Orangufriends

A MOMENT OF SILENCE CELEBRATING ORANGUTAN DAY

Just about a week ago, in early August 2020, a baby orangutan named Hope was found in a cardboard box covered by palm fronds in a village, Langkat district, North Sumatra. Hoe, who is about 1 year old, was found alive and is being cared at a quarantine center in Batu Mbelin, Deli Serdang, North Sumatra.

Another orangutan named Hope had a different fate in early 2019. Hope was found in a weak state with 74 air rifle bullet in her body. Hope who is around 30 years old, suffered from injuries and had to lose her only child, a 1 month year old baby orangutan, because of malnutrition.

Things that shouldn’t happen to this Indonesian endemic animals that are now critically endangered (IUCN) in fact are stil l being found. Especially around orangutan habitat. Their habitat are getting smaller and smaller and that resulted in conflict with people. Also there are still people who are trying to make fortune by poaching and selling baby orangutan.

It’s important and necessary to control the land use and protectiong also maintaining orangutan habitat. Without forests, orangutans and other wildlife would not be able to survive. In fact, orangutans play a very important role in nature to maintain the healt of ecosystem, by distributing seeds from one place to anothet. The results of their roles are also bring a great benefit to the lives of other animals and for local people.

Losing orangutan is also means losing forest and life. So, now is the time for us on this International Orangutan Day to be quiet and silence for a moment to understand and remember our duty as humans. To care, protect and maintain what is in the nature and environment as best as we can. Let us move and take action to save our forest, orangutan and lives. Together we can make a difference. (LIA)

HENING SEJENAK MERAYAKAN HARI ORANGUTAN

Sekitar satu minggu yang lalu, pada awal Agustus 2020, satu bayi orangutan yang dinamakan Hope ditemukan di dalam sebuah kardus yang ditutupi pelepah sawit di sebuah desa, kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Hope yang masih berumur sekitar 1 tahun ini ditinggalkan oleh pelaku begitu saja karena kedatangan petugas. Beruntung Hope ditemukan masih dalam keadaan hidup dan saat ini sedang dirawat di sebuah pusat karantina di Batu Mbelin, Deli Serdang, Sumut.

Nasib berbeda dirasakan oleh orangutan Hope lainnya pada awal tahun 2019. Hope ditemukan dalam keadaan lemah dengan 74 peluru senapan angin yang bersarang di tubuhnya. Hope yang berusia sekitar 30 tahunan ini pun menderita banyak luka dan harus kehilangan anaknya yang masih berumur sekitar 1 bulan akibat malnutrisi.

Hal-hal yang seharusnya tidak menimpa satwa endemik Indonesia yang kini berstatus kritis (critically endangered-IUCN) nyatanya masih ditemukan. Terutama di sekitar area habitat dimana orangutan hidup mencari makan. Habitatnya yang semakin menyempit hingga menimbulkan konflik dan juga karena adanya orang yang berusaha mencari keuntungan dengan memburu dan memperjualbelikan bayi orangutan.

Kontrol terhadap pemakaian lahan dan menjaga habitat orangutan juga sangat diperlukan. Tanpa adanya hutan, orangutan dan satwa liar lainnya tak mungkin bertahan. Padahal orangutan berperan sangat penting di alam untuk menjaga kesehatan ekosistem hutan dengan menjadi penyebar biji-bijian. Hasil dari peran orangutan ini juga bermanfaat besar bagi kehidupan satwa-satwa lainnya dan bahkan bagi masyarakat lokal di sekitarnya.

Kehilangan orangutan, berarti juga kehilangan hutan dan kehidupan. Maka, inilah saatnya bagi kita di hari Orangutan Sedunia untuk hening sejenak, memahami dan mengingat kembali kewajiban kita sebagai manusia. Terutama untuk merawat dan memelihara apa yang ada di alam sekitar kita dengan sebaik mungkin. Marilah kita bergerak untuk menyelamatkan hutan, orangutan dan kehidupan. Bersama kita bisa membawa perubahan.

Selamat Hari Orangutan Internasional. Selamat berjuang! (LIA)

POLRI SERIUS, INDONESIA MAJU, MERDEKA SATWA LIARKU

“Good job POLRI!”, teriak senang dan harapan untuk satwa liar kembali berkumandang di bulan kemerdekaan Republik Indonesia. Surat Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia tertanggal 30 Juli 2020 untuk Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan tentang penertiban penggunaan senapan angin dan pemasangan pagar listik ilegal menjadi langkah lebih serius untuk perlindungan satwa liar. Selangkah demi selangkah, Indonesia maju menjadi lebih baik.

Surat Telegram Kapolri ke jajaran Polri tertanggal 16 Juli 2020 berisi:
a. penggunaan senapan angin hanya untuk latihan dan pertandingan olahraga menembak bukan untuk berburu/ melukai/ membunuh binatang;
b. penggunaan senapan angin agar sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia No. 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api untuk Olahraga, Pasal 4 ayat (3) bahwa Pistol Angin (Air Pistol) dan Senapan Angin (Air Rifle) digunakan untuk kepentingan olahraga menembak sasaran atau target;
c. pendataan terhadap toko/agen/distributor senapan angin sebgai upaya deteksi dan pencegahan serta melakukan sosialisasi terkait peraturan yang berlaku tentang senapan angin;
d. melakukan operasi di wilayah masing-masing dengan lebih dulu berkoordinasi dengan instansi terkait terutama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan setempat untuk menentukan area operasi terhadap para oknum pemburu yang menggunakan senapan angin yang tidak sesuai dengan kentuan yang berlaku, misalnya pemilik senapan angin tidak mendaftar di kepolisian setempat, mengubah kaliber dan memburu satwa liar yang dilindungi;
e. apabila pemilik senapan angin mengubah kaliber melebihi 4,5 mm dan tidak mendaftarkan ke kepolisian setempat, lakukan upaya penindakan dengan mengamankan barang bukti senapan angin dan dibuatkan Surat Pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatan serupa;
f. apabila pemilik senangain terbukti melakukan perburuan hewan yang dilindungi dikenakan sanksi hukum berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990, tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem, Pasal 21 ayat (2) huruf A menyatakan bahwa setiap orang dilangrang untuk menangkat, melukai membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup;
g. dalam rangka tertib dan lancarnya kegiatan tersebut, mohon kiranya Direktur jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta jajaran melakukan koordinasi ke kepolisian setempat dengan memberikan data/peta kerawanan wilayah yang sering ada oknum atau warga masyarakat yang melakukan perburuan satwa liar yang dilindungi menggunakan senapan angin yang tidak sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku;
h. perlu adanya peningkatan kordinasi dan kerja sama antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan jajaran kepolisian sampai ke tingkat wilayah dalam rangka pencegahan penggunaan senapan angin dan senjata api untuk perburuan secara ilegal.

Orangufriends, dimana pun kamu berada. Kampanye Teror Senapan Angin memasuki tahun keenamnya. Jangan pernah ragu untuk bersuara untuk orangutan dan satwa liar lainnya. Tidak ada yang instan, mari pasang mata dan telinga kita untuk mewujudkan kemerdekaan satwa liar dari Teror Senapan Angin. “Terimakasih Orangufriends!”.

ANTOLOGI CERITA PENDEK ORANGUTAN 2020

Bukankah cinta banyak rupa? Itulah yang dikatakan dalam cerpen Bukan Cinta yang Beracun di Dalam karya Ragdi F. Daye, berhasil menjadi juara pertama dalam lomba cerpen dengan tema ‘Bertemu’ yang diadakan pada bulan Juni 2020 lalu. Lomba cerpen yang digagas para relawan Centre for Orangutan Protection ini adalah lomba di masa pandemi COVID-19.

Lomba cerpen kali ini benar-benar membuat juri terpaksa meminta waktu tambahan saat penilaian. Apalagi saat karya dari Dyah Sekar berjudul Nandna berhasil mencuri nilai. Botol bertuliskan ‘Hutan Tropis’ seolah-olah memberi harapan untuk kita yang sejak pertengahan Maret lalu terkurung di dalam rumah dengan pilihan di rumah aja. Mungkin saja aroma hutan dijual untuk kita yang sedang berada dalam karantina mandiri.

Sekali lagi, menentukan juara dari sebuah karya seni tidaklah mudah. Judul cerpen Hantu-Hantu dan Tanamannya karya Herpin Nopiandi Khurosan mengajak kita berkelana pada rasa takut yang mendalam. Saat menjadi musuh tanpa bayangan namun nyata.

Buku kumpulan cerpen ini tak hanya memuat tiga pemenang tadi, tapi ada sepuluh karya lainnya yang akan membuat harimu hanyut dalam karya sastra. Begitulah orangutan saat bertemu para sastrawan. Mari kita tenggelam dalam karya untuk orangutan. Terimakasih Orangufriends… terimakasih rekan media yang telah ikut menyebarkan informasi lomba cerpen orangutan 2020 ini. Selamat Hari Orangutan Internasional!

ENRICHMENT KERANJANG BAMBU UNTUK ORANGUTAN

Sebelum matahari semakin terik, kami segera beranjak untuk melaksanakan rutinitas yang sudah berjalan tiga bulan terakhir, yaitu mengirimkan pakan untuk orangutan yang berada di Wildlife Rescue Center (WRC) Jogja. Pasar Gamping, salah satu pusat pasar buah di Jogjakarta, di situlah kami membeli pepaya, pisang, semangka, ketimun, ketela, kangkung, kacang panjang dan keranjang yang terbuat dari bambu untuk membuat enrichment dan memasukkannya ke dalam mobil APE Warrior.

Riuh suara berbagai satwa seperti Owa Jawa, Siamang dan satwa liar lainnya menyabut kedatangan kami berpadu dengan semilir angin yang sejuk khas WRC Jogja yang berada di Kulon Progo, cukup dekat dengan perbukitan menoreh. Kami segera memindahkan buah dan sayuran ke tempat penyimpanan pakan. Tak lupa bantuan masker medis untuk para perawat satwa dan beberapa suplemen vitamin. Jaring raksasa bantuan IFAW juga turut kami serahkan untuk membantu berbagai kegiatan di YKAY (Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta) nama lain dari WRC Jogja.

Kamis ini waktunya kami berkreasi membuat enrichment untuk ketujuh orangutan. Keranjang bambu yang kami beli di pedagang pasar, kami isi dengan pisang dan pepaya. Setelah itu kacang panjang dililitkan mengelilingi keranjang. Yang terakhir, mengikat keranjang dengan akar pohon beringin dengan kuat agar buah yang di dalam keranjang tidak cukup mudah untuk keluar. “Susah loh, kita sampai saling tarik untuk mengikatnya. Untuk orangutan yang punya kekuatan 20 kali atlet yang terlatih tentu ini bukan masalah ya. Tapi kita senang…”, ujar Grace sambil menunjukkan keranjang bambunya.

Dipandu drh. Tom, kami membawa tujuh keranjang enrichment untuk ketujuh orangutan. “Makan yang lahap ya! Semoga kalian segera kembali ke habitat kalian.”, pesan Grace dan teman-teman magangnya saat berpisah. Benarkah orangutan cukup sibuk dengan enrichment yang kali ini dibuat? Setidaknya, mereka tidak semudah biasanya mengambil makanan di tempat pakannya biasa diletakkan. (GRACE_MahasiswaMagang)

GUNUNG SINABUNG HARI INI

Gunung Sinabung yang dikenal tidak aktif ini telah mengalami erupsi sejak tahun 2010. Pada Senin, 10 Agustus 2020 pukul 10.16 WIB kembali mengalami erupsi dengan ketinggian kolom abu 5000 meter dengan intensitas tebal condong ke arah timur dan tenggara. Tim APE Warrior dari Centre for Orangutan Protection bersama Orangutan Information Centre melakukan asesmen terhadap erupsi yang sempat membuat cuaca menjadi gelap ini. 

Saat ini, gunung Sinabung masih berada di level III atau Siaga dimana terjadi peningkatan aktivitas vulkanik secara signifikan. Status kewaspadaan ini ditetapkan sejak Mei 2019. Letusan kemungkinan besar terjadi dan area potensi bahaya letusan berada di daerah Kawasan Rawan bencana (KRB) II. Masyarakat dilarang melakukan kegiatan di dalam area KRB II ini. 

Erupsi Sinabung hari ini menyebabkan tiga kecamatan di kabupaten Karo terpapar hujan abu. Ketiga kecamatan itu adalah Naman Teran, Berastagi dan Merdeka. Masyarakat masih beraktivitas seperti biasanya. “Memasuki tahun kesepuluhnya gunung Sinabung bangkit dari tidurnya, masyarakat terlihat tidak panik dalam menghadapi letusannya. Anak-anak terlihat masih bermain. Beberapa warga yang masih kembali ke desa yang telah direlokasi terlihat bergegas meninggalkan desa yang seharusnya sudah tidak berpenghuni ini. Guyuran hujan abu sesaat menghentikan aktivitas masyarakat di ladang. Satwa dan ternak masih terlihat tenang.”, ujar Sari Fitriani, COP dari desa terakhir kaki gunung Sinabung.

MENGENDUS PERBURUAN DAN PENYELUDUPAN SATWA LIAR DI INDONESIA

Kamis, 30 Juli 2020, Mongabay mengadakan Workshop Daring dengan tema “Mengendus Perburuan Satwa Liar di Lampung”. Mongabay Indonesia bersama dengan journalist Learning Forum yang dipandu Dwi Nugroho Adhiasto yang merupakan seorang Regional Wildlife Trade Specialist, Wildlife Crime Unit ini menjelaskan berbagai hal terkait perburuan dan perdagangan ilegal satwa liar di Indonesia. Mulai dari pelaku kejahatan, modus operandi dan apa yang bisa dan dapat kita lakukan.

Dwi memaparkan bahwa masyarakat dan aparat penegak hukum dapat melakukan usaha preventif dan represif. Mulai dari memperkuat pengamanan di habitat satwa seperti melakukan patroli sampai intimidasi menggunakan teknologi seperti CCTV hingga penanda-penanda pengamanan. Kemudian juga memperketat kontrol dan pemeriksaan di jalur atau pintu keluar masuk peredaran satwa dengan mencatat identitas masyarakat yang melewati jalur tersebut.

Selain itu, Dwi menekankan bahwa penegakan hukum tidak boleh tebang pilih dan kapasitas penyidik untuk kejahatan online harus ditingkatkan. Penggunaan multi regulasi atau UU dapat diberlakukan untuk menindak pelaku kejahatan seperti menggunakan UU Kanrantina, UU Bea Cukai, UU Kementrian Kelautan dan Perikanan, UU Tindak Pidana Pencucian Uang dan lain-lain untuk memberikan hukuman berlapis bagi pelaku kejahatan.

Upaya preemtif seperti sosialisasi maupun penyadartahuan untuk masyarakat yang terlibat dalam perburuan ataupun perdagangan juga diperlukan. Masyarakat lokal sering tidak memahami apa saja kegiatan yang termasuk melanggar hukum. Semoga kejahatan terhadap satwa liar, terutama yang dilindungi di Indonesia dapat berkurang dan diberantas.

“Ayo Orangufriends… kamu ambil peran yang mana? Email kami info@orangutanprotection.com Bersama kita bisa!”, ajak Liany Suwito, juru kampanye non Habitat Centre for Orangutan Protection.

(LIA)

TUJUH BURUNG KEPAKKAN SAYAPNYA DI TN BALURAN

Selesai sudah pelepasliaran satwa liar jenis aves ke Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur. Ketujuh burung kembali ke alam, walau dengan usaha yang tidak mudah dan murah. “Perjalanan tim APE Warrior dari Yogyakarta ke TN Baluran saja sudah memakan waktu sembilan jam. Itu belum persiapan sebelum keberangkatan. Setibanya di TN Baluran juga tidak serta merta dilepaskan, tetapi juga harus melalui habituasi, baru kemudian bisa dilepaskan. Sudah selesai? Belum, masih ada monitoring, apakah satwa mampu bertahan hidup di habitat barunya atau tidak.”, sedikit penjelasan dari Hery Susanto, Centre for Orangutan Protection.

Tiga individu elang dan empat individu merak akhirnya mengepakkan sayapnya di alam pada 15 Juli 2020 ini. Pintu kandang habituasi dibuka oleh Kepala Balai Taman Nasional Baluran bersama kepala BKSDA Yogyakarta. Keempat relawan orangutan (Orangufriends) yang ikut menghela nafas lega. “Senang sekali, akhirnya mereka dapat bebas.”, ujar Netu yang merupakan alumni COP School 10 dari Jakarta.

“Cuti lima hari untuk ikut pelepasliaran lebih bermakna.”, kata Angga lagi. Sementara Rebi yang saat ini sedang WFH (Work From Home) tanpa aktivitas menjadikan kegiatan relawan kali ini lepas dari karantina di kost-kostan yang telah berlangsung selama empat bulan. Pelepasliaran satwa liar di tengah pandemi COVID-19 memiliki arti tersendiri untuk para relawan. Merasakan karantina selama pandemi berlangsung menjadikan kita dapat merasakan bagaimana satwa liar hidup di dalam sangkar. Seindah apapun sangkar itu, akan lebih baik berada di habitat alaminya.

LIMA BURUNG AKAN SEGERA KEMBALI KE ALAM

Pandemi COVID-19 tak menghentikan kembalinya lima satwa liar jenis burung ke habitat aslinya. Centre for Orangutan Protection kembali membantu Balai Konservasi Sumber Daya Alam Yogyakarta (BKSDA Yogya) untuk melepasliarkan lima aves hasil rehabilitasi Taman Satwa Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta (YKAY) yang endemik ke Jawa Timur. 

Kelima satwa liar jenis aves tersebut adalah satu Elang Bido (Spilornis cheela), satu Elang Brontok fase gelap (Nisaetus cirratus), satu Elang Laut Perut Putih (Haliaestus leucogaster) dan Merak Hijau (Pavo muticus) sebanyak dua individu. Setelah melalui tes kesehatan, kelima satwa tersebut sehat sehingga layak untuk dirilis.

Peter, begitu nama Elang Brontok Fase Gelap yang merupakan sitaan Polres Muntilan, Yogyakarta tahun 2013 yang lalu. “Tidak hanya Peter, tapi ada Ujang, Remil, Blue dan Tosca yang merupakan penyerahan masyarakat Yogyakarta yang akan dilepasliarkan ke Taman Nasional di Jawa Timur. Pelepasliaran bukanlah proses yang murah. Satwa harus melalui serangkaian rehabilitasi dan pemeriksaan kesehatan. Selain itu juga melibatkan lintas lembaga. Perjalanan dari Yogyakarta ke Jawa Timur sendiri juga memakan waktu. Memelihara satwa liar yang dilindungi Undang-Undang itu melawan hukum. Jangan pelihara satwa liar. Karena satwa liar punya peran sendiri di alam.”, kata Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime Centre for Orangutan Protection. 

Kami menganggil orangufriends untuk terlibat dalam pengembalian kelima satwa liar ini. Bisa melalui kitabisa.com atau hubungi email kami info@orangutanprotection.com

PISANG DAN PEPAYA MASIH MENDOMINASI PAKAN ORANGUTAN WRC

Bagaimana kabar orangutan di Wildlife Rescue Center Yogya? Masih sama seperti kemarin, ketujuh orangutan menjalani kehidupannya di balik jeruji besi. Enam orangutan dewasa yang terlihat diam dan kalem tanpa kita ketahui apa yang ada dipikirannya. Sementara Mungil, si orangutan kecil berusia enam tahun terlihat aktif selayaknya anak kecil yang punya energi luar biasa. Seperti anak kecil pada manusia, rasa penasarannya cukup tinggi. Ia selalu meniru apa yang dilakukan induknya, Ucokwati.

“Hari ini, kami mengirim sawi 10 kg, pepaya 25 kg, nanas 20 kg, jagung 15 kg. Kacang tanah 10 kg, semangka 22 kg dan lagi-lagi pisang 25 kg. Vitamin seperti Sakatonik ABC dua botol dan madu 650 ml serta Biolysin syrup sesuai permintaan WRC. Alkohol 2 botol untuk kebutuhan medis turut diantar. Kali ini orangufriends mulai aktif seiring himbauan new normal, mari beraktivitas dengan memperhatikan protokol kesehatan.”, ujar Liany D. Suwito sambil mendata kiriman.

Orangufriends adalah kelompok relawan orangutan. Selama pandemi COVID-19, para relawan banyak yang memilih untuk isolasi mandiri dan memilih di rumah saja. Kegiatan kampus juga beralih ke daring. Namun empat bulan berada di kost-kostan bukanlah hal yang mudah. Ketika mengetahui COP mengirim pakan orangutan dua kali dalam seminggu, mereka mulai berdatangan ke camp APE Warrior Yogyakarta. “Centre for Orangutan Protection bangga dengan para relawannya. Mereka dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan dan bergantian membantu pengiriman pakan. Tentu saja mulai dari berbelanja hingga sampai di tempat tujuan.”, tambah Liany lagi.

MASKER AND GLOVES FOR WRC JOGJA

“It’s not for salad…”, said Liany to Orangufriends jokingly. So happy that there are people helps lift 97 kg of orangutans’ food. “How can I not be tested, the cucumber is so fresh, the papaya is still hard even though it starts turn yellow. The pineapple is also has a good smell. But that’s for orangutans.”.

Thursday afternoon, after shopping for mustard greens, tomato, corn, guava and the other fruits, the APE Warrior team together with Orangufriends deliver them to the Wildlife Rescue Center Jogja. “Don’t forget the masks and gloves. It’s time to be delivered.”, said Liany D. Suwito, coordinator of animal assistance affected by the COVID-19 pandemic.

There are seven orangutans that are very depends on human at WRC Jogja. WRC Jogja is one of the Conservation Institutions affected by the corona pandemic because the paid volunteer program can not going well according to the plan. The Centre for Orangutan Protection along with IFAW support is helping the seven orangutans. For those of you, who want to help, kindly go to https://kitabisa.com/campaign/orangindo4orangutan or to our BNI Bank account 0137088800

MASKER DAN SARUNG TANGAN MEDIS UNTUR YKAY

“Ini bukan untuk rujakan ya…”, canda Liany ke orangufriends. Senang sekali ada yang bantuin mengangkat 97 kg pakan orangutan. “Bagaimana tidak tergoda, timunnya segar-segar, pepaya juga masih keras walau mulai menguning. Nenasnya juga harum. Tapi itu untuk orangutan loh.”.

Kamis siang, usai berbelanja sawi, tomat, jagung, jambu merah dan buah lainnya, tim APE Warrior bersama Orangufriends mengantarnya ke Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta. “Jangan lupa masker dan gloves nya. Waktunya untuk diantar.”, kata Liany D. Suwito, kordinator bantuan satwa terdampak pandemi COVID-19 ini.

Ada tujuh orangutan yang sangat tergantung dengan manusia di YKAY. WRC Jogja atau YKAY adalah salah satu Lembaga Konservasi yang terdampak pandemi corona karena program relawan berbayarnya tidak bisa berjalan sesuai dengan rencana. Centre for Orangutan Protection dengan dukungan IFAW membantu ketujuh orangutan tersebut. Untuk kamu yang ingin membantu juga bisa melalui kitabisa.com atau ke namor rekening BNI cabang Senayan 0137088800 atas nama Pusat Perlindungan Orangutan.

Page 2 of 2712345...1020...Last »