LEVEL UP: BAGUS GOES TO BAWAN ISLAND

Setelah bertahun-tahun menjalani program rehabilitasi dan menjadi murid sekolah hutan di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Bagus, individu orangutan betina yang pernah menjadi peliharaan ilegal dan sangat dekat dengan manusia, akhirnya naik level dengan pindah ke pulau pra-pelepasliaran di pulau Bawan. Kini Bagus semakin siap untuk kembali ke alam liar.

Di hari-hari pertamanya di pulau, Bagus tampak aktif mengekspor area hulu hingga tengah pulau, asyik memanjat dan bergelantungan di pepohonan rimbun, serta mencari pakan alami. Di sela-sela eksplorasinya, Bagus sesekali terlihat diam, seolah sedang merenung.
“Dia pasti kesepian dan bingung. Mungkin dia berpikir, Ini aku lagi sekolah hutan, tapi koq gak ada teman-teman yang lain” Koq gak ada yang panggil-panggil lagi untuk pulang ke kandang?”, ujar Ara, biologis COP yang ditugaskan untuk mengamati perkembangan Bagus selama minggu pertamanya di pulau.

Terkenal dengan sifatnya yang manja, saat tim monitoring datang untuk memberi pakan harian, Bagus buru-buru mendekat sambil mengeluarkan suara merengek, “I… i… i…”, sebagai tanda indin dipwluk dan digendong. Namun tim segera menjaga jarak agar Bagus belajar untuk lebih mandiri. Di hari-hari berikutnya, Bagus mulai mengerti dan tidak lagi mendekat sambil merengek.

Sempat diterpa hujan deras, Bagus tampak belum mampu memilih tempat untuk berteduh. Begitu pula ketika malam tiba, Bagus memilih tidur sambil memeluk batang pohon tanpa membuat sarang.

“Bagus tidurnya kayak panda.”, kata Ara.

Kemampuan membuat sarang merupakan salah satu indikator penting kesiapan individual orangutan untuk dilepasliarkan. Dilihat dari kebiasaan Bagus selama di BORA, Bagus sebenarnya cukup terampil membuat sarang, hanya saja ia melakukannya di tanah dan di lantai kandang, bukan di atas pohon.

“Gak apa-apa, nanti juga Bagus pelan-pelan belajar buat sarang di atas pohon”, sahut Amir, animal keeper yang telah mengenal Bagus sedari masuk BORA. Dia optimis, jika kini Bagus tidur tanpa sarang, jika saatnya perlu membuat sarang, Bagus tentu akan melakukannya.

Bagus masih memiliki waktu untuk terus mengasah keterampilan dan kemampuannya dalam bertahan hidup. Pelan tapi pasti, kami percaya Bagus akan berproses dan menunjukkan bahwa ia siap kembali ke habitat aslinya. And when the time comes, she will truly be the young, wild, and free orangutan she was meant to be! (SIN)

MUD, SLOPES, AND A SNAPPED ROPE

Fieldwork isn’t always about clean data and neat reports. Sometimes, it’s mud in your face, engines screaming on steep slopes, and figuring things out when everything falls apart. Recently, me and my partner spent a week assessing areas around coal mining sites and palm oil plantations. One motorcycle. Extreme muddy terrain. Brutal slopes. Not a single day without being completely covered in dirt.

On the very last day, our motorcycle broke down. Broken gear. Remote location. No signal. No tools. Just us and the silence of nowhere. After struggling to get reception, we finally reached the backup team who had just arrived from another town. With no proper equipment to fix the bike, we had improvised. Tied a rope from the car and towed the motorcycle 20 km to the nearest village.

Simple in theory. Terrifying in practice.

The road was full of potholes and steep descents. The car had to keep the perfect speed while the bike fought to stay balanced. Then gravity took over on a downhill stretch, the motorcycle almost slammed into the car. My partner braked, the rope tangled under the wheel, and snapped.

That moment was a reminder that fieldwork is never “just fieldwork”. It test your wit, resilience, and teamwork in real time. We slowed down, coordinated through walkie-talkie, and carefully finished the 20 km journey. Rough? Absolutely. Worth it? Every single time. (DIM)

KETIKA LAPANGAN MENGUJI KAMI

Kerja lapangan tidak selalu soal data rapi dan laporan yang tersusun manis. Beberapa waktu lalu, saya dan satu rekan kerja melakukan assesmen di sekitar area tambang batubara dan perkebunan sawit. Dengan satu motor, jalur berlumpur tanpa akhir dan tanjakan ekstrem yang setiap hari menguji keseimbangan dan kesabaran. Tidak ada satu hari pun, kami tidak dipenuhi debu dan lumpur. Sampai di hari terakhir, rasa lelah sudah terasa dan motor kami akhirnya menyerah. Gigi rusak. Lokasi terpencil. Sinyal nyaris tidak ada. Tanpa alat. Hanya kami dan kenyataan bahwa ini tidak akan mudah.

Setelah susah payah mencari sinyal, kami berhasil menghubungi Tim backup yang baru tiba dari kota lain. Tanpa peralatan yang memadai, kami harus berimprovisasi dengan mengikatkan tali dari mobil untuk menarik motor sejauh 20 kilometer ke desa terdekat. Terdengar sederhana. Kenyataannya tidak. Jalan penuh lubang dan turunan curam. Di salah satu turunan, motor melaju terlalu cepat mendekati mobil. Pengendara motor pun panik, menarik rem, dan tali sempat terlilit sebelum akhirnya putus. Dalam hitungan detik, kami sadar betapa cepat situasi bisa berubah menjadi berbahaya.

Momen ini jadi pengingat bahwa kerja lapangan bukan sekedar kerja lapangan. Ia menguji kecerdikan, ketahanan, dan kerja sama tim secara nyata. Setelah itu kami melaju lebih pelan, berkomunikasi lewat HT, dan akhirnya menyelesaikan 20 km itu dengan aman. Berat dan penuh tantangan? Selalu. Tapi justru di perjalanan seperti itulah kita belajar seberapa kuat sebenarnya tim kita. (DIM)

THREE IN ONE JOB

Tidak terasa, genap sudah satu bulan saya mengeksplorasi keindahan lanskap hutan di Busang. Mewakili tim APE Guardian bertepatan dengan libur perayaan Natal di akhir Desember 2026, yang mana sebagian staf APE Defender di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) mengambil cuti hari raya dan membutuhkan tenaga tambahan, saya diminta untuk bergeser ke BORA selama satu bulan ke depan.

Selama di sana, bukan hanya penalaan dan wawasan yang bertambah, tetapi juga lingkar pertemanan saya semakin meluas. Saya mendapat kesempatan untuk menjajal berbagai bagian pekerjaan dan bekerja bersama teman-teman yang hebat.

Beberapa hari pertama di BORA, saya berkesempatan membawa orangutan ke sekolah hutan. Ditemani Faradiva sebagai pendamping di hari pertama, saya belajar cara membawa orangutan ke sekolah hutan, cara mengamati, serta mencatat perilaku dan karakter setiap individual yang beragam. Beberapa hari pertama memang cukup menantang bagi saya untuk menghafal nama dan ciri-ciri fisik masing-masing orangutan, terlebih ketika ukuran tubuh mereka tampak mirip.

Setelah beberapa hari mengikuti kegiatan sekolah hutan, pada minggu berikutnya saya berkesempatan menjadi bagian dari tim teknisi yang didampingi oleh Bang Jevri. Kami datang lebih awal untuk menguapkan pakan orangutan dengan takaran yang berbeda untuk setiap individual. Selain menyiapkan pakan pagi, siang, dan sore, kami juga mempersiapkan alat serta bahan untuk kebutuhan enrichment masing-masing orangutan pada pagi dan sore hari.

Memasuki minggu terakhir di BORA, saya berkesempatan menjadi babysitter bagi beberapa orangutan yang masih memerlukan perhatian ekstra. Di dampingi oleh babysitter Gita, saya belajar menyiapkan pakan, meracik susu dengan takaran yang berbeda untuk setiap individual, memberikan enrichment, serta membawa mereka ke sekolah hutan. Menjadi babysitter menurut saya cukup menantang, mengingat mereka masih sangat bergantung pada kehadiran manusia. Selain itu, tubuh mungil mereka juga cukup sulit untuk terus terpantau ketika sudah memanjat pohon yang tinggi saat sekolah hutan.

Menjadi relawan di BORA membuat saya semakin mengenal pribadi teman-teman yang menyenangkan serta belajar banyak hal baru yang sebelumnya, belum pernah saya coba (Hana_COPSchool15)

KAMERA JEBAK: ALAT BANTU MONITORING ORANGUTAN DI KAWASAN PELEPASLIARAN HUTAN LINDUNG GUNUNG BATU MESANGAT

Kamera jebak atau camera trap merupakan perangkat kamera otomatis yang dilengkapi sensor gerak atau panas (inframerah) untuk mengambil foto atau video satwa liar tanpa kehadiran manusia. Penggunaan kamera jebak dalam dunia konservasi lazim dilakukan untuk pemantauan populasi, perilaku, dan keanekaragaman hayati di habitat alaminya.

Akhir Desember 2025 menjadi musim puncak berbuah lahung atau durian merah (Durio dulcis) di kawasan pelepasliaran Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat. Lahung memiliki karakteristik kulit buah berwarna merah dengan duri panjang dan tajam, serta daging buah yang manis. Buah yang telah matang akan jatuh dari pohon dan aromanya yang menyengat sering kali menarik beragam satwa frugivora untuk berdatangan.

Tanpa menyia-nyiakan momentum musim berbuah tersebut, tim APE Guardian menelusuri rimbunnya hutan lindung untuk memasang kamera jebak, dengan harapan dapat mengetahui satwa apa saja yang singgah di bawah pohon lahung.

Satu bulan setelah kamera terpasang, tibalah waktunya untuk mengambil dan memeriksa hasil rekaman. Dari empat kamera yang dipasang, salah satunya berhasil merekam momen yang sangat spesial. Dua individu orangutan, satu jantan dan satu betina, terekam sedang mengambil buah lahung yang terjatuh untuk dimakan. Keduanya kemudian teridentifikasi sebagai Berani (jantan) dan Charlotte (betina), orangutan yang pernah direhabilitasi di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance).

Charlotte yang baru dilepasliarkan kurang dari dua bulan sebelumnya, menunjukkan tren positif karena telah menjelajah sejauh 3 km dari lokasi terakhir ia terdeteksi hingga ke titip berpasangnya kamera. Perjumpaan Berani dan Charlotte mengindikasikan perkembangan yang baik pasca-pelepasliaran, sekaligus membuka peluang interaksi sosial yang berpotensi mendukung reproduksi di alam. Selain orangutan, beberapa satwa lain turut terekam, seperti landak, kijang, beruang madu, dan pelanduk. Penggunaan kamera jebak sangat membantu tim lapangan dalam monitoring orangutan dan satwa lainnya. (YUS)

19 TAHUN COP DI DUNIA KONSERVASI ORANGUTAN

Semangat kolaborasi lintas sektor terasa kuat dalam peringatan Hari Ulang Tahun ke-19 Centre for Orangutan Protection (COP) yang digelar di Camp APE Warrior COP di Jogjakarta. “Protecting the Orangutan and Beyond” menjadikan spesies Orangutan sebagai pintu masuk perlindungan satwa liar dan dan penguatan respons terhadap kejahatan serta bencana ekologis yang berdampak pada satwa, adalah sebuah momentum refleksi perjalanan panjang sekaligus penguatan komitmen bersama menghadapi tantangan konservasi ke depan.

Acara ini dihadiri oleh bapak Tutut Heri Wibowo sebagai Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi, bapak Ardi Andono sebagai Kepala Balai TN Ujung Kulon, perwakilan dari Balai KSDA Yogyakarta, Gakkum Wilayah Yogyakarta, Badan Nasional Daerah (BPBD) Sleman, Dinas Pertanian dan Pangan Sleman, Puskewan Sleman, Perangkat Desa setempat, Orangufriends Jogja, berbagai komunitas dan lembaga konservasi di Yogyakarta, Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta, dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Direktur COP, Daniek Hindarto dalam sambutannya menegaskan, bahwa usia 19 tahun adalah waktu untuk memperkuat konsistensi gerakan, bukan sekedar merayakan capaian. “Srmbilan belas tahun adalah perjalanan panjang yang ditempuh dengan komitmen dan kolaborasi. Kami percaya, perlindungan satwa liar tidak bisa dilakukan sendiri. Butuh keberanian untuk bersinergi, membuka ruang dialog, dan bergerak bersama”, ujar Daniek.

Ia juga menambahkan bahwa tantangan ke depan semakin kompleks, mulai dari perdagangan ilegal satwa, perburuan, hingga dampak krisis iklim dan bencana terhadap habitat. “COP akan terus berdiri di garis depan untuk mendukung upaya penyelamatan satwa dan memperkuat jejaring dengan pemerintah, aparat penegak hukum, akademisi, dan masyarakat. Konservasi adalah kerja jangka panjang dan hari ini kita menegaskan kembali komitmen itu”, tambahnya.

Dalam momentum istimewa ini, COP menganugerahkan Setia Bhakti Award 2026 kepada 14 staf yang dinilai menunjukkan loyalitas, integritas, dan dedikasi tinggi dalam mendukung misi organisasi. Penghargaan ini menjadi simbol bahwa kerja-kerja konservasi adalah hasil dari dedikasi tim yang solid dan penuh komitmen. Selain itu, COP juga memberikan Orangufriends Award 2026 kepada lima tokoh yang secara konsisten mendukung gerakan konservasi, yaitu Kylie Bullo – Conservation Project Manager di The Orangutan Project, Peter Pratje – Program Manager di Frankfurt Zoological Society, Sudomo Mergonoto – CEO PT Kapal Api Global, Ardi Ardono – Kepala Balai TN Ujung Kulon, serta Danang Anggoro – Dosen dan Peneliti di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Kelima tokoh ini merupakan bagian penting dari jejaring Orangufriends dan memiliki peran signifikan dalam dunia konservasi. Penghargaan ini menjadi bentuk penghormatan atas kontribusi nyata mereka dalam memperkuat advokasi, edukasi, serta dukungan moral bagi upaya perlindungan satwa liar.

Melalui peringatan ini COP menegaskan kembali komitmennya untuk terus menjadi bagian dari gerakan kolektif perlindungan satwa liar di Indonesia. Kolaborasi adalah kunci, karena menjaga alam dan satwa liar bukan hanya kewajiban satu lembaga, melainkan tanggung jawab bersama. (DIT)

KETIKA TANGAN-TANGAN PENYEMBUH MENANAM AKAR-AKAR KEHIDUPAN

Matahari siang di Berau menggantung terik di atas kanopi, memerangkap udara lembap yang terasa berat di kulit. Keringat mengalir lebih cepat daripada angin yang berembus pelan dari tepi hutan. Di tengah panas yang menyengat itu, tim medis pusat rehabilitasi orangutan Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA), yang dikelola oleh Centre for Orangutan Protection (COP) di Berau, Kalimantan Timur, untuk sementara meninggalkan ruang klinik mereka. Terdiri dari dua dokter hewan, Rengga dan Atalla, serta Tata, paramedis satwa, siang itu mereka tak lagi berdiri di balik meja periksa, melainkan ikut berlutut di atas tanah dalam kegiatan rutin bertajuk “Jumat Menanam”.

Biasanya, tangan-tangan itu menggenggam stetoskop, menyuntikkan obat, atau memeriksa denyut nadi orangutan yang tengah dipulihkan. Namun kali ini yang mereka bawa adalah dodos untuk melubangi tanah, ember untuk membawa air, dan bibit pohon yang akarnya masih terbungkus polybag. Seragam medis yang identik dengan aroma antiseptik kini bermain di tanah, menyatu dengan lanskap kawasan yang kelak menjadi ruang belajar bagi bayi-bayi orangutan yang mereka rawat.

Di BORA, pelestarian lingkungan tidak dibatasi oleh jabatan atau latar belakang pendidikan. “Jumat Menanam” mempertemukan seluruh staf, mulai dari dokter hewan, animal keeper, tim development, hingga manajemen, dalam satu tujuan yang sama: meningkatkan kualitas ekosistem di dalam kawasan BORA. Semangat gotong royong yang diusung COP menemukan wujud konkretnya pada kegiatan ini. Setiap individu, apa pun jabatannya, turut mengambil bagian yang sama dalam kegiatan penanaman pohon.

Bagi tim medis, menanam pohon menjadi pengalaman bentuk lain dari penyembuhan. Jika di klinik mereka merawat tubuh yang terluka, di sini mereka menyiapkan masa depan yang lebih utuh. Bibit-bibit pohon yang mereka tanam hari itu akan tumbuh menjadi penopang kehidupan, bagi orangutan di BORA, satwa liar lain, manusia yang tinggal di sekitarnya, hingga berbagai bentuk kehidupan yang lebih luas lagi. Di bawah terik Berau yang tak kenal ampun, akar-akar kecil itu ditanam bukan sekadar ke dalam tanah, melainkan ke dalam harapan: bahwa konservasi adalah kerja bersama, dan setiap tangan memiliki peran dalam menjaga agar bumi ini tetap mampu menopang banyak kehidupan. (RAF)

HARAPI, SI MATA KECIL

Pertama kali mengenal Harapi pada tanggal 4 Juli 2025, saat hari pertama ku bekerja di Pusat Rehabilitasi Orangutan dan menggendongnya, “ternyata orangutan sebau ini”. Saat itu, Harapi masih takut untuk memulai sekolah hutannya, ia tidak ingin bersosialisasi dengan orangutan lainnya, hanya diam sembari memeluk diriku hingga baby sitter Janet membantuku untuk membujuk Harapi agar mau bersosialisasi dengan orangutan lainnya tetapi tidak berhasil. Akhirnya Harapi hanya diam di belakang badanku, bersembunyi sembari mengamati orangutan lainnya hingga jam sekolah hutan berakhir.

Hobi Harapi alah makan dan makan, bahkan ketika kehadirannya di sekolah hutan hanya sekedar absen dan disi dengan aktivitas makan. Suatu hari, Harapi tidak mengikuti sekolah hutan karena ia teramati sedang tidak enak badan bahkan si hobi makan ini teramati hanya memakan sedikit saja jatahnya.

Dokter Tyta: Nop, Harapi kasih makan kesukaannya aja dulu, supaya dia mau makan, gak usah sekolah dulu ya.

Nopi: Oke dok.

Setelah menjawab perintah dokter Tyta, aku menceritakannya dengan mba Rara. Mba Rara memberitahuku apa saja makanan kesukaan Harapi.

Nopi: Dok, ini Harapi udah mau makan lagi dan juga selit-sedikit mau beraktivitas seperti biasa dok.

Dokter Tyta: Syukurlah kalau dia mau makan, makasih ya Nop.

Terdengar suara celutukan dengan nada candaan.

Mba Indah: Aahhh pura-pura aja Harapi itu gak mau makan, biar gak sekolah hutan.

Nopi: Iya, kayaknya dia bohong biar bolos sekolah.

Di hari itu, Harapi tidak sekolah hutan dan menghabiskannya dengan makan-tidur untuk mengistirahatkan badannya hingga jam makan siang datang.

Harapi mempunyai teman yang aku sebut dengan sahabat kandang yaitu Arto. Harapi yang tingkahnya selalu lemot atau lamban menjadikan makanannya selalu diambil oleh Arto. Sementara respon Harapi hanya cuek dan tidak berusaha melawan atau menghindar dari Arto. Arto yang kebiasaannya makan dengan cepat dan terburu-buru selalu mempunyai cara untuk merebut makanan Harapi. Dari kebiasaan Arto, kami para baby sitter selalu mengajarkan Harapi agar pelit dan harus bisa mempertahankan haknya. “Ayo Harapi, pertahankan yang sudah jadi milikmu dan yang baik untukmu, jangan berdiam diri karena hakmu diambil atau dirampas orang lain!”. (NOP)

MERAWAT SETIAP LANGKAH ORANGUTAN AMAN

Aman sudah bersama kami sejak Juni 2020. Ia tiba di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) dalam kondisi yang membuat dada terasa sesak hanya dengan melihatnya. Cara jalannya aneh dan pelas, seolah setiap langkah harus dipikirkan lebih dulu. Beberapa jemari tangannya sudah teramputasi, meninggalkan bentuk yang tidak utuh pada tangannya. Tidak ada yang tahu pasti apa yang ia lalui sebelum tiba di sini. Luka-luka di tubuhnya menjadi satu-satunya petunjuk tentang masa lalunya.

Saat dilakukan pemeriksaan menyeluruh menggunakan rontgen, kami menemukan masalah yang selama ini ia simpan dalam diam. Pinggulnya tidak normal. Kepala tulang pahanya tidak terbentuk sebagaimana mestinya, sehingga pertautan antara panggul dan paha hampir pasti menimbulkan nyeri setiap kali ia bergerak. Dengan jari tangan yang tidak utuh dan kaki yang juga bermasalah, pergerakan Aman menjadi lambat dan tertatih. Ia sering berhenti sejenak, mungkin karena lelah, mungkin karena rasa sakit yang datang tiba-tiba.

Kini Aman beranjak menjadi orangutan jantan berusia sekitar 12 tahun. Rehabilitasi Aman tidak hanya berfokus pada penguasaan keterampilan bertahan hidup di alam, seperti memanjat, mengenali pakan, dan membuat sarang. Lebih dari itu, rehabilitasi juga bertujuan memastikan kondisi yang Aman alami tidak semakin parah, serta terus mengupayakan kesembuhannya. Setiap langkah perawatan dibuat dengan mempertimbangkan kualitas hidup Aman, baik saat ini maupun di masa depan.

Untuk mengurangi nyeri, selain terapi obat, kami menyesuaikan banyak aspek perawatannya. Pakan yang diberikan merupakan pakan pilihan yang mendukung regenerasi jaringan, tinggi kolagen, serta mengandung vitamin dan mineral tertentu. Kami juga berusaha memberikan rimpang herbal yang dapat membantu pemulihan tubuhnya.

Selama sekolah hutan, pergerakan Aman diamati secara khusus. Setiap hari kami mengumpulkan rekaman video saat Aman memanjat, berjalan, berayun, menggulingkan diri, hingga cara ia duduk dan berapa lama ia mampu mempertahankan posisi tersebut. Video-video ini kemudian dikonsultasikan dengan ahli biolokomosi agar setiap perubahan kecil pada pola geraknya dapat dipahami dan ditangani dengan tepat.

Kadang istirahat Aman pun dibuat lebih khusus. Tali-temali ditambahkan lebih banyak untuk memudahkannya bergerak dan memberi ruang agar ia tetap aktif tanpa harus memaksakan tubuhnya. Aman tumbuh dengan keterbatasan yang tidak ia pilih. Setiap langkah kecil yang ia ambil menunjukkan keteguhan yang luar biasa. Di BORA, kami berusaha memastikan langkah-langkah itu terasa lebih ringan, lebih aman, dan penuh harapan. (THA)

DI ANTARA BIBIT YANG TUMBUH DAN YANG HILANG: HARAPAN DAN PELAJARAN

Pada 21-25 Januari 2026, tim APE Crusader bersama Kelompok Tani Makmur Jaya Kampung Sidobangen kembali turun ke lapangan. Kali ini, mereka melanjutkan upaya penanaman di area penyangga Hutan Lindung Sungai Lesan (HLSL), tepatnya di sekitar sempadan Sungai Lesan. Kegiatan ini merupakan penanaman tahap keempat dengan total 500 bibit tanaman.

Bibit yang ditanam terdiri dari 200 bibit mangga, 150 rambutan, 50 jambu bol, dan 100 ara. Jenis-jenis ini dipilih karena diharapkan dapat memberi manfaat jangka panjang, baik bagi satwa liar maupun masyarakat sekitar kawasan hutan.

Selain penanaman, tim dan kelompok tani juga melakukan perawatan terhadap bibit yang telah ditanam pada tahap-tahap sebelumnya. Pengecekan dilakukan dengan membersihkan area sekitar tanaman, memastikan bibit tidak tertutup semak atau gulma yang dapat menghambat pertumbuhannya.

Namun dari hasil perawatan dan evaluasi lapangan, diketahui sekitar 50 persen tanaman telah hilang atau mati. Beberapa faktor menjadi penyebabnya. Sebagian tanaman berada di area hutan dengan kanopi yang sangat lebat, sehingga tertutup daun, ranting, atau bahkan tertimpa pohon yang roboh. Di beberapa titik, lokasi tanam berada di tebing yang membuat bibit lebih rentan tertimpa dedaunan dan pepohonan.

Aktivitas manusia juga mempengaruhi keberlangsungan tanaman. Penebangan pohon menyebabkan perubahan vegetasi hutan yang cukup drastis. Selain itu, di beberapa lokasi, area tanam berubah karena adanya aktivitas penanaman oleh warga, baik untuk padi maupun kelapa sawit.

Berbagai temuan ini menjadi pelajaran penting bagi tim untuk penanaman berikutnya, agar strategi yang diterapkan bisa lebih efektif dan sesuai dengan kondisi lapangan. Meski demikian, tidak semua hasilnya suram. Sejumlah tanaman justru tumbuh dengan baik dan sudah mencapai ketinggian yang menjanjikan. Bibit-bibit inilah yang menjadi penanda keberhasilan dan alasan bagi tim untuk tetap optimis bahwa upaya kecil di tepian Sungai Lesan ini kelak akan memberi manfaat, khususnya bagi satwa, dan pada akhirnya juga bagi manusia. (HUS)

AMAN SUDAH AMAN

Sudah seminggu Aman menjalani perawatan medis. Kali ini, bukan masalah tulang dan persendian seperti biasanya. Tubuhnya lemas, perutnya menggembung dan bersuara “dungg.. dungg”, menandakan adanya gangguan pada sistem pencernaannya.

Tim medis BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) dibantu para animal keeper, bergantian merawat Aman. Dari pagi hingga pagi berikutnya, Aman tidak lepas dari pengawasan tim medis dan animal keeper. Perlahan, kondisinya mulai membaik. Hingga pada hari ke-8, Aman kembali ke lokasi sekolah hutan, meskipun waktu dan interaksi sosialnya dengan orangutan lain masih dibatasi. Pembatan ini dilakukan untuk menghindari benturan yang tidak diinginkan, seperti saat bergulat dengan orangutan lain.

Pada awal kembali mengikuti sekolah hutan, Aman masih terlihat lemas. Lokomosi dilakukannya dengan perlahan. Sesekali, ia terdiam dan mengejan untuk defekasi serta urinasi. Meski demikian, semangat untuk pulih tetap terlihat. Pada hari berikutnya, Aman mulai memanjat pohon dan menemukan buah untuk dimakan.

Pagi selanjutnya, Aman kembali mengikuti sekolah hutan pada jam dan lokasi yang telah ditentukan. Tidak lebih dari lima menit, Aman sudah memanjat. Meskipun pergerakannya tidak selincah orangutan lain, Aman mampu memilih ranting yang paling mudah dijangkau tubuhnya. Hal ini terlihat dari caranya berhenti sejenak dan mengamati sebelum berpindah.

“Senang bawa Aman sekarang, dia di atas pohon terus. Kalau ada temannya, mana mau dia memanjat begini, pasti sibuk bergulat. Kalau bergulat sih tidak jadi masalah. Tapi kalau pelan-pelan berjalan ke kandang atau mengganggu animal keeper perempuan, itu yang bikin capek”, ujar Steven, animal keeper yang membawa Aman sekolah hutan pagi ini.

Pembatasan interaksi sosial dengan orangutan lain justru membuat aktivitas Aman di atas pohon meningkat. Ia juga aktif mencari dan mengonsumsi pakan. Seolah melupakan kondisi lemahnya beberapa hari sebelumnya, Aman menunjukkan kebugaran yang berbeda hari ini. Teramati beberapa kali ia berpindah pohon dan akhirnya berhenti di pohon Artocarpus sp. Untuk memakan buah ranum. Hingga namanya berkali-kali dipanggil, menamakan waktu sekolah hutan telah usai.

“Dua sampai tiga hari lagi obatnya habis. Kalau tidak terlihat keluhan lain, Aman bisa diikutkan sekolah hutan normal seperti biasanya”, ujar Wardiman, dokter hewan BORA, setelah mengetahui alasan keterlambatan Aman pulang.

Baru kali ini, keterlibatan pulang ke kandang membuat kami gembira. (ARA)