waktu kerja saya sebagai ranger di kawasan pelepasliaran orangutan di Busang, kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Mulai dari topik animal welfare, kebun binatang, perdagangan satwa liar, pasar burung, hingga cyber campaign. Dari 69 peserta yang mendaftar COP School Batch 15 akhirnya yang lolos 43 orang, dan puji Tuhan, saya termasuk di antaranya.

Mengikuti kegiatan COP School selama seminggu sangat seru dan menyenangkan. Saya mendapat banyak teman baru, ilmu baru dari para pemateri maupun dari sesama peserta. Kami saling berbagi cerita dan pengalaman tentang konservasi orangutan dan satwa lainnya. Ini adalah pengalaman paling berharga bagi saya, sekaligus menjadi pendorong untuk terus berkembang dan semakin giat dalam memperdalam ilmu tentang konservasi orangutan serta satwa liar lainnya, baik yang dilindungi maupun yang belum dilindungi. “Semua ini menjadi motivator besar bagi saya untuk terus belajar dan berkembang, karena saya sudah terlanjur mencintai dunia konservasi, rasanya sayang jika kesempatan yang diberikan ini disia-siakan. Selama masih ada kesempatan yang diberikan kepada saya, saya akan berusaha memanfaatkannya sebaik mungkin, karena inilah peluang emas untuk mengembangkan pengetahuan dan kontribusikan saya di dunia konservasi”, tutup Dedi, si penjaga Ekosistem Busang. (DED)

MONYET PUNK SULAWESI, IKON LIAR DARI UTARA

Pernahkah kalian mendengar tentang monyet punk Sulawesi? Dengan jambul khas di kepala, ekspresi wajah yang karismatik, dan gaya hidup sosial yang kuat, monyet hitam Sulawesi (Macaca nigra) atau Yaki, telah menjadi simbol alam liar Sulawesi Utara. Sayangnya, si “punk” hutan ini justru terancam punah di habitat aslinya akibat perburuan dan alih fungsi lahan. Meski begitu, berbagai upaya konservasi terus dilakukan untuk memastikan spesies endemik ini tetap bisa bertahan di tanah kelahirannya.

Dalam kelas bulanan Dating APES ke-6 yang berlangsung pada 11 Juli 2025, Centre for Orangutan Protection (COP mengangkat tema tentang Yaki dan menghadirkan Billy Gustafianto, manajer Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tasikoki sekaligus pengurus di Yayasan Masaran. Billy, alumni COP School Batch 11, membagikan pengalamannya dalam upaya pelestarian Yaki, baik dari sisi penyelamatan di lapangan hingga rehabilitasi di pusat penyelamatan. Forum ini digelar secara hybrid (daring melalui Zoom) dan luring bersama peserta yang hadir langsung.

Diskusi berlangsung interaktif dengan banyak pertanyaan dari peserta. Mayoritas penasaran tentang bagaimana penanganan konflik antara Yaki dan masyarakat, merujuk pada pengalaman konflik yang sering terjadi antara manusia dan monyet ekor panjang di berbagai daerah. Billy menjelaskan bahwa Yaki, sebagai satwa sosial yang hidup dalam kelompok, memiliki pendekatan rehabilitasi yang berbeda dibandingkan orangutan. Di PPS Tasikoki, Yaki direhabilitasi dalam kelompok dan nantinya juga dilepasliarkan secara berkelompok, agar mereka tetap memiliki struktur sosial alami yang penting untuk kelangsungan hidup mereka di alam bebas. Kelas ini menjadi ruang belajar yang memperluas perspektif peserta tentang konservasi primata Indonesia yang kaya dan penuh tantangan. (DIM)

BELAJAR MEMBUAT ENRICHMENT UNTUK ORANGUTAN

Di bawah langit mendung sore, halaman Camp APE Warrior mendadak ramai. Puluhan peserta COP School Batch 15 tampak antusias merangkai potongan selang pemadam kebakaran bekas menjadi sesuatu yang luar biasa penting untuk orangutan yaitu hammock dan bola kotak enrichment. Kegiatan ini bukan sekedar prakarya biasa, tapi merakan sesi praktek tentang enrichment, sebuah teknik penting dalam rehabilitasi orangutan agar tetap aktif secara fisik dan mental selama di pusat rehabilitasi. Dalam dunia orangutan, hammock bukan hanya tempat istirahat, tetapi juga arena bermain, berayun, dan berlatih keseimbangan, terutama bagi bayi-bayi orangutan yang sedang tumbuh dan belajar mengenali lingkungannya.

Dengan penuh semangat, para peserta bekerja berkelompok, mengikat, dan menyusun potongan-potongan selang hingga membentuk hammock merah yang kuat dan aman. Di sisi lain, sekelompok peserta lain asik membuat bola kotak dari lilitan selang yang nantinya bisa diisi buah atau kacang-kacangan untuk mendorong perilaku mencari makan alami orangutan.

Walau tangan kotor dan peluh membasahi dahi, tawa dan obrolan hangat terus terdengar. Ada rasa bangga tersendiri ketika mereka membayangkan hammock buatan tangan mereka akan digunakan bayi orangutan sebagai tempat tidur, dan bola kotak yang ada membuat bayi orangutan penasaran dan sibuk mencari makanan yang tersembunyi di dalamnya.

Kegitan ini bukan hanya soal keterampilan teknis. Lebih dari itu, ini adalah momen penuh makna, sebuah pelajaran nyata bahwa bahkan bahan sederhana seperti selang pemadam bekas bis menjadi alat penting dalam upaya konservasi orangutan. Bagi para siswa COP School ini adalah bukti bahwa konservasi dimulai dari tangan kita sendiri, denga kreativitas, kerja sama, dan kepedulian. (DIM)