MERAWAT HARAPAN SUMBER PAKAN ORANGUTAN DI SRA

Merawat di Sumatran Rescue Alliance (SRA) bukan sekedar pekerjaan teknis. Ia adalah pilihan untuk tetap tinggal, untuk terus mencoba, bahkan ketika hasilnya tak selalu sesuai harapan. Pada 1 dan 16 Januari 2026, tim APE Sentinel COP bersama SRA menanam berbagai bibit pohon. Mulai dari sukun, rambutan, alpukat, cempedak, hingga Nangka ditanam di sekitar area SRA yang memiliki area terbuka yang tidak ada pepohonan, area longsoran terbuka di depan kandang Robert merupakan tanah yang tidak cukup ramah.

Beberapa minggu berselang setelah ditanam.Bukan untuk merayakan, tapi untuk melihat kenyataan. Sebagian besar bibit masih hidup. Daun-daunnya tidak sempurna mengering di ujung, menguning di beberapa bagian. Tapi mereka bertahan. Dalam diam, mereka menegaskan satu hal, hidup adalah proses menyesuaikan diri. Di area kandang karantina yang baru, bibit aren dan cempedak bahkan menunjukkan hasil lebih baik. Semua hidup. Semua tumbuh. Di ruang yang lebih terjaga, kehidupan tampak lebih mungkin.

Namun alam selalu punya cara untuk mengingatkan batas manusia. Di area tebing, banyak bibit hilang. Sebagian rusak, sebagian tercabut. Umbut-umbut muda yang seharusnya tumbuh justru tergeletak di tanah. Jejak yang tertinggal menunjukkan siapa yang datang (babi hutan). Mereka tidak tahu soal rencana restorasi, tidak peduli pada harapan manusia. Mereka hanya menjalankan naluri dan di situlah letak benturannya. Apa yang bagi manusia adalah upaya memulihkan, bagi makhluk lain bisa jadi sebuah camilan atau gangguan. Lanskap ini tidak kosong. Ia sudah lama dihuni, jauh sebelum manusia datang membawa bibit dan rencana.

Pemantauan terus berjalan. Tim mendata ulang, memeriksa satu per satu, termasuk di enklosur dan kandang-kandang lain. Tidak ada yang instan. Semua dicatat, semua dipelajari. Di saat yang sama, perawatan tetap dilakukan. Pemupukan rutin menjadi bagian dari usaha menjaga yang masih tersisa. Sepuluh karung pupuk telah habis digunakan. Tapi merawat tidak pernah berhenti pada apa yang tersedia. Ia adalah tindakan berulang yang kadang terasa sia-sia, tapi tetap dilakukan.

Dari hasil diskusi bersama berikutnya mulai disusun. Penanaman akan memprioritaskan bambu. Bukan karena mudah, tapi karena mungkin bertahan. Di tanah yang mudah longsor, di area yang rawan gangguan, pilihan harus realistis. Merawat berarti menerima bahwa tidak semua akan berhasil. Bahwa sebagianakan hilang, sebagian akan mati, dan sebagian lagi jika beruntung makan akan tumbuh. Tapi justru di dalam ketidakpastian itulah merawi menemukan maknanya. (NAB)

Comments

comments

You may also like