POSYANDU ORANGUTAN DI TENGAH BENCANA KEBAKARAN HUTAN

Sabtu, 21 September 2019, kandang orangutan-orangutan kecil dibuka. Setiap perawat satwa bertugas memegang satu orangutan. Penimbangan berat badan dimulai. Hari ini, Posyandu Orangutan tetap berjalan. 

Lebatnya Hutan Penelitian Labanan cukup berhasil melindungi udara buruk karena kebakaran. Walau suhu udara meningkat, tapi tak sampai membuat orangutan mengalami sesak nafas atau gangguan saluran pernafasan lainnya.

Wajah-wajah imut orangutan kecil yang biasa ke sekolah hutan terlihat ceria dan penuh harapan. Usaha mereka untuk tetap nurut ketika ditimbang ataupun menjalani pengukuran ternyata sia-sia. Usai Posyandu Orangutan, mereka dikembalikan ke kandang. “Tak sanggup melihat mata mereka yang penuh kekecewaan. Kebakaran hutan dan lahan benar-benar menjadi ancaman serius. Pohon-pohon yang biasanya menutupi langit. Lokasi sekolah hutan yang nyaris tanpa batas, kini terbuka karena kebakaran.”, ujar Wety Rupiana.

MALAM TERASA LEBIH PANJANG KARENA KEBAKARAN HUTAN

Langit KHDTK Labanan terlihat memerah. Si jago merah akhirnya benar-benar menghampiri kami. Jarak 1 km dari kandang orangutan. Ini akan menjadi malam terburuk bagi COP Borneo di Berau, Kalimantan Timur. Semakin memburuk, mesin air rusak. 

Berbekal jet shooter dan gergaji mesin, tim APE Defender menuju kebakaran hutan di sekitaran COP Borneo. Hanya satu tujuan, kebakaran tidak semakin meluas. Tim patroli di lokasi kebakaran, memotong pohon tumbang yang beresiko menyebarkan bara api. Tim juga menyusuri lokasi dan memadamkan bara api. Tak ada suara binatang malam yang menemani atau semilir angin malam yang menyejukkan. Malam ini hanya ada panas yang membara dan suara sang api yang melahap penghalangnya. 

Perlahan, langit kembali menghitam. Kerja keras padamkan api dari pukul 10.00 WITA hingga 00.30 WITA akhirnya membuahkan hasil. Kaki, tangan maupun muka tak lepas dari abu. Pakaian? jangan ditanya. Masih berharap pada sang Pencipta, hujan deras segara turun. 

Terimakasih para pendukung COP, sejujurnya kalian lah yang menguatkan kami. Harapan besar kalian di setiap komentar semakin menyakinkan kami. Kami… tidak sendiri! 

 

BERSAMA PADAMKAN API

Kemarau berhasil mengeringkan hutan hujan Labanan, Berau, Kalimantan Timur. Tumpukan daun-daun mengering di lantai hutan bahkan mencapai lutut kaki. Kanopi hutan tak menyatu lagi, matahari mencapai akar pohon tanpa ada penghalang. “Api sekecil apapun akan sangat berbahaya.”, ujar Ramadhani, manajer area Kalimantan Centre for Orangutan Protection. 

Status Awas di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo meningkatkan kinerja tim. Pagi sesampai di camp, tanpa komando sudah ada yang memastikan headlamp (lampu kepala), senter, handy talkie (HT) dan GPS dalam kondisi dicas/diisi ulang. Rasa lelah yang menghantui juga telah membuat sebagian tertidur di camp. 

Bersyukur, api dapat dipadamkan dalam waktu tiga jam. Kedua puluh orang yang turun sore ini adalah penyelamat COP Borneo. Tim KPH, BKSDA Berau dan B2P2EHD bersama tim COP Borneo, bahu membahu memadamkan api. Sementara tim medis bersama perawat satwa sudah mempersiapkan diri untuk memindahkan orangutan dari kandang karantina ke kandang transport. 

Pagi ini… kabut asap masih menghampiri COP Borneo. Selamat istirahat semuanya. 

BANTU PADAMKAN API DI DESA MERASAK

Hujan tak kunjung turun. Labanan, Berau, Kalimantan Timur diperburuk dengan musim berladang yang membuat api menjalar semakin liar. Tak hanya ladang yang seharusnya dibuka untuk musim tanam selanjutnya, angin dan keringnya tanaman membuat api tak lagi terkontrol. “Kami di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo bersiap untuk yang terburuk. Mencegah lebih baik, tapi apa daya, turun langsung membantu melokalisir kebakaran menjadi pilihan saat ini. Semoga tak berlanjut ke COP Borneo.”, ujar Ramadhani, manajer COP untuk Kalimantan. 

11 September 2019, kelas sekolah hutan dihentikan. Tim dibagi menjadi dua untuk segera membantu masyarakat desa Merasak, Berau, Kalimantan Timur untuk memadamkan api yang sudah terlanjur menyebar kemana-mana. Dengan berbekal 3 jet shooter, mesin air dan selang tim APE Defender menuju ke lokasi. Bersyukur sekali kami tidak hanya sendiri, masyarakat dan BNPB Berau juga sedang menuju ke lokasi. “Sayang, api sudah menjalar dan kebakaran semakin luas.”, ujar Linau, animal keeper yang turun ke lokasi kebakaran. 

Terimakasih atas dukungan para suporter COP dimana pun berada. Kebakaran lahan adalah bencana yang hampir setiap tahun terjadi. Panasnya suhu di kebakaran lahan juga membuat gerak tim menjadi lambat. “Kami harus memperhatikan keselamatan tim juga. Safety first, begitu yang harus diutamakan. Kami juga mengatur istirahat. Tetap dukung kami dan doakan kami.”, ujar Wety Rupiana, baby sitter orangutan yang ikut turun di kebakaran lahan Merasak kali ini. 

HAMMOCK OWI DKK DIPERBAIKI

Apakah kamu bisa membayangkan betapa berantakannya kamar anak balita tanpa pengawasan? Bedak bertaburan, minyak telon yang berceceran dan pakaian yang sudah tidak berada di tempatnya lagi? Seperti itulah kandang yang berada di blok kandang sosialisasi. Kandang yang berisi orangutan Owi, Happi, Bonti dan Annie. 

Keempat orangutan ini adalah orangutan dengan usia 3 hingga 5 tahun. Hammock yang merupakan tempat tidur gantung mereka, tak terhitung lagi harus diperbaiki berapa kali. Putus bahkan robek walaupun hammock terbuat dari selang pemadam kebakaran yang sangat kuat. “Ternyata orangutan-orangutan kecil sudah menunjukkan kekuatannya. 

“Kalau hanya diikat, pasti putus lagi. Coba pakai baut, biar kuat.”, kata Johni, kordinator perawat satwa di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Minggu pagi, 11 Agustus beberapa perawat satwa sibuk memperbaiki hammock kandang grup Owi. Sementara Owi dan kawan-kawannya dibawa ke arena bermain dengan dokter hewan. Perbaikan ini tidak memakan waktu lama, karena keahlian perawat satwa COP Borneo yang bisa diandalkan, apalagi hanya memperbaiki hammock.

Baiklah Owi dan gengnya, kita lihat, hammock akan bertahan berapa lama. (FLO)

PERAMBAHAN HUTAN LABANAN DIKAWATIRKAN MEMICU KEBAKARAN HUTAN

Suara gergaji mesin terdengar kembali di dekat pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur. Tak lama kemudian suara robohnya pohon mengenai pepohonan yang lain hingga dentuman saat pohon mengenai tanah. 

Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) adalah kawasan hutan yang ditetapkan untuk keperluan penelitian dan pengembangan, pendidikan dan pelatihan serta kepentingan religi dan budaya setempat. Ini sesuai dengan amanat UU No. 41 tahun 1999 dengan tanpa mengubah kawasan yang dimaksud. 

Namun, kepemilikan warga lokal sejak zaman nenek moyang akan menyebabkan perselisihan dan sengketa penggunaan lahan. Seperti sekarang ini, ketika pohon-pohon di sekitaran lokasi kandang dan sekolah hutan COP Borneo telah ditebangi. Menurut keterangan, lokasi penebangan tersebut akan dijadikan ladang bagi warga. Usai ditebang, biasanya sisa-sisa tebangan pohon dibakar. Musim kemarau semakin memperburuk keadaan. Pohon-pohon yang telah ditebang menjadi sangat kering dan dapat dengan mudah terbakar. 

Kalau sudah begitu, saluran pernafasan orangutan bahkan manusia penghuni COP Borneo akan terganggu. Orangutan-orangutan kecil akan lebih terasa karena kondisinya yang masih sangat sensitif pada perubahan. Kasus ini bukanlah kasus yang mudah. (SAD)

TRANSLOKASI BERUANG MADU KE BALATIKON

Beruang Madu merupakan salah satu satwa liar yang dilindungi Undang-Undang. Satwa ini tidak akan masuk area “hooman” apabila habitat mereka tidak diusik. Contohnya, beruang madu ini. Dia “terpaksa” masuk ke area manusia karena kelaparan. Karena manusia terusik dengan kehadiran beruang madu tersebut, akhirnya satwa ini dimasukkan ke dalam kandang dan diberi makan “layaknya manusia” seperti dikasih roti.

Karena mendapat pengaduan dari pihak Pertamina, akhirnya BKSDA Berau dan tim COP berangkat ke lokasi untuk translokasi beruang madu tersebut ke Hutan Lindung Balatikon. Tim APE Defender dari Centre for Orangutan Protection, awalnya menggunakan metode “door to door” untuk memindahkan beruang ke kandang angkut. Namun metode tersebut tidak berhasil setelah tim menunggu selama dua jam. Akhirnya beruang madu dibius.

Keesokan harinya, jalur darat maupun air ditempuh untuk menuju lokasi translokasi. Pencarian titik pelepasan juga dipilih lebih hati-hati, mengingat beruang liar. Briefing sebelum kandang dibuka pun dilakukan untuk memastikan proses berjalan lancar dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diingingkan. “Beruang madu sangat mungkin menyerang manusia.”, ujar drh. Rizki Widiyanti, tim medis APE Defender.

Dan saat kandang angkut dibuka dengan tali, beruang tak langsung menuju lebatnya hutan. Beruang madu tersebut berbalik badan sambil mengendus-endus, seperti mengisyaratkan ucapan “terimakasih” karena sudah dikembalikan ke habitatnya. (QQW)

MICHELLE’S SECOND MONTH IN THE ORANGUTAN ISLAND

Since mid-May 2019, Michelle has inhabited a pre-release island which is the final stage of a rehabilitation process at COP Borneo. Michelle survives in semi-wild environments such as by making nests, looking for natural food, and others and this will determine whether she can be released back into her habitat or not.

During the first month Michelle was still adapting to her new environment. She never looked down to the ground, she just moved around with the help of a rope mounted on a tree on the island.

The second month, Michelle began to look down to the ground, usually during the day. She went down to the ground maybe to find food on the old feeding platform. Not finding food there, she immediately returned to the tree quickly. “It looks more like running,” said Steven, an island monitoring staff during June. (

BULAN KEDUA MICHELLE DI PULAU

Sejak pertengahan bulan Mei 2019, Michelle menghuni pulau pra-pelepasliaran yang merupakan tahapan akhir sebuah proses rehabilitasi di COP Borneo. Perkembangannya Michelle bertahan hidup di lingkungan yang semi liar seperti membuat sarang, mencari pakan alami, dan lain-lain akan menjadi penentu, apakah dia bisa dilepasliarkan kembali ke habitatnya atau tidak. 

Sebulan pertama Michelle dipindahkan ke pulau, dia masih beradaptasi dengan lingkungan barunya. Tidak pernah terlihat Michelle turun ke tanah, dia hanya berpindah-pindah tempat dengan bantuan tali yang dipasang di atas pohon di dalam pulau.

Bulan kedua, Michelle mulai terlihat turun ke tanah, biasanya pada siang hari. Dimungkinkan dia turun ke tanah untuk mencari makan di feeding platform yang lama. Tidak mendapati makanan di situ, dia langsung kembali ke atas pohon dengan cepat. “Lebih terlihat seperti berlari.”, kata Steven, staf monitoring pulau selama bulan Juni. (FLO)

MICHELLE AND RAIN IN ORANGUTAN ISLAND

A cold day sometimes makes us hungry. The rain that fell all day on the pre-release island seemed to affect Michelle’s appetite. It’s been more than a month Michelle has survived on this island alone. Human intervention is only in the morning and evening when feeding twice a day. Not as usual, she appears at the feeding place more than one hour later. After eating, she returned to the center of the island, where she usually rested.

Unlike the previous days which were quite hot, today Michelle was very often seen appearing on feeding places to take food. Every time she heard a sharp sound from the patrol team, she would appear peeking out from behind the tree, then then towards the tower looking for more food.

When it’s cold like this, it’s good to fill your stomach to keep warm. They’re just like us! (EBO)

MICHELLE DAN HUJAN DI PULAU ORANGUTAN

Hari yang dingin kadang membuat kita lapar. Hujan yang turun seharian di pulau pra-pelepasliaran sepertinya mempengaruhi nafsu makan Michelle. Sudah sebulan lebih Michelle bertahan di pulau ini sendirian. Campur tangan manusia hanya saat pagi dan sore hari ketika memberi makan dua kali sehari. Tidak seperti biasanya, dia muncul di tempat feeding lebih lambat satu jam. Setelah makan, dia kembali lagi ke tengah pulau, tempat biasanya dia berisitarahat.

Berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang cukup panas, hari ini dia sangat sering terlihat muncul di tempat feeding untuk mengambil makanan. Setiap mendengar suara ketinting dari tim patroli, dia akan muncul mengintip dari balik pohon, lalu kemudian menuju menara mencari makanan lagi. 

Dingin-dingin begini enaknya mengisi perut agar tetap hangat ya. Ternyata seperti kita juga ya! (FLO)

 

FIVE YEARS OF COP BORNEO ORANGUTAN RESCUE CENTER

Orangutan Rescue Center program is a joint work between the East Kalimantan Natural Resources Conservation Center and the Dipterokarpa Forest Ecosystem Research and Development Center. Infrastructure development was carried out in stages establish 1 block of quarantine cages, 1 block of socialization cages, 1 block of adult orangutan pens, 1 clinic, 1 employee mess, 1 kitchen, 2 bathrooms / toilets and 1 fruit warehouse. Throughout 2014 to 2019, Borneo COP has accommodated 24 individual orangutans from state confiscations, handed over by communities and victims of conflict.

Forest schools are part of the orangutan rehabilitation program under the age of 5 years. Currently there are 9 orangutans registered in the forest school program. Furthermore, while locations where orangutans are ready to be released needs further evaluation, the Center for Orangutan Protection is building orangutan monitoring posts and operating pre-release islands.

To date, there have been five individual orangutans released after going through the Borneo COP orangutan rehabilitation program. The existence of the Borneo COP also helps the East Kalimantan BKSDA in handling orangutan conflicts and supports the enforcement of wildlife crime in the East Kalimantan region.

Borneo COP also involves the community in providing orangutan feed, helps tourism conscious villages through village ecotourism programs and conducts free village animal treatment by the COP medical team. The strategic location of Borneo COP covering East Kalimantan and North Kalimantan has become an important part of orangutan conservation in a rehabilitation program. Hopefully the Orangutan Rescue Program in East Kalimantan can continue. (EBO)

LIMA TAHUN PUSAT PENYELAMATAN ORANGUTAN COP BORNEO

Program Pusat Penyelamatan Orangutan ini adalah kerja bersama antara Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur dan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa. Pembangunan infrastruktur dilakukan secara bertahap hingga menghasilkan 1 blok kandang karantina, 1 blok kandang sosialisasi, 1 blok kandang orangutan dewasa, 1 klinik, 1 mess karyawan, 1 dapur, 2 kamar mandi/wc dan 1 gudang buah. Sepanjang tahun 2014 hingga 2019, COP Borneo telah menampung 24 individu orangutan yang berasal dari sitaan negara, serahan masyarakat dan korban konflik.

Sekolah hutan adalah bagian dari program rehabilitasi orangutan yang berusia di bawah 5 tahun. Saat ini ada 9 orangutan yang terdaftar dalam program sekolah hutan. Selanjutnya kebutuhan pada lokasi dimana orangutan yang sudah siap untuk dilepasliarkan namun masih diperlukan evaluasi lebih dalam lagi, Centre for Orangutan Protection membangun pos monitoring orangutan dan mengoperasikan pulau pra-pelepasliaran.

Hingga saat ini, ada lima individu orangutan yang telah dilepasliarkan setelah melalui program rehabilitasi orangutan COP Borneo. Keberadaan COP Borneo juga membantu BKSDA Kaltim dalam penanganan konflik orangutan dan mendukung penegakkan hukum kejahatan satwa liar di wilayah Kalimantan Timur. 

COP Borneo juga melibatkan masyarakat dalam pengadaan pakan orangutan, membantu desa sadar wisata melalui progam ekowisata kampung (ecotrip) dan melakukan pengobatan satwa desa gratis oleh tim medis COP. Lokasi COP Borneo yang sangat strategis mencakup Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara telah menjadi bagian penting konservasi orangutan dalam program rehabilitasi. Semoga Program Penyelamatan Orangutan di Kalimantan Timur dapat terus berkelanjutan.

Page 4 of 11« First...23456...10...Last »