Orangufriends

SALAK PONDOH UNTUK JOKO DKK DI WRC JOGJA

Kalau ke Yogya, jangan lupa nyicipi salak pondoh, bikin ketagihan. Bahkan bibit salak pondoh banyak diperjualbelikan dan kini sudah bisa tumbuh dimana pun. Untuk artis yang tidak bisa buka buah salak, mungkin hanya takut jari maupun kukunya menjadi rusak. Kalau orangutan? Kita coba bawakan 5 kg salak untuk mereka. Mereka yang sekarang berada di Wildlife Rescue Center Jogja. 

Ini adalah yang keenam kalinya di bulan Juni, tim APE Warrior mengirim pakan orangutan. Belanja buah dalam jumlah yang cukup besar, membuat para pedagang terheran-heran. Apakah untuk dijual lagi? Tim memang berusaha membeli dari pedagang kecil, di tengah pandemi seperti ini, perekonomian harus tetap berjalan. 

Semangkanya 30 kg, pepaya 30 kg, pisang 20 kg, jangan lupa sayurannya untuk orangutan. Sawi 10 kg dan protein dari kacang tanah 10 kg. “Belanja bikin kita bahagia…”, ujar Liany Suwito, juru bicara COP. 

Untuk kamu yang ingin membantu satwa liar lainnya, silahkan email info@orangutanprotection.com Kami membuka donasi untuk disampaikan pada satwa liar lainnya yang berada di Wildlife Rescue Center Jogja. Rencananya, bulan depan akan ada satwa liar yang dilepasliarkan ke alam. Pandemi COVID-19 mempercepat pelepasliaran ini. Satwa liar lebih baik di alam.

SENAPAN ANGIN: MENGANCAM SATWA DAN MANUSIA

Sekali lagi kematian akibat penyalahgunaan senapan angin di daerah Magelang, Jawa Tengah. Pada Senin, 15 Juni 2020, seorang pemburu tewas tertembak temannya sendiri yang saat itu sedang bersama-sama berburu musang. Saat menyebar untuk mencari musang pelaku salah menduga korban yang berada cukup jauh darinya adalah seekor musang. Kemudian ia pun melepaskan tembakan dan melukai temannya hingga akhirnya tak dapat diselamatkan. https://jogja.tribunnews.com/2020/06/16/seorang-warga-magelang-tewas-tertembak-temannya-sendiri-saat-berburu-musang Penggunaan senapan angin ini pun diketahui tidak disertai ijin.

Memang sampai saat ini kasus penyalahgunaan senjata atau senapan angin masih terus terjadi. Seperti contohnya teror penembakan senapan angin di Yogyakarta pada akhir tahun 2019 lalu sehingga menimbulkan keresahan di masyarakat. Padahal sudah jelas ada peraturan yang mengatur bahwa penggunaan senapan angin sangatlah dibatasi terutama untuk urusan berburu.

Pengurus Besar (PB) Persatuan Menembak Indonesia (Perbakin) juga telah mengeluarkan surat edaran nomor 257/Sekjen/PB/III/2018 perihal Penggunaan Senapan Angin. Dalam surat ini dijelaskan bahwa senapan angin hanya boleh digunakan dalam latihan dan pertandingan dan bukan untuk berburu, melukai atau membunuh binatang.

“Namun memang surat edaran ini sepertinya belum cukup mempan untuk menyadarkan masyarakat yang terbiasa menggunakan senapan angin. Selain karena pengawasan yang sulit dilakukan juga karena akses masyarakat terhadap senapan angin masih tergolong mudah. Berbagai jenis senapan angin bahkan masih dijual bebas secara online. Belum lagi senapan rakitan ilegal, juga banyak beredar.”, kata Liany Suwito, juru kampanye Teror Senapan Angin COP dengan prihatin.

“PB Perbakin seharusnya bisa menindak tegas anggotanya yang melanggar dan terus memberikan edukasi penggunaan senapan yang tepat.”, kritik Liany lagi. “Selain itu, pengawasan lebih ketat mengenai ijin jual beli ataupun kepemilikan senjata juga harus dilakukan Kepolisian Republik Indonesia. Jangan hanya Perkap atau Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api untuk Kepentingan Olahraga jadi pemanis dalam hukum Indonesia”, tambahnya. “Mari kita hentikan jatuhnya korban penyalahgunaan senapan angin baik itu manusia ataupun satwa liar.”. (LIA)

HARIMAU MINANGKU SAYANG, HARIMAU MINANGKU MALANG

Masyarakat Minangkabau (yang mendiami hampir seluruh wilayah di Sumatera Barat), biasa menyebut diri mereka dengan sebutan “Orang Minang” yang masih memegang teguh dan menjalankan hidup sesuai dengan adat istiadat yang jadi warisan leluhur. Terutama dalam hal mengelola dan menjaga sumber daya alam mereka nan kaya. Terjaganya pengetahuan lokal, tak heran bila “Orang Minang” sering mengaku memiliki kawasan hutan yang cukup terjaga dengan segala bentuk kehidupan di dalamnya. Mengaku punya kearifan lokal terkait konservasi tentang bagaimana menjaga hutan dan bagaimana hidup selaras dengan satwa serta bagaimana memperlakukan mereka, khususnya pada harimau. Banyak sekali cerita rakyat terkait harimau yang dimiliki masyarakat Minang di tanah Minangkabau.

Tapi kemudian, terjadilah hal yang mengherankan… harimau muncul, keluar dari habitatnya dan berkonflik dengan manusia. Dan sialnya, harimau selalu ada di pihak yang salah. Padahal harimau itu “indak manga-manga” (nggak ngapa-ngapain). Cuma numpang lewat, sekedar cari makan. Kebetulan “tapirogok” (kepergok) dengan manusia yang sedang melakukan aktifitas berladang, disebutlah harimau telah “menghadang” manusia. Itu yang selalu dipakai masyarakat sebagai alasan. Si “Raja Hutan ditangkap kemudian dibuang ke rimba yang antah berantah karena dianggap meresahkan, mengancam dan menggangu warga.

Sebelum kasus kemunculan harimau di Nagari Gantuang Ciri kabupaten Solok yang akhirnya harus ditangkap ini, pernah ada juga kemunculan harimau di Padang. Tepatnya di sekitar bukit karst yang jadi lokasi tambang Semen Padang. Tapi berhasil dihalau untuk kembali ke habitatnya, dan tidak ada korban dari kedua belah pihak. Sebelumnya lagi, sekitar April 2018 telah terjadi hal serupa. Harimau muncul di pemukiman warga di Nagari Palupuah kabupaten Agam, dan sempat memangsa ternak warga. Setelah melalui beberapa tahapan penanganan oleh BKSDA Sumbar, harimau pun akhirnya ditangkap dan dievakuasi ke Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PRHSD) milik Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD). Meski kini harimau yang diberi nama Sopi Rantang itu akhirnya bisa dilepasliarkan ke kawasan Suaka Marga Satwa Rimbang Baling (perbatasan Sumba-Riau), tapi peristiwa penangkapan itu sempat jadi sesalan masyarakat Palupuah. Mereka merasa bersalah. Karena setelah melihat secara langsung harimau yang telah ditangkap, ternyata harimau itu bukan “Penjaga kampung” mereka. Ya, itulah yang dipercaya masyarakat Minang di Sumatera Barat. Bagi mereka, harimau tak sekedar penghuni rimba belantara ereka yang terjaga, tetapi adalah jelmaan leluhur mereka. Setelah dua tahun berlalu, kembali terjadi konflik yang sama di Sumatera Barat. Kali ini terjadi di Nagari Gantuang Ciri kecamatan Kubung, kabupaten Solok. Dimana yang jadi korban konflik, lagi-lagi adalah harimau. Sehingga harimau harus ditangkap dan dievakuasi dari habitatnya.

“Dari konflik yang kembali terjadi ini, ada hal yang tak (mau) dipahami oleh pihak-pihak yang berkonflik. Si harimau sebenarnya mau minta tolong sama manusia karena akibat aktifitas perburuan yang dilakukan manusia melukai anak-anak mereka, induk mereka… membuat mereka terancam. Ini semua terjadi untuk ke sekian kalinya di Minangkabau (Sumatera Barat).”, ujar Novi Rovika, Orangufriends Sumatera Barat dengan kecewa. “Ini menegaskan kalau sepertinya sudah tak ada lagi penghargaan “masyarakat adat Minang” terhadap pengetahuan leluhurnya terkait “Alam Takambang Jadi Guru”.”, tambahnya lagi. Pemerintah nagari yang menjadi representasi dari masyarakat adat Minang mampukah melindungi harimau? atau memang tak mau? (NOVI_Orangufriends)

LOMBA POSTER ORANGUTAN

Tema: Anti Kepemilikan Ilegal Satwa Liar

Kepemilikan satwa liar dilindungi masih menjadi salah satu penyebab utama berkurangnya populasi satwa liar di alam. Hal ini disebabkan karena masih kurangnya pengetahuan masyarakat bahwa satwa liar memiliki peranan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Sedangkan memelihara satwa liar memiliki banyak resiko seperti penularan penyakit atau zoonosis.

Selain itu, banyak yang masih belum menyadari adanya peraturan yang melarang masyarakat untuk memiliki, menyimpan dan memperjualbelikan satwa-satwa liar dilindungi. Maka dari itu perlu adanya sosialisasi dan penyadartahuan lebih lanjut kepada masyarakat untuk berperan aktif melestarikan satwa liar di habitatnya.

Salah satu caranya melalui media publikasi seperti poster. 1000 poster rencananya akan dicetak dan disebar oleh tim COP di berbagai lokasi di Kalimantan Timur. Ini bertujuan untuk mengedukasi dan mendorong masyarakat dalam melindungi satwa-satwa liar yang ada dan melaporkan bila ada kejahatan yang muncul di sekitar mereka. 

Jadi kami sangat menantikan karya kalian… Mari kita semua bekerja sama untuk melindungi satwa-satwa liar di Indonesia. (LIA)

LOMBA CERPEN ORANGUTAN “BERTEMU” OLEH ORANGUFRIENDS

Setelah sukses tahun lalu membuat Lomba Cerpen Orangutan bersamaan dengan pameran seni Art for Orangutan #3 pada tanggal 14-17 Pebruari 2019 di Jogja National Museum dengan tema “A Good Life for Orangutan”. Tahun ini relawan COP yang tergabung dalam Orangufriends kembali mengadakan Lomba Cerpen Orangutan dengan tema berbeda yaitu “Bertemu”.

Salah satu relawan COP yang tergabung dalam Orangufriends bernama Netu Domayni mengatakan, Tahun lalu untuk pertama kalinya kami adakan dan antusias peserta sangat banyak dengan beragam sudut pandang penulisan tentang orangutan. Tahun ini kami adakan lagi dengan tema “Bertemu”. Kami mengharapkan penulis akan membuat cerpen dengan imajinasi orangutan bertemu dengan apapun, dengan siapun di ruang dan waktu yang sangat liar. Keliaran penulis dengan menuliskan orangutan bertemu dengan tokoh imajinatifnya pasti akan menarik. Pertemuan orangutan tersebut semoga bisa menjadi cara pandang baru bagaimana menyelamatkan bumi ini.

Lomba ini akan ditutup pada tanggal 20 Juli 2020 dan pemenangnya diumumkan di Instagram @orangutan_COP pada tanggal 1 Agustus 2020 jam 19.00 WIB. Adapun yang perlu diketahui antara lain:

– Terbuka untuk umum dan penulis boleh mengirimkan lebih dari satu karya

– Ukuran kertas A4, font Times New Roman MS 12, spasi 1,5 dengan Margin 4-4-3-3 cm

– Panjang tulisan minimal 1000 kata dan maksimal 3000 kata

Kirim ke email cerpen.orangutan@gmail.com dengan judul email: Nama Peserta_Judul karya_No HP dengan disertai: MS. Word tulisan karya cerpen, foto identitas diri seperti Kartu Pelajar/KTP/SIM atau Paspor dan foto slip donasi

– Donasi Rp 25.002,00 (dua puluh lima ribu dua rupiah) ke Rekening BNI 0137088800 a.n Centre for Orangutan Protection. (penggunaan angka 2 (dua) di belakang pada saat transfer untuk mempermudah kami mendata donasi yang masuk merupakan dari kegiatan Lomba Cerpen Orangutan)

– Hadiah pemenang pertama Rp 1.000.000,00 kedua Rp 750.000,00 dan ketiga Rp 500.000,00 serta ditambah dengan piagam dan suvenir dari COP

– Info lebih lengkap bisa kontak di email cerpen.orangutan@gmail.com atau lihat di Instagram @orangutan_COP

Netu juga menambahkan, “Sepuluh cerpen terbaik akan kami kompilasi dalam buku antologi Lomba Cerpen Orangutan. Semoga ini bisa menjadi sumbangan literasi sastra yang fokus pada orangutan yang kita ketahui masih sangat minim di Indonesia.”. (DAN)

PEKERJAAN BERAT SEORANG INFLUENCER

Memasuki bulan Mei 2020 dimana semakin banyak orang yang membutuhkan bantuan karena Covid-19 yang menghambat dan memberhentikan perekonomian, justru ada saja orang-orang yang menyalahgunakan situasi ini. Sebut saja seorang youtuber di Bandung yang alih-alih memberi bantuan sembako untuk orang yang membutuhkan justru membohongi mereka dengan memberi paket bantuan berisi sampah dan batu.

Paket bantuan yang diberikan pada para waria dan anak-anak kecil ini ia labeli sebagai sebuah prankatau candaan yang ia uploadsebagai konten youtube yang bisa dilihat oleh banyak orang. Dianggap bercanda tidak pada tempat dan waktunya, maka youtuber ini pun mendapat banyak kecaman dari netizen dan bahkan hingga dilaporkan kasusnya ke polisi.

Beruntung bila para pengikutnya adalah orang-orang dewasa yang sudah bisa membedakan mana hal benar dan salah untuk dilakukan. Namun bagaimana dengan anak-anak kecil yang menontonnya? Bisa saja mereka justru mengikuti hal-hal ini. Belum lagi saat ini semakin banyak orang-orang yang menjadi influencer namun tidak memikirkan benar-benar secara jangka panjang efek atau dampak dari konten yang ia pertontonkan pada orang banyak.

Contoh yang sering kita temui juga yaitu para influencer sekaligus pecinta dan kolektor satwa liar yang dengan leluasa menyebarkan aktivitas mereka bersama satwa-satwa liar yang menjadi peliharaan mereka. Memang bagi kebanyakan orang akan menganggap hal ini sebagai sebuah hal yang lucu dan menarik untuk dilakukan atau bahkan dianggap keren oleh para pengikutnya. Namun sebenarnya dampak jangka panjang dari konten ini justru dapat menyesatkan. Dimana mereka yang tidak teredukasi secara benar akan berusaha juga memiliki hewan peliharaan yang sama walau entah dari mana asalnya dan entah bagaimana cara mendapatkannya.

Maka bila hal ini terjadi, yang pada akhirnya menjadi korban adalah satwa itu sendiri. Banyak satwa yang diperdagangkan dengan cara diselundupkan yang menderita dan akhirnya mati dalam perjalanan. Terutama bila para penjual dan pembeli tidak memiliki fasilitas dan kemampuan yang memadai untuk melakukan perawatan, satwa tidak akan bertahan lama. Belum lagi satwa yang dipelihara dan terbiasa hidup bersama manusia akan kehilangan sifat aslinya dan semakin sulit untuk dikembalikan lagi ke alam.

Inilah hal-hal yang ditakuti oleh para pemerhati konservasi satwa liar. Bahwa meskipun para influencer ini merasa menyebarkan hal yang baik dan tidak melanggar hukum, konten-konten yang dipublikasikan bisa pada akhirnya memunculkan masalah baru karena kadang terkesan mengiklankan satwa liar untuk dipelihara. Hal ini karena influenceradalah orang yang memiliki kemampuan untuk memengaruhi dan diikuti oleh orang banyak. Itulah mengapa mereka seringkali dipilih untuk mengiklankan produk-produk tertentu, karena nantinya para pengikutnya akan tertarik untuk membeli produk yang mereka iklankan.

Lalu apakah para influencer ini akan membawa pengaruh positif atau negatif itu adalah pilihan bagi mereka. Namun sebagaimana yang kita tahu bahwa seseorang yang berpengaruh seharusnya bisa menjadi teladan yang baik bagi orang lain. Maka sangatlah perlu bagi para influenceruntuk tidak hanya membagikan konten yang bisa menarik perhatian banyak orang, tetapi juga bisa membangun dan mencerdaskan para pengikutnya.

GOGON DAN DEDEK… KAMI DARI APE WARRIOR COP

Ini adalah kunjungan kami yang kedua paska rencana untuk membantu ketujuh orangutan yang ada di Wildlife Rescue Center (WRC) Jogja. Rabu, 29 April 2020, tim APE Warrior mengumpulkan informasi terkait teknis perawatan orangutan di sana. 

Setiap pagi, kandang-kandang dibersihkan dilanjutkan ‘feeding’ atau pemberian pakan orangutan yang dilakukan dua kali dalam sehari, pukul 10.00 dan 14.00 WIB. “Syukurlah tak ada orangutan yang alergi pada pakan selama ini. Itu sangat memudahkan tim APE Warrior kedepannya.”, ujar Liany D. Suwito dari tim APE Warrior yang selalu siap sedia saat bencana alam yang datang sewaktu-waktu, tak terkecuali pandemi COVID-19 yang memaksa WRC Jogja angkat tangan dalam menjalankan taman satwa ini. 

Tim APE Warrior dengan dukungan para relawannya yang tergabung dalam orangufriends, membeli pakan tambahan untuk orangutan berupa nenas dan semangka yang kebetulan dekat dengan camp APE Warrior di Jalan Gito-Gati, Gondanglegi, Sleman, Yogyakarta. Nanas sebanyak 26 buah, semangka seberat 13 kg dan pisang 10 sisir akhirnya mengisi rak gudang pakan WRC. “Nenasnya menggoda iman… hahahaha.”.

Feeding sore, kami berkesempatan mengamati kandang Gogon dan Dedek. Mereka berdua berada dalam satu kandang. “Waduh, dua jantan dewasa berada dalam satu kandang? Dedek walaupun berusia lebih muda dibandingkan Gogon yang berusia 19 tahun memiliki tubuh lebih besar dan terlihat lebih dominan. Perlu lebih waspada nih.”, ujar Lia lagi. 

Panggilan untuk Orangufriends, silahkan donasi lewat kitabisa.com atau kirim pakan orangutan ke camp APE Warrior ya. Bersama… kita bisa! 

SATWA KEBUN BINATANG TERDAMPAK COVID-19

Saat ini beredar berita tentang beberapa kebun binatang yang hampir bangkrut dan tidak bisa memberi pakan satwa koleksinya karena mereka menutup kegiatan operasional mereka dari pengunjung selama pandemi virus corona ini. Yang artinya tidak ada pemasukan untuk kebun binatang tersebut dari pengunjung. Sementara biaya operasional dan pakan satwa mereka harus tetap jalan setiap hari. Satwa-satwa yang berada di kandang maupun enclosure di kebun binatang sangat bergantung kepada petugas perawat satwa yang setiap hari memberi mereka makan karena mereka tidak bisa mencari makan sendiri.

Kebun binatang memang bisnis sarat modal besar dan berat. Namun ini adalah konsekuensi bagi para pengelola kebun binatang untuk tetap memberi makan dan merawat satwa tersebut, karena selama ini juga satwa-satwa tersebutlah yang membuat pengunjung datang dan memberikan pemasukan untuk pengelola kebun binatang. Satwa-satwa di kebun binatang tidak mengenal pandemi COVID-19, yang penting bagi mereka adalah bertahan hidup di dalam kandang-kandang tersebut. Hidup di dalam kebun binatang bukan kemauan dari satwa tersebut, karena sejatinya ‘rumah’ mereka adalah di hutan. Dan mereka terpaksa tinggal di kebun binatang karena beberapa dari mereka adalah korban dari kejahatan manusia.

Centre for Orangutan Protection mengingatkan para pengelola kebun binatang untuk tetap memperhatikan kesejahteraan satwa dengan mengedepankan 5 kebebasan satwa. COP mengundang Orangufriends untuk diskusi dan aksi untuk satwa kebun binatang yang terdampak COVID-19. Hubungi kami di info@orangutanprotection.com (HER)

HENTIKAN COVID-19 MULAI DARI PASAR SATWA

COVID-19 sampai saat ini masih dipercaya berasal dari sebuah pasar basah yang menjual beragam jenis satwa liar dan domestik untuk dikonsumsi di Huanan, Wuhan, Cina. Serupa dengan pasar-pasar di Indonesia seperti pasar Tomohon di Sulawesi Utara yang sering terdengar sebagai salah satu pasar yang sejak lama menjual beragam jenis satwa yang sudah mati ataupun hidup untuk dikonsumsi. Contohnya seperti kelelawar, burung, tikus, kucing, anjing, ular, babi hutan bahkan monyet.

Tidak hanya pasar basah seperti ini, di Indonesia masih banyak pasar-pasar satwa yang beroperasi meski diketahui banyak potensi penularan penyakit yang dapat terjadi akibat berinteraksi atau mengkonsumsi daging satwa. Taylor, dkk (2001) dalam penelitiannya menemukan bahwa mayoritas spesies patogen yang menyebabkan penyakit pada manusia adalah zoonosis yaitu sebesar 61% dari jumlah penyakit yang ada. Zoonosis sendiri adalah penyakit atau infeksi baik berupa virus, bakteri, parasit atau jamur yang dapat ditularkan secara alamiah dari hewan ke manuais atau sebaliknya.

Beberapa contohnya penyakit zoonosis yang mematikan yaitu ebola yang sempat merebak di Afrika dan menewaskan lebih dari 13.500 orang, juga dipercaya berasal dari kelelawar. Kemudian juga ada MERS, SARS, Flu burung dan saat ini COVID-19. Zoonosis yang dimungkinkan Karena adanya interaksi dengan satwa liar ini biasanya banyak terjadi di pasar-pasar.

Ketika satwa diperjualbelikan di pasar, baik penjual atau pun pembeli akan melakukan kontak langsung dengan satwa yang ada. Karena adanya kontak ini maka baik virus, bakteri dan jamur sangat mudah untuk berpindah ke manusia. Selain itu, virus-virus seperti flu dan corona ini memiliki kemampuan mutasi dan dapat menjadi virus-virus baru yang lebih mematikan. Hal ini bahkan sudah diprediksi oleb Webster (2004) dalam penelitiannya mengenai pasar satwa sebagai sumber penyakit pernafasan dan flu dengan rekomendasi untuk menutup pasar-pasar basah atau satwa ini karena kemampuan mutasi virus-virus yang ada dapat membuatnya merebak kembali.

Selain itu, manusia yang memiliki sistem imun berbeda dan lebih rentan daripada satwa liar yang biasa hidup di alam. Sehingga sangat mudah untuk menjadi sakit dan sayangnya penyakit inipun sangat mudah untuk ditularkan pada manusia lainnya. Hingga akhirnya berpotensi menjadi sebuah pandemi global. Tak hanya satwa liar, satwa domestik seperti anjing pun memiliki potensi menyebarkan rabies yang dapat mematikan juga bagi manusia.

Maka konsumsi-konsumsi daging terutama satwa liar dan satwa domistik ada baiknya diminimalisir untuk menghindari resiko-resiko yang tidak diinginkan. Selain membahayakan diri, juga dapat membahayakan masyarakat dan lingkungan sekitar atau sedang membawa penyakit karena seringkali dijual dalam keadaan mati. Selain itu, prosesnya sendiri pun terkadang tidak manusiawi dan menyebabkan penderitaan bagi satwa.

Maka perlu adanya perubahan dan kesadaran dari masyarakat baik para penjual atau pun pembeli bahwa ada hal yang lebih penting dari keinginan dan tradisi untuk mengkonsumsi satwa yaitu kesehatan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Karena saat ini mengalami sendiri bahwa pandemi global COVID-19 ini tidak hanya mematikan banyak orang dari segi kesehatan, namun juga dari segi keuangan atau ekonomi. Jadi, marilah hal ini kita jadikan sebagai pembelajaran dan agar tidak adanya virus-virus yang bermunculan lagi di masa depan.

Sumber:

https://www.nationalgeographic.com/animals/2020/04/coronavirus-linked-to-chinese-wet-markets/

Taylor, L. H., Latham, S. M., Woolhouse, M. E., (2001). Risk factors for human disease 

emergence. The Royal Society, doi 10.1098/rstb.2001.0888.  

Webster, R. (2004). Wet markets-a continuing source of ssevere acute respiratory syndrome 

and influenza?. The Lancet : vol 363. 

COVID-19

Apa itu COVID-19?

COVID-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus corona. Virus corona ini sendiri adalah penyakit yang dapat menjangkit pada manusia maupun hewan dan menyebabkan infeksi pada saluran pernapasan.

Apa saja gejalanya?

Gejala yang biasa ditemui adalah demam, kelelahan, dan batuk kering. Beberapa penderitanya juga terkadang merasakan rasa sakit pada tubuh, pilek, radang tenggorokan serta diare. Namun terdapat juga kasus dimana gejala-gejala ini tidak muncul meski orang tersebut positif terinfeksi COVID-19. Namun sekitar 80% penderitanya dapat sembuh tanpa penanganan khusus.

Bagaimana penyebarannya?

Orang yang sehat dapat terkena COVID-19 dari orang lain yang memiliki virus tersebut. Berawal dari tetesan kecil air dari hidung atau mulut yang menyebar saat orang yang terjangkit virus ini batuk, bersin, atau menghembuskan nafas. Ketika tetesan ini mengenai permukaan tubuh orang yang sehat atau benda-benda yang ia sentuh, maka ketika ia menyentuh mata, hidung atau mulutnya, virus ini dapat masuk ke dalam tubuh. Hingga saat ini (21 Maret 2020), COVID-19 telah menyebar di 177 negara atau teritori dan terdapat 234,073 kasus yang terkonfirmasi.

Berapa lama masa inkubasi COVID-19?

Masa inkubasi adalah jangka waktu yang dibutuhkan dari sejak terkena virus hingga munculnya gejala. Masa inkubasi COVID-19 diperkirakan memiliki rentang antara 1-14 hari dengan rata-rata atau kebanyakan adalah sekitar lima hari hingga munculnya gejala.

Berapa lama virus bisa bertahan hidup di luar tubuh manusia?

Belum dapat dipastikan berapa lama COVID-19 bisa bertahan di luar tubuh manusia, namun beberapa studi memperkirakan virus corona bisa bertahan selama beberapa jam hingga beberapa hari di luar tubuh manusia.

Cara mencegah penyebaran dan penularan?

• Cuci tangan dengan bersih dan menyeluruh secara teratur baik dengan cairan pembersih beralkohol atau sabun dan air

• Jaga jarak sekurang-kurangnya 1 meter dari orang lain yang bersin atau batuk

• Hindari menyentuh wajah yaitu hidung, mata, dan mulut

• Batuk dan bersin dengan cara yang tepat, yaitu dengan menutup mulut dan hidung dengan siku tangan bagian dalam atau gunakan masker

• Beristirahat di rumah saat merasa kurang sehat dan segera menghubungi rumah sakit bila kondisi tubuh memburuk

• Tetap ikuti perkembangan informasi daerah-daerah penyebaran COVID-19 dan jika memungkinkan hindari beoergian ke tempat-tempat tersebut, terutama jika Anda memiliki sejarah penyakit diabetes, jantung, atau paru-paru. (LIA)

Sumber: https://www.who.int/news-room/q-a-detail/q-a-coronaviruses

Page 2 of 2512345...1020...Last »