Orangufriends

MENANAMKAN CINTA HUTAN SEJAK DINI: COP DAN BBKSDA SUMUT AJAK PELAJAR PAKPAK BHARAT MENGENAL ORANGUTAN

Menjaga hutan tidak hanya dilakukan melalui patroli atau penyelamatan satwa liar. Upaya konservasi juga dimulai dari ruang-ruang kelas, ketika anak-anak mulai mengenal alam dan memahami mengapa hutan harus tetap lestari. Semangat itulah yang dibawa Centre for Orangutan Protection (COP) bersama Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah I dalam kegiatan school visit yang dilaksanakan di SMP Negeri 1 Pergetteng Sengkut dan SD Negeri 030414 Kecupak, Kecamatan Pergetteng Genteng Sengkut, Kabupaten Pakpak Bharat. Kegiatan ini diikuti oleh 51 siswa perwakilan kelas I, II, dan III SMP serta 36 siswa kelas V dan VI SD.

Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh pihak sekolah yang dilanjutkan dengan sambutan dari BBKSDA Sumut. Selanjutnya, para siswa diajak mengenal lebih dekat pentingnya kawasan hutan konservasi sebagai rumah bagi berbagai satwa liar yang dilindungi. Melalui penyampaian materi yang interaktif, siswa diperkenalkan pada keanekaragaman hayati Sumatra serta peran setiap individu dalam menjaga kelestariannya.

Sesi berikutnya dipandu oleh tim COP, siswa diajak mengenal jenis-jenis orangutan di Indonesia, habitat alaminya, perilaku unik yang dimilik, hingga berbagai ancaman yang menyebabkan populasinya terus mengalami tekanan, seperti hilangnya habitat, konflik dengan manusia, dan perburuan ilegal. Suasana belajar semakin hidup ketika sesi tanya jawab dimulai. Banyak siswa dengan antusias mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan maupun membagikan pengetahuan yang mereka miliki. Rasa ingin tahu mereka juga semakin besar saat disuguhkan video mengenai Sekolah Hutan Orangutan, sebuah program rehabilitasi yang membantu orangutan belajar kembali berbagai keterampilan alami sebelum suatu hari dilepasliarkan ke habitatnya.

Unfug mengetahui sejauh mana materi dipahami, para siswa kemudian mengikuti kuis sederhana yang berisi pertanyaan seputar konservasi hutan dan orangutan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana evaluasi, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan. Sebagai bentuk dukungan terhadap pendidikan lingkungan di sekolah, COP dan BBKSDA Sumut turut menyerahkan poster berbagai satwa liar dilindungi di Sumatra Utara yang diharapkan dapat menjadi media pembelajaran bagi guru dan siswa.

Melalui kegiatan School Visit ini, COP percaya bahwa konservasi tidak hanya berbicara tentang menyelamatkan satwa hari ini, tetapi juga membangun generasi yang peduli terhadap alam di masa depan. Setiap pengetahuan yang dibagikan, setiap pertanyaan yang dijawab, dan setiap rasa ingin tahu yang tumbuh di dalam diri para siswa merupakan langkah kecil menuju masa depan dimana hutan tetap lestari dan orangutan dapat terus hidup bebas di habitat alaminya. Karena pada akhirnya, melindungi orangutan tidak hanya menjadi tanggung jawab para pegiat konservasi, tetapi juga seluruh generasi penerus yang akan mewarisi hutan Indonesia. (PUT)

MENJADI KONSERVASIONIS SEJATI BERSAMA PROF. SATYAWAN PUDYATMOKO DI COP SCHOOL

Suasana ruang belajar COP School Batch 16 terasa berbeda ketika Prof. DR. Satyawan Pudyatmoka, S.Hut., M.Agr.Sc., Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), hadir untuk berbagi pengalaman bersama puluhan peserta. Kehadiran beliau menjadi salah satu omen yang paling dinantikan, karena para peserta tidak hanya mendapatkan materi tentang konservasi alam, tetapi juga kesempatan berdiskusi langsung dengan sosok yang telah puluhan tahun berkecimpung di dunia konservasi Indonesia.

Mengawali materinya, Prof Satyawan mengajak peserta melihat bagaimana dunia konservasi terus mengalami perubahan. Menurutnya, generasi muda saat ini memiliki tantangan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Kemajuan teknologi telah membuka akses yang jauh lebih luas terhadap informasi, data, dan berbagai perangkat pendukung yang memudahkan seseorang mempelajari keanekaragaman hayati.

“Generasi sekarang memiliki banyak kemudahan yang dulu belum kami miliki. Tinggal bagaimana memanfaatkan teknologi itu untuk mendukung upaya konservasi”, ungkap beliau di hadapan peserta.

Namun, teknologi hanyalah alat. Yang terpenting adalah bagaimana seseorang menggunakannya untuk memberikan manfaat bagi alam. Prof. Satyawan menekankan bahwa setiap tindakan yang mampu menjaga maupun meningkatkan keanekaragaman hayati merupakan bagian dari perjuangan seorang konservasionis. Menanam pohon, melindungi habitat, melakukan penelitian, hingga mengedukasi masyarakat merupakan langkah-langkah yang memiliki tujuan yang sama, yaitu menjaga keberlangsungan kehidupan di bumi.

Lebih jauh, beliau mengajak peserta memahami makna menjadi seorang true conservationist. Menurutnya, menjadi konservasionis bukan hanya soal pekerjaan atau profesi, melainkan tentang cara memandang alam. Seorang konservasionis harus memiliki rasa hormat terhadap alam, menjaga keseimbangan ekosistem agar tidak rusak, serta menghargai pengetahuan lokal yang telah diwariskan oleh masyarakat selama bertahun-tahun dalam hidup berdampingan dengan alam.

“Kalau bekerja di bidang konservasi, kita bekerja untuk makhluk hidup. Karena itu, kita harus memiliki hubungan emosional dengan alam”, jelasnya.

Prof. Setyawan juga mengingatkan pentingnya integritas dalam dunia konservasi. Setiap informasi, hasil pengamatan, maupun data yang disampaikan harus dapat dipertanggungjawabkan. Data yang akurat menjadi dasar dalam pengambilan keputusan, penyusunan kebijakan, hingga menentukan langkah-langkah perlindungan satwa dan habitatnya.

Materi yang disampaikan tidak berhenti pada sesi presentasi. Suasana kelas menjadi semakin hidup ketika peserta diajak berdiskusi dan menyampaikan berbagai pertanyaan mengenai tantangan konservasi di lapangan. Dengan penuh antusias, Prof. Satyawan men jawab satu per satu pertanyaan sambil membagikan pengalaman yang beliau peroleh selama berkecimpung di dunia konservasi.

Di akhir sesi, beliau menyampaikan pesan yang menginspirasi seluruh peserta. Menurutnya, seorang konservasionis harus memiliki keberanian untuk menyuarakan dan melakukan hal yang benar demi kelestarian alam, meskipun tidak selalu menjadi pilihan yang mudah.

Melalui sesi bersama Prof. Satyawan Pudyatmoko, peserta COP School Batch 16 tidak hanya memperolej wawasan baru, tetapi juga pengingat bahwa menjadi konservasionis adalah perjalanan panjang yang membutuhkan ilmu pengetahuan, integritas, rasa hormat terhadap alam, serta keberanian untuk menjaga apa yang seharusnya tetap lestari bagi generasi yang akan datang. (NAB)

ENAM MAHASISWA UNIVERSITAS MULAWARMAN TERIMA BEASISWA EBOCS UNTUK MENDUKUNG KONSERVASI ORANGUTAN

Program beasiswa EBOCS atau East Borneo Orangutan Caring Scholarship 2026 baru saja terlaksana di Theater Room Science Learning Center, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Mulawarman, Samarinda. Ceremony ini dihadiri Dekan FMIPA, Dekan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Tropis UNMUL, Presiden Orang Utan Republik Foundation oleh Gary Shapiro, Centre for Orangutan Protection (COP), dan enam mahasiswa penerima Beasiswa EBOCS 2026 beserta keluarga mereka, serta penerima EBOCS tahun sebelumnya.

Penampilan Tari Ruai dari Kalimantan Barat yang menggambarkan nilai-nilai kebersamaan, rasa syukur, keharmonisan, serta penghormatan terhadap alam menjadi pembuka acara tahunan ini. Rangkaian acara dilanjut dengan sambutan dari para tamu undangan, penandatanganan perjanjian beasiswa, serta penyampaian harapan dan komitmen dari perwakilan penerima beasiswa. Keenam penerima Beasiswa EBOCS 2026 ini adalah Andhika Julianus Sinuhaji, Andini Nurul Fathiyah, dan Rahmah Yuliana Cahyaningtyas dari Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Tropis sementara Febriansyah dan Zakiyatur Rohmah dari Program Studi Lingkungan, Jurusan Biologi, FMIPA dan Junov Hendri Adyatama dari Program Studi Biologi, FMIPA.

Penyerahan cendera mata sebagai bentuk apresiasi sekaligus penguatan kerja sama antar para pihak menjadi penutup acara. Melalui program EBOCS, diharapkan para penerima beasiswa dapat menyelesaikan pendidikan mereka dengan baik serta menjadi generasi muda yang berperan aktif dalam upaya konservasi orangutan, pelestarian hutan, dan perlindungan keanekaragaman hayati di Indonesia. (OKT)

MENYUSURI JEJAK INDUK ORANGUTAN DI HUTAN KINABATANGAN

Matahari sudah keluar dari peristirahatannya dan capanya telah masuk hingga menyentuh lantai hutan. Pagi itu cuaca cerah berawan. Tim kami menapaki hutan Kinabatangan untuk mencari orangutan liar. Hutannya sangat lembap. Sepatu boots kami beberapa kali melangkah di genangan air dan anak sungai. Hutan Kinabatangan terletak di wilayah Desa Sukau, Sabah, Malaysia. Tipe hutannya “freshwater swamp forest” karena berada di tepi Sungai Kinabatangan yang sangat lebar. Jika datang musim hujan atau cuaca ekstrem, air sungai akan meluap dan membuat hutan ini terendam air, menjadikannya rawa-rawa.

Sekitar pukul 9 pagi kami akhirnya menemukan orangutan. Ia duduk tidak bergerak di atas pohon dan sepertinya waspada dengan kehadiran manusia. Saya hanya bisa melihat sebagian punggungnya saja. Setelah beberapa menit, ia akhirnya berayun untuk makan. Saat itulah saya melihat tubuhnya secara utuh. Betina dewasa, rambutnya coklat gelap dan agak kusut, wajahnya tirus, berukuran sebesar Jenong (salah satu orangutan yang pernah kami rawat di BORA). Ada tangan kecil yang terlihat di bagian pinggang orangutan itu. Ternyata ia memiliki bayi. Tim Orangutan Research (OURs) dari LSM HUTAN memberi tahu kami bahwa induk orangutan ini bernama Mallotus dan bayinya bernama Muticus. Nama ini diambil dari spesies pohon Mallotus muticus. Mallotus dulu lahir di pohon tersebut dari induk yang bernama Jenny. Sedangkan Muticus lahir di tahun 2021 dan saat ini berusia 5 tahun. LSM HUTAN telah meneliti orangutan liar di Kinabatangan sejak tahun 1998. Saat ini sudah 3 generasi orangutan yang mereka monitoring. Orangutan Jenny diikuti dari tahun 1998 sampai dengan kematiannya di tahun 2020. Jenny memiliki 4 anak, salah satunya Mallotus yang lahir di tahun 2005. Muticus merupakan anak kedua dari Mallotus dan cucu dari Jenny. 

Kami mengikuti dan mencatat perilaku Mallotus dan bayinya selama satu hari. Pasca musim hujan, di dalam hutan sedang memasuki musim buah sehingga perilaku Mallotus didominasi oleh makan. Pergerakan selama satu hari tidak banyak. Jelajah orangutan betina memang relatif lebih pendek dan sempit dibanding orangutan jantan. Ini pertama kalinya saya melakukan monitoring orangutan liar yang memiliki bayi. Saya melihat bagaimana Mallotus membiarkan Muticus bereksplorasi sendiri, tapi tetap menjemput Muticus ketika ia bermain terlalu jauh. Ukuran tubuh orangutan di Kinabatangan lebih kecil dibandingkan orangutan liar yang kami jumpai di Kalimantan Timur. Sarang-sarang orangutan yang kami temui di sini juga berukuran relatif kecil. Hal ini kemungkinan karena kelimpahan pakan di hutan rawa Kinabatangan tidak sebanyak pakan di hutan dataran rendah di Kalimantan Timur. Ada satu momen berkesan ketika hujan deras turun di sore hari. Mallotus memetik dedaunan dan dijadikan payung di atas kepalanya. Perilaku ini menunjukkan orangutan memiliki kemampuan berpikir (kognitif) dan problem solving yang baik.

Kunjungan belajar (study trip) di Kinabatangan ini mengajarkan saya akan konsistensi dan kolaborasi. Sebuah stasiun riset dapat bertahan dalam waktu panjang karena bekerja sama dengan warga lokal yang sangat loyal. Mayoritas staf LSM HUTAN merupakan penduduk asli Desa Sukau. Beberapa staf senior sudah bekerja di HUTAN selama 15-20 tahun. Hutan Kinabatangan tidak hanya menjadi stasiun riset, tapi juga membawa keuntungan bagi warganya lewat ekowisata yang sudah terkenal hingga mancanegara. Dari kunjungan ini saya jadi tertantang untuk merancang manajemen pengelolaan hutan dan program riset orangutan di lokasi kerja COP antara lain di Busang, PT Hope, dan Siranggas. (IND)

BAGAIMANA SATWA KETIKA BANJIR MENYAPA

Bencana datang. Manusia kelimpungan. Namun, bagaimana dengan hewan, bagaimana dengan satwa? Apa yang akan kita lakukan ketika banjir menerjang tanpa aba-aba, ketika langit mendung tak terkira, ketika semua air tumpah di hadapan kita? Pada Pameran Foto “Menolong Satwa Banjir Sumatera” yang ditaja Centre for Orangutan Protection inilah jejak-jejak itu dihadirkan bukan sekadar menjadi visual, bukan sekadar menjadi gambar, bukan sekadar dijepret kamera lalu mata kita menikmatinya. Bukan. Foto-foto di sini akan “menceritakan” lewat perasaan dan perjuangan yang dikonkretkan dengan tindakan “pencarian”.
Pada foto jejak kaki salah satu satwa, kita melihat bahwa “ada yang lewat” di situ, ada yang pernah tinggal, dan ada yang pernah menetap. Dalam foto ini, jejak kaki berfungsi sebagai “tanda” bahwa suatu daerah pernah dilewati sekaligus ditinggali oleh manusia dan satwa. Tak hanya itu, jejak kaki juga menjadi metafora kehilangan, ketakutan, atau perjalanan tanpa ujung bahwa ada yang pergi dari suatu daerah dan entah akan kembali atau tidak. Maka dari itu, suatu daerah menjadi sangat penting bagi satwa karena mereka tinggal berdampingan dengan kita, manusia.
Itu dibuktikan dengan foto satwa sendirian dengan gestur seperti sedang mencari sesuatu. Foto ini juga menarik karena teknik pengambilan sengaja untuk menimbulkan efek tertentu, dengan kain penutup di sebelah kiri dan satwa di sebelah kanan. Apa yang dicari satwa itu kira-kira? Apakah makanan? Ketika bencana datang, manusia kelimpungan mencari pangan, pun satwa begitu. Dari foto salah satu relawan memberi makan satwa, kita melihat itu, bahwa akses dan kesempatan untuk mendapatkan pangan yang layak juga “dimiliki” oleh para satwa. Di tengah kekacauan yang terjadi pohon tumbang, sampah di mana-mana, bangunan runtuh, seng saling menimpa satu sama lain tindakan dalam pameran foto ini, gestur yang ditimbulkan pameran foto ini, menyiratkan satu hal yang penting yaitu empati. Bahwa kita juga merasakan sesuatu yang sama, kita terkena dampak yang sama. Karena itulah kita saling memberikan bantuan.
Bantuan untuk saling menemukan, seperti yang ada pada foto kucing putih nangkring di jendela sebuah rumah panjang, dengan parabola. Foto ini menampilkan rumah sebagai “arsip” sekaligus ingatan kolektif. Bahwa rumah bukan sekadar tempat tinggal dan kucing bukan cuma peliharaan, namun lebih dari itu: rumah sebagai peninggalan, lahirnya kebudayaan dalam keluarga, dan sekolah pertama bagi anak-anak. Kucing putih yang nangkring dengan santai juga menjadi sesuatu yang menarik karena “putih” badannya di antara kehancuran yang terjadi di sekitarnya yang diwakili warna “cokelat” atau warna tanah.
Tanah tempat kita bernaung, berkomunikasi, dan berdoa. Berdoa agar semua benda-benda yang berserakan sekaligus bertumpuk lekas dibereskan. Di tengah kekacauan itu, foto satwa yang sedang berada di tumpukan benda-benda dan masuk ke dalam “bayangan” yang tercipta. Foto ini menyiratkan sesuatu yang kadang tak kita lihat, bahwa yang satwa ingin mengatakan, “kami di sini bersama kalian”. Agaknya teknik pengambilan foto ingin mengatakan hal tersebut. Terlebih, satwa menjadi “focal point” foto ini. Begitu juga yang diceritakan dari foto satwa yang telah mati (menjadi bangkai?) dengan sepatu boot dan sisa satwa tersebut, kita bisa melihat bahwa bencana menimbulkan korban yang bukan hanya manusia, namun juga satwa. Dalam foto ini kita melihat tanah dan daun-daun. Selain ingin memberitahu sesuatu, foto ini juga menampilkan gestur apa adanya: bahwa yang terjadi pada tanah (bencana) akan kembali ke tanah (terkubur).
Begitu juga foto satwa yang sedang tertidur pulas. Foto ini menimbulkan efek keterasingan, kekalahan, sekaligus kerinduan terhadap rumah, terhadap tuannya, terhadap apa-apa yang biasa dijalani satwa: bermain ke sana kemari bersama manusia, bercengkerama bersama kita.
Satwa apa pun itu: anjing, kambing, kucing, ayam… mereka semua adalah saudara kita. Mereka mendapatkan akses sekaligus kesempatan yang sama untuk “terus hidup” dan berdampingan dengan manusia, dengan kita: makhluk yang penuh dengan logika, pemikiran, dan empati. (Titan Sadewo_Orangufriend Medan)

REKAM JEJAK COP SELAMATKAN SATWA PASCA BANJIR TAPANULI SELATAN

Sore, 24 Juni 2026 di Medan, bersama Orangufriends meresmikan Abelii Space sekaligus membuka pameran foto “Menolong Satwa Banjir Sumatra” dan meluncurkan buku Rescue Animals in Need South Tapanuli. Pameran ini merangkum kisah kepedulian dari sudut pandang yang berbeda pasca bencana banjir besar yang melanda Sumatra pada akhir tahun 2025. Berlokasi di Desa Garoua, Tapanuli Selatan, wilayah yang sempat luluh lantak dan terisolasi, COP (Centre for Orangutan Protection) hadir membawa misi yang hingga kini masih jarang dilakukan di Indonesia, yaitu menyelamatkan satwa di tengah bencana.

Melalui rangkaian foto yang di[pamerkan, pengunjung diajak mengikuti jejak langkah tim COP saat mencari satwa yang terdampak banjir, membebaskan hewan yang terjebak di balik reruntuhan, mengobati satwa yang terluka, memberikan pakan, hingga menguburkan satwa yang tidak dapat diselamatkan. Banyak pengunjung mengaku tersentuh setelah mendengar secara langsung pengalaman dan tantangan yang dihadapi selama proses penyelamatan berlangsung.

Lebih dari sekadar menyelamatkan satwa, misi ini juga menjadi jembatan penting dalam memulihkan harapan para penyintas bencana. Bagi para peternak yang rumah dan kebunnya hanyut diterjang banjir, hewan ternak yang tersisa merupakan aset sekaligus harapan terakhir untuk kembali bangkit. Karena itu, tim berupaya membuka akses agar pasokan pakan termah dapat masuk dan membantu menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat.

Di sisi lain, bagi warga yang harus mengungsi dapat bertemu kembali dengan hewan peliharaan mereka menjadi penghiburan yang tak ternilai. Kehadiran kembali teman setia di tengah situasi sulit mampu menghadirkan senyum, memberikan rasa tenang, sekaligus mengurangi kecemasan setelah bencana.

Selain membantu pemulihan ekonomi dan psikologis masyarakat, tim juga berperan dalam mencegah potensi penyebaran penyakit dengan segera menguburkan bangkai satwa agar tidak mencemari lingkungan. Melalui pameran foto dan buku ini, COP ingin menyampaikan pesan bahwa ketika bencana terjadi, satwa juga menjadi korban. Menyelamatkan satwa berarti turut menjaga kesehatan lingkungan, membantu pemulihan masyarakat, dan menjadi bagian penting dari upaya tanggap bencana secara menyeluruh.

Pameran foto berlangsung mulai 24 Juni hingga 12 Juli 2026 di Abelii Space, kota Medan dan dibuka setiap hari pukul 09.00-17.00 WIB. Pameran terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya. Pengunjung diharapkan menjaga ketertiban selama berada di ruang pameran serta tidak makan dan minum di dalam area pameran. (AGU)

MENGENAL HAK DAN PERLINDUNGAN HUKUM BAGI AKTIVIS LINGKUNGAN DI DATING APES BATCH 17

Upaya menjaga lingkungan dan melindungi satwa liar sering kali membutuhkan keberanian, konsistensi, dan kerja sama dari banyak pihak. Namun, di balik berbagai aksi dan kampanye yang dilakukan, ada satu hal yang tidak kalah penting untuk dipahami oleh para penguat lingkungan, yaitu pengetahuan mengenai hak dan perlindungan hukum bagi aktivis lingkungan.

Topik inilah yang diangkat dalam kegiatan Dating APES Batch 17 yang diselenggarakan pada Kamis sore, 11 Juni 2026. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber yang memiliki pengalaman dan kompetensi di bidang hukum serta perlindungan lingkungan, yaitu Marsya M. Handayani dari Indonesia Center for Environmental Law (ICEL) dan Dwi Nugroho Adhiasto dari SCENTS Indonesia.

Dalam diskusi yang berlangsung hangat dan interaktif tersebut, kedua pemateri mengajak peserta untuk memahami berbagai aspek penting terkait hak-hak warga negara dalam memperjuangkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Para peserta juga diperkenalkan pada berbagai bentuk perlindungan hukum yang tersedia bagi individual maupun kelompok yang terlibat dalam upaya perlindungan lingkungan.

Pembahasan ini menjadi sangat relevan mengingat para aktivis lingkungan, relawan, dan organisasi masyarakat sipil kerap berada di garis depan dalam menyuarakan isu-isu lingkungan, mulai dari perlindungan keanekaragaman hayati, konservasi satwa liar, hingga pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Dalam praktiknya, berbagai tantangan dan risiko dapat dihadapi oleh para pegiat lingkungan, sehingga pemahaman mengenai hak dan mekanisme perlindungan hukum menjadi bekal yang penting.

Dating APES kali ini diikuti oleh lebih dari 30 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang dan organisasi, di antaranya Orangufriends Yogyakarta, BKSDA Yogyakarta, Bisa Indonesia, Kanopi, Kophi Yogyakarta, dan Vidya Nusantara. Selain peserta yang hadir secara langsung, kegiatan ini juga diikuti oleh peserta yang bergabung secara daring dari berbagai daerah.

Keberagaman peserta dan perspektif yang hadir dalam diskusi tersebut memperlihatkan bahwa isu perlindungan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Tidak hanya memahami permasalahan lingkungan, para pegiat juga perlu membekali diri dengan pengetahuan mengenai hak-hak yang dimiliki serta langkah-langkah yang dapat ditempuh ketika menghadapi berbagai tantangan dalam perjuangan menjaga lingkungan.

Melalui Dating APES diharapkan semakin banyak individual dan komunitas yang tidak hanya peduli terhadap kelestarian alam dan satwa liar, tetapi juga memahami pentingnya perlindungan hukum sebagai bagian dari upaya mewujudkan gerakan lingkungan yang aman, inklusif, dan berkelanjutan. (DIT)

BERCERITA LEWAT KARYA, MENEMUKAN MAKNA DI BALIK SETIAP TULISAN ORANGUFRIENDS MEDAN

Menulis bukan sekadar merangkai kata. Menulis adalah proses membangun gagasan, mengelolai pengalaman, dan menyampaikan cerita yang bermakna. Semangat inilah yang diangkat dalam kegiatan Kelas Orangufriends bertajuk “Bercerita Lewat Karya” yang diselenggarakan pada Minggu, 7 Juni 2026 di COP Medan.

Pada kesempatan ini, peserta mendapatkan pembelajaran langsung dari Titan Sadewa, seorang penulis sekaligus guru Bahasa Indonesia yang berbagi pengalaman serta pandangannya tentang dunia kepenulisan. Menurut Titan, menulis adalah sebuah criftmanship atau keterampilan yang perlu diasah melalui pengalaman terhadap bahan dan proses pembentukannya. Layaknya seorang perajin yang menciptakan karya, seorang penulis juga harus memahami cara membangun sebuah cerita dari ide-ide yang sederhana.

Untuk memantik kreativitas peserta, Titan mengajak mereka berpikir melalui pendekatan 4W+1H (What, Who, When, dan How). Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, peserta diajak menggali ide dan menemukan sudut pandang yang dapat dikembangkan menjadi tulisan.

Kegiatan kemudian berlanjut ke sesi yang lebih interaktif. Peserta diajak keluar ruangan untuk menikmati suasana sekitar dan menuliskan 30 kata yang muncul dalam pikiran mereka. Kata-kata tersebut kemudian dirangkai menjadi sebuah paragraf singkat yang terdiri dari 4-5 kalimat. Melalui latihan sederhana ini, peserta belajar bahwa inspirasi dapat ditemukan dimana saja, bahkan dari hal-hal yang tampak biasa.

Salah satu momen yang paling menarik terjadi saat sesi diskusi. Ketika ditanya, “Mengapa seseorang menulis?”, Titan menjawab bahwa setiap orang memiliki alasan yang berbeda, salah satunya sebagai bentuk pemuasan jiwa dan sarana menyalurkan berbagai pikiran yang menumpuk.

Ia juga mengibaratkan menulis seperti lari marathon, membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan pengelolaan energi yang baik. Menulis juga menuntut keberanian untuk menemukan cara baru dalam bercerita, sehingga kebiasaan membaca menjadi bekal penting bagi setiap penulis.

Melalui kegiatan ini, para peserta memperoleh perspektif baru bahwa menulis bukan sekadar aktivitas mencatat, melainkan sebuah keterampilan yang terus ditempa melalui latihan, pengalaman, dan keberanian untuk berkarya. (AGU)

DI ANTARA LUKA DAN KEPEDULIAN

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan kesempatan untuk ikut terlibat dalam kegiatan penanganan satwa desa di Miau Baru bersama Centre for Orangutan Protection (COP) sebagai relawan. Kegiatan ini berfokus pada pengobatan dan penanganan hewan peliharaan milik masyarakat, seperti kucing, anjing, dan beberapa satwa lainnya. Bagi saya, pengalaman ini menjadi sesuatu yang sangat berharga karena membuka pandangan bahwa kepedulian terhadap satwa bisa dimulai dari hal-hal yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Dari kejauhan saya melihat masyarakat datang dengan harapan hewan peliharaan mereka bisa sehat dan tetap hidup sebagaimana mestinya. Melihat hal tersebut, saya semakin menyadari bahwa hubungan antara manusia dan satwa bukan hanya tentang kebutuhan, tetapi juga tentang rasa peduli dan tanggung jawab.

Sebagai relawan, saya belajar bahwa penanganan satwa tidak hanya soal tindakan medis, tetapi juga tentang kesabaran, komunikasi, dan kepedulian terhadap kondisi masyarakat sekitar. Ada banyak hal yang terlihat sederhana, tetapi sebenarnya memiliki arti besar, muai dari membantu proses penanganan, menenangkan hewan, hingga melihat antusiasme masyarakat yang ingin belajar merawat satwa dengan lebih baik.

Melalui kegiatan ini, saya belajar kepedulian terhadap satwa tidak selalu dimulai dari hal besar. Kadang, perhatian kecil terhadap hewan-hewan di sekitar kita juga menjadi bagian penting dalam membangun hubungan yang lebih baik antara manusia dan alam.

Terima kasih kepada seluruh tim COP dan masyarakat Desa Miau Baru atas pengalaman dan pembelajaran yang sangat berarti ini. Semoga kepedulian kecil yang tumbuh hari ini bisa menjadi langkah besar untuk masa depan yang lebih baik bagi manusia dan satwa. (Adi_Orangufriends Wahau)

LOM PLAI: PANEN, DOA, DAN INGATAN YANG TETAP HIDUP

Di Kutai Timur, ketika musim panen tiba, Desa Nehas Liah Bing, atau “Selabing” seperti masyarakat sekitar menyebutnya, berubah menjadi panggung budaya yang dipenuhi musik tradisional, tarian, dan perayaan yang berlangsung hingga malam. Pada April lalu, saya berkesempatan mengikuti Lom Plai, pesta syukur panen padi masyarakat Dayak Wehea yang masih dijalankan turun-temurun sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan alam.
Malam 21 April, sekitar pukul delapan, saya berjalan kaki dari mess APE Crusader menuju lapangan utama desa. Dari kejauhan, suara musik tradisional sudah terdengar dari kejauhan. Semakin dekat ke lapangan, suasana berubah semakin ramai. Deretan pedagang memenuhi sisi jalan, mulai dari penjual makanan, mainan anak-anak, kerajinan tangan, hingga produk UMKM lokal bercampur menjadi pasar malam. 

Ketika saya tiba, acara Dem Jiaq (malam tari bersama) baru dimulai. Anak-anak Dayak dengan pakaian adat berwarna-warni memasuki lapangan satu per satu. Di kepala mereka terpasang hiasan bulu burung khas Dayak yang bergerak lembut mengikuti langkah kaki. Mereka menari membentuk satu baris panjang mengelilingi lapangan, sementara di tengah arena sekelompok orang dewasa memainkan alat musik tradisional dengan irama yang repetitif namun menenangkan.
Semakin malam, jumlah penari terus bertambah. Anak kecil, remaja, hingga orang dewasa bergerak bersama dalam pola yang sama, seolah seluruh desa larut dalam satu irama kolektif.
Di sisi lapangan berdiri sebuah patung Hudoq raksasa yang langsung mencuri perhatian. Tubuhnya tertutup helaian rumput hijau panjang, sementara kepalanya berupa ukiran kayu besar dengan ekspresi magis yang sulit dijelaskan. Dihiasi pantulan cahaya lampu malam, sosok itu tampak seperti penjaga tua yang diam-diam mengawasi seluruh perayaan.
Tarian terus berlangsung hingga menjelang tengah malam.
Keesokan paginya, 22 April, langit di atas Wahau begitu cerah. Sekitar pukul sembilan pagi, saya bersama Eng, Dimi, dan Ferdi dari APE Crusader, serta drh. Tytha yang saat itu sedang bertugas bersama tim rescue COP, kembali menuju lapangan desa.
Hari itu merupakan pembukaan rangkaian utama Lom Plai. Upacara dimulai dengan ritual penyembelihan ayam oleh para tetua adat sebagai persembahan bagi leluhur dan roh penjaga kampung. Di bawah terik matahari pagi, para tamu undangan dari pemerintahan Kutai Timur menyaksikan prosesi yang berlangsung khidmat.
Selepas pembukaan, kami berjalan menuju tepian Sungai Wehea. Di sana suasana berubah jauh lebih meriah. Sungai menjadi pusat berbagai pertunjukan tradisional, antara lain tarian di atas rakit, seksiang (perang-perangan di atas perahu menggunakan tombak dari rumput gajah), hingga lomba dayung putra maupun putri yang memancing sorak-sorai warga di sepanjang bantaran sungai.
Pada waktu yang sama, jalan-jalan kampung dimeriahkan budaya Pengsaq dan Peknai. Warga saling menyiram air, lalu mengoleskan arang ke wajah satu sama lain sambil tertawa. Anak-anak berlarian, sementara orang dewasa yang semula rapi perlahan berubah penuh noda hitam di wajah mereka. Ritual ini menjadi puncak kegembiraan Lom Plai, simbol sukacita setelah musim panen.
Selama Lom Plai berlangsung, keramahtamahan menjadi bagian dari perayaan. Rumah-rumah warga terbuka bagi siapa saja yang datang untuk ikut makan dan berbagi cerita. Hari itu kami mendapat undangan makan di rumah keluarga Pak Bambang, relasi COP yang sudah seperti orang tua sendiri bagi kami di Wahau.
Di atas meja tersaji berbagai hidangan khas hari raya, lengkap dengan makanan khas pesta panen. Kami mencicipi lemang, beras ketan yang dimasak di dalam bambu bersama santan lalu dibakar perlahan di atas api, serta beang bit, makanan tradisional Wehea menyerupai dodol yang dibuat dari tepung beras ketan hasil panen dan gula merah.
Sebelum kembali ke mess untuk beristirahat siang, kami sempat berkeliling melihat tenda gerai kerajinan dan produk khas Dayak di sekitar lapangan. Di tengah berbagai anyaman rotan, kain, dan manik-manik, kami masih menemukan satu gerai yang menjual kepala asli burung rangkong dan julang sebagai pajangan. Pemandangan itu terasa kontras dengan semangat pelestarian alam yang juga hidup di banyak bagian festival. Melihat bagian tubuh satwa liar masih diperjualbelikan secara terbuka menjadi pengingat bahwa hubungan antara tradisi, budaya, dan konservasi masih menyisakan ruang dialog yang panjang.
Sore harinya, sekitar pukul empat, kami kembali ke lapangan untuk menyaksikan ritual yang paling ditunggu, yaitu Hedoq.
Pinggir lapangan sudah penuh oleh masyarakat. Acara diawali dengan tarian mandau oleh para pria, kemudian diikuti tarian para perempuan yang menceritakan penghormatan kepada Dewi Padi, Long Diang Yung. Gerakan mereka lembut namun ritmis, mengikuti gong dan gendang yang semakin lama semakin intens.
Kemudian para penari Hedoq mulai memasuki lapangan.
Kostum mereka terlihat begitu mencolok dan nyaris tidak menyerupai manusia. Tubuh para penari ditutupi daun-daunan, seperti rumput panjang maupun daun pisang, dan anyaman alami yang membuat mereka tampak seperti makhluk hutan. Topeng kayu besar dengan bentuk wajah menyerupai roh atau makhluk mitologi menutupi kepala mereka sepenuhnya.
Ketika para penari Hedoq mulai bergerak, suasana di lapangan berubah drastis. Aura di sana terasa lebih magis, seolah pertunjukan ini bukan sekadar tarian, melainkan ritual pemanggilan sesuatu yang jauh lebih tua dari ingatan manusia.
Menurut kepercayaan masyarakat Wehea, Hedoq adalah tarian ritual yang selalu hadir dalam pesta panen. Mereka percaya Hedoq berasal dari bawah air, dari tanah, dan dari langit. Sosok-sosok ini dianggap sebagai makhluk gaib yang dapat membantu manusia selama dihormati dan diberi sesaji. Melalui ritual ini, masyarakat memohon perlindungan, kesuburan tanaman padi, dan kesejahteraan kampung.
Langit mulai mendung, lalu gerimis kecil turun perlahan. Namun tidak seorang pun meninggalkan lapangan.
Jumlah penari Hedoq terus bertambah. Dari anak-anak hingga orang dewasa, satu demi satu memasuki arena hingga seluruh lapangan terasa penuh oleh sosok-sosok bertopeng dari “dunia lain”. Rumput dan daun pada kostum mereka bergoyang mengikuti langkah kaki dan dentuman gong yang semakin cepat.
Menjelang matahari terbenam, tarian akhirnya selesai. Cahaya jingga sore perlahan hilang di balik awan, sementara masyarakat mulai mendekati para penari untuk berfoto bersama.
Hari mulai gelap ketika kami berjalan pulang kembali ke mess APE Crusader. Dalam kamera, ratusan foto telah tersimpan. Tetapi lebih dari itu, Lom Plai meninggalkan sesuatu yang sulit dipotret, perasaan bahwa di tengah dunia modern yang terus bergerak cepat, masih ada tempat-tempat yang menjaga hubungan manusia dengan alam, leluhur, dan tradisi dengan begitu hidup.