Orangufriends

PEKAN PEDULI ORANGUTAN DI ISTANA MAIMUN MEDAN

Orangutan Caring Week atau Pekan Peduli Orangutan merupakan waktu yang didedikasikan untuk mengajak semua orang agar peduli terhadap orangutan dan terutama untuk membantu mendukung semua orang, kelompok dan organisasi untuk keberlangsungan hidup orangutan. Tim APE Sentinel bersama Orangufriends Medan mengadakan lomba mewarnai yang diikuti murid SD mulai kelas 1 sampai 6.

Ada 29 peserta dari kategori kecil (kelas 1-3) dan 21 peserta untuk kategori besar (kelas 4-6). Setiap kategori menghasilkan tiga orang pemenang. Para peserta sangat antusias dalam mengikuti lomba 1 jam ini. Usai mengikuti lomba, sambil menunggu proses penjurian dan seleksi pemenang, para peserta mengikuti kegiatan mendongeng yang disampaikan kak Mahdiyyah. Kebetulan pada setiap tanggal 28 November diperingati sebagai Hari Dongeng Nasional yang merupakan tanggal kelahiran Pak Raden yang dianggap sebagai tokoh yang telah berjasa menghidupkan dunia dongeng anak di Indonesia. Hingga saat ini Orangufriends sering menggunakan metode mendongeng untuk menyampaikan materi konservasi orangutan pada anak-anak. Tak terasa 30 menit pun berlalu.

Sementara untuk para pengunjung Istana Maimun dan pengantar peserta lomba dapat menikmati pameran foto yang diselenggarakan di halaman terbuka. Semoga dengan diadakannya kegiatan ini semakin banyak orang yang tahu dan peduli terhadap orangutan karena semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk dapat menjadi pahlawan bagi orangutan. Seperti tema Orangutan Caring Week 2022 ini yaitu “Orangutan Superheroes don’t wear a capes”. (DIT)

SELAMATKAN SECEPATNYA, SEBELUM TERLAMBAT

COP mendapat laporan dari masyarakat Tegalwaru, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta bahwa ada satwa liar yang masuk ke dalam pekarangan rumah yang hampir memakan ternak milik warga setempat. Tak menunggu lama setelah menerima laporan, tim respon cepat APE Warrior dibantu dua COP School Batch 12 bergegas menuju lokasi untuk mengamankan satwa liar jenis Reticulated python atau Malayopython reticulatus (Yellow variant) sepanjang 2,5 meter berjumlah satu ekor dan kemudian dibawa untuk diobservasi.

Setelah observasi dilakukan selama 1×24 jam, ular tersebut menunjukkan kondisi yang baik. Kondisisinya sehat, gesit, liar serta tidak menunjukkan tanda-tanda luka pada sekujur tubuhnya. Pada hari berikutnya, Senin, 7 November 2022, tim membuka komunikasi dengan salah satu pengurus Kawasan Studi dan Konservasi Burung Hantu (Tyto alba) di Dusun Cancangan, Yogyakarta untuk mencari lokasi soft rilis satwa tersebut. 

“Karena jika ular jenis ini tidak segera diamankan selain berpotensi menyebabkan konflik berkepanjangan di masyarakat, juga berpotensi terbunuh karena anggapan sebagai hama. Bisa juga tereksploitasi kulitnya, dijadikan obat tradisional bahkan dijual menjadi peliharaan sehingga mempercepat kepunahan yang akan berdampak pada ketidakseimbangan ekosistem dan penurunan nilai ekologi yang akan menyebabkan bencana alami berkepanjangan bagi manusia. Jika ada satwa liar yang masuk ke dalam pemukiman, apupun jenisnya, jangan panik, jangan dibunuh dan jangan dilukai. Hubungilah tim Animal Rescue di kota Anda atau institusi seperti BKSDA maupun Damkar”, kata Satria Wardhana, kapten APE Warrior.

Urban Wildlife Conflict atau konflik satwa liar perkotaan sangatlah sering dijumpai bagi mereka yang tinggal dekat dengan rawa, hutan, bukit, persawahan, danau, sungai, pantai, gambut maupun pegungungan yang berpotensi mempunyai nilai ataupun komoditas yang menghasilkan ekonomi. Urban Wildlife Conflict adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan hewan yang telah menyesuaikan gaya hidup mereka untuk tinggal di kota dan daerah pinggiran kota. Terlepas dari upaya awal manusia untuk membersihkan kota dari satwa liar, mereka akhirnya kembali dan berbaur dengan kehidupan perkotaan dengan sangat mulus. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh keputusan orang-orang di kemudian hari untuk menanam pohon, membangun taman dan meningkatkan kebersihan umum di kota untuk manfaat kesehatan dan ekonomi yang tidak mengejutkan bagi manusia itu sendiri. (SAT)

MELESTARIKAN MERAK HIJAU DI AFRIKANYA INDONESIA

Pelepasliaran 8 Merak Hijau atau Pavo muticus yang berasal dari Yogyakarta berlangsung dengan sangat baik dan lancar di Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur pada Senin, 29 Agustus 2022. Merak Hijau ini berasal dari sitaan dari Polda D.I Yogyakarta yang kemudian diserahkan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta.

Tim APE Warrior COP berangkat dari camp menjemput 2 Merak Hijau di kantor Seksi II BKSDA Yogyakarta kemudian dilanjutkan menjemput 6 Merak Hijau di Hutan Wanagama, Gunungkidul. Sesampainya di TN Baluran, kedelapan Merak Hijau dipindahkan ke kandang habituasi. Habituasi dilakukan agar merak dapat menyiapkan diri dengan cuaca serta iklim yang berbeda dari tempat sebelumnya. Sehingga memudahkan merak melakukan observasi saat dirilis. Selama habituasi ini pula, tim APE Warrior yang terdiri dari Orangufriends melakukan pengecekan dan monitoring setiap tiga jam sekali untuk memastikan merak hijau dalam kondisi sehat dan prima saat dirilis nanti. Tidak lupa pemberian pakan dan minumnya untuk memenuhi nutrisi prapelepasliaran.

Pelepasliaran diawali dengan apel disertai doa untuk keberlangsungan juga kelestarian satwa liar di Indonesia khususnya pada merak hijau. Beberapa instansi yang hadir pada pelepasliaran ini yakni, Balai Taman Nasional Baluran, BKSDA Yogyakarta, Polda D. I Yogyakarta, Copenhagen Zoo dan beberapa rekan pewarta. “Proses pelepasliaran merak hijau berlangsung dengan baik meskipun ada dua yang tidak mau keluar dari kandang habituasi. Sedangkan yang lainnya bisa dibilang langsung tancap gas untuk menyapa rumah barunya”, ujar Amanda Rahma, Orangufriends Yogya.

Pelepasliaran Merak Hijau ini ditujukan untuk melestarikan spesies Merak Hijau dari ancaman kepunahan dan membangun kesadaran akan kelestarian satwa liar asli Indonesia. Meskipun persebaran merak hijau tidak hanya terdapat di Indonesia, namun saat ini status merak hijau adalah terancam punah atau endagered menurut IUCN. Satwa liar #dihutanaja (SAT)

APE WARRIOR: PERJALANAN PANJANG HKAN 2022, PANTANG PULANG SEBELUM TUNTAS!

APE Warrior mengikuti rangkaian peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2022 dengan tujuan mengampanyekan pentingnya konservasi alam bagi kesejahteraan masyarakat juga untuk mengajak masyarakat agar dapat berperan aktif bersama-sama dalam menyelamatkan ekosistem alam. Ini sangat relevan dengan tujuan APE Warrior. APE sendiri merupakan akronim dari Animal, People and Environment atau Hewan, Manusia dan Lingkungan yang dalam satu garis berkesinambungan dan tidak bisa dipisahkan. APE Warrior yang merupakan salah satu tim di Centre for Orangutan Protection (COP) berperan dalam unit gerak cepat untuk menyelamatkan satwa domestik maupun non domestik, unit anti perdagangan satwa liar baik dilindungi maupun tidak, reaksi cepat kebencanaan pada satwa, serta melakukan kampanye-kampanye modern dengan pendekatan pada anak muda. Dalam tugasnya, APE Warrior berotasi sepanjang pulau Jawa dan Bali dan pulau lainnya, kapanun dan dimanapun dibutuhkan. APE Warrior punya prinsip: Pantang Pulang Sebelum Tuntas!

Perjalanan panjang APE Warrior di HKAN 2022 diawali proses pelepasliaran dua burung Elang (Nisaetus cirrhatus dan Spilornis cheela) pada site yang terletak di Dusun Girimulyo, Jatimulro, Kulonprogo yaitu dengan menyiapkan tempat habituasi Elang Brontok dan Elang Ular Bido ini. Setelah satu minggu menjalani habituasi, keduanya pun dilepasliarkan. Peringatan HKAN pun dilanjutkan dengan pelepasliaran enam belas Landak Jawa (Hystrix javanica) di Taman Nasional Gunung Merapi dan pelepasliaran delapan Merak Hijau (Pavo miticus) di Taman Nasional Baluran. Amil yang merupakan orangutan yang berhasil diselamatkan BKSDA Kaltim dari sebuah kebun binatang ilegal di Madura  dan dititipkan ke WRC Jogja pun ikut diterbangkan kembali ke asalnya yaitu pulau Sumatra. “HKAN 2022 ini memang menguras tenaga kami. APE Warrior harus pontang-panting ke beberapa lokasi yang tidak dekat dan mempersiapkan kandang angkut untuk satwa-satwa tersebut. Tapi ini semua sebanding dengan bahagianya kami ketika pintu kandang angkut dibuka dan satwa tersebut kembali ke habitatnya. Semoga orangutan Amil juga segera mendapatkan kesempatan untuk kembali ke habitatnya usai menjalani reintroduksi di SOCP, Sumatera Utara”, jelas Satria Wardhana, kapten APE Warrior. 

Pantang Pulang Sebelum Tuntas ini tidak serta merta dilakukan oleh tim APE Warrior sendiri. Pendukung yang militan yang tergabung di Orangufriends tersebar di seluruh pulau Jawa bahkan Indonesia dan mancanegara sangat tangguh dan penuh dedikasi. Mustahil APE Warrior disa melakukan kerja besar ini sendiri tanpa dukungan Orangufriends. Pedoman kerja kolaboraksi atau kolaborasi aksi dapat menyukseskan dan menuntaskan seluruh kegiatan HKAN 2022. “Semoga tahun depan, kita dapat mengampamyekan dan menyelamatkan lebih banyak satwa liar di Indonesia agar lestari dan bebas dari ancaman kepunahan. (SAT)

BUKIT LAWANG ORANGUTAN FESTIVAL 2022

COP Sumatra berkolaborasi dengan Sumatera Tropical Forest Journalism (STFJ) dalam kegiatan Orangutan Festival yang diadakan pada tanggal 19 Agustus 2022 di Rock Island, Bukit Lawang, Sumatra Utara.

Rangkaian kegiatan yang dimulai pukul 14.30 WIB diawali dengan diskusi mengenai orangutan dari Panut Hadisiswoyo, pameran pahatan kayu orangutan dari warga lokal di Bukit Lawang dan terakhir lomba mewarnai. Sepanjang hari itu pula pameran foto dari STFJ yang difasilitasi oleh Canon mengajak kita mengerti tentang orangutan dan lingkungannya.

Bukan APE Sentinel kalau hanya memfasilitasi lomba mewarnai tanpa edukasi kepada anak-anak yang mengikuti lomba. Setelah anak-anak selesai mengikuti lomba, tim termuda COP ini pun beraksi dengan menggunakan kostum dan boneka tangan, sedikit cerita tentang orangutan yang harus kehilangan rumahnya. “Semoga mimpi kami, pada generasi penerus untuk melidungi orangutan dan yang lainnya dapat menjadi mimpi mereka juga. Jangan berhenti bermimpi… dan jangan ragu untuk berbagi”, begitu kata Netu Domayni, COP Academy batch 1 yang sedang magang di kantor COP Sumatra.

Waktu yang diberikan untuk mewarnai gambar selama 45 menit ini menyisakan kesan untuk peringatan Hari Orangutan Sedunia. Ada peserta yang mewarnai orangutan dengan warna hitam, ada yang mewarnainya dengan warna terang bahkan ada yang mewarnainya dengan warna biru. Selebhnya mewarnai orangutan dengan warna aslinya yaitu warna orange dan cokelat. “Setiap anak bebas mengartikan setiap warna yang menyisakan tanya. Semoga semua anak bahagia. Seperti kami yang cukup senang bisa mengambil peran di Bukit Lawang untuk Orangutan Day 2022”, tutup Netu lagi. Mari bersiap untuk esok hari di kegiatan bersama lagi untuk Orangutan Indonesia. (MEY)

ORANGUTAN BERSEPEDA DALAM PERINGATAN HARI ORANGUTAN SEDUNIA DI MEDAN

Bulan Agustus merupakan bulan spesial dimana para konservasionis merayakan Hari Orangutan Sedunia yang jatuh pada tanggal 19 Agustus di setiap tahunnya. Tim Centre for Orangutan Protection yang bekerja di pulau Sumatra yaitu APE Sentinel ikut ambil peran meramaikan peringatan Orangutan Day 2022 ini. Bersama Orangufriends (kelompok relawan orangutan) mengendarai sepeda di sekitaran kota Medan terutama di titik-titik keramaian kota dengan menggunakan kostum orangutan. Start dari kantor COP Sumatra dan berakhir di Merdeka Walk dimana kegiatan Car Free Day berlangsung.

Kehadiran orangutan di pusat kota Medan ini benar-benar mengejutkan masyarakat yang sedang menikmati Minggu pagi. Otan pun jadi pusat perhatian dan banyak yang meminta untuk foto bersama. “Sesaat capek dan panasnya mengayuh sepeda dengan menggunakan kostum orangutan jadi hilang. Senang banget dengan sambutan orang-orang”, ujar Otan dengan semangat. Orangufriends lainnya tentu saja sudah berada di lokasi finish dengan atribut photobooth yang bertemakan #OrangutanDay2022

Otan pun tak ragu berkeliling dan menyapa masyarakat sembari membagikan informasi kondisi terakhir Orangutan Indonesia. Tak lupa berjalan ala model di zebra cross layaknya Citayam Fashion Week sedang ramai dibicarakan akhir-akhir ini. 

Gimana… perlukah APE Sentinel dan Orangufriends Medan secara berkala hadir di pusat keramaian Medan? Sumatra Utara memang luar biasa, dua spesies orangutan berada di wilayahnya, Orangutan Sumatra dan Orangutan Tapanuli. “Umpan balik masyarakat menentukan kehadiran kami selanjutnya dengan ide kreatif dari Orangufriends. Siapa bilang anak medan tidak peduli”, kata Reza Kurniawan, manajer COP Sumatra. (REZ)

AMIL NANYA, KENAPA ENRICHMENT HANYA SATU KALI SAJA?

Sejak kedatangan orangutan Amil dari Madura ke Wildlife Rescue Centre (WRC) Yogyakarta sejak awal Maret 2022 hingga kini mengalami perkembangan yang cukup pesat dari segi kesehatan, nafsu makan dan juga perilakunya. Amil berjalan memutar menyusuri setiap sudut kandang yang cukup luas dan bermain di kandang yang ada namun tidak memanjat. Tapi kini, Amil sangat aktif memanjat dan juga bergelantungan dari satu tali ke hammock dan terus menghabiskan waktunya di atas. 

Kondisi Amil di awal kedatangannya cukup memprihatinkan, secara kasat mata, orangutan Amil mengalami mal nutrisi, kondisi rambut halus di tubuh yang jarang, rambut halus yang mengimbal pada tangan kanannya, infeksi pada gigi serta dehidrasi. Lima bulan berlalu di WRC, kini dalam kondisi kesehatan orangutan Amil kini dala kondisi yang baik dan jauh lebihs ehat dari saat pertama kali kedatangannya. Amil terlihat segar dengan senyumannya ketika kami memberikan enrichment. Selain itu rambut halus pada tubuh yang mulai tumbuh, minum yang cukup dan gizi yang terus diperhatikan tim APE Warrior.

Aktivitas yang paling disukai Amil ialah saat berinteraksi dengan perawat satwa dengan mengulurkan tangan, bisa dibilang orangutan Amil cukup haus akan perhatian. Sesekali Amil juga menyadari kehadiran kamera sehingga menguatkan bahwa Amil adalah orangutan yang cukup cerdas dan siap memasuki rehabilitasi tingkat lanjut untuk dilepasliarkan kembali. Saat ini posisi yang ia suakai adalah duduk berlindung di bawah dan berjalan seperti menyapa. Sesekali ia juga memanjat ketika kami memberikan enrichment dari atap kandang. Makanan kesukaannya sejauh ini ialah buah pisang, markisa dan juga madu. Orangutan Amil mengunyah makanannya cukup malam tapi tetap dihabiskannya. Amil selalu antusias ketika kami memberikan enrichment di setiap minggunya seperti mengisyaratkan mengapa satu minggu cuma satu kali?

SEMANGAT JOHOR ISLAMIC GREEN SCHOOL MEDAN UNTUK ORANGUTAN

“Jaraknya sih dekat saja dengan kantor COP Sumatra. Hanya 1,5 km. Kali ini School Visit di Johor Islamic Green School Medan dibantu Mahdiyah, Afin dan Febri. Serunya seperti apa ya?”, cerita Meylanda, tim APE Sentinel COP. 

Tepat pukul 11.00 WIB, tim APE Sentinel bersama Orangufriends Medan sudah berada di depan 23 siswa yang duduk di kelas 1 hingga 4 SD. “Melalui cerita Otan yang dipelihara pak petani, kami memulai pengenalan orangutan secara umum. Sesekali anak-anak menyela tak sabar dengan kelanjutan cerita”. 

Pada sesi kuis, hampir semua siswa dapat menjawab pertanyaan yang kami berikan. Mulai dari berapa berat orangutan, makanan orangutan bahkan persebaran orangutan. Beberapa siswa ada yang mengajukan pertanyaan mengenai jumlah populasi orangutan saat ini, rata-rata rentang umur orangutan dan seberapa tinggi orangutan dapat memanjat pohon. Pertanyaan yang justru tidak kami duga ditanyakan oleh para siswa di sini.

Semua siswa berebut untuk menjawab kuis yang kami berikan, bahkan salah satu siswa bernama Salman mengeluh karena tidak menapatkan giliran menjawab, “Ah… kapan giliran aku, sudah angkat tangan loh”, ujarnya yang justru membuat kami semakin senang dalam school visit kali ini. 

Meskipun Johor Islamic Green School Medan ini jumlah siswanya tergolong tidak terlalu ramai, tapi semangat mereka mengalahkan semangat kami bahkan sampai akhir sesi pun mereka tetap semangat. School visit ditutup dengan ice breaking senam pocki, sebuah senam yang baru kami pakai selama school visit dan orangutan eksperimen untuk melakukan tos (hi-5) atau peluk terhadap boneka orangutan yang kami bawa. (MEY) 

RILIS ELANG DAN MUSANG DI HKAN YOGYAKARTA

Rangkaian peringatan Hari Konservasi Alam Nasional 2022 yang jatuh pada tanggal 10 Agustus, Balai Besar KSDA Yogyakarta, Polda DIY, Jasa Raharja, YKAY dan COP melepasliarkan 1 Elang Ular Bido, 1 Elang Brontok dan 1 Musang Pandan di  Kelurahan Kepanewon Girimulyo, Kbupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Ceremonial dan penandatanganan BAP pelepasliaran satwa oleh kepala BBKSDA Yogyakarta yaitu Bapak Wahyudi. Dilanjutkan dengan teknis pelepasliaran burung elang.YKAY sebagai tenaga ahli merekomendasikan untuk melepasliarkan satu elang terlebih dahulu. Hal ini agar tidak terjadi pertarungan antar elang jika dilepas secara bersamaan. 

Tepat pukul 10.45 WIB pintu kandang habituasi dibuka dan terlihat satu elang berhasil keluar dan langsung terbang tinggi. Rencana pelepasliaran musang pandan akhirnya dipercepat dengan memperhitungkan cuaca yang sudah mulai gelap. Untuk lokasi rilis disepakati berada lebih jauh masuk ke dalam hutan dengan pertimbangan akan lebih aman dan tutupan kanopi pohon lebih rapat/ gelap karena satwa ini sejatinya hewan nokturnal.

Pelepasliaran menjadi titik puncak dari perjuangan para pelaku konservasi satwa liar. Ketika elang dan musang pandan yang sudah direhabilitasi akhirnya bisa kembali hidup bebas di habitat alaminya. Apresiasi yang sebesar-besarnya untuk BBKSDA Yogyakarta yang selalu mendukung penuh program pelepasliaran satwa eks-rehab. Ini juga menjadi salah satu langkah serius dari pemerintah khususnya para pemangku kepentingan dalam melestarikan satwa liar di alam. (SAT)

MY UNFORGETTABLE JOURNEY IN BORA

Keberangkatanku ke Berau, Kalimantan Timur untuk menjadi volunteer sekaligus melaksanakan kerja Praktek di Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA) bulan Juni lalu merupakan salah satu turning point kehidupanku yang tidak akan pernah aku lupakan. Selama dua tahun terakhir, aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah karena seluruh kegiatan perkuliahan terpaksa dilakukan secara daring akibat pandemi. Kurangnya kemampuan hands on yang aku dapatkan selama kuliah online membuatku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatanku untuk memperoleh pengalaman bekerja di lapangan melalui Kerja Praktek. Oleh karena itulah aku bertekad untuk mencari pengalaman yang sesuai dengan keilmuan yang ingin aku tekuni, yaitu konservasi satwa liar.

Mempersiapkan dan memberikan feeding, enrichment, susu dan vitamin, membersihkan kandang, membantu saat posyandu dan medical check up orangutan adalah bagian dari rutinitasku di BORA. Selain itu, kegiatan utama yang aku lakukan adalah mencatat dan menganalisis perilaku orangutan saat Sekolah Hutan. Meskipun beberapa orangutan kerap kali jahil dan rewel, aku tetap menikmati keseharianku dalam membantu keeper dan dokter hewan. Bahkan, pertemuan pertamaku dengan orangutan Jainul dapat dibilangi cukup unik karena saat aku membawanya ke lokasi sekolah hutan, ia langsung BAB di pangkuanku sambil menangis karena tidak ingin lepas dariku. Walaupun bagitu, Jainul adalah salah satu orangutan yang paling aku sukai karena wajah dan tingkahnya yang sangat lucu. Awal mula aku bertemu dengan para orangutan di BORA, aku sedikit kebingungan membedakan mereka karena wajahnya terlihat mirip semua. Namun, hanya butuh waktu 1 minggu untukku menghafalkan nama, ciri khas fisik dan sifat mereka agar dapat membedakannya satu sama lain. Tanpa kusangka, kondisi lokasi yang tanpa sinyal dan minim listrik juga tidak membuatku merasa kebosanan selama aku menetap di sini.

Sebelumnya, aku tidak pernah memiliki ketertarikan khusus terhadap orangutan. Aku hanya  mengetahui bahwa orangutan merupakan satwa endemik Indonesia yang status konservasinya critically endangered akibat perdagangan hewan secara ilegal dan penyusutan habitat alaminya. Namun, setelah membaca lebih banyak referensi dan menjadi relawan di BORA, aku mulai menyadari bahwa masalah yang dihadapi oleh para pengiat konservasi orangutan jauh lebih kompleks dari itu. Reintroduksi orangutan ke habitat alaminya tidak dapat semata-mata dilakukan begitu saja tanpa adanya proses rehabilitasi, terutama bagi orangutan yang sebelumnya lebih banyak menghabiskan hidupnya di kandang peliharaan ataupun kebun binatang. Rehabilitasi ditujukan untuk membekali dan meningkatkan kemampuan orangutan agar bisa bertahan hidup di alam. Selain itu, minimnya  edukasi ke masyarakattentang larangan memelihara dan memperjualbelikan satwa liar juga masih menjadi masalah yang serius di Indonesia. Oleh karena itulah, saya sangat tergerak untuk membantu meningkatkan awareness mengenaik is konservasi orangutan melalui media sosial. Saya juga ingin mengusulkan adanya sharing session di himpunan jurusan dan/atau unit konservasi GARDA yang saya ikuti rehabilitasi orangutan dengan harapan bahwa nantinya akan ada lebih banyak mahasiswa (terutama mahasiswa biologi) yang tertarik untuk berdonasi kepada lembaga-lembaga konservasi, menjadi volunteer atau bahkan berkarir di bidang konservasi satwa liar khususnya orangutan. (Dinda_Orangufriends)