AMBON SERING MENGELUARKAN SUARA “LONG CALL”

Siapa yang belum mengenal Ambon? Orangutan jantan dewasa yang berparas tampan dengan cheekpad nya. Usianya kini sekitar 27 tahun. Ia penghuni tertua di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo. Termasuk para perawat satwa dan staf, tidak ada yang lebih tua dari Ambon. 

Ambon bisa mengeluarkan suara panggilan panjang atau long call layaknya orangutan jantan dewasa yang liar. Di alam liar, kepemilikan cheekpad adalah simbol dominasi. Orangutan dengan lantang mengeluarkan suara long call untuk menandai teritorinya. Juga untuk menarik perhatian betina ketika musim kawin. Juga bisa jadi ketika orangutan dalam kondisi terancam, ia akan mengeluarkan suara long call.

Ketika sama-sama tahu bahwa Ambon berada di blok kandang dewasa. Ia terlampau sering mengeluarkan suara long call. Kadang malam… juga subuh. Sesekali ada yang menilik Ambon ke kandangnya setelah terdengar bunyi long call. Terlihat dari binar matanya, ia tampak mengintai sesuatu di sekitar kandangnya. Senter diarahkan ke sana-sini, tidak ada yang aneh. Kami kawatir ada ular atau semacamnya di kandang Ambon.

Sampai sekarang… Ambon masih sering bersuara ketika malam. Akhirnya kami memasang kamera jebak sebagai pilihan untuk mengetahui penyebabnya. (WID)

 

DESINFEKSI PAKAIAN PERAWAT SATWA SEBELUM KE KANDANG

Pandemi Covid 19 spontan membuat seantero dunia panik. Begitu juga kami yang bekerja di garda depan Pusat Rehabilitasi Orangutan. Kami bisa saja menginfeksi belasan orangutan yang sedang menjalani masa rehabilitasi untuk menunggu giliran lepasliar.

Oleh karenanya sejak tertanggal 28 Maret lalu, Pusat Rehabilitasi COP Borneo status pencegahan Covid-19 melejit dinaikkan menjadi awas. Itu berarti kami benar-benar mengurangi intensitas mobilitas kemana pun. Semua staf melakukan karantina diri di area camp COP Borneo. Ketika mayoritas di luar sana menerapkan Work From Home, kami tidak bisa menerapkan itu. Kami masih harus mengurus belasan orangutan yang berada di kandang. Meskipun begitu, kami sepakat untuk mengurangi intensitas keluar camp. Perawat satwa juga tidak bisa mengambil jatah liburnya.

Berbagai tindakan pencegahan penularan Covid-19 makin digalakkan. Mulai penyediaan fasilitas kebersihan di camp, juga yang tak kalah penting adalah melakukan penyemprotan cairan desinfektan. Di area camp dan tentunya para perawat satwa juga mendapat jatah disenfeksi sebelum memasuki area kandang.

Semua perawat satwa tampil lebih nyentrik dari biasanya, kini mereka harus mengenakan baju khusus (wearpack) yang sebenarnya sudah ada dan harus mereka pakai setiap ke kandang namun karena kurang nyaman dan membatasi gerak serta panas, mereka memilih untuk mengenakan kaos COP dan celana pendek. Sekarang, mau tidak mau harus dikenakan. Sementara masker dan gloves memang sudah jadi kewajiban, bedanya sekarang harganya begitu melambung dan menghilang dari pasaran. Centre for Orangutan Protection sampai memanggil para relawannya untuk donasi langsung masker maupun sarung tangan medis. 

Setiap pagi maupun sore, para perawat satwa berjejer, ngantri untuk diperiksa suhu tubuhnya dan disenfeksi. “Covid-19 merupakan virus baru yang belum diketahui secara detil seperti apa. Sehingga segala tindakan preventif penularan Covid-19 kepada manusia dan orangutan yang berada di kandang, harus kami lakukan.”, ujar drh. Flora Felisitas. (WID)

TIDAK BERANI MENEMBAK BIUS HERCULES

Hari itu, saya dan dua rekan perawat satwa bersama drh. Flora melakukan pemindahan orangutan Hercules dan Nigel yang ada di pulau pra-pelepasliaran. Terbilang cukup mendesak dan tergesa-gesa karena pandemi Covid-19 saat ini tengah menjadi permasalahan di berbagai tempat. Dengan terpaksa, kami melakukan pemindahan agar pengawasan semua orangutan berada dalam satu tempat yakni di Pusat Rehabilitasi COP Borneo.

Peralatan yang kami butuhkan sudah siap sedia seperti kandang transpot, senapan bius angin, jaring, timbangan dan tentunya obat biusnya. Ini pertama kalinya saya mengikuti proses pemindahan orangutan dari pulau pra-pelepasliaran. Ketika drh. Flora meminta saya untuk menembak bius Hercules, saya ragu-ragu karena saya takut salah sasaran. Membius orangutan bukan perkara mudah. Jangan samapai mengenai dada, mata atau bagian vital lainnya. Saya mengundurkan diri dan peran penembak bius diambil alih rekan keeper lain.

Hercules cuup bandel. Setelah ditembak bius hampir 20 menit dia tak kunjung pingsan. Kami lalu menggulungnya dengan jaring meski ada perlawanan dari Hercules.Tidak lupa kami melakukan penimbangan dan pengambilan sampel darah untuk diketahui kondisi kesehatannya. Usia Hercules berkisar 14-16 tahun dan beratnya mencapai 57 kg. Itu cukup berat bagi kami untuk memikul orangutan Hercules. “Cukup ngos-ngosan, bahu dan pinggangku sakit.”, keluh seorang keeper. (JACK)

UNTUK PERTAMA KALINYA KOLA BERDEKATAN DENGAN ORANGUTAN

Usai menjalani masa karantina dan dinyatakan lulus oleh Badan Karantina Pertanian, orangutan hasil repatriasi bernama Kola kini mulai menginjak proses rehabilitasi. Melihat sejarahnya yang tidak pernah bersentuhan atau berinteraksi dengan orangutan lain, Kola diperkenalkan dengan orangutan Popi.

Popi merupakan siswi sekolah hutan yang masih berumur 4 tahun. Ketika pandangannya terpusat oleh kedatangan Popi di sekitar kandangnya, Kola terlihat bersikap agresif di dalam kandang. Setelah 30 menit, Kola yang awalnya agresif mulai mencari tahu dan mendekati Popi yang berada di luar kandangnya. Beberapa kali Kola juga mengeluarkan suara bak suara ‘kiss squeking’ ala orangutan ketika merasa terancam.

Terlihat dengan gamblang bahwa Kola tidak terbiasa dengan keberadaan orangutan lain. Perilaku kontras dibanding saat melihat manusia atau animal keeper yang baru ia lihat. Kola lebih tenang dan mengamati dari jauh.

Bagusnya, keberadaan Popi mengajarkan Kola memakan buah nanas. Karena pengamatan sebelumnya, Kola selalu melewatkan manis asamnya rasa buah nanas. Hanya sebatas satu gigitan dan dibuang. (FLO)

 

DAPATKAH VIRUS CORONA MENULAR KE KERA BESAR?

Wabah Corona yang sedang menjadi pendemi saat ini merupakan penyakit yang bersifat zoonosis. Zoonosis artinya bisa ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Masih belum diketahui hewan apa yang menjadi agen atau reservoir dari virus corona SARS-CoV-2 ini, tetapi diduga virus ini dibawa oleh kelelawar dan trenggiling. Apakah virus ini juga bisa menular ke kera besar seperti orangutan, simpanse, gorila dan bonobo?

Virus corona pertama kali diketahui dapat menular ke kera besar pada tahun 1981. Peneliti menemukan virus mirip corona (coronavirus-like) pada sampel feses babun, simpanse, beruk, monyet ekor panjang, monyet rhesus dan marmoset. Sejauh ini ada 7 jenis virus corona yang menyerang manusia. Human coronavirus jenis OC43 (HCoV-OC43) tercatat pernah menular ke 11 individu simpanse liar di Pantai Gading pada tahun 2017. Penyakit pernapasan lain yang menular dari manusia ke kera besar juga pernah terjadi. Salah satunya kasus 2 individu gorila liar yang mati karena tertular human metapneumovirus (HMPV) di Rwanda tahun 2009. Walau sampai saat ini belum ada kasus kera besar yang tertular virus SARS-CoV-2, tetapi penularan sangat mungkin terjadi mengingat manusia dan kera besar memiliki kesamaan DNA 97-99%.

Untuk mencegah penularan virus tersebut, Centre for Orangutan Protection telah memberlakukan status Waspada di Pusat Rehabilitasi Orangutan kami di Berau, Kalimantan Timur. Keputusan ini berlaku sejak 23 Maret 2020 demi mencegah penularan COVID-19 pada perawat satwa, staf dan para orangutan. COP menutup akses tamu untuk masuk ke pusat rehabilitasi dan pulau pra-pelepasliaran. Sosialisasi dilakukan pada seluruh karyawan COP Borneo. Kami menyediakan sabun dan tempat cuci tangan di banyak titik. Pemeriksaan suhu dilakukan setiap pagi dan sore hari. Kandang orangutan tetap dibersihkan setiap pagi. Penyemprotan disinfektan juga dilakukan di gudang pakan, camp karyawan, klinik dan dapur. (IND)

 

 

 

BERANI BUKAKAN KELAPA UNTUK ORANGUTAN LAINNYA

Berbagai cara orangutan makan kelapa. Kali ini, kelapa dimasukkan ke kandang orangutan dalam keadaan utuh, lengkap dengan sabutnya. Orangutan Berani langsung mengambil kelapa dan mulai membuka bagian terluarnya. Tidak ada yang berani mengganggunya, bahkan Annie sekalipun, apalagi Owi. Mereka hanya bisa melihat Berani dari jauh sampai kelapa berhasil dibuka.

Berani terlihat sangat menimati daging kelapa, sehingga Annie beberapa kali mencoba untuk mengambil bagian putih dari kelapa yang dibuka oleh Berani. Namun Annie selalu mendapat gigitan dari Berani. Annie menjerit dan mulai marah. 

Sampai pada akhirnya, Happi mendekati Berani dan tanpa penolakan sama sekali. Kesempatan bagi Annie dan Owi yang berada satu kandang orangutan jantan ini untuk ikut mencicipi kelapa. Berani pun akhirnya mempersilahkan teman-teman sekandangnya untuk memakan kelapa yang berhasil dibukanya. Berani… kamu baik sekali… (WET)

HERCULES MEMBUAT SARANG DI PULAU ORANGUTAN

Yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Setelah lebih dari dua bulan dipindah ke pulau pra-rilis orangutan bersama Nigel, kabar baik datang dari Hercules. Hercules membuat sarang di pohon.

Belum lama ini, Nigel dan Hercules kembali bertengkar hebat. Hercules kalah dan terlihat sangat takut pada Nigel. Hercules tidak berani turun ke tanah bahkan untuk mengambil makanan pun, Hercules sangat waspada. “Kami harus memisah tempat pemberian makanan. Jika Nigel di sisi utara, maka makanan Hercules kami letakkan disisi selatan.”, ujar Simson, perawat satwa yang kebetulan bertugas di pulau orangutan. 

Beberapa hari setelah kejadian itu, terlihat beberapa patah-patahan ranting yang membetuk seperti sarang. Ternyata itu sarang Hercules. Sampai saat ini, sudah terlihat dua sarang buatan Hercules. Sarang Hercules masih terlihat belum sempurna tetapi setidaknya, dia sudah tidak tidur di dahan pohon lagi. (WET)

ANTAK INGIN KEMBALI KE PULAU ORANGUTAN

Pagi ini dingin sekali. Hujan yang turun semalaman membuat hutan semakin basah. Sambil jalan ke kandang orangutan, tebasan daun dan ujung pohon sedikit terkumpul. Untuk teman orangutan yang tak pernah keluar kandang karena sebab tertentu. Kali ini, cerita Antak si orangutan dari kebun binatang.

Mengenal Antak di tahun 2010, saat itu tubuhnya kecil, kurus berada dalam satu kandang bersama Oki, Hercules dan Nigel. Kedatangan COP di kebun binatang itu membawa harapan baru dengan sesekali mengajak Antak ke sekolah hutan. Kandang kawat yang biasanya dipegang beralih dengan memegang pohon. Tak lama kemudian, enclosure pun berdiri. Menjalani hidup tidak dibalik jeruji besi lagi, tapi di pulau buatan kecil yang lumayan besar.

April 2015, Antak pun pindah ke pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, kembali ke kandang karantina, tidak lama, enam bulan kemudian, sebuah pulau pra pelepasliaran menjadi rumahnya. Tak mudah untuk orangutan dari kebun binatang untuk bisa bersaing hidup di alam liar. Bersaing dengan orangutan jantan lainnya, berebut makanan, berebut pohon dan kalah dari orangutan dominan menjadi pil pahit untuk Antak. Antak harus ditarik kembali ke kandang karantina, berobat dan dalam perawatan intensif. Luka dan kurang gizi menjadi pekerjaan tersendiri untuk tim medis COP Borneo.

Pagi ini, Antak menatap daun yang ada di tangan. Tak banyak, perlahan… Antak mendekati jeruji besi dan mengeluarkan tangannya, meminta daun-daun basah. Usai memilih-milih, dia mengambil daun pisang, daun yang lebar ini, dan meletakkannya di kepalanya. Hujan gerimis semakin lebat… apakah kamu berlindung dari hujan Antak? 

Semoga kamu bisa kembali ke pulau dua atau tiga bulan nanti ya. Bersaing kembali dengan Nigel dan Hercules.

 

BISAKAH BAYI ORANGUTAN MEMBUKA KELAPA?

Kelapa… untuk membukanya saja kita memerlukan alat yang tajam. Lalu, bagaimana cara para bayi orangutan di pusat rehabilitasi COP Borneo membuka kelapa?

Karena ini tujuannya untuk membuat para orangutan sibuk, maka kami menaruh kelapa-kelapa tersebut di atas kandang. Setengah jam berlalu, kelapa hanya berguling kesana-kemari sebagai bahan rebutan. 

Tidak sabar, akhirnya kami membuka pintu kandang lalu menaruh kelapa di dalam kandang. Tidak butuh waktu lama, hanya sekitar 10 menit, Bonti dan Berani berhasil meminum air dan memakan daging kelapanya.

Hari ini, Bonti beruntung karena teman-teman sekandangnya sedang sekolah hutan, jadi tidak ada yang mengganggunya menikmati kelapa muda yang sangat segar. Para bayi-bayi ini memiliki gigi yang sangat tajam untuk mengupas kulit dan tempurung kelapa. Kebayang kan, kalau gigi-gigi itu mendarat di kulitmu? (WET)

WATCH OUT FOR THE SNAKE

During forest school, the animal keepers must help baby orangutans to learn to behave like other orangutan in their natural habitat in the forest. Beside climbing and making nest, they also have to introduce the orangutan to the predators  in the wild. One of them that often seen and encountered is snakes.

Usually, animal keepers will bring a rubber snake toy to scare the orangutan who are lazy to climb up the trees. One of the target is Popi who usually lazy to climb high. Every time Popi wants to climb down, the animal keeper ready with the rubber snake in their hand and Popi will soon rush to flee and climb up again.

But after few days meet the snake, it looks like Popi was immune and no longer afraid to the rubber snake. Indeed orangutan are smart, they know which snake is real and which is the fake one. Maybe this time we have to use a new snake that can move and hiss so it looks more similar with the real snake.

Finally, the rubber snake toy which didn’t scary anymore is stored and hung just like that in the food storage. Even though the snake failed the orangutan, it always succeed to make every staff who worked in the storage jump and suprised. (LDS)

AWAS ADA ULAR

Selama sekolah hutan, para perawat satwa harus membantu orangutan-orangutan kecil untuk belajar berperilaku seperti orangutan lainnya yang hidup secara alami di hutan. Selain memanjat dan membuat sarang, mereka juga harus mengenalkan para orangutan dengan predator-predator di alam. Salah satunya yang sering ditemui adalah ular.

Biasanya para perawat satwa akan membawa ular mainan yang terbuat dari karet untuk menakut-nakuti para orangutan yang malas memanjat. Salah satunya yang sering menjadi target adalah Popi yang terkadang malas memanjat. Setiap kali Popi hendak turun dari pohon, perawat satwa sudah siap dengan ular di tangan dan Popi pun akan segera memanjat terbirit-birit kabur ke atas pohon.

Namun setelah beberapa hari selalu bertemu dengan ular karet itu, sepertinya Popi sudah kebal dan tidak takur lagi. Memang orangutan itu pintar, mereka bisa mengetahui mana ular yang asli dan mana yang palsu. Mungkin kali ini kami harus memakai mainan ular jenis baru yang bisa bergerak dan bersuara sehingga lebih mirip dengan aslinya. Adakah?

Akhirnya ular karet mainan yang sudah tidak menakutkan itu disimpan dan digantung begitu saja di gudang pakan. Meski sudah gagal menakuti para orangutan, ular mainan itu selalu berhasil membuat jantungan siapapun yang bertugas memotong buah di gudang pakan. (LDS)

Page 4 of 30« First...23456...102030...Last »