2025, TAHUN TUMBUH KEMBANG PESAT ARTO DAN HARAPI

Siapa yang tak kenal dengan Arto dan Harapi? Mereka adalah dua bayi orangutan satu paket yang kerap dijuluki “Double Trouble Couple” karena tingkah usulnya. Memasuki tahun 2026, keduanya sudah resmi menjadi teman terbaik selama 2 tahun! Penasaran apa saja yang tumbuh pada mereka selama tahun 2025? Mari kita bahas.

Jika sebelumnya Arto dan Harapi selalu ditemukan berpelukan erat sebagai perlindungan diri, setahun ini mereka mulai menjelajahi petualangannya sendiri loh. Keduanya sudah punya ketertarikan yang semakin berbeda. Meskipun begitu, kemistri (dari kata chemistry) mereka tetap kuat karena tetap menjadi rekan satu kamar saat masuk kandang. Tahun 2025 adalah tahun pendewasaan bagi Arto dan Harapi.

Satu tahun ini, Arto dan Harapi menjalani kehidupan sebagai “kakak” bagi Felix dan Pansy yang masuk pusat rehabilitasi BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) di awal tahun. Arto lebih akrab dengan Pansy, sedangkan Harapi lebih dekat dengan Felix. Keduanya membantu para bayi orangutan baru ini untuk beradaptasi dengan lebih cepat dan baik. Saat ini, Arto dan Harapi tidak akan keberatan untuk bertukar rekan tidur dan sekolah hutan. Mereka jauh lebih dewasa.

Arto yang memang sudah tumbuh super aktif dan social butterfly, tetap sensitif pada suara keras dan gerakan tiba-tiba. Tapi satu tahun ini, Arto si penakut pada keeper berbadan kekar, mulai menghadapi masalahnya dan mampu membela dirinya sendiri. Tidak lagi terlihat ragu, Arto akan mengejar siapa pun yang mengganggunya dan memberikan gigitan pada boots, lengan, sambil menarik apa saja. Sangarnya Arto sering semakin nampaknya tulang bakal cheekpad di wajah. Arto mencetak sejarah sebagai orangutan dengan peningkatan bobot badan paling signifikan sepanjang tahun. Ia bisa naik hingga 0,8 kg sebulan, tanpa adanya catatan penurunan berat badan hingga Posyandu terlahir Desember lalu.

Pusat rehabilitasi merupakan saksi tumbuh kembangnya bayi orangutan, terutama pada Arto dan Harapi yang belum lama melewati usia 1000 harinya. Fase pertubuhan mereka akan sangat krusial, didukung dengan daya kembang mereka yang super cepat dan tanggap. Saat ini, Arto dan Harapi sudah ulah ditangani keeper lain untuk membantu mereka berkembang dengan perawatan yang lebih advanced. Senang bisa dan masih akan menemani mereka mengalami momen-momen ajaibnya. (RAR)

SATU TAHUN FELIX DI BORA

Tak terasa, sudah satu tahun lamanya Felix kami rawat di Pusat Rehabilitasi BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Dalam kurun waktu tersebut, begitu banyak perubahan dan perkembangan positif yang terlihat pada diri Felix.

Sebelum bercerita tentang Felix yang sekarang, aku ingin mengajak kilas balik sejenak ke masa awal kedatangan di BORA. Felix adalah bayi orangutan hasil konfiskasi. Sebelumnya, ia dipelihara sebagai hewan peliharaan oleh warga setempat. Kami sangat bersyukur Felix akhirnya berhasil di-rescue.

Saat pertama kali tiba, kondisi Felix sangat memprihatinkan. Tubuhnya kecil, lemah, dan dipenuhi luka. Ia hampir tidak memiliki energi untuk bergerak, sehingga hanya bisa duduk di pangkuan babysitter. Felix bahkan sempat mengalami demam yang membuatnya harus mengonsumsi obat hingga larut malam. Masa-masa itu menjadi periode yang berat, bagi Felix maupun bagi kami yang merawatnya.

Namun, perlahan tapi pasti, Felix berhasil melewati masa-masa sulit tersebut. Kini Felix telah tumbuh menjadi orangutan yang aktif, dan gemar bermain serta mengeksplorasi pepohonan tinggi. Selama satu tahun berada di pusat rehabilitasi, Felix bertemu banyak teman sesama orangutan yang membantunya belajar dan bertumbuh untuk benar-benar “menjadi” orangutan.

Salah satu teman terdekat Felix adalah Pansy, kawan satu kandangnya. Felix yang awalnya terlihat takut-takut pada Pansy, kini hampir selalu beraktivitas bersama, baik di dalam kandang maupun di sekolah hutan. Felix bahkan akan menangis ketika keeper hanya mengajak Pansy ke sekolah hutan tanpa dirinya. Ada momen-momen lucu ketika Pansy yang lebih lihai berpindah dari satu pohon ke pohon lain, sementara Felix kesulitan mengikutinya dan hanya bisa dia melongo melihat Pansy semakin menjauh di antara pepohonan tinggi. Kini, keduanya hanya bisa diam melongo melihat Pansy semakin menjauh di antara pepohonan tinggi. Kini, keduanya seperti tidak terpisahkan.

Selain Pansy, Felix juga memiliki orangutan favorit lainnya, yaitu Harapi dan Ochre. Bersama dua sahabat ini, Felix lebih sering bermain berguling-guling di tanah. Hal ini berbeda saat ia bersama Pansy yang cenderung mengajaknya berkeliling area sekolah hutan dari atas pohon. Ada kalanya Felix sudah berhasil memanjat ke atas pohon, namun begitu melihat Harapi atau Ochre di bawah, ia akan langsung memilih turun dan bermain di lantai hutan, sesuatu yang sering kali membuat babysitter sedikit kesal.

Felix memang telah berkembang pesat selama satu tahun terakhir. Meski begitu, masih banyak keterampilan liar yang perlu ia pelajari ke depannya. Perjalanan Felix masih panjang dan kami akan terus mendampingi setiap langkahnya menuju kehidupan yang lebih mandiri sebagai orangutan liar. (JAN)

MENJADI PAHLAWAN UNTUK PAHLAWAN KELESTARIAN ORANGUTAN DI HARI PAHLAWAN

Di Hari Pahlawan tahun ini, cerita bayi orangutan tanpa induk yaitu Harapi, Arto, dan Felix telah dibagikan pada penggiat konservasi se-Asia dalam Wild Animal Rescue Network (WARN) Conference di Hua Hin, Thailand. Saya berkesempatan untuk mengantarkan cerita perjalanan tumbuh kembang mereka selama proses rescue hingga rehabilitasi. Dua tahun menjadi babysitter orangutan di Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) membuat momen ini sangat penting, karena jadi kali pertama saya juga menceritakan seluruh perjalanan saya selama bekerja untuk mereka.

Pemulihan kondisi psikis bayi orangutan tanpa induk akibat konflik satwa liar dengan manusia menjadi topik yang saya bagikan di WARN 2025 ini. Orangutan Babies’ Trauma Recovery Journey from Being Captivated by Humans, bayi-bayi tersebut seringkali menunjukkan perilaku yang menunjukkan rasa takut dan ketergantungan berlebihan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi babysitter yang dalam proses ini membantu orangutan mencapai kondisi yang lebih baik sekaligus mengisi peran induk.

Pagi hari pertama konferensi, setelah acara pembukaan, saya naik podium bersiap membagikan pesan dari bayi orangutan kepada audiens. Suasana venue sangat tenang, saya bisa melihat audiens terkunci pandangannya pada slide 1 materi saya dengan foto saya dengan bayi orangutan di lokasi sekolah hutan. Cerita diawali dari latar belakang bayi orangutan sebelum masuk BORA yang umumnya tidak beruntung. Di mulai dari diperlakukan seperti bayi manusia dan hewan peliharaan, tidak ditempatkan di tempat yang nyaman, hingga menjadi korban rasa kepemilikan berlebihan yang berdampak pada kondisi tubuh baik fisik maupun psikis. Di bagian ini, atmosfer konferensi penuh atensi seiring dengan rasa simpati yang muncul pada setiap foto di lapangan yang saya tampilkan.

Fakta bahwa Harapi, Arto, dan Felix kini sudah berkembang pesat, walau masih punya rasa takut dan trauma akibat apa yang mereka alami. Proses penyembuhan trauma satu bayi orangutan saja membutuhkan waktu yang sangat lama, yang mungkin sama dengan ratusan konflik bayi orangutan dengan manusia di tempat lain. Rasa haru dan bangga pada ketiganya bagaimana mereka bertahan dari awal tiba di BORA hingga hari ini dengan berbagai catatan pencapaiannya. Sebuah perasaan yang sulit dikendalikan saat gemuruh tepuk tangan setelah saya menutupnya dengan mengucapkan “Thank you”. Itu tidak berakhir di presentasi, berlanjut pada saat istirahat atau jam makan yang membuat saya sadar bahwa saya dan teman-teman di COP bukan satu-satunya pihak yang peduli dengan orangutan. Kesempatan terbaik berada di acara ini merupakan hadiah ulang tahun bermakna bagi saya selama bekerja di Centre for Orangutan Protection. Saya berharap, di hari pahlawan tahun ini, saya bisa menjadi pahlawan yang menyampaikan harapan dari Harapi, Arto, dan Felix, pahlawan yang memanjangkan kelestarian orangutan lewat daya hidup kuat mereka. (RAR)

JAINUL ATAU JAHILNUL

Setiap individual orangutan memiliki karakter dan sifat yang berbeda. Jainul orangutan yang sangat nyebelin luar biasa, ia selalu bertingkah yang membuat kita geleng-geleng kepala. Di sekolah hutan ia selalu jahil dengan keeper terutama keeper perempuan, karena tidak takut sama sekali dan tidak ada kapoknya untuk jahil. Kejahilan yang ia sering lakukan adalah menarik boots, menggigit kaki, mengejar-ngejar keeper, mengambil buku pengamatan dirinya maupun punya orangutan lain.

Di suatu hari sekolah hutan, Jainul memulai aksi jahilnya yang membuat kaki keeper cedera.
Janet: “Nov, awas ada Jainul di belakang.”
Keeper Novi langsung berdiri dan berlari menghindari Jainul, tak lama berlari, Novi pun terjatuh karena kakinya tergelincir di permukaan tanah yang tidak rata. “Bruk!”, Novi pun jatuh dan menangis.
Novi: “Aduh, kaki ku sakit banget huhuhuhu”.

Jainul duduk diam dan mengamati Novi, tapi setelah beberapa menit ia memulai aksi jahilnya kembali menggigit sepatu boots nya Novi, dan Janet berusaha menghalangi niat Jainul.
Janet: “Jainul, sudah itu! Kaki Novi lagi sakit.”

Tidak sampai di situ saja, kejahilan Jainul kepada keeper. Ia juga suka sekali kembali ke kandangnya, bukan karena untuk beristirahat melainkan untuk mengambil sisa pakan orangutan lain, yaitu Pingpong dan Husein. Ketika Jainul kembali ke kandang, ia mempunyai trik yang sangat ampuh agar bisa balik ke kandang. Tapi tenang semua keeper sudah hafal dengan triknya. Trik pertama, Jainul akan berpura-pura bermain dengan orangutan lainnya di tanah. Ia akan bermain beberapa menit agar mengalihkan fokus keeper yang membawanya ke sekolah hutan. Setelah keeper sedikit tidak memperhatikannya, ia kabur berlari dengan begitu cepat. Sesampainya di kandang, ia akan memakan sisa pakan Pingpong dan Husein.

Suatu ketika, Jainul kembali ke kandang. Ia tidak mau turun dan abai oleh panggilan Novi. Setelah Novi capek memanggilnya, Novi meminta tolong pada keeper yang lain atau biologis yang bernama Indah.
Novi: “Teh Indah, tolong bantu ambilkan Jainul. Dia gak mau sama aku.”
Indah: “Dimana Jainulnya, Nov?”
Novi: “Ini teh, di atas kandang mau ngobok-ngobok air tandon minum orangutan.”
Indah: “Ohhh, iya Nov. Aku ke situ.”
Setelah Indah datang, keduanya pun bekerja sama untuk menurunkan Jainul yang sudah tidak kondusif itu.
Indah: “Jainul, Inul… heee Inul sini turun.”
Sambil menyodorkan sepotong wortel kepada Jainul, tapi Jainul hanya abai dengan panggilan itu. Setelah beberapa menit, Jainul tergiur juga untuk mengambil wortelnya saja. Ia tak ingin kembali ke sekolah hutan, Ia menyerang Indah dengan menarik jilbab Indah dan menjambak rambutnya.
Indah: “Ya Allah, tolong guys. Aku diserang.”
Keeper Novi ingin membantu, hanya saja Ia ragu karena takut digigit dan diserang lagi oleh Jainul. Setelah 3 menitan, ia lepaskan Indah. Ia kembali lagi ke atas kandang. Sungguh sangat menyebalkan.

Suatu hari di sekolah hutan, Jainul sedang eksplorasi di cabang atau ranting pohon dengan ketinggian 6 meter. Dan… “krekkk… brukkk”.
Keterangan Foto, Nophy dengan Cinta, bukan Jainul.(NOP)

PERJUANGAN BAYI ORANGUTAN DI PUSAT REHABILITASI, SEHAT ITU PENTING

Rehabilitasi orangutan merupakan berjalan panjang yang dipenuhi berbagai macam tantangan. Orangutan yang hidup di pusat rehabilitasi tidak terlepas dari berbagai masalah kesehatan yang dipengaruhi berbagai macam faktor, seperti stres akibat perubahan lingkungan, kualitas pakan, paparan penyakit baru, serta sistem imun yang belum sempurna (terutama pada bayi) dapat membuat mereka rentan jatuh sakit.

Tim BORA selalu mengedepankan pendekatan menyeluruh. Setiap kasus ditangani melalui tahapan yang sistematis, anamnesis (pengumpulan riwayat kesehatan dan perawatan), observasi perilaku orangutan serta kondisi kandang, hingga pemeriksaan laboratorium bila diperlukan. Pendekatan ini penting untuk memastikan bahwa penanganan tidak hanya mengobati gejala, tetapi juga menyingkirkan kemungkinan penyebab yang lebih serius.

Salah satu kasus terjadi pada bulan Juli hingga September 2025 di Baby House BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) adalah diare. Beberapa bayi orangutan seperti Felix, Pansy, Harapi, dan Arto pada awalnya diduga adanya infeksi parasit seperti cacing atau mikroorganisme patogen lainnya. Namun, hasil pemeriksaan laboratorium tidak menunjukkan adanya agen infeksi yang signifikan. Setelah evaluasi mendalam, faktor lingkungan terutama saat Sekolah Hutan diperkirakan sebagai pemicu utama. Sistem pencernaan bayi yang masih rentan membuat mereka lebih mudah terpengaruh oleh faktor eksternal lingkungan.

Selain kasus diare, pada periode yang sama juga ditemukan kasus flu pada Harapi. Gejala berupa bersin, pilek, dan gejala pernapasan lainnya teramati setelah perubahan cuaca yang cukup ekstrem, dari panas terik di siang hari hingga hujan deras di sore atau malam hari. Fluktuasi cuaca ini menjadi faktor pemicu utama yang melemahkan daya tahan tubuh bayi orangutan. Penanganan dilakukan dengan menjaga kebersihan kandang, isolasi untuk mencegah penularan ke orangutan lainnya, memberikan pakan bernutrisi tinggi, dan obat-obatan serta suplemen untuk mengurangi gejala serta meningkatkan daya tahan tubuh Harapi.

Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa perawatan orangutan di pusat rehabilitasi bukanlah hal yang sederhana. Kesehatan mereka sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan maupun pola asuh. Karena itu, dibutuhkan pengawasan ketat, evaluasi rutin, serta kerja sama erat antara dokter hewan, keeper, dan staf lapangan, logistik hingga administrasi. Setiap tantangan kesehatan yang ditemukan menjadi pembelajaran untuk memperbaiki standar perawatan. Harapannya, dengan pemantauan dan perbaikan berkelanjutan, orangutan dapat tumbuh sehat dan saat siap, kembali ke habitat alaminya. (TAL)

PERSAHABATAN ANTAR BAYI ORANGUTAN DI BORA

Suasana kembali ceria di babyhouse BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) sejak Harapi pulih dari sakit pada tangannya karena jatuh dari pohon. Kini ia sudah aktif lagi, bermain bersama kawan-kawannya, seolah tak pernah merasa lemah sebelumnya. Tingkah Harapi yang jenaka selalu mencuri perhatian para keeper lainnya. Ia pernah mengenakan tempurung kelapa di kepalanya seperti mengenakan hel atau topi, lalu berjalan dengan salah satu tangan memeluknya, dan ini mengundang tawa. Ada juga kebiasaannya menepuk-nepuk tanah dengan kedua tangan, seolah-olah sedang membuat irama musik hutan. Momen-momen lucu inilah yang membuat Harapi semakin dicintai oleh babysitter maupun keeper lainnya.

Suatu hari babysitter Anggita Putri Hariani atau yang sering dipanggil Gita harus membawa Harapi pulang lebih dulu dari sekolah hutan. Bukan karena sakit, melainkan karena Gita harus memberikan susu untuk Pansy dan Felix yang menunggu di baby house. Harapi mengikuti dengan tenang, meski orangutan lainnya masih sibuk sekolah hutan. Namun, kepergian Harapi rupanya meninggalkan kesan besan bagi Arto, sahabat karibnya. Babysitter Rara bercerita bahwa Arto tiba-tiba mengandang tangannya dan berjalan menuju jalur pulang. Seolah ia ingin segera menyusul Harapi yang sudah lebih dulu kembali. Rara mencoba membujuk dan membawa Arto kembali ke sekolah hutan, karena waktu belajar belum selesai. Akan tetapi, Arto tampak seperti mencari-cari sosok Harapi yang tak lagi ada di sana. Akhirnya, Arto menangis. Ia menolak bermain dan hanya ingin segera kembali ke babyhouse. Tangisan itu bukan karena lelah atau lapar, melainkan karena ia merasa kehilangan sahabatnya. Harapi yang biasanya selalu ada di sisinya kini pulang lebih dahulu, dan itu cukup membuat Arto sedih.

Bagi para babysitter, kejadian ini menjadi bukti betapa kuatnya ikatan emosional di antara bayi orangutan. Mereka bukan hanya teman bermain, melainkan juga sahabat sejati yang saling menguatkan. Kehadiran Harapi sangat berarti bagi Arto, begitu pula sebaliknya. Di baby house BORA, kisah sederhana ini mengajarkan bahwa persahabatan tak mengenal batas. Bahkan di dunia orangutan kecil, rasa sayang dan kebersamaan menjadi kunci untuk tumbuh sehat, ceria, dan penuh semangat. (GIT)

MENJEMPUT ORANGUTAN BETI PULANG

Kala itu bulan sudah menampakkan dirinya di atas kepala, angin malam mulai berhembus, tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, di Yogyakarta. Aku, Tytha Nadhifa Winarto untuk pertama kalinya bertemu dengan Beti. Yang pertama kali aku lihat adalah sepasang bola mata di balik jendela kandang angkut, mulai dari sana aku penasaran apa yang Beti pikirkan. Waktu itu malam hari gelap, di pencahayaan minim mata coklat itu terlihat bagus dan masih berbinar, padahal hampir seperempat abad dia dirampas pergi dari induknya dan terpaksa hidup di tempat yang tidak semestinya. Tidak bisa memanjat, tidak bisa berayun, cuman bisa makan makanan yang di kasih ‘pemiliknya’ dengan makanan yang tidak semestinya. Dan ketika tubuh semakin besar dan kuat, wajah yang tak lucu lagi, orangutan ini diserahkan dengan alasan “tidak bisa mengurusnya lagi”.

Membawa Beti merupakan pengalaman pertamaku translokasi orangutan, tugasku sebagai dokter hewan adalah memastikan kondisi Beti aman dan sehat selama di perjalanan. Lumayan menegangkan, antar pulau lewat udara dan dilanjutkan perjalanan darat yang tidak sebentar. Aku memastikan Beti cukup minum dan kepanikan saat suara kargo yang dipindahkan pakai forklift cukup keras mengusik Beti. Kami pun berpisah, Beti masuk ke bagian bawah pesawat, aku pun duduk di kursi penumpang.

Perasaan cemas terus menghantui ku, penerbangan 2 jam terasa lama sekali. Akhirnya kami pun tiba di Balikpapan, melihat mata coklatnya kembali yang tetap waspada. Selanjutnya 25 jam berkendaraan dari bandara Sepinggan ke BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) di Berau. Syukurlah, perjalanan kami lancar, matahari terik diatasi dengan pemberian karung goni basah dan dedaunan secara berkala di atas kandang angkutnya. Beti terlihat tenang dan sesekali berbaring tertidur.

Pukul 19.00 WITA, pintu kandang angkut dibuka, Beti pun berpindah ke kandang karantina di BORA. Beti menjauh, naik ke atas dan mengamati kami di kegelapan. Aku terharu, mungkin ini pertama kalinya setelah 24 tahun, Beti bisa manjat setinggi ini. Selesai tugas pemindahan ini, selanjutnya masih panjang tahapan karantina, rehabilitasi yang akan dijalaninya. “Kita jalan bareng ya Bet. Aku bantu semampuku”. (TYT)

PERKEMBANGAN ARTO DAN HARAPI DI PERTENGAHAN TAHUN 2025

BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) di bulan Juli 2025 penuh dengan cerita-cerita kecil yang hangat dari dua orangutan mudanya, Arto dan Harapi. Keduanya menjalani hari-hari sibuk dengan penuh warna, baik saat berada di dalam kandang maupun ketika menjelajah alam di sekolah hutan. Arto seperti biasanya, tampil percaya diri, naik ke akar gantung, bergelantungan di pohon dan sesekali mengintip ke arah baby sitter seolah ingin memastikan ia masih jadi pusat perhatian. Di sisi lain, Harapi terlihat makin berani. Meski masih sering menoleh ke arah babysitter untuk mencari rasa aman. Harapi kini sudah mulai aktif bermain dengan teman-temannya dan bahkan memanjat hingga enam meter ke atas, sesuatu yang dulu ia lakukan dengan ragu-ragu.

Keduanya mememiliki kepribadian yang sangat berbeda. Arto ekspresif, terkadang sedikit usil, dan penuh rasa ingin tahu. Harapi lebih pendiam tapi punya keteguhan tersendiri. Saat Arto mencoba mengambil makanan enrichment milik Harapi, Harapi tidak tinggal diam. Ia mempertahankannya, menghabiskannya dengan tenang, sebuah tanda kecil tapi penting bahwa ia semakin percaya diri. Ada juga momen menyentuh saat mereka bermain bersama di dinding kandang dan bergelantungan, lalu tiba-tiba saling berpelukan ketika kaget melihat tim medis membawa boneka-boneka. Reaksi spontan itu menunjukkan betapa kuatnya ikatan emosional di antara mereka, serta bagaimana mereka saling memberi rasa aman saat menghadapi hal baru.

Di sekolah hutan, Arto dan Harapi sama-sama belajar banyak hal, mengenali makanan alami, berlatih memanjat, serta memahami dinamika sosial antar siswa sekolah hutan. Mereka mulai membentuk relasi dengan orangutan lain seperti Jainul, Ochre, dan Cinta. Tak jarang mereka terlihat duduk berdekatan di atas pohon, menikmati buah san (Dracontomelon dao) sambil mengamati lingkungan di sekitar. Meskipun ada hari-hari ketika mereka lebih mendekati babysitter dibanding memanjat tinggi, waktu demi waktu keberanian itu terus tumbuh. Bahkan, pernah suatu pagi keduanya sempat memanjat sampai ke ketinggian 15 meter untuk mencari makan bersama, sebuah pencapaian yang membuat tim babysitter tersenyum puas.

Enrchment masih menjadi salah satu bagian favorit mereka dalam keseharian. Baik itu selang isi sayuran, pipa berisi buah, atau umbut rotan segar, semuanya disambut dengan antusias. Aktivitas-aktivitas ini tidak hanya menyenangkan tapi juga penting untuk mengasah kemampuan alami mereka, menggigit, mengupas, membongkar, dan mencari solusi. Arto cenderung menyelesaikannya dengan cepat, sementara Harapi lebih pelan, menikmati setiap prosesnya.

Ada hari-hari ketika mereka lebih memilik untuk berisitrahat dan itu tak apa. Sama seperti anak-anak pada umumnya, energi dan suasana hati bisa berubah-ubah. Tim babysitter BORA akan selalu memberi ruang bagi mereka untuk pulih, berkembang, dan merasa nyaman. Yang terpenting, setiap langkah kecil mereka, setiap lompatan, setiap makanan yang berhasil dikupas sendiri, setiap pertemanan yang terbentuk, adalah bagian dari proses yang berarti. Kami percaya, dengan cinta dan kesabaran, suatu hari nanti mereka akan benar-benar siap kembali ke rumah mereka yang sesungguhnya, hutan Kalimantan yang liar. (RAF)

FELIX: LEARNING TO NAVIGATE THE WORLD AROUND HIM

Felix, a young orangutan who is sensitive yet full of potential, spent the month of July 2025 navigating a range of emotions and making encouraging progress. He showed significant development in his forest school exploration, climbing trees up to 15 meters high and beginning to venture out with friends like Ochre and Jainul. Sometimes, he even approached other orangutans to forage together, like when he joined Eboni and shared in eating bark that had already been peeled.

However, Felix is still learning to overcome fear and uncertainty. On several occasions, he was seen crying when struggling to move from one tree to another, or when he felt left out by a babysitter. But during such moments, support from other orangutans, like Eboni helping him cross a branch, showed that Felix is growing up in a socially supportive environment.

During enrichment activities, Felix was sometimes less enthusiastic about his own items and preferred collecting leftovers from Pansy. Still, he demonstrated intelligence and perseverance, such as when he completed a honey-filled wood challenge in just 20 minutes. He also became more skilled at climbing and swinging, clearly enjoying his time in the trees, although he occasionally came down to play on the ground with Jainul and Bagus.

Socially, Felix is still learning to set boundaries. In the cage, he was able to play with Pansy and keep up with her more dominant energy. Yet when Pansy approached to take his food, Felix still tended to yield. Even so, when given an enrichment item like a coconut, he focused on finishing it by himself, a sign that his confidence is beginning to grow.

This month showed that Felix is learning to balance curiosity, the need for safety, and the drive for independence. Behind all his emotional expressions lies a natural and complete learning process. With ongoing support, Felix is laying an important foundation for his future life in the wild. (RAF)

FELIX: BELAJAR MENGIMBANGI DUNIA DI SEKELILINGNYA

Felix, orangutan muda yang sensitif, namun penuh potensi, menjalani bulan Juli 2025 dengan berbagai dinamika emosi dan kemajuan yang menggembirakan. Ia menunjukkan banyak kemajuan dalam eksplorasi di sekolah hutan, memanjat pohon hingga 15 meter dan mulai menjelajah bersama teman-temannya seperti Ochre dan Jainul. Kadang ia juga mendekati orangutan lain untuk mencari makan bersama, seperti saat ia menghampiri Eboni dan ikut menikmati kulit kayu yang sudah dikupas.

Namun, Felix juga masih belajar mengatasi rasa takut dan ketidakpastian. Beberapa kali ia terlihat menangis saat kesulitan berpindah dari satu pohon ke pohon lain atau saat merasa diabaikan oleh babysitter. Tapi dalam momen seperti ini, perhatian dari orangutan lain seperti Eboni yang membantunya menyeberang cabang, menunjukkan bahwa Felix sedang tumbuh di lingkungan yang penuh dukungan sosial.

Dalam berbagai aktivitas enrichment, Felix kadang terlihat kurang antusias dengan miliknya sendiri dan lebih memilih memungut sisa milik Pansy. Tapi ia tetap menunjukkan kecerdasan dan ketekunan, seperti saat menyelesaikan kayu isi madu dalam waktu 20 menit. Ia juga semakin mahir memanjat dan berayun, dan terlihat sangat menikmati waktunya di atas pohon, meskipun sesekali turun untuk bermain bersama Jainul dan Bagus di tanah.

Secara sosial, Felix masih dalam proses belajar menetapkan batas. Di kandang, ia bisa bermain dengan Pansy dan mengimbangi energi Pansy yang lebih dominan. Tapi saat Pansy mendekat untuk mengambil makanannya, Felix masih cenderung mengalah. Meski begitu, saat diberi enrichment berupa kelapa, ia fokus menyelesaikannya sendiri, tanda bahwa kepercayaan dirinya mulai tumbuh.

Bulan ini menunjukkan bahwa Felix sedang melatih keseimbangan antara rasa ingin tahu, kebutuhan akan rasa aman, dan dorongan untuk mandiri. Di balik semua ekspresi emosionalnya, ada proses pembelajaran yang utuh dan alami. Dengan dukungan yang terus-menerus, Felix sedang membangun fondasi penting untuk hidupnya di alam liar nanti. (RAF)

PANSY: GROWING MORE CONFIDENT AND INDEPENDENT

July 2025 was a colorful chapter for Pansy at the BORA rehabilitation center. Almost every day, she showed renewed enthusiasm, climbing higher and exploring further in forest school. At the beginning of the month, Pansy still appeared cautious, often observing from a distance, especially when the sound of an excavator from the island enclosure construction site could be heard. However, after being moved to a quieter location, Pansy began to reveal her more explorative side, climbing up to 20 meters high and joining other orangutans to eat san fruit (Dracontomelon dao) in the treetops.

As the days passed, Pansy became increasingly active in social interactions, particularly with Cinta and Mabel. She often followed them while foraging and traveling through the canopy, as if she found a sense of safety and comfort in their presence. She also began to show curiosity toward Ruby from a distance and made a few attempts to approach, though she still kept some space. This interest is an important sign that Pansy is beginning to understand and build healthy social relationships within her environment.

Pansy also became more skilled in identifying and utilizing natural food sources. She ate bark, san fruit, as well as shoots and wild flowers. When a light rain fell in mid-month, Pansy even broke off branches and leaves to cover herself, a simple act, yet one that reflected her growing natural adaptability.

Outside of forest school hours, Pansy also showed great interest in the enrichment activities provided. She was enthusiastic in solving small challenges and occasionally competed with Felix for her favorite treats. Even though she sometimes took items from Felix, Pansy wasn’t aggressive, it showed that she had the courage to stand her ground for what she wanted.

In her social interactions, Pansy began to show that she was not only independent, but also capable of becoming part of a group. She no longer simply avoided others, but started opening herself up to their presence. These small daily steps form a crucial foundation for her future in the forests of Borneo. (RAF)

PANSY: SEMAKIN PERCAYA DIRI, SEMAKIN MANDIRI
Bulan Juli 2025 menjadi babak penuh warna bagi Pansy di pusat rehabilitasi BORA. Hampir setiap hari ia menunjukkan semangat baru, memanjat lebih tinggi, dan menjelajah lebih jauh di sekolah hutan. Di awal bulan, Pansy masih terlihat berhati-hati dan lebih sering mengamati dari kejauhan, terutama ketika suara ekskavator dari tempat pembangunan pulau enclosure terdengar. Namun, setelah dipindahkan ke lokasi yang lebih tenang, Pansy mulai menunjukkan sisi eksploratif nya, memanjat hingga ketinggian 20 meter dan bergabung dengan orangutan lain untuk makan buah san (Dracontomelon dao) di atas pohon.
Semakin hari, Pansy terlihat makin aktif berinteraksi, terutama dengan Cinta dan Mabel. Ia sering mengikuti keduanya saat mencari makan dan berpindah-pindah di kanopi, seolah menemukan rasa aman dan kenyamanan dalam kebersamaan itu. Ia juga mulai tertarik mengamati Ruby dari kejauhan dan beberapa kali mencoba mendekat, walau tetap menjaga jarak. Ketertarikan ini adalah sinyal penting bahwa Pansy mulai belajar memahami dan membentuk hubungan sosial yang sehat di lingkungannya.
Pansy juga terlihat semakin mahir dalam mengenali dan memanfaatkan sumber pakan alami. Ia memakan kulit kayu, buah san, hingga tunas dan bunga liar. Saat gerimis turun di pertengahan bulan, Pansy bahkan mematahkan ranting dan dedaunan untuk melindungi dirinya, tindakan sederhana, namun menggambarkan kemampuan adaptasi alaminya yang terus berkembang.
Di luar waktu sekolah hutan, Pansy juga menunjukkan ketertarikan besar terhadap enrichment yang diberikan. Ia antusias menyelesaikan tantangan-tantangan kecil, dan kadang berebut dengan Felix untuk mendapatkan makanan favorit. Meskipun kadang merebut milik Felix, Pansy tidak agresif, lebih menunjukkan bahwa ia punya keberanian untuk mempertahankan keinginannya.
Dalam interaksi sosialnya, Pansy mulai menunjukkan bahwa ia tidak hanya mandiri, tetapi juga bisa menjadi bagian dari kelompok. Ia tidak lagi sekadar menghindar, tetapi mulai membuka diri terhadap kehadiran individu lain. Langkah-langkah kecil yang ia ambil setiap hari adalah fondasi penting menuju masa depannya di hutan Kalimantan. (RAF)