BELAJAR PERCAYA DI TENGAH PROSES ADAPTASI

Perjalanan Felix selama periode ini menunjukkan kombinasi antara perkembangan dan tantangan adaptasi. Secara kesehatan, kondisi Felix telah membaik setelah sempat mengalami gejala pilek di awal bulan. Saat ini, ia sudah kembali aktif mengikuti sekolah hutan, meskipun dalam beberapa kesempatan masih menunjukkan keraguan untuk keluar dari kandang.

Dalam aktivitas di sekolah hutan, Felix cukup sering beraktivitas di atas pohon, terutama saat merasa nyaman. Ia terlihat aktif mencari makan, mengonsumsi buah mentah, kambium, dan bagian tumbuhan lainnya. Bersama Pansy, Felix juga kerap melakukan aktivitas bersama, seperti berpindah dari pohon ke pohon dan megeksplorasi area hutan, menunjukkan adanya ikatan sosial yang cukup kuat.

Namun, Felix masih menunjukkan sensitivitas terhadap kehadiran manusia tertentu, khususnya animal keeper laki-laki. Hal ini terkadang membuatnya enggan keluar kandang atau ingin kembali lebih cepat saat sesi sekolah hutan berlangsung. Ia juga cenderung mengikuti pergerakan babysitter sebagai bentuk rasa aman, yang menjadi bagian penting dalam proses adaptasinya.

Meski demikian, Felix tetap menunjukkan potensi yang baik dalam pembelajaran keterampilan alami. Dengan kondisi fisik yang stabil dan pola fese normal, fokus selama periode ini adalah membangun rasa percaya diri dan kemandirian, sehingga ia dapat lebih konsisten dalam mengikuti kegiatan sekolah hutan. (RAF)

LEVEL UP: BAGUS GOES TO BAWAN ISLAND

Setelah bertahun-tahun menjalani program rehabilitasi dan menjadi murid sekolah hutan di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Bagus, individu orangutan betina yang pernah menjadi peliharaan ilegal dan sangat dekat dengan manusia, akhirnya naik level dengan pindah ke pulau pra-pelepasliaran di pulau Bawan. Kini Bagus semakin siap untuk kembali ke alam liar.

Di hari-hari pertamanya di pulau, Bagus tampak aktif mengekspor area hulu hingga tengah pulau, asyik memanjat dan bergelantungan di pepohonan rimbun, serta mencari pakan alami. Di sela-sela eksplorasinya, Bagus sesekali terlihat diam, seolah sedang merenung.
“Dia pasti kesepian dan bingung. Mungkin dia berpikir, Ini aku lagi sekolah hutan, tapi koq gak ada teman-teman yang lain” Koq gak ada yang panggil-panggil lagi untuk pulang ke kandang?”, ujar Ara, biologis COP yang ditugaskan untuk mengamati perkembangan Bagus selama minggu pertamanya di pulau.

Terkenal dengan sifatnya yang manja, saat tim monitoring datang untuk memberi pakan harian, Bagus buru-buru mendekat sambil mengeluarkan suara merengek, “I… i… i…”, sebagai tanda indin dipwluk dan digendong. Namun tim segera menjaga jarak agar Bagus belajar untuk lebih mandiri. Di hari-hari berikutnya, Bagus mulai mengerti dan tidak lagi mendekat sambil merengek.

Sempat diterpa hujan deras, Bagus tampak belum mampu memilih tempat untuk berteduh. Begitu pula ketika malam tiba, Bagus memilih tidur sambil memeluk batang pohon tanpa membuat sarang.

“Bagus tidurnya kayak panda.”, kata Ara.

Kemampuan membuat sarang merupakan salah satu indikator penting kesiapan individual orangutan untuk dilepasliarkan. Dilihat dari kebiasaan Bagus selama di BORA, Bagus sebenarnya cukup terampil membuat sarang, hanya saja ia melakukannya di tanah dan di lantai kandang, bukan di atas pohon.

“Gak apa-apa, nanti juga Bagus pelan-pelan belajar buat sarang di atas pohon”, sahut Amir, animal keeper yang telah mengenal Bagus sedari masuk BORA. Dia optimis, jika kini Bagus tidur tanpa sarang, jika saatnya perlu membuat sarang, Bagus tentu akan melakukannya.

Bagus masih memiliki waktu untuk terus mengasah keterampilan dan kemampuannya dalam bertahan hidup. Pelan tapi pasti, kami percaya Bagus akan berproses dan menunjukkan bahwa ia siap kembali ke habitat aslinya. And when the time comes, she will truly be the young, wild, and free orangutan she was meant to be! (SIN)

KETIKA TANGAN-TANGAN PENYEMBUH MENANAM AKAR-AKAR KEHIDUPAN

Matahari siang di Berau menggantung terik di atas kanopi, memerangkap udara lembap yang terasa berat di kulit. Keringat mengalir lebih cepat daripada angin yang berembus pelan dari tepi hutan. Di tengah panas yang menyengat itu, tim medis pusat rehabilitasi orangutan Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA), yang dikelola oleh Centre for Orangutan Protection (COP) di Berau, Kalimantan Timur, untuk sementara meninggalkan ruang klinik mereka. Terdiri dari dua dokter hewan, Rengga dan Atalla, serta Tata, paramedis satwa, siang itu mereka tak lagi berdiri di balik meja periksa, melainkan ikut berlutut di atas tanah dalam kegiatan rutin bertajuk “Jumat Menanam”.

Biasanya, tangan-tangan itu menggenggam stetoskop, menyuntikkan obat, atau memeriksa denyut nadi orangutan yang tengah dipulihkan. Namun kali ini yang mereka bawa adalah dodos untuk melubangi tanah, ember untuk membawa air, dan bibit pohon yang akarnya masih terbungkus polybag. Seragam medis yang identik dengan aroma antiseptik kini bermain di tanah, menyatu dengan lanskap kawasan yang kelak menjadi ruang belajar bagi bayi-bayi orangutan yang mereka rawat.

Di BORA, pelestarian lingkungan tidak dibatasi oleh jabatan atau latar belakang pendidikan. “Jumat Menanam” mempertemukan seluruh staf, mulai dari dokter hewan, animal keeper, tim development, hingga manajemen, dalam satu tujuan yang sama: meningkatkan kualitas ekosistem di dalam kawasan BORA. Semangat gotong royong yang diusung COP menemukan wujud konkretnya pada kegiatan ini. Setiap individu, apa pun jabatannya, turut mengambil bagian yang sama dalam kegiatan penanaman pohon.

Bagi tim medis, menanam pohon menjadi pengalaman bentuk lain dari penyembuhan. Jika di klinik mereka merawat tubuh yang terluka, di sini mereka menyiapkan masa depan yang lebih utuh. Bibit-bibit pohon yang mereka tanam hari itu akan tumbuh menjadi penopang kehidupan, bagi orangutan di BORA, satwa liar lain, manusia yang tinggal di sekitarnya, hingga berbagai bentuk kehidupan yang lebih luas lagi. Di bawah terik Berau yang tak kenal ampun, akar-akar kecil itu ditanam bukan sekadar ke dalam tanah, melainkan ke dalam harapan: bahwa konservasi adalah kerja bersama, dan setiap tangan memiliki peran dalam menjaga agar bumi ini tetap mampu menopang banyak kehidupan. (RAF)

HARAPI, SI MATA KECIL

Pertama kali mengenal Harapi pada tanggal 4 Juli 2025, saat hari pertama ku bekerja di Pusat Rehabilitasi Orangutan dan menggendongnya, “ternyata orangutan sebau ini”. Saat itu, Harapi masih takut untuk memulai sekolah hutannya, ia tidak ingin bersosialisasi dengan orangutan lainnya, hanya diam sembari memeluk diriku hingga baby sitter Janet membantuku untuk membujuk Harapi agar mau bersosialisasi dengan orangutan lainnya tetapi tidak berhasil. Akhirnya Harapi hanya diam di belakang badanku, bersembunyi sembari mengamati orangutan lainnya hingga jam sekolah hutan berakhir.

Hobi Harapi alah makan dan makan, bahkan ketika kehadirannya di sekolah hutan hanya sekedar absen dan disi dengan aktivitas makan. Suatu hari, Harapi tidak mengikuti sekolah hutan karena ia teramati sedang tidak enak badan bahkan si hobi makan ini teramati hanya memakan sedikit saja jatahnya.

Dokter Tyta: Nop, Harapi kasih makan kesukaannya aja dulu, supaya dia mau makan, gak usah sekolah dulu ya.

Nopi: Oke dok.

Setelah menjawab perintah dokter Tyta, aku menceritakannya dengan mba Rara. Mba Rara memberitahuku apa saja makanan kesukaan Harapi.

Nopi: Dok, ini Harapi udah mau makan lagi dan juga selit-sedikit mau beraktivitas seperti biasa dok.

Dokter Tyta: Syukurlah kalau dia mau makan, makasih ya Nop.

Terdengar suara celutukan dengan nada candaan.

Mba Indah: Aahhh pura-pura aja Harapi itu gak mau makan, biar gak sekolah hutan.

Nopi: Iya, kayaknya dia bohong biar bolos sekolah.

Di hari itu, Harapi tidak sekolah hutan dan menghabiskannya dengan makan-tidur untuk mengistirahatkan badannya hingga jam makan siang datang.

Harapi mempunyai teman yang aku sebut dengan sahabat kandang yaitu Arto. Harapi yang tingkahnya selalu lemot atau lamban menjadikan makanannya selalu diambil oleh Arto. Sementara respon Harapi hanya cuek dan tidak berusaha melawan atau menghindar dari Arto. Arto yang kebiasaannya makan dengan cepat dan terburu-buru selalu mempunyai cara untuk merebut makanan Harapi. Dari kebiasaan Arto, kami para baby sitter selalu mengajarkan Harapi agar pelit dan harus bisa mempertahankan haknya. “Ayo Harapi, pertahankan yang sudah jadi milikmu dan yang baik untukmu, jangan berdiam diri karena hakmu diambil atau dirampas orang lain!”. (NOP)

MERAWAT SETIAP LANGKAH ORANGUTAN AMAN

Aman sudah bersama kami sejak Juni 2020. Ia tiba di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) dalam kondisi yang membuat dada terasa sesak hanya dengan melihatnya. Cara jalannya aneh dan pelas, seolah setiap langkah harus dipikirkan lebih dulu. Beberapa jemari tangannya sudah teramputasi, meninggalkan bentuk yang tidak utuh pada tangannya. Tidak ada yang tahu pasti apa yang ia lalui sebelum tiba di sini. Luka-luka di tubuhnya menjadi satu-satunya petunjuk tentang masa lalunya.

Saat dilakukan pemeriksaan menyeluruh menggunakan rontgen, kami menemukan masalah yang selama ini ia simpan dalam diam. Pinggulnya tidak normal. Kepala tulang pahanya tidak terbentuk sebagaimana mestinya, sehingga pertautan antara panggul dan paha hampir pasti menimbulkan nyeri setiap kali ia bergerak. Dengan jari tangan yang tidak utuh dan kaki yang juga bermasalah, pergerakan Aman menjadi lambat dan tertatih. Ia sering berhenti sejenak, mungkin karena lelah, mungkin karena rasa sakit yang datang tiba-tiba.

Kini Aman beranjak menjadi orangutan jantan berusia sekitar 12 tahun. Rehabilitasi Aman tidak hanya berfokus pada penguasaan keterampilan bertahan hidup di alam, seperti memanjat, mengenali pakan, dan membuat sarang. Lebih dari itu, rehabilitasi juga bertujuan memastikan kondisi yang Aman alami tidak semakin parah, serta terus mengupayakan kesembuhannya. Setiap langkah perawatan dibuat dengan mempertimbangkan kualitas hidup Aman, baik saat ini maupun di masa depan.

Untuk mengurangi nyeri, selain terapi obat, kami menyesuaikan banyak aspek perawatannya. Pakan yang diberikan merupakan pakan pilihan yang mendukung regenerasi jaringan, tinggi kolagen, serta mengandung vitamin dan mineral tertentu. Kami juga berusaha memberikan rimpang herbal yang dapat membantu pemulihan tubuhnya.

Selama sekolah hutan, pergerakan Aman diamati secara khusus. Setiap hari kami mengumpulkan rekaman video saat Aman memanjat, berjalan, berayun, menggulingkan diri, hingga cara ia duduk dan berapa lama ia mampu mempertahankan posisi tersebut. Video-video ini kemudian dikonsultasikan dengan ahli biolokomosi agar setiap perubahan kecil pada pola geraknya dapat dipahami dan ditangani dengan tepat.

Kadang istirahat Aman pun dibuat lebih khusus. Tali-temali ditambahkan lebih banyak untuk memudahkannya bergerak dan memberi ruang agar ia tetap aktif tanpa harus memaksakan tubuhnya. Aman tumbuh dengan keterbatasan yang tidak ia pilih. Setiap langkah kecil yang ia ambil menunjukkan keteguhan yang luar biasa. Di BORA, kami berusaha memastikan langkah-langkah itu terasa lebih ringan, lebih aman, dan penuh harapan. (THA)

AMAN SUDAH AMAN

Sudah seminggu Aman menjalani perawatan medis. Kali ini, bukan masalah tulang dan persendian seperti biasanya. Tubuhnya lemas, perutnya menggembung dan bersuara “dungg.. dungg”, menandakan adanya gangguan pada sistem pencernaannya.

Tim medis BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) dibantu para animal keeper, bergantian merawat Aman. Dari pagi hingga pagi berikutnya, Aman tidak lepas dari pengawasan tim medis dan animal keeper. Perlahan, kondisinya mulai membaik. Hingga pada hari ke-8, Aman kembali ke lokasi sekolah hutan, meskipun waktu dan interaksi sosialnya dengan orangutan lain masih dibatasi. Pembatan ini dilakukan untuk menghindari benturan yang tidak diinginkan, seperti saat bergulat dengan orangutan lain.

Pada awal kembali mengikuti sekolah hutan, Aman masih terlihat lemas. Lokomosi dilakukannya dengan perlahan. Sesekali, ia terdiam dan mengejan untuk defekasi serta urinasi. Meski demikian, semangat untuk pulih tetap terlihat. Pada hari berikutnya, Aman mulai memanjat pohon dan menemukan buah untuk dimakan.

Pagi selanjutnya, Aman kembali mengikuti sekolah hutan pada jam dan lokasi yang telah ditentukan. Tidak lebih dari lima menit, Aman sudah memanjat. Meskipun pergerakannya tidak selincah orangutan lain, Aman mampu memilih ranting yang paling mudah dijangkau tubuhnya. Hal ini terlihat dari caranya berhenti sejenak dan mengamati sebelum berpindah.

“Senang bawa Aman sekarang, dia di atas pohon terus. Kalau ada temannya, mana mau dia memanjat begini, pasti sibuk bergulat. Kalau bergulat sih tidak jadi masalah. Tapi kalau pelan-pelan berjalan ke kandang atau mengganggu animal keeper perempuan, itu yang bikin capek”, ujar Steven, animal keeper yang membawa Aman sekolah hutan pagi ini.

Pembatasan interaksi sosial dengan orangutan lain justru membuat aktivitas Aman di atas pohon meningkat. Ia juga aktif mencari dan mengonsumsi pakan. Seolah melupakan kondisi lemahnya beberapa hari sebelumnya, Aman menunjukkan kebugaran yang berbeda hari ini. Teramati beberapa kali ia berpindah pohon dan akhirnya berhenti di pohon Artocarpus sp. Untuk memakan buah ranum. Hingga namanya berkali-kali dipanggil, menamakan waktu sekolah hutan telah usai.

“Dua sampai tiga hari lagi obatnya habis. Kalau tidak terlihat keluhan lain, Aman bisa diikutkan sekolah hutan normal seperti biasanya”, ujar Wardiman, dokter hewan BORA, setelah mengetahui alasan keterlambatan Aman pulang.

Baru kali ini, keterlibatan pulang ke kandang membuat kami gembira. (ARA)

BERKELANA SEMAKIN JAUH BERSAMA ASTUTI

Menjalani rutinitas yang berulang tentu saja dapat berujung pada kebosanan. Suasana terasa monoton dan tidak ada tantangan baru yang menarik. Kejemuan inilah yang dirasakan Astuti ketika sekolah hutan. Semua pepohonan di area utama serasa telah dijelajah. Rumbaian rambutan yang ranum pun telah puas ia lahap. Astuti juga lelah menghadapi Jainul yang selalu menggigit tubuhnya untuk mengajaknya bermain di lantai hutan. Tak ayal lagi, Astuti bergegas menjauhi Jainul ketika gigitannya mulai beranjak ke tubuh orangutan lain. Astuti tahu apa yang ia inginkan, yakni penjelajahan yang lebih menantang.

Berjalan dengan senyap di lantai hutan yang lembab, Astuti memasuki hutan lebih dalam. Terkadang ia juga berayun di akar gantung dan dahan rendah. Sepanjang jalur yang dilalui, belum ada jalan setapak yang terbentuk dan terdapat beberapa pohon rebah yang melapuk. Vegetasi di area ini cukup rapat dengan stratifikasi yang kompleks hingga sinar matahari pun sulit mencapai lantai hutan.

Perjalanan Astuti terhenti di suatu pohon yang menarik perhatiannya. Buah ini berbentuk seperti tetesan air dengan panjang 2-3 cm, berwarna kuning, beraroma manis, dan daging buahnya sangat berserat. Ia makan dan mengeksplorasi pohon ini selama 10 menit hingga akhirnya berpindah ke pohon tarap melalui jalinan liana.

Pohon tarap (Artocarpus elsticus) ini menjulang hingga 25 meter dengan diameter batang lebih dari 1 meter dan memiliki akar banir setinggi dada manusia dewasa. Dengan ukuran sebesar ini dapat dipastikan bahwa pohon ini sudah sangat berumur. Ada berbagai jenis liana dan paku-pakuan yang menjalar di batangnya. DI bawah naungannya, tumbuh banyak lumut daun yang berperan dalam siklus nutrisi dan pengaturan suhu tanah.

Postur pohon yang tinggi besar ini menarik Astuti untuk mengeksplorasinya secara vertikal. Karena ukuran batang yang terlalu besar dan sulit dipanjat, ia menggunakan jalinan liana untuk mencapai pucuk pohon. Ternyata lapisan kanopi pohon ini juga telah dihuni banyak tumbuhan. Tiap kali Astuti berayun, banyak serpihan kering yang berhamburan layaknya gerimis.

Menjelajahi area baru sendirian tentunya berasa mendebarkan bagi orangutan rehabilitan. Astuti kerap turun sejenak untuk memastikan keberadaan observer yang tetap berada di sekitarnya. Setelah kami saling berkontak mata, Astuti akan kembali sibuk di kanopi pohon yang rimbun. Hal ini menjadi perkembangan yang baik bagi orangutan di pusat rehabilitasi. Insting liarnya untuk menjelajah semakin terasah, keberaniannya dalam eksplorasi kian meningkat, dan pengetahuannya akan navigasi area yang familiar pun bertambah. (FAR)

ARSITEK SATU INI SEDIKIT BERBEDA

Kita mengetahui bahwa hampir setiap hari orangutan di alam liar menjadi arsitek dengan proyek membuat sarang di atas pohon sebagai tempatnya beristirahat. Lalu, bagaimana dan dimana orangutan yang berada di pusat rehabilitasi Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) tidur di dalam kandangnya?

Keharusan orangutan yang sedang menjalani rehabilitasi untuk masuk ke dalam kandang dengan lingkungan buatan yang berbeda dari kondisi alam liar menjadi perhatian Centre for Orangutan Protection (COP) dalam upaya menjaga kesejahteraan mereka. Berbagai bentuk pengayaan (enrichment) dan penambahan ornamen terus dilakukan untuk memastikan kebutuhan perilaku alami orangutan tetap terpenuhi.

Setiap kandang dilengkapi dengan jalinan tali, alat katup air otomatis untuk minum, tempat pakan yang dibuat lebih tinggi agar orangutan terbiasa makan di atas, hammock dari selang pemadam kebakaran, serta sarang buatan dari kerangka besi sebagai tempat beristirahat. Seluruh fasilitas ini diberikan agar orangutan memiliki lebih banyak tempat beristirahat. Seluruh fasilitas ini diberikan agar orangutan memiliki lebih banyak pilihan aktivitas dan terhindar dari stres ketika tidak mengikuti kegiatan sekolah hutan. Selain itu, dedaunan dan karung juga diberikan setiap hari sebagai alas maupun selimut alami.

Setelah proses cuci kandang pada pagi dan sore hari, animal keeper akan memberikan dedaunan ke setiap kandang orangutan. Hal ini bertujuan membiasakan orangutan beristirahat di atas tumpukan daun sekaligus menstimulasi perilaku membuat sarang. Seolah memahami fungsinya, sebagian besar orangutan di BORA memilih tidur di sarang besi yang telah dilapisi dedaunan. Mereka menumpuk daun-daun tersebut hingga menyerupai sarang alami seperti yang biasa dibuat saat sekolah hutan. Tak jarang, tubuh mereka juga ditutupi karung untuk melindungi diri dari suhu dingin dan gigitan nyamuk.

Namun, Bagus memiliki caranya sendiri. Setelah mendapatkan dedaunan pada sore hari, bagian pojok bawah kandangnya mendadak berantakan. Satu per satu dedaunan yang diberikan ditelisiknya, barangkali masih terselip daun dan kulit batang yang bisa disantap sebelum tidur. Tak lama kemudian, dedaunan tersebut terkumpul di satu sisi, tertumpuk rapi dan kokoh karena beberapa ranting dikaitkan ke jeruji kandang, sementara bagian tengahnya dialasi karung. Sarang yang baru saja disusun terlihat pas dengan ukurannya. Bagus merebahkan diri di tengahnya sambil mengunyah daun dan kulit batang yang menurutnya, mungkin lebih menarik daripada pakan harian pemberian animal keeper. Terlihat sangat nyaman, Bagus bertahan di sarangnya yang berada di pojok bawah kandang hingga menjelang gelap, sebelum akhirnya naik ke keranjang sarang buatan beralaskan karung yang posisinya di atas untuk tidur malam.

Keesokan harinya, saat proses cuci kandang dilakukan, animal keeper yang bertugas cukup kesulitan melepaskan ranting-ranting yang terjalin kuat diantari jeruji kandang untuk diganti dengan dedaunan yang baru. Bagus bukan tidak bisa membuat sarang, ia hanya memiliki gaya membangun sarang yang berbeda. Mungkin sama dengan kita, ya? Ada yang lebih senang tidur di kasur, ada pula yang memilih berayun di hammock. (ARA)

2025, TAHUN TUMBUH KEMBANG PESAT ARTO DAN HARAPI

Siapa yang tak kenal dengan Arto dan Harapi? Mereka adalah dua bayi orangutan satu paket yang kerap dijuluki “Double Trouble Couple” karena tingkah usulnya. Memasuki tahun 2026, keduanya sudah resmi menjadi teman terbaik selama 2 tahun! Penasaran apa saja yang tumbuh pada mereka selama tahun 2025? Mari kita bahas.

Jika sebelumnya Arto dan Harapi selalu ditemukan berpelukan erat sebagai perlindungan diri, setahun ini mereka mulai menjelajahi petualangannya sendiri loh. Keduanya sudah punya ketertarikan yang semakin berbeda. Meskipun begitu, kemistri (dari kata chemistry) mereka tetap kuat karena tetap menjadi rekan satu kamar saat masuk kandang. Tahun 2025 adalah tahun pendewasaan bagi Arto dan Harapi.

Satu tahun ini, Arto dan Harapi menjalani kehidupan sebagai “kakak” bagi Felix dan Pansy yang masuk pusat rehabilitasi BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) di awal tahun. Arto lebih akrab dengan Pansy, sedangkan Harapi lebih dekat dengan Felix. Keduanya membantu para bayi orangutan baru ini untuk beradaptasi dengan lebih cepat dan baik. Saat ini, Arto dan Harapi tidak akan keberatan untuk bertukar rekan tidur dan sekolah hutan. Mereka jauh lebih dewasa.

Arto yang memang sudah tumbuh super aktif dan social butterfly, tetap sensitif pada suara keras dan gerakan tiba-tiba. Tapi satu tahun ini, Arto si penakut pada keeper berbadan kekar, mulai menghadapi masalahnya dan mampu membela dirinya sendiri. Tidak lagi terlihat ragu, Arto akan mengejar siapa pun yang mengganggunya dan memberikan gigitan pada boots, lengan, sambil menarik apa saja. Sangarnya Arto sering semakin nampaknya tulang bakal cheekpad di wajah. Arto mencetak sejarah sebagai orangutan dengan peningkatan bobot badan paling signifikan sepanjang tahun. Ia bisa naik hingga 0,8 kg sebulan, tanpa adanya catatan penurunan berat badan hingga Posyandu terlahir Desember lalu.

Pusat rehabilitasi merupakan saksi tumbuh kembangnya bayi orangutan, terutama pada Arto dan Harapi yang belum lama melewati usia 1000 harinya. Fase pertubuhan mereka akan sangat krusial, didukung dengan daya kembang mereka yang super cepat dan tanggap. Saat ini, Arto dan Harapi sudah ulah ditangani keeper lain untuk membantu mereka berkembang dengan perawatan yang lebih advanced. Senang bisa dan masih akan menemani mereka mengalami momen-momen ajaibnya. (RAR)

SATU TAHUN FELIX DI BORA

Tak terasa, sudah satu tahun lamanya Felix kami rawat di Pusat Rehabilitasi BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Dalam kurun waktu tersebut, begitu banyak perubahan dan perkembangan positif yang terlihat pada diri Felix.

Sebelum bercerita tentang Felix yang sekarang, aku ingin mengajak kilas balik sejenak ke masa awal kedatangan di BORA. Felix adalah bayi orangutan hasil konfiskasi. Sebelumnya, ia dipelihara sebagai hewan peliharaan oleh warga setempat. Kami sangat bersyukur Felix akhirnya berhasil di-rescue.

Saat pertama kali tiba, kondisi Felix sangat memprihatinkan. Tubuhnya kecil, lemah, dan dipenuhi luka. Ia hampir tidak memiliki energi untuk bergerak, sehingga hanya bisa duduk di pangkuan babysitter. Felix bahkan sempat mengalami demam yang membuatnya harus mengonsumsi obat hingga larut malam. Masa-masa itu menjadi periode yang berat, bagi Felix maupun bagi kami yang merawatnya.

Namun, perlahan tapi pasti, Felix berhasil melewati masa-masa sulit tersebut. Kini Felix telah tumbuh menjadi orangutan yang aktif, dan gemar bermain serta mengeksplorasi pepohonan tinggi. Selama satu tahun berada di pusat rehabilitasi, Felix bertemu banyak teman sesama orangutan yang membantunya belajar dan bertumbuh untuk benar-benar “menjadi” orangutan.

Salah satu teman terdekat Felix adalah Pansy, kawan satu kandangnya. Felix yang awalnya terlihat takut-takut pada Pansy, kini hampir selalu beraktivitas bersama, baik di dalam kandang maupun di sekolah hutan. Felix bahkan akan menangis ketika keeper hanya mengajak Pansy ke sekolah hutan tanpa dirinya. Ada momen-momen lucu ketika Pansy yang lebih lihai berpindah dari satu pohon ke pohon lain, sementara Felix kesulitan mengikutinya dan hanya bisa dia melongo melihat Pansy semakin menjauh di antara pepohonan tinggi. Kini, keduanya hanya bisa diam melongo melihat Pansy semakin menjauh di antara pepohonan tinggi. Kini, keduanya seperti tidak terpisahkan.

Selain Pansy, Felix juga memiliki orangutan favorit lainnya, yaitu Harapi dan Ochre. Bersama dua sahabat ini, Felix lebih sering bermain berguling-guling di tanah. Hal ini berbeda saat ia bersama Pansy yang cenderung mengajaknya berkeliling area sekolah hutan dari atas pohon. Ada kalanya Felix sudah berhasil memanjat ke atas pohon, namun begitu melihat Harapi atau Ochre di bawah, ia akan langsung memilih turun dan bermain di lantai hutan, sesuatu yang sering kali membuat babysitter sedikit kesal.

Felix memang telah berkembang pesat selama satu tahun terakhir. Meski begitu, masih banyak keterampilan liar yang perlu ia pelajari ke depannya. Perjalanan Felix masih panjang dan kami akan terus mendampingi setiap langkahnya menuju kehidupan yang lebih mandiri sebagai orangutan liar. (JAN)