EDUKASI “SAVE ORANGUTAN’” BERSAMA KOMUNITAS JEJAK JENAKA DAN COP

Suasana area Futsal PJA, Tanjung Redeb, Berau, Kalimantan Timur pada tanggal 26 Oktober 2025 dipenuhi tawa dan semangat anak-anak. Sebanyak 95 peserta berusia 3–11 tahun berkumpul untuk mengikuti kegiatan edukasi bertema “Save Orangutan”, hasil kolaborasi antara Komunitas Jejak Jenaka dan Centre for Orangutan Protection (COP).

Peserta dibagi menjadi tiga kelompok sesuai rentang usia, dan setiap kelompok bergiliran mengunjungi tiga pos edukasi yang disiapkan. Di Pos ‘Dongeng’, kami menceritakan tentang ukuran tubuh, makanan, ancaman, dan alasan mengapa orangutan perlu dilindungi. Lalu di Pos ‘Kreasi’, kami memandu peserta membuat rope ladder dari potongan kayu dan tali, yang nantinya akan dibawa ke BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) sebagai furnitur kandang. Sementara di Pos ‘Games’, tim bersama volunteer Jejak Jenaka mengajak
anak-anak bermain “pemburu dan penebang” serta puzzle mencocokkan hewan dilindungi dan tidak dilindungi berdasarkan pulau habitatnya. Maskot berupa kostum orangutan khas COP berkeliling sepanjang sesi, menambah keceriaan dan antusiasme peserta.

Meskipun sebagian besar peserta sangat antusias, beberapa anak tampak lebih tertarik berlarian di lapangan futsal yang luas dan bersih. Suara riuh dalam satu ruangan menjadi tantangan tersendiri bagi tim untuk menjaga fokus peserta. Setelah kurang lebih 3,5 jam penuh kegiatan seru, acara ditutup dengan pembagian doorprize. Tim kembali ke site dengan pengalaman baru dan semangat segar.

Kegiatan kolaborasi ini diharapkan menjadi bekal awal bagi peserta untuk mengenal dan berupaya melindungi orangutan serta habitatnya, sekaligus menjadi langkah awal kolaborasi positif antara COP dan berbagai komunitas peduli lingkungan lainnya. (ARA)

KETIKA HARIMAU SUMATRA MASUK KAWASAN BRIN, APE PROTECTOR HADIR DI AGAM

Semuanya berawal pada malam 15 Oktober 2025, ketika kamera CCTV LAPAN BRIN Agam menangkap sosok loreng yang melintas sunyi di antara bayangan. Seekor Harimau Sumatra ternyata masuk dan terjebak di dalam area berpagar beton setinggi dua meter! Tim gabungan dari BKSDA Sumatera Barat, PAGARI, dan COP segera bergerak cepat. Dari atap gedung dan dengan bantuan drone termal, kami memantau setiap sudut, memastikan si raja rimba masih berada di dalam kawasan.

Keesokan harinya, laporan baru pun muncul, sebuah jejak harimau ditemukan di Mudiak Palupuah dan viral di media sosial. Namun setelah diverifikasi, ternyata jejak tersebut merupakan jejak palsu yang dibuat menggunakan telapak tangan manusia. Sambil menenangkan warga, tim terus berjaga di BRIN, memasang tangga dan kamera jebak, serta mencoba menggiring harimau keluar menggunakan suara petasan dan meriam spritus.

Hingga akhirnya, setelah dua hari pemantauan intensif, tanda-tanda keberadaan harimau mulai hilang. Di tembok pagar, tim menemukan bekas cakaran dan beberapa helai rambut oranye-putih, petunjuk bahwa induk dan anak harimau itu telah berhasil keluar dari area terisolasi.

Operasi pun akhirnya dinyatakan selesai. Warga kini bisa beraktivitas kembali, sementara tim pulang dengan satu pelajaran penting, yaitu di antara pagar beton dan suara petasan malam itu, ada momen langka ketika manusia dan alam sama-sama belajar tentang batas, ruang hidup, dan cara saling menjaga. (DIV)

KISAH DARI GARIS DEPAN PENYELAMATAN SATWA

Di tengah teriknya dataran tinggi Yogyakarta, tawa dan obrolan terdengar bersahutan di Camp APE Warrior. Tapi sore itu, udara terasa sedikit berbeda. Camp yang biasanya riuh dengan suara sawah dan canda relawan, kini menyambut tamu-tamu istimewa dari perwakilan KSSL UGM, BKSDA Yogyakarta, Aksi Konservasi Yogyakarta, Sekber PPA DIY, hingga mahasiswa dan warga yang penasaran dengan “Kelas Bulanan” COP, yaitu Dating Apes.

Pada hari Sabtu sore, 18 Oktober 2025, Dating Apes ke-11 ini bukan seperti biasanya. Di antara para tamu, hadir sosok yang membuat suasana mendadak terasa lebih “global”, Jennifer Gardner, Senior Program Disaster dari International Fund for Animal Welfare (IFAW). Ia datang jauh-jauh dari Amerika hanya untuk berbagi satu hal yang jarang dibicarakan, yaitu bagaimana rasanya menjadi penyelamat satwa di tengah bencana.

Tanpa banyak basa-basi, Jennifer memutar sebuah video dokumenter. Di layar kecil di tengah hamparan sawah itu, terpampang potongan realitas dari berbagai penjuru dunia, badai di Karibia, kebakaran di Australia, gempa, banjir, dan kehancuran. Semua orang di camp mendadak hening. Yang terlihat di sana bukan hanya manusia yang kehilangan, tapi juga hewan-hewan yang menjadi korban, tanpa suara, tanpa daya, hanya menunggu tangan yang mau menolong.

Setiap cerita yang Jennifer bagikan membuka mata, bahwa di balik setiap bencana, selalu ada makhluk hidup lain yang berjuang untuk tetap hidup. Bahwa empati bukan sekadar rasa iba, tapi tindakan nyata untuk tidak berpaling.

Sesi tanya jawab pun berjalan panjang, bukan karena waktunya, tapi karena rasa ingin tahu yang seolah tak habis-habis. Bahkan setelah acara selesai, para peserta masih bertahan. Ada yang ingin tahu lebih dalam tentang cara kerja relawan satwa di luar negeri, ada yang sekadar ingin mengucap terima kasih.

Di antara obrolan ringan dan senyum yang tak kunjung pudar, satu hal terasa jelas sore itu, yaitu cinta pada satwa tidak butuh paspor. Hanya butuh hati yang siap turun ke lapangan, bahkan ketika dunia sedang runtuh. (DIT)

JAINUL ATAU JAHILNUL

Setiap individual orangutan memiliki karakter dan sifat yang berbeda. Jainul orangutan yang sangat nyebelin luar biasa, ia selalu bertingkah yang membuat kita geleng-geleng kepala. Di sekolah hutan ia selalu jahil dengan keeper terutama keeper perempuan, karena tidak takut sama sekali dan tidak ada kapoknya untuk jahil. Kejahilan yang ia sering lakukan adalah menarik boots, menggigit kaki, mengejar-ngejar keeper, mengambil buku pengamatan dirinya maupun punya orangutan lain.

Di suatu hari sekolah hutan, Jainul memulai aksi jahilnya yang membuat kaki keeper cedera.
Janet: “Nov, awas ada Jainul di belakang.”
Keeper Novi langsung berdiri dan berlari menghindari Jainul, tak lama berlari, Novi pun terjatuh karena kakinya tergelincir di permukaan tanah yang tidak rata. “Bruk!”, Novi pun jatuh dan menangis.
Novi: “Aduh, kaki ku sakit banget huhuhuhu”.

Jainul duduk diam dan mengamati Novi, tapi setelah beberapa menit ia memulai aksi jahilnya kembali menggigit sepatu boots nya Novi, dan Janet berusaha menghalangi niat Jainul.
Janet: “Jainul, sudah itu! Kaki Novi lagi sakit.”

Tidak sampai di situ saja, kejahilan Jainul kepada keeper. Ia juga suka sekali kembali ke kandangnya, bukan karena untuk beristirahat melainkan untuk mengambil sisa pakan orangutan lain, yaitu Pingpong dan Husein. Ketika Jainul kembali ke kandang, ia mempunyai trik yang sangat ampuh agar bisa balik ke kandang. Tapi tenang semua keeper sudah hafal dengan triknya. Trik pertama, Jainul akan berpura-pura bermain dengan orangutan lainnya di tanah. Ia akan bermain beberapa menit agar mengalihkan fokus keeper yang membawanya ke sekolah hutan. Setelah keeper sedikit tidak memperhatikannya, ia kabur berlari dengan begitu cepat. Sesampainya di kandang, ia akan memakan sisa pakan Pingpong dan Husein.

Suatu ketika, Jainul kembali ke kandang. Ia tidak mau turun dan abai oleh panggilan Novi. Setelah Novi capek memanggilnya, Novi meminta tolong pada keeper yang lain atau biologis yang bernama Indah.
Novi: “Teh Indah, tolong bantu ambilkan Jainul. Dia gak mau sama aku.”
Indah: “Dimana Jainulnya, Nov?”
Novi: “Ini teh, di atas kandang mau ngobok-ngobok air tandon minum orangutan.”
Indah: “Ohhh, iya Nov. Aku ke situ.”
Setelah Indah datang, keduanya pun bekerja sama untuk menurunkan Jainul yang sudah tidak kondusif itu.
Indah: “Jainul, Inul… heee Inul sini turun.”
Sambil menyodorkan sepotong wortel kepada Jainul, tapi Jainul hanya abai dengan panggilan itu. Setelah beberapa menit, Jainul tergiur juga untuk mengambil wortelnya saja. Ia tak ingin kembali ke sekolah hutan, Ia menyerang Indah dengan menarik jilbab Indah dan menjambak rambutnya.
Indah: “Ya Allah, tolong guys. Aku diserang.”
Keeper Novi ingin membantu, hanya saja Ia ragu karena takut digigit dan diserang lagi oleh Jainul. Setelah 3 menitan, ia lepaskan Indah. Ia kembali lagi ke atas kandang. Sungguh sangat menyebalkan.

Suatu hari di sekolah hutan, Jainul sedang eksplorasi di cabang atau ranting pohon dengan ketinggian 6 meter. Dan… “krekkk… brukkk”.
Keterangan Foto, Nophy dengan Cinta, bukan Jainul.(NOP)

PERJUANGAN BAYI ORANGUTAN DI PUSAT REHABILITASI, SEHAT ITU PENTING

Rehabilitasi orangutan merupakan berjalan panjang yang dipenuhi berbagai macam tantangan. Orangutan yang hidup di pusat rehabilitasi tidak terlepas dari berbagai masalah kesehatan yang dipengaruhi berbagai macam faktor, seperti stres akibat perubahan lingkungan, kualitas pakan, paparan penyakit baru, serta sistem imun yang belum sempurna (terutama pada bayi) dapat membuat mereka rentan jatuh sakit.

Tim BORA selalu mengedepankan pendekatan menyeluruh. Setiap kasus ditangani melalui tahapan yang sistematis, anamnesis (pengumpulan riwayat kesehatan dan perawatan), observasi perilaku orangutan serta kondisi kandang, hingga pemeriksaan laboratorium bila diperlukan. Pendekatan ini penting untuk memastikan bahwa penanganan tidak hanya mengobati gejala, tetapi juga menyingkirkan kemungkinan penyebab yang lebih serius.

Salah satu kasus terjadi pada bulan Juli hingga September 2025 di Baby House BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) adalah diare. Beberapa bayi orangutan seperti Felix, Pansy, Harapi, dan Arto pada awalnya diduga adanya infeksi parasit seperti cacing atau mikroorganisme patogen lainnya. Namun, hasil pemeriksaan laboratorium tidak menunjukkan adanya agen infeksi yang signifikan. Setelah evaluasi mendalam, faktor lingkungan terutama saat Sekolah Hutan diperkirakan sebagai pemicu utama. Sistem pencernaan bayi yang masih rentan membuat mereka lebih mudah terpengaruh oleh faktor eksternal lingkungan.

Selain kasus diare, pada periode yang sama juga ditemukan kasus flu pada Harapi. Gejala berupa bersin, pilek, dan gejala pernapasan lainnya teramati setelah perubahan cuaca yang cukup ekstrem, dari panas terik di siang hari hingga hujan deras di sore atau malam hari. Fluktuasi cuaca ini menjadi faktor pemicu utama yang melemahkan daya tahan tubuh bayi orangutan. Penanganan dilakukan dengan menjaga kebersihan kandang, isolasi untuk mencegah penularan ke orangutan lainnya, memberikan pakan bernutrisi tinggi, dan obat-obatan serta suplemen untuk mengurangi gejala serta meningkatkan daya tahan tubuh Harapi.

Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa perawatan orangutan di pusat rehabilitasi bukanlah hal yang sederhana. Kesehatan mereka sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan maupun pola asuh. Karena itu, dibutuhkan pengawasan ketat, evaluasi rutin, serta kerja sama erat antara dokter hewan, keeper, dan staf lapangan, logistik hingga administrasi. Setiap tantangan kesehatan yang ditemukan menjadi pembelajaran untuk memperbaiki standar perawatan. Harapannya, dengan pemantauan dan perbaikan berkelanjutan, orangutan dapat tumbuh sehat dan saat siap, kembali ke habitat alaminya. (TAL)

AWAL PERJALANAN BETI DI PUSAT REHABILITASI BORA

Awal Agustus yang lalu, pusat rehabilitasi BORA menyambut kedatangan satu individu orangutan eks-peliharaan ilegal. Beti, orangutan betina yang telah dipelihara sejak 2001, akhirnya diserahkan pemiliknya karena sudah menunjukkan perilaku liar dengan tenaga yang semakin kuat. Selama perjalanan panjang menuju pusat rehabilitasi, Beti di dampingin dokter hewan yang senantiasa memantau kondisi dan kesehatannya di dalam kandang angkut.

Ketika tiba di area karantina BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance), Beti diobservasi secara intens oleh perawat satwa, biologis, dan tim medis. Observasi perilaku dan kesehatan ini menjadi acuan penentuan diet, perawatan kesehatan, hingga penyesuaian kondisi kandang yang didasari lima prinsip kesejahteraan satwa. Namun ternyata, proses adaptasi Beti di lingkungan baru cukup fluktuatif dan sulit ditebak.

Dengan estimasi umur 25 tahun, Beti tidak memiliki perilaku umu layaknya orangutan liar seumurnya dan memiliki variasi pilihan pakan yang rendah. Ia belum mampu lokomosi arboreal seperti brakiasi di jalinan tali instalasi kandang. Postur ketika makan pun didominasi dengan duduk, telentang, dan tengkurap. Pemeliharaan ilegal yang sangat lama di kandang beton tertutup menyebabkan Beti tidak memiliki kesempatan untuk bergerak secara alami dan melatih kekuatan otot lengannya. Hal ini turut disertai dengan ragam aktivitasnya yang rendah selama di kandang.

Untuk menstimulasi aktivitas dan minat Beti terhadap berbagai jenis pakan, para staf yang bertugas di area karantina gemar memberikan berbagai macam pengayaan (enrichment) menggunakan bahan-bahan alam. Mulai dari berbagai jenis bunga, dedaunan, sarang rayap, hingga buah-buahan yang dimanipulasi secara visual. Ternyata Beti tertarik dengan bunga berwarna cerah seperti bandotan, eceng gondok, dan belimbing. Ia memperhatikan, mengonsumsi, dan membawa bunga-bunga itu sambil mengeksplorasi kandang. Palatabilitas Beti juga meningkat ketika menu pakannya dibentuk kubus. Berbagai buah, sayur, dan protein yang dipotong dadu akan dikonsumsi Beti dengan lahap, khususnya di sore hari. Ice block berisi potongan buah juga diberikan. Uniknya, Beti selalu menyimpan ice block di tempat yang sama dan baru mengonsumsi buahnya ketika es sudah mencair.

Pakan favorit Beti juga menjadi bahan dasar pembuatan food enrichment. Enrichment ini bertujuan mengenalkan variasi pakan alami, menstimulasi kemampuan mencari pakan, mengenalkan materi alami yang ada di habitat asli hingga menurunkan tingkat stres Beti selama fase karantina.

Rehabilitasi yang dijalani Beti akan panjang. Ada banyak keterampilan bertahan hidup yang harus ia kuasai sebelum rilis ke habitat aslinya. Perlu dukungan, dedikasi, dan inovasi dari seluruh pihak di pusat rehabilitasi untuk memberi Beti kesempatan baru di hidupnya. Dalam proses ini, Beti tidak belajar sendirian. Para staf yang menyertainya juga akan mempelajari hal-hal baru untuk mendukung proses rehabilitasi yang efektif. (FAR)

DATING APES BATCH 9, DARI PEMUDA DESA UNTUK BUMI JOGJA

Camp APE Warrior kembali dipenuhi obrolan hangat dan diskusi lingkungan pada Jumat, 26 September 2025. Kelas bulanan COP yaitu Dating APES kembali digelar dan kali ini sudah memasuki edisi ke-9. Tamu istimewa, Rifka Agnes dari KPHI (Koalisi Pemuda Hijau Indonesia) Jogja, hadir untuk berbagi cerita tentang konservasi serta bagaimana anak muda bisa mengambil peran nyata dalam menjaga lingkungan sekitar.

Sore itu terasa akrab sejak awal. Teman-teman dari berbagai komunitas, mulai dari Orangufriends, Vetpagama, Teman Berjalan, 4K, Relung Indonesia, KSSL UGM, alumni COP School dan Orangufriends Yogyakarta berkumpul. Tidak ada jarak antara pemateri dan peserta. Seperti biasa, diskusi mengalir begitu saja, seolah semua duduk di satu lingkaran besar yang terbuka untuk siapa pun. Rifka membawa sudut pandang yang segar, ia menjelaskan tentang jenis-jenis pohon yang mereka fokuskan untuk penanaman dalam program restorasi, khususnya pohon-pohon penyerap air seperti pohon kepuh. “Namanya saja mungkin baru pertama kali didengar sebagian beserta peserta”. Penjelasan ini membuka wawasan bahwa memilih jenis pohon untuk rehabilitasi hutan bukan sekadar menanam, tapi harus memahami fungsi ekologis nya.

Berbagai pertanyaan menarik pun muncul. “Kalau di desa kami, anak muda ingin memulai aksi konservasi dari nol, tantangan paling besar biasanya apa ya, Kak?”, tanya seorang peserta. Rifka tersenyum, “Tantangan terbesar biasanya justru membangun kepercayaan. Tapi kalau kita konsisten, masyarakat akan melihat kesungguhan kita”. Pertanyaan lain menyusul, “Setelah pohon ditanam, bagaimana cara memastikan program ini benar-benar terpantau, apalagi kalau lahannya dikelola pihak lain?”. Rifka menjawab penuh semangat, “Kuncinya kolaborasi. Kita perlu menjalin komunikasi dengan pengelola setempat, membuat sistem monitoring bersama, bahkan sekecil laporan rutin sekalipun bisa menjadi kontrol yang efektif”.

Diskusi berjalan dengan penuh energi hingga waktu acara berakhir. Namun sangking semangatnya, banyak peserta tetap bertahan di lokasi meski acara sudah resmi ditutup. Obrolan kecil berlanjut di Joglo Camp APE Warrior, membuktikan bahwa ruang-ruang seperti ini bukan hanya ditunggu, tapi juga selalu dirindukan. (DIM)

APE PROTECTOR KUNJUNGI SMPN 1 PANTI

Berbeda dengan hari sebelumnya, hari ini tim APE Protector berkunjung ke SMP Negeri 1 Panti, Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat. Sekolah ini menjadi target edukasi menutup bulan September ini karena lokasinya yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan yang merupakan habitat dari Harimau Sumatra. Ada 31 murid dari berbagai kelas yang berbeda yang menghadiri kegiatan ini.

Pengenalan Harimau Sumatra meliputi karakteristik, pola makan sampai status konservasi tidak luput dari pemaparan tim yang telah memasuki usia kerja di Sumbar untuk 4 tahun terakhir ini. Ketua PAGARI (Patroli Anak Nagari) Panti Selatan yang merupakan guru di sekolah tersebut pun berbagi pengalaman menjadi bagian penting konservasi kucing besar di ranah minang ini.

“Kawasan Rimbo Panti dan hutan Sumatra pada umumnya menyimpan kekayaan sesungguhnya. Menyadari keanekeragaman hayati ini sebagai warisan yang tak mungkin diperbaharui menuntut kita untuk tiada kenal lelah menghembuskan nafas konservasi. Hilangnya satu spesies tentu saja mengganggu sebuah ekosistem. Mari hidup saling menghormati dengan bertanggung jawab!”. (DIV)

GUNUNG MERAPI BERGOLAK, APE WARRIOR SIAGA

Asap tipis dan guguran material vulkanik masih keluar dari puncak Gunung Merapi. Dalam sebulan terakhir, gunung paling aktif di Indonesia ini lagi-lagi menunjukkan amarahnya. Data resmi BPPTKG mencatat ada 88 kali guguran lava pijar yang meluncur sejauh dua kilometer ke arah Kali Bebeng dan Kali Krasak. Status jelas di Level III (Siaga).

Semua orang tahu apa artinya manusia harus siap-siap evakuasi. Tapi yang sering luput kepayang adalah nasib hewan di lereng Merapi. Sapi, kambing, ayam, sampai anjing dan kucing ikut terdampak. Padahal, buat petani, ternak bukan sekadar hewan, tapi tabungan hidup. Masalahnya, begitu bencana datang, mereka sering jadi korban pertama yang ditinggalkan.

Kondisi ini bukan hal baru. Waktu letusan besar Merapi tahun 2010, ribuan ternak musnah, juga kelaparan karena ladang tertutup abu dan pemiliknya terpaksa mengungsi. Hampir gak ada yang peduli kecuali Centre for Orangutan Protection (COP). Organisasi yang biasanya fokus pada konservasi orangutan ini justru turun ke desa-desa, bantu evakuasi ternak, bantu dropping pakan hijau segar yang sulit ditemukan, sampai feeding dan rawat satwa domestik (anjing dan kucing) yang ditinggal pemiliknya untuk menjaga rumah maupun kandang mereka. Dari pengalaman itulah lahir APE Warrior, tim tanggap darurat yang dibentuk untuk satu tujuan “menyelamatkan satwa di tengah bencana”.

Sejah saat itu, APE Warrior selalu hadir di berbagai bencana besar mulai dari erupsi Kelud (1013), SInabung (2014), Gunung Agung (2017), erupsi Merapai (2020 dan 2021), Semeru (2021 dan 2022), hingga erupsi Lewotobi (2024). Kini, 15 tahun setelah letusan Merapi 2010, APE Warrior kembali berjaga di jalur Merapi. Relawan siaga dengan data satwa di desa-desa rawan bencana, siap turun kalau ada satwa terancam. Karena pada akhirnya, bencana selalu cerita tentang kehilangan. Tapi dengan APE Warrior, satu hal bisa dipastikan, satwa gak lagi jadi korban yang terlupakan. Yuk, gabung bareng APE Warrior dan jadi bagian dari garda depan penyelamatan satwa di tengah bencana”! (DIT)

ORANGUTAN DI MATA MAHASISWA KEDOKTERAN HEWAN UNPAD

Balik ke satu tahun yang lalu, saya Azzahra Aziz, mahasiswa dari Program Studi Kedokteran Hewan, Universitas Padjadjaran pernah menjalani magang di Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA). Saat itu, saya bersama tiga teman lainnya mengikuti kepitan medis, namun tiap hari kami turut mengikuti kegiatan sekolah hutan bersama keeper dan babysitter. Kegiatan itu selalu saya ingat sampai setahun kemudian, dimana saya sudah ditahap membuat tugas akhir untuk kelulusan saya. Suatu hari, saya ditanya apa yang menjadi perhatian saya untuk dapat dijadikan penelitian sebagai tugas akhir oleh dosen saya. Tanpa berpikir panjang, saya menjawab bahwa perilaku anak orangutan sangat menarik, di antara banyaknya materi terkait kesehatan hewan yang saya dapatkan di bangku kuliah, namun perilaku merupakan sesuatu yang jarang dipelajari. Hal yang melatarbelakangi penelitian ini adalah karena orangutan memiliki korteks prefontal otak yang berkembang, sehingga mereka memiliki daya ingat yang baik. Hal ini yang membuat saya bertanya-tanya, “apakah mereka ingat saat hidup bersama dengan ibunya di hutan? Ingatkah akan hal-hal yang diajarkan ibunya untuk bertahan hidup jika sudah besar? Lalu, apakah mereka merasakan rasa sedih ketika mengingat pengalaman dimana mereka berpisah dengan ibu dan kehidupannya di hutan?”. Awalnya saya cukup ragu untuk mengangkat topik ini, mengingat topik tersebut bersinggungan pula dengan bidang biologi. Tapi atas dukungan orang tua, dosen, dan teman-teman saya, saya menjadi yakin untuk melanjutkannya.

Keesokan harinya, saya pun membawa orangutan yang bernama Mabel. Mabel memang menjadi orangutan pertama yang saya amati, dia senang bermain degan orangutan yang lebih besar seperti Jainul atau Ruby. Karena asik bermain di atas pohon, Mabel jadi sulit untuk dipanggil ketika sudah waktunya pulang. Selanjutnya, saya membawa Ochre yang dulunya, cukup sulit untuk bermain dengan siapa pun dan hanya mau duduk di dekat keeper. Sekarang, dia sudah bisa naik ke pohon yang tinggi dan seringkali didekati oleh orangutan yang lebih kecil untuk main. Kalau Cinta, dia senang untuk ekspor sendirian. Saat sudah sampai di lokasi sekolah hutan, Cinta tidak langsung mau untuk naik pohon dan hanya mau digendong. Selama pengamatan, saya belajar bahwa jika saya diam di satu tempat, perlahan dia berjalan menuju pohon dan memanjat sendiri. Menurut saya, Cinta sangat berkesan karena sering membuat sarang. Rasanya, tiap pohon di tempat sekolah ada satu sarang buatan Cinta. Bahkan, kalau Pansy membuat sarang, Cinta terlihat menambahkan ranting-ranting di sarang itu.

Selanjutnya saya mengamati orangutan di baby house. Ada Arto dan Harapi, dua nama orangutan yang tak terpisahkan. Seingat saya, waktu itu kandang mereka terlihat sangat luas karena tubuh mereka yang kecil. Sekarang, rasanya kandang itu menyusut dan terasa lebih hangat. Kedua orangutan tersebut memiliki sifat yang berbaring terbalik. Arto senang untuk menaiki pohon, mengikuti Pansy yang sama-sama senang eksplor. Seringkali Arto bermain dengan Aman, Jainul, atau Mabel yang lebih besar. Sebaliknya, Harapi menaiki pohon yang tidak terlalu tinggi. Dia senang mengajak main Felix yang masih sulit untuk jauh dari babysitter atau individual lain yang sedang tidak naik pohon. Dia pun senang mengamati orangutan yang lebih besar saat menyelesaikan enrichment. Menurut saya, anak orangutan dan anak manusia memiliki kesamaan yaitu setiap individunya memiliki pace belajar dan penerimaan yang berbeda-beda. Saya sendiri pun berusaha untuk tidak membanding-bandingkan diri saya dengan teman lain yang lebih bisa atau lebih mampu ketika belajar, karena semuanya ber-progres di jalur masing-masing jika didukung oleh orang-orang yang kita percayai. Mungkin saja hal yang sama berlaku pada anak-anak orangutan.

Jika ditanya siapa orangutan yang paling berkesan selama saya di BORA, rasanya agak sulit untuk menjawab pertanyaan tersebut. Semuanya memiliki perilaku yang berbeda-beda, semuanya punya hal untuk disukai. Bagaimana Aman selalu semangat untuk sekolah dengan kondisinya, bagaimana Jainul selalu mengincar boots untuk digigit, bagaimana Astuti dengan senangnya memainkan air di dalam tandon saat saya sudah dalam keadaan panik dan tidak tahu cara membuat dia berhenti. Bahkan dari orangutan besar seperti Bagus yang sangat pintar menggunakan ranting sebagai alat, hingga orangutan kecil seperti Pansy yang terkadang tidak dapat teramati dengan jelas karena sangat tingginya dia menaiki pohon dan tidur di sarang buatan sendiri. Semua itu membuat saya selalu semangat untuk ikut kegiatan sekolah hutan. Saat mereka sedang bermain, penanyaan bagaimana hidup tanpa ibu selalu terlintas. Saya tidak bisa membayangkan bila hal yang sama terjadi pada saya. Satu hal yang pasti adalah, ada rasa senang yang akan terasa jika mereka sudah besar dan dapat dilepasliarkan nanti, memakan buah di hutan yang lebih besar dan bertemu hewan lain. Rasa tulus para babysitter, keeper, biologis, dan tenaga medis di pusat rehabilitasi ini bahkan dapat saya rasakan sebagai pendatang di sini. (Azzahra_orangufriends).