PENANAMAN DI BORNEO ORANGUTAN RESCUE ALLIANCE

Penghijauan dan pengayaan pohon pakan alami di sekitar area rehabilitasi orangutan Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) merupakan perbaikan kualitas lingkungan sekitarnya, tidak hanya sebagai langkah pelestarian lingkungan, tetapi juga sebagai bentuk dukungan langsung terhadap kebutuhan ekologis orangutan yang tengah menjalani proses rehabilitasi. Tidak hanya animal keeper tetapi tim COP (Centre for Orangutan Protection) lainnya yang sedang mampir di BORA ikut terlibat.

Proses penanaman diawali dengan pembuatan lubang tanam di titik-titik yang telah direncanakan. Setelah itu, bibit-bibit pohon ditanam secara bersama-sama. Setiap bibit kemudian diberi pupuk kompos yang berasal dari hasil olahan sampah organik kandang orangutan. Penggunaan kompos ini merupakan bagian dari strategi berkelanjutan dalam pengelolaan limbah organik di BORA, sekaligus sebagai cara alami untuk memperkaya nutrisi tanah di lokasi penanaman.

Penanaman berjalan dengan lancar dan penuh semangat. Cuaca yang mendukung turut memberikan suasana yang kondusif sepanjang kegiatan. Harapannya, bibit-bibit pohon yang ditanam ini kelak akan tumbuh menjadi bagian dari habitat pendukung yang penting bagi orangutan, sekaligus memperkuat keseimbangan ekosistem di area rehabilitasi. Ya, COP terus menegaskan komitmennya dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan alami bagi satwa yang tengah rehabilitasi, serta memperkuat kinerja antar tim dalam aksi nyata konservasi. (RAF)

KATA FARA, BABYSITTER BORA TENTANG BAYI ORANGUTAN

Tiap lihat anakan orangutan, selalu menyempatkan 10 detik untuk memperhatikan ibu jari kaki mereka (karena unik). Ibu jari tangan mereka masih ada kukunya, sedangkan di kaki engga ada. Tapi ada juga individual yang ibu jari kakinya punya kuku kecil banget, setitik.

Ibu jari mereka berukuran jauh lebih pendek dan posisinya berlawanan daripada keempat jari lain (opposable thumb). Struktur jari ini mendukung aktivitas dan pergerakannya di atas pohon. Mulai dari genggaman ke batang, cabang, liana, atau akar gantung untuk pindah tempat, sampai memetik daun, tunas bahkan buah untuk dimakan.

Ternyata, anakan orangutan selalu pilih batang pohon berdiameter kecil atau akar gantung untuk dipanjat. Diameter substrat yang kecil lebih mudah untuk mereka menggenggam dan me-minimalisir tergelincir jatuh. Tapi di beberapa momen mereka masih sering merosot seperti meluncur dari atas pohon besar secara tiba-tiba. Kayak kalau digigit semut rang-rang, dengar suara asing yang keras, ada orang asing mendekat, atau ketika liat buah pancingan yang ranum.

Faradiva Zahra Maharani, seorang sarjana Biologi dari Universitas Diponegoro yang saat ini menjadi babysitter di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). (FAR)

CHARLOTTE, FROM UNDER THE HOUSE TO THE FOREST CANOPY

The sky was still gray when we left the small dock at Long Lees, a quiet village on the banks of the Atan River in Busang District, East Kutai. The morning dew had not yet completely evaporated, and the remnants of last night’s rain made the air feel fresh and cool. On one of the four boats moving along the river, whose water level was rising and murky, an orange metal cage containing Charlotte, a female orangutan around 10 years old, was securely tied to the center of the boat. She was quiet, simply observing through the bars, as if she knew she was being taken to something better than her past. Along with the East Kalimantan Natural Resources Conservation Agency (BKSDA), the Centre for Orangutan Protection (COP) team headed upstream toward the pre-release island.
Charlotte became a special memory in my career in orangutan conservation. She was the first individual I encountered during my assignment in an orangutan rescue operation, a moment that marked the beginning of my journey with COP. I still clearly remember our long journey in 2021, traversing the vast, endless labyrinth of oil palm plantations, until we finally arrived at a wooden house where Charlotte was tied under the raised house, her neck entangled in a chain with only one meter of movement space. From there, we brought her to the Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) rehabilitation center in Berau. Now, four years later, I am once again embarking on a long journey with Charlotte, but with a different mission—no longer to rescue her from the chains, but to escort her toward freedom.
The journey to the prerelease island of Dalwood Wylie that morning was not entirely smooth. About 15 minutes after leaving Long Lees, the engine of the boat carrying Charlotte’s cage suddenly stopped. In the middle of the wide and deep Atan River, the boat had to be towed to the riverbank for inspection. Due to the engine issue that couldn’t be resolved, the team decided to replace the engine with one from another boat. Out of the four boats that originally set off, only three continued the journey. One boat remained on the riverbank, with rangers Ulang and Billy staying behind to repair the engine.
About two hours later, we finally arrived at the APE Guardian monitoring post located across from Dalwood Wylie Island. After lunch, we moved the cage containing Charlotte onto the island. After a count of three, Mr. Rudi from the East Kalimantan Natural Resources Conservation Agency opened the cage door. When the door opened, Charlotte did not hesitate. Within seconds, she climbed the first tree she saw, continuing to climb until she reached the canopy. Leaves rustled above our heads as she moved between trees, tasting leaves, fruits, and even bark—a good sign that she was ready to resume her life as a forest dweller. On this island, Charlotte will undergo further observation to test her independence, far from human footprints, toward the final stage of her freedom. (RAF)

CHARLOTTE, DARI KOLONG RUMAH KE KANOPI HUTAN

Langit masih kelabu saat kami meninggalkan dermaga kecil di Long Lees, sebuah kampung tenang di tepi Sungai Atan, Kecamatan Busang, Kutai Timur. Embun pagi belum benar-benar menguap, sisa hujan semalam membuat udara terasa segar dan dingin. Di salah satu dari empat perahu yang bergerak menyusuri sungai yang bergerak menyusuri sungai yang permukaan airnya sedang naik dan keruh itu, sebuah kandang logam berwarna jingga berisi Charlotte, orangutan betina berusia sekitar 10 tahun, terikat rapi di tengah kayu. Ia tidak berisik, hanya diam memperhatikan dari balik jeruji, seolah tahun ia sedang dibawa menuju sesuatu yang lebih baik dari masa lalu. Bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, tim Centre for Orangutan Protection (COP) berangkat ke arah hulu, menuju pulau pra-pelepasliaran.

Charlotte menjadi bagian dari memori yang spesial dalam perjalanan karier saya di dunia konservasi orangutan. Dialah individu pertama yang saya temui saat ditugaskan dalam operasi penyelamatan orangutan, momen yang menjadi awal perjalanan saya bersama COP. Saya masih mengingat jelas perjalanan panjang kami pada 2021, menyusuri luasnya labirin kebun sawit yang tiada habisnya, hingga akhirnya tiba di sebuah rumah kayu tempat Charlotte diikat di kolong rumah panggung, lehernya terjerat rantai dengan ruang gerak hanya 1 meter. Dari sana, kami membawanya menuju pisat rehabilitasi Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) di Berau. Kini, setelah empat tahun berlalu, saya kembali melakukan perjalanan panjang membawa Charlotte, namun dengan misi berbeda, bukan lagi menyelamatkannya daru kekangan rantai, tetapi mengantarkannya menuju kebebasan.

Perjalanan menuju pulau pra-pelepasliaran Dalwood Wylie pagi itu tidak sepenuhnya mudah. Sekitar 15 menit meninggalkan Long Lees, mesin perahu pengangkut kandang Charlotte mendadak mati. DI tengah sungai Atan yang lebar dan dalam, perahu itu harus digandeng ke tepi sungai untuk diperiksa. Karena kendala mesin yang tak kunjung teratasi, tim memutuskan menukar mesinnya dengan mesin perahu lain. Dari empat perahu yang semula berangkat, hanya tiga yang akhirnya melanjutkan perjalanan. Satu perahu menetap di tepi sungai, ranger Ulang dan Billy tetap tinggal untuk memperbaiki mesin tersebut.

Sekitar dua jam kemudian akhirnya kami tiba di pos monitoring APE Guardian yang berlokasi di seberang pulau Dalwood Wylie. Selepas makan siang, kami memindahkan kandang berisi Charlotte ke dalam pulau. Setelah hitungan ketiga, Pak Rudi dari BKSDA Kalimantan Timur membuka pintu kandang. Ketika pintu kandang dibuka, Charlotte tidak ragu. Dalam hitungan detik, ia memanjat pohon pertama yang ia lihat, terus memanjat hingga ke kanopi. Daun-daun bergoyang di atas kepala kami saat ia berpindah antar pohon, mencicipi daun, buah, dan bahkan kulit kayu, tanda awal yang baik bahwa ia siap kembali menjalani hidup sebagai penghuni hutan. Di pulau ini, Charlotte akan menjalani pengamatan lanjutan untuk menguji kemandiriannya, jauh dari jejak manusia, menuju tahap akhir kebebasannya. (RAF)

BERTEMU TARA SETELAH SATU TAHUN BERLALU

Selalu menyenangkan berjumpa kembali dengan orangutan yang sudah lama tidak teramati di hutan. Hal ini terutama kami rasakan karena kemunculan mereka membuktikan bahwa orangutan yang kami lepas-liarkan di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat dapat bertahan hidup. Siapakah orangutan yang kali ini kami temui?

Hari yang cerah di pos monitoring Busang, cuaca yang ideal untuk tim APE Guardian memulai kegiatan lebih pagi. Pada jadwal hari ini, waktunya kami berpatroli menyusuri Sungai Menyuq. Saat mentari mulai menampakkan sinarnya, teman-teman ranger sudah sedia dengan mesin perahu. Suara mesin memecah nyanyian alam, perahu melaju perlahan, 5 orang anggota tim APE Guardian pun menengok kanan dan kiri tepi sungai, barangkali terdapat tanda-tanda keberadaan orangutan.

Semakin lama waktu berjalan, kami semakin menjauh dari pos, belum satupun tanda-tanda teramati. Tim memutuskan untuk istirahat sebentar di muara Sungai Payau, memakan bekal yang dibawa sembari bercanda penuh harap perjumpaan dengan siapa pun orangutan yang menghuni ekosistem Busang ini. Tak jauh dari muara, kami menjumpai sarang orangutan kelas 2, artinya sarang tersebut masih belum lama dibuat. Kami menghentikan perahu dan mengamati sekitar, tak jauh dari lokasi sarang, salah satu tim kami melihat ranting-ranting jatuh seperti dilempar. “Kayaknya ada yang gerak-gerak di pohon seberang”, ujar Dedi, ranger tim APE Guardian COP. Kami pun mendekat ke pohon tersebut dan benar saja, terdapat satu orangutan jantan yang sedang makan buah Baran (Dracontomelon dao).

“Khas sekali, kiss squeak pun terdengar, tanda orangutan mengusir. Ditambah suara ranting dipatahkan berlanjut dengan lemparan ranting-ranting tersebut. Perilaku orangutan liar”, gumam tim sembari semakin mengamati orangutan tersebut. Cheekpad yang berlekuk pada sisi kanan wajahnya menjadi ciri khas orangutan jantan Tara, yang diselamatkan tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama APE Crusader COP dari interaksi negatif dengan manusia di Kecamatan Bengalon. Sebelumnya Tara terlihat oleh masyarakat di pemukiman Desa Sepaso. Perangainya yang besar membuat masyarakat takut untuk berkebun. Akhirnya 28 April 2024, orangutan Tara ditranslokasi menuju rumah barunya, dan setelah setahun kami pun berjumpa kembali. Sekilas kondisinya terlihat sehat dan aktif mencari makan. Hari yang sangat beruntung dengan perjumpaan ini, rasa syukur ‘rumah’ ini baik untuk orangutan. (YUS)

ASTUTI DENGAN RAMBUT KERITING YANG MENAWAN

“Tuti nih orangutan paling cantik,” kata Indah, biologist BORA saat hendak membawa Astuti ke sekolah hutan. Wajah orang Astuti memang menggemaskan seperti boneka dan rambut keritingnya unik menarik hati. Belum ada orangutan di pusat rehabilitasi BORA yang rambutnya keriting seperti Astuti. Kalau rambutnya basah, keritingnya lebih terlihat menggemaskan lagi. Mungkin karena rupa imut nya itu penjahat pedagang satwa liar berusaha menyelundupkannya dan menjualnya. Astuti berhasil diselamatkan saat hendak dikirim ke luar negeri melalui Sulawesi pada akhir tahun 2022. Ia kemudian dipindahkan ke pusat rehabilitasi BORA dan menjalankan masa karantina selama beberapa bulan. 

Pada bulan Maret, setelah hasil tes kesehatannya keluar dan berhasil baik, ia resmi menjadi murid baru di sekolah hutan! Sebagai murid baru, ia berhasil mencuri perhatian kami  dan membuat kami kagum akan kemampuannya. Pada hari pertama sekolah hutan saja ia sudah memanjat setinggi 18 meter. Ia tidak sesering berada di tanah seperti Jainul, murid orangutan sebayanya yang selalu berguling-guling di tanah dan masih susah sekali disuruh memanjat pohon. Sekali-kalinya ia berguling-guling di tanah, tubuhnya akan ditempeli banyak daun kering dan ranting. Rambutnya yang panjang membuat benda-benda di tanah lebih mudah menyangkut. Kami sering menertawakannya ketika tubuhnya sudah sangat kotor. Rupanya yang paling lucu adalah ketika dia baru saja berguling-guling di tanah dan tubuhnya ditempeli lumpur! Kami para perawat satwa dibuat terpingkal-pingkal melihat rambutnya yang jadi gimbal.

Akhir-akhir ini, Astuti semakin jago menjelajah dan seringkali keasyikan. Suatu hari saat sekolah hutan (29/04), ia mengikuti orangutan Charlotte yang usianya sekitar lima tahun lebih tua dan sudah lebih piawai menjelajah. Mereka makan bersama-sama di satu pohon dan sulit sekali dipanggil untuk turun dan pulang dari sekolah hutan. Bima dan Syarif, perawat satwa yang bertugas saat itu terus memanggil mereka dan memancing dengan buah. Sayangnya Astuti dan Charlotte tetap asyik makan di atas pohon. Mereka akhirnya kekenyangan dan turun sendiri setelah satu jam waktu sekolah hutan usai. Meski harus repot menunggu dan memanggil-manggilnya, kami bangga sekali dengan perkembangan pesat murid baru yang berhasil mencuri perhatian kami ini. Terus berkembang ya, Astuti!

KEAJAIBAN DI BALIK RENDA HUTAN

Di tengah rapatnya tegakkan pohon yang menjulang tinggi dan akar-akar yang memenuhi lantai hutan, saya dengan hati-hati melangkah menyusuri kawasan hutan yang terletak di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Kami sedang melakukan survei mencari lokasi yang cocok untuk pelepasliaran orangutan. Suara burung bersahutan, sementara gemerisik dedaunan menjadi latar alami perjalanan tim. Tiba-tiba, langkah salah satu anggota tim terhenti, “Eh, tunggu sebentar! Ini apa, ya?”, seru Raffi dengan mata berbinar, tangannya menunjuk ke tanah.

Yang lain segera mendekat. Di hadapan tim, di antara lumut dan dedaunan lembab, berdiri sebuah jamur unik. Tudung hijau kecil bertengger di atasnya, sementara jaring putih tipis menjuntai ke bawah, menyerupai renda halus. Dimi membungkuk, matanya berbinar penuh antusias. “Wah, ini Jamur Tudung Pengantin!”, serunya. “Jarang-jarang bisa lihat ini langsung di habitat aslinya!”. Jamur Tudung Pengantin (Phallus indusiatus) memang bukan jamur biasa. Bentuknya yang indah sering membuatnya tampak seperti keajaiban kecil di lantai hutan. Namun, lebih dari sekadar unik, jamur ini berperan penting sebagai dekomposer alami, membantu mengurai bahan organik yang jatuh dari pepohonan raksasa di hutan.

“Berarti kawasan ini benar-benar masih terjaga ya.”, ujar Dimi, suaranya penuh semangat. “Kalau jamur ini bisa tumbuh, berarti kondisi ekosistemnya masih sehat!”. “Betul sekali.”, Raffi pun mengangguk setuju. “Hutan primer seperti ini memang habitat yang ideal, mereka bukan hanya soal jamur, tapi juga buat orangutan yang akan kita lepas-liarkan.”.

Mereka saling berpandangan, senyum kecil tersungging di wajah mereka. Temuan kecil ini semakin menguatkan keyakinan tim bahwa hutan ini layak untuk menjadi rumah baru bagi orangutan. Dengan semangat yang lebih besar, mereka melanjutkan perjalanan, berjanji dalam hati untuk terus menjaga dan melindungi keajaiban yang tersembunyi di balik renda hutan. (DIM)

MISI PENCARIAN RUMAH BARU UNTUK ORANGUTAN

Di bulan Maret 2025, tim Centre for Orangutan Protection (COP) yang berada di Kalimantan Timur melakukan survei kawasan pelepasliaran orangutan. Selain ketiga tim yaitu APE Crusader, APE Defender, dan APE Guardian, tim BKSDA Kalimantan Timur, Dinas Kehutanan, serta peneliti BRIN juga menjadi bagian dari tim besar pencarian rumah baru untuk orangutan. Sebanyak 27 laki-laki dan 4 perempuan, dan satu anjing setia bergabung dalam ekspedisi menuju pedalaman hutan primer di kecamatan Tabang, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Misi ini bukan sekadar perjalanan biasa, tetapi upaya besar untuk menemukan habitat yang aman dan ideal bagi orangutan yang siap kembali ke alam.

Karena medan yang begitu berat, tim harus melakukan penerjunan dalam dua tahap. Tim advance diberangkatkan lebih dulu untuk membawa logistik dan mendirikan camp di tengah hutan, memastikan bahwa tim utama nantinya dapat bergerak lebih efektif. Saat tim inti berangkat, mereka menggunakan 5 mobil double gardan untuk menghadapi jalur berbatu dan berlumpur selama 14 jam perjalanan. Tak berhenti di situ, tim juga harus menyeberangi sungai dengan 8 perahu ketinting, menerjang arus deras selama 3 jam, sebelum melanjutkan perjalanan kaki sejauh puluhan kilometer menembus hutan belantara.

Setelah dua minggu eksplorasi penuh tantangan, akhirnya tim menemukan kawasan hutan yang masih sangat alami, kaya akan sumber makanan, memiliki kanopi yang kuat, dan jauh dari aktivitas manusia, tempat yang sempurna untuk orangutan yang akan dilepasliarkan. “Semua kerja keras ini terbayar sudah”, ujar Ferryandi Saepurohman yang menjadi koordinator survei kali ini. Keberhasilan ini bukan hanya sebuah pencapaian besar dalam dunia konservasi, tetapi juga bukti bahwa dengan kerja sama, dedikasi, dan semangat, manusia bisa berperan sebagai penjaga alam yang sesungguhnya. Tim pun kembali dengan kebanggaan dan harapan baru akan pelestarian orangutan serta alam dan habitatnya. (DIM)

TIGA ORANGUTAN LIAR PINDAH RUMAH YANG LEBIH AMAN

Rico, orangutan jantan dewasa dengan cheekpad yang tegas bersama induk dan anak orangutan bernama Siti dan Fajri sedang dalam perjalanan Bengalon ke Busang, Kalimantan Timur. Ketiganya akan ditranslokasi ke Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat. Tim APE Guardian langsung mempersiapkan kebutuhan pelepasliaran ketiganya. Perahu, logistik, dan koordinasi pun segera dilakukan, beruntung sekali komunikasi dengan camp yang ada di hulu menjadi lancar sejak adanya layanan internet satelit.

Wibawa Rico sebagai jantan dewasa terpancar dari cheekpad lebar dan tubuh kokoh berotot yang langsung terasa ketika tim mengangkat kandangnya. Kandang angkut menjadi lebih berat dari biasanya, usaha ekstra untuk membawanya ke titik pelepasliaran menjadi tantangan tersendiri untuk tim. Prihatin luar biasa dengan kondisi nya yang harus tergusur dari rumahnya. Di didi lain, orangutan Siti menunjukkan sisi keibuannya yang penuh perlindungan. Sejak awal pemindahan, ia tampak gelisah, mengawasi setiap gerakan manusia di sekitarnya dengan penuh kewaspadaan. Begitu terasa terancam, Siti mulai menggoyang-goyangkan kandang dengan keras, berusaha mengusir siapa pun yang mendekat. Lebih khawatir saat berada di perahu. Pemindahan ini memang penuh risiko, dan tim melakukan nya dengan sangat hati-hati.

Setelah tiga jam menyusuri sungai, tim tiba di titik pelepasliaran. Hutan lebat dengan pepohonan menjulang diharapkan cukup nyaman untuk ketiganya tinggal. Rico tidak membuang waktu lagi ketika kandangnya terbuka, dia dengan gesit, melesat keluar dan langsung memanjat pohon tertinggi, memamerkan ketangkasan dan kekuatannya. Dari atas dia mengamati sekeliling, memastikan bahwa tempat ini aman sebelum benar-benar beradaptasi.

Sementara Siti lebih berhati-hati. Ia terlebih dahulu mengendus udara, memastikan tidak ada ancaman, sebelum akhirnya membawa Fajri naik ke pohon besar di dekatnya. Dengan gerakan sigap, ia memilih cabang yang kuat untuk beristirahat, seakan memberi pesan bahwa di sinilah ia akan membesarkan anaknya dengan aman. Dalam hitungan menit ketiganya sudah menghilang di balik rimbanya dedaunan, kembali menjadi bagian dari alam. Hari itu, ketiganya mendapatkan kembali kebebasannya, membawa harapan baru bagi kelangsungan hidup orangutan liar di masa depan. (DIM)

ADA BAYI ORANGUTAN DI LONG LEES

Cahaya matahari mulai menyelinap masuk melalui sela-sela rumah panggung camp APE Guardian COP di desa Long Lees, kecamatan Busang, Kalimantan Timur. Tim APE Guardian mulai membagi tugas, ada yang ke pos monitoring orangutan rilis dan ada yang menjadi tim pendukung yang berada di desa. Logistik belum semua terbeli, sarapan belum dimasak, pukul 08.15 WITA, Bapak Kun, tetangga dari RT 1 melapor ke camp APE Guardian ketika dia melintas menuju kota Sangatta, bahwa ada satu orangutan yang didapat dari pemilik kebun di daerah Bengalon.

Tim mendapati bayi orangutan meringkuk dalam kandang kucing. Sorot matanya yang sayu dan gerakannya yang pasif menandakan orangutan mungil ini sedang tidak baik-baik saja. “Diare itu bukan disebabkan oleh makanan yang dimakan hari ini, namun makanan kemarin atau kemarin lusa”, ujar drh. There yang memeriksa bayi penuh luka di kepala ini.

Bayi orangutan ini mengalami pertukaran susu yang menjadi makanan pokok bayi orangutan ini. Selama 6 bulan diberi susu kaleng oleh pemelihara sebelumnya, tiba-tiba ganti merek susu dengan alasan lebih murah oleh pemelihara barunya. “Biaya merawat bayi orangutan memang tidaklah murah. 3 kali sehari itu minum susu, sekali minum bisa sampai 4 botol 150 ml, kalau kami telat memberi makan, dia teriak-teriak sambil menggoyang-goyangkan kandang dengan tangannya, itu sebabnya ada luka di tangannya. Masih kecil saja sudah pintar berontak, bagaimana nanti kalau sudah dewasa, kami takut digigit. Itu sebabnya saya suruh kalian bawa orangutan ini saja”, ujar istri pak Kun.

Tim APE Guardian secara bergantian memberikan pakan dan menghindari orangutan tersebut dikerumuni tetangga sambil mensosialisasikan bahaya memelihara orangutan. Luka-luka di kepala dan tangannya dibersihkan, tim juga membuatkan oralit (air campuran garam dan gula) untuk mengatasi diare dan menjaga agar tetap terhidrasi. Menjelang sore, tim memasukkan ranting dan dedaunan ke dalam kandang. Bayi ini pun langsung menyusun dedaunan dan ranting yang ada seperti membuat sarang. Hal ini menandakan, bayi ini belum lama lepas dari pengasuhan induknya, dia masih ingat yang biasa induknya lakukan. Tidak lama, dia pun tertidur di atas sarang yang dibuatnya. (ARA)

BIBIT BUAH HARAPAN UNTUK GENERASI ORANGUTAN

Kebakaran hutan pada tahun 2000-an menghanguskan ribuan pohon di Hutan Lindung Batu Mesangat, termasuk pohon-pohon pakan bagi orangutan. Belum pulih dari bencana itu, perubahan iklim dengan angin kencang terus merobohkan sisa pohon-pohon yang ada. Kehilangan ini menjadi perhatian serius bagi tim APE Guardian untuk segera bertindak.

Sebagai langkah awal, tim bersama ranger lokal memulai penanaman kembali empat jenis pohon pakan yaitu durian, nangka, rambutan, dan langsat. Setiap minggu, selain patroli menjaga kawasan, mereka juga rutin menanam bibit-bibit baru di area Hutan Lindung Batu Mesangat yang menjadi habitat pelepasliaran orangutan.

“Cuaca ekstrem mungkin tidak bisa kita kendalikan, tapi harapan baru tetap bisa kita tumbuhkan. Penanaman bibit buah ini menjadi simbol harapan kami untuk masa depan orangutan agar mereka bisa berkembang biak dan hidup berkecukupan di habitat alami mereka. Setiap kali melihat orangutan atau satwa lain menikmati buah dari pohon yang tumbuh, semangat kami untuk terus menanam semakin besar”, ujar Fhajrul Karim, tim APE Guardian COP.

Bagi masyarakat yang peduli pada satwa, mungkin ada rasa puas dan bahagia melihat hewan peliharaan menikmati makanannya. Perasaan ini serupa dengan yang kami rasakan, hanya saja orangutan dan satwa liar lainnya tidak boleh diberi makanan langsung oleh manusia. Kenapa? Karena itu bisa membuat mereka bergantung pada manusia yang pada akhirnya menghilangkan sifat alami mereka.

Cara terbaik untuk tetap merasakan kebahagiaan melihat orangutan menikmati buahnya adalah dengan menanam pohon. Mulai sekarang, ayo tanamlah bibit buah! Bayangkan nanti, saat pohon itu tumbuh besar dan kita bisa melihat orangutan memetik dan memakan buahnya langsung dari dahan, sebuah kebahagiaan sederhana yang bermakna besar. (JUN)