585 HARAPAN AKHIR TAHUN UNTUK ORANGUTAN

Dulunya sih hutan, tak ada orang yang tinggal di sana. Tapi itu dulu. Jumlah penduduk bertambah, kampung semakin besar, pendatang pun semakin banyak seiring berkembangnya kabupaten Berau, dan kabupaten lainnya di Kalimantan Timur. Habitat satwa liar khususnya orangutan semakin terdesak. Kondisi hutan sebagai tempat tinggal dan mencari makannya pun semakin sulit. Kehadiran satwa liar di kehidupan manusia semakin sering terjadi. Pengkayaan tanaman hutan menjadi solusi.

Tim APE Crusader untuk kedua kalinya dalam tahun 2023 melakukan penanaman dan melakukan tambal sulam terhadap tanaman yang tidak berhasil sebelumnya. Kali ini bibit nangka, rambutan, durian dan jambu air degan melibatkan Kelompok Tani Makmur Jaya, Kampung Sidobangen, Kecamatan Kelay melakukan penanaman di batas kampung dan kawasan berhutan. Tentu saja dengan harapan, satwa liar tak perlu masuk lebih jauh ke pemukiman maupun ladang.

“Akhir tahun ini kami menanam 500 bibit dan menanam kembali bibit yang mati sebanyak 85 titik. Ada 4 jalur tanam, di setiap jalur ada 250 tanaman, dengan jarak tanam 5 m. Kurang lebih sepanjang 1,25 km per jalur, semoga musim yang baik untuk menanam ini menambah kemampuan bibit bertahan hidup, tanpa takut kekeringan”, kata APE Crusader COP.

Centre for Orangutan Protection telah melepasliarkan kembali 10 orangutan di Hutan Lindung Sungai Lesan yang berdekatan dengan Kampung Sidobangen ini. Dari data laporan masyarakat dan penilaian singkat tim ke lapangan setiap kali ada konflik, APE Crusader mendapati orangutan yang mencari makan di kebun warga terutama pada masa paceklik buah di hutan. “Untungnya, masyarakat sangat peduli dan sangat menyadari resiko hidup berbatasan dengan satwa liar”.

BORA BUTUH RELAWAN SEBAGAI ANIMAL KEEPER

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA) yang berada di Berau, Kalimantan Timur membutuhkan Orangufriends khususnya alumni COP School untuk menjadi relawan. Beberapa animal keeper yang biasanya bertugas akan menggunakan hak cuti nya untuk merayakan hari Natal. Tertarik? Kirim cv dan surat lamaran paling lambat tanggal 10 Desember 2023 ini, ke email info@orangutanprotection.com

Kesempatan ini sangat terbatas! Pastinya kamu harus lulus tes kesehatan seperti bebas Hepatitis, Herpes, Tb, HIV/AIDS, dan lainnya yang akan dijelaskan saat wawancara. Sekilas tentang BORA, harus siap hidup tanpa sinyal internet maupun telepon, keterbatasan listrik dan kondisi air yang tidak jernih. Selamat mencoba.

PERAHU BARU APE GUARDIAN SIAP SUSURI SUNGAI ATAN

Akhirnya perahu baru tim APE Guardian jadi juga, setelah menunggu lebih 2 minggu. Pak Said, pengrajin perahu di desa Long Lees, kecamatan Busang, Kalimantan Timur ini memang terkenal rapi dan menjaga kepercayaan pelanggan. Tanpa perahu, mustahil tim ini tiba di pos pantau orangutan. Tanpa perahu tak mungkin juga tim yang dipimpin Randi Kurniawan bisa patroli dan mengamankan kawasan pelepasliaran orangutan yang dikelolah KPH Kelinjau.

“Perahu ini memang berukuran lebih besar dari yang terdahulu. Dengan panjang 9,25 meter dan lebar 1 meter diharapkan dapat membawa kandang orangutan lengkap dengan pelampungnya. Pelampung kandang ini sendiri masih akan mengalami penyesuaian agar dapat berfungsi maksimal saat kejadian tidak diinginkan”, jelas Randi. Warna orange mendominasi perahu dan lis putih agar langsung dapat dikenali saat dikejauhan. “Protect the Orangutan and Beyond, mengandung semangat untuk melindungi orangutan dan yang lainnya. Lindungi orangutan, lindungi satwa liar lainnya, dan keanekaragaman hayati di sekitarnya”.

Rabu, 29 November, tepat pukul 15.10 WITA, perahu ini pun turun ke sungai. 8 orang anggota tim APE Guardian gotong-royong membawa kendaraan utama tim ini. “Jaraknya sih cuman 50 meter, tapi badannya yang besar dan ternyata cukup berat saat di darat. Tim butuh waktu 11 menit untuk menceburkannya ke sungai Atan. Itu pun dibantu masyarakat sekitar”, jelas Randi lagi.

Selamat bertugas… selamat menyusuri sungai Atan, sungai Menyuk dan anak-anak sungai lainnya. Semoga membawa orangutan ke tempat terbaik dan membawa pulang tim dalam kondisi selamat dan tak kurang apapun. (RAN)

LEWAT EDUKASI, TANAMKAN MIMPI BARU ANAK BUSANG

Pagi itu, Busang mendung. Hujan turun semalaman. Jumat, 11 November, tim APE Guardian bersiap-siap sejak pagi mengumpulkan perangkat school visit seperti materi, alat tulis yang sudah dikemas sebagai hadiah, poster, dan sticker. Tim bergegas setelah sarapan pagi menembus hujan yang masih rintik-rintik.

“Tepuk semangat”, ajak Randi Kurniawan, putra minang yang merantau di Kalimantan Timur dan mengawali karirnya sebagai ranger, kini sebagai kapten APE Guardian, sebuah tim yang mempersiapkan lokasi pelepasliaran orangutan dan memastikan orangutan yang dilepasliarkan kembali ke habitatnya ini, baik-baik saja. Selanjutnya, bio-ekologi orangutan termasuk ukuran tubuh orangutan, ciri-cirinya, persebarannya, bagaimana pengasuhan induk ke anak dengan menampilkan foto-foto yang diperoleh tim dari lapangan. Selain itu, video tentang penelitian orangutan ditayangkan dan ditonton bersama dengan harapan dapat membuka pengetahuan anak-anak bahwa banyak yang bisa dilakukan dalam usaha penyelamatan orangutan.

Ketiga belas orangutan yang telah dilepasliarakan di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat juga diperkenalkan kapada anak-anak. “Jangan diberi makan, jangan didekati, jaga jarak! Orangutan satwa liar”, tegas Randi lagi. Selain itu, kegiatan menarik seperti survei keanekaraman hayati dan pentingnya kegiatan itu dilakukan juga menjadi cerita motivasi, kelak anak-anak Busang akan jadi penerus dunia konservasi Indonesia.

Anak-anak begitu antusias dan menyampaikan pertanyaannya. “Bagaimana cara mengajari orangutan hingga menjadi pandai di tempat rehabilitasi, bagaimana cara mengatasi orangutan yang stres dalam kandang, dan yang paling unik adalah berapa lama orangutan ada di perut induknya”. Kegiatan school visit di SMPN 1 Busang berjalan dengan semangat luar biasa. Kegiatan ditutup oleh permainan ’tebak gerakan teman’ yang membuat suasana kelas riuh dengan gerakan heboh mereka sampaikan secara estafet ke teman-teman yang berbaris di belakangnya. Siswa yang berada pada barisan paling akhir bertugas menebak apa yang temannya sampaikan. Semangat anak-anak dalam suasana Orangutan Caring Week 2023, menjadi semangat tim APE Guardian menjaga orangutan, si pengaman hutan. (MIN)

ORANGUTAN BUKAN HEWAN PELIHARAAN

BKSDA SKW I Berau kembali menerima penyerahan 1 individu bayi orangutan dari kampung Merapun, kecamatan Kelay, Kalimantan Timur. Tim APE Defender mendampingi proses serah terima ini dan segera melakukan pemeriksaan kesehatan fisik pada bayi tersebut. “Perkiraan usia, sekitar 9 bulan dengan perut yang besar. Biasanya pemelihara memberikan susu dan sempat berganti merek susu karena diare. Menurut mereka, orangutan tersebut ditemukan di sekitar 400 meter dari rumah mereka, katanya lagi orangutan kecil ini ditinggal induknya karena induknya dikejar anjing”, catat drh. Elise Margaret Ballo.

Bayi orangutan mendapatkan perhatian yang baik dari pemelihara sekeluarga. Tempat tidur bayi, pakaian, popok, hingga pemberian perhiasan gelang yang melingkar di pergelangannya. Orangutan juga dimandikan 3 kali seminggu. Bayi orangutan juga cukup percaya dengan keluarga yang memeliharanya. “Namun, orangutan bukanlah hewan peliharaan. Kehidupan bayi orangutan sangat bergantung dengan induknya. Anak orangutan akan bersama induknya hingga usia 5 tahun. Orangutan adalah satwa liar dilindungi. Kepemilikan dan pemeliharaan ilegal adalah perbuatan melanggar hukum”, ujar Raffi Akbar, asisten manajer BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance).

Tim pun kembali ke BORA, perjalanan 4 jam menyimpan sunyi. Bayi orangutan terlelap di pangkuan drh. Elis. Kami diam dalam pikiran yang tak kunjung selesai. Baru saja memastikan dua orangutan jantan kandidat pelepasliaran baik-baik saja di pulau pra-rilis orangutan, ternyata ada masuk lagi satu bayi orangutan yang masih membutuhkan proses hingga rilis sekitar 6-8 tahun lagi. Orangutan ini pun terbangun dari tidurnya, menjelajah isi mobil, menatap keluar jendela, hujan di luar. (LIS)

DRAMA PENYELAMATAN INDUK DAN ANAK ORANGUTAN DI TAMBANG

Ini adalah pengalaman pertama kali tim APE Guardian tidur di bawah sarang orangutan. Hal ini jadi sesuatu yang baru karena tim biasanya melaksanakan kegiatan pelepasliaran. Semua ini bermula dari konflik orangutan yang terjadi di area tambang, dimana dua individu orangutan yang divideokan kemudian viral di sosial media. Keramaian ini dikarenakan kondisi induk orangutan yang tampak kurus dan menyedihkan tengah menyeberang jalanan area tambang diikuti oleh anaknya yang seharusnya masih digendong.

Pencarian orangutan yang dimaksud pun melibatkan banyak pihak. Centre for Orangutan Protection pun menurunkan tiga tim terbaiknya di Kalimantan Timur. Temuan jejak seperti sarang dan kotoran membawa tim lebih dekat lagi. Siang yang terik dan membakar, membawa tim berteduh dan makan siang di bawah pohon Kaliandra dekat sarang orangutan yang baru ditemukan pagi itu. Di bawahny, kami menemukan kotoran yang berukuran besar dan kecil sehingga kami yakin, ini adalah sarang yang digunakan induk dan anaknya. Tak lama kemudian, bunyi sirine dan teriakan, “Orangutan induk dan anak terpantau melintasi jalan di kilometer 5”.

Di seberang pos penjagaan, sudah ramai tim rescue berkumpul dan juga orangutan induk yang asyik makan kambium di atas pohon. Tubuh kurusnya menggelantung sambil menggendong anaknya yang kesulitan berpegangan karena tubuh induknya yang hampir tidak berambut lagi. Ini menanadakan kondisi tubuh induk yang kurang baik.

Keberadaan orangutan membuat orang berkumpul dan mengerahkan tenaga untuk memblokade pergerakan orangutan sampai tim medis datang. Begitu banyaknya tim rescue yang menahan pergerakan orangutan, namun hutan bertajuk serupa lapangan bola bagi orangutan yang dengan mudah dapat bergerak dari atas. Tim hanya dapat mengikuti orangutan hingga orangutan membuat sarang dengan jarak kurang lebih 300 meter dari jalan lintas Kalimantan Timur.

Malam itu juga kami mendirikan tenda bersama. Tim medis tiba dan menunggu pagi untuk bersiap menyelamatkan orangutan yang kehilangan rumah ini. Proses pembiusan orangutan ini tidaklah mudah. Dart berisi bius terpendat dari tubuhnya yang kurus dan saat tertancap, tangan orangutan liar ini pun langsung mencabutnya. Berbagai cara dilakukan hingga siang hari, hingga akhirnya orangutan mau bergerak turun dari pohon.

Begitu suasana lengang, orangutan benar-benar bergerak turun lalu tim bergegas membawa jaring untuk membatasi pergerakan orangutan kemudian dokter melakukan pembiusan. Tim rescue bernapas lega setelah orangutan dapat dimasukkan ke dalam kandang. Usaha berhari-hari ini berkat kerjasama banyak pihak. Induk orangutan dan anaknya kemudia masuk Bornean Orangutan Rescue Alliance untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut karena mengalami mal nutrisi berat. (MIN)

PENGABDIAN DOKTER HEWAN COP DI KAMPUNG MERASA

Dokter hewan Centre for Orangutan Protection masuk kampung? Pastinya bukan sekali atau dua kali ini. Sejak delapan tahun yang lalu, dokter hewan COP telah mengabdi pada satwa peliharaan dan kesayangan masyarakat sekitar pusat rehabilitasi orangutan yang dikelolahnya. Edukasi dan penyadartahuan tentang kondisi hewan hingga langsung melakukan pengobatan pada anjing, kucing hingga ternak juga mengharapkan kesehatan masyarakat di kampung terdekat dengan Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA). Zoonosis tak bosan-bosannya dokter hewan dan paramedis ini sampaikan, demi kesehatan yang terasa sangat mahal ketika pandemi COVID menghampiri kita.

Dokter hewan COP tak ragu mengetuk pintu rumah yang satu dengan pintu rumah yang lain, sesuai data sebelumnya dimana hewan peliharaan terdata. Syukurnya, warga Kampung Merasak sangat terbuka dengan kehadiran tim APE Defender ini. Kunjungan kali ini, ada 7 hewan yang mengalami scabiosis, 2 terinfeksi ektoparasit pinjal. Pemeriksaan 1 babi yang sedang hamil pun tak luput dari pemeriksaan kali ini. “Mendengarkan detak janin babi membuat kebahagian tersendiri”, ujar drh. Elise Ballo sambil tersenyum.

Selain itu tim juga memberi 2 vitamin pada hewan kesayangan dan pemberian obat cacing pada 4 anjing lainnya. Tim menyadari betul, cacing pada hewan peliharaan yang bisa dijumpai dimana saja dapat menjadi awal manusia menderita penyakit cacing. Salah satu anggota tim di desa tempat pelepasliaran orangutan pernah mengalami infeksi cacing yang merayap di bawah kulit. Munculnya tonjolan kemerahan di kulit kakinya yang tampak berliku-liku seperti ular dan disertai rasa gatal yang sangat sempat hanya dianggap varises. Setelah diteliti lebih lanjut, cutaeus larva mingrain terjadi ketika staf tersebut bermain sepak bola dengan anak-anak di kampung longless tanpa alas kaki. Ternyata lapangan bola telah terkontaminasi larva cacing tambang dari kotoran hewan seperti anjing dan kucing. Setelah menjalani terapi, akhirnya staf tersebut sembuh.

“Mari jaga kesehatan hewan peliharaan dan jaga kebersihan”, ajak drh Elise lagi.

EBOCS, 6 BEASISWA UNTUK MAHASISWA SAMARINDA TERPILIH

Penyerahan dan penandatangan kontrak penerima EBOCS 2023 dihadiri Prof. Dr. Rudianto Amirta, S. Hut. M. P selaku dekan Fahutan UNMUL, Dr. Dra. Hj. Ratna Kusuma, M. Si selaku dekan FMIPA beserta staf dan karyawan Fakultas Kehutanan dan Fakultas MIPA, Gary Saphiro, Ph.D dari OURF, Daniek Hendarto selaku direktur eksekutif Centre for Orangutan Protection serta seluruh penerima beasiswa EBOCS 2021, 2022, dan 2023.

Ada enam mahasiswa Universitas Mulawarman (UNMUL) Samarinda, Kalimantan Timur yang menerima beasiswa EBOCS 2023. Keenam penerima beasiswa ini telah melalui serangkaian seleksi mulai dari berkas administrasi hingga wawancara sejak 27 April 2023 yang lalu. Ini adalah pemberian EBOCS (East Borneo Orangutan Caring Scholarship) di tahun ke-3 dengan pengembangan jurusan dan jumlah penerima. “Dua tahun terakhir, EBOCS hanya diberikan untuk mahasiswa kehutanan UNMUL saja. Pada 2021 yang lalu ada 2 mahasiswa yang menerima, tahun berikutnya ada 4 mahasiswa. Sayang sekali salah satu penerima beasiswa meninggal dunia beberapa bulan yang lalu. Total ada 12 mahasiswa yang telah menerima beasiswa tersebut, khusus tahun ini ada pengembangan di jurusan Biologi”, jelas Oktaviana Sawitri dari Centre for Orangutan Protection.

Tiga anak kehutanan dan 3 anak biologi penerima beasiswa diharapkan dapat berkontribusi langsung pada perlindungan orangutan mulai dengan ikut kegiatan Centre for Orangutan Protection (COP) seperti edukasi, patroli, penelitian bahkan kampanye di sosial media seperti like, share dan comment COP. “Kebetulan penerima beasiswa UNMUL ini didominasi perempuan. COP berharap penerima bisa lebih aktif lagi mendukung dunia konservasi di Indonesia khususnya Orangutan. Permintaan Dekan FMIPA agar COP mengisi kuliah umum di prodi Biologi juga akan dijadwalkan”, tambah Okta lagi.  (OKT)

WHAT HAPPENED AT LONG GIE

Yesterday, we rescued a baby orangutan from the village of Long Gie, for the third time in the very same village. What is happening to this village? Arif, the captain of the APE Crusader Team shares this story for you. 

One of the main tasks of the APE Crusader is mitigating conflict between humans versus orangutans or wildlife in general. Due to limited resources, the team reduce the work coverage, from covering the Borneo island to a more specific area: East Borneo. For the last 2 years, the team has responded to 160 cases in 6 districts: East Kutai, Berau, Bontang, West Kutai, Kutai Kartanegara, and Pasir. The roots of the conflict are various, from coal mining, road development, settlement, and oil palm plantation. On average, they should go to the field every 4 or 5 days. One case needs at least 3 days. It makes them work 24/7. Almost no break. 

Mitigating conflict is an art of communication as the team has to develop good relationships among the stakeholders: government, local people, companies, and even the other NGOs. We even have to delay the publication or even simply not publish the story as we have to make everybody happy and the most important thing is: the orangutan. Not necessary to be heroic in social media if it is a threat to the life of other orangutans that are not being rescued yet and hurt the stakeholders. 

Long Gie village is located on the river bank Kelay, warm, lot of natural foods and plenty of water. Both humans and orangutans love this kind of place. Local people and orangutans have been coexisting in the habitat for a long time until the companies get the concession to utilize lands and forests. Competition for natural resources becomes unavoidable. The company may have trained staff to deal with wild animals to keep their reputation and prevent legal problems. How about local people? Working with companies is much easier. Just develop and run internal regulations. Give punishment to those who break it. Very contrary to local communities. As there is no possibility to punish them or even control them, we need to work in every way to minimize the negative impact on both sides: humans and animals. Things become more complicated in the last two years since the swine flu kill most wild boars in the forest, and the natural fruit also decreased a lot due to more rains, somehow the wild animals, including orangutans search for food in and around humans settlements across Borneo and Sumatra. The last two years were peak seasons for humans versus wildlife. Just within 1 year, we rescued two babies need to be rescued from Long Gie. The background story is very similar: spot a baby orangutan crying with no mother and take them home. Not long time after the first rescue, the COP team investigated the case and socialize the protection of orangutans in the village. Arif, the Captain also uses his day off to visit Long Gie village and stay there for a couple of days “holiday”. 

Arif has been serving the government for an energy program in Long Gie, a remote village on the bank of Kelay River, East Borneo. He has been living there for about one year and is considered local by locals. His local knowledge and skill in social work are essential for a grassroots organization like COP. His good personal relationship with COP staff has moved him to join the team. Now, he is the Captain of our APE Crusader Team. 

He and the team need more support. Yesterday’s rescue is evidence that we have to work harder and smarter to make everybody in the village and many other villages understand the protection of orangutans.  Especially since there are no signs that conflict is decreasing and dry seasons are coming, means forest fires are threatening nowadays.

TIGA ORANGUTAN KEMBALI KE RUMAH BARUNYA DI BUSANG

Rabu, 24 Mei 2023 menjadi hari kembalinya orangutan Jasmine, Syair, dan orangutan eks-rehabilitasi Memo ke Hutan Lindung Batu Mesangat kecamatan Busang, Kalimantan Timur. Orangutan tiba di Desa Longlees pada petang hari, Selasa (23/5) bersama tim APE Crusader, APE Defender, KPH Kelinjau, dan BKSDA Kaltim. Kondisi orangutan dan tim sehat wal’afiat setelah menempuh perjalanan panjang selama sepuluh jam dari klinik dan karantina BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance). Besok pagi tim akan melanjutkan jalur air, malam ini waktunya tidur.

“Tiga jam perjalanan naik ketinting ke Pos Pantau Busang Hagar terasa mengharukan bagi saya pribadi. Ini adalah kali pertama saya terlibat dalam proses pelepasliaran orangutan, ada rasa bangga, lelah, dan khawatir dengan orangutan yang akan dilepaskan”, cerita Amin Indra Wahyuni, anggota tim APE Guardian COP. Jalur darat selanjutnya menuju titik pelepasliaran cukup licin dan berlumpur karena hujan, tim pemikul kandang berulang kali berganti posisi dan personil. Tanpa membawa beban saja jalan terseok-seok apalagi membawa kandang berisi orangutan.

Satu jam lebih perjalanan penuh keringat hingga sampai Hutan Lindung. Tepat di depan akar liana, posisi pintu kandang diletakkan untuk mempermudah orangutan langsung memanjat saat pintu kandang angkut dibuka. Benar saja, orangutan Jasmin dan Syair pun langsung memegang liana dan memakan buah-buahan yang sengaja diletakkan di situ. Sementara orangutan bernama Memo yang dilepaskan tak jauh dari  induk dan anak tersebut, tanpa ba-bi-bu langsung naik ke atas pohon. Rilis selesai, selanjutnya tim APE Guardian melanjutkan Post Release Monitoring (PRM) orangutan.

PRM dilakukan selama tiga bulan ke depan dan akan dipantau terus kondisi orangutan yang meliputi kesehatan, kemampuan mencari makan, dan lokasi pergerakannya. Orangutan Jasmine dan Syair terlihat lebih dahulu dapat beradaptasi dibandingkan Memo, karena Jasmine dan Syair memang orangutan liar yang dipindahkan (tanslokasi). Perlu waktu yang tidak singkat untuk dapat mengantarkan orangutan kembali ke hutan. Usaha luar biasa dilakukan dan banyak pengorbanan mulai dari tenaga, biaya, waktu dan lain-lain. Semoga Jamine, Syair, dan Memo utamanya dapat lekas beradaptasi, tumbuh, dan berkembang di rumah yang seharusnya. (MIN)