SAAT HUJAN MENGHAMPIRI COP BORNEO

Hujan deras pun akhirnya menghampiri pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Rasa syukur luar biasa membuat tim pemadam kebakaran bermain hujan layaknya anak kecil. Berbagai ekspresi mulai dari tertawa, berlarian, meloncat, menari bahkan menangis lega. Hujan yang dinanti-nanti pun datang, padamkan api yang masih membara di antara puing-puing pohon tumbang. 

Lelahnya para relawan pemadam kebakaran hutan yang sejak terbang dari Yogyakarta dan terpaksa turun di Balikpapan untuk melanjutkan perjalanan ke Berau lewat darat seperti luntur terkena hujan pertama di COP Borneo. 

Wety pun berlari membawa kameranya menghampiri kandang orangutan. Alouise terlihat nyaman bersama dengan Septi. Memo berada di hammocknya sambil memain-mainkan ranting dan dedaunan. Orangutan-orangutan kecil terlihat lebih segar dengan cipratan air hujan. Ambon masih dengan sikapnya yang kalem namun terpancar rasa senang dari matanya. Hujan membawa kebahagian buat kami.

SEPTEMBER SIAGA KARHUTLA

September 2019 menjadi bulan paling siaga selama 2019. Berdasarkan data Si Pongi, Karhutla Monitoring Sistem, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, luas kebakaran hutan dan Lahan di Kalimantan Timur pada 2019 mencapai 6.715 hektar. Lokasi rehabilitasi COP Borneo yang berada di dalam kawasan KHDTK Labanan, Berau, Kalimantan Timur menjadi salah satu area rawan terbakar pada saat itu. Tim APE Defender setidaknya menemukan beberapa titik api yang mengarah langsung ke COP Borneo. Hujan yang tidak kunjung turun memperparah persebaran api, menyisakan jarak 1,6 km saja antara COP Borneo dan kobaran api.

Status semula Siaga dinaikkan menjadi Awas I. Kandang Angkut dan peralatan medis sudah siap sedia menghadapi kemungkinan terburuk, yaitu merelokasi orangutan yang berada di COP Borneo menuju tempat yang lebih aman. Kegiatan sekolah hutan ditiadakan, koordinasi dengan BKSDA dan B2P2EHD ditingkatkan. Petugas dari BKSDA Seksi I Berau dan petugas dari Kantor Penghubung B2P2EHD yang berada di Berau selalu memantau dan bergerak bersama untuk memantau pergerakan kebakaran.

Untuk membantu pemadaman api, dua relawan COP dari Yogyakarta terpaksa jalur darat dari Samarinda dengan menumpang pada mobil operasional milik B2P2EHD sekaligus membawa peralatan pemadam guna membantu melokalisir kebakaran. Dengan tamabahan tandon air 1.200 liter dan sedikit rekayasa aliran air, mobil operasional tersebut difungsikan sebagai mobil pemadam untuk mengakses area sulit. Tim pemadam dari COP merupakan ring kedua dari lembaga pemerintahan seperti BKSDA Kaltim, B2P2EHD, KPH Berau Barat dan Pemerintah Daerah.

Lebih kurang selama 17 hari melakukan pemadaman dan pemantauan intensif, akhirnya hujan pertama turun di kawasan KHDTK. Cuaca pun mulai kondusif dan basah. Keberhasilan melokalisir kebakaran tidak terlepas dari kerjasama dan kordinasi yang baik antar pihak. (SON)

POSYANDU ORANGUTAN DI TENGAH BENCANA KEBAKARAN HUTAN

Sabtu, 21 September 2019, kandang orangutan-orangutan kecil dibuka. Setiap perawat satwa bertugas memegang satu orangutan. Penimbangan berat badan dimulai. Hari ini, Posyandu Orangutan tetap berjalan. 

Lebatnya Hutan Penelitian Labanan cukup berhasil melindungi udara buruk karena kebakaran. Walau suhu udara meningkat, tapi tak sampai membuat orangutan mengalami sesak nafas atau gangguan saluran pernafasan lainnya.

Wajah-wajah imut orangutan kecil yang biasa ke sekolah hutan terlihat ceria dan penuh harapan. Usaha mereka untuk tetap nurut ketika ditimbang ataupun menjalani pengukuran ternyata sia-sia. Usai Posyandu Orangutan, mereka dikembalikan ke kandang. “Tak sanggup melihat mata mereka yang penuh kekecewaan. Kebakaran hutan dan lahan benar-benar menjadi ancaman serius. Pohon-pohon yang biasanya menutupi langit. Lokasi sekolah hutan yang nyaris tanpa batas, kini terbuka karena kebakaran.”, ujar Wety Rupiana.

MALAM TERASA LEBIH PANJANG KARENA KEBAKARAN HUTAN

Langit KHDTK Labanan terlihat memerah. Si jago merah akhirnya benar-benar menghampiri kami. Jarak 1 km dari kandang orangutan. Ini akan menjadi malam terburuk bagi COP Borneo di Berau, Kalimantan Timur. Semakin memburuk, mesin air rusak. 

Berbekal jet shooter dan gergaji mesin, tim APE Defender menuju kebakaran hutan di sekitaran COP Borneo. Hanya satu tujuan, kebakaran tidak semakin meluas. Tim patroli di lokasi kebakaran, memotong pohon tumbang yang beresiko menyebarkan bara api. Tim juga menyusuri lokasi dan memadamkan bara api. Tak ada suara binatang malam yang menemani atau semilir angin malam yang menyejukkan. Malam ini hanya ada panas yang membara dan suara sang api yang melahap penghalangnya. 

Perlahan, langit kembali menghitam. Kerja keras padamkan api dari pukul 10.00 WITA hingga 00.30 WITA akhirnya membuahkan hasil. Kaki, tangan maupun muka tak lepas dari abu. Pakaian? jangan ditanya. Masih berharap pada sang Pencipta, hujan deras segara turun. 

Terimakasih para pendukung COP, sejujurnya kalian lah yang menguatkan kami. Harapan besar kalian di setiap komentar semakin menyakinkan kami. Kami… tidak sendiri! 

 

BERSAMA PADAMKAN API

Kemarau berhasil mengeringkan hutan hujan Labanan, Berau, Kalimantan Timur. Tumpukan daun-daun mengering di lantai hutan bahkan mencapai lutut kaki. Kanopi hutan tak menyatu lagi, matahari mencapai akar pohon tanpa ada penghalang. “Api sekecil apapun akan sangat berbahaya.”, ujar Ramadhani, manajer area Kalimantan Centre for Orangutan Protection. 

Status Awas di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo meningkatkan kinerja tim. Pagi sesampai di camp, tanpa komando sudah ada yang memastikan headlamp (lampu kepala), senter, handy talkie (HT) dan GPS dalam kondisi dicas/diisi ulang. Rasa lelah yang menghantui juga telah membuat sebagian tertidur di camp. 

Bersyukur, api dapat dipadamkan dalam waktu tiga jam. Kedua puluh orang yang turun sore ini adalah penyelamat COP Borneo. Tim KPH, BKSDA Berau dan B2P2EHD bersama tim COP Borneo, bahu membahu memadamkan api. Sementara tim medis bersama perawat satwa sudah mempersiapkan diri untuk memindahkan orangutan dari kandang karantina ke kandang transport. 

Pagi ini… kabut asap masih menghampiri COP Borneo. Selamat istirahat semuanya. 

BANTU PADAMKAN API DI DESA MERASAK

Hujan tak kunjung turun. Labanan, Berau, Kalimantan Timur diperburuk dengan musim berladang yang membuat api menjalar semakin liar. Tak hanya ladang yang seharusnya dibuka untuk musim tanam selanjutnya, angin dan keringnya tanaman membuat api tak lagi terkontrol. “Kami di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo bersiap untuk yang terburuk. Mencegah lebih baik, tapi apa daya, turun langsung membantu melokalisir kebakaran menjadi pilihan saat ini. Semoga tak berlanjut ke COP Borneo.”, ujar Ramadhani, manajer COP untuk Kalimantan. 

11 September 2019, kelas sekolah hutan dihentikan. Tim dibagi menjadi dua untuk segera membantu masyarakat desa Merasak, Berau, Kalimantan Timur untuk memadamkan api yang sudah terlanjur menyebar kemana-mana. Dengan berbekal 3 jet shooter, mesin air dan selang tim APE Defender menuju ke lokasi. Bersyukur sekali kami tidak hanya sendiri, masyarakat dan BNPB Berau juga sedang menuju ke lokasi. “Sayang, api sudah menjalar dan kebakaran semakin luas.”, ujar Linau, animal keeper yang turun ke lokasi kebakaran. 

Terimakasih atas dukungan para suporter COP dimana pun berada. Kebakaran lahan adalah bencana yang hampir setiap tahun terjadi. Panasnya suhu di kebakaran lahan juga membuat gerak tim menjadi lambat. “Kami harus memperhatikan keselamatan tim juga. Safety first, begitu yang harus diutamakan. Kami juga mengatur istirahat. Tetap dukung kami dan doakan kami.”, ujar Wety Rupiana, baby sitter orangutan yang ikut turun di kebakaran lahan Merasak kali ini. 

HAMMOCK OWI DKK DIPERBAIKI

Apakah kamu bisa membayangkan betapa berantakannya kamar anak balita tanpa pengawasan? Bedak bertaburan, minyak telon yang berceceran dan pakaian yang sudah tidak berada di tempatnya lagi? Seperti itulah kandang yang berada di blok kandang sosialisasi. Kandang yang berisi orangutan Owi, Happi, Bonti dan Annie. 

Keempat orangutan ini adalah orangutan dengan usia 3 hingga 5 tahun. Hammock yang merupakan tempat tidur gantung mereka, tak terhitung lagi harus diperbaiki berapa kali. Putus bahkan robek walaupun hammock terbuat dari selang pemadam kebakaran yang sangat kuat. “Ternyata orangutan-orangutan kecil sudah menunjukkan kekuatannya. 

“Kalau hanya diikat, pasti putus lagi. Coba pakai baut, biar kuat.”, kata Johni, kordinator perawat satwa di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Minggu pagi, 11 Agustus beberapa perawat satwa sibuk memperbaiki hammock kandang grup Owi. Sementara Owi dan kawan-kawannya dibawa ke arena bermain dengan dokter hewan. Perbaikan ini tidak memakan waktu lama, karena keahlian perawat satwa COP Borneo yang bisa diandalkan, apalagi hanya memperbaiki hammock.

Baiklah Owi dan gengnya, kita lihat, hammock akan bertahan berapa lama. (FLO)

PERAMBAHAN HUTAN LABANAN DIKAWATIRKAN MEMICU KEBAKARAN HUTAN

Suara gergaji mesin terdengar kembali di dekat pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur. Tak lama kemudian suara robohnya pohon mengenai pepohonan yang lain hingga dentuman saat pohon mengenai tanah. 

Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) adalah kawasan hutan yang ditetapkan untuk keperluan penelitian dan pengembangan, pendidikan dan pelatihan serta kepentingan religi dan budaya setempat. Ini sesuai dengan amanat UU No. 41 tahun 1999 dengan tanpa mengubah kawasan yang dimaksud. 

Namun, kepemilikan warga lokal sejak zaman nenek moyang akan menyebabkan perselisihan dan sengketa penggunaan lahan. Seperti sekarang ini, ketika pohon-pohon di sekitaran lokasi kandang dan sekolah hutan COP Borneo telah ditebangi. Menurut keterangan, lokasi penebangan tersebut akan dijadikan ladang bagi warga. Usai ditebang, biasanya sisa-sisa tebangan pohon dibakar. Musim kemarau semakin memperburuk keadaan. Pohon-pohon yang telah ditebang menjadi sangat kering dan dapat dengan mudah terbakar. 

Kalau sudah begitu, saluran pernafasan orangutan bahkan manusia penghuni COP Borneo akan terganggu. Orangutan-orangutan kecil akan lebih terasa karena kondisinya yang masih sangat sensitif pada perubahan. Kasus ini bukanlah kasus yang mudah. (SAD)

TRANSLOKASI BERUANG MADU KE BALATIKON

Beruang Madu merupakan salah satu satwa liar yang dilindungi Undang-Undang. Satwa ini tidak akan masuk area “hooman” apabila habitat mereka tidak diusik. Contohnya, beruang madu ini. Dia “terpaksa” masuk ke area manusia karena kelaparan. Karena manusia terusik dengan kehadiran beruang madu tersebut, akhirnya satwa ini dimasukkan ke dalam kandang dan diberi makan “layaknya manusia” seperti dikasih roti.

Karena mendapat pengaduan dari pihak Pertamina, akhirnya BKSDA Berau dan tim COP berangkat ke lokasi untuk translokasi beruang madu tersebut ke Hutan Lindung Balatikon. Tim APE Defender dari Centre for Orangutan Protection, awalnya menggunakan metode “door to door” untuk memindahkan beruang ke kandang angkut. Namun metode tersebut tidak berhasil setelah tim menunggu selama dua jam. Akhirnya beruang madu dibius.

Keesokan harinya, jalur darat maupun air ditempuh untuk menuju lokasi translokasi. Pencarian titik pelepasan juga dipilih lebih hati-hati, mengingat beruang liar. Briefing sebelum kandang dibuka pun dilakukan untuk memastikan proses berjalan lancar dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diingingkan. “Beruang madu sangat mungkin menyerang manusia.”, ujar drh. Rizki Widiyanti, tim medis APE Defender.

Dan saat kandang angkut dibuka dengan tali, beruang tak langsung menuju lebatnya hutan. Beruang madu tersebut berbalik badan sambil mengendus-endus, seperti mengisyaratkan ucapan “terimakasih” karena sudah dikembalikan ke habitatnya. (QQW)

MICHELLE’S SECOND MONTH IN THE ORANGUTAN ISLAND

Since mid-May 2019, Michelle has inhabited a pre-release island which is the final stage of a rehabilitation process at COP Borneo. Michelle survives in semi-wild environments such as by making nests, looking for natural food, and others and this will determine whether she can be released back into her habitat or not.

During the first month Michelle was still adapting to her new environment. She never looked down to the ground, she just moved around with the help of a rope mounted on a tree on the island.

The second month, Michelle began to look down to the ground, usually during the day. She went down to the ground maybe to find food on the old feeding platform. Not finding food there, she immediately returned to the tree quickly. “It looks more like running,” said Steven, an island monitoring staff during June. (

BULAN KEDUA MICHELLE DI PULAU

Sejak pertengahan bulan Mei 2019, Michelle menghuni pulau pra-pelepasliaran yang merupakan tahapan akhir sebuah proses rehabilitasi di COP Borneo. Perkembangannya Michelle bertahan hidup di lingkungan yang semi liar seperti membuat sarang, mencari pakan alami, dan lain-lain akan menjadi penentu, apakah dia bisa dilepasliarkan kembali ke habitatnya atau tidak. 

Sebulan pertama Michelle dipindahkan ke pulau, dia masih beradaptasi dengan lingkungan barunya. Tidak pernah terlihat Michelle turun ke tanah, dia hanya berpindah-pindah tempat dengan bantuan tali yang dipasang di atas pohon di dalam pulau.

Bulan kedua, Michelle mulai terlihat turun ke tanah, biasanya pada siang hari. Dimungkinkan dia turun ke tanah untuk mencari makan di feeding platform yang lama. Tidak mendapati makanan di situ, dia langsung kembali ke atas pohon dengan cepat. “Lebih terlihat seperti berlari.”, kata Steven, staf monitoring pulau selama bulan Juni. (FLO)

Page 5 of 12« First...34567...10...Last »