Orangufriends

HARI ANAK NASIONAL 2022: ANAK TERLINDUNGI, HEWAN TIDAK TERSAKITI

Momen esensial bagi anak-anak di seluruh Indonesia tahun 2022 ini mengusung tema “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”. Namun naas, perayaan hari anak yang jatuh setiap tanggal 23 Juli ini tidak berlaku dan bertolak belakang dengan anak berusia 11 tahun di Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya yang menjadi korban bullying dimana ia sebagai korban dipaksa untuk memperkosa seekor kucing hingga kucingnya mati. Videonya pun tersebar ke jagat maya hingga akhirnya korban meninggal dunia.

“Prilaku abnormal pelaku bullying atau perundungan yang menyebabkan kematian pada kedua korban ini sangat memprihatinkan. Kami yakin, bullying dapat dihentikan dengan mengajarkan anak untuk menerapkan prinsip animal welfare. Edukasi tentang kesejahteraan satwa sejak dini dapat menumbuhkan rasa empati anak untuk sayang terhadap binatang dan makhluk hidup”, ucap Satria Wardhana, kapten APE Warrior COP.

Lima prinsip animal welfare yakni bebas dari rasa lapar dan haus, bebas dari rasa tidak nyaman, bebas dari rasa sakit, luka dan penyakit, bebas mengekspresikan perilaku normal, bebas dari rasa stres dan tertekan. Jika lima prinsip ini ditumbuhkan dengan baik kepada anak, maka anak akan terbiasa untuk memenuhi prinsip kebebasan kepada siapa pun tanpa terkecuali. Prinsip kebebasan yang diajarkan dalam animal welfare ini dapat menghindarkan anak dari dampak negatif yang timbul di sekitarnya sekecil mungkin. Selain rasa empati anak yang akan semakin tinggi, kepekaan anak akan tumbuh dengan natural sehingga sang anak akan menjadi sosok penyelamat bagi makhluk hidup yang mungkin mendapatkan intimidasi dari pelaku yang tidak bertanggung jawab. “Kejadian di Tasikmalaya ini harusnya menjadi pelajaran bagi orangtua untuk lebih peka terhadap situasi dan kondisi anaknya. Pelaku bullying harus diproses hukum untuk menegakkan keadilan dengan instrumen hukum yang berlaku di Indonesia. Say NO to bullying! Anak Terlindungi, Hewan Tidak Tersakiti”, tegas Satria lagi. (SAT)

KEMATIAN BURUNG KERAK KERBAU DI JALANAN

Minggu kedua Juli, tim APE Crusader bertugas di daerah Bengalon, Kutai Timur, Kalimantan Timur. Tak sengaja, dalam perjalanan tersebut tim menjumpai burung Kerak Kerbau atau Acridotheres javanicus tergeletak di jalan poros Perdau-Sangkulirang. Kerak kerbau ini merupakan satwa yang dengan habitat alami di Jawa dan Bali tetapi saat ini sudah diintroduksi berbagai daerah seperti Kalimantan, Sumatra dan Sulawesi sehingga mengakibatkan burung ini menjadi invasif di lokasi introduksinya. Padahal di habitat alaminya yaitu pulau Jawa dan Bali sudah sulit dijumpai melainkan sudah banyak pindah ke sangkar-sangkar ‘pehobi’ burung peliharaan.

Sialnya, sudah dibawa keluar dari habitat alaminya ditambah bernasib naas. Walaupun umur burung ini bisa mencapai 3,9 tahun tetapi nasib burung ini bisa lebih cepat lagi untuk mati. Seperti yang kami jumpai pada 8 Juli yang lalu, dia mati karena tertabrak kendaraan. 

“Seberapa seringkah kematian satwa liar di jalan raya? Bagaimanakah status hukum penyebab hilangnya nyawa satwa liar? Benarkah ini karena kesalahan satwa liar tersebut yang katanya kehilangan insting atau dalam kondisi sakit sebelumnya? Ataukah ini adalah tanggung jawab kita bersama? Pengguna jalan bahkan pembuat hingga perencana jalan yang melintasi habitat satwa liar atau hutan? Apakah Indonesia akan mulai memperhatikan nyawa satwa liar yang mati sia-sia ini dalam waktu dekat?”, Hilman, anggota termuda APE Crusader pun mulai mencoba membuat mind map kasus ini. “Semoga…”. (HIL)

VIRAL KARYAWAN KEBUN BINATANG DENGAN ORANGUTAN

Belum lama sejak viralnya seorang pengunjung kebun binatang yang diserang orangutan karena diketahui bersama, ia terbukti salah dan sengaja membuat konten media sosial dengan melanggar peraturan yang ada yaitu mendekati kandang dan orangutan yang berada di dalam kandang menariknya.

Baru-baru ini terjadi lagi kasus yang sama. Kali ini terjadi di Serulingmas Zoo yang berada di Purbalingga, Jawa Tengah. Dalam video yang berdurasi kurang lebih 20 detik, nampak karyawan pria itu berjoget tiktok dan tidak memperdulikan keselamatan diri di depan kandang orangutan. Bahkan tak sekali tangan orangutan menjulur keluar dan memegangi badan maupun kepala karyawan tersebut.

Kasus seperti ini tidak hanya sekali terjadi di Kebun Binatang Serulingmas. Jika ditelusuri lewat akun jejaring sosial karyawan tersebut. Nampak beberapa unggahan yang memperlihatkan prilaku karyawan kebun binatang yang tidak aman ditujukan ke satwanya. Belum lagi dengan kasus perawat satwa yang meninggal karena diterkam harimau, juga satwa gajah meninggal tersengat arus listrik.

Hal tersebut dapat memberikan gambaran bahwa terdapat permasalahan manajemen kebun binatang yang tidak terselesaikan. Baik dalam edukasi karyawan hingga ke perawatan satwanya. Walaupun dalam kasus ini karyawan dan pihak Serulingmas Zoo sudah mengklarifikasi dengan meminta maaf, kesalahan ini segera dievaluasi menyeluruh agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti sebelum-sebelumnya. 

“Orangutan adalah satwa liar. Kami di pusat rehabilitasi saja selalu menjaga jarak sekalipun orangutan tersebut kami rawat sejak bayi. Karena kemampuan atau kekuatan orangutan tersebut bisa 5-8 kali kekuatan manusia terlatih pada usia tersebut. Mari bijak menjadi pengunjung dan tetap waspada pada satwa liar!”, himbau Satria Wardhana, kapten APE Warrior COP. (SAT)

ADA APE SENTINEL DI SUMUT SELAMA SETAHUN INI

Waktu begitu cepat berlalu, ternyata tim termuda Centre for Orangutan Protection telah satu tahun ini berkantor di Medan, Sumatra Utara. “Kalau berkegiatan, COP sudah ada di pulau Sumatra sejak tahun 2011. Keberadaan COP di Sumatra diawali Sumatran Mission 2011 yang didukung para relawannya, menyusuri ujung Selatan pulau Sumatra hingga paling Barat membantu satwa yang membutuhkan pertolongan tak terkecuali yang berada di kebun binatang”, ujar Daniek Hendarto, direktur COP. 

Keberadaan Sumatran Rescue Alliance (SRA) sebagai Pusat Konservasi Orangutan dan Primata Lainnya serta Beruang melahirkan tim termuda yang disebut APE Sentinel. APE Sentinel mengawali perjalanan perdananya sejak menyeberang pulau Jawa. Di Lampung, APE Sentinel berhasil menyelamatkan satwa liar yang di perdagangkan. Awal yang luar biasa yang tentu saja didukung para relawan orangutan.

Setiap provinsi yang memiliki kebun binatang tak luput dari zoo check. Sebuah penilaian dengan dasar 5 kebebasan satwa yang membicarakan satwa liar harus sejahtera sekalipun di balik jeruji. Kebun Binatang Sawahlunto di masa pandemi COVID-19 mengalami kesulitan memberi makan satwanya. APE Sentinel hadir untuk membantu pemberian pakannya. Setiap minggu, para Orangufriends Padang membeli dan mengantarkan pakan untuk tiga orangutan di sana.

Perdagangan kulit trenggiling pun berhasil tim ini ungkap bersama organisasi lain di Sumatra. “Bekerja bersama adalah kunci dari konservasi. Pola kerja di Sumatra yang unik sedikit banyaknya membawa warna tersendiri untuk APE Sentinel. Tapi kami yakin, kita semua bekerja untuk satwa yang membutuhkan”, ungkap Daniek lagi.

Terimakasih Orangufriends di Sumatra yang telah mendukung penuh tim ini. Tim yang hanya beranggotakan tiga orang ini tidak akan mungkin bisa bekerja maksimal tanpa dukungan Orangufriends. Selanjutnya, apalagi ya kegiatan APE Sentinel? Cari tahu yuk!

ENRICHMENT PERTAMA UNTUK ORANGUTAN AMIL

Masih ingat orangutan yang diselamatkan dari pulau Madura? Benar, orangutan Amil saat ini masih berada di WRC (Wildlife Rescue Centre) Yogyakarta. Dari pemeriksaan DNA nya, Amil adalah Orangutan Sumatra. Amil yang rencananya akan dikirim ke BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) sebuah pusat rehabilitasi orangutan yang berada di Berau, Kaltim harus berbalik arah karena asal-usul Amil yang dari Sumatra. Tentu saja tim APE Warrior siap mengantarkan Amil kemana saja. “Kami berharap, Amil bisa dikirim ke SRA (Sumatran Rescue Alliance) yang dikelola oleh COP bersama OIC dibawah BBKSDA Sumut yang berada di Besitang, Sumatra Utara”, ujar Satria Wardhana, kapten APE Warrior.

Sejak Maret 2022, COP dengan dukungan dari The Orangutan Project (TOP) mendanai biaya hidup orangutan Amil di WRC. Kali ini tim dibantu Orangufriends Yogya mampir ke Pasar Gamping untuk mengambil buah-buahan yang akan dikemas dalam bentuk enrichment untuk Amil. Ada nanas, kelapa, semangka, pisang, pepaya dan semangka, tak lupa madu sebagai substansi makanan yang biasanya sangat disukai orangutan.

Enrichment ini bertujuan untuk meningkatkan dan juga merangsang psikologis termasuk mempromosikan kegiatan baru pada satwa untuk mengatasi kebosanan, menyediakan peluang akan kontrol atas lingkungan satwa pada habitatnya maupun menumbuhkan kemampuan fisik serta motorik dari orangutan Amil yang seumur hidupnya berada di dalam kandang dengan perawatan terbatas. 

Batang pisang dibelah menjadi dua kemudian dilubangi berbentuk persegi panjang lalu diisi berbagai buah-buahan yang telah dipotong-potong menjadi dadu yang tidak lupa ditambahkan dedaunan berupa daun petai cina juga tetesan madu sebagai daya tarik yang sangat disukai orangutan. 

“Memperhatikan orangutan menyelesaikan enrichment merupakan daya tarik tersendiri bagi relawan orangutan. Setiap orangutan punya cara tersendiri untuk mendapatkan makanannya. Kami berharap enrichment merupakan cara berkelanjutan untuk orangutan Amil menuju perilaku alaminya”, ujar Zain Nabil, COP Academy batch 1. (Zein_COPAcademy)

JANGAN MAU DIBODOHI TENTANG EKSPLOITASI SATWA!

Seiring berjalannya waktu, kita melihat banyak kasus eksploitasi satwa baik yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Eksploitasi satwa tidak melulu menampilkan kekejaman terhadap satwa, namun juga berbentuk sarana hiburan untuk masyarakat. Tidak jarang, konten eksplotasi satwa bertebaran di media sosial dengan mengatasnamakan ‘edukasi’ oleh para influencer, sehingga masyarakat tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi dengan konteks eksploitasi satwa sesungguhnya.

Konten yang menampilkan kekerasan dibalut hiburan pada awal Februari 2021 di Karawang, Jawa Barat yaitu lomba dan gathering pecinta primata. Kegiatan lomba ini diselenggarakan oleh 3 komunitas yang bernama ‘pecinta primata’. Ada lomba kontes monyet dengan pemilik di facebook dan puncaknya adalah acara fashion show monyet. “Dengan bantuan para relawan COP (Orangufriends) dan tentunya netizen (warga media sosial), acara tersebut yang rencananya digelar di pusat keramaian di kota Karawang, batal”, kata Satria Wardhana, kapten APE Warrior COP.

Sayangnya, baru-baru ini eksploitasi satwa liar berjenis primata dengan kedok acara community gathering berjalan dengan mulus. Diduga kuat kegiatan ini dilakukan oleh salah satu oknum yang sama dengan kasus tahun lalu. Mereka mengatasnamakan komunitasnya Paguyuban Monyet Bekasi. Dimana pada hari itu dilakukan talkshow dengan tema “Pengenalan dan cara merawat satwa asli Indonesia”, bersamaan dengan adanya rangkaian agenda di festival Summer in Jungle. Acara yang digagas oleh komunitas Paguyuban Monyet Bekasi ini digelar di dalam Mall Pesona Square, Depok, Jawa Barat.

Pembodohan publik oleh komunitas yang mengatasnamakan pecinta satwa sangat jamak untuk menarik perhatian masyarakat yang belum mengetahui konsep eksploitasi satwa sepenuhnya. “Masyarakat punya kontrol kuat untuk ini. Seperti yang pernah dilakukan netizen untuk acara di Karawang tahun lalu. Informasi kegiatan-kegiatan seperti ini sangat berarti sekali untuk kehidupan yang lebih baik satwa liar yang ada. Kepedulian kamu bisa menyelamatkan nyawa ratusan bahkan ribuan satwa liar lainnya. Satwa liar, di hutan aja”, tegas Satria lagi. (SAT)

BERUANG MADU FICO OPERASI CABUT GIGI

Beruang madu Fico menjalani operasi pencabutan taring atas sebelah kanan. MCU Fico pada 11 Maret yang lalu ditemukan trauma pada taring beruag madu jantan yang dievakuasi dari pulau Madura. “Pertanyaan tim penyelamatan akhirnya terjawab, kenapa ada luka pada moncong Fico. Perilaku Fico yang selalu mengaruk dan terlihat tidak nyaman pada bagian mulut kanannya. Ternyata, gigi taringnya dipotong dan ini menyebabkan infeksi”, ujar Satria Wardhana, kapten APE Warrior COP. Karena keterbatasan fasilitas maka operasi pencabutan gigi dijadwalkan dan ditangani drh Randy dari Gembiraloka Zoo dan drh. Aji dari Klinik Djio Yogyakarta yang punya pengalaman di bidang dentis hewan.

Kondisi taring yang sudah pecah dan rapuh dengan kedalaman akar taring yang dalam sekitar 8 cm membuat tim medis bekerja ekstra. Operasi berjalan selama empat jam. “Taring yang pecah ternyata berongga atau berlubang juga cukup lebar dan dalam, penuh dengan kotoran karang gigi dan sisa makanan. Selain itu traumanya juga hampir menembus bagian wajah beruang”, jelas Satria dengan prihatin. 

Setelah dipastikan seluruh taring tercabut, kemudian tim medis membersihkan semua karang gigi dan lubang bekas taring dijahit. Akibat adanya trauma pada taring ini membuat ada perubahan pada ginjal dan gula darah Fico yang tinggi. Jika ini tidak dihentikan dikawatirkan akan berpengaruh pada organ tubuh beruang madu.

Tim medis WRC (Wildlife Rescue Center) Jogja akan melakukan pengawasan paska operasi hingga 5-7 hari ke depan, terutama asupan pakan yang harus dimakan beruang. “COP berharap tidak ada beruang madu yang bernasib seperti Fico. Taring dipotong hingga mengalami infeksi untuk mempermudah perawatannya. Beruang madu biarlah di hutan saja, menjalankan perannya dan menjaga ekosistem. Semoga Fico bisa bertahan”, kata Satria. (DAN)

INTERNATIONAL WOMEN DAY 2022

Ada banyak perempuan yang bekerja langsung untuk orangutan. Ada 15 perempuan yang bekerja di Centre for Orangutan Protection, yang berarti sepertiga dari total yang bekerja di COP. Kalau dihitung dengan relawannya (Orangufriends) lebih dari seratus perempuan. Sebenarnya, COP tidak pernah menghitung berapa perempuan yang terlibat dalam perlindungan orangutan. Hanya karena peringatan International Women Day, mendadak COP menanyakan jumlah perempuan tersebut. Bukan karena tidak menghargai. Tapi memang karena tidak pernah membedakan peran perempuan dan laki-laki. Perempuan ya angkat kandang juga, menyetir bahkan memimpin tim. COP melihat kemampuan setiap individu, seperti COP melihat orangutan sebagai pribadi yang unik.

Setiap perempuan di COP memiliki peran penting. Lagi-lagi, sebenarnya bukan karena perempuannya, tapi karena setiap orang yang bergabung di COP, baik itu karyawan atau relawan memiliki peran penting. Kesulitan bekerja di hutan atau area yang sangat serba terbatas juga tidak hanya menyulitkan perempuan, tapi laki-laki pun. Sebut saja, hutan dengan sinyal internet atau telepon terbatas. Siapapun akan kesulitan. Atau terbatasnya air bersih, siapapun akan  mengeluh.

Tapi, perempuan yang bekerja di dunia konservasi dapat dikatakan perempuan yang tangguh. Perempuan-perempuan ini lebih tepatnya dapat membuktikan diri, bahwa berada di tengah laki-laki untuk berkarya. Kecintaan perempuan-perempuan di COP adalah untuk menolong satwa. Tak terkecuali, hewan yang membutuhkan pertolongan saat bencana alam terjadi. 

#BreakTheBias Ketika ada ucapan, ‘kamu kan perempuan, duduk saja”, atau “perempuan masak saja deh”. Di COP bahkan masakan laki-lakinya jauh lebih enak. Begitulah perempuan di COP, yang harus merenung saat IWD 2022 tiba. “Kami masih harus berjuang agar orang luar, masyarakat luas bisa melihat perempuan di COP sebagai individu dengan kemampuan dan karyanya.

SDN 015 SONTANG, RAMAH HARIMAU!

Ada tim APE Guardian di Sontang-Cubadak. APE Guardian bersama Orangufriends Padang mengunjungi Sekolah Dasar 015 Sontang. Pandemi COVID-19 katanya memberi dampak semangat dan minat belajar anak berkurang. Besar harapan pihak sekolah terhadap kegiatan edukasi ini, ke depan nya tim akan menggunakan metode variatif lainnya. 

Senin pagi, tim telah bersiap untuk “school visit”. “Ada dua grup, yang pertama kelas 1,2 dan 3. Dan grup ke-2 tentunya untuk anak-anak yang duduk di kelas 4, 5, 6. Awalnya, kita perkenalan dulu”, ujar Novi Rovika, relawan COP yang tidak pernah absen di Sumatra Barat.

Pengenalan aneka ragam satwa liar menjadi materi pembuka. Memasuki materi satwa liar dilindungi, anak-anak semakin antusias. Selanjutnya, anak-anak diajak untuk memahami pentingnya menjaga hutan dan lingkungannya. Yang paling seru, tentu saja saat permainan. “Gak cuman anak-anak yang senang, kita bahkan guru-guru yang memperhatikan kami dari jauh juga ikut senang”, ujar Iqbal Rivai, kapten APE Guardian. 

APE Guardian dengan dukungan International Tiger Project sejak bulan Februari 2022 bekerja di Nagari Sontang-Cubadak, Sumatra Barat. Nagari Ramah Harimau, begitulah harapannya. Hidup berdampingan dengan satwa liar. (BAL)

MENJEMPUT ORANGUTAN DI SUMENEP (3)

Setiap satu jam sekali, tim berhenti di rest area. Mengecek kondisi satwa adalah SOP (Standar Operasional Prosedur) Centre for Orangutan Protection saat membawa satwa. Tim pun memanfaatkan waktu tersebut untuk istirahat sejenak atau sekedar ke toilet. “Sepertinya makanan yang ada di dalam kandang angkut telah habis. Panasnya matahari juga dikawatirkan membuat satwa dehidrasi. Tim membeli madu dan memberikan keduanya dengan bantuan ranting. Sepertinya kita harus melewati waktu sarapan kita”, kata Satria Wardhana, kapten APE Warrior. Tatapan orangutan Jodet adalah hiburan satu-satunya. Semangat untuk sampai tujuan.

Gerimis menyambut tim APE Warrior di WRC Jogja. Usai tarik nafas dan mengumpulkan nyawa (istilah bagi yang baru saja bangun tidur), tim bersiap untuk memindahkan orangutan dan beruang madu yang berada di kandang angkut ke kandang karantina. Seminggu ke depan, keduanya akan menjalani masa karantina. Selama masa ini, orangutan maupun beruang akan diamati perilaku dan pola makannya. Selanjutnya pemeriksaan kesehatan umum dan beberapa kebutuhan lainnya sebagai persyaratan penerbangan. 

Untungnya, relawan orangutan (Orangufriends) Yogya sudah siap membantu. Tenaga yang tersisa berganti dengan tenaga relawan yang baru. Kandang angkut kosong saja memiliki berat 25-35 kg. Belum ketambahan beratnya beruang madu Fico sekitar 60 kg. Alhasil setiap 50 meter menuju kandang karantina, Orangufriends dan perawat satwa WRC berhenti untuk mengumpulkan kekuatan. Gerimis semakin membuat licin jalan juga, tapi semuanya terbalas ketika pintu kandang angkut dibuka.

Beruang madu butuh waktu sesaat untuk keluar dari kandang angkut. Tetesan hujan deras membuatnya langsung aktif. Beruang mulai mengeksplor kandang barunya. Menjulurkan lidahnya seolah-olah mengapai tetesan air hujan. Tak jauh berbeda dengan orangutan Jodet. Jodet langsung keluar dari kandang dan… langsung memanjat jeruji kandang. Bergelantungan di hammock, berkeliling dan memandang orang-orang yang berada di sekitarnya. Jodet juga mencoba ban mobil bekas yang menjadi enrichment kandang. Dengan mulut terbuka, dia memainkan, mengangkat ban dan menggulingkan ban tersebut. 

Rehabilitasi Jodet bukanlah hal yang mudah. Tapi Centre for Orangutan Protection tetap optimis. Kesempatan kedua untuk bisa liar dan kembali ke habitatnya adalah yang terbaik untuk satwa liar yang tak beruntung. Jalan itu masih panjang, minggu depan masih harus MCU (Medical Check Up) dan menunggu hasilnya sekitar dua minggu setelahnya. Jika bagus, Orangutan Jodet akan melalui perjalanan udara yang panjang lagi. Yogyakarta ke Jakarta dan lanjut ke Tarakan. Dari Tarakan akan melalui jalur laut dan dilanjut jalur darat sekitar 2 jam. Masuk kandang karantina di Bornean Orangutan Rescue Alliance yang baru. Jika lolos tahapan itu, tiga bulan kemudian baru Jodet bisa mengikuti sekolah hutan.