MERAWAT SETIAP LANGKAH ORANGUTAN AMAN

Aman sudah bersama kami sejak Juni 2020. Ia tiba di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) dalam kondisi yang membuat dada terasa sesak hanya dengan melihatnya. Cara jalannya aneh dan pelas, seolah setiap langkah harus dipikirkan lebih dulu. Beberapa jemari tangannya sudah teramputasi, meninggalkan bentuk yang tidak utuh pada tangannya. Tidak ada yang tahu pasti apa yang ia lalui sebelum tiba di sini. Luka-luka di tubuhnya menjadi satu-satunya petunjuk tentang masa lalunya.

Saat dilakukan pemeriksaan menyeluruh menggunakan rontgen, kami menemukan masalah yang selama ini ia simpan dalam diam. Pinggulnya tidak normal. Kepala tulang pahanya tidak terbentuk sebagaimana mestinya, sehingga pertautan antara panggul dan paha hampir pasti menimbulkan nyeri setiap kali ia bergerak. Dengan jari tangan yang tidak utuh dan kaki yang juga bermasalah, pergerakan Aman menjadi lambat dan tertatih. Ia sering berhenti sejenak, mungkin karena lelah, mungkin karena rasa sakit yang datang tiba-tiba.

Kini Aman beranjak menjadi orangutan jantan berusia sekitar 12 tahun. Rehabilitasi Aman tidak hanya berfokus pada penguasaan keterampilan bertahan hidup di alam, seperti memanjat, mengenali pakan, dan membuat sarang. Lebih dari itu, rehabilitasi juga bertujuan memastikan kondisi yang Aman alami tidak semakin parah, serta terus mengupayakan kesembuhannya. Setiap langkah perawatan dibuat dengan mempertimbangkan kualitas hidup Aman, baik saat ini maupun di masa depan.

Untuk mengurangi nyeri, selain terapi obat, kami menyesuaikan banyak aspek perawatannya. Pakan yang diberikan merupakan pakan pilihan yang mendukung regenerasi jaringan, tinggi kolagen, serta mengandung vitamin dan mineral tertentu. Kami juga berusaha memberikan rimpang herbal yang dapat membantu pemulihan tubuhnya.

Selama sekolah hutan, pergerakan Aman diamati secara khusus. Setiap hari kami mengumpulkan rekaman video saat Aman memanjat, berjalan, berayun, menggulingkan diri, hingga cara ia duduk dan berapa lama ia mampu mempertahankan posisi tersebut. Video-video ini kemudian dikonsultasikan dengan ahli biolokomosi agar setiap perubahan kecil pada pola geraknya dapat dipahami dan ditangani dengan tepat.

Kadang istirahat Aman pun dibuat lebih khusus. Tali-temali ditambahkan lebih banyak untuk memudahkannya bergerak dan memberi ruang agar ia tetap aktif tanpa harus memaksakan tubuhnya. Aman tumbuh dengan keterbatasan yang tidak ia pilih. Setiap langkah kecil yang ia ambil menunjukkan keteguhan yang luar biasa. Di BORA, kami berusaha memastikan langkah-langkah itu terasa lebih ringan, lebih aman, dan penuh harapan. (THA)

DI ANTARA BIBIT YANG TUMBUH DAN YANG HILANG: HARAPAN DAN PELAJARAN

Pada 21-25 Januari 2026, tim APE Crusader bersama Kelompok Tani Makmur Jaya Kampung Sidobangen kembali turun ke lapangan. Kali ini, mereka melanjutkan upaya penanaman di area penyangga Hutan Lindung Sungai Lesan (HLSL), tepatnya di sekitar sempadan Sungai Lesan. Kegiatan ini merupakan penanaman tahap keempat dengan total 500 bibit tanaman.

Bibit yang ditanam terdiri dari 200 bibit mangga, 150 rambutan, 50 jambu bol, dan 100 ara. Jenis-jenis ini dipilih karena diharapkan dapat memberi manfaat jangka panjang, baik bagi satwa liar maupun masyarakat sekitar kawasan hutan.

Selain penanaman, tim dan kelompok tani juga melakukan perawatan terhadap bibit yang telah ditanam pada tahap-tahap sebelumnya. Pengecekan dilakukan dengan membersihkan area sekitar tanaman, memastikan bibit tidak tertutup semak atau gulma yang dapat menghambat pertumbuhannya.

Namun dari hasil perawatan dan evaluasi lapangan, diketahui sekitar 50 persen tanaman telah hilang atau mati. Beberapa faktor menjadi penyebabnya. Sebagian tanaman berada di area hutan dengan kanopi yang sangat lebat, sehingga tertutup daun, ranting, atau bahkan tertimpa pohon yang roboh. Di beberapa titik, lokasi tanam berada di tebing yang membuat bibit lebih rentan tertimpa dedaunan dan pepohonan.

Aktivitas manusia juga mempengaruhi keberlangsungan tanaman. Penebangan pohon menyebabkan perubahan vegetasi hutan yang cukup drastis. Selain itu, di beberapa lokasi, area tanam berubah karena adanya aktivitas penanaman oleh warga, baik untuk padi maupun kelapa sawit.

Berbagai temuan ini menjadi pelajaran penting bagi tim untuk penanaman berikutnya, agar strategi yang diterapkan bisa lebih efektif dan sesuai dengan kondisi lapangan. Meski demikian, tidak semua hasilnya suram. Sejumlah tanaman justru tumbuh dengan baik dan sudah mencapai ketinggian yang menjanjikan. Bibit-bibit inilah yang menjadi penanda keberhasilan dan alasan bagi tim untuk tetap optimis bahwa upaya kecil di tepian Sungai Lesan ini kelak akan memberi manfaat, khususnya bagi satwa, dan pada akhirnya juga bagi manusia. (HUS)

AMAN SUDAH AMAN

Sudah seminggu Aman menjalani perawatan medis. Kali ini, bukan masalah tulang dan persendian seperti biasanya. Tubuhnya lemas, perutnya menggembung dan bersuara “dungg.. dungg”, menandakan adanya gangguan pada sistem pencernaannya.

Tim medis BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) dibantu para animal keeper, bergantian merawat Aman. Dari pagi hingga pagi berikutnya, Aman tidak lepas dari pengawasan tim medis dan animal keeper. Perlahan, kondisinya mulai membaik. Hingga pada hari ke-8, Aman kembali ke lokasi sekolah hutan, meskipun waktu dan interaksi sosialnya dengan orangutan lain masih dibatasi. Pembatan ini dilakukan untuk menghindari benturan yang tidak diinginkan, seperti saat bergulat dengan orangutan lain.

Pada awal kembali mengikuti sekolah hutan, Aman masih terlihat lemas. Lokomosi dilakukannya dengan perlahan. Sesekali, ia terdiam dan mengejan untuk defekasi serta urinasi. Meski demikian, semangat untuk pulih tetap terlihat. Pada hari berikutnya, Aman mulai memanjat pohon dan menemukan buah untuk dimakan.

Pagi selanjutnya, Aman kembali mengikuti sekolah hutan pada jam dan lokasi yang telah ditentukan. Tidak lebih dari lima menit, Aman sudah memanjat. Meskipun pergerakannya tidak selincah orangutan lain, Aman mampu memilih ranting yang paling mudah dijangkau tubuhnya. Hal ini terlihat dari caranya berhenti sejenak dan mengamati sebelum berpindah.

“Senang bawa Aman sekarang, dia di atas pohon terus. Kalau ada temannya, mana mau dia memanjat begini, pasti sibuk bergulat. Kalau bergulat sih tidak jadi masalah. Tapi kalau pelan-pelan berjalan ke kandang atau mengganggu animal keeper perempuan, itu yang bikin capek”, ujar Steven, animal keeper yang membawa Aman sekolah hutan pagi ini.

Pembatasan interaksi sosial dengan orangutan lain justru membuat aktivitas Aman di atas pohon meningkat. Ia juga aktif mencari dan mengonsumsi pakan. Seolah melupakan kondisi lemahnya beberapa hari sebelumnya, Aman menunjukkan kebugaran yang berbeda hari ini. Teramati beberapa kali ia berpindah pohon dan akhirnya berhenti di pohon Artocarpus sp. Untuk memakan buah ranum. Hingga namanya berkali-kali dipanggil, menamakan waktu sekolah hutan telah usai.

“Dua sampai tiga hari lagi obatnya habis. Kalau tidak terlihat keluhan lain, Aman bisa diikutkan sekolah hutan normal seperti biasanya”, ujar Wardiman, dokter hewan BORA, setelah mengetahui alasan keterlambatan Aman pulang.

Baru kali ini, keterlibatan pulang ke kandang membuat kami gembira. (ARA)

SUS BARBATUS, PENGHUNI HUTAN YANG SEMPAT MENGHILANG

Di jantung Kalimantan Timur, Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat menjadi salah satu bentang terakhir hutan tropis yang masih terjaga. Kawasan ini tidak hanya dikenal sebagai lokasi pelepasliaran orangutan COP yang berada di bawah tim APE Guardian, tetapi juga sebagai rumah bagi beragam satwa liar yang saling terhubung dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan.

Salah satu satwa kunci ini adalah babi hutan berjanggut (Sus barbatus) yang berperan sebagai penggembur tanah dan penyebar biji alami. Keberadaannya mudah dikenali melalui jejak kaki, bekas galian tanah, maupun perjumpaan langsung di sekitar hutan dan aliran sungai.

Namun pada masa pandemi COVID-19 tahun 2020, keberadaan Sus barbatus mendadak menghilang. Warga sekitar hutan mulai menemukan bangkai babi hutan di pinggir sungai, yang diduga kuat akibat wabah penyakit. Kematian massal tersebut membuat satwa ini nyaris tak terlihat lagi di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, menimbulkan kekhawatiran akan terganggunya keseimbangan ekosistem hutan.

Selama beberapa tahun berikutnya, berbagai upaya pemantauan dilakukan melalui pengamatan lapangan dan kamera jebak, namun belum berhasil merekam keberadaan Sus barbatus. Hilangnya satwa ini terasa signifikan, mengingat perannya yang penting dalam mendukung regenerasi hutan dan secara tidak langsung berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup orangutan yang dilepasliarkan di kawasan ini.

Harapan baru muncul pada awal tahun 2026 ketika kamera jebak yang dipasang di delapan titik strategis kawasan pelepasliaran orangutan berhasil merekam seekor babi hutan berjanggut melintas pada siang hari. Dokumentasi ini menjadi bukti bahwa Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat perlahan pulih, sekaligus memperkuat harapan bahwa kawasan ini tetap menjadi rumah yang aman bagi orangutan dan satwa liar lainnya melalui upaya pemantauan dan perlindungan yang berkelanjutan. (LUT)

BERKELANA SEMAKIN JAUH BERSAMA ASTUTI

Menjalani rutinitas yang berulang tentu saja dapat berujung pada kebosanan. Suasana terasa monoton dan tidak ada tantangan baru yang menarik. Kejemuan inilah yang dirasakan Astuti ketika sekolah hutan. Semua pepohonan di area utama serasa telah dijelajah. Rumbaian rambutan yang ranum pun telah puas ia lahap. Astuti juga lelah menghadapi Jainul yang selalu menggigit tubuhnya untuk mengajaknya bermain di lantai hutan. Tak ayal lagi, Astuti bergegas menjauhi Jainul ketika gigitannya mulai beranjak ke tubuh orangutan lain. Astuti tahu apa yang ia inginkan, yakni penjelajahan yang lebih menantang.

Berjalan dengan senyap di lantai hutan yang lembab, Astuti memasuki hutan lebih dalam. Terkadang ia juga berayun di akar gantung dan dahan rendah. Sepanjang jalur yang dilalui, belum ada jalan setapak yang terbentuk dan terdapat beberapa pohon rebah yang melapuk. Vegetasi di area ini cukup rapat dengan stratifikasi yang kompleks hingga sinar matahari pun sulit mencapai lantai hutan.

Perjalanan Astuti terhenti di suatu pohon yang menarik perhatiannya. Buah ini berbentuk seperti tetesan air dengan panjang 2-3 cm, berwarna kuning, beraroma manis, dan daging buahnya sangat berserat. Ia makan dan mengeksplorasi pohon ini selama 10 menit hingga akhirnya berpindah ke pohon tarap melalui jalinan liana.

Pohon tarap (Artocarpus elsticus) ini menjulang hingga 25 meter dengan diameter batang lebih dari 1 meter dan memiliki akar banir setinggi dada manusia dewasa. Dengan ukuran sebesar ini dapat dipastikan bahwa pohon ini sudah sangat berumur. Ada berbagai jenis liana dan paku-pakuan yang menjalar di batangnya. DI bawah naungannya, tumbuh banyak lumut daun yang berperan dalam siklus nutrisi dan pengaturan suhu tanah.

Postur pohon yang tinggi besar ini menarik Astuti untuk mengeksplorasinya secara vertikal. Karena ukuran batang yang terlalu besar dan sulit dipanjat, ia menggunakan jalinan liana untuk mencapai pucuk pohon. Ternyata lapisan kanopi pohon ini juga telah dihuni banyak tumbuhan. Tiap kali Astuti berayun, banyak serpihan kering yang berhamburan layaknya gerimis.

Menjelajahi area baru sendirian tentunya berasa mendebarkan bagi orangutan rehabilitan. Astuti kerap turun sejenak untuk memastikan keberadaan observer yang tetap berada di sekitarnya. Setelah kami saling berkontak mata, Astuti akan kembali sibuk di kanopi pohon yang rimbun. Hal ini menjadi perkembangan yang baik bagi orangutan di pusat rehabilitasi. Insting liarnya untuk menjelajah semakin terasah, keberaniannya dalam eksplorasi kian meningkat, dan pengetahuannya akan navigasi area yang familiar pun bertambah. (FAR)

JAINUL UUUUU

Di sebuah pusat rehabilitasi orangutan di Kalimantan, hiduplah satu individu orangutan remaja bernama Jainul. Di kalangan animal keeper, Jainul terkenal sebagai si jail dan nakal. Kalau keeper membersihkan tempat tidur Jainul, ia akan menarik masker atau pun topi para keeper. Di sekolah hutan Jainul juga suka mengejar dan menggigit sepatu boot para keeper cewek sebagai bentuk keusilan Jainul. Pokoknya, tidak ada hari tanpa keusilannya.

Namun, ada satu hal yang membuat para keeper heran yaitu, Jainul sangat takut dengan suara “uuuuu”. Yang lucu adalah suara “uuuuu” itu bukan suara misterius atau suara satwa lain. Itu sebenarnya kode sapaan antar keeper ketika mereka sedang berada di dalam hutan supaya bisa mengetahui posisi satu sama lain tanpa harus teriak nama.

“Uuuuuuuuuu!”, teriak salah satu keeper di antara pepohonan.

“Uuuuu!”, balas keeper lain dari kejauhan.

Suara itu menggema di batang pohon dan dedaunan. Bagi para keeper, itu hal biasa dan penting untuk keselamatan serta koordinasi. Tapi bagi Jainul… itu suara mengerikan. Setiap kali mendengar “uuuuu!”, Jainul langsung lari terbirit-birit mendekati keeper cewek dan memeluknya ketakutan, seperti baru mendengar suara yang sangat mengerikan.

Suatu hari, keeper muda bernama Kak Tedy yang bertugas ikut masuk ke area forest school. Ia menyapa keeper lain dengan lantang, “Uuuuuuuu!”.

Keeper lain menjawab, “Uuuuuuuu!”, begitupun juga aku.

Begitu mendengar itu, Jainul yang sedang asik bermain bersama temannya di akar gantung liana langsung terkejut dan menjatuhkan diri lalu lari panik memeluk keeper cewek. Aku pun bingung, “Loh… kempa Jainul begitu”.

Keeper Rara tertawa, “Begitulah dia. Jail sama kita, jail sama orangutan lain, tapi begitu mendengar suara “uuuuuuuu”, langsung lari seperti dikejar predator.”.

Keesokan hari, aku mendekati Jainul pelan-pelan di sekolah hutan, Jainul sambil mengunyah buah, sesekali melirik curiga. “Kita di hutan pakai suara itu bukan buat nakuti kamu”, kataku. “Itu cuman cara kita bilang, “Hei, aku di sini, kamu di sana. Supaya kita semua aman”.

Jainul menatapku, seperti sedang mempertimbangkan apakah penjelasan itu layak dipercaya. Sesaat kemudian, saat Tim APE Defender masuk ke forest school, keeper berteriak, “Uuuuuuuu!”. Tapi kali ini, Jainul tidak lari sekencang kemarin. Ia hanya berhenti, menoleh, lalu memanjat pohon pelan-pelan tanpa drama.

Mba Rara yang melihat itu tersenyum bilang, “Kemajuan, nih!”.

Seiring waktu, Jainul mulai paham bahwa suara “uuuuu”, bukan ancaman. Itu hanya kode manusia aneh, keras, tapi tidak berbahaya. Dan meski Jainul tetap jail (karena sudah sifatnya), setidaknya kini ia tidak lagi terlalu panik setiap mendengar para keeper saling menyapa di hutan ya walaupun masih agak kagetan.

Di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance), Jainul tumbuh sebagai orangutan jail yang suatu hari nanti, ketika sudah cukup mandiri akan kembali pulang ke hutan bebas dan siap menghadapi suara apapun… kecuali mungkin “uuuuuuuu”. (LUK)

PANSY, SI PENJELAJAH BORA

Setahun yang lalu, Pansy hampir saja tumbuh di hutan bersama induknya. Saat itu, Pansy akan di-translokasi dan dilepasliarkan bersama induknya. Tapi takdir berkata lain, induk Pansy tiba-tiba menjauh. Awalnya tim mengira ia hanya mencari posisi aman. Menit demi menit berlalu dan sang induk tidak kembali. Pansy menatap sekitar dengan suara rintihan kecilnya, seolah mencari pelukan yang tak datang lagi. Saat itu, tim yang bertugas memutuskan untuk menyelamatkan dan membawanya ke Pusat Rehabilitasi BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance).

Pansy, satu-satunya bayi orangutan liar di BORA. Dengan tubuh mungilnya, ia aktif menjelajahi area sekolah hutan. Saat Pansy menyusup ke dalam tajuk, kami kesulitan untuk mengamatinya karena terlalu kecil dan pergerakannya yang sangat lihai. Faktanya, Pansy sering sekali membuat sarang di atas pohon, sehingga ia menjadi salah satu orangutan yang pintar membuat sarang yang kokoh. Pansy juga memiliki naluri yang kuat untuk mencari dan memakan pakan alami di hutan.

Waktu itu, saat sekolah hutan, Pansy tidak terlalu sering berinteraksi dengan orangutan lainnya. Ia hanya sendirian dan aktif menjelajah dan eksplorasi di atas pohon. Ia memanjat, mengintip dari tajuk, dan hanya mengamati orangutan lain dari jauh. Seolah-olah ia masih mencari tahu apakah ia aman untuk mendekat. Dan… ia langsung melanjutkan lagi aktivitasnya sendiri. Pansy lebih memilih dunia pohonnya sendiri. Dengan mencari pakan alami berupa buah-buahan, biji-bijian, kulit kayu, dan dedaunan.

Namun, seiring berjalannya waktu, kami mulai menyadari bahwa Pansy mulai berkembang dalam segi sosial. Ia mulai bersosial memuat sarang bersama Cinta. Terkadang bersama Eboni dan Mabel juga. Ada momen-momen yang jarang terjadi saat Pansy di area sekolah hutan. Ia pernah turun ke lantai hutan karena rasa bosan berada di atas pohon. Lalu, ia menggelindingkan badannya ke tanah dengan posisi kedua tangannya yang tidak tepat. Sehingga, ia terlihat gagal melakukan aksi rolling seperti orangutan lain yang biasa melakukannya. Kami hanya bisa tertawa saat melihat tingkah lucunya itu.

O iya, Pansy juga memiliki teman dekat di BORA. Dia adalah Felix. Felix yang merupakan temans ekandangnya itu sangat akrab dan sering bermain bersama. Meskipun Felix memiliki tubuh yang lebih besar dari Pansy, ia seringkali menyerang bahkan menarik rambut Felix hingga tuahnya terbanting saat bergelantungan. Hal itu membuat Felix melakukannya beberapa kali.

Seiring dengan perkembangan Pansy dari waktu ke waktu, kami tidak pernah tahu kapan Pansy akan benar-benar siap kembali ke hutan. Tapi satu hal yang pasti, setiap hari, ia semakin mendekati mimpinya menjadi orangutan liar yang mandiri. (GIT)

RUMAH LAYAK UNTUK ORANGUTAN

Udara hutan Kalimantan yang lembab menyapa tim ekspedisi saat perahu-perahu kayu bermesin besar membelah aliran sungai. Sungai yang kami lalui bukanlah sungai besar dan tenang, melainkan sungai menantang dengan arus deras dan batu-batu besar yang menghadang. Di beberapa titik, tim harus turun dari perahu atau membantu menariknya untuk melewati jeram yang menuntut kewaspadaan tinggi. Pak Lukas dan para motoris perahu lain, yang telah lama akrab dengan medan ini, tetap harus berkonsentrasi penuh dalam mengendalikan mesin.

Perjalanan ini bukan sekadar petualangan. Tim kami mengemban misi penting, mencari “rumah baru” bagi satwa liar, khususnya orangutan. Ulah manusia dari tahun ke tahun telah membuat keberadaan mereka semakin terancam. Habitat yang dahulu aman kini menyempit, memaksa orangutan keluar dari ruang hidup alaminya. Setiap kunjungan lapangan selalu menyisakan rasa miris, melihat mereka perlahan terusir dari rumahnya sendiri. Sebuah rumah baru yang layak kini menjadi kebutuhan mendesak.

Untuk itulah ekspedisi ini dilakukan. Menembus jantung rimba Kalimantan berarti menyusuri hulu sungai dengan akses jalur air ber-jeram deras dan hamparan batu besar. Lokasi yang dicari harus jauh dari permukiman manusia agar konflik tidak kembali terjadi. Di tengah perjalanan, pohon-pohon tumbang yang melintang di sungai kerap menambah tantangan dan menguji kesabaran tim.

“Rumah baru” bagi orangutan tentu tidak bisa dipilih sembarangan. Setidaknya, kawasan tersebut harus memiliki ketersediaan pohon pakan dan pohon sarang yang memadai, populasi orangutan yang rendah atau belum ada sama sekali agar tidak terjadi perebutan ruang, serta jaminan keamanan dari gangguan manusia.

Ekspedisi ini barulah sebuah awal. Namun kami berharap, awal ini akan menjadi akhir yang indah, saat orangutan akhirnya dapat kembali ke rumah megah yang memang sudah selayaknya menjadi milik mereka. (HUS)

2025, TAHUN TUMBUH KEMBANG PESAT ARTO DAN HARAPI

Siapa yang tak kenal dengan Arto dan Harapi? Mereka adalah dua bayi orangutan satu paket yang kerap dijuluki “Double Trouble Couple” karena tingkah usulnya. Memasuki tahun 2026, keduanya sudah resmi menjadi teman terbaik selama 2 tahun! Penasaran apa saja yang tumbuh pada mereka selama tahun 2025? Mari kita bahas.

Jika sebelumnya Arto dan Harapi selalu ditemukan berpelukan erat sebagai perlindungan diri, setahun ini mereka mulai menjelajahi petualangannya sendiri loh. Keduanya sudah punya ketertarikan yang semakin berbeda. Meskipun begitu, kemistri (dari kata chemistry) mereka tetap kuat karena tetap menjadi rekan satu kamar saat masuk kandang. Tahun 2025 adalah tahun pendewasaan bagi Arto dan Harapi.

Satu tahun ini, Arto dan Harapi menjalani kehidupan sebagai “kakak” bagi Felix dan Pansy yang masuk pusat rehabilitasi BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) di awal tahun. Arto lebih akrab dengan Pansy, sedangkan Harapi lebih dekat dengan Felix. Keduanya membantu para bayi orangutan baru ini untuk beradaptasi dengan lebih cepat dan baik. Saat ini, Arto dan Harapi tidak akan keberatan untuk bertukar rekan tidur dan sekolah hutan. Mereka jauh lebih dewasa.

Arto yang memang sudah tumbuh super aktif dan social butterfly, tetap sensitif pada suara keras dan gerakan tiba-tiba. Tapi satu tahun ini, Arto si penakut pada keeper berbadan kekar, mulai menghadapi masalahnya dan mampu membela dirinya sendiri. Tidak lagi terlihat ragu, Arto akan mengejar siapa pun yang mengganggunya dan memberikan gigitan pada boots, lengan, sambil menarik apa saja. Sangarnya Arto sering semakin nampaknya tulang bakal cheekpad di wajah. Arto mencetak sejarah sebagai orangutan dengan peningkatan bobot badan paling signifikan sepanjang tahun. Ia bisa naik hingga 0,8 kg sebulan, tanpa adanya catatan penurunan berat badan hingga Posyandu terlahir Desember lalu.

Pusat rehabilitasi merupakan saksi tumbuh kembangnya bayi orangutan, terutama pada Arto dan Harapi yang belum lama melewati usia 1000 harinya. Fase pertubuhan mereka akan sangat krusial, didukung dengan daya kembang mereka yang super cepat dan tanggap. Saat ini, Arto dan Harapi sudah ulah ditangani keeper lain untuk membantu mereka berkembang dengan perawatan yang lebih advanced. Senang bisa dan masih akan menemani mereka mengalami momen-momen ajaibnya. (RAR)

PENGALAMAN PERTAMA BERSAMA ORANGUTAN LIAR

Hai, aku Aprido Desra biasa dipanggil Godox. Aku berasal dari Sumatra Barat yang dikenal luas dengan masakannya yang sering disebut masakan Padang, khas dengan rempah-rempah alami. Namun, Sumatra Barat bukan hanya tentang kuliner. Wilayah ini juga memiliki bentang alam yang luas dan kaya, berdampingan dengan adat Minangkabau yang menjunjung nilai “tak lapuk karena hujan, tak lekang karena panas”. Nilai-nilai ini turut menjaga hutan tetap lestari hingga kini, meski masih banyak oknum yang berusaha merusak alam dengan berbagai cara, seperti illegal logging, perburuan satwa liar, dan penambangan emas ilegal.

Perjalananku di dunia konservasi dimulai saat bergabung dalam organisasi Mahasiswa Pecinta Alam dan Lingkungan Hidup Universitas Negeri Padang (MPALH UNP) dengan latar belakang jurusan Ilmu Keolahragaan di Universitas Padang. Sebelum bergabung dengan Centre for Orangutan Protection (COP) sebagai asisten lapangan di tim APE Crusader, aku juga sempat terlibat di salah satu NGO yang bergerak dalam konservasi harimau Sumatra di Sumbar. Banyak yang bertanya apa perbedaan konservasi harimau dan orangutan. Menurutku, pertanyaan itu tidak terlalu penting karena setiap spesies memiliki tantangan dan tingkatannya masing-masing. Tujuan akhirnya tetap sama yaitu menyelamatkan satwa liar yang terancam punah agar generasi mendatang masih dapat merasakan hidup berdampingan dengan seluruh makhluk hidup.

Pertemuan langsung pertamaku dengan orangutan terjadi saat melakukan operasi penyelamatan gabungan di Kecamatan Bengalon, bersama BKSDA Kaltim dan beberapa NGO lainnya. Di lapangan, mustahil bekerja sendiri, kolaborasi menjadi kunci untuk tujuan yang sama. Penanganan konflik, proses penyelamatan, hingga pemahaman tentang habitat orangutan di Kalimatan menjadi pengalaman yang sangat berharga. Berbagai latar belakang pendidikan dan profesi juga membawa cerita sendiri dalam konservasi orangutan, mulai dari dokter hewan, mantan pemburu, bahkan pekerja perkebunan dan pertambangan.

APE Crusader COP masih dalam misi penyelamatan dan perlindungan habitat orangutan serta yang lainnya agar tidak punah menjadi tanggung jawab bersama. Semoga generasi selanjutnya masih dapat merasakan hidup berdampingan dengan orangutan dan satwa liar lainnya di hutan yang tetap terjaga. Salam lestari! (IDO)