PESAN LESTARI SMP 1 KONGBENG

Giliran SMP 1 Kongbeng yang menjadi tujuan School Visit Tim APE Guardian COP (Centre for Orangutan Protection). Sebanyak 50 siswa mengikuti sesi interaktif yang mengupas banyak hal, mulai dari jenis-jenis orangutan di Indonesia, fungsi hutan sebagai habitat penting, hingga ajakan mendukung kampanye perlindungan satwa liar.

Materi disampaikan dengan cara sederhana, sehingga mudah dipahami siswa. Antusiasme mereka terlihat dari rasa penasaran yang muncul sepanjang diskusi. Saat penutup, tim mengajak siswa ke lapangan untuk bermain “orangutan, pemburu, dan penebang pohon”, yang membuat suasana semakin meriah.

Di akhir kegiatan, seorang siswi bernama Aida menyampaikan kesannya, “Dengan adanya kegiatan semacam ini, kami jadi tahu jenis-jenis orangutan di Indonesia dan bahwa mereka dilindungi oleh Undang-Undang. Ke depannya saya berharap orangutan tetap lestari dan dapat dilindungi dengan baik di alam.”. Ucapan Aida menjadi pengingat bahwa semangat menjaga alam bisa lahir dari suara sederhana seorang pelajar. (YUS)

RUMAH BIBIT, RUMAH HARAPAN ORANGUTAN

Beberapa bulan terakhir, patroli tim APE Guardian COP di sekitar kawasan pelepasliaran orangutan menemukan pemandangan berbeda. Di jalur yang dulunya hutan lebat, kini banyak ladang warga yang ditanami sayur buah, hingga sawit. Tak heran kalau orangutan yang sedang menjelajah kadang ikut mampir. Seperti hari itu, dari seberang sungai, tim melihat satu individu orangutan asik memetik pepaya matang dan lahap memakannya, mirip anak kecil yang ketahuan jajan di kebun tetangga! Sayangnya, pemilik ladang yang curiga segera mengusirnya, membuat pertemuan singkat itu harus berakhir lebih cepat.

Melihat kenyataan tersebut, APE Guardian berdiskusi dan merancang pembangunan rumah bibit pohon buah hutan. Tujuannya adalah memastikan orangutan memiliki sumber pakan yang cukup serta menjaga kelestarian habitat di tengah ancaman pembukaan lahan, pembalakan liar, dan perburuan. Pembangunan persemaian ini dilakukan bersama UPT Pertanian Kecamatan Busang serta melibatkan masyarakat setempat dalam penyediaan bibit pohon buah hutan dan perawatannya.

Dengan semangat yang tidak pernah padam, di bawah terik matahari Desa Long Lees, Tim mulai menyiapkan kayu ulin, paranet, paku, chainsaw, parang, dan alat lainnya. Lahan seluas 32 m² dibersihkan dari gulma, kemudian ditandai dan dilubangi untuk tiang penopang paranet. Menjelang sore, awan hitam bergulung dan hujan turun. Di tengah gemercik hujan tim menyelesaikan pekerjaan terakhir, memasang plang rumah bibit.

Pada tanggal 9 September 2025, rumah bibit untuk orangutan akhirnya berdiri. APE Guardian bersama warga sekitar bergotong-royong membangunnya dan dalam waktu satu hari saja bangunan selesai. “Yeayy, sudah selesai!”. Basah oleh hujan, tim berdiri di depan bangunan sederhana bertiang ulin dan beratap paranet. Merenung bahwa rumah bibit ini bukan hanya tempat melindungi bibit pohon, tetapi juga sebuah harapan baru, menjadi pusat edukasi bagi masyarakat tentang pentingnya menjaga hutan dan satwa liar, khususnya orangutan. (LUT)

SCHOOL VISIT DI SMA 1 MUARA WAHAU, OBESITAS PADA ORANGUTAN

Tim APE Guardian bersama Orangufriends (relawan orangutan) mengunjungi SMA 1 Muara Wahau dalam rangkaian Bulan Orangufriends. Sejak awal masuk kelas, siswa-siswi sudah tampak antusias berdialog dengan Tim Centre for Orangutan Protection (COP) itu. Materi dimulai dengan pengenalan konservasi orangutan disambung dengan kisah Andika tentang pentingnya menjaga hutan sebagai rumah terakhir orangutan.

Suasana semakin seru ketika Shaila, salah satu siswi mengajukan pertanyaan unik, “Apakah orangutan bisa mengalami obesitas?’. Dokter hewan COP pun menjawab dengan singkat namun jelas, bahwa obesitas memang bisa dialami orangutan, terutama yang dipelihara manusia dengan pola makan berlebih, tetapi hampir tidak pernah terjadi di alam liar. Jawaban ini membuka wawasan baru bagi para siswa bahwa orangutan pun rentan pada permasalahan kesehatan, sama seperti manusia.

Kunjungan ditutup dengan permainan edukatif “orangutan, pemburu, dan penebang pohon” yang diikuti 50 siswa dengan penuh tawa. Dari sini, SMA 1 Muara Wahau belajar tentang konservasi bukan hanya teori, tetapi juga bagian dari kehidupan nyata yang menyenangkan untuk dipelajari. (YUS)

DRACONTOMELON DAO, BUAH FAVORIT ORANGUTAN DI HUTAN LINDUNG GUNUNG BATU MESANGAT

Beberapa waktu terakhir, tim APE Guardian semakin sering menjumpai kembali orangutan yang telah dilepasliarkan. Munchan, orangutan janta translokasi, serta Mary dan Bonti, orangutan reintroduksi mulai aktif menampakkan diri di sekitar pos monitoring Busang. Dari perjumpaan yang terjadi, sebagian besar orangutan teramati sedang memakan buah dari salah satu jenis pohon yang umum dijumpai di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat. Buah Baran, begitu sebutan masyarakat lokal Busang bagi tumbuhan dengan nama latin Dracontomelon Dao.

Menurut literatur, daerah penyebaran ini meliputi India Timur, Kepulauan Andaman, China Selatan, Myanmar, Indo Cina, Thailand, Semenanjung Malaya, New Guinea, kepulauan Solomon, dan Indonesia. Di Indonesia ditemukan di beberapa tempat yaitu Sumatra, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Pada beberapa daerah, Dacontomelon dao dimanfaatkan sebagai obat-obatan tradisional. Pemanfaatan lokal di Papua Nugini, daun dan bunga dimasak kemudian dimakan sebagai sayur. Sedangkan di Maluku dipergunakan sebagai penyedap makanan. Kulit batang dapat digunakan sebagai obat tradisional untuk menyembuhkan disentri.

Baran merupakan pohon dengan kanopi besar yang selalu hijau, tinggi pohon dapat mencapai 36-55 m. Batangnya lurus dan silindris, tidak bercabang hingga ketinggian 15 m, dengan penampang akar di dasarnya. Kulit batang luar berwarna coklat keabu-abuan, kulit batang bagian dalam berwarna merah muda. Kulit kayu yang terluka memancarkan resin tidak berwarna yang sedikit lengket yang berubah menjadi emas pucat saat terkena udara. Memiliki daun majemuk yang menyirip, tersusun spiral disekitar cabang. Selebaran berurat menonjol, berselang-seling dan anak daun berjumlah 4-9 pasang. Pohon ini memiliki bunga majemuk malai berwarna putih kekuningan atau merah muda, kecil berukuran sekitar 9 mm, 5 lobus, harum, diproduksi dalam malai besar yang berjumbai hingga panjang 0,6 m. Buah tumbuhan Dracontomelon dao memiliki ciri-ciri morfologi berupa buah sejati tunggal, tipe buah batu, kulit buah berwarna hijau ketika masih muda dan kuning ketika sudah matang.

Orangutan biasa memakan bagian buah yang sudah matang dari Dracontomelon dao. Buahnya memiliki rasa sedikit manis ketika sudah matang. Selain untuk sumber pakan, pohon baran juga sering teramati dijadikan tempat membuat sarang bagi orangutan. Pohonnya yang tinggi serta batangnya yang besar memungkinkan untuk orangutan merasa nyaman dan aman berada di pohon tersebut. Status konservasi Dracontomelon dao dalam IUCN Red list termasuk dalam kategori Least Concern (LC). Namun populasinya sedang menurun akibat deforestrasi dan degradasi habitat. Upaya konservasi yang berkelanjutan sangat penting untuk melindungi habitat yang tersesi dan mencegah penurunan populasi. Menjaga pohon baran atau yang di daerah lain juga dikenal dengan nama sengkuang, sama dengan menjaga keberlangsungan hidup orangutan di habitat alaminya. (YUS)

BERTEMU TARA SETELAH SATU TAHUN BERLALU

Selalu menyenangkan berjumpa kembali dengan orangutan yang sudah lama tidak teramati di hutan. Hal ini terutama kami rasakan karena kemunculan mereka membuktikan bahwa orangutan yang kami lepas-liarkan di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat dapat bertahan hidup. Siapakah orangutan yang kali ini kami temui?

Hari yang cerah di pos monitoring Busang, cuaca yang ideal untuk tim APE Guardian memulai kegiatan lebih pagi. Pada jadwal hari ini, waktunya kami berpatroli menyusuri Sungai Menyuq. Saat mentari mulai menampakkan sinarnya, teman-teman ranger sudah sedia dengan mesin perahu. Suara mesin memecah nyanyian alam, perahu melaju perlahan, 5 orang anggota tim APE Guardian pun menengok kanan dan kiri tepi sungai, barangkali terdapat tanda-tanda keberadaan orangutan.

Semakin lama waktu berjalan, kami semakin menjauh dari pos, belum satupun tanda-tanda teramati. Tim memutuskan untuk istirahat sebentar di muara Sungai Payau, memakan bekal yang dibawa sembari bercanda penuh harap perjumpaan dengan siapa pun orangutan yang menghuni ekosistem Busang ini. Tak jauh dari muara, kami menjumpai sarang orangutan kelas 2, artinya sarang tersebut masih belum lama dibuat. Kami menghentikan perahu dan mengamati sekitar, tak jauh dari lokasi sarang, salah satu tim kami melihat ranting-ranting jatuh seperti dilempar. “Kayaknya ada yang gerak-gerak di pohon seberang”, ujar Dedi, ranger tim APE Guardian COP. Kami pun mendekat ke pohon tersebut dan benar saja, terdapat satu orangutan jantan yang sedang makan buah Baran (Dracontomelon dao).

“Khas sekali, kiss squeak pun terdengar, tanda orangutan mengusir. Ditambah suara ranting dipatahkan berlanjut dengan lemparan ranting-ranting tersebut. Perilaku orangutan liar”, gumam tim sembari semakin mengamati orangutan tersebut. Cheekpad yang berlekuk pada sisi kanan wajahnya menjadi ciri khas orangutan jantan Tara, yang diselamatkan tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama APE Crusader COP dari interaksi negatif dengan manusia di Kecamatan Bengalon. Sebelumnya Tara terlihat oleh masyarakat di pemukiman Desa Sepaso. Perangainya yang besar membuat masyarakat takut untuk berkebun. Akhirnya 28 April 2024, orangutan Tara ditranslokasi menuju rumah barunya, dan setelah setahun kami pun berjumpa kembali. Sekilas kondisinya terlihat sehat dan aktif mencari makan. Hari yang sangat beruntung dengan perjumpaan ini, rasa syukur ‘rumah’ ini baik untuk orangutan. (YUS)

JEJAK PAKAN, JEJAK HARAPAN

Hujan turun deras semalam, mengetuk permukaan sungai tanpa henti. Pagi itu, permukaan sungai meluap hingga menutup tepian pulau, arusnya lebih deras, warna sungai yang sebelumnya jernih berubah menjadi kecoklatan. Kami hanya bisa menunggu hingga sore, menanti air kembali surut, sebelum menyeberang ke pulau pra-pelepasliaran Dalwood Wylie atau Hagar. Di sanalah agenda hari ini menanti, mendata pohon-pohon pakan, sumber kehidupan bagi orangutan kandidat lepas liar.
Di bawah langit yang masih mendung, Tim APE Guardian bersama Hidayatul Latifah atau yang biasanya dipanggil Atul, staf KPHP Kelinjau sekaligus alumni COP School Batch 15 memulai pendataan. Pulau Hagar menyambut dengan deretan pohon bayur (Pterospermum bornease) yang menjulang dan ara (Ficus racemosa) yang buahnya menjadi santapan favorit satwa liar. Satu per satu pohon yang merupakan potensi sumber pakan diamati, ditandai menggunakan pita, dan dicatat jenisnya. Aktivitas ini mungkin tampak sederhana, namun di balik setiap data yang terkumpul tersimpan arti besar. Vegetasi bukan hanya pelengkap bagi kehidupan orangutan, melainkan fondasi yang menopang kelangsungan hidupnya. Keberadaan pohon pakan menjadi penentu utama apakah suatu hutan benar-benar bisa menjadi rumah bagi orangutan. Pepohonan boleh tumbuh rapat, namun tanpa sumber pakan yang cukup, orangutan takkan mampu hidup dan berkembang dengan baik di sana.
Pterospermum bornease) yang menjulang dan ara (Ficus racemosa) yang buahnya menjadi santapan favorit satwa liar. Satu per satu pohon yang merupakan potensi sumber pakan diamati, ditandai menggunakan pita, dan dicatat jenisnya. Aktivitas ini mungkin tampak sederhana, namun di balik setiap data yang terkumpul tersimpan arti besar. Vegetasi bukan hanya pelengkap bagi kehidupan orangutan, melainkan fondasi yang menopang kelangsungan hidupnya. Keberadaan pohon pakan menjadi penentu utama apakah suatu hutan benar-benar bisa menjadi rumah bagi orangutan. Pepohonan boleh tumbuh rapat, namun tanpa sumber pakan yang cukup, orangutan takkan mampu hidup dan berkembang dengan baik di sana. 

“Di Hagar, kami juga melihat langsung bagaimana Charlotte, salah satu orangutan di sini, memanfaatkan berbagai jenis tumbuhan untuk bertahan hidup,” tutur Ferryandi Saepurohman, kapten tim APE Guardian. “Mulai dari bayur (Pterospermum bornease), ara (Ficus racemosa), baran (Dracontomelon dao), bambu (Bambusa sp.), hingga kenanga (Cananga odorata). Bagian yang dimakan pun beragam, buah, bunga, daun, sampai kulit kayunya. Itu menunjukkan betapa pentingnya kekayaan vegetasi bagi orangutan.” 

Hari berikutnya, perjalanan membawa kami ke arah hilir, menuju pulau pra-pelepasliaran Lambeng. Perahu melaju tenang di permukaan sungai yang teduh, hingga akhirnya hamparan vegetasi pulau itu muncul di hadapan kami. Berbeda dengan di pulau Hagar, di pulau Lambeng pohon ara kembali mendominasi, berpadu dengan baran (Dracontomelon dao) yang batangnya kokoh dan buahnya lebat. Kombinasi ini menciptakan variasi pakan musiman yang berharga, memastikan orangutan memiliki pilihan makanan sepanjang tahun. 

Perbedaan dominasi pohon di kedua pulau ini menunjukkan betapa tiap habitat memiliki karakter uniknya sendiri. Di Hagar, keberadaan bayur yang menjulang memberi ruang berteduh sekaligus struktur hutan yang kokoh, sementara ara menyediakan buah sepanjang musim. Sedangkan di Lambeng, baran hadir sebagai tambahan penting yang memperkaya variasi sumber pakan. Perbedaan komposisi vegetasi ini menjadi penentu bagaimana orangutan beradaptasi terhadap masing-masing habitat, serta respon mereka terhadap pilihan sumber pakan yang tersedia.

Siang hari, dalam perjalanan pulang dari Lambeng menuju pos monitoring, kami mendapati sosok orangutan dewasa bertubuh besar sedang bersarang di pohon tepian sungai. Individu orangutan jantan, yang teridentifikasi bernama Munchan, muncul di sela dedaunan. Ia adalah individu hasil translokasi pada Januari 2024, kini tampak sehat dan lincah menjelajah wilayah barunya. Pertemuan itu menghadirkan rasa takjub, Munchan kini hidup dengan tenang, bersarang di tepian sungai yang asri dan jauh dari ancaman manusia, berbeda dengan lokasi asalnya yang rentan terhadap konflik antara orangutan dan manusia. 

Setiap pohon pakan yang kami catat adalah jejak harapan. Di hutan, pohon dan satwa tidak berdiri sendiri; mereka adalah simpul-simpul yang saling terkait dalam jaringan ekologi. Dan di tengah lembabnya udara sehabis hujan, naiknya permukaan sungai, serta kerja kecil yang dilakukan manusia, terbentang sebuah cerita besar tentang masa depan: bahwa menjaga satu pohon berarti menjaga banyak kehidupan bahwa melindungi satu orangutan berarti menjaga keseimbangan hutan. (RAF)

DULU, POPI MEMELUK MANUSIA, KINI MEMELUK PEPOHONAN

Kabut tipis masih menggantung di atas Sungai Atan, Kampung Long Lees, Busang, Kutai Timur, ketika deru mesin perahu mulai memecah keheningan pagi itu. Di atas perahu, sebuah kandang angkut berwarna jingga terikat rapi. Di dalamnya duduk orangutan betina berusia sembilan tahun bernama Popi. Hari itu, 10 Agustus 2025 bertepatan dengan Hari Konservasi Alam Nasional akan menjadi hari yang mengubah hidupnya selamanya. Dari kampung Long Lees, Popi berangkat menuju Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, sebuah rumah baru yang telah lama menunggunya.

Popi adalah salah individu yang paling populer di pusat rehabilitasi BORA. Ia diselamatkan ketika usianya belum genap satu bulan, saat giginya pun belum ada yang tumbuh. Pada September 2016, Popi dibawa ke BORA untuk memulai perjalanan panjang rehabilitasinya setelah sempat dipelihara warga dalam waktu yang singkat. Mungkin ia tidak memiliki sedikitpun memori tentang induknya, karena ia telah kehilangan induknya pada usia yang terlalu muda. Kehidupan tanpa induknya sejak sangat kecil membuatnya terkenal manja pada para animal keeper dan staf BORA. Ia sering mencari kenyamanan dari manusia, dan sempat ada keraguan apakah Popi benar-benar bisa mandiri di alam liar suatu hari nanti.

Tetapi tahun-tahun panjang rehabilitasi dari sekolah hutan hingga pra-rilis di pulau, mengubah segalanya. Perlahan, insting liarnya tumbuh kembali. Data sekolah hutan menunjukkan bahwa Popi sering mengonsumsi variasi pakan alami lebih beragam dibandingkan orangutan lain. Di pulau pra-pelepasliaran, ia terbukti mampu bertahan hidup 24/7 selama beberapa bulan, beradaptasi dengan habitat liar tanpa lagi bisa berlindung di bawah naungan atap kandang.

Perjalanan menuju lokasi pelepasliaran ini bukan sekadar memindahkan Popi, ini adalah langkah mengembalikannya pada rumah sejatinya, habitat hutan yang masih terjaga, yang mampu menopang keberlangsungan hidupnya dengan baik. Bersama tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Kelinjau, COP (Centre for Orangutan Protection), dan TOP (the Orangutan Project), Popi menempuh sekitar 10 jam perjalanan darat dari Berau dan 3 jam perjalanan sungai dari Long Lees untuk menuju Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, salah satu benteng terakhir keanekaragaman hayati di Kalimantan Timur.

Saat pintu kandang akhirnya dibuka, Popi bergegas keluar tanpa ragu, Ia melangkah keluar dengan penuh semangat, lalu memanjat pohon pertama yang dilihatnya. Gerakannya seakan menuliskan episode baru dalam cerita panjang perjalanan hidupnya, orangutan tanpa induk yang akhirnya pulang. Di pohon itu, Popi langsung menemukan buah balangkasua atau disebut juga ginalun (Lepisanthes alata), kumpulan buah berwarna merah keunguan mirip seperti anggur, ia kemudian menyantapnya dengan lahap.

Tim post-release monitoring (PRM) dari APE Guardian COP mengamati perilaku Popi dari kejauhan. Semua keraguan lama kini terbantahkan. Popi bergerak aktif, mencari buah-buahan hutan, mengunyah kulit liana, memakan daun muda, minum air sungai, hingga “pesta panen” di pohon sengkuang/dahu (Dracontomelon dao) yang sedang berbuah lebat. Popi bukan lagi anak manja yang selalu mencari perhatian manusia. Ia kini orangutan muda dengan naluri liar yang sudah terbentuk kembali.

Hari kedua monitoring membawa kejutan. Dari atas kepala kami, sekitar sepuluh meter dari permuakaan tanah, muncul suara pergerakan kanopi pohon, tampak pula siluet orangutan.

“Itu Popi bukan?”, tanya Yusuf, asisten lapangan APE Guardian.

Kami ragu, karena Popi sebelumnya sudah menyeberang sungai melalui liana yang melintang dari pohon ke pohon melintasi sungai. Tidak lama kemudian wajahnya yang terasa familiar terlihat jelas, memori segera menyeruak, itu adalah Bonti.

Bonti adalah teman sekandang Popi saat di BORA, yang lebih dahulu dilepasliarkan pada Januari 2025. Dari kanopi pohon, ia tampak memperhatikan Popi yang berada di atas pohon seberang sungai selebar kurang lebih 6 meter. Beberapa menit setelah memperhatikan dari seberang, Bonti memberanikan diri menyeberang sungai melalui liana, mendekati Popi yang sedang mencari makan.

Pertemuan itu seperti reuni teman lama. Bonti mengejar Popi layaknya saat mereka masih bersama di sekolah hutan. Beberapa lama setelah momen itu, Popi menjelajah lebih jauh ke dalam hutan. Gerakannya cepat, daya jelajahnya tak terkejar oleh tim PRM, hingga akhirnya ia menghilang dari pantauan tim PRM yang kewalahan menembus rapatnya vegetasi.

Kini Popi benar-benar bebas. Ia hidup di ekosistem Busang yang kaya akan sumber pakan, jauh dari ancaman aktivitas manusia. Pada Hari Konservasi Alam Nasional, kebebasan Popi menjadi lebih dari sekadar kisah individu. Ia adalah simbol dengan cerita uniknya, yang suatu hari nanti akan mendapat kesempatan yang sama, kembali ke rumah sejati mereka, hutan Kalimantan. (RAF)

SUARA UNIK DARI HUTAN LINDUNG GUNUNG BATU MESANGAT

Malam turun perlahan di Hutan Lindung (HL) Gunung Batu Mesangat, Kalimantan Timur. Kabut tipis pepohonan tinggi dan suara serangga mulai menggema dari segala arah. Di tengah gelap dan rimbanya hutan, dua sosok berjalan perlahan menyusuri jalur anakan sungai. Mereka adalah asisten lapangan tim APE Guardian COP yang sedang melakukan pengamatan herpetofauna di kawasan pelepasliaran Busang. Berbekal senter kepala yang terpasang di dahi, “Inilah waktu terbaik untuk mencari katak. Tapi, kenapa di sini sekarang sepi, ya?”, kata Angka Wijaya sambil menyorot semak di aliran sungai kecil.

Lalu, tiba-tiba…, “Dengar itu”, bisik Angka lagi. Suara unik terdengar, ‘prrrt-prrrt’, berasal dari batang pohon mati yang berada di permukaan sungai kecil.
“Bang, itu dia suara katak tutul”, ucap Luthfi.
Mereka mendekat perlahan, melangkah di genangan air beralaskan lumpur. Seekor katak kecil tengah duduk diam, asyik berbunyi. Tapi ini bukan katak biasa, tubuhnya gelap mengilap dengan pola kuning terang di punggung dan kaki, seperti lukisan abstrak di atas kulit cahaya malam.

“Astaga Luthfi, ini Pulchrana picturata! Siapkan kamera, kita ambil momen videonya!”, seru Angka.
Mereka segera mengambil foto dan merekam suara panggilan si katak mungil itu. Bagi Angka dan Luthfi, ini adalah rekaman video pertama Pultchrana picturata di kawasan HL Gunung Batu Mesangat.
“Katak ini indikator ekosistem yang sehat. Kalau dia ada di sini, artinya hutan ini masih punya harapan”. (ENG)

RANGER BUSANG IKUT COP SCHOOL BATCH 15

Saya, Dedi Awan yang untuk pertama kalinya terbang di atas awan dan melihat awan berada di bawah. Keseharian saya sebagai ranger di Tim APE Guardian menyeberangkan saya ke pulau Jawa, pulau terpadat di Indonesia. Ini juga pengalaman pertama saya naik burung besi, takut bercampur penasaran membuat saya tak ingin melewatkan kesempatan menikmati awan. Ternyata tanah Kalimantan begitu banyak lukanya, tambang-tambang itu menjadi terlihat jelas dari atas. Hutan dan perkebunan kelapa sawit itu ternyata tampak jelas perbedaannya.

Sejujurnya tidak mudah untuk bisa ikut kegiatan COP School. Tugas-tugas yang diberikan nyaris mengorbankan waktu kerja saya sebagai ranger di kawasan pelepasliaran orangutan di Busang, kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Mulai dari topik animal welfare, kebun binatang, perdagangan satwa liar, pasar burung, hingga cyber campaign. Dari 69 peserta yang mendaftar COP School Batch 15 akhirnya yang lolos 43 orang, dan puji Tuhan, saya termasuk di antaranya.

Mengikuti kegiatan COP School selama seminggu sangat seru dan menyenangkan. Saya mendapat banyak teman baru, ilmu baru dari para pemateri maupun dari sesama peserta. Kami saling berbagi cerita dan pengalaman tentang konservasi orangutan dan satwa lainnya. Ini adalah pengalaman paling berharga bagi saya, sekaligus menjadi pendorong untuk terus berkembang dan semakin giat dalam memperdalam ilmu tentang konservasi orangutan serta satwa liar lainnya, baik yang dilindungi maupun yang belum dilindungi. “Semua ini menjadi motivator besar bagi saya untuk terus belajar dan berkembang, karena saya sudah terlanjur mencintai dunia konservasi, rasanya sayang jika kesempatan yang diberikan ini disia-siakan. Selama masih ada kesempatan yang diberikan kepada saya, saya akan berusaha memanfaatkannya sebaik mungkin, karena inilah peluang emas untuk mengembangkan pengetahuan dan kontribusikan saya di dunia konservasi”, tutup Dedi, si penjaga Ekosistem Busang. (DED)

SARANG BARU INI MILIK SIAPA YA?

Pertengahan tahun 2025 menjadi bulan-bulan yang cukup mencekam di Busang. Bagaimana tidak, setiap hari hujan mengguyur dengan deras, air sungai naik dan angin kencang menyertai hari-hari tim APE Guardian di Pos Monitoring Orangutan. Pada tanggal 27 Juni yang bertepatan dengan hari Jumat, akhirnya matahari menampakkan sinarnya, setelah seminggu penuh langit diselimuti awan hitam. Tim APE Guardian akhirnya bisa sedikit leluasa untuk melakukan patroli rutin di kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat. Paagi hari ditemani cuaca yang cerah, ranger bersiap dengan peralatannya, siap tempur untuk patroli.

Sebelum semakin panas, kami berangkat menyusuri Sungai Menyuq menggunakan perahu, kami pun bergerak sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mengecek kembali temuan-temuan sarang lama yang pernah kami jumpai. Setelah kurang lebih 30 menit , tim menjumpai sebuah sarang kelas 2, terlihat dari bagian daunnya yang masih hijau. Tim berhenti sebentar dan mendekat ke pohon dimana terdapat sarang. “Wah ada orangutan bang di atas”, ucap Nigo, salah satu ranger APE Guardian. Tak disangka, dari balik dedaunan yang rimbun tersebut kami menjumpai individu orangutan liar induk dan anak yang sedang memakan buah Dracontomelon dao atau orang lokal menyebutnya buah baran.

Selayaknya seorang ibu, induk orangutan sangat sensitif apabila ada gangguan yang dirasa bisa mengancam anaknya. Ketika kami mencoba semakin mendekat ke arah pohon yang mereka tempati, sang induk mengeluarkan kiss-squeak dan mematahkan ranting-ranting pohon. “Awas Igo!”, teriak Yusuf anggota tim APE Guardian yang lain, karena orangutan tersebut melemparkan ranting pohon yang cukup besar dan hampir mengenai badan. Supaya kondisi orangutan tidak terganggu, tim perlahan melangkah mundur ke perahu dan mengamati dari kejauhan.

Kurang lebih 20 menit telah berlalu, induk orangutan dan anak teramati masuk kembali ke dalam Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat. Sangat senang rasanya berjumpa dengan orangutan di kawasan pelepasliaran ini dengan kondisi yang baik. Tim APE Guardian bertekad untuk menjaga salah satu rumah yang tersisa bagi orangutan untuk tetap hidup dan lestari. (YUS)