Hujan turun pelan membasahi Camp APE Warrior, Yogyakarta. Tanah lembab, udara dingin, dan sore yang biasanya menjadi alasan untuk pulang lebih cepat justru menjadi pembuka Dating Apes pertama di tahun 2026. Di tengah cuaca yang tak bersahabat itu, Nurina Indriyani (Kak Nuri), Direktur Kanopi Indonesia, hadir membawa satu topik yang kerap dianggap sepele, namun sangat menentukan masa depan keanekaragaman hayati, yaitu peran masyarakat lokal dalam konservasi.
Dengan gaya bertutur yang tenang dan berangkat dari pengalaman lapangan, Kak Nuri mengajak peserta melihat konservasi dari jarak yang lebih dekat. Bukan dari balik laporan proyek atau peta kawasan lindung, melainkan dari kampung, ladang, dan relasi sehari-hari antara manusia dan alam. Di Yogyakarta dan wilayah sekitarnya, pelestarian tidak pernah berdiri sendiri; ia tumbuh dari pengetahuan lokal, praktik tradisional, serta keputusan-keputusan kecil masyarakat yang selama ini jarang masuk ruang diskusi formal.
Meski hujan belum reda, mahasiswa, relawan, dan perwakilan berbagai lembaga tetap berdatangan. Di antara gelas teh manis hangat serta cemilan rebusan kacang dan jagung sederhana, diskusi mengalir tanpa jarak. Tak ada panggung tinggi atau sekat akademik, yang ada adalah percakapan tentang bagaimana konservasi seharusnya berpihak, mendengar, dan tumbuh bersama masyarakat. Dating APES kali ini menjadi pengingat bahwa menjaga keanekaragaman hayati selalu bermula dari hal paling dekat: manusia yang hidup berdampingan dengannya. (DIT)
Panggilan tugas itu datang tanpa aba-aba pada Senin siang 19 Januari 2026. Area camp-site SM Siranggas membutuhkan penanganan darurat akibat pohon tumbang merusak pipa saluran air dan atap bangunan, memaksa kami bergerak cepat melawan waktu untuk melakukan penanganan. Sore itu juga, saya bersama APE Sentinel bergegas ke SRA untuk menjemput gergaji mesin dan Abang Manik selaku tokoh kunci di kawasan SM Siranggas. Persiapan dilakukan ringkas namun taktis, karena kami sadar pekerjaan berat menanti. Tanpa membuang waktu, tim membelah malam meninggalkan Medan, menempuh perjalanan panjang dan melelahkan hingga akhirnya Siranggas menyambut kami dengan kabut tipis menjelang subuh.
Selasa dan Rabu menjadi hari di mana kemampuan improvisasi kami diuji. Setelah sempat turun gunung demi melengkapi peralatan yang kurang, kami membagi tim menjadi dua unit kerja. Sementara satu tim membersihkan area kandang dan bangunan, saya dan Abang Manik mengambil risiko menembus hutan menuju hulu air terjun. Di ketinggian tersebut, kami merakit instalasi pipa secara presisi demi menangkap aliran deras. Kerja keras itu terbayar lunas ketika sore harinya, gemericik air akhirnya terdengar mengalir deras mengisi penampungan air seolah menghidupkan kembali denyut nadi tempat itu.
Kamis 22 Januari 2026, menjadi babak akhir dari operasi singkat ini. Sisa tenaga kami kerahkan untuk pembersihan atap, perbaikan paralon, hingga sterilisasi jalur setapak menuju kandang. Siang harinya, saat kami meninggalkan Siranggas bukan hanya dalam kondisi lebih rapi, tetapi juga berfungsi penuh kembali. Perjalanan ini mengajarkan kami bahwa tugas lapangan tak melulu soal kekuatan fisik menebas semak atau memotong kayu, melainkan tentang kecepatan mengambil keputusan dan soliditas tim untuk bertahan serta menyelesaikan masalah di tengah keterbatasan fasilitas hutan. (Ndaru_Orangufriends)
Ular sering kali dipandang sebagai satwa yang menakutkan, padahal mereka memiliki peran besar bagi alam dan kehidupan manusia. Di sawah dan perkebunan, ular membantu petani dengan memangsa tikus dan hewan pengerat lain yang dapat merusak tanaman. Tanpa disadari, kehadiran ular ikut menjaga keseimabgnan ekosistem dan membantu mengurangi hama secara alami, tanpa bahan kimia.
Saat musim hujan dan banjir, ular kadang terlihat di sekitar pemukiman karena habitatnya tergenang air. Hal ini bukan karena ingin menyerang manusia, melainkan karena mereka mencari tempat yang lebih aman dan kering. Dengan mengenal jenis ular dan memahami perilakunya, kita bisa tetap waspada tanpa harus bersikap kasar atau menyakiti satwa yang sebenarnya hanya sedang berusaha bertahan hidup.
COP juga beberapa kali turut membantu penanganan ular di kawasan permukiman. Salah satunya adalah ular yang terlihat pada foto ini, ular sanca kembang (Phyton reticulatus) berjenis kelamin betina yang diperkirakan masih berusia di bawah satu tahun. Ular tersebut ditemukan di salah satu rumah warga dalam kondisi baik dan sehat, dengan panjang kurang lebih 1,5 meter. Setelah dievakuasi dengan aman, ular ini dikembalikan ke habitat alaminya agar dapat kembali menjalankan perannya sebagai pengendali keseimbangan ekosistem. Saat dilepaskan, ular tersebut sempat beradaptasi sejenak dengan lingkungan sekitarnya sebelum akhirnya melanjutkan perjalanannya menuju tempat yang lebih aman.
Kisah tentang ular mengingatkan kita untuk lebih peka terhadap lingkungan di sekitar. Alam terus berubah, dan satwa liar kerap menjadi pihak yang paling terdampak. Dengan menumbuhkan rasa empati, belajar memahami peran setiap makhluk hidup, serta menjaga keseimbangan alam, kita turut menciptakan ruang hidup yang lebih aman dan harmonis bagi manusia maupun satwa liar. (DIM)
Kamis, 1 Januari 2026, menjadi awal yang berbeda bagi kami di Sumatran Rescue Alliance (SRA). Saat banyak orang menikmati libur awal tahun, saya bersama tim APE Champion dan APE Sentinel justru memulai hari dengan melangsir bibit pohon dari seberang sungai. Tantangan fisik ini menjadi pembuka semangat sebelum kami dibagi menjadi dua tim. Fokus pertama kami adalah area rehabilitasi satwa, dimana 20 bibit pohon ditanam sebagai penyangga ekosistem masa depan, disusul dengan penanaman bibit nangka di halaman depan klinik yang rampung tepat sebelum jam makan siang.
Sesi kedua berlanjut di area bagian atas, mencakup belakang kantor dan sekitar mess staf. Kali ini, energi kami bertambah dengan bantuan ada yang memastikan setiap lubang tanam terisi dengan presisi. Kerja sama yang solid membuat proses berjalan cepat dan terukur, menutup hari pertama di tahun baru itu dengan kepuasan tersendiri. Sore harinya, kami kembali ke kantor Medan membawa rasa bangga sederhana, bahwa hari libur kami telah dikonversi menjadi kontribusi nyata bagi pemulihan lingkungan SRA.
Semangat penghijauan itu kembali kami bawa dua pekan kemudian, pada Jumat, 16 Januari. Misi kali ini lebih besar, menanam seratus bibit pohon. Perioritas kali ini, menanampada area sekitar kandang yang sebelumnya rusak dan diratakan alat berat akibat longsor. DI sana, kami menanam sekitar 30 pohon berukuran besar, sebuah upaya mendesak untuk mencegah erosi lebih lanjut di area tersebut.
Estafet penanaman berlanjut selepas ibadah zuhur dengan menanam pada area klinik, sekolah hutan, hingga kembali ke lingkungan kantor. Kali ini, kami fokus pada diversifikasi tanaman dengan memasukkan bibit buah seperti rambutan dan alpukat, yang kelas diharapkan menjadi sumber pakan alami bagi penghuni SRA. Tepat pukul lima sore, seluruh target berhasil ditanam berkat kerja bersama-sama. Perjalanan pulang ke Medan usai magrib terasa lebih ringan, karena kami tahu, kami telah meninggalkan jejak hijau yang akan tumbuh menjaga masa depan hutan dan satwa di SRA. (Ndaru_Orangufriends)
Perjalanan menuju Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC) di Simalungun pada Jumat, 5 Desember 2025, bukanlah sekadar kunjungan biasa bagi saya bersama tim APE Sentinel. Kami datang dengan misi spesifik yaitu menyulap sebuah bangunan tua menjadi pusat informasi gajah yang layak. Malam pertama langsung menyambut kami dengan tantangan nyata seperti aroma cat yang menyengat beradu dengan udara dingin dinding lembap, menemani kerja lembur kami hingga larut. Waktu yang terbatas memaksa kami bekerja dalam ritme cepat, mengubah target awal tiga hari menjadi empat hari penuh peluh demi memastikan setiap sudut bangunan mendapatkan sentuhan perbaikan yang pantas.
Hari-hari berikutnya diisi dengan kerja fisik yang menuntut ketelatenan. Ketika ditemukan plafon yang lapuk, keputusan diambil cepat tanpa banyak diskusi yaitu bongkar dan ganti. Pembagianan tugas ada yang memanjat mengganti atap, ada yang mengecat teralis, hingga membersihkan dinding luar secara manual. Meski lelah, melihat bangunan yang semula kusam perlahan memancarkan wajah baru memberikan kepuasan tersendiri. Lantai yang baru divernis tepat saat azan magrib berkumandang di hari keempat menjadi penanda selesainya tahap pertama, namun kami tahu napas bangunan ini belum sepenuhnya utuh.
Napas kehidupan itu ditiupkan pada kunjungan lanjutan tanggal 13 dan 27 Desember 2025. Kali ini, dengan bantuan personil tambahan, fokus kami beralih dari konstruksi ke estetika dan fungsi. Ruang yang telah direnovasi mulai diisi dengan poster edukasi dipasang, gorden digantung, dan dokumentasi profil gajah-gajah ANECC mulai menghiasi dinding. Sentuhan akhir ini menjadikan ruangan gagah bercerita yang hidup, siap menyambut siapa saja yang ingin belajar tentang konservasi gajah sumatra.
Puncak dari segala lelah itu akhirnya terbayar lunas pada tanggal 17 Januari 2026. Saat peresmian Pusat Informasi ANECC, bangunan tersebut langsung menyambut tamu pertamanya yaitu rombongan anak-anak TK dari Sekolah Alam Asahan. Melihat antusiasme dan rasa ingin tahu yang terpancar dari wajah mereka saat mengisi ruangan, kami sadar bahwa misi ini telah berhasil. Renovasi ini bukan sekadar tentang memperbaiki tembok atau mengecat jendela, melainkan tentang menyediakan ruang agar pesan pelestarian gajah dapat terus bergema ke generasi selanjutnya. (Ndaru_Orangufriends)
Minggu siang, 11 Januari 2026, Kota Medan menghadirkan atmosfer yang berbeda bagi kami. Saat banyak orang menikmati akhir pekan, kami justru riuh mempersiapkan keberangkatan menuju Sanggar Pelita. Sinergi terjalin kuat antara APE Sentinel dan relawan Orangufriends. Kami disatukan oleh satu misi sederhana namun vital, yaitu membawa edukasi konservasi ke ruang belajar anak-anak. Persiapan dilakukan sejak pagi, memastikan setiap personel memahami perannya sebelum roda kendaraan berputar tepat pukul 11.00 WIB.
Tantangan terbesar hari itu adalah waktu. Kami hanya memiliki jendela efektif selama satu jam, dari pukul 12.00 hingga 13.00 WIB. Menyadari keterbatasan tersebut, pembagian tugas dirancang dengan presisi namun tetap fleksibel. Ndaru dan Qaila bertindak sebagai pemandu acara sementara Nadira menyiapkan materi utama yang padat. Di sisi hiburan, duo Sintia dan Sarah bertugas memecah kebekuan lewat ice breaking, didukung kehadiran maskot orangutan di tengah teriknya cuaca Medan. Laras dan Tirta bersiap-siap di balik lensa, mengabadikan setiap momen berharga.
Begitu acara dimulai, kekhawatiran soal waktu seolah sirna, tergantikan oleh ledakan energi positif. Ruang Sanggar Pelita seketika hidup oleh tawa dan antusiasme anak-anak. Materi edukasi tak berjalan satu arah, melainkan menjelma menjadi interaksi hangat, terutama saat maskot orangutan muncul dan mencuri perhatian. Anak-anak bertanya, bereaksi, dan tertawa lepas. Interaksi jujur inilah yang menjadi nyawa kegiatan, membuktikan bahwa edukasi lingkungan dapat disampaikan dengan cara yang menyenangkan.
Satu jam singkat itu ditutup dengan sesi foto bersama, membingkai senyum anak-anak dan tim dalam satu kenangan. Meski berdurasi pendek, momen di Sanggar Pelita meninggalkan jejak yang dalam. Kegiatan ini menegaskan bahwa edukasi COP bukan sekadar menjalankan program, melainkan pertemuan tulus antara semangat tim dan rasa ingin tahu anak-anak. Kami pulang dengan keyakinan bahwa benih kepedulian yang ditanam hari ini akan tumbuh menjadi sesuatu yang berarti di masa depan. (Ndaru_Orangufriends)
Awal tahun ini di Sumatran Rescue Alliance (SRA) dimaknai bukan sekadar sebagai pergantian kalender, melainkan sebuah simbol “Lembar Baru” bagi SRA. Ingatan membenam dan masih segar pada peristiwa satu bulan lalu, saat bencana longsor dan banjir menerjang kawasan ini serta meninggalkan jejak kerusakan yang cukup mendalam pada lanskap pusat rehabilitasi. Namun, lumpur dan sisa bencana tidak menyurutkan semangat dan justru momen ini menjadi titik balik untuk segera bangkit dan memulihkan kembali benteng hijau pelindung kawasan melalui aksi penanaman pohon bersama.
Tim SRA melakukan penanaman dengan tujuan penguatan struktur tanah yang diwujudkan melalui penanaman 40 batang bambu sebagai langkah awal pemulihan lahan kritis pasca-bencana. Akar bambu yang serabut dan kuat diharapkan mampu mencengkeram tanah dengan erat. Selain fungsi ekologis sebagai penahan tanah, penanaman ini juga memperkaya bawaan dengan tanaman buah, meliputi 12 bibit cempedak, 11 bibit sukun, 11 bibit nangka, serta 35 bibit pete.
Keberadaan vegetasi yang rapat akan menciptakan mikroklimat yang sejuk dan teduh, kondisi yang sangat dibutuhkan untuk menjaga kesehatan fisik maupun psikis satwa rehabilitasi. Rimbunnya pepohonan kelak berfungsi sebagai buffer atau penyekat alami yang meredam kebisingan dan membatasi interaksi visual dengan dunia luar, memberikan ketenangan yang esensial agar satwa liar dapat memulihkan perilaku alaminya dengan optimal.
Lebih jauh lagi, pemilihan jenis pohon buah merupakan investasi jangka panjang bagi kemandirian pusat rehabilitasi. “Kami menanam pohon ini agar bisa berguna di masa depan dan buahnya bisa dipergunakan oleh satwa dan para pekerja di sekitar sini”, ucap Ndaru yang merupakan Orangufriens Padang di sela-sela menanam. Kelak saat pohon-pohon ini berbuah, SRA akan memiliki simpanan pakan mandiri yang menyediakan nutrisi alami dan segar bagi satwa. Dengan setiap bibit yang ditanam ke dalam tanah yang sedang memulihkan diri ini, menanamkan harapan dan resolusi tahun baru yang kuat untuk satwa-satwa kebengaan Sumatra. (AGU)
Hutan selalu punya cara menyambut siapa pun yang datang dengan niat baik. Begitu pula saat kami tiba di Kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat untuk menjalankan misi sederhana namun bermakna, yaitu menanam pohon bayur sebagai sumber pakan alami orangutan. Udara sejuk, suara burung berkicau, dan gemerisik dedaunan menyertai langkah pertama kami, seolah menjadi pembuka sebuah perjalanan kecil yang penuh harapan.
Perjalanan menuju lokasi tanam memang tidak selalu mulus. Ada kalanya sungai surut sehingga perahu harus ditarik, di lain waktu kami harus menembus hutan yang rapat. Capek? Iya. Namun justru di situlah letak serunya. Setibanya di lokasi, kami langsung berbagi peran, mulai dari menggali tanah, menata bibit bayur, hingga memastikan jarak tanam yang tepat. Setiap kali satu bibit berdiri tegak, ada rasa puas yang sulit dijelaskan, seperti menitipkan harapan baru bagi hutan.
Bayur bukan pohon sembarangan. Buahnya menjadi salah satu sumber pakan penting bagi satwa liar, termasuk orangutan. Batangnya kuat, dan keberadaannya membantu menjaga keseimbangan ekosistem serta kesehatan hutan secara keseluruhan.
Kegiatan ini bukan sekadar menanam pohon, tetapi juga menanam harapan. Harapan bahwa beberapa tahun ke depan, bayur-bayur ini akan tumbuh tinggi dan kokoh, menjadi tempat orangutan bergelantungan sekaligus menyediakan sumber makanan yang melimpah. Harapan agar hutan tetap hidup dan lestari, sehingga generasi mendatang masih dapat menyaksikan orangutan bebas berkeliaran di rumah alaminya.
Karena pada akhirnya, menanam pohon adalah cara paling sederhana, namun paling berarti untuk memberi kembali kepada alam. DI Gunung Batu Mesangat, setiap bayur yang ditanam membawa pesan yang jelas, hutan ini penting, orangutan ini berharga, dan masa depan mereka ditentukan oleh langkah kecil yang kita ambil hari ini. (Hasanah_Orangufriends)
Di bawah terik mentari yang sedang garang-garangnya, tim patroli APE Guardian berangkat dari pos monitoring menuju titik pelepasliaran Memo di sisi Sungai Hagar untuk melakukan patroli sekaligus pengambilan kamera jebak yang telah dipasang sebulan sebelumnya. Tak sampai 30 menit melaju, mesin perahu kami matikan. Salah satu ranger kemudian membatu mendayung sebentar hingga perahu berhasil menembus anak sungai yang cenderung sempit dan banyak terhalang dahan pohon tumbang di sepanjang tepian sungai.
Lokasi kamera jebak pertama yang kami datangi memiliki medan yang lebih ekstrem dibandingkan lokasi lainnya. Kami melewati area perbukitan dan sempat menyeberangi anak sungai dengan kedalaman kurang lebih sepinggang orang dewasa. Kamera jebak tersebut terpasang di sekitar pohon durian merah yang dalam bahasa Dayak Kenyah Lepoq Bem disebut buas dian bala. Harapannya, aroma durian merah dapat menarik berbagai satwa untuk mendekat dan terekam oleh kamera jebak.
Proses patroli berjalan lancar. Sesampainya kembali di pos, kami segera mengecek dengan harapan menemukan beragam jenis satwa. Beberapa satwa yang terekam di antaranya kancil, tikus bulan, berang-berang, serta satu individual orangutan betina yang sedang menggendong anaknya. Namun rekaman yang paling menarik perhatian saya adalah sepasang burung Sempidan Biru Kalimantan, jantan dan betina.
Burung Sempidan Biru jantan memiliki ukuran tubuh sekitar 65-70 cm, sedangkan betina sekitar 56-57 cm. Keduanya memiliki kulit muka berwarna biru. Jantan ditandai dengan jambul hitam dan bulu ekor berwarna putih kekuningan, sementara betina memiliki warna tubuh cokelat kusam tanpa jambul mencolok. Warna ini berfungsi sebagai kamuflase alami, terutama saat betina mengerami telur dan bersembunyi dari predator.
Burung yang masuk dalam kategori rentan ini menghadapi berbagai ancaman terhadap kelangsungan hidupnya, mulai dari deforestasi, perburuan liar, hingga perdagangan satwa ilegal akibat keindahan bulunya. Selain memakan biji-bijian, sempidan biru juga mengonsumsi buah-buahan hutan, serangga, cacing, dan hewan kecil lainnya. Aktivitas mencari makan tersebut membuat burung ini sering mengorek tanah, membantu proses penggemburan tanah, sekaligus berperan sebagai penyebar benih.
Peran ekologis inilah yang menjadikan burung sempidan biru Kalimantan sebagai salah satu penjaga pentingnya regenerasi hutan. Dengan bantuannya, hutan dapat terus memperbarui vegetasinya dan menjaga keanekaragaman hayati tetap lestari. (Hana_COP School Batch 15)
Tahun 2025 menjadi perjalanan panjang yang penuh tantangan sekaligus penguatan komitmen bagi APE Warrior dalam memperjuangkan keselamatan dan keberlanjutan satwa. Sepanjang satu tahun terakhir APE Warrior hadir di berbagai situasi krisis, konflik antara manusia dan satwa, hingga ruang edukasi publik, memastikan bahwa satwa tidak lagi menjadi pihak yang terabaikan dalam setiap bencana dan perubahan lingkungan.
Pada September 2025, APE Warrior melakukan asesmen dampak banjir di Bali sebagai upaya menyelamatkan satwa yang membutuhkan pertolongan serta menghadirkan kehidupan yang lebih baik, termasuk memberikan kesempatan kedua untuk kembali hidup bebas di alam liar. Selanjutnya pada November, tim terjun langsung menangani satwa terdampak erupsi Gunung Semeru. Ada sekitar 300 satwa terdampak, sterilisasi bangkai ternak untuk mencegah risiko kesehatan, distribusi pakan darurat baik untuk ternak maupun satwa kesayangan, pembangunan kandang komunal, serta layanan medis kolaborasi dinas terkait, Orangufriends, dan relawan lokal untuk mempercepat penanganan.
Konflik antara manusia dan satwa liar masih menjadi isu berulang, khususnya di kawasan urban, Sepanjang tahun 2025, APE Warrior menerima dan menangani 8 laporan konflik satwa liar dari masyarakat. Dari penanganan terebut, dilakukan evakuasi dan pelepasliaran terhadap 5 ekor monyet panjang. Edukasi kepada masyarakat, upaya mitigasi konflik, serta advokasi perlindungan satwa terus dilakukan agar keselamatan manusia dan satwa dapat berjalan beriringan.
Selain respons darurat, APE Warrior secara konsisten melawan perburuan, perdagangan, dan kepemilikan ilegal satwa melalui kerja investigasi, penegakan hukum, serta upaya konservasi dan pemulihan lingkungan. Sepanjang 2025, APE Warrior mengumpulkan 17 data investigasi dan melaksanakan 4 kasus penegakan hukum yang berhasil mendorong proses hukum hingga para pelaku kejahatan satwa liar dijatuhi hukuman penjara.
Upaya perlindungan ini juga diwujudkan melalui translokasi satwa dilindungi sebanyak 3 kali. Pada Januari 2025 dilakukan translokasi 1 ekor owa sumatra. Pada Juli 2025, APE Warrior melakukan translokasi 1 individu orangutan Kalimantan yang telah dipelihara selama 25 tahun. Selanjutnya, pada November 2025 dilakukan penegakan hukum atas laporan kepemilikan ilegal 2 ekor owa jawa di salah satu bangunan di Malang, Jawa Timur. Sebagai bagian dari upaya pencegahan perdagangan satwa liar, APE Warrior juga melaksanakan survei pasar burung di 16 lokasi serta melakukan kunjungan pemantauan ke 15 kebun binatang.
Berbagai kegiatan edukasi dan kampanye penyadartahuan publik dilaksanakan dengan rincian, siaran radio sebanyak 10 kali, kelas bulanan Dating APES sebanyak 9 kali, latihan perahu sebanyak 2 kali, serta kali kunjungan ke sekolah. Selain itu, APE Warrior turut berpartisipasi dalam berbagai acara publik dengan total audien lebih dari 300 orang. Pada tahun ini pula, APE Warrior menyelenggarakan event tahunan COP School Batch 15 serta Animal Disaster Relief Training Batch 3 sebagai upaya memperkuat kapasitas individu dan komunikasi dalam isu perlindungan satwa dan kebencanaan.
Untuk menjaga keberlanjutan gerakan, APE Warrior membuka stand merchandise di berbagai acara komunitas dan konser amal sepanjang tahun. Kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai penggalangan dana, tetapi juga menjadi sarana memperluas jejaring, memperkenalkan isu perlindungan satwa kepada audiends yang lebih luas, serta mengajak publik terlibat langsung dalam upaya perlindungan satwa.
Menutup tahun 2025, APE Warrior menyadari bahwa perjuangan ini masih panjang. Setiap operasi lapangan, penegakan hukum, edukasi, dan kampanye menjadi pengingat bahwa satwa membutuhkan suara yang konsisten dan tindakan nyata. Dengan dukungan relawan, mitra, dan masyarakat, APE Warrior melangkah ke tahun berikutnya dengan komitmen untuk menghadirkan respons yang lebih cepat, advokasi yang lebih kuat, serta masa depan yang lebih aman bagi satwa dan alam. (DIT)
