DULU, POPI MEMELUK MANUSIA, KINI MEMELUK PEPOHONAN

Kabut tipis masih menggantung di atas Sungai Atan, Kampung Long Lees, Busang, Kutai Timur, ketika deru mesin perahu mulai memecah keheningan pagi itu. Di atas perahu, sebuah kandang angkut berwarna jingga terikat rapi. Di dalamnya duduk orangutan betina berusia sembilan tahun bernama Popi. Hari itu, 10 Agustus 2025 bertepatan dengan Hari Konservasi Alam Nasional akan menjadi hari yang mengubah hidupnya selamanya. Dari kampung Long Lees, Popi berangkat menuju Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, sebuah rumah baru yang telah lama menunggunya.

Popi adalah salah individu yang paling populer di pusat rehabilitasi BORA. Ia diselamatkan ketika usianya belum genap satu bulan, saat giginya pun belum ada yang tumbuh. Pada September 2016, Popi dibawa ke BORA untuk memulai perjalanan panjang rehabilitasinya setelah sempat dipelihara warga dalam waktu yang singkat. Mungkin ia tidak memiliki sedikitpun memori tentang induknya, karena ia telah kehilangan induknya pada usia yang terlalu muda. Kehidupan tanpa induknya sejak sangat kecil membuatnya terkenal manja pada para animal keeper dan staf BORA. Ia sering mencari kenyamanan dari manusia, dan sempat ada keraguan apakah Popi benar-benar bisa mandiri di alam liar suatu hari nanti.

Tetapi tahun-tahun panjang rehabilitasi dari sekolah hutan hingga pra-rilis di pulau, mengubah segalanya. Perlahan, insting liarnya tumbuh kembali. Data sekolah hutan menunjukkan bahwa Popi sering mengonsumsi variasi pakan alami lebih beragam dibandingkan orangutan lain. Di pulau pra-pelepasliaran, ia terbukti mampu bertahan hidup 24/7 selama beberapa bulan, beradaptasi dengan habitat liar tanpa lagi bisa berlindung di bawah naungan atap kandang.

Perjalanan menuju lokasi pelepasliaran ini bukan sekadar memindahkan Popi, ini adalah langkah mengembalikannya pada rumah sejatinya, habitat hutan yang masih terjaga, yang mampu menopang keberlangsungan hidupnya dengan baik. Bersama tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Kelinjau, COP (Centre for Orangutan Protection), dan TOP (the Orangutan Project), Popi menempuh sekitar 10 jam perjalanan darat dari Berau dan 3 jam perjalanan sungai dari Long Lees untuk menuju Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, salah satu benteng terakhir keanekaragaman hayati di Kalimantan Timur.

Saat pintu kandang akhirnya dibuka, Popi bergegas keluar tanpa ragu, Ia melangkah keluar dengan penuh semangat, lalu memanjat pohon pertama yang dilihatnya. Gerakannya seakan menuliskan episode baru dalam cerita panjang perjalanan hidupnya, orangutan tanpa induk yang akhirnya pulang. Di pohon itu, Popi langsung menemukan buah balangkasua atau disebut juga ginalun (Lepisanthes alata), kumpulan buah berwarna merah keunguan mirip seperti anggur, ia kemudian menyantapnya dengan lahap.

Tim post-release monitoring (PRM) dari APE Guardian COP mengamati perilaku Popi dari kejauhan. Semua keraguan lama kini terbantahkan. Popi bergerak aktif, mencari buah-buahan hutan, mengunyah kulit liana, memakan daun muda, minum air sungai, hingga “pesta panen” di pohon sengkuang/dahu (Dracontomelon dao) yang sedang berbuah lebat. Popi bukan lagi anak manja yang selalu mencari perhatian manusia. Ia kini orangutan muda dengan naluri liar yang sudah terbentuk kembali.

Hari kedua monitoring membawa kejutan. Dari atas kepala kami, sekitar sepuluh meter dari permuakaan tanah, muncul suara pergerakan kanopi pohon, tampak pula siluet orangutan.

“Itu Popi bukan?”, tanya Yusuf, asisten lapangan APE Guardian.

Kami ragu, karena Popi sebelumnya sudah menyeberang sungai melalui liana yang melintang dari pohon ke pohon melintasi sungai. Tidak lama kemudian wajahnya yang terasa familiar terlihat jelas, memori segera menyeruak, itu adalah Bonti.

Bonti adalah teman sekandang Popi saat di BORA, yang lebih dahulu dilepasliarkan pada Januari 2025. Dari kanopi pohon, ia tampak memperhatikan Popi yang berada di atas pohon seberang sungai selebar kurang lebih 6 meter. Beberapa menit setelah memperhatikan dari seberang, Bonti memberanikan diri menyeberang sungai melalui liana, mendekati Popi yang sedang mencari makan.

Pertemuan itu seperti reuni teman lama. Bonti mengejar Popi layaknya saat mereka masih bersama di sekolah hutan. Beberapa lama setelah momen itu, Popi menjelajah lebih jauh ke dalam hutan. Gerakannya cepat, daya jelajahnya tak terkejar oleh tim PRM, hingga akhirnya ia menghilang dari pantauan tim PRM yang kewalahan menembus rapatnya vegetasi.

Kini Popi benar-benar bebas. Ia hidup di ekosistem Busang yang kaya akan sumber pakan, jauh dari ancaman aktivitas manusia. Pada Hari Konservasi Alam Nasional, kebebasan Popi menjadi lebih dari sekadar kisah individu. Ia adalah simbol dengan cerita uniknya, yang suatu hari nanti akan mendapat kesempatan yang sama, kembali ke rumah sejati mereka, hutan Kalimantan. (RAF)

ORANGUTAN IKUT LARI DI BERAU

Tanggal 24 Agustus 2025 lalu, halaman Kantor Bupati Berau dipenuhi semangat peserta Bupati Berau Independence Run 2025. Dari sekian banyak pelari, ada satu yang paling mencuri perhatian, ada “orangutan” di tengah keramaian! Tentu saja bukan sungguhan, melainkan Rara, babysitter dari BORA, yang memutuskan ikut berlari dengan kostum orangutan. Bersama Rara, ada juga Cici, Widi, Indah, dan Dea yang ikut meramaikan acara ini. Meski sehari-hari sibuk merawat orangutan di BORA, mereka tetap meluangkan waktu untuk menyuarakan kepedulian terhadap orangutan di sela-sela aktivitas mereka.
“Karena acaranya berdekatan dengan Hari Orangutan Sedunia dan masih dalam rangka Bulan Orangufriends. Aku rasa ini momen bagus buat mengenalkan orangutan dengan cara yang seru dan berkesan,” ujar Rara. Setiap tanggal 19 Agustus, dunia memang memperingati Hari Orangutan Sedunia sebagai momentum untuk mengingatkan pentingnya pelestarian orangutan. Biasanya kegiatan dilakukan dalam bentuk kampanye, lomba, atau edukasi singkat. Namun di tahun 2025 ini, COP memilih langkah berbeda. Perayaan tidak hanya berlangsung sehari di satu lokasi, melainkan dikembangkan menjadi “Bulan Edukasi Orangutan”, sebuah gerakan serentak yang menggerakkan relawan di berbagai daerah di Indonesia dengan semangat yang sama.
Reaksi penonton pun beragam. “Ada yang kaget, ada yang nyeletuk ini monyet atau orangutan. Tapi lama-lama mereka heboh banget. Banyak yang minta foto, ada yang sengaja mendekat buat kasih semangat. Rasanya hangat banget, kayak punya teman baru di sepanjang jalan,” kenang Rara sambil tersenyum.
Soal larinya, Rara mengaku awalnya baik-baik saja. “Tapi mulai kilometer dua, mulai terasa panas dan engap. Aku beberapa kali buka kepala kostum buat bernapas, terus lanjut dengan jalan cepat. Untungnya teman-teman pembawa poster juga aktif banget, mereka bentang poster di keramaian atau spot fotografer. Pas melewati Car Free Day, anak-anak makin antusias, minta high five dan rebutan stiker orangutan. Itu seru banget!” tambahnya sambil tertawa kecil.
“Yang jelas, ini pengalaman baru yang seru banget. Aku senang lihat banyak orang tua dan anak-anak berebut stiker, terus mau foto bareng orangutan. Buatku, lari pakai kostum orangutan itu tantangan sekaligus cara fun untuk bikin orang peduli. Rasanya capek, panas, tapi bahagia. Dan aku jadi makin termotivasi buat latihan lebih giat lagi, siapa tahu lain kali bisa lari lebih jauh dengan kostum ini!” tutup Rara penuh semangat. (DIM)

SUARA UNIK DARI HUTAN LINDUNG GUNUNG BATU MESANGAT

Malam turun perlahan di Hutan Lindung (HL) Gunung Batu Mesangat, Kalimantan Timur. Kabut tipis pepohonan tinggi dan suara serangga mulai menggema dari segala arah. Di tengah gelap dan rimbanya hutan, dua sosok berjalan perlahan menyusuri jalur anakan sungai. Mereka adalah asisten lapangan tim APE Guardian COP yang sedang melakukan pengamatan herpetofauna di kawasan pelepasliaran Busang. Berbekal senter kepala yang terpasang di dahi, “Inilah waktu terbaik untuk mencari katak. Tapi, kenapa di sini sekarang sepi, ya?”, kata Angka Wijaya sambil menyorot semak di aliran sungai kecil.

Lalu, tiba-tiba…, “Dengar itu”, bisik Angka lagi. Suara unik terdengar, ‘prrrt-prrrt’, berasal dari batang pohon mati yang berada di permukaan sungai kecil.
“Bang, itu dia suara katak tutul”, ucap Luthfi.
Mereka mendekat perlahan, melangkah di genangan air beralaskan lumpur. Seekor katak kecil tengah duduk diam, asyik berbunyi. Tapi ini bukan katak biasa, tubuhnya gelap mengilap dengan pola kuning terang di punggung dan kaki, seperti lukisan abstrak di atas kulit cahaya malam.

“Astaga Luthfi, ini Pulchrana picturata! Siapkan kamera, kita ambil momen videonya!”, seru Angka.
Mereka segera mengambil foto dan merekam suara panggilan si katak mungil itu. Bagi Angka dan Luthfi, ini adalah rekaman video pertama Pultchrana picturata di kawasan HL Gunung Batu Mesangat.
“Katak ini indikator ekosistem yang sehat. Kalau dia ada di sini, artinya hutan ini masih punya harapan”. (ENG)

CRUSADER COP DENGAN MISI EDUKASI ORANGUTAN DI SMAN 1 KONGBENG

Sore yang tenang di Miau Baru dan para siswa yang baru saja selesai berolahraga dengan keringat masih menempel di wajah membuat suasana sedikit lesu. Meski lelah, siswa-siswi SMAN 10 Kongbeng, Kalimantan Timur berkumpul di aula sekolah. “Gawat, waktunya tidur siang ini”.

Suara anggota tim Crusader COP, Agung pun terdengar keras, “Siapa yang pernah melihat orangutan?”. Tak disangka, ternyata beberapa anak mengangkat tangannya, ternyata yang mengantuk tidak semuanya. Agung pun segera menghampiri siswa yang mengacungkan tangannya.
“Saya melihatnya, di kawasan wisata hutan Selei Sagum”,
“Saya melihatnya kak, di sekitar jalan poros menuju Sangatta”.
Agung pun menimpali, “ Wow, hebat! Kalian beruntung bisa melihat mereka di habitat aslinya, Kalimantan dimana kita lahir dan besar. Tapi, kenapa ada orangutan di jalan raya?”.
Salah satu siswa memberanikan diri menjawab walaupun dengan tatapan lesu namun tetap bersuara lantang, “karena hutannya udah pada habis ditebang orang”.

Kemudian Agung pun melanjutkan, “Wah, kasihan banget ya… Orangutan sudah kehilangan rumahnya sampai-sampai bisa kita lihat di jalan raya. Tapi tahukah kalian, memelihara orangutan itu juga tidak boleh? Mereka adalah satwa liar yang dilindungi. Habitat mereka semakin sempit karena manusia. Makanya, kita harus menjaga hutan dan alam sekitar kita”.

Siswa-siswa mulai terlihat lebih tertarik. Ada yang bertanya, “Kenapa gak boleh dipelihara, Kak? Kan lucu?”

Agung pun menggelengkan pelan, “Orangutan bukan hewan peliharaan. Mereka butuh ruang yang luas untuk bergerak, mencari makan, dan bersosialisasi. Kalau dipelihara, mereka akan stres dan sakit. Selain itu, memelihara satwa liar juga melanggar hukum”.

Rina, salah satu siswa, teringat cerita dari pamannya yang bekerja di kebun sawit. “Paman saya bilang, kadang orangutan masuk ke kebun dan merusak tanaman. Apa yang harus dilakukan, Pak?”

“Itu pertanyaan bagus”, komentar Pak Budi. “Sebenarnya, orangutan masuk ke kebun karena habitat asli mereka terganggu. Solusinya adalah kita harus menjaga hutan agar mereka punya tempat tinggal yang cukup. Kalau mereka masuk ke kebun, sebaiknya kalian bisa laporkan ke nomor yang ada di slide ini atau ke pihak berwenang agar bisa ditindaklanjuti dengan aman”.

Sesi edukasi berlanjut dengan cerita-cerita menarik tentang perilaku orangutan, kecerdasan mereka, dan betapa pentingnya peran mereka dalam ekosistem hutan. Meski awalnya kurang aktif, perlahan siswa mulai terlibat dalam diskusi. Ada yang bertanya tentang cara menjaga hutan, ada pula yang ingin tahu lebih banyak tentang upaya konservasi yang dilakukan oleh COP (Centre for Orangutan Protection).

Saat sesi berakhir, Agung pun menutup dengan pesan kuat, “Ingat teman-teman, orangutan adalah sahabat kita di hutan. Mereka membantu menjaga keseimbangan alam. Jadi, mari kita jaga habitat mereka dengan tidak merusak hutan dan tidak memelihara satwa liar. Salam edukasi, salam konservasi!”. Di balik senja yang perlahan memudar, harapan pun muncul. Siswa-siswi SMAN 01 Kongbeng kini bukan hanya penonton, tetapi merupakan penjaga masa depan hutan dan satwa liar di sekitar mereka. (AGU)

MISTERI DAN DUKA DI JALAN POROS WAHAU KALTIM

Sabtu, 26 Juli 2025 sebuah video buram nyebar cepat di media sosial. Gambarannya menunjukkan satu individual beruang madu tergeletak tak bergerak di tepi Jalan Poros Wahau, Kalimantan Timur. Tubuhnya tampak lemah, di kelilingi semak liar, seolah menyimpan rahasia kelam. Postingan itu seketika membangkitkan gelombang keprihatinan. BKSDA Kaltim segera bertindak menghubungi tim APE Crusader COP untuk menyelami kejadian tersebut. Tanpa menunggu lama, tim meluncur.

Saat senja merona di langit Kalimantan dengan udara yang masih hangat, bau menyengat tiba-tiba mengusik perjalanan menuju Simpang Perdau. Aroma tajam ini membawa firasat buruk yang tak bisa diabaikan. Dengan langkah hati-hati, laju kendaraan pun melambat. Di balik rerimbunan semak, pemandangan mengerikan terhampar. Jasad beruang madu dengan tubuh membengkak, dikerubungi lalat dan belatung yang bergerak lincah di atas luka-luka menganga.

Cahaya senja yang temaram menerangi tubuh beruang itu, memperlihatkan detil mengerikan. Cakar-cakarnya hilang seolah dicabut paksa. Alat kelaminya pun tak lagi utuh, meninggalkan bekas potongan kasar yang tak wajar. Keadaan itu membawa hawa ngeri sekaligus amarah bagi tim. Jelas bahwa ini bukan kematian biasa. Ada tangan manusia yang tega mencincang tubuh itu, mungkin demi keuntungan gelap, tanpa menghiraukan nyawa yang telah padam. Luka besar di dada beruang tampak seperti akibat benturan keras, kemungkinan tertabrak kendaraan, namun mutilasi yang mengikutinya menyingkap kekejaman yang lebih dalam.

Tim segera menyebar, menyisir area di sekitar jasad. Mata mereka tajam mencari petunjuk, jejak kaki, bekas ban, atau apapun yang bisa menyingkap pelaku. Namun hujan yang turun beberapa hari sebelumnya telah menghapus banyak tanda. Alam seolah turut menyembunyikan kebenaran, meninggalkan misteri yang semakin pekat. Dari tingkat pembusukan jasad, tim memperkirakan beruang telah mati sejak hari Jumat. Kejadian ini bukan sekedar kematian seekor hewan, tetapi pengingat pahit akan ancaman terhadap satwa liar. Setiap makhluk berhak hidup dan tugas melindunginya tak perah ringan. (AGU)

RANGER BUSANG IKUT COP SCHOOL BATCH 15

Saya, Dedi Awan yang untuk pertama kalinya terbang di atas awan dan melihat awan berada di bawah. Keseharian saya sebagai ranger di Tim APE Guardian menyeberangkan saya ke pulau Jawa, pulau terpadat di Indonesia. Ini juga pengalaman pertama saya naik burung besi, takut bercampur penasaran membuat saya tak ingin melewatkan kesempatan menikmati awan. Ternyata tanah Kalimantan begitu banyak lukanya, tambang-tambang itu menjadi terlihat jelas dari atas. Hutan dan perkebunan kelapa sawit itu ternyata tampak jelas perbedaannya.

Sejujurnya tidak mudah untuk bisa ikut kegiatan COP School. Tugas-tugas yang diberikan nyaris mengorbankan waktu kerja saya sebagai ranger di kawasan pelepasliaran orangutan di Busang, kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Mulai dari topik animal welfare, kebun binatang, perdagangan satwa liar, pasar burung, hingga cyber campaign. Dari 69 peserta yang mendaftar COP School Batch 15 akhirnya yang lolos 43 orang, dan puji Tuhan, saya termasuk di antaranya.

Mengikuti kegiatan COP School selama seminggu sangat seru dan menyenangkan. Saya mendapat banyak teman baru, ilmu baru dari para pemateri maupun dari sesama peserta. Kami saling berbagi cerita dan pengalaman tentang konservasi orangutan dan satwa lainnya. Ini adalah pengalaman paling berharga bagi saya, sekaligus menjadi pendorong untuk terus berkembang dan semakin giat dalam memperdalam ilmu tentang konservasi orangutan serta satwa liar lainnya, baik yang dilindungi maupun yang belum dilindungi. “Semua ini menjadi motivator besar bagi saya untuk terus belajar dan berkembang, karena saya sudah terlanjur mencintai dunia konservasi, rasanya sayang jika kesempatan yang diberikan ini disia-siakan. Selama masih ada kesempatan yang diberikan kepada saya, saya akan berusaha memanfaatkannya sebaik mungkin, karena inilah peluang emas untuk mengembangkan pengetahuan dan kontribusikan saya di dunia konservasi”, tutup Dedi, si penjaga Ekosistem Busang. (DED)

FELIX: LEARNING TO NAVIGATE THE WORLD AROUND HIM

Felix, a young orangutan who is sensitive yet full of potential, spent the month of July 2025 navigating a range of emotions and making encouraging progress. He showed significant development in his forest school exploration, climbing trees up to 15 meters high and beginning to venture out with friends like Ochre and Jainul. Sometimes, he even approached other orangutans to forage together, like when he joined Eboni and shared in eating bark that had already been peeled.

However, Felix is still learning to overcome fear and uncertainty. On several occasions, he was seen crying when struggling to move from one tree to another, or when he felt left out by a babysitter. But during such moments, support from other orangutans, like Eboni helping him cross a branch, showed that Felix is growing up in a socially supportive environment.

During enrichment activities, Felix was sometimes less enthusiastic about his own items and preferred collecting leftovers from Pansy. Still, he demonstrated intelligence and perseverance, such as when he completed a honey-filled wood challenge in just 20 minutes. He also became more skilled at climbing and swinging, clearly enjoying his time in the trees, although he occasionally came down to play on the ground with Jainul and Bagus.

Socially, Felix is still learning to set boundaries. In the cage, he was able to play with Pansy and keep up with her more dominant energy. Yet when Pansy approached to take his food, Felix still tended to yield. Even so, when given an enrichment item like a coconut, he focused on finishing it by himself, a sign that his confidence is beginning to grow.

This month showed that Felix is learning to balance curiosity, the need for safety, and the drive for independence. Behind all his emotional expressions lies a natural and complete learning process. With ongoing support, Felix is laying an important foundation for his future life in the wild. (RAF)

FELIX: BELAJAR MENGIMBANGI DUNIA DI SEKELILINGNYA

Felix, orangutan muda yang sensitif, namun penuh potensi, menjalani bulan Juli 2025 dengan berbagai dinamika emosi dan kemajuan yang menggembirakan. Ia menunjukkan banyak kemajuan dalam eksplorasi di sekolah hutan, memanjat pohon hingga 15 meter dan mulai menjelajah bersama teman-temannya seperti Ochre dan Jainul. Kadang ia juga mendekati orangutan lain untuk mencari makan bersama, seperti saat ia menghampiri Eboni dan ikut menikmati kulit kayu yang sudah dikupas.

Namun, Felix juga masih belajar mengatasi rasa takut dan ketidakpastian. Beberapa kali ia terlihat menangis saat kesulitan berpindah dari satu pohon ke pohon lain atau saat merasa diabaikan oleh babysitter. Tapi dalam momen seperti ini, perhatian dari orangutan lain seperti Eboni yang membantunya menyeberang cabang, menunjukkan bahwa Felix sedang tumbuh di lingkungan yang penuh dukungan sosial.

Dalam berbagai aktivitas enrichment, Felix kadang terlihat kurang antusias dengan miliknya sendiri dan lebih memilih memungut sisa milik Pansy. Tapi ia tetap menunjukkan kecerdasan dan ketekunan, seperti saat menyelesaikan kayu isi madu dalam waktu 20 menit. Ia juga semakin mahir memanjat dan berayun, dan terlihat sangat menikmati waktunya di atas pohon, meskipun sesekali turun untuk bermain bersama Jainul dan Bagus di tanah.

Secara sosial, Felix masih dalam proses belajar menetapkan batas. Di kandang, ia bisa bermain dengan Pansy dan mengimbangi energi Pansy yang lebih dominan. Tapi saat Pansy mendekat untuk mengambil makanannya, Felix masih cenderung mengalah. Meski begitu, saat diberi enrichment berupa kelapa, ia fokus menyelesaikannya sendiri, tanda bahwa kepercayaan dirinya mulai tumbuh.

Bulan ini menunjukkan bahwa Felix sedang melatih keseimbangan antara rasa ingin tahu, kebutuhan akan rasa aman, dan dorongan untuk mandiri. Di balik semua ekspresi emosionalnya, ada proses pembelajaran yang utuh dan alami. Dengan dukungan yang terus-menerus, Felix sedang membangun fondasi penting untuk hidupnya di alam liar nanti. (RAF)

DARI KAMPUS KE HUTAN, LAHIRKAN GENERASI PENJAGA ORANGUTAN

Pada 24 Juli 2025, Gedung Teater FMIPA Universitas Mulawarman dipenuhi semangat muda saat Ceremony Penerimaan Beasiswa EBOCS 2025 digelar. Acara ini dihadiri oleh perwakilan COP, Orang Utan Republik Foundation (OURF), pimpinan UNMUL, para dosen, mahasiswa, hingga orang tua penerima beasiswa. Tahun ini, enam mahasiswa resmi terpilih, dua dari Fakultas Kehutanan dan empat dari FMIPA. Agenda berlanjut keesokan harinya dengan penandatanganan MoA antara COP dan FMIPA serta sesi berbagi inspiratif. Gary Shapiro dari OURF membawakan materi tentang konservasi orangutan, tim COP memaparkan program di Kalimantan Timur, sementara alumni EBOCS berbagi kisah mereka, mulai dari kampanye, edukasi ke sekolah, sampai pengalaman riset di lapangan.
EBOCS (East Borneo Orangutan Caring Scholarship) sendiri adalah bagian dari program beasiswa internasional Orangutan Caring Scholarship (OCS) yang dikhususkan untuk mahasiswa Kalimantan Timur. Didukung OURF dan dikelola COP sejak 2021, program ini awalnya hanya memberi kesempatan kepada dua mahasiswa. Namun berkat keberhasilan dan konsistensi, kuotanya terus bertambah dari tahun ke tahun. Hingga 2025, EBOCS telah mengantarkan 24 mahasiswa untuk tidak hanya menyelesaikan pendidikan, tapi juga ikut berperan dalam konservasi orangutan.
Salah satunya adalah Andika, mahasiswa Biologi semester 6 FMIPA UNMUL. Saat ini ia sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan selama 40 hari di site pelepasliaran orangutan COP, Busang. Andika juga tengah menyiapkan penelitiannya, yaitu mengenai rayap sebagai salah satu pakan alami orangutan. Di lapangan, Andika juga terjun langsung dalam berbagai aktivitas, mulai dari pelepasliaran dan monitoring orangutan, patroli kawasan, mitigasi konflik, hingga survey keanekaragaman satwa. Harapannya, penelitian ini tak hanya memperkaya data COP, tapi juga menjadi sumbangsih nyata bagi upaya menjaga orangutan tetap lestari di hutan Kalimantan. (DIM)

SARANG BARU INI MILIK SIAPA YA?

Pertengahan tahun 2025 menjadi bulan-bulan yang cukup mencekam di Busang. Bagaimana tidak, setiap hari hujan mengguyur dengan deras, air sungai naik dan angin kencang menyertai hari-hari tim APE Guardian di Pos Monitoring Orangutan. Pada tanggal 27 Juni yang bertepatan dengan hari Jumat, akhirnya matahari menampakkan sinarnya, setelah seminggu penuh langit diselimuti awan hitam. Tim APE Guardian akhirnya bisa sedikit leluasa untuk melakukan patroli rutin di kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat. Paagi hari ditemani cuaca yang cerah, ranger bersiap dengan peralatannya, siap tempur untuk patroli.

Sebelum semakin panas, kami berangkat menyusuri Sungai Menyuq menggunakan perahu, kami pun bergerak sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mengecek kembali temuan-temuan sarang lama yang pernah kami jumpai. Setelah kurang lebih 30 menit , tim menjumpai sebuah sarang kelas 2, terlihat dari bagian daunnya yang masih hijau. Tim berhenti sebentar dan mendekat ke pohon dimana terdapat sarang. “Wah ada orangutan bang di atas”, ucap Nigo, salah satu ranger APE Guardian. Tak disangka, dari balik dedaunan yang rimbun tersebut kami menjumpai individu orangutan liar induk dan anak yang sedang memakan buah Dracontomelon dao atau orang lokal menyebutnya buah baran.

Selayaknya seorang ibu, induk orangutan sangat sensitif apabila ada gangguan yang dirasa bisa mengancam anaknya. Ketika kami mencoba semakin mendekat ke arah pohon yang mereka tempati, sang induk mengeluarkan kiss-squeak dan mematahkan ranting-ranting pohon. “Awas Igo!”, teriak Yusuf anggota tim APE Guardian yang lain, karena orangutan tersebut melemparkan ranting pohon yang cukup besar dan hampir mengenai badan. Supaya kondisi orangutan tidak terganggu, tim perlahan melangkah mundur ke perahu dan mengamati dari kejauhan.

Kurang lebih 20 menit telah berlalu, induk orangutan dan anak teramati masuk kembali ke dalam Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat. Sangat senang rasanya berjumpa dengan orangutan di kawasan pelepasliaran ini dengan kondisi yang baik. Tim APE Guardian bertekad untuk menjaga salah satu rumah yang tersisa bagi orangutan untuk tetap hidup dan lestari. (YUS)

PANSY: GROWING MORE CONFIDENT AND INDEPENDENT

July 2025 was a colorful chapter for Pansy at the BORA rehabilitation center. Almost every day, she showed renewed enthusiasm, climbing higher and exploring further in forest school. At the beginning of the month, Pansy still appeared cautious, often observing from a distance, especially when the sound of an excavator from the island enclosure construction site could be heard. However, after being moved to a quieter location, Pansy began to reveal her more explorative side, climbing up to 20 meters high and joining other orangutans to eat san fruit (Dracontomelon dao) in the treetops.

As the days passed, Pansy became increasingly active in social interactions, particularly with Cinta and Mabel. She often followed them while foraging and traveling through the canopy, as if she found a sense of safety and comfort in their presence. She also began to show curiosity toward Ruby from a distance and made a few attempts to approach, though she still kept some space. This interest is an important sign that Pansy is beginning to understand and build healthy social relationships within her environment.

Pansy also became more skilled in identifying and utilizing natural food sources. She ate bark, san fruit, as well as shoots and wild flowers. When a light rain fell in mid-month, Pansy even broke off branches and leaves to cover herself, a simple act, yet one that reflected her growing natural adaptability.

Outside of forest school hours, Pansy also showed great interest in the enrichment activities provided. She was enthusiastic in solving small challenges and occasionally competed with Felix for her favorite treats. Even though she sometimes took items from Felix, Pansy wasn’t aggressive, it showed that she had the courage to stand her ground for what she wanted.

In her social interactions, Pansy began to show that she was not only independent, but also capable of becoming part of a group. She no longer simply avoided others, but started opening herself up to their presence. These small daily steps form a crucial foundation for her future in the forests of Borneo. (RAF)

PANSY: SEMAKIN PERCAYA DIRI, SEMAKIN MANDIRI
Bulan Juli 2025 menjadi babak penuh warna bagi Pansy di pusat rehabilitasi BORA. Hampir setiap hari ia menunjukkan semangat baru, memanjat lebih tinggi, dan menjelajah lebih jauh di sekolah hutan. Di awal bulan, Pansy masih terlihat berhati-hati dan lebih sering mengamati dari kejauhan, terutama ketika suara ekskavator dari tempat pembangunan pulau enclosure terdengar. Namun, setelah dipindahkan ke lokasi yang lebih tenang, Pansy mulai menunjukkan sisi eksploratif nya, memanjat hingga ketinggian 20 meter dan bergabung dengan orangutan lain untuk makan buah san (Dracontomelon dao) di atas pohon.
Semakin hari, Pansy terlihat makin aktif berinteraksi, terutama dengan Cinta dan Mabel. Ia sering mengikuti keduanya saat mencari makan dan berpindah-pindah di kanopi, seolah menemukan rasa aman dan kenyamanan dalam kebersamaan itu. Ia juga mulai tertarik mengamati Ruby dari kejauhan dan beberapa kali mencoba mendekat, walau tetap menjaga jarak. Ketertarikan ini adalah sinyal penting bahwa Pansy mulai belajar memahami dan membentuk hubungan sosial yang sehat di lingkungannya.
Pansy juga terlihat semakin mahir dalam mengenali dan memanfaatkan sumber pakan alami. Ia memakan kulit kayu, buah san, hingga tunas dan bunga liar. Saat gerimis turun di pertengahan bulan, Pansy bahkan mematahkan ranting dan dedaunan untuk melindungi dirinya, tindakan sederhana, namun menggambarkan kemampuan adaptasi alaminya yang terus berkembang.
Di luar waktu sekolah hutan, Pansy juga menunjukkan ketertarikan besar terhadap enrichment yang diberikan. Ia antusias menyelesaikan tantangan-tantangan kecil, dan kadang berebut dengan Felix untuk mendapatkan makanan favorit. Meskipun kadang merebut milik Felix, Pansy tidak agresif, lebih menunjukkan bahwa ia punya keberanian untuk mempertahankan keinginannya.
Dalam interaksi sosialnya, Pansy mulai menunjukkan bahwa ia tidak hanya mandiri, tetapi juga bisa menjadi bagian dari kelompok. Ia tidak lagi sekadar menghindar, tetapi mulai membuka diri terhadap kehadiran individu lain. Langkah-langkah kecil yang ia ambil setiap hari adalah fondasi penting menuju masa depannya di hutan Kalimantan. (RAF)