A GREAT LOVE FOR ROCKY

Rocky is a male orangutan who became a victim of transnational wildlife trafficking and was taken out of Indonesia. On November 12th, 2024, Indian authorities rescued Rocky from an apartment in Thane, near Mumbai, Maharashtra, India. At the time, Rocky was estimated to be 18–20 months old.
Following his rescue, the team at Greens Zoological Rescue and Rehabilitation Centre (GZRRC)/Vantara in Jamnagar, Gujarat, India, provided Rocky with intensive care. During his treatment, Rocky reportedly experienced a health condition described as bronchopneumonia or a viral respiratory tract infection. Through medical treatment and intensive monitoring, the GZRRC team helped improve his condition until the medical team deemed him fit to travel back to Indonesia.
The Ministry of Forestry of the Republic of Indonesia, together with various stakeholders, then coordinated efforts to repatriate Rocky. The process required careful preparation, including arranging support throughout the journey, coordinating flights, and maintaining cross-border communication. Cooperation with the Indian government paved the way for Rocky’s return to his homeland.
The Ministry of Forestry and the Ministry of Foreign Affairs, through the Consulate General of the Republic of Indonesia (KJRI) in Mumbai, coordinated the repatriation with support from the Government of India, the Wildlife Crime Control Bureau (WCCB), and GZRRC. Fauna Land Indonesia and the Centre for Orangutan Protection (COP), as wildlife conservation partners of the Ministry of Forestry, also supported the process. Through this collaboration, the team brought Rocky back to Indonesia by air, with Kualanamu International Airport in North Sumatra as the destination.
On October 19th, 2026, Rocky arrived in Indonesia accompanied by the Vantara team and MA Cities India. The Minister of Forestry welcomed him in Medan to mark his return to his homeland. During the ceremony, the relevant parties officially gave Rocky a new name: Heera, meaning “diamond.” The name carries the hope that Heera will become a precious part of orangutan conservation efforts in Indonesia.
Heera has now begun the initial stage of rehabilitation at the Sumatran Rescue Alliance (SRA). Through this process, the team aims to prepare him for a future return to the rainforests of Sumatra, his birthplace.
Rocky’s journey to becoming Heera reflects the deep care and compassion that many people and organizations have shown for Indonesia’s orangutans. We extend our gratitude to the Ministry of Forestry, the Ministry of Foreign Affairs through the Consulate General of the Republic of Indonesia in Mumbai, the Government of India, WCCB, GZRRC, Fauna Land Indonesia, the North Sumatra Quarantine Agency, Angkasa Pura, the North Sumatra Natural Resources Conservation Agency (BBKSDA Sumut), and Orangutan Information Centre (OIC) for their support and collaboration in making Heera’s return to Indonesia possible.

CINTA YANG BESAR UNTUK ROCKY

Rocky merupakan korban perdagangan satwa liar ilegal yang keluar dari Indonesia akibat kejahatan lintas negara. Penyelamatan orangutan jantan ini oleh otoritas India di sebuah apartemen di wilayah Thane, dekat Mumbai, Maharashtra, India terjadi pada 12 November 2024. Saat penyelamatan orangutan tersebut diperkirakan berusia 18-20 bulan. Setelah penyitaan, satwa ini mendapatkan perawatan intensif di Greens Zoological Rescue and Rehabilitation Centre(GZRRC)/Vantara, Jamnagar, Gujarat, India. Dalam masa perawatan, orangutan tersebut sempat mengalami gangguan kesehatan berupa bronkopneumonia atau infeksi virus saluran pernapasan. Melalui penanganan medis dan pemantauan intensif oleh tim GZRRC, kondisi kesehatannya berangsur membaik hingga dinyatakan layak untuk menjalani perjalanan kembali ke Indonesia.

Dengan informasi tersebut, Kementerian Kehutanan bersama para pihak melakukan serangkaian koordinasi dan upaya pemulangan satwa ke Indonesia. Upaya ini tidak sederhana butuh persiapan matang dan upaya lebih karena jarak yang jauh, kesiapan tim membawa orangutan, jalur penerbangan dan juga komunikasi lintas negara yang tidak mudah. Tapi semua menemukan titik cerah ketika pihak negara India merespons peluang kerjasama untuk pemulangan Rocky. Proses ini terlaksana melalui koordinasi erat antara Kementerian Kehutanan Republik Indonesia dan Kementerian Luar Negeri melalui Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Mumbai, dengan dukungan Pemerintah India, Wildlife Crime Control Bureau (WCCB), dan GZRRC.  Fauna Land Indonesia dan Centre for Orangutan Protection (COP) sebagai mitra konservasi satwa liar Kementerian Kehutanan juga turut terlibat dalam proses koordinasi dan pemulangan orangutan ini.  Pemulangan dilakukan melalui jalur udara dengan tujuan Bandara Internasional Kualanamu, Sumatera Utara.

Kini Rocky telah tiba di Indonesia pada tanggal 19 Oktober 2026 diantar langsung tim Vantara dan MA Cities India sebagai bentuk nyata kolaborasi antar negara yang luar biasa. Setiba di bandara Medan, Menteri Kehutanan menyambut Rocky sebagai ucapan selamat datang kembali ke Indonesia. Dalam acara tersebut, secara resmi Rocky diganti namanya menjadi Heera yang artinya berlian. Berharap orangutan ini akan menjadi harta berharga konservasi di Indonesia layaknya berlian.

Babak baru orangutan Heera dimulai dengan menjalani tahap pertama proses rehabilitasi Orangutan di Sumatran Rescue Alliance (SRA). Rehabilitasi Heera sebagai bentuk menyiapkan dia untuk bisa kembali pulang ke hutan hujan Sumatera, tempat dia dilahirkan. Heera adalah bentuk banyak cinta dari semua pihak untuk orangutan Indonesia. Terima kasih Kementerian Kehutanan, Kementerian Luar Negeri melalui Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Mumbai, Pemerintah India, Wildlife Crime Control Bureau (WCCB) GZRRC, Fauna Land Indonesia, Balai Karantina Sumatera Utara, Angkasa Pura, BBKSDA Sumatera Utara, OIC yang telah mewujudkan mimpi kembali Heera ke Indonesia di pulau Sumatera.

APA YANG MEMBUAT AMAN MEMANJAT?

Tanah adalah tempat favorit bagi Aman. Bukan tidak bisa memanjat, mungkin aja Aman lebih suka bermain dan mencari makan di bawah. Mungkin juga karena kelainan di tulang paha Aman sehingga dia tidak bisa banyak bergerak naik ke pohon. Jawab keeper saat aku bertanya mengenai kondisi orangutan bernama Aman.
Seiring berjalannya waktu, aku mengamati perilaku Aman selama sekolah hutan. Apa yang membuat Aman manjat? Suara-suara yang nyaring seperti dahan patah. Bukan cuma Aman, orangutan lain juga langsung memanjat kalau kaget mendengar suara nyaring. Terus selain itu apa?
Suatu saat, aku mulai menyadari saat sekolah hutan hampir selesai, Aman selalu manjat ke pohon atau liana. “Loh Aman bisa memanjat juga”, tanya ku pada keeper. “Iya, dia biasanya manjat kalau sekolah hutan hampir selesai”, jawab salah satu keeper. Aku tidak bertanya sebabnya. Sampai suatu hari, ada keeper yang bertanggung jawab membawa Aman ke sekolah hutan. Namanya Lio. Saat sekolah hutan selesai, kami bersiap-siap untuk pulang ke kandang. Semua keeper sibuk memanggil nama orangutannya untuk pulang, kecuali Lio. Lio hanya menatap Aman dari bawah dan Aman pun menatap Lio dengan suara jeritannya. “Naik, naik, naik”, kurang lebih begitulah Aman bersuara.
“Tolong turunan Aman dulu”, kata Lio.
Aku mendekat dan mencoba untuk menolong turunan Aman. “Aman, Aman, pulang yuk. Nih ada pisang”. Aman tidak peduli dan bahkan manjat lebih tinggi. Mungkin Aman takut sama Lio atau keeper laki-laki. “Lio coba sembunyi jangan di sini”, Lio langsung menjauh dan bersembunyi.
Aku coba pancing lagi pakai pisang. “Aman sini turun, sudah gak ada Lio”. Aman masih waspada dari atas tapi perlahan mulai turun ke tanah. Setelah aku tangkap tangan Aman, Lio langsung mendekat untuk membawa Aman pulang, tentunya dengan jeritan kecil Aman. “Naik, naik, naik”, sambil jalan pulang. (TIN)

FELIX, AKTIF MENEMUKAN BANYAK HAL LEWAT BERMAIN

Aktivitas Felix sepanjang September banyak diwarnai permainan sosial. Ia sering terlihat berguling-guling, saling menggigit dalam konteks bermain, dan berinteraksi dengan individu lain di lantai hutan. Ia secara rutin bermain bersama Pansy, Mabel, Cinta Ochre, Jack, dan individu lainnya, sering kali tetap terlibat dalam aktivitas sosial tersebut, Felix juga mencari makan dengan berbagai pakan alami seperti buah mentah, kulit kayu, daun, ranting, kambium, dan kelapa.
Meski permainan di permukaan tanah menjadi aktivitas yang sering terlihat, Felix juga menunjukkan kemampuan eksplorasi di pepohonan. Ketika sekolah hutan memasuki area yang lebih dalam, ia mulai memanjat dan berpindah dari satu pohon besar ke pohon lainnya untuk mencari makanan. Ia juga mengikuti individu lain dalam melakukan eksplorasi, termasuk mengikuti Pansy dan Ochre ketika mereka bergerak di pepohonan. Hal ini membuat aktivitas Felix sepanjang bulan tidak hanya didominasi interaksi sosial, tetapi juga eksplorasi lingkungan hutan.
Interaksi sosial Felix juga terlihat dalam hubungannya dengan babysitter. Setelah bermain cukup lama, ia beberapa kali mendatangi babysitter dan duduk di dekatnya sebelum kembali bermain ketika diajak oleh individu lain. Ketika sekolah hutan tidak dilakukan karena asap, ia tetap aktif mengikuti enrichment bersama Pansy dan Jack. Secara keseluruhan, September memperlihatkan Felix sebagai individu yang sangat aktif secara sosial, dengan permainan menjadi bagian penting dari aktivitas eksplorasi dan interaksinya. (RAF)

HARAPI, MENJELAJAH SAMBIL BERMAIN DAN BERSOSIALISASI

Harapi menunjukkan aktivitas bermain sosial dan eksplorasi yang aktif sepanjang September, terutama di lantai hutan. Ia sering bermain bersama Arto, Ochre, Jainul, Aman, Astuti, Mabel, dan Cinta. Ia juga aktif mencari makanan alami seperti jengkol, umbut, kulit kayu, daun mudan dan tua, serta buah mentah. Walaupun aktivitas di permukaan tanah cukup dominan, Harapi tetap memanfaatkan pepohonan ketika sekolah hutan memasuki area yang lebih dalam.
Salah satu aktivitas eksplorasi Harapi yang paling sering terlihat adalah menggali tanah dan memandikan tubuhnya menggunakan tanah kering. Ia juga terlihat mengeksplorasi pohon dan cabang serta sesekali menghabiskan waktu sendiri di atas cabang setelah bermain dengan individual lain. Aktivitas ini berlangsung berdampingan dengan perilaku mencari makan dan permainan sosialnya, sehingga aktivitas Harapi selama September cukup beragam meskipun permukaan tanah tetap menjadi area yang paling sering digunakannya.
Harapi juga sering menunjukkan ketertarikan terhadap keeper, terutama ketika mendengar suara resleting tas dan kemudian mendekat untuk meminta pakan. Di sisi lain, ia tetap memiliki aktivitas eksplorasi mandiri, termasuk bermain air bersama Mabel dan Cinta. Secara keseluruhan, pengamatan September memperlihatkan Harapi sebagai individual yang aktif secara sosial, banyak mengeksplorasi permukaan tanah, serta menggunakan berbagai bentuk permainan dan aktivitas alami selama sekolah hutan. (RAF)

ARTO DAN RASA INGIN TAHUNYA YANG TAK PERNAH BERHENTI

Arto menghabiskan sebagian besar September dengan menggabungkan permainan aktif dan eksplorasi mandiri. Ia sering bermain di permukaan tanah bersama Hrapi dan individual lain, berguling dan berinteraksi dengan mereka, sekaligus mengeksplorasi lingkungan sekitarnya secara mandiri. Ia terlihat memanjat pohon kecil, berayun di liana, menjatuhkan diri dari cabang, serta berpindah antara permukaan tanah dan vegetasi. Dalam aktivitas mencari makan, ia tercatat memakan kambium dan umbut.
Eksplorasi Arto tidak hanya dilakukan dengan berpindah tempat, tetapi juga melalui manipulasi lingkungan, Ia berulang kali menggali tanah dan terlihat memandikan tubuhnya dengan tanah kering bersama Harapi. Ia juga pernah menumpuk daun di permukaan tanah seperti membuat struktur sarang sebelumnya kembali mengeksplorasi dan memakan umbut. Aktivitas tersebut menunjukkan bagaimana Arto banyak menggunakan material alami di sekitarnya selama sekolah hutan.
Arto juga tetap sangat interaktif dengan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Ia sering mendekati keeper dan beberapa kali terlihat menggigit atau menyerang boots sebagai bagian dari interaksinya. Aktivitas bermain tetap terlihat hingga akhir bulan, termasuk bermain bersama Mabel, Aman, dan Jainul serta mengayunkan pohon kecil. Secara keseluruhan, September memperlihatkan Arto sebagai individual yang aktif mengeksplorasi melalui gerakan, permainan, manipulasi material alami di sekitarnya, dan interaksi sosial. (RAF)