AMAN DAN CHARLOTTE MAKAN BUAH TARAP DI SEKOLAH HUTAN

Awal tahun 2023 ini, banyak jenis pohon yang teramati sedang berbuah di hutan Labanan, tempat dilaksanakannya sekolah hutan bagi para orangutan di pusat rehabilitasi orangutan BORA. Musim berbuah ini menjadi kesempatan yang sangat baik bagi orangutan yang menjadi siswa sekolah hutan. Salah satu buah hutan yang berhasil terdokumentasikan sedang dimakan adalah buah tarap.

Aman dan Charlotte, keduanya teramati sedang memakan buah tarap. Buah tarap (Artocarpus elasticus) merupakan buah tropis yang tumbuh di wilayah Asia Tenggara terutama di Indonesia, Malaysia dan Thailand. Tumbuhan yang berasal dari genus Artocarpus ini merupakan kerabat dekat dari nangka, sukun dan cempedak. Pohon tarap dapat tumbuh hingga ketinggian 30 meter dan memiliki buah yang berbentuk bulat hingga lonjong, berukuran besan dan memiliki kulit yang berduri halus. Daging buah tarap berwarna putih kekuningan dengan tektur yang lembut dan manis. Biji-biji kecil yang terdapat di dalamnya juga dapat dimakan. Buah tarap juga dikenal memiliki kandungan nutrisi yang baik seperti protein, lemak, karbohidrat, kalsium, fosfor, zat besi, vitamin A serta vitamin C.

Siang itu, Aman dan Charlotte sangat menikmati buah tarap yang mereka temukan. Bahkan raut ekspresi Aman terlihat begitu lahap saat memakannya. Setelah buah tarap yang mereka temukan habis, keduanya kembali pergi bermain dan mencari jenis-jenis pakan alami lainnya yang dapat mereka temukan di hutan. (RAF)

MENENGOK ASTUTI DI KANDANG KARANTINA BORA

Sejak kedatangannya tanggal 25 Januari 2023 lalu di Klinik dan Karantina New BORA, Astuti orangutan yang ditranslokasi dari Menado, Sulawesi Utara masih berada dalam kandang karantina. Ia masih menjalani masa karantina hingga 14 hari. Selanjutnya, Astuti akan menjalani pemeriksaan kesehatan dengan uji laboratorium oleh tim medis BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance).

Perjumpaan saya dengan Astuti di kandang karantina, ia yang sebelumnya menyibukkan diri di atas tumpukan daun, tiba-tiba terdistraksi dengan kehadiran saya. Astuti nampak mulai mendekati, tetapi ketika hendak dipegang dia sontak mundur. Seperti belum menaruh kepercayaan penuh kata paramedis Tata.

Dokter Theresia menyampaikan jika Astuti saat ini masih proses bounding dan pengenalan dengan petugas medis maupun keeper. Astuti juga sering teramati senang bermain sendiri di dalam kandang. Jika diberikan browse enrichment dari daun dan ranting dia bisa menjadikannya mainan. Tidak jarang dia juga memakan bagian daun yang muda. Selama di kandang, semua jenis pakan yang diberikan dimakan tak tersisa kecuali tomat, dia hanya memakan bagian dalam tomat dan menyia-nyiakan bagian luarnya. (WID)

TIGA BULAN MABEL DI BORA

Mabel, bayi orangutan yang baru genap berusia satu tahun yang bulan November lalu diselamatkan dari kepemilikan ilegal di Tenggarong, Kutai Kartanegara. Setibanya di Klinik dan Karantina New BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance), kondisi fisiknya cukup memilukan. Tubuhnya yang terlampau mungil untuk kisaran usia bayi orangutan satu tahun. Perutnya membesar sesuai dugaan tim rescue BORA, Mabel mengalami malnutrisi. 

Tim Medis BORA fokus melakukan perbaikan gizi pada orangutan Mabel. Mulai pemberian susu dan buah-buahan yang paling Mabel sukai untuk membangkitkan nafsu makan. Mulai adaptasi, kini semua jenis buah dan sayur yang diberikan dilahap habis meski dengan sangat pelan, Jika cuaca terik, Mabel berkesempatan menyantap makanan di dahan pohon kecil. Sambil mencicipi kambium dan serangga kecil di ujung daun.

Siang ini, Mabel ditemani paramedis Tata sambil bergelantungan di pohon dekat Klinik New BORA. “Berapa berat badan Mabel sekarang”, tanya saya ke paramedis Tata. Bobotnya naik setengah kilo dari berat badan awal Mabel di sini”, pungkas Tata. “Perutnya juga sudah tidak berbunyi lagi, seperti sebelumnya jika ditepuk”, tambahnya. Jika bobotnya terus bertambah, maka akan memudahkan tim medis untuk melakukan pengambilan sampel darah untuk uji penyakit dan virus. (WID)

DEVI, SISWA BARU SEKOLAH HUTAN YANG SUDAH LAYAK NAIK KELAS

Devi dahulunya merupakan korban perdagangan ilegal satwa liar yang berhasil diselamatkan pada tahun 2021. Ia sudah menjalani rehabilitasi di pusat rehabilitasi BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) sejak April 2021. Namun Devi baru bisa mengikuti sekolah hutan pertamanya pada 10 Desember 2022. Hal ini disebabkan karena sifatnya yang selama setahun ke belakang masih agresif dan takut terhadap perawat satwa. Kemungkinan sifat agresif ini disebabkan oleh trauma masa lalunya, saat ia dipisahkan dari induknya oleh pemburu yang kemungkinan besar dilakukan dengan membunuh induknya.

Saat ini sudah dua bulan Devi mengikuti sekolah hutan di BORA. Meski masih baru menjadi siswa sekolah hutan, Devi langsung menjadi siswa paling aktif mencari pakan alami dibandingkan orangutan lain. Dengan mudah ia dapat menemukan pakan alami sepanjang sekolah hutan. Pakan alami yang teramati dimakan oleh Devi di lokasi sekolah hutan antara lain beragam buah-buahan hutan, daun-daunan, kulit kayu, umbut rotan dan umbut pisang. Devi selalu menjadi yang terakhir pulang ketika sekolah hutan karena selalu aktif mencari makan. Devi selalu pulang sekolah hutan dengan keadaan bibir yang sudah menghitam oleh noda getah dari pakan alami yang ia makan. Devi sama sekali tidak pernah meminta makanan kepada perawat satwa.

Selain aktif mencari pakan alami, Devi sudah lebih dari tiga kali teramati membuat sarang di atas pohon. Kualitas sarang yangia buat pun sudah sangat baik, sama seperti sarang buatan orangutan liar dewasa. Pada sekolah hutan terakhir (28/1/2023), Devi sempat tertidur di sarang buatannya setelah ia kenyang memakan pakan alami yang ia temukan. Kami terpaksa menunggu di bawah pohon sampai ia terbangun dari sarangnya. Pada akhirnya Devi mau turun setelah dipancing oleh drh. Theresia dengan sebotol susu. Ia pun turun dengan wajah yang masih mengantuk. “Ih Devi kentut”, kata There saat Devi sudah digenongannya. Sepertinya hari itu ia sudah makan kenyang karena bulan ini hutan Labanan sedang musim berbuah. (RAF)

AKU NABIL UNTUK ORANGUTAN INDONESIA

Halo… namaku Ahmad Nabil Faturahman, anggota keluarga COP yang baru. Banyak hal yang kulakukan di BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) sebagai Biologist dan Perawat Satwa mulai dari pemantauan Biodiversitas (Herpetofauna, Avifauna, Mamalia dan lain-lain) di sekitar area BORA dengan memotret. Aku dan Raffi (Biologist BORA) menemukan beberapa jenis katak pohon Rhacophorus pardalis, Polypedates otilophus dan Rhabdophis subminiatus.

Sebagai Biologist aku senang sekali memperhatikan karakteristik orangutan secara personalnya untuk mengetahui apa kebutuhan dan keinginan dari setiap individu yang aku amati seperti Jojo. Jojo adalah individu orangutan yang sangat iseng dan jahil kepada setiap perawat satwa. Namun aku belum mengerti betul kenapa dia seperti itu. Mungkin itu adalah salah satu bentuk perilaku stereotipik yang ditimbulkan karena hasil dari pemeliharaan ilegal orangutan. Aku belajar bagaimana dapat berinteraksi dengan orangutan, bagaimana semestinya mereka berada dan berlaku di alamnya mulai dari pemberian enrichment sampai beberapa pakan alami yang sengaja kami coba berikan pada individu orangutan itu sendiri. 

Termasuk belajar bagaimana aku harus meng-handling orangutan karena pada awalnya cukup sulit bagiku karena banyaknya sifat dan tipe perilaku yang berbeda satu individu orangutan dengan yang lainnya. Ada yang suka menarik baju, menggigit atau sekedar menampar, hal lucu bagiku seperti ditampar orang (hehehe). 

Namun dari beberapa pengalaman awalku di BORA, aku sangat bangga dan senang bisa bergabung dengan COP (Centre for Orangutan Protection) untuk berperan dalam konservasi Orangutan Indonesia. Karena menurut IUCN Redlist Orangutan merupakan satwa yang memiliki status terancam punah dan terus berkurang seiring berjalannya waktu karena banyaknya pembukaan lahan yang semakin marak belum lagi adanya kebakaran hutan yang masih menghantui orangutan terutama bagi spesies yang berada di Kalimantan. Semoga di kemudian hari akan kembali baik statusnya. 

Ada cerita sedikit dari pengalamanku selama menjadi perawat satwa di BORA, saat aku memasang kamera jebak di kandang orangutan Annie. Setelah selesai memasang di atas kandang, dengan sangat lihainya orangutan Annie menarik baju dan lenganku, kemudian membuka bajuku hanya untuk melihat dan menyentuh perut dan oto pinggang, mungkin yang aku pikirkan di pikirannya orangutan Annie, “Ini seperti temanku namun dia tak memiliki rambut lebat dan hitam seperti punyaku”. (BIL)

MAAF PITTA, SAYA MENGANGGU TIDURMU

Keberuntungan tidak selalu ada, tapi kemungkinan terjadi ada. Inilah salah satu kebruntungan saya saat melakukan Herping atau pengamatan Amfibi dan Reptil pada malam hari di lokasi New BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance), Berau, Kalimantan Timur. Tepat di akhir kegiatan dan akan bergegas pulang namun dengan isengnya melihat ke belakang kantor dan keberuntungan itu pun menghampiri saya. Perjumpaan burung Paok Hijau (Pitta sordida) yang merupakan salah satu dari 27 jenis keluarga Pittidae yang ada di Indonesia dalam kondisi sedang tidur. Kehadiran saya saat itu tak sedikitpun mengusiknya karena burung ini aktif di siang hari atau diurnal dan pada malam hari waktunya tidur. 

Sontak saya langsung mencari posisi yang bagus untuk mendapatkan hasil foto yang maksimal, memanjat menara yang tidak jauh dari burung itu pun saya lakukan. Burung Paok Hijau ini bertengger di ranting kering dengan mata terpejam pada ketinggian cabang 5 meter dari tanah. Usaha tanpa suara berakhir ketika saya menekan shutter dan membuat burung ini membuka matanya karena cahaya lampu kilat kamera yang saya unakan juga. “Maaf ya Paok, saya terpaksa menganggu tidurmu”, bisik Hilman Fauzi, anggota tim APE Crusader yang sedang gabut. Tidak lama kami pun pergi, burung ini tetap di posisi yang sama dan melanjutkan tidurnya.

Paok Hijau (Pitta sordida) ini sangat mudah dikenali karena sesuai dengan namanya memang dominan berwarna hijau pada badannya, kepalanya hitam dan penutup sayap biru dengan bercak sayap putih, memiliki ukuran sedang (18-20 cm), bertubuh gemuk, kaki panjang namun ekor pendek. Kalau bersuara berupa panggilan atau siulan sederhana dan memelas, bunyinya “peuw-peuw” berulang-ulang dengan interval yang pendek. Daerah persebaran burung ini meliputi beberapa negara seperti Bangladesh, Bhutan, Brunei, Kamboja, Cina, India, Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Filipina, Singapura, Thailand dan Indonesia. Paok Hijau dijumpai pada hutan-hutan di Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi dan pulau Irian. 

Perilakunya lebih banyak menghabiskan waktunya di lantai hutan bukan berarti dia tidak suka berada di pohon. Melainkan mencari makan pada strata lantai hutan,berlompatan lalu membalikkan dedaunan dan mematuki kayu mati untuk mencari invertebrata yang bisa dimakan. Sifat si Paok yang terestrial tapi terkadang tidur di atas pada ranting-ranting pohon, bisa saja ini menghindari resiko dari predator dan terkadang tidur di tanah dengan barengan sehingga ketika salah satu individu terkena predator, individu lainnya mengeluarkan suara yang sifatnya mengusir atau mencoba melawan predator itu sendiri. Paok Hijau memiliki musim kawin pada bulan Maret, Mei, Juli dan Desember, sarangnya berbentuk kubah dibuat dari berbagai bagian tumbuhan dan dibangun pada tanah di bawah semak belukar 2-5 telur. “O iya, Pemerintah Indonesia sudah memasukkannya sebagai daftar satwa dilindungi dengan P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 dan terdaftar pada IUCN tentang spesies terancam punah dengan kategori LC (least Concern) atau sedikit kekhawatiran”. (HIL)

TAMPILAN NYENTRIK NYCTIXALUS PICTUS, SI KATAK POHON BERBINTIK DI BORA

Perjumpaan pertama saya dengan Katak pohon berbintik atau Nyctixalus pictus yang merupakan katak dari keluarga Rhacophoridae, saat saya melakukan pengamatan malam di sekitar area Rehabilitasi Orangutan BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) yang dikelola oleh COP (Centre for Orangutan Protection) berlokasi di KHDTK Labanan, Berau, Kalimantan Timur pada 14 Oktober 2022.

Katak ini memiliki ukuran hingga 35 mm, tubuh yang ramping dengan moncong yang relatif panjang dan kaki belakang yang panjang. Gendang telinga terlihat dengan ukuran lebih kecil dari diameter mata. Setiap ujung jari baik tangan maupun kaki nya melebar seperti bantalan bundar yang lebih kecil dari gendang telinganya. Jari-jari kaki yang setengah berselaput dan jari-jari tangan tidak berselaput. Keunikan dari Katak Pohon Berbintik ini memiliki tampilan nyentrik seperti semua permukaan atas dan sisinya berwarna coklat kayu manis, merah atau bahkan jingga. Kulit punggung, kepala dan permukaan atas tungkai kasar dengan banyak tonjolan kecil yang tersebar di semuanya dengan warna putih mengkilap yang membentuk garis putus-putus dari tepi moncong, di sepanjang tepi kelopak mata atas dan berlanjut ke bagian bawah sisi punggung. Bagian atas iris juga berwarna putih, bagian bawah berwarna coklat. Keunikan dari katak ini merupakan salah satu katak dengan warna paling jelas dan tidak dapat disalahartikan sebagai spesies lain.

Kebiasaan dan habitat katak ini hidup di hutan primer dan sekunder tua, pada dataran dan medan berbukit-bukit, dari dekat permukaan laut hingga mencapai ketinggian 1800 MDPL. Sering dijumpai pada daun semak dan pohon kecil dengan tinggi satu sampai tiga meter di atas tanah, bisa saja mencapai tingkat yang lebih tinggi. Sedangkan telur-telurnya diletakan di lubang pohon yang berisi air atau phytothelms, dimana tempat berudu muda dapat berkembang dengan relatif aman. Selain itu, katak ini hidup nokturnal dan bersuara terdiri dari serangkaian ‘peep’ yang tenang, yang dapat dengan mudah disalahartikan sebagai panggilan serangga.

Katak pohon berbintik ini tersebar luas namun tidak umum, persebarannya mencakup beberapa pulau seperti di Semenanjung Malaya (dari ujung selatan Thailand melalui Semenanjung Malaysia hingga Singapura), Sumatra (Indonesia), Borneo (Brunei, Malaysia, Indonesia) dan Filipina. Karena penurunan luas dan kualitas habitat yang terus berlanjut akibat pembukaan hutan, populasinya disimpulkan menurun yang menjadi alasan kenapa katak ini tersebar luas dan tidak umum. Status perlindungan IUCN saat ini masuk dalam catatan merah dengan kategori LC (Least Concern) atau sedikit kekhawatiran, sedangkan dalam peraturan dan perundangan di Indonesia sendiri tidak masuk dalam kategori satwa dilindungi. (HIL)

PINGPONG SI GIGI KEROPOS

Pingpong merupakan satu individu orangutan jantan yang berada di Pusat Rehabilitasi BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) sejak April 2015. Pingpong dulunya disita dari kebun binatang ilegal yang ada di Kalimantan Timur dan dititip-rawatkan untuk menjalani proses rehabilitasi. Saat datang pertama kali, kondisi Pingpong kurus dengan rambut gundul dan malnutrisi.

Selama masa rehabilitasi, Pingpong distimulasi untuk mendalami kemampuan bertahan hidup dan kemampuan sosial melalui program sekolah hutan. Hingga Pingpong menjadi orangutan paling besar di kelas sekolah hutan dan membuat perawat satwa cukup kesulitasn untuk melakukan handling. Akhirnya Pingpong dimasukkan dalam daftar tunggu pulau pra-pelepasliaran.

Selama menjalani masa rehabilitasi di kandang sosialisasi, Pingpong yang saat ini usianya menginjak 13 tahun, teramati cukup responsif ketika mendapat enrichment pakan dan dia sangat menyukai buah sirsak dan buah dengan cita rasa manis lainnya namun tekstur yang tidak keras.

Namun, ketika dilakukan observasi… Pingpong memiliki kebiasaan mengeluarkan makanan yang telah dikunyahnya dan ditelan kembali. Akhirnya tim medis melakukan pengecekan kondisi fisik dan tes kesehatan untuk orangutan Pingpong. Hingga ditemukan bahwa kondisi giginya berkurang sangat masif karena keropos.

Melihat hal ini, tim medis memberikan rekomendasi untuk Pingpong menjadi orangutan yang tidak bisa dilepasliarkan. Dengan pertimbangan orangutan Pingpong akan sangat kesulitan bertahan hidup dengan kemampuan gigi untuk bisa memakan beragam jenis pakan alami di hutan semakin nihil dilakukan.

COP berencana memberikan kesempatan untuk Pingpong agar bisa memiliki enclosure yang membuatnya bisa terbebas dari kandang jeruji besi meski Pingpong menyandang status orangutan yang tidak dapat dilepasliarkan ke alam. (WID)

BAYI ORANGUTAN BERNAMA MABEL YANG PENUH CINTA

Mabel namanya. Ada harapan di setiap nama yang disematkan pada orangutan yang masuk di BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance). Mabel artinya loveable atau orang yang dicintai. Katanya Mabel adalah nama untuk bayi yang sangat populer di Amerika. Siapapun yang melihatnya akan jatuh hati dan akan mencintainya tanpa pamrih.

Hampir sebulan bayi orangutan ini di rawat di BORA. Kesehatannya semakin membaik, perut kembungnya berangsur hilang dan kekuatannya perlahan bertambah. Tatapan Mabel mulai bersinar dan penuh harapan. Jeritan kesakitan saat disentuh pun menghilang.

“Awalnya Mabel sempat dikira berusia 4 bulan, tapi setelah kita memeriksa gigiya, orangutan ini berusia 11 bulan”, kata drh. There dengan prihatin. Tim medis pun ekstra hati-hati memberi jenis buah untuknya agar kondisi perutnya yang kembung tidak semakin parah. Pepaya yang benar-benar matang sedikit demi sedikit diberikan dan pemberian susu ditunda dulu.

“Syukurlah Mabel berhasil berjuang hingga waktu ini. Bayi pendiam ini semakin aktif. Dalam 1-2 minggu ini, tim medis akan mengambil darahnya untuk diperiksa, apakah Mabel sehat dan bisa melanjutkan rehabilitasi di BORA seperti digabungkan dengan orangutan lain dan masuk kelas sekolah hutan. Doakan Mabel ya…”, pinta Theresia Tinenti. 

TAK DIBERI PISANG, POPI NEKAT PANEN PISANG SENDIRI

Pisang sering digambarkan sebagai buah favorit sebagian besar primata. Primata seperti monyet, gorilla, simanse, owa hingga orangutan sangat sering diidentikan sebagai hewan penyuka pisang. Walaupun stereotip ini tidak sepenuhnya benar karena di alam liar orangutan memiliki ratusan jenis pilihan pakan yang terdiri dari beragam jenis buah, daun, bunga dan bagian tumbuhan lain hingga serangga. Namun sebagian besar orangutan yang ada di BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) memang sangat menyukai buah pisang. Hal ini karena buah pisang memiliki rasa yang manis serta tektur yang lembut.

Begitu pula dengan orangutan Popi, ia sangat menyukai pisang. Namun pada sekolah hutan kali ini, perawat satwa tidak membawa pisang karena kombinasi jenis pakan yang diberikan untuk para orangutan di BORA harus beragam dan bervariasi setiap harinya untuk memenuhi kecukupan gizi orangutan.

Setelah cukup lama beraktivitas dan menjelajahi ketinggian pohon, Popi nampaknya mulai lapar dan turun mendekati perawat satwa untuk meminta buah. Hanya buah terong yang diberikan, tidak ada buah-buahan manis seperti pisang yang diberikan perawat satwa.Hal ini dilakukan untuk mendorong orangutan mencari pakan alami di lokasi sekolah hutan.

Kecewa tidak diberi pisang, Popi berjalan pergi meninggalkan  perawat satwa, mengarah menuju pulang. Popi berjalan menyebrangi anak sungai kecil yang sedang surut. “Popi, Popi…”, panggil perawat satwa Bima yang menyangka Popi sudah ingin pulang. Setelah diikuti, ternyata Popi sedang memanjat pohon pisang yang saat itu sudah berbuah. Disana Popi memanen buah pisang dan langsung memakannya. Walaupun belum matang, namun ia terlihat puas dengan hasil panennya. Tidak lama kemudian orangutan Jojo mengikuti Popi lalu makan pisang bersama. (RAF)