BAKTI UNTUK SAHABAT SETIA: CATATAN SATWA DESA DI TEBANGAN LEMBAK

Kamis, 30 April 2026, menjadi hari yang sibuk namun penuh makna bagi tim APE Crusader. Dengan penuh semangat, tim bersama dokter hewan Tytha dan seorang relawan bernama Tujab bergerak menuju Desa Tebangan Lembak. Perjalanan kali ini membawa mereka keluar dari rimbunnya hutan, mendekat ke kehidupan masyarakat, melalui sebuah inisiatif yang sederhana namun berdampak besar yaitu Program Pengobatan Satwa Desa.

Di sana, misi mereka jelas, yaitu memastikan para “sahabat setia”, hewan-hewan domestik milik warga, mendapatkan hak atas kesehatan dan kesejahteraan yang layak. Satu per satu warga datang membawa hewan peliharaan mereka, menciptakan suasana yang hangat dan penuh interaksi.

Sebanyak 28 hewan berhasil diperiksa hari itu, terdiri dari 13 ekor kucing, 14 ekor anjing penjaga kebun dan rumah, serta 1 ekor beruk peliharaan warga. Setiap hewan mendapatkan perhatian yang sama, detak jantung diperiksa dengan cermat, kondisi bulu diamati dan setiap keluhan dari pemilik didengarkan dengan seksama.

Secara umum, kondisi kesehatan satwa cukup baik. Namun kehidupan di wilayah pedesaan yang lembap tetap menghadirkan tantangan tersendiri. Masalah kulit menjadi temuan yang paling dominan, mulai dari infeksi jamur, serangan kutu, hingga luka luar akibat aktivitas di lingkungan terbuka.

Tim bergerak cepat memberikan penanganan yang diperlukan. Luka-luka dibersihkan secara medis untuk mencegah infeksi lanjutan, pengobatan anti jamur dan anti parasit diberikan sesuai kondisi masing-masing hewan, serta vitamin ditambahkan untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh mereka. Setiap tindakan dilakukan dengan pendekatan yang teliti dan penuh kehati-hatian.

Namun, kegiatan ini tidak berhenti pada pengobatan semata. Di sela-sela pemeriksaan, tim APE Crusader juga membangun percakapan dengan pemilik hewan. Edukasi tentang tanggung jawab dalam memelihara satwa menjadi bagian penting dari interaksi tersebut, bahwa hewan peliharaan bukan sekedar penjaga rumah atau pengusir tikus, melainkan makhluk hidup yang kesejahteraannya turut memengaruhi kesehatan lingkungan sekitar.

Seiring berakhirnya kegiatan di Tebangan Lembak, tersisa harapan yang tumbuh perlahan namun pasti yaitu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesejahteraan satwa. Karena pada akhirnya, hewan yang sehat adalah cerminan dari masyarakat yang peduli. (HUS)

BERSAMA CHARLIE MENUJU TAHUN KE-20 COP

Centre for Orangutan Protection (COP) sedang mensyukuri perjalanannya setelah 19 tahun berjuang di dunia konservasi orangutan. Bersama dengan itu, datang harapan kelestarian satwa endemik Borneo satu ini ke Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) dalam raga bayi orangutan tanpa induk. Bayi orangutan berusia kurang dari satu tahun ini datang dengan kondisi suhu tubuh yang naik turun dan nasibnya yang kurang beruntung terpisah dari induk. Syukurnya, ia dapat tiba di klinik BORA untuk meraih kesempatan hidup yang jauh lebih baik dengan dukungan tim medis dan perawat satwa. Charlie, begitu kami memanggil namanya hingga sekarang.

Charlie mudah dikenali dengan fitur wajahnya yang ikonik. Matanya besar dan akan lebih besar saat antusias, gitu pula dengan kedua gigi susu depannya yang kuat membentuk kapak. Tidak mudah bagi Charlie untuk berada di tempat baru meski sebelumnya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Ia tidak bergantung pada manusia, namun bayi orangutan, Charlie mulai gelisah saat perawatnya bergeser sedikit lebih jauh. Genggamannya kuat, tekadnya lebih kuat. Charlie punya banyak pertumbuhan yang pesat hanya dalam satu bulan masa rehabilitasinya yang masih dalam masa karantina.

Salah satu orang yang paling tahu mengenai perkembangan Charlie di BORA adalah perawat satwa Luluk. Luluk adalah staf lokal yang rumahnya berada paling dekat dengan kantor, ia sudah menjadi perawat satwa di BORA selama 8 bulan. Menurut Luluk, merawat bayi orangutan Charlie menjadi pengalaman yang berbeda karena ini pertama kalinya Luluk menemani sejak awal Charlie bayi datang ke BORA. Luluk sangat suka bercerita di sela jadwal tugasnya, tentang setiap kegiatan Charlie pada semua orang yang ia temui.

“Charlie sudah mau bobo sendiri malam ini sambil peluk boneka sapi!”, lapor perawat satwa Luluk di hari ke-2 Charlie di BORA. Charlie mendapatkan perawatan intensif dikarenakan usianya yang masih sangat kecil dan kondisi tubuhnya yang belum stabil karena demam. Perawatan dilakukan selama 24 jam penuh setiap harinya. Asupan pakannya yang hanya bersumber dari susu juga lebih sering diberikan dibanding jadwal pemberian susu bayi orangutan lainnya yang lebih besar. Bersamaan dengan itu, ikatan relasi Charlie dengan perawat satwa Luluk semakin kuat.

Hampir satu bulan di BORA, Charlie sudah mengeksplorasi banyak hal. Ia sudah mulai mencoba pakan seperti pisang, jambu air, pepaya, jambu biji, belimbing, dedaunan, bunga-bungan, dan makanan favoritnya yaitu bunga belimbing. Sepanjang malam, Charlie juga sudah tidur di keranjangnya sendiri, lepas dari perawat satwa yang bertugas. Beberapa hari terakhir, Charlie menunjukkan perkembangan fisik dan perilaku yang signifikan. Charlie sesekali masih demam yang selanjutnya ditemukan tim medis bahwa giginya akan tumbuh. Perilaku Charlie masih sama manjanya, namun saat ini setelah ia punya mainan atau sedang asyik makan, perawat satwa bisa meninggalkan ia sendirian sesaat. Perilaku ini menunjukkan lepas ketergantungan pada manusia yang berkurang dengan harapan tak berlebihan nantinya.

Saat tulisan ini dibuat, Charlie masih menjalani masa karantina. Semua staf BORA masih bergiliran menemani Charlie bertumbuh sepanjang hari, sepanjang malam tanpa henti. Charlie bukan hanya satu bayi orangutan yang diselamatkan, namun ia hadir sebagai harapan baru untuk eksistensialis orangutan yang lebih panjang. “Aku senang Charlie udah banyak berkembang dan ga rewel lagi. Dia juga cepat sekali beradaptasi. Anak ini pintar”, jawab Luluk jika ditanya kondisi Charlie. (RRA)

TUMBUH MANDIRI DALAM EKSPLORASI DAN PERMAINAN

Arto terus menunjukkan karakter mandiri yang semakin kuat dalam kesehariannya di sekolah hutan. Ia kerap menghabiskan waktu bermain sendiri, baik di tanah maupun di akar-akar gantung yang rendah, dengan gaya eksplorasi yang aktif dan penuh rasa ingin tahu. Perilaku seperti berguling di tanah, berayun di tali, hingga menjatuhkan diri dari batang rendah menjadi bagian dari cara Arto melatih koordinasi tubuhnya.

Dalam hal eksplorasi pakan alami, Arto mulai menunjukkan perkembangan yang konsisten. Ia terlihat aktif mencari dan mencoba berbagai sumber makan seperti buah mentah, kambium, daun tua, hingga bunga. Ketertarikannya terhadap lingkungan juga tampak saat ia menjelajah semak-semak atau memperhatikan aktivitas orangutan lain, meskipun interaksi sosialnya masih tergolong terbatas dan cenderung independen.

Meski lebih sering bermain sendiri, Arto tetap menunjukkan sisi sosialnya dengan cara yang khas. Ia beberapa kali menghampiri anima keeper, baik untuk meminta makanan maupun mengajak bermain dengan cara menggigit ringan atau berinteraksi secara fisik. Di waktu lain, Arto juga terlihat mengikuti pergerakan orangutan lain dipohon, meskipun tidak selalu terlibat langsung dalam permainan bersama.

Secara keseluruhan, kondisi Arto stabil dengan pola feses yang normal. Perkembangannya saat ini menunjukkan keseimbangan antara eksplorasi lingkungan, pembelajaran pakan alami, serta pembentukan karakter mandiri dalam fase rehabilitasi bulan ini. (RAF)

SELANGKAH LAGI MENUJU KEBEBASAN UNTUK ORANGUTAN BAGUS

Saya masih ingat saat pertama kali bertemu orangutan bernama Bagus, tepat hari pertama saya bekerja sebagai animal keeper di Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA). Saya biasanya dipanggil Fiqoh. Seperti orang awam pada umumnya, saya belum terbiasa bersinggungan langsung dengan orangutan, sehingga saya masih sangat waspada jika ada orangutan yang mendekat ke arah saya. Saya memang alumni kehutanan, tetapi aktif di Kelompok Pemerhati herpetofauna membuat saya lebih familiar dengan katak dan ular alih-alih mamalia berambut seperti orangutan.

Ketika itu, saya duduk di tanah, melihat ke atas pepohonan untuk mengamati orangutan Felix yang sedang menjelajah area sekolah hutan dari ranting ke ranting. Atensi saya buyar saat merasa rambut-rambut menyentuh kulit wajah saya. Saya menoleh dan mendapati wajah besar orangutan yang sedang menatap saya dengan jarak hampir sejengkal dari wajah saya. Kaget, saya pun memekik kecil sambil menggeser tubuh.

“Mau kenalan itu, Bagus”, ujar Bang Linau, salah satu animal keeper mendekat sambil mencoba menjauhkan Bagus dari saya.

Saat jarak antara saya dan Bagus sudah lebih jauh, barulah saya dapat melihat perawakan Bagus yang sangat besar (baru-baru ini saya mengetahui panjang total tubuhnya 180 cm, tentunya jauh lebih panjang dari tinggi saya saat ini). Wajahnya bulat, terlihat sangar. Rambutnya yang menutupi tubuhnya cukup panjang dan membuatnya terlihat lebih besar.

Mungkin, sekitar dua minggu setelah saya mulai terbiasa dengan orangutan, saya baru berani membawa Bagus untuk sekolah hutan. Lucunya, Bagus dengan badannya yang besar itu, menolak untuk dituntun menuju area sekolah hutan. Saya harus menggendong badannya di punggung setiap pergi dan pulang sekolah, cukup membuat punggung saya pegal dengan peluh membanjiri wajah dan tubuh saya. Ah, seperti inilah rasanya membawa carrier saat praktik lapangan ketika kuliah dulu, batin saya.

Selama sekolah hutan, saya mengamati perilaku Bagus yang menurut saya menarik dan lucu. Saya dan Bagus pernah pulang telat karena Bagus asik duduk di pohon rambutan, memakan buah-buahnya yang merah menggoda. Desember memang musim rambutan. Sementara saya hanya duduk di bawahnya sambil menunggu Bagus bosan dengan buah manis itu yang sudah ia makan bertangkai-taksi. Hampir satu jam kami di sana, barulah Bagus mau mengikuti saya untuk turun dan kembali pulang dengan iming-iming air madu yang saya bawa tentunya.

Bagus pernah membuat khawatir semua orang di BORA karena ia tidak menghabiskan pakannya di kandang selama beberapa hari. Namun selama sekolah hutan, kami mengamati Bagus tampak ceria seperti biasanya. Masih aktif bermain dengan orangutan yang lain, masih semangat untuk menjelajah dan memakan buah tarap dan rambutan yang masih memenuhi area sekolah hutan. Lalu akhirnya kami memutuskan bahwa sepertinya Bagus hanya bosan dengan pakan yang disediakan oleh kami.

Terakhir saya membawa Bagus dengan agak kewalahan. Bagus tidak mau kembali ke kandang, dia terlihat sangat nyaman di sekolah hutan, ia dapat menjelajah dan berpindah dari dahan ke dahan, mencari makan sesuka hati, dan bermain dengan pengayaan alam yang tersedia. Saya membiarkan Bagus bermain di atas tandon air yang rusak, berguling-guling hingga tandon air itu penyok karena dihimpit tubuhnya.

Hampir enam tahun yang lalu Bagus memulai rehabilitasinya di BORA. Saat itu umurnya baru sekitar 3 tahunan, diselamatkan sebagai satwa yang dipelihara secara ilegal oleh masyarakat. Bagus mulai menjalani sekolah hutan sehari-harinya untuk belajar sebelum menjelajah di hutan yang sebenarnya. Wajah garang dan tubuh besarnya saat ini menandakan pertumbuhannya yang cukup signifikan.

Bagus adalah salah satu kandidat rilis yang kini telah dipindahkan ke pulau pra-pelepasliaran untuk belajar bertahan hidup sebelum dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Saya memang baru bertemu dengan Bagus dua bulan. Namun, dua bulan bukan juga waktu yang singkat untuk saya dapat belajar mengenal perilakunya. Meskipun dua bulan saya di BORA juga tidak sebanding dengan enam tahun waktu yang Bagus habiskan di BORA.

Saya bangga dengan perjuanganmu, Bagus. Selamat menuju kebebasanmu sebentar lagi! Saya berharap kamu tetap lestari hingga anak cucumu yang semoga tidak akan menjalani kisah yang sama sepertimu. (FIQ)

PULIH, AKTIF, DAN SEMAKIN PERCAYA DIRI

Harapi menunjukkan perkembangan yang cukup dinamis, baik dari sisi kesehatan maupun perilaku. Setelah sempat mengalami demam di awal bulan, kondisinya kini telah pulih dan terlihat kembali aktif mengikuti kegiatan sekolah hutan. Nafsu makannya tetap baik, dan ia mulai kembali menunjukkan energi serta rasa ingin tahu terhadap lingkungan sekitarnya.

Selama kilatan sekolah hutan, Harapi lebih banyak beraktivitas di tanah. Ia gemar bermain sendiri maupun bersama orangutan lain seperti Arto, Jainul, dan Ochre. Aktivitasnya mencakup eksplorasi berbagai sumber pakan alami di tanah, seperti buah jatuh, bunga, hingga sarang rayap. Sesekali, Harapi juga memanjat pohon untuk mencari kambium, meskipun durasinya masih relatif singkat.

Interaksi sosial Harapi cukup menonjol, meskipun ia masih sangat bergantung pada keberadaan babysitter maupun animal keeper. Ia kerap menghampiri mereka untuk meminta makanan atau perhatian, bahkan beberapa kali mencoba mencuri pakan dari tas animal keeper. Dalam beberapa kesempatan, Harapi juga terlihat bermain dengan individu lain, menunjukkan peningkatan dalam kemampuan bersosialisasi.

Dengan kondisi feses yang konsisten normal, Harapi saat ini berada dalam fase penting meningkatkan kemandirian, terutama dalam mengurangi ketergantungan terhadap manusia. Proses ini terus dilatih secara bertahap sepanjang bulan ini agar ia semakin percaya diri dalam mengeksplorasi hutan dan membangun keterampilan alaminya. (RAF)

JAAG, BUAH ENDEMIK HUTAN KALIMANTAN

Gemericik air Sungai Menyuq yang jernih mengiringi perjalanan tim APE Guardian menuju hulu. Sembari melakukan patroli dan monitoring kawasan, sesekali kami menoleh ke tepian sungai, barangkali ada buah atau tumbuhan yang bisa dibawa pulang untuk menambah logistik di pos monitoring. Tak terasa, satu jam perjalanan membawa kami semakin jauh ke hulu, hingga akhirnya menemukan bekas pondok peladang. Di sna, kami memutuskan berhenti sejenak untuk beristirahat.

Sesaat setelah melangkahkan kaki darti perahu yang telah bersandar, kaki Yusuf, staf lapangan APE Guardian, menginjak sesuatu yang lembek, disertai aroma harum yang khas. Ketika menoleh ke bawah, benar saja, buah-buah hutan berwarna jingga tampak berjatuhan. Melihat hal tersebut, kami segera mencari pohon asalnya. Tak jauh dari karangan, tepian sungai berbatu yang tersusun dari batu kali kecil, berdiri pohon besar dengan buah yang bergerombol, persis seperti yang kami temukan di tanah.

“Buah apa ini, Amai? Bisa dimakan kah?”, tanya Yusuf kepada Amai Lukas, warga lokal Busang.

“Buah jaag”, jawab Amai Lukas. Begitulah masyarakat Busang menyebutnya, atau di daerah lain dikenal juga sebagai buah bumbunau.

Tumbuhan ini memiliki nama ilmiah Aglaia laxiflora, termasuk dalam keluarga Meliaceae. Daging buahnya bertekstur menyerupai langsat. Pohon ini umumnya ditemukan di hutan primer, sepanjang punggung bukit, serta di tepi sungai. Ciri utamanya adalah pohon yang tinggi dan besar, dapat mencapai lebih dari 20 meter, dengan diameter batang melebihi 70 cm. Buahnya berdiameter sekitar 2 sampai 3 cm, berbentuk agak memanjang, dengan kulit berwarna kuning, daging putih, dan rasa masam sepat.

Buah Aglaia laxiflora merupakan salah satu potensi pakan bagi orangutan. Beberapa referensi menyebutkan bahwa tumbuhan ini endemik hutan Kalimantan, sehingga keberadaannya menjadi penting untuk dilestarikan. (YUS)

BETWEEN SKY AND CANOPY

High above the canopy, an Oriental pied hornbill (Anthracoceros albirostris) pauses on a bare branch, its pale casque and curved bill set against the open sky. A wide-ranging bird of forests, mangroves, and river edges, it feeds largely on fruit, playing an important role as a seed disperser. By carrying seeds across distances, it helps shape and regenerate the very forest it depends on.

Not far away, a Bornean orangutan (Pongo pygmaeus) moves carefully through the trees. Endemic to Borneo, this great ape spends nearly its entire life in the canopy. Feeding on fruits, leaves, and bark. Building a new nest almost every evening. Intelligent and remarkably patient, orangutans reproduce slowly, with females raising a single infant for years

DI ANTARA LANGIT DAN KANOPI

Di atas kanopi hutan, seekor Kangkareng perut-putih (Anthracoceros albirostris) bertengger di dahan yang menjulang, paruh besarnya membentuk siluet di bawah langit terbuka. Ia adalah pengelana hutan yang mengunjungi tepian sungai, hutan sekunder, hingga hutan mangrove, memakan buah dan menyebarkan biji ke berbagai penjuru. Tanpa disadari, setiap perjalanannya ikut menjaga siklus regenerasi hutan.

Tak jauh darinya, satu individu orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) bergerak perlahan di antara daun-daun. Hampir seluruh hidupnya dihabiskan di atas pohon untuk mencari buah, beristirahat, dan merangkai sarang baru setiap senja. Dengan siklus reproduksi yang lambat dan pengasuhan anak yang panjang, keberlangsungan hidup orangutan sangat bergantung pada hutan yang utuh dan terus terhubung.

Mereka tidak berada di dahan yang sama, tidak pula menempuh jalur yang sama. Namun mereka berbagi lanskap yang sama.

Keduanya merupakan satwa yang dilindungi hukum di Indonesia. Keduanya tidak boleh diburu, diperdagangkan, atau disakiti. Kehadiran mereka dalam satu bingkai adalah momen yang langka, pertemuan singkat antara dua penjaga kanopi dalam ruang yang terus berubah.

Menyaksikan rangking dan orangutan dalam satu pandangan terasa seperti sebuah kehormatan yang sunyi, pengingat bahwa kehidupan liar masih bertahan di antara langit dan hutan. Bukan hanya untuk dikagumi, tetapi untuk dijaga dan dilestarikan. (DIM)

BELAJAR PERCAYA DI TENGAH PROSES ADAPTASI

Perjalanan Felix selama periode ini menunjukkan kombinasi antara perkembangan dan tantangan adaptasi. Secara kesehatan, kondisi Felix telah membaik setelah sempat mengalami gejala pilek di awal bulan. Saat ini, ia sudah kembali aktif mengikuti sekolah hutan, meskipun dalam beberapa kesempatan masih menunjukkan keraguan untuk keluar dari kandang.

Dalam aktivitas di sekolah hutan, Felix cukup sering beraktivitas di atas pohon, terutama saat merasa nyaman. Ia terlihat aktif mencari makan, mengonsumsi buah mentah, kambium, dan bagian tumbuhan lainnya. Bersama Pansy, Felix juga kerap melakukan aktivitas bersama, seperti berpindah dari pohon ke pohon dan megeksplorasi area hutan, menunjukkan adanya ikatan sosial yang cukup kuat.

Namun, Felix masih menunjukkan sensitivitas terhadap kehadiran manusia tertentu, khususnya animal keeper laki-laki. Hal ini terkadang membuatnya enggan keluar kandang atau ingin kembali lebih cepat saat sesi sekolah hutan berlangsung. Ia juga cenderung mengikuti pergerakan babysitter sebagai bentuk rasa aman, yang menjadi bagian penting dalam proses adaptasinya.

Meski demikian, Felix tetap menunjukkan potensi yang baik dalam pembelajaran keterampilan alami. Dengan kondisi fisik yang stabil dan pola fese normal, fokus selama periode ini adalah membangun rasa percaya diri dan kemandirian, sehingga ia dapat lebih konsisten dalam mengikuti kegiatan sekolah hutan. (RAF)

AWALNYA DISANGKA MBG, BERUJUNG CINTA PADA ORANGUTAN

Pada pertengahan bulan Maret 2026, tim APE Crusader melakukan kegiatan School Visit di SDN 01 Kongbeng, Desa Miau Baru, Kaltim. Pagi itu kami berangkat menggunakan ambulan satwa liar menuju sekolah yang berada di kawasan Kongbeng. Bahkan sebelum mobil benar-benar sampai di halaman sekolah, kehadiran kami sudah menarik perhatian. Ambulan dengan logo kepala orangutan besar di sisinya menjadi pemandangan yang tidak biasa bagi warga sekitar. Dari kejauhan, anak-anak sudah berlarian menghampiri mobil dan menuntun kami sampai ke halaman sekolah dengan wajah penuh rasa penasaran.

“MBG wiihhh… MBG??”, seru salah anak dengan antusias, diikuti teman-temannya.

Ternyata mereka mengira mobil kami adalah kendaraan yang membawa Makan Bergizi Gratis (MBG). Rupanya selama ini sekolah mereka belum pernah mendapatkan jatah MBG, sehingga kedatangan mobil kami langsung disambut penuh harapan. Namun ketika tim turun dari mobil, anak-anak mulai menyadari bahwa yang datang bukan pembawa makanan, melainkan tim yang bekerja dengan satwa liar. Antusiasme pun berubah, dari menunggu makanan menjadi menunggu orangutan yang mereka kira ada di dalam ambulan.

Ketika pintu mobil dibuka, ternyata tidak ada orangutan, hanya poster, foto, dan perlengkapan edukasi. Meski begitu, rasa penasaran mereka tidak berkurang. Kegiatan pun dilanjutkan di dalam kelas. Tim memulai dengan “tepuk orangutan” untuk mencairkan suasana, lalu menyampaikan materi tentang orangutan, hutan, dan pentingnya menjaga alam.

Saat ditanya apakah ada yang pernah melihat orangutan, beberapa anak mengangkat tangan. Salah satu dari mereka bahkan berkata, “Aku pernah lihat… dipelihara!”. Jawaban itu menjadi kesempatan bagi tim untuk menjelaskan bahwa orangutan adalah satwa liar yang dilindungi dan seharusnya hidup bebas di hutan.

Menjelang akhir kegiatan, anak-anak sangat gembira saat menerima poster dan stiker orangutan, bahkan sampai berebutan. Antusiasme mereka juga membuat tim sedikit tertahan untuk pulang. Ketika kami kembali ke ambulan, beberapa anak masih mengerumuni mobil dan bahkan memanjat tangga di belakang ambulan untuk melihat lebih dekat.

Sebelum berangkat, tim sempat membunyikan sirine ambulan yang langsung disambut sorakan dan tawa anak-anak. Saat mobil mulai meninggalkan sekolah, mereka melambaikan tangan sambil berlari mengejar hingga ke ujung jalan.

Kami memang tidak membawa MBG seperti yang mereka harapkan di awal. Namun pagi itu meninggalkan sesuatu yang tak kalah penting yaitu tawa, pengetahuan bari, dan harapan bahwa dari sekolah kecil di Desa Miau Baru ini akan tumbuh generasi yang peduli pada orangutan dan hutan tempat mereka hidup. (DIM)

LEVEL UP: BAGUS GOES TO BAWAN ISLAND

Setelah bertahun-tahun menjalani program rehabilitasi dan menjadi murid sekolah hutan di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Bagus, individu orangutan betina yang pernah menjadi peliharaan ilegal dan sangat dekat dengan manusia, akhirnya naik level dengan pindah ke pulau pra-pelepasliaran di pulau Bawan. Kini Bagus semakin siap untuk kembali ke alam liar.

Di hari-hari pertamanya di pulau, Bagus tampak aktif mengekspor area hulu hingga tengah pulau, asyik memanjat dan bergelantungan di pepohonan rimbun, serta mencari pakan alami. Di sela-sela eksplorasinya, Bagus sesekali terlihat diam, seolah sedang merenung.
“Dia pasti kesepian dan bingung. Mungkin dia berpikir, Ini aku lagi sekolah hutan, tapi koq gak ada teman-teman yang lain” Koq gak ada yang panggil-panggil lagi untuk pulang ke kandang?”, ujar Ara, biologis COP yang ditugaskan untuk mengamati perkembangan Bagus selama minggu pertamanya di pulau.

Terkenal dengan sifatnya yang manja, saat tim monitoring datang untuk memberi pakan harian, Bagus buru-buru mendekat sambil mengeluarkan suara merengek, “I… i… i…”, sebagai tanda indin dipwluk dan digendong. Namun tim segera menjaga jarak agar Bagus belajar untuk lebih mandiri. Di hari-hari berikutnya, Bagus mulai mengerti dan tidak lagi mendekat sambil merengek.

Sempat diterpa hujan deras, Bagus tampak belum mampu memilih tempat untuk berteduh. Begitu pula ketika malam tiba, Bagus memilih tidur sambil memeluk batang pohon tanpa membuat sarang.

“Bagus tidurnya kayak panda.”, kata Ara.

Kemampuan membuat sarang merupakan salah satu indikator penting kesiapan individual orangutan untuk dilepasliarkan. Dilihat dari kebiasaan Bagus selama di BORA, Bagus sebenarnya cukup terampil membuat sarang, hanya saja ia melakukannya di tanah dan di lantai kandang, bukan di atas pohon.

“Gak apa-apa, nanti juga Bagus pelan-pelan belajar buat sarang di atas pohon”, sahut Amir, animal keeper yang telah mengenal Bagus sedari masuk BORA. Dia optimis, jika kini Bagus tidur tanpa sarang, jika saatnya perlu membuat sarang, Bagus tentu akan melakukannya.

Bagus masih memiliki waktu untuk terus mengasah keterampilan dan kemampuannya dalam bertahan hidup. Pelan tapi pasti, kami percaya Bagus akan berproses dan menunjukkan bahwa ia siap kembali ke habitat aslinya. And when the time comes, she will truly be the young, wild, and free orangutan she was meant to be! (SIN)