BELAJAR PERCAYA DI TENGAH PROSES ADAPTASI

Perjalanan Felix selama periode ini menunjukkan kombinasi antara perkembangan dan tantangan adaptasi. Secara kesehatan, kondisi Felix telah membaik setelah sempat mengalami gejala pilek di awal bulan. Saat ini, ia sudah kembali aktif mengikuti sekolah hutan, meskipun dalam beberapa kesempatan masih menunjukkan keraguan untuk keluar dari kandang.

Dalam aktivitas di sekolah hutan, Felix cukup sering beraktivitas di atas pohon, terutama saat merasa nyaman. Ia terlihat aktif mencari makan, mengonsumsi buah mentah, kambium, dan bagian tumbuhan lainnya. Bersama Pansy, Felix juga kerap melakukan aktivitas bersama, seperti berpindah dari pohon ke pohon dan megeksplorasi area hutan, menunjukkan adanya ikatan sosial yang cukup kuat.

Namun, Felix masih menunjukkan sensitivitas terhadap kehadiran manusia tertentu, khususnya animal keeper laki-laki. Hal ini terkadang membuatnya enggan keluar kandang atau ingin kembali lebih cepat saat sesi sekolah hutan berlangsung. Ia juga cenderung mengikuti pergerakan babysitter sebagai bentuk rasa aman, yang menjadi bagian penting dalam proses adaptasinya.

Meski demikian, Felix tetap menunjukkan potensi yang baik dalam pembelajaran keterampilan alami. Dengan kondisi fisik yang stabil dan pola fese normal, fokus selama periode ini adalah membangun rasa percaya diri dan kemandirian, sehingga ia dapat lebih konsisten dalam mengikuti kegiatan sekolah hutan. (RAF)

AWALNYA DISANGKA MBG, BERUJUNG CINTA PADA ORANGUTAN

Pada pertengahan bulan Maret 2026, tim APE Crusader melakukan kegiatan School Visit di SDN 01 Kongbeng, Desa Miau Baru, Kaltim. Pagi itu kami berangkat menggunakan ambulan satwa liar menuju sekolah yang berada di kawasan Kongbeng. Bahkan sebelum mobil benar-benar sampai di halaman sekolah, kehadiran kami sudah menarik perhatian. Ambulan dengan logo kepala orangutan besar di sisinya menjadi pemandangan yang tidak biasa bagi warga sekitar. Dari kejauhan, anak-anak sudah berlarian menghampiri mobil dan menuntun kami sampai ke halaman sekolah dengan wajah penuh rasa penasaran.

“MBG wiihhh… MBG??”, seru salah anak dengan antusias, diikuti teman-temannya.

Ternyata mereka mengira mobil kami adalah kendaraan yang membawa Makan Bergizi Gratis (MBG). Rupanya selama ini sekolah mereka belum pernah mendapatkan jatah MBG, sehingga kedatangan mobil kami langsung disambut penuh harapan. Namun ketika tim turun dari mobil, anak-anak mulai menyadari bahwa yang datang bukan pembawa makanan, melainkan tim yang bekerja dengan satwa liar. Antusiasme pun berubah, dari menunggu makanan menjadi menunggu orangutan yang mereka kira ada di dalam ambulan.

Ketika pintu mobil dibuka, ternyata tidak ada orangutan, hanya poster, foto, dan perlengkapan edukasi. Meski begitu, rasa penasaran mereka tidak berkurang. Kegiatan pun dilanjutkan di dalam kelas. Tim memulai dengan “tepuk orangutan” untuk mencairkan suasana, lalu menyampaikan materi tentang orangutan, hutan, dan pentingnya menjaga alam.

Saat ditanya apakah ada yang pernah melihat orangutan, beberapa anak mengangkat tangan. Salah satu dari mereka bahkan berkata, “Aku pernah lihat… dipelihara!”. Jawaban itu menjadi kesempatan bagi tim untuk menjelaskan bahwa orangutan adalah satwa liar yang dilindungi dan seharusnya hidup bebas di hutan.

Menjelang akhir kegiatan, anak-anak sangat gembira saat menerima poster dan stiker orangutan, bahkan sampai berebutan. Antusiasme mereka juga membuat tim sedikit tertahan untuk pulang. Ketika kami kembali ke ambulan, beberapa anak masih mengerumuni mobil dan bahkan memanjat tangga di belakang ambulan untuk melihat lebih dekat.

Sebelum berangkat, tim sempat membunyikan sirine ambulan yang langsung disambut sorakan dan tawa anak-anak. Saat mobil mulai meninggalkan sekolah, mereka melambaikan tangan sambil berlari mengejar hingga ke ujung jalan.

Kami memang tidak membawa MBG seperti yang mereka harapkan di awal. Namun pagi itu meninggalkan sesuatu yang tak kalah penting yaitu tawa, pengetahuan bari, dan harapan bahwa dari sekolah kecil di Desa Miau Baru ini akan tumbuh generasi yang peduli pada orangutan dan hutan tempat mereka hidup. (DIM)

LEVEL UP: BAGUS GOES TO BAWAN ISLAND

Setelah bertahun-tahun menjalani program rehabilitasi dan menjadi murid sekolah hutan di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Bagus, individu orangutan betina yang pernah menjadi peliharaan ilegal dan sangat dekat dengan manusia, akhirnya naik level dengan pindah ke pulau pra-pelepasliaran di pulau Bawan. Kini Bagus semakin siap untuk kembali ke alam liar.

Di hari-hari pertamanya di pulau, Bagus tampak aktif mengekspor area hulu hingga tengah pulau, asyik memanjat dan bergelantungan di pepohonan rimbun, serta mencari pakan alami. Di sela-sela eksplorasinya, Bagus sesekali terlihat diam, seolah sedang merenung.
“Dia pasti kesepian dan bingung. Mungkin dia berpikir, Ini aku lagi sekolah hutan, tapi koq gak ada teman-teman yang lain” Koq gak ada yang panggil-panggil lagi untuk pulang ke kandang?”, ujar Ara, biologis COP yang ditugaskan untuk mengamati perkembangan Bagus selama minggu pertamanya di pulau.

Terkenal dengan sifatnya yang manja, saat tim monitoring datang untuk memberi pakan harian, Bagus buru-buru mendekat sambil mengeluarkan suara merengek, “I… i… i…”, sebagai tanda indin dipwluk dan digendong. Namun tim segera menjaga jarak agar Bagus belajar untuk lebih mandiri. Di hari-hari berikutnya, Bagus mulai mengerti dan tidak lagi mendekat sambil merengek.

Sempat diterpa hujan deras, Bagus tampak belum mampu memilih tempat untuk berteduh. Begitu pula ketika malam tiba, Bagus memilih tidur sambil memeluk batang pohon tanpa membuat sarang.

“Bagus tidurnya kayak panda.”, kata Ara.

Kemampuan membuat sarang merupakan salah satu indikator penting kesiapan individual orangutan untuk dilepasliarkan. Dilihat dari kebiasaan Bagus selama di BORA, Bagus sebenarnya cukup terampil membuat sarang, hanya saja ia melakukannya di tanah dan di lantai kandang, bukan di atas pohon.

“Gak apa-apa, nanti juga Bagus pelan-pelan belajar buat sarang di atas pohon”, sahut Amir, animal keeper yang telah mengenal Bagus sedari masuk BORA. Dia optimis, jika kini Bagus tidur tanpa sarang, jika saatnya perlu membuat sarang, Bagus tentu akan melakukannya.

Bagus masih memiliki waktu untuk terus mengasah keterampilan dan kemampuannya dalam bertahan hidup. Pelan tapi pasti, kami percaya Bagus akan berproses dan menunjukkan bahwa ia siap kembali ke habitat aslinya. And when the time comes, she will truly be the young, wild, and free orangutan she was meant to be! (SIN)

MUD, SLOPES, AND A SNAPPED ROPE

Fieldwork isn’t always about clean data and neat reports. Sometimes, it’s mud in your face, engines screaming on steep slopes, and figuring things out when everything falls apart. Recently, me and my partner spent a week assessing areas around coal mining sites and palm oil plantations. One motorcycle. Extreme muddy terrain. Brutal slopes. Not a single day without being completely covered in dirt.

On the very last day, our motorcycle broke down. Broken gear. Remote location. No signal. No tools. Just us and the silence of nowhere. After struggling to get reception, we finally reached the backup team who had just arrived from another town. With no proper equipment to fix the bike, we had improvised. Tied a rope from the car and towed the motorcycle 20 km to the nearest village.

Simple in theory. Terrifying in practice.

The road was full of potholes and steep descents. The car had to keep the perfect speed while the bike fought to stay balanced. Then gravity took over on a downhill stretch, the motorcycle almost slammed into the car. My partner braked, the rope tangled under the wheel, and snapped.

That moment was a reminder that fieldwork is never “just fieldwork”. It test your wit, resilience, and teamwork in real time. We slowed down, coordinated through walkie-talkie, and carefully finished the 20 km journey. Rough? Absolutely. Worth it? Every single time. (DIM)

KETIKA LAPANGAN MENGUJI KAMI

Kerja lapangan tidak selalu soal data rapi dan laporan yang tersusun manis. Beberapa waktu lalu, saya dan satu rekan kerja melakukan assesmen di sekitar area tambang batubara dan perkebunan sawit. Dengan satu motor, jalur berlumpur tanpa akhir dan tanjakan ekstrem yang setiap hari menguji keseimbangan dan kesabaran. Tidak ada satu hari pun, kami tidak dipenuhi debu dan lumpur. Sampai di hari terakhir, rasa lelah sudah terasa dan motor kami akhirnya menyerah. Gigi rusak. Lokasi terpencil. Sinyal nyaris tidak ada. Tanpa alat. Hanya kami dan kenyataan bahwa ini tidak akan mudah.

Setelah susah payah mencari sinyal, kami berhasil menghubungi Tim backup yang baru tiba dari kota lain. Tanpa peralatan yang memadai, kami harus berimprovisasi dengan mengikatkan tali dari mobil untuk menarik motor sejauh 20 kilometer ke desa terdekat. Terdengar sederhana. Kenyataannya tidak. Jalan penuh lubang dan turunan curam. Di salah satu turunan, motor melaju terlalu cepat mendekati mobil. Pengendara motor pun panik, menarik rem, dan tali sempat terlilit sebelum akhirnya putus. Dalam hitungan detik, kami sadar betapa cepat situasi bisa berubah menjadi berbahaya.

Momen ini jadi pengingat bahwa kerja lapangan bukan sekedar kerja lapangan. Ia menguji kecerdikan, ketahanan, dan kerja sama tim secara nyata. Setelah itu kami melaju lebih pelan, berkomunikasi lewat HT, dan akhirnya menyelesaikan 20 km itu dengan aman. Berat dan penuh tantangan? Selalu. Tapi justru di perjalanan seperti itulah kita belajar seberapa kuat sebenarnya tim kita. (DIM)

THREE IN ONE JOB

Tidak terasa, genap sudah satu bulan saya mengeksplorasi keindahan lanskap hutan di Busang. Mewakili tim APE Guardian bertepatan dengan libur perayaan Natal di akhir Desember 2026, yang mana sebagian staf APE Defender di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) mengambil cuti hari raya dan membutuhkan tenaga tambahan, saya diminta untuk bergeser ke BORA selama satu bulan ke depan.

Selama di sana, bukan hanya penalaan dan wawasan yang bertambah, tetapi juga lingkar pertemanan saya semakin meluas. Saya mendapat kesempatan untuk menjajal berbagai bagian pekerjaan dan bekerja bersama teman-teman yang hebat.

Beberapa hari pertama di BORA, saya berkesempatan membawa orangutan ke sekolah hutan. Ditemani Faradiva sebagai pendamping di hari pertama, saya belajar cara membawa orangutan ke sekolah hutan, cara mengamati, serta mencatat perilaku dan karakter setiap individual yang beragam. Beberapa hari pertama memang cukup menantang bagi saya untuk menghafal nama dan ciri-ciri fisik masing-masing orangutan, terlebih ketika ukuran tubuh mereka tampak mirip.

Setelah beberapa hari mengikuti kegiatan sekolah hutan, pada minggu berikutnya saya berkesempatan menjadi bagian dari tim teknisi yang didampingi oleh Bang Jevri. Kami datang lebih awal untuk menguapkan pakan orangutan dengan takaran yang berbeda untuk setiap individual. Selain menyiapkan pakan pagi, siang, dan sore, kami juga mempersiapkan alat serta bahan untuk kebutuhan enrichment masing-masing orangutan pada pagi dan sore hari.

Memasuki minggu terakhir di BORA, saya berkesempatan menjadi babysitter bagi beberapa orangutan yang masih memerlukan perhatian ekstra. Di dampingi oleh babysitter Gita, saya belajar menyiapkan pakan, meracik susu dengan takaran yang berbeda untuk setiap individual, memberikan enrichment, serta membawa mereka ke sekolah hutan. Menjadi babysitter menurut saya cukup menantang, mengingat mereka masih sangat bergantung pada kehadiran manusia. Selain itu, tubuh mungil mereka juga cukup sulit untuk terus terpantau ketika sudah memanjat pohon yang tinggi saat sekolah hutan.

Menjadi relawan di BORA membuat saya semakin mengenal pribadi teman-teman yang menyenangkan serta belajar banyak hal baru yang sebelumnya, belum pernah saya coba (Hana_COPSchool15)

KAMERA JEBAK: ALAT BANTU MONITORING ORANGUTAN DI KAWASAN PELEPASLIARAN HUTAN LINDUNG GUNUNG BATU MESANGAT

Kamera jebak atau camera trap merupakan perangkat kamera otomatis yang dilengkapi sensor gerak atau panas (inframerah) untuk mengambil foto atau video satwa liar tanpa kehadiran manusia. Penggunaan kamera jebak dalam dunia konservasi lazim dilakukan untuk pemantauan populasi, perilaku, dan keanekaragaman hayati di habitat alaminya.

Akhir Desember 2025 menjadi musim puncak berbuah lahung atau durian merah (Durio dulcis) di kawasan pelepasliaran Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat. Lahung memiliki karakteristik kulit buah berwarna merah dengan duri panjang dan tajam, serta daging buah yang manis. Buah yang telah matang akan jatuh dari pohon dan aromanya yang menyengat sering kali menarik beragam satwa frugivora untuk berdatangan.

Tanpa menyia-nyiakan momentum musim berbuah tersebut, tim APE Guardian menelusuri rimbunnya hutan lindung untuk memasang kamera jebak, dengan harapan dapat mengetahui satwa apa saja yang singgah di bawah pohon lahung.

Satu bulan setelah kamera terpasang, tibalah waktunya untuk mengambil dan memeriksa hasil rekaman. Dari empat kamera yang dipasang, salah satunya berhasil merekam momen yang sangat spesial. Dua individu orangutan, satu jantan dan satu betina, terekam sedang mengambil buah lahung yang terjatuh untuk dimakan. Keduanya kemudian teridentifikasi sebagai Berani (jantan) dan Charlotte (betina), orangutan yang pernah direhabilitasi di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance).

Charlotte yang baru dilepasliarkan kurang dari dua bulan sebelumnya, menunjukkan tren positif karena telah menjelajah sejauh 3 km dari lokasi terakhir ia terdeteksi hingga ke titip berpasangnya kamera. Perjumpaan Berani dan Charlotte mengindikasikan perkembangan yang baik pasca-pelepasliaran, sekaligus membuka peluang interaksi sosial yang berpotensi mendukung reproduksi di alam. Selain orangutan, beberapa satwa lain turut terekam, seperti landak, kijang, beruang madu, dan pelanduk. Penggunaan kamera jebak sangat membantu tim lapangan dalam monitoring orangutan dan satwa lainnya. (YUS)

19 TAHUN COP DI DUNIA KONSERVASI ORANGUTAN

Semangat kolaborasi lintas sektor terasa kuat dalam peringatan Hari Ulang Tahun ke-19 Centre for Orangutan Protection (COP) yang digelar di Camp APE Warrior COP di Jogjakarta. “Protecting the Orangutan and Beyond” menjadikan spesies Orangutan sebagai pintu masuk perlindungan satwa liar dan dan penguatan respons terhadap kejahatan serta bencana ekologis yang berdampak pada satwa, adalah sebuah momentum refleksi perjalanan panjang sekaligus penguatan komitmen bersama menghadapi tantangan konservasi ke depan.

Acara ini dihadiri oleh bapak Tutut Heri Wibowo sebagai Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi, bapak Ardi Andono sebagai Kepala Balai TN Ujung Kulon, perwakilan dari Balai KSDA Yogyakarta, Gakkum Wilayah Yogyakarta, Badan Nasional Daerah (BPBD) Sleman, Dinas Pertanian dan Pangan Sleman, Puskewan Sleman, Perangkat Desa setempat, Orangufriends Jogja, berbagai komunitas dan lembaga konservasi di Yogyakarta, Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta, dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Direktur COP, Daniek Hindarto dalam sambutannya menegaskan, bahwa usia 19 tahun adalah waktu untuk memperkuat konsistensi gerakan, bukan sekedar merayakan capaian. “Srmbilan belas tahun adalah perjalanan panjang yang ditempuh dengan komitmen dan kolaborasi. Kami percaya, perlindungan satwa liar tidak bisa dilakukan sendiri. Butuh keberanian untuk bersinergi, membuka ruang dialog, dan bergerak bersama”, ujar Daniek.

Ia juga menambahkan bahwa tantangan ke depan semakin kompleks, mulai dari perdagangan ilegal satwa, perburuan, hingga dampak krisis iklim dan bencana terhadap habitat. “COP akan terus berdiri di garis depan untuk mendukung upaya penyelamatan satwa dan memperkuat jejaring dengan pemerintah, aparat penegak hukum, akademisi, dan masyarakat. Konservasi adalah kerja jangka panjang dan hari ini kita menegaskan kembali komitmen itu”, tambahnya.

Dalam momentum istimewa ini, COP menganugerahkan Setia Bhakti Award 2026 kepada 14 staf yang dinilai menunjukkan loyalitas, integritas, dan dedikasi tinggi dalam mendukung misi organisasi. Penghargaan ini menjadi simbol bahwa kerja-kerja konservasi adalah hasil dari dedikasi tim yang solid dan penuh komitmen. Selain itu, COP juga memberikan Orangufriends Award 2026 kepada lima tokoh yang secara konsisten mendukung gerakan konservasi, yaitu Kylie Bullo – Conservation Project Manager di The Orangutan Project, Peter Pratje – Program Manager di Frankfurt Zoological Society, Sudomo Mergonoto – CEO PT Kapal Api Global, Ardi Ardono – Kepala Balai TN Ujung Kulon, serta Danang Anggoro – Dosen dan Peneliti di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Kelima tokoh ini merupakan bagian penting dari jejaring Orangufriends dan memiliki peran signifikan dalam dunia konservasi. Penghargaan ini menjadi bentuk penghormatan atas kontribusi nyata mereka dalam memperkuat advokasi, edukasi, serta dukungan moral bagi upaya perlindungan satwa liar.

Melalui peringatan ini COP menegaskan kembali komitmennya untuk terus menjadi bagian dari gerakan kolektif perlindungan satwa liar di Indonesia. Kolaborasi adalah kunci, karena menjaga alam dan satwa liar bukan hanya kewajiban satu lembaga, melainkan tanggung jawab bersama. (DIT)

KETIKA TANGAN-TANGAN PENYEMBUH MENANAM AKAR-AKAR KEHIDUPAN

Matahari siang di Berau menggantung terik di atas kanopi, memerangkap udara lembap yang terasa berat di kulit. Keringat mengalir lebih cepat daripada angin yang berembus pelan dari tepi hutan. Di tengah panas yang menyengat itu, tim medis pusat rehabilitasi orangutan Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA), yang dikelola oleh Centre for Orangutan Protection (COP) di Berau, Kalimantan Timur, untuk sementara meninggalkan ruang klinik mereka. Terdiri dari dua dokter hewan, Rengga dan Atalla, serta Tata, paramedis satwa, siang itu mereka tak lagi berdiri di balik meja periksa, melainkan ikut berlutut di atas tanah dalam kegiatan rutin bertajuk “Jumat Menanam”.

Biasanya, tangan-tangan itu menggenggam stetoskop, menyuntikkan obat, atau memeriksa denyut nadi orangutan yang tengah dipulihkan. Namun kali ini yang mereka bawa adalah dodos untuk melubangi tanah, ember untuk membawa air, dan bibit pohon yang akarnya masih terbungkus polybag. Seragam medis yang identik dengan aroma antiseptik kini bermain di tanah, menyatu dengan lanskap kawasan yang kelak menjadi ruang belajar bagi bayi-bayi orangutan yang mereka rawat.

Di BORA, pelestarian lingkungan tidak dibatasi oleh jabatan atau latar belakang pendidikan. “Jumat Menanam” mempertemukan seluruh staf, mulai dari dokter hewan, animal keeper, tim development, hingga manajemen, dalam satu tujuan yang sama: meningkatkan kualitas ekosistem di dalam kawasan BORA. Semangat gotong royong yang diusung COP menemukan wujud konkretnya pada kegiatan ini. Setiap individu, apa pun jabatannya, turut mengambil bagian yang sama dalam kegiatan penanaman pohon.

Bagi tim medis, menanam pohon menjadi pengalaman bentuk lain dari penyembuhan. Jika di klinik mereka merawat tubuh yang terluka, di sini mereka menyiapkan masa depan yang lebih utuh. Bibit-bibit pohon yang mereka tanam hari itu akan tumbuh menjadi penopang kehidupan, bagi orangutan di BORA, satwa liar lain, manusia yang tinggal di sekitarnya, hingga berbagai bentuk kehidupan yang lebih luas lagi. Di bawah terik Berau yang tak kenal ampun, akar-akar kecil itu ditanam bukan sekadar ke dalam tanah, melainkan ke dalam harapan: bahwa konservasi adalah kerja bersama, dan setiap tangan memiliki peran dalam menjaga agar bumi ini tetap mampu menopang banyak kehidupan. (RAF)

HARAPI, SI MATA KECIL

Pertama kali mengenal Harapi pada tanggal 4 Juli 2025, saat hari pertama ku bekerja di Pusat Rehabilitasi Orangutan dan menggendongnya, “ternyata orangutan sebau ini”. Saat itu, Harapi masih takut untuk memulai sekolah hutannya, ia tidak ingin bersosialisasi dengan orangutan lainnya, hanya diam sembari memeluk diriku hingga baby sitter Janet membantuku untuk membujuk Harapi agar mau bersosialisasi dengan orangutan lainnya tetapi tidak berhasil. Akhirnya Harapi hanya diam di belakang badanku, bersembunyi sembari mengamati orangutan lainnya hingga jam sekolah hutan berakhir.

Hobi Harapi alah makan dan makan, bahkan ketika kehadirannya di sekolah hutan hanya sekedar absen dan disi dengan aktivitas makan. Suatu hari, Harapi tidak mengikuti sekolah hutan karena ia teramati sedang tidak enak badan bahkan si hobi makan ini teramati hanya memakan sedikit saja jatahnya.

Dokter Tyta: Nop, Harapi kasih makan kesukaannya aja dulu, supaya dia mau makan, gak usah sekolah dulu ya.

Nopi: Oke dok.

Setelah menjawab perintah dokter Tyta, aku menceritakannya dengan mba Rara. Mba Rara memberitahuku apa saja makanan kesukaan Harapi.

Nopi: Dok, ini Harapi udah mau makan lagi dan juga selit-sedikit mau beraktivitas seperti biasa dok.

Dokter Tyta: Syukurlah kalau dia mau makan, makasih ya Nop.

Terdengar suara celutukan dengan nada candaan.

Mba Indah: Aahhh pura-pura aja Harapi itu gak mau makan, biar gak sekolah hutan.

Nopi: Iya, kayaknya dia bohong biar bolos sekolah.

Di hari itu, Harapi tidak sekolah hutan dan menghabiskannya dengan makan-tidur untuk mengistirahatkan badannya hingga jam makan siang datang.

Harapi mempunyai teman yang aku sebut dengan sahabat kandang yaitu Arto. Harapi yang tingkahnya selalu lemot atau lamban menjadikan makanannya selalu diambil oleh Arto. Sementara respon Harapi hanya cuek dan tidak berusaha melawan atau menghindar dari Arto. Arto yang kebiasaannya makan dengan cepat dan terburu-buru selalu mempunyai cara untuk merebut makanan Harapi. Dari kebiasaan Arto, kami para baby sitter selalu mengajarkan Harapi agar pelit dan harus bisa mempertahankan haknya. “Ayo Harapi, pertahankan yang sudah jadi milikmu dan yang baik untukmu, jangan berdiam diri karena hakmu diambil atau dirampas orang lain!”. (NOP)

MERAWAT SETIAP LANGKAH ORANGUTAN AMAN

Aman sudah bersama kami sejak Juni 2020. Ia tiba di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) dalam kondisi yang membuat dada terasa sesak hanya dengan melihatnya. Cara jalannya aneh dan pelas, seolah setiap langkah harus dipikirkan lebih dulu. Beberapa jemari tangannya sudah teramputasi, meninggalkan bentuk yang tidak utuh pada tangannya. Tidak ada yang tahu pasti apa yang ia lalui sebelum tiba di sini. Luka-luka di tubuhnya menjadi satu-satunya petunjuk tentang masa lalunya.

Saat dilakukan pemeriksaan menyeluruh menggunakan rontgen, kami menemukan masalah yang selama ini ia simpan dalam diam. Pinggulnya tidak normal. Kepala tulang pahanya tidak terbentuk sebagaimana mestinya, sehingga pertautan antara panggul dan paha hampir pasti menimbulkan nyeri setiap kali ia bergerak. Dengan jari tangan yang tidak utuh dan kaki yang juga bermasalah, pergerakan Aman menjadi lambat dan tertatih. Ia sering berhenti sejenak, mungkin karena lelah, mungkin karena rasa sakit yang datang tiba-tiba.

Kini Aman beranjak menjadi orangutan jantan berusia sekitar 12 tahun. Rehabilitasi Aman tidak hanya berfokus pada penguasaan keterampilan bertahan hidup di alam, seperti memanjat, mengenali pakan, dan membuat sarang. Lebih dari itu, rehabilitasi juga bertujuan memastikan kondisi yang Aman alami tidak semakin parah, serta terus mengupayakan kesembuhannya. Setiap langkah perawatan dibuat dengan mempertimbangkan kualitas hidup Aman, baik saat ini maupun di masa depan.

Untuk mengurangi nyeri, selain terapi obat, kami menyesuaikan banyak aspek perawatannya. Pakan yang diberikan merupakan pakan pilihan yang mendukung regenerasi jaringan, tinggi kolagen, serta mengandung vitamin dan mineral tertentu. Kami juga berusaha memberikan rimpang herbal yang dapat membantu pemulihan tubuhnya.

Selama sekolah hutan, pergerakan Aman diamati secara khusus. Setiap hari kami mengumpulkan rekaman video saat Aman memanjat, berjalan, berayun, menggulingkan diri, hingga cara ia duduk dan berapa lama ia mampu mempertahankan posisi tersebut. Video-video ini kemudian dikonsultasikan dengan ahli biolokomosi agar setiap perubahan kecil pada pola geraknya dapat dipahami dan ditangani dengan tepat.

Kadang istirahat Aman pun dibuat lebih khusus. Tali-temali ditambahkan lebih banyak untuk memudahkannya bergerak dan memberi ruang agar ia tetap aktif tanpa harus memaksakan tubuhnya. Aman tumbuh dengan keterbatasan yang tidak ia pilih. Setiap langkah kecil yang ia ambil menunjukkan keteguhan yang luar biasa. Di BORA, kami berusaha memastikan langkah-langkah itu terasa lebih ringan, lebih aman, dan penuh harapan. (THA)