GIANT, ORANGUTAN THAILAND AKAN KEMBALI KE SUMATERA

Usianya masih enam tahun. Hidup di negeri Thailand tanpa induk membuat mimpi buruk anak orangutan jantan ini semakin buruk. Statusnya yang menjadi barang bukti harus bersabar hingga kasus hukumnya selesai.

Giant namanya. Kepolisian Phetchaburi, Thailand menyitanya pada 28 November 2014 yang lalu. Giant adalah orangutan Sumatera. Walau terkenal nakal, Giant suka mendekati orang. Pada 11 Agustus, beruang mengigit tangan orangutan kecil ini. Kecelakaan ini menyebabkan Giant kehilangan kedua tangannya. 

Giant merupakan salah satu orangutan yang akan kembali ke Indonesia. Beruntung sekali pemerintah Indonesia dan Thailand berhasil mencapai kesepakatan ini. Semoga proses pemulangannya berjalan dengan lancar. Centre for Orangutan Protection dengan tim APE Defendernya akan membantu proses ini. Untuk kamu yang ingin membantu tim ini, jangan ragu untuk email kami di info@orangutanprotection.com

 

MICHELLE KEMBALI KE KANDANG KARANTINA

Ada perasaan lega dari seluruh tim yang bertugas mengawasi pulau pra-rilis orangutan COP Borneo di Berau, Kalimantan Timur. Perasaan ini juga bercampur dengan kesal karena harus mengangkat kandang yang tak ringan kembali ke kandang karantina. Michelle, orangutan yang memiliki kesempatan kembali ke habitatnya harus kembali ke kandang karantina. “Iya, dia harus turun kelas, bukan tinggal kelas lagi.”.

Seminggu ini, Michelle bahkan tak pernah beranjak dari terminal tempat pemberian pakan orangutan di pulau orangutan. Air sungai bisa saja sewaktu-waktu naik. Pengalaman buruk pada orangutan Debbie seperti menghantui tim. Tim tidak ingin, Michelle bernasib sama, hanyut saat banjir tiba-tiba menghampiri.

“Biasanya, kami dengan bahagia mengangkat kandang berisi orangutan yang mencapai 100 kg ini. Tapi kali ini kesal. Michelle punya kesempatan besar, tapi dia terlihat tidak berkembang. Masuk ke dalam pulau dan menjelajah pulau pun tidak dilakukannya. Pohon tinggi-tinggi pun tak pernah dipanjatnya.”, ujar Simson, perawat satwa.

 

SIMSON MENYUKAI ORANGUTAN HAPPI

Happi adalah orangutan jantan yang selalu menghabiskan waktunya di atas pohon. Setibanya di sekolah hutan COP Borneo yang berada di KHDTK Labanan, Berau, Kalimantan Timur, Happi akan langsung memanjat pohon. Happi tak akan menyia-nyiakan kesempatan menjelajahi kelas sekolah hutan ini. 

Apa saja yang dilakukannya? Berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain. Lalu… berdiam di satu pohon saat siang dan terlihat lelah berpindah-pindah. Sesekali, Happi terlihat seperti membuat sarang dan mencoba dedaunan yang dapat dijangkaunya. 

Simson menyukai orangutan Happi karena tidak membuatnya repot. Simson bisa dengan santai menunggu di hammock sembari mengamatinya dari bawah dan tentu saja mencatat aktivitas Happi di buku catatan sekolah hutan. 

Ketika sekolah hutan usai, Simson tinggal memanggil Happi untuk turun. “Hippi… susu…!”, atau “Hippi… turun.”, sembari membawa pisang di tangannya. Apakah kalian menyukai Happi juga? 

 

EVALUASI TIGA BULAN MICHELLE DI PULAU ORANGUTAN

Hi Michelle… apakabar mu? Michelle adalah orangutan yang sangat manja. Michelle dinilai sangat tergantung dengan manusia saat dia berada di sekolah hutan. Kedekatannya dengan manusia tidak terlepas dari perilaku perawat satwa yang merawatnya saat di kebun binatang dulu. Perlakuan perawatnya yang menganggapnya seperti anaknya sendiri benar-benar membuat tim APE Defender yang merawat Michelle di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo kewalahan. Michelle terkenal sangat manja.

Juli 2019 yang lalu, Michelle menjadi penghuni pulau pra-rilis COP Borneo. Michelle menjadi satu-satunya orangutan betina kandidat pelepasliaran pusat rehabilitasi yang berada di Berau, Kalimantan Timur ini. Karena selama dua tahun terakhir ini, COP Borneo hanya melepasliarkan kembali orangutan jantan. Namun sayang, hasil evaluasi Michelle tidak begitu baik.

Patroli tengah malam yang dilakukan tim pos pantau COP Borneo beberapa kali memergoki Michelle tidur di gresik pulau, bukan di atas pohon selayaknya orangutan liar yang selalu membuat sarang di sore hari untuk tidurnya. Usaha tim APE Defender dengan membuatkan sarang di pohon dan mengusirnya dari gresik untuk masuk ke dalam pulau yang penuh dengan pohon juga tidak begitu berhasil. 

Hingga datanglah musim hujan. Evaluasi tiga bulanan untuk Michelle pun keluar. Selama tiga bulan Michelle tak juga membuat sarang. Kebiasaan tidur di gresik membahayakannya, karena sungai bisa sewaktu-waktu naik dan menyapu gresik. Michelle pun ditarik kembali ke kandang karantina. 

ALOUISE KEMBALI KEPANGKUAN IBUNYA (2)

Satu minggu bersama Septi, mengembalikan rasa percaya diri Alouise. Alouise sesekali terlihat melepaskan pelukannya dari Septi untuk mengambil makanan hutan. Mulai dari menggigiti kambium kayu bahkan merasakan dedaunan yang ada. Septi, orangutan betina yang sudah terlalu lama dipelihara manusia. Sifat liarnya, nyaris tak pernah muncul. Namun saat Alouise didekati orangutan kecil lainnya, Septi langsung muncul dan melindunginya. Sesekali, perawat satwa pun melakukan itu, mencoba menarik Alouise, Septi dengan cepat memeluk Alouise. 

Ketergantungan Septi dan Alouise, membuat lega para perawat satwa di COP Borneo. Lebih-lebih, saat Alouise menjadi contoh untuk orangutan-orangutan kecil lainnya yang berada di kelas sekolah hutan. Memanjat, berpindah pohon, bahkan mencoba membuat sarang sementara. Mungkin ingatan kehidupan dengan induknya masih sangat melekat dan menjadi kebiasaannya. Entah apa yang terjadi hingga Alouise harus berpisah dengan induknya. Dan kenangan buruk apa yang tertinggal padanya, hingga Alouise sangat takut pada manusia. Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, adalah daerah yang telah dibuka untuk perkebunan kelapa sawit besar-besaran. Bahkan, kematian induk orangutan pada 23 Juli 2011 yang melibatkan pegawai PT Sabantara Rawi Sentosa (Lewis dan Tadeus) telah dijatuhi pidana penjara 8 bulan dan denda Rp 25.000.000,00 subsider pidana kurungan 2 bulan (9 Mei 2012) oleh Pengadilan Negeri Sangatta. Saat itu induk orangutan tewas dan anaknya masih bisa diselamatkan, di tempat yang sama terdapat satu anak orangutan juga yang telah ditempatkan dalam kandang kayu.

Alouise menjadi harapan di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo. “Jika tubuhnya sudah semakin kuat, dia pasti akan menjadi kandidat terbaik untuk pelepasliaran orangutan.”, ujar Reza Kurniawan, pengamat antropologi primata Centre for Orangutan Protection. 

Tapi harapan itu pupus sudah. 13 Oktober 2019 yang lalu, Alouise ditemukan dalam keadaan telentang mati di kandang. Ada titik bekas sengatan di bagian penisnya. Pada sekitaran titik sengatan, terdapat reaksi lokal yang menyebabkan pembengkakan disekitar perut bagian bawah hingga anusnya. 

Selamat kembali ke pangkuan ibumu, Alouise. Memanjatlah yang tinggi tanpa menghiraukan kami lagi. Abaikan panggilan kami untuk kembali ke kandang saat sore menjelang. Peluklah ibumu dan bermainlah di pohon pilihanmu.

 

ALOUISE KEMBALI KEPANGKUAN IBUNYA (1)

Alouise, orangutan yang melalui perjalanan darat selama empat jam dari kampung Nehas Liah Bing, kecamatan Muara Wahau, kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur ke Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo ini merupakan bayi orangutan berjenis kelamin jantan. 9 Maret 2019 yang lalu, Alouise mulai menjalani masa karantina dan pemeriksaan medis. Tubuh mungilnya mengingatkan kami pada Popi, bayi orangutan betina yang ada di COP Borneo dengan pusar yang masih memerah, sepertinya tali pusarnya baru saja lepas (pupak_bahasa Jawa). Perasaan kawatir menghantui kami, merawat bayi orangutan bukanlah hal yang mudah, ditambah tubuh Alouise yang terlihat ringkih sekali.

Hari berganti, Minggu berlalu dan Bulan semakin menyakinkan kami, Alouise bukan bayi orangutan biasa. Usahanya menumpuk-numpuk ranting dan dedaunan yang kami berikan persis seperti orangutan mulai membangun sarangnya. Mungkin, ingatannya pada ibunya masih melekat kuat. Sikap liarnya muncul sesaat saja, saat masa karantinanya berlalu dan Alouise berkesempatan ke sekolah hutan. Alouise, memanjat pohonnya, tanpa menoleh ke bawah, dan berhenti di ketinggian 20 meter. Panggilan tak dihiraukannya, terus di atas bahkan hingga matahari mulai condong ke barat. Iming-iming susu tak cukup menurunkannya dari pohon.

Tak seorang pun yang tak pernah digigitnya. Gigitan adalah salah satu cara orangutan kecil mempertahankan diri. Tak satu orangutan pun bisa berdekatan dengan nya. Hingga pada satu kesempatan, Septi, orangutan betina remaja menjadi tempat Alouise berlindung. Alouise benar-benar merasa nyaman bersama Septi. Begitu pula sebaliknya, Septi terlihat sangat melindungi Alouise. 

BERMAIN ATAU BERKELAHI

Ketika jam bosan sudah tiba, semua siswa sekolah hutan di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo akan turun ke tanah untuk bermain. Seperti hari ini, awalnya hanya Berani dan Annie yang bermain di tanah lalu tidak lama kemudian Popi dan Mary menyusul. Mereka saling kejar dan saling menggigit satu sama lain. Sama seperti anak kecil ketika bermain dengan teman-temannya. Bayi orangutan pun tidak bisa dilarang ketika sedang bermain dengan bayi orangutan lain.

Namun, kalau hanya bermain-main saja seharusnya tidak ada bekas luka di wajah dan badan Jojo. Tidak hanya Jojo, hampir semua siswa sekolah hutan badannya terdapat bekas luka gigitan. Luka tersebut tidak membuat mereka jera sedikit pun.

Para perawat satwa melihat ini biasa saja, karena siswa sekolah hutan sering bermain-main seperti ini dan ketika dipisah mereka akan cari cara agar dapat bermain dengan yang lainnya lagi. Ya, layaknya seperti anak kecil yang bermain dengan  temannya, ketika dipukul temannya, dia akan menangis lalu tidak lama kemudian mereka akan bermain lagi. Begitu juga dengan anak-anak orangutan yang berada di COP Borneo. Tingkah mereka membuat kami bertanya-tanya, sebenernya mereka bermain atau berkelahi?

HARI PERTAMA SEKOLAH HUTAN USAI KEBAKARAN HUTAN

Tanpa menunggu disuruh untuk keluar, semua orangutan kecil yang mengikuti kelas sekolah hutan keluar dari kandang melewati para perawat satwa yang bersiap untuk menggendong mereka ke sekolah hutan. Tujuan mereka cuman satu, segera bermain!

Udara kering dan panas perlahan mulai berubah kembali menjadi segar dan basah seperti namanya hutan hujan Kalimantan. Bergerak bebas tanpa dibatasi besi kandang membuat ekspresi setiap orangutan berbeda. 

Kebebasan bermain di lantai hutan yang dilakukan Owi sempat membuat para perawat satwa tertawa. Namun tak lama kemudian, Owi mulai mendekati orangutan kecil lainnya yang sedang asik bermain dan menggigitnya. 

Mary langsung meraih pohon yang dipanjatnya, bermain di atas tanpa peduli yang lainnya. Bonti mengamatinya dan sesekali memperhatikan Happi. Happi seperti hilang diantara pepohonan. Semua orangutan kecil menjadi sibuk. Perawat satwa menjadi lebih sibuk dari biasanya, memperhatikan setiap orangutan yang menjadi tanggung jawabnya dan tak lupa mencatatnya. 

Hari pertama sekolah setelah ancaman kebakaran hutan benar-benar membuat semua bersyukur. Tingkah orangutan hari ini mengingatkan kami, saat hujan turun pertama kali di saat usaha memadamkan kebakaran lahan beberapa hari yang lalu. Semoga bahagianya kami bisa dirasakan kamu juga.

SAAT HUJAN MENGHAMPIRI COP BORNEO

Hujan deras pun akhirnya menghampiri pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Rasa syukur luar biasa membuat tim pemadam kebakaran bermain hujan layaknya anak kecil. Berbagai ekspresi mulai dari tertawa, berlarian, meloncat, menari bahkan menangis lega. Hujan yang dinanti-nanti pun datang, padamkan api yang masih membara di antara puing-puing pohon tumbang. 

Lelahnya para relawan pemadam kebakaran hutan yang sejak terbang dari Yogyakarta dan terpaksa turun di Balikpapan untuk melanjutkan perjalanan ke Berau lewat darat seperti luntur terkena hujan pertama di COP Borneo. 

Wety pun berlari membawa kameranya menghampiri kandang orangutan. Alouise terlihat nyaman bersama dengan Septi. Memo berada di hammocknya sambil memain-mainkan ranting dan dedaunan. Orangutan-orangutan kecil terlihat lebih segar dengan cipratan air hujan. Ambon masih dengan sikapnya yang kalem namun terpancar rasa senang dari matanya. Hujan membawa kebahagian buat kami.

SEPTEMBER SIAGA KARHUTLA

September 2019 menjadi bulan paling siaga selama 2019. Berdasarkan data Si Pongi, Karhutla Monitoring Sistem, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, luas kebakaran hutan dan Lahan di Kalimantan Timur pada 2019 mencapai 6.715 hektar. Lokasi rehabilitasi COP Borneo yang berada di dalam kawasan KHDTK Labanan, Berau, Kalimantan Timur menjadi salah satu area rawan terbakar pada saat itu. Tim APE Defender setidaknya menemukan beberapa titik api yang mengarah langsung ke COP Borneo. Hujan yang tidak kunjung turun memperparah persebaran api, menyisakan jarak 1,6 km saja antara COP Borneo dan kobaran api.

Status semula Siaga dinaikkan menjadi Awas I. Kandang Angkut dan peralatan medis sudah siap sedia menghadapi kemungkinan terburuk, yaitu merelokasi orangutan yang berada di COP Borneo menuju tempat yang lebih aman. Kegiatan sekolah hutan ditiadakan, koordinasi dengan BKSDA dan B2P2EHD ditingkatkan. Petugas dari BKSDA Seksi I Berau dan petugas dari Kantor Penghubung B2P2EHD yang berada di Berau selalu memantau dan bergerak bersama untuk memantau pergerakan kebakaran.

Untuk membantu pemadaman api, dua relawan COP dari Yogyakarta terpaksa jalur darat dari Samarinda dengan menumpang pada mobil operasional milik B2P2EHD sekaligus membawa peralatan pemadam guna membantu melokalisir kebakaran. Dengan tamabahan tandon air 1.200 liter dan sedikit rekayasa aliran air, mobil operasional tersebut difungsikan sebagai mobil pemadam untuk mengakses area sulit. Tim pemadam dari COP merupakan ring kedua dari lembaga pemerintahan seperti BKSDA Kaltim, B2P2EHD, KPH Berau Barat dan Pemerintah Daerah.

Lebih kurang selama 17 hari melakukan pemadaman dan pemantauan intensif, akhirnya hujan pertama turun di kawasan KHDTK. Cuaca pun mulai kondusif dan basah. Keberhasilan melokalisir kebakaran tidak terlepas dari kerjasama dan kordinasi yang baik antar pihak. (SON)

Page 3 of 1112345...10...Last »