BENTENG TERAKHIR PERLINDUNGAN ORANGUTAN, KILAS BALIK APE DEFENDER SEPANJANG 2025

Pagi di pusat rehabilitasi Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) dimulai jauh sebelum matahari benar-benar naik. Saat langit masih gelap dan berkabut, para babysitter telah berangkat menuju baby house untuk memberi susu dan membersihkan kandang lebih awal. Di gudang pakan, buah dan sayur disiapkan serta ditimbang satu per satu sesuai kebutuhan setiap individu orangutan. Tepat pukul delapan, anggota tim APE Defender berkumpul untuk briefing singkat membahas kondisi individu, rencana sekolah hutan, enrichment, serta pekerjaan kandang hari itu. Setelahnya, kandang dicuci, peralatan enrichment disiapkan, dan sebagian tim berangkat menuju lokasi sekolah hutan mengantar orangutan muda belajar kembali tentang dunia yang seharusnya mereka kenal sejak lahir.

APE Defender merupakan Tim yang menjalankan program rehabilitasi Orangutan Kalimantan di Centre for Orangutan Protection (COP). Secara fungsional, tim ini berperan sebagai benteng pertahanan terakhir bagi orangutan yang telah diselamatkan dari berbagai situasi ekstrem. Di tangan mereka, arah masa depan setiap individu orangutan dibentuk secara perlahan, hari demi hari, melalui keputusan-keputusan kecil yang tak pernah sepele. Dari rangkaian proses inilah muncul pertanyaan paling mendasar dalam rehabilitasi, apakah individu orangutan tersebut masih memiliki peluang untuk kembali hidup mandiri di alam liar, atau hanya mampu bertahan secara fisik tanpa kemungkinan untuk dilepasliarkan karena keterbatasan fisik maupun mental yang tertinggal dari masa lalunya.

Sepanjang tahun 2025, tercatat 25 individu orangutan menjalani proses rehabilitasi maupun pemulihan kesehatan aktif di pusat rehabilitasi BORA. Dari jumlah tersebut, lima individu merupakan kedatangan baru sepanjang tahun ini, yang masuk ke dalam program rehabilitasi dan pemulihan setelah diselamatkan dari zona interaksi negatif dengan manusia. Tiga di antaranya adalah bayi orangutan yang kehilangan induknya, yakni Felix, Pansy, dan Jack. Kehilangan figur induk di usia sangat dini membuat mereka membutuhkan pendampingan intensif untuk membangun kembali keterampilan dasar yang seharusnya diperoleh secara alami di alam.

Selain itu, terdapat Beti, individu betina dewasa yang telah dipelihara secara ilegal selama lebih dari dua dekade di Jawa Tengah. Proses penyelamatannya melibatkan translokasi lintas pulau, sebuah langkah kompleks yang menandai awal perjalanan panjang Beti untuk kembali mengenal kehidupan di luar ketergantungan manusia. Sementara itu, Surti merupakan individu liar yang diselamatkan di area pertambangan. Berbeda dengan individu lain, Surti tidak memerlukan rehabilitasi perilaku jangka panjang, melainkan pemulihan kondisi fisik sementara di BORA sebelum akhirnya dapat dikembalikan ke habitat alaminya.

Sepanjang 2025, bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, COP berhasil melepasliarkan tujuh individu orangutan yang sebelumnya menjalani rehabilitasi maupun pemulihan kesehatan di BORA. Lima individu di antaranya merupakan orangutan bekas peliharaan ilegal, yaitu Bonti, Jojo, Mary, Popi, dan Charlotte yang telah menjalani rehabilitasi selama beberapa tahun. Dua individu lainnya, Paluy dan Surti, merupakan orangutan liar yang diselamatkan dari zona interaksi negatif dan memerlukan perawatan sebelum dikembalikan ke alam.

Rehabilitasi orangutan bukan proses yang dramatis. Ia berjalan lambat, bertahun-tahun, dalam rutinitas yang nyaris tak pernah terlihat publik. Mengajari kembali cara memanjat dan membangun sarang. Mengasah insting mencari pakan alami. Memulihkan trauma akibat interaksi manusia yang terlalu dekat. Dan yang paling sulit, mengembalikan jarak antara orangutan dan magnesia, jarak yang justru menentukan keberhasilan rehabilitasi itu sendiri.

Di luar pusat rehabilitasi, APE Defender juga tidak bekerja sendirian. Sepanjang 2025, tim ini terlibat langsung bersama APE Crusader dalam berbagai aksi penyelamatan orangutan di lapangan bersama BKSDA Kalimantan Timur. Sekitar 52 individu orangutan berhasil diselamatkan dari zona konflik, pemeliharaan ilegal, dan kondisi darurat lainnya. Pada penghujung tahun 2025, dokter hewan dari tim APE Defender juga terlibat dalam proses pemulangan empat individu orangutan korban perdagangan satwa ilegal dari Thailand ke Sumatra.

Di balik seragam lapangan yang kerap dilumuri lumpur, para anggota APE Defender menjadi saksi perubahan-perubahan kecil yang menentukan. Tatapan yang perlahan tak lagi mencari manusia. Tangan-tangan yang mulai melepaskan pelukannya. Gerak yang kembali lincah tanpa arahan. Keberhasilan rehabilitasi berakar pada detail-detail sunyi seperti ini, yang jarang terlihat dunia, namun menentukan arah masa depan setiap individu.

Sepanjang 2025, rehabilitasi mengajarkan bahwa perubahan sejati jarang berlangsung cepat. Sebagian individu melangkah maju, sebagian lain masih harus menunggu. Memasuki 2026, pusat rehabilitasi tidak menawarkan janji besar, hanya komitmen yang sama seperti sebelumnya, untuk terus hadir hari demi hari, menjaga peluang agar setiap individu orangutan yang diselamatkan dapat menjalani kehidupan yang lebih baik. (RAF)

APE CRUSADER COP MENYONGSONG TAHUN 2026

Sepanjang tahun 2025, tim APE Crusader menjalani perjalanan yang panjang dan penuh dinamika, layaknya melintasi lintasan roller coaster dengan tanjakan dan turunan tajam di setiap jalurnya. Berbasis di Kecamatan Muara Wahau, wilayah strategis dengan tingkat konflik orangutan yang tinggi, tim ini berada di titik pertemuan antara ancaman dan harapan. Kedekatannya dengan area rilis orangutan serta calon lokasi rilis baru membuat APE Crusader hampir tak pernah berhenti bergerak.

Fokus utama tahun ini adalah penanganan dan perlindungan habitat orangutan. Tim melakukan patroli di wilayah sebaran habitat orangutan dan satwa liar lainnya, termasuk patroli kebakaran hutan dan lahan di kawasan BORA Labanan. Pendekatan kepada masyarakat juga terus dilakukan agar informasi mengenai keberadaan satwa liar dapat diperoleh secara akurat. Dari upaya ini, tim menerima laporan tentang pemeliharaan ilegal orangutan serta ditemukannya kura-kura baning di sekitar Kabupaten Kutai Timur.

APE Crusader bersama kelompok tani di Desa Sidobangen melakukan penanaman pohon sebagai usaha menjaga kawasan hidup satwa liar. Upaya panjang usaha pembangunan jembatan koridor satwa pada akhir November 2025 menjadi harapan satwa liar untuk selamat dari ramainya jalan poros Kalimantan tersebut.

Di sisi lain, konflik antara orangutan dengan manusia masih menjadi tantangan besar. Sepanjang tahun 2025, tim APE Crusader menangani 27 laporan keberadaan orangutan di sekitar aktivitas masyarakat dan perusahaan. Dari proses asesmen dan penyelamatan tersebut, sebanyak 52 individu orangutan berhasil diamankan dari habitat yang rusak, dengan sebagian besar kemudian ditranslokasi ke habitat yang lebih layak.

Tingginya intensitas konflik mendorong kebutuhan untuk memperkuat kapasitas tim rescue. Rencana pembentukan tim tambahan serta pengadaan ambulans menjadi langkah penting yang dinilai akan sangat membantu kerja APE Crusader di lapangan. Kondisi ini tidak terlepas dari laju kehilangan habitat yang masih tinggi akibat alih fungsi hutan oleh perusahaan dan atau masyarakat lokasi. Tidak mengherankan jika Kalimantan Timur tercatat sebagai salah satu provinsi dengan angka pembukaan lahan tertinggi pada tahun 2024 dan 2025.

Selain kerja lapangan, APE Crusader juga aktif membangun kesadaran publik. Berbagai kegiatan edukasi mulai dari school visit, campus visit, hingga advokasi dan kampanye lingkungan seperti acara Sound for Orangutan (SFO) di kota Samarinda. Kegiatan ini menjadi ruang untuk menyuarakan krisis lingkungan sekaligus menjalin dialog dengan komunitas lokal. Beasiswa untuk mahasiswa Universitas Mulawarman serta kesempatan magang di lokasi kerja Centre for Orangutan Protection di Kalimantan Timur juga menjadi usaha regenerasi dunia konservasi orangutan di Indonesia.

Menutup tahun 2025, APE Crusader menyadari bahwa perjalanan ini tidak mungkin dilalui sendirian. Kesempatan memaparkan hasil kerja lapangan pada Konferensi Wild Animal Rescue Network (WARN) di Thailand menjadi pengingat kerja tim yang ternyata tidak kecil. Proses panjang yang telah dilewati adalah kerja kolektif, penuh tantangan, namun sarat harapan. (FER)

DEA SEPANJANG 2025 HANYA UNTUK AMBON

2025 menjadi tahun yang didedikasikan sepenuhnya untuk merawat Ambon. Di tahun ini, ketika semua orangutan dan staf sudah berpindah ke BORA di Kampung Tasuk, Ambon bersama para trainer dan perawat satwa masih menetap. Suka dan duka berhasil terlewati dalam satu tahun tersebut. Kondisi yang lebih sunyi dibandingkan sebelumnya menjadi momentum untuk menemukan jalan agar tidak termakan kejenuhan.

Namun rintangan justru menghampiri, jaringan internet khusus bermasalah selama satu bulan penuh. Di saat inilah muncul ide mendokumentasikan proses pembuatan enrichment untuk Ambon. “Lumayan mengobati rasa bosan saat tidak ada jaringan, juga menjadi kebahagiaan tersendiri karena bisa memperlihatkan apa yang bisa kami kerjakan”, ujar Dea, animal keeper yang telah dua tahun di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance), Kalimantan Timur.

Ambon yang intensif menjalankan program training dengan tujuan membantu penurunan berat badan mulai menunjukkan hasil baiknya. Dari pengukuran biometrika, diketahui lingkar perut Ambon menyusut dari 168 cm menjadi 125 cm. Sayangnya kabar bahagia harus beriringan dengan kabar sedih lainnya. Tahun 2025 ditutup dengan adanya luka pada bagian skrotum Ambon, sehingga perlu dilakukan tindakan medis untuk menjahit luka tersebut. Dengan bantuan tim medis, Ambon berhasil melewati operasi dengan lancar.

Jika ditanya apa harapan di tahun 2026 untuk Ambon, semoga segera datang waktunya untuk menempati enclosure, serta harapan agar Ambon mampu beradaptasi saat sudah menempati enclosure. Untuk Ambon dan semua orangutan yang masih berada di BORA, semoga selalu dalam kondisi yang sehat. Tidak hanya orangutan, tapi juga semua staf yang bertugas, selalu dalam keadaan sehat dan bahagia. (DEA)

CATATAN AKHIR TAHUN 2025 APE GUARDIAN COP: ORANGUTAN, HUTAN, DAN HARAPAN MASA DEPAN

Di hulu sungai Busang, hutan masih berdiri sebagai rumah bagi orangutan dan beragam satwa liar lainnya. Di balik rimbun pepohonan dan kesunyian yang hanya dipecah oleh suara burung, tahun 2025 menjadi tahun penuh cerita tentang penyelamatan, penjagaan, dan harapan.

Sepanjang tahun ini, Hutan Lindung (HL) Gunung Batu Mesangat sebagai habitat orangutan Busang, kembali menerima tujuh individu orangutan hasil rehabilitasi. Setelah melalui perjalanan panjang. Mereka akhirnya kembali ke habitat alaminya. Salah satu di antaranya lebih dulu menjalani masa habituasi di Pulau Pra-Pelepasliaran Hagar, sebuah tahap penting untuk belajar kembali hidup liar sebelum benar-benar menjelajahi rumahnya.

Busang juga menjadi tempat aman bagi 20 orangutan hasil translokasi. Mereka dievakuasi dari lokasi konflik dan kawasan yang tidak lagi aman. Setiap proses translokasi bukan hanya soal memindahkan satwa, tetapi juga tentang memberi kesempatan kedua bagi orangutan untuk hidup dengan aman dan nyaman, serta bagi manusia untuk belajar hidup berdampingan dengan alam.

Namun, melepasliarkan orangutan saja tidak cukup. Hutan harus mampu menyediakan pakan dan perlindungan. Karena itu, tim lapangan menanam kembali pohon-pohon buah hutan sebagai sumber pakan alami. Patroli pengamanan kawasan dilakukan secara rutin menyusuri sungai dan jalur darat, sekaligus menjalankan mitigasi konflik untuk mengantisipasi interaksi negatif antara masyarakat dis editor kawasan dan orangutan.

Di sela-sela aktivitas tersebut, HL Gunung Batu Mesangat Busang menunjukkan tanda-tanda kehidupannya. Kamera jebak yang dipasang di dalam dan sekitar kawasan merekam momen langka, satu induk orangutan (Pongo pygmaeus) bersama anaknya turun ke lantai hutan. Sebuah pemandangan sederhana namun bermakna, seakan mengabari kami bahwa hutan di sini masih cukup aman untuk dijelajahi orangutan.

Malam hari diisi dengan kegiatan herping, yaitu mencari dan mengamati reptil serta amfibi di alam liar yang dilakukan dengan menyusuri lantai hutan yang kebab. Dari kegiatan ini, tim menemukan katak tanduk hidung panjang (Megophtys nasuta), salah satu satwa kecil yang menjadi indikator sehatnya ekosistem hutan. Sementara itu, langit dan tajuk pohon menjadi panggung bagi burung-burung hutan. Melalui kegiatan birdwatching, kami berhasil mendokumentasikan beberapa jenis burung dilindungi, seperti kangkareng hitam (Anthracoceros malayanus), kangkareng perut putih (Antracoceros albirostris) dan enggang klihingan (Anorrhinus galeritus).

Cerita Busang tidak hanya hidup di dalam hutan, tetapi juga dibawa ke ruang-ruang kelas sekolah. Sepanjang 2025, tim melakukan school visit ke beberapa sekolah di Busang, berbagi cerita tentang orangutan, satwa liar, dan pentingnya menjaga hutan. Dari sinilah harapan tumbuh untuk mencetak generasi yang peduli dan berani menjaga alamnya.

Cerita yang sama juga disampaikan di bangku perguruan tinggi melalui campus visit ke Universitas Mulawarman. Di sana, mahasiswa diajak terlibat dalam upaya konservasi satwa liar dan habitatnya, khususnya orangutan.

Meski demikian, tantangan masi nyata. Di luar kawasan pelepasliaran, ditemukan aktivitas tambang emas ilegal dan praktik pembalakan liar. Ancaman ini menjadi pengingat bahwa hutan Busang masih rapuh dan membutuhkan perlindungan bersama.

Dari pelepasliaran orangutan hingga suara anak-anak di ruang kelas, dari kamera jebak hingga diskusi di kampus, tahun 2025 menunjukkan bahwa konservasi bukan hanya tentang hutan dan satwa, tetapi juga tentang manusia dan masa depan yang diperjuangkannya. (PEY)

MENANAM HARAPAN DI HUTAN: CERITA PENANAMAN POHON BAYUR UNTUK ORANGUTAN

Hutan selalu punya cara menyambut siapa pun yang datang dengan niat baik. Begitu pula saat kami tiba di Kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat untuk menjalankan misi sederhana namun bermakna, yaitu menanam pohon bayur sebagai sumber pakan alami orangutan. Udara sejuk, suara burung berkicau, dan gemerisik dedaunan menyertai langkah pertama kami, seolah menjadi pembuka sebuah perjalanan kecil yang penuh harapan.

Perjalanan menuju lokasi tanam memang tidak selalu mulus. Ada kalanya sungai surut sehingga perahu harus ditarik, di lain waktu kami harus menembus hutan yang rapat. Capek? Iya. Namun justru di situlah letak serunya. Setibanya di lokasi, kami langsung berbagi peran, mulai dari menggali tanah, menata bibit bayur, hingga memastikan jarak tanam yang tepat. Setiap kali satu bibit berdiri tegak, ada rasa puas yang sulit dijelaskan, seperti menitipkan harapan baru bagi hutan.

Bayur bukan pohon sembarangan. Buahnya menjadi salah satu sumber pakan penting bagi satwa liar, termasuk orangutan. Batangnya kuat, dan keberadaannya membantu menjaga keseimbangan ekosistem serta kesehatan hutan secara keseluruhan.

Kegiatan ini bukan sekadar menanam pohon, tetapi juga menanam harapan. Harapan bahwa beberapa tahun ke depan, bayur-bayur ini akan tumbuh tinggi dan kokoh, menjadi tempat orangutan bergelantungan sekaligus menyediakan sumber makanan yang melimpah. Harapan agar hutan tetap hidup dan lestari, sehingga generasi mendatang masih dapat menyaksikan orangutan bebas berkeliaran di rumah alaminya.

Karena pada akhirnya, menanam pohon adalah cara paling sederhana, namun paling berarti untuk memberi kembali kepada alam. DI Gunung Batu Mesangat, setiap bayur yang ditanam membawa pesan yang jelas, hutan ini penting, orangutan ini berharga, dan masa depan mereka ditentukan oleh langkah kecil yang kita ambil hari ini. (Hasanah_Orangufriends)

SEMPIDAN BIRU, SANG PENJAGA KEANEKARAGAMAN HAYATI

Di bawah terik mentari yang sedang garang-garangnya, tim patroli APE Guardian berangkat dari pos monitoring menuju titik pelepasliaran Memo di sisi Sungai Hagar untuk melakukan patroli sekaligus pengambilan kamera jebak yang telah dipasang sebulan sebelumnya. Tak sampai 30 menit melaju, mesin perahu kami matikan. Salah satu ranger kemudian membatu mendayung sebentar hingga perahu berhasil menembus anak sungai yang cenderung sempit dan banyak terhalang dahan pohon tumbang di sepanjang tepian sungai.

Lokasi kamera jebak pertama yang kami datangi memiliki medan yang lebih ekstrem dibandingkan lokasi lainnya. Kami melewati area perbukitan dan sempat menyeberangi anak sungai dengan kedalaman kurang lebih sepinggang orang dewasa. Kamera jebak tersebut terpasang di sekitar pohon durian merah yang dalam bahasa Dayak Kenyah Lepoq Bem disebut buas dian bala. Harapannya, aroma durian merah dapat menarik berbagai satwa untuk mendekat dan terekam oleh kamera jebak.

Proses patroli berjalan lancar. Sesampainya kembali di pos, kami segera mengecek dengan harapan menemukan beragam jenis satwa. Beberapa satwa yang terekam di antaranya kancil, tikus bulan, berang-berang, serta satu individual orangutan betina yang sedang menggendong anaknya. Namun rekaman yang paling menarik perhatian saya adalah sepasang burung Sempidan Biru Kalimantan, jantan dan betina.

Burung Sempidan Biru jantan memiliki ukuran tubuh sekitar 65-70 cm, sedangkan betina sekitar 56-57 cm. Keduanya memiliki kulit muka berwarna biru. Jantan ditandai dengan jambul hitam dan bulu ekor berwarna putih kekuningan, sementara betina memiliki warna tubuh cokelat kusam tanpa jambul mencolok. Warna ini berfungsi sebagai kamuflase alami, terutama saat betina mengerami telur dan bersembunyi dari predator.

Burung yang masuk dalam kategori rentan ini menghadapi berbagai ancaman terhadap kelangsungan hidupnya, mulai dari deforestasi, perburuan liar, hingga perdagangan satwa ilegal akibat keindahan bulunya. Selain memakan biji-bijian, sempidan biru juga mengonsumsi buah-buahan hutan, serangga, cacing, dan hewan kecil lainnya. Aktivitas mencari makan tersebut membuat burung ini sering mengorek tanah, membantu proses penggemburan tanah, sekaligus berperan sebagai penyebar benih.

Peran ekologis inilah yang menjadikan burung sempidan biru Kalimantan sebagai salah satu penjaga pentingnya regenerasi hutan. Dengan bantuannya, hutan dapat terus memperbarui vegetasinya dan menjaga keanekaragaman hayati tetap lestari. (Hana_COP School Batch 15)

INFORMASI UNTUK KONSERVASI

Debu dan lubang di jalan poros Wahau-Berau, Kalimantan Timur menjadi saksi bisu perjalanan tim APE Crusader dalam menjalankan tugasnya. Pekerjaan ini bukan hanya tentang patroli atau operasi penyelamatan yang mengharuskan kami keluar-masuk hutan, tetapi juga tentang mengumpulkan informasi krusial dari masyarakat setempat. Banyak dari mereka membuka ladang di dekat hutan, rumah bagi orangutan.

Informasi mengenai interaksi negatif manusia-orangutan, pemeliharaan ilegal, serta berbagai kejadian terkait lainnya tidak luput dari perhatian kami. Tak jarang, bayi orangutan dipelihara sebagai hewan piaraan karena wajahnya yang lucu dan menggemaskan. Data dan cerita seperti ini sangat penting untuk pemetaan hotspot interaksi negatif, penyusunan program edukasi, hingga perencanaan operasi penyelamatan bersama BKSDA jika diperlukan.

Seperti biasa, saya memulai dengan mendatangi lokasi-lokasi yang disinyalir masih memiliki keberadaan individu orangutan. Bertamu ke rumah-rumah warga, duduk di teras, mengobrol ringan, hingga makan bersama orang-orang yang sebelumnya bahkan belum saya kenal. Awalnya suasana ramah. Namun begitu saya mulai melempar pertanyaan tentang konflik dengan orangutan, atmosfer langsung berubah. Tatapan mata menghindar, jawaban menjadi singkat dan kabur.

“Jarang lihat, Mas” atau “Sudah lama gak ada”.

Saya paham betul alasannya, takut. Takut dianggap terlibat, takut memicu konflik dengan tetangga, atau takut pada hukum yang tegas dalam perlindungan satwa liar.

Saat patroli, saya sering melihat di kebun sawit pohon-pohon muda yang rusak. Bukan buah sawitnya yang dimakan, melainkan umbut muda yang baru tumbuh – sumber makananbagi orangutan yang kelaparan karena habitatnya kian menyempit. Hutan yang dulu menyediakan beragam pakan kini berubah menjadi perkebunan monokultur dengan sangat sedikit pohon pakan alami.

Petani pun frustasi. Mata pencaharian mereka terancam. Beberapa kali saya menangkap cerita-cerita tersirat tentang orangutan yang “hilang”, mungkin diusir dengan parang atau bahkan sesuatu yang lebih buruk. Namun detil lokasi, waktu kejadian, maupun pelakunya hampir selalu disembunyikan atau benar-benar tidak diketahui. Budaya saling melindungi di desa-desa kecil membuat dinding informasi itu semakin tebal.

Ketika pertama kali turun ke lapangan, yang kami miliki hanyalah potongan-potongan cerita dan dugaan. Namun itulah realitas kerja lapangan. Bekerja dengan informasi setengah-setengah adalah hal yang biasa, sekaligus tantangan dan bagian paling menarik. Bagaimana kami menyusun kepingan-kepingan informasi itu menjadi sebuah puzzle, lalu merangkainya menjadi peta aksi yang valid untuk langkah konservasi orangutan.

Basah kuyup diguyur hujan, terjatuh dari motor saat melintasi jalan berlumpur, hingga tapir tersasar di tengah perkebunan kelapa sawit atau hutan rimba adalah risiko yang sudah biasa kami hadapi. Namun setiap kali teringat bahwa satu potong informasi dapat menyelamatkan satu nyawa orangutan, kami terus melangkah maju.

Di Kalimantan Timur, orangutan bukan sekadar satwa. Mereka adalah penjaga sekaligus petani hutan yang perannya sangat penting bagi keseimbangan bumi ini. (WIB)

JEJAK SUNYI, MENELISIK SATWA LIAR DI MALAM HARI

Malam itu, kabut menggantung rendah di antara pepohonan ketika tim APE Guardian melangkah masuk ke kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat. Berbekal headlamp, kamera, dan sepatu yang setia menemani perjalanan, kami kembali menyusuri hutan yang sudah akrab namun selalu menyimpan kejutan. Malam bukan sekedar waktu beristirahat bagi hutan, melainkan saat kehidupan lain perlahan menampakkan diri.

Kegiatan kali ini berfokus pada pengamatan reptil, amfibi, dan burung. Pada malam hari, banyak sekali burung sedang beristirahat sehingga lebih mudah diamati dan didokumentasikan. Kami berjalan perlahan menyusuri jalur setapak dan aliran anak sungai yang jernih, menoleh ke kanan dan kiri, berharap menemukan satwa yang bersembunyi di balik rimbun dedaunan. Suara serangga berpadu dengan gemerisik air, menciptakan suasana sunyi yang hidup. Setiap gerakan kecil kami amati dengan seksama, seolah menjadi petunjuk keberadaan makhluk malam yang kami cari.

Tak lama berselang, seekor Paok delima terbang melintasi saat tersorot cahaya headlamp. Kami segera mematikan lampu dan menunggu dengan sabar. Benar saja, burung itu kembali hinggap di sebuah ranting, memberi kami kesempatan untuk mendokumentasikannya. Beberapa langkah kemudian, suara ranger memanggil dari depan, “kini unsuwi”, dalam bahasa Dayak Kenyah yang berarti “ke sini ada burung”. Kami segera menghampiri dan di hadapan kami tampak seekor Seriwang asia bertengger tenang di atas liana. Burung ini jarang terlihat di siang hari, lebih sering melintas cepat dan menghilang di balik semak.

Perjalanan berlanjut menyusuri aliran sungai kecil yang menjadi rumah bagi katak dan ular. Dengan langkah pelan, kami menyusuri air dingin yang membasahi pinggang. Di tepian sungai yang sunyi, dua ekor katak bersahut-sahutan, suaranya lembut seperti nyanyian alam yang mengiring turunnya hujan malam. Suasana hutan terasa semakin rapat, seolah menyimpan rahasia yang belum sepenuhnya terungkap.

Tiba-tiba, langkah kami terhenti. Di balik anyaman akar pohon tua, tampak seekor ular kobra bersembunyi dalam diam. Anggun dan waspada, sisiknya yang gelap berkilau lembut terkena cahaya senter. Dalam momen itu, waktu seakan melambat. Kami terdiam sejenak, menyadari bahwa di hadapan kami berdiri salah satu penjaga sunyi hutan malam, hadir tanpa suara namun penuh wibawa. (LUT)

ORANGUTAN, DURIAN, DAN TUGAS APE GUARDIAN

Di kedalaman Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat yang masih berselimut kabut pagi, tim APE Guardian sudah siap dengan teropong-teropongnya dan buku catatan. Hari ini bukan hari biasa. Ini adalah puncak musim buah, dan aroma yang memenuhi udara tak lain adalah aroma durian. Sang raja buah sedang dicari oleh penghuni hutan, termasuk orangutan.

Di bawah langit hutan yang lembab, terekam satu individual orangutan betina tengah menggendong anaknya. Mata cokelatnya yang sayu tertuju pada sebuah durian yang tergeletak di tanah, buahnya sudah mulai merekah tanda matang. Bagi orangutan, durian adalah sumber energi yang luar biasa. Rasanya manis dan kaya nutrisi. Dengan jemari dan gigi yang kuat, ia membuka buah berduri tajam itu tanpa kesulitan, lalu dengan lap menikmati daging buah berwarna kuning mentega bersama buah hatinya.

Dari layar kamera, tim mengamati perilaku orangutan tersebut dengan sasana. Tugas kami sangat krusial bagi kelestarian primata ini. Setiap gerak-geriknya dicatat, mulai dari jenis pakan yang dimakan, titik koordinat, hingga lokasi tempat orangutan menikmati durian itu.

“Lihat itu, Lut”, bisik Igo sambil menunjuk ke pohon bayur di sebelah pohon durian. Di sana terlihat sebuah sarang orangutan yang diindikasikan sebagai sarang kelas 3, ditandai dengan daun-daunnya yang sudah layu. “Dia tidak akan pindah sebelum buah durian ini habis”, ujar Igo. Kami tersenyum samba mencatat koordinat dan mendokumentasikan sarang tersebut. “Itulah indahnya tugas kita. Dengan menjaga pohon durian ini, kita sebenarnya sedang menaga rumah dan masa depan orangutan”.

Di sekitar lokasi, kami menemukan lima buah durian yang sudah habis dimakan, jaraknya tidak jauh dari pohon induk. Orangutan adalah petani hutan. Ia berpindah dari satu dahan ke dahan lain, lalu menjatuhkan biji durian yang telah bersih dari daging buah ke lantai hutan. “Itu poin penting”, ujar kami memotret sisa kulit buah di bawah pohon. Tanpa orangutan, regenerasi pohon di area seluas ini akan berjalan sangat lambat. Dialah yang membawa dan menyebarkan benih durian untuk tumbuh dan kelak kembali menjadi sumber pakan.

Matahari mulai turun, menyisakan warna jingga di sela-sela dedaunan pohon menggerus yang menjulang tinggi. Tanda-tanda kehadiran satwa diurnal perlahan menghilang, dan kami pun berkemas. Tugas hari ini terasa berat, namun menemukan jejak kehadiran orangutan serta hasil foto dari kamera jebak memberi kepuasan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

“Besok kita kembali lagi. Kita pasang kamera di sini dan di pohon durian lainnya”, ujar salah satu dari kami. “Kami pastikan petani hutan ini bisa menyebarkan benihnya lebih jauh”. (LUT)

MENGENAL ORANGUTAN LEBIH DEKAT BERSAMA SDN 001 TASUK

Pada 9 Desember 2025 dalam rangkaian aksi Green Innovation Week (GROW) dari kelompok Rambu_etam.id dan tim APE Defender melaksanakan kegiatan edukasi orangutan di kantor Centre for Orangutan Protection yang berada di kampung Tasuk, Berau. Kegiatan ini ditujukan untuk siswa kelas 4 SDN 001 Tasuk sebagai upaya menanamkan kepedulian terhadap pelestarian orangutan sejak usia dini. Meski sederhana, edukasi seperti ini menjadi langkah penting dalam membangun generasi yang memahami dan mencintai satwa liar.

Acara dibuka dengan pemaparan materi mengenai orangutan dan peran penting konservasi, dipandu oleh drh. Rengga. Anak-anak mengikuti sesi ini dengan penuh antusias. Mereka aktif bertanya, berdiskusi, bahkan mampu membedakan antara kera dan monyet, pengetahuan dasar yang ternyata masih sering keliru di masyarakat umum.

Setelah penyampaian materi, siswa diajak mengikuti rangkaian aktivitas menarik seperti mewarnai, penanaman pohon, dan berbagai permainan outdoor. Kegiatan ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga membantu mereka memahami konsep konservasi melalui pengalaman langsung. Suasana ceria dan penuh energi tampak sepanjang acara.

Sebagai penutup, diadakan pameran kecil hasil mewarnai para siswa. Tiga karya terbaik dipilih sebagai bentuk apresiasi atas kreativitas dan semangat mereka. Menurut wali kelas yang mendampingi, dari 33 murid hanya dua yang berhalangan hadir, dan seluruh peserta pulang dengan wajah gembira serta pengalaman baru yang bermanfaat.

Tentunya kami berharap edukasi seperti ini dapat terus diperluas, menjangkau lebih banyak sekolah dan kelompok masyarakat. Menjaga kelestarian alam bukan hanya tanggung jawab pelaku konservasi, tetapi tugas bersama yang dimulai dari pengetahuan, kepedulian dan tindakan nyata. (TAT)