Orangufriends

WHAT HAPPENED AT LONG GIE

Yesterday, we rescued a baby orangutan from the village of Long Gie, for the third time in the very same village. What is happening to this village? Arif, the captain of the APE Crusader Team shares this story for you. 

One of the main tasks of the APE Crusader is mitigating conflict between humans versus orangutans or wildlife in general. Due to limited resources, the team reduce the work coverage, from covering the Borneo island to a more specific area: East Borneo. For the last 2 years, the team has responded to 160 cases in 6 districts: East Kutai, Berau, Bontang, West Kutai, Kutai Kartanegara, and Pasir. The roots of the conflict are various, from coal mining, road development, settlement, and oil palm plantation. On average, they should go to the field every 4 or 5 days. One case needs at least 3 days. It makes them work 24/7. Almost no break. 

Mitigating conflict is an art of communication as the team has to develop good relationships among the stakeholders: government, local people, companies, and even the other NGOs. We even have to delay the publication or even simply not publish the story as we have to make everybody happy and the most important thing is: the orangutan. Not necessary to be heroic in social media if it is a threat to the life of other orangutans that are not being rescued yet and hurt the stakeholders. 

Long Gie village is located on the river bank Kelay, warm, lot of natural foods and plenty of water. Both humans and orangutans love this kind of place. Local people and orangutans have been coexisting in the habitat for a long time until the companies get the concession to utilize lands and forests. Competition for natural resources becomes unavoidable. The company may have trained staff to deal with wild animals to keep their reputation and prevent legal problems. How about local people? Working with companies is much easier. Just develop and run internal regulations. Give punishment to those who break it. Very contrary to local communities. As there is no possibility to punish them or even control them, we need to work in every way to minimize the negative impact on both sides: humans and animals. Things become more complicated in the last two years since the swine flu kill most wild boars in the forest, and the natural fruit also decreased a lot due to more rains, somehow the wild animals, including orangutans search for food in and around humans settlements across Borneo and Sumatra. The last two years were peak seasons for humans versus wildlife. Just within 1 year, we rescued two babies need to be rescued from Long Gie. The background story is very similar: spot a baby orangutan crying with no mother and take them home. Not long time after the first rescue, the COP team investigated the case and socialize the protection of orangutans in the village. Arif, the Captain also uses his day off to visit Long Gie village and stay there for a couple of days “holiday”. 

Arif has been serving the government for an energy program in Long Gie, a remote village on the bank of Kelay River, East Borneo. He has been living there for about one year and is considered local by locals. His local knowledge and skill in social work are essential for a grassroots organization like COP. His good personal relationship with COP staff has moved him to join the team. Now, he is the Captain of our APE Crusader Team. 

He and the team need more support. Yesterday’s rescue is evidence that we have to work harder and smarter to make everybody in the village and many other villages understand the protection of orangutans.  Especially since there are no signs that conflict is decreasing and dry seasons are coming, means forest fires are threatening nowadays.

APE SENTINEL MENUJU ABELII FEST BATCH 2

Selangkah demi selangkah kegiatan memperingati hari orangutan (World Orangutan Day yang diperingati pada 19 Agustus setiap tahunnya) dilalui. Tim APE Sentinel COP yang berada di kota Medan, Sumatra Utara telah menyusun serangkaian acara yang tentu saja berbeda, bahasa kerennya out of the box lah. Tapi bukan COP kalau tidak begitu. Konservasi orangutan tidak melulu berbicara jurnal atau pun di seminar saja. Konservasi orangutan milik masyarakat luas. Mari berperan untuk melindungi orangutan.

APE Sentinel bersama Kinocolony dan Kurator Personal (Jedi) kembali membahas teknis open call artist, guide open call dan timeline open call seniman. “Kolaborasi Abelii Fest Batch 2 tidak hanya sebatas dengan Kinocolony dan Kurator Personal saja. Kali ini akan melibatkan Sei Design dan bertempat di Pos Bloc Medan, tempat dimana kreatifitas anak muda Medan berkumpul”, jelas Netu Domayni dari APE Sentinel COP.

APE Sentinel adalah tim Centre for Orangutan Protection yang telah bekerja menetap tiga tahun di Medan. Tim ini fokus pada perlindungan orangutan sumatra (Pongo abelii)  dan orangutan tapanuli (Pongo tapalunesis). Ini menjadikan COP, satu-satunya organisasi di luar pemerintahan yang bekerja untuk ketiga spesies orangutan yang ada di Indonesia. Ketiga jenis orangutan yang ada memiliki karakter yang berbeda, satu dengan yang lainnya. Ketiganya adalah satwa liar yang dilindungi dan masuk kategori kritis terancam punah menurut IUCN Redlist. “Kami mengajak seluruh lapisan masyarakat dengan latar belakang yang beraneka ragam untuk berperan aktif membantu perlindungan orangutan. Konservasi adalah tanggung jawab kita bersama, bukan hanya ilmuan atau sebatas pekerja konservasi”, tegas Netu lagi. (BAL)

BEASISWA UNTUK MAHASISWA UNIVERSITAS MULAWARMAN SAMARINDA 2023

Untuk kamu yang berstatus mahasiswa aktif S1 semester 2 prodi Kehutanan Fakultas Kehutanan atau prodi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Mulawarman bisa mengajukan EBOCS (East Borneo Orangutan Caring Scholarship) 2023. “Kalau dua tahun sebelumnya, EBOCS hanya untuk mahasiswa Fakultas Kehutanan, tapi tahun ini mahasiswa FMIPA dipersilahkan mendaftar juga”, jelas Oktaviana dari Centre for Orangutan Protection yang mengelola beasiswa EBOCS dengan dukungan Orang Utan Republik Foundation (OURF). Beasiswa ini diberikan kepada mahasiswa yang peduli dan memiliki komitmen terhadap konservasi orangutan dan habitatnya.

Beberapa kualifikasi seperti kesediaan calon penerima beasiswa untuk mengikuti kegiatan COP yaitu edukasi, patroli, penelitian, pendampingan masyarakat hingga kampanye dengan IPK terakhir minimal 3,00. Kesediaan calon penerima untuk melakukan penelitian dengan subjek Orangutan dan habitatnya.serta memiliki KTP Kalimantan Timur akan menjadi nilai tersendiri dalam seleksi EBOCS.

Persyaratan umum administrasi seperti KTP, Kartu Keluarga, KTM, Surat keterangan aktif sebagai mahasiswa Fahutan atau FMIPA Unmul serta mengisi formulir pendaftaran dan surat pernyataan (silahkan hubungi Erlina Yustika, S. Hut untuk jurusan Kehutanan di 08575447248 atau Dr. Nova Hariani, M. Si di 082119026626 untuk jurusan Biologi) dan khusus seperti membuat tulisan esai minimal 750 kata yang menyakinkan agar calon peserta berhak dan layak mendapatkan beasiswa tersebut. Ditambah 1000 kata dalam bentuk esai tentang “Protect the Orangutan and Beyond”. Pengumpulan berkas persyaratan mulai tanggal 27 April sampai 18 Mei 2023. Seleksi akan dilakukan secara bertahap mulai 19 Mei hingga 5 Juni 2023. Pengumuman penerima beasiswa pada 7 Juni 2023. “Tunggu apa lagi? Segera lengkapi berkas dan bergabunglah menjadi Orangufriends Samarinda”, ajak Okta lagi. (FER)

PERJALANAN UNTUK SATWA ERUPSI MERAPI

Jumat, 17 Maret 2023, di bawah teriknya matahari Jogja, Tim Animal Rescue COP yang beranggotakan 6 orang (Daeng, Jogi, David, Zain, Dippy dan Disma) berangkat dari camp APE Warrior menuju daerah Pakem untuk mengangkut rumput kolonjono. Kami bahu-membahu menyusun rumput ke atas mobil pick up untuk dibagikan ke warga Dusun Tempel di Kecamatan Dukun, Jogjakarta. Tiga hari sebelumnya, tim Animal Rescue COP juga telah membagikan pakan hijauan untuk warga desa Krinjing secara bergantín. Setelah pakan tursusun rapi di mobil dengan tubuh yang basah oleh keringat, kami bergegas berangkat.

Saat sampai di daerah Muntilan hujan tiba-tiba turun dan puji syukur ternyata hujan turun hingga Desa Krinjing. Hujan yang turun cukup deras dan lama, hingga bisa membersihkan sisa abu dari erupsi Merapi beberapa hari lalu. Tumbuhan dan atap rumah yang sebelumnya berwarna abu-abu kini mulai terlihat hijau kembali.

Sesampainya di Dusun Tempel kami langsung menuju rumah bapak Kadus. Sambil menunggu hujan agak reda kami berkordinasi tentang teknis pembagian rumput. Rumput akan dibagikan untuk warga RT 3 yang berjumlah 35 KK. Rencananya rumput akan kami berikan secara bergiliran untuk RT lainnya di hari berikutnya. Hujan yang sempat reda dan kembali deras lagi memaksa kami berteduh di salah satu rumah warga, kami disambut segerombolan ibu-ibu yang sudah menanti kedatangan kami. Obrolan ringan dan candaan menemani kami menunggu hujan reda, rupanya Daeng menjadi idola ibu-ibu di sana karena kegemaran bercanda.

Gerimis tipis masih turun, karena sudah mulai sore tim Animal Rescue COP memutuskan untuk memulai pembagian pakan hijauan. Berkat bantuan warga pembagian rumput berjalan dengan tertib dan lancar. Selesai membersihkan mobil dari sisa pakan, kami diajak beristirahat di pos kamling dan ternyata sudah disajikan teh hangat dan camilan oleh salah satu warga. Pas sekali menghangatkan badan kami yang kedinginan terguyur hujan. Tidak lama kemudian kami disuguhi nasi beserta lauk pauknya. Rejeki anak sholeh dapat hidangan yang mengenyangkan. Sambil mengobrol ngalor-ngidul kami makan dengan lahap. Salah satu warga mewakili warga lainnya menyampaikan ucapan terimakasih kepada kami untuk menyalurkan bantuan pakan hijauan dan kami pamit pulang.

Berkat hujan di hari ini, rumput mulai bersih, tapi sayangnya rumput itu belum layak untuk diberikan pada ternak karena masih ada yang menempel di sela-sela dalam. Harapannya rumput segera bersih dan bisa diarit untuk pakan tak lama lagi. Setelah seharian kami bergelut dengan hujan dan tubuh yang menggigil kedinginan, malam ini kami layak untuk tidur dengan nyenyak dan penuh kehangatan. Karena esok kami harus melanjutkan misi kami. (Disma_COPSchool12)

PANGGILAN UNTUK ORANGUFRIENDS, BANTU SATWA ERUPSI MERAPI

Selama dua hari sejak erupsi Merapi tanggal 11 Maret, tim Animal Rescue COP yang hanya beranggotakan empat orang akhirnya bertambah. Kedatangan Disma dan Dippya yang merupakan alumni COP School Batch 12 seperti suntikan energi yang menambah semangat tim. Dippya meluangkan waktunya disela-sela perkuliahan untuk ikut serta membantu hewan peliharaan kesayangan dan ternak yang terdampak erupsi Merapi. 

Setelah menyapa dan berbagi kabar sebentar, mereka langsung berbagi tugas dan berangkat bersama mencari sumber pakan hijauan. Sayangnya, setelah mengunjungi supplier pakan dan beberapa peternak lain di wilayah Yogyakarta dan Klaten, belum ada yang sanggup menyediakan pakan. Tidak patah semangat, mereka menuju Dinas Peternakan dan Perikanan kabupaten Magelang. Setelah berdiskusi, mereka mulai menemukan titik terang. Sumber pakan hijauan di daerah Borobudur yang tersedia. 

Hari beranjak sore, kabar baik ini segera tim sampaikan ke sekretaris desa Krinjing. Teknis penyaluran pakan untuk lebih dari seribu ekor ternak harus bisa berjalan dengan baik. Sapi-sapi yang tidak nafsu makan membutuhkan bantuan pakan segar menjadi prioritas sebelum kelaparan atau jatuh sakit. Pemilik mereka menyampaikan ketidaksanggupannya mencari sendiri pakan di luar daerahnya. Setelah menyepakati teknis penyaluran pakan dengan pihak desa, tim Animal Rescue akhirnya bisa kembali dengan tenang dan beristirahat malam ini. Besok masih butuh energi lebih lagi. (NAD)

HARI KEDUA ERUPSI MERAPI, SAPI WARGA TIDAK NAFSU MAKAN

Sejak dini hari (12/3), Gunung Merapi tercatat memuntahkan guguran awan panas sebanyak sembilan kali guguran. Guguran lava pijar juga tercatat keluar dari Merapi ke arah Barat Daya. Selain itu, Merapi juga mengalami 15 gempa guguran awan panas dan gempa vulkanik. Orangufriends (relawan COP) kembali bersiap-siap dan bergegas menuju lokasi terdampak pukul 09.00 WIB dari Camp APE Warrior.

Hari ini Daeng dan Zein berkordinasi dengan berbagai pihak, meninjau keadaan satwa ternak sekaligus mendata jumlah, dan memperhitungkan kebutuhan pakan untuk disalurkan. Kepala Desa Krinjung juga menyatakan bahwa warga telah siap bekerja sama apabila terjadi kemungkinan terburuk yang menyebabkan warga terpaksa mengungsi.

Pemandangan perkebunan sayur yang biasanya hijau segar kini terlihat kelabu tertutup abu. Sambil berjalan menuju kandang ternak, tim Animal Rescue COP pun menyapa warga yang masih beraktivitas seperti biasa. Sekelompok ibu-ibu melingkar di teras rumah memilah sayuran buncis dan beberapa pemuda mengangkut rumput pakan dan ranting dengan sepeda motor. Saat sampai di kandang, beberapa ternak sapi terlihat memakan sisa ruput di hadapan mereka dengan malas dan tidak nafsu makan. Saat tim menemui kelompok ternak Ngaglik dan Dadapan, mereka mengeluhkan sapi milik mereka tidak nafsu makan karena pakan yang diberikan kotor dengan abu. Masyarakat pun mengkhawatirkan kondisi kesehatan ternak mereka. Untuk sementara mereka menggunakan damen untuk pakan sapi-sapi mereka. 

Menindaklanjuti kekhawatiran warga yang disampaikan, tim Animal Rescue bergegas melakukan pendataan untuk menghitung kebutuhan pakan untuk disalurkan. Dari kedua kelopok ternak, terdapat 200 ekor sapi milik 83 kepala keluarga. Sementara sebagian warga yang tidak tergabung dalam kedua kelompok ternak di Desa Kerinjing tersebut memelihara rata-rata dua ekor sapi. “Sapi-sapi di situ pada nggak nafsu makan. Sementara ini warga membutuhkan pakan hijauan, damen, dan combor”, ujar Desita, staf COP yang turun bersama Orangufriends. Centre for Orangutan Protection masih menunggu arahan dari Dinas Peternakan dan menghubungi beberapa penyedia pakan hijau untuk kesediaan pakan yang dibutuhkan tersebut. (NAD)

MERAPI ERUPSI LAGI, RELAWAN ORANGUFRIENDS BERGEGAS KE LOKASI

Sabtu (11/03) siang, masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta dikejutkan dengan rangkaian erupsi gunung Merapi yang terjadi. Hingga sore hari, awan panas masih membumbung tinggi dan hujan abu mewarnai langit kelabu hingga mencapai wilayah Boyolali, Magelang, dan sekitarnya. Dikatakan oleh Agus Budi, kepala Balai Penyidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) pada pers daring yang digelar sore harinya, erupsi kali ini tergolong efusif yang ditandai dengan aktivitas berupa pertumbuhan kubah lava, guguran, dan awan panas guguran (CNN Indonesia). Awan panas guguran yang terjadi disebabkan oleh runtuhnya kubah lava di sebelah Barat Daya. Sementara aliran lava meluncur dengan jarak 1.500 meter ke Barat Daya. Ia melanjutkan dengan himbauan agar warga menjauhi daerah bahaya sepanjang 7 km dari puncak Gunung Merapi di alur Kali Bebeng dan Krasak.

Menindaklanjuti erupsi tersebut, tim Animal Rescue COP yang terdiri dari Orangufriends (relawan COP) bergegas mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk melakukan peninjauan ke daerah Krinjing, salah satu lokasi terdampak erupsi. “Saat ini kita lagi persiapan. Ini ada goggle, masker, helm, handuk, dan senter,” ujar Daeng, relawan Orangufriends yang juga merupakan alumni COP School batch 12. Ia dan Zain, salah seorang Orangufriends lainnya yang turut bersiap di Camp APE Warrior COP telah berpengalaman dalam menghadapi situasi bencana dan beberapa kali melakukan penyelamatan satwa. Tidak lama berselang, mereka bersama dua orang tim COP pun berangkat menuju lokasi. Sesampainya di sana, mereka langsung berkoordinasi dengan berbagai pihak termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Kapolres Magelang untuk sementara mendapatkan informasi bahwa hingga saat ini belum ada instruksi agar warga mengungsi.

Tim Animal Rescue pun melanjutkan peninjauan lokasi. Daeng dan Zain melaporkan bahwa di lokasi tersebut, dampak yang paling dirasakan yaitu sektor pertanian dan peternakan. Mereka berjalan menyusuri lahan pertanian yang tertutup abu, menyaksikan pemandangan sayuran yang hancur dan busuk. Rumput-rumputan yang biasa diambil untuk pakan ternak pun tertutup abu dan rusak. Pak Subur, salah seorang warga yang ditemui tim mengatakan bahwa warga mulai kebingungan mencari rumput pakan ternak untuk keesokan hari. Beberapa warga pemilik ternak terpaksa turun ke daerah lain seperti Talun untuk mencari pakan. “Untuk ternak, mayoritas masyarakat memelihara sapi. Pada dusun Trono yang terdampak terdapat sekitar 150 kepala keluarga. Rata-rata satu keluarga bisa memelihara dua hingga tiga ekor sapi,” Desita, salah seorang staff COP yang turut serta mengikuti relawan tim Animal Rescue melaporkan keadaan lapangan.

Setelah meninjau lokasi dan menghimpun informasi, tim Animal Rescue pun berdiskusi dan menetapkan langkah yang akan dilakukan menindaklanjuti dampak khususnya terhadap satwa ternak di lokasi. Mereka berencana untuk berkoordinasi dengan Dinas Peternakan setempat dan juga kepala dusun untuk menginisiasi bantuan pakan satwa ternak. Dalam beberapa kasus bencana, relawan Orangufriends memang turut aktif berperan membantu penyelamatan satwa oleh tim Animal Rescue COP. Seperti saat erupsi Gunung Semeru pada bulan Desember lalu, atau saat terjadi gempa Cianjur pada bulan November. Tidak hanya menyelamatkan satwa ternak warga dan membantu memberi pakan, dalam kejadian-kejadian bencana mereka juga biasa melakukan feeding pada satwa-satwa liar yang turut terdampak bencana. Tanpa bantuan relawan Orangufriends, tim Animal Rescue tentu akan menghadapi lebih banyak tantangan pada saat bertugas. Terima kasih relawan Orangufriends! (NAD)

BANJIR TAWA, HARU DAN CERITA MENGINSPIRASI DI JAMBORE ORANGUFRIENDS 2023

Tanggal 4 dan 5 Maret yang lalu, Omah’e Simbhok di Petingsari, Yogyakarta berada di kaki Gunung Merapi yang dingin justru terasa hangat. Ada 60 orang berkumpul terdiri dari staf COP dan relawan orangutan yang tergabung di Orangufriends untuk menghadiri Jambore Orangufriends 2023. Perayaan ulang tahun COP yang ke-16 dan kilas balik perjalanan Centre for Orangutan Protection dilanjutkan penganugerahan penghargaan untuk tokoh inspiratif di dunia konservasi sekaligus sebagai prosesi wisuda COP School angkatan 11 dan 12.

Seperti reuni keluarga besar, gelak tawa dan candaan menghidupkan suasana selama acara. “Sangat hangat. Kita saling mengenal, jadi berteman dan saling silang ya. Silang pikiran, gagasan juga memperluas pertemanan,”ujar Wanggihoed, Orangufriends Bandung yang aktif berpartisipasi di kegiatan-kegiatan COP.

Jambore yang seyogyanya dilaksanakan setiap tahun terpaksa ditiadakan karena pandemi COVID-19. Bahkan COP School Batch 11 terpaksa menjalani karantina di tengah-tengah kegiatan karena ada yang positif COVID-19 waktu itu. Daniek Hendarto, direktur COP menyampaikan kegiatan COP semasa pandemi itu, sewaktu yang mewajibkan kita melaksanakan protokol dan pembiasaan baru. Perjalanan COP dari 2007 diceritakan kembali oleh Hardi Baktiantoro, pendiri COP. Semangat para alumni COP School menyampaikan pengalaman mereka berkegiatan dibagikan Zain nabil dan Daeng Hudayya.

Jambore Orangufriends juga mengundang CEO BOS Foundation, Jamartin Sihite dan CEO OIC, Panut Hadisiswoyo untuk hadir dan ikut berbagi cerita sepak terjang mereka di dunia konservasi orangutan. Keduanya menekankan bahwa membentuk generasi muda yang peduli pada lingkungan adalah kunci penting dalam dunia konservasi. Mereka mengapresiasi kegiatan-kegiatan COP yang mendukung terbentuknya generasi muda yang aktif. “Tanpa generasi muda, gak ada masa depan orangutan,”, ucap Jamartin.

Di luar sesi terjadwal, semua yang hadir jugu turut berbagi cerita pengalaman lucu, mengharukan dan bahkan menegangkan di dunia konservasi. Permainan ice breaking serta melukis bersama di sela kegiatan membanjiri Omah’e Simbhok dengan tawa dan keceriaan. Ingin merasakan juga suasana menyenangkannya? Kami tunggu di Jambore Orangufriends tahun depan ya! Sampai Jumpa… (NAD)

HAPPY WORLD WILDLIFE DAY, AYO LINDUNGI SATWA LIAR

Tahukah kamu? World Wildlife Day atau Hari Satwa Liar Sedunia yang diperingati setiap tanggal 3 Maret adalah pengingat bagi kita agar terus memaknai pentingnya menjaga kehidupan alam liar, terutama satwa dan flora yang dilindungi seperti orangutan. Tahun ini #WildlifeDay menekankan pentingnya kerjasama dan kolaborasi di dunia perlindungan alam liar, hal yang sudah menjadi nilai yang dimaknai COP (Centre for Orangutan Protection) dalam menjalankan misi untuk melindungi orangutan dan yang lainnya. COP telah bekerja bersama dengan berbagai organisasi, pemerintah dan perorangan untuk bersama-sama menyelamatkan satwa liar.

Masih ingat orangutan Astuti yang menjadi korban perdagangan satwa liar antar negara? Upaya penyelamatan dan peminahan Astuti dari Menado, Sulawesi Utara hingga tiba di pusat rehabilitasi BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) di Berau, Kalimantan Timur merupakan kerja bersama lintas instansi pemerintah, swasta dan COP.Tanpa kerjasama ini, Astuti mungkin saja tidak punya kesempatan untuk dilepasliarkan kembali ke habitatnya, hutan Kalimantan.

Sementara itu, tim patroli COP yang berada di Sumatra Barat melibatkan warga Nagari Sontang-Cubadak untuk membentuk tim PAGARI (Patroli Nagari) sebagai usaha mitigasi konflik harimau dan manusia di Sumatra Barat. Keterlibatan masyarakat lokal yang berbatasan langsung dengan hutan lindung Sontang-Cubadak ini menjadi model untuk pembentukan tim PAGARI di nagari yang lain.

Di dalam COP sendiri, semangat kerjasama juga menjadi nilai penting. BORA  tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan tim APE Crusader yang menyelamatkan habitat orangutan dan menyelamatkan orangutan konflik. Pusat rehab akan penuh jika tim APE Guardian tidak mengusahakan kawasan pelepasliaran yang layak untuk orangutan. Sementara tanpa dukungan APE Warrior, akan sulit sekali mencari dukungan publik untuk mempercepat proses perlindungan satwa liar. Mari bersama melindungi satwa liar. (NAD)

BRINGING HOME JOY FROM TK ANNISA BERAU, EAST BORNEO

A teacher from TK Annisa Berau visited us in the COP Borneo office in Tasuk village, just a few miles away from the kindergarten. She came to the office hoping that her children could see Orangutans. However, the Orangutans in the BORA rehabilitation center are under medical evaluation therefore human visit is very restricted. So, in return, on February 26 we visited the school with a giant stuffed Orangutan called Morio.

“Knock knock… An Orangutan is here!” 

The students were overjoyed to welcome Morio! They were so thrilled as they listened to the stories about wildlife Morio told. They answered every question about wildlife with huge enthusiasm. We were so overwhelmed by their energy in the class and we couldn’t stop laughing at their innocence! The joy and the fun energy was contagious and we brought it home. On our way back from the school visit, we greeted everyone we met on the way.

“School visits, teaching students, I am not new to the thing. But to face these younger students, we need a lot more energy!” Mia, a volunteer and an alumni of COP School batch 12 shared her experience. 

As she and the team evaluated the school visit, they learned that even though the children are able to distinguish domestic animals, many of them couldn’t mention the wildlife of East Kalimantan. This has become a concern. Now, after the school visit, the children know that ducks can provide many benefits if taken care of well, and Rangkong should stay in the forest and be the “forest farmers”.

“I wish that we can always keep the joyful energy the children gave us and the children can always keep the awareness of wildlife protection that we gave them in return. Long live good deeds!” Mia said passionately. (MIA_COPSchool)

TERTULAR KECERIAAN SAAT SCHOOL VISIT DI TK ANNISA BERAU

Jumat lalu, ada orangutan mendatangi TK Annisa Berau. Ini adalah kunjungan balasan dari seorang guru TK Annisa di kantor COP Borneo yang berada di kampung Tasuk tak jauh dari tempatnya bekerja. Awalnya, si Ibu Guru berharap anak-anak muridnya bisa melihat orangutan secara langsung, namun keinginan tersebut belum bisa terwujud karena pusat rehabilitasi BORA sangat membatasi interaksi manusia dan orangutan sebab kondisi orangutan yang dalam evaluasi medis. 

Bersama Morio kami pun berbagi cerita pada anak-anak TK. “Sebenarnya ini bukanlah hal yang baru untukku mengajar anak-anak, namun untuk kelompok usia yang lebih kecil ini ternyata kita harus punya enegi yang jauh lebih besar”, ujar Mia, relawan COP yang merupakan alumni COP School Batch 12. Anak-anak antusias mendengar dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai satwa liar. Saking antusiasnya, energi kelas menjadi begitu tinggi dan membuat kami sedikit kewalahan. Kami pun hanyut tertawa melihat tingkah lugu mereka. Energi kecerian anak-anak ini menular ke kami yang datang. Sepulangnya kami dari school visit, kami dengan riang menyapa orang-orang yang berpapasan dengan kami.

Evaluasi kunjungan ke sekolah pun memberikan catatan tersendiri. Anak-anak mengetahui semua hewan domestik namun tidak tahu sata liar yang khas dari Kalimantan Timur. Hal ini menjadi perhatian karena pengetahuan adalah kekuatan. Kini anak-anak TK Annisa tahu bahwa bebek memiliki banyak manfaat jika dipelihara dengan baik dan Rangkong harus tetap tinggal di hutan sebagai petani hutan. “Aku berharap, energi keriangan anak-anak terus menular ke kami dan energi kesadaran pentingnya menjaga satwa liar di alam bisa menular juga ke anak-anak. Panjang umur upaya-upaya baik!”, tambah Mia penuh semangat. (MIA_COPSchool)