UJI KEULETAN: MEMBUAT ENRICHMENT GRANAT BUAH

COP Borneo adalah pusat rehabilitasi orangutan yang berada di KHDTK Labanan, Berau, Kalimantan Timur. Di sekitar camp COP Borneo banyak ditemukan tali akar rotan, apalagi di jalan menuju kandang. Ide membuat enrichment granat buah akhirnya tercetus. Cara mengambil tali akar cukup menyenangkan. Kami harus mengayunkan tubuh sambil memegang tali akar kuat-kuat. Seperti Tarzan… berayun… Brraakkk!!! Itu bunyi ketika kami terjatuh bersama tali akar rotan yang berhasil putus. 

Keuletan diuji. Untuk membuat satu buah granat buah yang dibalut dengan tali akar kurang lebih membutuhkan waktu 30-45 menit. Semua perawat satwa berlomba-lomba untuk membuat bentuk granat yang unik dan kokoh. Dengan satu tujuan, agar orangutan sukar membuka granat buah tersebut. “Sengaja kami masukkan buah yang disukai orangutan dengan tambahan daun agar membuatnya padat dan sedikit tersembunyi.”, ujar Jevri dengan yakin.

Semua orangutan mendapatkan jatah satu-satu. Orangutan bayi mendapat jatah yang kecil. Sebaliknya, Ambon sebagai orangutan paling tua mendapat granat buah yang besar. Lalu berapa waktu yang orangutan butuhkan untuk mendapatkan buah yang tersembunyi di granat buah? (JEV_WID)

MENJADI PETUGAS DESINFEKSI DADAKAN

Di Pusat Rehabilitasi COP Borneo saat ini sedang digiatkan penyemprotan disinfektan di area camp. Kegiatan ini sangat jarang dikerjakan sebelumnya. Biasanya kandang-kandang orangutan saja yang didesinfeksi seminggu sekali, setiap hari Jumat. Kini, selama dua kali dalam seminggu kami wajib melakukan desinfeksi area camp. 

Mengapa kami melakukan kegiatan seperti ini? Karena kita sedang dilanda keadaan yang sangat genting. Kita tengah dihadapkan dengan virus corona yang penularannya sangat cepat.

Maka sejak 28 Maret yang lalu, kami berjaga-jaga untuk mencegah penyebaran Covid-19. Semua area camp tak terkecuali parkiran, gudang pakan, dapur dan kamar mandi tidak boleh dilewatkan untuk disemprot. Kami bergantian bertugas menyemprot.

Bahkan kawan kami yang bertugas khusus memasok logistik dan pakan bagi orangutan juga kami semprot ketika baru tiba mengirim logistik. Dialah orang luar satu-satunya yang sering masuk ke area camp. Sehingga harus dipastikan dia juga terbebas dari virus ini. Agar kami yang menjaga orangutan di dalam kandang bisa memastikan keamanan orangutan-orangutannya.

Harapan kami, semoga penyebaran Covid-19 lekas terputus dan berlalu. Sehingga kami bisa melanjutkan pekerjaan kami dengan semangat dan tidak merasa terganggu. kami rindu membawa siswa sekolah hutan ke hutan lagi. Ayo semua patuhi anjuran di rumah aja dari pemerintah. (SIM)

HERCULES MAKIN AGRESIF DI KANDANG KARANTINA

Terhitung dua minggu sudah Nigel dan Hercules menghuni kandang karantina paska dilakukan penarikan mereka dari pulau pra-pelepasliaran. Keberadaan Nigel dan Hercules di kandang karantina selalu kami pantau. 

Sebelum mencuci kandang dan memberi pakan para keeper menyempatkan diri untuk duduk berdiam melakukan pengamatan perilaku Nigel dan Hercules. Hasil pengamatan ini menjadi bahan perbandingan mereka selama berada di COP Borneo.

Hercules sejak dulu terkenal dengan sifatnya yang agresif. Saat berada di kandang karantina, Hercules juga masih sering menunjukkan sikap agresifnya. Beberapa kali ketika keeper menyiram kandang dan air dari selang mendarat di bagian tubuhnya, ia langsung menghentakkan tubuhnya dan mengeluarkan bunyi panggilan panjang atau ‘Long Call’ bak orangutan liar. Ia tidak suka disiram air, rupanya.

Cules, sapaan akrab yang kami sematkan. Dia juga memiliki kebiasaan meludah ketika keeper mendekat memberikan buah. Ini merupakan kebiasaan baru Cules yang kami temukan. Dia selalu melirik dengan tajam bagi siapapun yang berada di dekatnya.

Ia tergolong orangutan yang suka pilih-pilih buah yang lezat untuk dilumat. Keeper seing mendapati banyak sisa pakan yang masih utuh. Tetapi ia selalu merespon pemberian enrichment dengan antusias. (JON)

HAPPI KALAH SAAT DI KANDANG

Happi bergabung dengan tiga orangutan jantan lainnya di kandang sosialisasi. Berani, Owi dan Annie, ketiganya dengan tubuh yang lebih besar dari Happi berada satu kandang. Happi cukup pandai dan aktif ketika di sekolah hutan. Ia akan banyak menghabiskan waktunya di atas pohon. Tapi ketika berada di kandang justru tak seaktif ketika sedang bersekolah hutan.

Happi banyak mengalah di kandangnya. Karena ia harus berhadapan dengan ketiganya. Happi lebih banyak menunggu makanan dari perawat satwa. Perawat satwa akan memanggil namanya dan memberikan jatah makanannya. Rebut merebut, pasti kalah. Dia akan dikeroyok oleh ketiganya. Dia memilih di titik aman dengan makan sesuai jatahnya. Tidak ada kata merebut.

Ketika feeding (pemberian makanan) berlangsung, Happi akan turun dari hammock dan langsung duduk untuk menunggu perawat memberinya buah. Jika jatah buahnya sudah dia dapatkan, dia akan langsung bergegas membawa makanannya dan berlindung ke hammock untuk menjauh dari teman-temannya. Dia terlihat sangat takut akan berebutan makanan dengan teman-temannya. Dan teman-temannya itu cukup malas untuk menyusul ke atas hammock. Ketiganya lebih senang makan di depan animal keeper dan merajuk meminta buah lagi… dan lagi. (SIM)

COVID-19 PAKSA TAMBAH FASILITAS KEBERSIHAN COP BORNEO

COVID-19 yang sekarang menjadi masalah kesehatan internasional, juga menjadi perhatian di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo. Penambahan fasilitas kebersihan menjadi poin penting untuk mencegah penyebaran virus corona di COP Borneo yang terletak di KHDTK Labanan, kecamatan Kelay, Kalimantan Timur.

Terhitung sejak pertengahan Maret 2020, peningkatan standar kebersihan diikuti dengan penambahan lokasi pencucian tangan di area pusat rehabilitasi. Lokasi pencucian tangan di area pusat rehabilitasi ditambah menjadi 7 titik yang sebelumnya hanya 3 titik. Kini di area parkiran juga disediakan fasilitas pencucian tangan, juga di camp, dapur, gudang pakan dan 3 titik di blok kandang.

Seperti diketahui bahwa pencegahan terbaik untuk Covid-19 adalah dengan meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat. Di mulai dengan mencuci tangan secara rutin. Hal ini akan terus digalakkan di COP Borneo agar para penjaga satwa dan orangutan terhindar dari penularan virus corona. (FLO)

SI LIAR BONTI

Setiap orangutan memiliki kepribadian yang unik. Kali ini, Steven akan bercerita tentang sosok orangutan bernama Bonti saat berada di sekolah hutan. Bonti di usianya yang 5 tahun terlihat lebih dewasa dibandingkan kawan-kawan betina sekandangnya.

Bonti adalah murid sekolah hutan yang terbilang paling liar. Selalu aktif menjelajah di sekolah hutan dan tercatat sering membuat satang dibanding murid lainnya. Tidak membutuhkan waktu lama untuknya untuk memanjat. Begitu setibanya di lokasi sekolah hutan, dia langsung meraih pohon dan lekas memanjat. Para perawat satwa kewalahan dengan gerak lincahnya. Ia selalu menghindari kami, para perawat satwa yang memanggilnya untuk kembali ke kandang.

Selain itu, Bonti pandai mencari makan sendiri di hutan. Buah-buahan di pohon selalu dia dapatkan. Orangutan Bonti ini sangat bagus perkembangannya du sekolah hutan, ia cukup liar dan juga pandai membuat sarang dan sifat almiahnya sudah lumayan terlihat.

Bonti juga kerap menginap di lokasi sekolah hutan. Dipanggil pulang ke kandang kadang tak dihiraukannya lagi. Dan kembali memunculkan batang hidungnya ketika waktu makan di pagi hari. Aduh Bonti! (STV)

Si NAKAL MICHELLE

Ini adalah cerita dari Jack, perawat satwa di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Jack jarang sekali bercerita tentang orangutan. Ceritanya kali ini adalah trik rebut-rebutan dengan Icel alias Michelle.

Ketika feeding pagi, Jack membersihkan blok kandang dewasa. Di sana ada Michelle. Si orangutan betina beranjak dewasa yang cantik dan nakal. Bagaimana tidak, dengan usilnya Michelle menarik glove (sarung tangan medis) dan gelang yang Jack kenakan ketika menyodorkan buah.

“Tak kusangka Michelle mengusiliku. Dengan agresif, dia mengulurkan tangannya keluar seakan-akan mengambil buah, nyatanya ia malah merebut glove dan gelangku. Ku coba tarik kembali tanganku, tapi Michelle kini sudah kuat.”.

Michelle berhasil membawa kabur glove dan dimainkannya di atas hammocknya. Jack mencoba memancingnya untuk turun dari hammock dengan iming-iming buah. Michelle mau turun, masih dengan glove ditangannya. Perlahan Jack mencoba mencekatinya, namun tatapannya agresif, bulunya berdiri nampaknya ia merencanakan sesuatu. Jack pun mengurungkan niatnya untuk mendekati Michelle.

Jack membiarkan Michelle memakan buah sambil memegang glove. “Nampaknya dia mulai asik menikmati buah. Saatnya merebut glove ku kembali. Cepat-cepat kumasukkan tanganku ke dalam kandang Michelle. Yes! Lalu kulemparkan glove yang sudah robek ke dalam tempat sampah.”. (JACK)

HERCULES YANG JAHIL

Linau adalah perawat satwa di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo yang memiliki hobi menyanyi. Kali ini, dia akan bercerita tentang Hercules, orangutan yang terpaksa kembali dari pulau pra-rilis karena pandemik Covid-19. COP Borneo mengambil kebijakan lockdown untuk memutus penyebaran pandemik corona.

Hercules adalah orangutan jantan dewasa yang umurnya kisaran 14-16 tahun, yang saat ini menghuni blok kandang karantina. Ia cukup jahil kepada para keepernya. Suatu ketika giliran ku bertugas membersihkan kandangnya. Seperti biasa, aku menyemprot air dengan radius 2 meter. Untuk mendorong sisa-sisa makanan yang berjatuhan di lantai kandangnya, menuju tempat pembuangan. Air tak terlalu kuat mendorong sisa makanan, lalu kucoba perlahan mendekat.

Seperti dugaan awal, Hercules dengan gesitnya menarik tanganku yang tengah memegang selang. Terkejut bukan main. Ia orangutan jantan yang kuat dan agresif. Panik dan membuatku terjatuh tepat di depan kandangnya dengan selang yang masih tergenggam. Tak luput pakaian dan tubuh basah kuyup terguyur air dari selang.

Sebuah pelajaran, jangan terlalu mendekat dengan tangan jahil Hercules. Dengan perasaan masih tergopoh-gopoh, kulanjutkan membersihkan kandangnya dengan jarak yang lebih jauh. “Untung tak ada yang melihat… kalau diingat-ingat lucu… tapi aku tidak akan pernah lengah lagi.”.(NAU)

KACANG PANJANG UNTUK ORANGUTAN ANTAK

Semenjak pandemi COVID-19 banyak buah yang tidak bisa ditemui di pasar. Aktivitas belanja logistik untuk Pusat Rehabilitasi COP Borneo pun dibatasi menjadi satu kali dalam seminggu. Tentu saja ini sangat berpengaruh pada menu pakan orangutan. 

Pagi ini, dengan semangatnya Wasti, Sili, Cici pergi ke kebun nenek mereka untuk mengambil jagung dan kacang panjang. Jagung dan kacang panjang ini rencananya untuk orangutan yang ada di COP Borneo. Orangutan Antak sangat suka sekali makan kacang panjang. Ketika Wasti dan teman-temannya dikasih tahu kalau orangutan Antak sangat menyukai kacang panjang, mereka saling berebut untuk memetik kacang panjang. 

Mereka mengerti, keadaan sekarang ini membuat orang-orang tidak bisa bepergian. Pandemi Covid-19 telah membatasi pergerakan manusia. Kebun adalah tempat persembunyian yang menyenangkan bagi  mereka. Mereka juga berharap, orangutan menikmati jagung dan kacang panjang yang mereka ambil dari kebun. (WET)

 

HANYA JOJO YANG TIDAK SUKA BLEWAH

Makanan orangutan di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo terdiri dari buah dan sayuran. Jenisnya beragam, tergantung dari ketersediaan di pasar. Dari pepaya, nenas, jagung, terong hingga bayam.

Kali ini orangutan berkesempatan mencoba buah blewah. Buahnya bulat dengan daging buah berwarnya jingga. Baunya juga menggoda, hanya saja rasanya yang sedikit hambar. Mayoritas orangutan di COP Borneo memakannya terlebih dahulu dan mengesampingkan buah yang lain. Ini kali pertama mereka merasakan buah blewah. Namun sebelumnya mereka sudah pernah merasakan timun suri yang rasa dan aromanya tidak jauh berbeda.

Tapi Jojo berbeda. Dia mencoba Blewah dengan menggigitnya sekali dan kemudian dengan senang hati memberikannya kepada orangutan lain. Tampaknya, dia tidak menyukai Blewah. Dia lebih memilij buah lain seperti pepaya, jagung, tomat dan terong. Mungkin dia akan suka Blewah saat dibuat dalam bentuk es buah ya. (FLO)

 

Page 3 of 3012345...102030...Last »